Anda di halaman 1dari 5

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH (UPBJJ-UT) BANDUNG
2020
RESUME MODUL 5&6

Mata Kuliah : Perkembangan Peserta Didik

TUTOR : Muslim Triaji Sundasyah,S.Pd.M.Pd


Nama /kelas : Susi Supriyatin /A
NIM : 857438222
Program studi : PGSD – S1 masukan
Pokjar : Bandung

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MODUL 5


MODUL 5
KB 1 Karakteristik dan kebutuhan Pendidikan anak yang berkelainan fisik

Bagian otak yang mengatur hubungan pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan,
pengenal rasa dan penciuman adalah corpus collosum.
Karakteristik umum kesulitan yang dialami anak berkelainan fisik:
1. Kesulitan memproses, terjadi bila gangguan syaraf menghambat diterimanya informasi
atau untuk mengungkap sesuatu secara memadai
2. Kesulitan dalam motivasi terjadi bila kebutuhan akan usaha pribadi berinteraksi dengan
image diri dan percaya diri, yang berakibat pada berbagai motivasi
3. Kesulitan berpartisipasi terjadi bila gangguan fisik menghambat kemampuan anak untuk
bergabung dalam kegiatan kelas.
Beberapa kelainan fisik:
1. Cerebral Palsy, ketidaknormalan gerakan dan postur karena gangguan atau
ketidakmatangan otak (Denhoff). Cerebral palsy sebagai akibat dari kerusakan gangguan
otak dapat ditelusuri, mungkinkarena adanya kerusakan fisik (trauma) atau oleh penyebab
lain yang tidak langsung misal kekurangan oksigen, contol lain, epilepsi adalah bagian dari
cerebral palsy.
2. Spina Bifida, Gangguan saraf pada spina bifida terpusat, sedangkan pada cerebral palsy
gangguannya menyebar. Gangguan lain yang terjadi pada spina bifida dan sering
memerlukan bantuan operasi (pembedahan) adalah hydrocephalus.
3. Epilepsi,gangguan saraf yang mempengaruhi pendidikan anak. Convulsion adalah istilah
yang digunakan untuk menerangkan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang bila
gangguan pada bagian otak tertentu.

KB 2 Karakter dan Kebutuhan Pendidikan Anak yang Berkelainan fisik


Konsep intelegensi dikembangkan berdasarkan tulisan . Binet memandang intelegensi
sebagai bagian dasar manusia yang mencakup judgement,intiative,adaptation terhadap suatu
keadaan.
IQ normal menurut skala Binet dari Amerika Serikat adalah antara 61-100.
Klasifikasi berdasarkan IQ pada ketidakmampuan intelektual
Tingkat ketidakmampuan Menurut skor Binet Menurut skor Wechsler
Ringan 68-52 69-55
Sedang 51-36 54-40
Parah 35- 39-
Menurut Bower, siswa yang emosinya terganggu mempunyai karakteristik:
1. Ketidakmampuan belajar, yang tidak dapat diterangkan dengan faktor kesehatan intelektual
dan sensori
2. Ketidakmampuan membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal dengan teman
dan gurunya
3. Bentuk perilaku dan perasaan yang tidak memadai tapi berada di bawah normal
4. Menunjukkan ketidakbahagiaan dan berada dalam suasana depresi
Bower mendefinisikan penyimpangan perilaku yang mencakup tingkat,durasi,variasi
perilaku,dan hubungan terhadap kondisi-kondisi ketidakmampuan lainya.
Peserta Didik Autis
Autis berasal dari bahasa Yunani dari kata autos,yang berarti diri.istilah pertama yang
digunakan oleh Eugene Bleur.Selain faktor genetik jua karena lingkungan yang tercemar
populasi, pandangan yang lebih mendapat dukungan ilmuwan mengungkapkan bahwa kelainan
sistem kerja otak, terutama pada lapisan korteks serbral, serebelum dan sistem limbik
merupakan penyebab autistik pada anak.
1. Karakteristik anak autis
Menurut pengklarifikasian Lauren B. Alloy, dkk, dalam Abnormal Psychology, empat
karakteristik anak autis; isolasi diri, keterbelakangan mental, kemampuan bahasa rendah, dan
perilaku menyimpang.
Ciri (khas) perilaku anak autis: Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, Anak tidak dapat
mengikuti jalan pikiran orang lain dan tidak mempunyai empati ,pemahaman anak sangat
kurang, kadangkala anak mempunyai daya ingat yang sangat kuat, anak mengalami kesukaran
dalam mengekspresikan perasaannya, memperbaiki perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-
goyang, mengepakkan tangan
2.Relasi Pendidik dan peserta didik dalam Setting pembelajaran autis
Empati dan peran aktif keluarga memainkan peran yang sangat menentukan
keberhasilan pembelajaran terhadap anak autis.
3. Stategi pembelajaran anak autis
Strategi pembelajaran sebagaimana dikemukakan Wina Sanjaya adalah perencanaan yang
berisi serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu..

KB 3 Karakter dan kebutuhan Pendidikan Anak berkesulitan belajar


Beberapa modifikasi tugas untuk memfasilitasi perkembangan siswa diuraikan berikut
ini:
1.Modifikasi tugas disesuaikan pada kesiapan siswa
Tugas -tugas dapat dianalisis melalui dimensi proses.Spenry menunjukan dimensi-dimensi
untuk dipertimbangkan dalam menganalisis tugas-tugas dari yang paling sulit kepada yang
paling sulit.: Dari situasi sosial kepad yang non social - Dari materi dan respon yang abstrak
kepada yang konkret -.Dari materi yang verbal kepada yang non verbal
2.Modifikasi proses -proses tugas disesuaikan dengan gaya -gaya belajar siswa
Meichenbaum menyarankan 3 langkah dalam modifikasi tugas :Manipulasi tugas -
mengubah lingkungan -Berikan dukungan atau spirit
Pendidikan inklusif
Merupakan suatu pandangan yang menuntut adanya perubahan layanan pendidikan yang tidak
diskriminatif ,menghargai perbedaan, dan pemenuhan kebutuhan setiap individu berdasarkan
kemampuanya.
Phil Foreman: pendidikan inklusif adalah sebuah proses yang sistematis mengantarkan anak-
anak berkebutuhan khusus dan kelompok anak tertentu pada usia yang sama kedalam
lingkungan yang alami dimana umumnya anak-anak bermain dan belajar.
Bern dalam budi.H :merupakan filosofi pendidikan yaitu bagian dari keseluruhan.
Stainback dalam Sunardi:merupakan sekolah yang menampung semua siswa di kelaas yang
sama dengan layanan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
Johnsen dan Miriam Skojen menjabarkan 3 prinsip pendidikan inklusif:
1.Bahwa setiap anak termasuk dalam komunitas setempat dan dalam suatu kelas atau kelompok
2.Hari sekolah diatur penuh dengan tugas -tugas pembelajaran kooperatif dengan
perbedaan pendidikan dan fleksibilitas dalam memilih dengan sepuas hati
3.guru bekerja bersama dan mendapat pengetahuan pendidikan umum,khusus dan tekhnik
belajar individu serta keperluan pelatihan dsan bagaimana mengapresiasikan keanekaragaman
dan perbedaan individu dalam pengorganisasian kelas
Mulyono dalam Sri Wahyu Ambarwati mengidentifikasi prinsip pendidikan inklusif
kedalam 9 elemen: Sikap guru yang positif terhadap kebhinekaan, interaksi promotif ,yaitu
upaya untuk saling menolong dan saling memberi motivasi dalam belajar, pencapaian
kompetensi akademik dan social, pembelajaran adaptif, konsultasi kolaboratif, hidup dan
belajar dalam masyarakat ,hubungan kemitraan antara sekolah dan keluarga, belajar dan
berfikir independen, belajar sepanjang hayat.
Prosedur pembelajaran yang inklusif:pembentukan tim pembelajaran inklusif,
mengidentifikasi kebutuhan, mengembangkan tujuan pembelajaran, merancang
pengembangan pembelajaran, menentukan evaluasi kemajuan

MODUL 6
IMPLIKASI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK TERHADAP
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

KB. 1 Kriteria Perencanaan Pembelajaran yang Sesuai dengan Karakteristik Peserta


Didik
A. Perencanaan Pembelajaran Bagi Anak Usia SD
Karakteristik perkembangan anak usia SD yakni senang beraktivitas fisik secara bebas,
bermain dan bekerja dalam kelompok, operasional konkrit, menghubungkan konsep-
konsep baru dengan konsep-konsep lama. Kemudian mereka membentuk konsep-konsep
tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi, badan, dan peran, jenis kelamin, moral, dan
sebagainya.
Menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan anak usia SD adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan sehari-hari
2. Membangun keutuhan sikap terhadap diri sendiri sebagai organisme yang sedang
tumbuh
3. Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok sebaya
4. Mempelajari peran social sebagai pria atau wanita
5. Pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
6. Pengembangan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari
7. Pengembangan kata hati, moral dan nilai-nilai
8. Mencapai kemandirian pribadi
B. Perencanaan Pembelajaran Bagi Anak Usia Sekolah Menengah
1. Karakteristik Perkembangan Fisik dan Perilaku Psikomotorik
Perkembangan fisik remaja awal sangat pesat sehingga sering menyebabkan
kekurangseimbangan pada proporsi tinggi dan berat badannya. Selain itu pada masa
ini tumbuh ciri-ciri primer dan sekunder.
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa dan Perilaku Kognitif
Fase remaja muncul keinginan untuk mempelajari bahasa asing, sehingga guru
harus memiliki kearifan untuk memahami kemampuan remaja secara individual.
Keinginan mereka untuk membaca telah tumbuh, guru hendaknya memberikan tugas-
tugas untuk membuat resesi isi buku atau mengarang.
3. Karakteristik Perilaku Sosial, Moralitas dan Keagamaan
Perkembangan aspek keagamaan pada usia ini memasuki masa kritis dan
skeptis. Remaja mulai mempertanyakan secara skeptis mengena eksistensinya, sifat
kemurahan dan keadilan Tuhan, usia sekolah menengah berupaya mencari dan
mencoba menemukan pegangan hidupnya. Reaksi dan ekspresi emosinya masih labil
dan belum terkendali, serta sering berubah dengan cepat.
4. Karakteristik Perilaku Afektif, Konati dan Kepribadian
Memasuki usia sekolah menengah ada lima kebutuhan dari Maslow, yaitu:
kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, afiliasi sosial, penghargaan dan perwujudan
diri.
C. Perencanaan Pembelajaran Bagi Usia Dewasa
Belajar pada orang dewasa hendaknya ditujukan pada menemukan sendiri, terutama
dalam pencarian solusi terhadap suatu masalah. Di samping itu belajarnya diarahkan
kepada kemampuan berpikir konsep (abstraksi). .
D. Perencanaan Pembelajaran Bagi Anak Berkelainan Fisik dan Psikis
Perencanaan pembelajaran untuk ABK disesuaikan dengan data hasil asesmen yang
mencakup kebutuhan dan karakteristik ABKnya.
E. Modifikasi Tugas-tugas Disesuaikan dengan Kemampuan dan Gaya Belajar
Siswa
1. Modifikasi tugas disesuaikan kesiapan siswa
2. Modifikasi proses-proses tugas disesuaikan dengan gaya-gaya belajar siswa
KB. 2 Kriteria Pelaksanaan Pembelajaran yang Sesuai dengan Karakteristik Peserta
Didik
A. Penyelenggaraan Pendidikan Bagi Anak Usia Sekolah Dasar
