Anda di halaman 1dari 13

TEORI AKUNTANSI KEUANGAN

RMK “SISI EKONOMIK DARI REGULASI PELAPORAN


KEUANGAN”

OLEH:
KELOMPOK 8

KOMANG TRI UTARIYANI 1981621005


NI NYOMAN KOSI SYANURI 1981621011

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2020
SISI EKONOMIK DARI REGULASI PELAPORAN KEUANGAN

Pelaporan keuangan bagi perusahaan publik yang terdaftar di bursa efek


telah diatur di Amerika Serikat sejak tahun 1930-an, ketika Kongres memberi
kekuasaan pada SEC untuk mengatur pelaporan keuangan. Dimana melalui
pelaporan keuangan yang merupakan aktivitas rutin, sangat bermanfaat jika
dilakukan evaluasi mengenai argumen dan terhadap regulasi formal. Evaluasi
tersebut akan membantu kita untuk memahami sifat dasar regulasi akuntansi dan
konsekuensi yang muncul. Sebagai kesimpulan kita akan menaksir mana yang
lebih baik. Pengujian akan membantu memahami bagaimana proses regulasi
bekerja. Argumen mengenai pasar tidak diregulasi yang akan dibahas pertama
selanjutnya diikuti dengan argumen pasar diregulasi. Kesimpulannya akan dibahas
yakni efek ekonomi dari adanya regulasi akuntansi.

1. INFORMASI AKUNTASI PADA PASAR YANG TIDAK DIREGULASI


Beberapa argumen berbeda mendukung kasus untuk pasar tanpa
regulasi. Semua argumen tersebut berhubungan dengan insentif yang didapat
perusahaan untuk melaporkan informasi tentang kondisi perusahaan ke
pemilik perusahaan dan pasar modal secara umum. Teori Agensi menjelaskan
mengapa ada insentif untuk pelaporan yang sukarela ke pemilik perusahaan.
Pelaporan sukarela yang lebih luas ke pasar modal dijelaskan oleh teori signal
dan daya saing di pasar modal. Akhirnya informasi apapun yang tidak
dilaporkan secara sukarela dapat diperoleh melalui kontrak pribadi. Argumen
yang mendukung pasar yang tidak diatur sebagian besar bersifat deduktif.
Maka dari itu, ada tiga argument yang mendukung adanya pasar tanpa
regulasi, yaitu teori agensi, persaingan pasar modal dan signaling incentives,
serta peluang untuk melakukan kontrak pribadi.
a. Agency Theory/Teori Keagenan
Teori Keagenan merupakan teori yang memprediksikan dan
menjelaskan perilaku pihak yang terlibat di sebuah perusahaan, dan
membangun konsep hukum dari agen. Teori Keagenan menganggap

1
perusahaan itu sendiri sebagai sebuah persimpangan hubungan keagenan
dan berusaha untuk memahami perilaku organisasi dengan memeriksa
bagaimana pihak-pihak dalam hubungan keagenan dalam perusahaan
memaksimalkan manfaat untuk masing-masing pihak.
Hubungan utama teori keagenan adalah antara kelompok manajemen
dan pemilik perusahaan. Pemilik berkepentingan untuk memaksimalkan
ROI (return on investment) dan harga sekuritas, sementara manajer
mempunyai kebutuhan ekonomi dan psikologi yang lebih luas, termasuk
maksimalisasi total kompensasi mereka.
Teori keagenan memposisikan konflik antara manajemen dan pemilik
tercermin dengan pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan yang rutin
adalah satu cara pemilik memonitor kontraknya dengan
manajemen.  Akuntan merujuk pada tipe tradisional dari pelaporan sebagai
pelayanan atau pertanggungjawaban pada pemilik. Teori keagenan juga
digunakan untuk menjelaskan diperlukanya audit. Fungsi auditor
adalah pemeriksa independen dari laporan keuangan yang disampaikan
manajer pada pemilik. Sejarah perkembangan pelaporan keuangan dan
auditing didukung oleh argumentasi teori agensi.
b. Teori Pasar Modal yang Kompetitif and Teori Signal Insentif
Teori signal menjelaskan bagaimana perusahaan mendapat insentif
dari pelaporan secara sukarela di pasar modal meskipun tidak ada pelaporan
wajib. Apabila perusahaan memiliki reputasi kinerja yang baik maka
perusahaan dapat dengan mudah meningkatkan modal perusahaan. Selain
itu, pelaporan yang baik akan menurunkan biaya modal perusahaan karena
jumlahnya lebih sedikit. Tekanan kompetisi juga mendorong perusahaan
lain untuk melaporkan performa mereka meskipun tidak mempunyai
performa yang baik. Diam dapat dikatakan sebagai “bad news”. Perusahaan
dengan performa netral, juga termotivasi untuk melaporkan kinerja mereka
demi menghindari kecurigaan bad news. Sedangkan perusahaan yang
memang memiliki kinerja yang buruk tetap dipaksa untuk melaporkan
kinerja untuk menjaga kredibilitas mereka di pasar modal. Insentif ekonomi

