Anda di halaman 1dari 13

RMK

TEORI AKUNTANSI KEUANGAN

OLEH:
KELOMPOK 8

KOMANG TRI UTARIYANI 1981621005


NI NYOMAN KOSI SYANURI 1981621011

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2020
PERKEMBANGAN LEMBAGA PENGATUR STANDAR AKUNTANSI
KEUANGAN

Sebelum tahun 1930, akuntansi di Amerika tidak diregulasi karena praktek dan
prosedur yang dilaksanakan oleh perusahaan dianggap rahasia, sehingga satu perusahaan
hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang prosedur apa yang digunakan oleh perusahaan
lainnya. Dampaknya, praktek akuntansi pada tiap perusahaan tidak sama dan tidak konsisten
setiap tahunnya. Pada tahun 1920-an, pelaporan keuangan belum dikembangkan dan hanya
mengikuti kebutuhan investor saja. Pada akhirnya, pada tahun 1929 terjadi stock market
crash yang membuat investor bertanya-tanya apakah praktek akuntansi dan pelaporan
keuangan saja cukup untuk menilai investasi. Maka dari itu, muncul 3 periode pengembangan
standar akuntansi, yaitu perkembangan akuntansi tahun 1930-1946, era setelah perang tahun
(1946-1959) dan periode modern (1959 – sekarang).

1. PERKEMBANGAN AKUNTANSI DI AMERIKA SERIKAT SEBELUM TAHUN


1930
Sejak tahun 1880, muncul kesadaran bahwa akuntansi merupakan instrument yang
penting dalam menjalankan bisnis di Amerika. Pada tahun 1896, American Association of
Public Accountant (AAPA) yang beranggotakan 10 orang dengan The Institute of
Bookkeepers and Accountants menjalin kerjasama yang menghasilkan perancangan desain
“Certified Public Accountant (CPA)”. Akan tetapi sampai tahun 1913, belum ada standar
yang menjelaskan bagaimana cara untuk mendapatkan predikat CPA tersebut.
American Association of Public Accountant (AAPA) pada tahun 1905 mulai
menerbitkan Jurnal Akuntansi. Pada tahun 1915, komite terminologi AAPA merumuskan
daftar istilah-istilah akuntansi beserta definisinya. Karena semakin banyak muncul istilah
akuntansi dan definisinya, akhirnya pada tahun 1931 terbitlah sebuah buku tentang istilah
dan definisi akuntansi sebanyak 126 halaman.
Pada tahun 1957 American Association of Public Accountant (AAPA) berubah nama
menjadi American Institute of Certified Public Accountans (AICPA) dan pada tahun 1916
membentuk American Institute of Accountants (AIA) untuk meningkatkan keseragaman
dan standardisasi terkait kualifikasi dan persyaratan keanggotaan. Tahun 1917, AIA
mendirikan Board of Examiners, yaitu badan yang bertugas membuat ujian CPA agar
akuntan professional merupakan akuntan yang memiliki CPA. Tahun 1918 AIA bekerja

1
sama dengan Federal Trade Comission (FTC) menerbitkan “metode yang ditetapkan
dalam penyusunan neraca” yang dianggap telah memberikan standar minimum untuk
mengaudit neraca, kemudian direvisi pada tahun 1929 dimana sebagian besar dokumen ini
membicarakan tentang prosedur audit dan sedikit masalah akuntansi dengan arahan dari
Federal Reserve Board. Pada saat Great Depression tahun 1929, mulai muncul pertanyaan
apakah praktek akuntansi mengarah pada keputusan investasi yang buruk, meskipun
belum ada buktinya. Namun, kejadian tersebut dan terpilihnya Franklin D Roosevelt pada
tahun 1932 sebagai presiden serta pembuat undang-undang New Deal, membuat
perubahan besar di bidang akuntansi.

