Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH FILSAFAT ILMU

“Bernalar Ilmiah”

Dosen Mata Kuliah: Rahadian Indarto Susilo, dr., SpBS(K)

Oleh:
Kelompok 4
Stefanus Gunawan K. 011918026304
Mochammad Daviq 011918026320
Boyong Baskoro 011918086306
Henu Handiyantama 011918016303
Ineke Rosalia M. 011918036303
Christa Graziella M. 011918096302
Aditya Chrisdianto 011918066311
Iriana Wahyu N. 011918166305
Roidah Taqiyya Zahra W. 011918206302
Desy Martha Panjaitan 011918106302

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, bahwa kami telah menyelesaikan
makalah dengan judul ’Bernalar Ilmiah’. Melalui materi ini kami berharap dapat membantu
memahami mengenai penalaran ilmiah untuk digunakan ke depannya dalam mengerjakan
tugas ilmiah di masa pendidikan PPDS kami ke depannya. Namun kami menyadari bahwa
masih banyak kekurangan dalam makalah ini.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi sejawat
sekalian yang membutuhkan. Amin.

Surabaya, 21 Juli 2019

Kelompok 4

i
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 1
1.3 Tujuan .............................................................................................................................. 1
BAB II BERNALAR ILMIAH .................................................................................................. 2
2.1 Pengertian Bernalar Ilmiah .............................................................................................. 2
2.2 Macam-macam Bernalar Ilmiah ...................................................................................... 2
2.2.1 Penalaran Induktif ..................................................................................................... 2
2.2.2 Penalaran Abduktif ................................................................................................... 2
2.2.3 Penalaran Deduktif.................................................................................................... 3
2.2.4 Analogi...................................................................................................................... 3
2.2.5 Hubungan Sebab Akibat (Kausal)............................................................................. 4
BAB III KESIMPULAN ............................................................................................................ 5
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................... 5
3.2 Saran ................................................................................................................................ 6
Dalam penulisan makalah ini, kami sadar bahwa masih banyak kekurangan di dalamnya.
Oleh karena itu, kami menyarankan pembaca untuk membaca literatur yang lebih resmi
mengenai penalaran ilmiah .................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 6

i
i
i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pengetahuan ilmiah penting sekali pemikiran secara logis, dimana pemikiran logis ini
tidak lepas dari penalaran yang baik. Pemahaman penalaran ilmiah yang baik sangat diperlukan
dalam menghasilkan produk penegatahuan ilmiah yang baik dan tepat. Ada berbagai macam
jenis penalaran ilmiah antara lain penalaran induktif, penalaran deduktof, penalaran abduktif,
analogi, hubungan sebab akibat. Setiap jenis penalaran akan memiliki pengertian yang berbeda
– beda namun dapat digunakan bersama – sama dan saling mengisi untuk mendapatkan
pemikiran ilmiah dalam kehudupan sehari- hari.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian penalaran ilmiah?
2. Apa saja jenis penalaran ilmiah?
3. Apa yang dimaksud penalaran induktif?
4. Apa yang dimaksud penalaran abduktif?
5. Apa yang dimaksud penalaran deduktif?
6. Apa yang dimaksud analogi?
7. Apa yang dimaksud hubungan sebab akibat ( kausal )?
1.3 Tujuan
Untuk dapat memahami pengertian penalaran ilmiah, jenis penalaran ilmiah beserta
penjelasannya.

