Anda di halaman 1dari 10

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : ZulianKhatimah Mayangsari

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 041490564

Tanggal Lahir : 22 Mei 1999

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4110/Pengantar Ekonomi Makro

Kode/Nama Program Studi : 054/Manajemen

Kode/Nama UPBJJ : 050/UPBJJ Samarinda

Hari/Tanggal UAS THE : Minggu, 13 Desember 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa
Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama Mahasiswa : Zulian Khatimah Mayangsari

NIM : 041490564

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4110/Pengantar Ekonomi Makro

Fakultas : Ekonomi

Program Studi : Manajemen

UPBJJ-UT : Samarinda

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik
yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Balikpapan, 13 Desember 2020

Yang Membuat Pernyataan

Zulian Khatimah Mayangsari


1. Metode perhitungan GDP
 Metode dengan Pendekatan Pengeluaran
Perhitungan dengan menggunakan pendekatan pengeluaran dilakukan
dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran berbagai sektor ekonomi,
yaitu rumah tangga, pemerintah, perusahaan, dan masyarakat luar negeri
suatu negara pada periode tertentu.

Jenis pengeluaran dari masing-masing pelaku ekonomi terdiri dari:

Pengeluaran untuk konsumsi ©


Pengeluaran untuk investasi (I)
Pengeluaran untuk pemerintah (G)
Pengeluaran untuk ekspor (X), dan impor (M).
Sehingga diperoleh rumus pendekatan pengeluaran sebagai berikut:

Y=C+I+G+(X–M)

Keterangan :

Y = Pendapatan nasional

C = consumption ( konsumsi rumah tangga )

I = investment ( investasi )

G = government expenditure ( pengeluaran pemerintah )

X = ekspor

M = impor
a) Pengeluaran untuk konsumsi
Komponen yang termasuk ke dalam variable konsumsi adalah barang da
jasa yang dibeli oleh rumah tangga, yang dapat berupa barang tahan
lama ( mobil, televise), barang tidak tahan lama (makanan, pakaian), dan
jasa.
b) Investasi
Yang dimaksud dengan investasi adalah kegiatan yang dapat
meningkatkan kemampuan perekonomian dalam menghasilkan output
dimasa depn, yang dapat berupa peningkatan stok fisik dari modal,
maupun stok non fisik. Dengan konsep ini, tindakan membeli
saham/obligasi merupakan tindakan yang tidak dapat di kategorikan ke
dalam investasi. Tindakan yang dapat dikategorikan investasi
diantaranya membangun rumah, membeli mesin, penambahan
persediaan produk perusahaan dan peningkatan kualitas sumber daya
manusia.
c) Pengeluaran Pemerintah
Yang termasuk ke dalam kategori pengeluaran pemerintah adalh
tindakan pemerintah dalam membeli barang/jasa seperti pembelian
peralatan militer dan pembangunan jalan.
d) Ekspor Bersih
Net ekspor ini merupakan komponen dalam PDB yang menghitung
transaksi perdagangan suatu Negara dengan Negara lainnya. Net ekspor
ini menggambarkan besarnya permintaan luar negeri terhadap barang
yang dihasilkan oleh suatu Negara.

 Metode dengan Pendekatan Pendapatan


Pendekatan pendapatan (income a product) adalah jenis pendekatan
pendapatan nasional yang diperoleh dengan cara menjumlahkan
pendapatan dari berbagai faktor produksi yang memberikan sumbangan
terhadap proses produksi. Metode pendekatan pendapatan merupakan
pendapatan hasil dari penjumlahan seluruh penerimaan yang diterima
oleh pemilik faktor produksi dalam suatu negara selama satu periode
atau satu tahun.

