Anda di halaman 1dari 1006

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.

com/

Judul aslinya
"Thay Tong Yoe Hiap Toan" (Hokkian)
"Da Tang You Xia Zhuan" (Mandarin)
Karya : Liang Ie Sheng Saduran : OKT
Sumber DJVU : Manise Dimhader & BBSC dimhader
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/
http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Keterangan Dewi KZ :
1. Karangan Liang Ie Shen ini Judul aslinya "Thay Tong Yoe Hiap
Toan" (Hokkian) atau "Da Tang You Xia Zhuan" (Mandarin).
2. Mulai dimuat sebagai cerita bersambung di koran Hongkong
pada 1 Januari 1963, dan berakhir pada 14 Juni 1964.
3. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh OKT di tahun 1964,
diterbitkan oleh penerbit Mekar Djaja, Jakarta, dalam 16 jilid.
Kemudian oleh Penerbit Sejahtera Indah Tahun 1980.
4. Termasuk dalam seri karya Liang Ie Shen yang disebut sebagai
"Serial Dinasti Tong", karena menceritakan kisah di jaman
pemerintahan Kaisar Lie.
5. Tokoh-tokoh ceritanya a.l. Toan Kui Ciang, Tiat Mo Lek, Hee
Leng Song, Khong-Khong Jie, dll.
6. Urutan Trilogi Dinasti Tong adalah :
a. Pendekar Aneh [Nu Di Qi Ying Zhuan Lie Tee Kie Eng]
disadur oleh Boe Beng Tjoe terdiri dari 12 jilid diterbitkan
oleh Mekar Jaya.
b. Kisah bangsa Petualang, Serial ini dilanjutkan dengan
"Tusuk Konde Pusaka" atau "Liong Hong Po Tjhee Yan"
(Hokkian) atau "Long Feng Bao Chai Yuan" (Mandarin),
dengan tokoh-tokoh ceritanya a.l. Toan Kek Shia, Su Jiak
Bwee, dll., di samping masih munculnya juga tokoh-
tokoh dari "Kisah Bangsa Petualang". Diterjemahkan ke
bahasa Indonesia oleh S. D. Liong di tahun 1965,
diterbitkan oleh penerbit Pantja Satya, Semarang, dalam
18 jilid.
c. Serial ini diakhiri dengan cerita ke-3, berjudul "Jiwa
Ksatria" atau "Hui Kiam Sim Mo' (Hokkian) atau "Hui Jian
Xin Mo" (Mandarin), dengan tokoh-tokoh ceritanya a.l.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Can Pek Sin, Tiat Ceng, Tiat Leng, Thie Po Leng, Lauw
Bong, Liong Seng Hong, dll., di samping masih
munculnya juga tokoh-tokoh dari "Kisah Bangsa
Petualang" dan "Tusuk Konde Pusaka". Diterjemahkan
ke bahasa Indonesia oleh O. P. A. di tahun 1967,
diterbitkan oleh penerbit Marga Raya, Jakarta, dalam 16
jilid.
---ooo0dw0oo---

Dikarenakan djvu dari BBSC pada Jilid 5 isinya


diputus ditengah-tengah oleh percetakan, maka kami
lengkapi dengan djvu dari Manise, trims yeeee

Jilid 1
“Selamat Tahun Baru!”
”Selamat Tahun baru !”
Demikian ucapan kebahagian pada pagi hari tanggal satu
bulan satu dari tahun Thian Po ke dari masa kerajaah Tong
dan ucapan itu dihaturkan kepada seorang She Su bernama It
Jie, yang tinggal di dusun Su Kee Cun dusun pegunungan
terpisah enam puluh lie lebih di luar kota Tiang an. It Jie ini
pada tahun Kay Goan ke 22 pernah lulus sebagai Cin Su, ujian
tingkat tiga, oleh karena ia tidak suka memangku pangkat,
belum sampai usia pertengahan, ia sudah pulang ke kampung
halamannya, untuk hidup dalam ketenangannya si orang desa.
Oleh karena ia memiliki gelarnya itu dan hidupnya damai,
penduduk kampung menghormati nya dan biasanya mereka
datang pagi-pagi menghaturkan selamat pertukaran tahun.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hari itu, habis mengantar tetamunya pulang, It Jie


menggeleng-geleng kepala dan sambil. menghela napas, ia
berkata seorang diri : “Selagi suasana begini rupa, apakah yang
harus dibuat girang ?”
Justeru itu, dari dalam rumahnya ia mendengar suara ’eyah !
eyah’ dari bayi yang baru dilahirkan, di susul dengan letusannya
petasan bambu yang berisik dan ramai !
Mendengar tangisan itu, Cin Su tersenyum dan berkata
dalam hatinya : ”Kalau toh kegirangan maka itu mulainya saat
hari ini ! Tambahnya satu anak akan membikin rumah tanggaku
tambah gembira !”
Seorang pembantu lalu daiang. akan memberitahukannya
atas lahirnya seorang anak lalu ia berkata pada pembantunya:
”Kau sediakan empat macam barang antarkan untuk Toan
Toaya, antarkan sekarang juga sekalian kau undang dia datang
kemari untuk minum arak !” Sambil berkata demikian ia heran
dan berpikir : “Setiap tahun baru dia lah yang datang paling
dulu memberi selamat padaku, kenapa hari ini dia tidak datang
atau mungkin terlambat?”
Pembantu itu menerima baik perintah majikannya, akan
tetapi belum ia pergi, ia sudah tertawa dan berkata : “Loo ya,
tak usah Toan Toaya di undang! lihat, bukankah ia sedang
berjalan kemari?”
Pembantu itu menoleh sambil menunjuk keluar dan dari luar
terlihat seseorang sedang menuju rumahnya sambil mulutnya
ber-senandung. „Haha, saudara Toan !” tertawa tuan rumah.
“Kenapa kau baru datang ? aku telah menyediakan arak
untukmu!”
Toan Toaya itu namanya, Kui Ciang, berumur empat puluh
lebih sedikit, tubuhnya kekar seperti orang yang mengerti ilmu
silat, sebaliknya Su It Jie seorang sastrawan, maka
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

persababatan mereka agak ganjil. Tapi kenyataannya tidak


demikian. Disamping ilmu silat, Kui Ciang paham ilmu surat.
Tapi ia bukan penduduk asli Su Kee Cun. la datang baru
sepuluh tabun lebih. Sebab ia jujur dan Bun Bu Coan Cay
mengerti silat dan surat berbareng, maka It Jie suka bergaul
dengannya, bahkan keduanya menjadi sahabat yang kekal
Atas sambutan tuan rumah itu, Kui Ciang tertawa. “Ada
sebabnya kenapa aku terlambat, saudara Su !” katanya.
“Apakah itu ?”,
”Istriku baru melahirkan seorang bayi !”
,.Oh! selamat, selamat!” seru It Jie. ”Sungguh kebetulan !
apakah anakmu itu pria, atau wanita ?”
Pria! sahut Kui Ciang. “Eh, kau berkata begitu apakah enso
pun melahirkan.”
It Jie tertawa. “Ya.” sahutnya. ”Aku hanya memperoleh anak
perempuan.”
”Kalau begitu aku mesti menambah pemberian selamatku !”
It Jie heran.
Kui Ciang tertawa ”Saudara tahukah kejadian-kejadian
belakangan in? ”.
“Raja sudah merampas Yo Tay Cin Kui Hui. Yo Tay Cin itu
isterinya pangeran Siu Ong Lie Mo Itulah ke jadian selama
tahun Thian Po ke empit. Yo Khui Hui bukan main disayang
Raja. Belum tiga tahun, ketiga kakaknya telah di angkat
menjadi Tay Jin. Bahkan menurut kabar bulan yang lalu. kakak
sepupunya, Yo Kok Tiong telah diang kat menjadi perdana
mentri, hingga kedudukannya jadi sangat tinggi dan mulia.
Inilah yang mengubah suasana, hingga kalau ada orang yang
mendapat anak perempuan, sanak dan sahabat-sahabatnya

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada berduyun-duyun datang memberi selamat. Katanya jaman


sekarang mengutamakan anak perempuan bukan jaman
menghargai anak lelaki, Kau telah mendapat anak perempuan,
saudaraku, bukankah kau pantas diberi selamat dua kali lipat?”
Tapi It Jie tidak senang : ”Jika aku meng hargai pangkat,
pada sepuluh tahun yang lalu tidak nantinya aku pulang ke
kampungku untuk hidup sebagai orang desa seperti sekarang
ini !” katanya. ”Tidak puas aku menyaksikan segala manusia
hina main gila. memenuhkan istana ! mana dapat aku menelad
contoh Yo Kok Cong?”,
Kui Ciang tertawa.” Jangan gusar saudara Su!. Mustahil aku
tidak kenal sifatmu? aku hanya bergurau!” ia lantas menthela
napas dan menambahkan lesu: ”keadaan sekarang
menyedihkan hingga harus ditangiskan … makin lama
pemerintahan makin buruk, hingga entah bagaimana jadinya .
...“
”Sudahlah buat apa kita perbatikan urusan itu !” kata It Jie.
“Mari kita minum sampai mabuk lalu keduanya minum sampai
mabuk!. Lalu keduanya itu minum arak mereka masing-masing”
It Jie berjanji sambil mengetuk-ngetuk meja. Ia
menyanyikan syairnya Lie Tay Pek tetapi ia mengagumi Touw
Hoe. Katanya ”Touw Hoe ada di Tiang an, diharuskan Raja
berdiam didalam Istana, kalau tidak. Pasti suka aku pergi
menemuinya,. .. “
Disebutnya nama Touw Hu membuat Kui Ciang ingat
syairnya penyair itu. Ia tertawa dan katanya : ”Saudara Su, di
antara syairnya Touw Hu ada kata kata mengenai terlahirrya
anak anak laki dan perempuan, bahwa anak perempuan baik
sekali, maka itu pantas kau diberi selamat berlipat kali,
sekarang jaman kacau perang meminta korban kalau diingat
memang lebih baik mendapat anak perempuan !”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

It Jie mengeringi tawanya. Masa bodoh syairnya Touw Hu itu


! katanya. “Tetapi sekarang aku ingat suatu …”
”Tentang anak-anak kita, bukankah mereka terlahir
bersamaan dalam satu malam? Bagaimana jika kita berbesan ?”
Kui Ciang diam sejenak lantas ia menjadi girang sekali.
“Sebenarnya,” katanya, ”begitu aku mendengar kau
memperoleh anak perempuan, telah ada dalam pikiranku itu
banya aku tidak berani buka mulut, sekarang saudara yang
mengajukannya, bagus sekali kebetulan aku mempunyai
sepasang tusuk kondai kemala, baiklah itu dijadikan tanda
mata. Ini dia !”
Orang she Toan ini merogo sakunya dan mengeluarkan
perhiasan rambut itu. Melihat tusuk Kondai itu It Jie melengak.
Kemala itu licin dan bersinar, indah mirip kemala Kothein, pula
di kepalanya ada bertaburan mutiara, yang terang bercahaya.
”Bagaimana dia mempunyai kemala mustika ini ?” pikirannya
heran.
Semenjak pindah ke Su Kee Cun, hidup-nya Toan Kui Ciang
sempit sekali. Dia cuma mengandalkan beberapa murid, yang
belajar silat padanya. Ada kalanya dia ditolong sahabatnya she
Su. Sekarang dia mempunyai pesalin kemala berharga itu aneh,
bukan? Meski demikian, ia percaya kejujuran orang ia tidak
menyangka jelek.
Kui Ciang dapat menerka hati sahabatnya, tanpa bertanya, ia
memberikan penjelasannya. ”Selama tahun Ceng Koan kakekku
tutut Jenderal Lie, Ceng berperang dengan bangsa Turki, di
sana di Kotheun ia mendapatkan sepasang tusuk kundai
kemala. Pulang perang, Baginda Thay Coang menghadiahkan
sepasang mutiara asal Lam Hay. Kakekku memanggil tukang
yang pandai, mutiara itu ditaburkan pada tusuk kundai itu.
Selanjutnya barang perhiasan itu disimpan sebagai pusaka

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

keluarga Toan-Inilah sebabnya, meski aku hidup melarat, tak


mau aku jual kemala ini.”
”Pantas saudara gagah, tak tahunya kau-lah turunan
Jenderal !” kata It Jie. Di mulut ia berkata demikian, dihati ia
heran, kenapa tak pernah Kui Ciang menuturkan sesuatu
tentang leluhurnya itu. Itu toh suatu kehormatan ?
Kui Ciang minum araknya, lalu ia berkata pula : , Aku tidak
mempunyai ba-rang simpanan lainnya, kecuali ini, maka tak
pernah aku pisahkannya dari tubuhku. Nama tusuk kundai ini
ialah Liong Hong Poo Cee. Tusuk kondai yang satu berukiran
naga-nagaan, dan yang lainnya burung hong. Sekarang yang
burung hong ini aku jadikan tanda mata.”
”Kau memakai pesalin mustika, saudara, aku berterima
kasih, “ kata It Jie. Ia sebenarnya berat menerimanya, akan
tetapi mengingat, dibelakang hari barang toh akan kembali
pada keluarga Toan ia menerima juga. Kemudian ia periksa
kemala itu ia girang dan kagum.
Ukirannya sangat bagus dan hidup la memuji. ”Sekarang
coba saudara lihat yang naga ini, “ Kata Kui Ciang, sambil
menunjuk-kan yang satu lagi.
Kembali It Jie menjadi kagum. Yang naga ini tak kalah
indahnya. Kembali ia memberikan pujiannya. “Sekarang ini
dorna, mengusai Negara, entah bagaimana jadinya nanti,” kata
Kui Ciang kemudian ”maka ada maksudnya kenapa sepasang
kemala ini aku pisahkan, aku jadikan pesalin ia agak sangsi ia
tidak berkata terus.”
”Apa maksudnya ?” It Jie bertanya, “kita sudah jadi sanak,
diantara kita tak ada lagi. yang tak dapat diutarakan.”
“Kau sadar saudara, meski hari ini harian tahun baru, aku
percaya kau tidak akan menganggap aku bicara sial..

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

.aku maksudkan, andai kau di belakang hari keluarga kita


bercerai , disebabkan bencana perang. anak anak kita bisa
menggunakan kemala ini sebagai bukti untuk mereka
melanjutkan pecakapan mereka. . . “It Jie tertawa.
”Saudara terlalu memikir jauh !” katanya. Tapi dalam hatinya
ia berkata “Kita tinggal bersama didalam sebuah desa. Umpama
benar terjadi perang kita tetap akan bersama juga ! mana bisa
kita berpisah ?” walaupun demikian, karena orang bicara
dengan sungguh-sungguh ia mau, percaya itu mungkin suatu
alamat buruk. Ia paksa tertawa. Ia kembalikan kemala yang
satu, “Anakku belum diberi nama. “ kata Kui Ciang kemudian,
”mengingat pengetahuan saudara luas tolong kau yang
memilihkan dan memberikannya.”
“Anakku juga belum diberi nama! kata It Jie tertawa.
Waktu itu di luar rumah terlihat salju berterbangan, ada yang
nempel di pohon bu-nga bwee. Melihat itu, tuan rumah
menghirup araknya dan Katanya sambil tertawa. ”Aku paling
suka bunga bwee. maka itu aku akan berikan nama Jiak Bwee
pada anakku. Karena sekarang dorna memerintah dan mungkin
saatnya datang untuk satu anak anak laki menunggang kuda
untuk berperang, baik anak saudara dinamakan Kek Sia,
Saudara setuju?”.
Koei Ciang menepuk tangan. ”Bagus! bagus! ia memuji, Jiak
Bwee berarti mirip bunga Bwee dan Kek Sia berarti menakluki
kesetanan. maka nama nama itu ialah nama nama yang tepat.”
”Hah semoga setelah besar mereka tak menyia-nyiakan
pengharapan orang tua mereka!” It Jie pun girang dan turut
bertepuk tangan.
Tapi pada waktu itu d luar terdengar suara berisik, dari
terompet, dan jeritan anak anak. “Eh terjadi perkara apakah di
luar?’ kata It Jie heran ”hari ini harian tahun baru, apa mungkin
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pembesar negeri memerintahkan hamba hamba nya memungut


pajak? Mari kita lihat!”
Koei Ciang setuju, maka keduanya bangkit dan ke luar Maka
setibanya di depan kedua besan ini dapat melibat debu
beterbangan,yang disebabkan sebarisan serdadu, yang
seragam dan senjatanya berkilau dan kudanya pilihan serdadu
yang paling depan membawa sehelai bendera sulam benang
emas yang lebar dan mentereng yang bersulamkan huruf “An”
yang huruf sulamnya indah. Disusul oleh dua pembawa
bendera lain, hanya kedua bendera ini bersulamkan huruf huruf
’Peng Louw Ciat Touw Su’ dan ’Hoan yang ciat touw su’.
Dijaman Tong, pangkat Ciat Touw Su suatu pangkat penting.
Didalam suatu kota, atau daerah, Ciat Touw Su menguasai
pemerintah militer dan sipil, hingga dia mirip Raja kecil.
Sekarang satu orang merangkap jabatan Ciat Touw Su dari dua
kota. itulah hebat dan belum pernah terjadi dulu.
“Akhirnya An Lok San!’. kata Su It Jie, hatinya bercekat.
Dijaman itu, nama An Lok San tak ada yang tak tahu atau
mendengamya, hanya orangnya baru kali ini Su It Jie
melihatnya. Seragamnya mentereng sekali sikapnya garang. Dia
duduk diatas kudanya, dan diiringi oleh hamba dan hanya
sambil berseru-seru anak anak jangan perduli segala kunyuk di
tengah jalan: ”Injak mati pada mereka. Tidak ada perkara-nya!
larikan kudamu! hari ini Tayjin hendak pergi ke kota Tiang an
untuk memberi selamat tahun baru pada Kui Huei Nin nio!”.
“Kui huei Nio nio” ialah ‘Yang Mulia selir Raja’. An Lok San
ketika baru tiba di Tiang-an kota Raja, dia langsung menempel
Yo Kui. Meskipun dia berusia lebih tua, selir Raja itu mengakui
dia sebagai anak angkatnya. Karena itu dihari tahun baru ini dia
mesti memberi selamat tahun baru kepada ibu angkatnya itu!
Dia sudah diangkat jadi Ciat Touw Su kedua kota Peng louw
dan Yang Hoan, dia belum puas dan ingin menjadi Ciat Touw
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Su wilayah Hoo Tong. Maka ia perlu mengambil hati ibu


angkatnya itu! Di hari tahun baru semua orang bersuka ria,
demikian juga di dusun Su Kee Cien dan sekitarnya orang saling
berkunjung dan memberi selamat, anak anak tak terkecuali
banyak diantara bermain melempar uang didepan jalan. Pada
saat itu lewatlah An Lok San dengan barisan pengiringnya yang
garang, maka tidak ampun lagi rombongan anak-anak itu
menjadi korban cambukkan bitigga menangis menjerit dan lari.
Diantara dewasapun ada beberapa korban hingga tak ada
orang yang berani menolong anak-anak itu. Tiga bocah
dibawah usia sepuluh tahun menjadi lemas, tak dapat
nienyingkir. Berarti mereka akan jadi korban kaki kuda.
Tiba-tiba melesat sesosok bayangan. menyambar kedua
bocah di tangan kiri dan kanannya, kedua bocah itu dileparkan
kepinggir jalanan. Tinggal bocah yang ketiga. Dan waktu itu
seekor kuda lari kearahnya, dan penunggangnya memukulkan
cambuk kearahnya Melihat ada orang ditengah jalan, kuda itu
berjingkrak mengkat tinggi kedua-kaki depannya, celakalah
penolong itu berikut sibocah, tapi dia gesit dan berkelit ke kiri.
Hanya tak dapat dia lolos dari cambuk, sehingga bajunya
robek Su It Jie mulanya mengira Toan Kui ciang, sahabatnya
tetapi setelah ia melibat jelas ternyata penolong itu ialah
seorang desa yang muda. Ketika barisan sudah lewat, pemuda
itu menurunkan sibocah seraya berkata :”Tolong paman
antarkan anak ini”. Dan kebetulan orang tua anak-anak itu
datang mencari anaknya masing-masing. Juga sejumlah orang
lainnya datang berkumpul. Ketika iiu. diam-dlam pemuda desa
itu pergi ketika orang hendak menghaturkan terima kasih
padanya, ia sudah lenyap . . .
Su It Jie tidak kenal pemuda itu Tanpa menoleh, ia bertanya
kepada Toan Kui ciangg: “Apakah saudara kenal dia?” dan
ternyata dia tidak memperoleh jawaban Ketika ia berpaling
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sahabatnya itu tak ada disisinya langsung ia mencari. Dan ia


melihat sahabat-nya sudah pergi jauh dan cepat sekali dengan
kepalanva dikerobongi seperti takut dingin. Sebentar saja Kui
ciangg sudah sampai dibawah pohon besar di depan rumahnya.
It Jie mau memanggil sahabatnya itu, tetapi ia merasa heran
”Kui ciangg” suka menolong orang dan bukannya seorang
pengecut tetapi kenapa tadi dia tak suka menolong anak-anak
itu dan dengan diam-diam dia berlalu sampai dia tidak
menyapa lagi padaku? Ah mungkin dia takut ada yang
mengenalinya ? tanpa memanggil lagi, ia berjalan cepat pulang,
Sampai didepan rumah-nya Kui ciangg sudah menanti
diambang pintu. begitu ia masuk pintu langsung ditutup
sahabatnya itu, yang terus bertanya : ”apakah barisan serdadu
itu sudah pergi jauh ? ”
”sudah’, sahut It Jie
”mari kita bicara di dalam!” Kui ciangg memotong, It Jie
heran bukan main. Mereka masuk, disini Kui ciangg mengunci
pintu pula. “Saudara Koan”‘ tanja It Jie, karena heran sehingga
ia jadi curiga, “apakah kau pernah melakukan suatu
pelanggaran ?
Kui ciangg menyeringai. Ia menuang arak dan
menghirupnya sekali teguk, Apakah saudara mencurigai aku
pernah melanggar undang-undang?” dia bertanya sambil
menatap.
“Tidak sama sekali !”
It Jie mengawasi. “Yang benar ialah aku pernah bentrok
dengan satu bajingan!”
“Saudara” kata It Jie, heran , ”kau bukannya seorang
pengecut, kenapa kau nampak jeri terhadapnya?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang menghela napas. “Panjang untuk menutur”,


katanya masgul. ,Saudara kira siapa bajingan itu? dialah An Lok
San si Ci at Touw Su dari Peng Louw dan Hoan Yang yang
barusan lewat itu!’”
‘Ah, An Lok San’, It Jie terkejut,
‘Ya’ sahut Kui Ciang. ”Sudah beberapa tahun belum pernah
aku menuturkan hal-ikhwalku, sekarang waktunya. Aku anak Yu
Ciu, aku pindah kemari untuk menghindar dari An Lok San itu!”
It Jie mengawasi, ia tidak memotong kata-kacanya, Kui
Ciang menghirup pula arak-nya, lalu melanjutkan ; “kakekku
berulang-ulang membuat jasa hingga dia diangkat menjadi
panglima di kota Ya Ciu. suatu jabatan militer tak tinggi dan tak
rendah. Sayang sekali ayahku mati muda maka itu aku
mewariskan kepandaian silat kakekku itu Dalam usia muda aku
bercampur dengan pemuda-pemuda yang tak karuan aku
menganggap diriku sebagai seorang gagah yang. berhati mulia,
dan aku suka mencampuri urusan yang tak adil. separuh dari
kawan-kawan itu hanya mengharapkan menggemblok pelesiran
kepadaku, Diantara yang satu ialah An Lok San, Ketika itu dia
belum memakai she An”
Masih It Jie berdiam. ia mendengarkan sambil mengawasi
sahabatnya.
”Lok San berasal orang bangsa Ouw diwilayah Barat”, Kui
Ciang melanjutkan “Dia she Khong ibunya orang Turki, yang
menikah dengan An Yan Yan sehingga dia memakai she ayah
tirinya.”
”Sudah tak perduli asal usulnya!” kata It Jie. tertawa, “Dia
An Lok San, dia tetap An Lok San!, kemudian bagaimana?.”
“An Lok San rnengerti enam bahasa asing, maka itu dia
menjadi Hoe Sie Long, Di Yu Ciu itu tinggal bercampuran

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pelbagai bangsa, tugas Hoa Sie Long ialah mengurus segala


urusan dagang dan lainnya diantara bangsa itu juga menjadi
juru bahasa. penterjemah andaikata mereka tak mengerti jelas
pembicaraan satu dengan yang lain. Dengan demikian dia
mendapat ketika mengakali kaum saudagar. Di muka umum dia
tampak mulia dan murah hati, suka menolong sesamanya dia
juga mengerti silat. Mulanya aku tidak tahu sifat aslinya itu
aku jadi suka bersahabat dengannya. Baru belakangan aku
mengetahuinya. Pernah aku memberi nasihat padaaya. Di
depanku dia mendengar, dibelakangku tindakkannya makin
jadi. Demikian satu kali, dengan surat palsu dia memeras
seorang saudagar, dia minta gadisnya saudagar itu, baru
urusan akan dibikin habis. Hal itu ketahuan olehku aku hajar
dia. Sesudah iiu aku putuskan persahabatanku An Lok San lalu
besoknya dia menghilang. Selang beberapa tahun, tahu-tahu
dia telah menjabat Peng Ma Su dalam pasukan tentara kota
Peng Louw. Dia ditolong ayah tirinya yang memperkerjakannya
di bawahan Ciat Touw Su Thio Yu Kui dari kota-Yu Ciu. Dia
pandai bekerja, dia cepat meningkat. Belum dua tahun, dia
sudah diangkat jadi Ciat Touw Su muda kota Peng Louw-
dengan kedudukannya di kota Yu Cie. Ketika itu, aku telah
menghambur-hamburkan warisan kakekku, aku telah ditinggal
pergi kawan-kawanku. Aku tahu An Lok Sin bangsa Soauwjin,
manusia rendah hina-dina. Aku kuatir dia membalas dendam
padaku, maka aku langsung meninggalkan tempat kediamanku
itu. Buat beberapa tahun aku merantau, sampai aku tiba
menetap di sini. Siapa sangka, hari ini aku bertemu dengannya.
di sini. Saudara Su, aku kuatir hari ini pun hari perpisahan kita
…”
Mendengar keterangan itu, Su It Jie tidak menjadi kaget.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Aku kira perkara besar bagaimana,” katanya. “Itu hanya


perkara di masa muda, setelah lewat beberapa tahun mungkin
An Lok San sudah tidak ingat lagi !”
”Sebaliknya, saudara Su. An Lok San menganggap itu
sebagai malu besar, sampai dia matipun mungkin dia tak akan
melupa-kannya. Jika aku tidak menyingkir, bencana mungkin
menjadi hebat. Aku tidak takut mati tapi aku tak suka
perkaraku merembet kepada anak isteriku dan sababat
atausanakku juga! An Lok San sedang berpengaruh. Tidakkah
saudara lihat bagaimana sikapnya barusan?”
It Jie mengerti tetapi ia masih tidak memandang sehebat
pandangan sahabatnya. Iapun berat berpisah dengan sahabat,
yang telah menjadi besarnya ini. Tadi ada banyak orang tak
mungkin dia melihat kau, saudara,” katanya menghibur. ”Tetapi
pepatah mengatakan berjaga-jaga paling baik. Kita harus
memandang dan sudut yang buruk kalau kita menanti sampai
bencana datang pasti sukar kita menghindarnya. An Lok San
menjadi anak angkat Yo Koei, dia tentu sering mundar mandir
dan lewat disini, lama-lama mesti dia melihat aku. “Kita
bersahabat, kitapun telah berbesan.’ kata It Jie. Maka kalau
saudara mau pergi mari kita pergi bersama.”
Kui Ciang heran, iapun bersusah hati. “Kau baik sekali,
saudaraku.” katanya, masgul. “Mana dapat kau rnengikuti aku?
itu berarti penderitaan, lagi pula sekarang isterimu baru
melahirkan…. “
It Jie tertawa. ”Apakan isteri saudara juga baru bersalin
bukan?” dia balik menanya.
”Isteriku mengerti silat, tubuhnya kuat?” kata Kui Ciang,
“‘kapan perlu. dia dapat berangkat sembarang waktu. Tidak
demikian dengan istrimu! mana dia sanggup menderita dalam
perantauan?”.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Meski begitu, buat berangkat tak mungkin saudara


berangkat sekarang juga,” kata It Jie yang masih tetap
memandang urusan secara enteng. “Sekarang An Lok San pergi
ke Tiang an sedikitnya sehabis Goan siauw baru dia pulang ke
Yu ciu. Benar istrimu kuat , ia tidak seharusnya menempuh
perjaianan sekarang. Aku pikir baiknya saudara menanti lagi
sepuluh hari atau setengah bulan, baru kita berangkat bersama
sama.” Kata kata itu beralasan, Kui Ciang dapat
mempertimbangkannya. Memang. tak mungkin An Lok San
lekas pulang ke Yuciu. Kalau An Lok San mau mencari dia,
tentu itu dilakukan nanti dalam pcrjalanannya pulang ke Yu
ciu.
”Baiklah,” katanya kemudian. “Baik kita berangkat satu hari
di muka Goan siauw.” Goan siauw adalah cap go me, perayaan
tahun baru hari kelima belas. Sampai disitu It Jie bertanya
kepada sahabatnya kalau ia kenal pemuda tadi, yang gagah
dan hatinya mulia.
Kui Ciang menggeleng kepala. “Aku tidak kenal, melihatpun
tidak, ‘ katanya heran.” Aku menyingkir selekasnya aku melihat
An Lok San. Kalau begitu, itulah peristiwa tadi…….”
Kui Ciang masih duduk berbicara sekian lamanya, sesudah
rombongan An Lok San pergi sepuluh li. ia meminta diri seraya
mengundang It Jie besok datang kerumahnya.
Sesudah mengantar sahabatnya sampai diluar. It Jie masuk
kedalam, melihat isterinya. Isterinya lemah, sebaliknya bayinya
sehat dan mungil, hingga ia menjadi girang sekali. Ia tuturkan
kepada isterinya mengenai perjodohan bayinya Kui Ciang
dengan bayinya sendiri dan menunjukkan tusuk kundai kemala
yang bertaburan mutiara mustika itu. Tapi tentang niatnya
menyingkir dari ancaman An Lok San, ia beium memberi
tahukan isterinya ia kuatir isterinya yang masih lemah, menjadi
terkejut.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Nyonya Su, Louw Sie. Dari keluarga hartawan di Hoo tong.


Tetapi melihat tusuK kundai kemala itu. Dia kagum. ”Aneh
saudara Toan mernpunyai kemala ini! katanya. inilah sebab ia
tahu Kui Ciang miskin.”
Louw sie tidak memandang hina kemiskinan keluarga Toan,
ia tidak menentang keputusan suaminya berbesan dengan
keluarga itu. Ia memang lebih setuju puterinya dinikahkan
dengan orang yang mengerti silat.
”Hanya, aku agak kuatir …” katanya.
”Apa itu,isteriku ?”
”Dia meski tapi dia mempunyai kemala ini …”
”Apakah kau mengira kemala ini didapat dari jalan tak halal?”
”Bukan. Aku percaya dia bukan sembarang orang. Kalau dia
bukan turunan orang berpangkat tinggi, dia mesti dari golongan
orang gagah. sebangsa “Keng Ko atau Liap Ceng”. Mengapa dia
puas hidup melarat disini? tak mungkinkah dia pernah
menerbitkan, onar besar ?”
Diam-diam It Jie mengagumi pandangan. isterinya itu. “Aku
pun mulanya mencurigai saudara Toan harya aku tak menerka
sebagai isteriku,” katanya di dalam hati. Masih ia
menyembunyikan urusan Kui Ciang dengan An Lok San,
melainkan ia katakan: “Kau benar saudara Toan dari keluarga
panglima perang. Mungkin saudara Toan ada musuh-nya tetapi
aku rasa tak usalah kita menguatirkannya.
Habis memesan isterinya menyimpan tanda mata itu. It Jie
keluar pula untuk mengunjungi saudaranya yang usianya lebih
lanjut maka sekalian ia mendengar sesama penduduk
kampungnya masih ramai membicaran kegalakan An Lon San,
yang mereka kutuk, sebaliknya mereka puji si anak muda tidak
dikenal. Ia pun lega hatinya. Ia tidak mendengar bicara
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

didusunnya ada orang asing. Maka pikirannya: “kalau An Lok


San mengenali Kui Ciang seharusnya dia mengirim orang untuk
menyelidikinya.”
Sampai malam baru It Jie pulang sehabis bersantap setelah
jauh malam ia masuk ke kamar tulisnya. Isterinya baru
melahirkan, ada bidan yang menemaninya. Ia tidur pisah,
Ketika itu sudah jam dua kira-kira. Begitu ia masuk kamar tulis
ia tercengang .. Di situ ada seorang yang tidak dikenal
mukanya orang itu berewokan dan karena, pakaiannya
seragam militer. Belum ia sempat menyapa orang itu sudah
bangkit dan memberi hormat padanya sambil tertawa dan
berkata: “maafkan aku yang menjadi tamu tanpa diundang.
Mengingat saudara To An pun orang Kang ouw, kau tentu
tidak merasa aneh bukan?”
Meski ia pelajar lemah, It Jie tidak kaget Begitu ia dipanggil
‘’saudara Toan’ ia langsung menduga kepada duduknya
perkara. Pikirnya : “tadi Kui ciangg menyingkir ke rumahku ini,
pantas orang salah menerka.’
“Kau siapa tuan?” ia bertanya. “Ada urusan apa tuan datang
kemari? tolong kau terangkan”. Ia berlaga pilon. Baru sekarang
ia mulai kuatir.
Opsir itu mengawasi. ia berpikir : “An Tayswee bilang dia
pandai silat dan lihay, kenapa dia sekarang mirip pelajar yang
lemah-lemah? apakah dia terkejut dan takut atau dia berpura-
pura?” ia langsuig duduk dan berkata; “Aku Tian Sin Su
berpangkat Piau kie Jiang kosen dibawahan An Tayswee, Jiat
touw su dari Peng louw.” Ia mengulangi she dan namanya itu
dan menulisnya juga dimeja dengan air teh, tetapi tangannya
kuat di meja itu terlihat tapak jarinya. Ia bicara dengan lagu
suaranya orang Shoatang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sengaja opsir ini berlaku melit demikian. Dia orang kang ouw
atau Sungai telaga, kalangan Hek Too. Jalan Hitam, yang
kesohor, dia ingin orang mengenalnya dan menjadi ciut
hatinya. Dia menghendaki ”Toan Kui Ciang ‘ jeri kan tak berani
melakukan perlawanan. Tapi Su It Jie tidak mengerti silat dan
tidak kenal dia. It Jie pun sudah lantas berpikir.
“Kiranya Tian Jiang kosen!” katanya, tawar tak nampak dia
jeri. “Memang sudah lama aku mendengarnya. Silakan
Jiangkosen memberi tahukan maksud kedatangan jiangkosen”.
“Benar dia pandai berpura-pura,” pikir Sin Su, yang melihat
orang tak takut. Maka ia makin percaya orang benar Toan Kui
Ciang Ia merabah kemeja, membikin lenyap tulisnya yang
sedikit melesak itu, Ia tertawa dan kata : ”Aku tidak sangka
tuan telah mengenal namaku, Kita sekarang berkedudukan lain
tetapi kita asal dunia Kang Ouw, dari itu aku minta sukalah kau
memberi muka padaku supaya aku tak merasa sulit.Tuan, mari
kita berangkat bersama!”
It Jie tetap berpura pilon. ”Kau aneh, Tian Jian Kun. Kita
tidak kenal satu dengan lain. kau hendak mengajak aku pergi
kemana ? Aku belum pernah mengalami ada orang
mengundang tetamu tengah malam buta-rat begini“
Mendadak Tian Sin Su berjingkrak bangun, wajahnya tegang.
”Tuan Toan”, katanya, keras ”kau orang kenamaan dan aku
datang memakai cara hormat kaum Kang Ouw, mustahil kau
menghendaki tak meminum arak kehormatan hanya arak
dendaan? Kau mau turut atau tidak, kau bilanglah! Jangan kau
berpura-pura saja! Apakah begini caranya seorang
enghiong?”
It Jie tertawa.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Aku bukan enghiong: aku memang tak ketahui maksud Tiah


Jiangkosen ! mengundang orangpun harus dengan penjelasan
maksudnya undangan?”
”Oh, kau rnenghendaki maksudnya?” Sin Su mengulangi.
”Baiklah. kau boleh tanyakan kepada An Tayswee kami nanti !”
“Oh, undangan jadi datang dari An Lok San ?” tanya It Jie,
menegasi.
”Ya, An Tayswee pun memesan, biar bagaimana, kau mesti
dapat diundang datang. tak dapat kau tak pergi !” ia berhenti
sedetik, la!u merobah suaranya menjadi lunak : “Tuan Toan,
kau cerdas, tak usah aku menjelaskannya Aku ini diperintah,
aku bekerja turut perintah. maka itu aku minta janganlah kau
persulit aku.”
It Jie lagi mengulur waktu. Ia sangsi, pergi atau tidak ? Kalau
ia pergi, tak tahu ia apa jadinya nanti. Ia benci bangsa dorna,
dengan begitu dengan sendirinya ia membenci An Lok San si
hina-dina Kalau ia tdak pergi, ia kuatir untuk Kui Ciang, sahabat
dan besannya itu. Dengan tidak pergi, ia mesti menjelaskan hal
itu bukankah hal itu berbahaya untuk Kui Ciang sendiri.
“Ah, baiklah aku pergi,” pikirnya. “Kalau An Lok San tahu
orangnya salah menangkap. dia tidak akan bunuh aku. Kalau
Toan Toako yang pergi, ia pasti akan dihina ! mana mungkin ia
mau mengerti ?” maka ia tertawa dan berkata : “An Tayswee
kenal aku dan dia mengutus satu jenderal mengundang aku,
inilah satu keborinatan besar ! inilah harapan baik untukku !
siapa tahu kalau aku akan memperoleh pangkat? hahahaha !
aku telah diundang tak dapat tidak aku pergi !”
Hati Sin Su sudah tegang. ia meraba bahwa ia akan
menggunakan kekerasan, maka legalah hatinya mendengar
perkataan orang itu. Ia tertawa dan berkata : ”Benar-benar
tuan cerdas katanya kau dan An Tayswee sahabat-sahabat
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lama, maka asal kau suka bicara baik. pasti tentulah kau
memperoleh pangkat. Tuan Toan, aku telah menyiapkan kuda,
mari kita berangkat !’”‘
”Eh, begitu kesusu!” kata tuan rumah “Mana mungkin bilang
berangkat langsung berangkat!”
Sin Su terperanjat, wajahnya suram, Tapi lekas dia tertawa.
”Tuan mempunyai urusan apa?” dia bertanya ”An Tayswe
pesan supaya. tuan datang sebelum terang tanah! aku dapat
menanti tetapi Tayswee sendiri tak dapat menganggur
menunggui kau!’
“Aku toh harus pamitan dengan keluargaku. bukan?” tanya It
Jie.
Sin So tertawa, “Jika bukannya aku sudah mengetahui kau
pasti aku menyangka kaulah satu Siu cai si-kutu buku buat apa
main pamit-pamitan lagi? lagi pula mana ada tempo untuk kau
bicara banyak? bagaimana kalau isterimu menangis? sampai
siangpun tentu kita belum tentu berangkat! lagi pula sekarang
tengah malam, mana dapat kau membuat terkejut
keluargamu?” ia berkata begitu, didalam hati ia pikir; “Toan Kui
Ciang ternama besar mengapa dia tidak tahu aturan Kang
Ouw? kenapa tak miripnya ia dengan orang sungai telaga?”
It Jie dapat membaca hati opsir ini. ia memang bukan mau
pamitan dari isterinya itu. Tak mau ia membuat takut dan
kuatir.
Ia memikir lain. Ia telah menduga Sin Su pasti akan
menolak, Ia merasa lega mengetahui Sin Soe tidak menyebut-
nyebut keluarganya
“Kau benar, Ciangkun,” ia berkata ”Tapi aku sedikitnya harus
meninggalkan surat bahkan aku tak tahu kapan aku akan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pulang? surat perlu untuk membuat isteriku tidak terkejut,


bingung dan kuatir.”
Sin Soe terlihat terdesak. „Baiklah kata nya, kau boleh
menulis sarat tapi jangan kau sebut sebut An Tayswee cukup
kau beritahukan kepergianmu itu kalau nanti kau pulang akan
memperoleh kehormatan.”
„Aku mengerti!” It Jie tertawa. „Aku tidak akan sebut An
Tayswee!” dan ia langsung menulis suratnya bunyinya
memberitahu kan ia pergi untuk satu urusan, dan berpesan
kalau ada kesulitan, isterinya boleh minta bantuan saudara dan
sahabatnya.
Sin Soe melihat orang menulis dia berdiam saja. It Jie
melipat suratnya, ia letakkan di tengah meja sambil melakukan
itu ia berkata dalam hatinya : “isteriku cerdik kalau besok kau
membaca suratku ini, tentu kau dapat menerka aku dalam
bahaya, dengan demikian dia pasti akan memberitahukannya
Toan Toako. Isteriku tentu berduka tapi itu lebih baik dari pada
ia berduka sekarang. Toan Toako pasti dapat mengantar
keberangkatan mereka bersama-sama. , . “
Sin Su orangnya pandai tapi dia kurang pengalaman. Tian
Sin Su pandai bekerja, terutama An Tayswee nya . . . . .
”perlahan sedikit,” katanya ketika mereka hendak berjalan
keluar, Setibanya diluar, ia langsung lompat naik ke atas
genteng. Ketika ia menoleh ia tidak melihat ada orang,
kemudian apapun turun.
”Apakah kau tidak jadi pergi?”
“aku berada di rumahku untuk pergi keluar rumah tak pantas
aku berlaku seperti !” sahut It Jie , “Kita dapat mengambil jalan
pintu depan”.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata-kata itu tepat. Demikian seharusnya tindakan orang


kang ouw kenamaan. walaupun dia diancam dan dipaksa, tapi
dia harus jalan melalui pintu depan. Itu nama-nya kehormatan.
Kembali Sin Soe kalah meskipun di dalam hatinya ia merasa
tidak senang tetapi ia menurut dan mengambil jalan dari pintu
depan.
Tiba di luar It Jie melihat tiga ekor kuda sudah siap dengan
pelananya, gopsir dengan pakaian hitam maju sambil memberi
hormat ia berkata: “Inikah tuan Toan ? Aku Sie Siong. Dahulu
aku pernah tinggal di Yu Cie, dan aku pernah mengagumi nama
tuan maka hari ini aku senang bertemu denganmu !”
An Lok San mempunyai beberapa bawahannya yaitu Ko Sen,
dan Sie Siong ini adalah salah satu diantaranya.
It Jie membalas hormat seraya berkata ia pernah dengar
nama besar orang she Sie itu. Kata kata ini membuat orang
senang dan tertawa terbahak bahak.
„Kabarnya”, kata Sin Soe ”untuk urusan keluarga Lie di Ceng
Hoo Kauw kamu hampir bentrok, benarkah itu ?”.
„Benar“ sahut Sie Siong, gembira. „Waktunya juga sudah
ditetapkan tapi kemudian muncul muridnya Hong Jam Kek,
pertempuran di batalkan secara damai, sehabis itu kita
berpisah. Hahaha ! inilah peristiwa empat belas tahun yang
lalu. Sin Su tertawa.” Selanjutnya kita akan jadi kawan sejati,
maka kami bergaulah erat-erat.
It Jie tidak tahu peristiwa Ceng Hoo Kauw itu, ia hanya
bicara sekedarnya. Ia mau selekasnya berangkat jadi tak ada
waktu untuk mengobrol.
Sin Su berjalan di depan, Sie Siong di belakang. It Jie diapit
di tengah Sie Siong asalnya seorang penjahat besar, mahir
dalam ilmu pedangnya San Kog Kiam Hoat. Ia di-tugaskan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengikuti Tian Sin Su supaya ia dapat membantu apabila Sin


Su menghadapi perlawanan.
It Jie duduk di punggung kuda dengan pikiran yang kacau.
Ia berpaling ke arah rumahnya. Ia sangsi memikirkan isterinya.
ia tak tahu ia dapat bertemu dengan isterinya lagi atau tidak.
Begitu pula dengan anak perempuannya. Bagaimana sedihnya
si anak apabila sampai besar dia tak pernan melihat, ataupun
mengenali ayahnya ? ia juga heran kenapa, selama Sin Su
berada di rumahnya tetap sunyi ? bukankah ia berdua telah
berbicara beberapa kali agak keras suara mereka? Mungkin
isterinya tidur nyenyak, tapi bagaimana dengan pembantunya
serta bidan ?
Cin Su ini tidak bisa menunggang kuda tapi ia tidak
memperoleh kesulitan, Kudanya itu kuda biasa dipakai di
medan perang, tanpa kendalian, dia dapat lari.
Kota Tiang-an terpisah hanya enampuluh lie, maka dalam
tempo dua jam, mereka bertiga sudah tiba. Mereka berhenti di
kaki bukit di mana ada sebuah rumah besar, yaitu gedungnya
An Lok San. Ketika itu sudah jam lima, Sin Su dan Sie Siong
tamunya masuk dari pintu pojok dimana tamu tersebut diminta
menunggu di Pek Houw Tong, diruang harimau putih, tempat
berkumpulnya para wie su pengiring atau pahlawan pribadi.
Dengan gembira Sie Siong memperkenalkan, “Tuan ini ialah
tuan Toan Kui Ciang abli pedang kenamaan Yu ciu, dan di
belakang hari kamu dapat memohon pelbagai petunjuk
darinya.’
Di dalam ruangan itu ada beberapa wie-su. Mereka semua
heran dan ada yang beseru ”Oh !” mereka bangkit untuk
memberi hormat. Diantaranya ada yang heran kenapa Toan Kui
Ciang itu mirip Siucay seorang pelajar.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Su It Jie membawa sikap luar biasa. Ia duduk dengan


tenang, siapa memberi hormat padanya, dibalas dengan
mengangguk secara tawar.
Seorang wie-su berkata : ”Toan Tayhiap luas
pengetahuannya, aku ingin menanyakan sesuatu, dapatkah ?”
”Jangan menggunakan banyak adat peradatan. Bicaralah !”
kata It Jie seraya mengangkat tangan, mencegah.
“Selama belakangan ini ada Khong Khong Jie yang terkenal
lihay apakah tayhiap ketahui hal-ikhwal dia ? kami berniat
mengundang orang kenamaan itu, apakah tayhiap dapat
menunjukkan jalannya?”
„Apa itu Khong Khong Jie ? Aku belum pernah
mendengarnya,” sahut It Jie. Para wiesu terkejut. Mereka
bungkam, mereka beranggapan Toan Kui Ciang ini tak meman-
dang pada Khong Khong Jie. Mungkin benar Kui Ciang pandai
luar biasa.
Sin Su tersenyum. ”Bagaimana ?” tanya seorang wie-su.
“Sulit“ sahut wie-su itu.” Yang tua pandai, entah ilmu silat dari
kalangan mana Ada lagi yang muda, entah muridnya atau
bukan, dia mirip anak dusun tetapi dia hebat sekali. sampai
Thio Tong-nia kena dilukai.”
”Apakah parah lukanya ?” Sin Su bertanya. ”Syukur dia tak
cacad. tapi sedikitnya dia meski istirahat tiga bulan Tian Ciang
Kun tampaknya kau harus turun tangan sendiri …”
Mendengar disebutnya si pemuda dusun, It Jie ingat
peristiwa didepan rumahuya. Piauw-kie Ciangkoan tertawa.
”Toan Toako sudah datang, biarlah jasa ini diserahkan
padanya!, Toan Toako, bukan kah kau dapat menolong luka
tusukan jarum rabasia Bwee-hoa ciam ?

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Belum sempat It Jie menyahut, di ambang pintu terdengar


suara nyaring : ”Tayswee menitahkan Tian Ciangkun berdua Sie
Ciang Kun mengajak Toin Kui Ciang menghadap ! Itulah tanda
terang tanah dan An Lok San sudah datang di kantornya. Sin
Su dan Sie Siong langsung membawa It Jie, baru mereka
menaiki tangga sudah terdengar suara An Lok San tertawa dan
berkata dengan nyaring : ”Sahabat Toan, dahulu kau
mengatakan aku pengangguran dan bajingan tak ada gunanya,
hari ini kita lihat bagaimana ? kau yang maju atau aku ?”
It Jie sengaja tunduk dan menutup mulut Sin Su jauh lebih
tinggi darinya, maka An Lok San tidak dapat melibat jelas
padanya.
„Toan Kui Ciang, kau takut toh ?” katanya pula. ”Mengingat
persahabatan kita, kau mengangguklah padaku dan mengaku
salah, suka memberi jabatan pada kau ! Aku kekurangan
seorang tukang rawat kuda, suka aku menghadiahkan jabatan
itu padamu !” la berkata demikian tetapi di dalam batinnya ia
berpikir : „Setelah kau mengangguk dan mengaku salah aku
akan perintah orang memotong lututmu dan memusnahkan
ilmu silatmu, agar seumur hidupmu terhina ! Itu lebih baik
daripada aku membabat kutung tubuhmu menjadi dua potong!”
Ketika An Lok San kesenangan tiba-tiba Su It Jie
mengangkat kepalanya dan berkata nyaring : ”Aku yang rendah
pernah lulus sebagai Cinsu dan pernah memangku pangkat
longkoan. Sekarang Tayswee menghendaki aku merawat kuda,
itu tak cocok dengan undang-undang pemerintah agung !
untuk itu mungkin harus diajukan dahulu surat permohonan
kepada Sri Baginda Raja untuk meminta perkenan dan supaya
kedudukanku dihapus dulu !”
Memang ada aturannya Kaisar Tong Cong Lie Sie Bin, yang
menghargai kaum pelajar, untuk memberi kebebasan kepada
setiap pelajar yang pernah turut dalam ujian negeri, lagi pula
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pelajar pelajar yang telah mencapai tingkat tiga, seperti Cinsu


itu.
An Lok San terkejut, dia langsung mengawasi dengan mata
membelalak. “He, siapa kau ?” tanyanya keras. “Mengapa kau
datang kemari ?”
”Akulah Cinsu dari kerajaan Tong yang agung, namaku Su It
Jie !” sahut Cinsu itu. ”Tentang sebabnya meugapa aku dalang
ke-mari, kau tanya saja ini kedua Ciangkun!”
An Lok San langsung memukul-mukul meja. ”Gila-gila ! Aku
perintah kamu membekuk Toan Kui Ciang, kenapa kau tangkap
orang ini ?”
Tian Sin Su kaget bukan main, dia rnengeluh ditempat yang
salah, ia berkata cepat. “Benar-benar kami sudah pergi
kerumah siorang sbe Toan Benar-benar aku telah mengatakan
Tayswee mengundang Toan Kui Ciang langsung orang ini
mengikuti kami”
“Kapan aku katakan bahwa aku Toan Kui Ciang?” tanya It
Jie. ”Kamu sendiri memaksa aku mengaku jadi Toan Kui Ciang.
kamu paksa tingkahmu galak seperti malaikat jahat ? mana
dapat aku membantah ? mana berani aku melawan
paksaanmu ? kau sendiri yang mengatakan kau sudah
mendatangi dan memuasiki rumah keluarga Toan !, Ciat-touw
su boleh kau mengirim lagi orang-orang untuk melakukan
pemeriksaan! Di kampungku tak ada orang yang tak
mengenal aku! Agar kau mendapat kepastian rumahku
keluarga Su atau rumah keluarga Toan!”
Sie Siong terpaksa maju kemuka, ”Mungkin kami membuat
kekeliruan,” katanya “akan tetapi Tayswee sendiri melihatnya
di siang hari orang yang berkerundung kepala itu lari masuk
kerumah dia ! Tayswee mengenalnya sebagai Toan Kui Ciang
dan dia masuk ke dalam rumah ini untuk bersembunyi, maka
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bagaimanapun dia harus dicurigai! mereka ada hubungannya


satu dengan yang lain ! untuk menangkap Toan Kui Ciang,
Tayswee harus bertindak dari orang ini!”
Dia orang itu menjadi Kee-ciang yang dipercaya, An Lok San
suka memberi muka kepada maka itu, habis menegur ia
memandang Su It Jie.
”Kau juga bukan mahluk baik-baik !” bentaknya, ”jangan kau
andalkan gelar Cinsumu itu! dimataku gelarmu tak berharga
sedikitpun! untuk membunuh kau sudah seperti menginjak
semut! Lekas katakan, dimana Toan Kui Ciang itu”
Tepat pada waktu itu, seorang hamba masuk.
”Ada apa?” tanya An Lok San membentak. wiesu itu
menekuk sebelah kakinya, “harap Tayswee ketahui keluarga
Toan Kui Ciang sudah diundang datang.”
Tian Sin Su berdusta waktu dia mengatakan It Su bahwa
keluarga Cinsu itu tidak diganggu. An Lok San ingin membekuk
Toan Kui Ciang dan tidak akan keluarga Toan dberi lolos. Sin Su
berdua ragu-ragu melayani Kui Ciang, maka itu mereka
menggunakan akal bulusnya. Mereka berdua menangkap ”Kui
Ciang” dengan akal kawan mereka, yang bersembunyi diatas
genting! Nyonya Su semua ditahan dengan mudah, sebab
sedang Sin Su melayani It Su bicara, Sie Siong Su dan
menyulut hio yang asapnya membuat istrinya tidur tak
sadarkan diri.
An Lok San tertawa. “Bagus! “katanya” sekarang aku mau
lihat, kau menghendaki isteri dan anakmu atau tidak? kau
menyerah atau tidak? Hahaha?”
Belum berhenti tertawanya Ciat-touw-su, It Jie sudah
membentak: “Bajingan jahat jangan kau keterlaluan! apakah
salahnya Toan Toako terhadapmu! sungguh menyedihkan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pemerintah Agung telah memakai kau sebagai jenderal! jika


aku mati sebagai setanpun aku tidak memberi ampun padamu.”
Mendengar anak-isterinya ditangkap Cin-su menjadi naik
darah hingga ia lupa segalanya. An Lok San terkejut. tentu
sekaii ia menjadi gusar. Akan tetapi sebelum ia membentak
akan memberikan perintahnya, sudah ada pahlawan pribadinya
yang turun ingin Dadanya It Jie ditinju sehingga dia roboh
dengan muntah darah, tubuhnya rebah dan pingsan.
Ciat-touw-su itu menghela napas. “Seorang pelajar begini
keras hati. sungguh jarang ada katanya. Kau menghendaki
kemauan baik aku akan membuat kau hidup terus! aku akan
siksa kau hingga kau menderita! aku akan lihat, kau tunduk
atau tidak!”. Cinsu ini terlalu menuruti suara hatinya,” kata Su
Su Beng yang berada di sampingnya An Lok San. „Kalau
sebentar dia sadar, dia pasti ingat isteri dan anaknya, kalau
Goanswee memberi budi padanya, mustahil dia tak akan
menyerah ‘.
Su Su Beng ialah Hu ciat-touw-su dari Peng Jouw,
kedudukannya hanya dibawahan An Lok San. diapun menjadi
saudara angkat orang she An ini, meskipun demikian. dalam hal
kecerdasan, dia mengatasi sepnya itu.
”Kau benar,” kata An Lok San, yang! langsung menitahkan
membawa pergi cinsu untuk ditahan.
Sie-su yang menawan Nyonya Su It Jie menanyakan, apa
yang harus diperbuat terhadap tawanannya ini.
”Masukan dia da lam ternpat tahanan wanita!” An Lok San
memerintah, singkat.
“Baik,” sahut wie su itu tapi ketika dia mengundurkan diri,
sepnya bertanya “Tahan dulu! bagaimana rombongan wanita
itu bawa dia kemari!”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Tayswee, dia berwajah biasa saja!” Sie Siong berkata “Dia


baru saja habis melahirkan anaknya . ..”
“Sial, Sial” kata An Lok San tanpa menanti orang bicara
habis. “Hai, kau telur busuk! kenapa wanita habis bersalin
dibawah kemari? “
Di jaman itu orang banyak pantangannya wanita bersalin
dianggap sial, maka itu Ciat-touw-su menjadi gusar.
Wi-su yang malang itu mendongkol, katanya dalam hati:
“Kau yang menyuruh aku menangkap, bagaimana aku tidak
menangkapnya ? . . . .
Ketika itu It Jie sudah siuman, dia berkata gusar: “Kau
memandang enteng jiwa manusia aku ini sudah tahu ! Tapi aku
tidak takut. tidak nanti aku datang kemari”
Semua orang heran atas keberanian Cin su itu.
An Lok San gusar sehingga dia memukul meja.“Seret dia
pergi teriaknya “Hajar dia sampai mati!
“Sabar, Goanswee, ‘”kata seseoreng yang berada di sisi Ciat-
touw su. ”Harap Goanswee mau mendengar perkataanku. “
Dialah Su Su Beng, sang adik angkat.
“Apa katamu, saudara Su” An Lok San bertanya.
“Su It Jie ini sastrawan te kenal dia terkenal juga karena
keberaniannya, ‘ kata Su Su Beng.
“Kabarnya belum lama ia lulus sebagai Cin su dia pernah
mengajukan bagaimana keamanan negara yang terdiri dari
sepuluh fasal di antaranya dia menyerang Sin jiang Lie Lim
Hoa, hingga kesudahannya dia meletakan jabatannya. Maka
kalau sastrawan seperti dia dibinasakan, akibatnya buruk.
Bukankah pernah terjadi Lie Thay Pek mengacau Istana.yaitu
sewaktu Su dia dipengaruhkan akhirnya dia menyuruh Kho Lek
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Soe membuka sepatunya dan Yu Kui-Hui menggisik bak ?


Terhadap sastrawan gila itu Sri Baginda pun dapat mengalah,
dari itu mengapa Goanswee tidak mau mengalah terhadap Cin
su ini ? Membinasakan dia tidak adi artinya, sebaliknyai dunia
akan mengetahui bahwa Goanswee menghargai orang orang
pandai surat. Bagaimana Goanswee pikir ?”
An Lok San kasar tetapi dia dapat ber-pikir. kata-katanya Su
Su Beng masuk dalam otaknya. Memang dia diam-diam ada
maksud besar untuk merampas takhta kerajaan Tong.
“Hahaha” dia tertawa. “Raja dapat mengampuni Lie Thay
pek kenapa aku tidak dapat mengampuni kau ? Baiklah, aku
saka dengan keberanianmu yang besar ! Agaknya kau pandai,
suka aku mengangkat kau menjadi Kie-sit ! Mengenai Toan Kui
Ciang, kau jangan kuatir, kau bantu aku mencarinya, dia pun
aku akan berikan suatu pangkat dalam pasukan tentaraku ! kau
setuju, bukan ?”
Tapi Su It Jie tetap gusar untuknya, pangkat Kie-sit itu
semacam sekertaris pribadi tak ada harganya.
“Aku si orang she Su bodoh tetapi pernah aku membaca
kitabnya nabi dan rasul-asul !” dia membentak. “Maka itu aku
dapat, membedakan si pengkhianat dari menteri setia ! Pangkat
anugerah pemerintah Agung aku tampik, mana aku sudi
merendahkan diri sendiri menghamba pada satu pengkhianat.”
Itu hinaan hebat dan tak dapat An Lok San menerimanya. Su
Su Beng pun menjadi pucat.
“Kau . , . kau …. tak tahu diri ?” katanya, suaranya gemetar.
“Baiklah!” An Lok San berseru.
“Kamu bangsa pelajar tak memandang padaku, aku juga
tidak membutuhkan kamu ! tanpa kau, aku masih dapat
sesuka hatiku !”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tengah ketegangan itu. Su Su Beng habis daya, ada seorang


Wiesu yang datang menghadap. Dia heran juga mengapa Sie
Siong mengatakan isteri It Jie tak cantik, tetapi sedang ia yang
membantu Louw-sie naik ke kereta. dan melihat sendiri
kecantikan nyonya itu.
Itu waktu Sie Siong berkata : “Isterinya It Jie habis bersalin,
untuk menempatkan dia dalam kamar tahanan istana ini pun
tidak tepat. Maka baiknya dia dibawa ke rumah Pie cit saja.”
“Buat apakah itu ?” tanya An Lok San. “Anak Pie cit yang
paling kecil belum berhenti menyusu,” kata hamba itu.
„Kebetulan istri It Jie baru melahirkan, jadi ia dapat menyusui
anak Pie cit itu.”
„Sie Ciangkun, hari ini kau menjadi murahhbati sekali,” kata
sep itu. ”Baiklah, jika kau tidak memandang sial, kau bawalah
dia!“
Sie Siong mengucap terima kasih. Dia senang bukan main.
Dia memang setan paras elok yang selalu kelaparan. Dia
tertarik ter-hadap Louw sie sehingga dia berani mengatakan
nyonya itu wajahnya tak cantik Dia telah memikir setelah Louw-
sie pulih kesehatannya, dia hendak merebutnya ….
„Toan Kui Ciang belum tertangkap,” kata An Lok San
kemudian,” maka itu, Tian Ciangkun, Sie Ciangkun pergi kamu
sekali lagi mencarinya. Dia mungkin belum pergi jauh.”
Sehabis berkata, Ciat-toew-su menyerahkan Leng-cian,
lencana titahnya. Ia pun menugaskan empat Wiesu lain, untuk
membantu kedua pengawalnya itu.
Kedua pengawalnya itu menerima tugas, mereka langsung
mengundurkan diri.
Sehabis berpisah dari Su It Jie, Toan Kui Ciang langsung
pulang untuk menemui isterinya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Nyonya Kui Ciang, Touw Sie, ada buyut-nya Touw Kian Tek
di jaman Cap Pee Loo Hoan Ong jaman pemberontak dari
delapan belas Raja-raja muda. Ketika Touw KianTek berhasil
ditumpas Lie Sie Bio, turuTiannya tetap bidup dalatn Lot Lim,
dunia Rimba. Hijau. terus melakukan pekerjaan “tanpa modal. ”
Touw sie, yang bernama Sian Nio, bida dari saudara
saudaranya. Da pandai silat, dia tak setuju menjadi begal atau
berandal. Pada suatu hari dia bertemu Kui Ciang. ke duanya
bertempur, tidak ada yang kalah din menang. hingga mereka
jadi tertarik satu dengan yang lain, dan langsung mereka
menikah, sebagai isteri Sian Nio pandai membawa diri, hingga
semua tetangganya mengira dialah wanita pedusunan yang
biasa saja.
Begitu bertemu isterinya Kui Ciang menuturkan masalahnya
babwa ia sudah mengikat jodoh bayi mereka dengan keluarga
Su, Touw-sie senang menerima kabar itu. Ia setuju keputusan
suaminya, setelah itu Kui Ciang menuturkan masalabnya ia
melihat An Lok San, karena ia sudah memperoleh keputusan
dengan It Jie untuk pindah dari Su Kee Cun ini untuk
menyingkir dari bajingan yang bintangnya sedang cemerlang.
”Menghindar adalah tindakan yang baik” kata Touw-sie .
”Sekarang kita harus waspada, Kita mesti jaga kalau-kalau
sebelum Goan siauw, An Lok San nanti mengirim orangnya
untuk menangkap kau.”
”Kau benar,” kata Kui Ciang.
”Kau pikir bagaimana?”
”Dihari-bari biasa, biasanya An Lok San mempunyai banyak
orang Tak usah kita kuatir,” kata Sian Nio. ”Sekarsng ini lain
habis bersalin, tenagaku kurang banyak se-kali. Lagi pula ada
bahaya, aku berdua anak kita dapat mengganggu
kebebasanmu . . . . “

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Apa katamu?” tanya Kui Ciang „Sebagai suami isteri,


bukankah kita harus hidup dan mati bersama? mana bisa aku
menyesalkan kau? ”
“Bukan begitu!” isterinya tertawa. “Kita mati bersema, itu
bagus! Tapi, apa kau tak pikirkan keturunanmu? Maka itu, aku ,
..”
”Kau bicaralah!” suaminya mendesak. ”Kau sangsikan apa?”
”Aku bicara tetapi kau jangan gusar” kata sang isteri „Aku
pikir baiknya kau ijinkan aku berangkat terlebih dulu,
maksudku, aku berangkat lebih dulu kau belakangan. Artinya
kau menanti sampai nyonya Su sudah sehat baru kau
berangkat bersamanya. Untuk sekalian melindunginya. Kau
menyusul kerumahku …….”
”Apa?” mata Kui Ciang membelalak. ”Kau mau pulang
kerumahmu?”
”jangan kau kuatir!” Sian Nio tersenyum. ”Sekarang ini
mungkin aku tidak dapat bertahan terhadap prajurit-prajuritnya
An Lok San, tetapi kalau baru segala kurcica di tengah jalan aku
tidak takut maka itu kau ijinkan aku membawa anak kita aku
mau berlindung dulu di rumah kakakku yang sulung untuk.
sementara waktu saja, Bersama keluarga Sa itu kau menyusul
aku kesana.”
Kui Ciang masih tidak puas, „Isteriku kau ingat apa katamu
ketika dulu kau mengikuti aku keluar pintu?” tanyanya.
”Pasti aku ingat!” sahut isterinya. “Dahulu paman dan
kakakku mengajak kau bekerja sama kau menolak keras.
Sampai kita bentrok, Ketika itu aku telah katakan kecuali
mereka mencuci tangan tidak nanti aku pulang lagi, tak sudi
aku menjadi orang jahat!”
“Nah ! apakah sekarang mereka sudah cuci tangan ?”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Sekarang kita lagi menghadapi ancaman bencana . . . .”


”Tidak ! kehormatan kita tidak dapat dirintangi kesukaran!
lagi pula sekarang, selagi kita terancam bahaya kita pergi ke
sana, seperti mereka tidak mentertawai, aku sendiri tidak
punya muka !”
Sian Nio tahu benar tabiatnya suaminya. la menghela napas.
”Jika kau tidak setuju, sudah ah . . . .” katanya, masgul.
Kui Ciang kuatir isterinya berduka, lalu ia menghiburnya „An
Lok San sedang menempel Yo Kui-hui.” katanya,” dia sekarang
lagi bersenang-senang di kota Raja, belum tentu dia begitu
perlu mencari kita. Atau kalau toh dia berani mencarinya, tak
mungkin dalam beberapa hari ini, maka itu biarlah aku
memikirkannya Tubuhmu kuat, tapi kau baru melahirkan, kau
jangan banyak pikir. Pergilah kau beristirahat !”
Kui Ciang hidup melarat, tak kuat ia memelihara pembantu
atau bidan untuk merawat isterinya, maka ia sendiri mesti
mem-bantu isterinya itu. Kemudian ia pergi memeriksa
senjatanya, pedang dan senjata rahasia. Ia membersihkan
pedangnya itu.
”Pedang, Oh pedangku,” ia berkata perlahan. “Sudah
belasan tahun aku menyimpan kau, mulai hari ini aku akan
menggunakan kau pula “
Tengah ia termenung itu Kui Ciang mendengar suara
perlahan-lahan di luar rumahnya. Seorang yang ahli, tahulah ia
apa artinyai suara itu. Maka ia berkata dalam hatinya : ”Baik
kau datang ! rupanya malam ini aku mesti membuka pantangan
membunuh !”
Malam ini malam tanggal satu rembulan! belum ada hanya
bintang-bintang bertaburan maka itu, pekarangan rumahnya
menjadi gelap. Ia langsung bersembunyi di pojok tembok,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangannya mencekal pedang dan senjata rahasiannya itu.


Mulanya ia mengambil dua Samleng Touw-kut-piauw, piauw
yang beracun, kemudian ia tukar itu dengan dua potong thie
lian cie, biji teratai besi yang tak ada racunnya.
Pada saat itu dua sosok bayangan berkelebat lewat di atas
tembok.
”Kau rebah” membentak Kui Ciang seraya bergerak dari
tempat persembunyiannya, dan tangannya terayun. Ia
membentak karena tak mau ia main bokong.
Habis menyerang, Kui Ciang tercengang. Kedua thie-lian-cie
seperti kecemplung di laut, tak mengenai sasaran, tak
terdengar suara jatuhnya di tanah Itulah bukti liehay-nya pihak
lawan.
Segera terdengar suara tertawa yang nyaring dan kata
katanya „Moay-hu senjata rahasiamu makin liehay !”
Kui Ciang kenal suara itu, dia heran “Oh, shaku !” dia
menyambut. Suara tadi suara dari seorang berusia lanjut,
terdengar pula: “kiranya kau masih ingat sanakmu ! sudah
sepuluh tahun lebih kita berpisah, mengapa kau tidak pernah
memberitakan sesuatu ?”
Touw Sian Nio mempunyai lima kakak laki-laki , dan orang
tua itu ialah kakaknya yang ketiga, namanya Leng Hu. Kui
Ciang tak suka bekerja sama dengati ipar iparnya itu tetapi ia
mengakui sanaknya. Maka ia langsung menyambut iparnya
yang ketiga itu, ia mengundang masuk. Cepat cepat ia
menyalakan lilin
Heran Kui Ciang melibat iparnya itu yang bajunya
berlumuran darah. Sang ipar pun datang bersama seorang
muda berumurl kira-kira delapan belas tahun, yang mirip anak

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

petani sikapnya pendiam, dia berdiri disisi Leng Hu dengan


mengawasi tuan rumah secara tawar.
”Tengah malam mereka datang kemari, mau apakah
mereka?” Kui Ciang menduga-duga. Rupanya dia menderita
luka …
’Anak tolol, kau tidak mengenal aTuran ” Leng Hu menegur
kawannya. “Kau bertemu saudara yang lebih tua mengapa
kau tidak memberi hormat ?”
Bocah itu langsung memberi hormat dengan bertekuk lutut
dan menganguk tiga kali dan memanggil : „ Kouwthio!”
Kui Ciang membungkuk untuk membangunkan, di dalam hati
kecilnya ia berkata : ”Ketika kita berpisah. shako hanya
mempunyai seorang anak perempuan, kalau ini puteranya tak
nanti dia sebesar ini . . . “
Anak tanggung itu menolak tangan orang seperti yang tak
suka dibangunkan. Ia bangkit sendiri. Bersamaan dengan itu,
sepotong thie-lian-cie jatuh dari tangannya, dia pun berkata
dingin : ..Kouwthio, ini aku kembalikan thie lian cie Kouwthio !”
Kui Ciang melengak. Ia mengira kepada kaki tangannya An
Lok San, maka ia mengambil sikap turun tangan lebih dulu.
Meski demikian ia tak mau menggunakan senjata rahasia yang
beracun, dan di waktu melempar, ia memakai tenaga tujuh
bagian. Ia tidak menduga yang datang saudara sendiri. Lagi
pula tak heran kalau Leng Hu dapat menyambutnya senjata itu,
tidak demikian dengan bocah ini.
„Hm !” terdengar suaranya Leng Hu, yang menegur bocah
itu : “Sungguh dungu! Kau sudah memasuki dunia Kangouw
selama dua tahun, mengapa lagakmu seperti si hijau ?”
Anak muda itu berdiri diam, matanya mengawasi Kui Ciang.
Leng Hu berkata pula : „Lain kali diwaktu malam gelap jangan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lancang menyambut senjata rahasia ! syukur teratai besi


kouwthiomu tidak ada racunnya kalau tidak, dengan tenaga
dalammu mana dapat kau menutup jalan darahmu ? kalau
terkena racun, walaupun kau tidak mati pasti tanganmu akan
cacad seumur hidupmu !”
---oo0dw0ooo---

Jilid 2
Ia mengeluarkan sebuah thie-lian cie dari tangan bajunya.
mengembalikan kepada Kui Ciang, kepada si bocah ia terus
berkata : “Bukankah kau telah mempelajari mendengar suara
senjata rahasia ? Dari suaranya saja kau sudah mesti tahu
senjata itu dilempar-kan dengan tenaga berapa besar, maka itu
kau harus mengimbangi suara itu. Kalau kau sanggup kau
sambutlah dengan ujung baju, kalau tidak, kau mesti berkelit !”
“Terima kasih, sha-cek!” kata si anak muda, yang memanggil
sha-cek, paman yang nomor tiga, “Nasihat ini
hanya benar separuhnya,”
Pikir Kui Ciang. “Kalau orang bertemu ahli yang pandai,
suara anginnya tak dapat diandalkan lagi . . . ” ia melirik si
anak rruda yang jari tangannya hitam. Cepat-cepat ia
mengeluarkan obatnya dan kata nya : “Tanpa pengalaman
tanpa pengetahuan! untuk anak muda, tambah
pengalaman tambah bagus! tapi aku sendiri, semasa aku
berusia sebaya dengannya, aku tak sepandai dia! Apakah
tanganmu sakit? sambil dipakaikan obat ini kau akan cepat
sembuh!”
Kata kata yang terakhir ini ditujukan kepada si anak muda.
Tapi dia menolak tangan yang berikutnya untuk diberi obat,
sambil berkata dingin : „Tak usah! luka ini tak menghancurkan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tulang, nyeri sedikit tak apa! kalau mesti memakai obat


dapatkah orang disebut enghiong.”
Touw Leng Hu menyaksikan itu, dia tertawa dan berkata :
“Sudah, moayhu, jangan layani dia! Dia mau jadi enghiong,
maka tak apa dia tersiksa terasa nyeri sedikit !”
”Ha, anak yang bertabiat keras!” pikir Kui Ciang.
”Mungkinkah dia tak senang terhadapku?” ia menyenangi anak
ini walaupun sikapnya sargat dingin, tiba-tiba ia ingat sesuatu,
maka ia berkata pula dalam hatinya; ”Mungkinkah dia ini bocah
yang tadi menolong anak-anak dari injakan daki kuda?” ia
hendak menanyakan Leng Hu, atau iparnya itu sudah
mendahului bertanya; “Eh, mana adikku? . . , , .
Belum suara itu berhenti, belum sempat Kui Giang
menjawab dari atas genting sudah terdengar tertawa geli dan
halus, disusul dengan lompat turunnya sesosok tubuh, yang
langsung berkata; “Shako, angin apa yang meniup kau datang
kesini?”
Dan Touw Sian Nio muncul diantara mereka, Nyonya Kui
Ciang juga mendengar suara datangnya tetamu malam karena
ia tahu, pasti suaminya sudah berjaga-jaga, ia keluar dari
belakang, untuk merondai rumahnya, setelah melihat dan
merasa yakin tidak ada mu suh, baru ia kembali, kebenaran ia
mendengar suara kakaknya yang ia kenal itu, ia langsung
menyahut dan memberi hormat.
“0h, Liok-moay, kau tak melupakan kebiasaanmu kaum
rimba hijau. kata sang kakak tertawa juga. Eh. mengapa
mukamu pucat? Apakah kau sakit?”
Sian Nio tertawa tanpa menjawab. Kui Ciang tertawa dan
menjawab; ”Dia bukannya sakit hanya tadi malam dia
melahirkan seorang bayi laki-laki!”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kionghie! Kionghie!” kata Leng Hu girang. “Oh, sayang aku


si shaku, aku tidak membawa apa-apa untuk hadiah!”
Si anak muda langsung memberi hormat kepada nyonya,
Sian Nio heran, orang memanggil kouwthio kepada suaminya.
”Keponakan yang mana ini?” tanyanya, ”aku tidak
mengenalnya?” ‘
”Apakah adikku masih ingat Tiat Cee-cu dari Yan san?” Leng
hu balik menanya,
”Oh,” kata Sian Nio. ”Jadi dialah keponakan yang nama
kecilnya di panggil Mo lek? aku ingat sekarang diharian aku
menikah dencan Kui Ciang Tia, ceecu datang kepesta dengan
membawa putranya ini!”
”Memang dialah bocah ini!” kata leng hu.
”Ah sungguh cepat sekali hari berlalu” kata Sian Nio ”tanpa
terasa belasan tahun sudah berlalu. Dia telah menjadi seorang
enghiong!”
”Apakah Tiat Ceecu baik?”
Ditanya begitu, mata si anak muda menjadi merah. “Tiat
Ceecu menutup mata dua tahun sepeninggalnya kamu” kata
Leng Hu memberitahu ”Anak ini langsung dipungut anak oleh
Toako. Dia berotak cerdas sekali, dalam belajar silat dia
mengungguli anak-anak yang lain Itulah sebabnya aku
membawa dia. Mo lek, apakah kau ingin belajar ilmu jarum
rahasia Bwee hoa ciam? nah lain kali kau belajar pada bibimu!”
Mo lek ini puterannya Tiat Ceecu, yang bernama Kun Lun.
orang suku Ouw. Dijaman Tong itu, diwilayah utara orang Han
tinggal bersama dengan orang Ouw, isterinya Tiat Kun Lun
ialah gadisnya Hong Kui Siang, seorang jago dari kota Hoan
yang. Keluarga Hong ada hubungannya dengan keluarga Touw.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiat Kun Kun pandai, dia bergaul erat dengan Touw maka
setelah meninggal, Mo lek diserahkan pada kakaknya Leng Hu.
Kemudian Sian Nio bertanya kepada kakaknya ; „shako,
kenapa bajumu ada darahnya? apakah dijalan kau telah
melukai atau membunuh orang ?”‘
“Aku pernah membunuh banyak orang kali ini hampir aku
dibunuh orang” sahutnya.
Nyonya Toan heran, “shako bertemu dengan musuh yang
tangguh? Apa yang terjadi dirumah kita?”
“Baru hari ini aku sampai disini,” kata Leng Hu, sebenarnya
aku ingin minta bantuan bantuan kamu dalam urusan dua
urusan ini !”
”Silakan tuturkan,” kata Kui Ciang, singkat. la mendahului
isterinya.
“Pertama-tama aku mau minta moayhu memberi obat
padaku,” kata ipar yang nomor tiga itu? ”Sebenarnya aku
sangat malu, Inilah yang pertama kali aku mengalami
kekalahan dan terluka juga!”,
Kui Ciang heran. “Dia agaknya terluka sedikit. kerapa dia
sampai minta obat padaku ?” pikirnya.
Tengah ia berpikir itu tiba-tiba ia mendengar suara cita
sobek. Itulah Touw Leng Hu, yang tanpa menanti membuka
bajunya, sudah sobek itu, untuk memberi lihat dadanya dimana
ada sebuah titik merah sebesar tusukan jarum. Dia pun
langsung berkata „Kau lah ahli, kau tentu kenal ini!”
Kui Ciang kaget, mukanya pucat. „Inilah jarum Pee bie ciam
!” serunya. “Apakah shaku dengan keluarga Tong dari Kiam-lam
bermusuhan ?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jarum Pee-bie ciam itu jarum alis putih lihay sekali. Siapa
terlukakan itu dan racunnya masuk ke jantung. akan tewaslah
jiwa-nya Leng Hu terluka di dada dekat dengan jantungnya,
maka itu dia terancam bahaya maut.
„Orang yang rnelukai ini belum aku tahu hal ikhwalnya,’ kata
jago she Touw itu,” meski demikian aku merasa pasti dia
bukanlah orang keluarga Tong.”
“Apakah shako kena dibokong tanya Sian Nio”
“Bukan !“ sahut kakak itu. “Kami berdiri depan berdepan,
kami bertempur secara laki-laki, rneski benar dia telah
menggunai senjara rahasia yang beracun ini, tak dapat aku
membilang apa-apa.’
Jikalau Tong itu kesohor sebagai ahli senjata rahasia tetapi
dalam ilmu silat mereka bukanlah lawan keluarga Touw kalau
mereka hendak mengalahkan Leng hu, mereka mesti main
curang. Sekarang kejadiannya tidak demikian.
“Orang itu dapat melukai dengan senjata rahasia, kenapa dia
masih melukai juga sedikit dengan pedang?” ia heran tapi ia
tidak mau menanya. sebab Leng Ho sendiri membungkam.
Maka ia kata : “Obatku. Leng ce Kie Tok Wan bukan obat tepat
untuk luka senjara rahasia tetapi dengan dibantu tenaga dalam
shaku, aku rasa cukup dengan sebutir luku shaku akan
sembuh.“
Ketika dulu hari kakeknya Kui Ciang berperang ke Barat
disana dia mendapatkan pohon obat Leng cie dan ribuan tahun,
maka pohon obat itu diambil dan dijadikan bahan obat
menyembuh racun, biasanya cocok untuk pelbagai macam
keracunan, maka juga Leng Hu memintarnya.
Sian Nio lantas pergi ke dalam, akan mengambi obatnya,
sembari kaluar pula ia tertawa dan kata: “Anak kita tidur

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nyenyak sekali, aku dapat tempo urtuk menemani kamu bicara


shako apa itu hal yang kedua?’
Leng Hu mengawasi tajam, romannya sungguh sungguh.
“Adikku, aku tak tahu kau masih ingat persaudaraan kita atau
tidak ?“ tanyanya sebelum dia menjawab.
“Hebat pertanyaan kau ini shako! ‘kata si nyonya. “Kita
bersaudara kandung mengapa aku tidak ingat“.
“Jikalau kau masih ingat kita bersaudara” kata Leng Hu,
masih berharap aku minta kau bersarna moyhu pulang ke
rumah kita, untuk kamu menolongi jiwa kami!‘.
Leng Hu kenal balk sifat Kui Ciang sebagai turunan Jenderal,
Ia tidak mau bergaul dengan keluarga orang jahat, karena ini
dia tidak mau bicara langsung hanya secara tidak langsung
kepada adiknya.
Kakak itu mengawasi adik perempuannya, dan Sian Nio
mengawasi suaminya. Adik ini bersangsi sekali.
”Shako, baiklah kau bicara dulu biar jelas, “kata kemudian.
“Apakah yang telah terjadi ?”
Tauw Leng Hu tetap memandang adik-nya. ”Orang keluarga
Ong di Peng Yang belum lama ini sudah bentrok dengan
keluarga kita, dia berkata, ‘ Kita bertempur hebat tetapi,
sungguh malu. beberapa kakakmu yang tidak punya guna telah
kena dikalahkan mereka “.
Keluarga Ong itu sama dengan Keluarga Touw. Mereka
turunan Ong Sie Tong. Setelah Ong Sie Tong ditumpas Lie Sie
Bin anak cucunya seperti anak cucunya Touw Kian Tek semua
hidup sebagai orang orang jahat. Kedua keluarga pun
bermusuh, tidak heran kalau mereka bermusuh turun temurun
sering mereka bentrok.’ berterang’ atau bergelap. Hanya kali
ini, heran Sian Nio mendengar perkataan kakaknya ini.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai kepada turunan mereka ini. Keluarga Ong itu kalah


dari pada keluarga Touw Lima saudara laki-laki keluarga Touw
gagah semuanya, murid mereka pun berjumlah puluhan, semua
tersohor dalam Rimba Hijau, keluarga Ong terdiri cuma dari
satu orang, Yaitu Ong Pek Thong. Dia ini gagah tapi dia kalah
dibanding dengan lima saudara Touw, jangan kata dikepung
berlima satu awan satu juga dia masih tak nempil, Ong Pek
Thong mempunyai dua anak, satu pria dan satu wanita dan
murid muridnya juga lebih sedikit maka itu setiap mereka
bentrok pihaknya yang tentu kalah. Maka akhirnya, pihak Ong
selalu mengalah kalau bersamprokan, mereka menyingkir lebih
dulu. Inilah sebab yang mengherankan Sian Nio.
“Kau tidak tahu Liok moay, “ kata Leng Hu yang bisa
membadi keragu-raguan adiknya itu “Sekarang ini dunia Jalan
Hitam beda dari pada dulu, sekarang jamannya anak muda dan
kita kaum tua, kita kena tertindih mereka.”
Sejak ia turut suaminya Sian Nio sudah mengundurkan diri,
maka itu ia asing dengan perubahan jaman. Tapi mengenai
keluarganya, ia ingat baik sekali, ia tetapi memperhatikannya.
”Apakah Ong Pek Thoang telah mengundang bantuan orang
liehay ? Siapakah pembantunya itu? Apakah kakak yang lainnya
pun pada terluka ?”
“Benar Ong Pek Thong mengundang orang liehay, ialah Ceng
Ceng Jie.”
”Ceng Ceng Jie ?” mengulangi si nyonya. „Aku belum pernah
mendengarnya . . . .”
“Kita tinggal bersembunyi di dusun ini sudah belasan tahun,
pantas kita menjadi si tuli !” kata Kui Ciang, bersenyum.
“Selama uang belakangan ini dalam dunia Kang Ouw telah
muncul dua orang yang liehay sekali,” Touw Leng Hu

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menerangkan pula. „Mereka masih sangat muda, barangkali


usianya belum dua puluh tahun. Ceng Ceng Jie satu
diantaranya Yang lainnya ialah Khong Khong Jie. Kami belum
pernah melihat Khong Khong Jie tapi dia kabarnya lebih liehay
daripeda Ceng Ceng Jie, katanya liehay luar biasa. . . .!”
Alisnya Sian Nio berbangkit. ”Liehay luar biasa bagaimana ?”
tanya dia. “Bicara dari hal Ceng Ceng Jie saja, benarkah dia
dapat mengalahkan kakak berlima ?”
Sian Nio nampak halus tapi sebenarnya tabiatnya keras.
Leng Hu kenal tabiat adiknya ini, ingin dia membangkitkan
kemarahannya. Maka dia menghela napas dan kata dengan
lesu : “Sudahlah, buat apa disebut-sebut pula. Kali ini keluarga
kita roboh benar-benar. Toako terlukakan, dan Sie-tee juga
terkena sebatang jarum Pee bie ciam….”
Toako itu, sang kakak sulung, Leng Ciok namanya, menjadi
pemimpin Rimba Hijau di wilayah Utara, ilmu silatnya liehay
sekali, sampai Kui Ciang pun mengaguminya. Sekarang ia
mendengar Toako itu, ipar pertama, mendapat luka juga, ia
terkejut. Dari tak ada perhatiannya, ia menjadi ketarik hati.
„Pada suatu hari Ong Pek Thong dagang dengan membawa
Ceng Ceng Jie,” kata Leng Hu, meneruskan keterangannya.
„Ceng Ceng Jie itu kurus kering mirip seekor kunyuk, kami tak
memandang mata padanya. Tapi dia justeru menantang kami
berlima melayani dia seorang diri. Tentu sekali kami tidak mau
meruntuhkan nama kami. maka itu. kami mengajukan dulu
Jieko. Baru beberapa jurus, sudah terkurung sinar pedangnya.
Soetee dan Ngo tee melihat gelagat buruk terpaksa mereka
maju membantui. Nyatanya mereka bertiga kena terdesak
mundur. Oleh karena terpaksa, aku maju bersama Toako.
Toako menggunakan tamengnya, Thian Su Sin-pay, ia tidak
takut senjata tajam, ia maju di depan, kami berempat dikiri dan
kanan. Hebat kami bertempur. Dalam setengah jam dapat kami
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengurung dia. Tepat dia terkurung, dia mengeluarkan jarum


rahasianya itu Pee bie ciam . . . !
Kui Ciang berpikir : „Kamu mengeroyok orang, pantas orang
menggunakan senjata rahasianya.”
”Jikalau dia ialah orang lain, jarumnya itu pasti tidak dapat
berbuat apa apa atas diri kami ” Leng Hu melanjutkan, „Dia
benar benar liehay. Di samping pedangnya yang liehay itu, dia
menggunai senjata rahasianya itu kami dijadapi kesulitan Kalau
kami menyingkir dari pedang sukar kami menghindari jarum
rahasia. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya terpaksa kami
bersedia terkena jarum daripada tertikam atau terbabat
pedansr Syukur toako liehay dengan tamengnya, Jieko dan ngo
tee dapat membela dirinya. Aku ber sama sietee ayal sedikit,
lantas kita terkena jarum aku di dada, sie tee di kaki. Toako
berkelahi terus, celaka ia terpapas kutung dua jeriji tangan
kirinya. Di saat kalap, kamipun dapat mengguratkan pedang
kami dua kali padanya. Sampai di situ berhentilah pertempuran
itu.”
Sian Nio menghela napas lega. „Masih beruntung, itulah
bukan roboh runtuh!” katanya.
”Ceng Ceng Jie terluka. cuma di kulit.” kata Leng Hu. “Kami
terluka parah. Bukankah itu berarti keruntuhan?”
”Bagaimana dengan lukanya sieko?” Adik perempuannya
memberati kakaknya yang ke empat. Kalau kakak tuanya,
terkutung dua jerijinya, tidak seberapa, „Syukur sie-tee terluka
bukan ditempat yang berbahaya,” kata Leng Hu, „Racun jarum
tak nanti menyerang cepat, ke jantung, Sedikitnya sietee dapat
bertahan satu bulan.”
Meski begitu sampai itu waktu dua puluh hari sudah lewat.
Kui Ciang pikir, kalau begitu Ceng Ceng Jie benar lihay sekali.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Touw Leng Hu berkata pula; ”Liok moay kau anggauta


keluarga Touw, kau ketahui baik sifat kami. Belum pernah
minta bantuan pihak luar. Tapi kau termasuk Keluarga Touw,
maka itu tak terhina kalau aku minta bantuan kamu!”
Sian Nio tetap bersangsi, ia mengawasi suaminya, tak berani
ia lancang membuka mulutnya.
Leng Hu melihat keadaan itu. ia berkata pula: „Turut
penglihatanku, di jaman ini cuma ilmu pedang moayhu yang
dapat melayani Ceng Ceng Jie. Mengenai kau Liok moay, toako
semua mengharapi jarum rahasiamu. Kau telah mewariskan
sempurna kepandaian ayah, ilmu pedang dan senjata rahasia.
Toako minta aku menyambut kau suoaya selagi moayhu
melayani musuh kau hajar dia dengan Bwee hoa ciam. Dengan
begitu barulah kita mempunyai harapan dapat kemenangan
dan nana baik Keluarga Touw dapat dilindungi. Maka juga kami
sangat mengandal kepada kamu berdua suami isteri! ‘
Sian Nio tetap diam, ia tidak berani mengambil putusan. Ia
terus mengawasi suaminya Kui Ciang nampak kurang puas.
„Shako.” ia berkata,adikmu baru saja habis bersalin…, Juga
Ceng Ceng Jie dia maui merawat lukanya dulu,” kata Leng Hu.
„Sebelum sembuh tidak nanti dia berani datang menantang.
Lagi pula adikku tidak ber tempur langsung, dia menanti
dipinggiran untuk melepaskan jarum rahasianya, Aku rasa habis
sebulan baru kita dapat bertempur pula.”
„Toan Long. kau pikir bagaimana akhirnya Sian Nio tanya
suaminya. Inilah menandakan lagi ia sudah tidak ada soal lagi
tinggal putusan sisuami.
„Rumah tangga kau mempunyai urusan, kau hendak pulang,
aku tidak dapat menghalang-halangi” sahut Kui Ciang. ”Ilmu si-
latku sudah banyak tahun tak dilatih pula, maka itu aku merasa
tak dapat aku melawan Ceng Ceng Jie yang demikian lihay.”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mukanya Leng Hu menjadi pucat. Tak puas dia. “Jikalau kau


tidak suka pergi, bilanglah terus terang!” katanya keras „Kaulah
bangsa enghiong, bangsa hiap kek, kau tidak sudi mengaku,
kami sebagai sanak, meka juga keluarga Touw tak demikian
tebal mukanya berani minta banuanmu!”
„Shako, tak tepat kau bicara begini.” kata Kui Ciang, „Aku
ingin bicara kau sudi mendengar atau tidak terserah padamu.”
„Bicaralah !”
”Ingin aku memberi nasihat supaya kamu menggunai ini
ketika yang baik untuk mencuci tangan, buat mengundurkan
diri,” kata Kui Ciang, terus terang.
„Bukankah Ong Pek Thong itu cuma memperebuti nama
kosong sebagai jago Rimba Hijau? jikalau ke tempat yang sepi,
apakah dia dan Ceng Ceng Jie masih akan mencarinya buat
membikin habis Keluarga Tauw?”
“Nasihat yang berharga’!’ kata Leng Hu. mengejek. „Kau
bukan anggauta Keluarga Touw. Tetapi kau menikah putrinya,
keluarga itu kau tentunya ketahui ajaran Keluarga kami! Kami
lebih suka binasa daripada terhina! Sudah seratus tahun lebih,
tak pernah ada orang yang menghina kami! Tak dapat kami!
mengelepoti kepala kami! Taruh kata kami hendak mencuci
tangan? itu mesti terjadi sehabis kami membalas dulu sakit hati
in!”
„Bicara dari hal pembalasan rasanya kamu lebih banyak,
rasanya kamu lebih banyak berhutang jiwa orang,” kata Kui
Ciang, sungguh-sungguh. „Orang Rimba Hijau hidup diatas
golok, maka itu bagi mereka terkalahkan atau terbinasakan
adalah soal tak dapat dihindarkan. Jikalau kamu terus main
balas-membaias tak lapisnya, seteleh Ceng Ceng Jie terbunuh,
siapa berani jamin tak nanti muncul Ceng Ceng Jie yang
kedua ?”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang tidak pandai bicara, hebat kata katanya ini, sedang
itu waktu, Leng Hu lagi panas hatinya Sian Niopun serba salah.
Ia kenal sifat suaminya itu hingga tak berani ia membantui
adiknya meskipun ia telah memikirkannya.
Touw Leng Hu mengibas tangannya, ia kata dengan
kemendongkolan yang ditahan : ”Anggap saja aku datang ke
pintu yang salah ! Aku membikin kehilangan muka sendiri !
Nah, aku meminta diri!”
“Shako!” Sian Nio berkata, “Shako. Kau duduk dulu! mari kita
bicara baik-baik!”
Tapi Kui Ciang berkata : “Shako telah berkeputusan untuk
menuntut balas ! sesuatu orang ada cita-citanya sendiri, tidak
berani aku mencegah atau mengasi pikiran lagi. Ini dua butir
obat Leng cie Kie Tok Wan harap kau bawa pulang untuk
sieku.”
Leng Hu sudah berbangkit. “Tak usah!” dia kata “Taruh kata
dia dapat disembuhkan, dia toh bakal terluka pula di tangannya
Ceng Ceng Jie!”
„Sekarang sudah malam, shako,’ kata Sian Nio, berduka.
„Kalau kau mau berangkat, berangkatlah besok pagi . . .’
Leng Hu berdiam, dingin sikapnya, Si anak muda, yang sejak
tadi berdiam saja, yang cuma tertawa dingin, mendadak
membuka mulutnya. Katanya : “Berdiam di sini satu malam
tidak apa, hanya kalau sebentar datang sahabatnya kouwthio,
sahabat yang memangku pangkat kalau dia melihat disini ada
penjabat besar, itulah tidak bagus, pasti berabe dan sulit!,
paling benar mari kita berangkai sekarang juga! ‘
Kui Ciang melengak ia berjingkrak. „Mo Lek, apa katamu?”
tanyanya La heran bukan main ia berpikir: “Seumurku, aku
tidak mempunyai sahabat pembesar negeri. “Mungkinlah

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka maksudkan Su It Jie? Tapi Su Toako sudah lama


meletakan jabatannya. Laginya, mereka ini berdua baru saja
sampai disini mana mereka ketahui Su Toako itu sahabatku?’
Mo Lek minggir ke samping. „Sahabatmu itu sahabat jempol
!” dia kata pula, keras. „Apakah kau takut aku menyebutnya ?
kau tidak mau membiarkan kami pergi, apakah kau hendak
membekuk kami untuk diserahkan pada sahabatmu si
pembesar negeri itu supaya kau memperoleh jasa ? Benar tadi
yang menolongi anak-anak dari kaki kuda ialah aku ! Aku pula
yang menyerbu An Lok San ! kau mau apa ?”
Touw Leng Hu membentak : “Bukankah ayah angkatmu
telah memberi pengajaran kepadamu ? Tujuan tak sama, tak
dapat orang bekerja sama, maka itu, buat apa kau banyak
omong lagi, tidak apa kau menerbitkan onar tetapi dengan
begitu kau bawa-bawa tulang tuaku ini ! Bisa-bisa kau nanti
mengantarkan jiwaku di sini !”
Kata-kata itu ditujukan kepada Tiat Mo Lek, akan tetapi di
lain pihak, dimaksudkan juga terhadap Toan Kui Ciang.
Touw Sian Nio terperanjat. ”Shako, shako katanya Apakah
artinya perkataanmu ini ?”
Sekalipun Kui Ciang tidak dapat turut kau pergi menghadapi
Ceng Ceng Jie. dia tidak nanti memusuhkan kau apapula untuk
menangkap kamu buat diserahkan kapada pembesar negeri !
kau . . kamu pandang dia orang macam apa ?”
Kui Ciang lompat ke pintu, untuk menghalangi. “Shako”
katanya. Dingin, “kau omong dulu biar jelas, baru kau pergi!”
”Enak kau bicara !” kata Leng Hu, dingin. „Sesuatu orang
ada pikirannya sendiri tak dapat orang dipaksa ! kau hendak
pergi ke tempatnya An Lok San untuk memperoleh jasa dan
pangkat, tak heran kau tak sudi mengenal sanak lagi ! Tapi aku

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mau minta sukalah kau ingat persabatan kaum Kang-Ouw. kau


tunggu sesudah aku pergi, baru kau pergi memberi kisikan
kepada pembesar negeri ! Tak dapatkah iru ? Andaikata kau
benar-benar hendak kami, meski Tou Leng Hu bukan lawan
kau, dia tak nanti manda diam saja diringkus kau !”
„Shako !” Sian Nio berkata keras. „Apakah shako bilang kau
tidak tahu, An Lok San justeru musuhnya Toan Long kami
justeru baru saja mendamaikan soal mengangkat kaki dari sini,
buat menyingkir dari ancaman bencana ! ‘
Ketika itu, Kui Ciang sudah lantas menjadi tenang „Shako, di
sini mesti terjadi salah mengerti,’ katanya sabar. ”Coba kau
jelaskan, mengapa kau menyangka aku mau pergi kepada An
Lok San untuk mengharap pangkat”
Leng Hu menjadi heran timbullah keraguannya ia melihat
orang tidak lagi main sandiwara ia menjadi mau percaya.
„Di bawahnya An Lok San ada dua punggawanya yang
sangat diandalkan,” ia kata pun menjadi sabar. “Merekalah Tian
Sin Su dan Sie Siong Bagaimana pergaulan kau dengan mereka
itu ?’”
„Pernah aku mendengar nama mereka itu,” Kui Ciang jawab.
„Dulu hari karena urusan keluarga Lie di Ceng Hoo Kauvv, Sie
Siong telah menantang aku mengadu pedang-Ketika itu muncul
adiknya Kong Jiam Kek, maka urusan dapat didamaikan hingga
batal kita bertempur. Semenjak itu, terus sampai di saat ini,
aku belum pernah bertemu pula dengan mereka itu.”
Touw Leng Hu heran bukan main. “Benarkah perkataan kau
ini ?” ia menegasi. ,Ah, benar benar aneh?” Ia mehentak.
“Taruh kata kau tidak percaya aku, kau mesti percaya
adikmu !’ sahut Kui Ciang. “Kau tanyalah dia. apakah aku
pernah mendusta !”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Memang mereka itu berdua tidak ada hubungannya dengan


kami,” kata Sian Nio. “Shako mengapa kau menuduh mereka
ada sangkutannya dengan Kui Ciang ?”
Touw Leng Hu mengawasi adiknya. .,Di muka desa ini ada
sebuah rumah,” ia kata, di depan rumah itu ada tiga buah
pohon cemara, tuan rumahnya seorang berumur lebih kurang
empatpuluh tahun, dialah seorang pelajar berkulit putih dan tak
berkumis. Benarkah orang itu tidak ada sangkutannya dengan
kamu ?’
„Dia itu benar sahabat karibku,” sahut Kui Ciang. „Dia sie
Su dan namanya It Jie Benar dia pernah menjadi pembesar
negeri akan tetapi dia sudah meletaki jabatan sejak belasan
tahun yang lalu. Dia dipecat karena dia berani menyerang
menyerang menteri dorna Lie Lim Hu ! Ha ! kau menyebut-
nyebut aku bergaul dengan pembesar negeri, jadi kau
maksudkan dia ! Dialah sastrawan satria, meski dia pernah
memangku pangkat dialah orang berhati mulia !”
“Dia menjadi pembesar, apakah kau tahu dia mempunyai
perhubungan apa dengan An Lok San ?” Leng Hu tanya pula.
“Su Toako bersahabat denganku selama sepuluh tahun, aku
tahu dia justeru sangat membenci An Lok San, hingga tak ada
soalnya bahwa dia bersahabat dengan pembesar buruk itu !”
„Masih ada satu hal yang shako belum ketahui,” Sian Nio
menyela. „Tadi malam isterinya Su Toako itu telah melahirkan
seorang anak perempuan, lantas kita kedua Keluarga mengikat
ini perjodohan anak anak kita. Dengan sendirinya Su Toako itu
juga cin kee kau.’
Lcng Ha mengurut-urut kumisnya. „Benar-benar aku tidak
mengarti!” ujarnya. “Baik aku menjelaskan dari mula mula.”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang dan isierinya mendengari. “Pada beberapa tahun


yang telah lewat ada seorang sahabat yang memberitahukan
aku bahwa ia pernah melihat kau di kota Tian-an, ketika kau
tengah berjalan dengan tergesa gesa,” Leng Hu menutur. „Aku
lantas menduga kau tinggal di dekat kota Tiang-an. Maka
bersama Mo Lek aku menyusul kemari Pada tiga hari yang lalu
kami bertemu dengan delapan pahlawannya An Lok San di
jalan Hong siang. Kita bentrok.”
„Apakah kau bermusuhan dengan An Lok San?” Sian Nio
bertanya.
”kau meninggalkan Rimba Hijau belum sepuluh tahun,
mengapa kau masih tak mengerti duduknya hal ?” kakak itu
balik bertanya „Rumah kita keluarga Touw berada di dalam
wilayah pengaruhnya An Lok San Itu berarti kita harus
menerima baik undangannya untuk bekerja di bawah
perintahnya. Bukankah ini sederhana dan singkat?”
„Aku tahu itu!” kata si adik tertawa. ”Hanya ketika aku
meninggalkan rumah kita An Lok San belum menjadi cat-touw-
su, hingga aku tidak tahu bahwa rumah kita ber ada dalam
daerah kekuasaannya.”
”Kita bukan saja tidak menerima baik undangannya untuk
menghamba terhadapnya,” Leng Hu menyambung, „Bahkan
diharian dia menggabung menjabat pangkat ciat-touw su dari
Hoan-yang-sie tee sudah berguru dengan dia, ialah sie tee
sudah curi sepotong baju bulu rase yang mahal miliknya Yo Kui
Hui yang dihadiahkan kepadanya. Maka itu sudah sejak lama
dia hendak membekuk kita. Ong Pek Thong itu sahabatnya Tian
Sin Sie yang bawahannya An LoK San sahabat-sahabat Jalan
Hitam. Setelah Tian Sin Sie menghamba pada An Lok, San Pek
Tbong lantas menghubunginya. Maka itu aku menduga,
bentrok-anku dengan orang-orangnya An Lok San di jalan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hong-siang itu disebabkan bisikannya Ong Pek Thong. Kita


dipegat hendak ditawan.”
Kui Ciang berpikir: “Di dalam Rimba Hijau ada tingkat yang
tinggi dan yang rendah. Ipar-iparku itu tidak sudi bekerja sama
pembesar negeri, kalau dibanding dengan Ong Pek Tbong
mereka menang banyak …”
Touw Leng Hu menyambangi “Kami di kepung delapan
pahlawan pribadi An Lok San itu. Mereka bukan dari kelas satu
tetapi ilmu silat biaca. apapun satu diantaranya,Thio Tiong Cie.
dia bekas orang Jalan Hitam yang berkenamaan. Senjata ialah
sepasang Houw tauw kauw gaetan berkepala macan-macanan
luka dilenganku ini ialah bekas gaetannya itu yang lihay itu , . ,
..”
”Sha cek. kau biasa mengangkat musuh!” kata sikacung
menyela sambil tertawa.”Sebenarnya kalau bukannya sengaja
sha Cck menggunai tipu mana dapat dia mendekati sha cek?”
„Mo lek!”‘ kata paman itu sungguh-sungguh ”orang muda
semacam kaulah yang paling mudah dihinggapi penyakit
memandang enteng kepada musuh! Jikalau kau tidak meng
ubah cacatmu ini dibelakang hari kau bisa menderita
karenanya! Kau ketahui pengajaran musuh, merebut
kemenangan ialah yang paling utama! Lebih cepat kita menang
lebih baik pula, supaya tak usah terjadi hal-hal di luar dugaan.
Sekalipun sang singa untuk menerkam kelinci dia mesti
menggunakan seluruh tenaganya, sedang kita bukannya singa
dan pihak sana bukannya kelinci, ingat lah kejadian hari itu Aku
telah terluka jarum Pee-bie ciam dan mereka mengeroyok.
Sudah terang mereka ingin sekali dapat membekuk kita. Coba
aku tidak menggurat siasat, untuk memancing Tio Tiong Cie,
pasti, sukar kita meloloskan diri. Caramu berkilat itu waktu
main keras saja. Itulah berbahaya”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis menegur keponakan itu, Leng Hu menoleh kepada Kui


Ciang untuk menerus kan keterangannya.
”Aku benci pada Thio Tiong Cie sebab-perbuatannya yang
busuk itu mau mencelakai orang golongan sendiri,-‘ Katanya
„aku, memancing, hingga dia datang dekat padaku. Aku hajar
dia dengan Pek Lek Ciang, hingga patah tulang iganya. Justeru
itu, dia pun menggaet aku.”
„Apakah di antara mereka ada Tian-Sin Su dan Sie Siong?”
Sian Nio tanya
“Mereka itu termasuk punggawa, perang, mereka tidak
bercampuran dengan kawanan pahlawan pribadi An Lok San
itu” sahut Leng Hu “Atau mungkin mereka anggap delapan
orang itu sudah cukup untuk melayani aku si tua bangka!” Ia
tertawa, ia melanjuti : “Syukur delapan orang itu tidak
memandang mata padaku. Umpama kata Tian Sin Su dan pie
Siong turut serta, selagi aku terluka itu pastilah aku bukan
lawan mereka, tentu sekali sekarang aku tidak dapat bertemu
dengan kau, adikku.”
Sian Nio heran. “Shako,” katanya, „habis kata-katamu
barusan . . .”
Leng Hu dapat menerka. “Kau tentu tidak mengerti kenapa
tadi aku menyebut-nyebut nama mereka itu berdua, bukankah
hari itu aku tidak berjodoh bertemu dengan kedua punggawa
itu, tetapi malam ini … “
Kui Ciang pun heran. „Malam ini ?” dia tanya. „Di mana
kamu bertemunya ?
„Justeru di dalam desa ini ! Belum satu jam !”
„Sebenarnya, bagaimana hal itu ?” Sian Nio tanya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Kau jangan kesusu. Nanti aku jelaskan menurut


tuntunannya.”
Dan Leng Hu .melanjuti : “Kita lewat di jalan Hong siang itu
tepat di harian tahun baru. Ketika kita sampai di muka desa ini,
kita bertemu dengan pasukan tentaranya Aa Lok San, yang
katanya lagi menuju ke kota Tiang-an, guna An Lok San
memberi selamat tahun baru kepada Yo kui hui. Kami takut
menimbulkan onar, kami sembunyi di lembah. Lain dengan ini
bocah, dia seperti anak kerbau yang tak takut harimau, dia
justrru pergi ke mulut lembah, untuk menonton”
„Syukur aku pergi melihat!” Mo Lek memotong. „Aku jadi
dapat melihat kouwthio. Kouwthio menutupi kepala dengan
baju kulit jalannya pesat seperti lari. hingga aku menduga ialah
ssorang ahli silat yang mahir ilmunya enteng tubuh.”
„Liehay matanya bocah ini,” Kui Ciang pikir. „Ketika itu,
tanpa sengaja aku berjalan cepat, dua tindak menjadi satu.
Karena dia dapat melihat lariku itu. tentu begitu juga dengan
orang-orangnya An Lok San yang banyak yang, mesti ada yang
memergoki aku … “, Di situlah terjadi anak anak diganggu
kudanya para pahlawan pribadi an Lok San itu ! Mo Lek
memotong. ‘Sejumlah anak kecil mau ditabrak dan diinjak kuda
aku lantas menolongi mereka . . . ”
Touw Leng Hu tertawa.’ Syukur mereka repot melanjuti
perjalanan, tak ada temponya untuk mencekuk kau!” kata
paman ini. ‘ Lebih syukur ialah kau melihat kouwthio-mu Tidak
demikian pasti aku tidak lantas mendapat tahu kamu tinggal di
sini! kau tahu. begitu Mo Lek menyebut kau, aku lantas
menduga Mo Lek melihat ke rumah mana kau masuk, aku
merasa itulah rumahmu.”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Jadi kamu sudah pergi ke rumah keluarga Su” Kui Ciang


tanya. “Benar. Justeru di depan rumah dia itu aku melihat Tian
Sin Su berdua Sie Siong !”
Kui Ciang terkejut hingga ia berseru. “Apakah kamu tidak
masuk ke dalam rumah Keluarga Su itu?” Ia tanya. “Entah ba-
gaimana dengan Su Toako …”
„Aku melihat seorang sasterawan usia lebih kurang empat
puluh tahun yang mukanya putih dan tanpa kumis, ia ada
bersama mereka itu kedua pihak bicara sambil terawa-tawa.
Tentu sekali tidak berani aku masuk ke dalam rumah itu. “
Kui Ciarg heran. “Apakah kau dengar pembicaraan mereka ?
Apakah katanya mereka itu ?”
“Bersama Mo Lek aku sembunyikan diri di atas pohon kami
melihat mereka menunggang kuda. Aku mendengar suaranya
sie siong, yang mengatakan : Taysu tentu akan memberikan
pangkac tinggi padamu. Dua kali aku mendengar disebutnya
tuan Toan. Karena kuda mereka dilarikan kesas, aku tak dengar
apa-apa lagi Agaknya mereka sangat menghargai si yuan Toan
itu …”
„Pantas kamu menduga mereka itu berdua sahabat
sahabatku! kemudian bagaimana?“
”karena aku mendapat kenyataan rumah itu bukan rumah
kau, aku meninggalkannya. Aku pergi menanyakan setiap
rumah. Dengan banyak susuh barulah aku dapat mencari ke
sini. Coba bukan karena kau beri anak denganku pasti aku
tidak berani menemui kau! Baiklah telah aku menjelaskan
semua moku sekarang terserah kepada kau. kau hendak
membiarkan kami pergi atau tidak. Umpama kata benar kau
hendak menangkap kami, untuk diserahkan pada An Lok san si-
lahkan turun tangan!”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata kata yang belakangan ini dikeluarkan secara dingin.


