Anda di halaman 1dari 4

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan/ Kelas : I/Kelompok 4
Nama Agenda : Anti Korupsi
Nama Peserta : Lintang Ayu Yoenarmi
No. Daftar Hadir :
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : PPSDM Kemendagri Reg. Bandung

A. Pokok Pikiran
 Makna Tindak Pidana Korupsi
Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang diancam dengan pidana
oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum, dilakukan dengan
kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab. Sedangkan
korupsi berasal dari Bahasa Latin coruptio dan corruptus yang berarti
kerusakan atau kebobrokan. Dalam Bahasa Yunani corruption
merupakan perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak
bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama,
material, mental, dan umum.
 Jenis-jenis Korupsi
Terdapat 7 jenis korupsi, menurut Syed Husein Alatas, diantaranya
adalah:
- Korupsi Transaktif :korupsi yang menunjukkan adanya
kesepakatan timbal balik antara pemberi dan penerima demi
keuntungan bersama;
- Korupsi Ekstroaktif :korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk
koersi (tekanan) tertentu dimana pihak pemberi dipaksa untuk
menyuap;
- Korupsi Investif :korupsi yang melibatkan suatu penawaran
barang atau jasa tanpa adanya pertalian langsung dengan
keuntungan bagi pemberi;
- Korupsi Nepotistik :korupsi berupa pemberian perlakuan khusus
kepada teman atau yang mempunyai kedekatan hubungan dalam
rangka menduduki jabatan publik;

1
- Korupsi Autogenik :korupsi yang dilakukan individu karena
mempunyai kesempatan untuk mendapat keuntungan;
- Korupsi Suportif :korupsi yang mengacu pada penciptaan
suasana yang kondusif untuk melindungi;
- Korupsi Defensif :korupsi yang terpaksa dilakukan dalam
rangka mempertahankan diri dari pemerasan.
 Kesadaran Anti Korupsi
Kesadaran Anti korupsi yang telah mencapai puncak tertinggi akan
menyentuh spiritual accountability seseorang, apalagi ketika menyadari
bahwa dampak korupsi itu tidak sekedar kerugian keuangan negara,
namun ada kaitannya dengan kerusakan kehidupan. Mereka yang
memiliki spiritual accountability akan selalu ingat pada perjanjian dengan
Tuhannya tersebut, yang pada dasarnya: 1) merupakan tujuan hidup dan
2) kesadaran bahwa hidup mereka harus dipertanggungjawabkan.
Kualitas spiritual accountability yang baik secara otomatis membuat
manusia berhati-hati atas akibat perbuatannya kepada manusia dan
alam pada umumnya (menjadi manusia yang amanah, berempati, dan
santun), dan dengan sendirinya mendorong manusia berusaha sebaik
mungkin dalam bekerja, bersabar, dan mensyukuri nikmat Tuhan dan
mewujudkannya dalam setiap langkah dan perilaku.
 Komitmen Integritas
Terkait integritas sebagai solusi terhadap korupsi, KPK telah Menyusun
konsep Sistem Integritas Nasional yang merupakan konsep integritas
yang komprehensif untuk memastikan bangsa Indonesia dapat mencapai
tujuan nasionalnya. Mulai dari integritas sebagai suatu nilai pada tataran
individu sampai integritas sebagai pencapaian tujuan dalam tataran
organisasi dan integritas sebagai kesatuan dalam tataran bangsa. Saat
seseorang telah mencapai kesadaran Anti Korupsi secara menyeluruh
dan utuh, maka hal tersebut tidak hanya sampai menjadi semangat,
namun akan terus bergerak hingga menjadi komitmen integritas, bukan
hanya sekedar menghindar, namun juga mencari solusi terhadap
fenomena korupsi.