2
untuk melaporkan adalah inti dari argumentasi teori signal tentang
pelaporan keuangan secara sukarela. Riset terhadap efek signal dari ramalan
manajemen laba dengan pengungkapan sukarela, memilki dua aspek sinyal:
1. The surprise of the income numbers forecast/kejutan mengenai
jumlah laba yang diramalkan, dan
2. The surprise attributable to the earnings forecast itself/kejutan yang
diakibatkan oleh perkiraan laba itu sendiri.
Beberapa fakta empiris yang ada bahwa pelaporan yang
disyaratkan SEC bukanlah perbaikan yang signifikan melebihi pelaporan
yang sukarela, yang diprioritaskan pada 1933 dan 1934.
Temuan menyebutkan tidak ada manfaat dari pengungkapan, namun
mendukung argumen bahwa pengungkapan secara sukarela akan terjadi
pada sebuah pasar modal yang kompetitif.
c. Peluang Kontrak Pribadi
Argumen ketiga yang mendukung pasar tanpa regulasi adalah asumsi
bahwa setiap orang yang membutuhkan informasi tentang perusahaan dapat
memperoleh informasi tersebut. Setiap pihak akan membuat kontrak untuk
informasi dengan perusahaan, atau dengan pemilik atau secara tidak
langsung melalui perantara informasi, seperti analis saham. Jika informasi
benar-benar diinginkan diluar apa yang tersedia secara umum dan bebas
biaya, individu secara pribadi dapat membeli informasi tersebut. Dengan
begitu, alokasi sumber daya pembuatan informasi dipasar akan optimal.
Karena setiap pribadi berkesempatan melakukan kontrak untuk
informasi tambahan, argumen bahwa intervensi pasar dalam bentuk
pelaporan mewajibkan pengungkapan adalah tidak diperlukan dan tidak
diinginkan. Dalam pandangan ini, permintaan terhadap informasi akan
optimal jika kekuatan pasar memaksa menentukan produksi dan
pengungkapan informasi akuntansi.

3
2. INFORMASI AKUNTANSI PADA PASAR YANG DIREGULASI
Pasar diregulasi dapat menjadi justified dalam dasar dari kepentingan
publik. Dalam konteks ini, terdapat 2 alasan yang digunakan untuk
mempertahankan regulasi. Alasan pertama adalah kemungkinan terjadinya
kesalahan pada sistem pasar bebas yang disebut market failure, dan
menyebabkan ketidakoptimalan dalam alokasi sumber daya.  Alasan kedua
adalah kemungkinan pasar bebas bertentangan dengan tujuan sosial.
Pembenaran filosofis dari proses penyusunan standar (disebut kodifikasi)
adalah didasarkan pada perbaikan secara evolusi terhadap standar akuntansi
dalam masyarakat yang terbuka dan demokratis.
a. Kegagalan Pasar
Ada beberapa argumen yang mendukung regulasi karena kegagalan
pasar. Argumen berkonsen pada perusahaan memonopoli informasi,
kegagalan pelaporan keuangan untuk mencegah kecurangan.
1) Perusahaan Sebagai Pemasok Informasi Monopoli
Salah satu argument menyatakan bahwa kegagalan pasar terjadi
karena perusahaan sebagai pemasok monopoli informasi dirinya sendiri
yang menyebabkan adanya pembuatan informasi yang terbatas serta
adanya monopolistik harga jika pasar tersebut tidak diregulasi.
Kemungkinan situasi ini terjadi pada industri utilitas. Solusi tindakan
pengaturan pada industri utilitas adalah mengizinkan monopoli produksi,
tetapi mengatur harga. Dengan regulasi akuntansi, sesuai argumen akan
lebih baik mewajibkan pelaporan dari pada bersaing membeli informasi
secara pribadi dan pada harga monopoli. Dengan kata lain, mewajibkan
pengungkapan publik menggunakan cost-effective method untuk
mendapatkan informasi yang spesifik bagi yang menginginkannya.
2) Kegagalan Pelaporan Keuangan dan Auditing
Kritik terhadap praktik akuntansi dan proses penyusunan standar
secara umum difokuskan pada dugaan pelaporan keuangan berkualitas
rendah, walaupun di bawah regulasi. Alasan yang diungkapkan adalah
standar akuntansi dan auditing yang buruk terlalu banyak fleksibilitas

