Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM SPT II KOLENKIM DAN

SKLERENKIM
BAB I
PENDAHULUAN
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama. Jaringan pada tumbuhan
dan hewan berbeda. Sekumpulan jaringan akan membentuk organ. Cabang ilmu biologi yang
mempelajari jaringan adalah histologi. Sedangkan cabang  ilmu biologi yang mempelajari
jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan pada tubuh
tumbuhan  dikelompokkan berdasarkan tempatnya dalam tumbuhan, tipe sel, fungsi, asal-usul,
dan tahap perkembangannya.

            Berdasarkan jumlah tipe sel penyusunnya, jaringan dibedakan menjadi jaringan


sederhana dan jaringan rumit. Jaringan sederhana bersifat homogeni, hanya terdiri atas satu tipe
sel sedangkan jaringan rumit bersifat heterogen, terdiri atas dua atau lebih sel. Parenkim,
kolenkim,sklerenkim adalah jaringan sederhana, sedangkan xilem, floem,dan epidermis adalah
jaringan rumit. Di tahun 1875, Sachs membagi jaringan dalam tiga system berdasarkan
kesinambungan topografi yakni sistem dermal, sistem jaringan pembuluh, dan sistem jaringan
dasar. Sistem dermal meliputi epidermis, yakni pelindung primer (pertama) bagi bagian luar
tubuh, dan periderm, yang menggantikan epidermis pada tumbuhan yang mengalami
pertumbuhan sekunder.. sistem jaringan pembuluh terdiri dari xilem yakni yang mengangkut air
dan garam dalam tanah, dan floem yang mengangkut hasil fotosintesis. 
            Sistem jaringan dasar mencakup jaringan yang membentuk dasar bagiani tumbuhan,
namun sekaligus juga dapat menunjukkan spesialisasi. Jaringan dasar utama adalah parenkim
dengan semua ragamnya, kolenkim, yakni jaringan yang berdinding tebal dan sel tetap hidup,
sklerenkim yakni jaringan berdinding tebal dan sering kali berkayu sehingga keras dengan sel
yang biasanya mati.
            Dalam tubuh tumbuhan, jaringan tersebar dalam pola khas bagi kelompok tumbuhan
yang bersangkutan. Pada dasarnya ada kemiripan dalam pola penyebaran jaringan pada
tumbuhan dikotil sebab jaringan pembuluh tertanam dalam jaringan dasar dan sistem dermal
merupakan penutup di sebelah luar. Pada tumbuhan dikotil, misalnya jaringan pembuluh batang
membentuk silinder berongga. Rongga tersebut terisi jaringan dasar (empulur) dan ada pula yang
berada diantara silinder pembuluh dan system dermal (korteks). Pada daun, jaringan pembuluh
membentuk system yang beranastomosis dalam jaringan dasar yang terdiferensiasi sebagai
mesofil pada akar dapat ditentukan silinder jaringan pembuluh yang seringkali tidak mengelilingi
empulur  (korteks).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Jaringan Kolenkim
Kolenkim seperti halnya sklerenkim, merupakan jaringan mekanik yang bertugas
menyokong tumbuhan.Bagian tumbuhan yang tumbuh dengan lambat mengalami pertumbuhan
sedikit saja sehingga dukungan oleh turgor dalam sel parenkim sudah cukup. Namun kebanyakan
batang tumbuh dengan cepat dan bagian yang tumbuh itu sering menjadi panjang dan ramping.
Struktur seperti itu membutuhkan jaringan penyokong yang berfungsi di saat organ yang
bersangkutan tumbuh dan harus disusun oleh sel yang juga dapat memanjangkan dirinya
sendiri.Persyaratan itu dipenuhi oleh kolenkim.
