Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FILSAFAT ILMU

“Sarana Berpikir Ilmiah”

Dosen Mata Kuliah: Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes

OLEH:
Kelompok F1

F.01 dr. Brury Rosally – Ilmu Penyakit Dalam

F.02 dr. Lilik Maulidyatus Sholikhah – Ilmu Penyakit Dalam

F.03 dr. Lukita Pradhevi – Ilmu Penyakit Dalam

F.04 dr. Marisa Tulus Purnomo – Ilmu Kesehatan Anak

F.05 dr. I Putu Pramana Sanitya Dharma - Obstetri dan Ginekologi

F.06 dr. Dina Priliasanti Subroto - Obstetri dan Ginekologi

F.07 dr. Cynthia Damayanti – Ilmu Kesehatan THT-KL

F.08 dr. Dinda Zhafira – Ilmu Kesehatan Mata

F.09 dr. Karina Ayu Pramesti – Ilmu Kesehatan Mata

F.10 dr. Azalia Aprinda Bahat – Dematologi dan Venereologi

UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2021
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia memiliki akal yang membedakan dengan makhluk lainnya, seperti
hewan dan tumbuhan. Akal yang dimilikinya membuat manusia mempunyai kemampuan
untuk mencapai tujuan hidup dalam kehidupannya. Kemampuan manusia bukanlah hal
yang dapat dilakukan dengan begitu saja, tetapi telah melalui proses pengalaman.
Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman menyebabkan manusia terus
mengembangkan pengetahuannya.
Untuk mengembangkan pengetahuannya tersebut dibutuhkan juga sarana. Sarana
yang baik memungkinkan manusia akan memperoleh pengetahuan baru melalui aktivitas
berpikir yang benar. Sarana ini bersifat pasti, sehingga aktivitas atau kegiatan ilmiah
tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut. Sarana berpikir ilmiah
membantu manusia menggunakan akalnya untuk berpikir dengan benar dan menemukan
ilmu yang benar. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka
diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan
ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan
kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa,
matematika dan statistika, agar dalam kegiatan ilmiah tersebut dapat berjalan dengan
baik, teratur dan cermat.
Berpikir benar memerlukan sarana atau alat berpikir. Sarana ini bersifat pasti,
maka aktivitas keilmuan tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut. Bagi
seorang ilmuwan penguasaan sarana berpikir merupakan suatu keharusan, karena tanpa
penguasaan sarana ilmiah tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah yang baik (Tim
Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010:97). Penguasaan sarana ilmiah sangat penting bagi
ilmuwan agar dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana berpikir ilmiah
membantu manusia menggunakan akalnya untuk berpikir dengan benar dan menemukan
ilmu yang benar.
B. Rumusan Masalah
1.     Apakah yang dimaksud dengan sarana berpikir ilmiah?
2.     Apakah tujuan dan fungsi sarana berpikir ilmiah?
3.     Apa saja peranan sarana berpikir ilmiah tersebut ?
4.     Bagaimanakah hubungan antara sarana berpikir ilmiah bahasa, matematika, dan
statistika ?

