Anda di halaman 1dari 17

NAMA: HANDIKA SAPUTRA

NIM: 080842913

TUGAS 2. SISTEM ADMINISTRASI NEGARA KESATUAN RI

1. Jelaskan manajemen administrasi Negara Indonesia !  (Skor 40)


2. Jelaskan mengenai administrasi keuangan di Negara Republik Indonesia (Skor 30)
3. Jelaskan administrasi materiil Republik Indonesia (Skor 30)

Jawaban:

1. Definisi manajemen dapat diartikan sebagai berikut:

1. Ketatalaksanaan proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran
tertentu.
2. Kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian
tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.
3. Segenap perbuatan menggerakkan sekelompok orang dan Menggerakkan fasilitas dalam
suatu usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.
Memahami  berbagai definisi manajemen tersebut dapat ditaril( kesimpulan bahwa pada
pokoknya manajemen adalah suatu proses/kegiatan/usaha pencapaian tujuan tertentu melalui
kerjasama dengan orang lain. Dan dapat pula dikatakan bahwa manajemen merupakan inti
daripada administrasi, karena memang manajemen merupakan alat pelaksana utama daripada
administrasi. Dengan perkataan lain dikatakan bahwa administrasi dan manajemen tidak dapat
dipisahkan hanya kegiatan-kegiatannya yang dapat dibedakan.

Apabila dilihat dari segi fungsional administrasi mempunyai dua tugas utama, yakni:

1. Menentukan tujuan menyeluruh yang hendak dicapai.

2. Menentukan kebijaksanaan umum yang mengikat seluruh organisasi.

Sebaliknya manajemen pada hakekatnya berfungsi untuk melakukan semua kegiatan-kegiatan


yang perlu dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas-batas kebijaksanaan umum
yang telah ditentukan pada tingkat administrasi. Ungkapan tersebut jelas menunjukan bahwa
administrasi lebih luas dari pada manajemen.

 administrasi adalah proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan. Kerja dapat terselenggara dengan baik sehingga tujuan yang  dikehendaki   dapat 
tercapai  bila  ada  orang  yang menyelenggarakannya. Dan masalah orang yang
menyelenggarakan kerja untuk mencapai tujuan inilah yang menjadi masalah pokok daripada
manajemen, karena intisari daripada manajemen ialah suatu proses/usaha dari orang-orang secara
bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi administrasi adalah penyelenggaranya dan manajemen adalah orang yang
menyelenggarakan kerja. Maka kombinasi dari keduanya adalah penyelengaraan kerja yang
dilakukan oleh orang-orang secara bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan.

Keterkaitan di atas dapat dianalogikan—meski tidak seluruhnya tepat—seandainya pembaca


akan membeli buah rambutan. Pertama kali yang terlihat adalah kulit luar yang berwama hijau
atau merah. Jika kulitnya dikupas maka didapati daging rambutan yang berwarna putih kalau
dagingnya sudah dimakan maka akan terlihat intinya yang disebut biji rambutan.

Demikian pula manajemen, maka yang pertama disoroti adalah kulit luamya
yaitu “Admmistnisi” Kedua dagingnya yaitu “manajemen” selanjutnya adalah bijinya
yaitu “kepemimpinan”
Dalam proses pelaksanaannya, administrasi dan manajemen mempunyai tugas-tugas tertentu
yang harus dilaksanakan sendiri. Tugas-tugas itulah yang biasa disebut/diartikan sebagai fungsi-
fungsi administrasi dan manajemen. Hingga kini para sarjana belum mempunyai kata sepakat
yang bulat tentang fungsi-fungsi administrasi dan manajemen itu, baik ditinjau dari segi
klasifikasinya maupun terminologi yang dipergunakan.

Menurut Prof Dr Sondang P Siagian MA dalam bukunya “Fungsi-fungsi


managerial” dan “Filsafat Administrasi” rimgsi-fungsi administrasi dan manajemen itu ialah :
1. Perencanaan (Planning)
2. Pengorganisasian (Organizing)
3. Pemberian Motivasi (Motivating)
4. Pengawasan (Controling)
5. Penilaian (Evaluating)
Fungsi-fungsi tersebut mutlak harus dijalankan oleh administrasi dan manajemen.
Ketidakmampuan untuk menjalankan fungsi-fungsi itu akan mengakibatkan lambat atau cepat
matinya organisasi.