4
manajemen dalam pilihan kebijakan akuntansi dan kelemahan auditor
secara berkala. Kecurangan perusahaan tidak terdeteksi oleh auditor dan
kelalaian perusahaan tidak ditandai lebih lanjut oleh salah satu dari
laporan keuangan atau laporan audit yang disebut sebagai fakta bahwa
sistem pelaporan keuangan telah gagal melindungi kepentingan publik.
Pelaporan keuangan yang baik diperlukan untuk menciptakan
kepercayaan investor pada kejujuran pasar modal sehingga penghematan
terhubung dengan investasi yang produktif.
Kritik ini, menimbulkan pertanyaan yang berguna tentang nilai
informasi akuntansi dan mampu menyajikan bagaimana sebuah
pendorong untuk meninjau standar akuntansi dan auditing. Peningkatan
regulasi pelaporan keuangan akan mengurangi kemungkinan kecurangan
dan kelalaian yang tidak terdeteksi, tetapi tidak akan pernah bisa
menghilangkannya. Akhirnya, beberapa argumen yang mendukung
perluasan regulasi harus juga mempertimbangkan biaya regulasi.
3) Akuntansi Sebagai Produk Publik
Kegagalan pasar juga dapat terjadi dengan apa yang disebut
sebagai Public goods. Public goods adalah komoditas dimana setelah
diproduksi dapat dikonsumsi tanpa mengurangi nilai oppourtunity setelah
dikonsumsi yang lainnya. Public goods tidak diproduksi pada pasar
bebas yang dinamakan eksternalitas. Eksternalitas terjadi jika seorang
produsen tidak bisa membebankan biaya produksi kepada semua
pengguna barang. Dampak eksternalitas adalah produsen barang publik
mempunyai keterbatasan insentif untuk memproduksi karena semua
konsumen tidak bisa dikenakan biaya untuk barang tersebut.
Informasi akuntansi merupakan Public good. Ia dapat diperoleh
secara gratis dari orang ke orang dan setiap orang dapat mengkonsumsi
isi dari informasi tersebut. Terdapat dua aspek regulasi pelaporan
keuangan yang meningkatkan nilai sosial (eksternalisasi) yaitu
meningkatnya komparabilitas angka akuntansi lintas perusahaan dan
meningkatkan kepercayaan pasar sekuritas. Keduanya beroperasi untuk

