Anda di halaman 1dari 8

PENERAPAN METODA MOCK DAN ANALISIS FREKUENSI

UNTUK MENGHITUNG DEBIT ANDALAN


DAS KURANJI PADANG

Nur Febrianti, S.Si

Bidang Aplikasi Klimatologi dan Lingkungan, PUSFATSATKLIM LAPAN


e-mail: nfebrianti@gmail.com

Abstrak. Dalam perencanaan proyek-proyek di bidang teknik sumberdaya air (misalnya


PLTA, PDAM dan irigasi), biasanya terlebih dulu harus dicari debit andalan (depenable
discharge). Debit andalan ini diantaranya digunakan sebagai debit perencanaan yang
diharapkan tersedia untuk mengatur distribusi air minum dan memperkirakan luas daerah
irigasi. Namun pengumpulan data debit seringkali bermasalah karena kondisi lokasi yang
tidak memungkinkan sehingga menyebabkan tidak kontinunya data debit. Dengan
menggunakan Metode Mock diharapkan dapat memprediksi debit yang tidak kontinu
tersebut sehingga memadai untuk menentukan debit andalan. Debit andalan sendiri
diperoleh dengan menggunakan Sebaran Normal, dan Log Pearson tipe III. Dari hasil
kalibrasi nilai koefisien infiltrasi (i) dan faktor resesi air tanah (k) masing-masing sebesar
0,7 dan 0,9. Dengan menggunakan kedua nilai tersebut debit sungai setengah bulanan
berkisar antara 14,7 – 24,7 m3/s. Debit andalan 80% setengah bulanan yang mengikuti
sebaran Normal dan dapat memenuhi kebutuhan irigasi Kota Padang berkisar antara 8,8 –
16,9 m3/s.

Kata kunci : Debit Andalan, Metode Mock, Sebaran Normal, dan Log Pearson tipe III

1. Pendahuluan
Sumber daya air permukaan yang meliputi saluran irigasi, sungai dan situ merupakan
bagian dari aspek sumberdaya air (SDA) yang ada di wilayah Kota Padang, perlu
mendapat perhatian sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal serta mengurangi bahaya
yang diakibatkannya (daya rusak air), seperti: bencana banjir, genangan air, luapan
sedimen/lumpur, erosi, longsoran tebing, dan lain sebagainya.

Dalam perencanaan proyek-proyek di bidang teknik sumberdaya air (misalnya PLTA,


PDAM dan irigasi), biasanya terlebih dulu harus dicari debit andalan (depenable
discharge). Debit andalan ini diantaranya digunakan sebagai debit perencanaan yang
diharapkan tersedia untuk mengatur distribusi air minum dan memperkirakan luas daerah
irigasi.

Di Indonesia pada umumnya alokasi air dilakukan untuk periode setiap 15 harian atau
setengah bulanan (kecuali Jawa Timur yang menggunakan periode 10 harian atau dasa
harian), artinya Rencana Alokasi Air Global (RAAG) maupun alokasi air secara tepat
waktu dilakukan dalam periode setengah bulanan (Hatmoko & Amirwandi, 2002).
Namun pengumpulan data debit seringkali bermasalah karena kondisi lokasi yang tidak
memungkinkan sehingga menyebabkan tidak kontinunya data debit. Dengan adanya
pertimbangan tersebut maka diperlukan suatu metode untuk menduga besar debit sungai
yang salah satunya dikembangkan oleh Mock (1973). Untuk menghitung debit sungai,
metode ini hanya membutuhkan data iklim dan karakteristik tanah, sedangkan dalam
perhitungannya selain limpasan permukaan langsung ada juga aliran bawah tanah.
Sebagai studi kasus, model disimulasikan pada DAS Batang Kuranji, Padang. DAS ini
dipilih karena data yang tersedia cukup lengkap, sehingga model dapat diverifikasi.
Aliran permukaan yang terjadi diakibatkan oleh hujan saja. Hujan diberikan sesuai
dengan data pengukuran curah hujan dan hasil model dibandingkan dengan data debit
pengukuran yang terjadi akibat hujan tersebut.

Tujuan Penelitian
Dengan menggunakan Metode Mock dan analisis frekuensi diharapkan dapat menentukan
debit andalan DAS Kuranji.

2. Metodologi
Metode yang digunakan merupakan model neraca air yang menggambarkan urutan proses
dalam siklus hidrologi. Dalam penelitian ini menggunakan model neraca air sistem
tatabuku (Book Keeping) yang dikembangkan oleh Thornthwaite dan Mather (1957).
Evapotranspirasi dihitung menggunakan metode Penman (Handoko, 1995) yang sering
juga disebut metode kombinasi antara faktor radiasi dan aerodinamik dengan persamaan
dasar:
ETo = c × {(W × Rn ) + ((1 − W )× f (u )× (e a − e d ))} (1)
dimana Rn merupakan radiasi netto (mm/hari), ea dan ed berturut-turut adalah tekanan uap
air jenuh dan tekanan uap air kering (mm bar).
Surplus air merupakan kelebihan air yang terus berlangsung selama musim hujan:
S = (CH − ETo ) − dKAT (2)
dimana dKAT merupakan selisih dari kondisi kandungan air tanah daerah tersebut.

Untuk menjelaskan proses aliran air di dalam sistem tanah dan sungai menggunakan
pendekatan yang dikembangkan oleh Mock. Perhitungan ini membutuhkan data curah
hujan, ETo, kelembaban tanah dan tampungan air tanah untuk menduga besarnya
limpasan. Metode ini mampu menduga infiltrasi (I), aliran dasar (Bf), dan limpasan (Ro)
yang nilainya sesuai dengan persamaan berikut:
I = S ×i (3)
DRo = S − I (4)
V n = [0,5 × (1 + k )× I ] + (k × V n −1 ) (5)
Bf = I × (V n − V n −1 ) (6)
Ro = Bf + DRo (7)
dimana I adalah infiltrasi, S merupakan surplus yang didapat dari persamaan (2), i adalah
koefisien infiltrasi, Vn untuk simpanan air tanah, Bf merupakan aliran dasar, dan Ro yang
merupakan limpasan. Sehingga untuk debit sungai dihitung dengan persamaan:
Ro
× CA
Q = 1000 (8)
86400 × N
dimana debit sungai (Q) dalam satuan m3/s, limpasan (Ro) dalam satuan mm, luas daerah
aliran sungai (CA) dalam m2, dan N merupakan jumlah hari dalam satu bulan.

Pada perhitungan menggunakan metode Mock perlu dilakukan kalibrasi terhadap nilai
koefisien infiltrasi (i) dan faktor resesi air tanah (k) yang sangat dipengaruhi oleh
topografi dan jenis tanah. Penentuan kedua nilai ini dilakukan dengan menguji semua
koefisian pada selang nol sampai satu. Pada umumnya i yang digunakan untuk daerah
dataran rendah dan pegunungan masing-masing adalah 0,3 dan lebih dari 0,5, sedangkan
untuk k berkisar antara 0,5 untuk daerah dataran rendah dan 0,6 untuk daerah
pegunungan. Untuk mendapatkan nilai i dan k yang sesuai maka digunakan Uji MSE
(Mean Squared Error) yang dihitung sesuai dengan persamaan:
n

∑ (Y − yˆ )
i =1
i i
2

MSE = (9)
n−2
dimana Yi merupakan rataan hasil perhitungan, Ŷi merupakan rataan hasil pengukuran
langsung, dan n merupakan jumlah data. Nilai MSE terkecil dari i dan k yang nantinya
digunakan dalam perhitungan debit sungai.

Validasi model dilakukan dengan membandingkan rataan dan ragam antara data debit
hasil perhitungan dan data debit pengukuran lapang dengan menggunakan pengujian
statistik. Dimana uji kesamaan rataan debit hasil perhitungan dan rataan debit pengukuran
di lapangan dilakukan dengan menggunakan uji t’ dengan hipotesis pengujian Ho : µ1 =
µ2, H1 : µ1 ≠ µ2
μ1 − μ 2 (10)
t'=
1 1
Sp +
n1 n2
tolak Ho jika, t’ < -tα/2 atau t’ > tα/2, dimana µ1 dan µ2 merupakan rataan debit
pengukuran dan debit hasil perhitungan, n1 dan n2 masing-masing merupakan jumlah data
debit pengukuran dan debit hasil perhitungan.
Sedangkan uji kesamaan ragam debit hasil perhitungan dengan debit pengukuran di
lapangan dilakukan dengan menggunakan uji F. Hipotesis pengujian yang digunakan Ho :
S1 = S2, H1 : S1 ≠ S2
S12
F= (11)
S22
tolak Ho jika, F < -F-α/2(v1,v2), dimana S12 dan S22 merupakan ragam debit pengukuran
dan debit hasil perhitungan, v1 dan v2 masing-masing merupakan jumlah data debit
pengukuran dan debit hasil perhitungan.

Debit andalan merupakan debit yang dirancang berdasarkan konsep peluang dan dapat
diduga dengan menggunakan metode sebaran Normal, dan Log Pearson tipe III
(Viessman et al., 1977). Sebaran Normal dihitung dengan persamaan yang berikut ini:

∑ (x )2
n

j −M
j =1
S= (12)
n −1
Q(80% ) = M + (−0,842 )× S (13)
Sedangkan Log Pearson tipe III dihitung menggunakan tiga parameter yaitu nilai rataan
(M), simpangan baku (S), dan skewness coefficient (g) dengan persamaan berikut ini:

∑ (x )3
n

j −M
j =1
g= (14)
n
LogQ (80% ) = M + K × S (15)
dimana g merupakan skewness coefficient, x adalah data debit, M merupakan rataan, S
adalah simpangan baku, n adalah jumlah data, K merupakan tetapan Log Pearson tipe III
(Tabel 1).
Tabel 1. Nilai K pada Log Pearson Tipe III
peluang peluang
g g
80% 80%
3,0 -0,636 -1,4 -0,705
2,0 -0,777 -1,6 -0,675
1,0 -0,852 -1,8 -0,643
0,0 -0,842 -2,0 -0,609
-0,2 -0,830 -2,2 -0,574
-0,4 -0,816 -2,4 -0,537
-0,6 -0,800 -2,6 -0,499
-0,8 -0,780 -2,8 -0,460
-1,0 -0,758 -3,0 -0,420
-1,2 -0,732

Untuk melihat apakah suatu data mengikuti sebaran tertentu misalnya sebaran Normal
atau Log Normal dapat dilakukan dengan uji kesesuaian (Goodness of Fit) Kolmogorov-
Smirnov (K-S),
D = Sup Fn(Y ) − Fo(Y ) (16)
Dimana Fn (Y) dan Fo (Y) merupakan sebaran komulatif contoh dan sebaran komulatif
menurut Ho, sedangkan Sup merupakan Supremum, Nilai D merupakan selisih terbesar
antara dua sebaran kumulatif, Nilai ini dibandingkan dengan nilai K-S (nilai ∆Cr) pada α
dan jumlah sampel (n) tertentu (Tabel 2).

Tabel 2. nilai ∆Cr pada uji K-S


α
n 0,20 0,10 0,05 0,01
5 0,45 0,51 0,56 0,67
10 0,32 0,37 0,41 0,49
15 0,27 0,30 0,34 0,40
20 0,23 0,26 0,29 0,36
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,20 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 2,25
n > 40 1,07/n 1,22/n 1,36/n 1,63/n

3. Hasil dan Pembahasan


Daerah aliran sungai (DAS) Kuranji secara geografis terletak antara 0o48’ – 0o56’ LS dan
100o21’ – 100o33’ BT. DAS yang berbentuk radial (Gambar 1) ini memiliki luas 171,9
Km2, berada pada ketinggian antara 94,5 – 1,859 mdpl dengan topografi dominan
berbukin dan lereng sangat curam, dengan tekstur tanah liat dan penutupan lahan
didominasi oleh hutan dan sawah (Astuti, 1995). Berdasarkan letak geografisnya DAS
Kuranji termasuk tipe iklim A (sangat basah) menurut pembagian tipe iklim Schmidt-
Ferguson (Rafi’I, 1995).
U