            Kolenkim terbentuk oleh sejumlah sel memanjang yang menyerupai sel prokambium dan
berkembang dalam stadium awal promeristem.Sel kolenkim adalah sel hidup, bentuknya sedikit
memanjang, dan pada umumnya memiliki dinding yang tak teratur penebalannya.Berbeda
dengan sel sklerenkim yang memiliki dinding sekunder, sel kolenkim hanya memiliki dinding
primer, lunak, lentur tak berlignin. Sebaliknya, dinding sekunder pada sklerenkim, bersama
dengan dinding primernya, dapat berlignin (mengandung zat kayu) dan karenanya menjadi keras
dan kaku,
            Sel kolenkim tetap memiliki protoplas aktif yang mampu melenyapkan penebalan
dinding bila sel dirangsang untuk membelah seperti pada waktu sel tersebut membentuk
cambium gabus atau menanggapi luka.Dinding sel sklerenkim lebih bertahan dan tak dapat
segera dilenyapkan, meskipun protoplasnya masih ada.Kebanyakan sel sklerenkim kehilangan
protoplasnya setelah dewasa.
            Sebagaimana diutarakan di atas, kolenkim bertugas sebagai jaringan penyokong pada
bagian tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan pada tumbuhan basah, bahkan terdapat pada
organ yang telah dewasa.Kolenkim bersifat plastis dan dapat merenggang secara permanen
bersama dengan pertumbuhan organ tempatnya berada.
            Kolenkim, seperti parenkim, dapat mengandung kloroplas dan dapat pula berisi
tannin.Dinding sel kolenkim dapat berlignin atau menjadi lebih tebal seperti pada
sklerenkim.Namun, karena kolenkim terdiri dari sel hidup maka dinding sel kolenkim dapat
menjadi tipis lagi dan sel bersifat meristematik.
            Kolenkim merupakan jaringan penyokong pada tumbuhan. Secara ontogeni,
perkembangan kolenkim mirip prokambium dan tampak pada tahap yang sangat awal dari
diferensiasi meristem atau dari sel isodiametris meristem dasar.Kolenkim terdiri atas sel hidup
yang berbentuk agak memanjang dan biasanya berdinding tebal.Kolenkim berfungsi sebagai
jaringan penyokong pada organ muda yang sedang tumbuh, pada tumbuhan herbal (herbaceus),
dan bahkan pada organ dewasa.Kolenkim bersifat plastis sehingga dapat meregang secara
irreversibel dengan adanya pertumbuhan organ.Kolenkim dewasa kurang plastis, lebih kuat,
tetapi lebih mudah rusak daripada kolenkim muda. (Hidayat, 1995)
            Ada hubungan fisiologi dan morfologi antara kolenkim dan parenkim.Pada tempat kedua
jaringan tersebut berdampingan terdapat bentuk peralihan atara tipe kolenkim dan
parenkim.Kolenkim seperti halnya parenkim dapat berisi kloroplas.Kolenkim  yang mirip dengan
parenkim berisi banyak kloroplas, sedangkan kolenkim khusus yang terdiri atas sel yang sempit
memanjang, hanya sedikit atau tidak mengandung kloroplas sama sekali. Sel kolenkim dapat
juga berisi tanin.(Hidayat, 1995)
            Pada irisan melintang kolenkim segar, dinding selnya tampak seperti nakre. Dinding
kolenkim tumbuhan yang terkena angin lebih tebal.Dinding sel terdiri atas selulosa, sejumlah
besar pektin, dan hemiselulosa, tetapi tidak mengandung lignin.Senyawa pektinnya bersifat
hidrofil sehingga dinding kolenkim banyak mengandung air.Dinding kolenkim yang menebal
sekunder dapat menjadi tipis dan kemudian selnya menjadi meristematis lagi dan mulai
membelah.Hal ini terdapat pada jaringan kolenkim yang membentuk felogen.Noktah primer
