Anda di halaman 1dari 16

Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No.

2, April 2018

Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani


Volume 2, Nomor 2 (April 2018)
ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)
http://www.sttintheos.ac.id/e-journal/index.php/dunamis

Submitted: 15 Maret 2018 Accepted: 12 April2018 Published: 23 April 2018

Pentakostalisme dan Aksi Sosial:


Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

Yushak Soesilo
Program Studi Teologi Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
yushak@sttintheos.ac.id

Abstract
The Pentecostal Movement is a Christian movement that puts the power and work of the Holy
Spirit at the first place. This movement sought to bring back the biblical Christianity as
experienced by the early church. As the early church experienced a rapid growth of new
souls, so it is with today's Pentecostal churches. The problem that arises is often in the effort
to win the soul there is a dichotomy between power ministry, as emphasized by the
Pentecostal movement, with social action. Some churches emphasize only one aspect of the
ministry. Through a structural analysis approach to Acts 2: 41-47 the researcher seeks to find
the ideal formulation in an attempt to win souls as in the experience of the early church.
Through this approach the result is that the power ministry and social action must be carried
out by the church at the same time and in balance that ultimately make the effort to win souls
effectively.

Keywords: pentecostalism; semiotics; structural analysis; social action; the acts of the
apostles

Abstrak
Gerakan Pentakostalisme adalah gerakan orang Kristen yang mengutamakan kuasa dan karya
Roh Kudus. Gerakan ini berusaha untuk mengembalikan kekristenan yang Alkibiah
sebagaimana yang dialami oleh gereja mula-mula. Sebagaimana gereja mula-mula yang
mengalami pertumbuhan jiwa baru yang pesat, demikian halnya dengan gereja-gereja
Pentakosta masa kini yang juga mengalaminya. Permasalahan yang muncul adalah seringkali
dalam usaha untuk memenangkan jiwa ada dikotomi antara pelayanan dengan kuasa,
sebagaimana yang ditekankan oleh gerakan Pentakostalisme, dengan aksi sosial. Beberapa
gereja menekankan hanya pada satu segi dari pelayanan tersebut. Melalui pendekatan analisis
struktural terhadap Kisah Para Rasul 2:41-47 peneliti hendak mencari formulasi yang ideal
dalam usaha untuk memenangkan jiwa sebagaimana pengalaman gereja mula-mula. Melalui
pendekatan tersebut diperoleh hasil bahwa pelayanan kuasa dan aksi sosial harus dijalankan
oleh gereja secara bersamaan dan seimbang yang pada akhirnya membuat usaha untuk
memenangkan jiwa berlangsung secara efektif.

Kata Kunci: pentakostalisme; semiotika; analisis struktural; aksi sosial; kisah para rasul

136 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

PENDAHULUAN Kudus. 2 Gerakan ini adalah usaha untuk

Pentakosta dalam Perjanjian Lama kembali kepada kekristenan yang

dirayakan sebagai hari pengucapan syukur Alkitabiah sebagaimana yang dialami oleh
3
kepada Tuhan atas panen yang melimpah. gereja mula-mula. Gerakan

Istilah Pentakosta sendiri berasal dari Pentakostalisme membawa penekanan

bahasa Yunani pente yang berarti lima, dan pada terhadap pribadi dan karya Roh

konta yang berarti puluh. Pentakosta Kudus bagi orang percaya.4

dirayakan lima puluh hari setelah perayaan Pelayanan dari gerakan

Paskah. Pada hari tersebut orang Israel Pentakostalisme memiliki ciri khas

mempersembahkan korban hulu hasil tersendiri yang disebut dengan pelayanan

sehingga disebut sebagai “pesta penuaian” dengan kuasa, yaitu pelayanan yang

(Im. 23:15-21; Ul. 28:26-31). Dalam menekankan pada kuasa Roh Kudus

Perjanjian Baru istilah Pentakosta dengan disertai tanda-tanda dan mujizat-


5
ditemukan dalam Kisah Para Rasul, yang mujizat. Meskipun menekankan pada

menunjuk kepada peristiwa pencurahan pelayanan kuasa bukan berarti bahwa

Roh Kudus kepada murid-murid Yesus gerakan Pentakostalisme mengabaikan

yang sedang berkumpul di Yerusalem. karunia rohani yang dianggap kurang

Peristiwa pencurahan Roh Kudus di nyata. 6 Pelayanan dengan kuasa tersebut

Yerusalem tersebut kemudian menjadi bertujuan untuk memenangkan jiwa

tonggak berdirinya gereja, yang dalam melalui pemberitaan Injil dengan semangat
dan kuasa Roh Kudus.
setiap misinya mengandalkan kuasa Roh
Kudus. Permasalahan yang muncul dalam

Pentakostalisme sendiri kaitannya dengan usaha untuk

didefinisikan sebagai suatu paham, memenangkan jiwa, gereja seringkali

gerakan, atau aliran dan ajaran karya Roh membuat dikotomi antara penginjilan

Kudus seperti pada hari Pentakosta di dengan aksi sosial. Ada yang lebih

Yerusalem. 1
Gerakan Pentakostalisme menekankan pada penginjilan sehingga

(Pentecostalism Movement) adalah 2


Ibid, 6.
3
gerakan orang Kristen yang Andreas Sudjono, “Pentakostalisme,” Jurnal
Antusias 1, no. 2 (May 1, 2011): 6–12, accessed
mengutamakan kuasa dan karya Roh March 13, 2018, http://sttintheos.ac.id/e-
journal/index.php/antusias/article/view/80/79.
4
Ibid.
1 5
Daniel Sutoyo, Gerakan Pentakostalisme: Sejarah Sutoyo, Gerakan Pentakostalisme: Sejarah
Kebangunan Rohani Yang Mewarnai Dunia Dan Kebangunan Rohani Yang Mewarnai Dunia Dan
Injil Bagi Bangsa-Bangsa (Sukoharjo: Born Win’s Injil Bagi Bangsa-Bangsa, 17.
6
Publishing, 2011), 5. Ibid.

