Anda di halaman 1dari 47

Nilai

Tanggal Revisi

Tanggal Terima

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR


HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM

Disusun Oleh:

Nama Praktikan : Adnan Fauzi


NIM : 3332170074
Jurusan : Teknik Elektro
Grup : R5
Rekan : M. Fikal Ariq Akmal
Rengga Dava Erlansyah
Tgl. Percobaan : Sabtu, 27 Maret 2021
Asisten : Akbar Vandito Adi

LABORATORIUM FISIKA TERAPAN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2021

Jl. Jenderal Sudirman Km. 03 Cilegon 42435 Telp. (0254) 385502, 376712
Fax. (0254) 395540 Website: http://fisdas.untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id
ABSTRAK

Hukum Kekekalan Momentum merupakan salah satu hukum dasar yang ada
dalam ilmu Fisika. Hukum ini menyatakan bahwa “Momentum total dua buah
benda sebelum bertumbukan adalah sama setelah bertumbukan”. Pernyataan ini
mengisyaratkan bahwa nilai momentum total ketika benda bertumbukan adalah
konstan atau tidak berubah. Untuk memahami hukum ini, dapat kita mulai dengan
memahami Hukum Newton III tentang Aksi - Reaksi. Tujuan dari praktikum ini
yaitu memverifikasi Hukum Kekekalan Momentum, dan membedakan tumbukan
elastis dan tumbukan tidak elastis. Prosedur praktikum Hukum Kekekalan
Momentum ini yaitu mempersiapkan alat dan bahan, kemudian melakukan
percobaan sesuai prosedur untuk tumbukan lenting sempurna. Jika sudah, kemudian
melakukan percobaan selanjutnya yaitu tumbukan tidak lenting sama sekali. Hasil
percobaan hukum kekekalan momentum ini bisa dilihat pada blanko percobaan
yang terdapat pada lampiran bahwa masih terdapat selisih antara momentum
sebelum dan sesudah tumbukan pada percobaan tumbukan lenting sempurna, dan
koefisien restitusi yang diperoleh dari kedua percobaan hanya mendekati nilai
koefisien restitusi teori.

Kata Kunci: Hukum Kekekalan Momentum, Hukum Newton III, Koefisien Restitusi
i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
ABSTRAK ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Tujuan Percobaan ..................................................................... 1
1.3 Batasan Masalah ....................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Momentum Linear .................................................................... 3
2.2.1 Momentum Linear Sistem Partikel ............................... 4
2.2 Tumbukan dan Impuls .............................................................. 5
2.3 Kekekalan Momentum Linier ........................................................... 7
2.4 Momentum dan Energi Kinetik dalam Tumbukan Satu Dimensi ..... 9
2.4.1 Tumbukan Lenting Sempurna .............................................. 10
2.4.2 Tumbukan Lenting Sebagian ............................................... 11
2.4.3 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali ................................ 11
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1 Diagram Alir Percobaan ........................................................... 12
3.1.1 Tumbukan Lenting Sempurna ...................................... 12
3.1.2 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali ........................ 13
3.2 Prosedur Percobaan .................................................................. 15
3.3 Alat yang Digunakan ................................................................ 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan ........................................................................ 17
4.1.1 Ralat Langsung ............................................................... 18
4.1.2 Ralat Tidak Langsung ..................................................... 20
4.2 Pembahasan .............................................................................. 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ............................................................................... 27
5.2 Saran ......................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
LAMPIRAN A. PERHITUNGAN .................................................................. 30

ii
LAMPIRAN B. JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS ...... 35
LAMPIRAN C. GAMBAR ALAT YANG DIGUNAKAN ............................ 37
LAMPIRAN D. BLANKO PERCOBAAN ..................................................... 39

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Alat-Alat Pada Percobaan Hukum Kekekalan Momentum ............. 16


Tabel 4.1 Tumbukan Lenting Sempurna.......................................................... 17
Tabel 4.2 Selisih Momentum Total Tumbukan Lenting Sempurna................. 17
Tabel 4.3 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali ............................................ 18
Tabel 4.4 Selisih Momentum Total Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali ... 18
Tabel 4.5 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta A ............................... 19
Tabel 4.6 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta A + 1 Beban ............. 19
Tabel 4.7 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta A + 2 Beban ............. 19
Tabel 4.8 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta B ............................... 20
Tabel 4.9 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta B + 1 Beban .............. 20
Tabel 4.10 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta B + 2 Beban ............ 20

iv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Perhitungan ................................................................................. 30


Lampiran B. Jawaban Pertanyaan dan Tugas Khusus ..................................... 35
B.1 Jawaban Pertanyaan ............................................................... 35
B.2 Tugas Khusus ......................................................................... 35
Lampiran C. Gambar Alat yang Digunakan .................................................... 37
Lampiran D. Blanko Percobaan ............................................................................. 39

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hukum kekekalan momentum adalah salah satu hukum dasar yang ada dalam
ilmu fisika. Hukum ini menyatakan bahwa “Momentum total dua buah benda
sebelum bertumbukan adalah sama setelah bertumbukan”. Pernyataan ini
mengisyaratkan bahwa nilai momentum total ketika benda bertumbukan adalah
konstan atau tidak berubah. Untuk memahami hukum ini, dapat kita mulai dengan
memahami Hukum Newton III tentang Aksi-Reaksi.
Bayangkan tabrakan antara dua buah benda, benda 1 dan benda 2. Dalam
Hukum Newton III, gaya yang bekerja ketika bertabrakan adalah sama besar tetapi
berlawanan arah. Gaya yang bekerja pada masing-masing benda yang bertumbukan
terjadi selama selang waktu tertentu. Terlepas dari lama tidaknya kontak gaya itu
terjadi, selang waktu ini sama untuk benda 1 dan benda 2. Artinya bahwa, selang
waktu bekerjanya gaya dari benda 1 kepada benda 2 sama dengan selang waktu
bekerjanya gaya benda 2 kepada benda 1.
Sebagai konsekuensi dari gaya yang bekerja pada kedua benda adalah
sama/besar berlawanan arah dan selang waktu terjadinya gaya tersebut juga sama,
maka impuls yang terjadi pada dua benda tersebut nilainya sama dan berlawanan
arah. Dari teori perubahan impuls-momentum, bahwa impuls yang terjadi pada
suatu benda sama dengan perubahan momentumnya. Dengan demikian, karena
setiap benda mengalami impuls yang sama besar dan berlawanan arah maka secara
logis setiap benda itu juga mengalami perubahan momentum yang sama besar dan
berlawanan arah.

1.2 Tujuan Percobaan


Praktikum Hukum Kekekalan Momentum yang telah dilakukan memiliki
tujuan percobaan, yaitu:
1. Memverifikasi Hukum Kekekalan Momentum.
2. Membedakan tumbukan elastis dan tumbukan tidak elastis.

