Anda di halaman 1dari 7

A.

Klasifikasi Rinitis Alergi


Menurut klasifikasi asli pada tahun 1997, rinitis alergi dibagi menjadi 2 kategori
yaitu pesistent (Gejala yang timbul sepanjang tahun dan gejala berlangsung
setidaknya 6 bulan per satu tahun) dan seasonal (timbulnya gejala secara musiman)
(Cheng et al., 2018). Semakin kompleks seiring berkembangnya waktu dan kebutuhan
pengobatan, rinitis alergi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan waktu serangan dan jenis paparan (Brożek et al., 2017):
 Rinitis alergi musiman (seasonal allergic rhinitis),
disebabkan oleh alergen yang berada di luar ruangan seperti serbuk sari dan
spora jamur.
 Rinitis alergi menahun (perennial allergic rhinitis),
disebabkan oleh alergen yang berada di dalam ruangan seperti tungau debu
rumah, jamur, kecoak, dan bulu binatang.
 Rinitis alergi oleh karena pekerjaan (occupational allergic rhinitis)
2. Berdasarkan frekuensi gejala (Brożek et al., 2017)
Intermiten ( 4 hari per minggu dan> 4 minggu per tahun)
3. Berdasarkan tingkat keparahan (Dykewicz et al., 2017)
 Mild (ringan)
Ketika gejalanya tidak mengganggu kualitas hidup.
 Moderate-severe (sedang-berat)
Ketika gejalanya cukup buruk sehingga mengganggu kualitas hidup. Faktor
yang dapat menyebabkan klasifikasi severe termasuk gangguan tidur,
penurunan nilai harian, olahraga, atau rekreasi kegiatan; dan penurunan kinerja
sekolah atau pekerjaan.
B. Gambaran Klinis
1. Bersin
Bersin Bersin disebabkan oleh iritasi histamin pada saraf sensorik (trigeminus) di
mukosa hidung yang ditransmisikan ke pusat bersin di medulla oblongata. Efek
iritan dari histamin pada saraf sensorik dibangkitkan oleh alergi dan menyebabkan
bersin.
2. Watery Rhinorrhea
Iritasi saraf sensorik pada mukosa hidung menyebabkan eksitasi saraf
parasimpatis, dan menyebabkan refleks bersin. Hal ini memicu pelepasan
asetilkolin oleh saraf parasimpatis. Histamin bertindak langsung pada pembuluh
darah mukosa hidung dan menyebabkan kebocoran plasma
3. Pembengkakan Mukosa Hidung
Pembengkakan mukosa hidung disebabkan oleh edema pada mukosa hidung
akibat kebocoran plasma dan kongesti pembuluh darah mukosa. Aksi langsung
oleh mediator inflamasi seperti histamin, PAF, prostaglandin D2, kinin, dan secara
spesifik, eosinofil, memegang peranan penting pada pembengkakan mukosa
hidung yang diobservasi pada fase akhir. Fase awal rinitis alergi disebabkan oleh
reaksi antigen-antibodi tipe 1 IgE. Lalu, sel inflamasi yang menginfiltrasi
menyebabkan fase akhir. Iritasi antigen yang berlangsung terus menerus
menyebabkan lesi kronik (Okubo et al., 2011).

C. Diagnosis
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis dimulai dengan riwayat medis umum yang menyeluruh dan harus
ditindaklanjuti dengan pertanyaan yang lebih spesifik untuk alergi termasuk
informasi lingkungan, pekerjaan, informasi tentang riwayat pribadi dan keluarga
pasien dengan penyakit alergi. Riwayat keluarga dengan rinitis alergi, asma, atau
dermatitis atopik memperkuat diagnosis rinitis alergi pada pasien dengan gejala
yang sesuai. Tingkat keparahan gejala harus dinilai untuk membantu memandu
keputusan pemberian pengobatan (Michael et al., 2015).