i
v
BAB II
BERNALAR ILMIAH

2.1 Pengertian Bernalar Ilmiah


Definisi bernalar berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019) ialah berpikir
logis. Sementara penalaran ialah cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara
berpikir logis; hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan
dengan perasaan atau pengalaman; proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa
fakta atau prinsip. (KBBI, 2019)
Bernalar secara ‘ilmiah’ dapat diartikan menjadi dua. Pertama, penalaran mengenai isi
dari suatu ilmu. Orang akan terlibat dalam pemikiran ilmiah apa bila memikirkan tentang suatu
entitas dan proses seperti gaya, massa, energi, atom, radiasi, geologi, atau astrofisika, dan lain-
lain. Kedua ialah penalaran yang melibatkan serangkaian proses penalaran dalam bidang sains:
induksi, deduksi, desain eksperimental, sebab akibat, pembentukan konsep, pengujian
hipotesis dan sebagainya. Proses penalaran tersebut sebenarnya tidak berbeda dari proses
berpikir dalam pemikiran sehari-hari, hanya saja menggunakan suatu definisi konsep dan
kesimpulan yang lebih tepat, bahan eksperimental yang lebih rinci dan sistematik, serta logis.
Pendapat diatas juga didukung oleh pernyataan bahwa suatu penemuan yang hebat terletak
pada hal-hal yang ditemukan, bukan berdasarkan caranya. (Dunbar, 2012)
Berdasarkan pendapat diatas, pemikiran ilmiah melibatkan proses kognitif tujuan
umum yang sama - seperti induksi, deduksi, analogi, pemecahan masalah, dan penalaran sebab
akibat – yang juga dipakai dalam kegiatan sehari-hari. (Dunbar, 2012)

2.2 Macam-macam Bernalar Ilmiah


2.2.1 Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah suatu proses mengamati serangkaian peristiwa bersifat
khusus dan mencoba menarik kesimpulan umum dari peristiwa tersebut. Kunci dari penalaran
induktif adalah generalisasi. Tipe penalaran induktif lainnya adalah induksi katergorikal,
dengan cara memetakan fitur suatu anggota kategori dengan anggota lainnya. (Dunbar, 2012)
2.2.2 Penalaran Abduktif
Penalaran abduktif adalah bentuk penalaran penting yang digunakan untuk mengajukan
penjelasan untuk peristiwa seperti temuan tak terduga. Penalaran secara abduktif berusaha
untuk menghasilkan penjelasan dalam bentuk sebagai berikut “jika situasi X telah terjadi,
dapatkah itu menghasilkan bukti saat ini yang saya coba tafsirkan?”. Penalaran ini memang

v
kurang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, namun dapat membantu untuk
menemukan suatu penemuan terbaru dan juga membantu kreativitas suatu penelitian. (Dunbar,
2012)
2.2.3 Penalaran Deduktif
Penalaran ini berhubungan dengan kondisi dimana suatu hipotesis dapat mengarah, atau
tidak mengarah pada suatu kesimpulan. Meskipun tidak selalu difrasekan dalam bentuk
silogistik, argument deduktif dapat difrasekan sebagai ‘silogisme’, atau suatu pernyataan
matematika dimana premis mengarah pada kesimpulan. (Dunbar, 2012)
Penalaran deduktif adalah aspek yang sangat penting dari pemikiran ilmiah karena ia mendasari
sebagian besar komponen mengenai bagaimana peneliti melakukan penelitian mereka.
Pernyataan penalaran deduktif berisi suatu informasi atau cara yang menyatakan hipotesis
tentang bagaimana cara suatu hal bekerja, serta kesimpulan yang mengikuti hipotesis tersebut.
(Dunbar, 2012)

Gambar 2. 1 Perbedaan penalaran ilmiah


secara induktif, abduktif, dan deduktif
(Dunbar, 2012)
2.2.4 Analogi
Penggunaan analogi dalam penalaran ilmiah untuk membentuk jembatan antara apa
yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dijelaskan, dipahami atau ditemukan. Analogi
banyak digunakan pada hampir semua autobiografi dan biografi ilmiah, setidaknya ada satu
analogi dibahas secara mendalam. (Dunbar, 2012)