Pendidikan untuk usia SD dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal dan jalur
Pendidikan luar sekolah
B. Penyelenggaraan Pendidikan Bagi Anak Usia Sekolah Menengah
Pada jenjang Pendidikan menengah jenis sekolah dibedakan menjadi SMU, SMK, dan
Madrasah Aliyah. Sedangkan jalur luar sekolah adalah pondok pesantren.
C. Penyelenggaraan Pendidikan Bagi Orang Dewasa
Pendidikan sepanjang hayat mengharuskan orang dewasa untuk terus belajar agar mampu
menjalani kehidupannya secara optimal. Pendidikan orang dewasa memiliki fleksibelitas
yang tinggi menyesuaikan dengan alur aktivitas kehidupannya yang kompleks.
D. Penyelenggaraan Pendidikan Bagi Anak Berkelainan Fisik dan Psikis
Pada anak berkelainan kemampuan-kemampuan dapat dimiliki dengan belajar yang terus
menerus, dan latihan serta praktek yang menetap.
E. Penyelenggaraan Pendididkan Bagi Anak Berkesulitan Belajar
Pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan dalam atmosfer pembelajaran yang lebih
mendukung serta lebih individualis dengan lebih meningkatkan keterlibatan anak,
menyemangati anak, menggunakan masalah dalam kehidupan nyata sebagai salah satu
media belajar, pembelajaran menggunakan langkah-langkah kecil secara beruntun.
KB. 3 Kriteria Penilaian Pembelajaran yang Sesuai dengan Karakteristik Peserta Didik
A. Penilaian Bagi Peserta Didik Usia Sekolah Dasar
Penilaian bagi peserta didik usia sekolah dasar merujuk pada unsur-unsur sebagai berikut.
Keterampilan fisik ;Bagi kelas-kelas rendah membaca, menulis, dan berhitung ;nilai-nilai
yang berkaitan dengan moral, budi pekerti, etika, dan estetika; kemampuan mengendalikan
diri dan melakukan tenggang rasa, dan kemandirian;penguasaan materi pembelajaran untuk
setiap mata pelajaran
B. Penilaian Bagi Peserta Didik Usia Sekolah Menengah
unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam penilaian pembelajaran usia menengah yakni
sebagai berikut: keterampilan fisik yang sesuai dengan tahap perkembangannya, nilai-nilai
yang berkaitan dengan moral, budi pekerti, etika, dan estetika,kemampuan bekerja/belajar
mandiri, kemampuan mengendalikan diri dan bekerja sama dengan teman-temannya serta
berkomunikasi
C. Penilaian Bagi Orang Usia Dewasa
Dałam penilaian terhadap orang dewasa perlu diperhatikan: berkaitan dengan masalah
nyata untuk ditemukan pemecahannya, tidak lagi recall ,tetapi lebih ke arah aplikasi teori
(generalisasi), pengkajian konsep dan mencari keterkaitan antara suatu konsep dengan
konsep lainnya dałam suatu situasi atau kondisi tertentu, penilaian mengarah kepada kerja
sama antara pendidik dan peserta didik
D. Penilaian Bagi Peserta Didik Berkelainan
Penilaian hendaknya mengukur derajat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan dałam setiap tujuan jangka pendek atau tujuan instruksional khusus dengan
indikator keberhasilan peserta didik adalah terlihat dari perubahan perilaku pada diri
peserta didik itu sendiri sebelum dan setelah diberikan perlakuan (evaluasi proses dan
hasil)
E. Penilaian Bagi Anak Berkesulitan Belajar
Penilaian bagi anak berkesulitan belajar dilakukan bersama oleh guru kelas dan guru
pendamping, dan bergantung kepada kesulitan yang dialami anak. Dalam evaluasi ini ialah
anak mendapat kemajuan dalam belajarnya walau tidak sepesat teman-teman lainnya di
kelas merupakan suatu pemahaman penting bagi guru.