2. PERKEMBANGAN AKUNTANSI TAHUN 1930-1946


a. Perjanjian NYSE/AICPA
Pada tahun 1930, Special Committee on Cooperation dari AICPA memulai
kerjasama dengan Committee on Stock List dari New York Stock Exchange (NYSE)
untuk membuat dokumen penting tentang pengembangan prinsip akuntansi yang wajib
diikuti oleh semua perusahaan yang terdaftar di bursa. Hal ini perlu dilakukan karena
menurut NYSE, perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan praktek akuntansi yang
tidak diberitakan. AICPA menyarankan NYSE untuk memberikan kebebasan kepada
setiap perusahaan dalam memilih metode akuntansi yang akan diterapkan dengan syarat
metode yang digunakan harus diungkapkan dan pelaksanaannya konsisten dari tahun ke
tahun. Pada tanggal 22 September 1932, AICPA menyiapkan draft formal yang
berjudul “lima prinsip akuntansi yang bersifat luas” yang disahkan oleh NYSE.
b. Pembentukan Securities and Exchange Commission (SEC)
SEC dibentuk oleh kongres Amerika pada tahun 1934 yang bertujuan untuk
mengatur pelaksanaan undang-undang sekuritas tahun 1933 tentang penerbitan surat
berharga pada pasar antar negara bagian dan undang-undang sekuritas tahun 1934
tentang perdagangan surat berharga. Awalnya SEC diijinkan oleh akuntansi profesional
untuk mengatur prinsip akuntansi tanpa adanya campur tangan. Akan tetapi pernyataan
yang dibuat SEC pada tahun 1937 dan 1938 ditandai dengan tumbuhnya ketidaksabaran
para profesi. Karena menurut Komisaris SEC Robert Healy kesulitan besar yang
dihadapi adalah munculnya kebutuhan akan badan yang memiliki otoritas untuk
memperbaiki dan mempertahankan standar akuntansi sedangkan badan tidak memiliki
otoritas untuk memperbaiki dan mempertahankan standar akuntasi tersebut. SEC akan
menentukan metode praktek dan mandat akuntansi untuk dipakai dalam pembuatan
2
laporan, kecuali jika profesi akuntansi sendiri mendirikan suatu badan ortoritas untuk
mengatur tersebut.
c. Komite Prosedur Akuntansi (1936-1946)
Pada tahun 1933, AICPA membentuk Special Committee on Development of
Accounting Principles akan tetapi pada tahun 1936, CAP didirikan untuk menggantikan
Special Committee on Development of Accounting Principles namun CAP tidak aktif
sampai tahun 1938. Pada tahun 1938, CAP awalnya ingin mengembangkan penyataan
prinsip akuntansi komprehensif yang berfungsi sebagai panduan umum untuk
menyelesaikan masalah partikal umum. Namun, karena pembuatannya terlalu lama,
maka CAP mengadopsi peraturan untuk mengatasi masalah khusus dan
merekomendasikan metode akuntansi yang lebih baik. Tahun 1939 CAP mengeluarkan
pernyataan prinsip akuntansi yang memiliki “bantuan berwenang yang kokoh” sebagai
respon atas ASR No.4. Pada periode ini tidak banyak dapat menghasilkan prinsip
akuntansi yang komprehensif, tetapi bisa menghasilkan dua kontribusi penting.
Pertama, keseragaman praktek akuntansi berkembang secara signifikan. Kedua,
kawasan privat mulai dijadikan sumber pembuatan aturan akuntansi.