Bertepatan dengan dikeluarkannya kata-kata penutup itu turun
tangan, Kui Ciang berteriak seraya berlompat untuk berlari
keluar.
Leng Hu terkejut hingga dia pun berseru: ‘ Kau ! . . . kau ! . .
. Benarkah kau …” Dia menduga kepada ipar itu mau lari
kepada An Lok San. Dia kaget dia mau lari menyusul.
Sian Nio lompat menyamber baju kakak nya itu. “Shako kau
sembrono sekali! “sang adik berkata keras.
,Apa? “kakak itu tanya heran. “Jikalau dia mau mencelakai
kau, tak dapatkah dia lantas keturunan ditangan sendiri? ‘adik
itu kata. ‘Mustahil dia diketulungannya mencari kawan
pembantu ? Apakah kau tidak menyargka bahwa diapun dapat
menduga kau bisa melarikan diri ?”
Leng Hu berpengalaman, pasti ia mengerti adiknya ini hanya
barusan saking kaget tak sempat ia berpikir lagi. Maka ia tidak
memaksa lari, ia manghentikan tindakannya seraya berpalirg.
Justeru itu ia melihat Mo Lek dengan pisau belati di tangannya
lagi meneancam punggung Sian Nio Bocah itu menyangka bibi
ini melupakan kakaknya dan hendak mencelakainya.
”Mo Lek, jangan” Leng Hu membentak. Terus ia memandang
adiknya dan berkata : ”Liok Moay kau bicara, kau bcaralah !
Aku serahkan jiwaku kepada kau !”
Touw SianNio sebaliknya tertawa. „Shako jangan kau gelisah
tidak karuan !” katanya. „Kau dengar aku.”
Nyonya Kui C:ang menyingkirkan sumbu lilin, membikin lilin
itu tambah terang, habis itu ia tuturkan permusuhan suaminya
dengan Lok San, begitupun hal persahabatan Kui Ciang dengan
Su It Jie, hingga kedua keluarga mau menyingkir bersama.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Hu menjadi tenang. Baru sekarang ia begitupun Mo Lek


tahu duduknya penrsoalan. Ketika itu terdengar suara kokok
ayam, tanda sudah jam lima, sedang bayinya Kui Ciing
mendusin dan menangis.
“Sekarang aku mau memberi susu kepada anak itu,” kata
Sian Nio, sembari tersenyum.
„Anak itu tahu diri. dia tidur sampai fajar, baru dia mendusin
Dia harus bertemu dengan shakonya !”
Nyonya ini masuk ke dalam, kemudian ia keluar pula sambil
mengempo anaknya. „Anak ini berbakat.” kata Leng Hu, „Dia
dapat belajar silat nanti …”
Baru orang she Touw itu berkata, demikian, tiba tiba mereka
mendengar siu!an nyaring dari Kui Cang yang terus berkata
seorang diri : „Pedang mau keluar dari sarungnya, untuk
mengutungi kepalanya si orang jahat ! Inilah pembalasan
bukan untuk perkara kecil !” Menyusul itu terdengar juga ,
suara pedang disentil.
Ketika suami itu bertindak masuk, Sian Nio heran. Belum
pernah ia menyaksikan suaminya gusar demikian. Alis dan
kumisnya bangun berdiri, matanya berapi, tindakannya tetap
tubuhnya tegak, la sampai melengak.
Tiba-tiba Mo Lek menghampirikan. „Aku bersalah, kouwthio
!’ katanya, seraya terus berlutut untuk mengangguk-angguk
tiga kali sampai kepalanya membentur lantai !”
Kui Ciang membungkuk, akan memimpin bangun bocah itu.
Dia tertawa. “Bagus !” katanya. „Kau dapat membedakan salah
dan benar, kaulah seorang laki laki sejati !”
Leng Hu juga telah jelas segala apa, maka ia menghampiri
ipar itu, guna mengakui kekeliruannya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Shako itu mau memberi hormat, Kui Ciang menyingkir „Di


waktu begini, buat apa pakai adat-peradatan,” katanya. „Shako,
ada satu urusan untuk mana aku hendak minta bantuan kau . .”
Sekarang Leng Hu yang tertawa. „Di-antara sanak sendiri,
mana ada permintaan brntuan ?” kata dia.
Sengaja Leng Hu tertawa sebab ia melihat Kui Ciang
bersungguh-sungguh Tertawa itu dapat mambantu melegakkan
hati mereka.
Kui Ciang menunjuk anaknya, ia kata” “Shako, aku minta kau
suka merawat anak serta ibunya, sebentar lagi, setelah cuaca
terang, kau ajaklah mereka pergi!” Ia tidak menanti jawaban, ia
mengeluarkan sejilid buku, yang mana ia serahkan pada
isierinya; „Sian Nio, baik-baik kau rawat anak kita ! setelah dia
dewasa, kitab ilmu pedangku ini kau serahkan padanya!”
Sian Nio mengawasi sang suami, tidak lantas ia menyambuti
buku itu. Ia memang mau membawa anaknya pulang kerumah
ibunya siapa sangka sekarang getas sekali suaminya itu berkata
demikian. Berbareng dengan itu, ia merasakan firasat jelek.
„Kau ambillah!” kata Kui Ciang, menghela napas. Ia mengerti
kesulitannya isteri itu. „Ada kemungkinan kita juga tak bakal
bertemu pula satu dengan lain “ .”
„Toan long, kau hendak pergi kemana ?” sang isteri
menanya. Ia menanya meski ia sudah bisa menduga tujuh
sampai delapan bagian.
„Aku mau pergi mencari Sa Toako!” sahut suaminya itu.
”Apakah kau telah pergi ke rumahnya? sebenarnnya apa
sudah terjadi ? Bagaimana dengan isteri dan anaknya Su
Toako?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Mereka telah dibawa pergi kaki tangannya An Lok San” Sian


Nio terkejut hingga dia menjerit.
”Benarkah?”‘ tanya dia “Sungguh tak kusangka….”
„Sebenarnya itu sudah dapat diduga” kata sang suami.
„Kemarin aku keliru, aku lari menyingkir ke rumahnya.
Begitulah An Lok San penyangka Su Toako sebagai aku!”
Sian Nio heran „Su Toako seorang cinsu mengapa dia tidak
membantah?”
Leng Hu menyahuti adiknya itu. Ia kata; “Aku mendengar
Tian Sin Su membilang hendak memberi pangkat padanya!
Maka itu, moayhu, aku lihat manusia sukar diduga! Kau…”
„Tidak!” Kui Ciang memotong Sian Nio. jangan kau tidak
ketahui sifatnya Su Toako! untuk keselamatanku maka dia
berdiam saja dirinya disangka aku. Ketika aku barusan tiba
dirumahnya itu sudah kosong Aku masuk ke kamar mereka,
aku dapat membaui sisa asap pulas. Dikamar tulis aku
menemui suratnya Su Toako. Ini, kau baca sendiri!”
Sian Nio menyambut surat itu dan membaca. “Kau lihat,
bagaimana Su Toako telah memikir jauh!” kata pula Kui Ciang.
”Inilah suratnya untuk kita. Suratnya itu menganjuri isrerinya
mencari sahabat itu, yang tak ditulis she dan namanya? siapa
kalau bukannya kita? kau cerdas, Sian kau mesti dapat
menerka! ‘
Pasti sekali Touw Sian Nio mengerti. Maka ia menjadi
mendongkol sekali ‘„Tian Sin Su dan Sie Siong asal orang Kang
Ouw, kenapa sekarang mereka jadi begini rendah?” katanya
sengit. „Sampaipun wanita dan anak kecil mereka tak mau
melepaskannya! “
„Begitulah, keluarga Su mendapat susah karena aku, apakah
aku dapat berdiam saja?” tanya Kui Ciang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sian Nio merasa hatinya sakit, ia sangat berkuatir. An Lok


San mempunyai banyak orang kosen. Kepergian Kui Ciang ke
sana pasti berarti menghampirkan ancaman bahaya besar.
Celakanya, ia insaf, umpamakan ia menjadi suaminya itu, pasti
ia akan berbuat demikian juga.
Suami isteri itu sama-sama berdiam, mata mereka saling
mengawasi. Baru kemudian, dengan tangan bergemetar, Sian
Nio menyambuti kitab suaminya ”Toan Long, kau pergilah!”
katanya-”Semoga orang baik dilindungi Thian, supaya kau
bersama-sama Su Toako dan Su Toa So dapat kembali dengan
selamat Aku menyesal, karena habis bersalin, tak dapat aku
mengikut kau . , .”
Kui Ciang bersenyum. “Kau harus merawat dan mendidik
anak kita sampai dia besar!” katanya. „Perbuatan kau itu lebih
berharga daripada kau turut aku mengadu jiwa!. Itulah tugas
yang jauh terlebih sulit!” Aku tidak dapat memisah diri
mengiring kau, maka itu aku cuma dapat minta bantuannya
shako.”
Ia menguatkan hati, untuk berlalu tetap tenang, toh
muaranya berat, senyumnya tak dapat menyelimuti kedukaan
hatinya.
Leng Hu menyaksikan itu, dia tertawa, „Kui Ciang!” katanya,
”mengandal kepada ilmu silatmu, belum tentu kau tidak dapat
kembali dengan tak kurang suatu apa! Kau harus ingat bahwa
kami lagi menantikan kau untuk menghadapi Ceng Ceng Jie”
Kata-kata ini juga melainkan alibi. Kui Ciang boleh gagah luar
biasa tetapi sekarang dia mesti memasuki kedung naga dan
guna harimau. Dapatkah sepasang tangan melawan empat?
Buat menolong diri sendiri masih sukar, apalagi buat sekalian
menolongi lain orang?

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kembali terdengar ayam berkeruyuk. “Sudah sampai


waktunya!” kata Kui Ciang ”Nah, mari kita berangkat bersama,
sebentar dimulut desa baru kita berpisah.”
Malam itu orang tidur nyenyak, di tengah jalan belum
nampak lain penduduk Rumah Kui Ciang di mulut desa dari
itu, ia mesti melewati rumahnya Su It Jie, Disitu mendadak Kui
Ciang berhenti,
”Mari kasih aku lihat muka anak kita!” katanya. Sian Nio
mengangsurkan anaknya Kui Ciang mencium anak itu, terus ia
kata, berat ; “Umpama kata aku tidak dapat pulang dan Su
Toako tak pulang juga, setelah anak kita ini besar kau harus
cari tahu tentang acaknya Su Toako itu! Harap iaja ia dapat
tetap berada didalam dunia…”seandainya lama kau tidak dapat
keterangan, kau tunggulah sampai tiga puluh tahun usia
mereka baru kau nikahkan anak kita kepada lain nona. Tusuk
Kundai itu kausimpan baik-baik, sebagai tanda mata.”
„Kau jangan kawatir segala apa aku nanti beritahukan dia,”
sahut Sian Nio, air matanya melele.
“Sepuluh tahun kiia menjadi suami isteri, selama itu aku
cuma membikin kau bercapai lelah,” kata Kui Ciang, ”maka itu
kau terimalah hormatku!’
“Aku telah mendapat suami gagah sebagai kau, tak perduli
bagaimana jadinya nanti, aku puas,’ berkata Sian Nio. „Maka
kau pun terima hormatku !”
Lantas suami isteri itu saling memberi hormat. Kui Ciang
sudah lantas berlompat, untuk berangkat tanpa menoleh lagi.
Ia kuatir istrinya melipat air matanya.
„Kouwthio. tunggu !” mendadak ia dengar suaranya Tiat Mo
Lek.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Mau apa kau?” ia tanya. , Aku mau turut kouwthio pergi ke


Tiang-an !” kata bocah itu
“Mau apa kau turut aku?”
”Untuk meluaskan pandangan mata di kota ini !”
Kui Ciang tertawa.
„Tahukah kau buat apa aku pergi ke Tiang-an ?” ia tanya,
„Ini bukan kepergian uniuk main-main …”
„Aku tahu kouwthio mau pergi ke rumahnya An Lok San
untuk menolongi orang mulia she Su itu !” sahut si anak muda.
„Bibi baru melahirkan, dia masih lemah. dan sha-cek pun
terluka sekarang ia mesti lekas pulang jadi mereka semua tak
dapat turut kouw thio dari itu selagi aku menganggur, baiklah
aku yang ikut untuk menjadi kawan kouwthio …”
“Inilah perjalanan adu jiwa !” kata paman itu sungguh-
sungguh. “Kau tahu tidak ? Tak dapat aku mengajak kau !”
“Kouwthio. kau terlalu memandang enteng kepadaku!”
katanya, sungguh-sungguh. ”Apakah cuma kouwthio seorang
yang diijinkan menjadi seorang enghiong atau hoohan? Tak
perduli kouwthio suka atau tidak, aku mau ikut !”
Hati Kui Ciang tergerak. „Baik!” katanya. “Kau bersemangat,
suka aku mengajak kau. Hanya ingat, setibanya,di Tiang-an kau
mesti dengar kataku !”
„Pasti !” sahut si anak muda. Leng Hu kurang setuju anak itu
turut pergi, tetapi ia sendiri tidak dapat membantu, ia terpaksa
membiarkan. Ia juga tahu tabiat dari si bocah yang sukar
dibujuki. Maka ia berkata : „Kepandaian anak ini sudah
lumayan. Sedikitnya ia pun dapat menjadi juru kabar. Kau
ajaklah dia, memperoleh pengalaman !”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Baik, shako,” kata Kui Ciang. „Jangan kuatir. aku akan


jaga baik baik padanya sampai di Tiang-an, aku pun dapat
mengaturnya. Andainya aku dapat melindungi jiwaku dan dapat
mengajak Su Toako pulang, pasti aku nanti pergi ke Yi ciu
menemui kamu untuk sekalian mencoba main-main dengan
Ceng Ceng Jie ! ‘
Di dalam hatinya, Kui Ciang sudah mengambil keputusan
untuk mewariskan kepandaiannya kepada Tiat Mo Lek, untuk
mencegah bocah ini turut ia memasuki gedungya An Lok San.
Mo Lek sangat cerdas, ia dapat menangkap maksudnya
pembicaraan dua orang itu, maka ia pun kata dalam hatinya:
„Setibanya di Tiang an aku pun ada dayaku ! kau- hendak
memisahkan aku, tak dapat!’ Ia berpikir, terus ia berdiam saja.
Leng Hu puas, hingga ia merasa girang. Perjalanan Kui Ciang
berbahaya tetapi segala apa belum tentu. Ia mengharapi
kembalinya ipar ini, untuk dia menghadapi Ceng Ceng Jie,
su(aya urusan dua keluarga Touw dan Oag daAat dibereskan.
Sian Nio juga lega hatirya mengetahui Mo Lek bakal turut
suaminya maka ia kata: ‘Toan Long, baiklah di Tiarg an kau be-
kerja dengan melihat gelagat, jikalau sulit untuk turun tangan
jangan dipekakan, umpamama kata kau membutuhkan
bantuan, suruhlah Mo Lek lekas pularg !”
„Aku mengerti,” sahut Kui Ciang- “istriku, kau rawat saja
dirimu baik-baik ! Ingat pesanku, rawat anak kita !” habis
berkata ia lantas berangkat, diikuti Mo Lek. Ia menuju langsung
ke Tiang an, yang terpisahnya cuma enam puluh lie, tak lebih.
Tiga hari kemudian maka di dalam sebuah rumah makan di
samping pintu Beng-hong-mui, dari kota Tiang-an, terlihat
munculnya dua tetamu asing untuk rumah makan tersebut

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pintu kota Bong hong-mui adalah pintu kota terbesar untuk


wilayah istana Kerajan Tong. Rumah makan itu justem terletak
d sampingnya Maka itu tetamu tetamunya tidak sembarang
orang banyak pembesar, sipil dan militer, yang rumahnya jauh,
yang tak keburu pulang untuk bersantap. Yang lainnya ialah
pegawai pegawai istana yang lagi lepas berdinas serta sahabat-
sahabatnya. Maka itu, kalau lain rumah makan ramainya
malam, rumah makan ini di siang hari, Dengan begitu, para
tetamu umumnya kenal satu dengan lain.
Demikian kedua tetamu baru itu, yang tak ada yang kenal.
Yang satu berumur empat puluh lebih romannya gagah
tubuhnya dilapis baju kulit, di pinggangnya ada pedangnya.
Kawannya ialah seorang muda umur tujuh atau delapan belas
tahun, potongan, stau romannya, mirip anak hartawan atau
berpangkat. Dia pun mempunyai mata yang tajam.
Walaupun dua orang ini asing, lain lain tetamu tidak
memperhatikannya. Mereka itu menyangka orang tentu datang
ke kola Raja untuk pesiar atau hendak mencari pangkat, hal
mana adalah umum.
Dua orang itu ialah Toan Kui Ciang dan Tiat Mo Lek.
Setibanya Kui Ciang dikota Raja lantas ia menumpang pada Hoy
Jin, seorang pendeta kenalannya. Dulunya, kakek-nya sering
menderma kepí da kuil itu. Ia menumbang tinggal separuh
bersembunyi, selama mencari tempat kediaman An Lok San. Ia
datang ke rumah makan ini dengan maksud tujuannya itu. Ia
percaya ia akan memperoleh keterangan di tempat di mana ada
banyak hamba negeri. Untuk itu, mereka mesti membeli
pakaian yang lebih baik.
Ketika itu tengah hari, waktunya- restoran ramai. Pada meja
dekat jendela ada beberapa tetamu, satu diantaranya seorang
relajar usia pertengahan, yang dandanannya sederhana. akan
tetapi ia dihormati yang lain-lainnya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Roman orang ini beda dari pada yang kebanyakan, entah


siapa dia …” pikir Kui Ciang. „Beberapa kawannya pun bukan
sembarang orang …”
Tengah ia mengawasi orang itu, orang pun menoleh
kepadanya. .Pedang yang bagus ! pedang yang bagus” dia lau
memuji tiba-tiba tangannya menumbuk meja.
„Heran pelajar ini,” pikir Kui Ciang, terkejut. .Pedangku
belum dihunus, dan sudah mengenali …”
Orang itu terus menggapai dan kata : „Mari, mari!” ada arak
wangi, mari kita minum bersama, sampai mabuk l Untuk
bersahabat tak usailah main tanya she dan nama dulu ! Mari,
mari minum di sini, aku sekalian ingin pinjam lihat pedangmu!”
Biarnya ia orang Kang Ouw kawakan, Kui Ciang toh heran.
Pengalaman seperti ini baru yang pertama kali. Biasanya suatu
pantangan orang yang tidak dikenal yang meminjam lihat
pedang orang lain. Orang ini, Kui Ciang merasa, seperti
mempunyai pengaruh yang tak dapat ditolak. Tanpa pikir
pajang lag, ia menghampiri.
„Kau baik sekali, tuan, terima kasih !” ia kata. „Aku kuatir
pedangku ini tak berharga disebut pedang yang bagus, dan
cuma-cuma bakal mengotorkan mata tuan ….”
Pedang ini pusaka keluarga Toan, mulanya didapat kakeknya
sebagai hadiah dari Jenderal Lie Ceng ketika kakeknya itu turut
berperang ke Barat, begitu di hunus, sinar pedang itu
bergemerlapan.
“Meski bukan Kui Ciang atau Bok Shia ‘toh pedang ini luar
biasa !” kata pelajar itu tertawa “Kau datang dari mana ?”
“Dari Ya Ciu,” sahut Kui Ciang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Oh, jauh !” kata lagi orang itu. “Jalananpun berbahaya !


Tanpa pedangmu ini, sukar untuk kau tiba di Tiang an ! Ah,
mengikat pedang ini, aku jadi ingat tentang petualanganku
semasa muda !”
“Sampai sekarang ini, kegemaran Haksu masih belum
lenyap!” kata satu tetamu, tertawa lebar.
Pelajar itu, yang dipanggil “Hak Su.” suatu sebutan mulia,
tertawa. „Begitulah orang yang mengandali arak dari Seri
Baginda Raja !” katanya. Mendadak ia berbangkit, tangannya
menyentil pedang, terus ia bersenandung memuji pedang itu :
“Botol emas arak sepuluh ribu, penampan kemala isi masakan
selaksa tahil. Menghentikan cangkir melempar sumpit, tak
dapat dahar, menghunus pedang memandang ke empat
penjuru kosong belaka …”
Belum ia berhenti bersenandung itu, maka seorang
berpangkat, yang jubahnya tersulam ular naga,
menghampirkan seraya berkata. “Tuan, tuan, mungkinkah
kau…?”
Seorang tua, yang duduk bersama si pelajar, berkata
terperanjat : ‘Oh bukankah kau Gouw Su Ma ? Lie Hak Su.
inilah Su Ma Gouw Kun dari ouw ciu, orang segolongan dengan
kita !”
Kui Ciang heran, ia berdiam saja. Ia masih belum tahu, siapa
Hak Su ini. Pelajar itu tertawa pula, kembali ia bersenandung,
menyebut-nyebut Ceng Lian Kie Su, mendengar mana mana si
Suma tertawa dan kata; ”Benarlah tuan Ceng Lian Kie Su,
sudah lama aku mendengar nama tuan, bagaimana beruntung
ini hari aku dapat menemukannya!”
Kui Ciang heran dan girang. Kiranya pelajar ini ialah orang
yang ia dan Su It Jie paling mengaguminya, penyair besar Lie
Pek yang kesohor!
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Memang penyair besar itu, kecuali ilmu surat dan syair,


mengerti juga ilmu pedang. Kegemarannya ialah minum arak.,
bersyair dan bergaul mengamal. Ia memilih sendiri julukanya
itu Ceng Lian Kie Su Cerg Lian ialah Teratai Hijau, dan Kie Su
berani! pelajar aiau pembesar yang lak bertugas lag:, yang
hidup bebas dan damai. Sebaliknya orang menyebutnya Lie Tek
Sian, kaiena gerak-geriknya halus mirip dewa. Di masa
mudanya ia gemar pesiar membawa-bawa pedang mendaki
gunung Ngo Bie San Tay Heng San dan lainnya melajari
sungai-sungai besar meneicipi. juga arak wangi pelbagai kota.
Setibanya ia di kota Tiang an ini, karena diajar kenal dan
dipujikan Pit Sie Siauw Kam Ho Tie Ciang, namanya lantas jadi
tersohor, hingga ia dihormati segala pihak. Sampaipun Raja
Baginda Tong Hian Cong, mendengarnya dan, dengan cara luar
biasa, mengangkat ia menjadi Han Lim Hak Su serta ia sering
diundang ke istana untuk bergama sama memandangi bunga
bung«, mendengarkan tetabuan minum arak dan bersyair.
Maka taklah heran ia dihormati orang banyak. Dan tak heran
pula, ia mengagumi pedangnya Kui Ciang hingga ia
mengundang orang tak dikenal itu minum bersama.
Kui Ciang girang berbareng berduka. “Kalau Su Toako
berada di sini berapa girang nya dia! “pikirnya.
Lie Pek tertawa, sembari mengembalikan pedang orang ia
kata; “Hari ini aku girang sekali! sudah aku mendapat lihat
pedang bagus aku juga memperoleh kenalan baru ! Meski aku
minum sampai pusing! “Dengan tangan kanan menarik Kui
Ciang dan tangan kiri memegang Gouw Kun, ia mengajak me
reka itu duduk bergama di mejanya.
“Mari minum! mari minum! “katanya berulang-ulang, dan ia
menenggak araknya berulang kali juga. Kemudian ia
meloloskan sepatunya dan melemparkan kopiahnya sera ya
berkata kata pula. “Oh, oh. aku sudah mabuk! benar-benar
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mabuk! “akhirnya ia mendekam di meja nampasnya


menggeros.
“Ah, hebat! “kata satu pembesar dalam satu meja itu. “Benar
benar Hak Su mabuk bagaimana kalau seri Baginda memanggil
ia untuk membuat syair?”
„Jangan kau kuatir!” kata yang lain. “Kau tahu, dalam
mabuknya dia dapat menulis syair terlebih bagus lagi!”
Selama itu Kui Ciang telah belajar kenal dengan orang-orang
sesama meja itu Selain Su Ma Gouw Kun itu. s! orang tua ialah
Pit Sie Siauw Kam Ho Tie Cing, penyair juga, dan si anak muda
yang tampan bernama Cui Cong Cie, Seorang she Thio
bernama Hiok diaiah penulis pandai huruf model Co Jie. Yang
lain-lainnya juga cukup ternama. Untuknya sendiri Kui Ciang
menyambutnya nama palsu.
Selagi Lie Pek itu tidur, Ho Tie Ciang mengajaki sahabat-
sahabatnya turun memasang omong bicara diri hal syair dan
menulisnya.
“Sayang kau tidak siang-siang datang ke Tiang-An,”
kemudian kata Tie Ciang kepada Gouw Kan. „Bukankah di Ouw
Ciu itu terkenal araknya yang dinamakan arak Ow-teng-ciu?
Apakah kau bekerja disana untuk arak itu? Eh. ya, buat apakah
kau sekarang datang ke sini?”
,Aku datang kemari karena panggilan untuk menjabat
pangkat disini.” Gouw Kun menjawab “Sudah lima hari aku
tiba tetapi aku masih belum peroleh panggilan untuk
menghadapi Seri Baginda”
Ho Tie Ciang heran. .,Seri Baginda jarang memperhatikan
urusan pemerintahan, mengapa kau boleh di panggil
menghadap? ‘ ia tanya, hening sejenak lalu menanya; “Kau
pernah bertemu dengan Yo Kok Tiong atau tidak?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Tidak.” “’Kalau begita lekas kau sedia kan bingkisan


untuknya!” kata Tie Ciang tertawa. ia menambahkan; “Kalau
barang tak segera di siapkan, uang emas pun boleh, bahkan
lebih baik. Kalau perdana menteri kita itu melihat emas
berkilauan mudah untuk bicara dengannya.”
Gouw Kun tertawa. „Beberapa tahun aku memangku
pangkat, sekuku kosong!” katanya: „Darimana aku memperoleh
emas taruh Kata aku mempunyai uang, apakah aku tak dapat
pakai itu untuk membeli arak? Kenapa aku mesti
menghadiahkan Yo kok Tiong?”
“Suma tidak tahu,” Tie Ciang menjelaskan “Semenjak Yo kok
Tiong berkuasa, dia biasa menjual pangnar. Pembesar-
pembesar kota, asal bukan orangnya, tentu lantas ditukar. Kau
dipanggil datang, inilan maksudnya, dan dia sekarang pasti lagi
menanti bingkisanmu. Siapa tahu kau kurang pengalaman…” Ia
tertawa dan kata pula: “Bagaimana kalau kita membantu
kepada kau? Mungkin sebab kau ternama baik, dia ajal ajalan
menukar kau dengan lain orang. Sekarang dia tentu
mengharapi madapmu. Asal kau memberi muka padanya, tentu
urusanmu beres!-‘
Gouw Kun gusar. “Lebih suka aku hilang kopiah
kebesaranku, tak suka aku membaiki menteri besar itu!”
katanya.’Baiklah kita jangan omongi pula urusan bingkisan!”
“Kau putih bersih, saudara Gouw, itu bagus,” kata Tie Ciang.
Cuma kau tidak memikir jauh. Bagaimana kalau kau digantikan
orang yang tamak? Tidakah penduduk Ouw ciu bakal
mengeluh? Kami bukan menganjuri Yo kok Tiong, kami
memikirkan kebaikan rakyatmu! Sekarang ini pembesar yang
baik terlalu sedikit, maka itu. yang masih dapat, baiklah
dipertahankan.....”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kalau saudara Gouw tidak mau merogo saku, baiklah kata


Cong Cie. “Ada satu jalan lain yaitu coba bicara dengan Lie Pik
Sia. Dialah salah satu sahabat tukang minum arak. Dialah yang
Touw Hu puji dalam syairnya. Dia temberang dan royal tapi dia
juga jujur.”
Gouw Kun menghela napas. “Ho Tay jin menasihati aku
menyayanyi penduduk OuW Ciu, itu benar,’ katanya,” tetapi
keadaan begini buruk, hatiku menjadi tawar, Taru-h kata
sekarang aku mengirim bingkisan, berapa lama aku dapat
menjabat terus? Aku bukan tukang memeras rakyat, dari mana
aku dapat uang lagi nanti? Maka biarlah peserah kepada
Thian…””
Tie Ciang masih mau bicara pula ketika ia batal sebab ia
mendengar suara pelayan.
Suaranya hormat: “Oh Leng ho Tayjin, Hari ini Tayjin datang
lambat…”
Melihat orang diperlakukan hormat demikian, Gouw Kun
tanya: “Dia berpangkat apa nampaknya dia agung sekali?”
Tie Ciang tertawa dan menjawab: “Mungkinkah dia
memangku pangkat dalam pasukan Ie Lim kun, sebagai
pahlawan pengiring Seri Baginda Raja Kau jangan pandang
ringan pangkatnya itu, dia sebenarnya lebih mewah daripada
kita. Tuan tuan besar pengiring Seri Baginda itu kebanyakan
langganannya rumah makan ini maka juga pelayan pelayan
sangat suka membaiki mereka…””
„Mungkin Lie Haksu hendak diundang ke istana,” kata
seorang pembesar lain.Lantas terhibat tiga orang naik ditangga,
yang satu dandan sebagai opsir Ie Lim Kun, yang dua seperti
opsir biasa, pinggangnya dilihat dengan ikat pinggang emas
serta sepatunya sepatu peranti menunggang kuda. Rupanya
merekalah opsir tentara di tapal batas.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si opsir Ie Lim Kun lantas berkata pada pelayan “Aku


membawakan tamu dua orang tamu agung. Inilah Gui Ciang
Kun dan ini Sie Ciang Kun. Lekas siapkan kami meja pilinan? ‘
Pelayan itu memberi hormat, lantas dengan cepat ia
memimpm mereka ke sebuah meja dekat jendela.
Bersama opsir Ie Lim Kun itu, yang dipanggil Leng ho Tayjin,
yang berpangkat touw itu, ada seorang opsir yang gemuk. Dia
melihat Lie Pek mendekam dimeja dan menggeros keras,
kopiah dan sepatunya terletak sembarangan di pinggiran, bauk
araknya keras sekali. Diapun melihat seorang lain, yang
kumisnya berlepotan air bak, lagi menggerak-geraki tangan dan
kakinya, menantang orang minum arak. Dia mengerutkan alis
dan berkasa: “Orang bilang inilah rumah makan paling tersohor
untuk kota Tiang an, kenapa di sini orang membiarkan si
mahasiswa rudin itu menggoler di sini?….”
„Stt!”‘ berisik Leng ho Tayjin sambil menarik tangan orang.
‘Yang lagi tidur itu ialah Hak su Lie Ceng Lian yang paling
disayang Seri Baginda Raja.”
Opsir itu terperanjat, ia lantas membungkam dan nampaknya
jengah, diatn diam ia menarik Lie Hak su serta orang yang
satunya itu Thio Hiok. Yang belakangan ini masih minum sambil
memasang omong dengan asyik lega juga hatinya mendapat
tahu orang tidak mendengar suaranya barusan.
Ketika itu Toan Kui Ciang sudah kembali ke mejanya. Tiat Mo
Lek lantas berkata perlahan padanya: ‘ Dua orang itu ialah
orang orangnya An Lok San yaitu Gui San, Sue Sie Siong.”
---ooo0dw0ooo---

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jilid 3
„Kau sabar, jangan terbitkan onar,” Kui Ciang memberi ingat.
Ada tiga buah meja lain di ruang itu, yang ditempati anggauta-
anggauta Ie Lim Kun, melihat pada Leng Ho Tayjin, mereka
pada menyapa. Leng Ho Tayjin sambil tertawa berkata pada
mereka itu : „Mari aku perkenalkan kamu kepada sahabat-
sahabat baru ! Inilah Gui Ciang Kun serta Sie Ciang Kun, semua
berada dibawah perintahnya An Ciat touw su.”
Semua orang Ie Lim Kun itu memberi hormat pada Gui Sin
Su dan Sie Siong. Mereka itu tahu benar, An Lok San ialah Ciat-
touw-su yaag paling besar kekuasaannya atas tentara serta
diapun anak pungut Yo Kui Hui.
Selama mendengari maka Toan Kui Ciang ketahui touw ut
she leng ho itu bernama, Tahu bahwa kedudukannya diantara
semua hadirin itu ialah yang paling tinggi, maka juga semua
orang sangat menghormatinya.
Gui Sin Su dan Sie Siong, yang mengantar An Lok San,
karena An Lok San ditahan Yo Kui Hui di istana, dapat tempo
luang sampai sebentar sore untuk mereka memapak cukong
atau tuannya itu.
Toang Kui Ciang sementara itu berpikir : „Rumah makan ini
dekat dengan pintu Beng hong mui. Baiklah sebentar malam
aku datang pula kemari untuk menantikan, kalau naati mereka
ini pergi menyambut An Lok San, aku kuntit mereka , . . “
Tiat Mo Lek tak kuatir dia dikenali Sin Sa dan Sie Siong
karena perbuatannya me-colongi anak anak,sebab sekarang ia
dandan sebagai anak keluarga hartawan atau berpangkat, tak
lagi sebagai anak dusun. Dua orang itupun tak
memperhatikan lain lain orang karena mereka repot dengan
arak mereka serta beromong omong terus. Mereka lebih asyik
mengawasi si Lie Pek.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Kui Ciang tidak berkuatir akan tetapi ia mau berlaku


berhati-hati. Maka itu ia anggap lebih baik ia lekas
meninggalkan rumah makan itu. Tengah ia mau memanggil
pelayan untuk membayar uang arak, justeru ada datang
seorang tetamu baru, yang lantas saja menanya dengan suara
keras : “Apakah Lie Hak Su lagi minum arak disini ?”
Dialah seorang opsir, yang lain seragamnya daripada
seragamnya Sin Sudan Sie Siong. Bahan kainnya bahan kasar.
Meski hawa dingin, dia memakai sepasu rumput. Dia membekal
golok panjang, yang sarungnya terbuat dari cula badak yang
mahal, model kuno Sarung itupun diikatkan runce benang
emas. Tanpa sarung mahal itu, dia mirip dengan seorang
serdadu rudin.
Ketika Kui Ciang memandang orang itu ia terperanjat
Opsir itu berumur lebih kurang tiga puluh tahun, matanya
tajam sekali, kumis dan berewoknya kaku. Dia bermuka penuh
debu toh sifat gagahnya tak lenyap. Ia ingat satu orang
hanya ia masih ragu ragu . . .
Leng Ho Tat lak senang dengan lagaknya opsir itu. “He, kau
orang macam apa?” dia menegur. „Dapatkah kau menyebut Lie
Hak Su seperti caramu barusan”
Opsir itu tertawa. Dia kata : „Aku mencari Lie Hak Su, ada
apa sangkutannya dengan kau ? Kenapa kau usilan?”
,Kau bicara keras-keras, itu artinya kau tidak kenal aturan
Sie Sione menegur. „Lie Hak Su lagi tidur nyenyak. kenapa kau
bikin banyak berisik? Melihat romanmu begini kasar tak
mungkin Lie Hak su mempunyai sahabat semacammu !” .
Tadi Sie Siong kenal Lie Pek, dia omong sembarangan, dia
menyesal maka sekarang dia bawa aksinya itu, sekalian
membantui Leng Ho Tat, dia ingin mendapat muka dari
pembesar kawan kasannyaHak Su itu. Dia pikir : .Kali ini tidak
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nanti aku keliru melihat orang pula ! Jahanam ini tentulah tak
lebih tak kurang seorang opsir rendah di perbatasan. Mustahil
benar dia kenal Lie Pek !”
Tidak tiu saja, orangnya An Lok San ini mencoba
menghadang opsir itu, hingga dia menjadi gusar. Lantas dia
kata ketus : “Kau melihat orang dengan mata anjingmu !” ta-
ngannya pun lantas menolak.
.Apakah kau mau bertempur ?” tanya Sie Siong, tertawa
dingin. Dia mengulur tangannya guna mencekal tangan orang
itu, niatnya memutar tangannya, supaya orang jadi buah
tertawaan para hadirin. Di luar dugaannya dia gagal, bahkan
dialah yang terdorong hingga terhuyung hampir menubruk
tanah!
Leng Ho Tat terkejut, ia tahu Sie Siong ialah Kiam-kek, ahli
pedang, dari Ceng Ciu dan disebelah pedang, orang liehay
senjata rahasianya serta pandai menangkap tangan orang.
Siapa sangka, sekarang jago Ceng Ciu itu ketemu batunya.
Hcrarnya ia tak melihat gerakannya opsir perbatasan yang
rudin itu Sie Siong menjadi gusar sekali. Dia mau menghunus
pedangnya. Ho Tie Ciang lantas datang sama tengah.
”Lie Haksu itu luas pergaulannya. Sie Ciang Kun
menyayanginya, itulah bagus. Tuan ini”
“Aku she Lam !” Kata si opsir perbatasan. „Yakni Lam
Selatan dari empat penjuru timur barat, utara dan selatan!”
„Saudara Lam,” kata Tie Ciang pula, “kaulah kenalan Lie Hak
su, harap kau tidak kecil hati atas cegahannya Sie Ciang Kun
ini. Benar-benar Lie Hak-su telah minum banyak arak sekarang
dia lagi tidur . . . .”
Sie Siong berdiam. Bagus Tie Ciang datang menyelak.
Sekarang dia mau menduga orang berpangkat tidak rendah.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Opsir she Lam itu memandang ke sekitarnya. ”Itulah Lie


Hak-su yang tidur di meja ’ ia tanya.
”Tidak salah,” sahut Tie Ciang. ”Ialah Lie Haksu.”
”Kau bikin banyak berisik, kiranya kau tidak kenal Lie Hak-su
!” kata Sie Siong, yang kumat mendongkolnya. Dia tidak
menyangka opsir ini tidak mengenali Lie Pek.
„Kapannya aku bilang aku kenal dia” kata opsir she Lam itu.
„Sebenarnya ada urusan apa tuan mercari Lie Hak-su ?”
tanya Tie Ciang, heran.
„Aku kenal seorang sahabatnya Lie Haksu, dialah yang
menitipkan surat untuk aku menyampaikannya,” sahut opsir itu.
„Siapakah sahabat tuan itu?” Tie Ciang tanya pula, Ia
percaya, asal sahabatnya Lie Pek, tentu ia kenal atau pernah
mendengarnya.
“Ialah sahabat she Kwee. Surat ini aku mesti serahkan
sendiri, tidak dapat aku pakai perantara lain orang.”
”Belum pernah aku dengar Lie Hak-su menyebut sahabatnya
orang she Kwee…”” pikir Tie Ciang. Tapi ia pandai membawa
diri, sebab orang tak sudi menyebutnya, ia tidak mau
menanyakan lebih jauh. Tapi ia kata, manis: „Lie Hak-su tidur
entah sampai kapan, apakah kau ingin aku membangunkannya
?‘
„Tak usah ! Tak usah !” kata opsir she Lam itu. „Biar aku
minum disini sekalian menantikan sampai dia mendisin.” Ia
lantas teriaki pelayan nyaring : „Bawakan aku arak putih lima
kati serta tiga kari daging kerbau ! ‘
Sie Siong melirik, romannya puas. Dia kata: „Bagus! nyata
mataku dapat melihat tepat! Dengan ini dia mau mengatakan:

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Kau lihat, apa aku bilang ! Lie Hak-su mana punya sahabat
semacammu ? aku salah terka !”
Opsir she Lam itu lantas minum dengan bernapsu dan dahar
dagingnya dengan lahapnya ia tak memperdulikan sikapnya
orang.
Sie Siong jadi berani, dia tertawa dan berkata pula: ”Rumah
makan ini rumah makan paling terkenal untuk kota Tiang an
hahaha ! siapa sangka sekarang ada yang menganggapnya
seperti warung nasi di tepi jalan . . . !”
Orangnya An Lok San ini mentertawai orang hanya memesan
arak putih dan daging kerbau sedang di rumah makan itu ada
tersedia arak yang harum dan banyak macam makanan yang
lezat lezat.
Kali ini opsir she Lam itu menggedruk-kan poci araknya dan
kata dengan keras : „Aku makan apa aku suka ! Dapatkah kau
usilan”
Poci arak itu terbuat dari perunggu, karena digedrukkan
keras, melesaklah dia ke dalam meja !
Melihat demikian, semua orang heran. Sie Siong pun kaget.
Tapi dia mau memegang nama-nama, maka dia kata : “Kau
jangan berlagak ! Di sini bukan tempat bertempur, jikalau kau
benar kosen, beranikah kau berjanji untuk kita memilih suatu
tempat buat berunding ?”
Biar bagaimana, suaranya orang she Sie ini tak sekeras
semula. Opsir she Lam iiu tertawa dingin.
„Terserah kepada kau !” sahutnya, gagah „Pasti aku akan
melayanimu, Hanya aku mesti tunggu sampai aku telah bicara
dengan Lie Hak Su, baru aku akan menemui kau!”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat kepandaian orang, Kui Ciang merasa pasti, katanya


dalam hati : „Tak salah lagi inilah benar dia ! Aku tidak sangka
aku bertemu dengannya disini.” Meski demikian karena di situ
ada banyak orang, ia mau menanti ketiga untuk menyapa dan
berbicara dengannya.
Gui Sin bu ada bersama Sie Song akan tetapi selama aksinya
rekan iiu, dia berdiam saja, dia campak jeri. Kui Ciang melihat
lagaknya itu, mukanya pun pucat benar dia merabah gagang
goloknya, tak pernah dia menarik itu. Ia tidak nengerti, la
lantas menduga : „Tentu orang she Gui ini kenal orang she Lam
itu, mungkin mereka Bermusuhan, kaiau begini mungkin bakal
ada pertunjukkan yang menarik hati” .”
Sie Siong kata dalam hati kecilnya : “Kau boleh lihay ilmu
silatmu bertangan kosong tetapi dengan pedang belum tentu
aku dikalahkan kau !” Tengah dia hendak menetapkan janji dan
Ho Tie Ciang serta yang lainnya ingin datang sama tengah, tiba
tiba mereka mendengar suara genjoreng tiga kali, disusul
dengan ini kata-kata keras : „Firman Seri Baginda Raja !”
Dalam sekejap, seluruh lauwteng menjadi sunyi. Para orang
berpangkat lantas ber-bangkit untuk berdiri diam di pinggiran.
Cuma pemilik rumah makan yang maju, untuk menyambut,
seraya dia menanya hormat: “Selamat datang, tiongsu tayjin !
Belum tahu Seri Baginda Raja memanggil siapa ?”
Kejadian ini, bukan baru satu kali ini, pemilik rumah makan
itu dapat menduga yang dipanggil mestinya Lie Pek, akan tetapi
ia menanya untuk memperoleh kepastian. “Ti-ong Su” itu ialah
sebutan untuk thaykam, atau orang kebiri, yang ditugaskan
membawa firman, akan tetapi kali ini petugas pembaca firman
itu bukan thaykam hanya seorang pemain musik, Lie Ku Lian
namanya. Inilah sebab dia disayangi Raja dan diberi pangkat
pemimpin. Ho Tie Ciang dan yang lainnya kenal dia.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lie Ku Lian maja ke depan ia tidak menjawab tuan rumah


hanya berkata nyaring: „Firman rremanggil lantas kepada Lie
Hak Su untuk menghadap Seri Baginda Raja di paseban Sim
Hiang Teng !”
Di belakang pembawa firman ini berada seorang taykam
yang membawa kopiah, jubah ikat pinggang dan Chio hut
untuk Lie Thay Pek.
Melihat Lie Hak Su lagi tidur, Lie Ku Lian tertawa dan kata :
„Kembali Lie Hak Su sinting ! Setiap Baginda Raja menghendaki
ia lantas menghadap, bagaimana sekarang ? kebetulan Ho
Tayjin berada di sini. Tolonglah tayjin membantu
menyadarkannya !” Tie Ciang suka sekali membantu, maka
bersama pemain musik itu’ia menghampakan Lie Pek untuk
dikasi bangun.
Tiba-tiba Lie Pek menolak dengan kedua tangannya , dengan
mulut mengeluarkan bau arak ia mengoceh; „Aku mabuk dan
ingin tidur, tuan pergilah!” Dan tanpa mengangkat kepalanya ia
tidur pula.
Karena tolakan itu, Ku Lian dan Tie Ci ang, terhuyung hampir
jatuh. Ku Lian menyeringai dan kata: ,Ah. kali ini mabuknya
lebih hebat lagi! “Bagaimana?”
„Kita gototg saja!’ kata Taykam, „Biar bagaimana dia meski
salin pakaian dulu! Eh pemilik hotel , lekas ambil air!”
“Untuk apa Seri Baginda memanggil Lie Hok Sun?” tanya Tie
Ciang pada Ku lian yang ia kenal baik. Sebagai Pit Sie Siauw
Can, ia pun menjadi pembesar yang selalu berdekatan dengan
Raja.
Tahun ini kota Yang Ciu mengirim bingkisan pohon bunga
bouwtan banyak macam Lie Ku Lian menjawab. „Semua itu di
tanam di luar paseban Sim Hiang Tang, ditimurnya”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pengempang Hia Keng Tie. Hari ini bunga itu pada mekar,
maka Seri Baginda menitahkan menyiapkan santapan di
paseban itu, untuk berjamu bersama Yo Kui Hui. MesiK pun
memperdengarkan lagu-lagu tetapi Seri Baginda masih kurang
puas maka aku lantas di perintahkan membawa kuda Baginda
kuda Giok Hoan Cong untuk menyambut Lie Hak Su. Lihat
disana itu kuda Baginda sudah siap sedia!”
Ketika itu tuan rumah kembali dengan sebaskom air. Ku Lian
minta sabuk yang ia celup di dalam.air, setelah memeras sedikit
ia letaki itu di jidat Lie Hak Su. Ia pun perintah pelayan
mengambil empat lembar seko-sol, guna dipakai mengurung
Hak Su itu, Sam bil tertawa ia kata: „Syukur aku ketahui tabiat
Lie Hak Su, aku pergi lebih dulu ke Han Lim le mengambil
kopiah dan pakaian nya lengkap. Benar saja dia datang kemari’
dengan pakaian biasa.
Lie Pek dikurung dengan sekosol. Kui Ciang dan yang lainnya
tak dapat melihat apa yang dilakukan terhadapnya oleh Kui
Lian beramai, hanya tak lama ia mendengar suaranya Hak Su
itu! „Suasana begini indah. Aku belum puas minum! Syair
apakah yang Lharus dibuai?”
Lie Kun Lian terdengar berkata-kata tapi tak jelas, hanya Lie
Pek tertawa dan berkata pula: “Ha bunga-bunga bouwtan dari
Yang Ciu sudah pada mekar! Warnanya merah, ungu, kuning
muda, putih dan lainnya! Seri Bagindapun menyediakan arak
dari Li-tang Cit! Baiklah nanti aku pergi, untuk mencicipi!
Dengan memandang kepada bunga-bunga dari Yang Ciu itu
suka aku pergi ke sana! ‘
Lalu terdengar lantai papan lauwteng berbunyi, rupanya
disebabkan terlalu gembira, penyair jago minum arak itu sudah
me-nari-nari . . . Sebentar kemudian, Lie Pek sudah nampak
muncul diluar sekosol dengan pakaian rapi, akan tetapi ia tetap

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berbau arak. matanya keriyap, jalannya limbung. Hingga ia


mesti dipepayang beberapa thay-kam.
Justeru itu si opsir she Lim bertindak kedepan orang. Lie Pek
menghentikan tindak kannya ia mengawasi, lalu berkata : “Oal
seorang yang gagah! Eh, kau “ kau… kau”
Orang she Lam itu lantas berkata: , Aku datang .membawa
suratnya Kwee Leng Kong. aku justeru mau bertemu
denganmu…”
Belum habis kata-kata itu, beberapa thaykam menolak tubuh
orang seraya mengusir : „Macam apa kau? Lekas pergi!”
„Kurang ajar!” Lie pek membentak. „Kamu berani mengusir
sahabat karibku?” ia lantas mementang kedua tangannya,
hingga dua orang kebiri roboh terjengkang
Semua orang heran, seorang berpangkat berbisik pada rekan
disisinya: Aneh! tadi dia tidak mengenali Lie Hak Su, sekarang
dia jadi sahabatnya . .”
Habis menyingkirkan orang-orang kebiri itu, dengan tubuh
terhuyung, Lie Pek mendekati si opsir she Lam. sambil
menunjuk ia tertawa terbahak dan berkata: , Kau tidak kenali
aku? Aku justeru kenal kau! kau!….kau ….kau…. kau tentulah
saudara Lam Pat! Ha-baha! setelah bertemu Lam Pat. siapa
kesu-dian memperduliksn pula segala Kui Hui ? Mari. mari! Mari
kita minum pula!”
Lie Ku Liai menghampirkan opsir yang dipanggil Lam Pat itu,
ia menjura terhadapnya dan berkata dengan perlahan: „Seri
Baginda lagi menantikan Lie Hak Su, kau bantulah aku….
Lie Pek maju pula, tubuhnya terhuyung hingga ia mesti
pegangi meja. „Lam Pat! Lam Pat! mengapa kau tidak minum
arak’” Katanya „Eh, ya apa katamu barusan? kau menyebut-
nyebut entah apa loo kong kong. “kau kata kau membawa
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

entah barang apa untuk . . . . Hihaha! kau Lam Pat, mengapa


kau menjadi …. pesuruh? Lucu! lucu! lekas bicara biar terang!”
Hak Su ini belum sadar benar, telinganya salah mendengar,
orang menyebut Kwee Leng Kong ia mengatakan. “Loo Kong
Kong.
Lam Pat itu tertawa. ‘Nyatalah Hak Su orang sekaum dengan
kami! “katanya “Sekarang ini ada kuda Raja menantikan di
depan rumah makan, untuk membawa kau ke istana, taruhkata
kau menemani aku minum aku akan minum tak puas, maka itu
baiklah tunggu sebentar malam setelah tempomu luang, baru
aku temani kau minum semalam suntuk!
„Bagus, “kata Hak su itu, ‘”Kau benar! baiklah sebentar habis
aku bertemu dengan Raja baru aku menemui kau itu waktu
memang kita dapat minum dengan terlebih memuaskan !”
Ho Tie Ciang lantas nimbrung: “Lie Hak Su tinggal di
rumahku, asal#kau tanya-tanya rumah ke’uarga Ho dikota
Barat, pasti kau akan menemuinya !”
Orang she Lam itu menyahuti: “Tuan toh Ho Siauw Kam ?
aku tahu! “ia ketahui maksudnya Tie Ciang yang meminta ia
membiarkan Lie Pek lekas pergi. Ia pun tahu riak Su itu la?i
mabuk tak dapat ia bicara banyak atau menyerahkan suratnya.
Lie Kun Lian bersama Tie Ciang semua memayang Lie Pek
turun dari lauwteng rumah makan untuk menuju ke istana. De-
ngan begitu, kawan-kawan mereka lantas bubaran.
Orang she Lam itu menggeleng kepa a ia kata senang diri:
“Bencana tengah mengancam tapi di Istana orang kelelap
dalam pelesiran . . . Tiba tiba ia menepuk meja dan kaca
nyaring: ‘Sayang Lie Hak Su!. . . “Lan tas ia meneguk meneguk
habis araknya setelah itu, dengan melemparkan sepotong uang
perak, ia mau berlalu dari rumah makan itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Leng Ho Tat Dan Sie Si-ong menghampiri.


Saudara Lam tunggu dulu! ‘ kata si orang she Leng Ho,
tertawa.
Alis Lam Pat terbangun, “Ke mana?” tanyanya. Apakah
sekarang juga kita pergi ke cuali ini si orang she Sic apakah kau
pun ingin turut ambil bagian ? ‘ Ia menyangka orang rnau
menjanjikan pie bu bertanding mengadu kepandaian.
Leng Ho Tat tertawa. „Saudara Lam Pat, aku bukan mau
menjanjikan tempat dan waktu adu pedang! “ katanya.
Lam Pat mementang matanya. „Bukan buat adu pedang”
katanya. ”Habis mau apa kau menahan aku ? ‘
Sie Siong maju setindak, dia memberi hormat. „Aku tidak
kenal kau, saudara,” katanya, ”tadi aku berlaku kurang hormat
padamu aku minta kau tidak buat kecil hati.”
Lam Pat tertawa dalam hatinya , pikirnya : „Mereka tentu
melihat bagaimana Lie Pek melayani aku maka sekarang
mereka merubah sikapnya ini , . . .” Tapi ialah orang dengan
dada lapang, meski ia tak menghargai Sie Siong ini, sebab
orang telah minta maaf, ia tidak mau berpikiran cupat. Maka ia
tertawa dan kata : “Itulah urusan kecil, tak apa ! Oleh karena
Sie Ciang Kun tak ingin kita mengadu pedang, nah harap kau
mengijinkan aku pergi terlebih dulu !”
„Tanpa berkelahi orang tak berkenalan !’ kata Leng Ho Tat.
“Saudara Lam Pat, tak ada halangannya bukan untuk kita
duduk-duduk dulu sebentaran ?”
„Tak berani aku menerima kehormatan itu !” sahut si opsir
she Lam
„Dengan kata-katamu ini, saudara Lam, kau jadinya masih
kurang puas hati.” kata Leng Ho Tat Tertawa.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Saudara Lam Pat, kita sesama orang Rimba Persilatan,” Sie


Siong menyela “Leng Ho Touw-ut paling gemar bergaul, maka
itu aku harap sandar? janganlah segan memberi pengajaran
kepadanya.”
Lam Pat berkata dalam hatinya : „Dua orang ini mempunyai
ilmu silat yang baik, mengapa sikapnya menjemukan” tapi ia
duduk pula. Ia tanya, tawar : „Tuan-tuan, ada apakah
pengajaranmu”
„Memang ada yang kami ingin tanyakan kau, saudara
Lam.’” sahut Leng Ho Tat tertawa. “Barusan saudara
menyebut nyebu Kwee Leng Kong. Adakah ia Kwee Cu Gie
dari kota Kiu Goan ?”
Kwee Cu Gie itu kemudian berjasa besar hingga
dianugerahkan menjadi Pangeran Hun Yang Ong. Hanya ketika
itu ia masih menjabat Thoysiu atau residen dari sebuah kota,
hingga belum banyak yang mengenal namanya. Toan Kui
Ciang pun heran karenanya hingga ia berpikir : , Leng Ho Tat
menjadi touw-ut dari Ie Lim Kun dan Sie Siong pungga-
wanya An Lok San kalau mereka menghormati Lie Hat-su,
itulah pantas, Lie Hak su dihargai Raja. Kenapa dia
sekarang agak menghormati seorang thoysiu ? Eatah orang
macam apa Kwee Cu Gie itu.
Lam Pat agak bersangsi, tapi toh ia menjawab. „Benar, orang
yang menitipkan surat kepadanu untuk Lie Hak su benar Kwee
Kun Siu. Apakan tuan-tuan kenal dia?”
„Ya,” sahut Leng Ho Tat Perkenalan Lie Pek dengan Kwee Cu
Gie bukan sembarang perkenalan. Mulanya itu peristiwa
kebetulan.
Pada suatu hari Lie Pek pesiar di batas kota Pian Ciu. Di sana
ia bersomplokan dengan serombongan serdadu bersenjataki n
toya lagi mengiring sebuah kerangkeng per-sakitan. Orang
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang dikurung itu, di matanya si penyair, beroman luar biasa, la


menjadi ketarik hati dan menanyakannya. Nyata orang itu
bernama Kwee Cu Gie, bekas pian ciang, atau punggawanya
Ciat-touw-su Ko Sie Han di Liong See. Dia ditugaskan menilik
sisa rangsum tentara, apa lacur serdadu se-bawahannya
sembrono, serdadu itu membikin rangsum itu terbakar habis,
karena dia yang bertanggung jawab, dia ditangkap dan dijatuhi
hukuman mati. Sekarang dia bawa untuk menjalankan
hukumannya itu.
KweCuGie memberi keterangan dengan suaranya yang
ryaring umpama berkata seperti bunyi genta. Lie Pek
mendengarkau sambil mengasih jalan kudanya, mengikuti,
kemudian ia menanya tentang ilmu militer, ilmu silat dan kitab
perang. Kwee Cu Gie menjawab dengan cepat dan rapi. Dia
pun bicara dengan wajar, hingga tak mirip seperti orang yang
mau pergi ke tempat kematian-nya.
Lie Pek kagum dan heran, ia berpikir : ”Tak sedikit orang
gagah yang kukenal, tetapi orang yang tepat menjadi
sastrawan utama dialah ini!” Maka dari itu ia tetus mengikuti
sampai ditempatnya Ko Sie Han, ia menghadap perwira tinggi
itu untuk meminta kan keampunan bagi Kwee Cu Gie.
Ciauw-touw su itu luas pardangannya. dia memang
mengagumi penyair itu, maka dia suka berbuat baik.
Permintaan si penyair diluluskan. Hukuman mati Kwee Cu Gie
dibatalkan, ia dibebaskan, lalu ditempatkan tetap dalam
pasukan tentara, untuk nanti ia membuat jasa guna menebus
dosarya iiu.
Lewat beberapa tahun Kwee Cu Gie benar berhasil
mendirikan jasa, dari itu ia diberi pangkat thaysiu dari kota Kia
Goan itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lie Pek tahu sahabatnya iru mendapat kedudukan baik. ia


senang sekali, tetapi hal pertolongannya itu tak pernah ia
ceritakan kepada siapa juga, maka juga Ha Tie Ciang tidak
mendapat tahu.
Kwee Cu Gie juga mendapat kabar halnya Lie Pek berada di
kota raja di mana dia disayang raja, hanya dalam kedudukan
mirip tetamu, jadi dia tidak dipakai untuk mengurus
pemerintahan sedang kawanan dorna lagi menguasai negara.
Ia peicaya, orang sebagai Lie Pek itu, tak nanti dapat hidup
selayaknya didalam suasana keruh itu, dari itu ia mau
mengajarnya untuk tinggal bersama. Demikian ia menulis surat
dan minta seorang sahabatnya menyampaikan suratnya itu.
Sahabat itu ialah yang Lie Pek menyambutnya “saudara Lam
Pat.” Dialah opsir yang Kwee Cu Gie menjadikan pembantunya.
Dia anak yang ke delapan, nama benarnya yaitu Lam Cee In.
Untuk kedua wilayah Yan dan Tio (Hoopak dan shoasay), dia
terkenal sebagai Yu hiap, orang pengembara. Selama dua
puluh tahun, dunia kang ouw atau Sungai Telapak mengenal
dua jago, ialah sepuluh tahun yang pertama Toan kui Ciang,
dan sepuluh tahun kemudian, sesudah Kut Ciang
mengundurkan diri. ialah dianya. Selama di Kiu Goan pernah
dia seorang diri memukul mundur tiga ratus penjahat
perbatasan bangsa Kiang, hingga di-sana dia menjadi buah
bibir rakyat: “Lam Pat barulah laki-laki sejati!”
Atas pertanyaan Leng Ho Tat, karena orang she Leng ho ini
dipercaya benar kenal Kwee Cu Gie, Lam Pat memberitahukan
juga surat itu memang dari Kwee Cu Gie thaysiu dari kota kiu
goan itu.
Diluar dugaan, mendengar jawaban Lam Pat, sambil
tersenyum Leng ho Tat kata: ‘Surat itu belum diterima olen Lie
Haksu, bagaimana kalau dikasi pinjam lihat sebentar padaku?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Pat melengak. Ia menjadi tidak senang.


Walaupun surat bukan surat rahasia, tak pantas orang
pinjam linat suratnya lain orang.
„Tayjin bergurau!” katanya. “Mana dapat surat lain orang
diberi pinjam lihat?”
Leng ho Tat tertawa dingin. Ia tanya pula: ‘Saudara Lam Pat,
barusan kau kata kau menyayangi Lie Haksu apakah artinya
itu?”
Dari tidak senang, Lam Cee In menjadi gusar. “Jadinya kau
memeriksa aku?” ia tanya. “Hak apakah kau mempunyai?”
Leng ho Tat bersikap tenang. ‘ Lie Haksu itu memperoleh
kebaikan budi Seri Baginda Raja,” dia kata, “telah dikirim
tiongsu berikut kuda Seri Bagindi sendiri untuk menyambut!”
Dia ada demikian disayang, mengapa kau bilang dia harus
disayangi? Maaf aku yang bodoh, benar benar aku tidak me-
ngerti! Aku miita sangat supaya kau menjelaskannya.”
Dijawab demikian, tidak dapat Cee ln membilang apa apa. Ia
menyabarkan diri. “Aku tidak mempunyai tempo untuk bicara
denganmu !” akhirnya ia kata. Sie Siong tertawa mengejek.
„Ada tempo untuk adu pedang, tidak ada tempo berbicara.
Benarkah ?” katanya. Leng-ho Tat berpura menyelak di tengah.
“Kau serahkan surat itu padaku,” katanya. „Mari kita mencari
lain tempat untuk memasang omong. Akan aku tetap memper-
lakukan kau sebagai sahabat.”
„Hm!” Cee In mengasi dengan suara dingin. „Apakah kau
kira aku Lam Pat kena digertak orang ? Jikalau aku tidak
serahkan suratku ini, bagaimana ?”
Tiba-tiba air mukanya Leng-ho Tat berubah. „Kau bekerja
untuk pembesar di perbatasan !” dia membentak. „Kau
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mencoba membaiki seorang menteri istana ! kau juga


mengandung maksud hati tidak puas, kau menghina Seri
Baginda Raja ! Dosamu merangkap dua, apakah kau masih
memikir untuk merat ?”
Sejak tadi Toan Kui Ciang menonton saja, sekarang ia
menjadi heran bukan main. Tadi ia melihat Leng-ho Tat
menghormati Lam Cee In dan matur maaf, ia menyangka touw-
ut itu bangsa bina tukang mengumpak-umpak, karena Lie Hak
Su, dia mau menempel Cee In. Siapa sangka dalam tempo
sependek ini, dia mengubah sikap menjadi demikian getas dan
keras. Ia berpengalaman, ia toh heran.
Leng-ho Tat sudah lantas mengeluarkan senjatanya, yaitu
sepasang gaetan Hok-ciu-kauw, lalu dengan tipu silat
“Menggulung layar” dengan gaetan kiri dia menyambar dari
samping dengan gaetan kanan dia menggores ke dada !
Lam Cee In tidak menghunus goloknya, cuma dadanya
disedot, sebelah tangannya di ulur. Dengan begitu robeklah
baju didadanya hingga terdengar suara memberebetnya. Ber-
bareng dengan itu juga terdengar suara nyaring di telinga,
karena tangannya itu mampir keras pada sasarannya yaitu
telinganya si touw-ut !
Leng-ho Tat menjadi seperti kalap, Ia gusar tak kepalang.
Maka ia lantas mengulangi serangannya dengan beringas.
Masih Cee In tidak mengeluarkan senjatanya. Ia melayani
lawan dengan kegesitan dan kelincahan, ia main lompat berkelit
ke samping atau mundur. Kalau toh ia maju, tangannya
meluncur. Begitulah sampai tiba saatnya, selagi mengancam
dengan tangan kiri, ia cabut goloknya, untuk menyerang
dengan gegamannya itu.
Di saat itu Sie Siong maju, untuk menyerang, hingga pedang
dan golok bentrok keras suaranya berisik, lelatu apinya meletik.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Untuk kagetnya si orang she Sie, goloknya gugus ! Bukan


main kagetnya Sie Siong, yang terjulukkan Ceng-ciu Kiam Kek,
ahli pedang dari kota Ceng ciu. Tahulah ia bahwa lawan
menggunai golok mustika, yang tajam luar biasa. Ia tidak
takut, bahkan ia panas hati. Maka ia maju pula dengan me-
ngubah caranya bersilat beruntun tiga kali ia menyerang:
keatas, ketengah dan kebawah!
Juga Leng ho Tat mengumbar hawa amarahnya, Dia terlebih
gagah dari pada Sie Siong, sedang seumurnya inilah yang
pertama kali dia kena dicaplok orang. Maka dia menyerang
hebat sekali. Dia menggunai jurus ‘ Gie thian wa tee” atau
menutuk langit menggiris bumi,’” Kebetulan dia berada
dibelakang lawan, laetannya menerkam punggung dan
menyengkeram dengKul dengan berbareng.
Justeru itu, Sie Sio.jg mendesak dari depan. Didalam
keadaan terancam itu, Lam Pat sudah mengasi lihat kecerdasan
dan kesehatannya. Ia seperti melihat lawannya mendadak ia
mene.idang dengan sebelah kakinya kebelakang seraya
tubulnya dejerunukan kedepan, untuk melindungi punggungnya
itu. Tepat sekali tendangan kakinya, yang naik dari bawan ke
atas mengenai tangan lawan yang mencekal gaetan itu!
Leng ho Tat kesakitan dan kaget, gaet-annya itu terlepas.
Dengan menjerunuk keie-pan, Lam Pat mengancam Sie Siong,
hingga punggawa itu mesti mundur, setelah maia, ia
mengangkat tubuhnya berdiri, untuk berlompat kesampingnya
Teng-ho Tat. Sembari lompat itu. ia tertawa.
Tiat Mo Lek menonton dengan perhatian. ‘Bagus,” ia berseru
dengat pujiannya Ia kagum untuk tipu silatnya jago dari Yan
Tio itu. Ia baiu saja diajari Touw Leng Giok ilmu melawan
musuh didepan dan dibelakang, bagaimana harus
menyelamatkan diri, ia belum melatih sempurna, atau sekarang
ia melihat contoh yang bagus ini.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Cee In mendengar suara pujian itu, ia sudah lantas


melirik. ‘Eh, itu toh Toan Toako?’ katanya dalam hati.
Tepat ia berpikir itu, Cee In dibikin kaget oleh gerakannya
Gui Stin Su kawannya Sie Siong ini, yang semenjak tadi
berdiam saja, mendadak sudah mengangkat meja, sambil
berseru dia menimpuk, guna menghalang-halangi jalan.
Mata Cee In mendelik, dia berseru: ‘Bagus, ya! kiranya kau si
penjahat besar menjadi opsir tentera!”
„Ngaco belo!” Sin Su membentak. “Akulah Ciang Kun dari
Penglouw! Bagaimana kau berani mencemarkan namaku?”
Cee In melengak , dia bersiul, lalu dengan mendongkol dia
kata nyaring: “Tak ada bedanya pembesar negeri atau bangsat!
Pantas di-jaman begini negara kacau!”
Sembari berkata itu, dia lompat menyerang orang she Gui
itu. Sin Su terperanjat, mundur dua tindak.
Berbareng dengan itu, Sie Siong menyerang dengan
pedangnya1 maka dengan memutar goloknya, Cee In
menangkis, membikin senjata mereka beradu, hingga pedang
terpental!”
“Berontak! Berontak!” Leng Ho Tat berseru berulang-ulang
“bangsat ini sudah menghina Pemerintah, dia mencemarkan
Panglima Perang! Dialah si pemberontak pengacau negara,
setiap orang dapat membunuhnya, mencincang tubuhnya!
Seruan itu berpengaruh, karena beberapa opsir yang
mengenalnya, lantas turun tangan membantui mengurung Lam
Cee In.
Sebelum menghamba kepada An Lok San, Gui Sin Su
menjadi begal tunggal Satu kali di jalan besar Peng Ciu, selagi
membegal serombongan saudagar, dia bersamplokan dengan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Pat. dia diserang, hingga gagal usahanya itu dan kena
terbacok satu kali. Karena itu. dia jadi mendendam sakit hati.
Ini pula sebabnya kenapa sedari tadi dia berdiam saja. Ialah dia
takut nanti dikenali Lam Pat dan nanti mendapat malu.
Sie Siong heran kawan itu tidak membantui dia ketika dia
pertama kali bentrok dengan Lam Cee Ia, ketika dia kembali ke-
mejanya, dia tanya sang kawan. Tidak berani Sin Su mendusta
pada kawan sendiri, maka pada kawan ini dan Leng ho Tat ia
tuturkan permusuhannya dengan Lam Cee In. Inilah yang
membikin mencari gara-gara, hingga akhirnya terjadilah
pertempuran itu.
Pada itu. Leng-ho Tat masih mempunyai satu maksud lain
Kwee Cu Gie cuma menjadi thaysiu. tetapi ia pandai mengatur
tentara, karena ia tidak mau menghamba kepada An Lok San ia
dibenci orang she An itu. Berbareng dengan itu. Lie Pek dibenci
Yo Kok Tiong, cuma Kok Tiong tidak bisa berbuat apa apa
disebabkan nama besar Thay Pek, yang pun lagi disayang raja.
Yo Kok Tiong sendiri tidak mendapat kecocokan dengan An Lok
San, keduanya saling berlomba mengambil hati. Di mulut
mereka baik, di hati mereka saling mencari jalan untuk
disayang raja.
Leng ho Tat ketahui pertentangan diam-diam diantara Yo
Kok Tiong dan An Lok San itu ia memikir mencari jalan untuk
memperoleh keuntungan karenanya. Sekarang datang Lam Cee
In yang membawa suratnya Kwee Cu Gie untuk Lie Thay Pekja
mengasah otaknya Ia pikir: „Aku harus dapatkan suaranya
Kwee Cu Gie ini, tak perduli apa bunyinya, sesudah aku berhasil
akan aku haturkan itu kepada Yo Kok Tiong. untuk Yo Kok
Tiong mencari tukang munulis huruf yang pandai, guna meniru
tulisannya orang she Kwee itu, guna menuduh dia niat
berhianat dan berontak. Mungkin Seri Baginda Raja tak
mempeicayainyai sedikitnya dia dapat dituduh sudah
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

beisekongkol denganpi-hak luar, bahwa dia berkomplot sendiri


Soal demikian darat membangkitkan kebencian Raja. Maka itu,
taruh kata Lie Pek tidak diusir, kepercayaan atas dirinya pasti
berkurang. Kwee Cu Gie juga tentu bakal kerembet-rembet.
Dengan perbuatanku ini, aku bisa menempel Yo Kok Tiong dan
An Lok San berbareng. Bukankah dengan sekali pukul aku
memperoleh dua hasil?”
Sebenarnya Leng ho Tat ingin tarik Lam Cee In kepihaknya,
tetapi orang tidak sudi bersahabat dengannya, maka ia ambil
sikapnya yang keras itu sambil menuduh yang tidak-tidak.
Diatas lauwteng itu ada belasan serdadu le Lim Kun serta
pengawal istana, yang menjadi sahabatnya siorang she Leng-
bo, mereka itulah yang maju demi mereka mendengar Leng ho
Tat berseru-seru itu.
Selagi orang dikepung, Leng-ho Tat berpikir pula : “Jahanam
ini menyatakan puasnya terhadap Pemerintah, dia juga
membawa suratnya Kwee Cu Gie bahkan dalam hal membawa
surat itu, dia sudah mengaku sendiri, maka kalau semua orang
disini menjadi saksi dipihakku. sekalipun dia dibunuh mampus,
tidak nanti, aku dianggap bersalah aku dapat melanjutkan
rencanaku.”
Begitulah dia mengajuri ora ig menyerang untuk
membinasakan Cee In, hinnga Cee In menjadi terkepung hebat,
hingga ramailah suara senjata senjata mereka, ditambah de-
ngan terbalik baliknya kursi dan meja, terutama dengan jatuh
hancurnya piring mangkuk dan cawan arak. Sedang lain lain
tetamu, yang ketakutan semua lari serabutan menyingkir jauh.
Pihak pemilik rumah makan men jerit-jerit minta
pertempuran dihentikan, sia-sia saja jeritan mereka itu, hingga
saking takut, inerekapun pada menyembunyikan diri.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Cee In menjadi sangat gusar, maka ia menyerang hebat


dengan goloknya. Setiap meja atau kursi, yang mengadang
dihadapan-nya, ia dupak mental, hingga ada tiga opsir yang
dibentur dan ketindihan meja hingga mereka terluka, sampai
sekian Lama mereka’ tak dapat merayap bangun.
Leng-bo Tat juga maju lagi. Hebat dia mainkan sepasang
gaetannya. Sedang GuiSm Su, dengan tangan kosong, bersilat
dengan Kim Kong Ciang, tangan Kim Kongnya yang liehay.
Biar bagaimana, Lam Cee In kena terkurung, babkan
kurungan itu makin lama menjadi makin ringkas, hingga sukar
ia meloloskan diri.
Diantara pengawal istana, Lwee-sie wie. ada seorang yang
menggunakan senjata rahasia yaitu tiga batang paku Touw-kut
teng. Atas itu, Lam Cee In berkelit, atau lantas ia merasai
pundaknya teresngkeram keras seperti terjepit dengan jepitan
besi . . .
Itulah serangannya Gui Sin Su. Cee In berkelit justeru
kesamping si orang she Gui. Dia segera mengulur tangannya.
Sie Siong melihat demikian ia girang se kali. Segera ia
bertindak maju, pedangnya diluncurkan ke kaki orang,
mengarah jalan darah Hoan tiauw di dengkul.
Juga Leng-ho Tat melihatnya, juga dia maju, dengan
menggerakan ke dua gaetan nva, hendak dia menggaet kedua
kaki musuhnya.
Masih ada dua opsir lain yang lari memburu dengan golok di
tangan, berniat membabat kutung tangan orang.
Di saat Lam Cee In terancam bahaya itu mendadak Sie Siong
membatalkan tikaman-nya. Ia lantas menangkis ke belakang.
Itulah sebab memdadak ia mendengar angin menyambar di
belakangnya. Ia tahu pasti ada orang yang menyerangnya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan keras terdengar suara “Traang !” Itulah beradunya


orang she Sie ini dengan pedang penyerangnya. Lantas disusul
dengan suara nyaring lainnya. Hanya itu suara golok yang
terbabat kutung oleh pedang si penyerang itu, dan golok itu
goloknya seorang opsir lain.
Habis menangkis itu Sie Siong lantas me lihat siapa si
penyerang Ia telah memutar tubuh dengan sebat. Ia mengenali
orang adalah orang yang tadi minum arak bersama Lie Pek
ialah Toan Kui Ciang, orang yang namanya sudah lama ia
dengar akan tetapi dengannya ia belum pernah bertemu.
Toan Kui Ciang melihat Lam Cee In terancam bahaya, ia
lompat maju untuk menolong. Oleh kerena ia tidak dapat
membantu menangkis, ia menyerang orang she Sie itu, hingga
Sie Siong batal menikam terus pada si orang she Lam. Ia tahu
opsir itu liehay ia mergarah jalan darah cie tong di punggung,
ia menduga tentulah Sie Siong tahu dirinya dibokong, maka ia
sudah siap sedia. Begitu senjaia mereka bentrok, begitu datang
si opsir yang menggenggam golok itu, yang terus membacok
kepadanya, maka ia meneruskan menangkis sambil membabat
golok orang.
“Sie Siorg !” kata Kui Ciang tertawa, kau harus belajar lagi
sepuluh tahun untuk ilmu pedangmu ini !”
Bukan main panas ratinya orang sbe Sie itu. Ia lantas
menikam ke perut orang yang dianggapnya takabur itu. Itulah
tipu silat “Bintang mengejar rembulan.”
Kui Ciang berlaku sangat sebat. Ia menangkis. Begitu
menangkis, begitu ia menyerang, bahkan dua kali ia mendesak.
Sie Siong terkejut. Ia terdesak. Terpaksa ia menjatuhkan diri
ke lantai, untuk menyelamatkan dirinya, sedang pedangnya
diang-Ikat, guna menangkis Maka pedang mereka beradu
nyaring.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dua opsir lainnya maju menyerang Kui Ciang. Itu berarti


pertolongan untuk Sie Siong, Apa lacur, senjata mereka itu
kena dibabat kutung, hingga mereka tercengang, Sie Siong
berlompat bangun, dia pun bingung, keringat dingin
membasahi punggungnya. Tidak ia sangka musuh ini demikian
li hay.
“Kui Ciang menaugkis serangannya seorang sie wie, setelah
itu ia lompat kepada siorang she sie, guna mengulangi
serangannya. Ia mendesak sampai lawannya itu repot.
„Kau …. kau siapa?” tanya Sie Siong yang menanya di luar
kehendaknya,
Leng-ho tat juga gagal dalam percobaan nya menggaet
kakinya Lam Cee In. Mendadak ada sebuah mangkuk yang
terbang kea-rahnya, Tepat mangkuk itu jatuh di lantai te pai
kakinya sampai, maka ia kena menginjak nya.Mangkuk itu
pecah hancur dengan suara berisiknya ia pun terpeleset hingga
hampir ia menubruk lantai Ketika ia sudah mengangkat kepala
ia mendapatkan penyerang dengan mangkuk itu ialah seorang
bocah umur enam atau tujuh belas tahun, la heran berbareng
gusar.
“Eh, binatang kau cari mampus?” ia mc negur dengan
bentaknya. Ia belum menutup rapat mulutnya, atau bocah itu
ialah Tiat-Mo Lek sudah heilompat sampai di depannya! Tentu
sekali ia tidak memandang mata Ia menurunkan gaetan kirinya,
ia mengangkat yang kanan untuk digeraki terlebih jauh.
„Kena!” ia berseru nyaring. Tiat MoLek membacok dengan
goloknya, golok itu kena disambut gaetan kiri, Inilah kehendak
Leng-ho Tat, untuk ia dapat merampas genggaman lawan.
Si anak muda terkejut, akan tetapi ia ti dak menjadi gugup.
Tentu sekali ia ingin me loloskan goloknya itu. Mendadak
kakinya menoker mangkok ditanah hingga mangkuk itu
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terangkat dan menyamber ke muka orang Walaupun itu bukan


senjata rahasia Leng ho Tat, toh kuatir nanti kena di serang
maka ia berkelit, hingga mangkuk lewat disisi nya. Celaka
seorang sie-wie yang ocrada di belakang, dia terkena mangkuk
tanpa ampun lagi hingga kepalanya pecan. Dua wie-su lain
nyapun terluka pecahan mangkuk itu.
Gaetan kiri dari Leng-ho Tat, masih me nyangkel go’pknya
Mo Lek. Ia hendak membetot guna merampas golok lawan atau
sedikitnya membuat terlepas. Maksud ini tidak ke sampaian.
Telapak tangannya masih nyeri bekas ketendaug Lam Cee Tn
tadi. Mo Lek me-iiggunai ketikanya mi, dia menarik goloknya
sambil di putar, dia berhasil meloloskan nya setelah memapas
kuntug dua buah giginya gaetan lawan itu.
Touw-ut itu menjadi mendongkol sekali. Lawannya toh bocah
yang ia tak lihat mata-Maka ia maju pula dengan serangannya
yang bengis.
„Liehay”! Tiat Mo Lek jerseru melihat datangnya serangan. Ia
berkelit, goloknya-pun diu rik pulang. Tetapi ia menarik pu-lan2
bukan buat mengundurkan diri, hanya justeru dengan sangat
cepat ia membalas menyerang !
Leng ho Tat kaget dan heran. Serangan itu di luar
dugaannya. Serangan itu serangan pedang tetapi lawan
bersenjatakan golok Pula ilmu silat yang digunai ialah satu jurus
dari Pat Sian Kiam, ilmu pedang Delapan dewa. Percuma dia
berkelit, lengannya sudah kena tergores lecet tiga dim
panjangnya !
Selama beberapa hari Tiat Mo Lek berada bersama Toan Kui
Ciang, ia telah di ajarkan ilmu pedang. Ia pun di janjikan akan
dicarikan pedang yang bagus, guna menggantikan goloknya.
Sekarang menghadapi lawan yang tangguh, dengan golok ia

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bersilat dengan ilmu pedang maka itu menjadi diluar dugaan si


Touw-ut.
Leng-ho Tat mendongkol bukan main. Syukur dia tidak
terluka parah. Sebenarnya dia hendak menghajar mampus
bocah ini, atau dia mendapat kenyataan Sie Siong terancam
bahaya. Kawan itu sudah terdesak Kui Ciang, kalau dia tidak
membantui, untuk menolongi bisa-bisa kawan itu menemui
ajalnya. Maka terpaksa dia meninggalkan si bocah, untuk
menghampirkan si orang she Sie.
Toan Kui Ciang tidak takut walaupun ia dikepung dua opsir,
bahkan sebaliknya, ia mendesak mereka itu, hingga sinar
pedangnya seperti menutupi kedua musuhnya.
Sementara itu Gui Sin Su girang sekali sebab ia telah berhasil
menyengkeram pundaknya Cee In. Ia caenggunai tipu silat
Houw Jiauw Kimra ciu, tangkapan Kuku Harimau, ingin ia
membikin remuk tulang pipe orang untuk itu ia terus
mengerahkan tenaganya. Mendadak ia menjadi kaget sekali.
Beda dari semula, ia merasa seperti menyengkeram besi tak
dapat ja meremasnya, Tengah ia kaget itu, Cee In berseru
mengguntur, tubuhnya Cee In diajukan sambil menyingkur,
maka maka di lain saat, ia terangkat dan terpelanting jatuh,
begitu keras hingga papan lantai gempur, hingga ia terjatuh
terus ke bawah lauwteng.
Di saat itu tibalah dua opsir yang mau mengeroyok itu. Cee
In berseru menyambut mereka itu, yang bergenjatakaii masing
ma-sing golok panjang. Setelah menangkis bacokan, ia
membalas. Dengan satu bacokan ia menabas kutung sebelah
lengan satu opsir, dan opsir yang lainnya dihajar kelenger de-
ngan belakang golok yang diteruskan dipakai menggempur !

