Anda di halaman 1dari 9

TUGAS RESUME

PEMASANGAN CVP DAN JVP

OLEH :
Anggy Dyayu Nur Wardhini
1120020106

FASILITATOR :
Rahmadaniar Aditya Putri, S.Kep., Ns., M.Tr.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2021
Asuhan Keperawatan Dengan Pemasangan Jugular Venous Pressure (JVP)

A. Kasus
Tn. A mengalami gagal jantung kongestif datang dari IGD diantar oleh
keluarganya dengan keluhan sesak nafas sudah 3 hari, sesak memberat ketika
beraktivitas dan sedikit berurang ketika beristirahat. Pasien merasakan sesak
nafas hingga terbangun setiap malam dan merasa lelah. Saat dilakukan
pengkajian JVP: 5+2 cmH2O. Tanda-tanda vital, TD: 140/90 mmHg, Nadi:
93x/menit, Respirasi: 24x/menit, Heart rate: 110x/menit, SPO2: 99%, di IGD
pasien mendapatkan terapi infus Ns 500cc/24jam, Injeksi Furosemid 2x40mg,
Arixtra 1x2,5mg, O2 kanul 4 lpm.
B. Prosedur tindakan Jugular Venous Pressure (JVP)
1. Pengertian
Pemantauan hemodinamik adalah suatu pengukuran terhadap sistem
kardiovaskuler yang dapat dilakukan baik invasif atau noninvasive.
Pemantauan memberikan informasi mengenai keadaan pembuluh darah,
jumlah darah dalam tubuh dan kemampuan jantung untuk memompakan
darah. Pengkajian secara noninvasif dapat dilakukan melalui pemeriksaan,
salah satunya adalah pemeriksaan vena jugularis (jugular venous pressure).
2. Tujuan
Adapun tujuan dari pengukuran JVP antara lain:
a. Mengetahui ada tidaknya distensi vena jugular (JVD)
b. Memperkirakan tekanan vena sentral (central venous pressure)
3. Indikasi
a. Pasien yang menerima operasi jantung sehingga status sirkulasi sangat
penting diketahui.
b. Pasien dengan distensi unilateral
c. Pasien dengan trauma mayor
d. Pasien yang sering diambil darah venanya untuk sampel tes
laboratorium
e. Pasien yang diberi cairan IV sangat cepat;
f. Gagal jantung kanan
g. Cor plumonal
h. Efusi perikardial atau tamponade
i. Obstruksi vena kava superior
j. Peningkatan pembuluh darah
4. Kontraindiksi
a. SVC sindrom
b. Infeksi pada area inseri
c. Koagulopati
d. Insersi kawat pacemaker
e. Disfungsi kontralateral diafragma
f. Pembedahan leher
5. Komplikasi yang mungkin terjadi
a. Hematoma local
b. Sepsis
c. Disritmia
d. Tamponade perikard
e. Bakteriemia
f. Emboli Udara
g. Pneumotoraks
6. Alat dan bahan yang diperlukan
a. 2 buah penggaris (skala sentimeter)
b. Senter
7. Prosedur
a. Atur klien pada posisi Semi fowler
b. Tempat tidur bagian kepala ditinggikan:
1) 15° - 30° atau
2) 30° - 45° atau
3) 45° - 90° (pada klien yg mengalami peningkatan tekanan atrium
kanan yang cukup bermakna)
c. Gunakan bantal untuk menopang kepala klien dan hindari fleksi leher
yang tajam untuk memastikan bahwa vena tidak teregang atau keriting,
pastikan bahwa leher dan toraks atas sudah terbuka
d. Kepala menengok menjauhi arah pemeriksa
e. Lepaskan pakaian yang sempit/menekan leher atau thorak bagian atas.
f. Gunakan lampu senter dari arah miring untuk melihat bayangan
(shadows) vena jugularis. Identifikasi pulsasi vena jugular interna, jika
tidak tampak gunakan vena jugular eksterna.
g. Tentukan titik tertinggi di mana pulsasi vena jugular interna/eksterna
dapat dilihat (Meniscus).
h. Pakailah sudut sternum (sendi manubrium) sebagai tempat untuk
mengukur tinggi pulsasi vena. Titik ini ± 4 – 5 cm di atas pusat dari
atrium kanan.
i. Gunakan penggaris.
1) Penggaris ke-1 diletakan secara tegak (vertikal), dimana salah satu
ujungnya menempel pada sudut sternum.
2) Penggaris ke-2 diletakan mendatar (horizontal), dimana ujung yang
satu tepat di titik tertinggi pulsasi vena (meniscus), sementara
ujung lainnya ditempelkan pada penggaris ke-1. Angulus ludocivi
(patokan jarak dari vena cava superior + 5 cm /selanjutnya disebut
R cm). Bila permukaan titik kolaps vena jugularis berada 5cm di
bawah bidang horizontal yang melalui angulus ludovici, maka
tekanan vena jugularis (JVP) sama dengan R-5 cm H20, sedang bila
titik kolapsnya berasa 2 cm diatas berarti JVP R + 2 cm H20 Bila
hasil JVP kiri dan kanan berbeda, maka diambil JVP yang lebih
rendah
j. Ukurlah jarak vertikal (tinggi) antara sudut sternum dan titik tertinggi
pulsasi vena (meniscus)
k. Catat hasilnya.
Nilai normal : 5-2 sampai 5+2
Misal = 5+2
5 : adalah jarak dari atrium ka ke sudut manubrium
+2 : hasilnya—meniscus
8. Dokumentasi
a. Tingkat kesadaran klien
b. Pernapasan klien
c. Suhu klien
d. Penampakan fisik klien : dilihat keabnormalan yang terjadi, misal
edema.
e. Bentuk, dan penampakan fisik vena jugularis
f. Hasil pengukuran : tekanan bilateral yang diperoleh
Asuhan Keperawatan Dengan Pemasangan Central Venous Pressure (CVP)