3. ERA SETELAH PERANG TAHUN 1946-1959


Pada era ini, terjadi ledakan ekonomi yang lebih besar daripada periode sebelumnya.
Akibatnya perindustrian semakin banyak membutuhkan modal agar bisa berkembang
pesat. Atas dorongan bursa saham, industri mulai aktif memanfaatkan uang yang tersedia
dari public. Pada tahun 1940, ada empat juta pemegang saham yang diperkirakan di
Amerika Serikat. Dengan demikian sebagian besar masyarakat Amerika memiliki
kepentingan keuangan yang besar dalam perusahaan. Maka dari itu, laporan keuangan
perusahaan menjadi sumber informasi yang sangat penting untuk membuat keputusan.
Sehingga, peraturan akuntansi kembali menjadi perhatian untuk menyelesaikan masalah
keseragaman pelaporan pendapatan dari perusahaan yang berbeda.
a. ARB 32 dan SEC
Pada akhir tahun 1940-an hingga awal tahun 1950, CAP gagal membuat
rekomendasi positif untuk prinsip akuntansi secara umum. Karena tidak ada teori yang
mendasari, maka terjadi kelebihan persediaan prinsip akuntansi yang “baik”, sehingga
menyebabkan konflik antara CAP dengan SEC, yaitu antara pernyataan pendapatan all-
inclusive dengan pelaksanaan arus operasi. Menurut CAP, pelaksanaan arus operasi
akan meningkatkan laporan pendapatan yang bisa dibandingkan antar perusahaan
3
dengan laporan pendapatan suatu perusahaan dari tahun ke tahun. Laba rugi luar biasa
dipisahkan dari laba bersih berdasarkan konsep pelaksanaan arus operasi. Sedangkan
menurut SEC, pengecualian pada laporan keuangan yang dicantumkan pada
Accounting Research Bulletin (ARB) 32 dapat menyesatkan. Tahun 1950, SEC
mengusulkan untuk menggunakan konsep all-inclusive yang bertentangan dengan ARB
32. Kemudian CAP dan SEC sepakat bahwa spesial item akan menjadi hal terakhir
dalam laporan keuangan.
b. Masalah Tingkat Harga
Profesi akuntansi telah mencoba mengatasi masalah tingkat harga sejak akhir
tahun 1953, akan tetapi tidak terselesaikan karena adanya hambatan terkait depresiasi.
Depresiasi yang berdasarkan biaya historis tidak dapat mengukur pengurangan nilai
aset tetap secara tepat terkait daya beli saat ini, sehingga terjadi kelebihan laba bersih.
Akhirnya, profesi akuntansi mengesampingkan masalah ini dan kembali fokus pada
pengembangan standar akuntansi keuangan.
c. Tahun Penutupan CAP
Dari tahun 1957 hingga 1959, kritik terhadap CAP mulai bermunculan karena
banyak yang merasa bahwa CAP berjalan terlalu lambat. Selama pertengahan dan akhir
tahun 1950an, mulai ada ajakan pada profesi akuntansi untuk menyiapkan pernyataan
prinsip-prinsip dasar akuntansi yang komrehensif. Pada tahun 1957, AAA telah
menerbitkan konsep dan definisi mendasar yang menggunakan pendekatan induktif
sedikit mungkin. Sedangkan pada waktu yang sama, CAP masih menyelesaikan
masalah dengan cara membuat peraturan tanpa mengembangkan prinsip dasar
akuntansi keuangan.
d. Pendekatan Baru
Pada tahun 1957 Alvin R. Jennings menyarankan reorganisasi AICPA untuk
mempercepat pengembangan prinsip akuntansi. Dengan kata lain, ia mengusulkan
menggunakan pendekatan konseptual untuk menggantikan sedikit demi sedikit metode
yang sudah 20 tahun digunakan oleh CAP sebagai bagian dari proses pengembangan
prinsip akuntansi. Profesi akuntansi juga mempertimbangkan pendekatan tersebut.
AICPA menyusun Komite Khusus untuk Program Penelitian dan menyelesaikan
laporannya kurang dari setahun. Laporan tersebut akan menjadi “artikel penggabungan”
untuk Accounting Principles Board (APB) dan Accounting Research Division.