137 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

menganggap bahwa pengalaman mula tersebut. Penelitian ini bertujuan


supranatural lebih penting dibandingkan untuk menemukan formulasi yang
dengan aksi sosial, dan sebaliknya ada juga menghasilkan pertumbuhan jiwa secara
yang mengaggap bahwa aksi sosial adalah pesat dalam jemaat mula-mula di
sudah merupakan penginjilan itu sendiri. Yerusalem pasca peristiwa Pentakosta
Penginjilan seringkali dikategorikan dalam melalui pendekatan struktural terhadap
dunia spiritual, sedangkan aksi sosial teks Kisah Para Rasul 2:41-47.
dikategorian dalam dunia fisik dan sifatnya
METODE PENELITIAN
7
sementara. Penginjilan juga sering
Pendekatan yang digunakan dalam
dikategorikan sebagai proklamasi Kerajaan
menganalisa teks Kisah Para Rasul 2:41-47
Allah, sedangkan aksi sosial adalah
8 ini adalah melalui pendekatan analisis
demonstrasi Kerajaan Allah. Gereja
struktural. Analisis struktural atau semiotik
seringkali menempatkan dirinya dalam
adalah merupakan suatu pendekatan
salah satu dari kedua kutub tersebut.
terhadap teks Alkitab yang menganggap
Kisah Para Rasul 2:41-47 adalah
bahwa dalam suatu teks penulis dengan
salah satu teks yang menceritakan
sengaja memberikan simbol bahasa yang
bagaimana kehidupan jemaat mula-mula.
saling berkaitan satu dengan yang lainnya
Jemaat mula-mula mengalami
dengan maksud untuk menggambarkan
perkembangan yang sangat pesat, bahkan
9
jalan pikiran penulis. Simbol-simbol
dapat dikatakan sebagai suatu ledakan
bahasa tersebut ditempatkan dengan
jiwa. Apa yang terjadi dalam Kisah Para
seimbang (parallel), yang membentuk
Rasul tersebut kemudian juga dinapaktilasi
suatu kesejajaran baik dalam kesamaan
oleh gerakan Pentakostalisme, di mana
maupun dalam kontrasnya, yang dikenal
gereja-gereja yang beraliran Pentakosta
10
sebagai paralelismus membrorum.
juga mengalami pertumbuhan jiwa dengan
Kesejajaran tersebut dapat ditemukan baik
sangat pesat. Pertumbuhan pesat yang
dialami oleh gereja-gereja Pentakosta
9
dapat diduga karena mengadopsi praktik- P. A. Didi Tarmedi, “Analisis Naratif: Sebuah
Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci,”
praktik dalam kehidupan jemaat mula- MELINTAS 29, no. 3 (July 14, 2014): 331–360,
accessed February 25, 2018,
http://journal.unpar.ac.id/index.php/melintas/article
7
Melba Padilla Maggay, Transformasi /view/902/889.
10
Masyarakat: Refleksi Keterlibatan Sosial Kristen Yushak Soesilo, “Doktrin Oneness
(Jakarta: Cultivate Publishing, 2004), 11. Pentacostalism,” Jurnal Antusias 2, no. 1 (January
8
Ken Gnanakan, Teologi Misi: Kepedulian 5, 2012): 53–67, accessed March 4, 2018,
Kerajaan Allah, ed. Yusak Tanasyah (Jakarta: http://sttintheos.ac.id/e-
YWAM Publishing Indonesia, 1995), 230-231. journal/index.php/antusias/article/view/60/59.

138 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

dalam bentuk kata, frase, kalimat, maupun 44. Dan semua orang yang telah menjadi
dalam bentuk gagasan/ inplisit. percaya tetap bersatu, dan mereka
Tujuan dari metode semiotik ini memiliki semua kesamaan,
adalah untuk mendapatkan makna selain 45. dan selalu ada dari mereka yang
11
daripada prosedur penafsiran. Prinsip menjual sebidang tanah dan harta milik,
penting dalam semiotik ini adalah bahwa dan membagikannya kepada semua orang
harus berangkat dari teks, menganalisa sesuai dengan keperluan masing-masing.
teks, dan kemudian menerapkan kembali 46. tiap-tiap hari mereka bertekun dengan
hsil analisa tersebut ke dalam teks, di mana sehati dalam Bait Allah, dan mereka
metode di dalam menganalisa tersebut memecahkan roti dari rumah ke rumah,
bukanlah secara eksplisit muncul dari saling berbagi makanan dengan sukacita
permukaan teks namun hanya ada di dalam dan tulus hati
12
pikiran penganalisa. Apa yang tidak 47. mereka memuji Allah, dan mereka
nampak dari permukaan teks tersebut mendapatkan kasih semua orang. Dan tiap-
kemudian dibawa kepada makna yang tiap hari Tuhan menambahkan kepada
terang.13 gereja orang-orang yang diselamatkan.

ANALISIS DAN HASIL Batasan Teks

Teks Kisah Para Rasul 2:41-47 Perikop Kisah Para Rasul 2:41-47

41. sesungguhnya orang-orang yang tersebut merupakan satu kesatuan unit

menerima perkataan itu memberi diri yang ditandai dengan adanya inklusio,

dibaptis dan ditambahkan kepada mereka yaitu ayat 41 dan 47b, yang dalam kedua

kira-kira tiga ribu jiwa ayat pembuka dan penutup tersebut sama-

42. dan mereka bertekun dalam pengajaran sama mengetengahkan penambahan

para rasul dan dalam persekutuan, dan jumlah jiwa setelah peristiwa Pentakosta di

dalam pemecahan roti dan dalam doa-doa. Yerusalem.

43. dan ketakutan memenuhi setiap jiwa,


dan banyak mujizat dan tanda dikerjakan
oleh para rasul.

11
Jean Calloud, “A Few Comments on Structural
Semiotics: A Brief Review of A Method and Some
Explanation of Procedures,” Semeia 15 (1979): 51–
82.
12
Ibid.
13
Ibid.

139 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

parallel tersebut hendak menyatakan


Analisis Struktural
bahwa pertambahan jiwa yang diakibatkan
Peneliti membuat struktur teks
oleh peristiwa Pentakosta tersebut adalah
tersebut dalam pola kiasme ABCC’B’A’
suatu kejadian yang dinamis, yang
yang susunannya adalah sebagai berikut:
sebelumnya pernah terjadi ledakan tiga
A : jumlah orang percaya bertambah (ay.
ribu jiwa, dan akan terus mengalami
41)
pertambahan. Secara singkat dapat
B : bertekun dalam pengajaran para rasul
dijelaskan bahwa Lukas menekankan pada
dan dalam persekutuan (ay. 42)
aspek dinamika yang sudah tentu tidak
C : aksi para rasul: mengadakan banyak
dapat dilepaskan dari kuasa (du,namij) yang
mujizat dan tanda (ay. 43)
diperoleh melalui peristiwa Pentakosta.
C’ : aksi jemaah: kepedulian sosial (ay.
Kata dunamis tersebut memiliki padanan
44 – 45)
kata dengan kata “dinamis, dinamika”,
B’ : bertekun di Bait Allah dan bersekutu
yang berarti bahwa kata dunamis
di rumah masing-masing secara
menunjuk kepada kuasa yang
bergiliran (ay. 46 – 47b)
menghasilkan dinamika dalam pribadi
A’ : jumlah orang percaya bertambah 15
orang percaya. Dinamika itu sendiri
tiap-tiap harinya (ay. 47c)
menurut KBBI didefinisikan sebagai
Korespondensi antara ayat 41 16
“gerak, menggerakkan, semangat”. Lukas
dengan ayat 47c dapat ditemukan dalam
membingkai perikop dengan tensis yang
kesamaan beberapa kata yang dipakai,
menyimbolkan dinamika yang dihasilkan
antara lain kata kerja dasar
dari peristiwa Pentakosta.
“menambahkan” (prosti,qhmi). Dalam
Ayat 41 dan 47c juga
kedua ayat tersebut Lukas menggunakan
menyampaikan gagasan yang sama, yaitu
tensis yang berbeda, yaitu aorist
pertambahan jiwa orang yang percaya atau
(prosete,qhsan) pada ayat 41 dan imperfect
orang yang diselamatkan. Meskipun sama,
(proseti,qei) pada ayat 47c. Tensis aorist
namun gagasan tersebut disampaikan
digunakan untuk menyatakan peristiwa
15
yang pernah terjadi. 14 Perbedaan tensis Harls Evan R. Siahaan, “Karakteristik
Pentakostalisme Menurut Kisah Para Rasul,”
yang digunakan dalam dua ayat yang DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan
Kristiani 2, no. 1 (November 4, 2017): 12–28,
accessed February 28, 2018,
http://sttintheos.ac.id/e-
14
J.W. Wenham, Bahasa Yunani Koine (The journal/index.php/dunamis/article/view/132/116.
16
Elements of New Testament Greek), ed. Lynne “Hasil Pencarian - KBBI Daring,” accessed
Newel, 2nd ed. (Malang: Seminari Alkitab Asia February 28, 2018,
Tenggara, 1987), 77. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/dinamika.

140 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

dengan intesitas yang semakin meningkat. yang dikaruniakan melalui Roh Kudus
Ayat 41 menyajikan fakta bertambahnya yang diterima telah membuat suatu
jiwa dalam satu hari, sedangkan dalam ledakan jumlah orang percaya dan secara
ayat 47c menyajikan pertambahan jiwa dinamis terus bekerja untuk menambahkan
setiap harinya. Naiknya intesitas tersebut jiwa-jiwa baru.18
merupakan suatu hal yang lazim dalam Korespondensi antara B dan B’
sastra Ibrani, dimana kesamaan yang dengan mudah dapat terlihat melalui kata
ditemukan dari parallel dari dua bagian “bertekun” (proskarterou/ntej) yang
tidaklah berarti sepenuhnya sama, namun terdapat di dalam kedua bagian tersebut,
selalu bagian pertama lebih kecil yang juga menggunakan tensis participle
intensitasnya dibandingkan bagian kedua present pada kedua bagian tersebut.
17
atau sebaliknya. Kenaikan intensitas Sebagaimana bagian A/A’, kata “bertekun”
tersebut dapat diartikan sebagai suatu cara juga mengalami perluasan, di mana jika
dari penulis untuk menyampaikan suatu pada B hanya menggunakan kata
kemajuan yang bersifat dinamis. “bertekun” saja, maka pada B’ diperluas
Pada hari Pentaskosta jumlah orang dengan menambahkan frase “setiap hari”
yang menjadi percaya dan dibaptis (KaqV h`me,ran) dan juga frase “dengan
bertambah kira-kira tiga ribu jiwa (ay. 41). sehati” (o`moqumado.n). Kenaikan intensitas
Jumlah jiwa yang diselamatkan kemudian atau perluasan yang digunakan juga dalam
tidak berhenti bertambah atau bahkan bagian B/B’ tersebut kembali menekankan
berkurang, sebaliknya secara dinamis pada sifat dinamis yang bersumber dari
berkembang hingga tiap-tiap hari kuasa yang diperoleh pada hari Pentakosta
bertambah jumlah orang yang tersebut.
diselamatkan (ay. 47c). Lukas B dan B’ juga parallel dalam
menempatkan kedua ayat ini sebagai gagasannya mengenai dua relasi, yaitu
bingkai dari narasinya tentang kehidupan relasi horizontal dan relasi vertical. Relasi
jemaat yang ada di Yerusalem. Melalui vertical berhubungan dengan ketekunan
bingkai tersebut Lukas hendak jemaat di Bait Allah, dalam pengajaran
menyampaikan bahwa hidup jemaat mula-
mula yang ideal tersebut tidaklah terlepas 18
Yohanes Asin, “KARUNIA-KARUNIA ROH
KUDUS SEBAGAI FAKTOR PENDORONG
dari peristiwa Pentakosta. Kuasa (du,namij) (PROMOTING FACTOR) PERTUMBUHAN
GEREJA,” Jurnal Antusias 1, no. 3 (September 1,
17
Temper Longman III, Bagaimana Menganalisa 2011): 101–108, accessed February 25, 2018,
Kitab Mazmur, 5th ed. (Malang: Literatur SAAT, http://sttintheos.ac.id/e-
2007), 115-116. journal/index.php/antusias/article/view/78/77.

141 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

para rasul, dalam doa-doa, dan dalam menempatkan ketekunan di dalam


memuji Tuhan. Sedangkan relasi pengajaran para rasul dan dalam doa-doa
horisontal berkaitan dengan ketekunan sebagai bingkai dari keseluruhan ayat 42
dalam persekutuan, dalam memecahkan tersebut. Orang-orang yang percaya
roti, dalam berbagi makanan, dan disukai tersebut bertekun dalam pengajaran
oleh semua orang. Gagasan pada bagian B’ (didach/|) para rasul. Kata didach tersebut
juga mengalami peningkatan intensitas hampir tidak dapat dipisahkan dari khotbah
dibandingkan dengan yang terdapat dalam para rasul di muka umum yang berbicara
bagian B ketika disebutkan bahwa mereka tentang keselamatan di dalam Yesus. 19
memecahkan roti dengan sukacita, dan Kata tersebut muncul dan digunakan juga
juga dengan tulus hati mereka memuji dalam beberapa pemberitaan tentang
Allah. Kristus (bd. 5:28; 13:12; 17:19). Dengan
Struktur ayat 42 juga membentuk demikian pengajaran yang diterima oleh
pola kiasme (menyilang) yang susunannya jemaat mula-mula bukanlah berisi ajaran
adalah sebagai berikut: motivasi-motivasi hidup popular pada
a : dalam pengajaran para rasul (plural) zamannya yang mendorong jemat untuk
b : dan dalam persekutuan (singular) memiliki kepedulian sosial, namun ajaran
b’ : dan dalam memecahkan roti (singular) yang didominasi oleh proklamasi
a’ : dan dalam doa-doa (plural) keselamatan di dalam Yesus. Para rasul
Lukas memisahkan bagian-bagian tersebut benar-benar menyampaikan khotbah yang
dengan kata penghubung “dan” (kai.) dan berisikan pengajaran, yaitu khotbah yang
artikel definitive th/|. Melalui petunjuk memberikan pemahaman tentang Allah
inplisit tersebut pembaca segera dapat yang berkarya dan perilaku umat yang
mengenali bagian-bagiannya dan sekaligus sesuai dengan karya Allah, berbeda dengan
membentuk pola strukturnya. Bagian a dan khotbah kontemporer yang bersumber pada
a’ parallel dalam kegiatan yang bersifat keinginan/ emosi manusia. 20 Roh Kudus
vertical dan sekaligus sejajar dalam kata yang diterima oleh para murid telah
benda jamak yang digunakan. Bagian b
19
dan b’ berkorespondensi dalam bentuk C.K. Barrett, A Critical and Exegetical
Commentary on the Acts of the Apostles, 3rd ed.
kegiatan yang bersifat hubungan horizontal (London: T&T Clark Ltd, 2004).
20
Kevin Tonny Rey, “Khotbah Pengajaran Versus
dan dalam penggunaan kata benda tunggal. Khotbah Kontemporer,” DUNAMIS: Jurnal
Penulis menyusun kalimat-kalimat Penelitian Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no.
1 (September 1, 2016): 31, accessed March 8, 2018,
ayat 42 sedemikian rupa sehingga http://sttintheos.ac.id/e-
journal/index.php/dunamis/article/view/100.

142 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

menjadikan pengajaran yang mereka Penempatan kegiatan-kegiatan


sampaikan menarik antusiasme jemaat yang bersifat membangun relasi secara
untuk terus mau mendengarkan dan vertical tersebut pada bingkai dari
melaksanakan apa yang diajarkan keseluruhan teks ayat 42 dimaksudkan
tersebut.21 oleh penulis untuk menunjukkan bahwa
Selain bertekun di dalam kegiatan yang membangun relasi
pengajaran para rasul, jemaat juga horizontal (b/b’) bukanlah bersumber dari
bertekun dalam doa (proseucai/j). Kata adanya ikatan emosional namun bersumber
proseucai/j merupakan bentuk jamak dari kepada kualitas spiritual yang dibangun
kata benda tunggal proseuch/| (bd. 1:14). melalui berbagai aktivitas rohani tersebut.
Penggunaan bentuk jamak tersebut Landasan spiritual yang kuat tersebut
menunjukkan bahwa doa jemaat mula- menghasilkan pelayanan sosial yang kuat
mula tersebut berbeda dengan doa murid- yang juga menjadi ciri pelayanan gereja
murid Yesus ketika menantikan Roh masa kini. 23 Penulis menggunakan kata
Kudus. Ketika murid-murid Yesus benda tunggal pada bagian b dan b’ dengan
menantikan Roh Kudus, mereka bertekun tujuan untuk menekankan pada aspek
dalam satu doa, yaitu meminta karunia kesatuan yang kuat dalam relasi jemaat
yang dijanjikan. Sedangkan bentuk plural secara horizontal.
dari doa jemaat mula-mula berarti bahwa Bentuk relasi horizontal pertama
mereka berdoa akan banyak hal yang yang ditunjukkan oleh kehidupan jemaat
mereka alami. Mereka bertekun dalam doa mula-mula adalah ketekunan mereka
dan menaikkan berbagai doa yang dalam persekutuan. Persekutuan
menunjukkan bahwa peristiwa Pentakosta (koinwni,a|) dapat didefinisikan sebagai
telah mentransformasikan orang-orang suatu hubungan antar-individu dalam
percaya untuk memiliki gaya hidup kerangka kepentingan bersama dengan
berdoa.22 melibatkan peran aktif dalam
kebersamaan. 24 Kata koinwni,a| itu sendiri

21
Nur Budi Santosa, “Peran Roh Kudus Dalam
Pelaksanaan Pendidikan Kristen,” Jurnal Antusias 2018, http://sttintheos.ac.id/e-
2, no. 2 (September 1, 2012): 105–118, accessed journal/index.php/dunamis/article/view/101/97.
23
March 4, 2018, http://sttintheos.ac.id/e- Nur Budi Santosa, “Pelayanan Sosial Sebagai
journal/index.php/antusias/article/view/36/35. Konteks Refleksi Aktivitas Misiologi,” Jurnal
22
Daniel Sutoyo, “Allah Memanggil Umat-Nya Antusias 2, no. 4 (December 1, 2013): 126–137,
Untuk Menjadi Gereja Yang Tekun Berdoa accessed March 5, 2018, http://sttintheos.ac.id/e-
Menurut Kisah Para Rasul 4: 23 – 31,” DUNAMIS: journal/index.php/antusias/article/view/28/27.
24
Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no. 1 Daniel Sutoyo, “Gaya Hidup Gereja Mula-Mula
(September 1, 2016): 52–73, accessed March 4, Yang Disukai Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47