5
mengurangi risiko informasi di pasar modal dan harus menguntungkan
masyarakat melalui return atas investasi berisiko. Intervensi dalam
bentuk persyaratan pelaporan wajib dianggap perlu untuk memastikan
bahwa kebutuhan nyata untuk informasi akuntansi terpenuhi.
b. Tujuan Sosial
Alasan lain memberlakukan regulasi bermaksud untuk mencapai
tujuan sosial yang tidak dipenuhi dalam pasar bebas meskipun tidak terjadi
kegagalan pasar. SEC memberi perhatian terhadap apa yang diistilahkan
dengan pelaporan yang jujur (fair reporting) dan proteksi investor.
Kejujuran pasar modal adalah tipe argumen kepentingan publik. Regulasi
dalam trading adalah aplikasi dari filosofi informasi simetri. Regulasi
tersebut mencoba mencegah akses secara tidak adil pada informasi pribadi
dan mengambil keuntungan dari informasi tersebut. Tujuan sosial lainnya
sebagai tambahan simetri informasi adalah keterbandingan/komparabilitas,
yang merujuk pada dapat dipercaya (reliability) dari laporan keuangan saat
pembuatan evaluasi dalam lingkup interm.
c. Pembenaran Kondutif Dari Pengaturan Standar
Dalam sebuah monogram penting yang diterbitkan AAA, Gaa telah
memberikan sebuah pembenaran terhadap regulasi pelaporan keuangan dan
proses penyusunan standar. Fungsi ini muncul di lingkungan yang memiliki
masalah teori agensi, underproduction informasi akuntansi karena
merupakan barang publik, serta kurangnya comparability. Titik pandang
kodifikasional bukan hanya rasional, tetapi juga proses perubahan yang
perlahan pada pengertian sistem dapat diterima untuk dikembangkan dan
diperbaiki. Output dari sistem kodifikasi seperti standar akuntansi belum
tentu benar dalam logika deduktif, Pendekatan kodifikasi adalah pragmatis,
karena maksimalisasi standar untuk semua maksud dan tujuan yang tidak
mungkin. Kodifikasi menyediakan sebuah gagasan yang baik dari apa yang
bisa diterima pada saat masyarakat yang demokratis mencoba untuk
mengatasi masalah distribusi yang sulit (bagaimana manfaat bisa dibagi
pada sejumlah kelompok yang bersaing).

6
d. Perbandingan Pasar yang Diregulasi dan Tidak Diregulasi
Pada kenyataannya, akuntansi diregulasi. Sangat berharga untuk
mengetahui biaya dan manfaat dari regulasi. Argumen pro regulasi dan
pasar non regulasi secara lebih luas lebih bersifat rasional deduktif dari pada
riset secara empiris. Apakah kelanjutan adalah sebuah usaha yang mencoba untuk
menilai kebaikan dari kedua argumen dan membandingkannya pada titik dimana
keduanya menuju isu yang sama.

Yang Mendukung Pasar Regulasi Yang Menolak Pasar Regulasi

1 Perusahaan merupakan pemasok Karena adanya tekanan kompetitif untuk


monopolistik terhadap informasi mendapatkan dana daripasar modal, perusahaan
akuntansi, sehingga lebih baik bagi memiliki insentif untuk mengungkapkan
masyarakat untuk mewajibkan adanya informasinya secara sukarela. Perusahaan tidak
pengungkapan secara gratis daripada benar-benar monopolistik terhadap informasi
harus membayar informasi yang sifatnya akuntansinya karena investor selalu memiliki
monopolistik itu. pilihan lain untuk berinvestasi.

2 Sifat pasar modal yang kompetitif justru Ada juga masalah yang muncul karena
menginsentif perusahaan untuk memberi pelaporan keuangan diregulasi, terutama terkait
laporan yang misleading walaupun fungsi audit. Lagipula, dalam proses pembuatan
untuk jangka pendek. Ini berarti pemilik standar sendiri juga ada tekanan, yang masih
perusahaan tidak mengembangkan menjadi bahan pembicaraan profesi akuntansi
mekanisme yang baik untuk memonitor sampai sekarang.
kontrak agensi dengan menajer.

3 Kewajiban pelaporan disukai oleh Informasi yang tidak diungkapkan secara


masyarakat karena menciptakan keadilan sukarela bisa didapatkan melalui private
dalam pasar modal (pengguna dapat contracting.
saling bertukar informasi)
Argumen pro dan kontra regulasi mewakili diliberasi ekstrem.  Pada
kenyataanya pengungkapan secara sukarela berpeluang menjadi alasan
substansi dari apa yang telah disebutkan. Misalnya standarisasi kebijakan
akuntansi akan mempercepat penyeragaman antar perusahaan daripada yang

7
terjadi pada pasar nonregulasi. Dengan demikian regulasi diperlukan,
filosofi kodifikasi menjustifikasi proses penyusunan standar, walaupun hal
tersebut bukan jaminan hasilnya akan optimal.