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Beberapa opsir lainnya kaget, hingga mereka berseru :


“Pembunuhan ! Pembunuhan !” mereka itu tidak berani maju
guna membantu rekan mereka.
Ketika itu Toan Kui Ciang berseru: “Mo Lek, jangan
membunuh orang ! Lekas angkat kaki!’ Sambil berkata begitu,
orang sbe Toan ini meluncurkan pedangnya ke tangannya Leng
ho Tat. tepat ia menusuk, hingga orang kesakitan dan gaetan
terlepas dari cekatannya.
Di lain pihak, Lam Cee Ia telah berhasil memukul terlepas
pedangnya Sie Siong. Maka berdua mereka landas menggeser
tubuh ke dekat jendela.
Justeru itu terdengar Tiat Mo Lek berseru nyaring. Inilah
sebab ia mendapat lihat di mulut tangga muncul seorang opsir
yang tadi-tadinya ia belum pernah melihatuya, opsir itu hitam
mata dan kulit mukanya, tubuhnya tinggi dan besar, hingga dia
mirip malaikat. Ia tidak tahu orang liehay atau tidak, ia lantas
membacok. Ia hendak meryingkir; tak suka ia ada orang yang
menghalang-halangi.
Opsir itu melihat serangan sambil tertawa. “Bocah cilik, ilmu
golokmu baik !” dia memuji. Sembari berkata itu. dia bergerak
bagaikan kilat. Dia berkelit, dua tangannya bekerja : Tangan
kiri menyambar golok, untuk dirampas, tangan kanan
mencekuk tubuh orang, hingga Mo Lek lantas terangkat tinggi !
Itulah yang membikin si bocah berteriak. Toan Kui Ciang
kaget Ia melihat si opsir memutar tubuh Mo Lek dan sambil ter-
tawa dia berkata : Bocah ini besar nyali-nya ! Baiklah, aku beri
ampun padamu !” Meski demikian ia melemparkannya ke luar
jendela !
Kui Ciang sudah lompat menikam, la hendak mencegah
dilemparnya bocah itu pedangnya meluncur ke muka orang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Opsir itu berani dan sebat, ia bukannya mundur hanya maju,


tangannya bergerak dalam jurus ‘ Merogo saku mengeluarkan
barang. “Dengan lima jeriji yang kuat, ia hendak
menyengkeram jalan darah Kiok-tie dari si orang Toan.
Melihat hebatnaya tangan itu, siapa terkena bersamber
mestinya dia habis daya. To an Kui Ciang melihat serangan itu.
ia me nginsafi bahayanya. Tapi ia telah jadi mata merah.
Bukankuh Mo Lek sudah dibuang ke luar jendela? Ia menjadi
nekad. Maka ia berkelahi terus, ia menyerang hebat ke dengkul
opsir itu .ambil ia berteriak. “Bayar pulang jiwa sahabat cilikku!”
Oisir muka hitam itu tak menyangka orang berlaku mati
matian itu. Itulah hebat! umpama kata ia berhasil menjambak
Kui Ciang, dengkulnya sendiri bisa menjadi kurban dengkul itu
akan bercacad. maka tak mau ia mengadu jiwa. Terpaksa ia
membatalkan serangannya seraya ia berlompat ke samping
sedang dari muluinya terdengar tertawa serta kata-kata ini!
“Siapa membinasakan bocah cilik itu? kau lihat dulu biar jelas!”
Justeru itu dari bawa lauwteng terdengar suaranya Tiat Mo
Lek: ”Kouwthio, apakah kamu masih bertempur terus? Baiklah
kau ajar adat kepada si muka hitam itu!”
Opsir rnuka hitam itu tertawa pula. “Hebat bocah cilik itu! “
katanya. “Sudah dia tidak mau menerima kebaikan budiku dia
juga mencaci aku!”
Toan Kui Ciang kata: “Baiklah, aku terima kebaikanmu ini!
kita jangan saling ganggu! ‘ karena ini. ia batal melakukan
penyerangan pula.
Tapi Leng-ho Tat berseru: “Dua orang ini penghianat! ut tie
Touw ut, aku lepas mereka’”
Opsir muka hitam itu Ut tie Pak namanya. Dialah buyut dari
Ut tie Kiong. Panglima perang berjasa yang turut membangan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kerajaan Tong. Dia berdua saudara. Saudaranya itu bernama


Lam dan berpangkat tong nia, Komandan dari Kim-Kun,
pasukan pengiring Raja. Dia sendiri menjadi Tay-too Sie-wie,
pengiring yang bersenjatakan golok diri Kaisar dan pangkat
Liong Hong Kie-touw ut, maka juga ia berkedudukan terlebih
tinggi dari pada Long-ho Tat. Di dalam Istana, dialah satu di
antara Sam Toa Kho-ciu, si Tiga Terliehay. Ilmu silatnya yang
istimewa ialah “Khong Ciu Jip Pek Jin, “atau ” Tangan kosong
merampas senjata. “Tempo dulu hari Cin-ong Lie Sie Bin (Kaisar
Tong Thay Cong sebelum naisc tachta) menyerang negara
bagian Gui (Lie Bit), di lembah Ngo Kok dia bertemu dengan
Sian H ong Sin yang gagah dari pasuka Wa Kong Kun, di situ
Lie Sie Bin dikerja Sian Hiong Sin sampai diso-lokan Tauw Hun
Kan, hampir dia kena ditangkap syukur Ut tie Kiong datang
menolongi, dengan tangan kosong orang sheUt-tie ini
merampas tombak Sian Hiong Sin yang beratnya tiga puluh
tiga kati. Karena itu nama Uttie Kiong, atau Ut-tte Keng Tek,
menjadi tersohor,
Ut-tie Pak tidak merampas pedangnya Toan Kui Ciang ia
menjadi kagum sekali berbareng dengan itu semangatnya
menjadi teibangun ia tertawa bergelak dan kata: “A-ku tidak
perduli kau siapa! Ilmu Silat pedang kau liehay, mesti kau
belajar kenal lagi beberapa jurus! ‘ Lantas ia menyerang de-
ngan dua tangannya, dengan tipu silat Menggantung cambuk
tunggal. ‘ Dengan tangan kiri ia mencopa menangkap lengan,
untuk menggencet nadi, dengan tangan kanan ia mau
merampas pedang,
Hati Kui Ciang lega. Ia mendapat kenyataan Tiat Mo Lek
tidak kurang suatu apa, maka tak ingin ia mengadu jiwa
dengan o-rang yang berperi kemanusiaan ini. Ia tidak
menghiraukan orang liehay, ketika ia disam-ber itu, ia

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menggeser ia tubuhnya ke samping. Ia bergerak sargat cepat


hingga ia menjadi berada di belakang orang.
„Awas Pedang! “ia berseru seraya pedang nya dipakai
meiotok jalan darah hong-hu di punggung touw-ut itu. Sengaja
ia mengasi dengar suaranya .ebab ia mengagumi lawan ini
sebagai laki laki sejati Tiat Mo Lek tidak dibinasakan, ia ingin
membalas budi.
“Kau tak usah berlaku belas kasihan ! Kata Ut tie Pak
tertawa. Dia memutar tubuh sambil tangannya menyamber
ke belakang.
Itulah dua gerakan berbareng : Berkelit dan menyerang.
Ujung pedang Kui Ciang tidak sampai pada sasarannya,
sebanknya ujung bajunya kena tersamber hingga robek,
bahkan kalau ia kurang sebat, pedanguya pun akan kena
dirampas.
„Tangan yang liehay !” Kui Ctang berseru memuji, sambil ia
menyerang dengan sebat sekali. Ia merabuh, hingga sinar
pedangnya berkilauan di sekitar lawan itu, memain di antara
berkelebatannya bayangan orang.
„Bret !” demikian terdengar satu suara, “Pedang yang
liehay!” Ut tie Pak berseru. Dia ingin sangat merampas pedang
orang, dia berlaku alpa, maka ujung bajunya terserempet
putus. Maka dia pun memuji o.ang yang ladi memuji liehaynya
tangannya.
„Kita seri” berkata Kui Ciang. “Aku masih mempunyai urusin
penting, maafkan aku, tak dapat aku menemani lebih lama “,
Habis berkata itu, itu ia lompat ke jendela yang ia hajar dengan
kepalannya untuk ia termpat lebih jauh ke luar, terjun ke
bawah!”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ut-tie Pak tidak memburu atau menghalang-halangi, ia


hanya memutar tubuh guna menghadang di depan Lam Cee In.
“Kau pun pertunjuki kepandaianmu !” ia, lalu menantang
terus ia menyerang. Cee In tidak punya kegembiraan orang ini,
ia tunggu sampai tangan si touw-ut hampir tiba, mendadak
ia berkelit, belakang goloknya dipakai mengetok tangan
orang itu.
Ut-tie Pak iiehay sekali. Benar tangannya itu beradu dengan
belakang golok, akan tetapi berbareng dengan itu, tangannya
itu meluncur terus, menepuk lengan Cee In, hingga lengan itu
bergetar, goloknya mental! Ia berseru : :,Bagus ! kita pun seri l”
Mengenai ketikannya yang baik, Lam Cee In berlompat ke
luar jendela yang tadi didobrak Toan Kui Ciang. la lompat
berjumpalitan melewati jendela itu
Ut tie Pak pun berlompat untuk menyambar, akan tetapi ia
cuma kena menyamber kayu jendela, hingga patah sebuah
jerujinya tak dapat ia menangkap kaki lawannya itu.
Bukan tak sengaja orang she Uttie ini menyamber gagal, ia
bersandiwara dan baik sekali peranannya itu. Memang ia ingin
mengasi lolos si lawan untuk mana ia mempunyai alasannya
sendiri. Kalau ia bersungguh-sungguh, mungkin ia berhasil.
Dengan Lam-Cee In, kepandaiannya berimbang, masing-
masing memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Tadi ia
mencekal tangan Lam Cee In, Cee In menghajar ia dengan
belakang lolok. Kalau ia digacek benar-benar dengan tajamnya
golok itu, pasti sudah tangannya lerkutung, atau sedikitnya
teiluka parah. Cee In berbuat baik, ia balas itu dengan kebaik-
an juga. Sudah lumrah, orang gagah menyayangi orang gagah-
Demikian ia menyamber “gajal,” supaya sang lawan lolos.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Sayang! Sayang!” Leng-ho Tat berseru berulang ulang. Ia


tidak ketahui permainan komedi itu. Lantas ia mau pergi
menyusul.
“Jangan! ‘ berkata Ut-tie Pak, yang mencegah dengan
suaranya yang dalam, “Untuk dapat menangkap dua orang itu,
U bun Tong-nia dan Cin Touw-ut mesti diminta bantuannya,
sebab percuma kita menyusul mereka, kita bukan lawan
mereka itu! Mari duduk, untuk kita bicara. Bukankah kau
mengatakan dua orang itu pemberontak? Apakah ada buktinya
untuk tuduhan kau itu? kau jelaskan padaku, nanti aku
melaporkan kepada Seri Baginda Raja. kemudian akan ku minta
Junjungan kita memerintahkan U-bun Tongnio dan Cin Touw ut
turun tangan membantu aku.”
Yang disebut U-bunTongnia itu, sikomandan, adalah U bun
Thong dari pasukan Gie Lim Kun, dan Cin Touw-ut ialah Cin
Siang, buyutnya Cin Kiong, salah satu panglima dan menteri
gagah dan berjasa yang turut membangun Kerajaan Tong.
Mereka itu berdua bersama sama Ut-tie Pai ialah disebut Tay
Lwe Sara Toa-klo-ciu, tiga pahlawan tergagah dalam istana.
Leng ho Tat telah menyaksikan kegagahannya Lam Cee In
dan Toan Kiu Ciang, ia percaya benar katanya Ut tie Pak. Jadi
iapun beranggapan, bantuannya U bun Thoang dan Cin Siang
harus didapatkan. Karena ini ia suka menurut. Setelah berdiam
sebentar ia menuturkan apa sebabnya maka terjadi pertempur-
an iiu hingga Lam Cee In hendak dibekuk, demikianpun Toan
Kui Ciang yang membantui Cee In.
Ut tie Pak tertawa bergelak. ”JiKalau menurut keterangan
kau ini. kau tidak mempunyai bukti untuk tuduhanmu terhadap
mereka bahwa mereka pemberontak! ‘ kata dia. “kau harus
ketahui Kwee-cu Gie itu perwira yang berjasa dan sangat
diandalkan melindungi wilayah perbatasan dan Lie Haksu
menjadi orang kesayangan Seri Baginda, tak dapat kita menen-
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tang mereka cuma disebabkan kita hendak membikin Yo Kok


Tiong bukankah tak ada untungnya bahkan ada ruginya
jikalau kita tak berhasil merobohkan perwira dan rak u itu,
Benar orang she Tam itu telah menyatakan tak puasnya
terhadap pemerintah Agung tetapi itu bukan kata kata yang
berat. Tak diingat dialah seorang gagah perantauan yang
ternama, yang luas pergaulannya, jikalau kita berbuat salah
terhadapnya, kita bisa dapat susah. Umpama kata satu waktu
kita dimestikan bertugas keluar daerah. Tidakkah kita bisa di-
ganggu dia? menurut pikiranku, permusuhan itu baiklah
disingkirkan tetapi jangan diperhebat. Saudara Leng-ho, baik
urusan ini dibikin sudah saja! ‘
Ut-tiePak kenal baik sifatnya Leng-ho Tat, maka itu ia
mengeluarkan kata katanya, untuk membikin ciut hati orang.
Iapun, selain pangkatnya lebih tinggi, baru saja ia memberikan
bantuannya, hingga orang menjadi selamat. Maka itu, Leng-ho
Tat suka mendengar nasihatnya itu. Disamping itu, buat minta
bantuannya U-bun Thoang dan Cin Siang, Ut-tie Pak
dibutuhkan sangat. Dia sebenarnya tidak puas tetapi dia
menurut.
Cee In sendiri tiba dijalan besar dengan tidak kurang suatu
apa. Ia lantas menjeput golok mustikanya, tidak ayal lagi.
‘bersama sama Toan Kui Oang dan Tiat Mo Lek ia me-
nyingkirkan diri. Ia n engenakan seragam, ti. dak sda orang
yang mengejarnya. Dite ngah ja -lan ada beberapa serdadu
peronda, tetapi mereka tidak ketahui peristiwa dirumah makan
itu, tidak ada yang menghalang-halangi. Maka tak terlalu lama
tibalah sudah mereka bertiga ditempat yang sunyi. Disini
mereka tidak berlari-lari lebih jauh, malah mereka pertahankan
tindakan mereka.
„Saudara Lam,” berkata Kui Ciang tertawa, “setelah sepuluh
tahun kita berpisah, hampir aku tidak mengenali kau! Jikalau
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bukannya Lie Haksu menyebut namamu, mungkin aku tidak


berani mengakui kau”
„Sebaliknya, Toan Toako, kau sendiri tak berubah banyak,”
sahut Cee In. “Apakah enso tidak datang bersama? dan ini
saudara kecil, putera siapakah dia?”
Tiat Mo Lek tertawa. Dia mendahului Kui Ciang menjawab.
“Kau tidak mengenali aku, aku sebaliknya mengenali kau!’
demikian katanya ”Bukankah kau orang gagsh yang dijuluki Mo
kiam Kek? kenapa barusan kau memakai golok dan bukannya
pedang? ya, barusan kau bersilat bagus sekali mulanya golok,
lalu kaki! Aku sendiri berat sekali, sekian lama aku berlatih aku
tidak berhasil.”
Kui Ciang tertawa. ‘Bocah ini tidak boleh melihat kepandaian
lain orang!” karanya. “Asal dia dapat melihat, dia lantas mau
mempelajarinya! Saudara Lam, apakah kau lupa dia? Dialah
puteranya Cee-cu Tiat Kun Lun. Dialah siainak nakal bernama
Mo Lek!”
„Ha, pantas dia lihay setali! Cee In memuji. “Dulu ketika aku
mengikuti guruku mengunjungi Touw Ceecu, dia masih
ingusan, tapi sekarang dia sudah jadi begini besar!”
„Selama sepuluh tahun banyaklah terjadi perubahan.” kata
Kui Ciang bersenyum.’ Bukankah kaupun dulu sebesar dia
teJapi sekarang kau terpuji umum sebagai hiap kek, orang ga-
gah yang berhati mulia! Apakah gurumu baik?”
“Suhu masih tetap seperti dulu!” Cee In menawab. “Dia
masih terumbang-ambing ke-timur dan barat dengan
pekerjaannya meno-longi orang menggosok kaca. Hanya
sekarang ini adik seperguruanku Lui Ban Cun yang mengikuti
dia, maka juga pedangkuaku serahkan pada-iya. Golokku ini
aku dapat hadiah dari Thaysiu Thio Sun dari kota Hoay yang.”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Selama beberapa tahun ini akupun lagi mencari loo-jin-kee


gurumu itu,” kata Tiat Mo Lek, “Sayang sampai sekarang aku
masih belum berjodoh menemuinya…”
„Buat apakah kau mencari orang tua itu?’ tanya Kui Cang,
tertawa. “Apakah kau hendak menuntut pelajaran menggosok
kaca?”
Matanya Mo Lek terlihat merah. Mendiang ayahku menyuruh
aku mencarinya,” sahutnya perlahan
Dijaman dahulu itu orang mamakai kaca-rasa dari kuningan
atau tembaga, setelah dipakai sekian lama, alat berkaca itu
mesti digosok untuk dibikin bersih dan berkilau, maka juga itu
waktu ada Suatu cabang pekerjaan, ialah “menggosok kaca”
namanya. Gurunya Cee In menjadi seorang gagah pengembara
yang menyembunyikan diri, dari itu sengaja ia hidup bekerja
sebagai tukang gosok kaca. Den an begitu ia bisa hidup
merdeka serta dapat ketika merantau, untuk berkenalan
dengan orang orang gagah lainnya. Oleh karena itulah maka ia
dikenal sebagai MoKeng Loo-jin, siorang tua tukang gosok
kaca. Lam Cee In biasa mengikuti gurunya, dia suka meng-
gosok pedang, maka orang Kangouw menggelarkan dia Mo
Kiam Kek, situkang gosok pedang.
---ooo0dw0ooo

Jilid 4
Pada dua belas tahun yang lampau Mo Keng Loojin dan Mo
Kiam Kek pernah menerima undangannya Touw-kee Houw.
lima saudara Harimau Keluarga Touw, mereka menjadi tetamu
terhormat di benteng Touw Kee Cee. Di sana Cee In bertemu
dengan Toan Kui Ciang dan istri serta Tat Mo Lek. Itulah
perkenalan mereka.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiat Kun Lun mempunyai dua sahabat paling akrab: yaitu


Touw Leng Ciok dari Touw Kee Ngo Houw, dan yang lainnya
Mo Keng Loojin. Kepada orang tua itu pernah ia menitipkan
anaknya Lantaran Mo Keng Loojin tak tentu tempat kediaman-
nya, hingga ianya jadi sukar dicari, Tiat Kun Lun menitipkan
anaknya kepada Touw Leng Ciok, buat diangkat menjadi anak.
Karena itu, Mo Lek mencari Mo Keng Loojin.
“Kami pun pernah dengar kabar meninggalnya Tiat Cee cu,”
kata Lam Cee In, “lalu kemudian kami mendengar juga hal
gunungnya diserbu pasukan tentara negeri, begitu-pun tentang
sering terganggunya Touw Kee Cee hingga orang mesti sering
berpindahan. Suhu pun sangat memikirkan kau, adik Tiat.
Syukur sekarang kita dapat bertemu di sini. Kau hendak
mencari guruku, itu tak sukar. Besok aku mau pergi ke Hoay-
yang, mari kuturut aku. Suhu menjanjikan aku bertemu di kota
itu.”
“Ini … ini . . , kata Mo Lek, yang ragu ragu, sedang
sebenarnya ia mau mengatakan „Inilah baik” Ia lantas
merubahnya : “Inilah baik, cuma besok belum dapat aku turut
kau …”
Lam Cee In mengawasi ialah orang Kang Oaw
berpengalaman, maka ia berpikir “Turut pendengaran, Tiat Kun
Lui terbinasa ditangan musuh, sedang barusan waktu nama
ayahnya disebut sebut, mata anak ini menjadi merah, air
matanya mengembeng, kalau begitu, benarlah pendengaranku
itu. Ia dipesan ayahnya mencari guruku, pasti itu bukan urusan
menitipkan anak, pastilah itu urusan permintaan tolong
membalaskan sakit hati. Hanya kenapa ia menampik ajakanku
pergi menemui guruku? Apakah ia mempunyai urusan yang
lebih penting dari pada sakit hati ayahnya itu ?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis berpikir begitu, orang she Lam in berkata pada Toan


Kui Ciang : “Toan Toako ada urusan apa toako berdua datang
ke kota Tiang an ini ?”
Kui Ciang menoleh kepada Mo Lek. “Tidak ada urusan yang
penting,” sahutnya. “Kami cuma ingin menjenguk sahabat . . . “
“Siapakah sahabat itu?”
“Dia bukan sahabat Rimba Persilatan, kalau aku menyebut
nya belum tentu saudara kenal. Sekarang ini saudara berdiam
dimana ? Apa boleh saudara berdiam kira-kira dua hari lagi ?
Besok Mo Lek boleh pergi menjenguk kau.”
Lam Cee In heran hingga ia jadi tambah curiga, Ia
pikir:”Persahabatanku dengan Toan Toaku bukan persahabatan
karib tetapi begitu jauh aku tahu dialah orang jujur dan baik.
sebagaimana tadi dibuktikan dia lantas membantu aku. Kenapa
sekarang dia agak ragu-ragu? Mungkinkah dia menganggap aku
sebagai orang luar? yang lebih aneh lagi dia kata Mo Lek dapat
menjenguk aku! Kenapa dia tak mau menyebutkan tempat
kediamannya kepadaku? Apakah sebabnya ini? Dia lah orang
gagah kenamaan, tak selayaknyalah sikipnya ini”
Orang she Lam ini berpikir demikian umpama dia
mengetahui pikirannya Toan Kui Ciang. Sebelum begitu otak
orang she Toan ini bekerja keras sekali, dia terombang ambing
dalam keragu raguan, Sebenarnya dia ingin bicara dengan jujur
akan tetapi akhirnya dia mengambil putusan akan pertaruhkan
jiwanya sendiri saja. Malam sebentar dia mau pergi
ketempatnya An Lok San guna menolongi Su It Jie, Dia tahu
besar sekali faedahnya kalau Lam Cee In membantunya.
Bukankah dia bakal memasuki Kedung naga dan sarang
harimau? Tapi diapun tahu baik sekali bahwa An Lok San
mempunyai orang-orang yang liehay! itulah berbahaya untuk
minta bantuannya Cee In, Apa jadinya apa bila apa lacur Cee In

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menemani dia membuang jiwa di sana? Tak tega dia! Di


sebelah itu Cee In sekarang lagi membantu Kwee Cu Cie
diperbatasan, disana tenaganya dibutuhkan jikalau ia terbinasa
di sini, Kwe Cu Cie kehilangan sebelah lengannya. Dan masih
ada beberapa yang ketiga, yang membuatnya malu hati. Dalam
pertempuran dirumah makan, tadi, membantui Cee In, maka
kalau sebentar malam dia minta Cee In membantuinya itulah
sama saja dengan ianya meminta pembalasan budi.
Inilah tak nanti dia lakukan, meski mungkin orang
menganggapnya layak. Untuknya, menagih budi. Merusak
martabat seorang ksatria. Maka dia mengeraskan hati tak mau
dia memberi keterangan,
Tia Mo Lek cerdik, ia mengerti sikapnya Kui Ciang meski ia
ingin bicara, ia toh me nutup rapat rapat mulutnya.
Lam Cee In tidak berani menanyakan. Ia pun terhitung
orang yang tingkatnya lebih muda. Oleh karena mesti berdiam
ia menjadi likat sendirinya.
Kui Ciang lantas menyimpangi pembicaraan mereka. ”Apakah
Tio Sun yang sekarang menjadi Taysiu di kota Hoay-yang?’ dia
tanya. “Kabarnya dulu dia pernah mengepalai pasukan perang
menggempur bangsa Kiang dan beberapa kali memperoleh ke-
menangan yang gilang gemilang. Dia panglima yang pintar dan
gagah!”
Cee In mengangguk. „Sekarang ini aku berniat pergi dulu ke
Hoay-yang,” ia kata. ”Darisana baru aku kembali ke Kiu goan
sana aku hendak menemui thay-siu itu. Suasara di perbatasan
sekaang guncang. An Lok San memegang Kekuasaan besar
atas tentara. Yang dia pakai sebagian besar orang-orang sulu
bangsa 0uw Siang dan malah dia merencanakan menelan
wilayah pelbagai ciat touw-su, guna memperbesar
pengaruhnya. Kelihatannya dia bakal menjadi mara bencana

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

besar. Kwee Leng Kong ketahui aku sahabatnya Thio Thiy-siu,


maka aku diutus untuk kita membuat perhubungan, supaya
kalau sampai terbit malapetaka, dapar kita bekerja sama, untuk
saling membantu, kebetulan guruku bakal sampai di Hoay-yang
lain bulan, maka kita berjanji membuat pertemuan di tempat-
nya Thio Thaysiu itu.”
Demikian mereka berbicara sambil berjalan, sampai mereka
telah mengitar melewati Cie Kiai Shia, Kota terlarang, terus
sampai di kaki gunung Le San. Di atas gunung itu ada sebuah
istana peristirahatan. Mulai dari tanjakan Geng Loan Po,
wilayah itu dijadikan wilayan terlarang yang dijaga barisan wie
su. Dibawaban tanjakan Geng Loan Po itu ada sebuah
bangunan, yang mentereng indah mirip istana
Lam Cee In menunjuk kepada bangunan itu. romannya
mendongkol. “Jahanam An Lok San pandai sekali
membahagiakan dirinya!’ Katanya, sengit. “Setiap tahun dia
berdiam di kota Tiang an paling lama dua bulan, toh dia telah
membangun gedung itu yang seperti istana mewahya. Dia
hidup besar dan cukup, tapi kasihan orang orang peperangan
yang membelai tapal batas, mereka kurang pakaian dan kurang
makan, mereka mesti bernaung dibawah tenda saja untuk
melindungi diri dari matahari angin dan hujan.’
“Oh, kiranya itu gedungnya An Lok San!” kata Kui Ciang,
heran terkejut. Maka berpikiran dia: “Tadi kita bertarung di
rumah makan, aku justeru bersangsi sekali untuk sebentar
malam pergi pula kesana menanti kan An Lok San. Mudah
orang mengenali. Sekarang aku mendapat tahu sarangnya ini.
tak usahlah aku pergi lagi ke rumah makan itu, sebentar saja
ia di sarangnya. Hanya gedung ini dekat istana, tempat yang
Terlarang inilah berbahaya Sulit untuk masuk kesana
menolongi orang””

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang berpikir sambil tunduk alisnya mengkerut. Cee In


melihatnya, ia menduga kawan ini mendongkol karena
kemewahannya gedung An Lok San itu. Mimpi pun tidak dia
bahwa sebentar malam kawannya mau menyatroni gedung itu!
Ketika itu matahari sudah doyong ke barat. “Hari ini aku
bertemu dengan kau saudara senang hatiku,” Cee In kata.
„Hanya sayang kita belum dapat berbicara dengan lama dan
asyik Sebentar aku mesti pergi ke-gedungnya Ho Siauw kam
untuk mengunjungi Ceng Lian Haksu. Maka itu, saudaraku
andaikata besok kau mempunyai tempo luang, aku mima
sukalah kau dan Mo Lek datang kepondokan ku untuk kita
berbicara lebih jauh”.
Kui Ciang mengangguk Leng-ho Tat berniat mencelakai kau,
saudara Lam,” ia kata, “kalau sebentar malam kau pergi
kerurnahnya orang she Ho itu, baiklah kau berhati-hati.”
Cec In tertawa. „Dirumahnya Ho Siauw kam di mana pun
ada Ceng Kian Haksu,” katanya “aku rasa dia tidak nanti main
gila! Meski begitu, tentu aku akan berlaku waspada.”
„Besok ada janjiku dengan seorang sahabat.” kata Kui Ciang,
“Aku kuatir kita tidak bakal bertamu pula. saudara Kam Pula
mungkin besok ada suatu urusanku yang bakal memusingkan
saudara, apalagi benar terjadi demikian, nanti aku suruh Mo
Lek yang menyampaikannya.’
Cee In heran, ia menjadi masgul. Tetap orang tidak mau
omong terus terang padanya. Ia cuma bisa mengangguk.
Sampai diisitu, mereka berpisahan.
Kui Ciang mengajak Mo Lek pulang ke pondokannya, lantas
dia mengunci pintu kamarnya ,
”Mo Lek,” katanya ”tempo berkumpul kita tinggal dua jam
lagi, Bagaimana dengan ilmu pedang yang aku ajari kau? kalau

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ada bagian bagian yang kurang jelas, sekarang kau tanyakan


aku.”
Orang she Toan ini menghadapi saat ber-pisahan hidup atau
mati tapi toh ia masih tak melupakan pelajaran silat
Keponakannya itu.
Mendengar itu. si anak muda menjadi sangat terharu,
mendadak ia menangis terus ia menjatuhkan diri berlutut
didepan sang kouwthio.
Seumurnya, kecuali ketika ayahnya menutup mata, belum
pernah Mo Lek menangis, maka kali ini luar biasakah ia
mengucurkan air mata dan nangis terisak Ia mengangguk tiga
kali hingga kepalanya membentur lantai.
“Kouwthio,” katanya “aku minta sukalah kau ijinkan aku
memanggil suhu padamu! Suhu! . . Suhu ! . .”
Kui Ciang memimpin bangun. “Dengan mendapatkan murid
sebagai kau, tidak nanti aku menyesal ” katanya, bersenyum.
“Hanya sayang tidak dapat aku mewariskan semua
kepandaianku kepada ku. ialah tak dapat memberinya sekaligus
dalam waktu yang singkat. Lain dan itu, hari kemudian kau
penuh dengan pengharapan besar, kau bakat melebihkan aku.
maka itu jangankah kita menjadi guru dan murid”
Dengan kata-kata ini K.ui Ciang maksudkan supaya Mo Lek
mencari lain guru saja.
” Suhu. tidak dapat kau menolak!” kata Mo Lek, memaksa.
“Aku mesti minta kau menerimanya! suhu kau akuilah aku
sebagai muridmu!”
Kui Ciang tertawa, senang la untuk kesungguhan hati si
bocah. ”Kau bikin aku kewalahan, anak!” katanya ”Baiklah,
untuk sementara aku sebagai muridku. Tapi lain hari kalau
jodoh kita sudah habis, kau perlu mencari lain guru. Maukah
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kau berjanji ? Kalau tidak tak suka mengambil kau sebagai


muridku! ”
Mendengar itu, Mo Lek jadi bertambah berduka, air matanya
turun deras sekali Kui Ciang menarik tangan orang, ia menepas
air matanya.
“Anak tolol, buat apa nangis?” katanya, tertawa „Sekarang
bukan waktunya main menangis bilang bagian apa yang kau
kurang terang lekas kau tanyakan!”
Mo Lek cerdas tetapi masih rada sulit ia menerima pelajaran
silat dari pamannya ini. Itulah sebab sukarnya ilmu silat yang
diwariskan itu. Pula ditempat begini, di saat hati sangat pepat
mana dapat dia belajar benar?
„Baiklah, sebagai guru hendak aku menguji kau!” kata Kui
Ciang melihat orang diam saja, “Coba kau baca teorinya diluar
kepala!”
Mo Lek paksa menahan air matanya, ia lantas mengapalkan
ajaran guru ini. Ia sebenarnya sudah faham hanya kedukaan
membikin otaknya rada gelap, ia membuat beberapa kesalahan.
Kui Ciang memberikan keerangan, untuk membenarkan itu.
“Kau dapat mengapal ini, baik sekali” katanya kemudian, „Lain
waktu, apabila kau dapat guru yang pandai, dari gurumu itu
kau dapat minta pengajaran terlebih jauh.”
Demikian paman dan keponakarr, sang guru dengan
muridnya. Padi kira-kira jam dua. Kui Ciang lantas menyalin
pakaian dengan ya neng ie, yaitu dandanan untuk ke luar
malam yang singkat. Ia pesan muridnya: ”Kalau besok terang
tanah aku tidak kembali kau mesti lekas mengangkat kaki dari
sini, kau pergi kepala Lam Tayhiap kamu pergi lebih dulu ke
Hoay yang setelah kau bertemu dengan Mo Keng Loojin. tolong
kau sampaikan permintaanku kepadanya agar dia suka

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membantu ayah angkatmu Inilah janjiku kepada pamanmu


yang ketiga. Aku sendiri. aku kuatir tak dapat aku membantu
lebih jauh padamu, maka juga aku minta bantuannya Mo Keng
Loojin bersahabat baik dengan ayah angkatmu, aku percaya dia
akan suka membantu “
Mo Lek ingin turut guru itu. tetapi karena ia duga pasti Kui
Ciang bakal menolak, ia tidak bilang suatu apa, ia mengangguk
dengan menyahut “Ya” berulang u!ang. Di dalam hati ia telah
buat rencana lain
Berpisah dari muridnya, Kui Ciang langsung menuju ke
gunung kira kira jam tiga. Malam itu rembulan tidak muncul,
ada juga bintang bintang yang sinarnya guram. Dengan
bantuannya bintans-bintang itu, ia memandang ke bangunan
yang mewah itu. Ia cuma melihat sebuah jalan miring yang
kecil dan sempit untuk tiba di istananya An Lok San itu. Di
mulut jalanan itu ada penjagaan oleh dua ora ig wie su. Di
belakang gedung ialah batas istana Kaisar yang terlarang itu.
Tak usah disebut lagi bahwa penjagaan di sana pasti lebih
kuat pula.
„Jikalau aku paksa menerobos, andaikata dua wie su ini
menemui kematiannya, yang disebelah atas tentu
mengetahuinya ” Kui Ciang pikir-“Bagaimana sekarang ?”
Ketika itu seekor burung besar terbang bergelapakan dari
alas sebuah pohon. Melihat burung itu, Kui Ciang mendapat
akal Ia menjumput sepotong batu, ia menyentil itu kesebelah
belakang kedua wie-su.
Kaget mereka itu berdua, keduanya berpaling dengan
gesit Kui Ciang sudah siap sedia ia menggunakan saatnya yang
baik itu. Dengan satu lompatan enteng dan pesat, ialah dengan
“Teng-peng touw-sui” atau “Menyebrang dengan menginjak
kapu kapu.” ia melerat melebati kedua cinteng itu. la dapat
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lewat tanpa suara apa-apa, tanpa terlihat. Ketika ia menoleh ke


bslakanj, ia sudah menjauhkan diri tujuh atau delapan tombak.
Dengan cepat ia menyembunyikan diri didalam rumpun rumput.
„Aku merasa aneh,” kata wie-su yang satu pada kawannya.
“Aku seperti mendengar suara timpukan batu yang biasa
digunakan oleh orang yang suka keluar malam. Aku kan
menjaga di depan sini, pergi kau meronda ke belakang kita
mesti jaga supaya tak ada orang yang nyelundup naik ke mari.”
Kedua wie-su biasa saja kepandaian silatnya tetapi mereka
rupanya berpengalaman. Maka ketika mendengar kata-kata
mereka itu, Kui Ciang mengeluh dalam hatinya : “Ini sulit . …”
ia tidak berani sembarang keluar dari tempatnya bersembunyi
Syukur sekali, mereka itu tidak mencari ke arah rumput
tebal. Lega juga hati Kui Ciang. Meka ia berpikir, selagi orang
membalik tubuh, ingin ia maju lebih jauh. Tengah ia mau
melompat, mendadak ia mendengar suara batu jatuh di sisinya,
menyusul mana ia melihat sesosok tubuh berlompat sampti di
depannya. Orang itu bergerak sangat cepat bagai bayangan.
Kui Ciang lompat, tangannya diluncurkan, untuk menyerang.
Orang itu berkelit, dia berkata perlahan sekali : „Apakah Toan
Tayhiap ? lekas kembali, atau akan ada bahaya jiwa !”
Tak suka Kui Ciang menurut nasihat itu. Meski demikian, ia
toh lompat juga ke belakang sebuah pohon besar, karena si
wie-su telah kembali.
“Siapa ?” tanya wie.su itu bengis. Akan tetapi : “Oh, kiranya
Liap Ciangkun ! Aku kira ada si tukang jalan malam yang
menimpukan batunya”
Orang yang dipanggil Liap Ciangkun tertawa. “Malam ini ada
datang utusan Seri Baginda, aku perlu melakukan perondaan
istimewa.” ia menjawab. „Aku mau coba. kamu waspada atau

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak. Nah, lihat di sana, itulah si tukang keluar malam yang


kamu curigai!’
Sambil berkata, Ciang kun, atau jenderal, ini mengayun
sebelah tangannya, meluncurkan sebatang panah tangan, atas
mana seekor burung besar, yang biru terbang keluar dari
antara pepohonan, lantas menjerit dan jatuh ke tanah.
„Itulah Kokobeluk!” kota Liap Ciangkun, tertawa. “Rupanya
dia mengambil sarang burung lainnya lalu dia bikin jatuh hingga
kamu mendengar seperti suara batu Tapi benar, suara yang
belakangan ialah suara batu tulen yang dilemparkan olehku,
guna mencoba kamu bertelinga jeli dan getap atau tidaK, kamu
setia terhadap tugas kamu atau tidak. Bagus kamu bagus !”
Kedua wiesu itu tertawa senang mereda dengan pujian itu.
Maka mereka pun kata :
“Kami harap sudi apakah kiranya Liap Ciangkun nanti bicara
baik tentang kami di depannya Sie Cie hui !”‘
Teranglah kedua wiesu ini orang sebawahannya Sie Siong,
sedang ini Liap Ciangkun berada di atasan mereka tapi masih di
bawahan Ciangkun she Sie itu, pasti dia orang kepercayaan Sie
Siong
Kui Ciang heran Ia tidak kenal Liap Ciangkun itu. Siapakah
dia ? Kenapa dia mau membantuinya ? bukankah orang
bermaksud baik menasihati ia untuk lekas mengundurkan diri ?
Toh orang itu orangnya An Lok San ! Pusing ia memikirkannya.
Ketika itu kedua wiesu bergama Ciangkun itu sudah meronda
ke mulut jalanan. „Biarnya ini istananya Giam Lo Ong, malam
ini aku toh mesti memasukinya ! ‘ kata Kui Ciang dalam hati.
Keras niatnya menolong Si It Jie, hingga ia menjadi nekad. Dan
tanpa menghiraukan nasihat Liap Ciangkun tadi, ia maju kearah
gedung itu sekalian.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Di depan gedung ada penjagaan tapi Kui Ciang tidak


raemperdulikannya. Dengan berhati hati juga dengan
kegesirannya, ia melewatinya. Ia selalu main sembunyi. Ia
sampai di pintu belakang. Di sini ada dua wiesu yang menjaga.
Penjagaan di sini tak serapat di sebeiah depan. Inilah rupanya
orang pikir tak usah berkuatir ada orang datang dan turun dari
atas gunung
Bersembunyi di belakang sebuah batu besar, Kui Ciaus
memasang kuping. Kedua wiesu itu lagi pasang omong hal An
Lok San menghadap Yo Kui hui di dalam keraton. Yang satunya
bicara sambil tertawa.
“Aku tidak percaya,” kata yang lain tertawa juga. „Benarkah
terjadi demikian ? menurut kau maka Raja tentulah menjadi si
kura kura !”
„Kau tidak percaya ?” kata yang pertama yang termokmok.
“Tahukah kau bahwa utusan Sri Baginda masih ada di dalam
sini tengah berbicara ? Dia datang mewakili ‘Raja dan Kui hui
mengantarkan apa yang dinamakan uang cuci arak. Ciat touw
su kita hari ini bukan cuma nyalinya besar tapi diapun
beruntung dapat banyak uang karun.
Kawannya itu gembira. Dia tertawa ,Lo Gui !” kata dia,
„Benar-benarkah Ciat-touwsu kita dimandikan oleh Kui hui coba
kau jelaskan ! Maukah kau ?”
„Ketika Ciattouwsu kita masuk dalam keraton,” menutur si
gemuk, Kui-hui Nio-nio lagi mandi air rendam kunga di ruang
belakang, begitu dikabarkan tibanya Ciattouwsu kita, dia lantas
keluar menyambut, tanpa nyisir atau dandan lagi. dia cuma
mengerebongi diri dengan sutera tipis …”
„Dengan begitu, apakah dia tidak jadi kedinginan?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Dasar orang desa tolol!” kata si gemuk tertawa , Di dalam


keraton di empat penjuru tembok ada perapiannya, di dalam
pedupaan pun ada dipasang hio wangi, maka itu tak perduli di
luar salju turun hebat, di dalam keraton bahwa terus hangat
seperti dimusim semi !”
“Ah!” mengeluh si kurus menarik napas, „entah sampai
kapan aku mendapat giliran mengikut Tayswee masuk ke
Keraton. Supaya aku mempunyai ketika membuka mataku lebar
lebar. Jikalau bisa begitu tak kecewa hidupku ini … . Loo Gui,
Nio nio ke luar dengan berkerobong tipis, apakah Seri Baginda
tidak menegur dia kurang hormat?”
Wiesu she Gui itu tertawa, “Seri Baginda sangat menyintai
Kui hui, mana dia mau menegur laginya di dalam istana, ciat
touwsu kitalah yang paling dipercayakan. Dia hanya tidak
menyangka orang yang dia paling percaya itu justeru telah
main gila dengan-orang yang dia paling cinta !”
Si kurus heran. „Aku tidak tahu tayswee memiliki kepandaian
apa maka ia dapat menempel kui-hui berbareng dipercayakan
Seri Baginda …” katanya.
Si orang she Gui tertawa pula. „Kaulah orang baru, mana
kau tahu ! dilahir tay-swee tampak kasar, sebenarnya dia cerdik
sekali. Pernah suatu hari Seri Baginda panggil tayswee madap
di istana Ciauw Keng Kiong untuk pasang omong. Baginda lihat
tayswee gemuk sekali, sambil menunjuk perutnya yang besar,
sembari memain ia tanya : „Perut anak ini besar seperti guci
entah barang apa disimpan di dalam situ ? Atas perkataan itu.
tayswee memberi hormat dan menyahuti : „Tidak apa-apa
hanya hati yang merah ! Hamba ingin dengan hati merah ini
mengerjakan segala apa untuk Seri Baginda ! “Seri Baginda
girang, ia puji menteri itu setia. Demikian dia jadi dipercaya.”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si kurus tertawa. , Ah, kita jadi melantur!” katanya.


„Sekarang kau ceritalah tentang Kui-hui Nio-nio.”
Si Gui tertawa, lantas dia membawa aksinya si tukang cerita.
„Habis mandi Nio nio mengenakan baju sutera tipis, dadanya
terpetah, tangan bajunya tergulung. Melihat itu Seri Baginda
memuji dan bersenandung syair pujian : „Lembut bagaikan
daging kepala ayam ! Atas itu tayswee menimpali : “Berlemak
seperti susu.”
Si wiesu kurus tertawa terpingkal-pingkal air matanya keluar,
tangannya memegangi perutnya.
“Jenaka tayswee kita!” katanya “Seri Ba ginda pun tertawa
geli sebagai kau.” Keduanya ketawa pula, Ketika Kui-hui Nio-nio
muncul, tayswe memberi hormat sambil memujikan panjang
umur kata Seri Baginda: Lok San kau keliru! buat menghormati
orang mesti memberi hormat pada ayah dulu! Seri Baginda
berkata sambil tertawa. Lantas tayswee menyahuti: Hamba
orang Ouw. Kebiasaan orang Ouw ialah menghormati ibu dulu,
baru ayah. Raja senang sekali dan mengatakan tayswee jujur
Kemudian tayswee bilang bahwa tiga hari yang lalu ialah ulang
tahunnya, Mendengar itu Nio-nio berkata Memelihara anak,
dihari ketiga anak itu harus dimandikan, kau mengakui aku ibu,
kau belum menjalankankan aturan, baiklah hari ini kau
dimandikan, benar benar pakaian tayswee dilolosi, ia
dikerobongi mirip bayi, lalu dinaiki keatas joli dan diarak
disekitar istana. Nio-nio dan Seri Baginda turut mengarak.
Orang semua tertawa gembira ”
Toan Kui Ctang menggeleng kepala. ”Benar-benar raja gila!”
kata dalam hati. „Kau tahu Lao, Tio masih ada yang lebih gila!”
kata si Cui pula. Habis itu Seri Baginda mengangkat tayswee
merangkap jabatan ciat touwsu wilayah Ho-tong dan tanpa
menanti sampai besok malam ini telah dikirim utusan
membawa hadiah barang permata, katanya wisit upacara
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

permandian itu. Sampai sekarang tayswee masih menemani


Utusan Seri-Baginda minum arak “
„Pantas malam ini penjagaan ditambah!” kata wiesu she Thio
itu, si kurus. “Tinggal kita mesti berdiam di sini minum angin
barat daya, sampai sebentar jam lima baru ganti giliran!”
„Kau jangan mendumal!” kata si Gin si gemuk. „Ini justeru
tugas bagus. Tayswee tambah pangkat dan mendapat hadiah,
mungkin besok dia akan memberi presen. Sekarang kita
menjaga disini besok kita akan dapt bagian Kita!’
Kui Ciang sebaliknya berpikir: “Inilah kebetulan! Baik aku
bekuk mereka lalu aku pakai mereka memaksa An Lok San
merdeka-kan Su It Jie…” lantas dia bekerja.
Kedua wiesu masih bicara tempo mendadak dada mereka
terhajar keras, tanpa bersuara, mereka roboh. Itulah sebab thie
liancie, biji teratai besi Kui Ciang mengenai telak jalan
darahnya, soan-kie hiat. Tetus Kui Ciang lompat kesisi mereka
itu dengan tangannya ia menggempur hancur sebuah batu
keras, sembari berbuat begitu, dia kata bengis ‘Jikalau kau
menyayangi jiwa kamu dengar perkataanku”
Kedua wiesu ketakutan. ‘Baik, baik,….” kata mereka.
”Buka bajumu, mari aku pinjam!” kata Kui Ciang.
Wiesu, yang rubuhnya rada berimbang, menyerahkan
pakaiannya. Habis itu Kui Ciang menotok pingsan oraag itu,
yang tubuhnya ia lemparkan ke rumput tebai.
Sigemuk ketakutan, dia menjublak. “An Lok San bersama
utusan raja ada dimana?” tanya Kui Ciang. ‘Mari antar aku.!”
Wiesu itu bergemetaran, tak dapat ia bicara. ‘”Apakah kau,
cuma takut pada An Lok San tidak pada aku? lihat batu itu,
contohnya! Apakah kau lebih kuat dari pada batu itu?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si gemuk ketakutan, terpaksa ia mengikuti, Kui Ciang tempel


jalan darah jie-khie di-pinggang orang, ia jalan berbareng
sambil memesan: “kalau ada yang tanya, bilang saja kau lagi
tukar giliran”
„Kalau rahasia kita ketahuan?”
”Nanti aku yang melayani, kau jangan takut.’ Wiesu itu mati
akal.
Dari pintu belakang mereka memasuki taman. Kui Ciang
bikin kopiahnya melesak, hingga hampir separoh mukanya
tertutup, Mereka pun sebisanya jalan ditempai sepi. kalau toh
ada beberada wiesu lainnya yang melihat, mereka itu tidak
curiga. Habis melewati gunung gunungan, didepan terlihat
sebuah gedung yang apinya terang.
“Itu dia tempatnya tayswee dan utusan Seri Baginda,” kata
siGui “Aku toh tak perlu menemani lebih jauh?…”
Baru Kui CiangTmau menjawab, didepan mereka berkelebat
satu bayangan, yang lantas menegur: “Gui Loo Sam?
“Ya, aku hendak menukar giliran!” si gemuk menjawab. Kui
Ciang menyiapkan dua biji teratai besi Ia merasa mengenali
suara orang itu, yang berkata dingin: “An Lok San lagi
menemani utusan dari Seri Baginda minum arak, siapapun
dilarang datang dekat! kalau kau giliran tukar, kau mesti pergi,
kenapa kau keluyuran disini? kalau kau ganggu tayjn, awas
batok kepalamu“
Sigemuk menyahuti “Ya” beberapa kali” atas mana orang itu
pergi kejalan lainnya. Kui Ciang mengenali orang ialah si Liap
Ciang-kun. Ia merasa suara barusan ditujukan kepadanya,
supaya ia jangan sembrono hanya pergi mengundurkan diri. Ia
heran.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Siapa orang itu?” ia tanya si Gui. ”Dialah Liap Hong Ciang


Kun, huciang pasukan pengawal pribadi tayswee.”
Kui Ciang lantas ingat ahli pedang tua Liap Peng ditok cu.
Hoan-yang, nama anak-nya dia itu rasanya Liap Hong. Pikirnya:
“Kiranya dia, tapi aku belum mengenalnya, kenapa dia selalu
menolongi aku? Aneh! Dia benar bukan hiap-kek dan namanya
tak ber-cacad, kenapa dia jadi punggawa kepercayaannya An
Lok San?”
Si gemuk kata ketakutan, dahinya keringatan: ‘Syukur kita
ketemu Liap Ciangkun. Dia memang baik hati. kalau umpama
kata kita bertemu Gui Ciangkun, pasti kita celaka… Tapi. tolong
lepaskan aku, aku ingin beristirahat.”
„Baik, kau bo’eh beristirahat!” kata Kui Ciang, yang
mendadak menotok urat gagu o-rang. supaya orang tak dapat
berkutik. Ie menyeretnya kedalam guha seraya kata, “Gui Loo
Sam, maaf! kau tahan sabar dua jam, nanti kau bebas sendiri.”
Kui Ciang tinggalkan wiesu itu, ia lompat naik keatas pohon,
untuk mengitari kedalam gedung.
An Lok San duduk beradu diatas pemba-lirgan bersama
seorang opsir yang bertubuh kekar. Empat opsir menanti di
kedua pinggiran, di utaranya ada Sie Siong. Kata ia dalam
hatinya: “Dia ini mestinya utusan raja. Kenapa dia bukannya
orang kebiri? ‘
Adalah aturan di istana, utusan istana terdiri dari orang kebiri
atau thaykam. Ia heran tapi tak bercuriga keras.
“An Tayjin, kebetulan kau datang hari ini, “ terdengar utusan
raja itu. “Sebenarnya hari ini Kui-hui Nio nio lagi bergusar.
Syukur kau dapat menghiburnya.”
„Kenapa Nio-nio gusar? “

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Tak lain tak bukan disebabkan syairnya Lie Haksu.


“Bagaimama itu?”
Mendengar disebutnya Lie Hek, Kui Ciang memasang telinga.
“Sebelum tayjin datang, Seri Baginda dan Nio nio minum arak
di paseban Tim Hiang Teng menikmati keindahan bunga
buwtan, “menerangkan si utusan raja. Sri Baginda gembira
sekali dia perintah memanggil Lie Haksu. Haksu itu lagi sinting
di rumah makan, dengan susah payah Lie Ku Liang datang
memanggil “ . “
„Apakah Nio-nio menganggap dia kurang ajar? ‘Bukan.
Sudah biasa Lie Pek berlaku berkepala besar. Baginda pernah
menyusuti dengan jubah sendiri ilarnya haksu itu serta
menyuruh Nio nio mencekoki godokan untuk menghilangkan
mabuk araknya.”
An Lok San menggelengkan kepala. “Dia terlalu dikasi hati! “
katanya. “Setelah Lie Hak su sadar dia disuruh menulis syair.
Dia menulis tiga ruas. Menarik syairnya itu. Maukah tayjin aku
bacakan?”
„Aku orang kasar, tak mengerti aku”.
“Syair itu pujian untuk Nio nio, sederhana bunyinya, tapi Nio-
nio gusar.”
“Heran. Nio nio dipuji tapi dia gusar. Kanapa? Aku jadi ingin
mendengarnya. “ Utusan itu membacakan syair itu.
„Raja senang mendengarnya, ia suruh Lie Ku Lian membikin
lagunya serta sekalian mainkan itu, untuk dinyanyikan beramai-
ramai. Memang itu sedap didengar.”
„Memang bagus bunyinya syair itu,” kata Lok San tertawa.
„Kalau begitu tayjin seorang ahli !”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Girang Lok San dipuji Ia lantas tanya syair yang kedua dan
ketiga. “Habis syair yang pertama itu yang Baginda puji.
Baginda minta dua lagi Lie Haksu minta presen arak dulu.
Baginda berkata dia toh baru sinting. Dia tidak mau mengerti,
katanya makin sinting makin dia dapat bersyair. Baginda ter-
tawa. Pantas kau dinamakan Dewa Arak! katanya. Lantas
Baginda menyuruh ambil anggur dari See-liang berikut cawan
emasnya. Bak-hie juga dipakai bak-hie yang biasa di pakai Sri
Baginda dan Nio-nio disuruh memeganginya …”
”Hm, dia dipuja seperti Thian !” kata Lok San. „Habis
menenggak kering araknya, Lie Haksu lantas menulis pula. Juga
kedua syair ini disukai baginda, yang kembali menitahkan
dibikinkan lagunya, untuk dibunyikan dan dinyanyikan seperti
yang pertama. Saking gembira Baginda sendiri turut meniup
seruling dan Nio nio disuruh menabuh piepee. Setelah puas. Lie
Ku Lian diperintah mengantarkan Lie Haksu pulang ke gedung
Han Lim Ie,”
Lok San heran. “Baginda senang, kenapa Nio nio gusar ?” dia
tanya.
”Sebenarnya Nio-mo juga girang, ketika ia kembali
kekamarnya ia masih menyanyikan syair itu. Lantas Kho Lek Su
mengatakan dia heran Nio-nio bergembira, sedang sebenarnya
sebaliknya mestinya. Nio nio tidak mengerti dan tanya apa
sebabnya. Kho Lek Su berkata, dengan syair itu Nio nio
disamakan dengan Tio Hui Yan. Mendengar itu Nio-nio menjadi
gusar, ia menjadi benci Lie Haksu.”
„Siapa itu Tio Hui Yan ?” tanya Lok San.
„Tio Hui Yan ialah permaisuri yang cantik dari Kaisar Seng
Tee dari Ahala Han.”
“Toh Nio nio tidak direndahkan dibandingkan dengan Tio Hui
Yan ?”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Tayjin tidak tahu. Tio Hui Yan bertubuh langsing ia


disayangi umpama kata ia ditiup angin. Pernah Baginda berkata
main-main pada Nio nio „Kalau kau, biarlah kau ditiup
terlebih sering…. ketika Nio-nio bersaing dengan Bwee Hui.
Bwee Hui pun mengatakan dia budak gemuk. Maka itu Nio-nio
menjadi gusar.”
Lok San tertawa. “Oh, begitu katanya “Menurut aku, wanita
gemuk terlebih bagus!” Utusan Raja bersenyum ada artinya
senyumnya itu.
„Bagaimana ?” tanya Lok San. tak mengerti. ”Apakah aku
tidak benar ?” Utusan itu berkata perlahan.
Lantas tuan rumah menggeprak meja. mukanya merah
padam. „Sungguh Lie Pek jahat!” katanya. „Pantas Nio-nio
gusar!”
Tio Hui Yan telah main gila dengan hamba keraton nama
Yan Cek Hong, dia di kenal sebagai ratu cabul dalam jaman
Ahala Han. Kho Lek Su menghasut bahwa Lie Pek
membandingkan Yo Kui hui dengan ratu cabul itu. Tentu sekali
kui-hui menjadi gusar dan sangat membenci haksu itu,
karenanya pantas Lok San bergusar juga.
Si utusan tertawa. „Jangan gusar. An Tayjin,” katanya. „Lie
Pek membuat Nio nio gusar mana dia dapat bertahan lama di
dalam istana ? Dia boleh disayang Seri Baginda tetapi tak nanti
dia dapat melawan Nio-nio! Kho Lek Su pun liehay ! Maka sakit
hati apa juga bakal terlampiaskan!”
“Apakah Kho Lek Su bermusuh dengan Lie Pek?”
„Apakah tayjin masih belum tahu ? Tahun dulu negara Put
Hay mengirim utusan membawa suratnya dalam bahasa
asing Di dalam istana tidak ada menteri yang mengerti
bahasa itu, kemudian Hoo Tie Ciang memujikan Lie Pek. Dia ini

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengerti bahasa itu. dia membacanya dan menulis juga surat


balasannya dalam bahasa asing itu. Khan negara itu ditegur
untuk sikapnya yang tidak hormat. Dengan begitu Kerajaan
Tong terlinding, ketika itu Lie Pek lagi mabuk, selagi mau
menulis suratnya itu, ia menghendaki Yo Kok Tiong menggosok
oak dan Kho Lek Su membukai kaos kakinya. Demikian Kho
Lek Su telah lama mencari kesalahannya.
“Baiklah kalau begitu,” kata An Lok San. „Besok akan
aku kirim bingkisan untuk Kho Kong kong.” Tiba-tiba ia
menoleh kepa da Sie Siong, menanya ’”Kabarnya kamu
membuat huru hara di rumah makan. Bagaimana romannya
orang she Lam itu?”
Sie Siong memberikan keterangan sambil mematahkan Lok
San mendengari, ia ber pikir, ia berdiam saja. Siutusan
seoaliknya, menanya jelas tentang ilmu silat orang.
Kui Ciang memasang telinga, ia heran utusan ini seorang ahli
silat, Lok San mendengari sekian lama mendadak ia menepuk
tangan.
„Aku tak percaya dia demikian bernyali besar!” dia berseru.
Belum berhenti seruan nya itu, atau dua biji, senjata rahasia
menyamber kedalam. disusul dengan lompat masuknya sesosok
tubuh manusia.
Semua orang terperanjat. Kui Ciang tidak dapat menahan
sabar lagi. ia menyerang dengan teratai besinya. Ia menyerang
saling menyusul kepada An Lok San dan si utusan. Ia mengarah
jalan darah mereka, supaya mere ka roboh tak berdaya, la
sudah pikir habis merobohkan mereka iiu. ia mau tolongi Suit
Jie dengan jalan menggunai mereka atau salah satunya
menjadi manusia tanggungan Ia lihay dalam hal menggunai
senjata rahasia ia percaya umpama An Lok San lolos, si utusan
pasti tidak. Tapi dugaannya meleset, Utusan itu lihay sekali.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Teratai besi kecil seperti biji kacang, di timpuki Kui Ciang


melesatnya pesat bukan kepalang tetapi si utusan berseru:
“Baik!” sambil tangannya mengangkat sumpinya, menjepit
teratai besi yang pertama dan ketika yang kedua tiba, ia
menyampok dengan sumpitnya itu hingga kedua biji teratai ber
adu keris, dua batang sumpitnya itu patah, ditengahnya,
menjadi empat-potong.
„Oh” berseru si utusan heran. lantas dia tertawa bergelak
seraya berkata „Benar-benar ahli pedang, dari Yu-ciu kesohor
bukan namanya saja! malam ini dapat aku mementang lebar
mataku!”
Teranglah dengan kata-katanya itu, ia sudah lantas
mengenali penyerangnya, Dia memang bulan lain orang dari
pada satu di antara Tay-lwee Sam Toa Kho-ciu, tiga orang
tergagah di dalam istana, ialah U-bun Thong. Bersama-sama
Cin Siang dan Ut tie Pak, dia menjabat Liong Kie Touw ut, akan
tetapi dia merasa kurang disayangi Raja. Dia cuma merasa
sendirinya, bukan dia d bedakan. Sebabnya yaitu Cin Siang dan
Ut-tie Pak turunan menteri panglima pendiri Kerajaan Tong, dia
serd.ri dari keluarga biasa. Dia berang gapan Raja lebih akrab
dengan dengan kedua rekannya itu. Sebenarnya Raja tidak
membedakan mereka. Apa yang beda yaitu, Cin Siang dan Ut-
Ue Pak tidak membaiki segala dorna, U-bun Thong sendiri di
dalam menempel Yo Kui-hui, di luar merapati An Lok San. Ia
berbuat begitu dengan niat memperkokoh kedudukannya.
Demikian kali ini, mengantar wisit mandi itu, U-bun Thong
ditolong oleh Yo Kui-hui, yang memohon Raja mengutusnya. Ia
seorang liehar, ia tidak kenal Tean Kui Ciang tetapi ia tahu Kui
Ciang bermusuh atau lebih benar dimusuhkan An Lok San.
Dengan me-nyambuti teratai bes;, dan itu dicampur dengan
kcierangan tentang ilmu pedang orang, ia lantas menyangka
Kui Ciang Tepat terkaannya itu
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu Sie Siong bersama dua wie su lainnya sudah


memegat Kui Ciang Mereka bertempur di ruang dalam.
Karena kedudukannya sebagai kim-cee, utusan Raja, U bun
Thong tidak mau lantas turun tangan.
An Lok San kaget karena serangan gelap itu, lebih-lebih
mengetahui penyerangnya itu ialah Kui Ciang, musuh yang ia
lagi cari. Ia kagum karena U-bun Thong dapat menghalau
kedua biji teratai besi. Dengan lantas hatinya menjadi tetap,
hingga ia dapat berpikir: „Biarpun kau gagah. Kui Ciang, kau
datang seorang diri kemari, tidak nanti kau sanggup melayani
orang-crang sebawahanku ! Di sini pun ada U-bim Touw-ut!
Maka ia berbangkit dari kursinya, sembari tertawa ia kata :
„Aku kira siapa tak tahunya kau, sahabat baik ! bicaralah
secara baik ! Buat apa kau menggunai senjata! Benarkah kau
tidak ingat lagi persahabatan kita dan ingin sekali ambil
jiwaku?’
Kui Ciang mendesak mengurdurkan Sie Siong. ia pun
menangkis dua musuh lainnya, habis itu ia menjasi dengar
suaraoya yang nyaring : ,An Lok San, kaukah si hina yang
memperoleh angin baik ! kau hendak mencari balas, buat apa
ku menggunai caramu yang rendah ? kau dipat mencari aku,
kenapa kau membikin celaka sahabatku ?”
An Lok San tertawa. “Itulah salah mengerti !” sahutnya.
“Tapi walaupun kesalahan, kesalahan ada kebaikannya ! Jikalau
aku tidak keliru menangkap sahabatmu itu, mana dapat aku
mengundang kau tuan yang terhormat, datang kemari?, Baiklah
kau ketahui, tiada maksudku membikin susah sahabat.nu itu.
Kebetulan sekali sekarang kau telah datang, ingin aku meminta
kau suka bekerja pada aku disini.”
Kui Ciang bersenyum ewah. „Hm! Bekerja untukmu !
katanya, dingin. An Lok San tertawa lebar.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Aku merangkap jabatan Ciattouwsu untuk Peng louw, Hoau-


yang dan Hoo tong !” katanya nyaring „Jikalau kau bekerja
untukku, apakah itu menghina martabatku ?”
Berulangkali Kui Ciang mengasi dengar ‘Hm” yang nyaring.
Lantas dia berkata tak kalah nyaringnya : “Di mataku kaulah
dahulu buaya darat sekarang buaya darat juga! Bedanya ialah
sekarang kau berbuat kejahatan lebih banyak dan lebih besar !
Dulu kau cuma mencelakai rakyat jelata, rakyat baik-baik,
sekarang kau mencelakai rakyat berbareng tentara juga !
Hahaha ! Apakah kau sangka setelah kau menjadi ciat-touwsu
lantas aku memandang tinggi kepadamu? Hm !”
An Lok San sudah memikir memainkan sandiwara kucing
menangkap tikus. Ia percaya tak nanti Toan Kui Ciang dapat
lolos lagi Maka ingin ia lebih dulu mengejek dan menghinanya,
guna melampiaskan kemendong-kolannya, maka sungguh di
luar dugaan sekarang ia justeru didamprat habis habisan oleh
musuhnya ini ! Bahkan ia dihina di muka umum, di beber
rahasianya dibadapan tetamu dan orang orang sebawahannya !
Bukan main gusarnya ia. Tak dapat ia tertawa pula. Ia lantas
mengasi lihat romannya yang bengis.
„Manusia tak tahu diri !” ia membentak. “Hayo, kamu semua
hajar dia sampai mampus” Toan Kui Ciang tidak takut. Dia
tertawa berkakak.
„Aku telah berani datang ke tempatmu ini, itu tandanya aku
sudah tidak memikir untuk berlalu pula dengan masih hidup!”
dia kata, keras. ”Hanya untuk kau membinasakan aku, rasanya
itu taklah terlalu mudah! Haha!”
Sambil berkata begitu, Kui Ciang tidak berdiam saja. Orang
sudah maju untuk menyerang padanya. Ia memasang mata
tajam, kakinya bergerak, tangannya bergerak juga.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Aduh !” demikian satu jeritan. Maka seorang busu telah


tertancap dadanya dengan pedang hingga darahnya
mengucur keluar, hingga terpaksa dia mesti mengundurkan diri.
„Kantong nasi ! kantong nasi !” An Lok San mencaci berulang
ulang. „Lekas panggil beberapa orang yang berarti !”
Sie Siong maju meskipun ia jeri. Ia kenal baik liehaynya si
orang she Toan. Ia malu mendengar dampratan pembesarnya
itu.
„Bagus !” berseru Kui Ciang menyambut pecundangnya itu.
Ia lantas bersilat dengan sebat. Sie Siong kaget hingga ia
terpaksa mundur. Toh ia masih terlambat. Tahu-tahu
pundaknya terasa dingin dan sakit, pundak itu mengeluarkan
darah. Ujung pedang musuh membuat goresan pada
pundaknya itu !
Syukur untuknya, selagi dia diserang itu, Kui Ciang pun
diserang oleh seorang wiesu yang bersenjatakan sepasang
gaetan. Wiesu itu bukan sembarang wiesu. Untuk menolong diri
Kui Ciang menarik pulang pedangnya sambil ia berkelit, kalau
tidak pastilah dia bakal patas tulang pipeenya. Dengan tak
perduli bakal di damprat, dia terus berkelit, uutuk mundur.
Toan Kui Ciang benci sekali sama pecundangnya ini. Dialah
yang secara bengis sudah menangkap Su It Jie. Maka ia tidak
sudi melepaskannya Habis membebaskan diri dari *aetan
sambil berseru, ia berlompat maju, guna menyusul orang she
Sie ini. Di depannya menghalang seoranj wiem ia men dupak
dengan kaki kanannya. Wiesu yang bergegaman gaetan pun
menghadang pula tapi dia dipaksa mundur setelah gae;annya
dibik.n terpental. Setelah itu meluncurlan pedang yang tajam
ke punggungnya si pecundang!
Tepat di waKtu yang berbahaya untuk Sie Siong itu Kui Ciang
dibikin terkejut oleh suara angin di sebelah belakangnya. Ia
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menduga kepada serangan membokong. Batal ia menikam Sie


Siong, terpaksa ia memutar tubuh sambil menyampok
kebelakang.
„Aku tidak menyangka An Lak San mempunyai orang
seliehay ini, “pikirnya. Sebagai juga punggungnya ada matanya,
pedang menyambar kelengan orang, sedang tubuhnya
mendadak untuk berkelit.
Kedua senjata mereka lantas beradu keras. Si penyerang
mundur tiga tindak, orang yang diserang berguncang tubuhnya.
Senjata mereka itu memperlihakan api meletik.
„Ilmu golok yang bagus! Ilmu pedang yang liehay! Ya, dua
duanya liehay “Itulah pujiannya U bun Thong
Kui Ciang sudah lantas melihat penyerangnya, ia menjadi
tercengang saking heran Orang itu ialah Liap Hong, yang
berulang kali sudah menolongi ia secara diam diam yang
mengisiki secara samar untuk ia menyingkirkan diri.
Wiesu yang bersenjata gaetan bernama Thio Tiong Cie dia
kosen seimbang denpan Sie Siong. Dialah salah seorang yang-
diandalkan An Lok San. Melihat musuh menju-blak, dia lantas
maju menyerang pula. Hebat dia menggunai sepasang
gaetannya, yang me nyamber ke bawah
Kui Ciang kaget. Itulah serangan di luar sangkaan. Ia lantas
berkelit, tetapi tidak untung, ujung celananya kena tersamber
juga hingga robek!
Liap Hong pun maju pula sambil berseru nyaring: ‘Sorga ada
jalannya kau tidak pergi kau memasuki neraka yang tiada
pintunya! saat kematiaumu sudah tiba, masih kau berani,
mengganas!”‘
Hebat kata-kata itu tetapi Kui Ciang menerimanya sebagai
nasihat untuk ia mengangkat kaki, maka ia heran dan kata
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dalam hatinya: “Dia Hu Ciang pribadi dari An Lok San pantas


kalau dia bekerja sungguh-sungguh untuk majikannya, tetapi
heran dia seperti menyayangi aku. Kenapakah?”
Liap Hong maju. Ia berkelahi sungguh-sungguh sekarang ia
mendapat kenyataan Kui Ciang jauh terlebih liehay dari
padanya, ia menyerang tanpa ragu-ragu.
Kui Ciang tidak ingin mencelakai orang yang baik hati itu, ia
melayani dengan keias. tetapi tanpa menfgunai tipu silatnya
yang’ dapat merobohkan orang. Karena ini. dikepung berdua, ia
menjadi kalah angin. Ia terdesak.
U Bun Thong menyaksikan pertempuran itu
Ia kata didalam hatinya: “Toan Kui Ciang memiliki ilmu
pedang yang sempurna ia dapat tergolong orang kelas satu,
akan tetapi ia belumlah pantas dan sesuai seperti yang dunia
Rimba Persilatan memujinya!”
Ketika itu Tan Sin Su datang bersama beberapa kawannya.
Mereka melibat Kui Ciang terdesak, lantas mereka maju. Sia Su
dengan bernapsu. Ia ingin membalas sakit hati untuk peristiwa
dirumah makan, karena ia ta hu pedang Kui Ciang pedang
mustika, sengaja ia membawa golok yang berat tiga puluh tiga
kati, yang tebal sekali ia percaya pedang musuh tak bakal
dapat memapas kutung gokol-nya itu, Ini pula yang membikin
ia berani merangsak.
Repot Kui Ciang dikepung oleh enam wiesu pilihan. Ia
menangkis kekiri dan kanan ia menyerang selekasnya ada
kesempatan. Satu kali pedangnya bentrok ji ga dengan golok
Sin Su. Ia dapat menyampingkan pedangnya itu yang kena
dibikin mental. Justeru itu. ga-etannya Thio Tiong Cie masuk,
kali ini tangan bajunya yang kena dirobek. Syukur ia dapat
meneruskan mengelir, tangannya. Meski begitu lengannya
tergores jaga, kulitnya mengeluarkan darah.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liap Hong miju selagi orang terlukakan itu. Dia menyerang


dengan tikaman “Ular putih menyemburkan bisa.” Goloknya
meluncur ke tenggorokkan lawan.
Kui Ctng melihat bahaya mengancam, ia memutar tubuhnya.
Itulah tipu silat “Membungkuk menanam yangliu”. Sambil
berputar ia membalas menyerang.
Mendadak terdengar jeritan “Aduh! ‘ itu-lah jeritannya Liap
Hong, yang kena perutnya terlukakan Dia masih mencoba
berlompat mundur, habis itu dia toh roboh. Hingga dengan
begitu pengurungan menjadi mengasi lihat satu lowongan.
Bukannya tak disengaja Lip Hong terluka dan roboh. Sampai
disaat itu ia masih hendak menolongi Kui Ciang, guna
membukai jalan lolos, lain orang tidak ketahui pertolongannya
itu tetapi Kui Ciang menginsafinya.
Maka Kui Ciang melengak sedetik dan berkata di dalam
hrtinya : “Jikalau aku tidak terbinasa, di belakang hari mesti
aku balas budinya orang ini. Hanya sekarang, mana dapat aku
menerima budi kebaikanmu! Tanpa dapat menolongi Su Toako,
mana ada muka aku menyingkir seorang diri ?”
Kui Ciang menggunai ketikannya itu. la keluar dari kurungan
Tetapi ia tidak lari menyingkir, ia justeru memburu kearah An
Lok San !
Tian Sin Su dan yang lainnya menjgdi kaget, lekas-lekas
mereka menyusul guna merintangi. Selagi mereka repot dan bi
gung tiba-tiba terdengar suara nyaring dari U-bun Thong-
Jago istana itu tertawa terbahak, dia kata. : „Setelah
menyaksikan ilmu pedang Tuan Toan yang demikian indah, aku
menjadi rada gatal! tuan-tuan, tolong kamu menunda seoentar,
biarlah aku mempertontonkan kejelekanku ! Ya, kejelekanku !”
Suaranya itu segera dibaiengi dengan lompat majunya, kedua

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangannya terlihat kosong, jubahnya berkibar kibar, maka


sekejab saja ia sudah tiba di hadapan Toan Kui Ciang.
Menampak majunya jago istana itu, Tian Sin Su semua
bernapas lega. Mereka tahu kejumawaannya jago itu, tanpa
periniah lagi, mereka peda mengundurkan diri. Hingga disitu
terbuka suatu gelanggang.
Toan Kui Ciang mengawasi orang bicara demikian macam,
sedang sikap dedak orang pun garang. Katanya di dalam hati :
”Kiranya ini utusan Raja seorang gagah ! . . . .”
Berdiri di depan Kui Ciang. U bun Thong memperlihatkan
siap terkebur. “Tuan Toan ahli pedang yang terbesar, bukankah
tadi kau bermaksud menangkap aku ?” dia tanya “Sekarang aku
sudah herdiri di depanmu, mengapa kau masih tidak mau turun
tangan ?”
Kui Ciang berlaku tenang. “Kau hendak mengadu kepandaian
secara orang Bu-Iim, tidak mau aku menang sendiri, ia
menyahut sabar. ,Kau keluarkanlah senjatamu!”
U-bun Thcng tertawa lebar. „Benar-benar kau ahli pedang
kenamaan. Tuan Toan” ia berkata. „Tak kecewa kau! Tapi tak
usahlah kau berkuatir untuk diriku walaupun kau memiliki
pedang mustika, tidak nanti kau mudah saja melukai aku U-bun
Thong!”
Mendengar orang memperkenalkan diri itu barulah Toan Kui
Ciang mendapat tahu utusan raja ini sebenarnya salah satu
Jago istana yang namanya tersohor berendeng dengan Ut-tie
Pak. Ia tidak takut, bahkan ia mendongkol. Belum pernah ia
menghadapi orang yang berani memandang tak matanya
secara begini. Ia kata dalam hatinya : „Apakah kau sangka
nama besarmu sebagai jago istana dapat menindih padaku ?
Aku sangsi kepandaianmu berkelahi dengan tangan kosong
dapat melebihkan keliehayannya Ut-tie Pak !”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dalam iimu silat tangan kolong melawan senjata, Ut-tie Pak


memang kesohor sebagi jago nomor satu. selama pertempuran
di rumah makan, Kui Ciang sudah menguji jago itu. ia menang
unggul, maka itu ia menganggap U-bun Thong terlalu jumawa.
„Benarkah ?” ia berkata menjawab jago istana yang jumawa
itu, “Kalau begitu, silahkan kau mulai memberikan
pengajaranmu!”
Meski kegusarannya meluap-luap, Ku Ciang masih dapat
menguasai diri uutuk tidak menyerang terlebih dulu. Lawan
bertangan kosong, ia hendak mengalah untuk memberi
kesempatan kepada lawan itu.
„Baik” jawab U-bun Thong dengan berseru. „Untuk berlaku
hormat tak ada jalan yang terlebih baik dari pada menerima
perintah ! Nah. kau berlaku hati-hatilah menyambutnya”.
Jago istana itu segera mulai dengan penyerangannya. Toan
Kui Ciang memasang mata. Ia melihat orang tidak menggunai
ilmu silat Kim-na-ciu atau Menangkap, juga bukannya ilmu silat
Lo Han Kun yang liehay hanya ilmu silat Utara Tiang Kun yang
umum. In menjadi heran.
Mungkinkah dengan ilmu silat umum ini dia dapat melayani
pedangku?” ia tanya di dalam hati. ,Ia disohorkan sebagai jago
istana aku tidak percaya dia benar benar demikian liehaynya . .
..“
Tengah Kui Diang berpikir itu kepalan yang besar dari lawan
sudah jaenyambar, ia menangkis tanpa bersangsa sedikit
juga.
„Trang!” Itulah satu suara bentrokan yang nyaring, yang
diiring dengan terpencarnya lelatu api akibat bentrokan itu,
Nyatalah U-bun Thong bukan besar omong tetapi juga ia licik
sekali.Didalam genggamannya dia telah menyiapkan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

senjatanya, ialah sepasang poankoan pit yang sangat pendek,


Sengaja dia tidak mau memberitahukan itu. Sengaja ia mau
membikin Kui Ciang menyangka dia bertangan kosong, supaya
Kui Kui Ciang menjadi mendongkol dan memandang
kepadanya. Dia sudah pikir, kalau orang gu sar dan menyerang
dengan sengit baru dia menyambut dengan senjatanya yang
istimewa itu. Demikian sudah terjadi Tentu sekali dia membuat
lawannya heran, Justeru itu. dia melakukan penyerangan lebih
jauh. Dengan Cara sangat cepat. Dengan tangan kiri diangkat.
dia menyerang dengan tangan kanannya, Dua-dua dengan
senjatanya itu, Dia menyerang selagi orang belum sempat
menarik pulang pedangnya, Dia sudah siap-sedia, dia da pat
melakukannya. Sasarannya ialah jalan jalan darah jia-khie
dibawahan tiga lawannya itu.
Sungguh cara berkelai yang licin sekali, Syukurlah Toan Kui
Ciang bernyali besar dan teliti sekali. Ia tidak tahu U-bun Thong
menyembunyikan senjata rahasia dalam tangannya akan tetapi
melihat dia menggunai Pak-pay Tiang Kun. ilmu silat „Tangan
panjang” dari pihak utara semacam ilmu silat yang umum
sekali, timbul kecurigaan maka itu ia tidak kena dicurigai
lawannya itu. Ia tidak saja tidak memandang tak mata
lawannya ini sebaliknya ia waspada luar biasa, hingga ia
ketahui dengan jurus yang pertama itu lawan itu belum
mengeluarkan kepandaiannya.
Demikian disaat seperti kilat berkelebat itu kedua pihak
sudah bergerak sangat sebat dan lincah. Poankoan Pit U bun
Tnong me-nyambar ke jalan darah Jie khie dan Toan Kui Ciang,
Tepat ketika ujung pit hampir mengenai baju lawan, sekonyong
konyong pedang Kui Ciang berkeredep. ujungnya menusuk ke
kaki penyerangnya itu. Kui Ciang berbuat demikian sambil ia
mendak. Itulah siasat memenolong diri dengan mengancam
kelemahan musuh.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

U-bun Thong terkejut. Dengan seoat ia berkelit. Dengan


begitu bebaslah dirinya. Dengan begitu selamat juga Toan Kui
Ciang. Dengan jago istana itu berkelit terpisahlah mereka
berdua.
Hanya sejenak kedua pihak sudah memperlihatkan
kepandaian mereka itu. Hampir kedua-duanya roboh sebagai
kurban senjata masing masing.
Baru sekarang U bun Thong menginsafi liehaynya Kui Ciang.
Rupanya tadi orang belum menggunai seluruh kepandaiannya,
Diam diam ia merasa jeri sendirinya.
Habis merenggang itu, kedua pihak lantas merapat pula. Kui
Ciang ii.gin melakukan pembalasan, ia memutar pedangnya,
untuk menaikan terus terusan sampai tiga kali, hingga
pedangnya itu bersinar tak hentinya, datangnya bagaikan dari
delapan penjuru angin.
Dengan begitu, tubuh U bun Thong nampak seperti dikurung
sinar pedang.
Menyaksikan itu, semua busu melongo, hati mereka gentar.
Sungguh henat si orang she Toan, sungguh bercahaya
keselamatannya U-bun Thong ….
Sebagai jago istana, U-bun Thong meng-gunai poan-koanpit,
alat mirip perabot tulis, yang luar biasa. Umumnya poankoanpit
berukuran dua kaki delapan dim, akan tetapi sepasang miliknya
ini cuma tujuh dim seluruhnya. Ukurannya senjata ini sesuai
dengan pepatah dalam ilmu silat yang berbunyi : „Satu dim
pendek, satu dim bahaya” Berbahaya untuk musuh, tetapi pun
berbahaya untuk diri sendiri apabila ada ketemui lawan yang
jauh terlebih liehay. U bun Thong ketahui itu, maka ia telah
membuat persiagaan.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Selagi Toan Kui Ciang mendesak itu dengan timbul


harapannya akan memperoleh kemenangan sekonyong-
konyong ia mendengar suara menjentrek pada senjata lawan-
nya. Untuk herannya ia mendapat kenyataan poankoanpit
musuh mendadak tambah panjang dengan tujuh dim. Itulah
persiagaannya U-bun Thong, yang gamannya genggaman ra-
hasia. Sebab koanpoanpit itu dilengkapi dengan pesawat
rahasia, hingga kapan dikehendaki, panjangnya dapat
diiambah dengan empat kali tujuh dim setiap kali memencet-
nya tujuh dim.
Itulah hebat. Tak perduli Toan Kui Ciang sangat liehay, ia toh
menjadi kurban senjata rahasia itu. Dengan terdengarnya suara
rnem-berebet, pecahlah ujung bajunya tersentuh ujung senjata
lawannya itu. Hebatnya ujung baju itulah ujung di depan perut.
Semua busu yang menonton, lantas bersorak. Hanya, belum
lagi berhenti sorak mereka itu tiba-tiba mereka dikejutkan
teriakan „Aduh!” tertahan dari mulutnya U bun Thong tubuh
siapa sudah lantas mencelat mundur Apabila orang melihatnya,
pundak jago istana itu mengucurkan darah yang memerahkan
bajunya.
Toan Kui Ciang tidak melainkan liehay ilmu pedanenya tetapi
ia juga mahir tenaga dalamnya, ketika barusan ujung
poankoanpit mengarah perutnya, ia menyedot napas membuat
perutnya kempes ciut, hingga bajunya yang kena tersentuh
senjata lawan itu. Berbareng dengan itu, ia bukan hanya
mengelit diri, ia jjga bekerja Dengan sebat sekali pelangnya
diluncarkan ke arah pundak lawan justeru tangan lawan lagi
diulur. Pula ia dengan terhisap, tubuhnya turut maju ke depan.
Maka walaupun U bun Thoag lekas mengundurkan diri tak luput
pundaknya itu di mampirkan ujang pedang, hingga kulit da-
gingnya tergores luka mensucirkan darah. Masih syukur, saking
sebatnya dia mundur, dia dapai melindungi tulang pipeenya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Begitulab, saking kaget berhentilah soraknya semua busu,


semua berbalik menjadi tercengang !
Baru saja U bun Thong sesumbar bahwa pedang Toang Kui
Ciang tidak bakal melukai dia, atau sekarang pedang lawan itu
membikin darahnya mengalir, tentu saja da menjadi sangat
kaget dan malu berbareng. Dia bukan menjadi putus asa dan
menyerah dia justeru menjadi sangat murka. Maka dia berseru
: Orang she Toan, jikalau malam ini aku dapat membiar kau
lolos, aku sumpah U-bun Thong bukanlah seorang manusia!”
Dan dengan sepasang senjatanya itu ia lantas menyerang
dengan hebat sekali. Sebagai keistimewaan poankoanpit,
senjata itu dipakai menosok jalan darah.
Toan Kui Ciang mengerti lawannya kalap, ia tidak mau
memandang enteng. An Lok San pun berseru : „Benar ! paling
benar dia ditawan hidup-hidup ! Hayo, kenapa kamu semua
menjublak saja ? Kenapa kamu tidak segera membantui U bun
Touw-ut meringkus bangsat ini Kata-kata Jerderai itu
merupakan anjuran? berbareng titah. Tian Sin Su bersama Thia
Tiong Cis bukannya tidak mempunyai pikiran untuk turun
tangan guna memberikan bantuan mereka. Mereka tidak
mewujudkan pikiran itu lantaran mereka ragu ragu Mereka
kenal U bun Thong sebagai seorang jumawa dan besar kepala,
mereka tidak berani sembarang maju. Mereka juga ingin
menyaksikan kepandaiannya jago itu, maka ita, mereka terus
menonton, Mereka mau menduga, meskipun Kui Ciarng gagah,
tak nanti orang, sbe Toan itu dapat bertahan terus menens.
Siapa nyana kesudahannya ada di luar sangkaan mereka,-Maka
itu sekarang, dengan adanya suara An Lok San, mereka tak
bersangsi. pula. Dengan lantas mereka maju menyerarg.
U bun Thong tidak melarang orang membantui ia. Sekarang
ia tahu bahwa ialah bukan lawan Kui Ciang. Justeru karena

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

majunya dua kawan ini segera suasana berubah lain. Ialah ia


telah mendapat angin.
Pertempuran terlangsung dengan, sinar pedang Toan Kui
Ciang nampak makin lama, makin ciut kalangannya,
An Lok San melihat, itu, legalah hatinya Sekonyong-konyong
saja, selagi Toan Kui Ciang mulai dirangsak itu, terdengar
seruannya yang nyaring dan tubuhnya berlompat bagaikan
naga lincah sedang pedangnya berkelebat bagaikan kilat
Kesudahannya itu Tian Sin Su terhuyung-huyung beberapa
tindak, karena dengkulnya telah ditikam pedang lawan, sedang
Thio Tiong Cie menjerit lantaran sebuah jeriji tangannya kena
terpapas kutung !
Semua itu terjadi selagi si orang she Toan mencoba
membarengi menoblos kurungan U bua Thong berseru sereya
berlompat menyerang musuh. Ia kaget melihat kedua
kawannya itu menjadi kurban. Maka ia menjadi gusar dan
sengit. Ia menyerang selagi musuh baru saja menabas jari
tangannya Tiong Cie, sebelum pedangnya ditarik pulang.
Berbareng dengan itu, Kui Ciang pun berseru, pedangnya
diayun ke belakang. Lantas, jatuhlah poankoanpit orang she U-
bun itu!
Kui Ciang terpaksa berlaku berani demikian melawan
poankoanpit dengan tangan kirinya itu. Tangannya itu terluka
parah hingga selanjutnya tak dapat diangkat pala untuk
digunakan lagi.
U-bun Thong terkejut mendapatkan Toao Kui Ciang berlaku
nekad demikian, Tapi kesudahannya itu membikin ia puas juga.
Biar bagaimana, ialah pihak menang.
Seorang siesu menjemput toankoanpit untuk dilemparkan
kepada jago istana itu. U-bun Thong menyambuti, terus ia

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkata nyaring : „Bangsat ini tinggal sebelah tangannya,


biarnya dia galak, dia tidak dapat mengganas lagi. Lekas
ringkus padanya, Jaga, jangan kasi dia lari.”
---ooo0dw0ooo---

Jilid 5
Kui Ciang bersiul lama dan kata keras, "Sungguh satu jago
istana! Sungguh liehay luar biasa! Sungguh garang! Bukan saja
kau menjadi orang berharga di depan Sri Baginda, pula kau
berbareng menjadi anjing penjaga pintu dari An Lok San! Hm!
Kau takut aku lari? Jangan kau kuatir! Sejak aku masuk ke
istana ini, aku sudah tidak memikir untuk keluar pula dengan
masih hidup!"
Seluruh mukanya U-bun Thong menjadi. merah. Ia sangat
terhinakan.
"Aku tidak mau adu lidah denganmu!" ia membentak "Lihat
poan-koan-pit!"
Benar-benar ia lompat maju, untuk menyerang.
Kui Ciang pun maju, dari itu, keduanya lantas bertarung
pula.
Semua U-bun Thong, Toan Kui Ciang, Thio Tiong Cie dan
Tian Sin Su telah terluka, yang terparah ialah lukanya Kui
Ciang. Yang kedua yaitu Tian Sin Su, yang terbacok
dengkulnya, meski dia tak leluasa lagi berlompatan, dia masih
bisa membantu mengurung musuh. Walaupun tinggal sebelah
tangannya, Kui Ciang berkelahi dengan nekad, ia tetap gagah.
Di antara orang-orangnya An Lok San, yang tergagah ialah
Tian Sin Su, Sie Siong, Liap Hong dan Thio Hong Cie berempat.
Liap Hong dan Sie Siong bergantian terluka parah, sekarang
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tinggal Sin Su bersama Tiong Cie. Ini sebabnya mereka masih


dapat membantu U-bun Thong.
Yang lainnya semua tak punya guna, ketika mereka mencoba
maju mendekati Kui Ciang, dengan lantas mereka kena
dilukakan dan mesti mundur karenanya. Maka itu, yang lain-
lainnya tidak dapat membantu lagi. Bahkan mereka membikin
gelanggang terhalang oleh kehadiran mereka.
U-bun Thong melihat orang seperti "menyesakkan dunia,"
dia menjadi mendelu, maka dia berteriak keras, "Pergi kamu
melindungi Tayswe! Jangan kamu berkumpul di sini
mendatangkan malu!"
Sekalian Wiesu itu mendengar kata, semua lantas
mengundurkan diri, hingga tinggallah Sin Su berdua Tiong Cie,
yang membantu terus.
Tidak lama, Sin Su berkelit dengan sia-sia, ketika dia lompat,
dia kena ditikam. Untung bagus baginya, lukanya enteng. Meski
begitu, ia merasa sangat nyeri.
Menggunai ketika Kui Ciang menyerang Sin Su itu, U-bun
Thong juga menggunai ketikanya, bahkan dia memencet poan-
koan-pitnya, untuk diulur terlebih panjang. Dengan begitu, dia
dapat menyerang sedikit lebih jauh.
Kui Ciang dapat melihat serangan pit, ia berkelit. Hanya
celaka ? miliknya, tengah ia berlompat, gaetan Tiong Cie
menyamber pahanya, hingga paha itu tergores luka. Syukur ia
tidak sampai roboh.
An Lok San kaget dan kagum. Ia menjadi berkuatir U-bun
Thong juga bukan lawannya musuh yang tangguh itu. Kalau
orang she U-bun itu kalah, ia pasti akan menghadapi ancaman
bahaya. Sebaliknya, ia tidak dapat berlalu dari situ. U-bun

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Thong menjadi utusan kaisar dan utusan itu sekarang lagi


berkelahi mati membelai dia.
Selagi An Lok San bingung, ia melihat munculnya Sie Siong
bersama beberapa Wiesu lainnya, yang mendorong datang
seorang tawanan. Sie Siong muncul sambil mengasih dengar
seruannya berulang kali.
"Su Toako!" Kui Ciang memanggil keras ketika ia sudah
melihat siapa itu yang dibawa datang.
Orang itu ialah Su It Jie. Dia kurus kering, romannya seperti
orang sakit. Teranglah dia sangat tersiksa.
Sie Siong memasang pedangnya di punggung orang tawanan
itu, dia berkata nyaring, "Toan Kui Ciang, berhenti beraksi! Asal
kau maju lagi satu tindak, akan aku tikam Su Toako-mu ini!"
Gusarnya Kui Ciang bukan alang kepalang, akan tetapi buat
keselamatannya Su It Jie, ia berhenti bersilat. Ia hanya
menyiapkan pedangnya kalau-kalau U-bun Thong
menyerangnya.
Ia memandang An Lok San, untuk berkata dengan gagah,
"Musuhmu ialah aku, ada hubungannya apakah kau dengan
orang she Su ini? Kau boleh bunuh atau cingcang aku, aku
bersedia, tetapi kau mesti merdekakan dia!"
Baru sekarang An Lok San dapat bernapas lega. Ia tertawa
lebar.
"Bagus!" serunya. "Sekarang letakilah pedangmu, nanti aku
Beri ampun pada orang she Su ini, supaya dia tidak
memperoleh kematiannyaf!"
Kui Ciang tertawa dingin.
"Apakah kau sangka aku bocah umur tiga tahun yang dapat
kau permainkan?" ia kata nyaring. "Tak sukar untuk kau
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menghendaki aku meletaki pedangku! Sekarang kau biarkan


aku mengantar Su Toako, sampai lewat sepuluh lie, dari sana
aku nanti balik lagi bersama-sama orang-orangmu, itu waktu
aku nanti serahkan pedangku ini!"
An Lok San tertawa.
"Kau tidak percaya aku, maria dapat aku percaya kau!"
katanya. "Lekas kau letaki pedangmu! Tidak ada tawar
menawar lagi!"
Kui Ciang sangat gusar dan mendongkol, otaknya bekerja
keras sekali.
Ketika itu U-bun Thong bersama Tian Sin Su dan Thio Tiong
Cie berdiri mengitari Kui Ciang dengan senjata mereka
diancamkan ke arah tubuh yang berbahaya. Sulit untuk
menyingkir dari ancaman itu.
Tiba-tiba Su It Jie berkata, "Kasihlah aku bicara sebentar
dengan Toan Toako!"
"Baik!" menjawab Lok San. "Kau boleh menasihati dia supaya
dia suka menakluk! Aku- hargai kau sebagai sastrawan, pasti
aku tidak nanti membikin susah padamu! Jikalau kau sudi
memangku pangkat, aku nanti berikan pangkat, jikalau
sebaliknya, kau segera akan dimerdekakan, supaya kau hidup
berkumpul dengan keluargamu! Toan Kui Ciang ini sahabat
kekalku, walaupun dia berlaku tidak menghormati aku, dapat
aku memberi ampun padanya! Maka itu tak usahlah kau
menguatirkan keselamatan sahabatmu ini."
Mendengar disebut-sebutnya keluarganya, muka It Jie
menjadi merah dan pucat bergantian. Ia gusar bukan main.
Beberapa kali bibirnya bergerak tanpa menerbitkan suara,
alisnya juga berkerut dan bergantian, akhirnya alis itu bangun
berdiri dan ia kata nyaring, "Toan Toako, daripada aku yang

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidup untuk mencari balas, lebih baik kau! Untuk kau tidak
dipaksa mereka, aku akan berangkat terlebih dulu! Kau
sayangilah dirimu, pergi kau menerobos keluar!"
Belum berhenti suaranya orang she Su ini, ia sudah
membuang dirinya dengan keras kebelakangnya, maka
punggungnya lantas nancap di ujung pedangnya Sie Siong yang
dipakai mengancamnya itu!
Mimpi pun tidak Sie Siong bakal terjadi hal demikian. Ia
kaget sekali, tak keburu ia menarik pedangnya. Malah
hebatnya, selain darah lantas menyemprot keluar, ujung
pedang juga menembusi ulu hati si orang tawanan!
Su It Jie mendengar perkataan An Lok San, ia tidak
mempunyai harapan lagi, maka ia pikir, daripada ia yang
ketolongan, lebih baik Kui Ciang yang kabur. Kalau ia
berkurban, tak akan dua-duanya roboh.
Berbareng dengan berkurbannya It Jie itu, Kui Ciang berseru
keras dan pedangnya bekerja. Matanya pun merah menyala.
Sebatang gaetannya liong Jie sapat sebagai kesudahan dari
serangan dahsyat itu. Dia tidak sempat menarik pulang
senjatanya itu. U-bun Thong sebaliknya mengulur pula poan-
koan-pitnya.
Kui Ijiang tidak menyerang orang she U-bun itu, ia hanya
lompat ke depan, guna menghampirkan An Lok San. Ia terlalu
bersakit hati hingga ia melupai segala apa. Keinginannya yang
keras ialah membalas untuk sahabatnya itu.
Karena itu, ujung poan-koan-pit mengenai punggungnya.
Tapi ia liehay, ia menutup dirinya dan membikin tubuhnya licin
dengan ilmu silat "( iam le Sip-pat Tiat". Maka itu, meski poan-
koan-pit mengenai tepat tetapi lak telak. Dasar U-bun Thong
liehay, ujung senjatanya dapat menggores

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Berbareng dengan itu, Tiong Jie maju pula dengan terus


menolak, maka selagi berlompat, Kui Ciang tak dapat
mempertahankan diri lagi, terus ia jatuh roboh.
U-bun Thong girang sekali. Ia maju sambil menyerang
dengan poan-koan-pit kiri.
Kui Ciang sendiri lagi jatuh itu ingat suatu apa, di dalam
hatinya ia kata, "Tidak! Aku tidak dapat mati!"
Ia ingin membalas untuk Su It Jie. Maka entah dari mana
datangnya tenaganya, sambil berteriak ia mencelat bangun
dengan lompatan "Le Hie Ta Teng" atau "Ikan gabus meletik".
U-bun Thong merasa telinganya pekak, sampai ia
tercengang.
Pedangnya Kui Ciang, yang menyerang, bentrok dengan
poan-koan-pit hingga ujung pit itu putus.
U-bun Thong menjerit, telapakan tangannya terasa nyeri.
An Lok San kaget, mukanya menjadi pucat, dengan gugup
dan suara terputus-putus, ia memberikan perintahnya,
"Datangkan...! I >atangkan barisan panah dan gaetan!" \
"An Tayjin, jangan takut!" U-bun Thong berseru. Dia kaget
tetapi dia lekas sadar. Dialah orang dengan banyak pengalaman
bertempur. "Penjahat ini tidak dapat mengganas terlebih jauh!
Jangan dekati dia! Kilarkan saja!"
Siasat itu lantas digunai, Kui Ciang benar-benar dikurung.
Sia-sia dia berlompatan, tenaganya sudah berkurang. Dia
terluka di tangan, kaki, pundak dan punggung, dia juga telah
mandi darah. Dia tampak seperti orang kalap.
Sin Su dan Tiong Cie turu-t mengurung saking terpaksa.
Tiong Cie menggunai cuma sebatang gaetan. Sin Su tak

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merdeka bergerak sebab luka di dengkulnya itu. Mereka berdua


bertempur dengan hati gentar.
Sie Siong tak terluka parah, terpaksa ia turut mengurung.
Bersama ia ada dua orang Wiesu lainnya yang menjadi
pembantunya. Dalam ilmu silat, mereka ini terhitung kelas lima
atau enam.
Dengan cepat tibalah dua belas serdadu yang bersenjatakan
gaetan peranti menggaet tubuh dan kaki musuh. Gaetan itu
panjang setombak lebih. Mereka lantas mengurung di empat
penjuru, terus mereka bekerja.
Kui Ciang berseru, ia membabat kutung dua buah gaetan
yang menyamber kakinya. Tapi serangan datang berbareng dari
empat penjuru, betisnya kena tergaet juga, maka robohlah
rubuhnya. Ia lantas bangun untuk berduduk di lantai.
Sin Su girang, ia maju membacok.
Kui Ciang berseru pula, berbareng dengan itu pedangnya
dapat membabat kutung lagi dua gaetan. Gaetan yang
mengenai betisnya nancap terus, hingga kakinya mengucurkan
darah. Ia cabut itu, untuk dipakai menimpuk Sin Su.
Orang she Tian itu kaget, hingga ia mendelong. Syukur
untuknya, Sie Siong menolak tubuhnya. Meskipun demikian,
gaetan melukai kulit kepalanya. Gaetan itu meluncur terus,
maka celaka si serdadu yang bersenjatakan itu, dia terhajar
dadanya, dia roboh terjengkang.
Kui Ciang masih duduk di lantai, ia putar pedangnya guna
membela dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia melupakan rasa
nyerinya. Lagi tiga gaetan kena ia babat putus!
An Lok San jeri. Kata ia di dalam hati, "Aku sudah
berpengalaman berperang tetapi belum pernah aku melihat
orang sekosen dia!"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sie Siong mundur, dia berdiri di samping jenderalnya itu. Dia


kata, "Dia sudah tak dapat bangun berdiri untuk menyingkir,
baiklah Tayswe datangkan barisan panah, untuk segera
mengambil jiwanya!"
Lok San setuju, ia mengangguk.
"Memang inilah cara satu-satunya," katanya. "Ya, kenapa
masih belum juga tiba?"
Ia memberikan pula titahnya, untuk mendesak lekas
datangnya barisan itu. Kepada U-bun Thong ia menyerukan,
"U-bun Touw-ut! Jangan adu jiwa lagi dengannya! Barisan
panah akan segera tiba!"
Muka U-bun Thong merah. Ia malu dan mendongkol. Musuh
sudah mendeprok tapi dia masih juga belum dapat diringkus.
Dari enam orang, tinggal ia sendiri yang belum mundur. Dalam
penasaran, ia menggertak gigi, terus ia merangsak. Ia tidak
berkeinginan mengasih hidup pada musuh yang gagah ini.
Selagi ia maju, mendadak ia mendengar suara berisik
datangnya dari luar. Di sana orang berteriak-teriak dan lari
mendatangi.
An Lok San menduga pada barisan panahnya. Atau ia
menjadi heran. Suara berisik itu suara orang kaget dan
ketakutan. Selagi ia heran, di muka pintu terlihat seorang
pengawal berteriak-teriak, "Kebakaran! Kebakaran! Celaka!
Kebakaran!"
Lok San menjadi bingung.
"Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!" demikian datang
lain suara berisik.
Pengawal pintu terdiri dari beberapa orang, suara
teriakannya mereka itu belum berhenti, atau bagaikan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terdampar gelombang, mereka kena digempur roboh dari


tempat jagaannya masing-masing!
Menyusul itu tertampak munculnya dua orang, yang satu
mengenakan seragam, yang lainnya seorang bocah umur enam
atau tujuh belas tahun.
"Ada apa?" bentak Lok San. "Kenapa kamu lancang masuk
kemari?"
Pertanyaan itu belum berhenti, atau dia sudah dibentak, "An
Lok San! Kau mencelakai Toan Toako, maka ingin aku
mengambil jiwamu!"
Berbareng dengan itu, orang itu lompat untuk menerjang.
Untuk^ ini ia tidak menanti sampai dapat mengusir mundur
semua Wiesu, hanya1 ia lompat lewat di atasan kepala mereka!
Beberapa tukang gaet lagi menggaet, gaetan mereka kena
ditabas kutung, maka itu berisiklah bentrokan golok dengan
pelbagai gaetan besi itu.
Juga si anak muda turut maju. Dia muda tetapi dia hebat.
Dia menggunai goloknya, tangan kosong dan tendangan!
Beberapa Wiesu kena dibikin terjungkal, juga beberapa tukang
menggaet.
Lalu terdengar seruan Tian Sin Su, "Lam Ce In, kau bernyali
besar sekali!"
Dua orang itu memanglah Ce In bersama Mo Lek!
Toan Kui Ciang tidak mau merembet-rembet sahabat, ia
mendusta terhadap Ce In, tetapi Mo Lek bocah cerdik, dia
dapat menduga hati orang, diam-diam dia telah mengingat baik
tempat kediaman orang. Kepada Kui Ciang ia berjanji tidak
akan meninggalkan kuil, tetapi seberlalunya sanak itu, lantas
dia pergi mencari Ce In.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In telah berjanji dengan Lie Pek malam itu, untuk


habis magrib berkumpul di rumah Hoo Tie Ciang. Ketika Mo Lek
sampai di tempat menginapnya Ce In waktu sudah jam tiga, Ce
In belum pulang. Dia meninggalkan surat, lantas dia pergi ke
rumah Tie Ciang.
Ce In minum gembira sekali hingga ia lupa pulang. Mo Lek
muncul dengan tiba-tiba. Lie Pek tidak takut atas datangnya
bocah itu, bahkan dia lantas mengajak minum bersama!
Mo Lek tidak mempunyai kegembiraan untuk bersuka-ria, ia
lantas bicara pada Ce In, menutur dugaannya mengenai
maksudnya Kui Ciang.
Ce In kaget, lantas ia pamitan dari Lie Pek, terus ia lari
bersama si anak muda. Meski demikian, ia datang terlambat, Su
It Jie sudah hilang jiwanya dan Kui Ciang lagi terancam bahaya
maut.
Tian Sin Su mengenali orang, dia berteriak, tetapi dia tidak
berani melayani, bahkan dia mundur.
An Lok San melihat suasana buruk. Sekarang ia juga lupa
kepada utusan raja. Ia melupai kedudukannya sebagai
"Tayswe". Maka dengan mencekal tangan Sin Su, untuk orang
melindunginya, ia mundur ke houwtong, ruang belakang!
Hati Sie Siong telah dibikin ciut oleh Lam Ce In. Sudah
begitu, dia tak secerdik Tian Sin Su. Pula karena lukanya lebih
hebat, ketika itu dia masih belum sempat mengundurkan diri.
"Orang she Sie!" Ce In membentak. "Rupanya kau belum
puas dengan pertempuran kita di rumah makan! Mari kau maju,
mari!"
Ce In berkata demikian, toh ia sendiri yang lompat untuk
menghampirkan lawan itu, begitu sampai, begitu ia menyerang
dengan golok mustikanya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sie Siong tidak berani melawan, apapula itu waktu dia sudah
terluka. Maka dia mendahului berlompat, untuk berlari. Adalah
Thio Tiong
Cie yang maju, untuk membantu padanya. Orang she Thio
ini menyerang dengan lantas.
Lam Ce In berkelit ke samping, sambil berkelit, ia menangkis
serangan gaetan dari lawan itu. Ia menggunai jurus "Burung
belibis berbaris di tengah udara".
Gaetan Tiong Cie sudah dirusak yang sebelah oleh Toan Kui
Ciang, sekarang tinggal yang sebelah lagi, ketika senjata itu
beradu dengan golok Ce In, dia kaget sekali. Senjatanya itu
terkuningkan menjadi dua potong, hingga dia menjadi
bertangan kosong.
Menampak demikian, sedang dua orang itu sudah berlepotan
darah, Ce In berseru, "Golok mustika tak membunuh orang
yang sudah terlukai"
Benar-benar ia menarik pulang goloknya itu, yang sudah
diayun, sebaliknya, dengan kesehatan luar biasa, ia berlompat
dengan dupakan dua-dua kakinya. Itulah tendangan "Wan-yoh
Siang Hui Kiak" atau "Kaki kerlingnya burung Wan-yoh".
Sie Siong kena didupak punggungnya, tubuhnya lantas
terjerunuk. I'hio Tiong Cie kena tertendang pinggangnya. Kalau
Sie Siong terjungkal jauh setombak lebih, orang she Thio ini
terguling menggelinding seperti luili buh
Ketika itu U-bun Thong menyerang Toan Kui Ciang yang
sudah terluka dan duduk. Ia telah pikir untuk paling dulu
membinasakan lawannya ini. Begitulah, dengan poan-koan-pit
kiri menangkis pedang lawan, dengan yang kanan ia menotok
hebat sekali.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Lam Ce In sudah berlompat, untuk membacok


punggung orang she U-bun itu, guna ia menolongi Kui Ciang.
U-bun Thong liehay. Ia mendapat tahu adanya bokongan.
Batal menikam Kui Ciang, ia berkelit ke samping, seraya
memutar tubuh, ia menangkis.
Ia membuat dua gerakan berbareng. Untuk berkelit, ia
menggunai tipu "Naga mendekam bertindak" dan buat
menangkis, ia pakai tipu "Menabuh lonceng emas".
Ketika senjata mereka beradu, terdengarlah suara yang
nyaring. Akibatnya itu poan-koan-pit kena dibikin gompal
sedikit dan tangan komandan itu sakit dan kesemutan, sedang
tubuhnya terhuyung tiga tindak.
Toan Kui Ciang sudah tidak dapat bergerak. Ia melihat
musuh terhuyung ke arahnya, ia mencoba menabas, tetapi ia
gagal, ujung pedangnya tak sampai kepada dengkul lawan'itu.
Lam Ce In tak sempat mengejar U-bun Thong.
"Toako!" ia memanggil seraya ia lompat kepada kawannya,
yang tubuhnya segera diangkat.
"Oh, saudara Lam, kau datang...!" kata Kui Ciang, yang terus
muntah darah dan tak sadarkan diri. Itulah sebab ia telah
berkelahi terlalu lama dan terluka, hingga tenaganya habis.
U-bun Thong girang melihat Lam Ce In menolongi Toan Kui
Ciang. Coba ia disusul, mungkin ia terancam bahaya. Ia kata di
dalam hatinya, "Kau menggendong Toan Kui Ciang, aku tidak
takut padamu!" Maka ia maju pula dengan berani.
Dengan dua-dua poan-koan-pit, jago istana ini melakukan
serangannya. Dengan pit kiri ia mencari tiga jalan darah tiong-
hu, kiok-tie dan siauw-hu, dan dengan pit kanan mengancam
jalan darah te-hu di kakinya Kui Ciang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In tidak menangkis, hanya dengan berlompat ia


mengelit diri berbareng menyingkirkan Kui Ciang dari ancaman
bahaya.
U-bun Thong tidak puas, dia merangsak, untuk mengulangi
serangannya.
"Kau telengas sekali!" Ce In berteriak.
Ia berlompat untuk serangan ke kakinya, selagi turun itu, ia
membalas menyerang dengan bacokan goloknya.
Inilah tidak disangka. Luar biasa Ce In, yang dapat
berlompat sambil menggendong orang. U-bun Thong berkelit,
kedua tanganya ditarik pulang. Hampir kedua senjatanya kena
tertabas golok mustika.
Ia menjadi jengah karena kelitnya itu. Ia bukannya mundur
hanya menjatuhkan diri, hanya ia tidak kelabakan seperti Sie
Siong tadi. Toh pakaiannya kotor.
Ce In terus membuka jalan, untuk menyingkir dari tempat
berbahaya itu. Dua orang Wiesu kena ditendang hingga
terjungkal. Dengan suara bengis ia berseru, "Hidup siapa
membuka jalan! Mati siapa merintangi aku!" Dan goloknya
diputar hebat, sinarnya bergemirlapan.
Kawanan Wiesu jeri, tak ada lagi yang merintangi.
Tatkala itu api sudah berkobar-kobar. Tiat Mo Lek sudah
bekerja. Bocah ini hidup dalam kalangan penjahat, dia banyak
pengetahuannya dan pula cerdik, dia senantiasa membekal
bahan api. Maka dia menyelusup ke dalam gedung An Lok San
dan membakar di beberapa tempat, guna menerbitkan
kebakaran. Itu juga suatu siasat mengalutkan, untuk
memudahkan pihaknya mengangkat kaki.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rombongan Busu repot berlari-lari guna memadamkan api,


maka kacaulah keadaan di istana peristirahatan An Lok San itu.
Pasukan panah t«lah disiapkan tapi pasukan ini tidak berani
lancang menggunai panah mereka, takut nanti memanah
kawan.
Tiat Mo Lek menyaksikan itu, dengan berani ia tertawa dan
kata nyaring, "Malam ini aku tidak berhasil membunuh An Lok
San, tetapi hatiku puas!"
U-bun Thong gusar dan penasaran, ia lompat kepada si
bocah, untuk menotok.
Mo Lek berani, ia bukannya lari menyingkir hanya
menangkis. Ia menggunai satu tipu silat ajarannya Toan Kui
Ciang. Nampak ia gagah sekali.
Jago istana itu heran hingga dia tidak berani berlaku
sembrono. Dengan berhati-hati dia mendesak.
Mo Lek berlaku gesit, kecuali menangkis, ia lebih banyak
berkelit. .Satu kali ia terdesak, ia samber tubuh seorang Wiesu,
yang ia terus lemparkan pada jago istana itu.
U-bun Thong tidak berani melukai orangnya An Lok San,
terpaksa ia memapaki tubuh si Wiesu, guna dipegang dan
dikasih turun dengan perlahan. Hanya dengan begitu, ia
membikin si bocah sempat menyingkir jauh, hingga ia hilang di
antara orang banyak, guna menyusul I ie ln.
Bukan main mendongkolnya U-bun Thong, dia lari mengejar
keras sekali.
Mo Lek main api, akibatnya ada baiknya ada buruknya.
Baiknya ialah orang repot memerangi api. Buruknya ialah
rombongan Wiesu lainnya berlari-lari mendatangi, untuk datang
membantu. Dengan begitu, mereka jati i memapaki dua orang
yang lagi berlari-lari untuk menyingkir itu.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Syukur Lam Ce In cerdik.


