Anda di halaman 1dari 4

Nama : Arjun Korintian Purba

NIM : 5183230005
ELEKTRONIKA DAYA

PRINSIP DASAR MODE PENSAKLARAN DENGAN TRANSISTOR


Pada trasnsistor bipolar, arus kolektor secara proporsional dibatasi oleh arus basis.
Sehingga hal ini membuat transistor bisa digunakan sebagai jenis saklar pengontrol arus. Sebuah
aliran elektron yang relatif kecil yang mengalir melalui basis mampu mengontrol aliran elektron
yang jauh lebih besar yang mengalir melalui kolektor. Misalnya saja kita memiliki lampu yang
bisa dikontrol ON dan OFF menggunakan saklar, maka gambar rangkaian lampu yang sederhana
tersebut akan seperti gambar dibawah ini 
Pada rangkaian lampu sederhana tersebut kita bisa menempatkan transistor ditempat
saklar untuk menunjukkan bagaimana transistor bekerja sebagai pengontrol aliran elektron atau
arus seperti halnya fungsi saklar. Ingat, bahwa arus yang dikontrol atau arus utama tersebut
mengalir dari kolektor ke emitor atau sebaliknya dari emitor ke kolektor (tergantung jenis
transistor PNP atau NPN). Karena kolektor dan emitor merupakan kaki transistor yang dilalui
arus utama, maka kaki kolektor dan emitor harus diposisikan seperti 2 terminal saklar. Kita juga
harus memperhatikan bahwa aliran elektron berlawanan dengan simbol panah yang ada pada
kaki emitor, hal ini bertujuan agar transistor bekerja pada bias yang benar. Coba perhatikan
gambar b dan c dibawah ini (perbedaan antara rangkaian transistor PNP dan NPN jika digunakan
sebagai saklar)

Tidak ada masalah dalam pemilihan jenis transistor, baik PNP atau NPN dapat
digunakan, yang terpenting adalah arah aliran arus harus tepat agar transistor bekerja dalam bias
yang benar.
Dalam hal ini, kita menggunakan transistor NPN sebagai rangkaian contoh kita. Arus basis
merupakan arus yang mengontrol transistor, tanpa adanya arus basis atau arus basis sama dengan
nol, maka transistor tidak akan ON dan lampu juga tidak akan ON (lampu Off / mati terus). Oleh
karena itu kita perlu menambahkan sesuatu untuk memiliki arus basis. Ingat pada transistor
NPN, arus basis merupakan arus yang mengalir dari emitor ke basis (arah aliran arus berlawanan
dengan arah simbol panah pada emitor). Dan hal yang mungkin paling sederhana untuk
dilakukan adalah menghubungkan kabel antara basis dengan kolektor dengan menggunakan
saklar, seperti gambar dibawah ini.

Jika saklar terbuka seperti pada gambar (a) diatas, itu berarti kawat basis tidak terhubung
dengan apapun dan tidak ada arus atau elektron yang mengalir pada basis transistor tersebut atau
arus basis sama dengan nol. Dalam keadaan ini transistor dikatakan menjadi cutoff (menghambat
atau mematikan aliran arus). Dan jika saklar tertutup seperti pada gambar (b) diatas, elektron
akan dapat mengalir dari emitor ke basis transistor, lalu melalui saklar dan sisi kiri lampu, dan
kembali ke baterai pada sisi positifnya. Arus basis ini memungkinkan untuk mengalirkan
elektron yang jauh lebih besar dari emitor ke kolektor (mengalirkan arus utama). Sehingga lampu
akan menyala dengan terang. Dalam keadaan arus sirkit maksimum seperti ini, transistor
dikatakan menjenuh.

PROSES PENGENDALIAN KECEPATAN PUTARAN MOTOR DENGAN RANGKAIAN


ELEKTRONIKA DAYA
karakteristik putaran pada motor arus searah ialah dapat dikendalikannya motor tersebut
dengan mengatur tegangan terminal ( 𝑉𝑇 ).
Hubungan antara putaran dengan tegangan adalah linier, sedangkan karakteristik kopel terhadap
putaran sesuai dengan keadaan beban yang membutuhkan kopel mula besar. Dengan demikian
putaran dan kopel dapat dikendalikan secara baik dengan mengatur terminal 𝑉𝑇.
Dari optokopler yang berfungsi sebagai sensor menguluarkan cahaya input yang di baca oleh
penguat transistor pertama yang berfungsi sebagai saklar, fungsi dari penguat transisitor pertama
sebagai saklar sehingga dapat memutuskan arus yang menuju ke motor DC, tetapi penguat
pertama (transistor) belum dapat untuk menggerakkan motor DC, sehingga di tambahkan lagi
transistor, dari basis penguat kedua di salurkan tegangan dari kaki colektor penguat pertama
untuk menggerakkan motor DC, yang di beri tahanan 10k ohm, tetapi penguat kedua belum juga
mampu untuk menggerakkan motor DC sehingga di tambahakan penguat yang ketiga yaitu
transistor, untuk menggerakkan motor DC, dari kaki colektor penguat kedua menguluarkan arus
menuju basis penguat ketiga yang diberi tahanan 10k ohm, untuk menggerakkan motor DC,
maka dari tiga penguat itu di tambahkan komponen thyristor. Thyristor ini berfungsi sebagai
pengatur daya dan sebagai saklar untuk menggerakkan motor DC, yang di beri tahanan 560 ohm,
untuk mengatur daya yang akan menggerakkan motor DC, dari komponen thyristor di
tambahkan satu komponen dioda, yang terhubung ke motor DC, fungsi dari komponen dioda ini
untuk menyearahkan tegangan yang masuk ke motor DC sehingga tidak terjadi arus transien
(arus balik).

TRANSFER DAYA YANG TERJADI PADA RANGKAIAN KONVERTER


Secara garis besar rangkaian konverter dc to dc ini memakai komponen
switching seperti MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor), thyristor,
IGBT untuk mengatur duty cycle.
MOSFET yang dipakai pada rangkaian DC Chopper Tipe Buck yaitu bertindak sebagai saklar
yang sanggup membuka atau menutup rangkaian.
Sehingga keluaran tegangan dapat dikontrol sesuai dengan duty cycle yang disetting.

 Ketika MOSFET on (tertutup) dan dioda off, arus mengalir dari sumber menuju ke
induktor (pengisian induktor), disafilter oleh kapasitor, kemudian ke beban, kembali lagi ke
sumber
 Ketika MOSFET off (terbuka) dan dioda on, arus yang disimpan indukor dikeluarkan
menuju ke beban kemudian ke dioda freewheeling dan kembali lagi ke induktor