3. PARADOKS REGULASI
Jika penetapan harga pasar bebas tidak berhasil karena kegagalan pasar
atau ditinggalkan dengan alasan social, maka tidak mungkin untuk mengetahui
apakah sumber daya digunakan untuk memaksimalkan kesejahteraan social.
Pengaturan produksi dan penetapan harga yang diputuskan tidak dapat
memberikan jawaban optimal untuk masalah yang belum dipecahkan oleh
sistem harga pasar bebas. Inilah paradoks regulasi.

4. PROSES REGULASI
Regulasi pada dasarnya adalah sebuah aktivitas politik. Regulasi tidak
dimaksudkan sebagai kritikan atau sesuatu yang mengherankan sejak regulasi
dijalankan sebagai kepentingan umum. Namun, tidak jelas apa yang dimaksud
dengan kepentingan umum tersebut. Kesejahteraan tidak dapat diukur (The
Impossible Theorem), tidak ada kriteria untuk menentukan apakah kebijakan
yang akan memaksimalkan kepentingan publik. Sehingga gagasan kepentingan
publik paling baik dipahami dalam konteks politik dan dengan mengacu pada
redistribusi khusus pendapatan.
a. Sifat Politis Regulasi
Tradisi demokrasi di Amerika Serikat dimana proses hukum adalah
unsur yang penting dalam proses regulasi. Dalam menetapkan kebijakan,
sebuah agen regulasi mencoba melibatkan semua bagian yang terpengaruh
oleh pertimbangan, hal ini penting untuk menjaga legitimasi dari proses
regulasi. Dengan kata lain setiap orang yang terpengaruh oleh kebijakan
mempunyai kesempatan memberikan masukan pada proses pembuatan
keputusan.
Beberapa anggota profesi akuntansi percaya bahwa penyusunan
kebijakan akuntansi adalah netral dan bebas politik. Pandangan yang lebih

8
luas adalah bahwa kebijakan akuntansi tidak dapat mengelak dari politik
karena pada dasarnya adalah negosiasi. Dari sudut pandang peregulasi,
FASB memerankan fungsi yang sangat sukses dibandingkan peregulator
sebelumnya. Standar itu disahkan oleh SEC dalam ASR 150. Basis proses
telah diadaptasi sebagai prosedur standar dalam memperdebatkan dan
pengembangan kebijakan akuntansi. Sama dengan sistem hukum,
pengambilan keputusan dalam basis proses menjadi sangat lambat, tetapi ini
adalah politik demokrasi yang natural, dan menghasilkan konsensus yang
memberikan legitimasi pada regulasi.
b. Perilaku Pengaturan
Capture theory dan teori siklus hidup dari regulasi keduanya
berpendapat bahwa kelompok yang akan diatur dan pada akhirnya akan
menggunakan proses peraturan untuk menunjukkan kepentingan pribadi.
Teori siklus hidup menyatakan bahwa agen regulasi akan melewati beberapa
tahapan yang berbeda. Meskipun dimulai dengan kepentingan publik,
regulasi akan menjadi instrumen untuk melindungi kelompok yang
diregulasi. Perilaku ini diamati pada agen regulasi yang lebih tua sebelum
dideregulasi, misalnya the Interstate Commerce Commission yang mengatur
transportasi darat, the Federal Aviation Agency yang mengatur transportasi
udara, dan the Federal Communications Commissions yang mengatur
perizinan radio dan televisi. Capture theory dan teori siklus hidup telah
diterapkan dalam regulasi akuntansi. Dengan implementasi independensi
FASB, argumen teori capture banyak kehilangan validitasnya. Beberapa
perubahan dibuat dalam menanggapi hearing Kongres, misalnya
restrukturisasi AICPA untuk mengurangi dominasi the big 8, dan
meningkatkan self-regulation oleh AICPA. Auditor dan siapapun yang
terpengaruh oleh regulasi akuntansi serta perusahaan harus mematuhi
regulasi, free riders yang menggunakan informasi secara gratis untuk analisa
investasi memiliki kepentingan yang berbeda, dimana tempat bagi
peregulator akuntansi adalah sebuah tempat yang lebih netral dari pada
industri yang diatur lainnya.