A. Perencanaan (Planning)
Planning dapat didefmisikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang
tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan
Yang telah ditentukan.

Pengertian tersebut menunjukan bahwa perencanaan merupakan fungsi administrasi dan


manajemen yang pertama. Alasannya ialah bahwa tanpa adanya rencana, maka tidak ada dasar
untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka usaha oencapain tujuan.
Perencanaan menjadi fungsi pertama karena ia merupakan dasar dan titik tolak dari kegiatan
pelaksanaan selanjutnya.
Salah satu cara yang paling mudah dikemukakan dalarn penyusunan rencana adalah dengan
mengatakan bahwa perencanaan berarti mencari dan menemukan jawaban terhadap enam
pertanyaan. yaitu :

a. What(Apa)                           d.  How (Bagaimana)

b. Where (Dimana)                   e.  Who (Siapa)

c. When (Kapan)                      f.   Why (Mengapa)

Pertanyaan tersebut menjadi:

1. Apa kegiatan-kegiatan yang harus dijalankan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya ?
2. Dimana kegiatan-kegiatan tertentu dijalankan? Pertanyaan ini mencakup letak bangunan
organisasi yang hendak didirikan, tata ruang yang disusun, tempat sumber tenaga kerja.
3. Kapan kegiatan-kegiatan tertentu hendak dilaksanakan. Hal ini berarti bahwa dalam
rencana hams tergambar sistem prioritas yang dipergunakan, penjadwalan waktu dan hal-hal
yang berhubungan dengan faktor waktu.
4. Bagaimana cara melaksanakan kegiatan-kegiatan ke arah tercapainya tujuan ? Yang
dicakup oleh pertanyaan ini menyangkut soal sistem dan tata kerja, standar yang hams
dipenuhi, cara pembuatan dan penyampaian laporan, cara menyimpan dokumen dan lain-
lain.
5. Pertanyaan “siupa” berarti diketemukannya jawaban dalam rencana tentang gambaran
pembagian tugas, wewenang dan tanggungjawab.
6. Secara filosofis, pertanyaan yang terpenting di antara rangkaian pertanyaan ini ialah
pertanyaan “mengapa”. Terpenting karena pertanyaan ini ditunjukan kepada kelima
pertanyaan yang mendahuluinya. Jika kelompok pimpinan dapat memuaskan dirinya atas
jawaban-jawaban yang diperoleh terhadap keenam pertanyaan itu, akan terciptalah suatu
rencana yang baik.
B. pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian ialah keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas,
tanggungjawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Definisi   tersebut   menunjukan   bahwa   pengorganisasian merupakan langkah pertama ke arah


pelaksanaan rencana yang telah tersusun sebelumnya. Dengan demikian adalah suatu hal yang
logis pula apabila pengorganisasian sebagai fungsi administrasi dan manajemen ditempatkan
sebagai fungsi kedua, mengikuti fungsi perencanaan. Juga terlihat dalam definisi itu bahwa
pelaksanaan fungsi pengorganisasian menghasilkan suatu organisasi yang dapat digerakan
sebagai suatu kesatuan yang bulat.
Organisasi sebagai alat administrasi dan manajemen terlihat penting apabila diingat bahwa
bergerak tidaknya organisasi ke arah pencapain tujuan sangat tergantung atas kemampuan
manusia dalam organisasi menggerakan organisasi itu ke arah yang telah ditetapkan.

C. Penggerakan (Motivating)
Penggerakan ialah keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikan
rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan
efisien dan ekonomis.

“Motivating” secara implisit berarti bahwa pimpinan organisasi berada di tengah-tengah para


bawahannya dan dengan demikian dapat memberikan bimbingan, instuksi, nasehat dan koreksi    
jika diperlukan.
Pelaksanaan fungsi “Motivating” dalam organisasi dapat dijalankan dengan baik dengan
menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
1. Jelaskan tujuan organisasi kepada setiap orang yang ada dalam organisasi.
2. Usahakan agar setiap orang menyadari, memahami serta menerima baik tujuan tersebut.
3. Usahakan agar setiap orang mengerti struktur organisasi.
4. Tekankan pentingnya kerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan.
5. Perlakukan setiap bawahan sebagai manusia dengan penuh pengertian.
6. Berikan penghargaan serta pujian kepada bawahan yang cakap dan teguran serta
bimbingan kepada orang-orang yang kurann mampu bekerja.
7. Yakinkan setiap orang bahwa dengan bekerja baik dalain organisasi tujuan pribadi orang-
orang tersebut akan tercapai semaksimal-maksimalnya.

