Anda di halaman 1dari 2

Permintaan agregat

Permintaan agregat merupakan total peermintaan barang/jasa dalam sebuah perekonomian pada
tingkat harga tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Permintaan agregat ini pada dasarnya
merupakan penjumlahan dari permintaan oleh berbagai individu, yaitu konsumen, pengusaha,
pemerintah, dan masyarakat luar negeri untuk berbagai tujuan pengeluaran, baik untuk konsumsi,
investasi, pengeluaran pemerintah, maupun untuk memperoleh barang ekspor/impor.

Kurva permintaan agregat memiliki kemiringan negatif yang menurun dari kiri atas kanan
bawah. Bentuk kurva ini pada dasarnya disebabkan oleh pengaruh tingkat terhadap permintaan
barang/jasa untuk tujuan konsumsi, investasi, dan ekspor bersih. Ketika terjadi peningkatan
tingkat harga, total permintaan barang/jasa dalam perekonomian akan mengalami penurunan.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran kurva permintaan agregat, yaitu:
perubahan tingkat konsumsi, perubahan tingkat investasi, perubahan pengeluaran pemerintah,
perubahan ekspor neto.

Bagaimana permintaan agregat pada masa pandemi seperti ini

Dampak ekonomi pun sudah terasa. Ratusan ribu atau mungkin beberapa juta orang telah
berkurang pendapatannya. Dampak pada dinamika pasar valuta asing dan pasar modal sempat
mengkhawatirkan. Kurs rupiah dan IHSG melemah sangat siginifikan. Belakangan mereda,
namun seolah menyimpan “tenaga” untuk menghantam kembali dalam waktu dekat. Otoritas
tampak telah berjibaku menghadapinya, namun bisa “kelelahan” pada akhirnya.

Dalam analisis, dampak yang langsung terasa adalah berkurangnya “daya beli” masyarakat.
Dengan prakiraan kondisi pandemi masih berlangsung hingga satu dua bulan ke depan, maka
dampaknya signifikan pada yang dikenal sebagai permintaan agregat. Semacam “daya beli”
seluruh perkonomian nasional.

Analisis bisa dilakukan pada sisi yang bersebelahan dengan permintaan agregat, yaitu sisi
produksi. Akan terjadi gangguan atas produksi barang dan jasa, yang secara umum menurun.
Perlahan, berbagai pabrik dan perkantoran akan mengurangi porduksinya. Bekerja di rumah tak
mungkin bisa menahan laju produksi dalam struktur ekonomi Indonesia saat ini.

Turunnya produksi juga akibat sebagian produksi manufaktur Indonesia mengandalkan impor
bahan baku dan bahan penolong. Impor sudah dipastikan terganggu, karena wabah Covid-19
mendera banyak negara. Alur transportasi mengalami gangguan cukup serius.

Sisi produksi barang dan jasa tersebut biasa disebut sebagai penawaran agregat. Akan turun
menyusul melemahnya permintaan agregat. Jika wabah berlangsung lebih lama, maka laju
penurunan keduanya menjadi lebih cepat. Terjadi dalam waktu bersamaan, dan saling
mempengaruhi.
Dalam perspektif makroekonomi, akan tampak berupa merosotnya pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah telah mengemukakan skenario berat berupa prakiraan pertumbuhan ekonomi 2,3%
pada tahun 2020. Disebut pula skenario sangat berat di kisaran -0,4%.

Sebenarnya tidak dapat dipastikan skenario atau batas bawah pertumbuhan ekonomi. Bergantung
pada perkembangan pandemi Covid-19. Dan sekali lagi, dampak ekonomi yang menyulitkan
adalah kepanikan ekonomi dan keuangan dunia. Dinamika global sejauh ini selalu berdampak
cepat pada ekonomi Indonesia, terutama dalam fenomena yang buruk.

Anda mungkin juga menyukai