"Bagus kamu datang!" ia teriaki kawanan Wiesu itu. "Lekas
kamu membantu memadamkan" api! Di dalam juga ada
beberapa penjahat yang belum kena dibekuk!"
Karena teriakannya ini, ia tidak dipegat kawanan Wiesu itu.
Inilah sebab ia mengenakan seragam Wiesu dan orang tak
sempat melihat tegas atau berpikir lagi. Dengan cepat sekali ia
lari ke lain arah, di bagian dimana jumlah Wiesu sedikit sekali,
untuk nyeplos di antara mereka itu...
Tengah kawanan Wiesu itu bingung, mereka mendengar
teriakannya U-bun Thong dan Leng-ho Tat, "Pegat dua orang
itu! Merekalah orang-orang jahat yang menyamar!"
U-bun Thong mengejar dari belakang dan Leng-ho Tat
memegat dari depan, untuk merintangi. Ketika itu mereka ini
berdualah yang bergilir menjaga dan semua Wiesu itu menjadi
orang-orang sebawahan mereka.
Lam Ce In bekerja terus. Dua Wiesu roboh di ujung
goloknya. Ia lari ke tanjakan, ia masuk ke dalam rimba.
Tiat Mo Lek tercandak seorang Wiesu, lantas ia kena dibikin
repot. Wiesu itu pandai ilmu Te-tong-too, berkelahi dengan
golok sambil bergulingan di tanah, dengan menyerang sambil
bergelindingan itu, dia membuat si anak muda bingung. Dua
batang goloknya menyamber-nyamber.
Si anak muda gagah tetapi ia kurang pengalaman berkelahi,
tak biasa ia melayani Te-tong-too. Sudah begitu, dua Wiesu lain
keburu menyandak, hingga ia jadi dikepung bertiga. Dua Wiesu
yang belakangan ini bersenjatakan gembolan dan sepasang
ruyung, keduanya senjata-senjata yang berat.
Lam Ce In di dalam rimba menoleh ke belakang. Ia lihat
kawannya terhalang, ia menjadi berkuatir.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mo Lek, sambut pedang!" ia berseru. Ia menghunus


pedangnya Toan Kui Ciang, yang ia terus lemparkan.
Celaka Wiesu yang bergegaman ruyung itu, pedang nancap
di punggungnya tanpa dia berdaya, hingga lantas dia roboh.
Tiat Mo Lek mendengar dan melihat, ia lompat kepada Wiesu
itu, di saat tubuh orang roboh, ia menyamber gagang pedang,
untuk dicabut. Ia berlompat dengan kepala turun dan kaki naik,
tepat samberannya, sebat tarikannya. Maka lantas pedang
berada di tangannya. Gerakannya ini membikin tercengang
kedua Wiesu lawannya itu.
Tiat Mo Lek tidak mau mensia-siakan ketika. Ia lompat
kepada Wiesu yang berkelahi dengan ilmu Te-tong-too itu,
ketika ia menyerang, ia membabat kutung sepasang golok
orang. Ketika ia membalik tubuh, ia kena tikam lengannya
Wiesu yang memegang gembolan, hingga gembolan yang berat
itu terlepas dan jatuh bergelindingan ke bawah bukit.
"Leng-ho Tat!" Ce In membentak. "Jikalah kau tidak sayang
jiwamu, mari masuk ke dalam rimba ini!"
Bukan main kerasnya bentakan itu, burung-burung pada
kaget dan terbang kabur.
Kaget dan ciut hatinya, Leng-ho Tat tidak berani mengejar
ke dalam pepohonan lebat itu.
"Kamu maju!" terdengar perintahnya U-bun Thong, yang
sudah menyusul.
Leng-ho Tat mengambil busur dari tangannya seorang
serdadu tukang panah, ia menarik itu, untuk dilepaskan ke arah
Lam Ce In. Sayang untuknya, tangannya bergemetaran, maka
anak panahnya meluncur ke samping sasarannya.
U-bun Thong menyaksikan itu, dia mendongkol.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mari!" serunya seraya merampas busur dari tangan


kawannya. Ia memang lebih menang dalam ilmu silat dan
tenaga daripada kawan ini. Ketika ia memanah, anak panahnya
meluncur sambil memperdengarkan suara nyaring.
Tiat Mo Lek sudah menyusul Lam Ce In ketika ia melihat
aksinya si orang she U-bun. Tentu sekali ia kuatir Ce In kena
terpanah sebab kawan itu lari membawa tubuh Kui Ciang. Ia
lantas lompat seraya menyampok anak panah itu.
U-bun Thong mendongkol panahnya dirintangi.
Mo Lek pun bukannya tidak mendapat hajaran. Anak
panah^itu melesat sangat keras, meski ia menyampok, telapak
tangannya tergetar dan terasa nyeri, hingga ia terperanjat.
"Bagus, bocah cilik!" U-bun Thong berseru saking
mendongkol. "Kau berani menghalang-halangi aku, kau mesti
dibunuh lebih dulu!"
Segera meluncur anak panah yang kedua, sekarang arahnya
ke arah si bocah.
Tiat Mo Lek sudah sampai di tepi jurang. Tidak ada jalan
mundur untuknya. Buat tangkis panah juga sukar. Mendadak ia
menjadi nekad, bukannya ia lompat nyamping atau
menyampok, ia justeru berseru melemparkan dirinya ke bawah.
Lam Ce In melihat itu, ia kaget stekali. Tapi kagetnya tak
cuma sampai di situ. Anak panahnya U-bun Thong sudah
meluncur pula, sekarang ke arahnya. Dalam kagetnya, ia
menangkis meruntuhkan anak panah itu.
Ketika itu, U-bun Thong sudah lari mendekati.
"Orang she Lam, kau masih memikir untuk kabur?"
tanyanya, mengejek. "Taruh kata kau sendiri dapat kabur,
tidaklah si orang she Toan! Untuk kebaikan kau, kau letaki

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orang she Toan itu, melihat kau seorang laki-laki, suka aku
membiarkan kau lolos!"
Lam Ce In murka.
"U-bun Thong, kau majulah!" ia menantang. "Mari kita
melakukan pertempuran yang memutuskan!" U-bun Thong
tertawa.
"Buat apa aku melayani kau si orang yang bakal segera-
menemui ajalnya?" katanya mengejek. "Tapi suka aku memberi
nasehat kepadamu! Mari menyerah! Jikalau kau tidak suka
dengar nasehat baik, biarlah, kau boleh temani si orang she
Toan membuang jiwa! Lihat ini panahku!"
U-bun Thong liehay dan telengas, dengan saling susul ia
melepaskan anak panah yang kempat dan kelima.
Lam Ce In menjadi repot. Ia mesti melindungi Kui Ciang
yang ia terus gendong. Tak leluasa ia menangkis, tak merdeka
ia berlompatan dengan gesit seperti biasanya.
U-bun Thong tidak mau berhenti dengan panahnya. Ia
melepaskan terus menerus hingga tiba saatnya anak panah
yang kesembilan, yang memilih kakinya Kui Ciang sebagai
sasarannya.
Sekarang ini orang she Lam itu menghadapi bencana. Ia
sampai di tepi jurang hingga tak ada jalan lainnya lagi. Ia mesti
nekad melawan atau roboh terpaksa. Tapi ia ingin hidup, ia
ingin sahabatnya bebas.
Mendadak ia mengertak gigi, ia kata dalam hatinya, "Toan
Toako, kita sama-sama terbebas atau sama-sama terbinasa!
Mari kita serahkan jiwa kita kepada Thian!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

U-bun Thong tidak mau memberi kesempatan orang berpikir,


kembali ia menyerang dengan anak panah, sampai beruntun
tiga kali!
Dalam keadaan sangat terancam itu, mendadak Lam Ce In
berseru keras, sambil tangan kirinya memondong erat-erat
tubuhnya Toan Kui Ciang, ia lompat turun, tangan kanannya
mencekal keras goloknya! Ia menelad perbuatannya Tiat Mo
Lek!
U-bun Thong terkejut bahna heran. Inilah ia tidak pernah
sangka. Ketika ia melongok ke bawah, ia melihat jurang curam
dan gelap, ia berdiri menjublak.
"Dia terjun berdua, dia mestinya mati..." demikian pikirnya,
la tidak berani terjun untuk menyusul. Sebenarnya ia pun
memperoleh tiga luka pedang hanya semuanya itu ringan.
Lam Ce In nekad tetapi ia membekal golok mustikanya.
Golok itu dipakai sebagai andalan terakhir. Ketika ia lompat
turun, dengan goloknya ia tancapkan ke tembok jurang. Tiga
kali ia berbuat demikian, hingga saban-saban tubuhnya
tertahan tergantung. Baru setelah itu ia tiba di dasar jurang,
kakinya menginjak tanah yang keras.
Walaupun jiwanya ketolongan, jago she Lam ini tidak luput
dari belasan luka-luka baret, hanya karena ia kuat, ia dapat
bertahan. Kalau lain orang, pastilah dia sudah rebah dengan
napas empas-empis...
"Mo Lek! Mo Lek!" Ce In memanggil beberapa kali, setelah ia
dapat berdiri dengan tegar.
Belum berhenti panggilan itu, dari rumpun di samping
terlihat sesosok bayangan hitam merayap keluar, dari mulutnya
bayangan itu terdengar jawaban yang perlahan yang disusul
rintihan.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In tahu bocah itu kuat dan berkepala besar, maka itu, ia


terkejut mendengar rintihannya.
"Mo Lek, bagaimana?" tanyanya cepat. "Apakah lukamu
parah?"
Si anak muda menggigit keras giginya atas dan bawah.
"Tidak seberapa," sahutnya, "Cuma kakiku keseleo...
Bagaimana dengan paman Toan?"
Tak dapat bocah ini melupakan pamannya.
"Apakah kau membawa bahan api?" Lam Ce In balik
menanya.
"Ada," jawab Tiat Mo Lek, yang terus merogo ke sakunya,
untuk segera menyalahkannya. "Ini!" katanya pula, tangannya
diulur.
Di terangnya api tampak muka Kui Ciang sangat pucat,
tubuhnya berlumuran darah, masih ada darah hidup yang
meleleh keluar.
Bukan main berkuatirnya Ce In. Ia lantas pondong sahabat
itu, dibawa ke solokan, untuk mencuci luka-lukanya, buat
segera diobati. Untuk membersihkan darahnya, ia menyobek
ujung baju.
Tiat Mo Lek merayap menghampirkan.
"Bagaimana, ada harapan?" tanyanya, berkuatir.
"Untuk sementara, darahnya sudah berhenti mengalir..."
sahut Ce In, suaranya dalam.
"Bagaimana?" tanya pula Mo Lek.
Ce In tidak lantas menjawab. Selang sedikit lama, baru
terdengar suaranya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Toako bertubuh kokoh dan kuat tenaga dalamnya,"


katanya, "Nadinya pun belum berhenti. Yang perlu sekarang
ialah pertolongan tabib..."
Mendengar itu, Mo Lek bergerak cepat untuk berduduk. Ia
mementang matanya lebar-lebar.
"Bagaimana?" katanya, bingung. "Di sini di mana kita dapat
mencari tabib?"
"Jangan bergelisah!" kata Ce In. "Mesti ada jalannya! Apakah
baju dalammu bersih? Mari, kasih aku buat membalut
lukanya..."
Ce In dan Mo Lek mandi darah, cuma pakaian dalamnya
yang masih bersih. Demikian mereka berdua bekerja.
Baru mereka selesai, dari atas jurang tertampak sinar api.
Ce In lantas mendekam.
Dari atas itu lantas terdengar suara orang, "Aku tidak
percaya tiga manusia itu masih hidup! Besok saja kita datang
ke mari untuk mengangkat mayat mereka!"
"Setan bernyali kecil!" terdengar bentakan yang lain.
"Apakah kau takut jatuh dan nanti mampus karenanya? Kau
peganglah pinggangku! Mari kita satu demi satu turun!"
"Benar!" kata orang yang ketiga. "Kita makan gaji, kita mesti
bekerja setia! Kita perlu lekas-lekas mendapatkan mayat
mereka, supaya tayswe menjadi tenang hatinya!"
Itulah beberapa Wiesu, yang lagi menacari, yang mau turun
ke jurang dengan menggunai bantuannya dadung.
"Mo Lek," tanya Ce In gelisah, suaranya perlahan, "Apakah
dua-dua kakimu terluka?"
"Bukan, cuma sebelah yang keseleo," sahut si bocah.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mari kasih aku lihat," kata Ce In, sesudah mana ia


menyambung tulang yang keseleo itu, untuk terus diuruti,
setelah mana ia menabas cabang pohon, untuk batangnya
dijadikan tongkat. Kemudian ia kata, "Mo I ek! Inilah saat mati
dan hidup! Lekas kita menyingkir!"
Suara itu dalam dan berpengaruh.
Ce In pun segera memanggul tubuhnya Kui Ciang.
Mo Lek menggigit giginya, ia bangun berdiri, lalu dengan
menggunai tongkatnya itu, ia paksa ikut si orang she Lam
menyingkir dari jurang itu.
Hampir tanpa berhenti, mereka lari sepuluh lie lebih, hingga
jauh di sebelah depan mereka, mereka menampak samar-
samar sebuah rumah sucinya malaikat tanah.
Mereka berlari-lari terus.
Mo Lek menguatkan hati, napasnya memburu. Ia sudah lari
jauh kira-kira dua puluh lie.
Lam Ce In mendengar napas orang makin memburu, ia
menoleh. Ia melihat Mo Lek mandi peluh, jalannya setindak
demi setindak. Ia merasa sangat terharu, kemudian ia berhenti
untuk pasang telinga.
"Untuk mereka itu dapat menyusul, sedikitnya mereka
memerlukan tempo satu jam," pikirnya. Maka ia melanjuti pada
si bocah, "Saudara kecil, kau menderita... Mari kita singgah di
dalam kuil malaikat tanah itu!"
Rumah berhala itu sudah rusak tidak keruan, sarang labah-
labahnya pun banyak, akan tetapi aneh, di dalamnya mereka
dapatkan satu orang yang lagi tidur menggeros di depan meja
abu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dialah seorang tua dengan pakaian rombeng, kedua kakinya


melintang, tongkatnya menjadi bantalnya. Dia tidur nyenyak
sekali, sebagaimana nyaring bunyi hidungnya mendengkur. Di
sisinya ada buli-buli arak, yang baunya menyerang hidung.
Setumpuk tabunan, apinya sudah mulai padam.
"Rupanya dia seorang pengemis pengembara," kata Mo Lek.
Ce In mengawasi, lalu ia menyerukan suara perlahan bahna
herannya. Ia mendapat kenyataan, walaupun orang hanya
tukang minta-minta dan pakaiannya banyak tambalannya,
pakaian itu bersih, sedang tongkatnya yang hitam bukannya
tongkat kayu hanya mestinya dari besi.
Mo Lek sangat letih, ia tak perduli apa juga. Ia lantas
menjatuhkan diri untuk berduduk. Kedua kakinya terasa sangat
sakit, begitu ia bercokol, begitu ia tak berkutik pula!
Lam Ce In masih bersangsi, akan tetapi ketika ia merasai
tubuh Kui Ciang mulai dingin, terpaksa ia pun berduduk.
"Sayang tabunan itu sudah padam..." kata Mo Lek.
"Nanti aku tambahkan kayunya," mengucap Ce In, yang
terus menghampirkan si pengemis untuk mengambil beberapa
potong kayu yang berserakan di sisi dia.
Orang she Lam ini heran atas tongkat orang, tanpa sanggup
melawan bujukan hatinya, ia mengulur tangannya untuk
menyentilnya perlahan. Ia lantas mendengar suara yang luar
biasa, bukan suara kayu, bukan juga suara besi. Maka, entah
tongkat itu terbuat dari bahan apa...
(Tambahan dari cetakan baru)
Sekonyong-konyong pengemis itu membalik tubuhnya, terus
ia bergerak untuk bangun berduduk. Dengan lantas ia
menunjuki gusarnya, dia kata, “He, bocah, aku si tuan besar

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pengemis lagi enak-enak tidur, kenapa kau bikin banyak berisik


hingga aku menjadi mendusin? Eh, eh, kamu, kamu orang
apa?”
Dia terus menanya, sedang matanya kesap-kesip. Dia kaget
untuk mendapatkan orang yang berdiri di depannya, orang
yang mandi darah.
Lam Ce In memberi hormat.
“Maaf, lo-toaya!” katanya. Ia memanggil “lo-toaya” atau tuan
besar. “Bukannya sengaja kami membuat berisik membikin kau
mendusin! Sahabatku itu terluka, kami meminjam rumah suci
ini untuk singgah dan beristirahat...”
“Kenapa kau terluka?” si pengemis tanya. Nampak dia masih
heran.
“Kami ketemu berandal!” sahut Mo Lek.
“Ah!” mengeluh si pengemis. “Jaman sekarang ini makin
lama jadi makin tidak keruan macam! Kita terpisah dari kota
raja Tiang-an Cuma tiga puluh lie, toh di sini masih ada orang
jahat...”
Tiat Mo Lek tahu keterangannya itu mungkin disangsikan
orang, akan tetapi ia mempunyai alasan apa lainnya? Terpaksa
ia mendUsta demikian.
Syukur si pengemis, habis mendumal, dia tak menanyakan
lebih jauh.
Ketika itu Lam Ce In sudah letih bukan main. Ia merasakan
tulang-tulangnya seperti telah pada copot. Akan tetapi,
dibanding dengan Tiat Mo Lek, ia masih lebih mendingan.
Diam-diam ia memasang mata. Ia mendapatkan mata si
pengemis tajam luar biasa. Itulah bukan mata dari kebanyakan
tukang minta-minta. Maka itu, ia kaget di dalam hati.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Entahlah dia orang macam apa?” pikirnya. “Celaka kalau dia


seorang jahat. Rasanya tak sanggup aku menempur dia...”
Pengemis tua itu mengawasi Toan Kui Ciang.
“Lukanya sahabatmu ini tak ringan,” katanya.
“Memang,” sahut Ce In. “Hebat kawanan penjahat tidak
mempunyai perikemanusiaan itu, mereka telah membacoknya
belasan kali...”
“Hawa udara sekarang sangat dingin, sahabatmu luka parah,
ada kemungkinan dia bertambah berat keadaannya,” kata pula
si pengemis. “Nanti aku tolongi kamu menyalakan api, untuk
kamu dapat menghangatkan diri.”
Melihat orang baik hati, hati Ce In menjadi sedikit lega.
“Terima kasih, sahabat,” bilangnya. “Memang aku hendak
meminta beberapa potong kayu untuk dinyalakan.”
“Kita sama-sama orang bersengsara, jangan sungkan-
sungkan,” kata pengemis itu.
Ia berhenti sebentar, ia tertawa, terus ia menambahkan,
“Beberapa potong kayu bakar ini masih kurang. Touw Te Kong-
kong biasa melindungi orang baik, maka itu baik kita pinjam
meja abunya, pasti dia tidak bakal menyalahkan kita...”
Kata-kata itu disusul perbuatan si pengemis. Ia mengangkat
tongkat hitamnya dan menghajar meja hingga roboh ringsak.
“Sungguh tenagamu besar, lo-jinke!” Tia Mo Lek memuji.
“Aku sudah tua, aku sudah tak punya guna!” kata si
pengemis tertawa. “Rupanya meja ini sudah terlalu lanjut
usianya, maka diketok perlahan saja, dia lantas habis
nyawanya...”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tabunan ditambah kayu, lantas nyalanya bertambah besar,


suaranya juga meretek.
“Aku masih mempunyai setengah buli-buli arak, mari kita
minum bersama,” kata lagi si pengemis, yang ramah. “Kita
minum seorang sedikit, guna menambah kesegaran!”
“Mana dapat kami mengganggu kau, lo-jinke?” kata Lam Ce
In.
Si pengemis tua tertawa.
“Seumurku aku biasa makan dan minum makanan dan arak
orang secara Cuma-Cuma!” kata dia. “Jikalau aku mesti
menelad kamu, segala apa mesti dengan berterang, maka tak
usahlah aku menjadi si tukang minta-minta lagi! Mari, mari!
Habis minum dapat aku si tua mengemis pula!”
Dan ia mengulurkan buli-bulinya.
Lam Ce In mengangkat tangan guna menyambuti, ia
membuka tutupnya buli-buli itu. Lebih dulu ia membaui. Ialah
seorang Kang Ouw ulung, ia pandai membedakan bau arak
yang dicampuri racun atau tidak. Apabila ia tidak merasakan
sesuatu, dengan hati lega ia mencegluknya satu kali.
“Baguskah arak ini?” si orang tua tanya, tertawa.
“Bagus, bagus!” Ce In menjawab dengan pujian. “Baunya
pun harum, harum sekali!”
Akan tetapi air kata-kata itu bukan melainkan harum. Setelah
turun ke dalam perut, Ce In merasakan sesuatu yang
mengagum ia. Arak itu mendatangkan hawa hangat di dalam
tubuhnya. Ia tidak merasakan sari obat atau lainnya. Ia
menjadi heran juga. Kecuali rasa hangat, lekas sekali, ia
merasa segar, kesehatannya hampir pulih dalam sesaat itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Ah, aku menduga keliru terhadapnya,” ia pikir. Ia menyesal


yang ia sudah menaruh curiga sedang orang bermaksud baik.
Habis Ce In, datang gilirannya Mo Lek minum arak itu. Ia
mencegluk dua kali.
“Harum, harum!” ia memuji.
Pengemis itu tertawa.
“Kamulah orang-orang yang mengerti barang baik!” dia
memuji. “Sebenarnya inilah arak simpanan seratus tahun yang
sukar aku si orang tua mendapatkannya.”
Ce In sudah mengetahui khasiatnya obat itu, ia tidak
bersangsi sedikit juga.
“Terima kasih lo-jinke,” ia kata. “Hanya sahabatku ini luka
parah dan ia masih pingsan...”
“Tak apa, itulah mudah!” kata si pengemis.
Ia lantas pegang mulutnya Toan Kui Ciang, untuk dibuka,
setelah mana, ia menuang araknya, kemudian terus ia meraba
enteng ke punggung orang yang terluka tak sadar itu.
Tiba-tiba Kui Ciang bergerak, tubuhnya berbalik, kontan dia
tumpah darah, yang menyembur. Darah Itu hitam dan bau.
Tiat Mo Lek kaget, lupa pada kakinya yang sakit, ia
berjingkrak bangun.
“Kau... kau... kau bikin apa?” tanyanya. Ia tahu pengemis itu
orang luar biasa, tetapi melihat kelakuan orang, ia jadi curiga,
maka ia jadi gusar sekali. Ia hendak mendamprat atau baru ia
kata, “Kau...” maka Lam Ce In sudah mengedipi mata padanya,
dari itu lekas-lekas ia mengubah haluan, dampratannya
berubah menjadi pertanyaannya itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Terima kasih lo-jinke!” Lam Ce In kata. “Dengan darahnya


keluar, maka tak usahlah kami menguatirkan pula jiwanya
sahabatku ini!”
Mendengar itu barulah Mo Lek mendusin si pengemis justeru
lagi menolongi. Ia menjadi malu sendirinya.
Ce In lantas peluk tubuh Kui Ciang, untuk terus memanggil-
manggil di telinga orang, “Toako! Toako, sadarlah! Di sini
siauwte! Apakah toako dengar siauwte?”
Kui Ciang tidak menjawab, hanya ia muntah darah pula. Baru
habis itu, mendadak ia berseru, “Su Toako! Su Toako, jangan
pergi dulu, tunggu aku! An Lok San! An Lok San! Kau... kau...
sangat kejam! Kalau nanti aku Kui Ciang mati, akan aku bekuk
padamu!”
Ce In kaget. Kawannya itu telah membuka rahasia.
“Toan Toako! Toan Toako!” ia kata di telinga sahabat itu.
“Inilah aku! Inilah aku! Apakah kau sudah tidak mengenali
aku?”
Kelihatannya Kui Ciang menjadi tenang, tetapi ia masih
menyebut-nyebut, “Su Toako” dan mencaci An Lok San, hanya
sekarang ia seperti caranya orang sakit ngelindur.
Matanya si pengemis bersinar tajam kapan dia mendengar
disebutnya nama An Lok San dan nama orang yang luka itu
sendiri, paras mukanya juga menyatakan dia heran.
Hanya sekilas lalu, romannya kembali seperti biasa. Dia
menunjuk pada darah di mulut sakit itu dan kata pada Ce In,
“Darah yang telah berubah menjadi merah itu tak dapat kena
ditelan pula. Sekarang biarlah dia dapat tidur barang sekejap.”
Sembari berkata begitu, dengan kesehatan luar biasa, ia
menotok tubuh Kui Ciang pada dua jalan darah. Ia berlaku

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebat, tetapi totokannya enteng. Dengan lantas Kui Ciang


berhenti ngelindur. Maka lekas juga dia tidur pulas di dalam
pelukan Ce In, yang sejak tadi masih memelukinya. Lantas
pengemis itu menghela napas lega.
“Syukur masih ada arakku hingga dapat darah dia dibikin
lumer ilnn keluar, kalau tidak, habislah dayaku si pengemis!”
katanya. Ia tertawa sekarang.
Sebagai ahli silat, Ce In ketahui si pengemis ialah seorang
liehay. Totokan dia itu luar biasa dan besar faedahnya. Ia
ketahui, dengan darah kotornya keluar, Kui Ciang menjadi
mendapat darah bersih. Ia tahu baik, ia sendiri tak dapat
menotok cara demikian.
Oleh karena lenyap semua kecurigaannya, lantas Ce In
berkata, menanya, “Lo-cianpwe, terima kasih untuk
pertolonganmu ini! Apakah lo-cianpwe sudi memberitahukan
she dan nama besar lo-cianpwe kepadaku?”
Si pengemis tertawa.
“Tak usahlah kau repot menanyakan tentang siapa diriku,”
sahutnya. “Sebaliknya ingin aku menanya lebih dulu kepada
kamu. Rupanya musuh kamu bukannya penjahat, hanya An Lok
San!”
“Tidak salah!” Tiat Mo Lek menalangi Ce In menjawab.
“Benarlah itu babi terokmok yang harus dicincang mampus
berlaksa kali! Dia telah menganiaya Paman Toan sampai paman
menjadi begini rupa! Tadi aku tidak tahu kau siapa, lo-cianpwe,
terpaksa aku mendusta, sekarang aku minta lo-cianpwe suka
memberi maaf padaku.”
“Kau tidak salah!” berkata si pengemis tertawa. “Walaupun
An Lok San menjadi Ciat-touw-su dari tiga kota, dia tak
bedanya dengan penjahat!”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mo Lek masih hendak bicara, ketika dia batal secara


mendadak. Dia berlc-ga hati melihat si pengemis tidak
menggusarinya. Tapi barusan dia berjingkrak, itulah berbahaya
untuk kakinya yang terluka, di waktu baru lompat, dia tidak
merasa apa-apa, tapi sekarang dia merasa nyerai sekali, hingga
hampir dia menjerit karenanya.
“Engko kecil jangan bergerak!” berkata si pengemis tua.
“Aku si pengemis, kecuali minta-minta, masih ada kebisaan
pada tanganku, maka jikalau kau percaya aku, mari aku obati
juga lukamu!”
Mo Lek juga lenyap semua kecurigaannya.
“Terima kasih, lo-cianpwe, terima kasih!” katanya. “Suka
sekali aku menerima pertolongan lo-cianpwe.”
Pengemis itu sudah lantas ‘memberikan pertolongannya. Ia
meraba ke kaki orang yang terluka dan mengurutnya
perlahanMahan, ia menekan jalan darahnya.
Mo Lek merasa heran. Seketika itu rasa nyerinya seperti
lenyap, hingga ia dapat meluncurkan kakinya dan menendang!
Saking girang, ia tertawa lebar.
“Lo-jinke, sungguh lo-jinke liehay!” dia memuji. “Sekarang ini
aku sudah tidak merasa sakit, dapat aku berkelahi satu kali
lagi!”
Sebaliknya si orang tua mengasih lihat roman sungguh-
sungguh.
“Tidak dapat!” katanya keras. “Jangan kata berkelahi,
bergerak pun kau tak dapat sembarang bergerak! Luka kamu
berdua bukannya ringan! Kau tahu, melihat gerak nadi kamu,
kamu rupanya habis berlompat dari tempat yang tinggi sekali
hingga anggauta-anggauta dalam tubuhmu pada bergerak.
Sekarang ini baru luka luarmu yang tersembuhkan, baru
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

darahmu dapat disalurkan pula. Untuk menyembuhkan luka di


dalam itu, kamulah yang mesti berikhtiar sendiri. Eh engko
kecil, apa kau mengerti ilmu semedhi, untuk menyalurkan
napasmu?”
Kembali Ce In dibuat kagum oleh pengemis tua ini. Orang
seperti menyaksikan sendiri peristiwa tadi. Dia jadinya pandai
mengobati dan pandai ilmu silat juga, matanya sangat tajam.
Dengan dia menanya Mo Lek saja berarti dia sudah menduga
bahwa ia mengerti ilmu semedhi itu.
“Aku mengerti sedikit, lo-jinke,” Mo Lek jawab.
“Bagus!” berseru pengemis itu. “Sekarang telah pulih
kesegaran kamu, kamu boleh duduk bersemedhi, guna
menyalurkan pernapasan kamu, untuk mengembalikan seluruh
tenaga kamu. Kamu boleh bersemedhi dengan hati tenang, apa
juga terjadi di sekitar kamu, jangan hiraukan! Kamu mesti
dapat menenangkan diri hingga kamu melihat seperti tak
melihat, mendengar seperti tak mendengar. Baiklah, sang
tempo pun sudah tidak ada lagi, lekas kamu mulai
bersemedhi!”
Ce In mengerti maksudnya pengemis itu. Dengan tidak
menanyakan sampai jelas urusan mereka, si pengemis ingin
kesegaran mereka pulih dan tenaga mereka kembali di dalam
tempo yang paling cepat. Rupanya pengemis itu juga sudah
berjaga-jaga kalau-kalau orang atau orang-orangnya An Lok
San datang menyusul.
Sebagai orang yang telah berdasar baik, Ce In bersemedhi
tak lama, lantas nyamanlah ia merasa seluruh tubuhnya.
Justeru itu, ia lantas mendengar ringkikan kuda dan suara
bicara orang yang telah lantas tiba di depan kuil
Ia mendengar satu suara, “Di dalam kuil itu ada sinar api,
mari kita lihat!”
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Walaupun ia merasa pasti si pengemis seorang luar biasa, Ce


In toh berkuatir.
“Tidak kusangka, musuh datang begini lekas,” pikirnya.
“Sekarang aku lagi bersemedhi di saat paling penting, tidak
dapat aku membantu dia... Dapatkah dia bertahan seorang
diri?”
Tengah Ce In berpikir begitu, serombongan orang sudah
bertindak masuk di ambang pintu kuil. Benar saja mereka
orang-orangnya An Lok San, bahkan yang memimpinnya ialah
U-bun Thong serta Leng-ho Tat.
U-bun Thong itu cerdik, tidak menanti orang-orangnya
memeriksa lembah atau selat, ia sudah lantas dapat menerka,
ia segera menyusul dengan menunggang kuda.
Di sebelah Leng-ho Tat, ia telah minta bantuannya dua jago
lainnya dari istana, ialah Gu Cian Kin dan Liong Ban Kun.
Mereka ini ialah dua di antara empat Siewie yang mendapat Su
Toa Kimkong atau Empat Kimkong Besar. Mereka ini tak
seliehay U-bun Thong sendiri, atau Ut-tie Pak atau Cin Sian,
tetapi mereka masih lebih menang daripada Leng-ho Tat.
Demikian mereka sampai di rumah suci malaikat tanah itu.
U-bun Thong bertindak di depan. Begitu ia tiba di ambang
pintu, ia lantas mendengar dampratan, yang ia duga mesti
keluar dari mulutnya seorang tua.
“He, dari mana datangnya sekawanan anak kambing haram
hingga mereka mengganggu ketenteramannya aku si pengemis
di dalam rumah suci ini?” demikian dampratan itu.
U-bun Thong menjadi gusar, hingga hendak ia mengunibar
kegusarannya itu, atau mendadak Leng-ho Tat, dengan muka
pucat dan tubuh menggigil, dengar suara gemetaran, berkata,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Maaf, maaf! Aku yang muda tak ketahui lo-cianpwe berdiam di


sini! Harap lo-cianpwe terima hormatnya aku yang muda!”
Si pengemis mengangkat kepalanya, sepasang matanya
mencilak.
“He, Leng-ho Tat, bocah, kau masih mengenali aku, ya?”
katanya dingin. Lalu ia menuding dengan tongkatnya untuk
membentak, “Bocah, kalau kau masih mengenali aku, kau
mestinya masih ingat juga tabiatku! Apakah kau masih tidak
mau lekas-lekas menggelinding pergi?”
Leng-ho Tat ketakutan, mukanya menjadi sangat pucat.
“Ya, ya,” sahutnya, terus ia membalik tubuh, untuk berlari.
U-bun Thong gusar sekali, ia mengulur tangannya,
menjambak rekan itu.
Leng-ho Tat kaget. Baru sekarang ia ingat ia ada bersama
kawan itu. Ia menjadi malu dan takut, mukanya menjadi
merah, dengan terpaksa, lekas-lekas ia kata, “U-bun Tayjin, lo-
cianpwe itu ialah Se-gak Sin Liong Hong-hu Sianseng!”
Mendengar itu, U-bun Thong juga terperanjat. Ia memang
ketahui orang bernama Hong-hu Siong itu, yang gemar
merantau, yang hidupnya sebagai pengemis. Dialah satu di
antara Kang Ouw Cit Koay, Tujuh Siluman Kang Ouw. Karena
dia jago Hoa San Pan dan gerak-geriknya mirip “Naga sakti
yang terlihat kepalanya tak ekornya,” dia memperoleh
julukannya itu Se-gak Sin Liong, Naga Sakti dari Se-gak Hoa
San, gunung Hoa San di barat.
Leng-ho Tat asal orang Hek Too, Jalan Hitam, kira sepuluh
tahun yang lalu dia turut gurunya membegal serombongan
saudagar, gurunya itu kejam, sudah membegal juga
membunuh. Mereka bertemu Hong-hu Siong, mereka kena
dibekuk.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sang guru lantas dihukum rangket tiga puluh rotan. Dia,


yang itu waktu belum terkenal dan baru masuk golongan kelas
dua, diberi keringanan, yaitu Cuma dirangket lima rotan, meski
begitu karena luka-lukanya dia mesti merawat diri setengah
tahun. Dia tidak sangka, di sini dia bertemu pula jago dari
gunung Hoa San itu.
Ketika U-bun Thong baru menginjak ambang pintu, ia lantas
mendapat lihat keadaan di dalam ruang berhala malaikat itu.
Lam Ce In dan Tiat Mo Lek lagi duduk bercokol dan Tan Kui
Ciang rebah di dekat mereka. Di depan mereka itu berada si
pengemis. Meski ia jeri terhadap pengemis itu, ia toh tidak
dapat melepaskan orang-orang yang lagi dicarinya.
Ia berpikir, “Toan Kui Ciang sudah mirip mayat, Lam Ce In
telah terluka, taruh kata pengemis bangkotan ini liehay,
mustahil tidak dapat aku melawannya? Aku toh ada bersama
saudara-saudara Gu dan Liong! Dia kesohor, itu baru
pendengaran saja! Mustahil dia benar-benar liehay luar biasa?”
U-bun Thong jago kelas satu, dia tidak dapat disamakan
dengan Leng-ho Tat dan lainnya, walaupun dia dikejutkan oleh
nama Se-gak Sin Liong, si Naga Sakti dari gunung Hoa San, dia
toh tidak takut. Maka dia maju pula satu tindak, dengan
merangkap kedua tangannya, dia memberi hormat.
“Hong-hu Sianseng,” katanya, “Kita ada seumpama air
sumur yang tidak saling bentrok, oleh karenanya tidak ada
niatku untuk mengganggu kau, hanya oleh karena aku
mendapat firman Sri Baginda Raja, untuk menangkap orang
jahat yang menentang raja, tak dapat aku tak datang ke mari.
Aku minta, sianseng, sudi apakah kau membiarkan aku dapat
melakukan tugasku ini.”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Biasanya U-bun Thong berkepala besar, maka itu inilah yang


pertama kali dia bicara dengan cara sungkan dan hormat
terhadap lain orang.
Hong-hu Siong tidak menyambut sikap menghormat itu
sebagaimana layaknya. Sebaliknya, kedua matanya mencilak.
Dan ia tertawa dingin pula.
“Ha, aneh!” katanya. “Memang aku si pengemis tua kadang-
kadang suka juga meminta belas kasihan secara memaksa akan
tetapi sejak dahulu belum pernah ada sepak terjangku yang
ingin menggulingkan pembaringan naga atau umpama kata
perbuatan mengemplang mati kepada putera mahkota! Maka
kenapakah sekarang mendadak aku dituduh menjadi orang
jahat yang melawan Raja?”
U-bun Thong menahan kemendongkolannya, dia menahan
sabar sebisa-bisa.
“Aku bukan menyebut kau, sianseng, aku hanya menunjuk
kepada ketiga sahabat itu!” kata dia seraya menuding Toan Kui
Ciang bertiga. “Mereka ini membakar istananya An Ciat-touw-su
serta sudah juga melukakan beberapa Siewie istana! Aku
menjadi Liong Kie Touw-ut, aku mengepalai sekalian Siewie itu,
tak dapat tidak, aku mesti mengundang kedua sahabat ini pergi
ke kantor pembesar negeri untuk menanya jelas kepada
mereka!”
Hong-hu Siong menggaruk-garuk kepalanya.
“Ah, urusan ini sungguh membikin aku si pengemis tua
menjadi bingung!” katanya.
Mau atau tidak, U-bun Thong menunjuki juga rasa
kemendongkolannya.
“Aku telah bicara begini jelas, ada apa lagi yang masih
membingungkan kau?” tanya dia.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Nah, kau lihat saja keadaan mereka itu!” kata Hong-hu


Siong. “Sahabat she Toan itu, jiwa dia pun tak dapat terjamin
akan dapat tertolong atau tidak! Menurut keterangan mereka,
mereka sudah bertemu kawanan penjahat yang mau merampas
harta benda dengan melakukan pembunuhan jiwa orang,
mereka melawan, mereka tak berdaya, maka terjadilah luka-
luka begini macam! Sebaliknya kau membilang merekalah
orang-orang jahat yang menentang Raja! Mereka Cuma dua
orang dewasa serta seorang bocah cilik, mungkinkah benar
mereka menyateroni rumahnya An Lok San untuk melakukan
pembakaran serta mencoba melakukan pembunuhan? Hm! Hm!
Tidak, aku tidak percaya sama sekali! Kecuali kau keluarkan
firman raja untuk diperlihatkan padaku!”
U-bun Thong tak dapat menahan sabar lagi. Dia gusar.
“Aku memandang hormat kepada kau sebagai seorang
cianpwe Rimba Persilatan, aku berlaku luar biasa sungkan
terhadapmu!” dia kata keras. “Kenapa kau sebaliknya
mempersulit aku? Kejahatan itu baru dilakukan mereka,
didalam keadaan sangat kesusu, mana sempat aku meminta
firman Sri Baginda Raja? Kau lihatlah seragamku ini! Akulah
Liong Kie Touw-ut! Mungkinkah palsu?”
Hong-hu Siong tertawa dingin.
“Sukar untuk dibilang! Sukar!” katanya. “Di jaman seperti
sekarang ini ada banyak penjahat yang memalsukan diri
menyamar menjadi pembesar negeri! Laginya, bukankah kau
barusan omong dari hal firman raja? Dan sekarang kau tidak
dapat membuktikannya! Maka terang sekali kau sudah omong
dusta! Satu kali kau sudah mendusta, aku si pengemis tua tidak
dapat percaya lagi pada kau!”
U-bun Thong gusar hingga dia kelabakan. Tapi dia masih
menginsafi kedudukan pengemis itu. Maka dia mencoba

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menguasai dirinya, masih dia ingin bicara dengan caranya kaum


Kang Ouw. Dia dapat berlaku sabar, tidak demikian dengan
kedua kawannya yang menjadi jago-jago istana itu.
Sudah belasan tahun Hong-hu Siong tak muncul di muka
umum, kedua orang itu tidak kenal dia. Maka juga belum
berhenti suara Hong-hu Siong mendengung, mereka berdua
sudah menghunus senjatanya masing-masing.
Gu Cian Kin bergegaman sebuah kapak soan-hoa-hu yang
besar dan berat, dan Liong Ban Kun bersenjatakan kim-pwe-too
yang tebal. Sembari maju mereka berseru, “Segala pengemis
sebagai kau berhak untuk membutuhkan firman Sri Baginda
Raja? Hm! Hm! Kau menghendaki firman? Nah, inilah dia
firmannya!”
Dengan berbareng, mereka itu menyerang.
Hong-hu Siong mengangkat tongkatnya untuk dilintangi,
guna menangkis, hingga di situ terdengarlah bentrokan yang
sangat keras yang memekakkan telinga. Ia pun berseru, “Inilah
firman yang tak tepat!”
Bentrokan itu mendatangkan lelatu api. Tapi yang hebat
ialah akibat lainnya. Tubuh Gu Cian Kin dan Liong Ban Kun
besar seumpama badan kerbau, akan tetapi tubuh mereka itu
mental hingga ke luar pintu kuil!
Kagetnya U-bun Thong tidak terkira. Kedua kawan itu ahli-
ahli silat Gwa-kang yang liehay, yang tenaganya besar luar
biasa. Kapaknya Cian Kin saja berat lima puluh enam kati, dan
goloknya Ban Kun berat empat puluh tiga kati.
Di lain pihak, tongkat Hong-hu Siong tetap sebatang tongkat,
walaupun itu terbuat dari besi. Maka dihajar kapak dan golok
berat, mestinya tongkat itu kutung buntung!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kejadiannya taklah demikian. Tongkat itu utuh, tak kurang


suatu apa, sebaliknya, kapak dan golok gompal! Dan anehnya,
kecuali senjata mereka rusak bercacad, tubuh mereka mental
terbang!
Baru sekarang U-bun Thong menginsafi liehaynya si Naga
Sakti dari gunung Hoa San, jadi nama orang terkenal bukan
terkenal melulu. Hebat kepandaian si pengemis dalam hal ilmu
meminjam tenaga untuk menghajar lawan. Itulah kepandaian
di puncaknya kemahiran.
Dengan kulit mukanya merah padam, U-bun Thong
menghampirkan si pengemis. Ia mengulur sebelah tangannya
seraya berkata dengan pujiannya, “Sungguh aku kagum!
Sungguh aku kagum! Lo-cianpwe, dengan memandang kepada
muka terang lo-cianpwe, suka aku U-bun Thong menyudahi
saja urusan ini sampai disini!”
Hong-hu Siong melemparkan tongkatnya, ia tertawa lebar.
“Terima kasih untuk kebaikan hati Touw-ut!” sahutnya. Ia
pun mengulur tangannya, guna menyambuti tangan si
pahlawan istana, guna berjabatan.
U-bun Thong menjadi ahli menotok jalan darah, dia kesohor
sekali. Di waktu tangan mereka bersampokan, dengan lantas
dia mengerjakan jeriji-jeriji tangannya, tengah, telunjuk dan
manis, untuk menotok si pengemis. Sebab dengan sikapnya
yang manis itu dia lagi menggunai akal muslihat keji, supaya
diluar tahu orang, diluar dugaan, dapat dia menotok!
“Tak usah sungkan!” kata Hong-hu Siong. “Silahkan Touw-ut
berangkat pergi!”
Mendadak U-bun Thong kaget. Mendadak jari-jari tangannya
membentur telapakan tangan yang panas seperti bara marong!
Tak tahan dia untuk tidak menjerit keras. Rasa nyerinya segera

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyerang ulu hatinya. Lekas-lekas dia melepaskan jabatan


tangannya, untuk lompat mundur ke pintu, untuk terus
mengangkat langkah panjang!
Tiat Mo Lek menyaksikan peristiwa di depan matanya itu, ia
girang bukan kepalang.
“Bagus! Bagus!” serunya. “Aduh...!” dan ia meringis-ringis.
Bocah ini masih rendah pokok dasar tenaga dalamnya, di
saat bersemedhi itu, dia tak dapat berseru semacam itu, maka
juga habis berseru kegirangan, ia menjerit kesakitan.
Hong-hu Siong mengerutkan alisnya.
“He, bocah, mengapa kau tak dengar nasihatku si orang
tua?” dia menegur. “Sudah kukatakan, apa juga yang terjadi,
tak dapat kau usil, sekarang kau menentangnya!”
Meski dia menegur, pengemis itu toh lekas-lekas menolongi
bocah itu dengan jalan mengurutnya, guna membantu
mengumpul pula tenaga dalamnya itu.
Sementara itu, semua musuh sudah kabur, maka kuil
kembali kepada ketenangannya.
Hong-hu Siong menggunai ujung tongkatnya mengorek api,
untuk dibikin menyala pula. Ia berdiam, seperti ia lagi
memikirkan sesuatu. Tak jarang ia melongok ke arah pintu, ke
luar pintu.
“Ha, langit bakal lekas menjadi terang!” tiba-tiba ia berkata
seorang diri.
Ketika itu Lam Ce In sudah selesai dengan semedhinya,
maka tenaganya bakal segera pulih seluruhnya. Dia
menyaksikan kejadian barusan, dia dapat mengendalikan diri,
tetapi sekarang, melihat kelakukannya si pegemis, dia heran,
hingga ingin dia bicara.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tapi justeru itu Hong-hu Siong tiba-tiba bangun berdiri,


untuk memesan dengan sungguh-sungguh, “Sebentar, apa juga
yang terjadi, aku minta kamu kedua tuan-tuan jangan campur
tahu!”
Itulah pesan yang tadi, yang sekarang diulang, hanya
sekarang i lengan terlebih sungguh-sungguh.
Ce In berdiam, ia heran. Katanya di dalam hati, “Kenapa dia
mengulagi pesannya ini begini wanti-wanti? Mungkinkah bakal
terjadi pula peristiwa yang luar biasa, yang diluar sangkaan?”
Tengah Lam Ce In berpikir itu, telinganya mendengar suara
kelenengan kuda yang datangnya jauh dari luar kuil. Ia menjadi
heran, maka ia menduga-duga. Ia ingat kepada An Lok San.
“Sekalipun U-bun Thong sudah kalah, dia masih mempunyai
pahlawan siapa lagi yang gagah?” demikian terkanya. “Taruh
kata ada datang lagi beberapa orang, mereka pasti bukannya
lawan dari Hong-hu Siong. Ah, dasar orang yang usianya sudah
lanjut, cara bicaranya pun menjadi rada melit... Aku telah
mengenal ilmu silatmu, buat apa kau memesan lagi berulang-
ulang?”
Suara kelenengan terdengar makin dekat.
Hong-hu Siong terus duduk bersila. Wajahnya nampak luar
biasa. Ia seperti bergelisah dan berduka.
Ce In sekarang telah mendapat kepastian, orang yang
datang itu Cuma seorang penunggang kuda. Tentu saja, ia
menjadi semakin heran. Ia kata dalam hatinya, “Dengan satu
dua gebrakan, Hong-hu Siong dapat mengusir pergi pada U-
bun Thong. Habis, ada siapa lagi yang dapat membuatnya
jeri?”
Selagi ia berpikir itu, Lam Pat melihat masuknya seorang ke
dalam kuil. Untuk herannya, ia melihat seorang nona dengan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pakaian serba putih, la tadinya menyangka seorang pria yang


romannya gagah dan bengis, tak tahunya seorang gadis remaja
yang cantik manis, yang tubuhnya ramping!
Begitu ia bertindak di ambang pintu, mata si nona diarahkan
ke seluruh ruang. Ia melihat seorang rebah karena terluka
parah dan dua orang lagi berduduk bersemedhi dengan
tubuhnya berlepotan. Darah.
Ia nampaknya heran. Tapi terang sasarannya bukan Toan
Kui Ciang. Segera ia menyapu ke arah Hong-hu Siong, terus ia
mengawasi tajam.
“Bangsat tua she Hong-hu.’” Sekonyong-konyong ia
mendamprat, “Hari ini telah tiba hari kematianmu! Masih kau
tidak mau lekas berbangkit buat menerima kebinasaanmu?”
Hong-hu Siong mengangkat kepalanya. Dia memandang si
nona itu. Dia tak menjadi gusar atau kurang senang.
“Apakah kau Nona He?” dia tanya perlahan, tenang. “Aku
telah menduga bahwa kau bakal mencari aku. Kita berdua tidak
berselisih tidak bermusuh, sekarang ini pertemuan kita ialah
pertemuan yang pertama kali, mengapa kau hendak
membunuh aku?”
Nona itu memegang gagang pedangnya.
“Bangsa ceriwis dan cabul yang jahat, siapa pun berhak
membunuhnya!” ia kata bengis. “Apakah untuk itu di antara
kita mesti ada permusuhan dulu?”
Ce In lagi bersemedhi akan tetapi mendengar kata-kata si
nona, dia terkejut. Tentu sekali, herannya menjadi bertambah.
Aneh sikapnya dua orang itu. Hong-hu Siong memang aneh
tingkah lakunya, di dalam kalangan Kang Ouw ada yang
membusukinya, tetapi di mata ia, dialah seorang gagah perkasa
yang berhati mulia, yang sering berbuat baik.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sekarang si nona mengatakan Hong-hu Siong cabul dan


jahat, untuk itu Hong-hu Siong katanya harus dibunuh. Ia
heran, ia tidak percaya! Ia menyangsikan pendengarannya itu.
Seorang gagah perkasa dikatakan cabul dan jahat, dia mesti
gusar sekali. Tidak demikian dengan Hong-hu Siong si jago. Dia
tetap sabar.
“Siapakah orangnya yang bicara demikian terhadapmu?” dia
tanya, perlahan. Biar bagaimana, suaranya tawar.
“Tak dapat kau perdulikan itu!” si nona menjawab dengan
bentakannya. “Nama busukmu sudah tersiar sangat luas!
Apakah kau tidak punya telinga untuk mendengarnya?”
“Tidak apa kau tidak sudi menyebutkannya,” kata Hong-hu
Siong, tenang luar biasa. “Tanpa kau membilangnya, aku telah
dapat menerka beberapa bagian. Sekarang aku hendak
tanya kau, bukankah kau mendengarnya dari seorang yang
kau paling percaya?” Nona itu menjadi gusar.
“Aku bukan datang ke mari untuk mendengar pelbagai
pertanyaanmu!” katanya keras. “Hm! Apakah kau hendak
memancing keteranganku supaya kau dapat pergi dengan
diam-diam untuk membunuh orang itu? Jangan kau bermimpi!
Sekarang aku menghendaki kau terbinasa di ujung pedangku
ini!”
Hong-hu Siong menanya pula, “Kau hendak membunuh aku.
Adakah itu pikiran kau sendiri atau kau diperintahkan lain
orang?”
Nona itu agaknya tidak sabaran. Dia menegur, “Apakah kau
masih hendak memutar lidahmu untuk memperlambat waktu?”
“Bukan! Aku hanya tak sudi menjadi setan penasaran yang
mati tidak keruan!” sahut Hong-hu Siong. “Jikalau kau hendak

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membunuh aku, kau mesti mengasih keterangan supaya aku


mati puas!”
Si nona menahan sabar.
“Bagaimana kalau pikiranku sendiri? Bagaimana kalau
perintahnya lain orang?” dia tanya.
“Jikalau itu kehendakmu sendiri, kau harus mempunyai bukti
yang cukup kuat untuk membeber kejahatanku, supaya aku
menjadi rela menyerah.”
Kata-kata Hong-hu Siong ini juga jadi pemikirannya Lam Ce
In.
Nona itu melengak sejenak. Dia seperti tidak mempunyai
bukti untuk menunjuki kejahatan orang.
“Jikalau lain orang yang hendak membinasakan aku!” kata
pula Hong-hu Siong, tanpa menanti orang sempat berpikir,
“Maka pergilah kau pulang untuk memberitahukan dia itu
bahwa di dalam dunia ini ada terlalu banyak urusan yang
sangat sukar dibedakan kebenaran dan kepalsuahnya, karena
itu kau suruhlah dia bersabar lagi sekian waktu, sampai nanti
ketahuan duduknya hal yang sebenarnya. Selama hidupnya,
aku Hong-hu Siong, mungkin aku juga pernah melakukan
sesuatu perbuatan yang buruk, akan tetapi kopiah kecabulan
dan kejinahan pastilah tak dapat dipakaikan di atas kepalaku!”
“Aku tak percaya obrolan setanmu!” bentak si nona, gusar.
“Aku Cuma tahu kaulah si hantu jahat yang tak ada kejahatan
apa juga yang kau tak lakukan! Hm! Hm! Apakah kau takut
mati, hantu? Percuma-Cuma kau mainkan lidahmu untuk
menyangkal, maka kau bangkitlah menyambut ‘ pedang!”
Hong-hu Siong tertawa.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Jikalau aku takut mati, tidak nanti aku menjanjikan kau


datang ke mari!” katanya.
“Bagus!” kata si nona. “Kalau begitu, kenapa kau masih tidak
mau menggeraki tanganmu? Apakah bukan kau masih hendak
menantikan beberapa kawanmu lagi?”
“Seumurku aku tidak mempunyai kawan!”
“Baiklah! Kau mempunyai kawan, baik! Kau tidak mempunyai
kawan, baik juga! Sekarang aku hendak mengandalkan
pedangku ini untuk mengadu jiwa denganmu!”
“Jikalau kau benar hendak membunuh aku, kau bunuhlah!
Pasti aku tidak mau menggeraki tangan terhadapmu!”
Nona itu berdiri menjublak.
“Aku tidak akan membunuh orang di tangan siapa tak ada
sepotong besi juga! Lekas kau ambil tongkatmu!”
“Aku sudah bilang tidak mau menggeraki tanganku, pasti aku
tidak akan menggerakinya! Jikalau kau hendak membunuh aku,
bunuhlah! Jikalau tidak, hendak aku pergi!”
Nona itu tetap hendak menggunai cara kaum Kang Ouw
untuk membunuh orang di depannya itu, sekarang Hong-hu
Siong membantah, dia menjadi hilang pegangannya. Maka itu
ia terus berdiam saja
“Sekarang aku telah ketahui tentang dirimu,” berkata Hong-
hu Siong, sabar, “Dan aku ketahui juga siapa itu yang
menghendaki jiwaku! Jikalau aku kehilangan jiwaku tetapi
dengan begitu dapat aku membikin lenyap penasaran sesuatu
orang, itu juga suatu perbuatan baik! Baiklah, telah aku bicara,
apabila tetap kau tidak hendak membunuh aku, aku si
pengemis tua mau pergi!”
Nona itu menggigit giginya, dia menjumput tongkat di tanah.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Bangun!” serunya. “Sambutlah!”


Hong-hu Siong menyambuti tongkatnya, untuk dilemparkan
ke sisinya. Sembari tertawa, dia kata, “Apa yang diri sendiri tak
menyukai, janganlah itu dilakukan atas diri lain orang! Aku
pikir, pepatah ini cocok denganmu, ialah kau juga pasti tidak
menyukai lain orang memaksakan kau melakukan sesuatu yang
kau tak sukai!”
Nona itu menggigit gigi pula. Ia mengangkat pedangnya dan
membentak, “Baik! Kau hendak menggunai akal muslihatmu ini
untuk meloloskan jiwamu! Tak dapat aku diperdayakan! Kau
mesti dibunuh!”
Kali ini dia benar-benar telah mengambil keputusannya.
Segera pedangnya meluncur ke dadanya Hong-hu Siong!
Di saat ujung pedang maut itu hendak merampas jiwa si
pengemis, mendadak ada sinar putih bagaikan rantai perak
berkelebat, lalu terdengarlah suara senjata bentrok. Pedang si
nona kena tertangkis mental!
Hong-hu Siong menghela napas.
“Lam Tayhiap, buat apa kau usilan?” katanya perlahan.
Tapi Lam Ce In, yang telah bergerak secara tiba-tiba, tidak
membenarkan jawabannya, hanya dia memandang si nona,
untuk berkata dengan keras, “Nona, jikalau kau hendak
membunuh orang, kau harus memakai aturan! Kau menuduh
Hong-hu Cianpwe sebagai manusia cabul dan jahat tetapi kau
tak dapat menunjuki buktinya! Tak puas aku si orang she Lam
dengan caramu itu!”
Si nona menarik pulang pedangnya, untuk diperiksa, maka ia
melihat ujung senjata itu telah gompal sedikit. Ia menjadi
sangat gusar.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kau membantu setan ini, kau juga pasti bukan orang baik-
baik!” dia membentak. “Baik! Kau tidak puas, akan aku bunuh
kau dulu, baru kita bicara lagi!”
Si nona menyangka Ce In konco Hong-hu Siong, ia lantas
menyerang dengan sengit sekali, hingga pedangnya itu bersinar
berkelebatan. Tiga kali beruntun ia menikam bagian-bagian
anggauta yang berbahaya karena selama itu Ce In terus main
mundur atau berkelit.
Menampak demikian, Ce In pun jadi panas hati, maka ingin
ia menabas kutung pedang orang. Begitulah ia membacok
dengan hebat!
Si nona tahu lawan menggunai golok mustika, ia mau
menyingkir dari bentrokan
Di saat Ce In hendak berseru, “Kena!”, mendadak ia tarik
pulang pedangnya secara lincah sekali, untuk setelah itu,
segera menikam pula!
Ce In terperanjat. Syukur ia tidak menabas dengan sepenuh
tenaganya. Dengan tindakan “Poan Liong Jiauw Pou,” ia
menyingkirkan dirinya, goloknya ditarik untuk melindungi
tubuhnya. Meski demikian, ia masih terlambat, ujung bajunya
masih kena tertikam!
Si nona tak berhenti sampai disitu, terus dia mendesak, terus
dia menikam berulang-ulang.
Ce In telah mendapat .pulang tenaganya,, akan tetapi
karena rangsakan si nona, ia repot juga, ia sampai Cuma bisa
membela diri. Pembelaan dirinya itu kokoh sekali, ia pun
membuat si nona tak mampu menoblosnya.
Ketika itu juga Mo Lek telah pulih kesehatannya sampai tujuh
atau delapan bagian. Dia tetap berdiam di tempatnya, sambil
beristirahat, ia menjagai Toan Kui Ciang. Di lain pihak, dengan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

perasaan tertarik, ia menonton pertempuran itu. Ia kagum


untuk kepandaian menggunai pedang dari nona itu. Ia masih
muda tetapi ia mengerti baik halnya ilmu pedang. Maka ia kata
dalam hatinya, “Kelihatannya ilmu pedang nona itu tak
dibawahnya ilmu pedang Paman Toan dan Ceng Ceng Jie...”
Lam Ce In melayani dengan ilmu golok Yu Sin Pat-kwa Too-
hoat, maka dia bergerak dan menjaga diri dalam kedudukan
“Delapan pintu” dan “Lima tindak”. Sedikit juga dia tak kacau
meskipun dia didesak hebat. Selama bertempur itu, dengan
perhatiannya, dia mulai menginsafi ilmu pedang nona itu.
Begitulah satu kali mendadak dia berseru sambil membacok
hebat, akan kemudian merangsak terus sama hebatnya.
Si nona, dari merangsak menjadi kena terdesak, hingga ia
terpaksa main mundur.
Begitu ketarik hati Mo Lek hingga ia berseru memuji, “Bagus!
Bagus!”
Mo Lek telah bersemedhi cukup, tak takut ia terganggu
karena seruannya itu. Akan tetapi, melihat lagaknya itu, Hong-
hu Siong mendelik kepadanya.
Menyusul seruan Mo Lek, si nona bergerak pula secara luar
biasa. Dia dapat membebaskan diri dari desakan, kembali dia
balik merangsak. Di antara sinar golok, dia bergerak bagaikan
kupu-kupu berkelebatan di antara bunga-bunga. Maka itu,
mereka berdua menjadi sama hebatnya.
Nona itu heran mendapatkan Lam Ce In demikian gagah.
Tiba-tiba ia menunda penyerangannya, untuk menanya keras,
“Kau siapa? Kau begini gagah, kenapa kau kesudian menjadi
gundalnya si bangsat tua?”
Ce In berseru keras dan lama, ia melintangi goloknya di
depan dadanya. Lantas ia menjawab nyaring, “Satu laki-laki,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berjalan dia tidak menukar namanya, berduduk dia tidak


menukar shenya! Aku ialah Lam Ce In dari Gui-ciu! Nona, aku
numpang tanya she dan namamu yang mulia? Kenapakah nona
hendak membunuh Hong-hu Sianseng?”
Nona itu terkejut.
“Apakah kau Gui-ciu Lam Pat?” dia tanya cepat.
“Benar, itulah aku yang rendah,” sahut Ce In. “Ada
pengajaran apakah, nona?”
Nona itu tampak bingung. Semenjak Toan Kui Ciang
mengundurkan diri, selama sepuluh tahun ini, Yu-hiap atau
jago pengembara di jaman itu yang hidup berpetualangan,
ialah Lam Ce In yang paling ternama.
Dia telah mendengar nama orang, baru sekarang dia
menemui orangnya. Dia heran mendapatkan orang baru
berumur lebih kurang tiga puluh tahun.
Setelah berpikir sebentar, nona itu berkata sabar tapi tetap,
“Lam Tayhiap, baiklah kau jangan campur urusan umum ini!”
Ce In berkata, “Membunuh orang ialah urusan sangat besar,
mana dapat itu dikatakan urusan umum? Kau hendak
mambunuh orang, kau mesti dapat menjelaskan alasannya,
jikalau tidak, aku si orang she Lam, tak dapat aku tidak
mencampur tahu!”
Mukanya si nona menjadi merah.
“Lam Ce In, kecewa kau disebut tayhiap!” katanya nyaring.
Nyata dia tak sabaran. “Mengapa kau tak dapat membedakan
hitam dari putih? Kau kira bangsat tua ini orang macam apa?”
“Hong-hu Sianseng ialah orang gagah perkasa yang berhati
mulia!” sahut Ce In. “Siapakah yang tak tahu itu? Kau mencaci

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dan menghina Hong-hu Cianpwe, kau tak dapat menyebutkan


alasannya, itulah tak selayaknya!”
Nona itu tertawa mengejek.
“Bangsat tua she Hong-hu ini ialah bangsat tukang tipu
dunia!” kata dia nyaring. “Namanya saja kesohor tetapi
sebenarnya dialah si hantu yang biasa berbuat jahat secara
sembunyi-sembunyi! Kecewa kau menjadi tayhiap, kau kasih
dirimu diabui!”
“Kau menuduh dia jahat, mana buktinya?” Ce In tanya.
Nona itu terbangun sepasang alisnya. Dia seperti juga tak
sudi bicara. Tapi akhirnya dia mengambil juga keputusannya.
Kata dia keras, “Ibuku ialah saksinya! Apa yang dikatakan ibuku
tak dapat aku tidak percaya! Ibuku pernah melihat dengan
matanya sendiri bangsat tua ini membunuh suami orang dan
merampas isteri korbannya itu! Aku mencaci dia sebagai si
penjahat cabul, apakah aku salah? Aku mendapat tugas dari
ibuku untuk menyingkirkan dia! Lam Ce In, kau terkenal gagah
mulia, malam ini aku tidak membutuhkan bantuanmu, tetapi
kau sendiri, sedikitnya kau harus berpeluk tangan saja, kau
menonton, jangan kau menghalangi aku!”
Ce In kaget, hingga mau atau tidak, ia menoleh kepada
Hong-hu Siong. Ia melihat si pengemis gagah menghela napas
perlahan. Tentu sekali, ia menjadi heran, hingga ia beragu-ragu
dalam hatinya, “Mungkinkah benar tuduhannya nona ini?”
Ia melirik pula, tetapi ia tidak melihat orang likat atau
jengah, orang menghela napas rupanya karena merasa kasihan
atau sayang. Itulah melainkan rasa terharu.
Maka sebagai seorang yang bermata tajam dan luas
pengalamannya, ia berpikir pula, “Melihat sikapnya Hong-hu
Siong ini, dia pastilah terfitnah. Mengapa dia tidak menyangkal?

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa, dia rela membiarkan nona ini hendak membunuhnya?


Pastilah urusan yang ruwet bagian dalamnya, urusan yang dia
tidak mengingini orang luar mengetahuinya...”
Si nona melihat Ce In masih tetap menghadang, ia gusar
hingga sepasang alisnya bangun berdiri. Dia kata gusar, “Aku
telah omong jelas! Apakah kau masih hendak menghalangi
aku?”
“Aku telah mendengar tetapi masih ada bagian-bagian yang
kurang jelas bagiku,” sahut Ce In tenang. “Kau menyebut
Hong-hu Sianseng telah membunuh suami orang dan
merampas isterinya. Siapakah sepasang suami isteri itu?
Apakah she dan namanya? Selainnya ini, apakah masih ada
saksi lainnya atau bukti sesuatu barang? Dan, bagaimana
sebenarnya duduknya peristiwa dulu hari itu...”
Nona itu gusar sekali.
“Semua itu ibuku yang membilangi aku!” ia kata sengit.
“Ibuku tidak nanti mendusta! Maka itu, buat apa saksi atau
bukti barang lagi?”
Lam Ce In sebaliknya berpikir, “Kelihatannya ibunya juga
menyembunyikan sesuatu, atau dia belum menjelaskan
semua...”
Dalam sengitnya si nona sudah menyerang.
Ce In tangkis serangan itu, ia menahannya, lantas ia kata
‘nyaring, “Kau percaya ibumu, aku percaya Hong-hu Cianpwe,
inilah soal sulit! Sekarang aku berada di sini,- maka malam ini
tak dapat kau membunuh orang! Menurut pikiranku, baiklah
kau menunda, kau berhenti dulu sampai disini. Kau berikan she
dan namamu serta alamatmu juga, lalu kau menunggu sampai
aku sudah membuat penyelidikan. Selambatnya dalam tempo

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tiga bulan, pasti akan aku mengunjungi kau, untuk aku


menjenguk ibumu, guna kita bicara dengan terang dan jelas.”
Nona itu kembali gusar.
“Kau tidak mau percaya ibuku, buat apa kau menemuinya?”
dia tanya. “Hm! Jangan kau menyangka kau telah ternama
besar! Belum pasti ibuku suka menemui kau! Hayo, kau minggir
atau tidak? Jikalau tidak, jangan kau katakan aku tak sungkan-
sungkan!”
Di mulut si nona mengatakan demikian, kakinya telah
bertindak maju, dengan pedangnya ia sudah menyerang pula.
Ce In telah tidak mau mundur. Ia sudah mulai mengenal
ilmu silat nona itu, maka ia percaya, walaupun ia sulit
mengalahkannya, sedikitnya ia bakal menang di atas angin.
Hanya di dalam hatinya, ia kata, “Sungguh malu aku mesti
melayani dia... Tanpa golok mustika, ada kemungkinan aku
bukan lawannya!”
Di dalam halnya tenaga dalam atau latihan, Ce In jauh
terlebih unggul, maka itu habis menyerang hebat terus
menerus tanpa hasil, dahi si nona sudah mandi peluh.
Dia melihat lawannya tetap tenang dan segar. Lantas dia
merasa bahwa dia akan tak ungkulan. Akhirnya dia kata dengan
sangat mendongkol, “Kenapa kau mengadu jiwamu melindungi
bangsat tua ini?”
Lam Ce In menyahut sabar, “Sebabnya ialah pertama aku
percaya I long-hu Cianpwe bukan orang busuk dan kedua dia
telah melepas budi menolongi jiwaku. Kau hendak
membinasakan dia, mana aku dapat membiarkannya?”
Nona itu heran.
“Apakah itu pertolongan jiwamu?” ia tanya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Toan Kui Ciang ngelindur pula, “Su Toako! Su


Toako! Aku di sini! Aku di sini! Apakah toako masih mengenali
aku Toan Kui Ciang?”
Nona itu kaget, dia berseru, segera dia lompat ke arah Kui
Ciang.
Tiat Mo Lek lagi menjagai Kui Ciang, melihat kelakuan si
nona, dia kaget, dengan lantas dia menyambar dengan
pedangnya dan membabat seraya membentak, “Bangsat wanita
kejam! Paman Toan telah terluka parah begini rupa tetapi kau
masih hendak mencelakainya?”
Berbareng dengan itu, Ce In juga berlompat sambil
menyerang.
Nona itu melihat pedangnya Mo Lek, dia menangkis dengan
ilmu huruf “Menempel,” lalu meneruskan memutar tangan, dia
menyampok ke belakang kepada goloknya jago dari Kui-ciu.
Terus dia berseru dan menanya, “Tahan dulu! Siapakah dia?”
Dia menunjuk kepada Toan Kui Ciang.
Ce In menjawab tenang, “Dialah Yu-ciu Tayhiap Toan Kui
Ciang! Apakah kau pernah mendengar namanya Toan
Tayhiap?” Nona ini melengak, dia terkejut.
“Benarkah dia Toan Kui Ciang?” dia menegasi. “Habis mana
orang yang bernama Su It Jie?” Ce In juga heran.
“Nona, kau kenal Su It Jie?” ia menanya cepat.
“Jangan tanya aku!” kata nona itu. “Kau bilang saja
sekarang, bagaimana dengan Su It Jie?”
“Su It Jie?” Ce In balik menanya. “Dia telah dipaksa An Lok
San hingga dia telah membunuh diri!”
Wajah si nona menjadi padam.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kalau begitu Toan Tayhiap ini telah dilukakan An Lok San?”


dia tanya.
Ce In heran, bukannya ia menjawab, ia justeru menanya,
“Nona! Kau rupanya ketahui duduknya kejadian! Tidak salah,
untuk menolongi Su It Jie, Toan Tayhiap sudah menyateroni An
Lok San di istananya, di sana dia sendirian saja, dia tidak
sanggup melawan banyak kaki tangannya An Lok San, maka
dia terlukakan parah! Syukur kami bertemu dengan Hong-hu
Cianpwe ini, dia memberikan pertolongannya, jikalau tidak,
pastilah sudah sedari siang-siang Toan Tayhiap kehilangan
jiwanya...”
Lam Pat berhenti sejenak, lantas dia menambahkan, “Kami
juga tadi malam telah bertarung di dalam istananya bangsat
she An itu, sayang kami terlambat, kami tak berhasil menolongi
Su It Jie...”
“Ah, aku tahu sudah!” kata nona itu, sekarang sikapnya
berubah. “Syukur ada kamu, maka Toan Tayhiap tidak terjatuh
ke dalam tangan bangsat she An itu, bukankah?”
“Betul, tepat terkaanmu!” Mo Lek campur bicara. “Mari aku
jelaskan pula! Lukanya Lam Tayhiap dan lukaku ini juga Hong-
hu Lo-cianpwe yang menyembuhkannya! Bahkan Hong-hu Lo-
cianpwe telah memukul mundur barisan pengejar dari bangsat
she An itu! Kenapa kau mengatakan lo-cianpwe busuk?”
Nona itu tampak bingung. Ia berpikir.
“Dan bagaimana dengan isterinya Su It Jie?” tanya ia
kemudian.
Ce In melengak.
“Aku tak tahu...” sahutnya.
“Gila!” si nona membentak. “Bagaimana kau tak tahu?”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Memang Ce ln tidak tahu apa-apa sebab Kui Ciang belum


pernah menuturkannya. Ketika Mo Lek menariknya, mengajak
ia membantui Kui Ciang, Mo Lek juga tidak menyebut-nyebut
hal isteri It Jie itu.
Melihat nona itu memperhatikan urusan dua keluarga Toan
dan Su, walaupun ia tak menyukai sikap si nona, Mo Lek sudi
juga bicara. Ia kata, “Kami tidak melihat isteri dan anaknya
orang she Su itu. Mungkin mereka masih terkurung An Lok San
di sana. Jikalau kau ingin ketahui hal mereka, jikalau kau
mempunyai nyali besar, pergilah kau cari An Lok San untuk
menanya padanya!”
Disenggapi Mo Lek, parasnya si nona berubah. Mendadak
dengan pedangnya dia menuding Hong-hu Siong, terus dia kata
bengis, “Dengan memandang Toan Tayhiap maka malam ini
aku memberi ampun kepada jiwamu, hanya lain kali, apabila
aku telah mendapat bukti dari perbuatanmu yang jahat, akan
aku perhitungan pula denganmu!”
Hong-hu Siong tertawa berduka. Ia nampak mau bicara,
tetapi akhirnya batal.
Nona itu mendadak berlari keluar, untuk lompat naik ke ?
atas punggung kudanya, lantas dia berkata nyaring, “Aku He
Leng Song! Kamu boleh beritahukan namaku ini kepada Toan
Tayhiap!”
Menyusul itu terdengar suara kelenengan kuda, yang
kudanya dikaburkan, hingga lenyaplah suaranya. Hingga
sunyilah gelanggang itu.
Tiat Mo Lek heran bukan main.
“Hong-hu Lo-cianpwe,” kata ia pada Hong-hu Siong. “Nona
He ini tangguh tetapi dia tak nanti dapat melebihkan U-bun
Thong, selagi dengan mudah saja lo-cianpwe dapat

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengalahkan orang she U-bun itu, mengapa lo-cianpwe seperti


jeri terhadapnya? Bukankah dia pasti bukan lawan lo-cianpwe?”
Hong-hu Siong tertawa meringis.
“Aku si pengemis tua menerima cacian dan dibikin
mendongkol, itu perkara yang lumrah, itulah tidak ada artinya,”
sahutnya. “Sebenarnya ingin aku terbinasa di tangan dia,
supaya dia tak usah pergi membunuh lain orang...”
Tiat Mo Lek heran. Ia hendak menanya pula, atau Hong-hu
Siong sudah mendahului, “Aku si pengemis tua sudah bicara
banyak, tentang urusan ini tak suka aku membicarakannya
pula. Lam Tayhiap, jikalau kau percaya aku si pengemis tua,
aku minta sukalah kau jangan perdulikan lagi urusanku ini.”
Ce In menduga pasti orang mempunyai kesukaran yang tak
dapat dijelaskan. Maka ia pikir, “Menurut dia, rupanya dia
bertanggung jawab untuk urusan lain orang, tetapi tuduhan
cabul dan jahat itu hebat sekali, bagaimana dia dapat
menerimanya? Di dalam urusan lain bolehlah orang menjamin
sesuatu...”
Karena berpikir begini, ia terus berdiam.
Mo Lek juga tidak menanya lagi.
“Langit sudah terang,” berkata Hong-hu Siong kemudian.
“Aku si pengemis tua masih mempunyai lain urusan, ingin aku
berangkat lebih dulu. Tentang Toan Tayhiap, tak usahlah kamu
buat kuatir, mungkin lagi dua jam dia bakal mendusin. Di sini
ada satu peles obat, kamu kasihlah dia makan satu hari tiga
butir, setiap kalinya satu. Setelah dia makan habis obat ini,
mungkin dia akan mendapat pulang kesehatannya seperti
sediakala.”
Lam Ce In menyambuti peles obat itu. Ia melihat jumlah
butirnya dua puluh. Maka itu, itulah obat untuk tujuh hari.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Lo-cianpwe,” ia tanya jago tua itu, “Apakah lo-cianpwe


hendak memesan sesuatu untuk Toan Tayhiap?”
Hong-hu Siong tertawa. Dia kata, “Aku si pengemis tua telah
terlalu sering menerima budi orang, dari itu tak suka aku bicara
dari hal pembalasannya. Laginya, untuk membalas begitu
banyak, tentu aku tidak sanggup. Bukankah barusan kamu juga
telah menolongi selembar jiwaku? Itu pun sudah berarti
pembalasan.”
Ia berhenti sebentar, baru ia menambahkan lagi, “Toan
Tayhiap menjadi seorang yang sadar akan budi dan dendaman,
kalau sebentar dia mendusin, aku minta jangan kamu
memberitahukan dia bahwa obat ini pemberianku si pengemis
tua, supaya tak usahlah dia buat pikiran.”
“Itulah tak dapat, lo-cianpwe!” kata Mo Lek, menentang.
“Jikalau dia tanya siapa yang menolongnya, tak dapat kami
tidak menjelaskan!”
“Begini saja,” kata si pengemis tua. “Kau beritahukan dia hal
ditolongnya lukanya, dan halnya obat, kau bilang itulah obatnya
Lam Tayhiap. Bukankah siapa mengerti ilmu silat, dia
senantiasa membekal obat-obatan buatan sendiri, kecuali yang
beda hanya khasiatnya? Jikalau diberitahukan aku si pengemis
tua yang memberikan, nanti menjadi tidak enak...”
Mendengar kata-kata orang, Ce In menjadi timbul pula
kecurigaannya.
Tiat Mo Lek tertawa. Dia kata pula, “Lo-cianpwe yang
mengobati dia kalau Toan Tayhiap ketahui itu, bukankah itu
sama membuat pikirannya?”
Hong-hu Siong berpikir.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kalau begitu baiklah, akan aku memesan sesuatu


kepadanya,” kata dia. “Dengan begini maka kita satu pada lain
jadi tidak berhutang budi...”
“Apakah itu, cianpwe?” Ce In tanya.
Hong-hu Siong mengeluarkan sebuah cincin besi, ia masuki
itu ke subuah jerijinya Toan Kui Ciang, sembari melakukan itu,
ia kata, “Tolong kamu sampaikan pesanku kepada Toan
Tayhiap. Aku minta pertolongannya. Kalau nanti dia bertemu
dengan seseorang yang memakai cincin serupa ini, mohon dia
memandang mukaku, sukalah dia berlaku murah terhadapnya.”
Mo Lek heran hingga ia berpikir, “Entah pengemis tua ini
hendak melakukan kegaiban apa...?
Meski ia heran dan curiga, ia tidak berani menanya apa-apa.
Ia muda sekali usianya tetapi pengalamannya kaum Kang Ouw
sudah cukup banyak, ia ketahui pantangan kaum itu. Maka
dengan hormat ia menyahuti.
“Jangan kuatir, lo-cianpwe, nanti aku sempatkan pesan lo-
cianpwe ini kepada Toan Tayhiap.”
Hong-hu Siong menjumput tongkatnya, terus ja berjalan
keluar. Di ambang pintu, mendadak ia berhenti dan menoleh,
kepada Lam Ce In ia berkata, “Ah, hampir aku lupa! Pada bulan
yang lalu di kota Tok-koan, aku telah bertemu dengan gurumu,
Lam Tayhiap.”
“Apakah ada pesannya guruku itu?” Ce In tanya.
“Gurumu itu membilangi bahwa dia mau pergi ke Hoay-yang,
akan tetapi karena ada urusan lain, keberangkatannya itu
ditunda sampai lain bulan tanggal pertengahan. Dia
membicarakan hal kau, tayhiap, katanya segala perbuatan
tayhiap dalam dunia Kang Ouw beberapa tahun ini, semua dia
sudah ketahui. Dia menyatakan girang dan syukurnya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kemudian dia tanya aku, aku kenal tayhiap atau tidak. Aku
bilang nama aku pernah dengar, orang aku belum pernah
menemukan. Lantas gurumu kata, dalam beberapa hari ini
tayhiap akan pergi ke Hoay-yang. Dia kata padaku, ‘Thio Sun
yang menjadi Thaysiu kota Hoay-yang adalah seorang berarti,
maka pengemis tua, jikalau kau tidak mempunyai urusan apa-
apa, tak halangannya kau jalan-jalan ke kota Hoay-yang itu.
Aku tahu kau biasa menyukai anak-anak muda, maka bolehlah
kau sekalian menemui muridku itu. Apabila kau bertemu
dengannya, tolong kau sampaikan pesanku ini kepadanya,
umpama kata dia mempunyai urusan lain di Ngo-goan, dia tak
usah menunggui aku di Hoay-yang.’ Ha, ha! Tidak kusangka,
sebelum aku sampai di Hoay-yang, di kuil rusak ini aku telah
bertemu denganmu secara kebetulan ini!”
Baru sekarang Lam Ce In ingat, ketika tadi mereka baru
memasuki kuil, Hong-hu Siong mengawasi ia dengan perhatian
luar biasa. Pikirnya, “Tidak heran sebelum menanyakan jelas
tentang diriku, dia sudah lantas sudi mengobati kami. Rupanya
suhu telah melukiskan roman dan potongan tubuhku
kepadanya.”
Sebenarnya Ce In bersangsi juga. Toan Kui Ciang belum
sembuh, dia seharusnya diantar pulang ke Touw Ke Ce, untuk
dia berobat dan beristirahat. Tiat Mo Lek harus menjadi
pelindungnya.
Mo Lek cerdik dan gagah, untuk pantarannya, sukar mencari
tandingannya, meski begitu, dia tetap seorang bocah, tak
tenang hati Ce In membiarkan bocah itu sendirian mengantari
Kui Ciang. Maka sekarang, kebetulan ia mendengar pesan
gurunya itu, ia lantas mengubah pikiran, mengambil suatu
keputusan baru.
Begitulah, sehabis kepergiannya Hong-hu Siong, orang she
Lam ini kata pada Mo Lek, “Mo Lek, aku tak jadi pergi ke Hoay-
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang, hendak aku menemani kau mengantar Toan Tayhiap ke


Touw Ke Ce. Di sana, setelah menolongi tayhiap, apabila kau
tidak mempunyai urusan lain, boleh kau turut aku pergi ke
Hoay-yang untuk menemui guruku.”
Mo Lek girang sekali.
“Itulah bagus!” katanya. “Tapi, bukankah kau mempunyai
suratnya Kwe Cu Gie yang hendak disampaikan kepada Thio
Thaysiu? Dengan kau mengantari kami, apakah urusanmu itu
tidak menjadi gagal?”
“Tidak,” sahut Ce In. “Urusan surat itu terlambat satu bulan
pun tidak apa. Surat itu dikirim Kwe Leng-kong sambil lalu dan
bunyinya juga Cuma mengajak Thio Thaysiu bekerja sama
andaikata terbit bencana. Mereka itu berdua saling menghargai,
sekalipun tidak ada surat menyurat, apabila terbit sesuatu
kejadian, pasti mereka bekerja sama, untuk membela negara.”
Mo Lek mengangguk.
“Sekarang belum terang tanah, nanti aku pergi mengambil
pakaian untuk salin,” kata dia.
Ce In tahu orang berniat mencuri. Maka dia tertawa. Dia
pesan, “Kau berhati, hati, jaga jangan sampai kau kena
terbekuk orang!”
“Itulah tak bakal terjadi!” kata Mo Lek dengan pasti.
Bocah itu pergi sampai setengah jam, masih dia belum
kembali. Ce In menjadi berkuatir juga.
“Jangan-jangan kekuatiranku berbukti...” pikirnya bergelisah.
Justeru itu mendadak terdengar suara roda kereta di luar
kuil.
Orang she Lam ini kaget, lantas ia pergi melihat. Lantas
hatinya menjadi lega.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Itulah Mo Lek yang kembali, hanya bersama sebuah kereta


keledai! “Eh, mengapa kau mencuri kereta keledai?” ia tegur.
“Inilah bukan kereta curian!” sahut Mo Lek. “Aku tukar ini
dengan sepotong uang goanpoo emas!”
Mau tidak mau, Ce In tertawa.
“Sungguh kau berbahagia!” katanya. “Kau masih mempunyai
goanpoo emas!”
“Tetapi uang emas itu bukan kepunyaanku, itulah miliknya
seorang hartawan. Aku pergi mencuri beberapa potong pakaian
di rumahnya, sekalian saja aku jemput beberapa potong
goanpoonya. Lantas aku pergi ke bengkel kereta. Hari sudah
mendekati fajar, tuan rumah masih belum mendusin dari
tidurnya, aku tak sempat mengasih bangun, dari itu aku
lemparkan saja sepotong goanpoo, lantas aku siapkan kereta
keledainya ini. Celaka keledai ini, dia tidak dengar kata, ketika
mau keluar dari pintu pekarangan, dia rewel, dia meringkik
keras suaranya yang berisik membikin sadar tuan rumah.
Mulanya mereka berteriak-teriak, ‘Ada pencuri! Ada pencuri!’
Dari atas kereta aku lemparkan uang goanpoo sambil aku
berkata nyaring, ‘Aku bukan pencuri! Aku hanya malaikat uang!’
Rupanya mereka lantas melihat uang emas itu, sebentar saja
sirap teriakannya, diganti dengan seruan kegirangan, bahkan
mereka tidak mengejar juga!”
Habis berkata itu, Mo Lek tertawa berkakak, tapi lekas ia
menambahkan, “Sebenarnya, mencuri tetap mencuri, Cuma
bedanya aku mencuri hartanya si hartawan, tidak si melarat!
Dengan sepotong goanpoo emas dapat dibeli sepuluh buah
kereta keledai, mereka itu hilang sebuah kerela tetapi
mendapat sepotong goanpoo, mereka masih untung besar!”
Mau atau tidak, Ce In mesti tertawa.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu cuaca sudah terang. Keduanya lantas menyalin


pakaian, kemudian mereka menggotong Toan Kui Ciang dinaiki
ke atas kereta, direbahkan di tempat yang lunak, yang Mo Lek
telah sediakannya.
Ce In yang memegang tali les, maka selang satu jam,
keduanya sudah sampai di wilayah kecamatan Lim-tong. Hati
mereka lega sebab mereka melihat tidak ada yang mengejar.
Dengan begitu dapatlah mereka berdua memasang omong
dengan asyik. Banyak yang dapat mereka bicarakan.
(Lanjutan)

Ce In seorang hiap-su, orang gagah kenamaan dan Mo Lek


anak muda keluarga Rimba Hijau. Saking gembira, sering
mereka tertawa.
"Kau masih begini muda, sudah pandai kau mencuri!" kata si
orang she Lam. "Kalau nanti kau sudah dewasa, kau bakal jadi
liehay sekali! Cuma aku kuatir nanti tak ada orang yang berani
membuka perusahaan piauwkiok!"
"Aku, aku masih terpaut jauh!" kata Mo Lek tertawa. "Kau
tahu siapa yang menjadi malaikat pencuri nomor satu di kolong
langit ini?"
"Dialah Sam-ciu Sin-kay Kie Tie," sahut Ce In.
"Bukan! Sam-ciu Sin-kay telah orang sisihkan! Sekarang ini
yang nomor satu ialah Khong Khong Jie! Dia pernah mengadu
kepandaian dengan Kie Tie. Kie Tie dapat mencuri sebatang
seruling kemala dari Pangeran Leng Ong, sebaliknya Khong
Khong Jie dapat mencurinya dari tangan Kie Tie sendiri! Mereka
bertaruh, Kie Tie kalah! Khong Khong Jie telah mengulangi
pencuriannya sampai tiga kali, hingga Kie Tie takluk benar-
benar, maka juga Kie Tie rela menyerahkan seruling itu, buat
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong 'Khong Jie menyerahkan pulang pada Leng Ong untuk


mendapat hadiah. Sekarang ini di dalam kalangan Hek Too
hampir tak ada yang tak mengetahui julukan Biauw Ciu Khong
Khong!"
"Telah aku dengar nama besar dari Khong Khong Jie," kata
Ce In, "Cuma aku tahu hal ilmu pedangnya. Sayang aku belum
pernah bertemu dengannya."
Tiat Mo Lek mengawasi sahabatnya dan kata sambil tertawa,
"Sekarang kau bakal pergi ke rumahnya ayah angkatku, ada
kemungkinan kau bakal bertemu dengan Khong Khong Jie.
Umpama kata kau tidak bertemu dengan Khong Khong Jie
sendiri, mungkin dengan adik seperguruannya, yaitu Ceng Ceng
Jie!"
Lam Ce In heran. Sebenarnya ia mau menanya, untuk minta
keterangan, tetapi mereka mendadak mendengar Toan Kui
Ciang menjerit, "Aduh!"
"Bagus, dia tahu merasa nyeri," kata Ce In.
Benar saja, lewat sekian lama Kui Ciang dapat membuka
mata.
"Oh, saudara Lam, kau di sini?" kata orang she Toan itu.
"Mana Su Toako? Di sini di mana? Apakah aku lagi bermimpi?"
Biar bagaimana, pikirannya Kui Ciang masih kacau.
"Toan Toako, kita sudah lolos dari bahaya," Ce In
memberitahukan. "Kita sekarang berada di dalam wilayah Lim-
tong."
Kui Ciang berpikir, lantas ia mulai ingat segala apa. Tapi ia
masih berpikir terus.
Sementara itu roda kereta juga berputar tak hentinya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Setelah sadar dan merasakan nyeri, Kui Ciang pun merasai


bagaimana ia terkocok pulang pergi di atas kereta itu, hingga
kesadarannya pulih dengan cepat, hingga ia menjadi ketahui
bahwa ia bukan lagi tidur bermimpi.
Lam Ce In memeluki sahabat itu. Ia melihat muka orang
yang pucat dan matanya tak bersinar terang.
"Su Toako, kau mati bersengsara..." kemudian terdengar Kui
Ijiang berkata. "Akulah yang mencelakai kau...!" Suaranya
perlahan, lalu dia mengucurkan airmata.
"Toan Toako, kau mesti pelihara dirimu baik-baik," Ce In
berbisik. "Kau mesti mencari balas untuk Su Toako!"
Kui Ciang terkejut. Segera berkumandang pesannya Su It
Jie, " Toan Toako, daripada aku yang hidup untuk mencari
balas, lebih baik kau! Supnya kau tidak dipaksa mereka, aku
akan berangkat terlebih dulu! Kau sayangilah dirimu, pergi kau
menoblos keluar!"
Ia pun lantas ingat Louw-sie, isterinya It Jie, serta bayinya,
yang masih berada di mulut harimau. Maka ia mengertak gigi,
ia menahan keluarnya airmatanya. Seperti juga ia lagi
menghadapi arwah It Jie, ia kata, "Benar, Su Toako, aku akan
dengar kata-katamu!"
Terus ia kata pada Ce In, "Saudara Lam, aku bikin kau
berabeh! Untukku, kau sudah menentang bahaya!"
Ia pun kata pada Tiat Mo Lek, "Mo Lek, anak baik! Kau tidak
dengar pesanku tetapi aku tidak akan menegurmu...!"
Ce In dan Mo Lek berlega hati. Kui Ciang sudah sadar dan
menjadi tenang.
Kemudian Kui Ciang mencoba mengerahkan tenaganya. Ia
merasa seluruh tubuhnya lemah, tak ada tenaganya sedikit

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

juga. Ia menjadi masgul sekali hingga ia menarik napas


panjang.
"Kiranya aku terluka begini parah..." katanya. "Sampai kapan
aku baru dapat menuntut balas...?"
"Kouwthio, legakan hati," Mo Lek menghibur. "Lo-cianpwe
Hong-hu membilangi kami, setelah lewat tujuh hari,
kesehatanmu bakal pulih seperti sediakala!"
Kui Ciang melengak.
"Hong-hu Siong?" katanya, mengulangi. "Apakah kau
maksudkan Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, satu di antara
Kang Ouw Cit Koay?" Walaupun dia heran, Kui Ciang menjadi
tenang.
"Benar," Mo Lek menjawab. "Luka kita semua diobati oleh
Hong-hu Lo-cianpwe."
"Kalau begitu, jiwaku jadi telah ditolong oleh lo-cianpwe itu?"
Kui Ciang menegaskan.
"Benar," Mo Lek memberi kepastian. "Luka kouwthio
mengeluarkan darah tak hentinya, luka di dalam juga parah,
lantas Hong-hu Lo-cianpwe menotok membikin darah itu
berhenti, lalu itu disusul dengan pertolongan mengurut serta
arak obat yang diminumkan."
Kui Ciang berdiam, paras mukanya berubah. Akhirnya ia
menghela napas.
"Aku tidak sangka bahwa diluar tahuku, aku telah mendapat
pertolongan jiwa dari dia," katanya. "Aku telah berhutang budi,
sungguh berat menerimanya..."
Mo Lek heran sekali hingga ia tercengang. Ia heran tetapi ia
tidak berani menanya apa-apa. Budi toh bisa dibalas. Mudah,
bukan? Toh Kui Ciang bersusah hati. Kenapa?
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apakah ada yang tak tepat, saudara Toan?" tanya Ce In.


Beda dari si bocah, orang she Lam ini berani mangajukan
pertanyaan.
Kui Ciang memandang penolongnya itu.
"Saudara Lam, kau telah menolong aku, aku sangat
bersyukur terhadapmu," ia kata. "Tapi kita ada dari satu
golongan, aku menerima budi kau, aku puas. Akan tetapi Hong-
hu Siong? Aku sudah menerima budinya, aku tak tahu
bagaimana nanti kelak di kemudian hari..."
Ce In dan Mo Lek heran, sampai mereka terperanjat. Hampir
berbareng keduanya menanya, "Bukankah Se-gak Sin Liong
juga orang dari Hiap-gie-too?"
"Saudara Ce In, kau muncul lebih belakang belasan tahun
daripada aku, tak heran kau tak ketahui hal ikhwal dia itu," kata
Kui Ciang, menerangkan. "Pada itu waktu, nama dia tercemar
sekali."
Ce In heran hingga ia sudah lantas menanya pula, "Namanya
tercemar? Menurut kau ini, bukankah ia jadi sudah pernah
melakukan perbuatan-perbuatan buruk? Kenapa yang aku
dengar semua hal-hal yang baik? Bahkan guruku pernah
membilangi aku, meskipun sepak terjangnya Hong-hu Siong
aneh sekali, dia tak kecewa menjadi orang Hiap-gie-too."
"Kalau begitu, gurumu itu, saudara Lam, dia
menyembunyikan apa yang buruk dan memuji apa yang baik.
Memang benar Hong-hu Siong telah melakukan perbuatan-
perbuatan baik, malah itu melebihkan banyaknya perbuatan-
perbuatannya yang busuk. Perbuatannya yang busuk itu dapat
membikin orang menudingnya dengan rambut kepala bangun
berdiri!"
Mukanya Lam Ce In menjadi pucat. Benar-benar dia heran.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Toan toako," katanya, "Apakah toako dapat menuturkan


beberapa diantara perbuatan-perbuatannya Hong-hu Siong
itu?"
"Baik!" menjawab Kui Ciang. "Nanti aku tuturkan
perbuatannya yang buat beberapa puluh tahun telah menjadi
buah bibir orang banyak. Dia pernah merampas harta tak halal
dari kedua Ciat-touw-su Louw Liong dan Khouw Ciu, harta itu
dipakai menolongi rakyat kurban-kurban bencana sungai Huang
Hoo. Seorang diri dia telah menempur dan menyingkirkan lima
jago dari Yan-tio. Dia pun telah mendamaikan kedua partai
Khong Tong dan Yan San yang berselisihan hingga dengan
begitu bencana Rimba Persilatan dapat dihindarkan."
"Semua hal itu aku sudah ketahui," kata Ce In. "Coba kau
lulurkan bagian-bagian yang mencemarkan namanya itu."
"Diantara itu ada beberapa yang hebat," Toan Kui Ciang
kata. "Pada satu waktu ada beberapa orang pergi ke Thian San
mencari teratai salju, waktu mereka itu berjalan pulang, mereka
dipegat, dibegal dan dibunuh, cuma satu diantaranya yang
dapat lolos. Satu waktu ia melindungi satu penjahat cabul gelar
Say Cek Hong, lantaran mana dia melukai It Teng Siansu dari
Siauw Lim Pay, hingga pihak Siauw Lim Pay mencarinya guna
menuntut balas, tetapi ketika kemudian pihak Siauw Lim
mendengar dia merampas harta untuk menolongi kurban-
kurban banjir, perkaranya tidak dilarik panjang, cuma Say Cek
Hong yang dicari dan disingkirkan..."
"Apakah dia pernah membunuh suami orang dan merampas
isteri kurbannya itu?" tiba-tiba Mo Lek memotong.
Kui Ciang heran hingga dia mendelong mengawasi.
"Kenapa kau ketahui peristiwa itu?" dia balik menanya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In pun terkejut, hingga dia menanya keras, "Ya,


benarkah kejadian itu?"
"Peristiwa itu masih menjadi soal gelap sampai pada
sekarang ini," berkata Kui Ciang. "Hanya menurut sangkaan,
sembilan dalam sepuluh mungkin benar perbuatan Hong-hu
Siong..."
Ce In berdiam, otaknya bekerja.
"Sebenarnya, bagaimanakan duduknya itu," ia tanya. Kui
Ciang suka menceritakan.
"Itulah peristiwa pada dua puluh tahun yangbaru lalu," kata
ia. "Ketika itu ada sepasang yu-hiap atau jago pengembara
muda. Yang pria bernama He Seng To dan yang wanita Leng
Soat Bwe. Telah banyak perbuatan gagah dan mulia yang
mereka itu lakukan. Setelah bersatu tujuan, mereka juga
bersatu hati, demikian sesudah mengikat tali pertunangan,
mereka lantas menikah. Bukan main ramainya perayaan nikah
mereka itu. Orang-orang Kang Ouw, kenal atau tidak,
berduyun-duyun datang untuk menghadiri, guna memberi
selamat. Siapa tak kagum menyaksikan sepasang sejoli itu
sama gagah, sama mulia hatinya? Aku menjadi sahabatnya
kedua mempelai, aku pun menjadi salah satu tetamu mereka.
Diluar dugaan siapa juga, justeru di malam pernikahannya,
sepasang pengantin itu menemui kenaasan mereka... Aku
masih ingat benar peristiwa itu. Bersama banyak yang lain, kita
bergurau di kamar pengantin, habis itu kami berkumpul pula
melanjuti menenggak air kata-kata, hingga semua menjadi
separuh sinting. Justeru itu dari kamar pengantin terdengar
jeritan keras, hebat dan menyayatkan! Segera aku sadar dari
sintingku, lupa pada adat istiadat, aku memburu ke dalam,
masuk terus ke dalam kamar. Tiba di dalam, aku tercengang!
Mempelai laki-laki roboh di lantai dan mempelai wanita lenyap!
Dengan lantas aku mengasih bangun pada He Seng To. Dia
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

telah terluka sangat berat hingga dia tak dapat bicara: Dengan
menaruh mulutku di telinganya, aku tanya dia berulang-ulang,
'Siapa si penjahat? Siapa si penjahat?' Dia masih mengenali aku
sebagai sahabatnya, dia mengawasi aku, dia suka menjawab.
Dengan tangan gemetar, dengan jeriji telunjuknya, dia
mencelup ke darahnya, lantas dia menulis di lantai. Dia
mencoret-coret beberapa kali, tulisannya tak keruan. Sayang
sebelum ia menulis habis, napasnya sudah berhenti berjalan.
Ah, sinar matanya! Tak dapat aku lupakan itu! Dia seperti minta
tolong aku membalaskan sakit hatinya itu...! Aku perhatikan
tulisannya itu. Huruf pertama 'Hong'. Huruf kedua baru saja
dua coretan yang mirip huruf 'Sip' - 'Sepuluh'. Aku katakan
mirip sebab tulisannya miring dan panjangnya tak berjauhan. Di
dalam dunia ini tidak ada orang she Hong, sebab 'Hong' itu
adalah 'Hong' yang berarti 'Raja'. Sebelum aku mengutarakan
dugaanku, lantas ada orang yang berseru, 'Si pembunuh
pastilah Hong-hu Siong!'"
"Kalau orang hanya mengandal tulisan tak lengkap itu, itu
belum dapat dipastikan," kata Ce In. "Itulah bukti yang tak
sempurna."
"Benar," Kui Ciang bilang. "Ada beberapa orang yang
berpendapat sama seperti kau, saudara Lam. Banyak yang
ragu-ragu. Ada pula yang menyangka mungkin si penjahat
pesuruhnya Raja. Ketika itu diketahui He Seng To bermusuh
dengan Kong-sun Tam, salah seorang Wiesu dari istana.
Mungkin si pembunuh ialah Wiesu she Kong-sun itu."
"Dugaan itu beralasan juga sedikit," kata Mo Lek.
"Tak beralasan sama sekali!" tiba-tiba kata Kui Ciang
nyaring.
Tiat Mo Lek melengak, Lam Ce In berdiam. Keduanya heran.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dua-dua she Kong-sun dan Hong-hu adalah rangkap," Toan


Kui Ciang menjelaskan. "Untuk penulisannya, huruf 'Kong' dari
Kong-sun jauh lebih sederhana daripada huruf 'Hong' dari
Hong-hu. Sekarang cobalah pikir! Ketika itu He Seng To lagi
mendekati kematiannya, kenapa dia bukannya menulis huruf
'Kong' hanya huruf 'Hong' yang terlebih sukar, yang lebih
banyak coretannya itu? Jikalau benar si penjahat ialah Kong-
sun Tam, cukup dia menulis satu huruf 'Kong' dan lantas orang
mengerti. Pula tak usahlah dia memutar jalan, bukannya
menunjuk 'Kong-sun' hanya orangnya kaisar - 'Hongte'. Lainnya
hal lagi, ilmu silat He Seng To dan I.cng Soat Bwe lebih liehay
daripada ilmu silatnya Kong-sun Tam. Jadi tidaklah mungkin
Kong-sun Tam dapat membinasakan He Seng To dan lalu
merampas Leng Soat Bwe. Jadinya orang membelai Hong-hu
Siong cuma disebabkan orang menyayangi nama baiknya
sebagai orang gagah, untuk menolong membebaskannya dari
tuduhan."
Mo Lek tunduk. Dia sependapat dengan "orang" yang
disebutkan Kui Ciang itu.
Lam Ce In terus heran dan bersangsi. Ia ragu-ragu sangat.
"Menurut bicaranya Toan Toako ini, perbuatan-perbuatan
baik dan mulia dari Hong-hu Siong jauh terlebih banyak
daripada perbuatan-perbuatannya yang buruk," ia berpikir.
"Satu hal saja, yaitu menolong rakyat dari bencana alam, sudah
suatu jasa yang besar. Hanya benar juga, perbuatan buruknya
dapat membuat rambut orang bangun berdiri... Itulah dua
macam perbuatan yang sangat bertentangan satu dengan lain.
Menurut pantas, tak layaknya itu dilakukan oleh satu orang.
Masih ada satu hal lain lagi. Guruku menjadi seorang yang
sangat dapat membedakan perbuatan baik, daripada perbuatan
jahat, jikalau kelakuannya Hong-hu Siong benar demikian
buruk, mustahil guruku tak menuturkannya kepadaku? Mustahil
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

karena menyembunyikan perbuatan buruk itu, guruku tak


menyebutnya sama sekali? Bukankah heran, sebaliknya
daripada membenci, guruku justeru mengikat persahabatan
dengan Hong-hu Siong?"
Toan Kui Ciang melihat orang berdiam saja dan agak
bersangsi, ia dapat menerka hati sahabat ini. Ia hanya berdiam
sebentar, lantas ia menyambungi keterangannya.
"Peristiwa terjadi pada dua puluh tahun yang sudah lampau,"
kata ia. "Setelah peristiwa itu, jarang sekali Hong-hu Siong
muncul di muka umum, dan kapan orang mendengar pula
tentangnya, semua dari * perbuatan-perbuatanhya yang mulia
dan baik, benar ada satu atau dua yang buruk, tetapi itu
bukanlah kejahatan besar. Itulah sebabnya mengapa aku
menjadi berlaku ayal-ayalan mewujudkan pembalasanku untuk
sahabatku itu. Hanya dapat aku terangkan, apabila aku berhasil
memperoleh keterangan yang benar, tetap aku akan membuat
perhitungan dengannya!"
"Didalam itu hal telah ada satu orang yang hendak membuat
perhitungan dengannya," kata Mo Lek.
Kui Ciang heran hingga matanya menjadi terbuka lebar.
"Siapa?" dia tanya, cepat.
"Dialah seorang nona umur lebih kurang dua puluh tahun,"
Mo Lek menjawab. "Dia menyebut dirinya He Leng Song. Nona
itu kata kau mungkin ketahui tentangnya."
Kui Ciang menjadi sangat ketarik hati.
"Bagaimana romannya nona itu?" dia tanya, bernapsu.
"Dimanakah dia bertemu dengan Hong-hu Siong? Di manakah
hal ini kau dengarnya, ataukah kau mengetahuinya sendiri?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku melihat dan mendengarnya sendiri," sahut Mo Lek.