Dalam perekonomian, terdpat empat kelompok besar faktor produksi ,


yaitu tenaga kerja, modal, tanah, dan keahlian/kewirausahaan. Masing-
masing dari faktor produksi akan menghasilkan pendapatan yang
berbeda-beda, misalnya:

Tenaga kerja dapat memperoleh gaji/upah


Pemilik modal akan mendapat bunga
Pemilik tanah dapat memperoleh sewa
Keahlian atau skill dapat memperoleh laba.
Rumus pendekatan pendapatan adalah sebagai berikut:

Y=r+w+i+p

Keterangan :

Y = Pendapatan Nasional
r = Pendapatan dari upah, gaji, dan lainnya

w = Pendapatan bersih dari sewa

i = Pendapatan dari bunga

p = Pendapatan dari keuntungan perusahaan dan usaha perorangan

 Metode dengan Pendekatan Produksi


Kegiatan produksi adalah kegiatan yang menciptakan nilai tambah (value
added). Jadi pada perhitungan pendekatan produksi, hanya mencakup
perhitungan niai tambah pada setiap sektor (lahan) produksi. Dengan
pendekatan ini, pendapatan nasional dihitung dengan cara
menjumlahkan nilai tambah (value added) dari seluruh sektor produksi
selama satu periode tertentu (biasanya dalam satu tahun).

Nilai tambah yang dimaksud di sini adalah selisih antara nilai produksi
(nilai output) dengan nilai biaya antara (nilai input), yang terdiri atas
bahan yang terlibat dalam proses produksi termasuk bahan baku dan
bahan penolong.

Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan produksi dapat


dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
Y = Pendapatan Nasional
P1 = Harga barang ke-1
Pn = Harga barang ke-n
Q1 = jenis barang ke-1
Qn = jenis barang ke-n

2. Kurva permintaan agregat (aggregate demand curve) adalah grafik yang


menunjukkan hubungan terbalik antara permintaan agregat dan tingkat
harga. Permintaan agregat mewakili jumlah permintaan dari empat sektor
ekonomi makro: rumah tangga, bisnis, pemerintah, dan sektor eksternal.
Dalam sebuah grafik, kurva permintaan agregat adalah miring ke bawah
(slope negatif).
Permintaan agregat terdiri dari permintaan dari empat sektor utama, yakni:
 Konsumsi rumah tangga
 Investasi bisnis
 Pengeluaran pemerintah
 Ekspor neto
Secara keseluruhan, tingkat harga berhubungan terbalik dengan komponen
permintaan agregat tersebut, kecuali pengeluaran pemerintah.

 Efek tingkat harga terhadap konsumsi rumah tangga


Tingkat harga mempengaruhi kekayaan rumah tangga. Kekayaan riil mereka
meningkat ketika tingkat harga turun. Itu menambah daya beli mereka.
Peningkatan daya beli tersebut mendorong rumah tangga untuk
meningkatkan konsumsinya. Oleh karena itu, penurunan tingkat harga akan
meningkatkan konsumsi rumah tangga.

 Efek tingkat harga terhadap investasi bisnis


Tingkat harga yang lebih rendah menurunkan permintaan uang. Untuk
membeli sejumlah barang dengan kuantitas yang sama daripada
sebelumnya,
pelaku ekonomi membutuhkan lebih sedikit uang.
Di pasar keuangan, penurunan permintaan uang akan mendong harga uang
turun. Dan, dalam ekonomi, harga dari sebuah uang adalah suku bunga. Jadi,
tingkat harga yang lebih rendah akan menurunkan suku bunga. Efek
sebaliknya juga berlaku ketika tingkat harga naik. Itu mendorong suku bunga
naik dan melemahkan investasi bisnis dan konsumsi rumah tangga.

 Efek tingkat harga terhadap pengeluaran pemerintah


Tidak ada korelasi antara tingkat harga dengan pengeluaran pemerintah
Pengeluaran pemerintah adalah kebijakan diskresioner dan lebih ditentukan
oleh proses politik. Karena itu, kita mengklasifikasikan pengeluaran
pemerintah sebagai pengeluaran otonom, yang mana nilainya tidak
tergantung pada kondisi perekonomian.

 Efek tingkat harga terhadap ekspor neto


Ekspor neto adalah selisih antara nilai ekspor dengan nilai impor. Penurunan
tingkat harga menunjukkan barang-barang domestik menjadi lebih murah.
Itu menarik pembeli asing dan mendorong mereka untuk meningkatkan
permintaan. Sebagai hasilnya, ekspor meningkat.
Di sisi lain, penurunan tingkat membuat barang dan jasa yang diproduksi
asing menjadi kurang menarik bagi pembeli domestik. Akibatnya, impor
berkurang.
Jadi, secara umum, ketika tingkat harga turun, ekspor neto akan meningkat.
Sebaliknya, ketika tingkat harga naik, ekspor neto akan menurun.