D. Pengawasan (Controling)
Pengawasan ialah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk
menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana
yang telah ditentukan sebelumnya. Dari definisi ini jelas terlihat bahwa terdapat hubungan yang
sangat erat antara perencanaan dan pengawasan.

Artinya bahwa perencanaan dan pengawasan merupakan kedua belahan mata uang yang sama.
Jelas bahwa tanpa rencana pengawasan tidak mungkin dilaksanakan karena tidak ada pedoman
untuk melakukan pengawasan itu. Sebaliknya rencana tanpa pengawasan akan berarti timbulnya
penyimpangan-penyimpangan dan atau penyelewengan-penyelewengan yang serius tanpa ada
alat untuk mencegahnya.

Jelaslah kiranya bahwa pengawasan sangat menentukan peranannya dalam usaha pencapaian
tujuan. Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pengawasan itu mutlak diperlukan karena
manusia bersifat salah dan khilaf. Dus manusia dalam organisasi perlu diamati, bukan dengan
maksud untuk mencari kesalahannya kemudian menghukumnya, akan tetapi untuk mendidik dan
membimbing. Hal ini kiranya sangat penting untuk diperhatikan karena para pemimpin dalam
suatu organisasi sering lupa bahwa seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang ikhlas
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan.
Hanya saja setelah kesalahan diperbuat, adalah menjadi tugas pimpinan untuk memperbaiki
kesalahan itu dengan jalan memberikan bimbingan kepada bawahannya agar ia tidak mengulangi
kesalahan yang sama, akan tetapi berani untuk berbuat kesalahan yang lain.

Jika seorang bawahan selalu diancam dengan hukuman setiap kali ia berbuat kesalahan, maka
bawahan tersebut tidak akan berkembang karena dalam setiap tindakannya ia akan selalu
dikuasai oleh rasa takut. Akibatnya ia tidak akan berani mempunyai prakarsa,

mengambil keputusan dan akhimya akan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Ini tidak
boleh terjadi.

Kendati demikian perlu diperhatikan pula bahwa pernyataan diatas tidak berarti bahwa seorang
pimpinan tidak boleh menghukum bawahannya. Memang seorang pimpinan dapat bertindak
punitif jika seorang bawahan, meskipun telah berulang kali dibimbing, terus menerus berbuat
kesalahan yang sama.

Proses pengawasan pada dasamya dilaksanakan oleh administrasi , manajemen dengan


mempergunakan dua macam teknik, yakni:

1 pengawasan langsung (direct control)


2 pengawasan tidak langsung (indirect control)
Yang dimaksud pengawasan langsung ialah apabila pimpinan organisasi mengadakan sendiri
pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan. Sementara pengawasan tidak langsung
ialah pengawasan dari jarak jauh. Pengawasan ini dilakukan melalui laporan yang disampaikan
oleh para bawahan. Laporan itu dapat berbentuk tertulis dan lisan.

Kelemahan daripada pengawasan tidak langsung ialah bahwa sering para bawahan hanya
melaporkan hal-hal yang positif saja Padahal, seorang pimpinan yang baik akan menuntut
bawahannya untuk melaporkan beberapa hal, baik yang bersifat positif maupun negatif Karena
kalau hanya hal-hal yang positif saja yang dilaporkan, pimpinan tidak akan mengetahui keadaan
yang sesungguhnya. Akibatnya dia akan mengambil kesimpulan yang salah. Lebih jauh lagi ia
akan mengambil keputusan yang salah.

Kesimpulannya ialah bahwa pengawasan tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila hanya
bergantung kepada laporan saja, karena itu pengawasan tidak langsung tidak cukup. Adalah
bijaksana apabila pimpinan organisasi menggabungkan teknik pengawasan langsung dan tidak
langsung dalam melakukan fungsi pengawasan itu.