"Tempatnya ialah di dalam kuil tadi."
Lantas pemuda ini memberikan penjelasannya, kemudian ia
mempetakan potongan tubuh serta romannya nona He Leng
Song itu.
Sampai disitu, Lam Ce In turut bicara. Ia kata perlahan, "Aku
tidak tahu bahwa urusan ini menyangkut urusannya He
Tayhiap. Hanya, oleh karena Hong-hu Siong telah menolong
jiwa kita bertiga, maka selama urusan belum menjadi terang
benar-benar, ingin aku menghadang dahulu di depannya nona
itu. Toan Toako, adakah kau menyesali sikapku ini?"
Toan Kui Ciang menggeleng-geleng kepala. Ia berdiam.
"He Leng Song... He Leng Song..." katanya kemudian,
perlahan dan berulang-ulang. Parasnya pun menandakan ia
sangat ragu-ragu.
Sebenarnya di saat itu, pada benak kepalanya telah
berbayang wajahnya seorang wanita lain, ialah Leng Soat Bwe.
Gambaran He Leng Song dari Mo Lek justeru gambaran Leng
Soat Bwe itu...
Di antara Kui Ciang dan Soat Bwe ada terbenam satu kisah
asmara. Mereka berdua bersahabat erat jauh sebelumnya Soat
Bwe bersahabat dengan He Seng To. Hanya selagi Kui Ciang
sangat mengagumi nona itu dan menaruh cinta terhadapnya, si
nona sendiri masih mengambang perasaannya.
Belakangan muncullah He Seng To, lantas Soat Bwe
menyintai orang she He itu, hingga kejadian dia lebih banyak
berada berduaan dengan Seng To daripada dengan Kui Ciang.
Tak lama maka Kui Ciang menginsafi keadaan, ialah ia ketahui
si nona mencintai Seng To.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia satu laki-laki sejati, ia jujur dan terhormat, tak sudi ia


menjadi penghalang. Ia pun tak membenci atau bersakit hati.
Buat guna si nona sendiri, untuk kebaikan Seng To, ia suka
mengalah, bahkan Seng To ia anggap sebagai sahabat kekal,
seperti saudara sendiri. Itulah untuk membahagiakan Soat Bwe!
Ketika kemudian terjadi He Seng To terbinasa secara hebat
dan menyedihkan itu, dan Leng Soat Bwe lenyap tidak keruan
paran, Kui Ciang berduka bukan main. Karena itu, sesudah
lewat sepuluh tahun, baru ia menikah dengan Touw Sian Nio.
Ia menyintai isterinya ini, tetapi terhadap Soat Bwe, cintanya
tetap melekat, tak dapat ia melupai Nona Leng itu. Maka itu
mendengar gambarannya Mo Lek tentang Leng Song, ia lantas
ingat bekas kekasihnya itu.
Maka juga ia menjadi seperti orang linglung
Ia ingat syairnya yang ia pernah tulis untuk Soat Bwe,
bunyinya,
Soat leng bwe hoa y om, leng song tok cu kay
artinya,
Salju dingin, bunga bwe indah permai, es membeku, buyar
sendirinya
"Bukankah He Leng Song itu puterinya Leng Soat Bwe?"
demikian ia berpikir, menerka-nerka. "Soat Bwe tentu masih
ingat baik sekali syairku itu maka ia memberikan nama Leng
Song kepada puterinya ini. Tapi He Seng To sudah meninggal
dunia, darimana datangnya ini bocah she He?"
Bingung Kui Ciang, maka juga ia jadi berpikir keras dan
seperti linglung itu, ada juga rasa girangnya. Pikirnya pula,
"Jikalah He Leng Song benar anaknya Soat Bwe, bukankah Soat
Bwe masih ada di dalam dunia ini?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kouwthio," "berkata Mo Lek, yang seperti memecah


kesunyian, "Hong-hu Siong telah memberikan sebuah cincin
kepadamu. Itulah cincin yang sekarang berada pada jari
tanganmu."
Kui Ciang heran, ia seperti orang baru sadar dari mimpinya.
Sebelum menjawab si bocah, ia berpikir pula, "Soat Bwe
menitahkan nona' ini pergi membalaskan sakit hati, terang
sudah bahwa Hong-hu Siong ialah pembunuh suaminya dahulu
hari itu. Hanya si nona benar anaknya atau bukan, tak dapat
aku tak memperhatikannya..."
Lalu ia dibuatnya sukar. Soal yang baru telah muncul. Hong-
hu Siong baru saja menolong jiwanya. Tak ada manusia gagah
dan-terhormat yang membunuh tuan penolongnya...
Kui Ciang mengusut-usut cincin di jari tangannya itu.
"Apakah Hong-hu Siong ada meninggalkan kata apa-apa?" ia
tanya Mo Lek.
"Dia seperti juga telah mendapat tahu di muka bahwa
kouwthio bakal tak sudi menerima pertolongannya itu,"
menyahut Mo Lek, "Maka dia cuma minta satu hal dari kau.
Katanya dengan begitu kau dan dia sama-sama tak ruginya, tak
saling berhutang budi...
"Apakah permintaannya itu?" tanya Kui Ciang, mendesak.
"Permintaannya itu ialah," kata Mo Lek, "Kalau kelak di
belakang hari kau bertemu seorang yang memakai cincin yang
serupa dipakai kau sekarang, sukalah kau berlaku murah hati
terhadapnya."
Mendengar itu, Kui Ciang bernapas lega.
"Oh, dia tidak meminta apa-apa untuk dirinya sendiri,"
katanya sabar. "Baik, dapat aku melakukan itu. Biarlah nanti,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

setelah aku berhasil menuntut balas untuk Su Toako, baru aku


pergi cari Hong-hu Siong. Umpama kata dia dapat membunuh
aku, maka sudah tidak ada soal apa-apa lagi, tetapi apabila
akulah yang berhasil membunuh dia, habis itu aku akan
membunuh diriku sendiri, supaya dengan begitu bereslah sudah
budi dan sakit hati di antara kita!"
Mo Lek dan Ce in terkejut, mereka tercengang. Sungguh
hebat orang she Toan ini. Dia benarlah laki-laki sejati! Tapi
karena mereka kenal baik tabiat Kui Ciang, terutama sekarang
pikiran orang gagah ini lagi tegang, mereka berdiam saja, tak
mau mereka memberi nasehat atau membujuki.
"Mana nona itu?" kemudian Kui Ciang tanya lagi.
"Dia sudah pergi," sahut Mo Lek. "Dia tidak membilang kita
ke mana dia mau pergi. Menurut dugaanku, mungkin dia pergi
mencari An LokSan..."
Kui Ciang kaget sekali.
"Kau...! Kau bagaimana tahu dia pergi mencari An Lok San?"
tanyanya, bingung dan bergelisah. "Dia... dia pergi cari An Lok
San untuk apakah?"
"Aku tak tahu tetapi aku menduga saja," sahut Mo Lek. "Dia
tanya n ku perihal sahabatmu she Su itu, tentang isteri dan
anaknya sahabatmu itu. Aku bilangi dia halnya si orang she Su
sudah dicelakai An Lok San dan hahwa isteri dan anaknya
belum berhasil ditolongi. Mendengar jawabanku itu, dia sangat
tergerak hatinya. Sebenarnya dia telah bersumpah hendak
membunuh Hong-hu Siong, Lam Tayhiap telah mencegahnya,
dia masih tidak mau mengerti, akan tetapi setelah mendengar
keteranganku itu, dia seperti lantas berpikir lain - rupanya dia
terpengaruh urusan yang terlebih penting. Dia pergi dengan
lantas! Maka itu aku menyangka dia hendak menolongi Nyonya
Su dan anaknya itu."
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kembali Kui Ciang kaget.


"Bagaimana ini?" dia berseru dalam bingungnya. "Mana
dapat dia dibiarkan seorang diri memasuki sarang harimau dan
kedung naga?" ??
Mo Lek turut menjadi bingung.
"Ini cuma pikiranku, inilah belum pasti..." katanya perlahan.
"Ilmu pedang nona itu liehay sekali. Lam Tayhiap menempur
dia dengan memakai golok mustika, selama beberapa puluh
jurus, keduanya sama unggulnya. Maka itu umpama kata dia
tidak berhasil menolongi Nyonya Su itu serta anaknya, aku
percaya dia sendiri akan dapat meloloskan dirinya."
"Nona itu suka menunda membunuh Hong-hu Siong
sebagian disebabkan dia mendapat tahu Hong-hu Siong sudah
menolongi kau," Lam Ce- In turut bicara. "Dia rupanya masih
menyangsikan orang jahat atau orang baik - dia masih belum
jelas benar akan duduknya hal. Saudara Toan, yang paling
perlu sekarang ini ialah perawatan dirimu, jikalau kau
menguatirkan nona itu, baiklah, mari aku antar dulu kau sampai
di perbatasan wilayah pengaruh Touw Ke Ce, setelah itu aku
segera pergi menyusul dia!"
---ooo0dw0ooo---

Jilid 6
"Ya, inilah benar!" Mo Lek pun bilang. "Setelah nanti
bertemu dengan ayah angkatku, dapat kita minta bantuannya
mengirim banyak orang-orangnya guna menyelidiki halnya
nona she He itu. Ayah angkat kau kenal banyak orang Kang
Ouw, mungkin dia akan berhasil memperoleh endusan. Nona
itu sudah pergi selama tiga jam, kalau kita susul dia sekarang,
kita tak bakal menyandaknya."
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang menghela napas.


"Ya, apa boleh buat," keluhnya.
Mo Lek heran mendapatkan orang demikian memperhatikan
si nona He. Sebaliknya Kui Ciang heran mengetahui Nona He
sangat memperhatikan Keluarga Su, hingga dia menyangka,
"Apakah dia mempunyai perhubungan erat dengan Keluarga
Su? Jikalau Su Toako kenal He Seng To suami isteri, mengapa
aku tidak mendapat tahu? Mengapa aku belum pernah
mendengar mereka itu menyebut-nyebutnya?"
Demikian Kui Ciang terbenam dalam keheranan.
Sementara itu Nona He - He Leng Song - sudah melakukan
perjalanannya dengan sangat cepat. Benar seperti Tiat Mo Lek,
dia hendak pergi menolongi Nyonya Su dan anaknya. Hanya dia
tidak langsung menuju ke rumahnya Tayciang Sie Siong, orang
sebawahannya An Lok San itu. Inilah sebab ia telah mendapat
tahu Nyonya Su itu telah diminta Sie Siong dari An Lok San.
Tempo Leng Song sampai di kota Tiang-an, hari sudah
tengah hari. Dia lantas berdandan sebagai seorang nona
tukang penjual silat. Dia pun segera mencari dahulu rumah
penginapan. Dan dia memilih pondokan yang biasa ditempati
oleh orang-orang golongan Kang Ouw, sebuah pondokan kecil,
yang pasti tak akan menolaknya.
Lalu malam jam tiga, dia mengenakan ya-heng-ie, yaitu
pakaian peranti keluar malam, yang warnanya hitam dan
singsat. Secara diam-diam d ia keluar dari pondoknya, untuk
menuju ke rumahnya Sie Siong. Untuk itu dia telah mencari
tahu terlebih dahulu.
Keluarga Sie tinggal di Tiang-an, rumahnya terletak tak
seberapa jauh dari istananya An Lok San.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Didalam ilmu ringan tubuh, Leng Song memang dua lipat


daripada Lam Ce In. Tanpa diketahui siapa juga, dia berhasil
memasuki rumahnya Sie Siong. Maka itu dengan lantas dia
mendapat dengar dua orang lagi bicara, yang seorang pria,
yang seorang lagi wanita.
Dia lantas mengintai, hingga dia dapat melihat si pria dandan
sebagai opsir, dan si wanita ialah seorang nyonya muda dengan
roman sangat lesu dan kucai, sedang pakaiannya sangat
sederhana.
"Nyonya Louw, kau harus lekas berangkat!" kata si opsir.
“Aku telah membawakan kau seperangkat pakaian pria.
Sekarang ini Sie Ciangkun belum pulang, silahkan kau salin
pakaian. Untuk sementara ini, aku minta sukalah kau bersedia
merendahkan diri menjadi orang sebawahanku, supaya dapat
aku mengajak kau pergi. Tentang puterimu, kau dapat
membiarkan dia duduk di dalam kereta. Kusirku dapat
dipercaya, tidak nanti dia membuka rahasia."
Leng Song lantas dapat menerka siapa si nyonya muda.
Itulah Louw-sie, atau Nyonya Louw dari Hoo-tong, isterinya Su
It Jie. Ia belum kenal dan belum pernah bertemu juga dengan
Louw-sie, tetapi dari suara panggilannya si pria, ia mengetahui
pasti.
Mulanya ia memikir hendak membinasakan opsir itu, baru ia
mau menemui Louw-sie, untuk memperkenalkan diri, guna
memberitahukan bahwa kedatangannya itu untuk menolong,
tetapi mendengar suaranya si opsir, segera ia mengubah
pikirannya itu.
Suaranya si opsir diluar dugaannya sekali, la menjadi heran
dan girang dengan berbareng. Katanya di dalam hati, "Aku
tidak sangka sekali ada orang sebawahannya An Lok San yang
berhati begini mulia dan bernyali besar sekali. Sebenarnya aku

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bingung memikirkan si anak, bagaimana aku harus membawa


dia menyingkir, maka dayanya opsir ini baik sekali. Baiklah, aku
membiarkan dia yang menolong..."
Ketika itu Nyonya Su mengangkat kepalanya. Dia nampak
bimbang, sinar matanya pun penuh kedukaan. Sekian lama dia
berdiam, baru dia mengasih dengar suaranya.
"Liap Ciangkun, aku menghaturkan banyak-banyak terima
kasih untuk kebaikan hati kau ini," katanya, halus. "Cuma,
jikalau aku mesti berangkat pergi, aku mesti berangkat
bersama-sama suamiku."
Dengan disebut shenya itu, maka teranglah si opsir Liap
Hong adanya, orang yang pernah menolongi secara diam-diam
pada Toan Kui Ciang.
Mendengar suara si nyonya, opsir itu berpikir.
"Su Sianseng sekarang masih di tahanan," kata ia sesaat
kemudian. "Penjagaan di markas jenderal sangat keras, dalam
waktu seperti sekarang ini, sulit untuk dia meloloskan dirinya.
Maka itu baiklah nyonya berdua menyingkir terlebih dulu, nanti
aku berdaya pula untuk menolong Su Sianseng..."
Louw-sie menatap Liap Hong. Tiba-tiba dia menanya. "Liap
Ciangkun, aku minta sukalah kau tidak mendustai aku!" katanya
sungguh-sungguh. "Sebenarnya apakah sudah terjadi atas diri
suamiku itu?"
Agaknya Liap Hong bersangsi.
"Ketika itu hari dia tiba di sini," sahutnya, ayal, "Mungkin
disebabkan dia penasaran dan mendongkol, dia muntah darah
beberapa kali. Sekarang dia lagi berobat."
"Tentang itu aku sudah tahu," berkata Louw-sie. "Apa yang
aku tanya ialah hal dia sekarang, dia sudah mati atau masih

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidup! Aku dengar dari-budak perempuan yang melayani aku,


kemarin malam ada penyerbuan terhadap istana An Lok San.
Orang hendak membunuhnya. Satu malam telah terbit onar itu,
beberapa jiwa telah terhilang. Siapakah penyerbu itu?
Bukankah dia Toan Kui Ciang? Apakah dia berhasil menolongi
suamiku, atau apakah dia sendiri yang kena ditawan hingga dia
dihukum mati bersama? Liap Ciangkun, aku mohon kau omong
terus terang, jangan kau mendustai aku!"
Liap Hong menggigit giginya.
"Toan Toako telah mendapat luka berat," sahutnya,
"Walaupun dia tidak kena ditangkap, mungkin dia sukar
ditolong lagi. Tentang Su Sianseng, dia... dia... dia telah
membunuh dirinya di tempat peristiwa...! Maka itu, nyonya, kau
mesti lekas menyingkir, sekarang juga! Tak dapat kau
mengharap Toan Tayhiap nanti dapat datang menolongi kamu!"
He Leng Song yang lagi mengintai dan mencuri dengar
pembicaraan mereka itu menduga, setelah mendapat kabar
buruk itu, Nyonya Su bakal menangis menggerung-gerung atau
dia kaget hingga dia roboh semaput. Diluar dugaannya itu,
meski benar tubuh si nyonya menggetar, dia tak jatuh tak
sadarkan diri. Rupanya si Nyonya Sudah menduganya.
Dengan menggunai kedua tangannya, Lauw-sie bertahan
kepada meja di depannya. Dia hanya menjublak sejenak, terus
dia mengasih dengar tuamnya yang perlahan tetapi berat, "Aku
tidak mau pergi!"
Bukan main herannya Liap Hong, begitu pun Leng Song.
Opsir itu pikir, begitu ia memberi keterangan yang benar itu, si
nyonya bakal lantas berangkat, siapa tahu, Nyonya Su justeru
menolak!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liap Hong lantas kata perlahan, "Sie Ciangkun mengandung


maksud buruk terhadap kau, hujin. Kau... kau harus menjaga
diri'baik-buik..."
"Aku tahu," jawab Louw-sie. "Aku mengucap banyak terima
kasih untuk kebaikan kau ini. Tapi kepunisanku sudah tetap,
tak dapat itu ilirubah pula. Kecuali Sie Siong melemparkan aku,
pasti aku tidak akan berlalu dari sini!"
Kata-kata itu bukan melainkan diluar dugaannya Liap Hong.
He Leng Siong pun tidak menyangkanya sama sekali. Maka si
nona menjadi terperanjat.
"Ibu membilangi aku Louw-sie berpandangan luas, kenapa
sekarang dia menjadi begini keruh pikirannya?" ia berpikir.
"Mungkinkah ini disebabkan asabatnya mendapatkan
goncangan yang keras sekali hingga dia menjadi tak dapat
berpikir jernih lagi?"
Leng Song berpikir demikian, ia toh merasa aneh. Ia melihat
wajah Nyonya Su wajah dari ketetapan hati, meski benar
parasnya pucat. Itulah wajah yang mengandung semangat,
pertanda dari suatu keputusan yang * telah dipikir matang/
buah dari pemikiran yang jernih. Mantaplah hati si nona tetapi
sikapnya tenang. Sikap Louw-sie bukan sikap dari orang yang
pikirannya kacau.
Justeru itu terdengar suara tindakan kaki.
Liap Hong menghela napas.
"Oleh karena keputusan kau sudah pasti, nah, jagalah dirimu
baik-baik, hujin," kata ia.
Baru orang she Liap ini berlalu dari pintu samping, Sie Siong
bertindak masuk. Dia lantas mengasih dengar suaranya sabar,
"Hujin, ingin aku bicara dengan kau, tetapi aku kuatir

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengganggu dan membikin kaget padamu, kiranya kau belum


tidur..."
"Kau hendak bicara apa?" tanya Louw-sie.
"Apakah aku memperlakukan kau baik?" Sie Siong tanya.
"Sie Ciangkun, kau telah melindungi kami ibu dan anak,"
kata Louw Sie, "Kau telah tidak membiarkan kami terjatuh ke
dalam tangannya An Lok San, untuk itu aku sangat bersyukur."
Sepasang alisnya Sie Siong terbangun. Dia bersenyum.
"Kau tahu aku bermaksud baik terhadapmu, itu bagus!" kata
dia, tertawa. "Sebenarnya, hujin, aku sangat mengagumimu.
Maka itu sekarang aku mau minta kau pandang rumah ini
sebagai rumahmu sendiri, supaya kau tinggal di sini dengan
hati tenang. Aku girang apabila aku dapat senantiasa
berdekatan dengan kau..."
Sembari berkata, opsir ini bertindak mendekati.
Sebelum orang datang dekat, Louw-sie sudah berkata
sungguh-sungguh, "Sie Ciangkun, aku minta sukalah kau ingat
bahwa akulah isterinya seorang yang telah memperoleh gelaran
dari Pemerintah Agung, maka itu, jikalau kau memperlakukan
aku dengan aturan, dapat aku berdiam di sini, apabila
sebaliknya, disinilah aku bakal menerima kematianku!"
Gagah sikap si nyonya, walaupun Sie Siong seorang militer
berhati keras, dia gentar juga. Bagaikan seorang hamba yang
menerima firman, dia lantas menghentikan tindakannya. Tetapi,
dia lantas berkata sambil tertawa manis, "Ah, mengapa berkata
begini? Untukku, sudah suatu kehormatan yang besar sekali
yang hujin sudi tinggal di sini! Mana berani aku memperlakukan
kau kurang hormat...?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Song melihat orang sukar sekali mengeluarkan kata-


kata umpakannya itu hingga ia tertawa dalam hatinya.
Louw-sie lantas menanya, "Kamu tidak mengijinkan aku
bertemu dengan suamiku, apakah maksudnya?"
"Oh, kiranya hujin selalu memikirkan suami hujin?" kata Sie
Siong. "I'antas hujin tak dapat tidur sampai jauh malam begini.
Aku kuatir hujin tak bakal bertemu pula dengan suami hujin
itu..."
"Kenapa begitu?" si nyonya tanya, menegaskan. "Apakah...
apakah telah terjadi sesuatu atas diri suamiku itu?"
Leng Song tahu Louw-sie sengaja menanyakan apa yang dia
tahu, ia tak dapat menerka maksud orang.
Sie Siong lantas memperlihatkan roman sangat berduka.
Ketika ia menyahuti, ia berkata dengan perlahan, "Sebenarnya
warta ini tak tega aku memberitahukannya kepada kau, hujin,
setelah aku berpikir berulang-ulang, aku anggap lebih baik aku
memberitahukan juga. Ini bukanlah suatu berita yang baik,
akan tetapi mengingat hujin seorang yang cerdas, aku percaya,
berita ini yang pahit getir, setelah aku sampaikan, akhirnya
bakal berbalik menjadi manis..."
"Sebenarnya warta apakah itu?" Louw-sie mendesak. »
"Tak beruntung suamimu, hujin, dia telah meninggal dunia,"
sahut Sie Siong. "Suamimu itu tak sudi menurut kepada
Tayswe, sudah begitu tadi malam dia berkongkol dengan orang
jahat, yang datang menyerbu istana, selama satu pertempuran
kacau, suamimu terkena goloknya salah seorang Busu dari
Tayswe..."
Sebegitu jauh Louw-sie mencegah airmatanya, akan tetapi
sekarang ini ia tak sanggup menahannya terlebih jauh, ia lantas
menangis tersedu-sedu.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sie Siong mengawasi. Ia melihat dalam tangisnya itu si


nyonya semakin ayu dan manis, ia menjadi merasa kasihan.
Maka ia kata perlahan untuk membujuki, "Hujin, orang yang
telah menutup mata tak dapat hidup kembali, karena itu, selagi
kau baru bersalin, baiklah kau jaga dirimu baik-baik. Tentang
penghidupanmu yang bakal datang, jangan kau buat kuatir,
semuanya ada aku yang nanti urus dan jamin. Bahkan jikalau
kau setuju, aku ingin kau menjadi penulis pribadiku, untuk kau
sekalian mendidik dan memberi pelajaran kepada anak-anakku.
Tentang kematian suamimu, itu memang benar hal yang
menyedihkan, tetapi orang sudah meninggal dunia, apa bisa
dibilang lagi? Sebaliknya dengan begitu beres sudah urusan dia,
" urusannya itu tak bakal merembet-rembet pula kepada kau!
Hujin, legakanlah hatimu, kau anggaplah tempatku ini sebagai
tempat kau menempatkan dirimu untuk selama-lamanya."
Louw-sie mengangkat kepalanya, ia terisak.
"Ciangkun, kau baik sekali," kata ia. "Tentang tawaranmu
untuk aku bekerja padamu, baik belakangan saja kita bicarakan
perlahan-lahan. Sekarang ini aku sebatangkara, kalau suka aku
mohon Ciangkun membantui aku mengurus jenazahnya
suamiku sampai dengan penguburannya."
"Inilah mudah!" sahut Sie Siong cepat. "Memang aku telah
mohon ijinnya An Tayswe untuk mengurusnya. Sekarang ini
jenazah suami hujin telah berada di luar gedung, tinggal
menantikan hujin memilih hari untuk menguburnya."
Louw-sie mengangguk. Ia kata pula, "Sekarang masih ada
suatu permintaanku yang kurang pantas. Kami menjadi suami
isteri, karena itu sudah selayaknya aku berkabung untuk
suamiku, tetapi aku di sini tidak mempunyai rumah tangga,
karena itu tak tahu apakah Ciangkun sudi memberi perkenan
buat aku mengatur meja abu suamiku di sini serta untuk
penghabisan kalinya aku menemui suamiku itu?"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Itulah permintaan yang tak selayaknya. Adalah anggapan


apes atau pantangan menempatkan jenazah bukan sanak
bukan kandung di rumah sendiri, tetapi Sie Siong ingin
mengambil hatinya si nyonya cantik, dengan lantas ia
memberikan persetujuannya.
Kata ia lantas, "Hujin puteri dari sebuah keluarga terhormat
dan juga menjadi nyonya yang memperoleh gelaran dari
Pemerintah Agung, dari siang-siang aku telah menduga hujin
bakal melakukan perkabungan untuk suamimu, dari itu tanpa
menanti perintahmu, aku sudah mengaturnya semua. Mana
orang?"
Benarlah, dengan cepat sekali muncul pelbagai hamba yang
membawa datang segala macam keperluan alat sembahyang,
seperti sin-cie, hio-louw, cek-tay, lilin dan hio serta gin-coa,
disusul dengan peti jenazah.
Semua itu sudah lantas diatur rapi di dalam sebuah ruang di
dalam gedung itu. Sedang dua orang budak perempuan
membawakan pakaian berkabung. Habis menyalin pakaian,
Louw-sie menyuruh membuka tutup peti, untuk ia melihat
wajah suaminya untuk penghabisan kali, sembari menangis, ia
kata, "Suamiku, oh, kau sungguh bersengsara..."
"Sudah hujin, jangan kau terlalu bersedih" Sie Siong
membujuk. Ia lantas menitahkan kedua budak menarik si
nyonya, untuk dibujuki, sedang orang-orangnya diperintah
lekas menutup dan memantek peti mati itu.
Louw-sie menjalankan kehormatan dengan menjura dalam
terhadap suaminya itu, dengan suara sangat berduka ia kata,
"Seorang kesatria terbinasa untuk orang yang mengenalnya,
seorang wanita memberi wajahnya untuk orang yang
mencintainya, maka itu suamiku, kau dapat melakukan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tanggung jawabmu terhadap Toan Toako, aku mana dapat tak


bersetia terhadapmu...?"
Habis mengucap itu, mendadak nyonya ini mengeluarkan
gunting dari dalam tangan bajunya dengan apa ia terus
menusuk mukanya berulang kali!
Sie Siong kaget bukan main. Itulah diluar dugaannya. Ia pula
tak dapat berlompat untuk mencegah. Di sisinya si nyonya ada
budak-budak perempuan yang ditugaskan melayaninya. Di
samping itu, luka di dengkulnya bekas tikaman pedang Toan
Kui Ciang membuatnya kurang leluasa bergerak. Maka ia
melainkan menjublak mengawasi.
Ketika beberapa budak dapat merampas gunting dari 'tangan
si nyonya, muka Louw-sie sudah terluka dan berlumuran darah.
P&sti sekali karena luka-lukanya itu, lenyaplah kecantikannya
yang menggiurkan hati Sie Siong.
Ketika itu Louw-sie meratap, "Suamiku, baiklah kau
mengerti, untuk anak kita, untuk sementara aku tidak akan
mati dulu, maka sudilah kau maafkan aku...!"
Kemudian budak perempuan kecil yang melayani Louw-sie
mempepayangnya masuk ke ruang belakang
Sie Siong merasa sayang berbareng mendongkol dan gusar.
Maka bagaikan gunung berapi meletus mendadak, dia deliki
budak-budaknya dan mendampratnya, "Apakah kamu semua
bangkai hidup? Kenapa kamu tidak mencegah? Sungguh
celaka! Bagaimana ini bisa terjadi? Buat apa kamu masih
berdiam saja di sini? Pergi semua!"
Koanke, atau kuasa rumah keluarga Sie, tanya perlahan,
"Apakah perlu diundangi tabib untuk menolong Louw-sie?"
Sie Siong masih gusar, maka sebelah tangannya melayang,
"Plok!"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau gila!" bentaknya. "Apakah kau hendak bikin urusan jadi


diketahui umum? Pernah apa kau dengan dia maka kau
menjadi repot tidak keruan?"
Koanke itu lantas sadar kenapa Sie Siong sangat
memerlukan Louw-sie. Tak lain tak bukan, itulah guna
mengambil hatinya nyonya yang cantik itu.
Sekarang si Nyonya Sudah rusak mukanya, wajahnya telah
menjadi bercacad, dia tentu tak membutuhkannya pula. Setelah
sadar, guna mengambil hati si majikan, ia cepat-cepat kata,
"Ya, ya, aku tolol! Aku tolol sekali! Karena itu, ruang ini perlu
dirombak, bukan?"
Sie Siong mengulapkan tangannya. Dia justeru hendak
mengatakan, "Peti matinya juga buang sekalian!" atau
mendadak dia batal sendirinya. Sebab dia melihat Liap Hong
bertindak masuk seraya orang she Liap itu berkata, "Aku
dengar kau lagi mengurusi jenazahnya Su Cinsu, kenapa kau
nampaknya begini gusar?"
Liap Hong ini pernah adik misan dari Sie Siong, ia pun
menjadi sebawahan. Di dalam halnya ilmu silat, Liap Hong juga
jauh terlebih liehay. Banyak jasanya yang ia dapat mengandal
dari bantuannya opsir she Liap ini.
Karena itu, di antara rekan-rekannya, cuma Liap Hong yang
dapat datang atau masuk kerumahnya tanpa pemberitahuan
lagi. Sebagaimana kali ini orang she Liap itu masuk terus ke
dalam, hingga dia mendengar suara bengis dari kakak misan.
"Memang aku lagi sangat mendongkol karena urusan ini!"
katanya sengit. "Kau lihat! Masa di kolong langit ini ada
perempuan yang begini tidak tahu diri? Aku perlakukan dia
mirip permaisuri atau ratu, sampai aku tak menghiraukan
kesialan, ruang ini aku jadikan ruang kebaktian untuk ia
terhadap suaminya, tetapi dia tak memperdulikan kebaikanku
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ini, dia cuma ingat suaminya saja! Dia kata, wanita itu cuma
untuk orang yang mengerti dirinya sendiri! Begitulah, setelah
suaminya mati, dia merusak kecantikannya! Hm! Hm! Kalau aku
tak tahan sabar, pasti aku telah membunuhnya!"
Liap Hong tertawa.
"Apakah kau maksudkan Su Hujin?" dia tanya. "Kalau benar
dia, harus kau ingat dialah wanita terhormat! Dia telah baca
tentang wanita-wanita setia dan putih bersih, tentang kitab-
kitab pujangga, karenanya tak seharusnya kau memikir hendak
mendapatkannya. Sekarang dia telah merusak wajahnya, dia
justeru harus dipuji dan dihormati! Kenapa kau umbar napsu
amarahmu? Buat apa kau membangkitkan kemarahannya?
Laginya kalau kau mau menolong orang, kau mesti menolong
sampai diakhirnya! Sekarang kau ganggu dia, kalau hal ini
sampai teruwar, pasti orang banyak akan mencelamu! Maka itu
baiklah kau membiarkan dia berkabung untuk suaminya,
supaya sebaliknya kau mendapat nama harum."
Sebenarnya, terhadap sikapnya Louw-sie merusak wajahnya,
Sie Siong merasa sedikit kagum, maka itu, meski dia lagi
mendongkol dan gusar itu, mendengar nasihatnya Liap Hong,
lantas dia dapat menyabarkan diri.
"Baiklah," katanya. "Dengan memandang kepada kau, suka
aku memberi ijin buat dia berdiam terus di sini. Biar dia nanti
mengajari ilmu surat kepada anakku..."
Ketika itu, Louw-sie telah diantar ke dalam kamarnya. Oleh
karena orang tahu Sie Siong, si majikan lagi gusar, tidak ada
orang yang berani datang merawatnya kecuali seorang budak
kecil yang mulanya Sie Siong mewajibkan mengurusnya. Budak
ini baik, dia membalut lukanya si nyonya, dia telah pergi
kepada seorang pengawal untuk minta obat luka.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Louw-sie meletaki kepalanya di bantal kepala. Bantal itu


bersulamkan sepasang burung wanyoh atau bebek mandarin.
Darahnya meleleh membuat bantal sulam itu, di betulan
sulaman wanyoh, menjadi penuh darah.
Dengan dia berada sendirian, nyonya ini tidak mendengar
apa-apa lagi. Didalam kesunyian itu, ia kata dalam hatinya,
"Pastilah orang tidak berani datang melihat aku pula. Inilah
lebih baik lagi! Su-long, suamiku, kau boleh tenangkan dirimu
menantikan aku..."
Tiba-tiba gorden tersingkap. Tanpa terdengar tindakan
kakinya, seorang nona masuk ke dalam kamarnya itu. Ia
menjadi kaget.
"Siapa kau?" ia tanya cepat. "Cara bagaimana kau berani
menjenguk aku?"
Ia menyangka nona itu salah satu budak lainnya.
Nona itu menyahuti perlahan, "Ie-ie Tiap, jangan kaget,
jangan takut... Aku datang untuk menolongi kau. Akulah He
Leng Song. Ibuku ialah kakak misanmu, Leng Soat Bwe. Ie-ie
masih ingat, bukan?"
Louw-sie atau Nyonya Su menjublak bahna heran. Memang,
nama kecilnya ialah Bong Tiap, artinya "Bermimpikan kupu-
kupu". Nama itu tak ada yang ketahui kecuali teman-temannya
semasa kecil serta suaminya.
Sekarang nona ini mengetahuinya, bahkan ia dipanggil Ie-ie,
bibi. Ia lantas menatap. Ia melihat seorang nona yang tidak
dikenal, hanya roman nona ini benar mirip dengan romannya
Soat Bwe, kakak misannya itu. Karena ini, ia tidak
menyangsikan lagi. Ia girang berbareng kaget. Lantas ia cekal
erat-erat tangan si nona.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau mirip benar ibumu!" katanya. "Bagaimana caranya kau


masuk kemari?"
Perbuatan nona itu pun mengherankannya.
Leng Soat Bwe gadisnya seorang pembesar, dengan Louw-
sie dia pernah misan. Dia kakak karena usianya lebih tua
delapan tahun. Ketika Bong Tiap baru berumur sebelas tahun,
Soat Bwe ikut ayahnya yang menjadi Cam-kun dari seorang
pembesar berpangkat Ciat-touw-su di kota Louw-liong.
Semenjak itu keduanya tak pernah saling bertemu pula. Sang
tempo telah lewat dua puluh satu tahun.
Semasa masih kecil itu, Soat Bwe dan Bong Tiap saling
menyayangi. Sang kakak baik hatinya, sang adik cerdas. Pada
masa usianya delapan atau sembilan tahun, Bong Tiap pernah
dengar orang tua omong halnya Soat Bwe tak menyukai
pekerjaan yang menjadi kewajiban wanita, yaitu menyulam dan
lainnya, sebaliknya dia gemar ilmu silat, bahkan satu kali, ketika
dia diuji dengan salah satu Busu ayahnya, dia telah
merobohkan Busu itu.
Hal ini Bong Tiap tak tahu pasti, maka ia tanyakan kepada
kakak misannya itu, sekalian ia minta diajari ilmu pedang. Atas
itu Soat Bwe sembari tertawa kata padanya, "Kau cuma
mendengar ocehan mereka! Siapa bilang aku mengerti ilmu
silat pedang? Yang benar aku sering mengintai para Busu lagi
berlatih, dengan diam-diam aku meneladnya. Maka itu aku jadi
mengerti beberapa jurus. Ayahku pembesar militer tapi orang
masih mentertawakan aku yang mengerti sedikit ilmu silat,
apapula kau. Buat apakah kau mempelajarinya?"
Bong Tiap memang tak ketarik dengan ilmu silat, ia minta
diajari separuh bergurau, maka permintaannya ditolak
kakaknya itu, ia diam saja.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tak lama ayah Leng Soat Bwe memangku jabatannya, dia


menutup mata di LouwTiong. Lalu sehabis itu, Bong Tiap tak
mendengar kabar apa-apa lagi dari keluarga Leng itu. Ia tidak
pernah menyangka kakak itu telah tersohor sebagai liehiap,
wanita gagah perkasa.

Ketika kemudian Bong Tiap menikah, ia seperti telah melupai


kakak misannya itu. Sekarang, berselang dua puluh satu tahun,
di saat ia menghadapi kemalangan ini, siapa nyana gadisnya si
kakak misan muncul secara tiba-tiba. Bahkan nona itu, sang
keponakan, hendak menolongnya.
Leng Song sudah lantas menolongi bibinya itu mencegah
darahnya keluar terus. Ia kata dengan perlahan sekali, "Ie-ie,
jangan takut! Tak ada yang tahu aku datang dan masuk ke
mari! Ie-ie jangan sangsi pula, mari aku gendong kau pergi!"
Louw-sie menggeleng kepala.
"Untukku kau sudah menempuh bahaya ini, aku sangat
bersyukur terhadapmu," katanya. "Akan tetapi, aku sudah
mengambil kepastian, aku tidak mau pergi dari sini!"
Leng Song melengak saking heran. Dia jadi bergelisah
sendirinya.
"Kenapa?" tanyanya cepat. "Apakah ie-ie kuatir tak sanggup
aku menggendong ie-ie keluar dari tempat berbahaya ini? Ie-ie
jangan kuatir! Ilmu silatku belum dapat dibilang tinggi sekali
tetapi semua Busu di sini tak ada yang aku takuti!"
"Aku percaya kepandaian kau," berkata Louw-sie.
"Sedarilaku kecil telah kuketahui ibumu pandai silat ilmu
pedang. Kau puterinya, kau juga tentulah seorang wanita
gagah. Oh, bicara tentang ibumu itu, aku dan dia telah tidak
bertemu dua puluh satu tahun lamanya! Apakah ibumu baik?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik!" sahut Leng Song singkat.


"Kapannya ibumu itu menikah?" Louw-sie menanya. "Aku tak
tahu hal menikahnya itu! Bagaimana dengan ayahmu!
Dimanakah dia berusaha?" Matanya si nona menjadi guram.
"Ketika aku terlahir, ayah sudah menutup mata," sahutnya.
"Ie-ie Tiap, inilah urusan keluarga, dapat di belakang hari kita
bicarakan pula perlahan-lahan. Aku tidak mengerti kenapa ie-ie
tidak piau pergi? Menurut aku, ini bukannya tempat dimana ie-
ie dapat berdiam lebih lama pula! Benar ie-ie telah merusak
parasmu, untuk mematikan hatinya si orang she Sie yang busuk
itu, tetapi dimana ie-ie masih mempunyai sanak, buat apa ie-ie
bernaung berlindung pada lain orang? Buat apa ie-ie berdiam di
sini untuk hanya memandang cecongor orang?"
Nyonya Su menyeringai, ia tertawa sedih.
"Aku sudah mempunyai pikiranku sendiri!" sahutnya. "Kelak '
dibelakang hari kau bakal mengerti. Budak pelayanku bakal
lekas kembali, kau pergilah lekas! Aku sangat kangen kepada
ibumu, maka tolong kau tuturkan lagi pada sesuatu mengenai
ibumu itu... Bagaimana caranya maka kamu mengetahui aku
mendapat susah di sini?"
"Semenjak aku dilahirkan, aku tinggal bersama-sama ibuku,"
Leng Song memberi keterangan. "Kami tinggal di dalam sebuah
desa kecil'di kaki gunung Giok Liong San. Setiap hari ibu
mengajari aku surat dan silat, cuma sebegitu, tak lebih, tak ada
istimewa. Tahun yang baru lewat, ibu menganjurkan aku
merantau. Aku telah masuk usia delapan belas tahun dan ibu
bilang baiklah aku pergi mencari pengalaman, sebab
kepandaian silatku sudah cukup maju. Ibu sekalian memberi
tugas kepadaku, ialah untuk mencari kau, ie-ie. Pada tanggal
tiga kemarin ini aku sampai di rumah engku, ipar ibuku, baru
aku mendapat tahu ie-ie telah menikah dengan Keluarga Su.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu aku menjadi mendapat tahu juga bahwa pada


tanggal satu malam, ie-ie lenyap tidak keruan paran. Engku
semua menjadi bergelisah memikirkan ie-ie. Lantas aku pergi
ke tempat kediaman ie-ie, untuk mencari keterangan.
Kebetulan aku bertemu seorang muridnya Toan Tayhiap. Dia
mengatakan bahwa juga Keluarga Toan lenyap pada tanggal
dua. Murid Toan Tayhiap itu pun menyebut halnya pada
tanggal satu An Lok San telah lewat di dusun ie-ie, lalu ketika
dia pergi ke rumah gurunya, guna memberi selamat tahun
baru, dia melihat roman gurunya guram, beda daripada
biasanya. Mendengar semua itu, aku menduga bahwa
lenyapnya kedua keluarga mesti bersangkut paut satu dengan
lain. Ibu pernah omong padaku halnya permusuhan di antara
kedua keluarga An dan Toan. Mengingat bahwa orang tentu
banyak yang mengenal Toan Tayhiap, aku segera berangkat ke
kota raja ini guna mencarinya. Tak usah aku menjelaskan lagi
bagaimana caranya aku membuat penyelidikan, terangnya ialah
aku berhasil mengetahui halnya ie-ie dibawa lari An Lok San.
Kemudian lagi berkat bantuan seseorang, aku mendapat
dengar perihal satu orangnya An Lok San omong tentang ie-ie
ada di rumah orang she Sie ini. Sebenarnya tadi malam aku
hendak datang ke mari, apa mau aku terhalang oleh suatu
janji, maka itu baru sekarang aku tiba di sini!"
Habis menutur itu, si nona memegang tangan bibinya itu.
"Ie-ie Tiap," katanya, menambahkan, "Sebenarnya apakah
maksud ie-ie? Apakah ini disebabkan ie-ie hendak membalas
sakit hatinya ie-thio? Taruh kata itu benar, aku anggap paling
baik ie-ie menyingkir dulu dari mulut harimau ini. Nanti
bersama-sama ibuku ie-ie dapat memikirkan daya menuntut
balas!"
Louw-si tertawa meringis.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Pembalasan sakit hati?" katanya. "Bagaimana mudah untuk


mengucapkannya! Istana An Lok San bukan seperti rumah ini!
Dia mempunyai banyak pahlawan! Meski benar kamu ibu dan
anak gagah perkasa, kamu yang berjumlah sedikit tak dapat
melawan yang jumlahnya besar! Di samping itu, tugas
menuntut balas untuk suamiku ialah tugasku sendiri! Maka itu
tak dapat dalam urusan yang begini berbahaya, aku
membuatnya kamu ibu dan anak nanti terembet-rembet!"
"Apakah dengan berdiam di rumah Keluarga Sie ini, ie-ie
dapat menuntut balas?" tanya Leng Song heran. "Dapatkah ie-
ie membinasakan An Lok San?"
Saking bingung, Nona He mengeluarkan pertanyaannya itu.
Ia menyesal.
"Aku lemah, tetapi aku dapat berpikir!" kata dia, suaranya
dalam. "Untuk mencari balas tak selamanya orang mesti
mengandalkan golok atau pedang! Aku sudah mengambil
keputusannya, tak dapat itu diubah! Pergilah kau pulang, kau
sampaikan hormatku pada ibumu, kau tanyakan kewarasannya!
Bilangi juga bahwa aku sangat bersyukur kepadanya, bahwa
selanjutnya tak usahlah ia pikirkan pula padaku..."
Suara Nyonya Su parau tetapi itulah suara pasti, seperti
pastinya air mukanya, meskipun muka itu mandi darah. Maka
itu dia nampak menjadi keren.
Sebenarnya Leng Song tidak puas, akan tetapi ia tidak
sanggup mengubah lagi putusannya nyonya itu, maka ia
terpaksa berdiam. Tak mau ia membujuk pula. Tapi ia tanya,
"Ie-ie, masih ada apa lagi pesanmu?"
"Coba kau tarik dekati aku ayunan itu," minta si nyonya.
"Aku ingin melihat anak perempuanku..."
Leng Song menurut.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Anak itu merasakan goncangan, dia membuka matanya,


rupanya dia melihat muka ibunya lain daripada biasanya, lantas
dia menangis.
"Diam, manis!" Louw-sie membujuki bayinya itu, yang ia
tepuk tepuk perlahan. "Jangan takut! Meski roman ibumu
menakuti tetapi hatiku tetap menyayangimu!"
Anak itu seperti mengerti perkataan ibunya, dia berhenti
menangis.
Leng Song menyaksikan itu, ia terharu bukan main.
Louw-sie berpaling kepada si nona.
"Mengenai Toan Tayhiap, kemarin aku mendengar satu
kabaran hal dia," katanya. "Karena menolongi suamiku, dia
sudah bertempur dcng.ni pahlawan-pahlawannya An Lok San
dan telah terluka parah karenanya hanya entahlah, bagaimana
keadaannya, dia mati atau tidak. Dapatkah k.m menolongi aku
mencari dia?"
"Memang aku hendak memberitahukan kau, ie-ie," kata si
noua "Kemarin malam aku telah bertemu dengan Toan
Tayhiap. Dia baru sa|a lolos dari istananya An Lok San. Dia
menyingkir ke sebuah kuil tua..."
"Habis bagaimana dengan dia?" si nyonya tanya, bernapsu.
"Benar, dia telah terluka parah. Akan tetapi dia belum mati."
Leng Song menjelaskan mengenai Toan Kui Ciang.
Louw-sie kaget berbareng girang, hingga ia berdiam sekian
lama
"Kalau nanti kau bertemu pula dengannya, "Kata ia selang
m"..mI "Tolong kau sampaikan sepatah dua perkataanku. Ialah
kami ibu il.m .mak berada di dalam gua harimau, meski aku
berkeputusan merawat anakku mi, harapanku tipis sekali,
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

segala apa sukar dipastikan dari sekarang, maka itu karena aku
tidak ingin mensia-siakan puteranya, apabila pulcr.mya 'feJ
sudah besar dan dewasa, baiklah dia mencarikan jodoh lainnya,
supaya puteranya itu dapat menikah."
Leng Song heran.
"Oh, kiranya ie-ie berbesan dengan Toan Tayhiap..."
kat.mya. Ketika itu terdengar tindakan kaki di luar.
"Sudah waktunya kau pergi!" kata Louw-sie menghela napas.
Leng Song pun menarik napas.
"Ie Tiap, rawatlah dirimu baik-baik!" pesannya. "Pesanmu ini
akan aku ingat baik-baik."
Nona He lantas menyingkirkan diri dengan naik ke atas
genteng.
Segera juga budak pelayan datang bersama dua orang opsir,
yang satunya ialah yang Louw-si sebut sebagai Liap Hong.
Mereka itu datang membawakan obat luka buat si nyonya.
Matanya Liap Hong tajam. Ia melihat sesosok bayangan
berkelebat. Ia terkejut. Lantas ia menghentikan tindakannya
seraya terus berkata, "Tak dapat aku masuk ke dalam kamar
hujin. Siauw Hong, kau saja yang menolongi menyampaikan
hormatku! Bukankah kau masih ingat caranya menggunai obat
luka itu? Oh, saudara Lauw, tolong kau menjelaskannya lagi
sekali!"
Busu she Lauw itu menjadi pujaannya Siauw Hong, maka
Siauw Hong meminta obat luka kepadanya untuk Louw-sie,
kebetulan sekali mereka bertemu dengan Liap Hong.
Aturan rumah tangga Sie Siong keras. Siauw Hong ketahui
itu, maka ia tahu juga, ia dapat dihukum Sie Siong apabila Sie
Siong ketahui ia mencari obat untuk Louw-sie. Tapi, bertemu

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan Liap Hong, keduanya selamat. Liap Hong ketahui


maksud orang, dia suka menolongi. Ada bersama dia, sekalipun
Sie Siong sendiri tak akan menghukumnya.
Liap Hong membiarkan dua orang itu berbicara, ia keluar
seorang diri. Setelah melihat ada orang di dekatnya, ia lompat
naik ke atas genteng. Selagi ia mengawasi kelilingan, tiba-tiba
ia merasakan angin menyambar, lalu ujung pedangnya Leng
Song sudah diarahkan terhadapnya.
Nona He lantas berkata perlahan, "Kau jangan bersuara, aku
tidak mau membunuhmu!" S
Liap Hong menoleh dan melengak. Ia melihat seorang nona
cantik berdiri di hadapannya, pakaiannya singsat, romannya
gagah.
"Liap Ciangkun, aku tahu kaulah seorang baik," kata Leng
Song selagi orang mengawasi padanya. "Bahkan selanjutnya
aku masih mengharap segala bantuanmu untuk Louw-sie."
Lega hati Liap Hong. Sekarang ia ketahui orang datang
untuk menolong Louw-sie.
"Jikalau Louw-sie terancam sesuatu," Leng Song memesan,
"Tolong kau mengirim orang memberi kabar pada ibuku di
dusun Se Kong Tin di gunung Giok Liong San. Ibuku dipanggil
Soat Bwe, asal namanya disebutkan, seluruh penduduk
mengenalnya. Mengenai kau, Liap Ciangkun, aku
menyayangimu. Kau baik dan gagah, mengapa kau kesudian
menjadi kaki tangannya orang jahat? Umpama kata dibelakang
hari kau tak dapat tempat pada An Lok San, kau boleh
menjauhkan diri, nanti aku membicarakan halmu kepada Toan
Tayhiap, supaya Toan Tayhiap memberikan suaranya untukmu,
agar dengan begitu tidaklah kaum Kang Ouw nanti
memandangmu sebagai musuh."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liap Hong terkejut mendengar si nona menyebut nama Leng


Soat Bwe, sampai sekian lama baru ia dapat menenangkan diri.
"Terima kasih untuk kebaikan hati kau ini, liehiap," kata ia
kemudian. "Untuk Louw-sie, dimana tenagaku sanggup, aku
bersedia memberikan bantuanku. Aku pun mohon bantuan
liehiap, yaitu apabila liehiap bertemu Toan Tayhiap, tolong
sampaikan hormatku kepadanya serta tolong mintakan
maafnya yang aku terpaksa menempur padanya."
"Baik!" sahut si nona. "Asal kau bertujuan menjadi orang
baik, tidak nanti Toan Tayhiap memusuhkanmu!"
Habis berkata, Leng Song menarik pulang pedangnya, terus
ia berlompat pergi, hingga sekejab saja ia lenyap seperti asap
buyar. Ia berlalu dengan hati lega tanpa merasa bahwa saking
percaya pada Liap Hong, ia telah membocorkan tempat
kediaman ibunya.
*********
VII
Sementara itu Lam Ce In yang bersama Tiat Mo Lek
mengantarkan Toan Kui Ciang berangkat ke Touw Ke Ce,
selama tiga hari telah dapat melakukan perjalanannya dengan
hati lega. Di tengah jalan itu tidak ada terjadi sesuatu.
Di hari kempat, tibalah mereka di Peng-louw. Dari situ, lagi
dua ratus lie, akan tibalah mereka di tempat yang menjadi
lingkungan pengaruh Touw Ke Ce.
Selama itu, kesehatannya Toan Kui Ciang maju pesat. Dia
dapat dahar bubur. Ce In dan Mo Lek menjadi semakin lega
hati.
Hari itu selagi kereta keledai jalan di jalanan pegunungan,
mendadak terdengar suara mengaungnya "Hiang Cian," yaitu

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

panah yang dapat bersuara nyaring. Menyusul itu, yang


menjadi suatu isyarat, dari pengkolan gunung terlihat
munculnya dua orang penunggang kuda
berpakaian hitam.
"Ah, itulah segala bangsat cilik yang matanya buta!" kata
Tiat Mo Lek tertawa. "Mereka menganggap kita seperti
kambing-kambing gemuk, tak tahunya mereka melanggar
dato!"
Kedua penunggang kuda itu sudah lantas mengasih dengar
suara, "Yang duduk di kereta itu apakah Tayhiap Toan Kui
Ciang? Cecu kami mengundang Tayhiap!"
Tiat Mo Lek heran.
"Aneh! Orang justeru datang mengundang!" katanya seorang
diri. "Dua orang ini bukan orang-orangnya ayah angkatku!
Tempat; ini bukan wilayah pengaruhnya Ong Pek Thong serta
di sini juga belum pernah terdengar ada mengeram penjahat
asal lain tempat! Ah, siapakah mereka?"
Toan Kui Ciang mendengar suara orang, ia menyingkap
tenda
kereta.
"Aku tidak kenal dua orang itu," kata ia. "Lam Hiante, tolong
kau bicara dengan mereka itu, untuk menyampaikan
penolakanku."
i Sebenarnya Tiat Mo Lek ingin sekali maju bicara akan tetapi
Lam Ce In sudah mendahului ia, terpaksa ia berdiam diri di atas
kereta, menemui Kui Ciang.
"Aku numpang tanya, siapakah itu cecu kamu yang
terhormat?" Ce In tanya setelah menghampirkan kedua
penunggang kuda itu.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau nanti Toan Tayhiap sudah bertemu dengannya, tentu


tayhiap akan mengenalnya sendiri!" sahut satu di antara kedua
penunggang kuda itu.
"Toan Tayhiap sedang sakit," kata Lam Ce In, "Kami dalam
perjalanan buru-buru mengantarnya pulang ke rumah sanaknya
di Touw Ke Ce, karena itu/ jikalau cecu kamu ialah sahabatnya
tayhiap, justeru dari sini ke Touw Ke Ce cuma seperjalanan dua
hari, silahkan minta ia berkunjung saja ke Touw Ke Ce untuk
dapat bertemu satu dengan lain."
Touw Ke Ngo Houw, Lima Harimau dari Touw Ke Ce,
menjadi pemimpin Rimba Hijau di Utara, karena itu Lam Ce In
tak sangsi-sangsi untuk bicara dengan sebenar-benarnya,
bahkan ia sengaja memberitahukan itu dengan maksud
menggertak agar pertempuran dapat dicegah.
Kedua penumpang kuda itu tak berubah parasnya
mendengar disebutnya Touw Ke Ce. Yang satu malah berkata,
"Tentang Toan Tayhiap kurang sehat kewarasannya, siang-
siang kami sudah mendapat tahu. Justeru karena itu maka cecu
kami mengundangnya. Cecu ingin, karena pernahnya terlebih
dekat, baiklah Toan Tayhiap berobat di tempat kami saja."
Yang lainnya lantas menambahkan, "Nama besar Toan
Tayhiap telah lama kami dengar, sungguh kebetulan hari ini
tayhiap lewat di sini maka itu biar bagaimana, kami harus dapat
mengundangnya datang ke benteng kami untuk bertemu
dengan sekalian saudara kami!"
Lam Ce In orang Kang Ouw ulung, mendengar suaranya
kedua orang, ia lantas bisa menduga bahwa orang yang disebut
"Cecu," ketua benteng, oleh dua orang ini pasti mengandung
maksud tidak baik terhadap Toan Kui Ciang. Bahkan dia mesti
musuh.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya musuh hendak merampas Kui Ciang selagi Kui


Ciang sakit, supaya Kui Ciang tidak dapat membantui Touw Ke
Ce. Ia pun percaya, cecu itu sebenarnya tak bersahabat dengan
Kui Ciang. Kalau tidak, tidak perlunya dia tak mau muncul
sendiri atau pun mengirimkan saja kartu namanya. Walaupun
demikian, ia masih dapat berlaku sabar.
"Cecu kamu baik sekali, kebaikannya itu diterima oleh Toan
Tayhiap," berkata ia. "Tetapi keluarga Touw itu sanaknya,
sudah selayaknya dia harus pergi dulu kepada sanaknya itu
untuk membuat pertemuan. Tayhiap lagi sakit, tak dapat ia
bertemu dengan kamu, tuan-tuan, maka itu dia telah memesan
padaku untuk meminta kamu menyampaikan pada cecu kamu,
andaikata cecu kamu itu tidak dapat berkunjung ke Touw Ke
Ce, nanti saja setelah sembuh, tayhiap akan pergi berkunjung
kepada cecu kamu itu."
Dua penunggang kuda itu mengasih lihat roman tawar.
"Benarkah Toan Tayhiap mengatakan demikian?" kata yang
satunya. "Baiklah, anggap saja demikian jawabannya atas
undangan kami! Tapi kami menerima perintah cecu, maka itu
kami sendiri yang minta tayhiap suka menemui cecu kami!"
Habis berkata begitu, orang itu berseru, maka lantas dari
pelbagai rumpun rumput dan aling-alingan batu besar terlihat
keluarnya kawanan berandal dengan semuanya membekal
senjata masing-masing.
Lam Ce ln menjadi mendongkol, maka dengan menerbitkan
suara nyaring, ia menghunus golok mustikanya, lalu dengan
goloknya itu ia menuding kedua penunggang kuda tersebut.
"Apakah perbuatan kamu ini bukannya menyulitkan orang?"
ia menegur. "Kamu memaksa, baiklah! Karena kamu
menghendaki begini, aku Lam Pat, suka aku mewakilkan Toan
Tayhiap melakukan perjalanan ke benteng kamu itu! Hanya

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terlebih dahulu baiklah kamu tanya golokku ini dia suka


mengijinkan aku pergi atau tidak! Orang kamu sudah kumpul
atau belum? Silahkan mereka maju berbareng!"
Dua orang itu terkejut mendengar disebutnya nama Lam Pat,
mereka mengawasi sekian lama, lantas mereka saling
memandang. Cuma sebentar, keduanya tertawa lebar.
"Kiranya Lam Tayhiap dari Gui-ciu!" kata yang satu. '''Maaf,
kami benar-benar kurang hormat! Hanya, Lam Tayhiap,
suararriu barusan ternyata memandang enteng sekali kepada
kami! Kami orang-orang tak ternama, tak berani kami
menempur kau satu dengan satu, tetapi juga benar kami
bukannya bangsa kurcaci, yang gemar akan kemenangan main
keroyok, maka itu, kebetulan kami berdua saudara pernah
mempelajari semacam ilmu golok, justeru ada ini ketika yang
bagus, ingin kami mohon tayhiap memberi pelbagai petunjuk
kepada kami! Apakah tayhiap sudi?
Atau kalau tayhiap menganggap permohonan kami ini tidak
adil, nah silahkanlah itu saudara kecil she Tiat yang berada di
atas kereta datang kemari untuk bermain bersama-sama! Kami
tahu bahwa kami bakal kalah, tetapi kami akan rela menerima
kekalahan kami itu!" Ce In tertawa dingin.
"Jikalau tuan-tuan pasti ingin menempur kau si orang she
Lam, tentu selalu suka aku menemani!" kata ia. "Tuan-tuan
maju satu orang, akan aku menyambut dengan sebatang
golokku ini, andaikata tuan-tuan maju berdua berbareng, aku
akan menyambutnya dengan ini golok sebatang juga!"
Dua penunggang kuda itu lompat turun dari kudanya
masing-masing. Keduanya tertawa keras.
"Benar-benar Lam Tayhiap orang gagah perkasa!" kata yang
satu. "Baiklah, kami berdua saudara akan mempertunjuki
kejelekan kami! Tetapi, tayhiap, tak sanggup kami menerima
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kata bertempur dari tayhiap barusan, kami cuma mohon


pengajaran. Karena golok tayhiap sangat tajam, kami juga
mohon sukalah tayhiap berlaku murah hati!"
"Kata-kata yang bagus! Kata-kata yang bagus!" Ce In
berseru. "Tuan-tuan, jangan kamu terlalu merendah! Karena
kamu cuma ingin melatih ilmu silat kamu dengan aku si orang
she Lam, baiklah, mari kita main-main hanya sampai batas
saling towel, jadi di antara kita tak ada soal siapa kalah siapa
menang!"
Kedua orang itu menghunus golok mereka.
"Silahkan tayhiap memberikan pengajaran!" katanya.
"Eh, tunggu dulu!" mendadak Ce In berkata.
Dua orang itu heran hingga melengak.
Ce In memasuki goloknya ke dalam sarungnya, ia menoleh
ke arah kereta untuk berkata nyaring, "Mo Lek, mari kita tukar
golok kita!"
Ia pun meloloskan golok dari pinggangnya, terus dilempar ke
kereta.
Mo Lek menyambuti dengan heran.
Toan Kui Ciang sambil rebah kata perlahan, "Mo Lek,
serahkan golok di pinggangmu kepadanya!"
Kui Ciang sebagai juga Ce In, adalah bangsa "Tayhiap,"
orang gagah sejati, maka itu dengan golok mustika atau
pedang mustika, mereka tak sudi membinasakan segala orang
tak ternama, tetapi kedua lawan ini telah menyebut mereka tak
mau main keroyok, jadi Ce ln tak suka pakai golok mustikanya
itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Terpaksa Mo Lek melepaskan goloknya dan melemparkannya


pada Ce In.
Lam Pat menyambuti golok untuk terus berkata kepada
kedua lawan, "Tuan-tuanlah tuan rumah, karena tetamu tak
dapat berlaku lancang, silahkan tuan-tuan yang mulai!"
"Baik!" sahut dua orang itu. "Kami menurut perintah! Kami
cuma minta tayhiap suka memberi maaf dan tak berlaku
sungkan!"
Habis itu keduanya mulai menyerang.
Mereka itu mencekal golok, satu di tangan kiri, satu di
tangan kanan, masing-masing dibantu jeriji tangannya yang
kosong. Golok mereka tadi dicabut dengan berbareng dengan
suara "Srett!" yang nyaring.
Ce In heran kapan ia sudah melihat cara orang menyerang.
Nyata ia salah menyangka. Tadinya ia menduga orang ialah
orang-orang tak ternama, tak tahunya serangan mereka itu
lantas menjadi hebat, suatu tanda mereka itu pandai sekali
menggunai goloknya masing-masing.
Liehay Lam Ce In! Di saat golok menghampirkan batok
kepalanya, ia bersiul keras dan nyaring, rubuhnya pun
bergerak, goloknya diangkat ke atas, menyambut serangan
dahsyat itu!
"Tranggg!" demikian suara yang nyaring, hingga dua kali.
Dengan begitu juga terpisahlah golok-golok mereka.
"Bagus!" dua orang itu memuji. Tapi, meski mulut mereka
memuji, berdua mereka maju pula, guna mengulangi serangan
mereka, dari kiri dan kanan. Yang satu dengan golok di tangan
kanan, yang lain dengan golok di tangan kiri. Rapat dan erat

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

penyerangan mereka itu, pula sempurna caranya mereka


membela diri.
Tiat Mo Lek menonton dari atas kereta, ia kagum'.dan
berkuatir...
Tiga buah golok berkelebatan hebat sekali, turuh dan naik
sangat pesat, la tidak menonton lebih lama lagi atau mendadak
ia terkejut sendirinya. Kata ia dalam hatinya, "Bukankah
mereka itu berdua yang dipanggil Im Yang Too, itu dua
saudara Cio yang kesohor? Pantas mereka ketahui namaku!"
Dua saudara Cio itu, yang sulung bernama It Liong dan yang
bungsu It Houw. Mereka biasa bekerja dalam dunia Hek Too
atau Jalan Hitam, berusaha tanpa modal. Untuk wilayah Se
Liang, mereka dikenal baik sebagai "Tok Kak Too" atau " Begal
Kaki Tunggal". Itu artinya begal yang biasa bekerja sendiri,
tanpa kawah lain orang.
Hanya di dalam halnya mereka ini, mereka berdua saudara
bekerja sama. Di waktu bertempur, mereka pun masing-
masing, mencekal golok di tangan kanan dan di tangan kiri.
Disebabkan sifat si kakak lebih licik dan si adik lebih terbuka,
mereka dijuluki Im Yang Too itu, ialah si "Golok Im" dan si
"Golok Yang".
Tiat Mo Lek turunan leluhur penjahat, semasa hidupnya
ayahnya, Tiat Kun Lun, ayah itu bersama-sama Touw Leng Ciok
dan Ong IVk Thong mendapat julukan "Lok Lim Sam Pa" atau
"Tiga Jago Lok 1 im (Rimba Hijau)''.
Karena itu, ia kenal baik banyak penjahat, atau sedikitnya
pernah mendengar nama saja. Dalam hal ini, ia lebih menang
daripada Lam Ijer In tak perduli berpengalaman...
Mengetahui orang ialah Im Yang Too, Mo Lek menjadi
berkualu untuk kawannya itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Paman Lam tak kenal asal-usulnya dua saudara Cio ini, dia
kena diakali!" katanya dalam hati. "Begitulah Paman Lam tak
menggunai gnloV mustika hanya memakai golok biasa saja!"
Berbareng dengan itu, bocah she Tiat ini juga heran
mengenai II Liong dan It Houw. Sebagai Tok-kak-too, dua
saudara itu tersohor ilal.tm Jalan Hitam, selalu mereka bekerja
berdua, tak pernah mereka bei kawan lain orang, maka itu
heran sekarang mereka muncul dan bekerja bual apa yang
disebut "Cecu," ketua benteng atau rombongan penjahat
lainnya
Pikirnya, "Apa mungkin mereka sudi merendahkan diri
bekerja di bawah perintah lain orang dan rela menjadi hanya
tauwbak, pemimpin sebawahan?"
Lam Ce In bertempur hebat dengan dua saudara Cio itu.
(a>luk mereka terus berkilauan, tubuh mereka berlompatan,
sebentar iapal sebentar bercerai. Mereka bergerak dengan
pesat dan lincah sekali Mala orang biasa jadi kabur melihati
golok-golok berkeredepan. Seru d.m l.uua mereka bertempur,
Mo Lek menjadi tambah berkuatir.
Tengah si bocah bingung, ia dikejutkan bentakan Lam Ije In
disusul dengan suara beradunya keras senjata mereka itu, lalu
bertiga mereka mencelat mundur masing-masing, terpisah satu
dari lain!
Parasnya dua saudara Cio menjadi pucat lalu guram. Mereka
mendapatkan goloknya masing-masing tinggal separuh, sebab
golok mereka itu pada buntung kutung!
Lam Ce In di lain pihak berdiri tenang, hanya dengan
menyekal terus goloknya, terus ia menjura, sembari memberi
hormat itu, ia kata tenang, "Terima kasih sudah suka
mengalah! Sekarang dapatkah kami dibiarkan berlalu bersama-
sama kereta kami?"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In mengurungi goloknya kedua lawan sedang goloknya


sendiri golok biasa, tak heran ia membuat musuh-musuhnya
menjublak. Mereka itu kagum dan heran. Itulah bukti bahwa
tenaga dalamnya jauh terlebih mahir.
Kawanan penjahat semua mengulur lidah dan matanya
mendelong...
Setelah sunyi sejenak maka dari antara tumpukan-tumpukan
batu yang kacau terdengar siulan nyaring dan lama, menyusul
mana terlihat munculnya orang yang bersiul itu.
Dialah seorang yang berusia masih sangat muda, ditaksir
baru lebih kurang dua puluh tahun, roman dan dandanannya
mirip pemuda pelajar, sedang di tangannya terdapat sebuah
kipas, yang ia pakai mengipas perlahan tak hentinya. Hanya,
apabila diawasi terlebih lama, nampak dalam kehalusan macam
itu tersembunyi sifatnya licik atau sesat.
Ketika mulanya dua saudara Cio memegat kereta, sampai
berkumpulnya semua kawan penjahat, orang muda itu tak
nampak, jadi teranglah dia baru tiba.
Lam Ce In heran. Ialah orang ulung dan berpengalaman dan
waspada. Sekalipun tengah berkelahi, ia masih mengambil
kesempatan akan kadang-kadang melirik ke sekitarnya, dan
telinganya dipasang juga. Sejak tadi tak pernah ia melihat anak
muda itu, tak pernah ia mendengar tindakan kaki. Jadi, sedari
kapan anak muda itu tiba di situ?
Begitu melihat pemuda pelajar itu, kawanan berandal
bertempik sorak. Mereka girang bukan main. Cuma dua
saudara Cio yang mukanya berubah menjadi merah saking
jengah. Mereka melemparkan golok buntung mereka, akan
berkata sukar kepada si pemuda, "Siauw-cecu, kami berdua
saudara menyesal...!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Anak muda itu sebaliknya, tertawa manis.


"Memang mana bisa kamu mengganggu Lam Tayhiap?"
katanya. "Biarlah aku sendiri yang memaksa mengundangnya!"
Ia mengangkat kipasnya, ia menghadapi Ce In sambil
tertawa, terus ia kata, "Kami mengundang dengan
sesungguhnya hati, apakah benar-benar Lam Tayhiap dan Toan
Tayhiap tak sudi memberi muka kepada kami?"
"Siauw-cecu mengundang kami berulang-ulang, kami sangat
berterima kasih," menjawab Ce In, "Hanya menyesal sekali, tak
dapat aku menerima undangan cecu, terpaksa aku mesti
menampik. Sekarang ini Toan Tayhiap lagi sakit dan isterinya
lagi mengharap-harap kedatangannya di Touw Ke Ce! Tentang
itu tadi telah aku jelaskan pada kedua hio-cu dari perbentengan
siauw-cecu. Aku mohon dimaafkan saja."
Pemuda itu melirik, dia tertawa.
"Sungguh sayang aku sendiri yang telah meminta leng-cian
perintahan!" kata dia. "Karena itu, tak dapat tidak, mesti aku
mengundang Lam Tayhiap beramai! Bagaimana sekarang? Lam
Tayhiap, maafkan aku, ingin aku mengutarakan sesuatu yang
kurang pantas. Tak perduli tayhiap beramai ingin lekas-lekas
melanjuti perjalanan kamu tetapi pasti aku mesti menahan
kamu!"
Hati Ce In menjadi panas. Itulah paksaan! Tak sudi ia
dipengaruhi
orang.
"Baiklah!" ia menjawab dalam murkanya, suaranya keras.
"Jikalau siauw-cecu mempunyai kepandaian untuk menahan
kami, persilahkan! Sekarang ini percuma kita ngoceh saja!"
Anak muda itu sabar sekali, dia tertawa pula.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sungguh tayhiap jujur dan polos!" katanya. "Baik! Hendak


aku mengandali kipasku ini untuk main-main sejurus dua jurus
dengan tayhiap!"
Menutup kata-katanya itu, ia maju seraya lantas menyerang!
Dengan ditutup, kipas si anak muda bergerak sebagai poan-
koan-pit, senjata yang merupakan alat tulis. Jadi itulah senjata
peranti menotok jalan darah. Yang di arah pula jalan darah kin-
ceng dari Lam Ce In. Cepat dan lincah tangan pemuda itu
bergerak.
"Pantas dia jumawa, kiranya liehay ilmu totoknya," pikir jago
she Lam ini, "Dia tak ada dibawahan U-bun Thong!"
Karena ini, sahabatnya Toan Kui Ciang ini berlaku sabar dan
waspada. Ketika kipas mengancam, ia tidak lekas-lekas
menangkis atau berkelit mundur atau nyamping. Sebaliknya ia
menanti.
"Lepas tanganmu!" ia berseru ketika serangan tiba. Ia
menyambut dengan belakang golok, menghajar senjata orang
itu.
Berbareng dengan itu, si anak muda juga berseru, "Lepas
tanganmu!"
Itulah sebab tanpa menanti kipasnya dibikin terpental, dia
sudah membaliknya, buat dipakai menempel belakang golok
lawan.
Kedua senjata bentrok keras, lalu kipas si anak muda
terpental, hanya kipas itu tak lepas dari cekalan. Golok Ce In
sendiri tak bergeming.
Dengan begitu orang she Lam ini menang unggul sedikit
sekali, hingga lebih surup apabila mereka dikatakan seimbang.
Anak muda itu tidak kaget, dia bahkan tertawa.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dua-dua tak melepaskan tangannya!" katanya, gembira.


"Mari lagi! Mari lagi! Kita coba pula!"
Dan dia menggeser tubuhnya maju, tindakannya yang
pertama ke samping, lalu disusul dengan tindakannya yang
kedua, maka juga dilain saat dia sudah berada di sebelah
belakang lawannya, untuk dengan sama gesitnya mengulangi
serangannya, kembali menotok jalan darah! Hanya kali ini dia
mengarah jalan darah Hong-hu.
Punggungnya Lam Ce In seperti ada matanya, ia lantas
menyampok ke belakang, menangkis sambil menyerang.
Senjatanya panjang, senjata lawan pendek, maka itu sebelum
ujung kipas si anak muda mengenai sasarannya, goloknya
sudah mendahului memapas ke lengannya anak muda itu.
Pemuda itu terkejut, dia lantas menarik pulang tangannya,
kipasnya diputar naik, guna disingkirkan. Pundaknya pun
dikasih turun. Akan tetapi dia masih terlambat sedikit. Senjata
mereka berdua bentrok dengan mengasih dengar suara
nyaring. Ia kaget karena telapakan tangannya terasa nyeri. ^
"Ilmu golok yang bagus!" dia memuji sambil dia lompat
mundur tiga tindak.
Lam Ce In telah memutar tubuhnya, dengan lantas ia maju
menyerang. Ia seperti tidak mau mengasih hati. Dengan begitu
ia mencegah si anak muda dapat berlompat mundur lebih jauh,
dia mesti melayaninya walaupun dia menjadi repot.
Terus Ce In mendesak. Ketika ia membacok dengan jurus
"Menghajar gunung Hoa San," ia berseru keras. Goloknya
menyambar dengan mengeluarkan suara angin menderu.
"Bagus!" berseru si anak muda. Dia berkelit dengan mendak,
habis itu dia lompat mencelat dengan jumpalitan jauhnya satu

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tombak. Nyata dia gesit sekali dan nyalinya besar, walaupun


terdesak, hatinya tetap tabah.
Penyerangannya Ce In itu dilakukan dengan tenaga delapan
bagian, tetapi si anak muda menggunai tipu huruf "Lolos," dia
dapat menyelamatkan dirinya, karena itu, dia lolos dengan
kipasnya tak terlepas dari cekalan.
Biar bagaimana Ce In kagum.
"Dalam dunia Kang Ouw sekarang ini muncul orang-orang
muda yang liehay," katanya di dalam hati. "Dulu hari sewaktu
usiaku sebaya ini, aku tidak seliehay dia ini..."
Tengah orang memikir demikian, si anak muda menggunai
ketika untuk menyerang. Dia tak menjadi kapok atau takut. Dia
maju sambil berlompat.
"Benarkah kau hendak mengadu jiwamu!" tanya Ce In keras.
Ia menegur sambil membabat ke bawah, guna memapas kedua
kaki lawannya.
Melihat datangnya bahaya itu, si anak muda mengangkat
kedua kakinya. Sambil membebaskan diri itu, dia menyerang
terus, mengarah alisnya lawan. Dia menotok jalan darah yang-
pek.
Itulah hebat. Itulah perlawanan mati hidup bersama. Kalau
Ce In menyerang terus, ia bisa berhasil, sebaliknya, alisnya bisa
tertotok. Ia bersangsi, karena ia anggap ia bukan menghadapi
musuh besar. Disamping itu ia merasa suka kepada si anak
muda untuk kegesitan dan nyali besarnya. Demikian ia menarik
pulang goloknya, sambil menangkis, ia mundur.
Si anak muda benar berani dan bandel. Justeru lawan itu
mundur, justeru dia merangsak. Dia membalas menyerang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mau atau tidak, Ce In mesti main mundur. Keras rangsakan


anak muda itu.
Kalau Ce In menyayangi si anak muda itu, anak muda itu
sebaliknya. Dia justeru hendak membuat nama Ce In yang
sudah tersohor sebagai seorang petualang besar, sebagai jago
pengembaraan, ingin dia merobohkannya. Supaya dia
menggantikan mendapat nama besar itu.
Dia masih muda dan baru saja muncul, kalau dia dapat
pecundangi seorang jago tua, tidakkah namanya naik seketika?
Itulah sebabnya dia berani berlaku nekad, untuk roboh
bersama.
Pemuda itu berpikir demikian. Tak dia pikir lebih jauh bahwa
percuma dia mengadu jiwa secara begitu. Ce In bisa terluka,
tapi sama-sama terluka, dia yang lebih celaka. Sebab dia pasti
bakal buntung kedua kakinya! Tak gunanya kalau dia menjadi
bercacad tak dapat berjalan.
---ooo0dw0oo---

Jilid 7

Hal ini dia ingat belakangan, maka diam-diam dia


mengeluarkan keringat dingin di punggungnya.
Walaupun begitu, keras sekali niatnya merobohkan Ce In, dia
sangat bandel dan berani. Tanpa menghiraukan bahwa orang
memikir baik untuk dirinya, dia mulai dengan penyerangannya
pula, untuk mendesak sekali.
Kembali Ce In menjadi repot. Kipas si pemuda sebentar
dibuka sebentar ditutup. Dibuka kipas itu bergerak seperti golok
memapas, ditutup seperti alat peranti menotok jalan darah.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kipas itu terbuat dari baja dan tulang-tulangnya dibikin


berujung tajam.
Lam Ce In menjadi sengit. Ketika ia sedang diserang, ia
berseru dengan bentakannya. Ia diarah lengannya. Sambil
berseru itu, ia menolak keras.
Si anak muda terkejut, dia terhuyung tiga tindak, terus dia
muntah darah.
Akan tetapi Ce In pun tidak bebas seluruhnya. Ujung kipas
mampir juga di lengannya, hingga lengannya itu menjadi
borboran darah.
Kawan-kawan si anak muda terkejut mendapatkan tuan
mudanya terluka, sambil berseru-seru mereka maju.
"Semua mundur.'" membentak si anak muda, hingga orang-
orangnya itu merandek. Ia bertindak dengan tindakan
"Naga'melingkar" menghampirkan Ce In, sedang kipasnya
dibuka.
Sambil maju itu, ia kata dingin, "Sama-sama kita telah mandi
darah, tetapi kita belum kalah atau menang, keduanya tidak
rugi, maka itu, mari maju, mari kita bertempur pula!"
Ce In memindahkan goloknya ke tangan kiri.
"Baik!" ia menjawab tantangan. "Kau begini bandel, akan
aku membikin kau dapat mencapai cita-citamu! Jikalau didalam
batas seratus jurus aku tidak berhasil mengalahkan kau, aku
puas, suka aku mengaku kalah! Selama seratus jurus ini, siapa
terluka, bercacad atau mati, dia terserah kepada nasibnya!"
Sebagai seorang jago, Ce In mengasih dengar suaranya itu,
dengan begitu berarti ia memandang lawan muda itu sebagai
lawan seimbang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis muntah darah, mukanya si anak muda menjadi pucat,


akan tetapi mendengar suara Ce In, mendadak wajahnya
bercahaya, dia tertawa lebar dan kata nyaring, "Lam Tayhiap,
aku justeru menghendaki kata-katamu ini!"
Lantas dia menyerang.
Ce In menangkis, terus ia menangkis hingga tiga kali. Ia
kata, "Bagaimana kalau kau roboh didalam seratus jurus itu?"
Si anak muda dapat menerka hati orang, dia menyahut
sambil tertawa, "Paling juga aku menyerahkan nyawaku
padamu! Kita berdua bertanding, inilah urusan kita, sedang
urusan ayahku mengundang orang, itulah urusan lain,
keduanya itu tak dapat dicampur menjadi satu!"
Dia melihat langit, lantas dia teriaki orang-orangnya, "Sang
sore bakal tiba, kamu tak usah menantikan lagi pertempuranku
ini dengan Lam Tayhiap, jangan menunggui sampai siapa kalah
dan siapa menang, lekas kamu menyambut Toan Tayhiap
pulang ke benteng!"
Suara itu didengar, maka orang-orangnya itu sambil
menyahuti lantas bergerak ke arah kereta.
Lam Ce In menjadi mendongkol dan gusar sekali. Nyatalah
orang sangat licik. Itu pula berbahaya untuk Toan Kui Ciang,
yang baru mulai segar. Mana dapat Kui Ciang menyambut
serangan sedang Tiat Mo Lek bersendirian? Karena gusarnya, ia
menyerang hebat, goloknya seperti tak mengenal kasihan.
Sayang ia mesti menggunai tangan kiri.
Sebaliknya si anak muda, dia dapat bergerak dengan leluasa
dengan kipasnya yang liehay itu. Bahkan dia mendesak seru.
Tiat Mo Lek melihat orang meluruk ke arahnya. Begitu
serangan datang, sembari duduk di atas kereta, ia membabat.
Untungnya ia memakai golok mustika dari Ce In. Maka juga dua
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

batang tombak serta sebatang golok lantas lantas terbabat


kutung goloknya itu.
"Majulah, siapa tidak takut mampus!" ia berseru. Ia pun
mendongkol.
Cio It Liong tertawa. Kata dia, "Saudara Tiat, aku
memandang mata pada mendiang Tiat Cecu, tak memikir aku
untuk mempersulit kau!
Bukankah kau pun orang Jalan Hitam seperti kami? Tak
tahukah kau aturan Rimba Hijau kita, kalau kita mengundang
tetamu, apabila tetamu itu tidak datang, itulah suatu pantangan
besar? Hari ini Toan Tayhiap menjadi tetamu kami yang utama,
kamu berdua ialah tetamu tukang menemani, karena itu,
benarkah kau tidak hendak minum arak pemberian selamat
hanya menginginkan arak dendaan?"
Tiat Mo Lek tertawa dingin, la menjawab, "Cio Lotoa, tak
kusangka kau masih mempunyai kulit muka untuk bicara
denganku perihal aturan Rimba Hijau! Kaulah orang Rimba
Hijau kelas satu, kenapa kau suka menjadi gundal orang? Ya,
itu pun masih tidak apa! Kau sudah mewakilkan majikanmu
mengirim surat undangan. Surat undangan sudah ditolak, kalau
toh undangan hendak diulangi, si pembawanya mesti lain
orang, orang yang baru, kau mesti mengalah!"
Mukanya orang she Cio itu menjadi merah. Tajam
perkataannya si bocah. Maksudnya itu membilang, tadi dia
kalah oleh Ce In. Karena kalah, dia tak berderajat buat terus
mewakilkan majikannya "Mengundang tamu". Sebagai jago
Rimba Hijau, yang mengerti aturan kaumnya, tak berani dia
maju pula.
Sebaliknya seorang penjahat lain, yang tubuhnya tinggi dan
besar, lantas menggantikan dia. Dia ini berkata nyaring,
"Baiklah, aku yang menggantikan menjadi wakil untuk
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengundang tetamu! Tiat Siauw-cecu, aku minta sudi apakah


kau memberi muka padaku!"
Kata-kata itu dibarengi dengan serangannya. Dia menggunai
sebuah gembolan tembaga yang berat. Senjata itu menyatakan
bahwa dia memiliki tenaga yang besar sekali.
Tiat Mo Lek masih berdiam di atas keretanya, ia tidak
merdeka. Tak dapat ia bergerak kesana kemari atau
berlompatan. Atas datangnya serangan, terpaksa ia menangkis.
Benar ia menggunai golok bnustika tapi golok itu tak dapat
menebas gembolan yang tebal. Maka itu tangannya tergetar
dan kesemutan, ngilu dan nyeri.
Syukur ia telah memperoleh tak sedikit petunjuk dari Toan
Kui Ciang dari itu ia mengerti ilmu "Meminjam tenaga untuk
menghajar tenaga" Demikian goloknya meleset ke pinggiran
gembolan, terus nyerempet baju lawan, hampir ujungnya
mampir di tulang selangka.
Sayang ia masih kurang latihan, kalau tidak, senjata musuh
bisa terlepas karena dia terlukakan parah.
Penjahat itu gusar sekali, maka dia mendamprat, "Bocah,
kalau begitu benar kau menghendaki arak dendaan! Baiklah,
mari'kita tak berlaku sungkan-sungkan lagi!"
Dia lantas mengulangi serangannya, yang hebat.
Dua penjahat lain pun maju guna mengepung, masing-
masing menggunai ruyung baja dan roda besi, semua senjata-
senjata yang tak mudah terbabat kutung. Dengan begitu Mo
Lek lantas menjadi terdesak.
Selagi begitu, Toan Kui Ciang menyingkap tenda kereta,
rubuhnya menyender di senderan. Ia melihat jalannya
pertempuran, ia kata nyaring, "Tiat Mo Lek, berhenti! Mereka
itu datang untukku, biarlah mereka datang padaku!"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Penjahat yang mencekal gembolan tertawa.


"Dasar Toan Tayhiap orang yang mengerti suasana!"
katanya. "Sebenarnya kami mengundang tayhiap dengan
maksud hati yang sungguh-sungguh!"
Ia maju mendekati, sebelah tangannya diulur, maksudnya
buat memimpin orang yang terluka parah itu.
Kui Ciang kata tawar, "Aku si orang she Toan, aku dapat
menerima yang lunak tetapi tidak yang keras! Kau ini menarik
tetamu, bukannya mengundang! Maka pergilah kau suruh
majikanmu sendiri datang ke mari!"
Penjahat itu tak memandang mata pada Kui Ciang. Orang,
lagi sakit. Memang dia memimpin untuk menarik. Dia tak tahu
Kui Ciang seorang cerdik Ketika tangannya nempel dengan
tangan si sakit itu, dia kaget bukan main!
Kui Ciang berlaku sangat sebat. Ia memutar tangannya dan
menangkap, tenaganya berbareng dikerahkan. Segera tangan si
penjahat meretek, sebab tulangnya patah seketika, hingga dia
menjerit kesakitan keras sekali, gembolannya terlempar
mengenai dua kawannya hingga mereka itu terluka.
Kedua kawannya orang itu kaget tetapi mereka lantas
menyerang Kui Ciang.
"Pergi kamu!" Kui Ciang membentak sambil kedua biji
matanya mencilak sedang tangannya diulur. Ia menyampok
roda besi hingga senjata istimewa itu terpental membentur
ruyung kawannya!
Perlawanan Kui Ciang ini sebenarnya berbahaya. Ia lagi
berkelahi sambil duduk, tak merdeka dia untuk menggeraki
kakinya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hebat bentroknya senjata kedua penjahat itu. Yang


tersampok terpental, yang terbentur terpental juga, maka
keduanya roboh bersama, tubuh mereka terlentang.
Mo Lek tertawa melihat kesudahan itu.
"Bagus! Bagus!" ia memuji.
Semua penjahat mundur sendirinya. Kaget dan jeri mereka
menyaksikan Kui Ciang demikian Iiehay.
Sekarang si orang she Toan menghunus pedangnya, sambil
terus bersender, ia kata keren, "Tuan siapa lagi yang mau maju
menyampaikan surat undangan?"
Setelah makan obat beberapa hari Kui Ciang maju baik, tapi
ia perlu beristirahat, siapa tahu sekarang ia justeru menggunai
tenaga berlebihan, maka itu setelah melayani ketiga musuh itu,
ia merasakan darahnya mendesak naik dan matanya pun
berkunang-kunang cuma berkat hati yang kuat, dapat ia
mempertahankan diri. Ia berseru untuk menggertak saja.
Penjahat-penjahat lainnya dapat digertak, tidak
persaudaraan Cio. Mereka orang Rimba Hijau ulung. Mulanya
saja mereka kaget, lantas mata mereka yang tajam dapat
melihat tegas wajahnya Kui Ciang. Mereka juga mendengar
suara orang kekurangan dorongan tenaga dalam. Itulah tanda
luka yang belum sembuh betul.
"Maju!" mereka berteriak seraya bersiul.
Kawanan penjahat lantas maju lagi, mengurung kereta.
Cio It Liong malu untuk maju pula, ia berbisik pada
kawannya yang bersenjata ruyung. Penjahat itu kelihatan
girang, lantas dia maju ke depan. ^
Kata dia pada Kui Ciang, "Toan Tayhiap, karena kau tak sudi
memberi muka kepada kami, harap kau maafkan kami terpaksa
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berlaku tak sungkan lagi! Kawan-kawan, hayo maju! Pakailah


senjata rahasia!"
Hebat anjuran yang berupa perintah itu. Lantas semua
penjahat itu mengeluarkan senjata gelap mereka, seperti golok
terbang, kim-chie-piauw, panah tangan dan bandring. Semua
senjata itu meluruh ke arah si sakit.
Untuk menjaga diri, Kui Ciang putar hebat pedangnya. Tak
dapat ia menggeraki tubuh untuk berkelit. Sudah bagus ia
cepat sekali dapat menyalurkan napasnya.
Tiat Mo Lek kaget berbareng gusar. Ia maju ke depan Kui
Ciang, guna mengalingi. Ia putar goloknya guna menghalau
setiap senjata rahasia. Ia kata nyaring, "Oh, kawanan bangsat
hina dina! Sungguh kamu membikin ludas muka terang jago-
jago Rimba Hijau!"
Penjahat yang memegang ruyung tertawa.
"Tiat Siauw-cecu!" katanya, "Kau sendiri tidak menghormati,
mana dapat kau menyesalkan kami? Jangan kau takut!
Umpama kata kau terluka, nanti aku obaVi kau...!"
Ketika itu Mo Lek luput dengan penjagaan dirinya. Dua
panah tangan mengenakan padanya dan sebutir batu mampir
di dahinya hingga dahi itu luka mengeluarkan darah. Syukur
kawanan penjahat ingin menangkap hidup padanya, mereka itu
tidak menggunai racun.
"Mo Lek, kau masuk ke dalam kereta!" Kui Ciang menitahkan
melihat bocah itu terluka.
Si bocah tidak mau masuk, dia tetap bertahan.
Tepat itu waktu terdengar suara larinya kuda, yang
mendatangi, tempo kuda telah datang dekat, terlihat

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

penunggangnya, seorang.nona, bahkan dialah Nona He Leng


Song.
Nona He lantas melihat pertempuran di antara Lam Ce In
dan si anak muda, ia rupanya merasa heran maka ia mengasih
dengar suara "Ai!" perlahan.
Si anak muda, yang lagi berkelahi itu, melihat juga si nona,
mukanya lantas berubah, ia pun mengasih dengar seruan "Ai!"
itu. Tapi ia lagi didesak Ce In, ia repot membela diri, tak
sempat ia berpikir lainnya.
Si nona juga melihat kereta lagi dikurung penjahat dan Tiat
Mo Lek repot bukan main, maka itu, kalau tadinya ia mau
menghampirkan Ce In, sekarang ia merubah haluan, ia larikan
kudanya ke arah kereta.
Kawanan penjahat melihat datangnya orang baru, mereka
menyangka pada musuh, lantas mereka menyambut dengan
pelbagai senjata rahasia mereka.
Leng Song kuatir kudanya terluka dengan satu lompatan
"Ikan emas menyerbu gelombang," ia lompat turun dari
binatang tunggangan itu, sembari berlompat, ia menghunus
Ceng Song Kiam, dari itu dengan pedangnya itu ia membela
diri, menangkis serangan, hingga ramailah terdengar suara
membentur pelbagai senjata gelap itu.
Semua penjahat heran, mereka terkejut. Justeru begitu si
nona maju terus, menghampirkan mereka sampai dekat, hingga
selanjutnya tak merdeka mereka menggunai terus senjata
rahasia.
Si nona juga bergerak dengan lincah ke segala penjuru,
hingga ia membikin musuh menjadi bingung. Setiap pedangnya
ditusukkan, atau ditabaskan, tentu-tentu ada musuh yang

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menjerit kesakitan atau terhuyung dengan senjatanya lepas


dari tangannya.
Ilmu silat pedang Nona He liehay dan luar biasa siapa
terkena itu tentulah dia terluka dan senjatanya terlepas dari
tangannya tapi dia tanpa terluka parah kecuali rasa nyerinya
yang mengagetkan dan mengecilkan hati.
Seorang penjahat dengan golok besar menjadi gusar. Dia
merangsak maju. Dengan lantas dia membacok si nona. Dia
ingin menghajar terlepas pedangnya nona itu.
Leng Song berkelit, terus ia menikam. Tapi lawan itu kosen,
dia bisa berkelit juga. Atas itu Nona He maju pula. Ia lantas
menggunai tipu silatnya yang liehay. Mulanya ia menggeser ke
kiri, guna dapat menyerang dengan tepat.
Penjahat itu melawan dengan baik, ketika ia menangkis,
senjata mereka beradu keras. Akan tetapi kali ini, begitu
senjata beradu, begitu si penjahat berkaok kesakitan. Diluar
kesanggupannya membela diri, dengkulnya kena dipapas, maka
robohlah dia, bahkan tubuhnya terguling, terus ke kaki gunung!
Rombongan musuh menjadi takut, mereka lantas lari bubar.
Persaudaraan Cio sudah menukar senjata mereka, ketika
mereka melihat suasana buruk itu, dengan terpaksa mereka
maju mengepung Nona He.
Nona ini liehay, ia melawan dengan gagah, apamau ia
mendapatkan dua saudara itu dapat bersilat bersatu padu,
serangannya yang berbahaya dapat dihalau. Mereka itu terus
mengurung rapat.
"Mo Lek, kau bantui nona itu!" kata Kui Ciang, yang
menyaksikan pertempuran main keroyok itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kawanan penjahat tak lari semua, masih ada yang dari jauh
menyerang dengan senjata rahasia mereka, tetapi sekarang Kui
Ciang bisa membela dirinya. Senjata rahasia itu tak sebanyak
tadi dan dipakai menyerang dari jarak jauh, ancaman
bahayanya kurang.
Haji Mo Lek panas, maka itu, mendengar perintahnya Kui
Ciang, ia lantas lompat turun dari kereta, guna menceburkan
diri dalam pertempuran. Tiga lukanya tidak menyebabkan dia
letih.
Dua saudara Cio bukannya lawan Leng Song, cuma kalau Mo
Lek tidak datang, mereka masih dapat bertahan sekian lama,
sekarang dengan munculnya si bocah liehay, mereka lantas
keteter. Mo Lek juga memakai golok mustikanya Ce In.
Mulanya golok sebatang dari Cio It Houw tertabas golok si
bocah. It Houw kaget. It Liong melihat gelagat, dia lantas tarik
tangan saudaranya itu, buat diajak menyingkir dari gelanggang.
Mo Lek mau menghajar, tetapi si nona mencegah ia.
"Musuh kabur tak usah dikejar!" kata nona itu, tertawa. "Adik
kecil, kau ampuni mereka itu!"
Si nona lantas menoleh, akan memandang pertempuran Ce
In dengan si anak muda.
Pertempuran berjalan tetap seru, hanya semenjak
munculnya si nona, si pemuda nampak gelisah. Rupanya dia
ingin lekas menghentikan pertempuran, dia mencoba mendesak
hebat pada musuhnya. Berulang kali dia menggunai jurus yang
membahayakan.
Ce In gagah, dia berpengalaman, dia dapat melihat keadaan
lawan. Dia senang mendapatkan dia diserang hebat itu. Dia
melayani dengan sabar, sembari dia mencari ketika. Dengan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lincah dia mengeluarkan ilmu golok "Yu Sin Toan Bun Too". Dia
bergerak mundur, agaknya dia terdesak.
Si anak muda mendapat lihat orang-orangnya kena dipukul
mundur, ia jadi tambah gelisah. Satu kali mendadak ia berseru,
"Akan aku adu jiwaku denganmu!" dan terus ia menyerang
keras berulang kali.
Meski didesak hebat, selang enam atau tujuh jurus, Lam Ce
In justeru tertawa nyaring dan kata, "Bagus!" Dengan begitu
mulailah serangan membalasnya. Maka lekas juga si anak muda
berbalik terdesak.
"Lam Tayhiap, tahan...! Tahan...!" seru Leng Song akhirnya.
Justeru itu ujung golok si orang she Lam telah mampir di
pundak si anak muda, melukai panjang lima dim, hingga
darahnya mengucur. Syukur ada seruan si nona, kalau tidak,
tak dapat golok itu ditahan. Ce In jadi membenci pemuda itu,
hingga ingin ia menghajarnya hingga bercacad.
Walaupun ia menang, di dalam hatinya Ce In mengeluh
sendirinya. Kemenangannya itu didapat di dalam jurus yang ke
lima puluh satu. Inilah diluar dugaannya.
Pikirnya, "Kalau dia tak bergelisah, mungkin sampai seratus
jurus belum bisa aku merobohkannya..."
Anak muda itu lompat keluar gelanggang, mukanya merah.
Dia memegang kipasnya sembari menjura dan berkata, "Ilmu
silat golokmu ilmu silat yang bagus sekali! Aku berterima kasih
dapat menerima pengajaran kau ini! Karena gunung hijau dan
air biru itu kekal adanya, sampai lain kali kita bertemu pula!"
Kata-kata yang pertama ditujukan kepada Lam Ce In, akan
tetapi di waktu mengakhirinya, pemuda itu memandang Nona
He, atas mana bibir si nona bergerak, hanya batal ia

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengucapkan sesuatu, sebab si anak muda sendiri sudah


lantas lari kabur. Ia nampak bingung...
Lam Ce In menyerahkan goloknya kepada Tiat Mo Lek, untuk
ditukar dengan goloknya sendiri. Ia sebenarnya heran tetapi ia
kata pada si nona, "Nona, terima kasih banyak untuk
bantuanmu!"
Mo Lek heran, tak dapat ia menahan diri.
"Nona He, apa nona kenal penjahat itu?" dia tanya.
Muka si nona merah, ia menjawab likat, "Pernah aku
bertemu dia satu kali, kita bukannya sahabat satu dengan
lain..."
Ce In heran tetapi ia tidak berani menanyakan.
Sampai disitu, ketiganya bertindak ke kereta.
Toan Kui Ciang sudah menanti, begitu orang tiba, ia
menanya, "Inikah Nona He?"
Leng Song menyahuti, "Ya," lalu ia memberi horrhat dengan
merangkap kedua tangannya kepada Kui Ciang. Ia pun lantas
rrienanyakan kewarasannya Kui Ciang kepada siapa ia
memanggil pehu, paman tua.
Melihat nona itu, Kui Ciang teringat kepada Pek Ma Liehiap
Leng Soat Bwe, Jago Wanita Kuda Putih. Sekarang ia dipanggil
pehu, kesangsiannya lantas lenyap.
"Bukankah ibumu she Leng dan namanya Soat Bwe?" ia
tanya terus terang, tanpa ragu-ragu.
Leng Song kembali menyahuti, "Ya," lalu ia tertawa dan kata,
"Setiap orang membilang bahwa aku mirip ibuku, ternyata Toan
Pehu melihatnya sama!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang berdiam sejenak. Ia terganggu kesangsian lainnya.


Tapi akhirnya ia menanya juga, "Aku belum menanyakan
tentang ayahmu..."
"Ayahku she He asal dari Louw-liong," sahut si nona,
"Namanya ialah Seng To. Ketika aku dilahirkan, ayah sudah
menutup mata..."
Kui Ciang heran hingga ia berpikir, "Ketika itu malam mereka
menikah, baru saja He Seng To masuk dalam kamarnya, dia
lantas nampak bencana, kenapa sekarang bisa terlahir anak
dara ini? Merekalah pemuda gagah perkasa dan nona gagah
putih bersih, tidak nanti sebelumnya pernikahannya
dilangsungkan, mereka sudah terlebih dahulu main gila... tidak
nanti!"
Masih ada satu lagi, yang menambah keheranannya Kui
Ciang. Menyebut-nyebut ayahnya itu, Leng Song tak berduka
luar biasa. Kalau dia tahu bencana yang merampas jiwa
ayahnya itu, tak nanti dia tak minta bantuannya untuk mencari
balas untuk ayahnya itu.
"Mungkinkah ibunya belum menuturkan pada dia tentang
nasib ayahnya itu?" ia berpikir terlebih jauh. "Dia telah menjadi
dewasa begini, kenapa ibunya masih merahasiakannya?"
Tak dapat Kui Ciang memecahkan keragu-raguannya itu,
bahkan sebaliknya, ia menjadi semakin heran.
Leng Song pun heran melihat sikap diam dari Kui Ciang itu,
hanya selagi ia hendak berbicara, orang telah mendahuluinya.
"Sekarang ini ibumu berada di mana?" tanya Toan Tayhiap.
Nona itu tidak segera menjawab, ia agak bersangsi. "Dulu hari
itu aku sering ada bersama ayah dan ibumu," Kui Ciang kata
pula. "Kitalah sahabat-sahabat kekal."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ibu memang pernah membicarakan urusan


persahabatannya dengan pehu," si nona kata akhirnya. "Hanya
sekarang ini setelah hidup menyembunyi banyak tahun, ibu tak
memikir pula untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Ibu
meminta aku menyampaikan hormatnya kepada pehu serta
mohon sukalah pehu memaafkannya."
Kui Ciang heran sekali. Maka bertambahlah keheranannya.
Katanya di dalam hati, "Kenapa Soat Bwe tak mau menemui
sekalipun aku? Mungkinkah karena kecelakaannya dulu itu dia
menjadi tawar, hati, sampai pun sakit hati suaminya dia tak
memikir untuk membalasnya?"
Kui Ciang tahu tak perlu dia menanyakan terlebih jauh
tentang ibu orang. Hanya sebentar, ia menukar haluan. Ia
tanya, "Katanya kau berniat membinasakan Se-gak Sin Liong
Hong-hu Siong, entah buat urusan apakah itu?"
"Ibu membilangi aku dialah hantu kepala yang tak ada
kejahatan yang tak diperbuatnya!" menjawab si nona. "Maka
itu aku dipesan untuk membinasakannya guna menyingkirkan
satu bencana dunia Kang Ouw!"
Keterangan ini bersamaan saja dengan keterangannya ketika
baru-baru ini si nona berikan kepada Lam Ce In, cuma
sekarang dia tidak membawa-bawa urusan yang menyangkut
dirinya sendiri.
Kui Ciang berpikir.
"Apa yang ibumu bilang tidak salah, Hong-hu Siong memang
orang busuk," kata ia, "Maka kalau kita menyingkirkan dia
untuk keselamatan dunia Kang Ouw, itulah tugas kita kaum
pembela keadilan. Tapi Hong-hu Siong itu gagah luar biasa,
ilmu silatnya tinggi sekali, kau seorang diri, aku kuatir kau
bukanlah lawan setimpal dari dia. Jikalau ada tempat untuk
bantuanku, suka sekali aku membantu padamu, hanya
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang belum dapat. Sekarang ini di hadapanku ada suatu


urusan sangat penting, yang harus diselesaikan. Apakah tak
lebih baik kau sekarang turut aku pergi ke Touw Ke Ce? Kau
tunggu sampai kesehatanku sudah pulih seluruhnya dan aku
juga telah selesai dengan urusan yang aku sebutkan ini, nanti
aku temani kau mencari Hong-hu Siong!"
"Terima kasih atas kebaikan pehu," berkata si nona. "Hanya
ibu memesan aku bahwa lebih baik aku menyingkirkan dia
dengan tenagaku sendiri, tak usah aku mohon bantuan lain
orang. Pehu, urusan yang kau hendak selesaikan itu telah aku
ketahui. Nyonya Su telalj memesan beberapa kata-katanya
untuk disampaikan kepada pehu..."
Kui Ciang terkejut.
"Jadi malam itu kau benar-benar telah menyateroni istana An
Lok San?" ia tanya.
He Leng Song tertawa.
"Tidak!" sahurnya. "Aku hanya pergi ke gedungnya Sie
Siong. Bangsat she Sie itu tergila-gila dengan kecantikan
Nyonya Su, untuk itu dia telah minta si nyonya dari An Lok
San!"
Kui Ciang gusar sekali hingga ia mengayun tangannya
menghajar
kereta.
"Kurang ajar!" teriaknya. "Jikalau aku tidak dapat membalas
sakit hatinya Su Toako dan Su Toaso, aku sumpah tak mau
menjadi orang!"
Habis mengumbar napsu amarahnya itu, Kui Ciang menjadi
reda sendirinya. Ia berbalik menjadi berduka.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Su Toaso dari keluarga sastrawan yang terhormat, mana


dapat dia menerima kehidupan semacam itu?" katanya.
"Perihal itu pehu tak usah buat kuatir," Leng Song memberi
penjelasan. "Ie Tiap-ku itu sudah ketahui Sie Siong berniat
jahat terhadap * dirinya, dia mendahului merusak mukanya.
Maka itu meski benar dia sekarang berada di tempat
berbahaya, kesucian dirinya dapat terjamin."
Lebih jelas Leng Song tuturkan apa yang terjadi malam itu di
gedung Sie Siong sebagaimana yang ia saksikan sendiri.
Kui Ciang, Ce In dan Mo Lek menggoyang-goyang kepala
dan menarik napas, masgul, berduka dan kagum. Bahkan Ce In
sambil menunjuki jempolnya, memuji, "Pasangan gagah dan
terhormat itu membuatnya orang kagum!"
"Nona He, barusan kau memanggil apa pada Nyonya Su?"
Kui Ciang menegasi.
"Ie-ie," menerangkan Nona He. "Ibuku ialah kakak misannya.
Namanya Tiap, maka itu aku memanggilnya Ie Tiap."
"Dengan begitu kamu jadinya bersanak dekat," kata Kui
Ciang. "Dulu-dulu aku tidak mengetahuinya. Karena ini kau
tentunya telah menerima pesan ibumu untuk menolongi ie-
iemu itu bukan?"
"Bukan," sahut Leng Song. "Sudah lama ibu hidup
menyendiri, telah putus segala hubungannya dengan pihak
luar, hanya benar sekalian keluar, aku dipesan untuk menyerepi
kabar tentang Ie-ie Tiap itu. Aku telah tiba di dusun dimana
pehu tinggal bersama-sama Su Cinsu, setelah menyelidiki
barulah aku ketahui peristiwa yang sebenarnya. Memang,
setelah bertemu dengan ie-ie, aku hendak menolongnya
menyingkir dari tempat berbahaya itu. Sayangnya ie-ie tidak
mau ditolongi."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang heran hingga ia tercengang.