C. Tujuan
Makalah ini ditulis untuk membahas dan memahami tentang sarana berpikir ilmiah,
meliputi: pengertian sarana berpikir ilmiah, tujuan dan fungsi, serta peranan sarana
berpikir ilmiah, dan hubungan antara sarana berpikir ilmiah bahasa, matematika, dan
statistika.
BAB II
SARANA ILMIAH
A. Sarana Berfikir ilmiah
Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan
ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Sarana ilmiah merupakan suatu
alat, dengan alat ini manusia melaksanakan kegiatan ilmiah. Pada saat manusia
melakukan tahapan kegiatan ilmiah diperlukan alat berpikir yang sesuai dengan tahapan
tersebut. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena manusia berpikir
mengikuti kerangka berpikir ilmiah dan menggunakan alat-alat berpikir yang benar.
Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.
Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik
dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi
ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.Berpikir merupakan sebuah proses yang
membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam
mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang
berupa pengetahuan.
Sarana berpikir ilmiah ada empat, yaitu: bahasa, logika, matematika dan statistika.
Sarana berpikir ilmiah berupa bahasa sebagai alat komunikasi verbal untuk
menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain, logika sebagai alat berpikir agar sesuai
dengan aturan berpikir sehingga dapat diterima kebenarannya oleh orang lain,
matematika berperan dalam pola berpikir deduktif sehingga orang lain dapat mengikuti
dan melacak kembali proses berpikir untuk menemukan kebenarannya, dan statistika
berperan dalam pola berpikir induktif untuk mencari kebenaran secara umum.
Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwasarana
ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkanberdasarkan metode
ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmuumpamanya adalah
penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir
ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih
jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan
pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.
B. Tujuan dan fungsi Sarana berfikir ilmiah
Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan
penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk
mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah
kita sehari-hari.
Sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kegiatan
ilmiah secara menyeluruh dalam mencapai suatu tujuan tertentu (Suriasumantri,
2003:165). Keseluruhan tahapan kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu yang
berupa sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah hanyalah alat bantu bagi manusia
untuk berpikir ilmiah agar memperoleh ilmu. Sarana berpikir ilmiah bukanlah suatu ilmu
yang diperoleh melalui proses kegiatan ilmiah
C. Peranan Sarana Berpikir Ilmiah
1. Peran Logika sebagai Sarana berpikir ilmiah
Logika merupakan kumpulan kaidah-kaidah yang memberi jalan (system) berpikir
tertib dan teratur sehingga kebenarannya dapat diterima oleh orang lain. Logika akan
memberi suatu ukuran (norma) yakni suatu anggapan tentang benar dan salah
terhadap suatu kebenaran. Ukuran kebenarannya adalah logis (Sumarna, 2008:141).
Sebagai sarana berpikir ilmiah, logika mengarahkan manusia untuk berpikir
dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Dengan logika
manusia dapat berpikir dengan sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Jika ingin melakukan kegiatan
Terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui cara kerja logika. Dua cara itu
adalah induktif dan deduktif. Logika induktif adalah cara penarikan kesimpulan dari
kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan rasional.
Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum
rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan (Sumarna,
2008:150)
Kedua jenis logika berpikir tersebut bukanlah dua kutub yang saling berlawanan
dan saling menjatuhkan. Kedua jenis logika berpikir tersebut merupakan dua buah
sarana yang saling melengkapi, maksudnya suatu ketika logika induktif sangat
dibutuhkan dan harus digunakan untuk memecahkan suatu masalah, dan pada saat
lain yang tidak dapat menggunakan logika induktif untuk memecahkan masalah maka
dapat digunakan logika deduktif.
2. Peran Bahasa Sebagai Sarana Berpikir ilmiah
Bahasa memegang peran penting dan suatu hal yang lazim dalam kehidupan
manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatiakan bahasa dan
menggapnya sebagai suatu hal yang bisa, seperti bernafas dan berjalan. Padahal
bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk yang
membedakan manusia dari ciptaan lainnya. Banyak ahli bahasayang telah
memberikan uraiannya tentang pengertiannya tentang pegertian bahasa.
Bahasa adalah unsur yang berpadu dengan unsur-unsur lain di dalam jaringan
kebudayaan. Pada waktu yang sama bahasa merupakan sarana pengungkapan nilai-
nilai budaya, pikiran, dan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan. Oleh karena itu,
kebijaksanaan nasional yang tegas di dalam bidang kebahasaan harus merupakan
bagian yang integral dari kebijaksanaan nasional yang tegas di dalam bidang
kebudayaan.
Ada dua pengolongan bahasa yang umumnya dibedakan yaitu :
1) Bahasa alamiah yaitu bahasa sehari-hari yang digunakan untuk menyatakan
sesuatu, yang tumbuh atas pengaruh alam sekelilingnya. Bahasa alamiah dibagi
menjadi dua yaitu: bahasa isyarat dan bahasa biasa.
2) Bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan akar pikiran untuk maksud tertentu. Bahasa buatan
dibedakan menjadi dua bagian yaitu: bahasa istilah dan bahasa antifisial atau bahasa
simbolik. Bahasa buatan inilah yang dikenal dengan bahasa ilmiah.[4]
Perbedaan bahasa alamiah dan bahasa buatan adalah sebagai berikut:
a) Bahasa alamiah antara kata dan makna merupakan satu kesatuan utuh, atas
dasar kebiasaan sehari-hari, karena bahasanya secara spontan, bersifat kebiasaan,
intuitif (bisikan hati) dan pernyataan langsung.
b) Bahasa buatan antara istilah dan konsep merupakan satu kesatuan bersifat
relatif, atas dasar pemikiran akal karena bahasanya berdasarkan pemikiran,
sekehendak hati, diskursif (logika, luas arti) dan pernyataan tidak langsung.
Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan
pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Yang dimaksud bahasa disini ialah bahasa
ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk
menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan dengan syarat-syarat: Bebas dari
unsur emotif, reproduktif, obyektif, eksplisit.
Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni:
a. Sebagai sarana komunikasi antar manusia.
b. Sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang
mempergunakan bahasa tersebut.
Adapun ciri-ciri bahasa ilmiah yaitu:
a. Informatif yang berarti bahwa bahasa ilmiah mengungkapan informasi atau
pengetahuan. Informasi atau pengetahuan ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas
untuk menghindari kesalah pahaman Informasi.
b. Reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan informasi
yang sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau pembacanya.
c. Intersubjektif, yaitu ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-
makna yang sama bagi para pemakainya.
d. Antiseptik berarti bahwa bahasa ilmiah itu objektif dan tidak memuat unsur
emotif, kendatipun pada kenyataannya unsur emotif ini sulit dilepaskan dari unsur
informatif
3. Peran Matematika sebagai sarana berpikir ilmiah
Suriasumantri (2003:191), ”Matematika adalah bahasa yang berusaha
untuk menghilangkan sifat kubur (pen: kabur), majemuk dan emosional dari
bahasa verbal”. Matematika sebagai sarana berpikir deduktif menggunakan
bahasa artifisial, yakni murni bahasa buatan manusia.
Matematika merupakan salah satu puncak kegemilangan intelektual.
Disamping pengetahuan mengenai matematika itu sendiri, matematika juga
memberikan bahasa, proses dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk
kekuasaan. Fungsi matematika menjadi sangat penting dalam perkembangan
macam-macam ilmu pengetahuan. Penghitungan matematis misalnya menjadi
dasar desain ilmu teknik, metode matematis yang dapat memberikan inspirasi
kepada pemikiran di bidang sosialdan ekonomibahkan pemikiran matematis
dapat memberikan warna kepada arsitektur dan seni lukis.
Matematika lebih mementingkan kelogisan pernyataan-pernyataannya yang
mempunyai sifat yang jelas (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM,
2010:107).Dengan matematika, sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa
dapat dihilangkan. Lambang yang digunakan dalam matematika lebih eksak dan
jelas, lambang-lambang tersebut tidak bisa dicampuri oleh emosional
seseorang, suatu lambang dalam matematika jelas hanya mengandung satu
arti sehingga orang lain tidak dapat memberikan penafsiran selain dari maksud
pemberi informasi. ”Matematika mengembangkan bahasa numerik yang
memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif”
(Suriasumantri, 2003:193). Matematika biasanya menggunakan bahasa numeric
yang menafikan unsur emosi, kabur dan majemuk seperti yang terdapat dalam
bahasa biasa. Melalui unsur ini, manusia dapat melakukan pengukuran secara
kuantitatif yang tidak diperoleh dalam bahasa yang selalu memberi
kemungkinan menggunakan perasaan yang bersifat kualitatif (Sumarna,
2008:143).Matematika memungkinkan untuk melakukan pengukuran yang jelas.