E. Penilaian (evaluating)
Penilaian adalah proses pengukuran dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang telah dicapai
dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hakekat dari penilaian adalah:


•• Penilaian ditujukan kepada satu fase tertentu dalam satu proses setelah fase itu seluruhnya
selesai dikerjakan. Berbeda dengan pengawasan yang ditujukan kepada fase yang masih dalam
proses pelaksanaan.

Penilaian bersifat korektif terhadap fase yang telah selesai dikerjakan. Korektifitas yang menjadi
sifat penilaian itu sangat berguna bukan untuk fase yang telah selesai, akan tetapi untuk fase
berikutnya. Artinya, melalui penilaian harus diketemukan kelemahan-kelemahan sistem yang
dipergunakan dalam fase yang baru saja selesai. Juga harus diketemukan penyimpangan-
penyimpangan dan/atau penyelewengan-penyelewengan yang telah terjadi, tetapi lebih penting
lagi, harus diketemukan sebab-sebab mengapa kelemahan-kelemahan itu timbul, juga harus
diketemukan sebab-sebab mengapa penyimpangan-penyimpangan itu terjadi.

2. Pengertian Administrasi Keuangan

Administrasi Keuangan adalah upaya manajemen yang mencakup semua kegiatan yang


berkaitan dengan keuangan untuk mencapai tujuan perusahaan atau organisasi.

Definisi administrasi keuangan menurut para ahli dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Dalam Arti Sempit


Pengertian administrasi keuangan dalam arti sempit adalah semua kegiatan yang berkaitan
dengan pencatatan pendapatan dan pengeluaran untuk membiayai berbagai kegiatan organisasi,
di mana bentuknya adalah dalam bentuk administrasi atau akuntansi keuangan.

2. Dalam Arti Yang Luas


Pengertian administrasi keuangan dalam arti luas adalah kebijakan mengenai pengadaan dan
penggunaan keuangan organisasi untuk merealisasikan kegiatan organisasi,

di mana bentuk manajemen keuangan meliputi perencanaan, regulasi, pertanggungjawaban, dan


pengawasan keuangan.

Seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau

penguasaan objek dalam rangka.

(Penjelasan UU No. 17 tahun 2003 butir 3)

Keuangan Negara sebagaimana dimaksud pada butir a diatas meliputi :

a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang dan melakukan

pinjaman

b. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan

membayar tagihan pihak ketiga


c. Penerimaan Negara

d. Pengeluaran Negara

e. Penerimaan Daerah

f. Pengeluaran Daerah

g. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang,

surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang termasuk

kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah

h. Kekayaan lain yang dikuasai pemerintah dengan rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan

dan/atau kepentingan umum

i. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah

sebagaimana telah diuraikan bahwa keuangan Negara menyangkut masalah hak dan kewajiban

Negara , maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi hak Negara adalah :

1. melakukan pemungutan pajak

2. membuat peraturan/ketentuan yang memaksa

3. mencetak/menciptakan mata uang

4. merumuskan kebijakan yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup Negara

Sedangkan yang menjadi kewajiban Negara adalah :

1.      memenuhi kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan penyediaan fasilitas pelayanan

public

2.      mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa untuk menjalankan hak dan kewajiban tersebut,

pemerintah membutuhkan biaya dan topangan keuangan yang kuat. Oleh karena itu perlu

dibentuk suatu wadah yang bertugas mengelola keuangan Negara tersebut.

Bidang pengelolaa Keuangan Negara yang demikian luas dapat dikelompokkan dalam :

a. Sub Bidang Pengelolaan Fiskal

b. Sub Bidang Pengelolaan Moneter


c. Sub Bidang Pengelolaan Keuangan Negara yang Disahkan (Penjelasan UU No. 17 tahun 2003

butir 3)

Menurut Supreme Audit Institution.

                  “Adm. keuangan negara adalah ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang berhubungan

dengan cara bagaimana pemerintah mendapatkan dan menggunakan uang. Hal tersebut meliputi

fungsi- fungsi pengumpulan , penerimaan, pinjaman dan pengeluaran yang dilaksanakan oleh

bangsa, negara dan pemerintah daerah”.