v
i
Secara umum penalaran ilmiah secara analogi dibagi menjadi dua, yaitu target
(variabel) dan sumber (referensi). Target/variabel merupakan suatu konsep atau masalah yang
peneliti berusaha jelaskan atau pecahkan. Sementara sumber/referensi merupakan suatu dasar
pengetahuan yang digunakan peneliti untuk memahami atau menjelaskan target/variabel
tersebut. Peneliti akan membuat analogi dengan memetakan fitur sumber ke fitur target.
Dengan pemetaan tersebut, fitur-fitur baru target dapat ditemukan, atau fitur-fitur target dapat
disusun ulang sehingga konsep baru ditemukan dan suatu hipotesis dibuat. Selain itu peneliti
juga akan memetakan sistem dari berbagai macam relasi. Salah satu alasan mengapa analogi
ilmiah begitu kuat karena ia dapat menghasilkan penemuan baru. (Dunbar, 2012)
Proses penalaran analogi memiliki beberapa tahap sebagai berikut: pengambilan
sumber, menyelaraskan fitur sumber dengan target, memetakan fitur sumber ke target, dan
mungkin membuat kesimpulan baru tentang target. Penarikan kesimpulan atau hipotesis dapat
dibuat ketika sumber menyoroti suatu fitur yang tidak diketahui dari target atau merombak
ulang target menjadi serangkaian hubungan baru.
Akan tetapi, perlu diingat bahwan meskipun penalaran analogi merupakan suatu alat
yang kuat, kesimpulan/hipotesis yang salah dapat terjadi. (Dunbar, 2012)
2.2.5 Hubungan Sebab Akibat (Kausal)
Banyak penalaran ilmiah dan dasar teori ilmiah berkaitan dengan pengembangan model
kausal antara variabel yang diteliti. Masalah utama pada literatur hubungan kausal, yang secara
langsung relevan dengan pemikiran ilmiah, adalah sejauh mana para peneliti diatur oleh
pencarian mekanisme sebab-akibat (yaitu, bagaimana suatu variabel bekerja) dengan pencarian
data statistik ( yaitu, seberapa sering variabel terjadi bersamaan). Dikotomi ini dapat diringkas
untuk mencari informasi kualitatif versus kuantitatif tentang masalah yang diteliti. Namun,
banyak peneliti cenderung untuk mengumpulkan lebih banyak informasi tentang mekanisme
yang mendasari variabel yang diteliti daripada kovarisasi antara sebab dan akibat. Sebagai
contoh, umumnya strategi utama yang digunakan peneliti pada simulasi pemikiran ilmiah
adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang bagaimana objek yang sedang
diteliti bekerja, daripada mengumpulkan sejumlah besar data kuantitatif untuk menentukan
apakah pengamatan tersebut berlaku pada banyak sampel. Temuan ini menunjukkan bahwa
komponen utama dari penalaran ilmiah daapt digunakan untuk merumuskan hubungan sebab
akibat suatu peristiwa ilmiah secara eksplisit. (Dunbar, 2012)

v
i
i
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Dalam melakukan penulisan karya ilmiah, penalaran dibutuhkan agar penulis maupun
pembaca dapat berfikir logis. Logis yang mencakup fakta, data dan informasi sehingga dapat
ditarik sebuah kesimpulan. Aspek penalaran sangat diperhatikan dalam setiap penulisan karya
ilmiah ataupun jenis tulisan lainnya. Penulis harus mengenal setiap kriteria dan mengetahui
prinsip proses penarikan kesimpulan.
Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau
data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ilmiah yaitu
serangkaian proses penalaran dalam bidang sains: induksi, deduksi, desain eksperimental,
sebab akibat, pembentukan konsep, pengujian hipotesis dan sebagainya. Penalaran ilmiah
melibatkan proses kognitif tujuan umum yang sama - seperti induksi, deduksi, analogi,
pemecahan masalah, dan penalaran sebab akibat – yang juga dipakai dalam kegiatan sehari-
hari. (Dunbar, 2012)
Beberapa macam bentuk bernalar ilmiah antara lain penalaran induktif, abduktif,
deduktif, analogi dan hubungan sebab akibat (kausal). Penalaran induktif adalah suatu proses
mengamati serangkaian peristiwa bersifat khusus dan mencoba menarik kesimpulan umum
dari peristiwa tersebut. Penalaran abduktif adalah bentuk penalaran yang digunakan untuk
mengajukan penjelasan peristiwa seperti temuan tak terduga. Penalaran deduktif adalah suatu
penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum yang kesimpulannya berupa
pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Penalaran ini berhubungan dengan kondisi
dimana suatu hipotesis dapat mengarah, atau tidak mengarah pada suatu kesimpulan. Analogi
adalah membandingkan dua hal yang memiliki sifat yang sama. Penggunaan analogi dalam
penalaran ilmiah untuk membentuk jembatan antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang
ingin dijelaskan, dipahami atau ditemukan. Hubungan sebab akibat adalah penalaran yang
dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada kesimpulan
yang menjadi akibat. Masalah utama pada literatur hubungan kausal, yang secara langsung
relevan dengan pemikiran ilmiah, adalah sejauh mana para peneliti diatur oleh pencarian
mekanisme sebab-akibat (yaitu, bagaimana suatu variabel bekerja) dengan pencarian data
statistik ( yaitu, seberapa sering variabel terjadi bersamaan). (Dunbar, 2012)