Gejala yang paling sering termasuk bersin, rinore anterior, obstruksi hidung
bilateral dan pruritus hidung pada pasien dengan rinitis alergi. Gejala yang kurang
khas seperti epistaksis, gejala hidung unilateral, sakit kepala yang parah, atau
anosmia. Dokter juga harus memperhatikan obat-obatan pasien, seperti obat
antihipertensi, agen psikotropika, dan dekongestan topikal, yang dapat
menyebabkan gejala yang berkaitan dengan rinitis alergi (Seidman et al., 2015).
Umumnya 96% pasien rinitis alergi akan datang dengan dua gejala atau lebih
(Linneberg et al., 2016).
Temuan pada pemeriksaan fisik yang mendukung diagnosis rinitis alergi
meliputi beberapa temuan klasik, seperti hidung berair dan pembengkakan
berwarna merah muda pucat atau kebiruan pada mukosa hidung. Pada mata sering
ditemukan mata berair, pembengkakan konjungtiva dan, terutama pada anak-anak,
―allergic shiner‖ dengan penggelapan dan pembengkakan kelopak mata bagian
bawah yang menandakan adanya penggumpalan di pembuluh darah vena
(Seidman et al., 2015).
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Uji tusuk
Uji tusuk atau Skin prick test (SPT) adalah tes standar yang banyak digunakan
dalam diagnosis dugaan kasus alergi yang diperantarai IgE. SPT sebagai
standar emas dalam diagnosis alergi. Ini memberikan informasi entang
keberadaan IgE spesifik terhadap protein dan alergen (Ibekwe & Ibekwe,
2016).
b. Pengukuran serum spesifik IgE
Berbeda dengan nilai prediksi rendah pengukuran IgE serum total dalam
diagnosis penyakit alergi, pengukuran IgE spesifik alergen dalam serum dinilai
penting. Selain itu, pengukuran IgE spesifik tidak dipengaruhi oleh obat atau
penyakit kulit. (Cheng et al., 2018).
c. Imaging
Computerized tomography (CT) adalah penyelidikan radiologis utama untuk
sebagian besar gangguan sinonasal, tetapi penggunaannya terbatas dalam
diagnosis. CT-scan harus dilakukan hanya pada pasien yang tidak menanggapi
pengobatan, dan pada pasien dengan rinitis unilateral (Mafee et al., 2006).
Pelayan kesehatan tidak harus melakukan pencitraan sinonasal pada pasien
yang datang dengan gejala yang konsisten pada diagnosis rinitis alergi
(Seidman et al., 2015).
D. Tujuan Terapi
Tujuan utama penatalaksanaan rinitis alergi adalah mengurangi gejala dan
memperbaiki HRQL. Pemilihan terapi dilakukan berdasarkan keparahan gejala, tipe
penyakit, dan gaya hidup (Okubo et al., 2011). Tujuan terapi di rinitis alergi adalah
untuk meringankan gejala dan memulihkan kualitas hidup (Royal, 2019).

E. Farmakoterapi
1. Terapi Nonfarmakologi
a. Edukasi Pasien harus diberi pengetahuan tentang rinitis alergi, perjalanan
penyakit, dan tujuan penatalaksanaan. Penatalaksanaan medis bertujuan untuk
mengurangi gejala atau mengganggu kerja sistem imun untuk mengurangi
hipersensitivitas, atau keduanya. Selain itu, pasien juga harus diberikan
informasi mengenai keuntungan dan efek samping yang mungkin terjadi untuk
mencegah ekspektasi yang salah dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap
obat yag diresepkan (Greiner, Hellings, Ratiroti, et al., 2011).
b. Menghindari alergen secara komplit Menurut studi placebo-controlled oleh
O’Meara (2005) dalam Greiner, Hellings, Ratiroti, et al.(2011), penggunaan
nasal filter, yang dapat mencegah akses serbuk sari ke dalam hidung,
mengurangi gejala rinitis pada subjek yang alergi terhadap serbuk sari.
c. Tujuan terapi di rinitis alergi adalah untuk meringankan gejala dan
memulihkan kualitas hidup (Royal, 2019). Langkah-langkah non-farmakologis
bertujuan untuk mengurangi paparan iritasi dan atau agen alergen. Paparan
terhadap alergen dan iritan, seperti tungau debu, jamur, serbuk sari, hewan
peliharaan, dan asap tembakau harus diminimalkan (Kakli & Riley, 2016).
2. Terapi Farmakologi
a. Antihistamin Oral
Dari empat reseptor histamin yang diketahui sejauh ini (H1, H2, H3 dan H4),
reseptor H1 terutama bertanggung jawab untuk reaksi alergi langsung dan
menjadi target dari pengobatan (Klimek et al., 2016). Antihistamin oral terdiri
dari generasi pertama dan kedua. Antihistamin generasi pertama (mis.
Diphenhydramine, chlorpheniramine, dan hydroxyzine) melintasi sawar
darahotak dengan mudah dan mengikat reseptor H1 yang dapat menyebabkan
sedasi. Antihistamin generasi pertama kurang spesifik karena mengikat
reseptor kolinergik, a-adrenergik, dan serotonergik, yang dapat menyebabkan
mulut kering, mata kering, retensi urin, sembelit, dan takikardia. Penggunaan
kumulatif dengan sifat antikolinergik yang kuat dikaitkan dengan risiko
demensia yang lebih tinggi. Sebaliknya, antihistamin generasi kedua
(misalnya, fexofenadine, cetirizine, levocetirizine, loratadine, desloratadine,
ebastine, epinastine, dan bilastine) lebih spesifik untuk reseptor H1 perifer dan
terbatas penetrasi terhadap sawar darah-otak, sehingga mengurangi sedasi.
(Cheng et al., 2018). Karena profil keamanannya yang sangat baik dan
keunggulan terapi dalam pengobatan rinitis alergi, anti-H1 generasi kedua
menjadi pilihan utama pengobatan (Sakano et al, 2018).
b. Antihistamin Intranasal
Antihistamin intranasal memiliki aksi yang cepat dan dapat membantu secara
signifikan mengurangi hidung tersumbat, bersin dan hidung berair. Seperti
halnya antihistamin oral, antihistamin intranasal juga memiliki target reseptor
H1. Antihistamin intranasal dianggap mencapai tingkat obat yang lebih tinggi
di hidung dan memiliki efek antiinflamasi, seperti stabilisasi sel mast yang
tidak ada dalam antihistamin oral (Schuler IV & Montejo, 2019).
c. Dekongestan hidung
Dekongestan adalah stimulan adrenergik atau adrenomimetik sebagai
vasokonstriksi utama, yang menghilangankan sumbatan hidung dengan cepat
pada rinitis alergi (Laccourreye et al., 2015). Dekongestan hidung dibagi
menjadi dua kelompok: yaitu penggunaan secara topikal oral dan hidung.
Dekongestan hidung harus digunakan maksimal hingga 5-7 hari, karena
penggunaan jangka panjang meningkatkan risiko rinitis yang resisten terhadap
obat. Kombinasi oxymetazoline dan mometasone furoate untuk penggunaan
topikal hidung mencapai onset aksi yang cepat, bekerja lebih baik pada
sumbatan hidung, dan mengurangi ukuran polip pada pasien dengan rinitis
alergi musiman dan polip hidung dibandingkan dengan dua obat yang
diberikan secara terpisah (Cheng et al., 2018).
d. Kortikosteroid intranasal
Kortikosteroid intranasal memiliki antiinflamasi sifat yang mengurangi gejala
bersin, gatal, hidung berair dan kemacetan. Data menunjukkan bahwa
kortikosteroid intranasal dapat mengurangi gejala alergi mata, seperti gatal,
kemerahan, dan bengkak. Kortikosteroid intranasal menghasilkan
pengurangan mediator dan pelepasan sitokin yang signifikan, sehingga
mengurangi perekrutan basofil, eosinofil, neutrofil, dan sel mononuklear untuk
sekresi hidung (Sakano et al., 2018). Meskipun diindikasikan aman,
penggunaan pada wanita hamil membutuhkan pertimbangan yang lebih besar,
karena kekhawatiran tentang embriogenesis (Nowicka & Samoliński, 2015).
