Anda di halaman 1dari 6

REKAP UJIAN EVALUASI

Nama: Hamidah, AMKG

Kelompok 2B, Angkatan IV

Kabupaten Bangkalan

Study Kasus :
Membangun Efektifitas Pelayanan Publik melalui Mall Pelayanan Publik

Dinamika perkembangan zaman memaksa semua negara di dunia untuk terus melakukan
transformasi terhadap tata kelola pemerintahan yang dituntut semakin profesional, cepat, efektif, adaptif
untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Indonesia sendiri yang tumbuh dalam era demokratisasi, juga
memasuki era digitalisasi dan virtualisasi, serta memiliki proyeksi menjadi the big five state in the world.

Reformasi birokrasi sebagai arus utama pendorong gelombang revolusi tata kelola pemerintahan
tidak lagi hanya untuk mengontrol jalannya birokrasi dan menghadirkan pelayanan. Namun juga harus
bergerak untuk mengubah paradigma para administrator publik untuk menempatkan masyarakat sebagai
aspek terdepan dan prioritas, dan memposisikan pemerintah sebagai representasi publik, serta membangun
institusi publik yang berintegritas, responsif melayani dan aktif memberdayakan masyarakat untuk terlibat
langsung dalam pengaturan dan implementasi berbagai kebijakan publik di tingkat pusat maupun daerah.

Dimana selama ini masih banyak permasalahan dalam kegiatan dan proses pemberian layanan
kepada masyarakat. Menjembatani kondisi tersebut, beberapa pemerintah daerah berlomba-lomba bersaing
dan berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Namun seringkali upaya tersebut
masih belum memberikan hasil yang maksimal sehingga pada akhirnya tidak solutif dan terkadang
menimbulkan kerumitan dalam proses pelayanan kepada masyarakat.

Denhardt dan. Denhardt, dalam bukunya mengungkapkan bahwa salah satu agenda reformasi
yang dijalankan oleh beberapa negara maju, adalah dengan menguatkan hubungan antara institusi publik
dengan pelanggannya (masyarakatnya) sebagai "mekanisme transaksi pasar yang melahirkan suatu komoditas
kepentingan bersama".

Melalui konsep yang ditawarkan, dapat dicermati bahwa konsep the new public management
dalam administrasi negara sudah hadir. Dia telah mengelaborasi sentuhan maupun pendekatan pelayanan
negara yang lebih demokratis (lebih meningkatkan kepercayaan publik), menjembatani harapan dan
keinginan warga, memberikan ruang bagi keterlibatan sosial dalam pemerintahan, menyegarkan kembali
birokrasi publik, membangkitkan legitimasi bagi pemerintahan, serta melahirkan konsep the new public
service.

Sebagaimana kita ketahui, selama ini masih banyak kekurangan dari penyedia layanan publik
sebagaimana yang dirumuskan dalam seminar evaluasi kualitas pelayanan public dinyatakan bahwa terdapat
beberapa permasalahan dalam pelayanan publik. Diantaranya masih sedikit instansi yang wajib memberikan
layanan yang berstandar operasional prosedur, dan adanya kejelasan. Masih ada beberapa instansi
penanggung jawab dan penyedia layanan yang masih belum mempunyai SOP berupa alur dan prosedur yang
jelas dalam menyediakan pelayanan. Aspek durasi waktu pemberian layanan masih belum ada sehingga
kurang efektif dan efisien serta dapat merugikan waktu masyarakat yang sedang mengakses pelayanan. Saat
ini hanya beberapa penyedia layanan yang telah memiliki durasi waktu pemberian layanan seperti
perpanjangan surat kendaraan yang sudah memiliki standar SOP dan durasi waktu pengurusan

pelayanan. Dalam konteks pemberian pelayanan, seringkali ditemukan ketidakmampuan petugas


pemberi layanan disebabkan karena kompetensi yang rendah serta kurang sesuai dengan pekerjaan untuk
menyediakan pelayanan yang baik; Masih ada penyedia layanan yang bersikap kurang ramah, kurang sopan
atau tidak jelas dalam berbicara, memberitahukan suatu informasi dengan tidak ramah/santun.