9
1) Perilaku Perusahaan, Auditor dan Free Riders
Manajemen perusahaan diharapkan dapat menerima regulasi yang
akan berdampak pada salah satu perusahaan atau dirinya sendiri. Seluruh
regulasi akuntansi menentukan jumlah biaya produksi pada perusahaan.
Manajemen akan terdorong pada kebijakan yang berdampak positif
dalam pelaporan pendapatan sehingga menaikkan kompensasi mereka.
Namun, sebuah studi menemukan hasil yang berlawanan. Sebuah
perusahaan besar yang diregulasi mendukung regulasi yang
mengakibatkan pendapatan dilaporkan lebih rendah. Alasannya adalah
self-interest tipe perusahaan ini adalah meminimkan biaya politik, seperti
intervensi regulasi pada masa yang akan datang, dan pelaporan laba yang
lebih rendah sejalan dengan tujuan tersebut.
Auditor prihatin pada implikasi auditing aturan pelaporan
keuangan. Auditor dapat menerima dan mendukung kebijakan yang
mengurangi resiko audit misalnya, aturan yang menjelaskan atau
menstandarisasi pelaporan keuangan. Auditor cenderung untuk menolak
kebijakan yang akan memperluas fungsi audit ke wilayah subyektif,
seperti pengungkapan tambahan data inflasi akuntansi dan perkiraan laba.
Alasannya adalah kejujuran. Jika banyak informasi subyektif yang
diperlukan, auditor akan mendapatkan resiko yang lebih besar dalam
mengaudit informasi.
Free riders seperti analis keuangan berusaha untuk mempengaruhi
hasil pertimbangan kebijakan akuntansi. Analis memiliki motivasi yang
kuat untuk meminta informasi baru yang mereka dapatkan dengan
bekerja sama dengan konsultan investasi dan surat kabar. Sebagai
perantara informasi, mereka dapat menghasilkan uang hanya dengan
merangkum informasi publik untuk investor yang tidak memiliki waktu
untuk menyaring informasi sendiri. Melobi perilaku dari free riders
membutuhkan pengawasan yang lebih dekat oleh FASB karena free
riders tidak memiliki kepentingan ekonomi secara langsung dengan
produksi informasi, sebagaimana manajer dan auditor. Karenanya, respon

10
terhadap tekanan mereka menjadi lebih mudah pada situasi kelebihan
produksi. Secara politis sulit untuk berurusan dengan free riders karena
mereka dapat mengklaim untuk kepentingan public dengan menjadikan
pasar modal lebih adil dan kompetitif melalui pelaporan publik bebas.

5. KONSEKUENSI EKONOMIK DARI KEBIJAKAN AKUNTANSI


Proses pembuatan aturan akuntansi adalah sebuah proses politik
dengan beragam konstituen yang melobi untuk posisi mereka. Standar
peraturan agen harus bersifat netral diantara kelompok yang saling
memberikan informasi yang berguna untuk membantu dan memprediksi arus
kas dan memiliki nilai kinerja manajerial. Penetapan standar seringkali hanya
menguntungkan satu pihak dan mengorbankan pihak lain. Karena itu,
pembuatan kebijakan akuntansi bukan sekedar efisiensi atau optimalisasi
ekonomi, tapi juga mempengaruhi distribusi kekayaan dan pendapatan. 
Pada tahun 1970 FASB memulai studi untuk membantu menilai
dampak ekonomi dari standar pada perusahaan. Studi ini hanya difokuskan
terutama pada perusahaan, pemegang saham dan analis keuangan. Bagian lain
seperti kreditur, konsumen, karyawan dan pemerintah tidak dijadikan faktor
dalam menghitung ‘cost-benefit’ regulasi pelaporan keuangan, akibatnya
hasilnya tidak mengejutkan dan pertanyaan besar kemampuan perusahaan
dalam tanggung jawab sosial tidak ditanggapi secara serius. FASB hanya
mempertimbangkan biaya dalam pengertian yang sempit yaitu, biaya
produsen dan manfaat dalam istilah kebutuhan informasi di pasar saham.
Akibatnya, perusahaan kecil berargumen aturan hanya untuk perusahaan
besar.

DAFTAR PUSTAKA

11
Harry I. Wolk, Michael G. Tearney, James L. Dodd. (2001). Accounting Theory:
A Conceptual and Institutional Approach. Edisi 5. USA; South Western
Collage Publishing.

12