4. PERIODE MODERN, TAHUN 1959-SEKARANG


4
APB dan divisi penelitian akuntansi menyerukan pendekatan bercabang dua untuk
pengembangan prinsip akuntansi. Divisi penelitian adalah menjadi semiotonom. Direktur
sendiri memiliki kewenangan untuk mempublikasikan temuan staf penelitian, dan itu
harus secara eksklusif ditujukan untuk pengembangan prinsip akuntansi tanpa tanggung
jawab kepada komite teknis AICPA. Direktur riset harus berunding dengan ketua APB
terkait dengan proyek penelitian yang akan dilakukan. Jika keduanya tidak setuju, maka
APB secara keseluruhan menentukan proyek apa yang akan dilakukan oleh divisi
penelitian. Proyek-proyek divisi penelitian akan diterbitkan dalam bentuk Accounting
Research Studies (ARSs).
APB didirikan untuk merumuskan dalil dasar akuntansi dan prinsip akuntansi yang
terkoordinasi secara luas berdasarkan dalil-dalil tersebut. Bentuk organisasi APB mirip
dengan CAP, dimana memiliki 18-21 anggota AICPA yang mewakili berbagai pihak
seperti KAP besar dan kecil, akademisi, dan industri swasta. Untuk merumuskan sebuah
opini, dibutuhkan persetujuan dari dua pertiga anggota.
a. Tahun-tahun Awal APB
Tahun awal berdirinya APB ditandai dengan kegagalan dan keraguan. Studi
penelitian yang disebutkan didalam piagam asli tidak diterima oleh profesi, demikian
pula halnya dengan investasi terjadi kontroversi terhadap kredit beserta pajak sehingga
mengakibatkan tantangan serius bagi otoritas dewan oleh perusahaan CPA.
1) ARS 1 dan 3
ARS 1, The Basic Postulates of Accounting oleh Maurice Moonits, yang
diterbitkan pada tahun 1961 mengenai dukungan terhadap pengunaan exit value
accounting, tidak menerima banyak tanggapan baik dari APB sendiri maupun dari
profesi akuntansi karena publik lebih menunggu publikasi studi prinsip sebelum
memberikan penilaian. ARS 3, A Tentative Set of Broad Accounting Principle for
Business Enterprises yang diterbitkan pada bulan April tahun 1962 mengenai
perubahan-perubahan tingkat harga umum dan khusus juga justru menuai kritik dari
berbagai pihak. Kedua studi tersebut menggunakan pendekatan deduktif seperti yang
diinginkan oleh banyak pihak, namun ternyata mendatangkan banyak kritikan.
AICPA menolak kedua hasil studi tersebut dan penolakan ini dipandang sebagai
upaya untuk melemahkan pendekatan dua arah yang digunakan APB.
2) Kredit Pajak Investasi
Profesi akuntansi terbagi menjadi dua alternatif, yaitu (1) mengakui tax benefit
pada tahun diterima (flow-through method), dan (2) mengakui tax benefit sepanjang
5
usia aset terkait (deferral method). Akhirnya pada November 1962 APB
mengeluarkan APB Opinion No. 2 yang memerintahkan untuk menggunakan
deferral method, tanpa adanya studi terlebih dahulu. Namun, pada waktu yang
hampir bersamaan, tiga KAP besar menyatakan bahwa mereka tidak akan
mensyaratkan klien mereka untuk mengikuti opini tersebut. Ditambah lagi pada
Januari 1963, SEC mengeluarkan ASR 96 yang memungkinkan perusahaan untuk
menggunakan flow-through method. Akhirnya APB mengeluarkan APB Opinion no
4 yang mengizinkan penggunaan kedua metode tersebut. Karena otoritas APB
semakin terdesak, pada akhir 1964 AICPA mendeklarasikan bahwa segala
penyimpangan dari opini APB harus diungkapkan pada laporan keuangan yang
diaudit oleh anggota AICPA.
b. Kontroversi Dalam APB
Pada 1965 hingga 1967, APB cukup produktif, mengeluarkan 3 opini menarik
dari 7 yang dikeluarkan. Tiga opini itu adalah akuntansi untuk rencana cost of pension,
(ARS 8, Accounting for the Cost of Pension Plans) yang menerima unanimous
approval, akuntansi terkait barang-barang luar biasa dan earning per share (APB
Opinion no 9), dan tentang alokasi pajak pendapatan (ARS 9, Interperiod Allocation of
Corporate Income Taxes).
1) ARS 7 dan Pernyataan APB 4
Ketika profesi tidak menerima ARS 1 dan ARS 3, studi penelitian yang
lainnya ditugaskan. Tujuannya adalah untuk membahas konsep dasar prinsip
akuntansi dimana merangkup prinsip dan praktik yang dapat diterima. Namun,
ternyata hasilnya, ARS 7, Inventory of Generally Accepted Accounting Principles
for Business Enterprises tidak memiliki sesuatu yang baru karena hanya mengambil
keputusan-keputusan yang sudah ada kemudian mendeduksikan prinsip-prinsip
akuntansi dari keputusan-keputusan itu. Karena APB telah terbukti gagal
melaksanakan tugas aslinya, maka Special Committee APB merekomendasikan
dewan untuk sesegera mungkin menentukan tujuan dan batasan laporan keuangan,
menentukan prinsip akuntansi dan menentukan “GAAP”. Menanggapi rekomendasi
itu, pernyataan ke 4 dalam APB, yang isinya:
a) Menyediakan dasar untuk mengevaluasi praktek akuntansi, untuk membantu
menyelesaikan masalah akuntansi dan membimbing pengembangan akuntansi
keuangan di masa depan.

6
b) Meningkatkan pemahaman tujuan akuntansi keuangan, sifat proses dan hal-hal
yang membentuknya, serta potensi dan batasan laporan keuangan dalam
memberikan informasi.
Pernyataan itu menangani banyak topik yang sama dengan ARS 7, yang tidak
memiliki ketegasan dan ketetapan. APB kembali gagal untuk membuat dalil dasar
dan prinsip akuntansi secara luas.
2) Kritik yang Berkelanjutan
Dua kritik yang disampaikan kepada APB:
a) Peparan opini APB terlalu terbatas dan terlalu lambat prosesnya.
b) Masalah kombinasi bisnis menunjukkan proses pembuatan standar terlalu lama
dan terlalu banyak tekanan pihak luar yang tidak seharusnya terkait dengan
proses.
Menanggapi kritik tersebut, APB akhirnya mengadakan beberapa perubahan.
FASB terlebih dahulu menyebarkan hasil diskusi terkait aspek-aspek masalah
akuntansi tertentu kemudian mengumpulkan komentar dari pihak-pihak terkait.
Kemudian APB membagikan poin-poin draft opini untuk melihat reaksi pihak-pihak
tersebut. Setelah itu, draft opini yang resmi dibagikan kepada pihak-pihak dan
mereka dimintai komentar mengenai draft tersebut. Jika dua pertiga pihak setuju,
opini tersebut diterbitkan.
Kontroversi mengenai masalah kombinasi bisnis dan goodwill paling
memakan waktu. Berdasarkan hasil studi sebelumnya, ada beberapa pendapat yang
bertentangan. Setelah melewati beberapa kali proses, pada Juni 1970 akhirnya
diperoleh keputusan bahwa size test untuk pooling of interest pada kombinasi bisnis
harus dihilangkan (APB opinion no 16) dan goodwill harus diamortisasi selama
paling lama 40 tahun (APN Opinion no 17). Mengingat sulitnya mencapai standar
akuntansi yang pasti untuk goodwill dan kombinasi bisnis, akhirnya diadakan review
prosedur penetapan prinsip akuntansi, akhirnya pada April 1971 AICPA membuat
dua kelompok studi terpisah.
3) Laporan Komite
Komite telah menyelesaikan laporannya pada bulan Maret 1972. Ini
menyerukan perubahan signifikan dalam pembentukan standar akuntansi keuangan.
Laporan tersebut memuat rekomendasi sebagai berikut:

7
a) Pembentukan yayasan akuntansi keuangan (Financial Accounting Foundation
atau FAF), yang memiliki sembilan wali yang tugas utamanya adalah menunjuk
anggota FASB dan menggalang dana untuk kegiatan operasional.
b) Pembentukan FASB. Dewan akan memiliki tujuh anggota yang akan bekeja
secara penuh dalam menetapkan standar laporan keuangan.
c) Pembentukan standar akuntansi keuangan dewan penasehat (Financial
Accounting Standars Advisory Council atau FASAC). Dewan ini, dengan 20
anggota, akan berkonsultasi dengan FASB untuk menetapkan prioritas dan gugus
tugas serta bereaksi terhadap standar yang diusulkan.
c. Periode Kontemporer
Biaya untuk pembentukan FASB yang baru berbeda dalam satu hal penting dari
yang diberikan kepada APB pada tahun 1959. APB bekerja ke arah pengaturan standar
dengan dua pendekatan, sedangkan FASB yang baru, meskipun memiliki divisi
penelitian ditujukan untuk menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan
keuangan dengan cara yang paling efisien dan lengkap. Dengan demikian, FASB tidak
diharuskan untuk menetapkan prinsip-prinsip akuntansi sebagai kerangka dasar.
1) Mekanisme Operasional FASB
FASB bertujuan untuk membuat standar akuntansi keuangan dan pelaporan
keuangan seefisien dan selengkap mungkin. Prosedur pembuatan standar dimulai
dengan identifikasi masalah. Sebuah tim dibentuk untuk mencari semua aspek
masalah yang hasilnya kemudian disebar ke pihak-pihak yang terkait. Setelah
memperoleh pandangan pihak-pihak tersebut, draft disesuaikan kemudian
dilaksanakan voting untuk mendapatkan tiga perempat suara. Namun, proses ini
dirasa sangat politis.
2) Penilaian FASB
Pada tahun-tahun awal terbentuknya FASB, FASB mendapat banyak kritik
berupa jumlah keputusan yang dikeluarkan, pendekatan yang digunakan, maupun
perubahan-perubahan yang akhirnya berhasil digagas oleh FASB. Structure
Committee of Board of Trustees FAF mereview dan melakukan perubahan.
Akhirnya, FASB mulai memakai banyak sumber daya yang tersedia di luar, serta
pekerjaannya menjadi lebih transparan. Berikut ini perbandingan antara FASB,
APB, dan CAP :
Karakter CAP APB FASB
Independensi Bagian dari AICPA Bagian dari AICP Terpisah dari AICPA
8
organisasi
independensi other full-time Full-time employer Full-time employee
anggota employer of FASB
Keanggotaan Harus CPA Harus CPA Anggota tersendiri
atas akuntan publik,
pemerintah,industri
perusahaan sekuritas,
dan akademisi.
Dua proses Sedikit, jika Sangat terbatas Lebih ekstensif dan
memang ada walaupun pada merupakan bagian
akhir berdirinya dari proses dapat
menjadi sekain menimbulkan
melebar. “democtratic
paralysis.
Standar pendukung Tidak usaha Gagal dalam Lebih berhasil
dokumen teoritis merumuskan dalil menyelesaikan
dan prinsip (RAS kerangka kerja
no.7 dan APB konseptual.
statement no.4
gagal).
Penggunaan riset Sangat terbatas Sebagian besar Lebih ekstensif
untuk ARS

(a)Usaha Untuk Mengikis Kekuatan FASB


Beberapa organisasi telah berusaha untuk membatasi atau menyempitkan
kekuasan legislatif FASB. Ketika tanggung jawab untuk pengaturan standar
dipindahkan dari AICPA ke FASB, AICPA mengatur Accounting Standards
Exekutive Commiitee (AcSEC) pada tahun 1972 untuk melakukan fungsi
hubungan antara AICPA dan FASB.
AcSEC menerbitkan 2 jenis pernyataan:
1. Laporan Posisi (SOP) dan,
2. Panduan Akuntansi Industri (Panduan)
Keduanya lebih sempit dan lebih spesifik jika dibandingkan dengan pernyataan
FASB.
Kelompok lain, Emerging Issues Task Force (EITF) berdiri secara tidak
formal pada tahun 1984 dengan konsentrasi yaitu menangani persoalan khusus
dibidang informasi keuangan yang dialami suatu entitas. Anggotanya adalah
akuntan SEC dengan beberapa organisasi yang merupakan anggota FAF. EITF
tidak memiliki wewenang formal, namun persetujuan umumnya bisa menjadi
mutlak (GAAP).