Perubahan tingkat harga menyebabkan permintaan agregat bergerak di


sepanjang kurva. Sementara itu, perubahan faktor lain menggeser kurva.
Beberapa faktor meningkatkan permintaan agregat dan karenanya, menggeser
kurva ke kanan, yakni sebagai berikut:
 Kebijakan fiskal ekspansif (expansionary fiscal policy). Pemerintah
menstimulus permintaan agregat dengan meningkatkan pengeluarannya
atau menurunkan pajak. Peningkatan pengeluaran memiliki efek langsung
pada peningkatan permintaan agregat. Sebaliknya, tarif pajak yang lebih
rendah berdampak tidak langsung pada permintaan agregat, yaitu melalui
peningkatan disposable income rumah tangga dan peningkatan keuntungan
bisnis.
 Kebijakan moneter ekspansif (expansionary monetary policy). Bank sentral
menstimulus permintaan agregat dengan meningkatkan jumlah uang
beredar. Opsinya adalah dengan memotong suku bunga kebijakan,
mengurangi rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio), dan operasi
pasar terbuka melalui pembelian surat berharga pemerintah. Itu semua
mendorong suku bunga di dalam perekonomian turun, meningkatkan
konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis.
 Peningkatan kekayaan rumah tangga. Peningkatan kekayaan mendorong
rumah tangga untuk membelanjakan lebih banyak uang pada barang dan
jasa.
 Konsumen lebih optimis. Konsumen merasa lebih percaya diri tentang
pendapatan dan keamanan kerja mereka di masa depan. Itu mendorong
mereka menghabiskan proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan untuk
konsumsi barang dan jasa.
 Bisnis lebih optimis. Jika perusahan melihat keuntungan masa depan
membaik, mereka kemungkinan besar akan berinvestasi lebih banyak dalam
proyek modal.
 Depresiasi nilai tukar. Depresiasi membuat barang domestik lebih murah
bagi pembeli asing dan mendorong mereka meningkatkan permintaan.
Sebagai hasilnya, ekspor meningkat. Di sisi lain, depresiasi membuat harga
barang impor lebih mahal. Pembeli domestik akan mengurangi permintaan
terhadap mereka (impor turun). Jadi, secara keseluruhan, depresiasi
meningkatkan ekspor neto dan permintaan agregat.
 Pertumbuhan ekonomi global yang kuat. Itu meningkatkan permintaan
terhadap barang-barang domestik dan mendorong ekspor. Mengasumsikan
impor adalah konstan, pertumbuhan global yang lebih kuat meningkatkan
ekspor neto.

3. Kebijakan moneter adalah seperangkat kebijakan ekonomi yang dibuat


untuk mengatur ukuran serta tingkat pertumbuhan pasokan uang di dalam
perekonomian negara. Kebijakan ini adalah tindakan yang terukur untuk
membantu mengatur variabel makro ekonomi, seperti inflasi ataupun
pengangguran. Kebijakan ini dilakukan dengan berbagai cara, termasuk
penyesuaian suku bunga, mengubah jumlah uang tunai yang berada di
pasar, serta pembelian atau penjualan sekuritas pemerintah.

Kebijakan ini diambil oleh bank sentral atau Bank Indonesia dengan tujuan
memelihara dan mencapai stabilitas nilai mata uang yang dapat dilakukan
antara lain dengan pengendalian jumlah uang yang beredar di masyarakat
dan penetapan suku bunga. Kebijakan moneter meliputi langkah-langkah
kebijakan yang dilaksanakan oleh bank sentral atau Bank Indonesia untuk
dapat mengubah penawaran uang atau mengubah suku bunga yang ada
dengan tujuan untuk memengaruhi pengeluaran dalam perekonomian.

