Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

Post op appendiktomi

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Minggu ke dua Departemen Keperawatan
Gadar Kritis Profesi Ners FIK Unmuh Ponorogo

Disusun oleh :

Faris Nur Fitra (20650210296)

PRODI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

TAHUN AKADEMIK 2020/2021


LAPORAN PENDAHULUAN
POST OP APPENDIKTOMI

A. Apendisitis

1. Definisi

Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus buntu


atau umbai cacing (apendiks). Usus buntu merupakan sekum, Infeksi ini
bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan
bedah segera untuk mencegah komplikasi yang pada umumnya sangat
berbahaya. (Sjamsuhdayat,R 2010). Apendisitis adalah merupakan salah
satu penyakit saluran pencernaan yang paling umum ditemukan dan yang
paling sering memberikan keluhan abdomen yang akut. Apendiktomi
(pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera untuk
menurunkan risiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah
anestesi umum dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi,
yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif (Brunner & Suddarth,
2013).
2. Klasifikasi

Klasifikasi apendisitis menurut Smeltzer(2013) berdasarkan klinik


patologis adalah sebagai berikut:
a. Apendisitis Akut

1) Apendisitis Akut Sederhana (Cataral Apendisitis)

Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa


disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen
apendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang
mengganggu aliran limfe, mukosa apendiks jadi menebal, edema,
dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah
umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan.
Pada apendisitis kataral terjadi leukositosis dan apendiks terlihat
normal, hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa.
2) Apendisitis Akut Purulenta (Supurative Apendisitis)

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema


menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks
dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia
dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding apendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.
Apendiks dan mesoapendiks terjadi edema, hiperemia, dan di
dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan
rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik
Mc Burney, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif.
3) Apendisitis Akut Gangrenosa

Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri


mulai terganggu sehingga terjadi infark dan ganggren. Selain
didapatkan tanda-tanda supuratif, apendiks mengalami gangren
pada bagian tertentu. Dinding apendiks berwarna ungu, hijau
keabuan atau merah kehitaman. Pada apendisitis akut gangrenosa
terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang
purulen.
b. Apendisitis Infiltrat

Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang


penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum,
kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon
yang melekat erat satu dengan yang lainnya.
c. Apendisitis Abses

Apendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah
(pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal,
subcaecal, dan pelvic.
d. Apendisitis Perforasi

Apendisitis perforasi adalah pecahnya apendiks yang sudah ganggren


yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi
peritonitis umum. Pada dinding apendiks tampak daerah perforasi
dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
e. Apendisitis kronik

Apendisitis kronik adalah nyeri perut kanan bawah lebih dari 2


minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan
mikroskopik, dan keluhan menghilang setelah apendiktomi. Kriteria
mikroskopik apendiks adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks,
adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa, dan infiltrasi sel
inflamasi.
3. Etologi

Menurut Andra & Yessie ( 2013) penyebab apendisitis antara lain:

a. Ulserasi pada mukosa

b. Obstruksi pada colon oleh fecalit (feses yang keras)

c. Pemberian barium

d. Berbagai macam penyakit cacing

e. Tumor

f. Striktur karena fibrosis pada dinding usus


4. Manifestasi Klinis

Menurut Andra dan Yessie (2013) tanda terjadinya apendisitis antara lain:

a. Nyeri pindah ke kanan bawah (yang menetap dan diperberat bila


berjalan atau batuk) dan menunjukkan tanda rangsangan peritoneum
lokal di titik Mc. Burney: nyeri tekan, nyeri lepas, defans muskuler.
b. Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung

c. Nyeri pada kuadran kanan bawah saat kuadran kiri bawah ditekan
(Roving Sign)
d. Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepas (Blumberg)

e. Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti napas dalam,


berjalan, batuk, mengedan
f. Nafsu makan menurun

g. Demam

5. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan untuk mengetahui apendisitis menurut Dermawan &