143 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

tidak digunakan dalam Kisah Para Rasul kla,sei tou/ a;rtou tidak dapat dilepaskan
selain dalam 2:44 dan 4:32. Penggunaan dari ekaristi apabila melihat konteks
kata tersebut dalam kitab lainnya dapat peristiwa kebangkitan Kristus dalam Lukas
ditemukan dalam hubungannya dengan 24:35. Dengan menggunakan pilihan kata
pengumpulan bantuan bagi orang-orang yang sama Lukas tentu hendak
miskin (bd. Rm. 15;26; 2 Kor. 8:4; 9:13). menyampaian pesan teologis yang sama
Dengan demikian dapat disimpulkan diantara kedua praktik tersebut.
bahwa bentuk persekutuan yang Praktik “memecahkan roti” tersebut
dipraktikkan oleh jemaat mula-mula bukanlah merupakan bentuk aktivitas
bukanlah sekedar kesatuan dalam suatu makan bersama, namun adalah merupakan
kelompok karena adanya kesamaan minat bagian pembukaan dari makan bersama
atau tujuan, namun suatu kesatuan yang dan sekaligus suatu pernyataan kasih
didasari oleh kasih dan kemurahan hati. dalam makan bersama. 25 Pada akhirnya
Relasi horizontal yang kedua praktik ini menjadi suatu tradisi baru yang
ditunjukkan dengan ketekunan dalam diperkenalkan oleh gereja untuk
memecahkan roti (th/| kla,sei tou/ a;rtou). mengekspresikan kasih dalam
Kata kla,sei (memecahkan) hanya hubungannya dengan kasih agape Kristus.
digunakan dalam ayat ini dan dalam Lukas Praktik koinwni,a dan kla,sei tou/ a;rtou
24:35. Dalam Lukas 24:35 Yesus adalah dua hal yang berbeda dalam
memecahkan roti di rumah murid yang ada kesamaan. Berbeda dalam bentuknya
di Emaus, dalam konteks jamuan makan kegiatannya, namun sama dalam faktor
yang mereka berikan kepada Yesus. pendorongnya, yaitu kasih dalam
Dengan demikian, tradisi “memecahkan persekutuan dengan Kristus. Inilah yang
roti” yang dilakukan oleh jemaat mula- menjadikan dua praktik tersebut sejajar
mula ini tidaklah sama dengan Perjamuan dalam strukturnya.
Kudus. Memecahkan roti dalam konteks Sebagaimana bagian A mengalami
Perjamuan Kudus sebagaimana yang kenaikan intensitas pada bagian A’,
digunakan dalam Lukas 22:19 adalah demikian juga dengan B’ (ay. 46 – 47b)
dengan kata kla,w. Namun demikian adalah merupakan perluasan dari B. Selain
meskipun bukanlah Perjamuan Kudus, th/| perluasan dengan penambahan frase

25
Bagi Gereja Masa Kini,” Jurnal Antusias 3, no. 6 F.F. Bruce, The Acts of the Apostles: The Greek
(December 1, 2014): 1–31, accessed March 6, Text with Introduction and Commentary, 3rd ed.
2018, http://sttintheos.ac.id/e- (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing
journal/index.php/antusias/article/view/7/6. Company, 1990), 132.

144 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

“setiap hari” (KaqV h`me,ran) dan juga frase aktivitas spiritual maupun aktivitas social
“dengan sehati” (o`moqumado.n), B’ juga adalah dua hal yang sejajar, yang memiliki
diperluas pada bagian-bagiannya. Struktur nilai yang sama. Keduanya secara dinamis
B’ dapat disusun sebagai berikut: harus selalu berjalan seiring tanpa ada
a : dalam Bait Allah batasan periode. Objek keterangan pada
b : dan memecahkan roti dari rumah ke setiap bagian B’ juga menggunakan kata
rumah, berbagi makanan dalam benda singular, yang semakin menegaskan
sukacita kesatuan di antara dua jenis kegiatan
a’ : dan dengan tulus hati mereka memuji tersebut.
Allah Jemaat mula-mula bertekun dengan
b’ : dan mereka mendapatkan kasih semua sehati setiap hari di Bait Allah (evn tw/|
orang i`erw). Lokasi yang menjadi tempat favorit
Tidak jauh berbeda dengan bagian B, pada jemaat tersebut berkumpul di Bait Allah
B’ bagian-bagian kalimatnya ditandai adalah di serambi Salomo.26 Jemaat mula-
dengan kata hubung kai., juga sedikit mula masih beribadah di Bait Suci, di
variasi dengan penggunaan te, di mana mana ibadah mereka berpusat pada
keduanya memiliki pengertian yang sama, Perjamuan Tuhan.27 Bait Suci, terutama di
yaitu “dan”. Serambi Salomo, adalah tempat di mana
Struktur B’ berbeda pola dengan orang-orang biasa mendengarkan
struktur B. Jika B berstruktur kiasme pengajaran para rabi. 28 Demikian halnya
(menyilang), maka B’ berstruktur simetris dengan yang dilakukan oleh para jemaat,
aba’b’. Pola simetris adalah merupakan mereka bertekun di dalam pengajaran para
pola terbuka karena dalam pola tersebut rasul sebagaimana disebutkan dalam ayat
jika digambarkan seperti dua garis yang 42 dan di ayat 46 ini mendapatkan
saling sejajar dan tidak ditemukan deskripsi yang lebih jelas tempat di mana
batasnya, berbeda dengan pola kiasme mereka mendengarkan pengajaran tersebut.
yang mirip dengan suatu bangunan Penyebutan Bait Allah memberikan suatu
berbingkai. Jika pada B pola kiasme penekanan tersendiri mengenai nilai
tersebut bertujuan untuk membingkai relasi
26
horizontal dengan kegiatan relasi vertical Ibid, 133.
27
J.I. Parker, Merrill C. Tenney, and William Jr.
untuk menunjukkan dasar dari kegiatan- White, Ensiklopedi Fakta Alkitab: Bible Almanac-
2, 2nd ed. (Malang: Gandum Mas, 2004), 1123.
kegiatan sosial tersebut, maka pada B’ pola 28
Sutoyo, “Gaya Hidup Gereja Mula-Mula Yang
simetris untuk menunjukkan bahwa baik Disukai Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 Bagi
Gereja Masa Kini.”