"Bagaimana, dia tak sudi pergi dari tempat berbahaya itu?"
tanyanya.
"Benar! Bagaimana juga aku bicara, ie-ie tak dapat dibujuk!"
Kui Ciang heran tak kepalang.
"Sungguh gelap pikiran!" ia ngoceh seorang diri. Ia
mengerutkan alisnya. Lalu ia kata, "Su Toaso wanita sejati, dia
mengambil keputusan begitu, pasti dia telah mempunyai
rencananya! Apakah ada lain pesannya lagi kepada kau untuk
disampaikan padaku?"
"Ie-ie ada menyebut urusan kamu berdua keluarga yang
telah berjanji berbesan satu dengan lain," kata Leng Song. "Ie-
ie membilangi aku, karena kedudukannya itu, ia tak tahu
bagaimana nanti jadinya kelak di kemudian hari, maka itu ie-ie
kata, umpama kata putera pehu sudah dewasa, apabila ada
jodohnya yang cocok, ie-ie menganjurkan pehu bolehlah
menikahkannya."
Kui Ciang menghela napas.
"Dalam kedudukannya sebagai itu, dia masih memperhatikan
anakku," katanya, berduka. "Sungguh dia baik sekali. Tapi tak
perduli apa jadinya dengan dia dan puterinya itu, jodohnya
anak-anak kita itu tak nanti aku putuskan!"
Ia berdiam sebentar, lantas ia menambahkan, "Nona He,
jikalau kau tidak mempunyai lain urusan, marilah kita berangkat
bersama! Hari akan lekas sore, kita harus berangkat sekarang,
supaya sebentar kita tak gagal mendapatkan pondokan."
Leng Song berdiam, ia nampak bersangsi.
"Terima kasih, pehu," katanya sesaat kemudian. "Aku masih
mempunyai sedikit urusan lagi, tak dapat aku berangkat
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bersama. Touw Ke Ce cuma kira duaratus lie dari sini, baiklah


lagi beberapa hari aku berkunjung ke sana."
Mendengar begitu, Kui Ciang tidak berani memaksa.
Maka kedua pihak lantas berpisahan.
Kui Ciang mengawasi orang berlalu dengan menunggang
kudanya, di dalam hatinya timbul pelbagai ingatan, halnya diilu
hari ia bersahabat dengan orang tuanya nona gagah ini...
*********
VIII
JLje In mengendarai kereta keledai melakukan
perjalanannya, selang dua hari tiba sudah ia di kaki gunung Hui
Houw San di wilayah kota Yu-ciu. Hui Houw San berarti Gunung
Harimau Terbang, nama gunung itu cocok dengan gelaran
kelima saudara Touw, yaitu Touw-ke Ngo Houw, atau Lima
Harimau Keluarga Touw. Macamnya gunung mirip lima ekor .
harimau lagi menongkrong, keletakannya berbahaya seperti
biasanya gunung lainnya.
Sampai itu waktu, Toan Kui Ciang telah sembuh seluruhnya.
Itulah berkat setiap hari tiga kali ia makan obat pulung. Ketika
itu sudah lewat tujuh hari. Bahkan sekarang tenaganya
bertambah melebihkan sebelum ia terluka itu.
Ia menyangka Ce In memberikan ia makan obatnya Mo Keng
Lojin, karena tidak diberitahukan, tak tahu ia bahwa obat ialah
obatnya Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, si Naga Sakti dari Se-
gak, gunung Hoa San.
Selagi kereta memasuki jalan gunung, di mulut gunung
mereka sudah dipapak Touw Leng Ciok, yang dari siang-siang
telah memperoleh kabar. Sembari tertawa nyaring ketua Hui
Houw Sein itu kata, "Kau menantu dari Keluarga Touw,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarangkau dapat diminta datang! Sudah sepuluh tahun kau


pergi, tak pernah kau memberi warta sedikit jua!"
Toan Kui Ciang datang membantui Keluarga Touw bukan
disebabkan keinginannya sendiri, sekarang dia telah datang,
mau atau tidak ia mesti bicara ramah dengan sang toaku,
iparnya yang paling tua itu, begitu pun dengan Leng Hu.
Begitulah atas penyambutan Leng Ciok itu, ia menghaturkan
maafnya, karena ia sudah datang terlambat. Kemudian ia
menanyakan jelas duduknya pertempuran sekalian ipar itu
melawan Ceng Ceng Jie.
Leng Ciok mengasih lihat tangan kirinya.
"Syukur semua jerijiku ini tidak terpapas habis!" katanya
tertawa. "Meski begitu, kami toh kena dirobohkan!"
Yang hilang ialah dua jeriji. Melihat itu, hati Kui Ciang
berdenyut.
"Kebetulan kau datang sekarang, moayhu!" kata Leng Hu.
"Janji waktu yang diberikan Ong Pek Thong bersama Ceng
Ceng Jie tinggal empat hari lagi. Sebenarnya adik Sian dan
yang lainnya berkuatir menantikanmu, kuatir terjadi sesuatu di
tengah jalan, syukur kau telah tiba dengan tidak kurang suatu
apa!"
"Justeru di tengah jalan telah terjadi sesuatu!" berkata Kui
Ciang, tertawa. "Syukur ada saudara Lam Pat ini yang
menolong melindungi, jikalau tidak, tak dapat aku nanti
menemui Ceng Ceng Jie..."
Ia lantas mengajar kenal Ce In dengan sekalian iparnya.
Baru sekarang Touw Leng Ciok semua ketahui, kawan
iparnya itu ialah Lam Ce In atau Lam Pat yang tersohor, maka
itu, mereka menjadi sangat girang. Kata Leng Hu, "Dengan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

adanya kamu berdua suami isteri dan dibantu Lam Tayhiap,


kita tak usah kuatirkan lagi Ceng Ceng Jie!"
Lam Ce In tertawa.
"Aku datang untuk menonton keramaian saja, aku tak berarti
apa-apa!" katanya.
Selagi bicara itu tibalah mereka di muka perbentengan
dimana mereka lantas disambut oleh Touw Sian Nio dan tiga
saudara lainnya.
Belum sebulan Kui Ciang berpisah dari isterinya tetapi
pertemuan ini membuat mereka girang berbareng terharu.
Itulah sebab ia seperti sudah mati hidup pula.
Sian Nio juga berduka mendengar kebinasaannya Su It Jie,
sang besan, serta Nyonya Su dan anaknya tak dapat ditolongi.
Tanpa merasa, ia mengucurkan airmata.
"Sekarang ini kamu bantulah dulu kami," berkata Touw Leng
Ciong. "Setelah kita berhasil mengalahkan Ceng Ceng Jie, kami
semua nanti turut kamu pergi mencari An Lok San serta Sie
Siong semua, guna membuat perhitungan! Kita sudah
berkumpul sekarang, baik kita tidak omong lagi hal yang
mendatangkan kedukaan!" -.
"Moayhu," tanya Leng Hu, "Kau bilang di tengah jalan kau
bertemu begal, apakah di antaranya ada satu begal muda yang
bersenjatakan kipas besi peranti menotok jalan darah?"
Kui Ciang heran.
"Bagaimana kau ketahui itu?" ia balik menanya.
"Kami pun telah bertemu dengannya di tengah jalan!" sahut
Leng Hu tertawa. "Bocah itu liehay sekali, jikalau bukan Liok-
moay ada beserta, aku bukan tandiangan dia itu!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang lantas menoleh kepada isterihya. Dari sinar


matanya, nyata ia seperti menyesali dan merasa berkasihan. Ia
seperti mau membilang, "Bukankah kau baru habis melahirkan
anak? Bukankah tak selayaknya kau menggunai terlalu banyak
tenaga? Mana dapat kau melakukan pertempuran?"
Meski begitu, suami ini ketahui baik sekali untuk membantu
saudaranya, isteri itu tidak dapat tidak turun tangan. Dengan
sinar matanya itu ia menunjuki-berapa besar ia menyintai sang
isteri.
Touw Leng Hu dapat membade hati iparnya itu. Dia tertawa
lebar.
"Liok-moay, suamimu begini menyayangi kau, pantas juga
kau hampir melupai rumah orang tuamu!" katanya. Kemudian
ia berpaling pada iparnya, untuk menambahkan, "Moayhu, kau
jangan kuatir. Sama sekali adikku tidak menempur musuh itu,
bahkan ia pun tak berkisar dari keretanya. Ia cuma
mengandalkan panahnya dengan apa ia memukul mundur
kepada musuh! Anak muda itu liehay sekali, sesudah dihajar
tiga kali, baru dia mundur!"
Ilmu panah pelurunya Touw Sian Nio belum pernah
dipertunjuki semenjak ia menikah dengan Toan Kui Ciang,
sampai Kui Ciang sendiri belum tahu sampai dimana liehaynya,
maka itu mendengar keterangan iparnya itu, suami ini kaget
berbareng girang, ia girang sekali.
Touw Leng Hu tertawa.
"Semasa hidupnya ayah dahulu," ia kata, "Ayah sudah
berlaku berat sebelah! Semua kepandaian yang berarti dari
ayah telah diwariskan kepada Liok-moay! Dialah si burung
Hong-hong Keluarga Touw, dan kami kelima Harimau tak dapat
melawan sekor Hong-hong!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Koko, kau berlelucon terhadapku!" kata Sian nio tertawa


"Bagaimana dengan ilmu tameng Kun Goan Pay kau yang
terdiri dari liga puluh enam jurus itu? Ilmu itu tak dapat aku
pelajarkan!"
"Sudah! Sudah!" Leng Ciok menyela sama tengah. "Kalau
kamu bicara terus-terusan, tak lebih tak kurang, kamu main
memuji satu pada lain! Apakah itu tak akan membikin orang
tertawa sampai giginya copot f"
"Memang juga begal muda itu liehay sekali!" Lam Ce In turut
bicara. "Dia dapat menyambuti tiga buah peluru dari enso, aku
juga kagum terhadapnya!"
Demikian orang memuji ilmu panah peluru Sian Nio, akan
tetapi Nyonya Kui Ciang sendiri tidak girang karenanya, bahkan
ia nampak berduka, akan tetapi orang menyangka ia
merendahkan diri.
Cuma Kui Ciang yang mengenal baik hati isterinya, ia tahu
isterinya berduka benar-benar. Rupanya ada sesuatu yang
membuat isteri itu bersusah hati. Ia melainkan belum tahu,
urusan apa itu. Karena itu, hatinya menjadi tidak tenang.
"Tahukah kamu siapa pembegal muda itu?" kemudian Leng
Ciok tanya. "Baru dua hari yang lalu aku mendapat tahu
tentangnya."
"Apakah dia sebawahannya Ong Pek Thong?" Kui Ciang
tanya.
"Bukan melainkan orang sebawahan, bahkan puteranya!"
sahut Leng Hu.
"Kabarnya Ong Pek Thong mempunyai cuma seorang anak
laki-laki dan seorang anak perempuan," kata Leng Ciok, "Dan
katanya pula semenjak masih kecil mereka itu sudah diperintah
berguru pada lain orang. Anak laki-lakinya itu baru saja pulang
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dari perguruan."

Mendengar itu, hati Kui Ciang bercekat. Kalau si pemuda


sudah liehay, setahu bagaimana keliehayan dari guru anak
muda itu.
"Jangan-jangan bentrokan ini bakal jadi meluas," pikirnya.
"Bagaimana nanti akhirnya? Kapankah aku bakal dapat
menjauhkan diriku?"
Kui Ciang lantas disambut dengan sebuah jamuan. Ce In dan
Mo Lek turut hadir bersama. Habis bersantap, baru ia dapat
bertemu dengan leluasa dengan isterinya di dalam kamar
mereka.
"Engko Ciang," kata Sian Nio sambil menarik napas, "Kau
datang untuk membantu saudara-saudaraku, buat itu aku
sangat faersyukur, hanya aku kuatir, urusan keluargaku ini
bakal merembet-rembet kau..."
"Mulanya memang aku tidak niat datang ke mari," Kui Ciang
bilang, "Akan tetapi aku telah berjanji dengan kakakmu, maka
urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau sendiri. Kita
menjadi suami isteri, mengapa kau bicara begini?"
"Engko, coba kau lihat dulu surat ini," kata Sian Nio,
perlahan sekali. Dan ia menyerahkan sepucuk surat.
Kui Ciang menyambuti, untuk dibuka dan dibeber. Surat itu
ditujukan kepada Touw Sian Nio sendiri. Nyonya itu diberi
nasehat untuk membujuki suaminya jangan campur urusan
Keluarga Touw itu.
Katanya itulah untuk melindungi nama baik dari Kui Ciang,
supaya kedua pihak tidak sampai bentrok hingga ada
kemungkinan dua dua roboh dan celaka. Surat itu tidak
memakai nama dari si pengirim.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dari mana datangnya ini?" tanya Kui Ciang setelah ia


berdiam
sejenak.
"Diantarnya kemari kira-kira jam tiga semalam," sahut Sian
nio. "Ketika itu aku lagi tidur nyenyak. Mendadak aku
mendengar satu suara di dalam kamar. 'Aku berlompat bangun.
Nyata orang sudah berlalu,hanya di bantal kepalaku, aku
mendapatkan surat ini. Kau lihat di belakangnya <ida lagi
tulisannya."
Kui Ciang menurut. Ia membalik surat itu. Ia melihat huruf-
huruf yang ditulis cepat, suatu tanda surat itu baru ditulis
setibanya orang di dalam kamar.
Bunyinya ialah, "Aku mengambil tusuk kundai sebagai
peringat.m saja! Besok suamimu bakal tiba di sini, maka itu,
bakal terjadi mara bahaya atau keberuntungan, semua itu
terserah kepada kamu suami isteri berdua1 Baik-baiklah kamu
menimbangnya!"
Kui Ciang terperanjat.
"Apa...... apakah kau kehilangan tusuk kundai kemala itu?" ia
tanya isterinya.
"Bukannya tusuk kundai kemala naga-nagaan yang menjadi
landa mata," sahut sang isteri. "Itulah tusuk kundai kemala
yang aku biasa pakai setiap hari."
Kui Ciang menghela napas.
"Bagus!" katanya. "Kalau yang lenyap ialah tusuk kundai
naga nagaan itu, malu kita terhadap Su Toako. Apakah kakak-
kakakmu ketahui urusan surat dan tusuk kundai kemala itu?"
"Aku belum memberitahukan mereka. Mereka sangat
mengharap harap kedatanganmu, engko, mereka sebagai
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengharapi mendung di waktu musim kering, jikalau mereka


mendapat tahu, pasti mereka bakal bersusah hati. Pasti sulit
untuk mereka, mereka menahan kau atau tidak..."
Sian Nio berhenti sebentar, baru ia menambahkan, "Surat ini
membilang kau bakal tiba hari ini, mulanya aku ragu-ragu
mempercayainya
Maka itu aku terus berdiam saja menunggui kau. Aku pikir
untuk nanti berdamai dengan kau, engko. Sekarang,
bagaimana pikiranmu?"
Diluar dugaan, Kui Ciang berkata gagah, "Kita suami isteri,
mana dapat kita digertak orang? Seperti aku sudah bilang,
sebenarnya aku tidak ingin terlibat dalam urusan Jalan Hitam
ini, akan tetapi dengan adanya surat ini, sekarang aku
mengambil keputusan untuk berdiam di sini, aku bersedia
menempur Ceng Ceng Jie dan Khong Khong Jie!"
"Kalau begitu, kau benar!" berkata isteri itu. "Aku duga inilah
suratnya Khong Khong Jie! Katanya dia menjadi kakak
seperguruan dari Ceng Ceng Jie dan sangat kesohor
kepandaiannya sebagai pencuri, di kolong langit ini tanpa
lawan..."
"Aku juga pernah dengar perihal dia. Sekarang terbukti
liehaynya itu. Meski begitu, kita jangan takut, cukup asal kita
berlaku waspada."
Sian Nio berani seperti suaminya itu.
"Dengan kau berada di sisiku, walaupun ada musuh yang
terlebih liehay, aku tidak takut," katanya, perlahan tapi tetap.
"Kau belum lihat anak kita, pergilah kau melihatnya! Tahukah
kau hari ini hari apa? Hari ini justeru hari ulangnya satu bulan!"
Kamarnya Sian Nio ini bertetangga dengan sebuah kamar
lain yang dipakai untuk bayinya. Leng Ciok pun menyediakan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dua orang bujang perempuan guna mengurus anak itu. Maka


juga, buat melihat anaknya, Kui Ciang mesti pergi ke kamar
yang satunya itu. Kebetulan anaknya lagi tidur nyenyak.
"Anak kita sehat sekali," kata Sian Nio. "Selama satu bulan
ini, belum pernah ada alamatnya dia menderita penyakit
sesuatu. Aku tidak tahu bagaimana wajah tunangannya..."
Menyebut tunangan anaknya, Sian Nio dan suaminya ingat
Keluarga Su, dengan lantas mereka jadi berduka.
Malam itu, suami isteri itu bicara lebih banyak pula. Masing-
masing menjelaskan pengalamannya sendiri sejak mereka
berpisah kira satu bulan itu. Sampai jam lima masih mereka
belum tidur. Justeru itu mendadak mereka mendengar satu
suara dan melihat sesuatu yang putih menyambar masuk dari
mulut jendela!
Suami isteri itu selamanya waspada. Dengan sebat sekali
Sian nio sudah menyerang dengan seraup jarum rahasianya,
sedang Kui Ciang dengan pedang terhunus menyusul berlompat
keluar, terus naik ke atas genteng.
Sian Nio pandai menggunai senjata rahasia, lebih-lebih jarum
rahasia bwe-hoa-ciam dan panah peluru kim kong sin-tan,
maka sungguh diluar dugaannya, jarum rahasianya itu tidak
memberi hasil apa-apa, tak ada suaranya sama sekali, suatu
tanda orang tak terlukakan sekalipun dengan sebatang
jarumnya.
Di atas genteng, Kui Ciang tidak melihat apa-apa. Ketika
memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan suasana sunyi,
benteng Touw Ke Ce sedang tidur pulas, kecuali di depan dan
di belakang dengan tentu-* tentu terdengar suara si orang-
orang ronda.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia heran, ia menjadi penasaran. Ia lantas mengempos


tenaga dalamnya, guna mengasih dengar suara dengan "Toan
Im Jip Bit," ilmu meminjam suara halus tetapi jauh
terdengarnya.
Ia tanya, "Kalau kau mempunyai nyali untuk datang ke mari,
kenapa kau tidak mempunyai nyali untuk membuat
pertemuan?"
Suara itu tidak mendapat penyahutan, ada juga selang
sejenak, dari jauh terdengar suara "Hm!" beberapa kali, suara
tertawa dingin, yang disusuli dengan ini kata-kata, "Tak usahlah
kau terlalu keburu napsu...!" Suara itu pun halus, tetapi
orangnya tak nampak. Menurut dugaan Kui Ciang, orang yang
berbicara itu sudah meninggalkan benteng Touw Ke Ce kira
satu lie jauhnya!
Dengan cepat Sian Nio menyusul suaminya, berdiri di
belakang suaminya itu.
"Dia tak dapat disusul lagi!" kata suami itu, menyeringai.
"Ilmu ringan tubuh dia jauh melebihkan kepandaian kita
berdua!"
"Dia bukan cuma liehay ilmu ringan rubuhnya," kata sang
isteri. "Coba kau lihat..."
"Apa?" tanya Kui Ciang, heran.
"Kau lihat!" kata sang isteri, "Apakah kau mendapatkan
sebatang jarum juga di tanah atau di atas genteng ini?
Teranglah dia telah menyambuti seraup jarum rahasiaku itu!
Entah ilmu apa itu yang dia telah gunakan..."
Kui Ciang menginsafi kata-kata isterinya itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Karena kita tidak dapat menyusul dia, mari kita kembali ke


dalam," ia mengajak. "Kita lihat dia mengantar apa lagi untuk
kita......"
Sian Nio menurut, maka keduanya lompat turun dari
genteng, terus masuk ke kamar mereka.
Benar-benar mereka memperoleh sesuatu.
Di meja kecil di kepala pembaringan ada tertancap sebatang
golok liu-yap-too, ujungnya golok menusuk sehelai kertas.
Karena lemasnya golok, ujungnya masih terus bergoyang
perlahan. Itulah benda tadi yang berwarna putih mengkilap.
"Inilah permainan mengirim surat dengan perantaraan
golok!" kata Kui Ciang tertawa. Ia tidak takut atau berkecil hati.
"Dia menyangka dengan begini dia dapat menggertak mundur
padaku. Dia salah lihat!"
"Coba lihat dulu apa dia tulis!" sang isteri menganjuri.
Kui Ciang mencabut golok itu, mengambil kertasnya. Ia
membaca, "Lebih dahulu adat kehormatan, kemudian baru
mengangkat senjata! Dengan mengirim surat golok ini, aku
memberi tempo tiga hari kepadamu, supaya kau lekas
meninggalkan gunung ini!"
Di belakang itu ada tambahannya lagi, yang berbunyi,
"Jikalau kau memandang ringan pemberian ingat ini, maka aku
akan mengambil sesuatu yang kamu paling hargakan! Setelah
itu nanti kau bakal berduka dan menyesal seumur hidup kamu!"
Kui Ciang tertawa.
"Yang kami paling hargakan ialah jiwa kami!" katanya,
memandang enteng. "Kelihatannya dia orang liehay dan
terhormat, kenapa dia menggunai cara hina ini untuk
menggertak orang?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ya, inilah aneh!" kata Sian Nio. "Inilah yang membuat aku
heran!"
Tiba-tiba Kui Ciang pun sadar. Memang aneh perbuatan
orang itu. Bukankah dia liehay? Buat apa dia berbuat begini?
Kenapa dia seperti jeri terhadap keluarga Touw? Bukankah,
kalau mereka bertempur, belum tahu siapa yang bakal menang
atau kalah? Kenapa kau terus-terusan dfberi ingat dan digertak
itu?
Ketika itu terdengar suara tindakan ramai mendatangi.
Tempo Kui Ciang membuka pintu kamar, buat melihat, ia
mendapatkan Touw Leng Ciok datang bersama-sama Leng Hu
dan Leng Cek serta Lam Ce In dan Tiat Mo Lek. Mereka
datangnya tanpa janji terlebih dulu. Itulah sebab mereka telah
mendapat dengar suara dan gerak-geriknya Kui Ciang dan
isterinya.
Kui Ciang lantas memberi lihat surat ancaman itu.
Muka Leng Ciok lantas berubah, terus ia berkata seorang
diri, "Inilah pasti perbuatan Khong Khong Jie. Kabarnya dialah
kakak seperguruan Ceng Ceng Jie dan sekarang dia datang
guna mendukung adik seperguruannya itu!"
Touw Leng Hu menjadi pemimpin Rimba Hijau di wilayah
Utara tetapi mendengar disebutnya nama Khong Khong Jie, air
mukanya lantas menjadi berubah. Itu menandakan bahwa
Khong Khong Jie benar-benar bukan sembarang orang.
Sebenarnya Khong Khong Jie muncul dalam dunia Sungai
Telaga baru beberapa tahun saja.
Toan Kui Ciang tertawa. Dia kata, "Toako, aku telah
memberikan . janjiku kepadamu, meski mesti mati, aku tidak
bakal menyesal. Aku tidak ambil mumat dia Ceng Ceng Jie atau
Khong Khong Jie, akan aku tempur mereka itu! Aku mau lihat

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong Khong Jie orang macam apa di dalam tempo tiga hari
dia bisa mengambil kepala di batang leherku ini!"
Kui Ciang menganggap kata-kata surat ancaman itu
mengenai "barang yang paling dihargakan" adalah batok
kepalanya.
Dengan perlahan Touw Leng Hu mendapat pulang
ketenangan
dirinya.
"Kui Ciang!" katanya tertawa pada iparnya itu, "Setelah
menyembunyikan diri sepuluh tahun, semangatmu gagah tak
kurang daripada dulu hari itu! Baiklah! Kau tidak takut, apapula
kami Touw Ke Ngo Houw, kami bukan bangsa takut mampus!
Segera aku menitahkan semua tauwbak membikin penjagaan
keras selama tiga hari ini! Siang dan malam kita mesti
waspada! Kita berjumlah besar, di sini juga ada Lam Tayhiap,
kenapa kita mesti takut pada Khong Khong Jie?"
Kata-kata jago Touw Ke Ce Ini dibuktikan dengan titahnya
yang diberikan kepada orang-orangnya, untuk semua
melakukan penjagaan dengan berhati-hati.
Toan Kui Ciang dan isterinya tidak berdiam saja, mereka
juga bergantian membantu melakukan pengawasan. Dalam
suasana tegang itu mereka berhasil tiga hari dan dua malam
tanpa terjadi sesuatu. Maka di malam ketiga, malam terakhir,
orang membuat penjagaan istimewa. Di mana-mana api
dipasang terang-terang dan semua orang seperti lupa tidur.
Sekalipun yang tidak bertugas, matanya turut tak dipejamkan.
Pada kira jam tiga maka di ujung barat laut perbentengan
telah terdengar satu suara nyaring jelas, "Khong Khong Jie
datang!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Kui Ciang bersama isterinya berada di dalam kamar


ketika mereka mendapat dengar seruan itu. Touw Sian Nio
lantas menyambar busurnya, untuk pergi keluar, tetapi
suaminya mencegah.
Segera juga terdengar seruan serupa, yang datangnya dari
ujung timur laut.
"Khong Khong Jie datang!"
Beruntun empat kali suara itu mendengung, setiap kalinya di
ujung penjuru perbentengan.
Toan Kui Ciang terkejut juga. Hebat pihak lawan itu.
"Hm! Hm! Hm!" demikian ia lantas mendengar suara, yang
datangnya dari luar kamarnya. Ia mengenali baik, itulah suara
yang ia dengar pada beberapa malam yang lalu. Ia lantas
beseru dengan pedang di tangan, ia lompat keluar.
Justeru itu terdengar teriakannya Touw Sian Nio, "Celaka!,"
disusul dengan jeritan bayi yang menangis kaget, disusul pula
dengan teriakan bujang dan babu pengasuh yang berisik dan
kacau.
Satu bayangan tubuh yang hitam pun mencelat naik ke atas
genteng di belakang kamar, terus kabur ke arah barat. Saking
pesatnya, dalam sekejapan bayangan itu sudah melalui belasan
rumah.
Kui Ciang mimpi pun tidak bahwa Khong Khong Jie
mengarah bayinya, ia kaget bukan main, ia lantas lari mengejar
sekeras bisa, hingga dengan cepat ia telah meninggalkan
orang-orang di sebelah belakangnya.
Bagaikan angin, ia lari terus sampai di tepian gunung. Di
depan matanya ia melihat sesosok tubuh yang hitam, hanya di

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lain saat, benda hitam itu lenyap walaupun rembulan bercahaya


guram hingga mestinya ia masih bisa mendapat lihat!
Touw Sian Nio, yang menyusul, heran melihat sikap
suaminya itu, tanpa menanya lagi, ia dapat menduga kepada
hal buruk. Setelah menikah sepuluh tahun lebih, baru sekarang
mereka memperoleh putera, bisa dimengerti bahwa luar biasa
kesayangan mereka terhadap anak mereka.
Maka itu, ia berdiam mengawasi suaminya, yang pun
menjublak mengawasi padanya. Keduanya ruwet pikirannya
hingga mereka tak tahu harus mengucapkan apa.
Baru selang sejenak, Toan Kui Ciang dapat juga menguasai
harinya. Sang isteri sebaliknya tak dapat menahan keluarnya
airmatanya.
Tak lama tibalah Touw Leng Ciok beramai. Melihat
saudaranya sekalian, tak sanggup Sian Nio bertahan lagi, ia
lantas menangis, sembari menangis, ia kata, "Toako,
keponakanmu hilang...!"
Mukanya Leng Ciok menjadi merah. Ia jengah sekali.
"Liok-moay, kau sabar," kata ia, membujuk adik yang nomor
enam itu. "Mari kita pulang dulu untuk berdamai terlebih
jauh..."
Kui Ciang setuju, maka pulanglah mereka ke benteng.
Leng Ciok memanggil kumpul semua saudaranya, bersama-
sama mereka berapat di dalam kamar rahasia.
Keluarga Touw menjadi keluarga Rimba Hijau yang
berkenamaan selama puluhan tahun, kali ini walaupun mereka
berjaga-jaga keras, benteng mereka masih dapat didatangi
Khong Khong Jie, yang dapat masuk dengan merdeka, yang
merdeka juga mengambil barang apa yang disukainya, tentu

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekali mereka gusar dan malu sekali. Itulah hinaan besar untuk
mereka!
Baru-baru ini mereka dipermainkan Ceng Ceng Jie, sekarang
lebih hebat lagi! Mana dapat mereka diam saja?
Lima saudara Touw itu gusar semua, dalam murkanya,
pikiran mereka pun kacau. Lantas ada yang menyarankan surat
tantangan terhadap Khong Khong Jie atau menyerbu ke rumah
Ong Pek Thong, guna membekuk semua anggauta
keluarganya, supaya orang-orang tawanan itu dapat dipakai
sebagai bahan pertukaran.
"Khong Khong Jie tak ketahuan tempat kediamannya,
kemana kita menyampaikan surat tantangan untuknya?" kata
Leng Ciok. "Kalau kita minta perantaraannya Ong Pek Thong
atau Ceng Ceng Jie, pasti itu bakal mendatangkan tertawaan
orang!"
Di dalam Rimba Persilatan ada aturan, surat tantangan mesti
disampaikan langsung kepada orang yang tersangkut sendiri,
kalau orang memakai perantara, itu menyatakan si penantang
tidak punya guna, lebih lagi kalau si perantara justeru
sahabatnya musuh. Keluarga Touw pemimpin Rimba Hijau, tak
dapat keluarga itu berbuat demikian.
Kata Leng Ciok kemudian, "Kalau begitu tidak ada lain jalan
daripada kita serbu Keluarga Ong untuk membekuk semua
anggautanya."
Toan Kui Ciang bangun berdiri.
"Seorang laki-laki mesti berbuat secara laki-laki juga!" kata
dia nyaring. "Khong Khong Jie menggunai cara rendah yang
busuk sekali, mana dapat kita menelad perbuatan buruknya
itu?"
Touw Leng Ciok menghela napas.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Begini tak dapat, begitu tak dapat, paling baik kita mengaku
kalah saja..." kata dia lesu. "Liok-moay, baiklah besok kamu
suami isteri pergi turun gunung, tak usah kau turut pula kami di
dalam air keruh ini... Kami hendak menyatakan kepada Ong
Pek Thong dan Ceng Ceng Jie bahwa kami sudah kalah dan
suka menyerah, lalu kami akan menyerahkan benteng kami ini
kepada mereka! Teranglah Khong Khong Jie menculik puteramu
sebab dia menghendaki kamu suami isteri mengundurkan diri,
jangan kamu campur urusan kami di sini. Jikalau kamu sudah
mundur, buat apa dia dengan anak kamu? Maka itu, tentu dia
bakal menyerahkannya pulang..."
Ketika itu Toan Kui Ciang mendapat satu pikiran. Ia ingat
besok ada hari perjanjian pertemuan di antara Ceng Ceng Jie
dan Touw Leng Ciok, itu artinya, besok Ceng Ceng Jie bakal
datang.
Maka ia lantas kata nyaring, "Toaku, kau keliru! Dengan kau
berbuat demikian bukan cuma nama Keluarga Touw menjadi
runtuh, aku si orang she Toan sendiri bakal tidak mempunyai
muka lagi untuk ditaruh dalam dunia Kang Ouw! Besok Ceng
Ceng Jie bakal datang, nanti aku tempur dia. Mungkin aku
bukan tandingannya tetapi aku mengharapi kemenangan, andai
kata aku berhasil, Khong Khong Jie tentulah bakal muncul
sendirinya. Maka itu waktu kami berdua saudara akan
menempur mati-matian kepadanya!"
Inilah yang diharap Leng Ciok dengan kata-katanya barusan.
Ia ingin kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya sang ipar.
Karena itu, ia lantas kata, "Moayhu termashur sekali, maaf, aku
kesalahan omong! Memang benar, seorang laki-laki lebih baik
terbinasa daripada terhina! Perkara telah menjadi begini rupa,
baik, mari kita mengadu }iwa kita! Mungkin sekali besok Khong
Khong Jie datang bersama adik seperguruannya!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai disitu rapat mereka, semua lantas keluar untuk


masing-masing beristirahat.
Toan Kui Ciang dan isterinya mencoba menyingkirkan
kedukaan mereka. Besok mereka akan menghadapi lawan
tangguh, maka keduanya lantas duduk bersemedhi, guna
mengumpul tenaga.
Kapan sang besok muncul, dari masih pagi sekali orang
sudah bangun tidur. Semua lantas merasa hati masing-masing
tegang sendirinya. Mereka sudah lantas siap sedia menanti
tibanya rombongan Ceng Ceng Jie.
Sampai siang, Ceng Ceng Jie belum juga datang. Orang
heran, orang membicarakannya, menduga-duga! Lawan datang
atau tidak? Kenapa lawan terlambat?
Tepat tengah hari, selagi orang menanti-nanti, mereka
mendengar tiga kali suara panah nyaring. Itulah tanda tangan
Rimba Hijau. Benar saja, habis itu terlihat masuknya seorang
tauwbak, yang terus berkata, "Ceng Ceng Jie sudah datang! Dia
minta bicara kepada cecu semua! Sekarang dia lagi menantikan
di depan gunung!"
Lima saudara Touw sudah lantas menjemput senjatanya
masing-masing, dengan cepat mereka bertindak keluar.
Kui Ciang mengikuti bersama isterinya dan Ce In serta Mo
Lek. Sebagai tetamu, atau setengah tetamu, mereka mesti
berjalan belakangan. Sampai di lapangan di luar, di sana cuma
nampak satu orang yang romannya mirip kunyuk.
"Dialah Ceng Ceng Jie..." Tiat Mo Lek membisiki Kui Ciang.
Janji kali ini janji di antara Ong Pek Thong dan Touw Leng Ciok,
guna suatu keputusan orang bertempur atau menakluk, benar
pihak Ong Pek Thong mengajukan surat yang terbubuhkan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tanda tangannya berdua Ceng Ceng Jie, sebenarnya dialah


orang yang bersangkutan.
Seharusnya Ong Pek Thong muncul bersama sejumlah
orangnya. Maka itu aneh sekarang cuma Ceng Ceng Jie
seorang yang nampak. Karena orang heran, kembali hati
mereka dibikin tambah tegang.
Touw Leng Ciok dongkol sekali. Segera ia maju
menghampirkan. "Mana Ong Cecu?" dia tanya singkat,
suaranya kaku. Ceng Ceng Jie menjawab sambil tertawa,
"Apakah kau sudah rampung menulis surat pernyataan
taklukmu atau belum? Kalau sudah, mari serahkan padaku,
untuk aku bawa pulang, buat diserahkan lebih jauh pada Ong
Cecu! Setelah Ong Cecu menerima surat menaklukmu itu, pasti
dia akan datang sendiri kemari!"
Leng Ciok gusar bukan main. Dialah pemimpin suatu
rombongan Rimba Hijau, dia mendongkol sekali, hatinya panas.
Tapi dia dapat tertawa bergelak.
"Sekarang kau bicara urusan itu, apakah itu bukan masih
terlalu pagi?" dia tanya, sabar. "Kalau Ong Cecu tidak datang,
baiklah, urusan kedua pihak boleh ditunda dulu! Di sini ada
seorang sahabat yang ingin membuat perhitungan denganmu!"
Tanpa menanti lagi, Toan Kui Ciang bertindak ke depan. Ia
menghadapi Ceng Ceng Jie, untuk terus berkata dengan tawar,
"Bukankah kejadian semalam itu perbuatan kakak
seperguruanmu?"
Ceng Ceng Jie tertawa.
"Kejadian apakah itu?" ia tanya.
"Hm! Apakah kau tak takut menjadi malu kalau aku
menyebutkannya?" tanya Kui Ciang. "Jikalau kamu hendak
mencoba aku si orang she Toan, aku bersedia meluluskannya!
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa kamu mesti menculik anakku yang baru berumur satu


bulan? Perbuatan itu perbuatan orang gagah dari golongan
manakah?"
Ceng Ceng Jie tertawa terbahak.
"Kiranya kau bicara dari kejadian tersebut itu?" dia
mengulangi. "Benar! Itulah perbuatan kakak seperguruanku!
Kakak seperguruanku menyayangi namamu yang besar, tak
ingin ia narnamu itu rusak hingga dirimu turut bercelaka, dari
itu dengan maksud baiknya, dia sudah berulang kali memberi
nasehat padamu, tetapi siapa suruh kau tidak mau mendengar
kata?"
"Fui!" Kui Ciang berludah. "Maksud baik demikian macam ini
cuma dapat diucapkan oleh seorang manusia hina dina!
Baiklah, kita jangan bicara saja! Mana saudaramu itu, suruh dia
datang menemui aku!"
"Awas!" kata Ceng Ceng Jie, suaranya dalam. "Kalau lagi
sekali kau caci kakak seperguruanku itu, nanti aku tidak mau
berlaku sungkan lagi kepadamu! Jangan kau berjumawa
dengan namamu yang terkenal sebagai tayhiap, seorang jago
besar, sebenarnya kakakku tak melihat, barang sebelah mata
juga! Masih terlalu pagi untuk kau menemui kakak
seperguruanku itu! Sebelum menemui dia, baik kau ketemukan
dulu pedangku ini! Bagaimana, kau maju seorang diri atau
kamu semua maju berbareng?"
---ooo0dw0ooo---

Jilid 8
Baru kata-kata itu habis diucapkan, atau Kui Ciang telah
menghunus pedangnya, diturut oleh penantangnya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kamu menculik anakku, urusan ini tidak mengenai mereka


ini!” kata Kui Ciang, dingin. “Kamu berdua datang untuk Toan
Kui Ciang seorang, aku bersiap sendiri menemui kamu! Maka
itu, tak perduli kau datang sendiri, atau kau datang bersama
kakak seperguruanmu, si orang she Toan akan melayani kamu
sendiri saja!”
“Sungguh mulut besar!” Ceng Ceng Jie tertawa. “Tak kecewa
kau dipanggil tayhiap! Tapi anakmu itu bukan anakmu sendori,
dari itu aku masih memikir untuk belajar kenal dengan
pelurunya isterimu!”
Sian Nio mendongkol, dia lantas menjawab, “Peluruku tak
dipakai menghajar seorang rendah yang tak bernama! Sebentar
setelah kau dapat mengalahkan pedang suamiku, baru kau
bicara pula!”
Nyonya Toan bicara dengan tenang, tetapi nadanya keras.
Ceng Ceng Jie bersiul panjang dan nyaring, terus dia tertawa
lebar. Dia pun menyentil pedangnya.
“Baiklah, mari kita main-main!” katanya. “Kau menjadi
separuh tuan rumah, Toan Tayhiap, sebagai tetamu tak dapat
aku berlaku kurang ajar, maka kau mulailah! Silahkan!”
Toan Kui Ciang sangat jemu tetapi sebagai seorang tayhiap,
ia mau memegang tinggi martabatnya. Ia benar lantas
menyerang akan tetapi Cuma separuh, sebagai gertak.
“Bagus, ya!” bentak Ceng Ceng Jie mendongkol. “Bukankah
kau tak memandang mata padaku?”
Habis berkata, dengan luar biasa sebarnya, ia lantas
menikam. Ia pun menindak di tengah, tiong-kiong, suatu tanda
ia menantang sangat.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang gusar sekali. Ia tidak bergeming. Ketika pedang


lawan tiba, mendadak ia menapas. Itulah jurus “Kim Peng Tian
Cie” atau “Garuda emas mementang sayap”.
Melihat perlawanan Kui Ciang, pihaknya pada bersorak
memuji, bukan karena orang she Toan menang, hanya cara
bersilatnya yang sempurna itu. Suara nyaring sekali lantas
terdengar, orang pun melihat muncratnya lelatu api.
Justeru itu tubuh Ceng Ceng Jie mencelat tinggi, dari atas ke
bawah, dia membacok hebat ke arah punggung lawannya, di
jalan darah Hong-hu.
Kui Ciang memutar tubuh sangat cepat, sembari mutai,
pedangnya berkelebat, maka untuk kedua kalinya senjata
mereka bentrok pula.
Ceng Ceng Jie berlompat mundur tiga tindak.
Kui’ Ciang menyerang sambil mengajukan diri, karena musuh
maju, ia maju dua tindak. Hampir-hampir ia tak dapat menahan
tubuhnya.
Itulah hebat. Benar mereka baru bertempur dua jurus tetapi
setiap serangan itu berbahaya bukan main. Siapa lambat sedikit
saja, pasti dia akan jadi kurban pedang.
“Benar-benar Toan Tayhiap liehay!” kata Ceng Ceng Jie.
Toan Kui Ciang berdiam, di dalam hati, ia jengah sendirinya.
Di dalam satu-dua gebrakan, tak dapat ia mengenali musuh
bersilat dengan ilmu silat partai mana.
Ceng Ceng Jie itu, habis memuji, sudah lantas menyerang
pula.
Sekarang keduanya sama-sama berlaku waspada, mata
dibuka tajam, kaki tangan bergerak cepat dan lincah

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Beginilah peristiwa itu, tepat kedua pedang bentrok, tepat


tiba peluru-pelurunya Touw Sian Nio. Kim-wan itu berat, Sian
Nio pun menggunai tenaga sepenuhnya. Si nyonya menarik
busurnya sampai menjadi bundar sekali. Maka hebat
menyambarnya sekalian pelurunya itu, mirip dengan hebatnya
jarum bwe-hoa-ciam.
Ceng Ceng Jie liehay, ia masih dapat menyambut ketiga
peluru itu. Sayangnya dia sekarang lagi menyerang Kui Ciang
dengan perhatian dan tenaga sepenuhnya. Tentu sekali dia
menjadi sangat repot. Kendati begitu, dia masih dapat
mementil balik dua buah peluru.
Adalah perluru yang ketiga, yang mengenai belakang
pedangnya. Tanpa dapat dipertahankan pedangnya itu tak lurus
lagi arahnya, akan tetapi, justeru dia meleset tak dapat melukai
Toan Kui Ciang, ujung pedang Kui Ciang sebaliknya
membuatnya terluka.
Semua orang terperanjat, mereka sampai melengak, semua
menahan napas. Sampai Ceng Ceng Jie sudah lenyap, masih
mereka tinggal menjublak. Barulah paling belakang Tiat Mo Lek
berseru dengan pujiannya, “Bagus!”
Maka semua orang sadar, lantas semuanya turut bersorak-
sorai.
Touw Leng Ciok maju, untuk memberi selamat kepada
iparnya, akan tetapi Toan Kui Ciang tetap tak bergembira
seperti semula, tak ada tanda-tandanya bahwa ia girang
dengan kemenangan.
Itulah sebab semenjak ia muncul dalam dunia Kang Ouw,
inilah yang pertama kali ia bertempur dengan mendapat
bantuan orang, tak perduli pembatu itu ialah isterinya. Ia
beranggapan kemenangannya bukan kemenangan dengan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kementerengan, sedang kaburnya Ceng Ceng Jie tak dapat


terkejar olehnya...
Touw Leng Hu kata sambil tertawa, “Moayhu berhasil
melukai Ceng Ceng Jie, itu berarti penasaran kita telah
terlampiaskan. Sayangnya ialah dia masih dapat lolos...!”
Touw Sian Nio sebaliknya menghela napas. Kata ia, “Meski
kita menang, dia tapinya dapat kabur, maka itu, kepada siapa
kita minta pulung anak kita?”
“Sudah Liok-moay, jangan kau bersusah hati!” Touw Leng
ijiok menghibur. “Kecuali Khong Khong Jie dan Ong Pek Thong
suka menyerah, tak nanti mereka dapat tak memunculkan diri.
Sekarang mari kita pulang dulu untuk minum arak
kemenangan!”
Di dalam benteng orang lekas sekali dapat menyajikan
barang hidangan. Sambil tertawa nyaring, Touw Leng Ciok
kata, “Baru sepuluh tahun kita berpisah, Kui Ciang, ilmu
pedangmu maju pesat sekali! Khong Khong Jie dapat terlebih
liehay daripada Ceng Ceng Jie, tak nanti dia dapat melawan
kamu suami isteri!”
Tiat Mo Lek, dengan roman duka, turut berkata, “Khong
Khong Jie beberapa kali menggertak kouwthio, rupanya dia
telah mendapat lihat gelagat, rupanya dia merasa dialah
bukannya lawan kouwthio! Sekarang, setelah pertempuran ini,
aku kuatir dia tidak berani datang pula ke mari...”
Dua orang itu bicara secara bertentangan satu dengan lain.
Touw Leng Ciok hendak membesarkan hati Kui Ciang, Mo Lek
sebaliknya menunjuki kedukaannya dengan cara lain. Dia kuatir
kalau Khong Khong Jie tidak muncul, sukar untuk mendapatkan
pulang anak Kui Ciang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Kui Ciang menggeleng kepala, ia kata, “Mo Lek, tidak


dapat kau memandang enteng musuh secara demikian, seperti
caramu ini!”
Justeru itu mendadak Touw Leng Hu berseru, “Eh, apakah
itu?”
Tuan rumah ini berseru sambil matanya mengawasi ke
penglari, maka semua orang lainnya, yang terperanjat, turut
memandangnya ke arah itu.
Di atas penglari ada sesuatu yang tergantung.
Tanpa ayal lagi, Touw Leng Ciok menimpuk d«Eii)’,an hui-
too, golok terbangnya, membikin gantungan itu putus dan
barangnya jatuh, sedan)* Touw Leng Ciok bergerak
menyambutinya.
Itulah sebuah kotak kecil.
Sebagai ahli, Leng Ciok sudah lantas mendapat tahu kotak
itu tanpa pesawat rahasia, maka itu terus ia membuka
tutupnya. Maka ia mendapatkan di dalam kotak itu sehelai
kartu nama terbuat dari sehelai kertas merah.
Touw Sian Nio duduk di sisi kakaknya, dia melihat tegas,
lantas dia berseru heran, “Inilah kartu namanya Khong Khong
Jie!”
Touw-ke Ngo-houw – Lima Harimau Keluarga Touw – saling
mengawasi, semuanya tercengang. Di waktu siang terang
benderang, dan di muka orang banyak, Khong Khong Jie dapat
menggantung kotak kartu namanya itu di atas penglari dalam
ruang mereka berkumpul! Bukankah itu sangat luar biasa?
Selang sesaat, Touw Leng Ciok dapat menenangkan hatinya.
Lantas dia berseru, “Khong Khong Jie! Kau sudah datang,
kenapa kau tidak berani perlihatkan mukamu? Kenapa kau main

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bersembunyi seperti lakukanya hantu? Apakah caramu ini cara


seorang laki-laki?”
Belum lagi berhenti teguran itu, di antara mereka sudah
terdengar tertawa berkakak yang nyaring, dan belum lagi sirap
tertawa itu, di antara mereka terlihat berkelebatnya sesosok
tubuh, yang seperti burung melayang, lantas tiba di muka meja
perjamuan itu.

Orang itu juga terus berkata nyaring, “Sudah lama aku


datang ke mari! Apakah kamu semua buta mata kamu?”
Serentak semua hadirin bergerak bangun, dengan serentak
juga mereka menghunus senjata mereka. Kecuali Toan Kui
Ciang dan Lam Ce In, yang dapat menguasai dirinya masing-
masing. Karena bangunnya itu secara demikian, meja itu
terbentur, mangkuk dan cangkir terbalik tumpah isinya.
“Bagaimana, hai?” Khong Khong Jie berseru. Dia tertawa
nyaring pula. “Apakah kamu semua mau main keroyok?” *
Namanya Khong Khong Jie sudah terkenal selama beberapa
tahun yang paling belakang ini, akan tetapi di antara sekalian
tamu itu, baru sekarang mereka melihat orang punya potongan
tubuh dan wajah. Dialah orang dengan tubuh yang luar biasa.
Dia tinggi tak sampai lima kaki, sedang wajahnya ialah wajah
kebocah-bocahan, kepalanya gede. Selagi bicara itu, dia
menggeraki tangan dan kakinya, tingkah polahnya sangat
jumawa.
Selagi semua orang mengawasi, Kui Ciang mengajukan diri.
“Kecewa kepandaian kau yang liehay ini!” ia kata. “Kenapa
kau lakukan perbuatan seperti seorang pancalongok? Walaupun
berlipat kali kegagahan kau ini, tak dapat kau berlaku jumawa
begini!”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kau sebaliknya, kecewa kau mendapat julukan tayhiap!”


Khong Khong Jie membaliki. Dia tertawa mengejek, “Kenapa
dengan tidak membedakan hitam atau putih kau membelai
segala penjahat besar Rimba Hijau? Apakah perbuatan kau ini
juga dapat dibuat menjadi kebanggaanmu ?”
Toan Kui Ciang melengak.
Touw Leng Ciok gusar sekali.
“Apakah Ong Pek Thong bukannya penjahat besar Rimba
Hijau?” dia tanya. “Dia juga tak jauh banyak terlebih baik
daripada kami! Kenapa kau juga menjadi tukang pukulnya itu?”
Khong Khong Jie tertawa lebar.
“Pertama-tama aku bukannya seorang tayhiap!” dia
menjawab. “Ong Pek Thong bersahabat denganku, maka itu
aku membantunya. Kedua, bicara dari hal kelakukan Rimba
Hijau, Ong Pek Thong kalah daripada tingkah kamu! Bukankah
perkara di Se Ke Chung perbuatan kamu? Sudah kamu hitam
makan hitam, kenapa juga membinasakan keluarga itu ayah
berikut anaknya? Ketika itu musim penyakit menular, kamu
justeru merampas obat-obatan itu, kamu menumpuknya!
Dengan begitu kamu menyebabkan kematiannya entah berapa
banyak jiwa! Kamu tahu atau tidak? Apakah kamu ingin supaya
aku membebernya satu demi satu semua perbuatan kamu?
Atau untuk berlaku adil, kau bicara dari keburukan Keluarga
Ong, lantas aku pun bicara kebusukan dari Keluarga Touw,
supaya dengan begitu Toan Tayhiap dapat menimbang!. Nanti
kamu boleh lihat, di antara kamu berdua, siapa yang perbuatan
jahatnya terlebih banyak! Bagaimana?”
Dua keluarga Ong dan Touw sama-sama keluarga penjahat
yang sudah “turun temurun,” selama beberapa puluh tahun ini.
Keluarga Touw jauh terlebih berpengaruh daripada Keluarga

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ong, maka bicara dari hal usaha mereka, sudah tentu lebih
banyak perbuatannya Keluarga Touw
Di mata kaum Rimba Hijau, semua perbuatan itu lumrah
saja. Di matanya Khong Khong Jie, itu lain lagi. Khong Khong
Jie menganggap perbuatan Touw Leng Ciok kepada sesama
kaum Rimba Hijau berlebihan, sebab dia suka membasmi
sampai di akar-akarnya, meski sebenarnya, yang dibasmi ialah
sesama Lvimba Hijau yang menjadi musuh-musuhnya, kalau
kaum saudagar, tidak ada yang diganggu jiwanya
Meski demikian, mendengar kata-kata Khong Khong Jie itu,
Toan Kui Ciang telah mesti mengeluarkan keringat dingin.
Ketika dulu hari Kui Ciang menikah dengan Touw Sian Nio,
tak lama dia mengajak isterinya pindah ke lain tempat, selama
sepuluh tahun, tak sudi dia mempunyai perhubungan lagi
dengan Keluarga Touw, keluarga isterinya itu.
Sebab dari itu ialah dia tak sudi ikut-ikutan sekalian iparnya
melanjuti pekerjaan mereka tanpa modal itu. Karenanya,
selama sepuluh tahun, dia tak tahu lagi segala perbuatan ipar-
iparnya itu.
Sekarang dia mendengar Khong Khong Jie membeber
rahasia itu, dia kaget sekali. Dia kata dalam hatinya, “Benar aku
tolol! Kenapa aku campur urusan air keruh ini?”
“Brak!” demikian terdengar suara nyaring pada meja, sebab
Touw
Leng Ciok menggepraknya.
“Kami melakukan usaha kami, mana dapat kami tidak
merampas dan tidak melukai orang?” dia tanya, bengis. “Meski
benar kami merampas obat dengan mana kami mencari
untung, itu bukannya pekerjaan yang dilakukan tanpa
memperbahayakan jiwa kami! Kau bocah, kau tidak tahu aturan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kami kaum Jalan Hitam, maka itu kau baiklah jangan omong
banyak lagi!”
Touw Leng Hu juga turut bicara. Dia kata, “Kau
menyebutkan Keluarga Ong itu! Keluarga itu berkongkol
dengan sebawahannya An Lok San, dia meminjam tenaga
hamba negeri mencelakai sesama kaum Rimba Hijau! Itulah
perbuatan yang terlebih rendah lagi! Jikalau kau hendak bicara
memakai aturan, kita mesti pakai aturan Rimba Hijau! Mari kita
undang berkumpul semua jago Rimba Hijau, untuk mereka
yang menimbangnya!”
Khong Khong Jie tertawa.
“Aku tak mempunyai kebanyakan tempo!” kata dia.
“Jikalau begitu, jangan kau banyak omong lagi!” bentak
Touw Leng Ciok. “Baik kita menggunai aturan Rimba Hijau,
siapa yang menang dialah yang lebih kuat!”
Khong Khong Jie melirik.
“Toan Tayhiap!” dia tanya. “Kau bukan orang Jalan Hitam,
bagaimana pendapat kau?”
Semua persaudaraan Touw, berikut Touw Sian Nio,
mengawasi Toan Kui Ciang.
Orang she Toan itu bersangsi sebentar, baru ia menjawab
perlahan, “Perselisihan Rimba Hijau, tak aku perdulikan, tetapi
kau telah memuli! Anakku, kau menghina aku, maka tak dapat
tidak, aku mesti menempurmu!”
Kembali Khong Khong Jie tertawa lebar.
“Inilah kata-katamu yang aku harap-harap!” kata dia. “Aku
tahu sebelumnya kau dapat menempur aku, sulit untuk kau
membereskan soalmu dengan sanak keluargamu ini.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dia berhenti sebentar, lantas dia menambahkan, “Baik! Mari


kila tetapkan kata-kata kita! Jikalau kau kalah, tidak dapat kau
mencampur lalui lagi urusan dua keluarga Ong dan Touw ini!
Jikalau aku yang kalah, lvgitu juga dengan aku! Setelah kita
bertanding itu, tidak perduli siapa kalah dan siapa menang,
akan aku mengembalikan anakmu! Aku anggap syarat kita ini
pantas sekali, maka itu, bagaimana pikiran kau?”
Khong Khong Jie, terutama Ong Pek Thong, ingin sekali
mendesak Toan Kui Ciang tak mencampuri urusan
persengketaan kedua keluarga bukan disebabkan mereka takut
terhadap Toan Kui Ciang pribadi. Yang mereka kuatirkan ialah
Kui Ciang itu tersohor dan banyak sahabat atau kenalannya,
mereka takut sahabat-sahabat itu nanti dalang membantui.
Kalau itu sampai terjadi, bagaimana mereka bisa melawan?
Toan Kui Ciang setuju dengan usul Khong Khong Jie. “Aku
setuju dengan kau!” kata ia. “Silahkan hunus pedangmu I Mari
kita mencari keputusan!”
“Tunggu sebentar!” kata Khong Khong Jie. Dia berpaling
pada Touw Leng Ciok. Dia kata, “Aku dan Toan Tayhiap
berurusan menurut t ara kaum Rimba Persilatan! Bagaimana
dengan pihak kamu? Apakah kita menuruti aturan Rimba
Hijau?”
“Kau bersendirian di sini, habis aku mesti bicara dengan
siapa?” kata Leng Ciok tawar. Ini artinya, jikalau mereka toh
hendak bicara menurii! Aturan kaum Rimba Hijau, di situ Ong
Pek Thong mesti hadir.
Nama Khong Khong Jie telah melewati nama Ong Pek Thong
akan tetapi namanya itu baru berimbang dengan nama Touw
Leng Ciok, karena itu, dengan derajat seimbang, Khong Khong
Jie belum dapat mewakilkan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pek Thong. Leng Ciok mau memegang martabatnya, maka ia


hendak bicara sendiri dengan Ong Pek Thong.
“Inilah mudah!” berkata Khong Khong Jie, yang nampak tak
jadi kurang senang. Mendadak ia bersiul nyaring dan lama.
Belum lama berhenti siulan itu maka dari arah luar terdengar
sambutan nyaring yang berbunyi, “Ong Pek Thong dari Yan San
datang mengunjungi Touw Cecu!”
Ong Pek Thong dan Khong Khong Jie telah berjanji matang,
begitu Khong Khong Jie dan Touw Leng Ciok selesai bicara atas
isyarat, ia mesti muncul. Ia datang tepat sekali, maka juga,
begitu siulan terdengar, begitu ia menjawab dan muncul di
muka benteng.
Leng Ciok terperanjat hingga air mukanya berubah. Ia dapat
lekas menenangkan diri, lantas ia memberikan perintahnya,
“Buka pintu benteng! Undang Ong Cecu masuk! Jangan
bersikap kurang hormat!”
Segera juga terlihat bertindak masuknya seorang berusia
enam puluh tahun, wajahnya bercahaya merah, tangannya
menuntun seorang nona yang umurnya baru enam atau
tujuhbelas tahun.
Nona itu melihat ke kiri dan kanan, agaknya dia sangat
gembira. Begitu dia berseru, “Eh paman! Kamu masih belum
mulai mengadu pedang?”
Khong Khong Jie tertawa.
“Pamanmu lagi menantikan tibanya ayahmu!” dia menjawab.
“Kenapa Cuma kau yang datang? Mana kakakmu?” Nona itu
tertawa manis.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Aku sengaja datang untuk menyaksikan keramaian!”


sahutnya. “Kakak kedatangan tetamu! Maka biarlah aku yang
menonton sendiri!”
Hati Lam Ce In bercekat. Tahulah ia sekarang pemuda
berbaju kuning yang itu hari memegat kereta ialah putera Ong
Pek Thdng ini. Ia lantas menduga-duga, “Tetamu siapa yang
mesti dilayani putera Ong Pek Thong itu? Apakah dia bukannya
He Leng Song?”
Ia ingat Nona He sebab hari itu ia melihat sikap si nona
terhadap si anak muda luar biasa sekali, menyaksikan itu, ia
merasa kurang enak.
Sekarang ia mendengar suaranya nona ini, keraslah
dugaannya itu. Ia heran. Mendengar keterangan orang itu,
harinya menjadi tidak tenteram. Sebisa-bisanya ia
menenteramkannya. Kata ia, “Aku perduli apa tetamunya itu
Nona He atau bukan?”
Ketika itu terdengar suaranya Ong Pek Thong, “Anak Yan,
kenapa kau sembrono sekali? Lekas kau memberi hormat
kepada Touw Pehu kau itu! Ah bocah ini, aku yang
menyebabkannya menjadi manja begini! Touw Toako, aku
minta sukalah memaafkannya!”
Touw Leng Ciok tertawa.
“Di antara saudara sendiri buat apa kita omong begini
sungkan!” katanya. ‘Baiklah kita segera membicarakan urusan
perdagangan kita hari ini!”
Ong Pek Thong mengawasi.
“Bukankah itu telah kamu bicarakan matang?” dia tanya.
“Kita * menurut aturan Rimba Hijau saja. Aku tak dapat
mengatakan lainnya lagi.”

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Ciok lantas berkata, membaca di luar kepala, “Yang


menang menjadi jago! Yang mati perkaranya tak ditarik
panjang! Yang kalah mesti mundur dari dunia Rimba Hijau
dengan sebawahannya semua mengikuti pimpinan yang baru,
tetapi yang tak sudi mengikut, dia dapat membubarkan dirinya
sendiri, Cuma dia tak dapat hidup pula sebagai orang Jalan
Hitam!”
“Setuju!” kata Ong Pek Thong. “Aturan ini kau ingat baik
sekali, Touw Toako! Kita memakai aturan ini! Hanya, Touw
Toako, buat guna kau, suka aku memberi nasehat...”
“Ong Toako, kau mempunyai nasehat berharga apa?” Touw
Leng Ciok tanya. “Aku yang muda senang sekali
mendengarnya!”
Demikian kedua kepala begal itu, mereka saling
membahasakan saudara satu dengan lain, hingga siapa yang
tak ketahui duduknya hal, tak nanti menyangka bahwa mereka
sebenarnya bermusuh mati-matian, bahwa segera juga mereka
bakal bertempur untuk mati atau hidup!
“Aku hendak bicara tentang pertempuran kita!” kata Ong Pek
Thong. “Bukankah kita memakai aturan Rimba Hijau? Aku
kuatir kaulah yang bakal menjadi pihak yang rugi! Ingat bahwa
kita adalah sahabat-sahabat dari beberapa puluh tahun! Jikalau
kita salah tangan, aku pasti bakal merasa tak enak hati! Maka
itu, aku pikir, baiklah kau mengundurkan diri saja, untuk mana
cukup asal kau membuat suatu surat perjanjian untukku...”
Nasihat itu berarti nasehat Touw Leng Ciok menyerah kalah
dan mengajukan surat pernyataan menakluk, habis mana Leng
Ciok mesti mengundurkan diri, supaya dia tak usah bercelaka
karena kalah bertanding.
Mendengar itu, Leng Ciok menjadi mendongkol sekali. Maka
ia tertawa terbahak-bahak.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Terima kasih untuk kebaikan hatimu ini, Ong Toako!” kata


ia. “Aku juga justeru mempunyai semacam pikiran untuk
dipakai memberi nasehat pada toako! Toako datang dari
tempat yang jauh, apabila lacur kau menampak kerugian,
apabila ada terjadi sesuatu atas dirimu, pasti aku akan sangat
bersusah hati!”
Kata-kata Touw Leng Ciok ini berarti bahwa sebagai tuan
rumah, ia berjumlah banyak dan bakal berbuat sebisanya guna
merebut kemenangan, sedang di pihak Ong Pek Thong, mereka
Cuma bertiga berikut anak daranya itu.
Ong Pek Thong menyambut nasehat itu dengan tertawa.
“Jikalau saudara Touw tak dapat menerima nasehatku, tak
bisa lain, terpaksa aku mesti mengiringi dan menemanimu!”
kata dia. “Baiklah, kedua pihak sudah bicara jelas, siapa mati
siapa hidup, dia paserah kepada Thian Yang Maha Kuasa! Jadi
tak usahlah ada yang bersusah hati nanti! Baik! Baik! Sekarang
mari kita mulai dengan mengadu pedang! Inilah pertandingan
yang sukar disaksikan selama seratus tahun!”
Khong Khong Ji lantas menggapai.
“Toan Tayhiap, mereka sudah selesai bicara!” katanya.
“Sekarang tinggal urusan kita! Cuma tadi masih ada sepatah
kata yang aku belum sempat ucapkan. Sudah lama aku
mendengar Nyonya Toan adalah jago wanita, karena itu apakah
dapat kita sekalian memakai aturan Rimba Hijau supaya
nyonyamu turut maju bersama?”
Perkataannya Khong Khong Jie ini berarti, disamping ia
menantang Touw Sian Nio, itu pun bermaksud, umpama kata
Kui Ciang kalah, maka Sian Nio harus tak mencampur tahu
lebih jauh urusan keluarga Touw, keluarganya itu. ‘
Kui Ciang mengerutkan alis. Ia berpaling kepada isterinya.^

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Baiklah!” katanya. “Kalau sebentar aku gagal, kau boleh


turut
maju!”
Toan Kui Ciang menginsafi liehaynya Khong Khong Jie, ia
percaya dalam pertandingan pedang ini ia tidak mempunyai
harapan. Bukankah melawan Ceng Ceng Jie saja sudah sulit
untuknya? Maka itu ia pikir, baiklah isterinya turut turun
tangan. Berterang terlebih baik daripada cara diam-diam.
Sian Nio mengerti, ia mengangguk. 1
“Toan Tayhiap!” Khong Khong Jie berkata pula, “Ketika tadi
kau melayani sute-ku, aku lihat kau suka mengalah
terhadapnya, maka itu sekarang, suka aku yang mengalah,
supaya kaulah yang menyerang terlebih dahulu!”
Kui Ciang terkejut juga. Dengan begitu menjadi ternyata,
tadi Khong Khong Jie telah menyaksikan pertempurannya
melawan Ceng Ceng Jie. Tapi ia tidak berayal. Ia lantas
menghunus pedangnya.
“Silahkan keluarkan pedangmu,” ia mengundang.
Sejak tadi Khong Khong Jie muncul dengan kedua tangannya
kosong, tetapi sebab ia menantang mengadu pedang, Kui Ciang
menyangka orang membekal joan-kiam, pedang lunak, yang
biasa disimpan melilit di pinggang.
Siapa tahu, atas undangannya itu, Khong Khong Jie kata
tawar, “Toan Tayhiap, aku minta tak usah sungkan-sungkan!
Kali ini kaulah yang turun tangan lebih dulu, silahkan kau
mulai!”
Kui Ciang menjadi gusar sekali.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Jadi kau hendak melawan pedangku dengan tangan


kosong?” kata dia keras. “Kalau begitu, biar bagaimana pun,
aku si orang she Toan tak dapat melayani kau!”
Khong Khong Jie tertawa.
“Maaf! Maaf!” katanya. “Toan Tayhiap menjadi ahli pedang
berkenamaan di jaman ini, mana berani aku melayani kau
dengan tangan kosong? Akan tetapi setiap orang mempunyai
senjatanya masing-masing yang istimewa, dari itu, tayhiap, tak
usahlah kau banyak usil! Sekarang ini sudah tidak siang lagi,
aku minta silahkan kau lekas mulai!”
Dalam mendongkolnya, Kui Ciang kata di dalam hari, “Ingin
aku lihat bagaimana kau mencabut pedangmu!”
Lantas ia menyerang dengan tipu silat “Burung walet
menggaris pasir,” mencari dada lawan itu. Begitu sinar putih
berkelebat, begitu ujung pedang tiba pada sasarannya.
Semua hadirin terperanjat. Semestinya Khong Khong Jie tak
mempunyai ketika lagi akan akan menghunus pedangnya,
pedang yang tak tahu di mana disimpannya, sebab tergantung
di pinggang tidak, terlibat tidak juga. Bahkan ada orang-orang
yang punggungnya mengeluarkan keringat dingin!
Justeru orang terperanjat itu, justeru orang mendengar
tertawanya Khong Khong Jie, yang terus berkata nyaring,
“Kehormatan mesti saling balas, ada pergi ada datang! Aku pun
hendak menggunai senjataku!”
Sebat luar biasa, pahlawannya Ong Pek Thong ini membalik
tangannya yang kanan, maka itu terdengarlah satu suara
nyaring, dari beradunya pedang, atas mana Toan Kui Ciang
terpaksa mesti mundur tiga tindak, sedang tubuhnya
terhuyung, sebisanya dia mencoba mempertahankannya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Baru sekaranglah orang melihat di tangan Khong Khong Jie


ada senjatanya, sebilah pedang yang sangat pendek, yang lebih
pendek daripada pisau belati yang umum. Senjata itu
disembunyikan di dalam tangan baju, mata liehay dari Kui
Ciang sampai tak melihatnya, baru setelah diserang, senjata itu
dikeluarkan dipakai menangkis, demikian hebat, hingga
bentrokan membuat si penyerang yang terpental mundur
sendirinya. Tangkisan juga dilakukan disaat ujung pedang
hampir mengenai dada.
Pedang Khong Khong Jie itu bersinar biru, tajamnya luar
biasa. Pedang Kui Ciang pedang mustika, akan tetapi sekarang,
bentrok dengan pedang lawan, pedang itu gompal sedikit,
hingga dia menjadi terkejut.
Menyusul bentrokan itu, selagi tubuh Kui Ciang belum berdiri
tegak, tubuh Khong Khong Jie sudah melesat maju. Ia hendak
membalas menyerang, kehendak itu diwujudkan segera.
Pedangnya yang tajam itu sudah lantas berkelebat di muka
lawannya.
Kui Ciang bukan musuh ringan walaupun barusan ia telah
terpental mundur, kendati belum sempat memasang kuda-
kuda, ia dapat mundur setindak, untuk mengelit diri. Setelah
mana, tak kalah sebarnya, ia menyerang pula dengan tipu silat
“Lie Kong memanah batu”. Hanyalah ini serangan menabas
lengan lawan, maka juga itu menyerupai serangan untuk
memecah tikaman lawan. ^
Khong Khong Jie memuji, “Hebat! Pantaslah orang
memperoleh gelaran tayhiap!”
Ia lantas menarik pulang lengannya, tubuhnya terus
berlompat ke samping kiri, dengan begitu sembari berlompat
itu, ia juga dapat meneruskan menyerang pula, mengarah jalan
darah jie-khie di iga lawan.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Orang semua kagum. Itulah serangan saling balas yang


dahsyat
sekali.
Kui Ciang kena terdesak, umpama kata ia “sukar bernapas”.
Ia mundur tetapi ia tidak menjadi gugup, gerakan pedangnya
tidak menjadi kalut, karena mana ia dapat membela diri sambil
menyerang juga. Cuma ia mesti main mundur.
Kalangan persilatan mengenal kata-kata “Satu dim pendek,
satu dim bahaya”. Inilah tepat bagi Khong Khong Jie, yang
pedangnya sangat pendek itu. Meski pedangnya istimewa, ia
toh dapat mendesak lawannya, seorang tayhiap.
Pertempuran berlanjut terus. Sinar kedua pedang berkilauan,
bergeraknya sangat cepat. Kui Ciang terus terdesak tetapi tetap
tak menjadi kacau.
Lam Ce In yang gagah berdebaran hatinya menyaksikan
pertempuran itu.
“Jikalau Toan Tayhiap tidak sangat tabah hati, tentulah
siang-siang ia telah kena dipecundangi...” ia pikir.
Ketika Kui Ciang menempur Ceng Ceng Jie, selama setengah
jam belum pernah ia mundur satu tindak juga, akan tetapi kali
ini menghadapi Khong Khong Jie, suheng atau kakak
seperguruan Ceng Ceng Jie, dengan lantas ia dipaksa mundur,
bahkan tubuhnya terpelanting terhuyung, dari situ orang bisa
menerka liehaynya Khong Khong Jie. Maka juga orang
mengawasi pertempuran dengan hati tegang.
Kui Ciang mesti mundur atau berkelit ke kiri dan kanan. Tak
juga ia dapat lolos dari serangan bertubi-tubi dari lawannya.
Pedang pendek Khong Khong Jie bergerak sangat cepat dan
liehay, selalu mengancam di depan, kiri atau kanan, menabas
atau menikam.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Touw Sian Nio memasang mata, akhirnya ia menyiapkan


senjata rahasianya.
Dalam hal kepandaian menggunai senjata rahasia, Sian Nio
sudah mencapai puncak kemahiran. Ia dapat menyerang
berbareng dengan dua-dua tangannya, tangan yang kanan
dengan tujuh biji kim-wan atau “Peluru emas,” tangan yang kiri
dengan seraup bwe-hoa-ciam, jarum mirip bunga Bwe.
Demikian, apabila si nyonya telah melihat saatnya, tanpa
ayal lagi ia melakukan serangannya yang berbahaya itu. Tujuh
kim-wan mencari tujuh jalan darah lawan dan seraup jarum
menuju langsung ke muka.
Karena jarak mereka berdua dekat, dapat dimengerti lebih
hebatnya lagi serangan itu.
“ Orang terkejut. Umumnya mereka menganggap Khong
Khong Jie terancam bahaya hebat. Paling juga dia dapat
menyingkir dari peluru, tidak dari jarum rahasia.
Atas serangan itu, Khong Khong Jie berseru, “Senjata rahasia
yang
liehay!”
Segera pedangnya berkelebat dan tubuhnya mencelat.
Segera terdengar suara nyaring dari beradunya senjata-senjata
tajam berulang-ulang, disusul dengan jeritan, “Aduh!” tiga kali
yang datang dari sisi gelanggang pertempuran.
Tujuh Kim-wan kena tersampok mental.
Touw Leng Ciok kaget. Dengan tameng kim-pay, ia
menyampok sebuah peluru yang meletik ke arahnya. Touw
Leng Hu dan Touw Leng Cek, yang berada di kiri dan kanannya
tidak terluka, tetapi adik mereka yang nomor lima, Touw Leng

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tam, terkena tulang keringnya. Dua kurban lainnya, ialah dua


tauw-bak, yang terhajar embun-embunannya.
Habis menyelamatkan diri, Khong Khong Jie tertawa.
“Jarum juga ingin aku kembalikan pada kamu!” katanya,
yang lantas menggeraki pedangnya.
Untuk herannya semua orang, seraup jarum bwe-hoa-ciam
berkumpul menjadi satu di ujung pedang pendek, seperti juga
ujung pedang itu ada besi beraninya. Ketika pedang dikibaskan,
semua jarum itu buyar hancur, terbang seperti bunga rontok.
Touw Sian Nio gagah dan tabah tapi toh dia kaget sekali,
hingga mukanya menjadi pucat. Tak ia sangka musuh demikian
liehay.
Habis itu, Khong Khong Jie berseru pula, “Toan Hujin, aku
telah belajar kenal dengan pelbagai senjata rahasiamu, maka
sekarang masih ada ilmu golokmu Yu-sin Pat-kwa-too! Aku kira
toh kau tak berkeberatari untuk memberi pelajaran itu padaku!”
Selagi berkata itu, Khong Khong Jie tidak berdiam saja, terus
ia menempur Kui Ciang, terus ia mendesak mundur lawannya
itu, sampai Kui Ciang mundur lagi tiga tindak.
Touw Sian Nio menyambuti, “Baiklah, kami berdua suami
isteri akan melayani kau!”
Lantas ia mengeluarkan sepasang golok tipis dan lemas, liu-
yap-too, untuk lompat menyerang. Goloknya itu satu panjang,
satu lagi pendek.
Sian Nio sangat disayang ayahnya, ia pun cerdas dan rajin,
maka ia berhasil mewariskan semua kepandaian ayahnya itu,
dan ilmu golok Pat-kwa itu, Yu-sin Pat-kwa-too, merupakan
salah satu yang istimewa.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong Khong Jie ketahui tentang ilmu golok itu, dengan


berani ia menantangnya.
Sinar golok lantas berkeredepan mengurung lawan,
membantui Kui Ciang. Tubuhnya Sian Nio pun sebat sekali
mengimbangi bergeraknya golok itu. Maka celakalah kalau
orang kalah gesit melayaninya.
Dengan majunya isterinya, semangat Kui Ciang bertambah,
pedangnya lantas bergerak lebih hebat. Ia terdesak tapi tetap
ia tak dibikin kelabakan, ia dapat berlaku tabah dan sebat.
Segera juga Khong Khong Jie tak dapat mendesak lebih jauh
pada Kui Ciang. Dia mesti memecah perhatian, guna berjaga-
jaga dari kedua goloknya Sian Nio.
Kui Ciang berbesar hati tetapi berbareng ia merasa malu
sendirinya. Di dalam hatinya ia mengeluh, “Aku malu...”
Itulah sebab, sebagai tayhiap, seorang jago, ia mesti
menempur musuh dengan main keroyok! Sudah begitu, musuh
pun tetap tangguh!
Touw Leng Ciok senang melihat suami isteri itu telah turun
bersama menghalang Khong Khong Jie, akan tetapi lega
hatinya tidak lama atau mendadak ia menjadi terperanjat.
Itulah sebab dengan tiba-tiba Khong Khong Jie berseru
nyaring, sambil berseru, dia merubah siasat berkelahinya, dia
terus melakukan serangan pembalasan. Begitu hebat dia
mempergunakan pedang pendeknya, Kui Ciang dan isterinya
seperti terkurung sinar pedang.
Khong Khong Jie berlompatan gesit ke pelbagai penjuru
guna mengurung sepasang suami isteri itu.
Disampingnya pandai itu, Khong Khong Jie cerdas sekali.
Didalam tempo yang pendek ia telah memperhatikan ilmu golok

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sian Nio, habis mana, ia melakukan serangan membalasnya itu,


hingga ia segera menjadi si penyerang pula.
Ilmu golok Touw Sian Nio membutuhkan kelincahan tubuh,
supaya ia dapat bergerak dengan merdeka dan gesit ke empat
penjuru. Hal ini dapat diterka Khong Khong Jie, lantas Khong
Khong Jie mengatasinya.
Khong Khong Jie dapat melakukan itu karena ia menang
unggul dalam ilmu ringan tubuh. Bahkan selain Sian Nio,
pedang Kui Ciang turut kena dikekang oleh kesehatannya itu.
Di antara para hadirin, kecuali Lam Ce In dan Touw Leng
Ciok, tak ada yang lantas melihat perubahan itu. Di mata biasa,
mereka itu bertiga saling menyerang sama hebatnya. Orang
umumnya merasa tegang sendiri karena kehebatan
pertempuran itu.
“Inilah berbahaya,” pikir Leng Ciok setelah ia menyaksikan
pula
sekian lama.
Ia tidak mau menanti ketika lagi, tanpa pikir banyak-banyak,
ia lantas bertindak. Mulanya ia melirik kepada saudara-
saudaranya dan mengedipi mata, habis itu ia berseru, “Ong
Cecu, mari kita membantu meramaikan!”
Lalu ia memutar kim-paynya dan tanpa menanti jawabannya
Ong Pek Thong, ia lompat menyerang saingan itu, yang diarah
batok kepalanya!.
Menyusuli gerakan kakaknya itu, Touw Leng Hu mengulur
tangannya yang panjang menyerang pada Ong Yan Ie!
Touw Leng Ciok menjadi tertua dari Touw-ke Ngo-houw –
Lima Harimau Keluarga Touw, dia pun menjadi pemimpin
Rimba Hijau, kepandaiannya dapat dimengerti, dia tak dapat

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dipandang ringan, akan tetapi diserang hebat si nona, meski


dia tidak lantas terlukakan, dia toh terdesak mundur berulang-
ulang.
Menampak demikian Touw Leng Hu lantas berseru, tak
menghiraukan balutan lukanya, ia maju sambil memutar
goloknya, guna menyerang nona itu.
Touw Leng Sin bersama Touw Leng Cek dan Touw Leng Tam
telah menurut buat, mereka juga menghunus senjatanya
masing-masing, serentak mereka maju mengepung puterinya
Ong Pek Thong.
Ong Yan Ie benar-benar bernyali besar, bukannya dia
mundur atau berkuatir, dia justeru tertawa nyaring. Kata dia
dengan gembira, “Akan aku menemani beberapa paman Touw
ini main-main! Ayah, kau duduk saja menonton keramaian!”
Sembari berkata begitu, dia bekerja terus.
Dengan gerakan “Menunjuk langit menggaris bumi,” Nona
Ong menikam Touw Leng Sin di kirinya, lalu ke kanan, dia
menabas kepada Touw Leng Tam.
Leng Tam masih dibalut kakinya, tulang keringnya bekas
dihajar peluru emas nyasar dari Sian Nio, karena itu
gerakannya tak sebat lagi, justeru itu si nona menyerang
dengan cepat luar biasa, segera dia menjerit keras dan
tubuhnya roboh terguling. Ujung pedang si nona berhasil
menabas dengkulnya.
Dengan robohnya ini satu penyerang, pengepungan menjadi
meninggalkan sebuah lowongan kosong.
Ong Pek Thong bertindak keluar, dengan angkuh dia duduk
di tengah-tengah Cie Gie Thia, ruang rapat. Itulah “Kursi
Kebesarannya” Touw Leng Ciok, kursi yang memakai alas kulit
harimau. Sembari duduk itu dia .tertawa terbahak-bahak, terus
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dia berkata nyaring, “Inilah dia anak kerbau yang tak takut
harimau! Baiklah, ayahmu akan menonton keramaian ini! Anak
Yan, berhati-hatilah!”
Kui Ciang melihat kelima Harimau maju tanpa menghiraukan
lagi kehormatan Rimba Persilatan, ia menjadi masgul dan
menyesal, tidak ayal lagi ia mengibaskan pedangnya, untuk
lompat keluar kalangan, untuk terus berkata nyaring, “Khong
Khong Jie, aku menyerah kalah! Sian Nio, mari kita pergi!”
Sebenarnya, kalau mereka bertarung terus, suami isteri ini
masih dapat bertahan sekian lama, tetapi keadaan membikin
tayhiap itu putus asa. Maka ia mengambil keputusan itu tanpa
memperdulikan ia bakal ditertawakan orang atau tidak...
Hati Sian Nio gentar. Inilah ia tidak sangka. Tentu sekali, ia
lantas menjadi bingung. Ia harus turut suaminya itu atau tetap
membelai kakak-kakaknya?
Kelima kakak itu lagi menghadapi saat mati hidup!
Sebaliknya ia melihat suaminya sudah bertindak di ambang
pintu! Kalau ia tidak ikut suaminya itu maka putuslah cinta
kasih suami isteri yang sudah berjalan sepuluh tahun itu!
Mereka tentu akan berpisah buat selama-lamanya...
Khong Khong Jie tertawa terbahak. Dia menyimpan
pedangnya ke dalam sarungnya.
“Terima kasih yang kau suka mengalah!” katanya nyaring.
“Di dalam tempo tiga bulan, akan aku menantikan di kuil Ceng
Hong Koan di gunung Giok Sie San di kota Liang-ciu!
Sembarang waktu kamu suami isteri yang mulia dapat datang
untuk mengambil pulang anak kamu!”
Touw Sian Nio melengak. Dia memang telah keluar kata,
kalau dia kalah, dia tak bakal memperdulikan lagi urusan kakak-

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kakaknya, sekarang suaranya Khong Khong Jie memberi ingat


dan menyadarkan dia pada janjinya itu.
Dialah wanita jantan, dia menjunjung kehormatan dan
kepercayaan, tak dapat dia melanggar itu. Maka itu, setelah
berdiam sejenak, tak perduli hatinya nyeri, dia lantas
menyimpan sepasang goloknya, dengan tindakan limbung, dia
menyusul suaminya ke pintu. Dia berkepala pusing, matanya
berkunang-kunang. Sudah begitu, dia pun tak berani menoleh
untuk memandang lagi pada saudara-saudaranya.
Kui Ciang melihat isterinya terhuyung, ia lompat untuk
memegangi, maka dengan separuh dipepayang, Sian Nio turut
suaminya meninggalkan gelanggang, buat lari turun dari
gunung.
Khong Khong Jie membiarkan orang berlalu, sambil tertawa
dia kata pada Ong Pek Thong, “Ong Toako, sekarang pun
datang ketikaku untuk menonton keramaian! Ha, ha! Bagus,
bagus, keponakanku!” Dia menyerukan Yan Ie, “Bagus ilmu
pedangmu! Aku lihat, tak usah sampai lagi sepuluh tahun, dia
pasti bakal menyandak ilmu pedangku!”
“Saudara, kau terlalu mengangkat tinggi, kau terlalu memuji
bocah itu!” menyambut Ong Pek Thong, tertawa. “Sebagai
paman, seharusnya saja kau mendidik lebih jauh kepada
keponakanmu itu!”
“Baik!” seru Khong Khong Jie, yang memberi janjinya. “Anak
ini Cuma kurang latihannya! Nah, lihatlah itu, jurus itu mestinya
dikendorkan sedikit, dia mesti menanti sampai lawan
menyerang, baru dia menabas lengannya! Nah, itu pun terlalu
ke kanan! Oh, lekas, lekas gunai jurus ‘Bintang melayang-
layang’! Ah, sayang, sayang!”
Khong Khong Jie bersama Ong Pek Thong duduk
berhadapan, berbicara dengan asyik, seperti juga di sisi mereka
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak ada or^ng lain, sedang sebenarnya di dekat mereka


orang lagi bertempur maty-matian. Mereka menganggap
pertempuran itu bagaikan permainan. Si nona, dengan
mendapat pelbagai petunjuk dari samping, berkelahi semakin
hebat.
Sebenarnya, persaudaraan Touw, dengan lima lawan satu,
masih berkelebihan tenaga untuk mengalahkan si nona, tak
perduli mereka kekurangan Touw Leng Kam dan Touw Leng Hu
yang, karena memandang enteng kepada musuh, sudah kutung
sebelah tangannya, hingga mereka berempat memiliki tinggal
tujuh buah lengannya, hanya sayang setelah berlalunya Toan
Kui Ciang suami isteri, orang-orang Touw Ke Ce telah
kehilangan semangatnya.
Kempat saudara itu, dengan beradanya Khong Khong Jie,
telah gentar hatinya, apapula jago itu tak hentinya memberi
petunjuk pada nona lawannya.
Touw Leng Ciok berkuatir dan bergusar sekali, hingga ia
menjadi nekad, sambil mengertak gigi, dengan sepasang pay-
nya ia melakukan serangan mati-matian, untuk mati bersama
dengan musuhnya. Ia menerjang berikut tubuhnya yang
ditubrukkan. Ia bertubuh tinggi dan besar, berikut pay-nya itu,
ia bagaikan bukit roboh...
Melihat cara menyerang hebat itu, Khong Khong Jie berkata,
“Hok-te Keng-liong-kiam!”
Si nona sudah lantas menjatuhkan dirinya, begitu jatuh,
pedangnya menyambar.
Dengan satu suara keras, kaki kiri Touw Leng Ciok sebatas
dengkul kena terbabat putus. Liehay sekali si nona
melaksanakan petunjuk itu, petunjuk tipu silat pedang “Naga
mendekam”. Habis itu si nona berlompat bangun dengan
gerakan “Le-hie Ta-teng” atau “Ikan gabus meletik”. Berbareng
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan bangun berdiri itu, selagi lawannya kaget dan


kesakitan, ia menendang terlepas sebatang golok lawannya itu.
Sembari tertawa, ia tanya ayahnya, “Ayah, biarkan mulut
hidup atau jangan?”
Itulah pertanyaan yang berarti musuh harus dibiarkan hidup
atau
tidak...
Belum sempat Ong Pek Thong menjawab puterinya itu,
Touw Leng Ciok sudah berteriak terhadapnya, “Ong Pek Thong,
meskipun aku menjadi hantu, akan aku balas sakit hati ini! Tak
Nanti aku memohon ampun!”
Habis berseru itu, mendadak dengan pay-nya – kim-pay – ia
menghajar kepalanya sendiri!
Maka pecahlah kepala jago Touw Ke Ce Ini, tubuhnya
terguling, nyawanya terbang melayang...
Tiat Mo Lek menyaksikan ayah angkat itu terbinasa, hatinya
terasakan hancur. Maka ia pun menjadi nekad. Dengan lantas
ia mencabut goloknya, untuk maju menerjang, guna
membunuh si nona.
Hanya baru sebelah kakinya bertindak atau sebelah
lengannya menjadi kaku sendirinya, terus disusul dengan lunak
lemas seluruh tubuhnya, hingga ia mesti berdiam saja tak
dapat bergerak.
Ketika ia menoleh, karena ia tahu orang telah totok padanya,
ia melihat Lam Ce In lagi mencekal lengannya yang kaku itu
dan Ce In terus berbisik padanya, “Mo Lek, sekali-kali jangan
kau turun tangan!”
Baru setelah itu terdengar jawaban Ong Pek Thong kepada
anaknya, “Melepas harimau mudah, menangkapnya sukar,
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

maka itu karena lima Harimau dari Touw Ke Ce tak takluk pada
kami Keluarga Ong, haruslah membabat rumput berikut
akarnya, satu juga tak dapat ampun!”
“Baik ayah, aku turut perintah!” berseru si nona dengan
penyahutannya tanda mengerti, terus dia menghadapi Touw
Leng Ciok, untuk berkata sambil tertawa manis, “Paman Touw,
aku telah menerima perintah ayahku, hari ini ingin aku memberi
selamat jalan kepadamu!”
Kata-kata itu ditutup dengan satu tabasan, maka Leng Ciok
roboh tanpa ampun pula.
Matanya Touw Leng Hu menjadi merah, dalam gusarnya itu,
ia berlompat kepada si nona. Nona itu sebaliknya sangat
waspada dan gesit, ia mendahului menyambut dengan
tikamannya ke ulu hati di mana pedangnya nancap!
Touw Leng Sin menjadi nekad. Didalam ilmu silat, dia Cuma
dibawahan kakak tuanya. Dia berteriak, “Ong Pek Thong, akan
aku adu jiwaku denganmu!”
Tanpa menanti si nona menerjang kepadanya, dia lompat
kepada Ong Pek Thong, guna menghajarnya dengan
tongkatnya. Si nona sebaliknya sudah lantas bergerak, guna
menyusul padanya. Sebat sekali nona itu mencabut pedangnya
dan berlompat.
Ong Pek Thong sendiri tertawa berkakak dan menjawab,
“Touw Lao-jie, aku masih ingin hidup beberapa tahun lagi! Baik
kau berangkat terlebih dulu supaya kau dapat berkumpul
bersama saudara-saudaramu!”
Touw Leng Sin tidak menjawab ejekan itu, tongkatnya sudah
turun ke arah musuh, atau mendadak punggungnya terasa
dingin dan sakit, karena pedang si nona sudah nancap di
punggungnya itu!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In menyaksikan kejadian itu, ia anggap si nona


terlalu telengas, maka juga meski ia sudah menyatakan tidak
campur urusan kedua keluarga itu, ia panas hatinya, ia gusar
sekali.
Ketika itu di dalam ruang itu ada belasan tauwbak Touw Ke
Ce, semuanya pengikut-pengikut lama Keluarga Touw, mereka
semua setia kepada pemimpin mereka, maka dari itu,”semua
mata mereka menjadi merah, tanpa perdulikan apa lagi,
mereka maju menyerang nona itu.
Si nona menyambut belasan penyerangnya. Ia menunjuki
kelincahannya. Bagaikan cecapung memain di air atau kupu-
kupu beterbangan di antara bunga, ia berputaran disekitar
lawan-lawannya, atau nyeplos molos di sisi mereka itu.
Setiap ia menyerang, ia mengarah bagian-bagian anggauta
yang berbahaya, maka selang sekian lama, sudah tujuh atau
delapan musuh yang roboh terluka.
Ong Pek Thong mengerutkan alis memandang pertempuran
macam itu, kata dia, “Touw Lao-toa memerintahkan orang-
orang semacam ini maju menjual jiwa untuknya, sungguh tak
kecewa dia menjadi kepala Rimba Hijau, dia menyebabkan
orang kagum terhadapnya! Dengan begini bolehlah dia nanti
mati dengan mata meram!”
Ce In mengertak gigi, ia menahan diri sebisa-bisa. Ia kata
berulang-ulang dalam hatinya, “Tak dapat aku turut terlibat
dalam arus mata air ini! Tak dapat aku turut terlibat dalam arus
mata air ini! Sekalipun untuk Tiat Mo Lek, tidak dapat aku kena
terlibat arus mata air ini!”
Lantas ia menarik tangannya Mo Lek, buat diajak pergi dari
tempat yang keruh itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiba-tiba satu sinar pedang berkelebat dan seorang nona


menegur bengis, “Mau pergi kemana?”
Pedang itu menyambar dengan satu tipu silat yang
berbahaya kepada Lam Pat.
Ce In berkeliat, dengan mengangkat tangannya, ia menekan
pedang itu.
Si nona terperanjat hingga dia melengak. Dia merasakan
telapakannya panas akibat tekanan atau tolakan itu. Ketika ini
digunai Ce In mengajak Mo Lek berjalan terus.
“Kau siapa?” si nona membentak setelah dia sadar. Kembali
dia menyerang dengan pedangnya yang liehay itu. Kali ini dia
menggunai tikaman “Bianglala putih menutupi matahari”.
Karena Ce In sudah lewat, dia menikam punggung orang she
Lam itu.
Ce In ketahui datangnya serangan, ia menangkis ke
belakang.
Orang segera mendengar suara saling susul, “Sret!” dan
“Tiang!”
Itulah suara dari robeknya baju Ce In dan mentalnya pedang
si nona. Tangkisan Ce In sedikit terlambat tapi toh masih
mengenai sasarannya.
Si nona terkejut. Pedangnya tersampok hampir terlepas. Tapi
ia tidak menjadi takut, bahkan tanpa bersangsi ia lompat lebih
jauh, guna melewati Ce In berdua, guna menghadang pula.
Ia tertawa dan kata, “Aku tidak sangka paman Touw dapat
menyembunyikan seorang yang liehay! Beritahukan namamu,
lantas kita mencoba-coba pula!”
Ce In menghela napas dalam hatinya. Ia pikir, “Dia masih
begini muda tetapi dia sudah telengas sekali, aku kuatir
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dibelakang hari dunia Rimba Persilatan bakal tambah dengan


satu hantu baru...”
“Eh, kenapa kau tidak mau bicara?” si nona menegur
kembali sambil tertawa. “Apakah kau jeri terhadap paman
Khong Khong Jie itu? Kalau benar begitu, jangan kau kuatir!
Aku tak usah dibantu dia! Sebenarnya siapakah kau?”
Ce In melintangi pedang di depan dadanya.
“Aku Lam Ce In dari Gui-ciu!” sahutnya. “Aku mengantarkan
Toan Tayhiap datang ke mari, aku bukan bala bantuan yang
diundang Keluarga Touw! Aku juga tidak memikir mencampuri
keruwetan kamu kedua keluarga. Jikalau nona berkukuh
hendak memberi pengajaran kepadaku, nah, terpaksa aku si
orang she In akan menemani juga padamu!”
Mendengar itu, Ong Pek Thong sudah lantas berlompat
bangun sambil berseru. Dia pun kata, “Oh, kiranya Lam
Tayhiap! Anak Yan, jangan kurang ajar!”
Tapi si nona menanya, “Jadinya kaulah yang telah melukai
kakakku? Ayah...!”
Dia seperti memohon ayahnya mengijinkannya turun tangan
Ong Pek Thong mendengar panggilan “Ayah” itu, ia
mengasih dengar suaranya yang bengis, “Anak Yan, kau
kembali! Jangan rewel!”
Ia lantas bangun, untuk lekas memberi hormat pada Ce In.
Ia kata, “Kemarin ini anakku tak tahu apa-apa, dia telah berlaku
kurang hormat kepada kau, tayhiap, untuk itu aku minta
sukalah kau memberi maaf.”
Sikap itu halus dan hormat, beda dengan sikapnya
menghadapi Keluarga Touw. Mau atau tidak, Ce In menjadi
heran.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dalam dunia Kang Ouw, “Muka” adalah soal paling penting.


Maka disana ada pepatah, “Orang menghormati orang satu
tombak”. Maka itu Ce In, walaupun ia tak puas, ia mesti
membalas hormatnya Pek Thong.
Ia kata, “Aku si orang she Lam tak ketahui pemuda itu ialah
putera Ong Cecu, aku menyesal, harap maaf!”
Ia hanya hening sejenak, lantas ia menambahkan, “Aku
datang bersama Toan Tayhiap, aku harus pergi bersama dia,
karena itu apakah cecu dapat mengijinkan aku berlalu?”
Ong Pek Thong tertawa.
“Karena Lam Tayhiap bukan orang Touw Ke Ce, sudah tentu
kau * tidak mempunyai sangkutan dengan urusan kita ini,”
katanya. “Mana aku berani menahan tayhiap?”
Ce In luas pergaulannya, tak kalah dengan terkenalnya Toan
Kui Ciang, sedang gurunya, Mo Keng Lojin, menjadi satu di
antara Bu Lim Sam Lo, Tiga Tertua Rimba Persilatan, yang ilmu
silatnya tak tahu orang dimana batasnya.
Ong Pek Thong ketahui itu, maka Pek Thong suka memberi
muka. Ia mengangguk.
“Kalau begitu, terima kasih!” kata Ce In.
Ia lantas menarik tangannya Tiat Mo Lek, buat diajak pergi
bersama.
“Aku minta anak muda ini ditinggalkan!” mendadak Pek
Thong
bilang.
Ce Lam terkejut.
“Dia juga bukan orang Touw Ke Ce!” ia kata cepat.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Bukankah dia yang bernama Mo Lek, anaknya Tiat Kun


Lun?” Pek Thong tanya. “Aku dengar kabar dia menjadi besar di
rumah Keluarga Touw.”
“Tidak salah, dia memang menjadi besar di Touw Ke Ce,”
sahut Ce Lam. “Meski demikian, dia bukannya murid keluarga
Touw. Aku minta sukalah cecu melepaskannya.”
Buat guna Tiat Mo Lek, inilah yang pertama kali Ce In minta
kebijaksanaan orang.
Tiat Mo Lek telah ditotok urat gagunya oleh Ce In, tidak
dapat dia bicara, meski demikian, matanya masih melek, maka
itu dia mengawasi Ong Pek Thong dengan sorot mata yang
bengis.
Ong Pek Thong tertawa tawar.
“Lam Tayhiap,” katanya, “Setelah kau ketahui asal-usul dia,
mustahil kau tidak ketahui juga bahwa dialah anak angkat dari
Touw Lao-toa? Karena itu terang dia menjadi anggauta
Keluarga Touw.”
“Bocah itu bernyali sangat besar!” Khong Khong Jie campur
bicara. Ia bicara dengan Ong Pek Thong. “Kau lihat bagaimana
dia memandang kau dengan sinar matanya gusar! Rupanya dia
membenci kau sampai di dalam sumsumnya!”
“Hm!” Pek Thong mengasih dengar ejekannya.
“Coba dengar apa kata dia!” kata Khong Khong Jie pula.
Terus dia menyentil dengan dua jeriji tangannya, memetilkan
sebuah thie-lian-cie atau biji teratai besi dengan apa dia
menotok bebas pada Tiat Mo Lek.
Tiat Mo Lek memang gusar sekali, maka juga begitu dia
bebas, begitu dia membentak, “Ong Pek Thong, jikalau kau

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

takut aku menuntut balas nanti, sekarang lekas kau bunuh


aku!”
Ce In kuatir anak itu menerjang, ia mencekal keras
tangannya.
“Ong Toako, bocah ini benar-benar pandai bicara!” kata
Khong Khong Jie pula. “Jikalau kau tidak membiarkannya dia
pergi, benar-benar kelihatannya kau jeri terhadapnya.”
Ong Pek Thong habis daya. Dia mengulapkan tangannya.
“Baik, kau pergilah!” katanya. “Akan aku menunggu kau
untuk kau nanti mencari balas!”
Ce In lantas tarik tangan bocah itu buat diajak berlalu dari
pintu benteng. Dimana-mana di atas gunung ia melihat banyak
liauwlo, yaitu tentara Touw Ke Ce. Merekalah semua liauwlo
yang tak sudi menakluk pada pihak Ong, mereka pada pergi
mencari jalan hidup sendiri.
Dengan terus memegangi tangan Mo Lek, Ce In berlari-lari
sampai belasan lie. Mereka meninggalkan jauh kawanan liauwlo
di belakang mereka, tetapi mereka tidak dapat melihat Toan
Kui Ciang.
Akhirnya Mo Lek berhenti lari, di terus menangis.
Ce In tahu orang sangat bergusar dan berduka, ia
membiarkan, baru setelah lewat sekian lama, ia kata sabar,
“Ayah angkatmu sekeluarga, semua orang-orang yang
hidupnya di ujung golok, maka juga, kalau bukan mereka yang
membunuh orang, orang lain yang membunuhnya. Karena itu
kau harus dapat mengerti dan membuka pikiranmu hingga
lapang.”
---ooo0dw0ooo---

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jilid 9
"Meski demikian, tak selayaknya mereka terbinasa di
tangannya si bangsat tua Ong Pek Thong ayah dan anak!"
berkata Mo Lek sengit. "Kau lihat kekejaman mereka hari ini!
Jikalau mereka menjadi kepala Rimba Hijau, pasti mereka bakal
jauh terlebih kejam daripada ayah angkatku itu!" Ce In
menghela napas.
"Di dalam Rimba Hijau itu, ada berapa banyak orang yang
dapat dibilang hiap-too?" ia tanya.
Ia menyebut "Hiap-Too" atau penjahat budiman.
"Ayahmu terhitung satu di antaranya, juga Koay Ma Yauw
dari kota Thong-ciu. Yang lain-lainnya sulit untuk
membilangnya. Aku beri ingat kepada kau baiklah peristiwa hari
ini kau anggap sebagai satu impian jahat saja, setelah kau
sadar, habislah sudah. Dan sejak hari ini kau juga baik jangan
hidup pula di dalam Rimba Hijau!"
"Ayah angkatku melepas budi merawat dan mendidik, aku
sepuluh tahun lamanya," jawab Mo Lek, "Dapatkah karenanya
sakit hati ini tak usah dibalas?"
Ce In tahu orang masih panas hati, mengertilah ia nasehat
lebih jauh tak ada faedahnya, maka ia kata, "Jikalau kau
berniat mencari balas maka sudah selayaknya kau lebih-lebih
menyayangi dirimu! Barusan Ong Pek Thong melepaskan kau
bukan karena hatinya yang baik, dari itu baiklah kau lekas-lekas
menyingkir jauh dari sini."
Mo Lek, yang tadinya berduduk, berjingkrak bangun. Ia
menepas kering air matanya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Paman Lam, banyak yang kau ucapkan barusan, cuma ada


beberapa kata-kata yang masuk dalam otakku!" kata ia. "Aku
biasa omong terus terang, kau tidak gusar padaku, bukan?"
Mendengar itu, di dalam hatinya Ce In menghela napas dan
pikir, "Ini macam sakit hati dan balas membalas dunia Rimba
Hijau, sampai kapan sampai diakhirnya?"
Ia menjawab, "Kau berhati besar dan keras, itulah sifatnya
seorang gagah! Tapi keras itu mudah patah, dari itu, kekerasan
mesti dipakai pada tempatnya. Ah...! Aku tahu, kata-kataku ini
sekarang ini pasti kau tak dapat terima, dari itu baiklah kita
tunggu sampai beberapa tahun lagi, umpama kata kita dapat
bertemu pula, itu waktu barulah aku mau bicara secara
perlahan-lahan dengan kau. Sekarang mari kita cari dulu
Paman Touw-mu itu!"
Mo Lek menurut, ia mengikut.
Jalan selintasan, mereka berpapasan dengan satu pasukan
liauwlo yang mengibarkan bendera dengan sulaman huruf
"Ong" dan di muka barisan itu nampak puteranya Ong Pek
Thong duduk di atas kudanya dengan romannya sangat puas,
cuma mukanya bengkak bengap, rupanya dia bekas habis
berkelahi.
Sebenarnya pemuda itu datang bersama barisannya guna
merampas Touw Ke Ce, barusan di tengah jalan dia bertemu
Toan Kui Ciang suami isteri, oleh Touw Sian Nio dia diberi
persen sebutir peluru panah, siapa tahu sekarang ini dia
berpapasan pula dengan Lam Ce In dan Tiat Mo Lek.
Dia menjadi terperanjat. Dalam herannya dia berpikir,
"Bagaimana Khong Khong Jie? Kenapa mereka semua dibiarkan
lolos?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tauwbak yang berada paling depan melihat Mo Lek, yang dia


kenali, dia majukan kudanya untuk menghampirkan, guna
menangkap anak muda itu.
Mo Lek gusar, ia pun maju sambil membentak.
"Jangan!" teriak Ce In, yang hendak mencegah.
Tapi si tauwbak sudah tiba dan sudah lantas menyerang
dengan tombaknya, atas mana Mo Lek tangkap senjatanya itu,
terus ditarik, maka robohlah dia. Terus Mo Lek mengayun
tombak orang, yang ia dapat rampas itu, kalau tidak ada
cegahan Ce In, mungkin tubuhnya sudah tertancap di tanah
tertusuk tombaknya itu sendiri.
Ce In segera menyerukan si pemimpin pasukan berandal itu,
"Ong Siauw-cecu, kau mau apa? Apakah kau ingin bertanding
pula dengan aku si orang she Lam?"
Anak muda itu, yang berseragam kuning, melihat Ce In
berdua,
lantas tertawa lebar. ^
Mo Lek gusar.
"Jangan jumawa!" dia membentak. "Kamu juga cuma
mengandal pada Khong Khong Jie!"
Anak muda itu tidak meladeni bicara.
"Bukankah ayahku yang melepaskan kamu?" dia tanya.
Dia menanya begitu karena dia melihat dandanan Ce In dan
Mo Lek berdua rapih dan bersih, tak ada tanda-tandanya
mereka terluka. Kalau mereka itu menempur Khong Khong Jie,
tidak nanti mereka dapat mundur dengan tubuh utuh.
Mukanya Ce In merah. -

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau benar, bagaimana?" ia tanya. "Apakah kau tidak puas


dan hendak menahan kami?"
Pemuda berbaju kuning itu tertawa.
"Aku panglima pecundang, tak dapat aku bicara dari hal
kegagahan," sahutnya terus terang, tetapi nada kejumawaan.
"Tapi kamu juga jangan berlagak gagah di depanku! Karena
ayahku sudah melepaskan, membiarkan kamu turun gunung,
maka kamu silahkan pergilah!"