4. Peran Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah


Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan untuk
mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil suatu kesimpulan kegiatan
ilmiah. Untuk dapat mengambil suatu keputusan dalam kegiatan ilmiah diperlukan
data-data, metode penelitian serta penganalisaan harus akurat. Statistika diterapkan
secara luas dan hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen.
Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum
dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika
mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik
tersebut, yang pada dasarnya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni
makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi tingkat ketelitian tersebut dan
sebaliknya.
Peranan Statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan:
a. Alat untuk menghitung besarnya anggota sampel yang akan diambil dari
populas.
b. Alat untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen.
c. Teknik untuk menyajikan data-data, sehingga data lebih komunikatif.
d. Alat untuk analisis data seperti menguji hipotesis penelitian yang diajukan.
BAB III
KESIMPULAN

Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya
sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat.
Penguaaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang
ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tidak
dapat dilakukan. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir
ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, matematika dan statistika, agar
dalam kegiatan ilmiah tersebut dapat berjalan dengan baik, teratur dan cermat.
Hubungan antara sarana ilmiah Bahasa, Matematika dan statistika, yaitu bahasa
merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam kegiatan berpikir ilmiah, dimana bahasa
menjadi alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dan
ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan
berpikir induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif,
sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sumarna, Cecep. 2008. Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press.
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2010. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar
Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty.
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Hasan, Erliana, 2010, Filsafat Ilmu, Bogor: Ghalia Indonesia.
Langeveld, M. J., 1995, Menuju Kepemikiran Filsafat, Jakarta: P.T. Pembangunan.
Praja, Juhaya S., 2002, Filsafat dan Metodologi Ilmu Dalam Islam dan Penerapannya di
Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan