Anda di halaman 1dari 4

Konsep legal dan Hukum dalam Asuhan Keperawatan

Pasien HIV/AIDS

Prinsip etik yang harus dipegang oleh seseorang, masyarakat, nasional, dan
internasional dalam menghadapi HIV/AIDS

Empati

Ikut merasakan penderitaan sesama termasuk ODHA dengan penuh


simpati, kasih sayang dan keadilan saling menolong

Solidaritas

Secara bersama-sama membantu meringankan dan melawan


ketidakadilan yang diakibatkan oleh HIV/AIDS

Tanggung jawab

Bertanggung jawab mencegah penyebaran dan memberikan perawatan


pada ODHA (Depkes RI, 2003)

Isu Etik dan Hukum pada Konseling Pre-Post Tes HIV

Konseling Pre-Post Tes HIV

Konseling adalah proses pertolongan di mana seseorang dengan tulus ikhlas dan
tujuan yang jelas memberikan waktu, perhatian dan keahliannya untuk
membantu klien mempelajari dirinya, mengenali, dan melakukan pemecahan
masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan. Voluntary
Counseling and Testing (VCT) atau konseling dan tes sukarela merupakan
kegiatan konseling yang bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan sebelum
atau sesudah tes darah di laboratorium. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih
dahulu memahami dan menandatangani informed consent yaitu surat
persetujuan setelah mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar.
Pelayanan VCT harus dilakukan oleh petugas yang sangat terlatih dan memiliki
keterampilan konseling dan pemahaman akan HIV/AIDS. Konseling dilakukan
oleh konselor terlatih dengan modul VCT. Mereka dapat berprofesi perawat,
pekerja sosial, dokter, psikolog, psikiater, atau profesi lain.

Informed consent untuk Tes HIV/AIDS

Tes HIV adalah tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang
sudah positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya
antibodi HIV di dalam sampel darahnya.

Hal ini perlu dilakukan setidaknya agar seseorang bisa mengetahui secara pasti
status kesehatan dirinya, terutama menyangkut risiko dari perilakunya selama
ini

Tes HIV harus bersifat :

Sukarela : Bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah


berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan/tekanan
orang lain ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk di tes setelah
mengetahui hal-hal apa saja yang mencakup dalam tes itu, apa
keuntungan dan kerugian dari tes HIV, serta apa saja implikasi dari hasil
positif ataupun negatif tersebut.

Rahasia : Apapun hasil Tes ini (baik positif maupun negatif ) hasilnya hanya
boleh diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan

Tidak boleh diwakilkan kepada siapapun, baik orang tua/pasangan, atasan


atau siapapun

Aspek Etik dan Legal Tes HIV

Informed consent adalah peresetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas
dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien tersebut (Permenkes, 1989)

Dasar dari informed consent yaitu :


Asas menghormati otonomi pasien setelah mendapatkan informasi yang
memadai pasien bebas dan berhak memutuskan apa yang akan
dilakukan terhadapnya

Kepmenkes 1239/Menkes/SK/XI/2001 pasal 16 : Dalam melaksanakan


kewenangannya perawat wajib menyampaikan informasi dan meminta
persetujuan tindakan yang akan dilakukan

PP No.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 : Bagi


tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas wajib memberikan
informasi dan meminta persetujuan

UU No. 23 Tahun 1992 tentang tenaga kesehatan pasal 15 ayat 2 :


Tindakan medis tertentu hanya bisa dilakukan dengan persetujuan
yang bersangkutan atau keluarga

Semua tes HIV harus mendapat informed consent dari klien setelah klien
diberikan informasi yang cukup tentang tes, tujuan tes, implikasi hasil tes positif
atau negatif yang berupa konseling prates. Dalam menjalankan fungsi perawat
sebagai advokat bagi klien, sedangkan tugas perawat dalam in formed consent
telah meliputi tiga aspek penting yaitu :

Persetujuan harus diberikan secara sukarela

Persetujuan harus diebrikan oleh individu yang mempunyai kapasitas dan


kemampuan untuk memahami

Persetujuan harus diberikan setelah diberikan informasi yang cukup sebagai


pertimbangan untuk membuat keputusan

Persetujuan pada tes HIV harus bersifat jelas dan khusus, maksudnya,
persetujuan diberikan terpisah dari persetujuan tindakan medis atau tindakan
perawatan lain (Kelly 1997 dalam Chitty 1993). Persetujuan juga sebaiknya
dalam bentuk tertulis, karena persetujuan secara verbal memungkinkan pasien
untuk menyangkal persetujuan yang telah diberikannya di kemudian hari.
Depkes Afrika pada Bulan Desember 1999 mengeluarkan kebijakan tentang
perkecualian di mana informed consent untuk tes HIV tidak diperlukan, yaitu
untuk skrining HIV pada darah pendonor dimana darah ini tanpa nama. Selain itu
informed consent juga tidak diperlukan pada pemeriksaan tes inisial (Rapid Test)
pada kasus bila ada tenaga kesehatan yang terpapar darah klien yang di curigai
terinfeksi HIV, sementara klien menolak dilakukan tes HIV dan terdapat sampel
darah.