Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH METODE PENELITIAN SOSIAL

PERWUJUDAN GOOD GOVENANCE MELALUI REFORMASI BIROKRASI


PEMERINTAHAN

Disusun Oleh:

Afifah Nur Rahma (1902016088)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PRODI ADMINISTRASI PUBLIK (B) 2019
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2021
A. LATAR BELAKANG
Birokrasi mungkin bagi sebagian orang di Indonesia merupakan suatu prosedur
yang berbelit-belit, dari meja satu ke meja lainnya, yang ujung-ujungnya adalah biaya
yang serba mahal. Pendapat yang seperti itu tidaklah dapat disalahkan seluruhnya,
namun demikian apabila orangorang yang duduk dibelakang meja taat pada prosedur dan
aturan serta berdisiplin dalam menjalankan tugasnya, maka birokrasi akan berjalan lancar
dan ”biaya tinggi” akan dapat dihindarkan. Berbagai persoalan birokrasi mengakibatkan
sistem penyelenggaraan pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan harus ditata ulang
atau diperbaharui. Birokrasi saat ini harus memiliki pola pikir dan budaya kerja yang
produktif, efisien dan efektif, transparan dalam memberikan pelayanan publik. Salah satu
masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan
terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Jumlah sumber daya manusia di
Indonesia yang besar, apabila dapat didayagunakan secara efektif dan efisien akan
bermanfaat untuk menunjang laju pembangunan nasional yang berkelanjutan. Agar
dalam masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal diperlukan pendidikan
yang berkualitas, penyediaan berbagai fasilitas sosial dan lapangan pekerjaan yang
memadai. Tantangan utama yang sesungguhnya adalah bagaimana dapat menciptakan
sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja optimal untuk mencapai tujuan
suatu perusahaan atau organisasi. Reformasi birokrasi dilaksanakan dalam rangka
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Dengan kata lain,
reformasi birokrasi adalah langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar
lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional. Selain itu dengan sangat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi informasi dan komunikasi serta perubahan lingkungan strategis menuntut
birokrasi pemerintahan untuk direformasi dan disesuaikan dengan dinamika tuntutan
masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana perwujudan good governance di pemerintahan melalui format
Reformasi Birokrasi Pemerintah?

C. TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui cara pemerintah mewujudkan good governance di pemerintahan
melalui format reformasi birokrasi
D. KERANGKA DASAR PEMIKIRAN
Reformasi di bidang birokrasi mengalami ketertinggalan di banding dengan bidang
lainnya. oleh karena itu pada tahun 2004 pemerintah menegaskan kembali pentingnya
penerapan prinsip-prinsip clean govenrment dan good governance dalam rangka
pemeberian pelayanan prima kepada masyarakat. Untuk itu program utama yang
dilakukan pemerintah adalah membangun aparatur negara melalui penerapan reformasi
birokrasi (GDRB, 2010:1) .
J. B. Kristiadi (1994:93) dalam Pasolog (2011, hm 67), mengatakan bahwa
birokrasi adalah merupakan struktur organissi di sektor pemerintahan, yang memiliki
ruang lingkup tugas-tugas sangat luas serta memerlukan organisasi besar dengan sumber
daya manusia yangbesar pula jumlahnya. Pemerintahan termasuk di dalamnya
penyelenggara pelayanan umum dan pembangunan, seringkali oleh masyarakat diartikan
dalam konotasi yang berbeda. Birokrasi seolah-olah memberi kesan adanya suatu proses
panjang yang berbelit-belit apabila masyarakat akan menyelesaikan suau urusan dengan
aparat pemerintahan. Tetapi dapat dilihat bahwa birkrasi merupakan salah satu indikator
untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan di mana fungsi unutk menjalankan roda
pemerintahan sangat bergantung pada efektif atau tidaknya sistembirokrasi tersebut
berjalan.
Melalui reformasi birokrasi dilakukan penataan terhadap sistem penyelenggara
pemerintahan yang tidak hanya efektif dan efesien tetapi juga mampu menjadi tulang
punggung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya, keberhasilan
pelaksanaan daripada reformasi birokrasi akan sangat mendukung dalam penciptaan
good governance karena reformasi birokrasi ini merupakan inti dari upaya penciptaan
good governance.