Untuk memenuhi tujuan ini, terdapat 3 instrumen kebijakan yang digunakan


oleh Bank Sentral, yaitu :
 Operasi Pasar Terbuka
Operasi pasar terbuka adalah salah satu kebijakan yang diambil bank sentral
untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan
dengan cara menjual Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau membeli surat berharga
di pasar modal.
 Suku Bunga Diskonto
Diskonto adalah pemerintah mengurangi atau menambah jumlah uang
beredar dengan cara mengubah diskonto bank umum. Jika bank sentral
memperhitungkan jumlah uang beredar telah melebihi kebutuhan (gejala
inflasi), bank sentral mengeluarkan keputusan untuk menaikkan suku bunga.
Dengan menaikkan suku bunga akan merangsang keinginan orang untuk
menabung.
 Giro Wajib Minimum
Dua instrumen diatas dapat dilaksanakan bila sebagian besar bank-bank
perdagangan tidak memiliki cadangan dan yang berlebihan. Bila bank-bank
perdagangan tersebut memiliki cadangan dana yang berlebihan maka
operasi pasar terbuka dan perubahan suku bunga dan suku diskonto tidak
akan memengaruhi jumlah penawaran uang

4. Tingkat suku bunga merupakan salah satu tolak ukur yang memicu
pertumbuhan perekonomian suatu negara.

Dari sisi industri dalam negeri, kenaikan pada suku bunga yang dilakukan
oleh Bank Sentral seiring dengan berjalannya waktu, akan ada dampak pada
jumlah produksi.

Sisi positifnya adalah tenaga kerja semakin bertambah, hasil produksi


meningkat, akibatnya kapasitas ekspor bertambah sehingga jumlah
pengangguran juga menurun akibat banyaknya tenaga kerja yang terserap di
dalamnya.

Efek jangka panjangnya adalah devisa yang masuk ke negara tersebut juga
akan semakin besar sehingga akan semakin menguatkan nilai tukar mata
uang dalam negeri.

Hal ini berlaku pula sebaliknya, jika saja suku bunga menurun, biasanya
pelaku industri akan meresponsnya dengan menurunkan produksi dalam
negeri sebagai akibat dari kebijakan manajemen risiko untuk meminimalkan
potensi kerugian.

Dampak penurunan suku bunga di Indonesia terhadap net capital


outflow yaitu banyak investor lebih memilih untuk memegang mata uang
dolar dibandingkan rupiah, karena disamping memiliki resiko yang
relatif kecil juga terdapat sejumlah return yang menguntungkan,
akibatnya nilai dollar AS semakin ter-apresiasi terhadap rupiah. Kondisi
ini diyakini sebagai satu penyebab terjadi pelarian modal besar-besaran
ke luar negeri sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei1998 (World
Bank, 1998: 14).

Ada beberapa hal yang harus diwaspadai terkait kebijakan menaikkan


dan menurunkan suku bunga. Tujuannya sebenarnya bagus yaitu demi
kesejahteraan rakyat dalam negeri. Oleh karena itu setiap pergerakan
suku bunga perlu dipertimbangkan dampak ekonomi yang menyertainya.

Dampak lanjutan kenaikan suku bunga yang harus dipertimbangkan


adalah lesunya perekonomian yang berdampak terhadap menurunnya
kesempatan kerja. Produksi yang menurun juga berdampak terhadap
pengurangan jumlah karyawan.

Kita ketahui bersama pengangguran terjadi akibat ketidakseimbangan


antara lapangan pekerjaan dan orang yang membutuhkan pekerjaan,
sehingga hanya sedikit saja yang mendapatkan kesempatan untuk
bekerja.

Seringkali kebijakan suku bunga ini dimaksudkan untuk memberikan


rangsangan dari bank agar masyarakat mau menanamkan dananya pada
bank. Untuk menarik minat, dibuatlah kebijakan menaikkan suku bunga
simpanan, sehingga masyarakat akan semakin giat untuk menanamkan
dananya pada bank, dikarenakan harapan mereka untuk memperoleh
keuntungan.

Hal ini berlaku juga sebaliknya, semakin rendah suku bunga simpanan,
maka minat masyarakat (atau investor) dalam menabung akan berkurang
sebab masyarakat berpandangan tingkat keuntungan yang akan mereka
peroleh di masa yang akan datang dari bunga adalah sangat kecil.

Dengan mengatur naik turunnya suku bunga,Tujuannya sebenarnya


bagus yaitu demi kesejahteraan rakyat dalam negeri. Oleh karena itu
setiap pergerakan suku bunga perlu dipertimbangkan dampak ekonomi
yang menyertainya.

Bank Sentral sebagai pihak yang memiliki otoritas harus berhati-hati dan
jeli melihat setiap respon yang terjadi akibat kebijakan tersebut.