2
 Peran Tunas Integritas
Konsep tunas integritas memastikan tersedianya manusia-manusia yang
melakukan upaya peningkatan integritas diri dan lingkungannya dengan
membangun sistem yang kondusif, hingga terbentuk manusia-manusia
yang mampu menyelaraskan antara rohani dan jasmani, dengan
melakukan penyelarasan pada semua elemen dirinya, sehingga
terbentuk perilaku integritas yang selaras pula dengan berbagai situasi
dan lingkungan. Tunas integritas merupakan terjemahan dari konsep
yang berprinsip bahwa manusia sebagai faktor kunci perubahan, dan
pendekatan yang seutuhnya terkait manusia sebagai makhluk dengan
aspek jasmani dan rohani serta makhluk sosial yang harus berinteraksi
dengan lingkungannya.
Para tunas integritas diharapkan dapat menjalankan peran strategis
dalam organisasi berupa:
 Menjadi jembatan masa depan kesuksesan organisasi, mereka
menjadi kumpulan orang yang selalu terdepan untuk memastikan
tujuan organisasi tercapai;
 Membangun sistem integritas, berpartisipasi aktif dalam
pembangunan sistem integritas hingga semua peluang korupsi
dan berbagai penyimpangan lainnya dapat ditutupi;
 Mempengaruhi orang lain, khususnya mitra kerja untuk
berintegritas tinggi.
 Pengendalian dan Penyelarasan Organisasi
Pengendalian pada penggunaan kapasitas (SDM, dana, teknologi,
informasi dan komunikasi) akan berjalan secara efektif pada organisasi
yang sudah terintegrasi dan selaras pada semua aspek organisasi
antara lain nilai, visi misi, strategi, program, dan kegiatan. Pengendalian
terhadap organisasi secara proporsional menyesuaikan dengan tingkat
kompleksitas operasional organisasi. Dalam hal ini sangat penting untuk
memetakan berdasarkan kelompok pengendalian seperti: pengendalian
internal, pengendalian korupsi, dan pengendalian strategis.

3
 Profil Tokoh: R. Soeprapto
Jaksa Agung R. Soeprapto adalah seorang jaksa/hakim karier. Sejak 31
Mei 1917 menjadi staf Ketua Pengadilan Negeri Tulungagung dengan
gaji 100 gulden per bulan, setelah ia bertugas di Surabaya, Semarang,
Demak, Purworejo, Bandung, Banyuwangi, Singaraja, Denpasar,
Mataram (Lombok), Cirebon dan Salatiga.
Beliau cukup berani untuk menjatuhkan hukuman kepada Menteri Luar
Negeri Roeslan Abdul Gani karena dianggap telah menerima uang dari
China senilai Rp 1,5 juta untuk mencetak kertas pemilu. Kasus itu begitu
ramai hingga membuat istri Abdul Gani menelepon Nasution agar bisa
menggunakan pengaruhnya sampai Soekarno. Soekarno datang kepada
Jaksa Soeprato, namun akhirnya presiden pertama Indonesia itu
menyerahkan keputusan yang terbaik kepada Soeprapto. Tanpa basa-
basi, Suprapto memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada Abdul
Gani, karena jelas apa yang dilakukan olehnya adalah tindakan korupsi.
Dalam lingkungan keluarga pun, Jaksa Agung Soeprapto cukup tegas
untuk memberikan pendidikan karakter bagi anaknya. Dia pernah
meminta anaknya untuk mengembalikan sogokan berupa cincin bermata
giok dari China yang diberikan kepada keluarganya.

B. Penerapan
Untuk saat ini saya sebagai seorang ASN baru di lingkungan kerja akan
mencoba menerapkan nilai-nilai dasar anti korupsi, yang harus diinternalisasi,
diimplementasikan dan diaktualisasikan: jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung
jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Yang pada akhirnya diharapkan
saya dapat menjadi tunas integritas di lingkungan dimanapun saya
ditempatkan. Cara yang akan saya lakukan adalah tentunya memperkuat
spiritual accountability saya terlebih dahulu. Dengan memperkuat hubungan
saya dengan Tuhan, maka akan selalu menyadarkan saya untuk tetap berada
di jalan, cara berpikir, maupun cara bekerja dengan benar tanpa merugikan diri
sendiri maupun orang lain.

Anda mungkin juga menyukai