Rahayuningsih (2010) :
a. Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive
protein (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah
leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas
75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan
meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat
melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan
spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%.
b. Radiologi, terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan
Computed Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG
ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada
apendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian
yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari apendiks yang
mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi
USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan
92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100%
dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-
97%.
6. Patofisiologi

Apendisitis disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh


hiperplasia folikel limfoid, fekalit, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan
mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen,
tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan edema. Diaforesis bakteri dan ulserasi mukosa pada saat
inilah terjadi apendiksitis fokal yang ditandai nyeri epigastrium.
Sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal
tersebut akan mengakibatkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri
akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritonium setempat sehingga menimbulkan nyeri di abdomen
kanan bawah, keadaan ini disebut apendisitis supuratif akut. Aliran arteri
terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan
gangrene, stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding
yang telah rapuh ini pecah akan terjadi apendisitis perforasi.
Semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa
lokal yang disebut infiltrate apendukularis, peradangan apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang.
Adanya hiperplasia, folikel limpoid, benda asing yang masuk pada
apendiks, erosi mukosa apendiks, tumor apendiks. Tnja yang terperangkap
atau tertimbun pada apendiks (fekalit) dan juga struktur dapat
menyebabkan obstruksi pada apendiks sehiingga terjadi apendisiti. Pada
apendsitis kemudian dilakukan apendiktomi untuk menghilangkan
obstruksi, karena tindakan apendiktomi dapat menyebabkan trauma
jaringan. Trauma jaringan menimbulkan adanya nyeri sehingga penderita
takut untuk bergerak dan menimbulkan kecemasan (Mansjoer, 2013)
Pathway

pathway

gg. integritas
kulit/jringan

Nyeri akut Defisit


pengetahuan

Risiko infeksi

Intoleransi
Risiko difisit nutrisi Risiko difisit nutrisi
aktifitas

Defisit perawatan diri


7. Penatalaksanaan

a. Pra Operasi

1) Observ
asi

Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala


apendisitis seringkali belum jelas, dalam keadaan ini observasi
ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan
dipuasakan. Pemeriksaan abdomen dan rectal serta pemeriksaan
darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik, foto
abdomen dan thoraks dilakukan untuk mencari kemungkinan
adanya penyulit lain. Kebanyakan kasus diagnosa ditegakkan
dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam
setelah timbulnya keluhan.
2) Antibiotik

Apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan


antibiotik, kecuali apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforasi.
Penundaan tindakan pembedahan sambil memberikan antibiotik
dapat mengakibatkan abses atau perforasi.
b. Intra Operasi

Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan


sesegera untuk menurunkan risiko perforasi. Apendiktomi dapat
dilakukan dibawah anestesi umum dengan insisi abdomen bawah atau
dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat
efektif. Apendiktomi dapat dilakukan dengan menggunakan dua
metode pembedahan, yaitu secara tehnik terbuka/pembedahan
konvensional (laparotomi) atau dengan tehnik laparoskopi yang
merupakan teknik pembedahan minimal invasif dengan metode
terbaru yang sangat efektif.
1) Laparatomi

Laparatomi adalah prosedur yang membuat irisan vertikal


besar pada dinding perut ke dalam rongga perut. Menurut referensi
lain laparotomi adalah salah operasi yang dilakukan pada daerah
abdomen. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat dan
merasakan organ dalam dalam membuat diagnosa apa yang salah.
Adanya teknik diagnosa yang tidak invansif, laparotomi semakin
kurang digunakan dibandingkan masa lalu. Prosedur ini hanya
dilakukan jika semua prosedur lainnya yang tidak membutuhkan
operasi, seperti pemeriksaan sinar X atau tes darah atau urine atau
tes darah, gagal mengungkap penyakit penderita. Teknik
laparoskopi yang seminimal mungkin tingkat invansifnya juga
membuat laparatomi tidak sesering di masa lalu. Bila laparotomi
dilakukan, begitu organ-organ dalam dapat dilihat dalam masalah
teridentifikasi, pengobatan bedah yang diperlukan harus segera
dilakukan.
2) Laparoskopi

Laparoskopi berasal dari kata lapara yaitu bagian dari badan mulai
iga paling bawah sampai dengan panggul. Teknologi laparoskopi
ini bisa digunakan untuk melakukan pengobatan dan juga untuk
melakukan diagnosa terhadap penyakit yang belum jelas (David .A
2011).
Keuntungan bedah laparoskopi:

a) Luka operasi yang kecil berkisar antara 3-10 mm.

b) Medan penglihatan diperbesar 20 kali, tentunya hal ini lebih


membantu ahli bedah dalam melakukan pembedahan
c) Secara kosmetik bekas luka sangat berbeda dibandingkan
dengan luka operasi pasca bedah konvensional. Luka bedah
laparoskopi berukuran 3 mm sampai dengan ukuran 10 mm
akan hilang atau tersembunyi kecuali penderita mempunyai
bakat keloid (pertumbuhan jaringan parut yang berlebihan).
d) Rasa nyeri setelah pembedahan minimal sehingga penggunaan
obat-obatan dapat diminimalkan, masa pulih setelah
pembedahan jauh lebih cepat dan masa rawat di rumah sakit
menjadi lebih pendek, sehingga penderita bisa kembali
beraktivitas normal lebih cepat.
e) Banyaknya keuntungan yang diperoleh penderita dengan
laparoskopi menyebabkan teknik ini lebih diminati dan
bersahabat kepada penderita.
c. Post Operasi

Salah satu pembedahan yang mempunyai angka prevelansi yang


cukup tinggi adalah laparatomi. Laparatomi merupakan tindakan
pembedahan dengan mengiris dinding perut. Komplikasi pada pasien
pots operasi laparatomi adalah nyeri yang hebat, perdarahan, bahkan
kematian. Nyeri yang hebat merupakan gejala sisa yang diakibatkan
oleh operasi pada regio intraabdomen (perut bagian dalam) sekitar
60% pasien menderita nyeri yang hebat 25% nyeri sedang dan 15%
nyeri ringan. Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia atau gangguan
pernapasan, baringkan penderita dalam posisi fowler, menghilangkan
nyeri dan, pencegahan komplikasi. Penderita dikatakan baik bila
dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama itu penderita dipuasakan
sampai fungsi usus kembali normal. Satu hari pasca operasi penderita
dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit. Hari
kedua dapat dianjurkan untuk duduk di luar kamar. Hari ke tujuh
jahitan dapat diangkat dan penderita diperbolehkan pulang (Mansjoer,
2013).

B. Asuhan Keperawatan Nyeri pasien dengan Nyeri pada Post Apendiktomi

1. Pengkajian

a. Identitas

1) Identitas Klien

Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama,


alamat, diagnosa medis, tindakan medis, nomor rekam medis,
tanggal masuk, tanggal operasi dan tanggal pengkajian.
2) Identitas Penanggung Jawab

Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama,


alamat, hubungan dengan klien dan sumber biaya.
b. Keluhan Utama
Berisi keluhan utama saat dikaji. Klien post operasi apendisitis
biasanya mengeluh nyeri pada luka operasi dan keterbatasan akivitas.
c. Riwayat Penyakit

1) Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat penyakit sekarang ditemukan saat pengkajian, yang


diuraikan dari mulai masuk tempat perawatan sampai dilakukan
pengkajian. Keluhan sekarang dikaji dengan menggunakan
PQRST (Paliatif and Provokasi, Quality and Quantity, Region
and Radiasi, Severity scale and Timing). Klien yang telah
menjalani operasi pada umumnya mengeluh nyeri pada luka
operasi yang akan bertambah saat digerakkan atau ditekan dan
umumnya berkurang setelah diberi obat dan istirahat. Nyeri
dirasakan seperti tertusuk-tusuk dengan skala nyeri lebih dari lima
(1-10).
2) Riwayat Kesehatan Dahulu

Berisi pengalaman penyakit sebelumnya, apakah memberi


pengaruh pada penyakit yang di derita sekarang serta apakah
pernah mengalami pembedahan sebelumnya.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga

Perlu diketahui apakah ada anggota keluarga lainnya yang


menderita sakit yang sama seperti klien, dikaji pula mengenai
adanya penyakit keturunan atau menular dalam keluarga.

Perlu dikaji keyakinan klien terhadap keadaan sakit dan motivasi


untuk kesembuhannya.
d. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum

Klien post operasi apendisitis mencapai kesadaran penuh


setelah beberapa jam kembali dari meja operasi, penampilan
menunjukkan keadaan sakit ringan sampai berat tergantung
pada periode akut rasa nyeri. Tanda vital pada umumnya
stabil kecuali akan mengalami ketidakstabilan pada klien
yang mengalami perforasi apendiks.
2) Sistem Pernafasan

Klien post operasi apendisitis akan mengalami penurunan


atau peningkatan frekuensi nafas (takipneu) serta pernafasan
dangkal, sesuai yang dapat ditoleransi oleh klien.
3) Sistem Kardiovaskuler

Umumnya klien mengalami takikardi (sebagai respon


terhadap stres dan hipovolemia), mengalami hipertensi
(sebagai respon terhadap nyeri), hipotensi (kelemahan dan
tirah baring). Pengisian kapiler biasanya normal, dikaji pula
keadaan konjungtiva, adanya sianosis dan auskultasi bunyi
jantung.
4) Sistem Pencernaan

Adanya nyeri pada luka operasi di abdomen kanan bawah


saat dipalpasi. Klien post operasi apendisitis biasanya
mengeluh mual muntah, konstipasi pada awitan awal post
operasi dan penurunan bising usus, akan tampak adanya luka
operasi di abdomen kanan bawah bekas sayatan operasi.
Inspeksi abdomen untuk memeriksa perut kembung akibat
akumulasi gas. Memantau asupan oral awal klien yang
beresiko menyebabkan aspirasi atau adanya mual dan
muntah. Kaji pula kembalinya peristaltik setiap 4-8 jam.
Auskultasi perut secara rutin untuk mendeteksi suara usus
kembali normal, 5-30 bunyi keras per menit pada masing-
masing kuadran menunjukkan gerak peristaltik yang telah
kembali. Tanyakan apakah klien membuang gas (flatus), ini
merupakan tanda penting yang menunjukkan fungsi usus
normal
5) Sistem Perkemihan

Awal post operasi klien akan mengalami penurunan jumlah


output urin, hal ini akan terjadi karena adanya pembatasan
intake oral selama periode awal post operasi apendisitis.
6) Sistem Muskuluskeletal

Secara umum, klien dapat mengalami kelemahan karena tirah


baring post operasi dan kekakuan. Kekuatan otot berangsur
membaik seiring dengan peningkatan toleransi aktivitas.
7) Sistem Intergumen

Akan tampak adanya luka operasi diabdomen kanan bawah


karena insisi bedah disertai kemerahan (biasanya pada
awitan).
8) Sistem persarafasan

Umumnya, klien tidak mengalami penyimpangan dalam


persarafan. Pengkajian fungsi persarafan meliputi tingkat
kesadaran, saraf kranial dan reflek.
9) Kenyamanan

Nyeri insisi akut menyebabkan penderita menjadi cemas dan


mungkin bertanggungjawab atas perubahan sementara tanda
vital. Kaji nyeri penderita dengan skala nyeri.

2. Diagnosa keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik

b. Resiko infeks berhubungan dengan prosedur invasif

c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan

e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobililitas

f. Risiko defisit nutrisi berhubungan dengan pembatasan masukan oral

g. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi


Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri Akut Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
D.0077 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24
Observasi:
jam diharapkan tingkat nyeri menurun
 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
Pengertian : Kriteria Hasil:
Pengalaman sensorik Memburu Cukup Sedang Cukup Membai frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
atau emosional yang k Membur Membai k
berkaitan dengan uk k
1 Frekuensi nadi
kerusakan jaringan
  1 2 3 4 5
aktual atau 2 Pola nafas
  1 2 3 4 5
fungsional, dengan
Meningka Cukup Sedan Cukup Menurun
onset mendadak atau
t Meningk g Menuru
lambat dan
at n
berintensitas ringan 3 Keluhan nyeri
  1 2 3 4 5
hingga berat yang
4 Meringis
berlangsung kurang   1 2 3 4 5
5 Gelisah
dari 3 bulan.
1 2 3 4 5
6 Kesulitan tidur
1 2 3 4 5
Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Gangguan Mobilitas Mobilitas Fisik Dukungan mobilisasi
Fisik Observasi:
D.0054 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24
 Identifikasi adanya nyeri atau keluhan
jam diharapkan mobilitas fisik meningkat
fisik lainnya
Pengertian : Kriteria Hasil:
Keterbatasan dalam Menurun Cukup Sedang Cukup Meningk
gerakan fisik dari Menurun Meningk at  Identifikasi toleransi fisik melakukan
suatu atau lebih at pergerakan
 Monitor kondisi umum selama melakukan
mobilisasi
 Monitor frekuensi jantung dan tekanan
darah sebelum memulai mobilisasi
1 Pergerakan ekstremitas
  1 2 3 4 5
2 Kekuatan otot
  1 2 3 4 5
Meningka Cukup Sedan Cukup Menurun
t Meningk g Menuru
at n
3 Nyeri
  1 2 3 4 5
4 Kaku sendi
  1 2 3 4 5
5 Gerakan terbatas
1 2 3 4 5
6 Kelemahan fisik
1 2 3 4 5
Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Risiko Infeksi Tingkat Infeksi Pencegahan infeksi
D.0142 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam
Observasi:
glukosa derajat infeksi menurun.
 Monitor tanda gejala infeksi lokal dan
Pengertian : Kriteria Hasil:
Berisiko Meningka Cukup Sedang Cukup Menuru sistemik
mengalami t Meningk Menuru n
peningkatan at n
1 Demam
terserang
  1 2 3 4 5
oganisme 2 Kemeraha
patogenik n
1 2 3 4 5
3 Nyeri
1 2 3 4 5
4 Bengkak
1 2 3 4 5
Memburu Cukup Sedan Cukup Membai
k Membur g Membai k
uk k
5 Kadar sel darah putih
  1 2 3 4 5
Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Defisit Perawatan Perawatan Diri Dukungan Perawatan Diri
Diri Observasi:
D.0109 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24  Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan
jamdiharapkan perawatan diri meningkat diri sesuai usia
Pengertian : Kriteria Hasil:  Monitor tingkat kemandirian
Tidak mampu Menurun Cukup Sedang Cukup Meningk  Identifikasi kebutuhan alat bantu
melakukan atau Menurun Meningk at
menyelesaikan at
aktivitas perawatan 1 Kemampuan mandi
diri   1 2 3 4 5
2 Kemampuan mengenakan pakaian
  1 2 3 4 5
3 Kemampuan makan

  1 2 3 4 5
4 Kemampuan ke toilet (BAB/BAK)
  1 2 3 4 5
5 Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri
1 2 3 4 5
6 Mempertahankan kebersihan mulut
1 2 3 4 5
Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Risiko Gangguan Integritas Kulit dan Jaringan Perawatan Integritas Kulit
Integritas Observasi:
Kulit/Jaringan  Identifikasi penyebab gangguan integritas
D.0139 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam kulit
diharapkan integritas kulit dan jaringan meningkat Terapeutik:
Pengertian : Kriteria Hasil:  Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring
Berisiko mengalami Menurun Cukup Sedang Cukup Meningk  Gunakan produk berbahan petrolium atau
Kerusakan kulit Menurun Meningk at
(dermis dan/atau at
epidermis) atau 1 Elastisitas
jaringan (membran   1 2 3 4 5
mukosa, kornea, fasia, 2 Hidrasi
  1 2 3 4 5
otot, tendon, tulang,
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun
kartilago, kapsul sendi
Meningka Menurun
dan/atau ligamen) t
3 Kerusakan lapisan kulit
  1 2 3 4 5
4 Perdarahan
  1 2 3 4 5
5 Nyeri
1 2 3 4 5
6 Hematoma
1 2 3 4 5
Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Risiko Intoleransi Toleransi Aktivitas Manajemen Energi
aktivitas Observasi:
D.0060 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24  Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
jam diharapkan toleransi aktivitas meningkat. mengakibatkan kelelahan
Pengertian : Kriteria Hasil:  Monitor pola dan jam tidur
Berisiko Menurun Cukup Sedang Cukup Meningk  Monitor kelelahan fisik dan emosional
mengalami Menurun Meningk at
ketidakcukupan at
energy untuk 1 Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
melakukan   1 2 3 4 5
aktivitas sehari- 2 Kekuatan tubuh bagian atas dan bawah
hari   1 2 3 4 5
Meningka Cukup Sedan Cukup Menurun
t Meningk g Menuru
at n
3 Keluhan lelah
  1 2 3 4 5
4 Dispnea saat aktivitas
  1 2 3 4 5
Risiko Defisit Status Nutrisi Manajemen gangguan makan
Nutrisi Observasi:
D.0032 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam  Monitor asupan dan keluarnya
status nutrisi terpenuhi. makanan dan cairan serta kebutuhan
Pengertian : Kriteria Hasil: kalori
Risiko mengalami Menuru Cukup Sedang Cukup Meningk Terapeutik:
Asupan nutrisi n Menuru Meningk at
tidak cukup untuk n at
memenuhi 1 Porsi makanan yang dihabiskan
kebutuhan   1 2 3 4 5
metabolisme. 2 Berat Badan atau IMT
  1 2 3 4 5
3 Frekuensi makan
  1 2 3 4 5
4 Nafsu makan
  1 2 3 4 5
5 Perasaan cepat kenyang
  1 2 3 4 5

Diagnosa Perencanaan Keperawatan


Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Defisit Pengetahuan Tingkat Pengetahuan Edukasi Kesehatan
D.0111 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 Observasi:
jam diharapkan tingkat pengetahuan membaik  Identifikasi kesiapan dan kemampuan
Pengertian : Kriteria Hasil: menerima informasi
Ketiadaan atau Menurun Cukup Sedang Cukup Meningk  Identifikasi faktor-faktor yang dapat
kurangnya informasi Menurun Meningk at
kognitif yang at
berkaitan dengan 1 Perilaku sesuai anjuran
topik tertentu   1 2 3 4 5
2 Kemampuan menjelaskan pengetahuan suatu topik
  1 2 3 4 5
Meningka Cukup Sedan Cukup Menurun
t Meningk g Menuru
at n
3 Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi
  1 2 3 4 5
4 Persepsi yang keliru terhadap masalah
  1 2 3 4 5
5 Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat
1 2 3 4 5
6 Perilaku
1 2 3 4 5
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edis 8.
Jakarta: EGC.

David, A. (2011). Pustaka Kesehatan Populer Saluran Pencernaan (Vol. 4).

Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.


Dermawan, D., & Rahayuningsih, T. (2010). Keperawatan Medikal Bedah
(SistemPencernaan). Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Mansjoer, A. (2013). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus

Smeltzer,dan Bare (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Jakarta: EGC

Yessie, A. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Keperawatan Dewasa Teori dan


Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha Medika.

Anda mungkin juga menyukai