Selain itu masih ada penyedia layanan masih belum menggunakan sarana prasarana yang layak
serta sesuai kebutuhan konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel, ruang laktasi, antrian khusus bagi
lansia, dan sistem konektivitas jaringan komputer, internet sehingga pada saat pengurusan layanan yang
membutuhkan koneksi server pusat, layanan tidak dapat diberikan karena tidak ada koneksi jaringan.

Mal Pelayanan Publik

MPP pada dasarnya merupakan pengintegrasian pelayanan publik dari daerah dengan berbagai
pelayanan publik instansi pemerintah pusat, BUMN dan kalau mungkin swasta, boleh jadi merupakan model
pelayanan terpadu generasi ketiga. Generasi pertama adalah Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSA), kemudian
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dan kini MPP.

Konsep MPP ini terinspirasi dari Public Service Hall (PSH) yang ada di Georgia, yakni pusat
pelayanan terpadu dan terintegrasi, baik antar kementerian maupun dengan pemerintah lokal. Sejak tahun
2018, Kementerian PANRB terus mendorong sejumlah pemda untuk menerapkan konsep MPP di daerahnya.

Mempelajari hal itu, lalu disesuaikan dalam konteks indonesia, Kemenpan RB menghadirkan
Mal Pelayanan Publik (MPP) Indonesia, yang lebih progresif memadukan pelayanan dari pemerintah pusat,
daerah dan swasta dalam satu tempat. Bahkan menyatukan pelayanan publik lintas kewenangan yang pada
umumnya sulit dilakukan karena struktur birokrasi di Indonesia yang sangat besar.

Deputi Bidang Pelayanan Publik Diah Natalisa mengatakan, saat ini MPP sudah terbangun di
sejumlah daerah, antara lain Kota Batam, Provinsi DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Banyuwangi, Kota
Denpasar, Kabupaten Karangasem, Kota Surabaya, Kabupaten Tomohon, dan Kota Bitung. Dikatakan,
pembangunan MPP sejalan dengan kebijakan Gerakan Indonesia Melayani, yang tertuang dalam Instruksi
Presiden No. 12/2016.

Dalam hal ini, Kementerian PANRB mendapat mandat untuk mengkoordinasikan Program
Gerakan Indonesia Melayani (GIM), sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang
meliputi lima Gerakan. Empat gerakan lainnya adalah Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib,
Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.

Kehadiran Mal Pelayanan Publik, juga tidak mendegradasi generasi Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (PTSP), justru ini keistimewaannya MPP dapat memayungi PTSP tanpa pula mematikan pelayanan
yang sudah ada sebelumnya. Sebab PTSP di daerah sebenarnya sudah berjalan baik (melalui kerangka 7
regulasi PP nomor 18/ 2016 tentang perangkat daerah).

Namun, ada kendala yang perlu disempurnakan, antara lain sebagian besar perizinan bergantung
pada dinas teknisnya sehingga terjadi kelambatan proses; beberapa pemda belum mengikat perizinan dengan
sertifikasi ISO sehingga ada celah tidak terkontrol dan tidak transparan sehingga menjadi temuan lembaga
pengawasan.
Oleh karena itu, Kemenpan RB mendorong penuh upaya penyederhanaan perizinan melalui satu
sistem aplikasi yang terintegrasi yang juga bernama -- one single submission tersebut, dan juga memang
sejalan dengan pembangunan sistem pemerintahan berbasis elektronik (e-government) sebagaimana perpres
nomor 95/ 2018.

Hingga sekarang, tahapannya masih pada identifikasi terhadap bentuk proses bisnis dan tata
kelola data lintas instansi yang mengintegrasikan karakter format dan definisi data yang berbeda; integrasi
layanan dan interoperabilitas data yang membutuhkan rekayasa aplikasi ulang; serta pembentukan arsitektur
spbe untuk menyamakan cara pandang bagi integrasi pelayanan publik. Berdasarkan evaluasi, pemerintah
provinsi, kabupaten, dan kota, juga semakin berlomba untuk membangun Mal Pelayanan Publik.

Mal Pelayanan Publik sebagai the new public service adalah jawaban bagi harapan publik
tentang kemudahan perijinan, kecepatan pelayanan dan akhirnya mendorong kemudahan berusaha,
meningkatkan pertumbuhan industri mikro maupun ekonomi makro. Melalui MPP, pola pikir yang ego
sektoral antar instansi diubah menjadi kerja bersama yang berfokus pada komitmen melayani masyarakat.
Bahkan, MPP mampu menjadi inkubator bagi tumbuhnya pelayanan pemerintah yang 9 mengadopsi
teknologi, serta menjadi wahana leadership yang melahirkan para ASN teladan berjiwa hospitality.

MPP menjadi media untuk membangun sistem kerja dan sinergi yang utuh, mempraktikkan
perubahan budaya kerja yang melayani, panggung untuk menampilkan wajah birokrasi yang mengadopsi the
new public service, sehingga benar-benar merepresentasikan kehadiran negara untuk memberikan manfaat
luas bagi kepentingan dan kemakmuran masyarakat.
Detail Ujian:
Soal Mendeskripsikan rumusan kasus dan/ atau masalah pokok, aktor
yang terlibat dan persan setiap aktornya berdasarkan konteks
deskripsi kasus.

Jawaban Anda 1. Masih ada beberapa instansi penanggung jawab dan penyedia
layanan yang masih belum mempunyai SOP berupa alur dan
prosedur yang jelas dalam menyediakan pelayanan.
2. Hanya beberapa penyedia layanan yang telah memiliki durasi
waktu pemberian layanan seperti : perpanjangan surat
kendaraan yang sudah memiliki standar SOP dan durasi waktu
pengurusan pelayanan.

Soal Melakukan analisis terhadap :

A. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar


PNS, dan Pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dan
NKRI oleh setiap aktor yang terlibat berdasarkan konteks
deskripsi kasus.

B. Dampak tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan


pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI
berdasarkan konteks deskripsi kasus

Jawaban Anda A. Bentuk penerapan dan pelanggaran nilai dasar PNS:

- Pelanggaran nilai komitmen mutu

Seringkali ditemukan ketidakmampuan petugas penyedia


layanan dalam memberikan pelayanan publik disebabkan
karena tingkat profesionalisme yang rendah.

Peran PNS : mengadakan pelatihan agar petugas lebih


profesional.

masih ada penyedia layanan masih belum menggunakan


sarana prasarana yang layak serta sesuai kebutuhan
konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel, ruang laktasi,
antrian khusus bagi lansia, dan sistem konektivitas jaringan
komputer, internet sehingga pada saat pengurusan layanan
yang membutuhkan koneksi server pusat, layanan tidak dapat
diberikan karena tidak ada koneksi jaringan. Peran PNS :
Segera mengajukan sarana dan prasarana yang layak

- Pelanggaran nilai Etika publik


Masih ada penyedia layanan yang bersikap kurang ramah,
kurang sopan atau tidak jelas dalam berbicara,
memberitahukan suatu informasi dengan tidak ramah/santun.

peran PNS : PNS seharusnya menerapkan sikap santun saat


bertemu masyarakat yang mengakses layanan.

- Pelanggaran nilai anti korupsi

Aspek durasi waktu pemberian layanan masih belum ada


sehingga merugikan waktu masyarakat dalam mengakses
pelayanan.

peran ASN : menerapkan waktu yang berkualitas

- Pelanggaran nilai Akuntabilitas


Ketidakmampuan petugas memberi layanan disebabkan
karena kompetensi yang rendah.
peran PNS : melakukan pelatihan penyedia pelayanan

- Pelanggaran nilai nasionalisme

menyatukan pelayanan publik lintas kewenangan sulit


dilakukan karena struktur birokrasi di Indonesia yang sangat
besar.

peran PNS : melakukan kerjasama antar lintas kewenangan


pelayanan publik.

Aktor yang terlibat : pemerintah pusat dan daerah

Peran PNS : pelaksana kebijakan publik

B. Dampak tidak diterapkannya nilai dasar PNS


- Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
- Korupsi menjadi budaya didalam pelayanan publik.
- Rasa tidak nyaman masyarakat saat mengakses pelayanan.
- Semakin jauh terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Soal Mendeskripsikan gagasan-gagasan alternatif pemecahan masalah


berdasarkan konteks deskripsi kasus
Jawaban Anda Alternatif pemecahan masalah :
1. Pemerintah mendorong instansi penanggung jawab dan
penyedia layanan yang masih belum mempunyai SOP untuk
segera membuat SOP dan mengadakan inovasi.
2. Pemerintah mendorong penyedia layanan yang belum memiliki
durasi waktu pemberian layanan