9
Beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengaturan standar FASB
diantaranya adalah adanya kekuatan untuk membuat standar bagi pemerintah
untuk mendirikan Government Accounting Standards Board (GASB) pada tahun
1984 oleh FAF. Standar GASB cenderung mengalahkan standar yang dibuat oleh
FASB untuk entitas pemerintah. Akhirnya diputuskan bahwa pelaporan keuangan
organisasi sektor publik tetap memakai standar FASB kecuali bila lembaga tinggi
organisasi tersebut menyatakan akan memakai standar GASB.
3) Investigasi Kongresional
Selain FASB, yang mendapat tekanan yang lain adalah investigasi
kongresional dari profesi audit dan alat pengatur standar. Sub panitia dari dua
kongresional melaporkan sirkulasi yang terjadi pada akhir tahun 1976 sampai awal
1977 dengan tingkat kritis yang tinggi. Laporannya dikritik oleh pusat kekuatan dari
FASB, SEC, AICPA dan perusahaan CPA “The Big Eight” (sekarang The Big Five).
Untuk menunjukkan kepentingan konsultasi manajemen, beberapa amggota
dari perusahaan akuntansi The Big Five membuka rangkaian penekanan iklan
televisi yang mencolok menekankan “know how” dan kemampuan dari wewenang
konsultasi manajemen mereka. Hasilnya, beberapa perusahaan berusaha untuk
membangun “tembok Cina” antara fungsi audit dan konsultasi manajemen untuk
memelihara kejujuran dalam proses audit.
4) Krisis Tanggung Jawab Pada Akuntansi Publik
Krisis tanggung jawab dalam akuntasi publik telah menjadi masalah penting
yang dihadapi oleh seluruh profesi. Antara auditor dengan pengatur standar
bersama-sama menjadi bagian dari suatu kesalahan. Namun, ada beberapa masalah
yang melekat pada legal sistem, digabungkan dengan kenyataan bahwa auditor
memiliki “kantong dalam” yang memimpin beberapa perubahan pada bagian yang
paling penting dalam Private Securities Litigation Reform Act (PSLRA) pada tahun
1995. Satu hasil menakjubkan dari PSLRA adalah proses pengadilan melawan
auditor bisa tergeser dari pengadilan pemerintah pusat ke pengadilan negara bagian.
Meskipun demikian, beberapa negara bagian meletakkan pembatasan mereka diatas
kerjasama dan beberapa kewajiban serta menggerakkan kewajiban menuju ke depan
secara professional kecuali pengugat dengan sengaja memakainya dalam penipuan.
5) Peran AICPA Saat Ini
AICPA memiliki otoritas eksklusif untuk membuat peraturan audit di sektor
swasta. Komite yang bertanggungjawab untuk tugas ini adalah Dewan Standar
10
Audit. Tugas AICPA sekarang yaitu menjadi penjaga ketertiban self-regulation,
menjadi badan pembuat standar untuk perusahaan yang lebih kecil serta “belanja
untuk prinsip akuntansi”.
Peran penting AICPA adalah untuk mengekang apa yang disebut “belanja atas
dasar akuntansi”, yang melibatkan meningkatnya persaingan diantara perusahaan
audit untuk tanah klien. Opini mengenai masalah belanja ini, pada kenyataannya,
memimpin auditor untuk mendukung posisi asing secara keseluruhan berdasarkan
Chief Accountant terdahulu dari SEC. AICPA berusaha untuk memperkuat standar
professional dari kepemimpinan dan peraturan dari kinerja dan perilaku. Dan pada
akhirnya, AICPA membentuk komite, yaitu Komite Khusus Laporan Keuangan pada
tahun 1991.
6) Peran SEC Saat Ini
Secara hukum peran SEC saat ini digunakan untuk mengatur praktik akuntansi
sebagai kebijakan telah mendukung penetapan standar sektor swasta secara umum
dan FASB secara khusus.
Berbeda dengan AICPA, SEC memiliki otoritas berupa statutory authority
untuk mengatur standar akuntansi untuk perusahaan publik, yaitu berupa pendanaan
terhadap aktivitas FASB, penekanan FASB untuk mengontrol penerimaan anggota
baru, serta pengisisan data keuangan lewat EDGAR (Electronic Data Gathering,
Analysis and Retrieval System).
7) Other Groups
Saat ini ada tiga asosiasi lain yang berkepentingan dalam proses pembuatan
standar, yaitu:
(a)AAA, yang mensponsori beberapa studi penelitian akuntansi.

(b)FEI, mereview semua hasil diskusi FASB dan draft yang dikeluarkan, serta
mendanai riset akuntansi dan topik terkait.

(c)IMA, telah melakukan penelitian dan menerbitkan laporan di bidang akuntansi


biaya dan manajerial.

DAFTAR PUSTAKA

11
Harry I. Wolk, Michael G. Tearney, James L. Dodd. (2001). Accounting Theory: A
Conceptual and Institutional Approach. Edisi 5. USA; South Western Collage
Publishing.

12