v
i
i
DAFTAR PUSTAKA

Dunbar, K. N. & Klahr, D. 2012. Scientific Thinking and Reasoning. The Oxford Handbook of
Thinking and Reasoning. Oxford University Press. Oxford. Dilihat 19 Juli 2019.
www.oxfordhandbooks.com/view/10.1093/oxfordhb/9780199734689.001.0001/oxfordhb-
9780199734689-e-35
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2019. Kemdikbud. Dilihat 19 Juli 2019.
https://kbbi.web.id/nalar-2

i
x
6

x
Bernalar Ilmiah
Oleh: Kelompok 4

Stefanus Gunawan K. 011918026304 Christa Graziella M. 011918096302


Mochammad Daviq 011918026320 Aditya Chrisdianto 011918066311
Boyong Baskoro 011918086306 Iriana Wahyu N. 011918166305
Henu Handiyantama 011918016303 Roidah Taqiyya Zahra W. 011918206302
Ineke Rosalia M. 011918036303 Desy Martha Panjaitan 011918106302
Pendahuluan
Outline Tinjauan Pustaka
Kesimpulan



 Penalaran Ilmiah  pemikiran logis 




Pendahuluan –

Latar Belakang

Pengetahuan Ilmiah




 Apa pengertian penalaran ilmiah?


 Apa saja jenis penalaran ilmiah?
 Apa yang dimaksud penalaran induktif?
Pendahuluan –
 Apa yang dimaksud penalaran abduktif?
Rumusan
Masalah  Apa yang dimaksud penalaran deduktif?
 Apa yang dimaksud analogi?
 Apa yang dimaksud hubungan sebab akibat (
kausal )?
Pendahuluan -  Dapat memahami pengertian dan jenis
Tujuan penalaran ilmiah
 Bernalar : Berpikir Logis (KBBI,2019)
 Sumber : fakta/prinsip, bukan
perasaan/pengalaman (KBBI,2019)
Tinjauan
Pustaka  Bernalar secara ilmiah :
 Bernalar mengenai isi suatu ilmu
 Bernalar berdasarkan proses
penalaran di bidang sains (Dunbar,2012)
 Macam jenis bernalar Ilmiah :
 Induktif
 Khusus ke Umum
 GENERALISASI
 Abduktif
 Mengajukan pertanyaan untuk suatu
temuan yang baru, tak terduga
 Deduktif
 Hipotesis  Kesimpulan
 SILOGISME
(Dunbar,2012)
(Dunbar,2012)
 Analogi
 Jembatan antara apa yang sudah diketahui
(sumber/referensi) dan yang akan
dijelaskan (target/variabel)
 Proses : Pengambilan
sumberpenyelaraskan fitur sumber
dengan target pemetaan fitur sumber ke
targetmungkin membuat kesimpulan
baru tentang target
 Hubungan sebab akibat
 pencarian mekanisme sebab-akibat (yaitu,
bagaimana suatu variabel bekerja) dengan
pencarian data statistik ( yaitu, seberapa
sering variabel terjadi bersamaan)
(Dunbar,2012)
 Penalaran  hasil kesimpulan yang logis
 Penalaran : fakta menuju kesimpulan 
pengetahuan
Kesimpulan
 Beberapa bentuk penalaran ilmiah :
induktif, abduktif, deduktif, analogi dan
hubungan sebab akibat (kausal)
 Dunbar, K. N. & Klahr, D. 2012. Scientific Thinking and Reasoning.
The Oxford Handbook of Thinking and Reasoning. Oxford
University Press. Oxford. [Diakses 19 Juli 2019].
Daftar Pustaka www.oxfordhandbooks.com/view/10.1093/oxfordhb/97801997346
89.001.0001/oxfordhb-9780199734689-e-35
 Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2019. Kemdikbud. [Diakses 19 Juli
2019]. https://kbbi.web.id/nalar-2