sering kali terdapat dalam dinding kolenkim.(mulyani, 2006)
            Kolenkim terdapat di dalam batang, daun, bunga, buah, dan akar.Kolenkim berkembang
terutama jika mendapat sinar.Kolenkim tidak terdapat dalam batang dan daun Monokotil yang
sklerenkimnya berkembang pada umur awal. Kolenkim biasanya dibentuk tepat di bawah
epidermis, tetapi dalam hal khusus terdapat satu atau dua lapisan parenkim diantara  epidermis
dan kolenkim. Apabila kolenkim tepat berada di bawah epidermis, seringkali dinding epidermis
menebal dengan cara yang sama dengan dinding sel kolenkim.Pada batang, kolenkim terdapat
sebagai suatu silinder atau berbentuk pita memanjang (membujur).Pada daun, kolenkim terdapat
pada satu atau kedua sisi tulang daun, dan sepanjang tepi daun.(Mulyani,2006)
            Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam.Ada yang berbentuk prisma pendek, mirip sel
parenkim, atau panjang seperti serabut dengan ujung meruncing.Sel kolenkim yan terpanjang
dijumpai di daerah pusat untaian kolenkim, dan yang terpendek di daerah tepi.Hal ini dapat
diterangkan sebagai berikut, untaian kolenkim dibentuk oleh serangkaian sel yang membelah
memanjang mulai dari pusat untaian; setelah pembelahan, sel terus memanjang sehingga sel
pusat menjadi yang terpanjang karena yang pertama kali dibentuk dan meningkat sampai panjang
maksimum.Selama perkembangan untaian kolenkim ini juga terjadi pembelahan mendatar
(horisontal).(Mulyani,2006)
 Ciri-ciri Jaringan Kolenkim
                      Kolenkim dewasa adalah suatu jaringan lentur yang kuat, terdiri atas sel panjang yang
tumpang tindih (panjangnya dapat mencapai 2 mm) dengan dinding tebal yang tidak
berlignin.Kekuatan meregang sel kolenkim sebanding dengan serabut.Pada bagian tumbuhan
yang tua, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah menjadi sklerenkim dengan pembentukan
dinding sekunder yang berlignin.Terpusatnya lignin terjadi terutama pada lapisan dinding
terluar.Biasanya disimpulkan bahwa kolenkim adalah jaringan penunjang yang muda. Apabila
kolenkim terdapat pada organ yang berkanjang (persisten) untuk periode yang lama, kolenkim
akan mengalami sklerifikasi.(mulyani,2006)
                                   Pada bagian tumbuhan yang kuat, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah
menjadi sklerenkim dengan pembentukan dinding sekunder yang berlignin. Pada tumbuhan
dikotil misalnya, tangkai dan batang Medicago sativa, Eryngium maritimun, Viscum album dan
Salvia officinalis kolenkim berubah menjadi sklrenkim. Muly)
 Letak Jaringan Kolenkim
          Kolenkim dapat ditemukan pada batang, daun, serta pada bagian bunga dan buah.Pada
akar, kolenkim bisa dibentuk, terutama bila akar didedahkan kepada cahaya.Di banyak
monokotil tak ditemukan kolenkim jika sklerenkim dibentuk sejak tanaman muda.Biasanya
kolenkim terdapat langsung di bawah epidermis.Pada batang, kolenkim bisa membentuk silinder
penuh atau tersusun menjadi berkas yang memanjang sejajar sumbu batang.Pada daun, kolenkim
terdapat di kedua sisi tulang daun utama atau pada satu sisi saja, serta terdapat pula sepanjang
tepi daun. Hdy)
  Struktur dan Susunan Jaringan Kolenkim dan Macam-macamnya

            Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam.Sel dapat berupa prisma pendek atau bisa pula
panjang seperti serat dengan ujung meruncing, namun antara kedua bentuk tersebut terdapat
bentuk peralihan. Muly)
            Dinding sel kolenkim terdiri atas lapisan yang berselang seling, kaya akan selulosa
dengan sedikit pektin. Air dalam seluruh dinding sel kurang lebih 67%. Roelofsen (1959)
menyatakan bahwa di dalam Petasites, dinding sel kolenkim berisi 45% pektin, 35%
hemiselulosa, dan 20% selulosa. Dinding sel kolenkim Petasites ini terdiri atas 7-20 lamela yang
bergantian/berseling antara lamela yang mengandung banyak seluosa dan lamela yang
mengandung sedikit selulosa.Semakin mendekati lumen sel, selulosanya semakin banyak.
Menurut tipe penebalan dindingnya, kolenkim dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai
berikut: Hidyt)
a)    Kolenkim sudut (angular kolenkim)
            Penebalan dinding sel kolenkim ini  terjadi pada sudut-sudut sel. Pada penampang
melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada tempat bertemunya tiga sel atau lebih, seperti
yang terdapat pada tangkai Rumex, Vitis, Begonia, Coleus, Cucurbita, Morus, Beta, dan pada
batang Solanum tuberosum dan Atropa belladonna.
b)   Kolenkim lamela (lamelar kolenkim) atau kolenkim papan
            Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding tangensial sel. Kolenkim lamela
terdapat pada korteks batang Sumbucus nigra, Rhamnus, dan tangkai Cochlearia armoracia
c)    Kolenkim lakuna (lacunar kolenkim)
Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding-dinding yang berbatasan dengan ruang
antarsel. Kolenkim lakuna terdapat pada tangkai beberapa spesies Compositae, misalnya Salvia,
Malva, Athaea,  dan Asclepias dan pada batang Ambrosia
d)   Kolenkim cincin
            Istilah kolenkim cincin diberikan oleh Duchaigne (1995) untuk tipe kolenkim yang lumen
selnya pada penampang melintang tampak melingkar. Muller (1890) menyebutnya knorpel-
collenchyma. Pengamatan terhadap kolenkim cincin dewasa tampak adanya penebalan dinding
sel secara terus menerus sehingga lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.
            Dinding sel kolenkim merupakan contoh dinding primer yang amat menebal, sebab
penebalan terjadi pada saat sel masih tumbuh membesar.Dinding sel meluas dan sekaligus
menebal pula.Dinding kolenkim terdiri dari lapisan yang kaya selulosa dan miskin pektin,
bergantian dengan lapisan yang miskin selulosa dan kaya pektin. Dalam bahan segar, kandungan
air dari seluruh dinding sekitar 67%. Hal itu disebabkan karena pektin yang bersifat hidrofil.
Pada preparat yang dibuat dari sayatan segar dan dilihat dalam air, kandungan air menyebabkan
dinding membengkak sehingga tampak amat jelas, berkilauan seperti dinding sebelah dalam
cangkang kerang (nacre).Dinding sel kolenkim terdiri atas lapisan yang berselang-seling kaya
selulosa dengan sedikit pektin, dan lapisan lain dengan sedikit selulosa dan kaya pektin. Pada
bahan segar, ai dalam seluruh dinding sel lebih kurang 67%.Mulyni
            Menurut Czaja (1961), lamela melintang pada penebalan dinding kolenkim pada banyak
kebanyakan tumbuhan dapat dideteksi dengan alat mikroskop cahaya terpolarisasi. Chafe (1970)
telah mengamati bahwa orientasi mikroserabut selulosa dalam lamela yang berurutan bergantian
melintang dan membujur. Selama perkembangan penebalan dinding, terjadi penambahan lapisan
mikroserabut mengelilingi seluruh sel sehingga memperluas keliling sel.
            Pada sebagian besar tumbuhan Dikotil, misalnya tangkai dan batang Medicago sativa,
Eryngium maritimum, Viscum album, dan Salvia officinalis, kolenkim berubah menjadi
sklerenkim. Menurut Duchaigne (1955), sklerefikasi ini terjadi melalui pembentukan lamela
secara sentripetal dan sentrifugal. Selama pertumbuhan lamela, dibentuk lapisan yang kaya
selulosa, yang kemudian banyak mengandung lignin.Lamela yang mengandung lignin tampak
dengan arah sentrifugal mengelilingi lapisan pertama.Sebagai hasil perkembangan sentrifugal,
lamela berlignin yang mengandung senyawa pektoselulosa pada dinding kolenkim tidak
tampak.Sering kali sebagian senyawa ada yang masih tertinggal setelah dinding mengalami
sklerifikasi.Lamela tambahan berkembang ke arah sentripetal dan lumen sedikit demi sedikit
mengecil.
 Struktur Sehubungan dengan Fungsi
            Kolenkim tampaknya beradaptasi, terutama untuk menyokong batang serta daun yang
sedang tumbuh.Dinding sel menebal amat dini ketika pucuk berkembang, namun penebalan itu
bersifat plastis dan mampu meluas.Sebab itu, penebalannya tidak menghalangi pemanjangan
batang atau daun.Pada perkembangan selanjutnya, kolenkim dapat tetap bertahan sebagai
jaringan penyokong (terjadi pada banyak macam daun dan pada batang beberapa tumbuhan
basah) jika bagian organ tempat kolenkim berada tidak membentuk sklerenkim. Dalam bagian
tanaman yang sedang berkembang dan terdedah kepada tekanan mekanik (angin, pemberian
bobot yang digantungkan pada ranting), maka penebalan dinding terjadi lebih awal serta dinding
terjadi lebih awal serta dinding menjadi lebih tebal dibandingkan dengan bagian tanaman yang
tidak terpengaruh tekanan seperti itu. hdyt