E. TEORI PENDUKUNG YANG DI GUNAKAN


 Reformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi diartikan sebagai proses perubahan dari kondisi baru menuju
kondisi yang dikehendaki, karena itu Reformasi Birokrasi merupakan upaya
perubahan untuk merespon kondisi birokrasi saat ini dan tuntutan perbaikan kinerja.
Gerakan reformasi yang digulirkan dari berbagai kekuatan dalam masyarakat, yang
dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 1998, bertujuan untuk memperbaiki kondisi
bangsa yang sedang terpuruk. Pelaksanaan reformasi birokrasi telah mendapatkan
landasan hukum melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010
tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025. Salah satu agenda Indonesia
pada reformasi birokrasi adalah menciptakan Good Governance di Indonesia. Pada
hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan
mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut
aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business prosess) dan sumber
daya manusia aparatur (Yusriadi, 2018b).
Reformasi birokrasi yang dilakukan diberbagai Negara pada umumnya
dilakukan karena berbagai permasalahan yang bersifat kompleks dalam birokrasi,
yang menyebabkan disfungsi birokrasi dalam penyelenggaraan tugas. Gagasan
munculnya reformasi birokrasi secara garis besar bersumber dari 2 kelompok.
Kelompok pertama dari dalam birokrasi itu sendiri yang ingin menciptakan suatu
perubahan kearah yang lebih baik. Kelompok kedua, dari unsur masyarakat di luar
birokrasi yang mengharapkan terciptanya suatu birokrasi yang bersih, transfaran dan
akuntabel dalam penyelenggaraan pemerintahan. Reformasi birokrasi yang
dilakukan di berbagai Negara seperti di Amerika Serikat pada masa pemerintahan
Presiden Bill Clinton dikenal dengan istilah reinventing government yang
dipopulerkan oleh Osborne dan Gaebler (1992), yang intinya mentransformasikan
nilai-nilai kewirausahaan kedalam pengelolaan sector public. Di Eropa yang
diperkenalkan oleh Pollitt dan Bouckaert dengan isitilah Neo-Weberian State (NWS)
yang intinya adalah penguatan peran Negara dalam pelayanan birokrasi dengan
prinsip mengutamakan hubungan warganegara dan negara (citizenstate) untuk
memenuhi hak-hak dasar warga. Demikian pula reformasi yang dilaksanakan di
Negara persemakmuran Afrika dengan focus pada penciptaan pemerintahan yang
bersih, transfaran dan akuntabel.