145 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

spiritual dari pengajaran para rasul antara a dengan a’, antara Bait Allah, yang
tersebut. dikenal dengan ibadah lahiriah dan
Ketekunan berkumpul dalam Bait legalismenya, dengan ibadah yang rendah
Allah (a) tersebut parallel dengan hati di hadapan Allah.
ketekunan dalam memuji Allah (a’). Apabila a/a’ dari bagian B’ adalah
Bagian a’ ini juga merupakan perluasan merupakan parallel yang diperluas dari a/a’
dari bagian a’ pada ayat 42. Jika pada ayat bagian B, maka b/b’ bagian B’ juga
42 jemaat mula-mula bertekun dalam doa- merupakan perluasan dari b/b’ bagian B.
doa, maka a’ pada bagian B’ ini Jika a/a’ berbicara tentang relasi vertical,
memperluasnya melalui pujian kepada maka b/b’ menyajikan fakta relasi
Allah yang dinaikkan dengan tulus hati horizontal. Pernyataan bahwa jemaat
(avfelo,thti kardi,aj aivnou/ntej to.n qeo,n). bertekun setiap hari dengan sehati
Kata “tulus hati” (avfelo,thti kardi,aj) memecahkan roti dari rumah ke rumah,
tersebut sebenarnya dapat diartikan sebagai berbagi makanan dalam sukacita (b) adalah
rendah hati. Memuji Allah dengan perluasan dari bertekun dalam
kerendahan hati adalah merupakan suatu memecahkan roti (b’) pada bagian B (ay.
tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh 42). Sebagaimana dijelaskan sebelumnya
karya Roh Kudus. Tuhan Yesus bahwa praktik memecahkan roti adalah
mengatakan bahwa akan tiba waktunya ceremony pembukaan dari makan bersama,
orang-orang akan menyembah di dalam dan selanjutnya dalam ayat 46 ini
Roh dan kebenaran (Yoh. 4:21-24). Dalam dijelaskan bahwa mereka melakukannya
Roh berarti suatu penyembahan yang secara bergiliran, dari rumah ke rumah.
dipimpin oleh Roh Kudus, dan dalam Lebih jauh lagi mereka melakukannya
kebenaran berarti penyembahan yang bukan hanya secara bergiliran namun juga
29 berbagi makanan dengan sukacita.
menghormati Tuhan. Pentakosta telah
mengubah ibadah lahiriah di Bait Allah Berbagi makanan tentu yang
menjadi ibadah dengan doa dan pujian dimaksudkan adalah makan bersama
yang memuliakan Allah. Hal tersebut (communal meal). Makan bersama
sekaligus menjadi parallel yang kontras bukanlah Perjamuan Tuhan, namun benar-
benar adalah makan sebagaimana biasanya
29
Eka Budhi Santosa, “Dinamika Roh Kudus
namun dilakukan bersama-sama dengan
Dalam Ibadah Pentakosta,” Jurnal Antusias 2, no. 1 berbagi makanan yang ada. Yang menarik
(January 5, 2012): 180–202, accessed March 9,
2018, http://sttintheos.ac.id/e- di sini Lukas menambahkan kata
journal/index.php/antusias/article/view/68.

146 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

“sukacita” (avgallia,sei) untuk memberikan Menarik apabila kemudian b/b’ dari


keterangan bagaimana suasana makan B dan b/b’ dari B’ disusun strukturnya
bersama tersebut. Berbagi makanan seperti baris-baris puisi sebagai berikut:
dengan sukacita sebenarnya ada dalam dan dalam persekutuan (a)
dan dalam memecahkan roti
praktik perayaan Pentakosta dalam (b)
Perjanjian Lama (Ul. 16:10-12). Lukas
dan memecahkan roti dari rumah
nampaknya melihat parallel peristiwa ke rumah, berbagi makanan dalam
Pentakosta dalam Perjanjian Lama dan sukacita (b’)
dan mereka mendapatkan
Pentakosta dalam Perjanjian Baru sehingga kasih semua orang (a’)
kemudian juga menggunakan Susunan tersebut membentuk pola kiasme
penggambaran suasana yang sama di (menyilang) abb’a’. Perhatikanlah pada
antara kedua peristiwa tersebut. Dengan bingkai dari struktur tersebut, yaitu dalam
kata lain, penulis kembali hendak persekutuan; mereka mendapatkan kasih
menekankan bahwa peristiwa Pentakosta semua orang, adalah parallel dalam
itulah yang telah membuat jemaat hidup menunjuk kepada aksi keluar, sedangkan
dalam kebersamaan dan dalam kesatuan dua baris yang ada di dalam parallel dalam
yang kuat. menunjuk aksi ke dalam. Pada kedua baris
Relasi yang harmonis di antara yang menjadi bingkai tersebut persekutuan
jemaat tersebut kemudian berdampak pada (koinwni,a) disejajarkan dengan mendapat
kenyataan bahwa mereka mendapat kasih kasih semua orang. Lukas hendak
semua orang (e;contej ca,rin pro.j o[lon memberitahukan kepada pembaca bahwa
to.n lao,n). Bagian b’ ini juga adalah jemaat mula-mula bukan hanya dikenal
parallel dari b pada bagian B (ayat 42). baik hati kepada saudara seiman, namun
Persekutuan (koinwni,a) jemaat, juga kepada semua orang. Fakta bahwa
sebagaimana yang disebutkan dalam ayat mereka mendapatkan kasih dari semua
42, bukan sekedar ketekunan dalam orang tentu saja karena semua orang
perkumpulan biasa, namun ada kemurahan merasakan dan bukan hanya melihat
hati yang diwujudkan dengan berbagai kebaikan mereka. Kata koinonia yang
pemberian atau sedekah. Hal inilah yang dalam beberapa rujukan hanya dipakai
memberikan dampak bahwa mereka untuk menunjuk kepada perbuatan
kemudian mendapatkan kasih dari semua memberikan sumbangan menjadi jawaban
orang. mengepa jemaat disukai oleh semua orang.
Jemaat nampaknya memiliki kepedulian