Berdasarkan defenisi tersebut dapat disimpulkan masalah pokok atau ruang lingkup  keuangan

negara  meliputi : 

·         Teori tentang pengeluaran negara

-Pemerintah mengembangkan jalannya keuangan dalam perekonomian sesuai dengan pola

permintaan dan penawaran. 

-Saran bagi pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan umum, pertumbuhan, stabilisasi dan

kebijaksanaan-kebijaksanaan.

·         Teori tentang penerimaan negara

Membahas tentang beberapa sumber darimana negara memperoleh pendapatan.

·         Administrasi keuangan negara.

Menyangkut semua kegiatan keuangan termasuk segala permasalahan tentang administrasi

keuangan berkaitan dengan anggaran belanja negara, penyusunan, penetapan, pelaksanaan,

pengawasan dan pertanggungjawaban.

·         Stabilisasi dan Pertumbuhan.

Membahas kebijaksanaan-kebijaksanaan perekonomian dari suatu pemerintah dalam suatu

negara pada situasi tertentu .


Undang-undang 17 Tahun 2003 memberi batasan keuangan negara sebagai “semua hak
dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang
maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak
dan kewajiban tersebut.” Secara rinci sebagaimana diatur dalam pasal 2 UU 17 Tahun 2003,
ruang lingkup Keuangan Negara terdiri dari :
a.   Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan
pinjaman;
b.   Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan
membayar tagihan pihak ketiga;
c.       Penerimaan negara/daerah;
d.      Pengeluaran negara/daerah;
e. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa
uang, suratberharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang,
termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah;
f.   Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
g.     Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.
 Ruang lingkup terakhir dari Keuangan Negara tersebut dapat meliputi kekayaan yang
dikelola oleh orang atau badan lain berdasarkan kebijakan pemerintah, yayasan-yayasan di
lingkungan kementerian negara/lembaga, atau perusahaan negara/daerah.
 Dalam pelaksanaannya, ada empat pendekatan yang digunakan dalam merumuskan
keuangan negara, yaitu dari sisi obyek, subyek, proses, dan tujuan. Obyek Keuangan Negara
meliputi semua ”hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan
dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan,
serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara
berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.”
 Selanjutnya dari sisi subyek/pelaku yang mengelola obyek yang ”dimiliki negara,
dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perusahaan Negara/Daerah, dan
badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.” Dalam pelaksanaannya, proses
pengelolaan Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan
pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan
pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban.
 Pada akhirnya, tujuan pengelolaan Keuangan Negara adalah untuk menghasilkan
kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan
obyek Keuangan Negara dalam rangka penyelenggaraan kehidupan bernegara.

Ruang Lingkup Keuangan Negara Dibedakan menjadi 2 komposisi, yaitu :


·       Keuangan Negara yang langsung diurus Pemerintah. Keuangan yang langsung diurus
pemerintah dapat berupa uang dan barang. Uang bisa berwujud dalam bentuk APBN dan secara
teknis operasional diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Sedang dalam bentuk
barang dapat berwujud benda bergerak, tidak bergerak, hewan dan persediaan.
·       Keuangan Negara yang dipisahkan pengurusannya. Keuangan negara yang dipisahkan
pengurusannya adalah kekayaan negara yang pengelolaannya dipisahkan dari keuangan negara.
Bentuk-bentuk usaha tersebut antara lain Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum
Negara dan Persero.

Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan
uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik
Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dalam penjelasan Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa pendekatan yang
digunakan dalam merumuskan Keuangan Negara adalah dari sisi objek, subjek, proses, dan
tujuan.
Dari sisi objek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam
bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu
baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi seluruh subjek yang
memiliki/menguasai objek sebagaimana tersebut di atas, yaitu: pemerintah pusat, pemerintah
daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.
Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan
dengan pengelolaan objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan
danpengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban.
Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan
hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana tersebut di
atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.
Berdasarkan pengertian keuangan negara dengan pendekatan objek, terlihat bahwa hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang diperluas cakupannya, yaitu termasuk
kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang
dipisahkan.
Dengan demikian, bidang pengelolaan keuangan negara dapat dikelompokkan dalam:
a.       Subbidang pengelolaan fiskal,
b.      Subbidang pengelolaan moneter, dan 
c.       Subbidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.
Pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan fiskal meliputi kebijakan dan
kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
mulai dari penetapan Arah dan Kebijakan Umum (AKU), penetapan strategi dan prioritas
pengelolaan APBN, penyusunan anggaran oleh pemerintah, pengesahan anggaran oleh DPR,
pelaksanaan anggaran, pengawasan anggaran, penyusunan perhitungan anggaran negara (PAN)
sampai dengan pengesahan PAN menjadi undang-undang.
Pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan moneter berkaitan dengan
kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sector perbankan dan lalu lintas moneter baik dalam maupun
luar negeri.
Pengelolaan keuangan negara subbidang kekayaan Negara yang dipisahkan berkaitan dengan
kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di sektor Badan Usaha Milik Negara/Daerah
(BUMN/BUMD) yang orientasinya mencari keuntungan (profit motive).
Berdasarkan uraian di atas, pengertian keuangan negara dapat dibedakan antara:
pengertian keuangan negara dalam arti luas, dan pengertian keuangan negara dalam arti sempit.
Pengertian keuangan negara dalam arti luas pendekatannya adalah dari sisi objek yang
cakupannya sangat luas, dimana keuangan negara mencakup kebijakan dan kegiatan dalam
bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Sedangkanpengertian
keuangan negara dalam arti sempit hanya mencakup pengelolaan keuangan negara subbidang
pengelolaan fiskal saja.

Dasar hukum pengelolaan keuangan negara di Indonesia antara lain :


o   Pasal 23 UUD RI Th. 1945
o   UU No. 17 Th. 2003 tentang Keuangan Negara (UUKN)
o   UU No. 1 Th. 2004 tentang perbendaharaan negara
o UU No. 15 Th. 2004 Tentang Pemeriksaan, Pengelolaan, Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
Produk hukum yang mendasari pengelolaan keuangan negara/daerah selengkapnya sebagai
berikut:
a.       .UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;"
b.      .UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;"
c.       .UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;"
d.      .UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;"
e.       .UU No.33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;"
f.      . PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;"
g.      .PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;"
h.     . PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;"
i.       . PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah."

3. Administrasi materiil adalah barang-barang milik/kekayaan Negara. Barang-barang

milik/kekayaan Negara adalah semua barang-barang milik/kekayaan Negara yang berasal/dibeli

dengan dana yang bersumber untuk seluruhnya ataupun sebagian dari anggaran belanja Negara

yang berada dibawah pengurusan dan penguasaan departemen-departemen, lembaga-lembaga

Negara, lembaga-lenmbaga pemerintahan non-departemen serta unit-unit dalam lingkungannya


yang terdapat baik di dalam maupun di luar negeri, barang milik/kekayaan Negara tersebut tidak

termasuk kekayaan Negara yang telah dipishkan (kekayaan Perum dan Persero) dan barang-

barang/kekayaan daerah otonom sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor:

KEP-225/MK/V/4/1971, pasal 1.

Administrasi Keuangan Adalah kegiatan yang berkenaan dengan pencatatan,

penggolongan, pengolahan, penyimpanan, pengarsipan terhadap seluruh kekayaan Negara

termasuk di dalamnya hak dan kewajiban yang timbul karenanya baik kekayaan itu berada dalam

pengelolaan bank-bank pemerintah, yayasan-yayasan pemerintah, dengan status hokum public

ataupun privat, badan-badan usaha Negara dan badan-badan usaha lainnya dimana pemerintah

mempunyai kepentingan khusus serta terikat dalam perjanjian dengan penyertaan pemerintah

ataupun penunjukkan pemerintah.

Faktor-faktor Dalam Menentukan Kebutuhan

Dalam upaya menentukan dan menetapkan kebutuhan perbekalan/materil, ada beberapa

faktor yang harus senantiasa diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut:

1.      Faktor Fungsional

Dalam penentuan kebutuhan perbekalan hendaknya dipertimbangkan bahwa dengan

keberadaan perbekalan tersebut akan memperlancar proses pelaksanaan pekerjaan dan akan

mempengaruhi hasil kerja (output), baik berkaitan dengan kuantitas maupun

kualitas output sesuai dengan fungsi jenis perbekalan tersebut.