e. Antagonis Reseptor Leukotrine
LTRA (Leukotriene Receptor Antagonists) dapat dibagi menjadi dua jenis
terdasarkan pada mekanisme kerja yaitu: bertindak sebagai penghambat
kompetitif reseptor (contoh: montelukast, zafirlukast, pranlukast) dan yang
menghambat enzim 5-lipoksigenase (contoh: zileuton) (Klimek et al., 2016).
LTRA memblokir reseptor cysteinyl leukotriene 1 (CysLT1) yang
menghambat leukotrien, mediator inflamasi yang diproduksi oleh mast sel,
eosinofil, basofil, makrofag, dan monosit, yang berkontribusi pada gejala
rinitis alergi. Montelukast adalah satu-satunya LTRA disetujui oleh FDA
untuk pengobatan (Mark, 2017).

F. Komplikasi
1. Polip hidung
Beberapa penelitian menyatakan bahwa alergi hidung merupakan salah satu
faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung.
Polip hidung terbentuk sebagai akibat peradangan kronis pada mukosa sinus
paranasal. Khasnya adalah jinak, biasanya berkembang secara bilateral pada
orang dewasa (Kakli & Riley., 2016)
2. Asma
Rinitis alergi adalah faktor risiko independen untuk timbulnya asma, dan 40%
pasien rinitis alergi memiliki atau akan menderita asma. Karena respons
inflamasi jalan napas atas dan bawah memiliki persamaan dan saling terkait
satu sama lain. Untuk pasien rinitis alergi, diagnosis untuk asma harus didasari
riwayat medis pasien, gejala dan pemeriksaan fungsi paru (Cheng et al., 2018).
Hal yang sama juga didukung oleh penelitian lain yang menyatakan bahwa
rinitis alergi juga sering dikaitkan dengan asma yang dapat ditemukan di 15%
hingga 38% penderita rinitis alergi, dan gejala hidung yang dapat dijumpai
pada 6% sampai 85% penderita asma (Brożek et al., 2017)
3. Konjungtivitis alergi
Mata gatal, berair, kemerahan dan gejala mata lainnya adalah gejala utama
pasien rinitis alergi dengan konjungtivitis alergi, terutama pasien rinitis alergi
musiman, yang insidensinya bisa mencapai 85%. Survei rinitis alergi selama
tahun 2005-2011 menunjukkan bahwa kejadian tersebut gejala mata pada
pasien rinitis alergi adalah 32% -59% berdasarkan riwayat medis dan
manifestasi klinis (Cheng et al., 2018).
4. Rinosinusitis kronis
Peradangan alergi adalah faktor utama yang terkait dengan rinosinusitis kronis.
Prevalensi rhinosinusitis kronis ditemukan menjadi 30% pada pasien rinitis
alergi dan 23% pada pasien asma, dibandingkan dengan masing-masing hanya
6% dan 7%, pada subyek tanpa rinitis alergi atau asma (Cheng et al., 2018).
5. Otitis media
Secretory otitis media (SOM) adalah penyakit inflamasi nonsuppuratif. Efusi
telinga tengah yang meliputi cairan serosa dan lendir seperti pulpa dan
gangguan pendengaran adalah fitur utama dan rinitis alergi dianggap sebagai
salah satu faktor risiko yang mungkin menyebabkan SOM pada anak-anak.
Memang, satu studi dari Inggris menemukan bahwa prevalensi rinitis alergi
pada pasien dengan otitis media kronis atau berulang berkisar antara 24%
hingga 89% (Cheng et al., 2018).