147 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

sosial yang tinggi, bukan hanya kepada Frase “setiap jiwa” (pa,sh| yuch/|) memiliki
saudara seiman namun juga kepada semua kesamaan dengan kata vp,n-<ë lk' (Ul.
orang, dengan bertekun di dalam
12:16), yang dalam versi Septuaginta
memberikan sumbangan (koinwni,a).
digunakan juga frase yang sama. Dengan
Pada pusat struktur dari Kisah Para
demikian, frase “setiap jiwa” tersebut
Rasul 2:41-47 (C/C’) ada dua aksi yang
memiliki arti yang sama dengan “setiap
parallel, yaitu aksi dari para rasul yang
orang”. Banyak mujizat dan tanda yang
melakukan banyak mujizat dan tanda, dan
dilakukan para rasul telah menimbulkan
aksi sosial jemaah. Bukan sebuah
rasa hormat dan segan dari setiap orang
kebetulan juga bahwa Lukas menggunakan
kepada mereka.
tensis imperfect di seluruh ayat 43-45
Jemaat juga tidak ketinggalan
tersebut. Tensis imperfect tersebut
untuk menunjukkan aksi nyata mereka
memberikan suatu kesan bawah peristiwa
sebagai orang-orang yang telah menerima
yang terjadi tidak berhenti sampai pada
Roh Kudus. Mereka bersatu dan memiliki
waktu itu saja, namun terus berlangsung.
semua kesamaan (ay. 44). Hal tersebut
Dengan demikian, bagian pusat dari
berarti bahwa mereka hidup sebagai satu
struktur Kisah Para Rasul 2:41-47 hendak
komunitas orang yang percaya sehingga
memberitahukan kepada pembaca bahwa
mereka senantiasa melihat kesamaan-
dampak dari Pentakosta adalah dua aksi
kesamaan yang ada di antara mereka yang
yang tidak terpisahkan, yaitu karunia Roh
kemudian memperkuat kesatuan di antara
(mujizat dan tanda) dan buah Roh
mereka. Ayat 45 kemudian menjadi contoh
(kepedulian sosial, perbuatan baik). Kedua
nyata dari kesatuan mereka, di mana
hal tersebut tidak terpisahkan dan akan
mereka, yang memiliki, menjual tanah
terus berlangsung secara dinamis.
maupun harta milik untuk kemudian
Para rasul mengadakan banyak
hasilnya diberikan kepada mereka yang
mujizat dan tanda (ay. 43) yang kemudian
kekurangan. Tindakan tersebut pada
membuat setiap jiwa menjadi takut. Kata
akhirnya mengatasi kesenjangan sosial
“takut” (fo,boj) tersebut dapat diartikan
sehingga sebagaimana yang disampaikan
juga sebagai “hormat”. Kata fo,boj tersebut dalam ayat 44 mereka memiliki semua
muncul juga beberapa kali dalam Kisah kesamaan. Tidak ada hukum apapun yang
Para Rasul untuk menunjuk kepada reaksi mengatur mereka harus membagi-bagikan
atas kejadian supranatural yang dilakukan harta mereka kepada yang kekurangan.
oleh para rasul (bd. 5:5, 11; 9:31; 19:17).

148 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

Mereka tergerak hatinya ketika ada yang melakukan kedua aksi tersebut secara
dalam kekurangan. bersamaan dan seimbang.

Hasil Analisis Struktural KESIMPULAN

Melalui analisis struktural terhadap Pentakosta telah mengubah murid-


teks Kisah Para Rasul 2:41-47 tersebut murid Yesus secara kuantitas maupun
dapat dijelaskan dua hal. Pertama, dua secara kualitas. Secara kuantitas jumlah
pasang bagian yang mengelilingi pusat mereka yang sebelumnya seratus dua
struktur (A/A’ dan B/B’) selalu parallel puluh orang saja (bd. Kis. 1:15) menjadi
dengan intensitas yang menanjak. Hal itu ribuan orang dan bahkan terus menerus
diartikan sebagai cara Lukas untuk mengalami pertambahan jumlah dari hari
menunjuk kepada kuasa (du,namij) Roh ke hari. Hal pertumbuhan jiwa yang
Kudus, yang dalam hal ini erat kaitannya dimanis inilah yang menjadi ciri khas dari
dengan dengan dinamika atau sesuatu yang gerakan Pentakostalisme. Memang Tuhan
dinamis, yang menjadi bingkai dari aksi lah yang berkuasa untuk menambahkan
para rasul dan jemaat yang ada pada pusat jiwa-jiwa, namun itu semua dapat terjadi
struktur. Kedua aksi pada pusat struktur karena didukung dengan kualitas pribadi
tersebut hanya dapat dilakukan dalam dari murid-murid dan jemaat mula-mula
bingkai Pentakosta. sebagai hasil dari karya Roh Kudus dalam
Kedua, pusat struktur teks tersebut hidup mereka.
adalah memperhadapkan dua jenis aksi Mereka menjadi pribadi yang
yang berbeda, yaitu tanda dan mujizat dinamis, yang senantiasa bergerak dalam
yang dilakukan oleh para rasul dan aksi dua segi, secara bersamaan dan seimbang.
sosial jemaat. Kedua aksi tersebut tepat Mereka membangun diri mereka secara
berada pada pusat perikop cara hidup seimbang, baik dalam relasi secara vertical
jemaat mula-mula. Hal tersebut dapat maupun secara horizontal. Relasi secara
diartikan bahwa tanda-tanda, mujizat- vertical mereka bangun dengan bertekun di
mujizat dan aksi sosial adalah dua hal yang dalam pengajaran para rasul di Bait Allah.
secara ideal harus ada dalam gereja untuk Mereka bertekun bukan karena
dapat menghasilkan pertumbuhan jiwa mendengarkan khotbah-khotbah
yang dinamis. Pentakosta memampukan kontemporer atau khotbah motivasi,
dan menggerakkan jemaat untuk namun pengajaran-pengajaran hidup
kekristenan. Mereka membangun rohani