2.      Faktor Biaya dan Manfaat

Dalam penentuan kebutuhan perbekalan hendaknya dipertimbangkan bahwa dengan

sejumlah pengeluaran biaya tertentu, organisasi haruslah paling tidak memperoleh manfaat yang

sepadan dengan sejumlah biaya yang telah dikeluarkan tersebut. Sehubungan dengan hal ini,

tentu tidak boleh mengabaikan kualitas barang yang dibutuhkan, sumber barang yang harus
dapat dipertanggungjawabkan, dan jangka waktu atau umur pemakaian barang yang paling

menguntungkan.

3.      Faktor Anggaran

Dalam pengadaan perbekalan harus senantiasa mempertimbangkan ketersediaan

anggaran dalam organisasi. Dengan memperhatikan faktor ini, maka akan dapat disusun skala

prioritas kebutuhan perbekalan maupun berbagai macam alternatif jenis dan spesifikasi barang

maupun cara-cara pengadaan logistik dengan tidak meninggalkan pertimbangan efektivitas dan

efisiensi.

4.      Faktor Keamanan dan Kewibawaan (Prestise)

Dalam penentuan kebutuhan perbekalan hendaknya dipertimbangkan pejabat pemakai

perbekalan tersebut untuk mendukung dan menjamin keamanan sesuatu yang berkaitan dengan

jabatannya dan kewibawaan, baik bagi pejabat yang bersangkutan maupun bagi lembaga, baik

dilihat dari publik internal maupun publik eksternal organisasi.

5.      Faktor Standardisasi dan Normalisasi

Dalam penentuan kebutuhan perbekalan hendaknya dipertimbangkan adanya

standardisasi dan normalisasi yang ditetapkan organisasi. Standardisasi merupakan pembakuan

mengenai jenis, ukuran, dan mutu suatu perlengkapan. Sementara normalisasi merupakan

pembuatan ukuran-ukuran yang normal berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

Pengertian Peran pemerintah dalam perekonomian  Kewajiban Pemerintah:

a.       Pemeliharaan pertahanan dan keamanan

b.      Menegakkan Keadilan

c.       Menyediakan prasarana umum .


Kebutuhan Barang PublikMerupakan kebutuhan barang atau jasa atau system yang harus

disiapkan oleh pemerintah dalam rangka memberikan pelayanan kepada warga

negaranya.  Perilaku rumah tangga pemerintah dalam penyediaan barang public:

a.       Kewajiban pemerintah untuk menyediakkan barang public

b.      Pemerintah memiliki keterbatasan dana untuk menyediakan barang public yang diperlukan

warga negaranya.

c.       Pemerintah dapat mengajak rumah tangga perusahaan (swasta) untuk menyediakan barang-

barang public yang memiliki tingkat ekskutif tinggi. 

Ada beberapa alternatif bagi suatu organisasi untuk memilih dan menentukan sistem

pengadaan perbekalan Sistem pengadaan perbekalan tersebut meliputi sistem sentralisasi, sistem

desentralisasi dan sistem campuran dan  Pembahasan  Administrasi  Keuangan  dikelompokkan 

kedalam 5 pendekatan  yang  berbeda  yaitu  pendekatan  ketatalaksanaan keuangan, pendekatan

keuangan negara, pendekatan administrasi negara termasuk administrasi pembangunan,

pendekatan sejarah perkembangan sistem anggaran, pendekatan organisasi sebagai sistem

terbuka.

a.         Sistem Administrasi Materiil

1)      Sistem Sentrasisasi

Sistem sentralisasi dalam pengadaan perbekalan merupakan cara pengadaan perbekalan

dimana kewenangan dalam pengadaan perbekalan bagi seluruh unit kerja dalam organisasi

diberikan pada satu unit kerja tertentu sehingga segala macam pengadaan perbekalan dalam

organisasi hanya dilayani oleh satu unit kerja/bagian tertentu tersebut.

Pengadaan perbekalan dengan menggunakan sistem ini memiliki beberapa kelebihan,

diantaranya:
a.      dapat mengurangi harga per satuan karena biasanya dengan menerapkan sistem sentralisasi

ini pengadaan/pembelian dilakukan dalam partai besar sehingga organisasi/ perusahaan (sebagai

pembeli) diberikan potongan oleh penjual (pemasok);

b.      dapat mereduksi (mengurangi) biaya tambahan (overhead cost), sehingga akan mendukung

efisiensi.

c.       dapat mendukung program standardisasi dan sistem pertukaran perbekalan antarbagian.

