Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

PENANGANAN TERKINI GLAUKOMA

Oleh :

Queenly Alfarita M Bisararisi, S.Ked

NIM. 1830912320050

Pembimbing :

dr. M. Ali Faisal, M.Sc, Sp. M

BAGIAN/SMF MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

RSUD ULIN BANJARMASIN

September, 2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 3
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 20

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Glaukoma adalah penyebab utama kebutaan dunia setelah katarak.

Glaukoma mengacu pada sekelompok penyakit, di mana kerusakan saraf optik

adalah patologi umum yang menyebabkan kehilangan penglihatan. Berbeda

dengan katarak, kebutaan yang diakibatkan glaukoma bersifat permanen, atau

tidak dapat diperbaiki (irreversible). Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam

upaya pencegahan dan penanganan kasus glaukoma. Berdasarkan data WHO

2010, diperkirakan sebanyak 3,2 juta orang mengalami kebutaan akibat

glaukoma.1,2

Jenis yang paling umum glaukoma adalah bentuk sudut terbuka dan sudut

tertutup. Di seluruh dunia, glaukoma sudut terbuka dan sudut tertutup masing-

masing merupakan setengah dari semua kasus glaukoma. Beban masing-masing

penyakit ini sangat bervariasi antara kelompok ras dan etnis di seluruh dunia.

Misalnya, di negara-negara barat, kehilangan penglihatan akibat glaukoma sudut

terbuka paling sering terjadi, berbeda dengan Asia Timur, di mana kehilangan

penglihatan akibat glaukoma sudut tertutup paling sering terjadi. Pasien dengan

glaukoma dilaporkan memiliki kualitas hidup yang lebih buruk, penurunan tingkat

fisik, emosional, dan kesejahteraan sosial, dan memanfaatkan lebih banyak

sumber daya perawatan kesehatan.1

1
Membedakan glaukoma sudut terbuka dan tertutup sangat penting dari sudut

pandang terapeutik, karena setiap bentuk penyakit memiliki pertimbangan

manajemen yang berbeda. Setelah diagnosis yang benar dari glaukoma sudut

terbuka atau tertutup dibuat, langkah-langkah yang tepat dapat diambil melalui

pengobatan, laser, dan bedah mikro. Pendekatan ini bisa mencegah kehilangan

penglihatan yang parah dan kecacatan dari glaukoma yang mengancam

penglihatan.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Glaukoma adalah suatu kondisi yang melibatkan perubahan khas pada saraf

optik dan bidang penglihatan. Hal ini ditandai dengan kelainan fungsional dan

struktural pada mata yang dapat menyebabkan kerusakan saraf optik, biasanya

dapat diatasi dan dihambat dengan mengurangi tekanan intraokular (TIO)

secukupnya.3

B. EPIDEMIOLOGI

Data epidemiologi menunjukkan bahwa presentasi glaukoma di Indonesia

sebesar 2,53%. Penyakit ini harus mendapat perhatian karena risiko kebutaan

yang cukup tinggi. Di Amerika Serikat, 3-6 juta orang, termasuk 4-10% usia di

atas 40 tahun, memiliki tanda yang telah dideteksi sebagai gangguan dari

glaukoma. Perkiraan secara kasar, terdapat peningkatan kasus glaukoma per orang

sebesar 0.5-1% pertahun. Prevalensi glaukoma sudut terbuka meningkat 3-4 kali

lebih tinggi pada pasien kulit hitam dibandingkan Kaukasia, dan memiliki 6 kali

lebih tinggi suspek kerusakan saraf optic disk.2

Prevalensi glaukoma menurut Jakarta Urban Eye Health Study tahun 2008

adalah glaukoma primer sudut tertutup sebesar 1,89%, glaukoma primer sudut

terbuka 0,48%, dan glaukoma sekunder 0,16% dengan total keseluruhan adalah

3
2,53%. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, responden yang pernah