Gambar 1. Bentuk DAS Kuranji

Penentuan nilai koefisien infiltrasi (i) dan faktor resesi air tanah (k) dilakukan secara
konvensional yaitu dengan cara coba-coba dengan menguji semua kombinasi antara i dan
k yang memiliki nilai berkisar antara nol sampai satu. Maka dari Tabel 3 terlihat bahwa
nilai MSE terkecil terjadi pada i sebesar 0,7 dan k sebesar 0,9 pada kondisi topografi
DAS Kuranji yang bergunung,

Tabel 3. Tabel nilai MSE DAS Kuranji pada beberapa kombinasi i dan k
k
i
0,1 0,3 0,5 0,7 0,9
0,1 12,77 15,85 15,54 15,12 11,37
0,3 10,38 12,08 11,38 10,29 7,03
0,5 8,88 9,60 8,84 7,34 3,93
0,7 8,25 8,43 7,93 6,25 2,23
0,9 8,49 8,67 8,66 7,05 2,80
Uji validasi model (Tabel 4) menggunakan taraf nyata 0,01 terlihat bahwa uji t’ untuk
menguji nilai rataan memenuhi syarat dengan hipotesis pertama (terima Ho) yang berarti
hasil perhitungan debit memiliki sebaran nilai tengah yang sama dengan sebaran nilai
tengah debit hasil pengukuran di lapang. Sedangkan hasil uji F diperoleh 13 data (dari 20
data) diperoleh nilai ragam debit hasil pengukuran sama dengan ragam debit hasil
simulasi (terima Ho). Dari hasil pengujian dengan menggunakan uji t’ dan uji F dimana
nilai rataan dan ragam debit hasil perhitungan dengan debit pengukuran lapang relatif
sama, maka dapat dikatakan bahwa model yang digunakan valid.

Tabel 4. Validasi model dengan Uji t’ dan uji F DAS Kuranji


α = 0,01 Uji t’ Uji F
tahun P-value Hipotesis P-value Hipotesis
1979 0,405 + 0,000 -
1980 0,624 + 0,001 -
1981 0,947 + 0,001 +
1982 0,493 + 0,012 +
1983 0,646 + 0,003 +
1984 0,854 + 0,049 +
1985 0,110 + 0,000 -
1986 0,940 + 0,003 +
1987 0,239 + 0,026 +
1988 0,664 + 0,067 +
1989 0,809 + 0,039 +
1990 0,051 + 0,000 -
1991 0,039 + 0,000 -
1992 0,673 + 0,001 -
1993 0,424 + 0,074 +
1994 0,325 + 0,014 +
1995 0,304 + 0,083 +
1996 0,582 + 0,011 +
1997 0,541 + 0,125 +
1998 0,003 + 0,027 +
Bila P-value > α, berarti model memenuhi syarat maka terima Ho (+)
Bila P-value < α, berarti model tidak memenuhi syarat maka tolak Ho (-)

Debit setengah bulanan keluaran model rataan selama 20 tahun terdistribusi secara
Normal dan Log Pearson tipe III (Tabel 5). Menurut Adidarma (1991) DAS yang
memiliki luas tangkapan kecil (CA≤ 250 km2) akan lebih sesuai menggunakan sebaran
Normal, sedangkan untuk DAS besar (CA > 250 km2) cenderung menggunakan sebaran
Log Normal. Maka untuk debit andalan DAS Kuranji yang termasuk DAS kecil (CA ±
172 km2) dihitung hanya menggunakan sebaran Normal.

Tabel 5. Uji Kologorov-Smirnov untuk Sebaran Normal dan Log Pearson tipe III
α = 0,05 Normal Log Pearson tipe III
Bulan Asymp α = 0,05 D ∆Cr = 0,29
Jan I 0,740 + 0,127 +
II 0,999 + 0,079 +
Feb I 0,696 + 0,118 +
II 0,840 + 0,110 +
Mar I 0,373 + 0,183 +
II 0,425 + 0,182 +
Apr I 0,696 + 0,146 +
II 0,959 + 0,126 +
Mei I 0,978 + 0,116 +
II 0,999 + 0,080 +
Jun I 0,985 + 0,180 +
II 0,867 + 0,155 +
Jul I 0,998 + 0,095 +
II 0,797 + 0,140 +
Ags I 0,929 + 0,103 +
II 0,537 + 0,144 +
Sep I 1,000 + 0,094 +
II 0,394 + 0,165 +
Okt I 0,931 + 0,131 +
II 0,810 + 0,127 +
Nov I 0,897 + 0,160 +
II 0,835 + 0,201 +
Des I 0,763 + 0,133 +
II 0,948 + 0,091 +

mm 3
m /s
400 40
350
300 30
250
200 20
150
100 10
50
0 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Setengah Bulan
Curah Hujan Surplus Q Ukur Q Hitung