            Kolenkim dewasa merupakan jaringan yang kuat dan lentur, terdiri dari sel panjang yang
saling timpa (dapat mencapai panjang sampai 2 mm) dengan dinding tebal tidak berlignin.Pada
tanaman tua, dinding sel kolenkim mengeras atau berlignin serta berubah menjadi sel
sklerenkim. hdyt
  
2. jaringan sklerenkim
Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh
tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel-sel mati yang seluruh
bagian  dindingnya mengalami penebalan sehingga kuat, sel-selnya lebih kaku daripada sel
kolenkim, sel sklerenkim tidak dapat  memanjang.  Jaringan sklerenkim merupakan jaringan
penguat dengan dinding sekunder yang tebal. Umumnya, jaringan sklerenkim terdiri atas zat
lignin dan tidak mengandung protoplas. Sel-sel sklerenkim hanya dijumpai pada organ tumbuhan
yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Jaringan sklerenkim terdiri atas
serat-serat sklerenkim (fiber) dan sel-sel batu (sklereid).(hidayat.1995)
a)    Serat-serat sklerenkim
Serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian atau dalam bentuk lingkaran. Di dalam
berkas pengangkut, serat-serat sklerenkim biasanya merupakan suatu seludang yang
berhubungan dengan berkas pengangkut atau dalam kelompok yang tersebar di dalam xilem dan
floem. Serat-serat sklerenkim mempunyai ukuran antara 2 mm–25 cm. Beberapa spesies
tumbuhan mempunyai serat-serat sklerenkim yang bernilai ekonomis tinggi, misalnya serat
manila yang digunakan sebagai bahan dasar tali.
b)    Sel-sel batu
Sel-sel batu terdapat dalam semua bagian tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh
tapis, dalam buah atau dalam biji. Pada tempurung kelapa (Cocos nucifera) hampir seluruhnya
terdiri atas sel-sel batu. Sel-sel batu pada buah dapat memberikan ciri khas, misalnya tekstur
berpasir pada kulit buah dan daging buah pir (Pyres communis) atau butiran seperti pasir pada
daging buah jambu biji (Psidium guajava).
 Ciri-ciri jaringan sklerenkim
Ciri-ciri dari jaringan sklerenkim, yaitu :
•    Selnya mati
• Dindingnya berlignin (zat kayu) dan mengandung selulosa dinding sel. Sehingga sel-selnya
menjadi kuat dan keras. Penebalan lignin terletak pada dinding sel primer dan sekunder dan
dinding menjadi sangat tebal
•    Umumnya terdapat pada batang dan tulang daun
•    Jaringan sklerenkim tersusun dari sel-sel dengan dinding yang keras
•    Hanya ada sedikit ruang untuk protoplas yang nantinya hilang jika sel dewasa
•    Sel-sel yang terdiri dari jaringan sklerenkim mungkin terbagi menjadi 2 tipe : serat (fibre) atau
sklereid
•    Serat atau fibre biasanya memanjang dengan dinding berujung meruncing pada penampang
membujur (longitudinal section; L.S.)
•    Sedangkan sklereid atau sel batu. Batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian tubuh
tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid
•    Terdapat pada bagian keras buah dan biji. Bagian bergerigi pada buah pir disebabkan oleh sel-sel
batu (stone cell, sklereid).
 Struktur dan Fungsi jaringan sklerenkim
Jaringan sklerenkim merupakan jaringan mekanik yang hanya terdapat pada organ
tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan atau organ tumbuhan
yang telah tetap. Sklerenkim berfungsi untuk menghadapi segala tekanan sehingga dapat
melindungi jaringan-jaringan yang lebih lemah, melindungi tubuh tumbuhan dari kerusakan
mekanik, melindungi tumbuhan dari serangan hewan, dan sebagai alat penyokong dan pelindung
tumbuhan. Sklerenkim tidak mengandung protoplas, sehingga sel-selnya telah mati. Dinding
selnya tebal karena berlangsung penebalan sekunder sebelumnya yang terdiri atas zat lignin.
Jaringan sklerenkim dibedakan menjadi dua, yaitu :
a)    Serat-Serat Sklerenkim (Fibers)
Serat-serat sklerenkim terdiri atas sel-sel yang berukuran panjang ± 2 mm dan samping yang
ujungnya runcing. Serat-serat sklerenkim merupakan sel-sel yang sudah mati. Dinding selnya
mengalami penebalan dari zat kayu dan mengandung lamela-lamela selulosa sehingga lumen
selnya sempit. Serat ini berbentuk poligon, yaitu segi lima atau segi enam. Noktah-noktahnya
sempit yang berbentuk bagai saluran-saluran sempit miring. Serat-serat sklerenkim pada tumbuh-
tumbuhan terbentuk bersamaan dengan saat-saat terhentinya pertumbuhan organ-organ pada
tumbuhan.

Serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian yang terpisahpisah atau dalam bentuk
lingkaran di dalam korteks dan floem, dalam kelompok-kelompok yang tersebar dalam xilem
dan floem. Pada Gramineae, serat-serat sklerenkim tersusun dalam suatu sistem berbentuk
lingkaran berlekuk-lekuk yang dihubungkan dengan epidermis. Untuk lebih jelas, perhatikan
Gambar. Ada dua macam jenis serat sklerenkim, yaitu sebagai berikut.
1.    Serat di Luar Xilem (Ekstraxilari) Serat ekstraxilari ada yang berlignin dan ada pula yang tidak.
Serat ini dapat digunakan untuk membuat tali, karung goni, dan bahan dasar tekstil untuk
pakaian.
2.    Serat Xilem (Xilari)Jenis serat ini merupakan komponen utama kayu karena dindingnya
mengandung lignin yang menyebabkan dindingnya keras dan kaku.

b)    Sel-Sel Batu (Sklereid)


Sklereid terdapat pada bagian tumbuhan, antara lain di dalam korteks, floem, buah, dan
biji. Dinding sklereid tersusun atas selulosa yang mengandung zat lignin yang tebal dan keras.
Pada beberapa tumbuhan, kadangkadang ditemukan pula zat suberin dan kutin. Sel-selnya
mempunyai noktah yang sempit dan celahnya bundar, membentuk saluran yang disebut saluran
noktah. Lumen sel sangat sempit karena adanya penebalan-penebalan dinding sel. Sklereid
mungkin bisa dijumpai dalam bentuk tunggal atau kelompok kecil di antara sel-sel, misalnya
butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji atau suatu masa sinambung seperti pada
tempurung kelapa yang keras. Untuk memahami struktur sel-sel batu ini.

 Letak jaringan sklerenkim


Jaringan sklerenkim terdiri atas sel-sel yang bersifat mati dan seluruh bagian dinding
selnya mengalami penebalan. Letaknya adalah di bagian korteks, perisikel, serta di antara xilem
dan floem. Jaringan sklerenkim pada bagian keras biji dan buah berupa sklereida. Sklereid juga
terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel – selnya membentuk jaringan yang keras, misalnya pada
tempurung kelapa, kulit biji dan mesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut
pola yang khas. Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.(Kurmana, 2008)
            Sklerenkim ada dua jenis, yaitu berbentuk fiber (serat) misalnya rami, dan slereida pada
kulit kacang atau kulit biji. Fungsi jaringan sklerenkim adalah sebagai alat penyokong dan
pelindung.
  Macam-macam sel sklerenkim
a.    Sklereid
Terdapat di berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan. Sklereid berhimpun menjadi kelompok sel
keras diantara sel parenkim di sekelilingnya. Sklereid dapat dibagi empat macam : (Lovelles,
1987)
1.    Brakisklereid atau sel batu yang bentuknya hampir isodiametrik, misalnya floem kulit kayu
pohon.
2.    Makrosklereid yang berbentuk batang sering ditemukan dalam kulit biji, misalnya pada
leguminosae.
3.    Osteosklereid yang berbentuk tulang dengan ujung-ujungnya yang membesar kadang-
kadang sedikit bercabang.
4.    Asterosklereid yang bercabang-cabang dan berbentuk bintang sering terdapat pada daun.
b.    Serat
Serat terdapat di berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan. Serat paling sering ditemukan
diantara jaringan pembuluh. Menurut tempatnya dalam tubuh, dibedakan menjadi serat xilem
dan ekstra xilem. Serat xilem merupakan bagian jaringan pembuluh dan berkembang dari
prokambium, yakni jaringan yang menghasilkan jaringan pembuluh. Dua macam serat xilem
dibedakan berdasarkan tebal dinding dan noktah adalah serat libriform dan serat trakeid. serat
extra xilem dalam tumbuhan terdapat di luar xilem, misalnya ditemukan dalam korteks atau
dalam floem sebagai bagian dari floem.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta
Hidayat, Estiti. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB
Santoso, Woelaningsih dkk. 1987. Anatomi Tumbuhan. Jakarta: penerbit karnunika Jakarta Universitas Terbuka.
Tri Wahyu Agustina. 2010. Materi Pokok Ajar Anatomi Tumbuhan. Bandung: Pendidikan Biologi

Anda mungkin juga menyukai