didiagnosis glaukoma oleh tenaga kesehatan sebesar 0,46% tertinggi di provinsi

DKI Jakarta (1,85%), diikuti Provinsi Aceh (1,28%), Kepualuan Riau (1,26%),

Sulawesi Tengah (1,21%), Sumatera Barat (1,14%) dan terendah di Provinsi Riau

(0,04%).2

Berdasarkan Survei Kesehatan Indera tahun 1993–1996, sebesar 1,5%

penduduk Indonesia mengalami kebutaan dengan prevalensi kebutaan akibat

glaukoma sebesar 0,20%. Selama 5 tahun periode, beberapa penelitian

menjelaskan bahwa insiden kerusakan oleh glaukoma sejumlah 2.6-3% pada

pasien dengan tekanan intraokular 21-25 mmHg, sebesar 12-26% pada pasien

dengan tekanan 26-30 mmHg, dan sekitar 42% pada pasien dengan tekanan di

atas 30 mmHg.2

C. ETIOLOGI

Glaukoma adalah penyakit mata di mana terjadi kerusakan saraf optik yang

diikuti gangguan pada lapang pandanan yang khas. Kondisi ini utamanya

dikaitkan oleh tekanan bola mata yang meninggi yang biasanya disebabkan oleh

hambatan pengeluaran cairan bola mata (humour aquous). Penyebab lain

kerusakan saraf optik, antara lain gangguan suplai darah ke serat saraf optik dan

kelemahan/masalah saraf optiknya sendiri.2

4
D. KLASIFIKASI

1. Glaukoma Primer

a. Glaukoma Sudut Terbuka Primer. Glaukoma sudut terbuka primer terdapat

kecenderungan familial yang kuat. Gambaran patologi utama berupa

proses degeneratif trabekular meshwork sehingga dapat mengakibatkan

penurunan drainase humor aquos yang menyebabkan peningkatan takanan

intraokuler. Pada 99% penderita glaukoma primer sudut terbuka terdapat

hambatan pengeluaran humor aquos pada sistem trabekulum dan kanalis

schlemm.4,5

Gambar 1. Aliran humor aquos glaukoma sudut terbuka6

b. Glaukoma sudut tertutup primer. Glaukoma sudut tertutup primer terjadi

pada mata dengan predisposisi anatomis tanpa ada kelainan lainnya.

Adanya peningkatan tekanan intraokuler karena sumbatan aliran keluar

humor aquos akibat oklusi trabekular meshwork oleh iris perifer.7

5
Gambar 2. Glaukoma sudut tertutup6

2. Glaukoma Sekunder

Peningkatan tekanan intraokuler pada glaukoma sekunder merupakan

manifestasi dari penyakit lain dapat berupa peradangan, trauma bola mata dan

paling sering disebabkan oleh uveitis. 8

3. Glaukoma Kongenital

Glaukoma kongenital biasanya sudah ada sejak lahir dan terjadi akibat

gangguan perkembangan pada saluran humor aquos. Glaukoma kongenital

seringkali diturunkan. Pada glaukoma kongenital sering dijumpai adanya

epifora dapat juga berupa fotofobia serta peningkatan tekanan intraokuler.

Glaukoma kongenital terbagi atas glaukoma kongenital primer (kelainan

pada sudut kamera okuli anterior), anomali perkembangan segmen anterior,

dan kelainan lain (dapat berupa aniridia, sindrom Lowe, sindom Sturge-

Weber dan rubela kongenital). 5,8

6
E. PATOFISIOLOGI

Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi karena adanya apoptosis sel

ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan lapisan inti

dalam retina serta berkurangnya akson di nervus optikus. Diskus optikus menjadi

atrofi disertai pembesaran cawan optik. Kerusakan saraf dapat dipengaruhi oleh

peningkatan tekanan intraokuler. Semakin tinggi tekanan intraokuler semakin

besar kerusakan saraf pada bola mata. Pada bola mata normal tekanan intraokuler

memiliki kisaran 10-22 mmHg. 8

Gambar 3. Tekanan yang tonggi akan menekan saraf mata2

Tekanan intraokuler pada glaukoma sudut tertutup akut dapat mencapai 60-

80 mmHg, sehingga dapat menimbulkan kerusakan iskemik akut pada iris yang

disertai dengan edema kornea dan kerusakan nervus optikus. Neuropati optik

glaukomatosa dapat terjadi pada individu dengan tekanan intraokular di dalamnya

kisaran normal. Pada pasien seperti itu, mungkin ada tekanan cairan serebrospinal

yang rendah di ruang subarachnoid saraf optik, menghasilkan gradien tekanan

7
yang besar di lamina. Gangguan mikrosirkulasi, perubahan imunitas,

eksitotoksisitas, dan oksidatif stres juga dapat menyebabkan glaukoma. Proses

patologis saraf primer dapat menyebabkan neurodegenerasi sekunder dari neuron

retinal lain dan sel di jalur visual pusat dengan mengubah lingkungan mereka dan

meningkatkan kerentanan terhadap kerusakan.9

Tekanan Intraokular dapat meningkat akibat adanya hambatan aliran cairana

di dalam bola mata yang disebut humour aquos. Cairan ini diproduksi di dalam

mata untuk memberikan nutrisi pafa jaringan di dalam mata, setelah itu cairan

tersebut akan dikeluarkan melalui saluran yang disebt trabekulum dan akhirnya

keluar dari dalam mata dan diserap oleh jaringan di sekitarnya. Apabila aliran

keluar cairan ini terganggu (seperti saluram air yang tersumbat), maka akan terjadi

penumpukan cairan di dalam mata, sehingga tekanan mata akan meningkat.

Penyumbatan yang terjadi secara mendadak akan menyebabkan gangguan aliran

yang berat dan tekanan intraokular akan sangat tinggi (glaukoma akut).

Penyumbatan yang terjadi secara perlahan akan menyebabkan peningkatan

tekanan intraokular secara perlahan juga (glaukoma kronis).2

F. MANIFESTASI KLINIS

Glaukoma merupakan penyakit yang bersifat progresif lambat dengan onset

gradual, tidak nyeri dan pada umumnya bilateral asimetris. Pasien biasanya tidak

bergejala hingga penglihatan sentral mengalami gangguan yang terjadi pada tahap

8
lanjut penyakit. Progresifitas glaukoma primer sudut terbuka pada tahap awal

penyakit biasanya berjalan lambat selama beberapa bulan hingga tahun. Pada

glaukoma tahap lanjut, progresifitas penyakit berjalan lebih cepat.9

Gejala yang dialami oleh penderita glaukoma sangat beragam tergantung

pada jenis glaukoma yang diderita, apakah akut atau kronik. Gejala glaukoma

akut sangat jelas karena penderita akan merasakan sakit kepala, mata sangat pegal,

mual dan bahkan muntah. Penglihatan akan terasa buram dan melihat pelangi di

sekitar lampu / cahaya. Mata penderita akan terlihat merah. Gejala yang dirasakan

terutama adalah sakit kepala, mual dan muntah maka banyak penderita glaukoma

akut yang tidak menyadari. Glaukoma yang bersifat kronik tidak menimbulkan

gejala. Penderita tidak merasakan apapun, namun perlahan-lahan terjadi

kerusakan saraf yang berlanjut pada penurunan penglihatan.2

Glaukoma primer sudut terbuka didiagnosa berdasarkan pemeriksaan pada

saraf optik dan lapisan serabut saraf serta pemeriksaan lapang pandang. Pada

pemeriksaan didapatkan kerusakan saraf optik dan penyempitan lapang pandang

yang memiliki gambaran khusus paling tidak pada salah satu mata, sudut bilik

mata depan terbuka dan tidak ada kondisi lain yang menyebabkan terjadinya

glaukoma.9

9
G. DIAGNOSIS

Pada pasien dengan glaukoma sudut terbuka kronis, mata menjadi putih dan

kornea mata jernih. Pada pemeriksaan visual akan didaparkan penglihatan

berkurang, mata merah, kornea keruh dan pupil oval, terfiksasi dan melebar.

Penegakan diagnosis glaukoma membutuhkan pemeriksaan slit-lamp dan

melibatkan:10

1. Pengukuran tekanan mata dengan tonometer. Artinya, tekanan normal adalah

15,5 mmHg. Batas tersebut didefinisikan sebagai 2 deviasi standar di atas dan

di bawah rata-rata (11-21 mmHg). Pada glaukoma sudut terbuka kronis pada

presentasi, tekanan biasanya pada kisaran 22-40 mmHg. Pada glaukoma sudut

tertutup meningkat di atas 60 mmHg.

2. Pengukuran ketebalan kornea dengan pachymeter. Nilai terukur dari tekanan

intraokular harus disesuaikan dengan ketebalan kornea.

3. Pemeriksaan sudut iris dan kornea dengan gonioskopi, untuk memastikan

adanya sudut terbuka.

4. Mengesampingkan penyakit mata lain yang mungkin menjadi penyebab

glaukoma sekunder.

5. Pemeriksaan diskus optik.

Kematian sel ganglion retina dan hilangnya serat saraf optik pada glaukoma,

terjadi perubahan karakteristik pada tampilan saraf optik dan lapisan serat saraf

10
retinal. Perubahan ini adalah aspek terpenting dari diagnosis glaukoma dan dapat

diidentifikasi selama pemeriksaan oftalmoskopi saraf optik.9

Gambar 3. Saraf Optik Normal, Glaukomatosa, dan Berat serta Hasil Uji Visual.9

Oftalmoskopi, untuk pemeriksaan saraf mata (papil saraf optik) apakah

mengalami degenerasi/atrofi serta melihat penggaungan (cupping) papil. Tanda

atrofi papil adalah warna pucat, batas tegas, dan lamina kribosa tampak jelas.

Tanda penggaungan: pinggir papil temporal menipis. Ekskavasi melebar, diameter

vertikal lebih lebar daripada diameter horizontal. Pembuluh darah seolah

menggantung di pinggir dan terdorong ke arah nasal. Jika tekanan cukup tinggi

11
akan terlihat pulsasi arteri. Oftalmoskopi merupakan pemeriksaan yang paling

sensitif untuk saraf mata.11

Tonometri, untuk mengukur tekanan bola mata. Beberapa cara tonometri

untuk mengetahui TIO adalah sebagai berikut. Palpasi adalah cara yang paling

mudah tetapi juga yang paling tidak teliti (memerlukan pengalaman). Bisa

dilakukan dengan membandingkan antara mata kanan dan kiri atau dengan mata

pemeriksa. Penderita diminta melirik ke bawah tanpa menutup mata kemudian

letakkan dua jari pemeriksan di atasnya dengan satu jari yang lain menahan secara

bergantian.11

Gonioskopi dilakukan untuk memeriksa saluran pembuangan yaitu dengan

memerika sudut bilik mata depan (COA) dengan menggunakan lensa kontak

khusus. Gonioskopi dapat membedakan glaukoma sudut terbuka atau tertutup

serta adanya perlekatan iris bagian perifer. Perimetri, untuk memeriksa lapangan

pandang.11

H. PENATALAKSANAAN

Memperlambat perkembangan penyakit dan menjaga kualitas hidup adalah

tujuan utama pengobatan glaukoma. Penurunan kualitas hidup yang terkait dengan

glaukoma dapat terjadi lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, oleh karena

itu sangat penting dilakukan diagnosis dan pengobatan dini. Pengurangan tekanan

intraokular adalah satu-satunya metode pengobatan yang terbukti untuk mengatasi

12
glaukoma. Cara penurunan TIO ialah dengan menurunkan produksi atau

menambah pembuangan cairan akuos. Selain itu bisa dengan merusak badan silier,

dengan laser atau krio, dan dengan membuang cairan akuos ke tempat lain

(operasi filtrasi).9,11

1. Obat Topikal

Anti-glaukomatosa pertama kali diperkenalkan pada tahun 1875 dan saat ini

terdapat beberapa jenis obat tetes penurun TIO yang digunakan untuk mengobati

glaukoma. Obat tetes mata termasuk β-bloker, penghambat karbonat anhidrase,

analog prostaglandin, agonis α2-adrenergik, dan obat parasimpatomimetik. Selain

bentuknya yang murni, obat tetes mata sering kali digunakan sebagai obat tetes

gabungan. Sampai saat ini, obat tetes mata kombinasi yang tetap termasuk

prostaglandin analogs / β-blocker, carbonic anhydrase inhibitor / β-blocker, dan

α2- agonis adrenergik / β-blocker. Terakhir, kombinasi dari penghambat karbonat

anhidrase / agonis α2-adrenergik adalah disetujui oleh Food and Drug Amerika

Serikat Administrasi pada bulan April 2013.12

Agen kolinergik menurunkan TIO dengan menaikkan kemampuan aliran

keluar cairan akuos. Obat ini merangsang saraf parasimpatik sehingga

menyebabkan kontraksi m. longitudinalis ciliaris yang menarik taji sklera. Ini

akan membuka anyaman trabekular sehingga meningkatkan aliran keluar. Selain

13
itu, agen ini juga menyebabkan kontraksi m. sfingter pupil sehingga terjadi

miosis. Contohnya antara lain adalah pilokarpin dan asetilkolin.11

Prostaglandin (PG) bekerja dengan menaikkan aliran keluar uveosklera. PG

akan menaikkan pengeluaran cairan akuos dengan merelaksasikan m. siliaris dan

menurunkan matriks ekstraselular sekitar otot. Contohnya Latanoprost® dan

Travaprost®. Cukup digunakan 1 tetes sehari, namun sangat mahal. Agonis

adrenergik bekerja dengan menurunkan produksi humor aqueus dengan

vasokontstriksi vasa yang menuju ke korpus siliaris, menaikkan aliran keluar

uveosklera, dan diduga juga bertindak sebagai neuroprotektor (belum terbukti).

Contoh obat ini adalah epinefrin dan dipiverin (agonis adrenergik tidak selektif)

dan apraclonidin dan bromonidin (selektif agonis adrenergik-α2).11

Prostamid, contohnya Bimatoprost®. bekerja dengan cara menaikkan aliran

keluar trabekulum dan uveoskleral. Inhibitor karbonik anhidrase (CA inhibitor)

menurunkan produksi cairan akuos dengan menurunkan sekresi bikarbonat yang

diikuti penurunan aliran sodium ke COP. Contohnya Diamox® (asetazolamid),

dorsolamid, dan bronzolamid.11

Timolol maleat merupakan β-adrenergik non selektif baik β1 atau β2.

Timolol tidak memiliki aktivitas simpatomimetik, sehingga apabila diteteskan

pada mata dapat mengurangi tekanan intraokuler. Timolol dapat menurunkan

tekanan intraokuler sekitar 20-30%. Reseptor β- adrenergik terletak pada epitel

14
siliaris, jika reseptornya terangsang aktifitas sekresinya akan meningkatkan inflow

humor aquos melalui proses komplek enzim adenyl cyclase-reseptor sehingga

menurunkan produksi humor aquos.11

Penghambat Rho kinase. Obat ini menurunkan tekanan mata dengan

menekan enzim rho kinase yang bertanggung jawab atas peningkatan cairan.

Contohnya netarsudil (Rhopressa) dan diresepkan untuk penggunaan sekali sehari.

Kemungkinan efek samping termasuk mata merah, ketidaknyamanan mata dan

pembentukan endapan di kornea.13

Terapi medikamentosa glaukoma juga dapat dilakukan untuk mengurangi

volume badan kaca (humor vitreus). Untuk mengurangi volume badan kaca

digunakan zat hiperosmotik (untuk menyedot/ menarik air dari vitreus). Obat ini

penting untuk keadaan akut dimana TIO sangat tinggi sehingga harus cepat

diturunkan. Obat hiperosmotik akan membuat tekanan osmotik darah menjadi

tinggi sehingga air di vitreus bisa terserap ke darah. Preparat yang dapat diberikan

berupa manitol (5 cc/kgBB IV dalam 1 jam), ginjal harus baik karena manitol

diekskresi lewat ginjal; urea (intravena); dan gliserin (oral), kontraindikasi pada

DM.11

2. Terapi Bedah

Ada beberapa macam teknik bedah yang bisa dilakukan untuk menangani

glaukoma. Trabekulektomi adalah pembuatan lubang yang menghubungkan COA

15
dan subkonjungtiva dengan mengambil sedikit jaringan trabekulum.

Trabekulosplasti laser (fotokoagulasi) dikerjakan untuk membuat sikatriks di

trabekulum. Sikatriks sifatnya membuat tarikan karena banyak jaringan ikatnya.

Diharapkan bagian yang tidak terkena laser/tidak terjadi sikatriks akan tertarik

sehingga celah trabekulum melebar. Gonioplasti/iridoplasti berguna untuk

membuat sikatriks di iris perifer yang menutup trabekulum sehingga sudut

menjadi terbuka.11

Operasi glaukoma invasif minimal (MIGS). Prosedur MIGS untuk

menurunkan tekanan intraokular. Prosedur ini umumnya memerlukan perawatan

pasca operasi yang tidak segera dan memiliki risiko yang lebih kecil daripada

trabekulektomi atau pemasangan alat drainase. MIGS sering dikombinasikan

dengan operasi katarak.13

Gambar 4. Mata yang telah menjalani operasi filtrasi2

16
Terapi laser terbaru adalah laser mikropulse transklera siklofotokoagulasi

(micropulse diode laser trans-scleral cyclophotocoagulation/MP-TSCPC).2–5

Laser tersebut dapat menurunkan TIO melalui energi yang dikeluarkannya karena

sedikit merusak badan siliar yang memproduksi humor akuos. Laser sebelumnya

yaitu diode trans-sklera siklofotokoagulasi merusak badan siliaris secara luas

karena mengeluarkan energi terus menerus. Akibatnya TIO menurun tetapi visus

juga menurun sehingga laser tersebut digunakan pada pasien glaukoma yang

visusnya tidak baik. MP-TSCPC memberikan energi yang terputus-putus sehingga

menurunkan TIO namun visus pasien tidak ikut menurun dan lebih aman.14

I. PENCEGAHAN

Beberapa cara berikut dapat membantu mengontrol tekanan intraokular

yang tinggi atau meningkatkan kesehatan mata:13

1. Makan makanan yang sehat. Beberapa vitamin dan nutrisi penting untuk

kesehatan mata, termasuk seng, tembaga, selenium, dan antioksidan

vitamin C, E, dan A.

2. Berolahraga dengan aman. Olahraga teratur dapat mengurangi tekanan

mata pada glaukoma sudut terbuka.

3. Batasi kafein. Minum minuman dengan kafein dalam jumlah besar dapat

meningkatkan tekanan mata Anda.

17
4. Sering minum. Minumlah dalam jumlah sedang pada waktu tertentu

sepanjang hari. Minum satu liter atau lebih cairan apa pun dalam waktu

singkat dapat meningkatkan tekanan mata untuk sementara.