Gambar 2. Grafik setengah bulanan curah hujan, surplus, debit ukur, dan debit hitung
rataan 20 tahun DAS Kuranji

Dari hasil pengukuran di stasiun Gunung Nago diketahui bahwa rataan curah hujan
setengah bulanan selama 20 tahun (1979 – 1998) berkisar antara 112 – 331 mm. Fluktuasi
curah hujan dan surplus relatif sama, dimana rataan surplus berkisar antara 55 – 228 mm.
Sedangkan hasil pengukuran rataan debit di stasiun Gunung Nago selama 20 tahun yang
berkisar antara 10,6 – 34,2 m3/s cenderung lebih fluktuatif daripada debit hasil
perhitungan menggunakan metode Mock dengan nilai berkisar antara 14,7 – 24,6 m3/s
(Gambar 2). Dimana hasil perhitungan Debit andalan 80% menggunakan sebaran Normal
berkisar antara 8,8 – 16,9 m3/s atau ± 373 juta m3/th (Gambar 3). Dari laporan Dinas PU
pengairan (2000), kebutuhan air irigasi untuk Kota Padang sebesar 147,4 juta m3/th,
sehingga dapat diketahui bahwa kebutuhan akan air irigasi tahunan Kota Padang dapat
terpenuhi.
m3/s
20

15

10

0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Normal Log Pearson III

Gambar 3. Grafik setengah bulanan debit andalan 80% rataan 20 tahun DAS Kuranji

4. Kesimpulan
Modifikasi metode Mock terhadap nilai koefisien infiltrasi (i) dan faktor resesi air tanah
(k) yang masing – masing bernilai 0,7 dan 0,9 mampu menjelaskan proses-proses
hidrologi yang terjadi pada DAS Kuranji, sehingga sesuai dan dapat digunakan dalam
perhitungan debit sungai. Debit sungai hasil perhitungan berkisar antara 14,7 – 24,7 m3/s.
Sedangkan debit andalan setengah bulanan untuk air irigasi (80%) pada DAS Kuranji
mengikuti sebaran Normal yaitu berkisar antara 8,8 – 16,9 m3/s dimana air yang tersedia
pada DAS ini sebesar 373 juta m3/th sehingga selain untuk memenuhi kebutuhan irigasi
yang sebesar 147 juta m3/th, debit DAS Kuranji juga dapat dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan lainnya kota Padang.

Daftar Pustaka
[1] [Dinas PU Pengairan]. 2000. Neraca Sumberdaya Air Provinsi Sumatera Barat
Tahun 2000. Padang.
[2] Adidarma W. 1991. Sebaran Peluang yang tepat untuk menghitung banjir. J.
Pengairan 18;35 – 40.
[3] Astuti P. 1995. Analisis ketersediaan air irigasi DAS Kuranji Sumatera Barat
[Tesis]. Teknik Pertanian. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
[4] Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. Pustaka Jaya. Jakarta.
[5] Hatmoko W, Amirwandi S. 2002. Pengembangan metode Thomas-Fiering untuk
peramalan debit musim kemarau. J. Pengairan 16(48): 3 – 9.
[6] Mock FJ. 1973. Land Capabilty Appraisal Indonesia, Water Availability
Appraisal. Bogor. UNDP-FAO.
[7] Rafi’I S. 1995. Meteorologi dan Klimatologi. Bandung. Angkasa Bandung.
[8] Thornthwaite CW, Mather JR. 1957. Instruction and Tables for Computing
Potential Evapotranpiration and Water Balance. Climatology. 10(3).
[9] Viessman W Jr, Knapp JW, Lewis GL, Harbaugh TE. 1977. Introduction to
Hydrology. Ed ke-2. London: Harper&Row.