1
2

1.3 Batasan Masalah


Praktikum Hukum Kekekalan Momentum yang telah dilakukan memiliki
batasan masalah yaitu massa benda dan kecepatan benda untuk variabel bebas.
Untuk variabel terikatnya yaitu momentum benda dan kecepatan akhir benda
setelah tumbukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Momentum Linear


Telah jelas bahwa menghentikan sebuah truk sarat pasir lebih berat
dibandingkan dengan menghentikan sebuah sepeda motor yang bergerak degan
kecepatan yang sama. Maka dapat dikatakan bahwa truk itu memiliki momentum
liniear yang lebih besar dibandingkan dengan sepeda motor. Momentum liniear
partikel adalah besaran vektor 𝑝⃗ yang didefinisikan sebagai,

𝑝⃗ = m. 𝑣⃗ ..........................................(2.1)

Dimana:
m = massa partikel
𝑣⃗ = kecepatan

Kata sifat linear sering diabaikan, tetapi berfungsi untuk membedakan dari
momentum sudut yang berhubungan dengan gerak rotasi. Untuk selanjutnya
momentum linear disebut momentum saja. Karena m adalah besaran scalar yang
selalu positif, memberi tahu kita bahwa 𝑝⃗ dan 𝑣⃗ mempunyai arah yang sama. Unit
SI untuk momentum adalah kilogram-meter per detik (kg.ms/) [1].
Newton menyatakan bahwa hukum kedua tentang gerak dalam momentum
“Laju perubahan momentum partikel adalah sama dengan gaya total yang bekerja
pada partikel dan berada di arah gaya itu”. Dalam bentuk persamaan Hukun
Newton II menjadi,

⃗⃗
⃗⃗net = dp .......................................(2.2)
F `
dt

⃗⃗net yang bekerja pada


Persamaan (2.2) menjelaskan bahwa gaya eksternal total F
partikel mengubah momentum linear 𝑝⃗ partikel. Sebaliknya, momentum linear
3
4

dapat dibuah hanya oleh sebuah gaya eksternal total. Jika tidak ada gaya eksternal
total, 𝑝⃗ tidak dapat berubah.
Dengan memanipulasi Persamaan (2.2), yakni mengganti 𝑝⃗ dengan m𝑝⃗ dari
Persamaan (2.1), maka untuk massa konstan m didapat,
a
⃗⃗ ⃗⃗
⃗⃗net = dp = d (mp dv
F `
⃗⃗) = m = ma⃗⃗ ................................2.3
dt dt dt

⃗⃗
dp
Jadi, persamaan ⃗F⃗net = dan ⃗F⃗net = ma⃗⃗ ekivalen dengan Hukum Newton II
dt
tentang gerak sebuah partikel. Benda dengan massa tertentu dan bergerak cepat
akan memiliki momentum lebih besar daripada benda yang bergerak lebih lambat.
Pada kondisi lain, dengan kecepatan sama, tetapi massa berbeda, momentumnya
akan berbeda. Fenomena momentum sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari
seperti tumbukan bola-bola di meja biliar, tabrakan dua arah, olahraga badminton,
tenis, dan lain-lain.
2.2.1 Momentum Linear Sistem Partikel
Tinjau sistem n partikel, masing-masing memiliki massa (m1),
⃗⃗𝑖 ) dan momentum linear (v
kecepatan (v ⃗⃗𝑖 ). Partikel dapat berinteraksi satu sama
lain, dan gaya eksternal dapat bekerja pada mereka. Sistem secara keseluruhan
memiliki momentum linear total 𝑝⃗ , yang didefinisikan sebagai jumlah vektor
momentum linear partikel individu yaitu,

⃗⃗ = p
p ⃗⃗1 + p
⃗⃗2 + p
⃗⃗3 +…….+ p
⃗⃗n
⃗⃗ = m1v
p ⃗⃗1 + m2v ⃗⃗3 +…….+ mnv
⃗⃗2 + m3v ⃗⃗n ..........................2.4

Momentum total sistem n partikel juga dapat dituliskan dalam bentuk,

⃗⃗ = mv
p ⃗⃗tpm .................................................2.5

Dimana:
m = massa total
m = m1 + m2 + m3 +…….+ mn
5

⃗⃗tpm = kecepatan pusat massa


v

Momentum linear suatu sistem partikel sama dengan hasil kali total massa M
sistem dengan kecepatan pusat massa. Jika Persamaan (2.5) diturunkan
terhadap waktu maka diperoleh,

⃗⃗
dp dvtpm
=M = Ma
⃗⃗tpm .............................2.6
dt dt

Sehingga Hukum Newton II untuk sistem banyak partikel dapat dituliskan


menjadi,

⃗⃗
⃗F⃗net = dp .........................................2.7
dt

⃗⃗net adalah gaya eksternal total yang bekerja pada sistem. Persamaan
dengan F
⃗⃗net pada sebuah sistem
tersebut menjelaskan bahwa gaya eksternal total F
banyak partikel mengubah momentum linear p
⃗⃗ dari sistem. Sebaliknya,
momentum linear bisa diubah hanya oleh sebuah gaya eksternal total. Jika tidak
ada gaya eksternal total, p
⃗⃗ tidak bisa berubah.

2.2 Tumbukan dan Impuls


Tumbukan dapat terjadi apabila terdapat dua benda yang bergerak dan bertemu
pada suatu titik yang sama. Tumbukan dapat terjadi apabila kedua benda saling
menumbuk atau salah satu benda menumbuk benda yang lain. Selama tumbukan,
terjadi gaya interaksi antara kedua benda tersebut. Selama tumbukan berlangsung,
terjadi gaya interaksi antara benda pertama dan kedua, gaya interaksi benda 1 ke
⃗⃗12 ) dan gaya interaksi benda 2 ke benda 1 (F
benda 2 (F ⃗⃗12 ). Besar gaya interaksi
selama tumbukan selalu berubah-ubah, pada awalnya nol, nilainya membesar, dan
mencapai maksimum, lalu mengecil dan mencapai nol pada saat berakhirnya proses
tumbukan. Selang waktu terjadinya tumbukan adalah sangat singkat. Grafik gaya
interaksi selama tumbukan sebagai fungsi waktu dapat dilihat pada Gambar 2.1.
6

Gambar 2.1 Grafik Gaya Interaksi Tumbukan

Berdasarkan Hukum Newton II, ⃗F⃗netto (gaya netto) yang bekerja pada suatu benda
sama dengan kecepatan perubahan mometumnya.

⃗⃗
⃗F⃗netto = dp ....................................(2.8)
dt

⃗⃗
dp
⃗⃗netto yang bekerja pada suatu benda adalah konstan, maka
Apabila gaya netto F
dt
⃗⃗
dp
juga konstan. Pada kasus ini, sama dengan perubahan momentum total p
⃗⃗2 - p
⃗⃗1
dt

= ∆p
⃗⃗ selama selang waktu t2 – t1 = ∆t. Persamaan (2.8) dapat ditulis apabila masing-
masing ruas dikalikan dengan selang waktu ∆t maka diperoleh,

⃗⃗
⃗F⃗netto .∆t = dp . ∆t
dt
⃗⃗netto .∆t = ⃗I ............................................... (2.9)
F

⃗⃗netto dengan selang waktu ∆t disebut sebagai


Hasil perkalian gaya netto F
impuls. Impuls merupakan besaran vektor. Arah impuls searah dengan arah gaya
⃗⃗netto, sedangkan besarnya adalah hasil kali besar gaya netto F
netto F ⃗⃗netto dengan
lama waktu gaya tersebut bekerja. Satuan SI untuk impuls adalah newton sekon
(Ns). Oleh karena 1 N = 1 kg.m/s2, maka dapat diperoleh satuan impuls yang lain,
yaitu kg.m/s. Dari penurunan yang berbeda, berdasarkan Hukum Newton II didapat,
7

⃗⃗netto = m.a⃗⃗ ............................................... (2.10)


F
⃗⃗ ⃗⃗ ⃗⃗ ⃗⃗
⃗⃗netto = m. ∆v = m. (vf − vi ) = ∆p .......................... (2.11)
F
∆t ∆t ∆t

∆p ⃗⃗netto.∆t = ⃗I ........................................... (2.12)


⃗⃗ = F

Maka dapat didefinisikan bahwa impuls merupakan perubahan momentum.

⃗I = ∆p
⃗⃗ = p
⃗⃗2 - p
⃗⃗1 ............................................ (2.13)

Persamaan (2.13) disebut sebagai teorema impuls-momentum. Perubahan


momentum sebuah benda selama selang waktu sama dengan impuls dari gaya netto
yang bekerja pada benda selama selang waktu tersebut.

2.3 Kekekalan Momentum Linier


Hukum kekekalan momentum dapat digunakan untuk meninjau benda-benda
yang bertumbukan. Akan diturunkan hukum kekekalan momentum yang diperoleh
dari Persamaan (2.1) akan menjadi seperti Persamaan (2.6) – Persamaan (2.8).
⃗F⃗netto (gaya netto) adalah gaya total yang diberikan kepada benda yang merupakan
jumlahan vektor semua gaya yang bekerja padanya. Gaya netto merupakan
kecepatan perubahan momentum, sehingga dapat dikatakan bahwa momentum
suatu benda dapat diubah nilai atau arahnya dengan suatu gaya [2].
Apabila tidak ada gaya lain yang bekerja pada suatu benda, maka yang ada
hanyalah gaya interaksi antara kedua benda yang bertumbukan, yaitu gaya interaksi
⃗⃗12 ) dan gaya interaksi benda 2 ke benda 1 (F
benda 1 ke benda 2 (F ⃗⃗21 ).

Gambar 2.2 Grafik Gaya Aksi dan Reaksi [ ]


8

Berdasarkan Hukum Newton III,


Gaya aksi = - Gaya reaksi
⃗⃗12 = -F
F ⃗⃗21 ................................................ (2.14)
⃗⃗12 + F
F ⃗⃗21 = 0 .............................................. (2.15)
⃗⃗1
dp ⃗⃗2
dp
+ = 0 ...................................... (2.16)
dt dt
⃗⃗1 + p
d( p ⃗⃗2 )
= 0 ...................................... (2.17)
dt
⃗⃗2 + p
p ⃗⃗1 = konstan ........................................... (2.18)

Hukum kekekalan momentum linier menyatakan bahwa apabila tidak ada gaya
luar yang bekerja pada dua benda yang bertumbukan, maka momentum benda
sebelum tumbukan sama dengan momentum benda setelah tumbukan. Dua benda
bergerak saling mendekat dengan kecepatan awal v
⃗⃗1 dan v
⃗⃗2 . Momentum awal
benda saat berdekatan dinyatakan pada Persamaan (2.19).

⃗⃗1 = m1. v
p ⃗⃗1 + m2. v
⃗⃗2 ................................. (2.19)

Kadua benda akan bertumbukan, sehingga setelah tumbukan benda 1 akan berbalik
arah ke kiri dengan kecepatan v
⃗⃗1 ′ dan benda 2 akan berbalik arah ke kanan dengan
kecepatan v
⃗⃗2 ′. Momentum benda setelah bertumbukan dinyatakan pada Persamaan
(2.20).

⃗⃗2 = m1. v
p ⃗⃗1 ′ + m2. v
⃗⃗2 ′............................... (2.20)

Peristiwa kedua benda yang bertumbukan diilustrasikan pada Gambar 2.3.


9

Gambar 2.3 Ilustrasi Tumbukan Dua Benda

Pada tumbukan akan berlaku hukum kekekalan momentum. Hukum kekekalan


momentum linier menyatakan, “Dalam peristiwa tumbukan, momentum total
sistem sesaat sebelum tumbukan sama dengan momentum total sistem sesaat
setelah tumbukan, asalkan tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistem” [ ].
Berdasarkan Persamaan (2.18), hukum kekekalan momentum linier dinyatakan
pada Persamaan (2.21).

m1 . v
⃗⃗1 + m2. v
⃗⃗2 = m1. v
⃗⃗1 ′ + m2. v
⃗⃗2 ′ ..................... (2.21)

2.4 Momentum dan Energi Kinetik dalam Tumbukan Satu Dimensi


Dari penjelasan sebelumnya, menyatakan bahwa momentum total p
⃗⃗ tidak
dapat berubah karena tidak ada gaya luar untuk mengubahnya. Aturan tersebut
sangat berguna karena dapat memungkinkan kita untuk menentukan nilai hasil
tumbukan tanpa mengetahui berapa besar kerusakan yang terjadi. Misal, ada dua
benda saling bertumbukan, apabila total energi tidak berubah, maka energi kinetik
sistem adalah terkonservasi. Energi kinetik sistem sebelum dan setelah tumbukan
adalah sama, maka tumbukan tersebut disebut tumbukan lenting sempurna. Apabila
sejumlah energi selalu ditransfer dari energi kinetik ke bentuk energi lainnya, maka
energi kinetik sistem tidak terkonservasi. Tumbukan semacam itu disebut
tumbukan lenting sebagian. Tumbukan tidak elastik dari dua buah benda selalu
melibatkan adanya kehilangan energi kinetik dari sistem. Kehilangan energi
10

tersebut terjadi apabila kedua benda menyatu. Dalam hal ini, tumbukan disebut
tidak lenting sama sekali.
2.4.1 Tumbukan Lenting Sempurna
Dalam tumbukan ini, dapat diperkirakan energi total benda yang
bertumbukan tidak dipindahkan ke bentuk energi lainnya. Energi kinetik dari
setiap benda yang bertumbukan bisa berubah, tetapi energi kinetik total sistem
tidak berubah (Ek = Ek ′). Besar koefisien restitusi (e) pada tumbukan lenting
sempurna adalah 1. Koefisien restitusi dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan,

⃗⃗′
−∆v ⃗⃗2 ′ − v
−(v ⃗⃗1 ′)
e=
⃗⃗
= ⃗⃗2 − v
⃗⃗1
.............................. (2.22)
dv v

Peristiwa tumbukan lenting sempurna sebelum dan setelah terjadi


tumbukan dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Tumbukan Lenting Sempurna

Kedua benda membentuk sebuah sistem yang tertutup dan terisolasi, maka
berlaku hukum kekekalan momentum. Berdasarkan Persamaan (2.21),
persamaan peristiwa tumbukan lenting sempurna dapat ditulis,

m1 . v
⃗⃗1 + m2. v
⃗⃗2 = m1. v
⃗⃗1 ′ + m2. v
⃗⃗2 ′ ................... (2.23)
11

2.4.2 Tumbukan Lenting Sebagian


Kebanyakan peristiwa tumbukan yang terjadi adalah tumbukan lenting
sebagian. Dalam tumbuhan ini, energi kinetik total benda yang bertumbukan
dipindahkan ke bentuk energi lainnya. Besar koefisien restitusi (e) yaitu 0 < e
< 1.

2.4.3 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali


Peristiwa tumbukan tidak lenting sama sekali dapat dilihat pada
Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali

Gambar 2.5 menunjukkan bahwa benda 2 sebelum tumbukan berada pada


keadaan diam. Setelah tumbukan, benda saling menempel dan begerak dengan
kecepatan v
⃗⃗. Dengan demikian, persamaan peristiwa tumbukan tidak lenting
sama sekali dapat ditulis,

m1 . v
⃗⃗1 + m2. v
⃗⃗2 = (m1 + m2). v⃗⃗ ............................... (2.24)
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir Percobaan


Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan Momentum ini
mempunyai diagram alir percobaan yang menggambarkan kegiatan apa saja yang
akan dilakukan ketika praktikum. Diagram alir percobaan dapat dilihat pada
Gambar 3.1 dan Gambar 3.2.
3.1.1 Tumbukan Lenting Sempurna

Mulai

Menyiapkan alat dan bahan

Meletakkan kereta di atas rel

Meletakkan kereta B di atas rel, lalu


mendorong kereta B sehingga
bergerak dengan kecepatan vs yang
besarnya dapat diukur melalui
gerbang cahaya G2.

Mengamati kecepatan kereta yang


melewati gerbang cahaya sebelum
dan sesudah tumbukan pada
pencacah waktu (time counter),
kemudian catat nilai kecepatan yang
diperoleh.

12
13

Mengulangi percobaan di atas


dengan mengubah massa kereta
dengan menambahkan beban
tambahan, lalu catat hasilnya.

Melakukan beberapa kali percobaan


dengan dorongan yang berbeda-
beda.

Data Pengamatan

Literatur

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan Tumbukan Lenting Sempurna

3.1.2 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali

Mulai

Menyiapkan alat dan bahan


14

Memasang Vekro pada kedua kereta


dan penghalang cahaya hanya pada
salah satu kereta.

Meletakkan kereta A di antara kedua


gerbang cahaya.

Meletakkan kereta B pada rel, lalu


dorong kereta B sehingga menumbuk
kereta A.

Mengamati kecepatan kereta yang


melewati gerbang cahaya sebelum
dan sesudah tumbukan pada
pencacah waktu (time counter),
kemudian mencatat nilai kecepatan
yang diperoleh.

Mengulangi angkah sebelumnya


dengan menambahkan beban
tambahan pada kereta, kemudian
mencatat hasilnya.

Melakukan beberapa kali dorongan


yang berbeda-beda.

Data Pengamatan

Literatur
15

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.2 Diagram Alir Percobaan Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali

3.2 Prosedur Percobaan


Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan Momentum ini
mempunyai prosedur percobaan yang menunjukan kegiatan apa saja yang akan
dilakukan ketika praktikum. Prosedur percobaan dari praktikum Hukum Kekekalan
Momentum yaitu,
A. Tumbukan Lenting Sempurna
1. Kereta diletakkan di atas rel.
2. Kereta A dalam keadaan diam diantara 2 gerbang cahaya.
3. Kereta B diletakkan di atas rel, lalu kereta B didorong sehingga
bergerak dengan kecepatan vs yang besarnya dapat diukur melalui
gerbang cahaya G2.
4. Kecepatan kereta yang melewati gerbang cahaya sebelum dan sesudah
tumbukan pada pencacah waktu (time counter) diamati, kemudian
nilai kecepatan yang diperoleh dicatat.
5. Percobaan di atas diulangi dengan mengubah massa kereta dengan
menambahkan beban tambahan, lalu hasilnya dicatat.
6. Lakukan untuk bebera[a kali dengan dorongan yang berbeda-beda.

B. Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali


1. Vekro dipasang pada kedua kereta dan penghalang cahaya hanya
pada salah satu kereta.
16

2. Kereta A diletakkan di antara kedua gerbang cahaya.


3. Kereta B diletakkan pada rel, lalu kereta B didorong sehingga
menumbuk kereta A.
4. Kecepatan kereta yang melewati gerbang cahaya sebelum dan
sesudah tumbukan pada pencacah waktu (time counter), kemudian
nilai kecepatan yang diperoleh dicatat.
5. Langkah 2 s.d 4 diulangi dengan menambahkan beban tambahan
pada kereta, kemudian hasilnya dicatat.
6. Lakukan untuk beberapa dorongan yang berbeda.

3.3 Alat-Alat yang Digunakan


Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan Momentum ini
menggunakan alat dan bahan sebagai berikut,

Tabel 3.1 Alat-Alat pada Percobaan Hukum Kekekalan Momentum


No. Alat Jumlah
1. Alat Rel Udara 1 set
2. Kereta 2 buah
3. Pegas Tumbuk 2 buah
4. Beban 1 set
5. Gerbang cahaya (photo gate) 2 buah
6. Pencacah waktu (time counter) 1 set
7. Velcro 2 buah
8. Penghalang cahaya dua jari 3 cm 2 buah
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan Momentum ini
mendapatkan hasil dari percobaan yang telah dilakukan, hasil dari percobaan dapat
dilihat pada tabel dibawah ini,

Tabel 4.1 Tumbukan Lenting Sempurna


Sebelum Tumbukan
Kereta A Kereta B
P total
No. Beban mA vA PA mB vB PB
(kg.m/s)
(kg) (m/s) (kg.m/s) (kg) (m/s) (kg.m/s)
Tanpa
1. 0.127 0 0 0,1275 0,18 0,0229 0,0229
Beban
Tambah 1
2. 0,1543 0 0 0.1545 0,179 0,0276 0,0276
Beban
Tambah 2
3. 0,1668 0 0 0.1669 0,174 0,029 0,029
Beban
Setelah Tumbukan
Kereta A Kereta B
P’ total
No. Beban mA v’A P’A mB v’B P’B
(kg.m/s)
(kg) (m/s) (kg.m/s) (kg) (m/s) (kg.m/s)
Tanpa
1. 0,127 0,172 0,0218 0,1275 0 0 0,0218
Beban
Tambah 1
2. 0,1543 0,168 0,0259 0,1545 0 0 0,0259
Beban
Tambah 2
3. 0,1668 0,158 0,0263 0,1669 0 0 0,0263
Beban

Tabel 4.2 Selisih Momentum Total Tumbukan Lenting Sempurna


Beban P Total P’ Total |P – P’|
Tanpa Beban 0,0229 0,0218 0,0011
Tambah 1 Beban 0,0276 0,0259 0,0017
Tambah 2 Beban 0,029 0,0263 0,0027

17
18

Tabel 4.3 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali


Sebelum Tumbukan
Kereta A Kereta B
P total
No. Beban mA vA PA mB vB PB
(kg.m/s)
(kg) (m/s) (kg.m/s) (kg) (m/s) (kg.m/s)
Tanpa
1. 0.127 0 0 0,1275 0,168 0,0214 0,0214
Beban
Tambah
2. 0,1543 0 0 0.1545 0,182 0,028 0,028
1 Beban
Tambah
3. 0,1668 0 0 0.1669 0,178 0,029 0,029
2 Beban
Setelah Tumbukan
Kereta A Kereta B
P’ total
No. Beban mA v’A P’A mB v’B P’B
(kg.m/s)
(kg) (m/s) (kg.m/s) (kg) (m/s) (kg.m/s)
Tanpa
1. 0,127 0,0591 0,007 0,1275 0,0526 0,006 0,013
Beban
Tambah
2. 0,1543 0,0743 0,011 0,1545 0,0678 0,01 0,021
1 Beban
Tambah
3. 0,1668 0,0656 0,01 0,1669 0,0548 0,009 0,019
2 Beban

Tabel 4.4 Selisih Momentum Total Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali
Beban P Total P’ Total |P – P’|
Tanpa Beban 0,0214 0,013 0,0084
Tambah 1 Beban 0,028 0,021 0,007
Tambah 2 Beban 0,029 0,019 0,01

4.1.1 Ralat Langsung


Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan
Momentum ini mempunyai ralat langsung dari hasil percobaan yang telah
dilakukan, ralat langsung dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini,
19

Tabel 4.5 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta A


n Pn ̅a
𝐏 |ðP| |ðP|2 α SP SR ̅a ± SP
𝐏

1 0,127 0 0

2 0,127 0,127 0 0 0 0 0% 0,127 ± 0

3 0,127 0 0

∑ 0,381 0 0

Tabel 4.6 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta A + 1 Beban


n Pn ̅a
𝐏 |ðP| |ðP|2 α SP SR ̅a ± SP
𝐏

1 0,1543 0 0

2 0,1543 0,1543 0 0 0 0 0% 0,1543 ± 0

3 0,1543 0 0

∑ 0,4629 0 0

Tabel 4.7 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta A + 2 Beban


n Pn ̅a
𝐏 |ðP| |ðP|2 α SP SR ̅a ± SP
𝐏

1 0,1668 0 0

2 0,1668 0,1668 0 0 0 0 0% 0,1668 ± 0

3 0,1668 0 0

∑ 0,5004 0 0
20

Tabel 4.8 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta B


n Pn ̅a
𝐏 |ðP| |ðP|2 α SP SR ̅a ± SP
𝐏

1 0,1275 0 0

2 0,1275 0,1275 0 0 0 0 0% 0,1275 ± 0

3 0,1275 0 0

∑ 0,3825 0 0

Tabel 4.9 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta B + 1 Beban


n Pn ̅a
𝐏 |ðP| |ðP|2 α SP SR ̅a ± SP
𝐏

1 0,1545 0 0

2 0,1545 0,1545 0 0 0 0 0% 0,1545 ± 0

3 0,1545 0 0

∑ 0,4635 0 0

Tabel 4.10 Ralat Langsung Penimbangan Massa Kereta B + 2 Beban


n Pn ̅a
𝐏 |ðP| |ðP|2 α SP SR ̅a ± SP
𝐏

1 0,1669 0 0

2 0,1669 0,1669 0 0 0 0 0% 0,1669 ± 0

3 0,1669 0 0

∑ 0,5007 0 0

4.1.2 Ralat Tidak Langsung


Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan
Momentum ini mempunyai ralat tidak langsung dari hasil percobaan yang telah
dilakukan, ralat langsung dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini,
21

A. Tumbukan Lenting Sempurna (Sebelum Tumbukan)


1. Kereta A berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,127
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1543
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1668
2. Kereta B berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0,0229
= = 0,179 m/s
d𝑚 0,1275
d𝑝 0,0276
= = 0,178 m/s
d𝑚 0,1545
d𝑝 0,029
= = 0,173 m/s
d𝑚 0,1669

B. Tumbukan Lenting Sempurna (Setelah Tumbukan)


1. Kereta A berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0,0218
= = 0,171 m/s
d𝑚 0,127
d𝑝 0,0259
= = 0,167 m/s
d𝑚 0,1543
d𝑝 0,0263
= = 0,157 m/s
d𝑚 0,1668
2. Kereta B berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1275
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1545
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1669
22

C. Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali (Sebelum Tumbukan)


1. Kereta A berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,127
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1543
d𝑝 0
= = 0 m/s
d𝑚 0,1668
2. Kereta B berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0,0214
= = 0,167 m/s
d𝑚 0,1275
d𝑝 0,028
= = 0,181 m/s
d𝑚 0,1545
d𝑝 0,029
= = 0,173 m/s
d𝑚 0,1668

D. Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali (Setelah Tumbukan)


1. Kereta A berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0,007
= = 0,055 m/s
d𝑚 0,127
d𝑝 0,011
= = 0,071 m/s
d𝑚 0,1543
d𝑝 0,01
= = 0,059 m/s
d𝑚 0,1668
2. Kereta B berturut-turut dari tanpa beban sampai tambah 2 beban
d𝑝 0,013
= = 0,101 m/s
d𝑚 0,1275
d𝑝 0,021
= = 0,135 m/s
d𝑚 0,1545
d𝑝 0,019
= = 0,114 m/s
d𝑚 0,1664
23