149 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018

mereka juga dengan bertekun dalam FACTOR) PERTUMBUHAN


GEREJA.” Jurnal Antusias 1, no. 3
berbagai doa dan memuji Tuhan dengan
(September 1, 2011): 101–108.
kerendahan hati. Relasi vertical mereka Accessed February 25, 2018.
http://sttintheos.ac.id/e-
bangun melalui persekutuan dan kesatuan
journal/index.php/antusias/article/vie
yang mereka kerjakan dengan sukacita. w/78/77.
Relasi yang dibangun tersebut Barrett, C.K. A Critical and Exegetical
Commentary on the Acts of the
kemudian menghasilkan aksi yang berjalan Apostles. 3rd ed. London: T&T Clark
seiring dan seimbang, yaitu aksi spiritual Ltd, 2004.
(proklamasi) dan aksi sosial (demonstrasi). Bruce, F.F. The Acts of the Apostles: The
Greek Text with Introduction and
Proklamasi Kerajaan Allah dilakukan Commentary. 3rd ed. Grand Rapids:
melalui tanda-tanda dan mujizat-mujizat William B. Eerdmans Publishing
Company, 1990.
yang dilakukan oleh para rasul, sedangkan
Calloud, Jean. “A Few Comments on
demonstrasi Kerajaan Allah melalui aksi Structural Semiotics: A Brief Review
sosial jemaat. Mereka yang kuat secara of A Method and Some Explanation
of Procedures.” Semeia 15 (1979):
financial membantu mereka yang hidup 51–82.
dalam kekurangan dengan kerelaan hatinya Gnanakan, Ken. Teologi Misi: Kepedulian
sehingga tidak timbul kesenjangan sosial. Kerajaan Allah. Edited by Yusak
Tanasyah. Jakarta: YWAM
Proklamasi dan demonstrasi Kerajaan Publishing Indonesia, 1995.
Allah yang berjalan bersama dan tanpa Longman III, Temper. Bagaimana
dikotomi tersebut menjadi kunci Menganalisa Kitab Mazmur. 5th ed.
Malang: Literatur SAAT, 2007.
perkembangan gereja. Hal itu
Maggay, Melba Padilla. Transformasi
membangkitkan sikap hormat dan kasih Masyarakat: Refleksi Keterlibatan
dari semua orang kepada gereja yang pada Sosial Kristen. Jakarta: Cultivate
Publishing, 2004.
akhirnya memudahkan pertumbuhan jiwa-
Parker, J.I., Merrill C. Tenney, and
jiwa baru. Pada akhirnya, gerakan William Jr. White. Ensiklopedi Fakta
Alkitab: Bible Almanac-2. 2nd ed.
Pentakostalisme jika mengacu pengalaman
Malang: Gandum Mas, 2004.
gereja mula-mula di Yerusalem akan
Rey, Kevin Tonny. “Khotbah Pengajaran
menekankan pelayanannya pada pelayanan Versus Khotbah Kontemporer.”
DUNAMIS: Jurnal Penelitian Teologi
dengan kuasa dan pelayanan sosial.
dan Pendidikan Kristiani 1, no. 1
(September 1, 2016): 31. Accessed
DAFTAR PUSTAKA
March 8, 2018.
Asin, Yohanes. “KARUNIA-KARUNIA http://sttintheos.ac.id/e-
ROH KUDUS SEBAGAI FAKTOR journal/index.php/dunamis/article/vie
PENDORONG (PROMOTING w/100.

150 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)


Yushak Soesilo – Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

Santosa, Eka Budhi. “Dinamika Roh w/80/79.


Kudus Dalam Ibadah Pentakosta.” Sutoyo, Daniel. “Allah Memanggil Umat-
Jurnal Antusias 2, no. 1 (January 5, Nya Untuk Menjadi Gereja Yang
2012): 180–202. Accessed March 9, Tekun Berdoa Menurut Kisah Para
2018. http://sttintheos.ac.id/e- Rasul 4: 23 – 31.” DUNAMIS: Jurnal
journal/index.php/antusias/article/vie Teologi dan Pendidikan Kristiani 1,
w/68. no. 1 (September 1, 2016): 52–73.
Santosa, Nur Budi. “Pelayanan Sosial Accessed March 4, 2018.
Sebagai Konteks Refleksi Aktivitas http://sttintheos.ac.id/e-
Misiologi.” Jurnal Antusias 2, no. 4 journal/index.php/dunamis/article/vie
(December 1, 2013): 126–137. w/101/97.
Accessed March 5, 2018. ———. “Gaya Hidup Gereja Mula-Mula
http://sttintheos.ac.id/e- Yang Disukai Dalam Kisah Para
journal/index.php/antusias/article/vie Rasul 2:42-47 Bagi Gereja Masa
w/28/27. Kini.” Jurnal Antusias 3, no. 6
———. “Peran Roh Kudus Dalam (December 1, 2014): 1–31. Accessed
Pelaksanaan Pendidikan Kristen.” March 6, 2018.
Jurnal Antusias 2, no. 2 (September http://sttintheos.ac.id/e-
1, 2012): 105–118. Accessed March journal/index.php/antusias/article/vie
4, 2018. http://sttintheos.ac.id/e- w/7/6.
journal/index.php/antusias/article/vie ———. Gerakan Pentakostalisme:
w/36/35. Sejarah Kebangunan Rohani Yang
Siahaan, Harls Evan R. “Karakteristik Mewarnai Dunia Dan Injil Bagi
Pentakostalisme Menurut Kisah Para Bangsa-Bangsa. Sukoharjo: Born
Rasul.” DUNAMIS: Jurnal Teologi Win’s Publishing, 2011.
dan Pendidikan Kristiani 2, no. 1 Tarmedi, P. A. Didi. “Analisis Naratif:
(November 4, 2017): 12–28. Sebuah Metode Kristiani
Accessed February 28, 2018. Hermeneutika Kitab Suci.”
http://sttintheos.ac.id/e- MELINTAS 29, no. 3 (July 14, 2014):
journal/index.php/dunamis/article/vie 331–360. Accessed February 25,
w/132/116. 2018.
Soesilo, Yushak. “Doktrin Oneness http://journal.unpar.ac.id/index.php/m
Pentacostalism.” Jurnal Antusias 2, elintas/article/view/902/889.
no. 1 (January 5, 2012): 53–67. Wenham, J.W. Bahasa Yunani Koine (The
Accessed March 4, 2018. Elements of New Testament Greek).
http://sttintheos.ac.id/e- Edited by Lynne Newel. 2nd ed.
journal/index.php/antusias/article/vie Malang: Seminari Alkitab Asia
w/60/59. Tenggara, 1987.
Sudjono, Andreas. “Pentakostalisme.” “Hasil Pencarian - KBBI Daring.”
Jurnal Antusias 1, no. 2 (May 1, Accessed February 28, 2018.
2011): 6–12. Accessed March 13, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/din
2018. http://sttintheos.ac.id/e- amika.
journal/index.php/antusias/article/vie

151 Copyright© 2018, Dunamis, ISSN 2541-3937 (print), 2541-3945 (online)