Pemuda itu menggeraki leng-kie, bendera titahnya, maka


barisannya lantas bergerak membuka jalan ke kiri dan kanan.
Lam Ce In benci anak muda ini. Rasa benci itu mulai sejak
pertama kali ia menemuinya. Sekarang ia mendengar suara
orang, ia menyaksikan lagak tengiknya itu, ia gusar sekali.
Hampir ia umbar amarahnya tatkala ia ingat, "Baru saja aku
nasehati Mo Lek jangan sembrono, kenapa kau melupai itu?"
Maka ia lantas mengendalikan diri. Dengan menuntun tangan
Mo Lek, ia lantas berjalan pergi.
Mereka terus berjalan cepat. Selang belasan lie, mata Ce In
yang tajam melihat dua orang di bawahnya sebuah pohon
besar. Bahkan ia mengenali Toan Kui Ciang beserta isteri.
"Toako! Toako!" ia lantas memanggil. "Siauwte bersama Mo
Lek
di sini!"
Kui Ciang menyahuti, suaranya tapi dalam.
Touw Sian Nio berdiam saja, sinar matanya guram. Ia baru
seperti orang mendusin ketika Mo Lek, yang lari ke arahnya,
sudah lantas menangis. Tubuhnya terus menggigil, bergemetar
keras.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Bagaimana?" tanya dia. "Mereka... mereka..."


Mo Lek menangis pula.
"Gie-hu telah menutup mata!" ia memberitahukan kematian
ayah angkatnya. "Kempat paman juga mati semuanya...! Kouw-
kouw, kau... kau..."
Tubuh Sian Nio menggigil pula. Ia tahu Mo Lek minta ia
menuntut
balas.
"Apakah Khong Khong Jie yang menurunkan tangan jahat?"
ia
tanya.
"Bukan," sahut si bocah cepat. "Dialah anak perempuannya
Ong Pek Thong! Budak celaka itu jauh terlebih ganas dari
Khong Khong Jie! Kouw-kouw, kau..."
Mata Sian Nio berdiam, sinarnya dingin. Mo Lek melihat itu,
dia
berdiam.
Diluar dugaan, Sian Nio tidak menangis. Tapi sikapnya itu
membuktikan bahwa hatinya karam, bahwa ia berduka melebihi
daripada ia menangis menggerung-gerung.
Hanya lewat sekian lama, dia ngoceh sendiri, "Bagaimana
dapat aku bertemu sekalian kakakku itu di alam baka...? Kui
Ciang... Kui Ciang..."
"Sian Nio," menyahut sang suami, berduka bukan main,
"Didalam lain urusan aku selalu bersedia untukmu, hanya
didalam ini urusan, tak dapat aku berbuat apa-apa."
Sepasang suami isteri ini telah mengenal baik diri masing-
masing. Kui Ciang tahu apa yang dipikir dan dikehendaki
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

isterinya, tetapi Sian Nio juga insaf, buat guna janjinya dengan
Khong Khong Jie, tidak dapat suami itu menuntut balas guna
kelima saudaranya itu.
Tiba-tiba Sian Nio mengangkat kepalanya.
"Engko!" ia memanggil suaminya. "Seumurku ini sekarang
aku cuma mau minta satu hal kepadamu. Inilah hal yang kau
pasti dapat lakukan."
"Apakah itu, adikku?"
"Selama di desa kau membuka rumah perguruan silat, kau
sebenarnya belum pernah menerima seorang murid yang sah,"
berkata isteri itu, "Maka sekarang aku mau minta kau
menerima dan mengarlgkat Mo Lek menjadi ahli warismu. Mo
Lek, apakah kau suka mengangkat kouwthio sebagai gurumu?"
Pertanyaan yang belakangan ini ditujukan kepada si bocah
she Tiat.
Dua-dua Kui Ciang dan Mo Lek melengak. Hanya sebentar,
keduanya lantas dapat menerka hatinya Sian Nio.
Mo Lek sudah lantas menjatuhkan diri, berlutut di depan Kui
Ciang, untuk mengangguk-angguk. Ia mau menjalankan aturan
besar mengangkat guru. Untuk itu, ia mesti berlutut tiga kali
dan mengangguk sembilan kali.
Ia baru mengangguk satu kali ketika tiba-tiba; "Tahan dulu!"
kata Kui Ciang, yang terus mengasih bangun bocah itu.
"Bagaimana?" tanya Sian Nio heran. "Apakah kau tak sudi
terima dia menjadi muridmu?"
"Aku memikir untuk kebaikannya," menjawab Kui Ciang.
"Seharusnya dia mencari seorang guru yang jauh terlebih liehay
daripada aku."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kouwthio," berkata Mo Lek, "Kalau aku dapat mewariskan


ilmu pedangmu, aku sudah merasa puas." Kui Ciang tertawa
sedih.
"Meski kau dapat mewariskan semua kepandaianku, kau
masih tidak dapat melawan Khong Khong Jie," ia kata. "Buat
apakah itu?"
"Tetapi," berkata Mo Lek, "Kalau itu dipakai melawan
Keluarga Ong ayah dan anak masih berlebihan. Aku percaya
Khong Khong Jie tidak bakal selamanya menjadi pelindung
keluarga itu!"
Kui Ciang dan isterinya sudah berjanji kepada Khong Khong
Jie untuk selanjutnya tidak campur lagi urusan kedua keluarga
Touw dan Ong, karena itu Sian Nio menghendaki Kui Ciang
menerima Mo Lek sebagai murid.
Ia mengharap bocah ini guna pembalasan sakit hati
keluarganya itu. Kui Ciang tidak mau campur urusan itu tetapi
di satu pihak ia berat terhadap isterinya, kedua ia pun
menyayangi si bocah yang bakatnya baik sekali. Maka ia mau
memikirkan suatu jalan sama tengah.
Sembari memegangi si bocah, Kui Ciang kata pada Ce In,
"Saudara Lam, kau ingin minta kau membawa Mo Lek ke Sui
Yang supaya dia dapat berguru kepada gurumu. Aku pun minta
kau sampaikan kepada gurumu itu supaya ia membuat
kecualian dengan menerima bocah ini."
"Semasa hidupnya Tiat Cecu, ia bersahabat rapat dengan
guruku," kata Ce In. "Guruku juga pernah memesan aku
mendengar-dengar kabar perihal Mo Lek. Maka itu, aku
percaya, permintaan kau ini bakal kesampaian."
Kui Ciang lantas kata pada Mo Lek, "Mo Lek, kita sudah
berdiam bersama sekian lama, kali ini kita bakal berpisahan,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

benar atau tidak dapat menerima kau sebagai murid, akan


tetapi dapat aku menghadiahkan kau suatu persenan yang
tidak berarti, ini hanya cukup buat menandakan hati kami
suami isteri."
Berkata begitu, tayhiap ini menyerahkan kitab ilmu
pedangnya seraya ia menambahkan, "Inilah kitab pedang
warisan keluargaku yang aku tambahkan dengan ilmu pedang
lainnya yang aku telah kumpul selama dua puluh tahun, kau
ambillah. Telah aku ajarkan kau pelbagai keterangan penting
mengenai ilmu pedang, maka asal memahamkannya lebih jauh,
kau bakal memperoleh kemajuan pesat. Kau berbakat baik, kau
tidak akan nampak kesulitan."
Bocah itu kaget.
"Kouwthio!" katanya. "Ini... ini... mana dapat! Mana bisa aku
menerima warisan ilmu pedang keluargamu?"
"Tidak apa!" Kui Ciang mengasih keterangan. "Untukku, aku
sudah hafal di luar kepala isinya kitab ini, sedang sekarang ini
anakku masih terlalu kecil. Sekarang kau bawalah kitabku ini. Di
belakang hari, apabila anakku berhasil lolos dari bahaya dan dia
dapat berumur dewasa, kau dapat cari dia untuk
memulanginya. Untuk itu, tempomu masih banyak..."
"Anak tolol..." Sian Nio membujuk, "Di saat seperti ini buat
apa kau berkukuh pula? Kouwthio tidak mau terima kau sebagai
murid karena dia mau mengatur terlebih sempurna. Kau
terimalah, kalau nanti kau dapat belajar dengan baik, aku pun
sangat berterima kasih padamu."
Matanya Mo Lek menjadi basah dan merah, ia menyambuti
kitab itu, habis mana ia paykui terus hingga tiga kali. Itulah
tanda ia diterima sebagai separuh murid.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jangan kuatir, kouthio," kata ia, yang memberi janjinya,


"Tidak nanti Mo Lek mensia-siakan harapan kouwthio dan
kouw-kouw!"
Baru sekarang, Sian Nio mengasih lihat wajah yang se'dikit
terang, hingga ia dapat bersenyum. Katanya, "Kalau dia
berhasil mendapatkan pelajaran ilmu dalam dari Mo Keng Lojin
dan dia berhasil juga meyakinkan kitab ilmu pedang ini, taruh
kata belum tentu dia dapat mengalahkan Khong Khong Jie,
sedikitnya dia dapat adu jiwanya!"
"Saudara Lam," kemudian kata Kui Ciang pada Ce In,
"Selanjutnya aku serahkan Mo Lek kepadamu, aku harap kau
suka terus membantunya. Kau telah membatu aku, budimu
sangat besar, tak dapat aku lupakan itu. Di sini kita berpisahan
sekarang, aku harap kau baik-baik di jalan!"
Lam Ce In terharu, apapula ketika mereka berempat, dalam
dua rombongan, saling memberi hormat dan berpisahan. Kui
Ciang dan isterinya menuju ke Giok Sie San, Liang Ciu, buat
meminta pulang anak mereka.
IX
'T je Tn berdua Mo Lek tetap melakukan perjalanan cepat.
Orang she Lam itu kuatir Ong Pek Thong nanti merubah pikiran
dan mengirim orang untuk menyusul Mo Lek, itulah berbahaya.
Selang belasan lie, setelah cuaca mulai sore, mereka mampir
di sebuah warung teh di tepi jalanan, untuk dahar dan minum
sambil sekalian beristirahat.
Warung teh itu warung merangkap rumah makan. Ketika
masuk, mereka melihat di situ sudah ada dua orang yang
bertubuh besar, sedang di depan pekarangan ditambat dua
ekor kuda.
"Kuda itu bukan sembarang kuda!" Mo Lek kata perlahan.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Meski begitu, dua orang itu dapat mendengar, keduanya


lantas menoleh. Lantas dua-duanya menjadi kaget, bahkan
yang satu sampai mengeluarkan seruan tertahan.
Mo Lek dan Ce In pun heran.
Dua orang itu dua opsirnya An Lok San hanya sekarang
mereka dandan sebagai rakyat jelata. Ce In kenali yang berseru
itu sebagai Thio Tiong Cie, satu di antara empat jagonya An
Lok San. Ia tidak kenal temannya, malam itu ia telah
menempurnya.
Dalam pertempuran di istananya An Lok San dimana dengan
golok mustikanya ia melukai belasan Busu, Ce In telah
membuatnya dua orang ini seperti "pecah nyali," tidak heran
kalau sekarang, bertemu di sini, mereka itu kaget tidak terkira.
Thio Tiong Cie lantas berbangkit, untuk menghampirkan.
"Oh, Lam Tayhiap!" dia menyapa seraya membWri
hotmat.
"Tayhiap baik?"
"Tak terluka tak terbinasa, kenapa aku tidak baik?" sahut Ce
In.
"Kamu berdua juga baik, bukan?"
Kawannya Tiong Cie itu, pada malam itu, telah kena
dilukakan, sekarang ini lukanya itu baru saja sembuh, maka itu
dia likat sendirinya. Dia paksa bangun, untuk memberi hormat.
"Terima kasih tayhiap, aku baik-baik saja!" katanya.
"Malam itu 'kami bekerja karena kami menjalankan titah,"
kata pula Thio Tiong Cie, "Karena itu harap tayhiap suka
memaafkan kami!"
Ce In bersenyum, ia mengulapkan tangannya..

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tidak apa!" sahutnya. "Silahkan duduk dan dahar terus!"


Mo Lek sebaliknya memandang mendelik kepada dua orang
itu.
"Eh, kamu telah menyalin pakaian!" tegurnya. "Kamu tentu
hendak bekerja diam-diam untuk melakukan lagi suatu
kebusukan!"
"Saudara kecil bergurau!" kata Thio Tiong Cie tertawa,
sedang air mukanya berubah saking kaget. "Kami dapat tugas
baru untuk melakukan penyelidikan, maka itu kami dandan
begini rupa. Ah, sudah bukan siang " lagi, kami perlu lekas
berangkat! Maaf, maaf, tak dapat kami menemani lebih lama
pula...!"
"Tunggu sebentar!" kata Mo Lek. "Perkara apakah itu?"
"Perkara kecil, tak berarti," Tiong Cie menjawab, cepat. "Cuma
perkara dua dusun bertempur satu pada lain..."
"Sudah, Mo Lek," kata Ce In. "Kita jangan usilan! Biarkan
mereka
pergi!"
Ketika itu, kedua orang itu sudah keluar dan naik atas kuda
mereka, kata-katanya Ce In seperti pengampunan besar, maka
segera mereka mengaburkan kuda mereka masing-masing.
"Hm!" kata Mo Lek, masih penasaran. "Lagak mereka
mencurigai, pasti mereka bakal melakukan suatu yang busuk.
Mustahil perkara perkelahian desa dengan desa menyebabkan
merekalah yang diutus mengurusnya?"
"Kau benar, urusan memang mencurigai," kata Ce In. "Tapi
kita mana kebanyakan tempo untuk segala urusan di luaran
itu?" Mo Lek berdiam.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu tukang warung, yang usianya sudah lanjut,


menghampirkan Ce In berdua. Dia memberi hormat. Dia kaget
mendengar orang menyebut "Lam Tayhiap".
Ce In minta arak dan daging.
"Apakah warungmu ini maju?" dia tanya.
"Terima kasih!" sahut tuan rumah. "Syukurlah dalam
beberapa hari ini banyak sekali tetamu yang berlalu lintas di
sini!" Mendengar itu, hati Ce In tergerak. "Tetamu-tetamu
macam apakah itu?" Mo Lek tanya.
Kembali tuan rumah tertawa.
"Kalau tidak salah, tuan-tuan juga orang-orang Kang Ouw!"
sahutnya. "Maaf, tuan-tuan, kami cuma berdagang," kami tidak
memperdulikan hal ihwalnya para tetamu. Hanya dekat di sana
ada bukit Hui Houw San serta para pemimpinnya sering
singgah di sini..."
Selagi tuan rumah ini bicara itu ada datang lagi dua
penunggang kuda, mereka itu tidak turun, mereka cuma
melemparkan uang, buat minta dua cangkir teh, yang mereka
minum sambil duduk terus di atas kuda mereka, setelah mana
mereka berlalu dengan cepat.
"Dua orang itu seperti aku kenali rupanya," kata Mo Lek
perlahan, "Sayang aku tak ingat lagi dimana pernah aku
melihat mereka."
Touw Ke Ce banyak menerima kunjungan tetamu, dari itu
Mo Lek sering melihat banyak orang, cuma karena ia masih
terlalu kecil, ia tak ingat semua, ia melainkan memperhatikan
orang-orang yang menjadi sahabat kekal. Kalau yang datang
orang biasa saja, Leng Ciok tidak memanggil ia keluar buat
menemui.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tak lama datang pula beberapa rombongan tetamu,


kebanyakan yang membekal golok dan menunggang kuda,
tandanya merekalah orang-orang Rimba Hijau. Sebagai dua
yang tadi, mereka minum sebentar, lantas mereka pergi pula.
Hingga tuan rumah cuma melayani di muka pintu.
Akhirnya Ce In menjadi berpikir juga. Ia tanya dirinya
sendiri, kenapa muncul demikian banyak orang, waktu toh
sudah sore, dan mereka itu mau apa...
Lalu ada tetamu yang sikapnya ragu-ragu. Dia berhenti di
depan pintu, dengan bahasa rahasia, dia kata pada kawannya,
"Di depan itu jalan cagak dua! Bagaimana, kita pergi ke gunung
Hui Houw Wan atau ke selat Liong Bin Kok? Kedudukan Touw
Lo-toa sudah tak kokoh lagi, kalau kita tidak terima
undangannya pihak Ong, dibelakang hari kita; bisa dapat
susah..."
Muka Mo Lek berubah sendirinya. Ce In melihat itu, ia
menekan tangan orang dan kata, "Dijaman ini ada banyak
sekali tukang jilat! Disaat ini, buat apa kau turuti hatimu?"
Mo Lek menurut, tetapi dia panggil tuan rumah untuk tanya
dimana pernahnya Liong Bin Kok.
"Liong Bin Kok?" tuan rumah baliki. "Buat apakah?" "Ada
sahabatku di sana," jawab si anak muda.
"Oh, begitu! Selat itu terpisah dua puluh lie di barat sini.
Lewat sedikit saja ialah Sam Yang Kong."
Sam Yang Kong yaitu tanjakan di mana Ce In pertama, kali
bertemu si pemuda berpakaian kuning.
Mo Lek mengerutkan alis. Selagi ia mau bicara pula,
telinganya mendengar ringkik kuda di luar warung. Lagi dua
orang tetamu baru tiba. Mereka tidak kesusu seperti

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kebanyakan yang tadi, mereka masuk untuk memesan barang


hidangan.
Dengan memandang matanya lebar-lebar, Mo Lek
mengawasi mereka itu. Mendadak ia bangun dari kursinya, ia
memapaki mereka, untuk lantas maju merangkul!
Orang itu kaget sekali, akan tetapi setelah ia melihat siapa
yang merangkul padanya, ia menjadi heran.
"Oh, kiranya Tiat Siauw-cecu!" serunya. "Kenapa siauw-cecu
berada di sini?"
"Su Toasiok, aku justeru hendak menanya kau!" kata Mo
Lek. "Kenapa kau berada di sini? Apakah kau mau pergi ke
Liong Bin Kok guna menjumpai dan menghormati pemimpin
yang baru?"
Orang yang dipanggil toasiok itu, paman, bernama Su Ciang.
Dialah sahabat dan kawan sekerja Keluarga Touw. Dialah
congkoan, atau pengurus dari pelbagai markas cabang
Keluarga Touw di wilayah kota Yu Ciu. Orang yang kedua ialah
kawannya, yang bernama Thia Thong,. yang menjadi orang
kepercayaannya Touw Leng Ciok.
"Ah, siauw-cecu, mengapa kau menanya begini?" kata Su
Ciang, masgul. "Mana dapat aku pergi ke Liong Bin Kok? Itu
namanya menyerah dan menakluk! Kami justeru mau pulang ke
Hui Houw San guna menyerep-nyerepi kabar! Siauw-cecu, kau
berada di sini, mungkin, mungkinkah urusan telah jadi rusak?"
Mo Lek berduka dan hatinya panas, tetapi dia kata,
"Sekarang ini benteng Hui Houw Ce telah dimusnahkan
Keluarga Ong! Ayah angkatku bersama kempat paman,
semuanya sudah tidak ada di dalam dunia...!"
Su Ciang kaget hingga ia menjublak.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sekarang bukan saatnya berduka!" kata Mo Lek. "Su


Toasiok, jikalau kau tidak sudi menakluk, tidak dapat kau
pulang ke Hui Houw Ce, sebaliknya kau lekas kembali, untuk
memberitahukan semua markas cabang supaya mereka
membubarkan diri masing-masing! Bilangi mereka, selama
Ki\nh lUmi'Mi /'i luitlutf
gunung-gunung masih hijau, maka tak usahlah kita takut
kehabisan kayu bakar! Toasiok mengerti sekarang?"
Su Ciang sadar.
"Ya, aku mengerti," sahutnya.
Lam Ce In mengagumi bocah itu. Pikirnya, "Mo Lek masih
sangat muda tetapi tindakannya ini tepat sekali, dia dapat
melihat jauh! Teranglah dia mengandung cita-cita untuk satu
kali membangun pula usaha Keluarga Touw. Dengan begini
celakalah dunia Rimba Hijau, dunia itu tak bakal mengalami
hari-hari yang tenang..."
Kemudian Mo Lek tanya orang she Su itu, "Keluarga Ong
mengundang pemimpin-pemimpin Rimba Hijau datang ke Liong
Bin Kok, apakah maksudnya? Tahukah kau, toasiok?"
"Sebenarnya juga, aku telah menerima surat undangannya,"
Su Ciang menjawab. "Tadinya Keluarga Ong berkuatir kita nanti
menyateroni benteng mereka, maka itu mereka membangun
benteng yang dapat bergerak, hingga tak tentu markasnya
yang tetap. Baru paling belakang mereka mengambil
kedudukan di lembah Liong Bin Kok itu. Di dalam surat
undangannya itu Keluarga Ong menyebutkan bahwa Hui Houw
Ce telah termusnahkan, maka mereka mengundang orang
datang menghadirkan pesta kemenangan. Pasti sekali semua
orang mengerti, namanya saja undangan, sebenarnya keluarga
itu menghendaki semua orang tunduk di bawah perintahnya!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hm!" Mo Lek mengasih dengar ejekannya.


Dia mendongkol sekali. Dia mengerti sekarang apa perlunya
pihak Ong berpusat di Liong Bin Kok, yaitu untuk memudahkan
aksinya menumpas Hui Houw Ce, bahwa sekarang Ong Pek
Thong lagi berdaya menghapus pelbagai cabang Hui Houw Ce
itu.
Tatkala itu matahari sudah doyong ke barat. Su Ciang, dan
Thia Thong tak dahar lama, mereka tidak mempunyai
kegembiraan, maka itu mereka lantas pamitan dari Mo Lek,
untuk berangkat pergi.
Tuan rumah terkejut mendapat tahu bocah itu sebenarnya
siauw-cecu, ketua muda, dari Hui Houw Ce. Dia lantas
menghampiri dan kata, "Oh, oh, kiranya siauw-cecu! Kalau
begitu siauw-cecu, suka aku memberi nasehat supaya lekas-
lekas siauw-cecu berlalu dari sini! Tempat ini terpisah dekat
sekali dengan lembah Liong Bin Kok!"
"Kau jangan berkuatir untukku!" kata Mo Lek, dingin. "Aku
memang mau segera berangkat! Tidak nanti aku bikin kau kena
terembet-rembet!"
Ketika itu ada datang lagi dua penunggang kuda, masing-
masing datangnya dari timur dan barat jalan besar. Mereka itu
berbareng tiba di depan warung. Orang yang satu bertubuh
besar dan kekar, yang lainnya orang usia pertengahan, tak
berkumis dan mukanya putih.
Si orang bertubuh besar memberi hormat sambil menyapa
terlebih dulu, "Saudara Thouw, apakah kau hendak pergi ke
Liong Bin Kok?"
Orang usia pertengahan itu tertawa. Dia menjawab, "Oh,
tidak! * Akulah seorang bu beng siauw cut, Ong Pek Thong
mana kenal aku! Aku mau pergi ke dusun Han-chung."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Saudara Thouw, kau pandai sekali membawa dirimu!" kata


si orang bertubuh besar dan kekar itu.
Inilah sebab si orang she Thouw menyebut dirinya "Bu Beng
Siauw Cut," yang berarti "Serdadu kecil yang tak mempunyai
nama".
"Kau sangat berbahagia sebab kau merdeka, seorang diri
kau dapat pergi kemana kau suka, sama sekali tak ada
rintangannya. Sungguh aku kagum terhadapmu! Seharusnya
aku pun pergi ke Han-chung, guna menghaturkan selamat
panjang umur, akan tetapi aku telah membangun pusatku
dalam wilayah Yu Ciu tak dapat lagi aku tidak pergi ke Liong Bin
Kok."
Mereka itu bicara dalam bahasa kaum Kang Ouw, Mo Lek
mengerti itu, maka tahulah ia yang si orang bertubuh besar dan
kekar itu seorang cecu, pemimpin rombongan, sedang si muka
putih ialah seorang Yu Hiap, petualang kaum Kang Ouw.
Orang usia pertengahan itu tertawa.
"Kalau begitu, baiklah kita masing-masing membawa diri kita
sendiri!" katanya. "Cuma, saudara Ciu, aku minta sukalah kau
tidak menyebut-nyebut namaku serta Han-chung, untuk tak
menerbitkan sesuatu gara-gara!"
"Aku mengerti!" sahut orang she Ciu itu, yang cuma singgah
untuk mencegluk secangkir teh, lantas dia berangkat pula
dengan cepat.
Si orang she Touw dengan sabar menambat kudanya, baru
ia bertindak masuk ke dalam warung. Ia minta arak, untuk
terus diminum.
Lam Ce In sudah mau berangkat ketika ia melihat orang she
Touw itu. Ia membatalkan niatnya, terus ia mengawasi. Ketika

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

itu, orang itu juga menoleh ke arahnya, hingga sinar mata


mereka bentrok.
"Oh, sungguh kebetulan!" kata keduanya hampir berbareng.
"Eh, saudara Lam Pat, mengapa kau berada di sini?" si orang
she Touw tanya.
"Thouw Shako, kenapa kau pun berada di sini?" tanya Ce In.
Demikian mereka saling menanya.
Habis itu Ce In kata pada kawannya, "Mo Lek, mari! Kau
kasih hormat pada ini Paman Thouw! Inilah paman yang dunia
Kang Ouw menyebutnya Kim-kiam Che-long Thouw Pek Eng!"
Memang Pek Eng seorang petualang yang pandai ilmu
pedang serta mengerti ilmu obat-obatan, maka juga dia
mendapat julukannya itu si Pedang Emas (Kim Kiam) dan
Kantung Hijau (Che-long). Yang belakangan ini julukannya
sebagai tabib.
Dia merdeka bebas, kegemarannya ialah pesiar atau
merantau. Tak suka dia memamerkan nama. Sebaliknya dia
suka sekali melakukan segala apa yang baik, untuk mana dia
biasa bekerja secara diam-diam. Dia datang atau pergi kemana
dia suka, tak ketentuan, maka itu dia muncul atau menghilang
secara tiba-tiba. Karena ini juga mengenai nama, dia kalah
terkenalnya dengan Lam Pat.
Pertama kali Ce In menemukan Touw Pek Eng yaitu pada
tujuh tahun yang lampau, ketika ia baru mulai muncul dalam
dunia Kang Ouw, maka itu, ia memandang si petualang dan
tabib sebagai cianpwe, orang yang terlebih tua dan tinggi
tingkatnya.
Kemudian, sesudah mereka bicara satu dengan lain, ternyata
mereka ada dari tingkat dan derajat yang sama, dari itu,
mereka saling membahasakan saudara.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In berkata pula, memperkenalkan Mo Lek, "Aku baru


turun dari gunung Hui Houw San. Saudara kecil ini ialah
puteranya mendiang Cecu Tiat Kun Lun dari Yan San."
Thouw Pek Eng berdiam, dia berpikir.
"Di sini bukannya tempat kita bicara," kata ia kemudian.
"Mari kita bicara sambil berjalan."
Ia lantas membayar uang araknya, terus ia keluar, untuk
meloloskan tambatan kudanya, guna sambil menuntun
binatang itu berjalan bersama-sama Ce In dan Mo Lek.
Tadi itu, Mo Lek telah memberi hormat pada jago she Thouw
ini.
"Sekarang ini sudah malam, saudara Lam, kamu berdua
hendak singgah dimana?" Pek Eng tanya.
"Untuk kita, dimana saja kita sampai," sahut Ce In.
Pek Eng mengangguk.
"Saudara Lam, apakah kau pernah dengar namanya Han
Tam?" tanya dia kemudian.
Ditanya begitu, Ce In terperanjat.
"Apakah saudara Thouw maksudkan Han Lo-cianpwe si ahli
totok yang namanya sangat tersohor?" dia menegaskan.
"Benar! Hari ini hari ulang tahunnya yang ke enam puluh."
"Apa?" tanya Ce In heran. "Apakah ia tinggal di sini?"
"Ya, di tempat terpisah tiga puluh lie," sahut Pek Eng.
"Setujukah kau kalau kita sama-sama pergi memberi selamat
kepadanya?"
"Sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan Han Lo-
cianpwe," Ce In menerangkan. "Yang benar ialah dia dan
guruku kenal baik satu dengan lain."
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sebetulnya, ada sedikit sekali orang yang ketahui tempat


kediamannya Han Lo-cianpwe itu," Pek Eng menjelaskan. "Aku
tahu sudah banyak tahun dia tidak pernah muncul, tak mau dia
menemui sembarang orang, tetapi kau ini lain, saudara Lam.
Dia pernah memberitahukan aku tentang persahabatannya
dengan gurumu dan dia pernah memuji kau. Karena itulah
maka aku berani mengajak kau mengunjungi dia."
"Jikalau begitu, layak aku pergi memberi selamat padanya"
Ce In bilang. "Tempat tinggalnya itu terpisah berapa jauh dari
Liong Bin Kok?"
"Terpisahnya ialah yang satu di barat, yang lain di selatan,"
Pek Kng mengasih keterangan. "Tempat ini ialah Hoay Sie
Chung, maka ketiga tempat merupakan seperti perapian kaki
tiga. Jaraknya tempat masing-masing kira tiga puluh lie.
Saudara Lam, kau jangan kuatir, meski keletakan dekat,
halangannya tidak ada sama sekali. Han Lo-cianpwe tinggal
menyendiri di sini, sampai pun Keluarga Touw tidak mendapat
tahu, dari itu. Keluarga Ong yang baru datang, tidak nanti dia
mendapat tahu juga."
"Aku bukan jeri terhadap Keluarga Ong," Ce In terangkan,
"Aku hanya tidak ingin nanti merembet-rembet Han Lo-
cianpwe, hingga dia mendapat pusing tidak keruan."
Thouw Pek Eng tertawa.
"Sebaliknya Han Lo-cianpwe bukannya orang takut segala
kepusingan!" katanya. "Sikapnya lo-cianpwe yaitu, kalau tidak
terpaksa, tak sudi dia berurusan dengan orang. Kamu baru
turun dari Hui Houw Ce, mungkin sekali lo-cianpwe ingin
bertemu dengan kamu."
Hati Ce In tergerak. Perkataannya orang she Thouw ini mesti
mengandung arti. Maka ia menerima baik ajakan tanpa
bersangsi lagi. Bahkan ia melekaskan tindakannya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan begitu, selang setengah jam, tibalah mereka di


sebuah dusun kecil yang berdampingan dengan satu gunung.
Tatkala itu asap telah muncul dari setiap rumah. Thouw Pek
Eng menuju langsung ke rumah Han Tam. Ia menarik gelang
pintu beberapa kali, ia memanggil-manggil tuan rumah sambil
ia perkenalkan dirinya. Ketika kemudian pintu dibuka, yang
membukai Han Tam sendiri, si jago tua.
"Pek Eng, kau datang terlambat!" kata tuan rumah tertawa.
Pek Eng tidak membilang apa-apa, hanya ia berkata, "Han Lo-
cianpwe, aku telah mengundang untukmu ini dua tuan-tuan!"
Ce In sudah lantas memandang tuan rumah, yang umurnya
sudah enam puluh lebih akan tetapi orangnya masih segar dan
matanya tajam, tak ada tanda-tandanya bahwa dia telah
berusia lanjut. Dia memelihara kumis dan jenggot, yang terbagi
menjadi tiga dan bajunya hijau, hingga dia mirip seorang cerdik
pandai di dalam gambar lukisan.
Ia lantas memberi hormat seraya berkata, "Lam Ce Iri
muridnya Mo Keng Lojin menghaturkan selamat kepada lo-
jinke!" Han Tam tercengang, lalu dia tertawa terbahak. "Kiranya
kau, Lam Sieheng!" kata dia, girang. "Aku dan gurumu adalah
sahabat-sahabat kekal untuk beberapa puluh tahun, baru hari
ini aku dapat melihat wajahnya murid sahabatku itu, inilah
diluar dugaan! Aku girang sekali! Kau telah sampai di sini,
sieheng, kau anggaplah bahwa kau telah pulang ke rumahmu
sendiri, maka itu, jangan kau menjadi likat atau tak leluasa. Ha,
ha! Sebenarnya angin apakah yang meniup kau hingga di
sini r
Mo Lek pun lantas memberi hormatnya sampai dia berlutut
dan mengangguk-angguk.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tuan rumah memimpin bangun bocah itu. "Saudara kecil ini


toh..." katanya.
"Dialah putera Cecu Tiat Kun Lun dari Yan San," Ce In
memotong, memperkenalkan.
"Dengan Tiat Cecu, aku pun pernah bertemu muka," kata
Han Tam. "Di dalam dunia Rimba Hijau, dialah orang satu-
satunya yang aku paling kagumi, maka itu, kamu semua
bukanlah orang-orang luar!"
"Setelah Tiat Cecu meninggal dunia," Ce In mengasih
keterangan, "Touw Leng Ciok mengambil anak ini sebagai anak
pungut, tapi sekarang Keluarga Touw telah musnah, aku
mengajaknya untuk menyingkirkan diri. Kebetulan saja tadi kita
bertemu saudara Thouw, maka itu kami jadi mendapat tahu
hari ini ada hari ulang tahun lo-cianpwe."
Han Tam mendengar keterangan itu tanpa menjadi kaget,
cuma alisnya mengkerut sedikit, suatu tanda ia seperti telah
menduganya.
"Kamu datang kebetulan sekali," katanya kemudian.
"Kebetulan sekali di sini pun ada beberapa sahabat. Baru saja
mereka itu bercerita perkara di antara kedua keluarga Ong dan
Touw itu. Nah, mari masuk, kita bicara di dalam."
Han Tam merayakan pesta shejit, yang datang hanya
beberapa sahabat yang pergaulannya paling rapat dengannya,
kecuali Thouw Pek Eng, ada empat lainnya yaitu Sat-sie Siang-
eng, dua jago she Sat dari Ceng Hay (Laut Hijau), Liong Chong
Siangjin dari Bek Cek San, serta Sin Cecu dari Kim Ke San. Tiga
yang pertama itu tetamu-tetamu dari tempat yang jauh, dan
satu yang belakang itu asal wilayah Yu Ciu dan dia jago Rimba
Hijau.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Semua orang lantas saling memberi hormat, untuk


berkenalan, habis itu masing-masing mengambil tempat
duduknya. Setelah itu, Lam Ce In menuturkan jalannya
pertempuran di antara kedua keluarga Ong dan Touw dengan
kesudahan runtuh dan tumpasnya Keluarga Touw itu.
Orang heran mendengar kabar Toan Kui Ciang dengan isteri
pun roboh di tangannya Khong Khong Jie, sampai mereka
mendelong saling mengawasi.
Lalu terdengar Han Tam menghela napas seraya terus
berkata, romannya berduka, "Khong Khong Jie seorang yang
cerdas luar biasa, kalau begitu sepak terjangnya, kali ini dia
berlaku sembrono sekali..."
"Saudara Han, apakah maksudmu ini?" tanya Liong Chong
Siangjin heran.
"Dia digunai sebagai alat oleh Keluarga Ong, dia tak sadar,"
kata tuan rumah. "Dia menganggap perbuatannya itu tepat
sekali! Bukankah itu namanya sembrono?"
Liong Chong mengerutkan alis, agaknya dia tak puas, dia
berniat menanya pula, atau menentang anggapan tuan
rumahnya itu, tetapi waktu dia melihat matanya Lam Ce In dan
Tiat Mo Lek, dia membatalkan niatnya itu. Dia ingat Tiat Mo Lek
menjadi anak angkat Touw Leng Ciok, tak baik dia bicara terus
urusan Keluarga Touw itu.
Pendeta ini tidak puas terhadap dua-dua Keluarga Ong dan
Keluarga Touw, bahkan kalau dibandingkan, dia lebih tak puas
lagi terhadap Keluarga Touw. Karena itu, dia berpendapat,
"Khong Khong Jie membantu pihak Ong, paling banyak itulah
sikap si kuat membantu si kuat. Semua itu bentrokan di antara
kaum Rimba Hijau, di dalam hal itu, tak dapat orang dari hal
siapa benar dan siapa salah, maka juga tak dapat dibilang soal
sembrono atau tidak..."
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Han Lo-cianpwe," Ce In tanya, "Rupa-rupanya lo-cianpwe


kenal Khong Khong Jie. Benarkah?"
"Bukan melainkan aku kenal padanya," menjawab tuan
rumah. "Ketika dia masih kecil, pernah aku mengempo-empo
padanya!"
Sat-sie Siang-eng dan lainnya menjadi heran.
Bahkan Thouw Pek Eng berkata, "Selama beberapa tahun
ini, kaum Kang Ouw telah digemparkan Khong Khong Jie
seperti juga langit ambruk dan bumi gempa, siapa juga tidak
tahu asal-usul dia, siapa sangka Han Lope dan dia justeru
mempunyai hubungan sebagai paman dan keponakan! Dia
demikian liehay, entah siapakah gurunya?"
"Guru dia ialah seorang liehay yang tabiatnya aneh," Han
Tam menerangkan. "Gurunya itu seperti aku, she dan namanya
tak ingin lain orang mendapat tahu. Aku bersahabat
dengannya, itu, maafkan aku, terpaksa kau tak dapat
memberitahukan she dan namanya itu."
Ia hening sejenak, lalu ia menambahkan, "Sayang aku
menerima warta ini terlambat, dan aku pun tak ketahui dimana
tempat beradanya
Khong Khong Jie, karenanya aku menjadi tidak dapat
kesempatan guna mencegah sepak terjangnya itu..."
Lam Ce In hendak membuka mulutnya ketika ia batal. Ia
mendapat dengar satu suara yang perlahan sekali di luar
rumah, seperti ada orang yang datang. Ia sampai melengak.
Tapi suaranya tuan rumah lantas terdengar, "Anak Hun,
apakah kau sudah pulang? Di sini ada beberapa paman,
semuanya bukan orang luar, maka marilah masuk, supaya kau
menemuinya."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Atas perkataan Han Tam itu, di ambang pintu terlihat


masuknya seorang anak perempuan yang baru mulai besar,
umurnya ditaksir baru empat atau lima belas tahun, rambutnya
terjalin menjadi dua buah kuncir, yang ditekuk dan diikat mirip
sepasang kupu-kupu. Roman dia masih kekanak-kanakan.
Ketika dia bertindak masuk, dia lari berjingkrakan. Sembari
tertawa, dia kata, "Ayah, tugas yang kau berikan ini bukan
tugas yang bagus! Hampir aku kepergok, hingga hampir aku
tak dapat meloloskan diri...!"
"Inilah anakku, Cie Hun namanya!" kata Han Tam pada
sekalian tetamunya tanpa ia menghiraukan perkataannya bocah
itu. "Dia baru saja kembali dari lembah Liong Bin Kok."
Ce In heran, di dalam hati ia terkejut.
Setelah itu, tuan rumah kata pada puterinya, "Mari, kau lebih
dulu memberi hormat pada sekalian pamanmu ini!"
Cie Hun, si nona cilik, tidak lantas menjalankan perintah
ayahnya itu. Lebih dulu dia menghadapi Mo Lek, sembari
menunjuk si anak muda, dia tanya ayahnya, "Umur dia sama
dengan umurku, apa aku mesti panggil paman juga padanya?"
"Ha, dasar bocah!" kata Han Tam tertawa. "Inilah salahku
yang tidak lantas memberikan keterangan! Begini, anak! Dua
tetamu ini kau boleh panggil kakak saja. Ini Lam Ce In, murid
kepala dari Mo Keng Lojin. Dan ini Tiat Mo Lek, puteranya
mendiang cecu dari benteng Yan San." Cie Hun nampak girang.
"Lam Toako!" kata dia gembira, "Dunia Kang Ouw menyebut
kau Lam Tayhiap! Sudah lama aku mengagumi nama
besarmu!"
Kemudian dia menoleh pada Tiat Mo Lek, untuk meneruskan
berkata, "Juga namamu pernah aku dengar orang
menyebutnya! Kaulah si bintang cilik Siauw Che Kun di dalam
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rimba Hijau, kalau kau bekerja, kau berandalan dan sedikit


telengas! Ya, kau pun telah aku mengaguminya!"
Mukanya Tiat Mo Lek menjadi merah. Dia memang sedang
ruwet pikirannya dan berduka. Maka perkataan bocah wanita
itu membikin dia serba salah, menangis tak dapat, tertawa tak
dapat juga. Dia menjadi sangat jengah.
"Hai, bocah banyak mulut!" Han Tam menegur puterinya itu.
"Kau tidak tahu aturan sekali! Aku lihat, di kolong langit ini tak
ada bocah yang melebihkan kau nakalnya! Hayo lekas, kau
menghaturkan maaf kepada kakakmu ini!"
Lantas si nona, dengan lagak tua bangka, memberi hormat
pada semua tetamunya. Dia kata, "Aku yang kecil tidak tahu
apa-apa, aku telah mengucapkan kata-kata yang salah, aku
mohon supaya kakak memberi maaf padaku!"
Mendengar itu, melihat tingkah orang, semua orang tertawa,
tak
terkecuali Mo Lek.
"Nah, kau sudah bergurau cukup atau belum?" tanya Han
Tam pada anaknya. "Sekarang kau boleh bicara dari urusan
tugasmu. Kau dengan Khong Khong Jie atau tidak?"
"Bicara sebenarnya, aku tidak bertemu dengannya," sahut
Cie Hun. "Apa yang aku lihat ialah sekor kera yang besar!"
"Nona Hun," Lam Ce In menyelak, "Apakah nona bukan
maksudkan Ceng Ceng Jie adik seperguruan dari Khong Khong
Jie?"
Nona itu tertawa geli.
"Dasar Lam Toako yang sangat pintar!" kata dia, tak likat-
likat. Wajar sekali dia memanggil toako atau kakak kepada Ce
In sekalipun mereka berdua baru berkenalan di detik ini.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Begitu mendengar aku, Lam Toako lantas saja dapat


mengetahui siapa si kera yang aku maksudkan itu! Tidak salah!
Manusia yang romannya aneh luar biasa itu benarlah Ceng
Ceng Jie!"
Mau atau tidak, semua orang bersenyum.
"Bicara terus!" sang ayah menitah.
"Aku masuk ke dalam lembah Liong Bin Kok kira jam dua,"
Cie Hun melanjuti keterangannya. "Ketika itu di dalam lembah
ramai sekali keadaannya. Semua liauw-Io besar dan kecil,
tengah menenggak arak kegirangan! Ong Pek Thong sendiri
berpesta bersama empat orang lain di
dalam sebuah kamar, mereka terpisah dari orang-orangnya.
Di luar tembok pekarangan tumbuh beberapa pohon hoay,
yang besar dan tinggi melewati tembok, banyak cabangnya,
lebat daunnya, maka aku mendekam di tempat yang lebat itu,
mengintai mereka dengan terang sekali. Aku tidak lihat Khong
Khong Jie di situ, maka itu aku tidak menggunai isyarat rahasia
yang ayah ajari."
"Selainnya Ceng Ceng Jie, siapa itu tiga orang lainnya?" Han
Tam
tanya.
"Yang satu ialah seorang muda umur lebih kurang dua puluh
tahun, yang romannya sangat mirip dengan Ong Pek Thong,"
sahut si anak. " "Jidat dia itu bengkak dan biru, rupanya dia
bekas orang hajar."
"Oh, dialah Ong Liong Kek, puteranya Ong Pek Thong!" kata
Han Tam.
"Lukanya itu bekas dihajar pelurunya kouw-kouwku," Mo Lek
beritahu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kouw-kouwmu?" kata Cie Hun. "Oh, tentulah dia Nyonya


Touw Sian Nio isteri dari Toan Tayhiap! Kalau begitu ketika
Keluarga Ong ayah dan anak serta Khong Khong Jie memukul
pecah Hui Houw Ce, kau hadir di sana. Benar, bukan?"
"Jangan nyimpang!" kata Han Tam kepada puterinya,
"Sebentar kau boleh minta Lam Toako-mu itu memberikan
keterangannya. Sekarang lanjuti dulu penuturanmu. Siapa itu
dua orang lainnya lagi?"
"Merekalah orang asih karena mereka bicara dengan lidah
penduduk lain tempat," Cie Hun melanjuti pula. "Orang yang
satu tangan kirinya dikasih turun, dia rupanya bekas terluka
dan belum sembuh..."
Lam Ce In terperanjat.
"Aku tahu dua orang itu!" katanya. "Merekalah Busu-nya An
Lok San. Yang terluka itu tak tahu aku namanya, tetapi luka di
tangan kirinya itu bekas bacokanku. Yang tak terluka itu Thio
Tiong Cie, satu di antara empat jagonya An Lok San."
"Pantas kalau begitu!" kata si nona. "Aku saban-saban
mendengar mereka menyebut-nyebut Thaysu! Ayah, terkaan
ayah tidak meleset. Benarlah Ong Pek Thong si rase tua
mempunyai hubungan erat dengan An Lok San."
Ia berhenti sebentar, untuk sedetik kemudian
menambahkan, "Begitu aku tiba lantas aku melihat Ong Pek
Thong memberi selamat secawan arak kepada si kera gede,
ialah Ceng Ceng Jie, katanya, 'Hari ini kita telah melabrak Hui
Houw Ce, inilah kejadian yang paling membuat aku girang,
sayang kakak seperguruanmu sudah lantas pulang, tak dapat
aku mencegahnya. Maka besok, harian pesta kita, kita
kekurangan dia seorang. Aku menyesal...'

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

'Begitu memang tabiatnya kakak seperguruanku itu/ kata


Ceng Ceng Jie. 'Dia nampak gemar mencampuri urusan lain
orang hanya setelah urusan selesai, lantas dia mengangkat
kaki, selamanya dia tak menghiraukan jasanya'
Lantas orang yang terluka tangan kirinya itu berkata, 'Thaysu
kami juga sudah lama mengagumi nama besar kakak
seperguruanmu itu. Thaysu ingin mengundangnya, sayang
belum didapat orang perantaraan yang cocok. Entah
bagaimana dengan tuan sendiri, apakah tuan suka membantu?'
Ceng Ceng Jie menggeleng kepala. Tapi dia tertawa.
'Sukar, sukar!' katanya. 'Demikian rupa tabiatnya kakak
seperguruanku itu, maka juga dia tak dapat terkekang hingga
hilang kemerdekaannya. Jangan kata baru Thaysu kamu, biar
pun raja sendiri, tak nanti dia dapat diundang/
Lantas orang, orang she Thio itu, Thio..., Thio..."
"Thio Tiong Cie!" Ce In tambahkan.
"Ya. Lantas Thio Tiong Cie kata pada Ong Pek Thong,
'Dengan begini jadi ternyata Ong Cecu bermuka terang sekali!
Sungguh beruntung Cecu dapat mengundangnya!'
Ong Pek Thong tertawa. Dia kata, 'Aku bersahabat kekal
dengan mendiang ayahnya. Di samping itu pada kira sepuluh
tahun yang lalu Touw Lotoa sudah melakukan suatu perbuatan
tak bagus, ialah dia hitam makan hitam, dia telah
membinasakan Se Chungcu sekeluarga di kecamatan Tiauw-
koan. Kebetulan sekali, Se Chungcu itu menjadi sanak tingkat
tertua dari Khong Khong Jie, maka juga begitu aku omong
hendak menyerbu Hui Houw Ce, dia lantas menyatakan suka
memberikan bantuannya!'

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Thio Tiong Cie tertawa bergelak. Dia kata memuji, 'Ini pun
bukti dari Ong Cecu bakal berhasil! Di belakang hari pastilah
Thaysu kami bakal mengharap banyak bantuanmu, cecu!'
'Terima kasih, terima kasih,' kata Ong Pek Thong. 'Dalam hal
ini, kita bekerja sama dengan masing-masing memperoleh
untungnya. Aku si orang tua juga pasti bakal mengandal
banyak kepada thaysu kamu itu!'
Kemudian Ong Pek Thong menambahkan kepada Ceng Ceng
Jie, 'Mengenai ini, tak apa kakak seperguruanmu tidak hadir
bersama. Aku pun kuatir dia nanti kurang setuju dengan
tindakan kita ini. Ini pula sebabnya aku tak dari siang-siang
membicarakah dengannya.'
'Tapi Ong Cecu jangan kuatir/ berkata Ceng Ceng Jie, 'Nanti
aku bicara dengannya. Akan aku bicara dengan sabar. Umpama
kata kakak seperguruanku itu tidak setuju, tidak nanti dia
sampai menentang/
Atas itu, Ong Pek Thong mengucap terima kasih. Lagi sekali
dia memberi selamat dengan secawan arak. Lagi-lagi dia
mengutarakan pengharapannya Ceng Ceng Jie nanti berhasil
bicara dan membujuk kakak seperguruannya itu."
Menutur sampai disitu, Han Cie Hun berhenti, untuk
menghirup air tehnya.
Han Tam berpikir, lalu dia kata, perlahan.
"Bukankah barusan aku menyayangkan Khong Khong Jie?"
katanya. "Aku kuatir dia kena orang pergunakan. Inilah
sebabnya kekuatiranku itu. Sudah terang An Lok San
mengandung niat menjadi raja, untuk satu pihak dia membaiki
semua panglima orang suku Ouw di perbatasan, di lain pihak
dia mau berkongkol dengan Ong Pek Thong. Kalau Ong Pek
Thong berhasil menjadi kepala Ikatan Rimba Hijau, dia hendak

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dibujuk atau dipancing bekerja sama, untuk digunakan sebagai


alat!"
"Oh, begitu pikiran toako!" kata Liong Chong Siangjin. "Aku
tadinya menyangka toako berat sebelah. Sekarang ternyata
Ong Pek Thong itu terlebih busuk dan terlebih jahat dari Touw
Leng Ciok!"
Baru saja ia mengucap begitu, si pendeta sudah lantas
menjadi menyesal. Dengan begitu dia menganggap Keluarga
Touw busuk sekali. Bukankah di situ ada Lam Ce In, orang
yang berpihak kepada Keluarga Touw? Bukankah di situ ada
Tiat Mo Lek, anak angkat salah satu anggauta keluarga itu?
Tapi, Lam Ce In lantas berkata, "Taysu, pertimbanganmu
adil sekali! Sayang yaitu Toan Toako-ku masih belum ketahui
perkara ini. Mengenai perjalanannya ke Hui Houw Ce ini, Toan
Toako menyesal bukan main."
"Anak Hun, bagus sekali penyelidikan kau ini!" kata Han Tam
pada puterinya. "Bagaimana kemudiannya? Ada apa lagi yang
kau dengar?"
"Belakangan?" sahut si anak. "Aku mendengar satu hal yang
sangat diluar dugaan!"
"Bagaimana?" tanya si ayah cepat, "Apakah Ceng Ceng Jie
memergoki kau?"
"Aku tidak tahu siapa yang dia pergoki itu...!" sahut si nona.
"Bagaimana?" Pek Eng tanya, heran. Dia memotong.
"Apakah benar ada orang lain yang nyalinya begitu besar
hingga dia berani menyateroni Liong Bin Kok?"
Sementara itu, Cie Hun sudah bicara terus, "Ketika itu hatiku
berdebaran. Aku mendapatkan cabang pohon bergoyang-
goyang, mengasih dengar suara yang halus. Ceng Ceng Jie

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

benar liehay. Dia sudah lantas berlompat bangun, sambil


melemparkan cawan araknya, dia berseru, 'Di luar ada orang!'"
"Ceng Ceng Jie memang liehay!" kata Han Tam kaget juga.
"Bagaimana kau bisa meloloskan dirimu? Apakah kau menyebut
nama atau julukanku?"
Anak itu tertawa.
"Ceng Ceng Jie tidak muncul," katanya. "Aku juga tidak
menyebut nama ayah. Peruntunganku bagus sekali, dalam
ancaman bencana itu, aku mendapat keselamatan. Aku ketemu
bintang penolong!"
"Siapa yang telah menolongi kau?" si ayah tanya. Dia
menduga, untuk di dalam lembah Liong Bin Kok, cuma seorang
tua yang liehay yang dapat menolong puterinya itu.
Tetapi Cie Hun, si anak, tertawa.
"Ayah menerka keliru!" kata anak itu. "Bintang penolongku
itu seorang nona yang cantik, dibanding dengan aku, dia tak
lebih tua seberapa."
"Aneh! Siapakah nona itu?" i
"Sabar, ayah! Ayah sabar mendengar ceritaku." Lantas; anak
ini berlagak beraksi seperti tukang cerita yang ulung. "Maka di
itu waktu," dia melanjuti, "Mendadak puteranya Ong Pek Thong
menggoyang-goyangi tangannya. Kata dia perlahan/Itulah
seorang sahabatku! Jangan kuatir. Nanti aku undang dia
masuk!' Aku heran, hingga aku menduga-duga. Aku tanya
diriku, kenapa pemuda itu kenal aku... Aku menduga akulah
yang kena kepergok. Habis berkata, dia sudah lantas lompat ke
atas tembok pekarangan. Justeru itu di sebuah pohon Hoay
muncul si nona cantik.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya dia, sudah bersembunyi di pohon itu, hanya aku


tidak mendapat tahu. Melihat Ong Liong Kek, nona itu berkata
dingin, 'Ong Kongcu, kiranya kaulah Ong Siauw-cecu! Sungguh
aku kurang hormat, kurang hormat!'
Aku melihat Ong Liong Kek menjadi likat.
'Nona He, bukannya aku mendustakan kau/ katanya. 'Ini...
ini...' Baru aku ketahui nona itu she He.
Dia memotong perkataannya Ong Liong Kek, 'Siapa
kau sebenarnya, tidak ada sangkutannya denganku!' suaranya
dingin. 'Aku cuma hendak menanya kau, apa yang kamu bikin
atas dirinya Toan Pehu-* ku?'
'Yang mana itu Toan Pehu kau?' Liong Kek tanya. 'Dialah
Toan Tayhiap, Toan Kui Ciang!' si nona beritahu." Mendengar
itu, Ce In terperanjat.
"Jikalau begitu nona itu bukan lain daripada He Leng Song..."
katanya di dalam hati. "Ah, benar-benar dia ada hubungan
dengan anaknya Ong Pek Thong itu!"
Cie Hun melanjuti pula penuturannya, "Aku lihat Ong Liong
Kek melengak. Dia kata, 'Oh, kiranya Toan Kui Ciang itu
pamanmu! Mereka... mereka berdua suami isteri...'
Si nona memotong, 'Mereka kenapa?'
Ong Liong Kek menjawab, suaranya agak perlahan, "Mereka
berdua tak dapat melawan Khong Khong Jie, mereka
mengangkat kaki, kabur...'
'Apakah benar begitu?' si nona tegasi.
'Buat apa aku mendustai kau?' Liong Kek jawab. 'Kami
bukannya bangsa berandal yang biasa sembrono membunuh
orang!'
'Mereka itu menyingkir ke mana?' si nona tanya pula.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

'Mana aku tahu? Mungkin mereka lari pulang...'


'Baik!' kata si nona nyaring. 'Jikalau aku tidak berhasil
mencari mereka itu, akan aku datang pula kepadamu!'
Habis berkata, nona itu lantas berangkat pergi. Ong Liong
Kek pergi menyusul. Aku menggunai ketika itu buat
mengangkat kaki juga."
Han Tam mengeluarkan napas lega.
"Jikalau begitu, nona she He itu datang ke Liong Bin Kok
untuk mencari Toan Tayhiap," kata ia. "Dia pasti orang
sebangsa golongan kita.
Kenapa kau tidak mau undang dia kemari, untuk kita
memasang omong? Aku tahu ilmu silatnya anak Ong Pek Thong
itu, kalau kau bertempur dengannya, kau tidak akan sanggup
melawannya, sebaliknya dalam ilmu ringan tubuh, dia tak dapat
menandingi kau. Menurut kau, anak, ilmu ringan tubuh nona itu
pasti jauh terlebih mahir daripada kepandaian kau, maka itu
pasti sudah anaknya Ong Pek Thong tak bakal dapat menyusul
dia. Apa mungkin nona itu tak sudi bertemu dengan kau?"
"Ayah menduga tepat," kata Cie Hun. "Memang juga Ong
Liong Kek tidak berhasil menyandaknya. Aku berlalu dari Liong
Bin Kok belum lima lie, aku melihat dia kembali dengan lesu.
Dia tidak dapat melihat aku, dari itu aku pun tidak mau
mengganggunya. Setelah aku berjalan lebih jauh lima atau
enam lie, tiba-tiba aku mendengar suara kelenengan kuda,
yang datang dari sebelah depan. Kiranya dialah si nona she He,
yang sudah kembali. Sekarang dia menunggang sekor kuda
putih. Dia kembali untuk mencari aku."
"Apa kata nona itu?"
"Paling dulu dia tanya aku, aku dari pihak Keluarga Touw
atau bukan. Aku menjawab bukan. Dia pun tanya aku kenal
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Tayhiap atau tidak. Aku jawab tidak. Lantas dia tanya
pula, 'Habis, buat urusan apakah kau pergi ke Liong Bin Kok?'
Aku percaya dialah seorang lurus, maka aku tidak niat
mendustakan dia. Begitulah aku menjawab secara terus terang.
Aku membilangi aku hendak mencari Khong Khong Jie. Setelah
itu aku mengundang dia datang ke rumah kita, untuk sedikitnya
tinggal buat satu malam. Aku menjanjikan membantui ia
mencari Toan Tayhiap. Mendengar ajakanku itu, aku lihat air
mukanya berubah dengan mendadak, lalu ia berkata, 'Hm! Aku
tidak sempat!' Dia mengeprak kudanya, dikasih kabur. Aku jadi
kebogehan. Melihat romannya itu, dia rupanya sangat
membenci Khong Khong Jie." ^
Han Tam tertawa.
"Rupanya dia salah mengerti," kata orang tua ini. "Terang
dia rada terburu napsu..."
Sat-sie Siang-eng dan Sin Cecu heran. Mereka orang-orang
Kang Ouw dan pergaulan mereka luas, pendengaran mereka
banyak, akan tetapi mereka tidak pernah ketahui tentang nona
she He itu, karena mana mereka jadi tak dapat menduga si
nona orang macam apa.
Mo Lek ingin campur bicara, akan tetapi ketika ia melihat Ce
In, kawan itu mengedipi mata padanya, maka ia urung bicara.
Tetapi ia heran kenapa paman she Lam itu mencegah ia
membeber halnya Leng Song.
"Sekarang kita biarkan dulu hal nona she He itu," berkata
Han Tam kemudian. "Mari kita bicarakan hasil penyelidikannya
Cie Hun. Terang sudah Ong Pek Thong berkongkol dengan An
Lok San. Inilah suatu kepastian. Bagaimana sekarang kita harus
bertindak?"
Sin Cecu dari benteng Kim Ke San, yang bernama Thian
Hiong, bertabiat keras, dia lantas berkata, "Ong Pek Thong
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ingin menjadi kepala Ikatan Rimba Hijau, itulah urusannya


sendiri, tetapi kalau dengan begitu dengan dia mau kita turut
padanya, untuk membantu bangsa Ouw merampas pemerintah,
tak dapat!"
"Hanyalah tentang akal muslihatnya itu," berkata kedua
saudara Sat, "Semua itu tidak atau belum diketahui saudara-
saudara kita dari Rimba Hijau. Aku pikir mesti kita bongkar atau
beber akal muslihat itu, supaya saudara-saudara kita tak usah
kena diakali hingga mereka dapat dituntun hidungnya..."
"Itu benar, tetapi bagaimana caranya?" Thian Hiong tanya.
Thouw Pek Eng, yang sedari tadi berdiam saja, campur
bicara.
"Sin Cecu," ia tanya, "Bukankah Ong Pek Thong ada
mengirim surat undangan kepadamu?"
"Benar! Tapi aku tidak takut padanya, aku tidak mau datang
untuk menghadiri pestanya itu!" sahut si jago dari gunung Kim
Ke San.
"Menurut aku, lebih baik kau pergi!" kata Pek Eng tertawa.
"Dengan kau pergi itu, kita dapat menjadi pengikut-
pengikutmu. Han Lo-cianpwe, bagaimana pikiran lo-cianpwe?"
"Pikiranmu itu baik," sahut Han Tam, "Cuma Ce In dan Mo
Lek, juga dua saudara Sat, sulit pergi ke sana. Mereka semua
dikenali Ong Pek Thong. Dia mana bisa dikelabui matanya?"
"Tentang itu lo-cianpwe tak usah kuatir," Pek Eng berkata.
"Aku yang muda mengerti juga kepandaian menyalin rupa."
Han Tam tertawa.
"Aku cuma tahu laote sebagai tabib pandai, tak tahunya kau
pun pandai ilmu menyamar! Hanya aku berusia begini tua,
mana dapat aku menyaru jadi pengiringnya Sin Cecu?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pek Eng tertawa


"Aku dapat membikin lo-cianpwe lebih muda dua puluh
tahun!" katanya. "Cuma sulitnya yaitu jenggot lo-cianpwe mesti
dipotong sedikit supaya menjadi terlebih pendek. Itulah
sayang."
Ia berhenti sebentar, terus ia menambahkan, "Buat yang
lainnya, semua mudah, yang paling sukar ialah Liong Chong
Siangjin, sudah tubuhnya tinggi besar luar biasa, kepalanya pun
gundul."
"Jikalau begitu, tidak ada jalan lain daripada minta sukalah
Siangjin merendahkan diri menjagai gubuk reyotku ini sekalian
ia menemani anakku," kata Han Tam bersenyum.
"Tidak!" kata Cie Hun. "Aku ingin menyaksikan keramaian
itu!"
"Keponakanku, aku lihat, lebih baik kau jangan turut,"
berkata Pek Eng. "Kau masih terlalu kecil, taruh kata kau salin
macammu, umpama kata kau menjadi kacung liauwlo, mungkin
Ong Pek Thong yang licin dapat mengenali penyamaranmu.
Maka itu lebih baik kau tinggal di rumah."
Cie Hun tidak mau mengerti, dia lantas menunjuk Mo Lek.
"Umur dia berimbang dengan umurku, kalau dia dapat pergi,
kenapa aku tidak?" dia membantah.
Han Tam tertawa.
"Coba kau berdiri berendeng dengannya!" kata ayah ini.
"Coba kau lihat, bukankah dia lebih tinggi daripada kau? Kalau
dia menjadi kacungnya Sin Cecu pasti tak ada yang curigai. Kau
lain lagi. Laginya, kalau kau menyamar menjadi laki-laki, kau
lebih mudah dikenalinya."
---ooo0dw0ooo---
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jilid 10
"Walau bagaimana, aku mesti pergi!" anak itu membantah.
"Paman Thouw, tolong kau carikan jalan untuk aku dapat
turut!"
Orang menjadi kewalahan.
Thouw Pek Eng lantas berpikir.
"Sudah, begini saja!" kata dia kemudian. "Kau baik
menyamar menjadi anak perempuannya Sin Cecu. Masih masuk
di akal kalau Sin Cecu datang menghadiri pesta dengan
mengajak puterinya yarig disayang. Karena kau tidak dikenal,
kau pun boleh tak usah menyamar lagi."
"Apakah itu tak keterlaluan untukku?" tanya Sin Thian Hiong
tertawa. "Sudah Han Lo-cianpwe menjadi pengiringku, lalu
sekarang puterinya pun diakui sebagai puteriku!"
"Itulah bukannya soal!" Han Tam tertawa. "Bukankah kau
mendapatkan semuanya?"
Liong Chong Siangjin tertawa.
"Kamu semua senang, kamu menghadiri pesta dan melihat
keramaian," katanya. "Aku sendiri, aku mesti menunggu rumah,
kesepian! Sungguh sebal!"
"Semua ini hanya untuk sementara waktu," berkata Pek Eng.
"Sekarang sudah pasti. Saudara Mo Lek, kau menjadi kacung,
dan kita semua, menjadi sebagai tauwbak."
"Menjadi tauwbak boleh juga!" kata Sin Cecu. "Dengan
begitu pihak Ong diberi kehormatan, sampai pun segala
tauwbakku turut datang memberi selamat padanya!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai disitu, Thouw Pek Eng lantas bekerja. Ia


mengeluarkan obatnya untuk mengubah warna kulit orang,
maka sebentar kemudian terlihat Han Tam menjadi lebih muda
dua puluh tahun, kulit keriputnya pun dapat disamarkan.
Demikian setelah terang tanah, rombongan Sin Cecu ini
berangkat menuju ke Liong Bin Kok, lembah sarangnya Ong
Pek Thong. Han Cie Hun gembira sekali, karena ia telah
kesampaian keinginannya. Cuma Lam Ce In yang berpikir
keras. Ia memikirkan Hee Leng Song.
Untuk kalangan Rimba Hijau di Yu-ciu, nama Sin Thian Hiong
terkenal sekali, la benar-benar bertabiat keras dan angkuh.
Ketika keluarga Touw menduduki benteng Hui Houw Ce
sebagai ketua Ikatan Rimba Hijau, pelbagai Raja Gunung
lainnya datang membajar upeti tahunan, cuma ia yang tidak
menghiraukannya.
Touw Leng Ciok tak senang dengan sikapnya itu tetapi dia
tak bisa berbuat apa-apa, kesatu dia sendiri lagi punya urusan
penting, kedua dia tahu Sin Kee Ce itu tangguh.
Ong Pek Thong tahu sifatnya Thian Hiong, benar ia mengirim
undangan, tetapi ia tidak mengharap banyak tetamunya itu
nanti datang memenuhkan undangannya itu, maka juga tempo
ia menerima kartu nama Thian Hiong, yang datang berkunjung,
ia heran sekali, dengan tergesa-gesa ia menuntun anaknya
keluar buat menyambut sendiri kepada tetamu yang berkepala
besar itu...
Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sin Thian Hiong
kata "Ong Cecu berhasil merobohkan dan merampas Hui Houw
Ce, pantaslah kau diberi selamat! Sudah sekian lama Kim Kee
San dibikin tak puas oleh Keluarga Touw, baru sekarang hatiku
lega, karena itu, kaisni semua bersyukur. Karena itu juga maka

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang aku datang bersama beberapa saudaraku ini, untuk


menghaturkan selamat!'
Ong Pek Thong berlaku merendah untuk pujian itu, ia pun
mengucap terima kasih.
Sin Thian Hiong bisa sekali bicara. Dia kata pula, datangnya
itu selain buat memberi selamat dan membilang terima kasih,
juga sekalian untuk mohon perlindungan ini Beng-cu, atau
kepala Ikatan Rimba Hijau, yang baru.
Lalu dia tertawa bergelak dan menambahkan, "Cecu tahu,
pesta ini suatu pesta yang langka, jarang ada selama seratus
tahun! Begitulah anak perempuanku ini, yang belum pernah
mengembara, saking gembiranya, turut datang bersama!"
Ong Pek Thong girang bukan main. la belum menjadi Beng-
cu, tetapi jago dari Sin Kee Ce sudah mengakuinya. Tapi ia bisa
berpikir, ia sedikit curiga.
Ia kata dalam hatinya, "Kim Kee San berselisih dengan Hui
Houw Ce, aku berhasil menumpas Keluarga Touw, pantaslah
kalau dia senang dan bersyukur kepadaku, pantas juga dia
datang bersama beberapa tauwbaknya memberi selamat
padaku. Sebenarnya kita tidak bersahabat satu dengan lain,
sekarang dia sekalian mengajak puterinya, tidakkah itu
berlebihan? Mungkinkah karena dia hendak mengambil hatiku
maka dia jadi berlaku begini manis budi? Biasanya dialah bukan
tukang mengangkat angkat orang..."
Ketika itu mendadak Ong Liong Kek menghampirkan Tiat Mo
Lek "Saudara kecil ini she apa?" dia tanya.
Diam-diam Sin Thian Hiong terperanjat.
"Dialah kacung pengiringku," dia menjawab lekas. "Dia tidak
tahu aturan, harap Siauw-cecu tidak berkecil hati."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia pun mengarang nama palsu untuk pengiring tetironnya


itu.
Tiat Mo Lek telah tak dapat menahan rasa hatinya. Waktu
melihat Ong Liong Kek, musuhnya, sinar matanya berubah
tajam sekali — sinar itu sinar bermusuh atau membenci sangat.
Liong Kek melihat itu, dia jadi heran, karena perhatiannya
tertarik, dia jadi mengajukan pertanyaan itu.
Mo Lek cerdik ia insyaf akan kekeliruannya itu, maka ingin ia
membetulkan.
"Tong-kee mengajak aku ke mari, aku jadi ingat suatu hal
lama," kata dia.
"Di sini bukan tempat kau bicara, kau mundur!" kata Thian
Hiong, yang kuatir orang banyak bicara.
"Biarkan dia bicara, tak apa," kata Liong Kek.
Mo Lek lantas mengasih lihat roman takut dan ragu-ragu.
"Baiklah, kau boleh bicara!" kata Thian Hiong kemudian,
ajgak terpaksa.
"Aku ingat satu hal," kata Mo Lek. "Bukankah tong-kee
pernah menyuruh aku pergi ke Hui Houw Ce? Ketika itu aku
dimarahi mereka. Sebabnya itulah tong-kee tidak mengirim
bingkisan kepada mereka. Aku telah diikat dan diusir pergi.
Sekarang sebaliknyalah Keluarga Ong. Di sini aku disambut
secara baik. Maka itu aku jadi ingat kejadian dulu hari itu.
Sekarang ini aku jadi girang berbareng mendongkol!"
Ong Liong Kek tertawa lebar. "Oh, kiranya begitu, saudara
kecil!" katanya
Sedang mereka bicara itu, dua orang muncul dari dalam.
Yang satu Ceng ceng Jie, yang lain gadisnya Ong Pek Thong.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tuan rumah lantas mengajar kenal. Katanya, "Inilah Sin


Cecu dari kim kee San yang namanya sangat terkenal dalam
dunia Rimba Hijau. Ini adalah Ceng Ceng Jie, ahli pedang dunia
Kang Ouw yang kesohor."
"Sudah lama aku mengaguminya!" kata Ceng Ceng Jie,
singkat dan angkuh.
Lantas dengan mata tajam dia menyapu semua tetamunya
itu. Ketika dia melihat Han Tam, dia terkejut di dalam hatinya.
Sebagai ahli silat, dia dapat melihat sinar mata luar biasa dari
jago she Han itu.
Lekas dia menghampirkan dan menanya, "Apakah she mulia
dan nama besar dari cecu ini?"
Han Tan menjawab cepat, "Aku si orang she Han cuma
menjadi serdadu kecil yang tak ada namanya dari Kim Kee
San."
Sin Thian Hiong pun berkata, "Han Toako ini menjadi tong-
kee kedua di Kim Kee San, dia datang belum lama."
"Syukur, aku girang sekali dengar pertemuan ini!" Ceng Ceng
Jie berkata.
la turut bicara. "Ong Toako, muka toako terang sekali hingga
dapat mengundang Han Toako datang ke mari!"
Ia tertawa, terus ia menambahkan, "Aku merasa beruntung
dapat satu sahabat baru!"
Ia lantas mengulur tangannya, untuk berjabatan.
Ong Pek Thong heran hingga ia terperanjat.
Aneh sikap Ceng Ceng Jie. Dia tidak menghormati Sin Thian
Hiong hanya seorang tauw-bak. Maka ia mengawasi saja.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie hendak menguji tauwbak tetamunya itu, maka


di waktu mereka saling jabat, dia mengerahkan tenaga Siauw
Thian Chee atau "Bintang kecil". Itulah semacam tenaga dalam
yang mahir, mulanya lunak, lalu keras, dengan itu tubuh pihak
sana dapat dibikin menjadi lemas tak berdaya hingga jatuh
terkulai di lantai.
Han Tam bersenyum.
"Terima kasih, maaf!" katanya, sabar.
Ceng Ceng Jie telah mengerahkan tenaganya. Ia menjadi
heran. Ia mendapatkan orang seperti tak bertenaga, toh orang
tak roboh seperti apa yang ia kira. Ia melihat orang bersikap
wajar saja.
Dalam herannya ia kata dalam hati, "Tenaga dalam orang ini
sukar ditaksir. Mungkin suheng Khong Khong Jie juga tak
seliehay dia..."
Tengah ia berpikir begitu, si "Kera Besar" ini, seperti katanya
Nona Han Cie Hun, mendadak terkejut. Tiba-tiba ia merasai
nadinya kaku atau lemas sendirinya.
Han Tam jago totok, selagi berjabat tangan itu, dengan
tenaga dalamnya ia menggempur tiga kali pada nadi orang.
Lekas-lekas Ceng Ceng Jie menarik pulang tangannya.
"Han Tongkee liehay sekali!" katanya. "Aku takluk, aku
takluk!"
Han Tam pun tak mau memandang enteng, karena orang
dapat bertahan dari serangannya itu.
Ong Pek Thong lantas mengerti bahwa orang diam-diam
sudah mengadu kepandaian. Ia menjadi kaget dan heran, ia
pun berkuatir.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Katanya di dalam hati, "Di antara tauwbak-tauwbak Kim Kee


San ada orang begini liehay, jangan-jangan sulit buat aku
menjadi beng-cu..."
Puterinya tuan rumah sebaliknya girang sekali, hingga dia
berjingkrak berlompatan, tangannya ditepuk berulang-ulang,
tanda girangnya.
Dia tertawa dan kata nyaring, "Aku mendapat kawan! Kau ini
namanya siapa?"
Dia tanya Cie Hun.
Ong Pek Thong lantas berkata, "Inilah anak perempuanku,
namanya Yan Ie. Dia paling suka bermain, lari sana dan lari
sini, hingga orang panggil dia Siauw Yan, si Walet Kecil. Dan ini
puterinya Sin Cecu," ia teruskan pada gadisnya. "Nah, pergilah
kau menemaninya!"
Ong Yan Ie alias Siauw Yan tertawa pula.
"Bagus!" dia berkata. "Ayah mengundang semua orang tua,
bagus encie ini menjadi tetamuku! Encie Sin, mari kita memain
di sana!"
Keluarga Ong membuat pesta besar-besaran, untuk
tetamunya yang berjumlah besar itu ia dapat menyediakan
tempatnya. Lembah Liong Bin Kok, atau Naga Tidur, yang
tadinya kosong belukar, telah disiapkan dari siang-siang.
Pembangunan dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Kecuali
benteng dan rumah-rumah lainnya untuk semua orang, ialah
sekalian liauwlo, dibuat juga suatu taman yang besar dan luas
beberapa bauw berikut lauwteng atau ranggon serta pelbagai
paseban, semuanya lengkap, bahkan untuk tontonan, telah
diberdirikan dua panggung wayang.
Telah ditetapkan pesta akan dimulai tengah hari tepat, maka
itu selagi masih ada tempo satu jam kira-kira, para tetamu
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada menyenangi diri dengan pesiar di taman atau menonton


wayang, atau duduk berkumpul berkelompok-kelompok untuk
memasang omong. Semua tetamu memperoleh
kemerdekaannya.
Demikian Ong Yan Ie, ia menemani Han Cie Hun. Usia
mereka memang tak berjauhan. Ia berkesan baik terhadap
tamunya yang cantik dan lincah itu. Mereka jalan-jalan sambil
berpegang tangan, melihat-lihat taman yang indah.
Dalam gembiranya, Yan Ie menutur hal diruntuhkannya
benteng Hui Houw Ce dari Keluarga Touw. Cie Hun sebaliknya
tak puas, ia tak gembira seperti semula, maka ia melayani
bicara sekedarnya saja.
"Kawanmu yang she Han itu liehay!" hata Yan Ie, yang
menukar haluan bicara. "Tadi dia dan Ceng Ceng Jie mengadu
kepandaian secara diam-diam. Kau melihat atau tidak, encie?"
"Benarkah begitu?" tanya Cie Hun berlagak pilon.
"Aku tidak tahu..."
Yan Ie tertawa.
"Kita bagaikan sahabat-sahabat kekal, mengapa kau begini
merendahkan diri?" kata dia. "Apakah encie menganggap aku
sebagai orang luar? Tadi mereka itu saling menguji kepandaian,
turut penglihatanku, Han Tongkee kamu itu rupanya menang
unggul. Han Tongkee demikian liehay, ayahmu mesti berada di
sebelah atas dia! Bukankah bapak harimau tak mempunyai
anjing dan panglima gagah tak mempunyai serdadu lemah?
Encie Sin, pasti ilmu silatmu pun mahir sekali!"
"Aku dilahirkan bebal," kata Cie Hun, "Maka itu meski aku
pernah belajar silat beberapa hari, apa yang aku bisa tak dapat
dinamakan kepandaian. Encie Ong, aku minta janganlah kau
menempelkan emas di mukaku..."
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cie Hun tak gembira, ia bicara tawar.


"Aku tidak percaya!" kata Yan Ie tertawa.
Lantas dia menggenggam tangan tetamunya, sengaja dia
mengerahkan tenaganya beberapa bagian. Dia membataskan
diri karena dia kuatir Cie Hun tak sanggup bertahan.
Cie Hun telah mendengar halnya Yan Ie selama menempur
Keluarga Touw sudah berlaku telengas sekali, sekarang ia tak
berkesan manis terhadap nona itu, ia panas hati, ia tak puas.
Karena itu, ketika ia dipaksa diuji ini, diam-diam ia mengibasi
tangan bajunya.
Yan Ie tidak curiga apa-apa ketika tahu-tahu dia tertotok
pada jalan darah jie-khie di pinggangnya dekat iga, tanpa
merasa dia merasa nyeri hingga dia berteriak, "Aduh!"
Berbareng dengan itu, Cie Hun juga menjerit, "Aduh!" dan
tubuhnya mundur kaget sampai enam atau tujuh tindak.
Yan Ie mengutamakan pengerahan tenaga lunak menjadi
keras, maka itu tangannya mencekal mulanya perlahan, lalu
menjadi kuat.
Ketika itu kebetulan sekali Ong Liong Kek lewat di dekat
mereka, dia terkejut mendengar saudara dan tetamunya itu
pada menjerit, segera dia menghampirkan adiknya dan
menegur, "Adik, mengapa kau berlaku tak hormat pada tetamu
kita?"
Yan Ie menahan sakit, ia kata sembari tertawa, "Kita cuma
lagi main-main! Siapa sangka kau menganggapnya sungguh-
sungguh, koko!"
Cie Hun pun tertawa sambil menahan nyerinya. Ia kata,
"Encie Ong lagi mengajari aku. Inilah atas permintaanku!"
Ong Liong Kek mengerutkan alis.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Memang baik kamu saling berlatih," katanya, "Cuma tak


baik sekarang ini, mestinya sebentar setelah pesta bubar. Kalau
taman kosong, bukankah bagus?"
Ong Liong Kek teliti dan sabar. Ia dapat menduga kedua
nona lagi menguji kepandaian. Sebab itu, timbullah
kecurigaannya.
Ong Yan Ie lebih gagah daripada Liong Kek, kakaknya itu,
sekarang dia tak mendapat angin menguji Cie Hun, tentu sekali
sang kakak menjadi heran.
Pikir Liong Kek, "Kawan dan anaknya Sin Thian Hiong begini
liehay, kenapa dulu-dulu dia tak mau menjadi jago Rimba
Persilatan? Kenapa dia justeru menerima menjadi
sebawahannya Keluarga Touw? Dan sekarang, kenapa mereka
sudi tunduk pada Keluarga Ong kami? Tidakkah dalam ini ada
kepalsuannya?"
Karena kecurigaannya ini. Liong Kek lantas pergi mencari
Ceng Ceng Jie, untuk memberitahukan dan berdamai.
Kedua nona berjalan-jalan terus di dalam taman, diam-diam
mereka saling memuji kepandaian masing-masing. Karena itu
juga, mereka - atau lebih benar Nona Ong - tidak berani
menguji terlebih jauh.
"Encie Sin, ilmu totokan mengebutmu ini sangat liehay," kata
Yan Ie tertawa. "Bagaimanakah hubungan encie dengan Lo-
sianseng Han Tam?"
Ditanya begitu, Cie Hun terkejut di dalam hati. Pikirnya,
"Sudah lama ayah menyembunyikan diri, kalau bukan orang
Rimba Persilatan kelas satu, tak ada yang kenal ayah. Kenapa
dia ini, yang masih begini muda, mendapat tahu nama ayah?"
Ia pun seorang cerdik, ia tidak mau mengentarakan
kagetnya itu, maka ia sengaja berlagak pilon.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Orang macam apa Han Tam itu?" ia tanya. "Aku cuma kenal
seorang she Han, ialah Paman Han yang hari ini datang
bersama-sama aku. Siapa itu Lo-sianseng Han Tam? Maaf, aku
tidak tahu."
"Han Tam itu," kata Yan Ie, "Menurut keterangan guruku,
dialah ahli totok nomor satu di kolong langit di jaman ini.
Barusan aku melihat ilmu totok kau, encie, aku jadi ingat Han
Lo-sianseng itu, aku mengira kaulah muridnya."
"Kepandaianku yang tak berarti adalah buah ajarannya
ayahku sendiri," kata Cie Hun bersandiwara terus, "Sekarang
aku bertingkah mempertunjuki di sini, aku malu, aku
mengundang buah tertawa saja! encie, aku justeru mengagumi
kau buat ilmu Bian Ciang serta menutup dirimu itu! Encie,
siapakah guru encie yang terhormat?"
"Tabiat guruku sama dengan tabiat Han Lo-sianseng itu,"
sahut Yan Ie, "Ialah mereka sama-sama tidak menyukai orang
lain, orang ketahui nama mereka, maka itu aku tidak berani
menyebutkan namanya."
Mendengar itu, Cie Hun tahu orang sudah mulai mencurigai
pihaknya, akan tetapi ia tidak takut. Ia turut datang ke mari
justeru karena niatnya untuk mengacau di lembah Liong Bin
Kok ini, guna membanguni naga tidur...
Mereka pesiar terus. Yan Ie mengajak tetamunya pergi ke
tempat wayang. Di antara banyak orang, ia tiba-tiba melihat
seorang pengemis, ia menjadi heran.
"Eh!" serunya, "Mengapa kamu membiarkan pengemis
masuk ke mari? Lekas usir dia pergi!"
Orang-orangnya Keluarga Touw menjadi kaget. Sebenarnya
juga, mereka tak memperhatikan pengemis di antara sekian
banyak tetamunya itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mana dia? Mana dia?" begitu beberapa hamba menanya.


Dalam tempo yang sangat pendek, pengemis itu sudah
menghilang. Yang paling heran ialah Ong Yan Ie. Maka hendak
ia pergi mencari sendiri. Tapi itu waktu pesuruh ayahnya
sudah datang menyusul memanggil ia dan ia kembali guna
menemani tetamu dalam medan pesta.
Ketika itu tengah hari tepat. Di dalam kamar itu dimana-
mana terdengar suara tambur dan gembreng, tanda
mengundang para tetamu menghadiri perjamuan. Masing-
masing mereka segera diundang berduduk.
Ong Pek Thong bersama puterinya menemani Sin Thian
Hiong dan rombongannya Han Cie Hun. Ong Pek Thong diapit
Ceng Ceng Jie di kiri dan seorang tua yang romannya aneh di
sebelah kanan. Han Tam hadir di meja tuan rumah ini.
Lam Ce In bersama Thouw Pek Eng dan rombongan duduk
di sebuah meja lain. Meja ini berdampingan dengan meja
kepala. Diam-diam Ce In memasang mata. Maka ia melihat dua
orangnya An Lok San, yang mengenakan pakaian preman,
duduk di meja lain berdekatan dengan meja mereka. Kawannya
mereka itu berdua ia tak kenal siapa adanya.
Setelah tiga idaran maka si orang tua di kanannya Ong Pek
Thong, menepuk tangan tiga kali. Ia berbangkit memandang
semua tetamunya. Itulah tanda bahwa ia hendak bicara.
Sebenarnya dialah Tie Swie, seorang jago Rimba Hijau yang
namanya cuma dibawahan Touw Leng Ciok dan Ong Pek
Thong, cuma dia menjadi sahabat karib dari Pek Thong. Begitu
dia berdiri, banyak orang tahu apa yang dia bakal ucapkan.
Demikianlah dia angkat bicara, "Orang-orang yang
memangku pangkat ada kepalanya! Kepala itu ialah yang
dipanggil raja! Kita yang menjadi berandal, kita juga
mempunyai pemimpin. Pemimpin kita ialah yang dipanggil
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

beng-cu! Selama beberapa puluh tahun, yang menjadi beng-cu


kita terus menerus ialah Keluarga Touw. Keluarga itu cuma
tahu mencelakai orang lain, untuk menguntung! diri sendiri,
mereka tak mengenal persaudaraan. Maka mereka mirip si raja
tak bijaksana yang tolol! Aku percaya tuan-tuan yang hadir di
sini, semua pernah diganggu mereka itu. Tapi sekarang ini
Toako Ong Pek Thong telah menolongi kita menyingkirkan
bencana Rimba Hijau itu, Hui Houw Ce telah dilabrak musnah,
maka juga dunia Rimba Hijau gembira sekali. Sekarang selesai
sudah urusan Keluarga Touw. Sekarang muncul soal si
pemimpin. Pemimpin itu perlu. Tanpa pemimpin ada,
seumpama kawanan naga tanpa kepala, dapat terjadi orang
main berebutan, hingga bencana kecelakaannya bertambah
besar. Maka juga kita, kita mirip negara, yang tak boleh ada
satu hari tanpa rajanya. Ya, kita tak boleh ada satu hari tak ada
pemimpin kita. Menurut aku, karena Ong Toako sudah
menolongi kita menyingkirkan si pemimpin yang tak bijaksana
itu, baiklah kita minta saja ia yang menggantikan kedudukan
Keluarga Touw, ialah kita angkat ia menjadi beng-cu kita yang
baru! Bagaimana pendapat tuan-tuan?"
Keluarga Ong sudah berkomplotan, segala apa sudah diatur,
maka lantas ada banyak suara yang menyambut anjuran Tie
Swie, yang menyatakan setuju, sedang mereka yang jeri
terhadap Pek Thong, menurut memberikan suaranya, untuk
mengekor.
Kelihatannya sudah pasti Ong Pek Thong bakal diangkat
menjadi Beng-cu ketika Sin Thian Hiong berbangkit.
"Aku ingin bicara!" berkata tetamu ini.
Dalam sekejap saja, suara berisik menjadi sirap.
Tie Swie heran hingga dia melengak.
"Sin Cecu, apakah cecu mempunyai pendapat lain?" ia tanya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku bukannya tak setuju Ong Toako menjadi beng-cu,


sahut Thian Hiong. "Cuma ada satu hal yang aku masih kurang
mengerti. Untuk itu aku mohon keterangan dari Ong Cecu dan
Tie Cecu."
"Keterangan apa itu yang Sin Cecu minta?" Tie Swie tanya.
"Barusan Tie Cecu bilang, orang berpangkat ada raja yang
menjadi kepalaya," kata Thian Hiong, "Maka itu, kita pun perlu
menunjang seorang pemimpin, untuk dia mempersatukan
perintah, untuk kita menentang pemerintah. Bukankah begitu
maksud ringkas dari Tie Cecu?"
"Ya, begitulah maksudnya!" Tie Swie memberi kepastian.
"Bagus.'" kata Sin Thian Hiong. "Sekarang ingin aku
menanya, kalau begitu maksud kita, kenapa di dalam
pertemuan Rimba Hijau hari ini ada diundang juga
sebawahannya An Lok San? Apakah maksud yang sebenarnya?
Ong Cecu, dapatkah kau memberi penjelasan kepada semua
saudara di sini?"
Ong Pek Thong terkejut, air mukanya berubah. Tapi dia
mesti menebali kulit.
"Dimana ada orangnya An Lok San di sini?" tanya dia sambil
berbangkit berdiri. "Siapakah yang sudah menyiarkan berita
burung? Sin Cecu, aku lihat kau keliru mempercayai obrolan
cerita burung itu?"
Tak menanti suara orang berhenti, Lam Ce In sudah
berbangkit buat terus menunjuk ke meja di sampingnya,
kepada Thio Tiong Cie.
"Inilah orangnya An Lok San, pangkatnya Touw-ut bagian
penyerbu. Dan orang di sisinya itu ialah Busu dari An Lok San!"
Mendengar itu, hadirin menjadi ramai.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu mendadak muncul seorang pengemis, yang


berlari-lari mendatangi sambil tertawa geli haha-hihi. Sangat
cepat larinya dia, sebentar saja dia sudah sampai di mejanya
Thio Tiong Cie.
Ong Yan Ie terkejut. Ia mengenali pengemis yang tadi ia
pergoki itu, yang hilang pula dengan cepat.
Pengemis itu menjura kepada Thio Tiong Cie, sembari
tertawa, dia kata, "Pesta ini pesta besar yang sukar
diketemukan pula, maka itu aku si pengemis hendak memohon
persen! Lebih dulu aku minta persen dari tuan pembesar
negeri, habis itu baru dari tuan rumah!"
Salah seorang hadirin, yang bertubuh besar dan gemuk,
sudah lantas membentak, "Pengemis bau, tempat ini tempat
apa? Mana dapat dibiarkan kau mengacau di sini?"
Terus dia mengangkat satu poci arak, untuk dipakai
menimpuk kepala orang!
Hebat serangan itu ke batok kepala. Di dalam pesta Rimba
Hijau semacam ini orang biasa menggunakan cangkir besar
dengan potongan-potongan daging besar juga, maka itu,
tempat araknya pun mesti terbuat dari tembaga atau besi, yang
muat kira lima kati arak. Demikian poci arak yang dipakai si
gemuk, beratnya seperti gembolan!
Akan tetapi si pengemis tertawa berkakak.
"Belum lagi dipersen uang hendak dihadiahkan arak!"
katanya.
"Baiklah! Terima kasih!"
Dia mementang mulutnya, untuk menyambuti. Karena dia
dongak, tepat dia kena gigit mulut poci!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si gemuk kaget, hingga dia menarik pulang poci itu. Apa


celaka, poci itu tak bergeming, tak perduli dia bertubuh besar
dan gemuk dan mestinya besar juga tenaganya.
Justeru itu dua orang yang berduduk bersama Thio Tiong Cie
sudah lantas bangun untuk menyerang si pengemis, atas mana
pengemis itu menggeraki kedua tangannya untuk menyampok.
Maka beradulah tangan mereka dengan keras. Kesudahannya
itu kedua penyerang itu terpelanting mundur, terhuyung-
huyung beberapa tindak, hampir mereka terguling.
"Kie Lojie!" Tie Swie berseru. "Kalau kau tidak melihat muka
pendeta, aku minta kau pandanglah wajah Sang Buddha! Hari
ini hari baik dari Ong Toako, jikalau kau mempunyai suatu
urusan, mari kau bicara dengan tuan rumah, harap jangan kau
mendahului turun tangan!"
Mendengar suaranya Tie Cecu, para hadirin lantas menjadi
heran dan girang, mereka itu gempar.
Di dalam dunia pengemis itu waktu ada tiga pengemis yang
luar biasa, yang namanya sangat tersohor. Yang satu yaitu See-
gak Sin-liong Hong-hu Siong, yang satu lagi ialah Ciu-kay Kie
Tie si Pengemis Pengarakan. Dan pengemis yang ketiga yakni
Hong-kay We Wat si Pengemis Edan.
Mereka bertiga dimalui karena kegagahan mereka. Sekarang
Tie Wie menyebut Kie Lojie, maka pengemis ini ialah Ciu-kay si
Pengemis Pengarakan, tukang menenggak air kata-kata!
Maka itu kagetlah orang-orang pihak Ong, sedang yang
kegirangan adalah mereka dari rombongannya Thouw Pek Eng.
Dalam keadaan kacau itu, rombongan Tiong Cie berbangkit
melupakan satu kurungan. Thouw Pek Eng serta Sat-sie Siang
Eng pun maju, guna mendekati si pengemis jago arak.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu Kie Tie sudah menyedot habis isinya poci arak,
kemudian ia membuka mulutnya untuk memuntahkan itu
seperti semprotan atau semburan terhadap mereka yang
mengurungnya. Hebat arak itu, yang turun bagai hujan, siapa
terkena itu, dia merasakan mukanya sakit seperti terhajar
peluru kecil halus.
Kie Tie tertawa, dia mengangkat pundaknya, dia kata
nyaring, "Ong Cecu! Tie Cecu! Lihat oleh kamu! Bukankah itu
mereka yang mulai menyerang lebih dulu? Bagaimana kamu
hendak mempersalahkan aku?"
Lam Ce In lantas maju menerjang Thio Tiong Cie.
Orangnya An Lok San itu terserang matanya oleh arak, itulah
rintangan untuknya. Dalam keadaan biasa, dapat dia melayani
Ce In sampai tiga puluh jurus, sekarang baru satu jurus, dia
sudah kena dicekuk!
Juga orang satunya lagi dari An Lok San sudah lantas
terbekuk Pek Eng.
Beberapa orang semeja, yang menjadi kawan-kawannya
Tiong Cie berdua, mau maju, akan tetapi mereka dihadang Kie
Tie dan Sat-sie Siang Eng.
Kie Tie tertawa nyaring dan kata, "Segera bakal ada
pertunjukan ramai, maka buat apa kamu membikin ribut?
Kenapa kamu tidak mau diam saja menonton pertunjukan yang
menarik hati itu?"
Beberapa orang itu melengak.
Lam Ce In bersama Thouw Pek Eng, dengan masing-masing
membawa orang-orang tangkapannya masing-masing, pergi
naik ke panggung wayang. Itu waktu, pertunjukan wayang
berhenti sendirinya sebab ada keributan tak disangka-sangka
itu.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat datangnya dua orang ini, anak-anak wayang, berikut


tukang tetabuannya, pada lari menyingkir ke panggung
belakang.
Wajah Ong Pek Thong menjadi merah padam dan pias. Dia
menyambar poci arak dan membantingnya ke tanah keras-
keras.
"Tahan!" dia berseru, nyaring.
Justeru itu Han Tam telah menggunai sumpitnya menyambar
poci arak, yang kena terjepit.
"Ong Cecu, sabar!" dia berkata. "Kalau ada bicara, marilah
kita bicara baik-baik, tak usah cecu bergusar! Arak ini arak yang
harum dan sedap sekali, sayang kalau sampai terbuang-
buang!"
Ong Pek Thong menggunai tenaga beberapa ratus kati,
maka heran ia Han Tam dapat menjepit poci araknya itu yang
besar dan berat. Melihat itu ia menjadi kaget berbareng gusar
sekali. Ia pun menjadi malu dan jengah, hingga untuk sejenak
ia jadi membungkam.
Baru kemudian ia berkata dengan suara dalam, "Semua
orang yang hari ini datang ke Liong Bin Kok ini menjadi
sahabat-sahabat baikku, maka itu aku hendak memohon
sahabat-sahabat suka memberi muka padaku! Aku minta, ada
urusan apa juga, baiklah kita bicarakan lain hari!" Mendengar
itu, Han Tam tertawa.
"Ong Cecu, kata-katamu ini dikeluarkan karena kau kurang
pikir sedikit!" kata dia. "Inilah justeru urusan besar! Justeru
sekarang hadir semua saudara dari pelbagai penjuru, justeru
perlu sekarang kita bicarakan urusan ini! Kita perlu bicara jelas
sekarang supaya Ong Cecu tidak sampai kehilangan muka!"
Sin Thian Hiong pun turut bicara.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata dia nyaring, "Benar! Justeru sekarang orang banyak


hendak mengangkat kau sebagai beng-cu, sebagai pemimpin
kita, justeru ada orangnya pembesar negeri yang nelusup
masuk di antara kita! Jikalau perkara ini tidak diperiksa terang
sekarang juga, bukankah akan terjadi ada saudara-saudara
yang nanti menyangka kau berkongkol dengan pembesar
negeri! Itulah sangkaan keliru yang berbahaya sekali! Kalau dua
orang itu benar Busu dari An Lok San, mereka pasti bukan
sahabat cecu! Kita mau menjelaskan ini justeru untuk kebaikan
cecu sendiri!"
Ong Pek Thong bungkam, mukanya merah padam. Hebat
kata-katanya Han Tam dan Thian Hiong itu.
Ketika itu Lam Ce In dan Thouw Pek Eng sudah membawa
kedua orang tawanannya ke muka panggung. Di bawah itu
sebaliknya telah berkumpul banyak orang, ialah para hadirin
atau tetamu.
Di antara orang banyak itu lantas ada yang menanya, "Kamu
bilang dua orang ini menjadi orang atau Busunya An Lok San!
Untuk itu kamu mempunyai bukti apa?"
"Benar!" lantas ada suara yang menimbrung. "Siapa tahu
kalau mereka ini berdua orang-orang dari Kim Kee San, yang
hendak memfitnah Ong Toako! Maka perlulah ada bukti atau
saksi! Siapa dapat membuktikan mereka benar orang-orangnya
An Lok San?"
Pasti sekali mereka itu ialah orang-orangnya An Lok Sah.
Dan mereka dapat sambutan lagi dari kawan-kawan mereka.
Tentu, di antara meieka itu, walaupun ada yang ketahui siapa
Tiong Cie dan kawannya itu, meieka berlagak pilon.
"Aku dapat memberi bukti!" berseru Kie Tie, yang berada di
antara banyak orang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dia bersuara dingin, suaranya tak keras, tetapi tajamnya


menusuk telinga. Maka suaranya itu membungkam suara
berisik orang-orangnya Ong Pek Thong itu.
"Ada bukti apa?" ada juga orang yang bertanya.
"Buktinya ada di tubuh mereka!" Kie Tie menjawab, tertawa.
Lam Ce In disadarkan Kie Tie, ia lantas menggeledah
tubuhnya Thio Tiong Cie. Maka ia dapat menarik keluar Houw
Tauw Kim-pay, yaitu lencana emas berkepala harimau, benda
pertanda kalau An Lok San menitahkan orang atau orang-orang
kepercayaannya pergi bertugas, bahkan dengan itu, pesuruh ini
dapat memberi perintah pada tentara atau pembesar militer
setempat.
Di antara orang-orang Rimba Hijau ada yang mengenali kim-
pay itu. Karena itu orang-orangnya Ong Pek Thong lantas pada
menutup mulut.
"Buat apa kamu datang kemari?" Lam Ce In tanya dua orang
tangkapannya. "Lekas kamu mengasih keterangan!"
Thio Tiong Cie bangsa keras kepala, dia berdiam. Ce In
memencet lengannya, hampir tangannya itu remuk, akan tetapi
dia terus bungkam. Sebaliknya kawannya tak dapat bertahan,
sebab dia disiksa Thouw Pek Eng yang menggunai tipu silat
Hun-kin Co-kut Ciu, hingga tangannya bisa salah urat atau
salah laku, yang mendatangkan jasa nyeri bukan buatan.
Dia tak tahan maka dia menjerit keras, "Aduh!"
"Bicaralah!" bentak Pek Eng. "Kalau tidak, kau bakal merasai
yang terlebih hebat lagi!"
"Baik, hoohan, aku bicara!" kata orang itu. "Akan aku
bicara!" Tepat di itu waktu, Ceng Ceng Jie mengayun
tangannya. Maka dua potong pisau belati melesat melayang!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Han Tam telah memasang mata, ia melihat gerakan orang


itu, ia pun segera menggeraki pula sumpitnya, melesat sebagai
senjata rahasia.
Pisau belati Ceng Ceng Jie itu aneh. Di tengah jalan, kedua
pisau memutar haluan, hingga keduanya tak dapat disusul
kedua batang sumpit. Terus pisau belati itu balik menyambar
ke arah panggung!
Thouw Pek Eng melihat datangnya senjata, ia menangkis
dengan pedangnya, maka sebilah pisau jatuh ke panggung.
Akan tetapi yang kedua lolos, tepat kerongkongnya si Busu
disambar nancap, hingga suara orang lantas saja berhenti!
Han Tam gusar.
"Ceng Ceng Jie, mengapa kau membunuh orang untuk
membungkam mulutnya?" ia menegur.
Justeru itu di bawah panggung terdengar suara berisik, lalu
terdengar tegurannya Ong Liong Kek yang tertawa dingin, "Sin
Cecu, bagus benar sepak terjangmu! Tak kusangka, siauw-cecu
dari Hui Houw Ce justeru menjadi pengiringmu!"
Ong Liong Kek berkata benar. Dia telah membongkar
rahasianya Tiat Mo Lek. Karena kecurigaannya, dia lantas
bekerja. Dia menyuruh beberapa orangnya mengatur
perangkap.
Tiat Mo Lek tidak menyangka apa-apa, tadi dia pergi ke
bawah panggung menonton wayang. Di sana dia melihat Cio It
Liong dan Cio It Houw kedua saudara. Sebagai seorang
cerdik,dia lantas menyingkir. Dia berjalan dengan cepat sambil
tunduk. Tapi dia memangnya diarah, dia disusul.
Cio It Liong pun menegur, "Tiat Siauw-cecu, kau hendak
pergi kemana?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu beberapa tauwbak muncul. Mereka itu sudah siap


sedia. Mereka membanjur Mo Lek dengan air di dalam tahang.
Itulah hebat. Kalau mereka bertempur, tak mudah dua saudara
Cio memperoleh kemenangan. Sekarang Mo Lek dibanjur,
selagi dia gugup, dia diserang. Maka belum sampai puluhan
jurus, dia sudah kena ditangkap. Celakanya, karena tersiram
air, penyamarannya locot. Dia lantas dikenali.
Bukan main girangnya Ong Pek Thong ketika dia menerima
laporan dari anaknya yang telah lantas datang ke situ itu, guna
menegur Sin Thian Hiong.
Ong Pek Thong pun berseru, "Kamu lihat! Lihat bocah ini!
Dialah anak angkat dari Touw Lotoa! Dialah Tiat Mo Lek! Sin
Thian Hiong membawa dia kemari, apakah maksudnya? Tak
usah aku terangkan lagi, tuan-tuan pastilah sudah mengerti!
Baiklah! Mereka datang untuk membalaskan sakit hatinya
Keluarga Touw! Sekarang mereka mau menunjang ini bocah
bau! Tuan-tuan, sekarang bilanglah terus terang, kamu masih
hendak menunjang bocah ini atau kamu suka turut padaku?"
Sin Thian Hiong tidak takut meski rahasia sudah pecah.
Dia berseru, "Tuan-tuan jangan kasih diri tuan-tuan terjebak
oleh Ong Pek Thong! Baiklah tuan-tuan jangan dibikin
terlibat urusan permusuhan dua keluarga Ong dan Touw!
Urusan permusuhan dua keluarga itu boleh ditunda sampai lain
hari! Sekarang yang mesti dibikin jelas ialah, Ong Pek Thong
sekongkol dengan An Lok San, dia seperti mau membantu
harimau mengganas, sebab dia hendak membantu bangsa Ouw
merampas Tionggoan, negara kita! Tuan-tuan, apakah tuan-
tuan masih hendak mengekor padanya?"
Mendengar keterangan itu, yang mereka percaya, sebagian
dari para hadirin itu sudah lantas membubarkan diri.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Konco-konconya Ong Pek Thong berjumlah besar, tidak


menanti Sin Thian Hiong bicara habis, ada beberapa
diantaranya yang sudah lompat naik ke atas panggung untuk
menyerang Lam Ce In.
Maka itu kacaulah keadaan, hingga Sin Thian Hiong tak
dapat ketika bicara lebih jauh.
Lam Ce In menghunus golok mustikanya. Ia berdiri belakang
membelakangi dengan Thouw Pek Eng. Dengan siasat ini ia
menangkis musuh.
Dengan lekas panggung telah terkurung tiga lapis orangnya
Ong Pek Thong. Mereka itu terdiri kebanyakan dari penjahat-
penjahat besar Rimba Hijau, umumnya mereka kosen, maka di
dalam tempo yang pendek, tak dapat Ce In berdua memukul
mundur pada mereka.
Thio Tiong Cie dapat kesempatan membebaskan diri,
bukannya dia kabur, dia justeru menerjang. Di antara banyak
kawan, dia menjadi tidak takut.
Di atas panggung orang bertarung, di tanah pun terjadi
pertempuran tak kalah serunya.
Ong Pek Thong hendak berlalu dari medan pesta tapi Han
Tam kata padanya, "Ong Cecu, kejadian ini harus diselesaikan!
Tak dapat kau berlalu dengan begini saja!"
Sembari berkata begitu, orang she Han ini mengulur
tangannya ke pundak orang. Hanya belum lagi ia mencekal,
lantas ia merasakan sambaran angin dingin ke arahnya.
Di luar dugaan, Ceng Ceng Jie telah mengangkat meja, yang
dia pakai merintangi Sin Thian Hiong, yang mau maju. Selagi
berbuat begitu, dia melihat Pek Thong terancam, tidak ayal
lagi, dia lompat menyerang Han Tam. Tak perduli dia bahwa
dengan cara begitu dia main membokong.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Han Tam melihat datangnya bahaya. Ia batal menyerang


terus pada Pek Thong. Ia membalik tubuh buat menangkis
serangan curang itu.
Ceng Ceng Jie membuka kepalannya, atas itu dari tangannya
melesat sesuatu yang berkilau seperti halilintar, menyambar
pada musuh. Itulah pisau belati, bekalnya.
Han Tam berniat menotok lawan itu, tetapi diserang dengan
pisau belati itu, ia mesti membela diri. Ia mengelit tangannya.
Ia sebat sekali, sambil berkelit, seraya mendak, ia meneruskan
menyabet ke bawah, ke arah dengkul penyerangnya itu.
Ceng Ceng Jie awas dan gesit. Dia menolong diri dengan
menggeser kakinya. Dia tak berhenti sampai disitu. Dari
samping dia meluncurkan tangannya yang memegang pisau
belagi, guna menikam dada musuh.
Han Tan mendak untuk terus menjejak tanah, hingga
tubuhnya mencelat naik. Sambil mencelat itu, sebelah kaki
digunakan, diteruskan mendupak lengannya Ceng Ceng Jie,
niatnya buat membikin terlepas pisau belati lawan itu.
Ceng Ceng Jie liehay, ia menyingkirkan tangannya, ia terus
menyerang lagi. Dengan berada di samping, dapat ia mengarah
iga lawannya dimana ada jalan darah jie-khie.
"Bagus!" seru Han Tam.
Dari samping, ia menyampok ke arah pergelangan tangan
lawannya itu.
Ceng Ceng Jie lompat berkelit lincah, tetapi ia mengasih
dengar suara nyaring, "Bret!" Ia bebas dari serangan itu.
Sebagai ganti pergelangannya, tangan bajunya yang robek.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Maka hebatlah pertempuran di antara dua jago ini. Ceng


Ceng Jie tak kalah tapi pun Han Tam tak berhasil memperoleh
kemenangan cepat.
Sementara itu Ong Pek Thong telah dapat ketika buat
menjauhkan diri.
Tiat Mo Lek panas sekali, dia menghunus goloknya guna
menyerang saudara-saudara Cio. Ia basah kuyup seperti ayam
tercebur, dia hendak menuntut balas. Belum dia menyerang,
tiba-tiba dia mendengar satu suara nyaring.
"Tiat Siauw-cecu, dengar! Sebenarnya aku memandang
kepada kau! Bukankah kemarin ini paman Khong Khong Jie
telah membiarkan kau hidup terus? Kenapa sekarang kau
datang pula ke mari? Bukankah itu berarti, sorga ada jalannya
kau tak pergikan, kau justeru masuk ke neraka yang tak ada
pintunya!"
Itulah suaranya seorang nona.
Lalu terdengar suaranya Ong Pek Thong, "Anak Yan, buat
apa kau bicara saja dengannya? Ingatlah, membabat rumput
mesti berikut akarnya! Lekas kau bunuh dia."
Tiat Mo Lek tak menghiraukan bahaya. Ia tahu ia bukan
lawan si nona tetapi dalam murkanya ia menyerang nona itu.
Ong Yan Ie mengerutkan alis.
"Apakah benar-benar kau kesusu mau menghadap Raja
Akherat?" tanya dia.
Lantas dia menyerang ke dada si anak muda.
Mo Lek menangkis dengan goloknya. Ia nekad, ia bersedia
mengadu jiwa. Ingin ia mati bersama. Maka ia menggunai ilmu
pedang yang ia baru dapatkan dari Kui Ciang. Ia merangsak

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tanpa menghiarukan bencana. Sayang ia belum sempat melatih


mahir ilmu pedangnya itu.
Ilmu pedang mengutamakan kelunakan, ilmu golok
kekerasan, sekarang Mo Lek memindahkan ilmu pedang kepada
goloknya, biar ia bisa menyerang hebat tetapi tetap ia
meninggalkan lowongan atau kekosongan.
Yan Ie lebih liehay, si nona lantas dapat melihat cacad orang
itu. Dengan memutar tubuh, dia berkelit, terus dia maju.
"Awas!" seru puteri gagah dari Ong Pek Thong, yang
pedangnya meluncur cepat.
Mo Lek terkejut, ia berkelit dengan gugup, meski begitu ia
tidak dapat membebaskan diri seluruhnya, bajunya kena
terobek dan ujung pedang menowel kulit dagingnya!
"Celaka aku!" ia berseru dalam hati ketika ia merasai hawa
dingin di iganya. Ia percaya jiwanya bakal melayang, tapi lantas
ia menjadi heran.
Yan Ie tidak menikam terus, pedangnya ditarik pulang.
Kata si nona perlahan, "Nyalimu benar besar! Lekas kau
pergi! Aku beri ampun pada jiwamu!"
Hanya sekejap Mo Lek melengak.
"Siapa kesudian diberi ampun?" serunya.
Mendadak ia membacok!
"Ah!" seru si nona, tetap perlahan. "Tak dapatkah kau tak
omong keras-keras? Hati-hati nanti ayahku mendapat
dengar...!"
Melihat si anak muda demikian berani, Nona Ong menjadi
menyukainya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Syukur itu waktu pertempuran di panggung berisik sekali dan


Ong Pek Thong lagi repot memimpin orang-orangnya
menyerang Sin Thian Hiong semua, maka itu selain tidak ada
yang mendengar juga tak ada yang memperhatikan dua anak
muda ini.
Mo Lek telah menjadi seperti kalap. Ia tidak memperdulikan
si nona, ia menyerang pula, beruntun sampai tiga kali. Benar-
benar ia mau mengadu jiwa.
Yan Ie menjadi gusar.
"Bocah bau, kau tidak dapat melihat salatan!" bentaknya.
Terpaksa ia melayani sekalian membela dirinya. Ia terus
merangsak. Dengan tipu silat "Bidadari melemparkan torak," ia
merapatkan diri, untuk menikam nadi si anak muda, guna
memaksa orang melepaskan goloknya.
Tengah Nona Ong menyerang itu, mendadak ia merasa
angin menyambar di belakangnya. Ia masih muda tetapi
pengalamannya sudah banyak, sedang ia pun muridnya guru
yang pandai. Ia tahu artinya angin itu, ialah anginnya satu
serangan.
Dengan sebat ia gunai jeriji kirinya menolak goloknya Mo
Lek, sama sebarnya ia menangkis ke belakang, menghalau
serangan. Tatkala ia menoleh, ia melihat penyerangnya itu Han
Cie Hun.
"Oh, kiranya Encie Sin!" Nona Ong kata tertawa. "Bagus!
Bagus! Memang aku ingin mencoba kepandaian encie! Tadi
encie menyimpannya, sekarang mesti dikeluarkan! Supaya aku
dapat membuka mataku!"
"Ah, hantu wanita cilik yang telengas!" Cie Hun mendamprat.
"Hari ini kau tak akan lolos dari keadilan!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Benar?" tanya Yan Ie tertawa.