5. Tidur dengan kepala terangkat. Menggunakan bantal yang membuat

kepala Anda sedikit terangkat, sekitar 20 derajat, telah terbukti

mengurangi tekanan intraokular saat Anda tidur.

6. Minum obat yang diresepkan. Menggunakan obat tetes mata atau obat lain

sesuai resep dapat membantu mendapatkan hasil terbaik dari perawatan

Anda. Pastikan untuk menggunakan tetes persis seperti yang ditentukan.

Jika tidak, kerusakan saraf optik bisa semakin parah.

J.PROGNOSIS

Pada penderita glaukoma yang tidak taat berobat, TIO dapat naik kembali

sehingga kerusakan saraf semakin parah, dan terjadi kebutaan. Deteksi dini sangat

penting karena kerusakan mata bersifat permanen, sehingga dapat ditangani

seawal mungkin sebelum kerusakan saraf lebih parah. Deteksi dini dapat

dilakukan dengan kontrol rutin atau bisa saat timbul gejala.11

18
BAB III

PENUTUP

Glaukoma adalah penyakit mata di mana terjadi kerusakan saraf optik yang

diikuti gangguan pada lapang pandanan yang khas. Kondisi ini utamanya

dikaitkan oleh tekanan bola mata yang meninggi yang biasanya disebabkan oleh

hambatan pengeluaran cairan bola mata (humour aquous). . Pengurangan tekanan

intraokular adalah satu-satunya metode pengobatan yang terbukti untuk mengatasi

glaukoma.

Cara penurunan TIO ialah dengan menurunkan produksi atau menambah

pembuangan cairan akuos. Terapi laser terbaru adalah laser mikropulse transklera

siklofotokoagulasi (micropulse diode laser trans-scleral

cyclophotocoagulation/MP-TSCPC).2–5 Laser tersebut dapat menurunkan TIO

melalui energi yang dikeluarkannya karena sedikit merusak badan siliar yang

memproduksi humor akuos.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Gupta N MD, PhD, Aung T, MBBS, PhD, Congdon N MD, et al. ICO Guidelines for
Glaucoma Eye Care. International Council of Ophthalmology.

2. Kemenkes RI. Pusat data dan informasi. 2015. Diakses melalui :


https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
glaukoma.pdf

3. Japan Glaucoma Society. Guidelines for Glaucoma 2nd Edition. September 2006.

4. Riordan Paul, Eva. Vaugan & Asbury’s General Opthalomologi. Jakarta : EGC. 2009.
Edisi 17

5. Ilyas Sidarta. Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Indonesia. 2009.

6. James B, Chew C, Brown A. Oftalmologi. Jakarta: Erlangga. 2006. Edisi 9.

7. Harmen Seda Hampri. Gambaran Sudut Trabekula pada Glaukoma Primer Sudut
Tertutup. 2007.

8. Riordan Paul, Eva. Vaugan & Asbury’s General Opthalomologi. Jakarta : EGC. 2009.
Edisi 17.

9. Weinreb Robert N, MD, Aung T, MD, PhD, and Medeiros Felipe A., MD, PhD. The
Pathophysiology and Treatment of Glaucoma. JAMA. 2014 May 14; 311(18): 1901–
1911

10. James B, B Anthony. Ophthalmology Lecture Notes Edisi 11. 2011.

11. Ekantini R, dr. SpM, Mkes, Ghani Tatang T,dr. SpM. Ilmu Penyakit Mata.
Universitas Gajah Mada. Yogyakarta;2017.

12. Kolko M. Present and New Treatment Strategies in the Management of Glaucoma.
The Open Ophthalmology Journal, 2015.

13. Mayo Clinic. Glaucoma. Diakses pada tanggal 14 November 2020 :


https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glaucoma/diagnosis-treatment/drc-
20372846

14. Artini W. Terapi Penyakit Glaukoma Mengunakan Laser Mikropulse Diode Trans-
skleral Siklofotokoagulasi. Departemen Medik Mata FK UI. September 2017.

20