4.2 Pembahasan
Momentum merupakan ukuran kesukaran untuk memberhentikan suatu objek
atau benda yang sedang bergerak. Apabila ada dua buah benda yang bergerak
dengan kecepatan sama, maka akan lebih sukar (lebih besar momentumnya) untuk
memberhentikan benda yang bermassa lebih besar dibandingkan dengan benda
yang massanya lebih kecil. Juga sebaliknya, apabila ada dua buah benda dengan
massa yang sama, maka akan lebih sukar untuk memberhentikan benda yang
memiliki kecepatan lebih besar dibanding yang berkecepatan lebih kecil. Dari teori
dasar inilah tercipta Hukum Kekekalan Momentum. Hukum Kekekalan Momentum
menyatakan bahwa “Jumlah momentum sebelum tumbukan sama dengan jumlah
momentum setelah tumbukan”.
Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan Momentum
mempunyai tujuan untuk memverifikasi Hukum Kekekalan Momentum dan untuk
membedakan tumbukan elastis dan tumbukan tidak elastis. Dalam pelaksanaannya
terdapat dua jenis percobaan. Pertama percobaan tumbukan lenting sempurna,
kedua percobaan tumbukan tidak lenting sama sekali.
Untuk percobaan tumbukan lenting sempurna pertama letakkan kereta di atas
rel, kemudian kereta A diposisikan dalam keadaan diam diantara 2 gerbang cahaya.
Letakkan kereta B diatas rel, lalu dorong kereta B sehingga bergerak dengan
kecepatan 𝑣𝐵 yang besarnya dapat diukur melalui gerbang cahaya. Lalu diamati
kecepatan kereta yang melewati gerbang cahaya sebelum dan sesudah tumbukan
pada pencacah waktu (time counter), dan mencatat nilai kecepatan yang diperoleh.
Percobaan tersebut diulangi dengan mengubah massa kereta dengan menambahkan
beban tambahan, serta catat hasilnya. Percobaan tersebut dilakukan dengan
beberapa kali dan dorongan yang berbeda-beda. Untuk percobaan tumbukan tidak
lenting sama sekali tidak jauh berbeda dengan percobaan tumbukan lenting
sempurna. Jika pada percobaan tumbukan lenting sempurna ujung-ujung kereta
dipasangkan pegas, pada percobaan tumbukan tidak lenting sama sekali ujung-
ujung kereta dipasangkan velcro.
Setelah langkah-langkah pada prosedur percobaan dilakukan, maka diperoleh
data hasil percobaan. Data tersebut mencakup massa kereta, kecepatan kereta
sebelum dan sesudah tumbukan. Serta momentum kereta sebelum dan sesudah
24

terjadinya tumbukan yang diperoleh dari hasil perhitungan. Data hasil percobaan
mengenai momentum kereta dapat dilihat pada Tabel 4.1 sampai Tabel 4.4.
Pada percobaan tumbukan lenting sempurna data momentum yang diperoleh
terdapat pada Tabel 4.1. Terlihat ketika kereta A dengan tanpa beban memiliki
momentum awal sebelum tumbukan sebesar 0 kg.m/s dan kereta B memiliki
momentum awal sebesar 0,0229 kg.m/s. Setelah tumbukan terjadi, momentum
kereta A berubah menjadi sebesar 0,0218 kg.m/s, dan momentum kereta B berubah
menjadi 0 kg.m/s. Jika dijumlahkan momentum kereta A dan kereta B sebelum
tumbukan yaitu sebesar 0,0229 kg.m/s, sementara untuk jumlah momentum kereta
A dan B setelah tumbukan yaitu sebesar 0,0218 kg.m/s. Setelah kereta A
ditambahkan 1 beban, momentum awal sebelum tumbukan sebesar 0 kgm/s dan
momentum awal kereta B menjadi sebesar 0,0276 kg.m/s. Setelah kereta didorong
dan tumbukan terjadi, momentum kereta A berubah menjadi sebesar 0,0259 kg.m/s,
dan momentum kereta B berubah menjadi 0 kg.m/s. Jika dijumlahkan momentum
kereta A + 1 beban dan kereta B + 1 beban sebelum tumbukan yaitu sebesar 0,0276
kg.m/s, sementara untuk jumlah momentum kereta A + 1 beban dan kereta B + 1
beban setelah tumbukan yaitu sebesar 0,0259 kg.m/s. Kemudian kereta A dengan
ditambahkan 2 beban, momentum awal sebelum tumbukan sebesar 0 kg.m/s dan
momentum awal kereta B menjadi sebesar 0,029 kg.m/s. Setelah kereta didorong
dan tumbukan terjadi, momentum kereta A berubah menjadi sebesar 0,0263 kg.m/s,
dan momentum kereta B berubah menjadi 0 kg.m/s. Jika dijumlahkan momentum
kereta A + 2 beban dan kereta B + 2 beban sebelum tumbukan yaitu sebesar 0,029
kg.m/s, sementara untuk jumlah momentum kereta A + 1 beban dan kereta B + 1
beban setelah tumbukan yaitu sebesar 0,0263 kg.m/s.
Bila dilihat antara momentum sebelum dan sesudah tumbukan, maka didapati
selisih yang relatif kecil (0.0011, 0.0017, dan 0.0027). Sementara pada teorinya
tumbukan lenting sempurna bersifat memiliki jumlah momentum sebelum
tumbukan dan jumlah momentum sesudah tumbukan yaitu sama besarnya. Selisih
ini kemungkinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor kesalahan saat percobaan
berlangsung. Diantara beberapa faktor kesalahan yang ada, kemungkinan
terbesarnya adalah faktor kesalahan manusia (human error). Itu dikarenakan pada
saat pemberian gaya terhadap kereta atau pendorongan kereta dilakukan secara
25

manual oleh praktikan sehingga tidak ada ukuran pasti dari gaya yang diterma oleh
kereta. Ataupun posisi kereta yang seharusnya diam menjadi sedikit bergerak,
sehingga mempengaruhi momentum kereta tersebut. Ditinjau dari koefisien
restitusinya, pada percobaan ini memiliki koefisien restitusi di atas 0,9 tetapi tidak
mencapai 1. Artinya ada sedikit energi yang hilang pada saat tumbukan terjadi. Jika
mengacu pada teori yang ada, hal tersebut bukan dikategorikan sebagai tumbukan
lenting sempurna melainkan tumbukan lenting sebagian. Tetapi dengan nilai
koefisien restitusi tersebut, tumbukan pada percobaan ini mendekati nilai tumbukan
lenting sempurna. Percobaan yang paling mendekati nilai koefisien restitusi = 1
yaitu percobaan kereta tanpa beban (koefisien restitusinya = 0,955).
Pada percobaan tumbukan tidak lenting sama sekali data momentum yang
diperoleh terdapat pada Tabel 4.3. Terlihat ketika kereta A dengan tanpa beban
memiliki momentum awal sebelum tumbukan sebesar 0 kg.m/s dan kereta B
memiliki momentum awal sebesar 0,0214 kg.m/s. Setelah tumbukan terjadi,
momentum kereta A berubah menjadi sebesar 0,007 kg.m/s, dan momentum kereta
B berubah menjadi 0,006 kg.m/s. Jika dijumlahkan momentum kereta A dan kereta
B sebelum tumbukan yaitu sebesar 0,0214 kg.m/s, sementara untuk jumlah
momentum kereta A dan B setelah tumbukan yaitu sebesar 0,013 kg.m/s. Setelah
kereta A ditambahkan 1 beban, momentum awal sebelum tumbukan sebesar 0
kg.m/s dan momentum awal kereta B menjadi sebesar 0,028 kg.m/s. Setelah kereta
didorong dan tumbukan terjadi, momentum kereta A berubah menjadi sebesar
0,011 kg.m/s, dan momentum kereta B berubah menjadi 0,01 kg.m/s. Jika
dijumlahkan momentum kereta A + 1 beban dan kereta B + 1 beban sebelum
tumbukan yaitu sebesar 0,028 kg.m/s, sementara untuk jumlah momentum kereta
A + 1 beban dan kereta B + 1 beban setelah tumbukan yaitu sebesar 0,021 kg.m/s.
Kemudian kereta A dengan ditambahkan 2 beban, momentum awal sebelum
tumbukan sebesar 0 kg.m/s dan momentum awal kereta B menjadi sebesar 0,029
kg.m/s. Setelah kereta didorong dan tumbukan terjadi, momentum kereta A berubah
menjadi sebesar 0,01 kgm/s, dan momentum kereta B berubah menjadi 0 kg.m/s.
Jika dijumlahkan momentum kereta A + 2 beban dan kereta B + 2 beban sebelum
tumbukan yaitu sebesar 0,029 kg.m/s, sementara untuk jumlah momentum kereta
A + 1 beban dan kereta B + 1 beban setelah tumbukan yaitu sebesar 0,019 kg.m/s.
26

Pada percobaan tumbukan tidak lenting sama sekali ini bila dilihat antara
momentum sebelum dan sesudah tumbukan, terdapat selisih yang lebih besar
dibandingkan percobaan sebelumnya (0.0084, 0.007, dan 0.01). Ini disebabkan
karena setelah tumbukan terjadi, kedua kereta menempel dan bergerak ke satu arah
yang sama sehingga momentum akhir lebih kecil dibanding momentum awal dan
menyebabkan adanya selisih momentum tersebut. Perlu diketahui pada tumbukan
tidak lenting sama sekali nilai momentum dari dua benda setelah tumbukan adalah
sama besarnya. Namun pada percobaan ini masih terdapat selisih antara momentum
akhir kereta A dan momentum akhir kereta B. Ini bisa saja dikarenakan kecepatan
dari kedua kereta mulai berkurang sehingga kereta yang lebih akhir melewati
gerbang cahaya memiliki kecepatan yang sedikit rendah dibanding kereta
sebelumnya. Rel kereta juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan kereta,.
Ataupun posisi kereta yang seharusnya diam menjadi sedikit bergerak, sehingga
mempengaruhi momentum kereta tersebut. Apabila ditinjau dari koefisien
restitusinya, pada percobaan ini memiliki koefisien restitusi tertinggi di angka 0,06.
Ini dikarenakan adanya selisih kecepatan kereta setelah tumbukan seperti yang
dijelaskan di atas. Jika mengacu pada teori yang ada, nilai koefisien restitusi
tumbukan tidak lenting sama sekali yaitu = 0. Dengan nilai koefisien restitusi
tersebut, tumbukan pada percobaan ini hanya mendekati nilai tumbukan tidak
lenting sama sekali. Percobaan yang paling mendekati nilai koefisien restitusi = 0
yaitu percobaan kereta tanpa beban (koefisien restitusinya = 0,0386).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan Praktikum Fisika Dasar Terapan tentang Hukum Kekekalan
Momentum yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal antara lain,
1. Hukum Kekekalan Momentum berlaku cukup baik pada alat peraga (kereta).
2. Pada tumbukantumbukan lenting sempurna ketika setelah kedua kereta
bertumbukan, maka masing-masing kereta akan bergerak ke arah yang
berlawanan.
3. Untuk tumbukan tidak lenting sama sekali kedua kereta setelah tumbukan akan
bergerak searah dengan benda yang momentumnya lebih besar.
4. Masih terdapat selisih antara momentum sebelum dan setelah tumbukan pada
percobaan tumbukan lenting sempurna.
5. Koefisien restitusi yang diperoleh dari kedua percobaan hanya mendekati nilai
koefisien restitusi teori

5.2 Saran
-

27
DAFTAR PUSTAKA

[1] Utari, Setya. Prima, Eka Cahya. “Analisis Hukum Kekekalan Momentum
Model Tumbukan Kelereng dengan Gantungan Ganda Menggunakan
Analisis Video Tracker”. Jurnal Pendidikan Fisika dan Keilmuan (JPFK).
2019; Vol. 5, No. 2: Hal. 83-92.
[2] Anggraeni, Diah Maya. Suliyanah. “Diagnosis Miskonsepsi Siswa Pada
Materi Momentum, Impuls, dan Tumbukan Menggunakan Three-Tier
Diagnostic Test”. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF). 2017; Vol. 6,
No 3: Hal 271-274.
[3] Khotijah. Arsini. Anggita, S.R. “Pengembangan Praktikum Fisika Materi
Hukum Kekekalan Momentum Menggunakan Aplikasi Video Tracker”.
Physics Education Research Journal. 2019; Vol. 1, No. 1: Hal 37-45.

28
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

29
30

Lampiran A. Perhitungan

1. Tumbukan Lenting Sempurna


A. Sebelum tumbukan kereta A
Tanpa Beban : PA = mA . vA
PA = 0,127 . 0
PA = 0 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1543 . 0
PA = 0 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1668 . 0
PA = 0 kg.m/s
B. Sebelum tumbukan kereta B
Tanpa Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1275 . 0,18
PB = 0,0229 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1545 . 0,179
PB = 0,0276 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1669 . 0,174
PB = 0,029 kg.m/s
C. Setelah tumbukan kereta A
Tanpa Beban : PA = mA . vA
PA = 0,127 . 0,172
PA = 0,0218 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1543 . 0,168
PA = 0,0259 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1668 . 0,158
31

PA = 0,0263 kg.m/s
D. Setelah tumbukan kereta B
Tanpa Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1275 . 0
PB = 0 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1545 . 0
PB = 0 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1669 . 0
PB = 0 kg.m/s

2. Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali


A. Sebelum tumbukan kereta A
Tanpa Beban : PA = mA . vA
PA = 0,127 . 0
PA = 0 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1543 . 0
PA = 0 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1668 . 0
PA = 0 kg.m/s
B. Sebelum tumbukan kereta B
Tanpa Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1275 . 0,168
PB = 0,0214 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1545 . 0,182
PB = 0,028 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1669 . 0,178
32

PB = 0,029 kg.m/s
C. Setelah tumbukan kereta A
Tanpa Beban : PA = mA . vA
PA = 0,127 . 0,0591
PA = 0,007 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,1543 . 0,0743
PA = 0,011 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PA = mA . vA
PA = 0,0656 . 0,158
PA = 0,01 kg.m/s
D. Setelah tumbukan kereta B
Tanpa Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1275 . 0,0526
PB = 0,006 kg.m/s
Tambah 1 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1545 . 0,0678
PB = 0,01 kg.m/s
Tambah 2 Beban : PB = mB . vB
PB = 0,1669 . 0,0548
PB = 0,009 kg.m/s

3. Koefisien Restitusi Tumbukan Lenting Sempurna


𝑣’2−𝑣’1 0−0,172
Tanpa Beban :e= = = 0,955
𝑣2−𝑣1 0,18−0
𝑣’2−𝑣’1 0−0,168
Tambah 1 Beban : e = = = 0,938
𝑣2−𝑣1 0,179−0
𝑣’2−𝑣’1 0−0,158
Tambah 2 Beban : e = = = 0,908
𝑣2−𝑣1 0,174−0
33

4. Koefisien Restitusi Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali


𝑣’2−𝑣’1 0,0526−0,0591
Tanpa Beban :e= = = 0,0386
𝑣2−𝑣1 0,168−0
𝑣’2−𝑣’1 0,0678−0,0743
Tambah 1 Beban : e = = = 0,0357
𝑣2−𝑣1 0,182−0
𝑣’2−𝑣’1 0,0548−0,0656
Tambah 2 Beban : e = = = 0,0606
𝑣2−𝑣1 0,178−0
LAMPIRAN B
JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS

34
35

Lampiran B. Jawaban Pertanyaan dan Tugas Khusus


B.1 Jawaban Pertanyaan
1. A
Jawab:
2. B
Jawab:
3. C
Jawab:
4. D
Jawab:
5. E
Jawab:

B.2 Tugas Khusus


1. A
Jawab:
2. B
Jawab:
3. C
Jawab:
4. D
Jawab:
5. E
Jawab:
LAMPIRAN C
GAMBAR ALAT DAN BAHAN

36
37

Lampiran C. Gambar dan Alat


LAMPIRAN D
BLANKO PERCOBAAN

38
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
LABORATORIUM FISIKA TERAPAN
Jalan Jenderal Sudirman Km. 3 Cilegon 42435 Telp. (0254) 395502
Website: http://fisdas.ft-untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id

BLANGKO PERCOBAAN
HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM

DATA PRAKTIKAN
NAMA Adnan Fauzi
NIM / GRUP 3332170074 / R5
JURUSAN Teknik Elektro
REKAN M. Fikal Ariq Akmal, Rengga Dava Erlansya
TGL.
PERCOBAAN 27 Maret 2021

A. PENIMBANGAN

Table A Penimbangan Massa Benda


Massa (kg)
Mrata-rata (kg)
No. Benda 1 2 3
1. Kereta A 0,127 0,127 0,127 0,127
2. Kereta A + 1 beban 0,1543 0,1543 0,1543 0,1543
3. Kereta A + 2 beban 0,1668 0,1668 0,1668 0,1668
4. Kereta B 0,1275 0,1275 0,1275 0,1275
5. Kereta B + 1 beban 0,1545 0,1545 0,1545 0,1545
6. Kereta B + 2 beban 0,1669 0,1669 0,1669 0,1669

B. PERCOBAAN TUMBUKAN LENTING SEMPURNA

Table B Tumbukan Lenting Sempurna


SebelumTumbukan
Kereta A Kereta B (P 1.1)
𝑃 total
No. Beban 𝑚𝐴 𝑣𝐴 𝑃𝐴 𝑚𝐵 𝑣𝐵 𝑃𝐵
(kgm/s)
(kg) (m/s) (kgm/s) (kg) (m/s) (kgm/s)
1 0,127 0 0 0,1275 0,18 0,0229 0,0229
Tanpa Beban
2 Tambah 1 beban 0,1543 0 0 0,1545 0,179 0,0276 0,0276

3 Tambah 2 beban 0,1668 0 0 0,669 0,174 0,029 0,029

39
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
LABORATORIUM FISIKA TERAPAN
Jalan Jenderal Sudirman Km. 3 Cilegon 42435 Telp. (0254) 395502
Website: http://fisdas.ft-untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id
SetelahTumbukan
Kereta A (P 2.1) Kereta B (P 2.2)
𝑃′ total
No. Beban 𝑚𝐴 𝑣𝐴′ 𝑃𝐴′ 𝑚𝐵 𝑣𝐵′ 𝑃𝐵′ (kgm/s)
(kg) (m/s) (kgm/s) (kg) (m/s) (kgm/s)
1 0,127 0,172 0,0218 0,1275 0 0 0,0218
Tanpa Beban
2 Tambah 1 beban 0,1543 0,168 0,0259 0,1545 0 0 0,0259

3 Tambah 2 beban 0,1668 0,158 0,0263 0,1669 0 0 0,0263

Table C Selisih Momentum Total


Beban 𝑃 Total 𝑃′ Total |𝑃 − 𝑃′|

Tanpa Beban 0,0229 0,0218 0,0011


Tambah 1
0,0276 0,0259 0,0017
beban
Tambah 2
0,029 0,0263 0,0027
beban

C. PERCOBAAN TUMBUKAN TIDAK LENTING SAMA SEKALI

Table D Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali


SebelumTumbukan
Kereta A Kereta B (P 1.1)
𝑃 total
No. Beban 𝑚𝐴 𝑣𝐴 𝑃𝐴 𝑚𝐵 𝑣𝐵 𝑃𝐵
(kgm/s)
(kg) (m/s) (kgm/s) (kg) (m/s) (kgm/s)
1 0,127 0 0 0,1275 0,168 0,0214 0,0214
Tanpa Beban

2 Tambah 1 beban 0,1543 0 0 0,1545 0,82 0,028 0,028

3 Tambah 2 beban 0,1668 0 0 0,1669 0,178 0,029 0,029


SetelahTumbukan
Kereta A (P 2.1) Kereta B (P 2.2)
𝑃′ total
No. Beban 𝑚𝐴 𝑣𝐴′ 𝑃𝐴′ 𝑚𝐵 𝑣𝐵′ 𝑃𝐵′ (kgm/s)
(kg) (m/s) (kgm/s) (kg) (m/s) (kgm/s)
1 Tanpa Beban 0,127 0,0591 0,007 0,1275 0,0526 0,006 0,013

2 Tambah 1 beban 0,1543 0,0743 0,011 0,1545 0,0678 0,01 0,021

3 Tambah 2 beban 0,1668 0,0656 0,01 0,1669 0,0548 0,009 0,019

40
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
LABORATORIUM FISIKA TERAPAN
Jalan Jenderal Sudirman Km. 3 Cilegon 42435 Telp. (0254) 395502
Website: http://fisdas.ft-untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id

Table E Selisih Momentum Total

Beban 𝑃 Total 𝑃′ Total |𝑃 − 𝑃′|

Tanpa Beban 0,0654 0,0487 0,0084


Tambah 1
0,4253 0,2042 0,007
beban
Tambah 2
0,3323 0,1182 0,01
beban

Suhu ruang awal = ℃


Suhu ruang akhir = ℃
Sikap barometer awal = mmHg
Sikap barometer akhir = mmHg

41

Anda mungkin juga menyukai