Adapun kekurangan-kekurangan dari pengadaan sistem sentralisasi ini adalah sebagai berikut:

a.      kebutuhan yang mendesak dari suatu unit tertentu dimungkinkan tidak dapat cepat dilayani

dan dipenuhi karena bagian pembelian masih menunggu daftar kebutuhan perbekalan dari unit-

unit kerja yang lain ataupun karena prosedur pengajuan maupun distribusi penyampaian

perbekalan yang berliku-liku/birokratis sehingga hal ini tentunya akan dapat mempengaruhi

tingkat efektifitas dan efisiensi kerja unit-unit kerja dan organisasi secara keseluruhan.

b.      pemenuhan permintaan kebutuhan perbekalan pada unit-unit kerja sebagai

pengguna (user) dimungkinkan tidak sesuai dengan kebutuhan, terutama berkaitan dengan

spesifikasi barangnya maupun waktunya, karena bagian perbekalan khususnya bagian pengadaan

perbekalan tidak mengetahui persis kebutuhan masing-masing unit kerja.

2)      Sistem Desentralisasi

Sistem desentralisasi yaitu sistem pengadaan perbekalan, dimana kewenangan pengadaan

perbekalan diserahkan pada masing-msing unit kerja. Beberapa kelebihan dari penggunaan

sistem desentralisasi ini yaitu sebagai berikut:

1.      kebutuhan atas perbekalan dari masing-masing unit kerja akan cepat dapat dipenuhi sesuai

dengan kebutuhan.

2.      menjamin ketepatan pembelian perbekalan karena masing-masing unit kerja mengetahui

persis akan spesifikasi kebutuhan perbekalannya.


Adapun kekurangan sistem ini yaitu:

a.      ada kecederungan masing-masing unit kerja untuk memiliki perbekalan (barang-barang)

baru, padahal perbekalan yang ada masih berdaya guna sehingga hal ini akan menimbulkan

tertumpuknya barang-barang yang tidak diperlukan di beberapa bagian.

b.      terdapatnya bermacam-macam perbekalan yang berbeda-beda bentuknya, ukuran, dan

tipenya sehingga hal ini jelas tidak mendukung program standardisasi dan normalisasi, sekaligus

tidak mendukung kemungkinan pertukaran perbekalan antar bagian/unit kerja dalam suatu

organisasi.

c.       biaya per satuan barang relatif lebih besar, karena pembelian dengan sistem ini tentunya

dalam partai yang lebih kecil bila dibandingkan apabila menggunakan sistem sentralisasi

sehingga otomatis jumlah potongan yang diberikan penjual juga relatif lebih kecil.

d.      Biaya tambahan (overhead cost) relatif lebih besar bila dibandingkan apabila menggunakan

sistem sentralisasi.

3)      Sistem Campuran

Sistem campuran merupakan sistem atau cara pengadaan perbekalan dengan

mengkombinasikan antara sistem sentralisasi dan desentralisasi. Pertimbangan penggunaan

sistem campuran ini selain menjamin ketepatan dalam pemenuhan kebutuhan perbekalan dari

setiap unit kerja khususnya kebutuhan perbekalan yang sifatnya spesifik sesuai dengan tugas

operasional unit kerja tersebut, juga untuk mendukung program standardisasi dan normalisasi

organisasi. Dengan demikian, apabila perbekalan dibutuhkan oleh seluruh unit kerja atau

beberapa unit kerja, pengadaan perbekalan dilakukan dengan sistem sentralisasi, sedangkan

apabila kebutuhan perbekalan bersifat khusus untuk suatu unit kerja, pengadaan perbekalan

dilakukan dengan sistem desentralisasi.Ada beberapa alternatif bagi suatu organisasi untuk
memilih dan menentukan sistem pengadaan perbekalan. Sistem pengadaan perbekalan tersebut

meliputi sistem sentralisasi, sistem desentralisasi dan sistem campuran.

Anda mungkin juga menyukai