A. Kasus
Tn. H dirawat di RSUD Bangil Pasuruan dalam keadaan hipervolemia.
Pasien dipasang CVP untuk resusitasi cairan. Pemasangan CVP dipertahankan
selama beberapa hari kedepan untuk memantau keadaan pasien. Pada hari ke 3
pasien mengalami hipotensi, dengan tanda vital, S : 37,50C, TD : 80/60 mmHg,
N : 80x/menit, RR : 20x/menit
B. Prosedur tindakan Central Venous Pressure (CVP)
1. Pengertian
Merupakan prosedur memasukkan kateter intravena yang fleksibel
ke dalam vena sentral klien dalam rangka memberikan terapi melalui vena
sentral. Ujung dari kateter berada pada superior vena cafa. (Ignativicius,
1999).
Tekanan vena central (central venous pressure) adalah tekanan darah
di atrium kanan atau vena kava. Ini memberikan informasi tentang tiga
parameter volume darah, keefektifan jantung sebagai pompa, dan tonus
vaskular. Tekanan vena central dibedakan dari tekanan vena perifer, yang
dapat merefleksikan hanya tekanan lokal.
2. Tujuan
Pemantauan hemodinamik secara invasif, yaitu dengan
memasukkan kateter ke dalam ke dalam pembuluh darah atau rongga
tubuh.
3. Indikasi
a. Pasien yang mengalami gangguan keseimbangan cairan
b. Digunakan sebagai pedoman penggantian cairan pada kasus
hipovolemi
c. Mengkaji efek pemberian obat diuretik pada kasus-kasus overload
cairan
d. Sebagai pilihan yang baik pada kasus penggantian cairan dalam volume
yang banyak
4. Komplikasi
a. Perdarahan.
b. Tromboplebitis (emboli thrombus,emboli udara, sepsis).
c. Pneumothorak, hematothorak, hidrothorak.
d. Pericardial effusion.
e. Aritmia
f. Infeksi
5. Alat dan bahan yang diperlukan
a. Kateter CVP sesuai ukuran
b. Needle intriducer
c. Syringe
d. Mandrin (guidewire)
e. Duk steril
6. Anatomi daerah
Pemasangan kateter CVP dapat dilakukan secara perkutan atau dengan
cutdown melalui vena sentral atau vena perifer, seperti vena basilika, vena
sephalika, vena jugularis interna/eksterna dan vena subklavia.
Vena subklavikula

7. Prosedur
Teknik pemasangan yang sering digunakan adalah teknik Seldinger,
caranya adalah dengan menggunakan mandarin yang dimasukkan melalui
jarum, jarum kemudian dilepaskan, dan kateter CVP dimasukkan melalui
mandarin tersebut. Jika kateter sudah mencapai atrium kanan, mandarin
ditarik, dan terakhir kateter disambungkan pada IV set yang telah disiapkan
dan lakukan penjahitan daerah insersi.
Langkah Pemasangan :
1. Siapkan alat
2. Lakukan cuci tangan steril
3. Gunakan sarung tangan steril
4. Tentukan daerah yang akan dipasang ; vena yang biasa digunakan
sebagai tempat pemasangan adalah vena subklavia atau internal
jugular. Tempat lain yang bisa digunakan sebagai tempat pemasangan
CVP adalah vena femoralis dan vena fossa antecubiti.
5. Posisikan pasien trendelenberg, atur posisi kepala agar vena jugularis
interna maupun vena subklavia lebih terlihat jelas, untuk
mempermudah pemasangan.
6. Lakukan desinfeksi pada daerah penusukan dengan cairan antiseptic
7. Pasang duk lobang yang steril pada daerah pemasangan.
8. Sebelum penusukan jarum / keteter, untuk mencegah terjadinya
emboli udara, anjurkan pasien untuk bernafas dalam dan menahan
nafas.
9. Masukkan jarum / kateter secara gentle, ujung dari kateter harus tetap
berada pada vena cava, jangan sampai masuk ke dalam jantung.
10. Setelah selesai pemasangan sambungkan dengan selang yang
menghubungkan dengan IV set dan selang untuk mengukur CVP.
11. Lakukan fiksasi / dressing pada daerah pemasangan , agar posisi
kateter terjaga dengan baik.
12. Rapikan peralatan dan cuci tangan kembali
13. Catat laporan pemasangan, termasuk respon klien (tanda-tanda vital,
kesadaran, dll ), lokasi pemasangan, petugas yang memasang, dan
hasil pengukuran CVP serta cairan yang digunakan.

8. Dokumentasi
a. Keluhan nyeri, napas sesak, rasa tidak nyaman
b. Frekuensi napas, suara napas
c. Tanda kemerahan / pus pada lokasi punksi
d. Adanya gumpalan darah / gelembung udara pada cateter
e. Kesesuaian posisi jalur infus set
f. Tanda-tanda vital, perfusi
g. Tekanan CVP
h. Intake dan out put
i. ECG Monitor