 Good Governance
Governance diartikan sebagai mekanisme, praktek dan tata cara pemerintahan
dan warga mengatur sumber daya serta memecahkan masalahmasalah publik. Dalam
konsep governance, pemerintah hanya menjadi salah satu actor dan tidak selalu
menjadi aktor yang menentukan. Implikasi peran pemerintah sebagai pembangunan
maupun penyedia jasa layanan dan infrastruktur akan bergeser menjadi bahan
pendorong terciptanya lingkungan yang mampu memfasilitasi pihak lain di
komunitas. Governance menuntut redefinisi peran negara, dan itu berarti adanya
redefinisi pada peran warga. Adanya tuntutan yang lebih besar pada warga, antara
lain untuk memonitor akuntabilitas pemerintahan itu sendiri.25 Dapat dikatakan
bahwa good governance adalah suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan
yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar
yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik
secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan
legal and political frame work bagi tumbuhnya aktifitas usaha.
Berikutnya, UNDP (United nation Development Program), mengemukakan bahwa
karakteristik tata prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktik good
governance meliputi :
1. Partisipasi (participation). Setiap orang atau warga masyarakat memiliki hak
suara dalam proses pengambilan keputusan, baik secara langsung, mau pun
melalui lembaga perwakilan sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya masing-
masing.
2. Aturan Hukum (Rule of Law). Kerangka aturan hukum dan perundang-
undangan harus berkeadilan, ditegakan dan dipatuhi secara utuh, terutama
aturan hukum tentang Hak Asasi Manusia.
3. Transparansi (Tranparency). Transparansi harus dibangun dalam rangka
kebebasan aliran informasi.
4. Daya Tanggap (Responsivenes). Setiap institusi dan prosesnya harus di arahkan
pada upaya untuk melayani berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder)
5. Berorientasi konsensus (Concencuss Orientation). Pemerintahan yang baik akan
bertindak sebagai penengah bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk
mencapai konsensus atau kesempatan yang terbaik bagi kepentingan masing-
masing pihak dan jika dimungkinkan juga dapat diberlakukan terhadap berbagai
kebijakan dan prosedur yang akan ditetapkan pemerintah.
6. Berkeadilan (Equity). Pemerintahan yang baik akan memberikan kesempatan
yang terbaik terhadap subyek hukum dalam upaya mereka untuk meningkatkan
dan memelihara kualitas hidupnya.
7. Efektivitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency). Setiap proses kegiatan
dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar
sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan yang sebaik-baiknya berbagai
sumber-sumber yang tersedia.
8. Akuntabilitas (Accountability). Para pengembil keputusan dalam organisasi
sektor publik, swasta dan masyarakat mempunyai pertanggungjawaban
(akuntabilitas) kepada publik (masyarakat umum) sebagaimana halnya kepada
para pemilik (stakeholder)
9. Visi strategis (Strategic Vision). Para pemimpin dan masyarakat memeiliki
perspektif yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan
yang baik dan pembangunan manusia, bersamaan dengan dirasakannya
kebutuhan untuk pembangunan tersebut.

F. DEFINISI KONSEPSIONAL
Konsep global administrative governance melalui penerapan good governance
merupakan isu yang digulirkan oleh UNDP (United Nation Develop-ment Program) dan
World Bank sejak tahun 1997 sebagai syarat dalam penyaluran dana guna menyelesaikan
permasalahan krisis moneter di Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah
jalur birokrasi publik dalam pemerintahan dan secara tidak langsung sebagai upaya
mempermudah akses masuknya perdagangan bebas melalui birokratisasi yang sederhana.
Good governance yang dimaksud merupakan proses penyelenggaraan kekuasaan negara
dalam melaksanakan penyediaan public goods and service yang disebut governance
(pemerintahan, kepemerintahan), sedangkan praktik terbaiknya disebut ”good
governance” (tata pemerintahan yang baik). Menurut Max Weber, konsep birokrasi
hanyalah merupakan sebuah mesin yang disiapkan untuk menjalankan dan mewujudkan
tujuan-tujuan negara yang masuk dalam ranah administrative governance. Dengan
demikian, setiap pekerja atau pejabat dalam pelayanan publik pemerintah merupakan
pemicu dan penggerak dari sebuah mesin yang tidak mempunyai kepentingan pribadi
(each individual civil servant is a cog in the machine with no personalities interest).
Dalam kaitan ini, maka setiap pejabat pemerintah tidak mempunyai tanggung jawab
publik, kecuali pada bidang tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
Pemikiran seperti ini menjadikan pelayanan publik pemerintah bertindak sebagai
kekuatan yang netral dari pengaruh kepentingan kelas atau kelompok tertentu.

G. DEFINISI OPERASIONAL/FOKUS PENELITIAN


Penelitian akan berfokus pada mewujudkan good governance atau tata kelola
pemerintahan yang baik melalui format reformasi birokrasi.
H. SAMPLING
Sampling yang digunakan adalah sistem simple random sampling yaitu memgambil data
dari pemerintahan dan tidak memiliki kriteria khusus. Metode yang digunakan adalah
obeservasi dan wawancara.

Anda mungkin juga menyukai