Dia Jenaka dan riang gembira, tak mudah diterka.
"Jikalau aku telengas maka ini sahabat baik siang-siang pasti
sudah lenyap jiwanya! Jikalau kau tidak percaya, kau
tanyakanlah dia!"
Mo Lek sangat mendongkol. Tak sudi ia bicara. Ia maju pula
dan menyerang dengan hebat.
Cie Hun pun maju, dari itu, Yan Ie kena dikepung berdua.
Nona Han menggunai sepasang poan-koan-pit, senjata yang
mirip alat tulis (pit), peranti menotok jalan darah, dengan
begitu ia menggunai kepandaiannya yang menjadi ajaran
ayahnya. Tapi' Yan Ie gagah, tak gampang dia dikalahkan.
Karena adanya Mo Lek, puterinya Ong Pek Thong kalah angin
juga.
Di bawah panggung orang bertempur secara kacau itu, di
atas panggung pertempuran tak kalah hebatnya. Dengan
belakang membelakangi, Lam Ce In dan Thouw Pek Eng
menyambut pelbagai penyerangan. Jumlah musuh besar sekali,
walaupun Ce In gagah dan ia telah berhasil merobohkan
beberapa orang, ia dan kawannya masih tak dapat
mengundurkan penyerang-penyerangnya itu.
Kie Tie mencegluk isi buli-buli yang besar, umpama kata
perutnya menjadi gendut, setelah itu dia tertawa terbahak-
bahak, dia kata dengan gembira, "Pertempuran ini sangat
menarik hati untuk ditonton! Tak dapat tidak, aku si pengemis
tua mesti membantu meramaikannya! Ha, ha!"
Dia lantas menghampirkan panggung, terus dia mementang
mulutnya, untuk menyemburkan araknya. Bagaikan diserang
hujan deras, beberapa musuh yang berada paling dekat sudah
lantas roboh atau terpelanting.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hebat serangan arak itu, yang membuat mata perih dan


nyeri serta tubuh nyeri juga. Setiap tetes arak merupakan
seperti peluru. Benar serangan itu tidak segera meminta jiwa,
tetapi orang kelabakan dan kesakitan tak terhingga.
Di antara kawanan penjahat ada seorang she Ciok nama
Sam Seng, dia terkenal kosen, senjatanya ialah cambuk hong-
liong-pian yang berbuku tujuh, ketika itu ia justeru merabuh
kakinya Ce In. Dia menggunai silat "Angin puyuh menyapu
pohon Yang-liu". Karena dia maju ke muka, dia kena tersembur
arak, lantas matanya tak dapat melihat.
Menampak demikian, Ce In berseru, goloknya berkelebat.
Tidak ampun lagi, jago itu roboh. Karena itu, terbukalah satu
lowongan. Tanpa ayal pula, Lam Pat mengajak kawannya
lompat turun dari panggung.
Pembantunya Ong Pek Thong yaitu Tie Swie menyaksikan
perbuatannya Kie Tie itu, ia lantas menegur, "Kie Lojie, kitalah
air sumur yang tidak saling mengganggu dengan air kali,
mengapa sekarang kau mengacau begini rupa? Bukankah
perbuatanmu ini berarti kau sangat tidak memandang mata
kepada tuan rumah?"
Kie Tie tertawa.
"Kamu toh tidak mengundang aku?" dia membaliki. "Karena
kamu -tidak mengundang aku, buat apa aku menjual muka
kamu? Lain dari itu, kau tahu sendiri tabiatku si pengemis tua,
satu kali aku ketagihan arak lantas aku tidak memperdulikan
lagi muka atau bukan muka! Maka mari, mari, mari! Kau tidak
mengundang aku minum arak, aku sendiri suka
mengundangmu minum barang sedikit!"
Dengan lantas Ciu-kay mementang pula mulutnya,
menyembur ke arah Tie Swie.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bukan main gusarnya si orang she Tie. Dengan lantas ia


melakukan satu serangan "Udara kosong," guna menyampok
balik hujan arak itu, habis mana ia maju, untuk menyerang,
bahkan dengan hebat.
Kie Tie menganggap orang sebagai kenalan lama, ia
menyembur tanpa mengerahkan tenaga dalam, ia cuma mau
main-main, maka itu diluar dugaannya, ia lantas diserang
hebat.
Tie Swie itu memang pandai Kim Na Hoat, ilmu menangkap,
untuk mana dia bisa berkelahi rapat. Sudah begitu, dia pun
lantas dibantui beberapa kawannya yang termasuk orang-orang
kosen undangannya Ong Pek Thong. Maka itu, ia terpaksa
mesti bertempur secara sungguh-sungguh.
Lam Ce In membuka jalan untuk dapat mempersatukan diri
dengan Sin Thian Hiong, tengah ia maju itu, tiba-tiba ia
merasakan sambaran angin kepada punggungnya.
Diluar sangkaan, ia telah diserang Ong Liong Kek, puteranya
Ong Pek Thong, yang sekarang mengenalinya, hingga ia mesti
memutar tubuhnya menghalau serangan itu.
Ong Liong Kek tertawa dan kata, "Orang she Lam, kau
terlalu! Bukankah kemarin ayahku berlaku murah hati
membiarkan kau kabur turun gunung, kenapa sekarang kau
datang pula bahkan1 dengan menyamarkan diri? Kau
mengacau, apakah ini perbuatannya 'seorang enghiong atau
hoohan?"
"Tutup mulut!" Ce In membentak. "Beranikah kau masih
bicara tentang seorang enghiong atau hoohan denganku?
Kamu ayah dan anak, kamu sudah kesudian menjadi anjing-
anjingnya An Lok San!"
Sembari menegur itu, Ce In menyerang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ong Liong Kek tidak berani banyak omong lagi, ia melakukan


perlawanan, maka bertarunglah mereka dengan hebat.
Didalam pertarungan kacau itu, yang paling seru ialah
pasangan di antara Ceng Ceng Jie dengan Han Tam. Ceng
Ceng Jie telah mengeluarkan Kim-ceng Tiat-kiam, yaitu pedang
besinya yang istimewa tetapi Han Tam tetap melawan dia
dengan sepasang tangan kosong.
Tangannya itu, baik telapakan mau pun jerijinya, merupakan
seperti dua macam alat senjata, bahkan jari tangannya mirip
dengan Poan-koan-pit, gegaman beroman seperti alat tulis
peranti menotok jalan darah.
Ceng Ceng Jie liehay, dia pun gesit sekali, tetapi sudah
bertempur sekian lama, dia tak dapat berbuat banyak,
pedangnya seperti tak mempan terhadap tangan dari darah dan
daging...
Ceng Ceng Jie muncul baru beberapa tahun, Han Tam
sebaliknya mengundurkan diri sudah lama, maka itu ia tidak
tahu bahwa orang yang mengaku sebagai tauwbak dari gunung
Kim Kee San itu seorang jago tua bahkan ahli totok yang
kenamaan, ia menjadi heran.
Setelah bertempur sekian lama, Han Tam lantas mulai
dengan penyerangannya dengan ilmu silat "Hud In Ciu," atau
"Tangan mengebut mega". Serangannya ini merupakan
campuran dari tabasan, tekanan, totokan dan tusukan.
Ceng Ceng Jie repot menangkis atau berkelit, jarang
ketikanya untuk membalas menyerang. Ia gesit dan waspada,
sebat kelitnya, tetapi satu kali dia kena juga ditowel lengannya,
hingga kontan ia merasa kesemutan pada tiga jalan darahnya,
giok-heng, yauw-kong dan kiok-tie. Syukur untuknya, ia telah
menutup jalan darahnya dan totokan tidak keras, ia menjadi tak
usah sampai roboh terguling.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu Ong Pek Thong telah memimpin orang-orangnya


mengurung Sin Thian Hiong. Ia menduga orang she Sin itulah
pemimpinnya pihak pengacau pestanya itu, maka ia pun maju
sendiri. Ingin ia dapat menawan hidup-hidup pada Thian Hiong.
Dua saudara Sat, yaitu Sat-sie Siang Eng, bertempur rapat
bersama-sama Thian Hiong, mereka gagah, tetapi dikurung
banyak orang, mereka repot juga, tak dapat mereka
memecahkan kurungan.
Han Tam berkelahi sambil memasang mata keempat
penjuru, dengan lantas ia dapat melihat Thian Hiong terkepung
itu, lantas dengan satu serangan ia paksa Ceng Ceng Jie
mundur, sembari mendesak itu, ia kata, "Dengan memandang
muka suhengmu, aku tidak mau melukai kau, maka mundurlah
kau!"
Ceng Ceng Jie terkejut. "Kau siapa, tuan?" ia tanya.
"Kau pulang, untuk tanyakan keterangan suhengmu, nanti
kau ketahui sendiri," sahut Han Tam. "Sekarang aku tak
mempunyai tempo untuk bicara banyak!"
Lalu sambil bersiul nyaring, jago tua ini lompat untuk lari ke
arah Sin Thian Hiong.
Ceng Ceng Jie bingung, ia kata di dalam hati kecilnya, "Tak
perduli apa yang dia bilang benar atau salah, dia katanya kenal
kakak seperguruanku, baik sekarang aku jangan melayani dia
lebih lama pula!"
Tepat itu waktu dua-dua Ong Pek Thong dan Ong Liong Kek,
ayah dan anak, mengasih dengar seruan mereka meminta
bantuan. Ceng Ceng Jie dengar suara orang, seharusnya dia
pergi pada Pek Thong, akan tetapi suaranya Han Tam
membuatnya jeri, ia pergi pada Liong Kek.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In benci sangat pada Liong Kek, ia menyerang


dengan hebat, goloknya dipakai menyerang secara beruntun,
setiap kalinya bertambah hebat. Disamping ia, Thouw Pek Eng
dengan pedangnya menangkis lain-lain musuh.
Selang tiga puluh jurus. Liong Kek lantas terdesak hebat,
dengan terpaksa ia membuka jalan, habis menangkis, ia lompat
mundur untuk lari menyingkir.
Akan tetapi Lam Ce In tidak mau mengerti.
"Kau rasai!" bentaknya, sambil goloknya menyerang dari atas
ke bawah.
"Jangan bunuh dia!" teriak Pek Eng, mencegah. "Bekuk
bocah itu hidup-hidup!"
Lam Ce In lantas saja mengerti maksudnya Thouw Pek Eng.
Itulah untuk membekuk puteranya Ong Pek Thong guna
dijadikan orang jaminan.
Ia pikir, "Kelihatannya cuma ada ini satu jalan untuk
membikin Ong Pek Thong membubarkan kurungannya ini!"
Hebat orang she Lam ini, begitu ia berpikir dan setuju, ia
lantas bekerja. Goloknya sudah lantas dikasih bekerja. Hanya
dalam beberapa jurus, kipas besi Ong Liong Kek sudah kena
dikekang. Berbareng dengan itu laur,an kirinya meluncur dalam
tipu silat "Yu Liong Tam Jiauw," atau 'Nay,.' mengulur kuku,"
menyambar ke arah tulang pipa atau tulang selangka lawannya
itu.
Ong Liong Kek juga liehay. Dia terdesak, dia melihat
ancaman bahaya. Maka dia berlaku waspada. Ketika disambar
itu, di saat tangan orang hampir tiba pada bajunya, mendadak
dia menjejak tanah untuk lompat berjumpalitan dengan jurus
"Kim Lie Coan Po," atau "Tambra emas meletik menembusi
ombak". Maka bebaslah dia.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In menjadi mendongkol. Dia lompat menyusul dengan


lompatan "Teng In Ciong," atau "Naik di atas mega". Begitu
datang dekat, dia terus membacok.
Sekonyong-konyong ada seorang yang berlompat maju
untuk menghadang. Orang itu gesit sekali. Dia pun sudah
lantas menggunai pedangnya. Maka golok dan pedang beradu
keras sambil memuncratkan lelatu api.
Lantas dia berseru sambil menyapa, "Ilmu golok yang liehay!
Tuan, bukankah kau Lam Pat dari Gui-ciu?"
Orang yang demikian liehay, Ceng Ceng Jie adanya. Tepat
dia menolongi Ong Liong Kek. Karena Ce In terus menyerang,
dia mesti melayani bertempur.
"Tidak salah!" Ce In menjawab. "Lam Pat dari Gui-ciu itulah
aku yang rendah! Kau liehay, tuan, mengapa kau sudi
membantu harimau? Tidakkah kau harus disayangi?"
Ceng Ceng Jie tertawa.
"Di sini bukan tempat bicara!" katanya. "Hari ini juga bukan
saatnya untuk berunding! Kemarin ini di gunung Hui Houw San
tak ada kesempatan untukku menerima pengajaran dari kau,
aku menyesal, maka bagus sekali hari ini kita bertemu pula!
Lebih dulu hendak aku belajar kenal lebih jauh dengan ilmu
golok kau, tuan, kemudian baru aku akan mendengar
nasehatmu! Bagaimana?"
Ong Liong Kek telah dapat memperbaiki kedudukannya,
menenangkan diri. Hanya sebentar, ia menjadi murka. Ia
merasa sangat malu. Maka ia maju pula.
Ia kata nyaring, "Ya! Hari ini, siapa yang menang, dialah
yang kuat! Tak usah melayani dia ngoceh!"
Lalu dia mendahului menyerang.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie tidak niat dua melawan satu, tak sudi dia
main ngepung, akan tetapi karena sudah terang Liong Kek
bukan lawan dari Lam Pat, terpaksa dia maju juga.
Dia ingat dialah orang undangannya Ong Pek Thong, yang
diundang dengan hadiah luar biasa. Tadi pun ia sudah merasa
tidak enak hati karena adanya Han Tam tak dapat dia
membantui Ong Pek Thong. Sekarang mana dapat dia
membiarkan puteranya Pek Thong mendapat celaka?
Kepandaian Lam Ce In berimbang dengan kepandaiannya
Toan Kui Ciang, seharusnya ia tidak dapat terkalahkan Ceng
Ceng Jie, akan tetapi sekarang keadaannya lain. Sudah sekian
lama ia bertempur, keuletannya menjadi berkurang, sekarang
Ceng Ceng Jie dibantu Ong Liong Kek, yang termasuk tenaga
baru, ia merasa sulit. Belum sampai dua puluh jurus, ia sudah
jatuh di bawah angin.
Thouw Pek Eng juga bertempur terus, dia paksa memukul
mundur beberapa lawannya, habis itu dia memburu kepada Ce
In, lantas berdua mereka bertempur bersama. Dengan begitu
keadaan Lam Pat menjadi tak terlalu berbahaya.
Hanya sayang, Pek Eng sendiri pun sudah letih, dia tidak bisa
berbuat lebih daripada itu, pihaknya cuma sanggup membela
diri.
Tengah keadaan mengancam itu, mendadak ada orang
berseru, "Nona Hee datang!"
Liong Kek mendengar itu, lantas dia tercengang. Tak ayal
lagi dia mencoba berpaling. Maka dia mendapat lihat Hee Leng
Song mendatangi dengan wajahnya bengis. Nona itu bergusar
dengan sepasang alisnya yang lentik bangun berdiri. Seorang
tauwbak maju menyambut padanya, tauwbak itu disampok
mundur. Ia maju terus dengan pedang terhunus.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In heran.
Ceng Ceng Jie cerdik sekali. Justeru lawannya itu menoleh,
justeru dia menyerang hebat, bagaikan kilat pedangnya
menikam Lam Pat.
Justeru itu tibalah Leng Song. Dengan lantas dengan tipu
silat "Peng See Lok Gan," atau "Burung belibis turun di pasir
datar," dengan pedangnya - pedang Ceng Kong Kiam ia
menyerang ke kaki dari saudara seperguruan Khong Khong Jie
itu!
Maka berbahayalah dua-dua Lam Ce In yang lengah itu dan
Ceng Ceng Jie yang bernapsu merobohkan musuh. Mereka
berdua sama-sama bergerak dengan sangat cepat.
Ceng Ceng Jie berseru kaget, tubuhnya terus mencelat ke
depan, dengan begitu dia menjadi tertolong dari pedang si
nona. Dengan begitu,
Ce In turut tertolong juga. Ceng Ceng Jie batal meneruskan
menikam padanya.
Ong Liong Kek bingung dan jengah.'
"Nona Hee, apakah benar-benar kau hendak memusuhkan
aku?" dia tanya, ragu-ragu.
"Kau... kau... dengar aku bicara..."
Leng Song memotong, "Segala perbuatan kamu ayah dan
anak, sekarang aku ketahui jelas!" demikian si nona. "Apalagi
yang kau hendak bilang?"
-ooo0dw0ooo-
Jilid 11
"Bagaimana?" tanya Liong Kek, bingung. "Jadi di antara kita
sudah tidak ada bicara lagi...?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik!" seru Nona Hee. "Sekarang aku hendak menanya satu


kali lagi kepadamu! Benar atau tidak kamu telah bikin celaka
pada Toan Tayhiap?"
"Itu?" tanya Liong Kek, heran.
"Tidak!"
"Habis kenapa aku tidak dapat mencari dia?"
"Itu... itu..."
Susah Liong Kek bicara. Mo Lek lantas mendahuluinya.
"Nona Hee, Toan Tayhiap masih hidup!" kata pemuda she
Tiat itu. "Aku tahu tentang tayhiap itu! Mari kita keluar dulu
dari kepungan ini, baru kita bicara!"
"Baik!" menjawab Leng Song, yang percaya orang she Tiat
itu. Lantas ia menoleh pada Liong Kek dan membentak, "Masih
kau tidak mau menyingkir!"
Kata-kata itu dibarengi dengan tabasan pedangnya.
Liong Kek terkejut sekali. Tahu-tahu tangan bajunya sudah
terbabat kutung. Dia terhuyung mundur sampai beberapa
tindak, mukanya pucat pasi. Meski begitu, dia mengulapkan
tangan seraya berseru, "Kasih dia pergi!"
Leng Song tertawa dingin. "Kau boleh lihat!" bentaknya.
Terus ia menikam. Tapi baru di tengah jalan, ia lantas
menahan, untuk diubah dengan lain jurus.
Tak perduli si nona liehay, Ceng Ceng Jie dapat melayani.
Tiga kali dia diserang, lalu empat kali dia membalas. Selama
itu, tak pernah pedang-pedang mereka beradu. Toh
serangannya masing-masing berbahaya, semua mengarah
anggauta-anggauta yang merupakan tempat-tempat kematian.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Selama itu sudah lantas terlihat kepandaian kedua lawan ini.


Ceng Ceng Jie menang gesit sedikit. Si nona menang untuk
pelbagai jurusnya yang luar biasa.
Mau atau tidak, Ceng Ceng Jie menyedot hawa dingin, la
sudah lantas berpikir, "Aku percaya, dengan bekerja sama
suheng Khong Khong Jie, dapat aku malang melintang di
kolong langit ini, siapa tahu dalam Rimba Persilatan ada begini
banyak orang liehay! Tak usah disebut orang she Han itu,
hanya ini nona di depanku! Untuk dapat merebut kemenangan,
rasanya aku mesti menanti sampai seratus jurus dulu..."
Itu waktu Han Tam sudah berhasil memukul mundur
rombongannya Ong Pek Thong, bersama-sama Sin Thian Hiong
ia telah lepas dari kurungan.
Ceng Ceng Jie yang waspada dapat melihat suasana, ia tahu
tak ada harapan lagi, maka ia lantas berkelit dari si nona, terus
dia ajak Ong Liong Kek mengundurkan diri.
Ketika itu Han Cie Hun berseru, "Ayah, itulah nona Hee!"
Han Tam menjawab anaknya, ia kata pada Leng Song,
"Terima kasih Nona Hee sudah membantu kami! Marilah kita
bicara di luar!"
Cie Hun dan Mo Lek masih dikurung Yan Ie serta
persaudaraan Cio, melihat demikian, Leng Song lari kepada
mereka itu sembari kata, "Adikku, malam itu aku keliru
menyangka jelek padamu!"
Ia lantas menyerang membikin mundur Cio It Liong dan Cio
It Houw!
Ong Yan Ie gusar, kata ia keras, "Kakakku berlaku baik
kepada kau, kenapa kau pandang kami kakak beradik sebagai
musuh?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia berkelit dari serangannya Mo Lek, lantas ia maju


rrienyerang Nona Hee dengan sebelah tangannya yang kosong.
"Lepas tanganmu!" berseru Leng Song.
Berbareng dengan seruannya itu, pedang si nona menusuk
lengannya Yan Ie. Pedangnya itu mendatangkan sorot berkilau.
Ia juga berbareng menyerang dengan tangan kiri yang kosong.
Ia melakukan ini setelah berkelit dari serangan nona she Ong
itu.
Yan Ie terkejut, ia kalah sebet. Tiba-tiba ia merasakan
lengannya nyeri seperti tertusuk jarum. Ia menjerit dengan
pedangnya terlepas dan terlempar. Mo Lek lantas membacok
padanya. Syukur ia masih sempat berkelit, terus ia lari ke dalam
rumpun pohon bunga. Ia melihat lengannya, di situ ada tiga
titik merah, darah yang keluar dari lukadi kulit.
"Sayang! Sayang!" kata Mo Lek berulang-ulang
Ia tidak tahu Leng Song berbuat baik, kalau tidak, lengan
Yan Ie mestinya sudah buntung.
Melihat semua kejadian itu, Kie Tie tertawa dan kata, "Tie
Lotoa, semua sahabatku mau pergi, tak enak kalau ketinggalan
cuma kita berdua, dari itu maaf, aku pun tak dapat menemani
kau lebih lama pula!"
Habis berkata, ia memutar tubuhnya, tepat ia dapat menolak
dua penjahat yang mau mengepung padanya, hingga mereka
itu berdua mental ke depan Tie Swie.
Menyaksikan demikian, Tie Swie lantas menyambar kedua
orang itu yang terpelanting ke arahnya. Ia mencekal keras
sampai mereka menjerit-jerit seperti dua ekor babi berkuwing-
kuwing! Bukan main mendongkolnya ia, lekas-lekas ia
melepaskan cekalannya, niatnya menyusul lawannya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Akan tetapi waktu itu Ciu-kay si Pengemis Pengarakan sudah


berkumpul bersama Han Tam semua, berlalu dari medan
pertempuran itu.
Ong Pek Thong menyesal bukan main. Ia pun malu. Diluar
dugaannya, rahasia sekongkolannya dengan An Lok San telah
dibeber di muka umum. Di antara para hadirin ada tetamu-
tetamu yang. bukan konconya. Karena ini, dari para tetamu itu,
tujuh atau delapan bagian sudah lantas bubar, sedang dari
konconya sendiri ada separuh yang hatinya telah berubah.
Orang tak setuju dia bekerja sama pihak pembesar negeri.
Mendapat kenyataan musuh demikian tangguh, Pek Thong
dan Ceng Ceng Jie juga tidak berani mengejar, mereka cuma
bisa berseru-seru beraksi saja...
-ooo0dw0ooo-

Rombongannya Sin Thian Hiong telah lekas meninggalkan


Liong Bin Kok.
Han Tam tertawa sendirinya setelah menyaksikan tak ada
musuh yang mengejar.
"Dengan pertempuran ini kita tidak memperoleh
kemenangan tetapi dengan begini kita berhasil memberi
pukulan kepada Ong Pek Thong! Mereka menjadi renggang
satu dengan lain dan kaum Rimba Hijau pun tak bakal kena lagi
didustai mereka!"
Selagi begitu, Kie Swie menghampirkan Hee Leng Song, ia
memandang si nona dengan teliti, ia mengeleng-gelengkan
kepalanya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lalu katanya sangat kagum, "Sungguh seorang nona yang


elok! Sungguh mirip dengan Leng Liehiap di jamannya liehiap
itu!"
Kie Tie mengasih turun buli-bulinya, ia gelogoki itu ke
mulutnya, untuk menenggak air kata-katanya, habis itu ia kata,
"Akulah yang dipanggil Ciu-kay Kie Tie! Nona Hee tentunya
pernah mendengar ibumu menyebut-nyebut aku...!"
"Belum pernah..." sahut si nona.
Pengemis itu ketemu barunya, hingga ia melengak. Lantas ia
tertawa. Mulutnya sudah berkelemik, hendak mengatakan
sesuatu tetapi batal. Sebagai gantinya, untuk menutupi malu, ia
tertawa.
Lam Ce In hendak mencegah kejengahan, ia lantas berkata,
"Nona Hee, kau telah membantu banyak kepada kami, untuk
itu aku menghaturkan diperbanyak terima kasih!"
"Kau aneh!" kata si nona. "Kenapa kau repot dengan ucapan
terima kasihmu? Kau telah mengantar melindungi Paman Toan-
ku, untuk itu aku belum menghaturkan terima kasih padamu!"
Inilah jawaban yang tidak disangka-sangka Ce In. Ia seperti
ketemu pakunya. Ia jengah. Itulah rasa pahit-pahit manis!
Benar Leng Song telah menegur padanya tetapi teguran itu
menyatakan tegas si nona telah memandangnya sebagai orang
sendiri...
"Mo Lek," kemudian Nona Hee tanya si anak muda, "Kau'
bilang Paman Toan mau pergi ke kelenting Ceng Hie Koan di
gunung Giok Sie San, kota Liang-ciu, sebenarnya untuk apakah
itu?"
Mo Lek telah menerangkan apa yang terjadi di gunung Hui
Houw San, maka ia menambahkan, "Mereka diundang oleh
Khong Khong Jie yang hendak membayar pulang anak mereka."
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Oh, kiranya begitu!" kata si nona. "Kalau begitu,


dibandingkan dengan adik seperguruannya, Khong Khong Jie
masih boleh dibilang bukannya seorang busuk!"
Han Tam campur bicara, ia kata, "Selama beberapa tahun ini
aku belum pernah ketemu dengan Khong Khong Jie akan tetapi
aku menaruh perhatian terhadap sepak terjangnya, aku
mendapat kenyataan dia cuma rada berandalan, yaitu dia suka
menemui lawan yang setimpal dan karena namanya menjadi
terkenal, dia juga tak luput dari kejumawaan, akan tetapi dia
belum pernah melakukan kejahatan. Kali ini perbuatannya itu
disebabkan dia kena dipedayakan Ong Pek Thong ayah dan
anak."
Mendengar disebutnya nama Ong Pek Thong dan anak itu,
Leng Song berduka, dia lantas runduk dan tak berkata suatu
apa lagi.
"Nona Hee," Ce In bertanya, "Sukakah nona mengasih
keterangan bagaimana caranya maka dahulu hari nona dapat
berkenalan dengan ayah dan anak itu?"
"Tentang itu tidak ada yang aneh!" sahut si nona. "Kita
bertemu di tengah jalan! Adalah umum orang Kang Ouw biasa
merantau dan umum juga kita bertemu dengan orang-orang
yang tidak dikenal. Tentu sekali aku tidak tahu bahwa
merekalah berandal-berandal Rimba Hijau!"
Kembali Ce In "menemui pakunya". Kembali ia merasa pahit-
pahit manis. Sebagai orang yang berpengalaman, dapat ia
menerka bahwa tadinya Leng Song berkesan baik terhadap
Ong Liong Kek, bahwa mungkin ada terselip urusan asmara.
Hanya sekarang sirnalah sang asap dan buyarlah sang mega...
"Nona Hee," berkata Han Tam, "Rumahku terpisah dari sini
cuma tiga puluh lie, bagaimana jikalau aku minta nona suka
mampir padaku untuk beristirahat?"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Terima kasih, Han Lo-cianpwe," menyahut si nona. "Aku


telah mempunyai janji dengan Toan Tayhiap untuk
menjenguknya di gunung Hui Houw San, lantaran ada suatu
urusan, aku telah terlambat beberapa hari. diluar dugaan, Toan
Tayhiap telah mendapatkan peristiwanya itu, sekarang setelah
aku ketahui di mana beradanya ia, hendak aku lekas
menyusulnya ke Giok Sie San!"
Habis berkata, Nona Hee bersiul nyaring dan panjang. Atas
itu segera terlihat seekor kuda putih lari keluar dari dalam
hutan, untuk menghampirkan si nona. Kuda itu dapat lari keras.
Tiat Mo Lek kagum, dia kata, "Kuda ini dilihatnya tidak
menarik perhatian, siapa tahu dia nyata jauh terlebih baik
daripada kuda merah miliknya ayahku dahulu hari!"
Leng Song sudah lantas lompat naik atas kudanya, dengan
merangkap kedua tangannya kepada orang banyak ia meminta
diri, guna segera berangkat menyusul Toan Kui Ciang.
"Nona Hee," kata Ce In tiba-tiba, "Aku hendak bicara lagi
sedikit..."
"Apakah itu?" tanya si nona singkat.
"Mengenai urusan dengan Hong-hu Siong itu," kata Lam Pat.
"Sepulangnya aku, akan aku minta keterangan pada guruku,
mungkin aku akan memperoleh penjelasan, mungkin nanti aku
dapat membantu kau mencari padanya, dari itu tolong nona
meninggalkan alamatmu."
"Arah kepergianku sukar ditentukan," sahut si nona. "Aku
pikir lebih mudah untuk aku yang mencari kau. Maka itu baiklah
setelah aku bertemu dengan Paman Toan, akan aku turut
paman pergi ke Thay-goan guna mencari kau di sana!"
Ce In setuju, bahkan ia gembira sekali.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik!" sahutnya. "Baik, aku nanti menunggui kau di


gedungnya Kwe Thaysiu di kota Kiu-goan."
Nona Hee sudah lantas mengeprak kudanya lari, hingga Ce
In mesti mengawasi kepergiannya itu.
"Paman Lam!" Mo Lek menegur, "Orang telah pergi jauh!
Kelihatannya paman masih hendak membicarakan sesuatu
dengannya, kenapa paman tidak mau lekas-lekas
memanggilnya? Sekarang sudah tak keburu lagi, maka mari kita
pun berangkat.”
Mukanya Ce In menjadi merah.
"Setan cilik, mulut jahil!" tegurnya secara bergurau.
"Urusan dengan Hong-hu Siong?" kata Kie Tie tiba-tiba.
”Bukankah nona itu hendak menuntut balas terhadap Hong-hu
Siong?"
"Benar," sahut Mo Lek. "Hanya urusan itu masih menjadi
persoalan. Hong-hu Siong bilang bukannya dia yang membunuh
tetetapi Toan Siokhu menyebut dia..."
"Tunggu dulu, tunggu dulu!" kata Kie Tie pula. "Dia hendak
menuntut balas untuk siapa? Apakah buat ibunya?"
Ce In heran hingga ia mengawasi jago tua itu.
"Mungkinkah lo-cianpwe ketahui perkara itu?" ia tanya.
"Nona itu tidak membilang dia mau melakukan pembalasan
untuk ibunya, dia hanya bilang dia menerima perintah ibunya
untuk menyingkirkan satu orang yang berbahaya untuk dunia
Kang Ouw. Menurut Toan Tayhiap, di malam pernikahan
mereka, kemanten laki-laki yang terbinasa di tangan Hong-hu
Siong ialah Hee Seng To yang menjadi ayahnya si nona. Hanya
tak jelas hubungan perkara itu dengan keluarga si nona
lantaran si nona sendiri tak tahu duduknya hal. Mendengar
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

keterangan beberapa pihak, cuma-cuma aku menjadi tambah


pusing dibuatnya. Lo-cianpwe suka memberi penjelasan kepada
kami semua?"
Kie Tie melirik orang she Lam itu, lantas dia tertawa.
"Ehem, kau nampaknya sangat memperhatikan si nona!"
katanya.
Lalu dia menggeleng kepala. Tapi hanya sebentar, ia tertawa
pula. Lantas dia berkata lagi, menyambungi, "Sekarang belum
tiba saatnya untuk bicara! Meski demikian, dapat aku
menolongi kau melakukan sesuatu..."
Ce In heran hingga kembali ia berdiam saja.
"Ada urusan apakah dari aku maka dia mau mewakilkan
mengurusnya?" ia tanya hati kecilnya.
Kie Tie cuma berhenti sebentar, segera dia berkata pula,
"Apa yang kau pikir dalam hatimu, yang kau belum ucapkan,
aku telah mengetahuinya! Kau jangan kuatir akan aku menjadi
comblangmu! Umpama kata dia tidak menggubris aku si
pengemis bau, akan aku cari si Toan kecil untuk ia membantu
aku berbicara dengannya!"
Muka Lam Ce In menjadi merah karena likat.
"Lo-cianpwe bergurau!" katanya.
"Siapa bilang aku bergurau?" kata jago tua itu, romannya
sungguh-sungguh. "Sekarang juga aku akan pergi! Baiklah aku
omong terus terang pada kau! Dengan datang ke lembang
Liong Bin Kok, aku sengaja hendak menantikan Nona Hee itu,
cuma ia nampaknya sebal terhadap aku si pengemis
bangkotan! Baiklah, sekarang aku mau pergi mencarikan dia
seorang suami yang cocok dengan rasa hatinya, aku percaya
kemudian dia bakal menjadi suka terhadapku!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Benar-benar jago tua ini lantas berlari pergi.


"Kie Lojie!" Han Tam berseru. "Kalau kau tiba di Giok Sie San
dan bertemu dengan Khong Khong Jie, kau beritahukan dia
halnya Ong Pek Thong sudah berkongkol dengan An Lok San,
andaikata dia tidak percaya pembilanganmu, bilangi dia bahwa
itulah kata-kataku!"
"Aku mengerti!" berkata Kie Tie, yang masih sempat
menjawab. "Hayo, tak dapat aku berayal lagi, nanti tak keburu
aku menyusul dia!"
Seperginya pengemis itu, Han Tam berkata kepada kawan-
kawannya, "Diantara tiga pengemis aneh dalam dunia Sungai
Telaga, Hong-kay We Wat si edan membenci kejahatan seperti
dia membenci musuhnya, kalau dia turun tangan, dia agak
telengas. See-gak Sin Liong Hong-hu Siong adalah yang sepak
terjangnya rada aneh, dia separuh lurus dan separuh sesat,
sulit untuk memastikannya. Tentang ini pengemis tukang
tenggak susu macan, Ciu-kay Kie Tie, walaupun dia berandalan,
dia paling rajin dan bersungguh-sungguh, gemar sekali dia
membantu atau menolong orang. Di antara orang-orang tiga
agama dan enam golongan, dia mempunyai sahabat-
sahabatnya. Dia cuma mempunyai suatu cacad, ialah hatinya
terlalu lemah, kalau dia bukan bertemu dengan orang sangat
jahat, tak mudah dia menjadi gusar, maka juga di antara
sahabat-sahabatnya, selain orang baik-baik ada juga orang
buruk."
"Barusan dia tidak sudi bicara, mungkinkah itu disebabkan
dia hendak menutupi keburukannya Hong-hu Siong?" Ce In
tanya.
"Aku kira itulah tak mungkin," menjawab Han Tam.
"Umpama kata benar Hong-hu Siong melakukan perbuatan
semacam itu, tidak nanti We Wat berdiam saja. We Wat

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menjadi sahabatnya dua orang she Leng dan Hee itu, pastilah
dia sudah bekerja sama menyingkirkan Hong-hu Siong dari ini
dunia! Memang, perkara darah itu pernah menyebabkan
kegemparan Rimba Persilatan dan pernah beberapa orang
gagah membantui Keluarga Hee mencari tahu si pembunuh!
Aku tidak nyana sampai sekarang, sudah berselang dua puluh
tahun, perkara itu masih tetap gelap!"
"Ayah," berkata Han Cie Hun, "Setelah peristiwa di Liong Bin
Kok ini, aku rasa kita tak dapat tinggal dengan aman lagi di
tempat kita ini, maka itu aku pikir baiklah kita pergi ke Giok Sie
San..."
Han Tam tertawa.
"Aku tahu kau memang ingin pergi ke sana untuk turut
dalam keramaian!" katanya.
"Benar, ayah!" sahut si nona. ."tapi kepergian kita akan ada
baiknya. Umpama kata terjadi bentrokan pula di antara Khong
Khong Jie dan Toan Tayhiap, ayah dapat datang sama tengah
untuk berusaha mendamaikannya."
"Jikalau kau menduga demikian, kau pasti akan kecele!" kata
ayah itu. "Khong Khong Jie telah memberikan janjinya akan
membayar pulang anak orang, mana bisa terjadi mereka kedua
belah pihak berkelahi pula?
"Apakah ayah tidak kuatir suteenya, Ceng Ceng Jie, nanti
main gila, mengacau diantaranya?" tanya pula si anak dara.
"Aku pernah pikir kemungkinan itu," Han Tam menjawab,
"Akan tetapi Kie Tie sudah berangkat ke sana, seandainya Ceng
Ceng Jie mau main gila, Kie Tie bakal tiba terlebih dahulu, dia
akan menyampaikan pesanku, maka itu, meskipun benar Khong
Khong Jie tidak mempercayai Kie Tie sendiri, dia mesti percaya
aku."

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia hening sejenak, terus ia menambahkan, "Apa yang aku


buat kuatir ialah mereka itu bakal tak melepaskan pada Lam
Tayhiap serta Tiat Siauw-cecu. Maka itu aku pikir baiklah kita
berangkat terus malam ini, untuk mengantarkan mereka ke
Hoay-yang, kemudian bersama Lam Tayhiap kita pergi ke Kiu-
goan untuk menemui Kwe Leng-kong, guna membeber
sekongkolan di antara Ong Pek Thong dengan An Lok san,
supaya Kwe Leng-kong dapat mengatur persiagaan. Aku mau
menduga, Khong Khong Jie dan Lam Tayhiap mungkin dari
musuh akan berbalik menjadi sahabat-sahabat satu dengan
lain, hingga kemudian dia akan suka pergi ke Kiu-goan."
Ce In dan Mo Lek girang sekali mendengar perkataannya
jago tua she Han itu. Lebih girang pula Tiat Mo Lek meski
kegirangannya itu disimpan di dalam hatinya. Ia ternyata
sangat suka bergaul dengan Han Cie Hun, yang usianya
sepantaran. Sejak berkenalan, mereka merasa sangat cocok
satu dengan lain, hingga tak suka ia berpisahan...
-o0dw0o-
Hee Leng Song tengah mengaburkan kuda putihnya ketika
dengan tiba-tiba ia mendengar suara memanggil di sebelah
belakangnya, "Nona Hee, tunggu sebentar! Aku si pengemis tua
hendak ada bicara denganmu!"
Ia lantas menoleh dan melihat si pengemis tukang mabuk.
Dengan di punggungnya tergendol buli-bulinya yang besar,
pengemis itu bernapas mengorong, meski demikian, dengan
lekas dia sudah menyandak. Ia menjadi heran, ia mengawasi
terus.
"Kudaku lari keras sekali, kenapa pengemis tua ini dapat
menyusul aku?" ia kata di dalam hati. "Dengan begini bukankah
ternyata dalam ilmu ringan tubuh dia melebihkan Khong Khong
Jie?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Nona itu berpikir demikian tanpa ia ketahui, meski benar


barusan dia telah mengambil jalan memotong, sebab dia kenal
baik keadaan tempat yang dilalui ini.
Leng Song tidak puas. Ia sebal untuk orang punya bau arak.
"Ada urusan apa Kie Lo-cianpwe?" ia tanya terpaksa.
"Kabarnya nona mau pergi membunuh See-gak Sin Liong
Hong-hu Siong, benarkan itu?" Kie Tie tanya langsung.
"Benar!" jawab Leng Song, terus terang. "Dia telah
melakukan banyak kejahatan, maka aku menerima perintah
ibuku untuk menolong dunia Kang Ouw menyingkirkan
ancaman malapetaka!"
"Hong-hu Siong tidak dapat dibinasakan!" kata Kie Tie.
Kembali Leng Song heran.
"Kenapa tak dapat?" ia tanya.
"Tuduhan ibumu bahwa dia telah melakukan perbuatan-
perbuatan busuk itu, tak ada satu jua yang benar-benar
dilakukan tangannya sendiri!"
Nona Hee menjadi gusar, hingga ia melupakan ia lagi
berhadapan dengan seorang lo-cianpwe, yang martabatnya
jauh terlebih tinggi.
"Ngaco!" ia membentak. "Menurut kau, mustahilkan ibuku
mendusta?"
"Ibumu juga bukannya mendusta," kata Kie Tie.
Ia tidak menjadi tidak senang.
"Didalam urusan kamu ini telah terbit salah faham!
Musuhnya ibumu bukannya dia!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Memang juga ibuku sendiri tak langsung bermusuh


dengannya!" kata Leng Song. "Sebenarnya dia telah mencelakai
bukan sedikit orang, maka juga ibu berniat mesti
membunuhnya! Aku lihat, yang salah mengerti ialah kau!"
"Keliru! Keliru! Keliru...!" kata Kie Tie berulang-ulang.
Leng Song heran, ia mengawasi. Ia melihat sikap orang luar
biasa sekali.
"Kenapa keliru?" ia menegaskan.
Si pengemis tukang tenggak susu macan menghela napas.
"Ah...!" katanya. "Soal ini tak dapat aku bicara jelas
denganmu. Sekarang ini di mana adanya ibumu? Hendak aku
bicara sendiri dengannya!"
"Ibuku tak menemui orang luar!" jawab si nona tawar.
"Kalau kau mau bicara, bicara saja dengan aku!"
Kie Tie mengerutkan kening. Ia bersangsi.
"Jikalau kau tidak suka bicara padaku, ya sudah!" kata Leng
Song. "Nah, aku hendak lekas-lekas melanjuti perjalananku!"
Nona ini menarik tali les kudanya atas mana si kuda putih
menggeraki keempat kakinya.
"Baiklah!" Kie Tie berkata, nyaring. "Baik, akan aku bicara
denganmu!"
Leng Song menahan pula kudanya. Dengan sikap ogah-
ogahan atau tak sabaran, ia berpaling.
"Kau bicaralah!" katanya. "Dapat aku mendengar, tak usah
kau bicara keras-keras!"
Kie Tie mengawasi, dia kata, "Hong-hu Siong tidak ada
sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, orang yang

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berlaku tak selayaknya terhadap ibumu itu ialah seorang


lainnya. Dia..."
"Bagaimana?" Leng Song menyelak, tak sabaran.
"Dia itu, walaupun dia berhati tak lurus, dia tak dapat
dibunuh olehmu!"
Nona Hee tertawa tawar.
"Benar-benar aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu
itu!" katanya. "Bagus benar! Hong-hu Siong itu orang baik, dia
tak dibunuh! Lalu itu orang lainnya, dia orang jahat, tetapi dia
tak dibunuh juga! Bagaimana aneh perkataan kau ini?
Sudahlah, tak usah kau bicara lebih jauh! Aku tahu kau dengan
Hong-hu Siong satu komplotan!"
Kie Tie sabar sekali.
"Tak dapatkan kau mendengari lagi satu perkataanku?" dia
tanya.
Mendadak jago tua ini mencelat ke depan hingga tahu-tahu
dia sudah menyambar buntut kuda si nona. Sambil menarik
binatang tunggangan itu dia menanya, "Tahukah kau, nona,
kau she apa? Kau bukannya she Hee dan ayahmu juga
bukannya Hee Seng To!"
Leng Song gusar sekali, hingga ia sudah lantas menghunus
pedangnya.
"Angin busuk!" ia membentak sengit. "Jikalau kau mau main
gila, pergilah ke lain tempat, tak dapat aku mendengar
suaramu yang bau busuk!"
Perkataan itu ditutup dengan serangan pedang yang cepat
sekali.
Kie Tie tidak mau melayani, ia melepaskan cekalannya
sambil ia berlompat mundur.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru orang menyingkir, si nona mengeprak kudanya untuk


dikasih kabur. Selang tak lama, ia sudah lari jauhnya belasan lie
karena kudanya itu lari sangat pesat. Ia mendongkol dan gusar,
tetapi ia pun heran hingga timbul keragu-raguannya.
"Dia mabuk arak tetapi dia tak mabuk hingga lupa daratan,"
ia berpikir.
"Mustahilkan jauh-jauh dia menyusul aku cuma untuk
mengasih dengar ocehan belaka? Mungkinkah dia bermaksud
benar-benar? Ah, tak mungkin... Setiap orang mengatakan
romanku mirip dengan ibuku, maka itu kenapa aku bukannya
anak ibuku itu? Ibu mempunyai cuma seorang suami, kenapa
ayahku bukannya Hee Seng To? Hm! Tak perduli si pengemis
bau cuma ngaco belo, dia tetap sudah menghina ibuku!"
Meski demikian, walaupun ia menyangsikan Kie Tie, Nona
Hee tetap bersangsi. Maka lekas-lekas ia mengambil keputusan,
"Toan Tayhiap menjadi sahabat kekal ibuku, baik aku tunggu
sampai aku bertemu dengannya, nanti aku sampaikan padanya
kata-kata si pengemis edan ini, hendak aku lihat apa kata
tayhiap..."
Karena itu, Leng Song mesti menyusul Toan Kui Ciang dan
Touw Sian Nio, suami isteri itu yang pikirannya sedang
terganggu soal keselamatan anak mereka. Mereka melakukan
perjalanan terus menerus, tak siang tak malam. Maka pada
suatu hari tibalah mereka di kaki gunung Giok Sie San.
Dengan Lantas Sian Nio diganggu oleh kesangsiannya.
Khong Khong Jie menjadi musuh besar keluarganya - Keluarga
Touw - sekarang dia hendak pergi kepada musuh itu untuk
minta pulang anaknya! Ia merasa malu dan likat, sedang juga,
hatinya diliputi kedukaan dan kemarahan besar.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang dapat mengerti pikiran sang isteri, di tengah jalan


ia sudah mengasih penjelasan dan hiburan, belum dapat ia
membikin lega hati isterinya itu.
Demikian mereka membuat perjalanan, sampai mereka tiba
di gunung Giok Sie San. Gunung itu tinggi dan penuh salju,
yang tak putusnya, hingga dipandang dari jauh, puncaknya
yang putih mirip sebuah tiang kemala yang menjulang
menembusi mega. Pula jalanan mendaki gunung sukar sekali,
banyak batunya yang besar dan luar biasa bentuknya.
Dari mulut gunung terlihat sebuah selat dan lembah yang
panjang, tak nampak ujungnya. Penglihatan selat itu
menyeramkan.
"Engko," kata Sian Nio, yang timbul kecurigaannya. "Kalau
Khong Khong Jie mengandung maksud buruk, dan dengan jalan
ini dia menjebak kita ke dalam perangkapnya, pasti kita bisa
celaka tanpa ada yang ketahui...!"
"Kau terlalu bercuriga, adikku," kata Kui Ciang, menghibur.
"Khong Khong Jie terlebih liehay daripada kita, jikalau benar dia
berniat membikin kita mati, buat apa dia memilih jalan ini?"
"Tapi," kata si isteri, yang kecurigaannya tak mudah lenyap,
"Tapi ingat gunung Giok Sie San ini terpisah jauh delapan ratus
lie dari gunung Hui Houw San, kenapa dia bukan ambil tempat
yang dekat hanya memilih tempat jauh ini guna
menyembunyikan anak kita?"
Pertanyaan ini benar dan Kui Ciang juga tak mengerti, akan
tetapi guna membujuki isterinya, ia menjawab, "Mungkin dia
mau pertontonkan ilmu ringan tubuhnya, supaya dia dapat
menaklukkan kita..."
Khong Khong Jie itu, habis menculik anaknya Kui Ciang,
lantas di hari keduanya, lewat tengah hari, berangkat ke Hui

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Houw San dimana cfia mengajukan tantangannya. Maka itu,


kalau benar dia telah pergi ke Giok Sie San, hingga dia mesti
melakukan perjalanan pergi pulang demikian cepat, sungguh
ilmu ringan tubuhnya luar biasa sekali. Touw Sian Nio
menggeleng kepala.
"Aku tidak percaya dia di dalam tempo satu malam dan satu
hari dapat melakukan perjalanan seribu lie lebih!" katanya.
"Aku lebih percaya kalau dia cuma memancing kita datang ke
mari!"
"Kalau tidak demikian, mungkin gunung inilah rumahnya,"
Kui Ciang membujuk pula. "Boleh jadi sekali dia tidak percaya
Ong Pek Thong maka dia kirim orangnya membawa anak kita
pulang ke rumahnya ini, untuk disembunyikan di sini."
"Begitulah kau percaya Khong Khong Jie?" sang isteri tanya.
"Kita sudah sampai di sini, kita percaya atau tidak
kesudahannya sama saja!" kata sang suami. "Apa daya
sekarang? Aku percaya kita dapat naik ke atas puncak dalam
tempo setengah harian. Mari kita naik terus, sampai di atas
baru kita lihat, nanti kita mandapat tahu segala apa!"
"Sebenarnya aku tidak tahu Giok Sie San begini jauh," kata
Sian Nio ragu-ragu, "Maka juga selama di sepanjang jalan,
makin lama kecurigaanku makin besar. Aku lihat, pastilah
perjalanan kita ini perjalanan sia-sia belaka. Taruh kata benar
Khong Khong Jie tidak berniat mencelakai kita, sedikitnya dia
pasti sengaja hendak mempermainkannya!"
"Adik Sian," kata sang suami, sabar, "Aku minta janganlah
kau pandang segala urusan dari sudut buruknya..."
Belum berhenti kata-kata Kui Ciang atau mereka segera
mendengar suara yang menggelegar keras, hingga mereka
terkejut dan lantas mengangkat kepala, melihat ke atas.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Untuk kagetnya mereka, mereka mendapatkan sebuah batu


besar lagi menggelinding turun ke arah mereka. Dengan lantas
mereka lompat berkelit.
Mulanya tayhiap itu sangka itu hanya batu yang
menggelinding secara kebetulan saja, tak tahunya, habis itu,
lantas terdengar suara lainnya, lantas mereka melihat jatuhnya
beberapa batu lain saling susul!
"Ada orang di atas!" Sian Nio berseru.
Benarlah Nyonya Toan ini. Ketika beberapa buah batu itu
jatuh terus tanpa meminta korban, di atas gunung terlihat
munculnya beberapa orang.
"Telur tolol!" berteriak seorang diantaranya. "Siapa suruh
kamu datang sendiri masuk dalam jaring perangkap? Kamu
sudah memasuki tempat kematian, apakah kamu masih
memikir buart hidup lebih lama pula?"
Toan Kui Ciang jadi sangat gusar, maka ia lantas berteriak,
"Khong Khong Jie! Aku menganggap kaulah seorang laki-laki
sejati, tak tahunya kau begini hina dina! Marilah kau perlihatkan
dirimu!"
Dari atas itu terdengar ejekan, "Untuk membereskan kamu
dua butir telur apa kami membutuhkan bantuan Khong Khong
Jie?"
Kata-kata itu diiring dengan tertawa dingin.
Kui Ciang menduga orang ialah orang suruhannya Khong
Khong Jie, maka dalam murkanya ia tertawa dingin dan kata,
"Sungguh tidak tahu malu yang kamu menggunai ini cara
sangat rendah! Apa perlunya kau menyembunyikan diri?"
Sian Nio sangat mendongkol.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Buat apa melayani segala manusia hina itu?" kata dia. "Mari
kita menghajarnya!"
Lantas sang nyonya ini menggunai biang panahnya, untuk
menyerang dengan pelurunya!
Rombongan itu berada di atas gunung yang tinggi, maka itu,
peluru panahnya Sian Nio mesti menyerang jauh sekali.
Sebaliknya mereka itu dari tempat terlebih tinggi, leluasa
menyerang dengan butir-butir batunya, yang turunnya gencar.
Sian Nio gusar sekali, ia berlompat. Akan tetapi ia segera
ditarik Kui Ciang, suaminya. Ketika itu sebuah batu besar jatuh
secara hebat, hampir mengenai nyonya itu. Ketika jatuh di
kobakan dengan suara sangat berisik, lumpur pun muncrat
berhamburan, hingga suami isteri itu tak luput.
"Sungguh berbahaya!" kata Sian Nio, yang mengeluarkan
keringat dingin.
"Aku yang menyebabkan kesulitan kau ini..." kata Kui Ciang,
menyesal. "Inilah lantaran aku terlalu percaya orang!" Sian Nio
menggertak gigi.
"Sudah kepalang, mari kita maju terus!" kata isteri yang setia
itu. "Tak perduli kita menghadapi bahaya!"
Kui Ciang mengiringi isterinya itu, maka dengan tak
menghiraukan serangan batu, mereka maju bersama.
Di tanjakan gunung, tumpukan salju terkena getaran, selagi
angin keras sekali, getaran membuatnya pecah melekah, lalu
jatuh runtuh, meluruk merupakan kepingan-kepingan es yang
besar. Hebatnya itu tak kalah dengan jatuhnya butiran-butiran
batu.
Kui Ciang mendapat beberapa luka lecet karena ia selalu
melindungi isterinya. Syukur itu tidak membahayakan. Terpaksa

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia ajak isterinya itu bersembunyi di tempat yang gerohong. Ini


berbahaya. Musuh melihatnya dan mengincar dengan timpukan
batu ke arah mereka. Beberapa buah batu hampir mengenai.
Mereka menjadi letih, karena beberapa batu, yang menimpa ke
arah mereka, mesti disampok mental.
"Syukur belum gempa salju..." kata Kui Ciang, "Hanya..." Ia
berhenti sebentar, ia mendongkol sekali. "Sungguh
menyebalkan! Apakah benar kita mesti membuang jiwa di sini?"
Memang, kalau sampai gempa salju, pasti akan jatuh
meluruk ke bawah, salju tentu akan mengurung segala
gerohong atau tempat rendah. Dengan begitu, mana dapat
mereka melawan salju?
Touw Sian Nio tertawa meringis, katanya, "Kita sudah
menjadi suami isteri sepuluh tahun, kalau aku dapat mati
bersama-sama berbareng di dalam satu hari, satu bulan dan
satu tahun, akan aku mati tanpa penasaran...!"
Selagi berlindung itu, Kui Ciang mendapatkan serangan batu
mulai tak gencar lagi.
"Kelihatannya kita belum boleh putus asa," kata ia. "Mari kita
keluar, untuk melihat. Tak dapat kita manda binasa tanpa
berdaya..."
Baru saja suami isteri ini keluar dari tempatnya berlindung,
telinga mereka lantas mendapat dengar suara hirup pikuk di
atas gunung, Mereka lantas dongak, hingga mereka melihat
orang seorang perempuan tengah menyerang kalang kabutan
pada musuh. Segera mereka memburu najk.
"Nona Hee di sana?" Kui Ciang berteriak menanya.
"Toan Peehu di sana?" ada jawaban wanita di atas itu.
"Lekas naik, marilah kita menyerang musuh!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang menjadi bersemangat.


"Mari!" ia mengajak isterinya.
Hee Leng Song melihat suami isteri itu bagaikan terkurung,
ia lantas mendaki dari lain arah, ia tiba di atas tanpa rintangan,
maka itu dapat ia lantas menyerang musuh, hingga mereka itu
tak dapat terus menghujani Kui Ciang berdua dengan batu.
Itulah yang membikin hujan batu berkurang.
Sian Nio mendaki cepat, begitu berada di atas, dengan
pelurunya ia menyerang seorang musuh di depan Leng Song.
Tak ampun lagi, musuh itu terhajar jitu dan roboh. Membarengi
itu. Nona Hee menikam terguling satu musuh lainnya. Dengan
naiknya Nyonya Toan, musuh menjadi terkepung dari dua
jurusan. Kui Ciang pun sudah lantas menyusul isterinya.
Seorang kepala bandit lantas berteriak-teriak dengan kata-
kata rahasianya, mengisyaratkan ada bahaya.
Sian Nio menyerang terus, hingga lagi beberapa penjahat
pecah kepalanya.
Menampak demikian, Kui Ciang teriaki isterinya, "Hajar saja
jalan darah tiauw-hoan! Kita membutuhkan mulut yang hidup!"
Dengan tiga butir pelurunya, Sian Nio mengincar tiga kepala
penjahat. Dengan beruntun semua pelurunya itu meluncur ke
arah sasarannya masing-masing.
Seorang penjahat melihat bahaya, ia bisa menolong dirinya
dengan jalan menangkis, tetapi dua kawannya, yang di kiri dan
kanannya, menjadi kurban. Yang satu terhajar lengannya, yang
lain kakinya, tepat jalan darah tian-hoan di pahanya menjadi
sasaran, tanpa ampun dia roboh seketika.
Si kepala penjahat cerdik, ia lantas menendang kawannya
yang terluka itu hingga terguling ke bawah, ia sendiri menyusul

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan menjatuhkan diri, buat bergelindingan turun. Ia


menjadi nekad hingga ia tak menghiraukan bahaya lagi.
Contoh kepala penjahat itu contoh bagus, ia lantas ditelad
oleh kawanan berandal, semua lantas lari ke pinggiran, untuk
pada menjatuhkan diri, hingga Leng Song tak dapat mengejar
pada mereka itu.
Baru saja musuh kabur, atau Kui Ciang berteriak, "Celaka!
Salju gempal!"
Inilah sebab ia merasa kakinya bergerak tidak keruannya,
yang mana disusul dengan suatu bunyi dahsyat. Tapi sambil
berteriak itu, ia lompat ke atas, untuk lari naik.
Sian Nio sudah lantas berlari naik juga.
Dafi atas salju meluruk ke bawah. Itulah hebat yang
kawanan penjahat, yang tak keburu menyingkir lebih jauh.
Maka mereka itu, satu demi satu, kena teruruk, hingga
terdengar saja jeritan menyayati hati dari mereka.
"Sayang, sayang..." kata Kui Ciang, yang hatinya pun
terharu, sebab tak tega ia mendengar jeritan itu, walau pun
itulah jeritan musuh. "Sayang apa?" tanya Sian Nio heran.
"Sayang tak ada musuh yang kena ditangkap hidup supaya
kita bisa mengorek keterangan dari mulutnya," sahut sang
suami.
"Tak usah ditanya lagi, mereka pasti kambratnya Khong
Khong Jie!" kata sang isteri. "Engko, apakah sampai di saat ini
kau tetap mempercayai dia?"
Kui Ciang berdiam. Ia terus ragu-ragu. Katanya di dalam
hati, "Mereka ini termasuk golongan kelas dua atau kelas tiga.
Mustahil Khong Khong Jie malu turun tangan sendiri, untuk
mencelakai aku, mestinya ia pakai tenaga orang yang liehay!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa ia pakai sebangsa mereka ini yang tidak punya


guna?.Hanya, kalau mereka bukan suruhan Khong Khong Jie,
kenapa mereka ketahui aku beramai mau mendaki gunung Giok
Sie San?"
Ketika itu Leng Song datang menghampirkan. Nona itu
menyelamatkan diri dengan menyingkir di lain tempat.
Sian Nio telah mendengar dari suaminya hal Nona Hee, ia
tahu orang menjadi puterinya Pek-ma Lie-hiap Leng Soat Bwe,
maka ia menjadi kagum, dalam hatinya ia memuji, "Sungguh
seorang nona cantik! Toako kata dia mirip ibunya, tak heran
dulu hari ibunya membikin dunia Kang Ouw menjadi tergila-
gila!"
"Eh, Leng Song!" Kui Ciang menegur. "Bagaimana kebetulan,
kau pun datang ke sini? Sungguh berbahaya! Syukur ada kau!"
"Toan Peehu, kau telah terpedayakan Khong Khong Jie!"
kata Nona Hee. "Khong Khong Jie bersama ayah dan anak
Keluarga Ong itu sudah berkongkol, mereka sudah bersepakat
untuk membantu An Lok San yang lagi siap sedia untuk
berontak.
Kui Ciang terkejut.
"Benarkan itu?" dia tanya.
"Tak salah lagi, peehu!" sahut si nona. "Aku telah
mendengar dan melihatnya sendiri! Bahkan mereka itu sudah
mulai melaksanakannya!"
Leng Song lantas memberikan penuturan perihal peristiwa di
lembah Liong Bin Kok, bagaimana mulanya ia mendengar
pembicaraan orang lalu besoknya ia turut di dalam
pertempuran di dalam lembah itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku kuatir mereka di sini nanti mencelakai kau, peehu,


maka aku lekas-lekas menyusul kemari," si nona
menambahkan.
"Nah, apa kataku?" kata Sian Nio pada suaminya. "Kau tetap
masih percaya Khong Khong Jie?"
Kui Ciang berdiam. Nyatanya di dalam urusan ini terselip
suatu kekeliruan.
Ketika malam itu Leng Song mendapat dengar pembicaraan
di Liong Bin Kok, yang dengan Ong Pek Thong ayah dan anak
bukan Khong Khong Jie hanya Ceng Ceng Jie. Di situ hadir Thio
Tiong Cie dan lainnya. Benar An Lok San minta bantuan
mereka.
Waktu itu si nona tidak mendengar perkataannya Ong Pek
Thong bahwa untuk sementara Pek Thong mau sembunyikan
urusan dari Khong Khong Jie. Si nona mau percaya saja Ceng
Ceng Jie dan Khong Khong Jie, yang menjadi suheng dan
sutee, kakak beradik seperguruan, sama kelakuannya.
Pula habis bertempur di Liong Bin Kok itu ia sudah tergesa-
gesa berangkat menyusul Toan Kui Ciang, ia menjadi tidak
berkesempatan mendengar omongan Han Tam untuk
disampaikan pada Khong Khong Jie itu.
Leng Song kuatir Kui Ciang nanti mendapat susah di Giok Sie
San ini disebabkan ia bercuriga terhadap sikapnya Ong Liong
Kek. Ialah Ong Liong Kek sudah tidak mau memberitahukan ia
kemana arah tujuan kepergiannya Kui Ciang, bahkan Liong Kek
sengaja mendustakan ia bahwa mungkin Kui Ciang berangkat
ke Tiang-an, hingga ia mesti melakukan perjalanan jauh secara
sia-sia.
Kuda putihnya sudah kabur tiga ratus lie lebih tetapi di jalan
ke Tiang-an itu ia tak lihat paman she Toan itu, karena mana,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia lekas kembali ke Liong Bin Kok, sampai besokannya di waktu


pertempuran, ia mendengar dari Tiat Mo Lek halnya Kui Ciang
telah pergi mencari Khong Khong Jie
Ia masih menegasi Ong Liong Kek, masih anaknya Ong Pek
Thong itu tak mau omong secara terus terang, hingga ia
menjadi masgul berbareng mendongkol. Nona Hee tak tahu
persekutuannya Pek Thong ayah dan anak. Mereka itu
melakukan segala apa diluar tahunya Khong Khong Jie.
Pek Thong dan anaknya ketahui baik sekali Toan Kui Ciang
menjadi menantu Keluarga Touw, mereka kuatir dibelakang
hari Kui Ciang nanti mencari balas untuk keluarga mertuanya
itu, akan tetapi di muka Khong Khong Jie, mereka terpaksa
membiarkan Kui Ciang dan Sian Nio berlalu dengan merdeka.
Baru kemudian, seberlalunya Khong Khong Jie, mereka
lantas bekerja. Mereka menulis surat dan mengirimnya dengan
perantaraan burung dara, memberitahukan cabang di Liang-ciu,
supaya orangnya mengatur "tentara sembunyi" di dekat Giok
Sie San, guna merintangi dan membinasakan Kui Ciang sami
dan isteri itu.
Di antara Leng Song dan Liong Kek ada perkenalan yang
erat sekali, karena itu, waktu si nona ketahui jelas perihal Ong
Liong Kek, ia berdua, cuma kepada Kui Ciang ia tak mau
menyebut-nyebut namanya pemuda she ong itu.
Kui Ciang menjadi bersangsi. Telah cukup kesaksian hal
perbuatannya Khong Khong Jie. Isterinya menyangsikan dan
Leng Song memberikan kesaksiannya.
Nona Hee tak dapat diragu-ragukan. Toh ia heran. Bukankah
Khong Khong Jie gagah perkasa? Kenapa sekarang Khong
Khong Jie bersikap rendah, untuk menghadapi ia dan isterinya,
dia main gila seperti itu?

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Wajah Sian Nio menjadi guram. Ia berkuatir dan berduka.


"Kelihatannya anak kita terancam bahaya..." berkata ia.
"Khong Khong Jie telah sengaja memperdaya kita, mana
mungkin dia sudi membayar pulang anak kita itu?"
Kui Ciang pun berkuatir dan bingung, akan tetapi dia dapat
mengambil keputusan.
"Sekarang ini baik kita cari Khong Khong Jie dulu!" katanya.
"Kita nanti bicara dengannya!"
"Memang tidak bisa lain," kata Sian Nio. "Jikalau aku tidak
dapat pulang anakku, aku tidak mau hidup pula, hendak aku
mengadu jiwa dengannya!"
Leng Song pun setuju buat mencari Khong Khong Jie, maka
ia suka mengikuti. Dengan Kui Ciang jalan di muka, bertiga
mereka mendaki gunung, untuk memanjat puncak Giok Sie
San. Mereka tidak menghadapi rintangan apa-apa. Ketika
matahari mulai doyong ke barat, mereka telah mencapai
puncak tertinggi.
Luar biasa puncak gunung itu. Di situ kedapatan pohon-
pohon bunga dan rumpun rumput. Di situ ada burung-burung
dan binatang kaki empat. Di situ pun terdapat beberapa
sumber air hangat, hingga hawanya menjadi lebih hangat
daripada di bawah gunung.
Yang paling dulu terlihat Kui Ciang ialah sebuah rumah suci
kaum tosu atau imam. Dengan lantas pada hatinya timbul
pengharapan. Lekas ia menghampirkan kelenteng itu dan
mengetuk pintu.
Ia pun berkata nyaring, "Aku si orang she Toan
memenuhkan janji datang kemari! Aku mohon tuan rumah suka
keluar menemui aku!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketukan pintu itu, kata-kata itu, tak memperoleh jawaban.


Tempo Kui Ciang mengulanginya, tetapi tidak ada suara apa-
apa dari dalam kelenteng.
Sian Nio tidak sesabar suaminya. Maka dia kata sambil
tertawa dingin, "Dia telah melakukan kesalahan, mana dia
berani menemui kita? Sampai waktu ini, buat apa kita masih
berlaku sungkan terhadapnya? Terjang saja pintunya!"
Kui Ciang merangkap kedua tangannya, untuk memberi
hormat ke arah pintu.
"Khong Khong Jie!" katanya, nyaring. "Jikalau kau tetap tidak
mau keluar, aku minta janganlah kau sesalkan aku si orang she
Toan berlaku tidak hormat padamu!"
Benar-benar tidak ada penyahutan, pintu tak terbuka dari
dalam. Maka itu, tanpa berayal lagi, Kui Ciang menyerang
dengan kepalan Kim Kong Ciang!
Dengan bersuara nyaring dan berisik, kedua daun pintu
menjeblak terbuka.
Touw Sian Nio sudah lantas bersiap dengan panah
pelurunya, sedang Leng Song menghunus pedangnya. Kui
Ciang bertindak masuk dengan diiring isterinya dan nona itu.
Tiba di dalam, mereka bertiga mendapatkan kelenteng
kosong.
"Mungkinkah dia jeri dan kabur?" tanya Leng Song, ragu-
ragu.
Kelenteng itu tidak besar, di dalam tempo singkat, Kui Ciang
bertiga dapat menggeledah seluruhnya. Di dalam kamar yang
terakhir, Sian
Nio menemukan sebuah ayunan kosong serta beberapa helai
pakaian wanita.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mendadak dia menangis dan berkata, "Anak kita telah


dicelakai...!" Kui Ciang berlaku tenang.
Buat apakah dia mencelakai seorang bayi?" katanya, tetapi
suaranya dalam. "Memang benar anak kita pernah berada di
sini. Itulah bukti bahwa dia tidak bicara dusta..."
Tapi Sian Nio gusar.
"Anak kita tidak ada, Khong Khong Jie tidak ada juga!"
katanya nyaring. "Taruh kata anak kita benar tidak dibinasakan,
tetapi sudah pasti dia telah menyembunyikannya pula di lain
tempat! Engko, dia menghendaki jiwa kita, kenapa kau masih
bicara begini tentang dia?"
Sudah sepuluh tahun suami isteri ini menikah dan hidup
bersama rukun dan damai, saling menyinta dan saling
menghormati. Inilah pertama kali Sian Nio bicara keras
demikian rupa terhadap suaminya itu.
Kui Ciang tidak menjadi kurang senang atau gusar. Ia sabar
sekali. Ia dapat memahami hati isterinya itu.
"Aku memikir dari sudut lain," kata ia tenang. "Jikalau benar-
benar Khong Khong Jie tidak membayar pulang anak kita, pasti
aku mengadu jiwaku dengannya!"
Habis berkata suami ini mengawasi sekitarnya.
"Kelihatannya ada seorang wanita yang mengurus anak
kita," katanya kemudian. "Seprai di dalam ayunan ini masih
basah bekas air kencing, rupanya belum lama orang berlalu dari
sini. Sekarang cuma belum dapat diketahui wanita itu pernah
apa dengan Khong Khong Jie."
"Percuma kau memikirkan ini!" kata Sian Nio, yang hatinya
cemas. "Paling benar kita cari Khong Khong Jie si manusia
rendah itu, baru kita akan mendapat kepastian!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Baru Nyonya Toan berhenti bicara, atau dari luar mereka


bertiga mendengar ini suara nyaring, "Benar-benar Toan
Tayhiap seorang yang dapat dipercaya! Aku minta dimaafkan
yang aku telah melanggar janji!"
Kui Ciang lantas berseru, "Itulah Khong Khong Jie!"
Tanpa menanti lagi, Sian Nio sudah lantas lompat, untuk
terus lari keluar. Kui Ciang dan Leng Song segera menyusul.
Di luar tampak Khong Khong Jie seorang diri dan kedua
tangannya kosong. Tidak ada bayinya di tangannya itu.
Bukan main gusarnya Sian Nio.
"Bagus ya!" teriaknya. "Sudah kau menipu kami datang ke
gunung ini, sekarang kau sembunyikan juga anak kami!"
Dalam murkanya, Nyonya Toan segera menyerang dengan
tiga butir pelurunya.
Khong Khong Jie berlaku celi dan gesit, dengan lincah ia
berkelit dari tiga peluru maut itu.
"Sabar, sabar!" katanya. "Tahan! Mari kita bicara dulu!"
Kui Ciang menyandak.
"Adik Sian Nio, sabar!" kata suami itu. "Mari kita dengar dulu
apa katanya!"
Khong Khong Jie lantas berkata, "Untuk sementara belum
dapat aku membayar pulang anak kamu! Aku minta kamu
jangan kuatir apa-apa, kamu boleh tetapkan hati kamu! Anak
kamu itu selamat tidak kurang suatu apa, dan aku jamin
keselamatannya!"
"Kenapa kau tidak dapat segera membayar pulang?" Kui
Ciang tanya.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong Khong Jie nampak jengah. "Sebab... sebab..." katanya


sukar.
"Sebab apa?" bentak Sian Nio. "Jikalau hari ini kau tidak
membayar pulang anakku, pasti aku tidak mau mengerti!"
Khong Khong Jie mengulapkan kedua tangannya.
"Pendeknya, aku jamin!" katanya. "Pasti aku nanti membayar
pulang anakmu! Hanya sekarang, aku tidak berdaya!"
"Nanti? Nanti kapan?" tanya Kui Ciang.
"Itu... itu..." kata Khong Khong Jie, ragu-ragu, "Itu tak dapat
aku pastikan..."
"Kau bersangsi!" bentak Kui Ciang. "Kau bersangsi apakah?
Sebenarnya, ada apakah sebabnya?"
"Toan Tayhiap, kali ini aku menyesal terhadapmu!" kata
Khong Khong Jie. "Aku harap kau jangan menanyakan terlebih
jauh! Jikalau kau percaya aku, mari kita mengikat tali
persahabatan. Aku bilang, anakmu berada di tangannya satu
orang, hal itu ada baiknya, tidak ada jahatnya!"
Sian Nio menjadi sangat gusar.
"Siapa kesudian percaya lagi obrolan setanmu!" dia
membentak. "Oh, manusia hina dina yang tak tahu malu!
Kebetulan kami tidak mampus tercelakakan olehmu, daripada
nanti kami dibikin celaka lebih jauh dengan perbuatanmu yang
sangat rendah, baik sekarang saja kami serahkan jiwa kami
kepadamu!"
Khong Khong Jie gusar bukan kepalang. Dialah seorang
kosen yang angkuh, yang kepalanya besar. Seumurnya dia
belum pernah terhinakan orang. Maka tubuhnya menjadi
bergemetaran.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hai, perempuan busuk, mengapa kau berani lancang


mendamprat aku?" dia berteriak.
Kui Ciang pun telah timbul amarahnya, maka itu, melihat
orang berani menghina isterinya, ia lantas menghunus
pedangnya.
"Kenapa jikalau kami mencacimu?" ia tanya. "Bukankah kau
pantas dicaci maki?"
Khong Khong Jie gusar hingga dia berkaokan.
"Bagus, Toan Kui Ciang, bagus!" teriaknya. "Kau pun
mencaci aku! Kenapa aku pantas dicaci?"
"Aku mendamprat karena kau tak tahu benar tak tahu
salah!" sahut Kui Ciang. "Karena kaulah si manusia jahat yang
membantu Kaisar Tiu melakukan kejahatan! Aku mencaci kau
karena kau berbuat jahat, kau toh menyangkal! Kaulah satu
manusia rendah! Kaulah si bangsat cilik sangat hina dina dan
sangat tak tahu malu!"
Wajahnya Khong Khong Jie menjadi merah padam.
"Toan Kui Ciang, kau mesti berlutut padaku dan
mengangguk-angguk meminta ampun!" dia berteriak. "Kalau
tidak, jangan kau harap kau nanti dapat turun dari gunung ini!"
Kui Ciang tertawa dingin.
"Sekalipun kau menekuk lutut dan manggut padaku
berulang-ulang, aku juga tidak akan mengasih ampun
padamu!" Kui Ciang membaliki. "Tidak salah, dalam ilmu silat
kau jauh terlebih liehay daripada aku, akan tetapi satu laki-laki,
mati tinggal mati, untuknya tak ada yang ditakuti! Meski aku
terbinasa di tanganmu, hendak aku mencaci terus padamu!"
"Baik!" Khong Khong Jie berteriak. "Karena kau menganggap
aku satu manusia jahat, jangan kau sesalkan aku yang aku
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak menaruh belas kasihan lagi! Hayo, kau makilah pula


padaku!"
Mendadak tubuh jago ini mencelat dan sebelah tangannya
meluncur ke muka orang.
Hebat serangan itu. Akan tetapi Toan Kui Ciang sudah siap
sedia, la lantas saja berkelit. Karena pedangnya sudah dihunus,
ia juga lantas balas menyerang, bahkan terus sampai tiga kali
beruntun tefhpo tabasannya yang pertama gagal begitu pun
yang kedua kali.
Touw Sian Nio juga tidak diam saja. Ia lompat maju dengan
bacokannya.
Liehay Khong Khong Jie. Ia lolos dari serangan berulang-
ulang dari Kui Ciang, ia bebas dari bacokan Sian Nio, ketika ia
berkelit seraya terus menyambar ke arah Kui Ciang, meskipun
tayhiap itu berkelit, tak urung punggungnya kena terserempet
tangan terbuka hingga dia merasakan sangat panas dan nyeri.
Sebenarnya Khong Khong Jie mau menghajar muka. Syukur
Kui Ciang lolos, kalau tidak, dia pasti malu bukan main.
Dalam murkanya Kui Ciang serukan isterinya, "Adik Sian, kau
benar! Untuk melayani ini bangsat sangat jahat, kita cuma
harus mengadu jiwa!"
Ketika itu Khong Khong Jie telah lompat mencelat, ia hendak
membalas menyerang. Karena berlompat itu, ia menjadi turun
dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Sementara itu
tangannya sudah menghunus pisau belatinya yang tajam luar
biasa.
Tanpa menanti menginjak tanah, ia menangkis senjatanya
suami isteri itu. Ia mengeluarkan kepandaiannya, karena
niatnya menghajar terlepas pedang dan goloknya kedua lawan
itu.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang sudah merantau semenjak dia masih muda sekali,


sudah sering dia melakukan pertempuran, dari itu, benar dia
kalah gagah dari Khong Khong Jie akan tetapi dia menang
pengalaman, maka juga, melihat orang mencelat tinggi, dia
sudah lantas dapat maksudnya lawan itu. Dia lantas
menggeraki pedangnya dalam satu gertakan, lantas dia
membarengi golok isterinya.
Satu bentrokan tak dapat dielakkan. Itulah beradunya pisau
belati dengan golok si nyonya. Bentrokan itu dibarengi dengan
suara robek!
Kui Ciang dan isterinya mundur masing-masing tiga tindak.
Sian Nio terkejut. Goloknya, golok bian-to yang sangat tajam,
telah "terlukakan" pedang lawannya.
Sebaliknya, Khong Khorig Jie turun di tanah dengan kaget
dan mendongkol. Ujung bajunya telah kena ditublas pedang Kui
Ciang. Syukur ia masih sempat berkelit, kalau tidak,
tangannyalah yang bakal terluka.
Jurus ini menyebabkan kedua pihak meluap kemurkaannya.
Maka ketika mereka merapat pula, mereka mengeluarkan
kepandaiannya masing-masing. Khong Khong Jie gusar sebab
merasa terhina, suami isteri itu nekad karena hendak membelai
anak mereka. Maka pertempuran ini jauh lebih dahsyat
daripada pertempuran mereka di gunung Hui Houw San.
Kui Ciang bertempur mati-matian, pedangnya senantiasa
mengeluarkan suara angin keras. Sian Nio dengan ilmu golok
Pat-kwa-to mencoba mengurung lawannya yang tangguh itu,
selalu ia mencari sasaran yang berbahaya.
Sejak kegagalan di Hui Houw San, suami isteri ini telah
berunding dan memikirkan semacam ilmu silat gabungan
pedang dan golok yang diperuntukkan melawan Khong Khong

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jie, sekarang tiba saatnya untuk mencoba itu. Benar-benar


mereka memperoleh kemajuan.
Tengah ia bertempur hebat itu, Khong Khong Jie terdengar
menghela napas dan berkata masgul, "Kamu suami isteri
sangat mendesak padaku, aku tidak bisa berbuat lain, terpaksa
aku mesti mengorbankan jiwaku untuk melayani kamu..."
Kalau tadi dia gusar, sekarang Khong Khong Jie berduka.
Toan Kui Ciang dapat mendengar kata-kata orang itu.
"Mustahilkah benar-benar Khong Khong Jie ada kesulitannya
yang dia tak dapat beritahukan pada lain orang?"
Justeru ia berpikir itu, justeru ia melihat perubahan silat si
lawan.
Pisau belati Khong Khong Jie lantas berputaran, menyamber
ke timur dan ke barat, ke selatan dan ke utara, bergeraknya
sangat cepat, hingga sinar pisaunya berkilauan, hingga ia
nampak berada di pelbagai penjuru.
Menampak demikian, Kui Ciang terkejut. Terpaksa dari
menyerang ia mengambil siasat membela diri. Ini membuatnya
terdesak. Maka lekas juga terdengar pula suara bentrokan
senjata, kali ini pisau belati melawan pedang, bahkan beruntun-
runtun sampai sembilan kali!
Mulanya tidak ada niat Khong Khong Jie memusuhkan Kui
Ciang, walaupun ia dikepung hebat, meski juga ia murka sekali.
Ia cuma memikir mengalahkan mereka itu. Siapa tahu setelah
bertempur itu, Kui
Ciang berdua menjadi nekad. Sebab suami'.isteri ini
menganggap ia benar-benar manusia busuk.
Didalam keadaan seperti itu, ia mesti membela dirinya, atau
ia bakal celaka. Maka tak ayal lagi, ia mengeluarkan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kepandaiannya. Itulah semacam tipu silat terdiri dari sembilan


jurus berantai, yang dapat menyusun serangan beruntun
sembilan kali.
Khong Khong Jie masih merasa sayang, maka juga tadi ia
telah mengasih dengar helaan napas serta suara penyesalan
itu.
Ketika Toan Kui Ciang melayani Ceng Ceng Jie, Ceng Ceng
Jie pernah menggunai semacam ilmunya Khong Khong Jie ini.
Tatkala itu ia dapat bertahan. Sekarang lain, kendati ilmu
silatnya serupa. Itulah sebab Khong Khong Jie beda daripada
Ceng Ceng Jie.
Ceng Ceng Jie baru dapat melakukan tingkatan ketujuh.
Khong Khong Jie pula menang berlipat ganda ilmu ringan
rubuhnya daripada Ceng Ceng Jie, sang sutee, maka dia dapat
bergerak cepat luar biasa.
Begitulah, meski Kui Ciang berkelahi dibantu isterinya, ia
segera terdesak, ia menjadi repot membela diri. Sian Nio juga
turut terdesak musuh yang tangguh itu.
Leng Song menonton saja sekian lama itu, setelah melihat
suasana, ia maju seraya menyerukan Sian Nio, "Bibi Toan,
silahkan mundur! Kau gunai saja pelurumu menghajarnya!"
Dengan memutar pedangnya, ia maju terus, guna
menggantikan Nyonya Toan Kui Ciang itu.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 12
Didalam ilmu pedang, Nona Hee tak dapat melawan Kui
Ciang, akan tetapi dibanding dengan Sian Nio dengan goloknya,

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia menang banyak. Maka itu Khong Khong Jie menjadi heran


dibuatnya.
"Siapakah yang mengajari kau ilmu pedangmu ini?" dia
tanya. Leng Song tidak menjawab, ia hanya mendesak. Tiga
kali berantai ia menyerang hebat, dan setiap jurusnya itu
terpecah pula dalam tiga jurus lain. Ia menyerang sambil
menggertak.
Disamping si nona, Kui Ciang turut merangsak. Khong Khong
Jie heran sekali. Sekarang tak sempat ia menanya pula si nona.
Dengan mereka itu merangsak secara demikian, ia tidak
berkesempatan memecah pemusatan pikirannya.
Sian Nio mengambil tempat di pinggiran. Ia menuruti
pikirannya Leng Song. Begitu siap, ia mulai dengan serangan
panah pelurunya.
Mulanya ia melepaskan tiga kali beruntun, mengincar Khong
Khong Jie pada ketiga jalan darah bie-cian di atas, hong-hu di
tengah dan hoan-tiauw di bawah. Ia liehay, disini ia mengasih
lihat keliehayannya, meski orang bertempur bertiga dan
bergerak gesit tak hentinya, sasarannya itu dapat ia cari.
Khong Khong Jie pun memperlihatkan kegesitan dan
keliehayannya. Dengan beruntun ia dapat mengelit diri dari dua
peluru yang pertama. Untuk itu ia berlompat dan menyambut
dengan tangan bajunya, lalu yang ketiga, ia tangkis dengan
pisau belatinya.
Meneruskan gerakan senjatanya itu, ia menikam ke arah iga
Leng Song di mana ada jalan darah hun-bun. Tapi ia gagal,
karena si nona waspada. Dilain pihak Kui Ciang, yang
menggunai ketikanya dengan baik, sudah menebas ujung
bajunya!

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bukan main gusarnya jago ini. Ketika tadi ia menyambut dua


buah peluru Sian Nio, semua peluru itu kena tergulung,
sekarang ia menggunai itu untuk menyerang balik, membalas
kepada Kui Ciang.
Suaminya Sian Nio celi matanya dan gesit tubuhnya, dia
dapat berkelit.
Khong Khong Jie tidak berhenti dengan serangan peluru
saja, ia membarengi menikam dengan pisau belatinya. Ia
mencari sasaran yang berupa ulu hatinya Toan Tayhiap.
Kui Ciang mesti berkelit, demikianpun Leng Song. Ketika itu
Sian Nio tidak menyerang pula. Ia melihat orang rapat sekali.
Tiba-tiba terdengar Khong Khong Jie berseru nyaring,
menyusul itu, mereka bertiga berlompat mencar.
Leng Song kaget sekali. Tusuk kundai di kepalanya telah
kena disambar kutung pisau belati Khong Khong Jie, walaupun
ia berkelit sebat sekali. '
Adalah di itu waktu, Touw Sian Nio memanah pula.
Mendadak tubuh Khong Khong Jie jatuh terguling. Kiranya
dia menggunai "Kun Tee Tong" atau ilmu silat "Roboh
bergulingan" guna menyelamatkan diri, menyusuli mana, sambil
bergulingan itu, ia membabat bergantian ke kakinya Kui Ciang
dan Leng Song.
Sian Nio bekerja pula, kembali ia memanah.
Dua-dua Kui Ciang dan Leng Song berkelit sambil berlompat,
Kui Ciang yang berlompat lebih dulu lalu membalas menyerang
dengan cepat.
Khong Khong Jie berkelit, karena mana, hampir peluru Sian
Nio mengenai suaminya..

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hanya sekejap, ketiga musuh sudah lantas bertempur pula


secara rapat. Karena ini, kembali Sian Nio menunda pelurunya.
Ia baru menyerang setiap kali ia melihat lowongan. Untuk itu ia
mesti bermata sangat celi dan bertindak sangat cepat. Hanya,
meski ia sudah mengorbankan belasan peluru, terus ia tidak
mendapatkan hasil.
Khong Khong Jie liehay tetapi dia repot juga. Dia mesti
berhati-hati dari panah peluru itu. Karena ini, menghadapi
desakan Kui Ciang dan Leng Song, mereka menjadi seimbang.
Tatkala itu matahari sudah turun jauh ke barat. Sang magrib
mendatangi. Kedua pihak sudah bertempur setengah jam.
Tengah pertempuran berlangsung terus, tiba-tiba mereka
mendengar ada seruan untuk mereka, "Eh, kenapa kamu
bertempur! Berhenti! Berhenti!"
Kui Ciang sudah lantas mengambil kesempatan akan melirik
ke arah suara itu. Maka ia melihat seorang pengemis dengan
pakaian banyak tambalan serta buli-buli di punggungnya,
sembari berlari-lari keras, pengemis itu lari ke arah mereka. Ia
pun segera mengenali Ciu-kay Kie Tie si Pengemis Pemabuk.
Juga Khong Khong Jie mengenali pengemis tukang tenggak
arak itu, ketika ia melihat Kui Ciang berhenti menyerang, ia
menghentikan perlawanannya, ingin ia menyapa si pengemis.
Justeru itu, Sian Nio memanah, maka pelurunya mengenai dahi
orang, hingga sasarannya itu mengucurkan darah!
Hee Leng Song tak mau berhenti, ia lompat menyerang.
Khong Khong Jie gusar, dia menangkis. Maka bentroklah
senjata mereka satu dengan lain, setelah mana, jago itu
kembali membabat ujung tusuk kundai kemala si nona. Syukur
Kui Ciang maju pula, guna membantu Leng Song. Karena ini,
mereka bertiga jadi bertarung pula. Kie Tie menjadi kurang
puas.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Touw Liehiap," ia kata pada Sian Nio, "Aku minta kau


memberi muka padaku si pengemis tua!"
Sian Nio lagi sengit, ia tidak menghiraukan perkataan orang,
ia melanjuti serangannya.
Menampak demikian, Ciu-kay menggelogoki isi buli-bulinya,
habis itu ia menyemburkan keras ke arah medan pertempuran.
Serangan ini membuat repot kepada Khong Khong Jie bertiga.
Mereka tak takut terlukakan, tetapi mereka tak sudi dibikin
mandi arak.
Kie Tie menyembur pula, kali ini ke arah Sian Nio. Ia mau
mencegah nyonya itu memanah terlebih jauh.
Muka Nyonya Kui Ciang lantas kena kecipratan arak, dia
menjadi tidak senang.
"Kie Lo-cianpwe!" serunya, "Aku bukan tidak sudi memberi
muka kepada kau tetapi manusia ini jahat luar biasa! Dia telah
merampas anak kami! Kalau dia dibiarkan lolos, kepada siapa
kami harus minta pulang anak kami! Dapatkah kau yang
menggantinya?"
Mendengar itu, Kie Tie menjadi melengak.
Touw Sian Nio berkata pula, nyaring, "Jikalah lo-cianpwe
tidak suka membantu kami, tidak apa, tetapi janganlah lo-
cianpwe merintangi kami, kalau tidak, maaf, peluruku nanti
tidak mengenali kau!"
Kata-kata si nyonya diiring samberan pelurunya, yang
mengenai buli-buli Kie Tie.
"Marilah kita bicara!" Ciu-kay berseru. Dia sadar dari
melongonya. "Jangan kau menyerang pula! Jangan kau
menyerang pula! Kalau mustikaku ini rusak, aku si pengemis
tua tidak punya lagi susu macan untuk ditenggak!"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Hee Leng Song berseru, "Toan Peehu, jangan


ladeni pengemis bangkotan itu! Dialah konco musuh!"
Toan Kui Ciang menjadi bersangsi, apa pula pada saat itu ia
melihat pihaknya mulai menang unggul. Laginya, kalau ia
mundur, Leng Song tentu bakal segera terdesak lawan. Maka
terpaksa ia berkelahi terus. Habis menyingkir dari arak, mereka
bertiga merapat diri pula.
Pada Kie Tie, Toan Tayhiap berseru, "Kie Lo-cianpwe maaf,
aku minta kau tanya tentang urusan kita ini kepada isteriku,
setelah kau ketahui jelas duduknya, baru kau datang
memisahkan kita!"
Touw Sian Nio menyambungi kata-kata suaminya tanpa
menanti Kie Tie menanyakannya. Ia kata, "Dia yang
menjanjikan kami datang kemari, tetapi di mulut gunung tadi
dia memasang orang tersembunyi untuk mencelakai kami,
hampir kami suami isteri mati tertimpa hujan batu! Kami tiba di
sini, kami bertemu dengan dia, ketika kami minta pulang anak
kami, dia menolak memulanginya! Sampai saat ini kami belum
tahu anak kami masih hidup atau sudah mati! Lo-cianpwe,
silahkan kau timbang dengan adil! Pantas atau tidak jikalau
kami mengadu jiwa kami?"
Ketika tadi Kie Tie lewat di mulut gunung, ia memang
melihat beberapa mayat. Ia menjadi bersangsi.
"Khong Khong Jie, bagaimana ini?" dia tanya.
Rupanya Khong Khong Jie pun panas hatinya.
"Kau hendak tanya aku dalam urusan apa?" dia balik
menanya, keras.
"Apakah benar-benar kau hendak membinasakan mereka ini
suami isteri?" tanya Ciu-kay.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Gila!" berteriak Khong Khong Jie. "Mana itu dapat terjadi?


Jikalau aku hendak membunuh mereka, pasti aku telah
melakukannya siang-siang!"
"Jikalau begitu, kenapa kau tidak mau membayar pulang
anak mereka?" Kie Tie tanya pula.
Khong Khong Jie berdiam, tak dapat dia menjawab. Inilah
justeru kesulitannya. Hal itu yang membuatnya merasa malu
sendirinya. Kalau tidak, tentulah tadi dia sudah menjelaskan,
atau membereskannya pada Kui Ciang suami isteri itu.
Sebenarnya Kie Tie dan Khong Khong Jie cuma kenalan
sambil lalu, tidak ada hubungan erat di antara mereka, karena
itu sudah sewajarnya saja ia percaya Toan Kui Ciang dan tak
mempercayai kakak seperguruan Ceng Ceng Jie itu.
Ia pun berpikir, "Han Tam membilang dia baik tetapi ketika
Han Tam mengenalinya, dia masih kecil, sekarang mereka
sudah berpisah buat banyak tahun, siapa tahu dia sudah
berubah sifat?"
Karenanya, ia menjadi curiga. Maka itu, melihat orang
berdiam, ia lantas menanya pula suaranya keras, "Khong Khong
Jie, kenapa kau ragu-ragu? Sebenarnya bagaimanakah
duduknya hal?"
Didesak begitu rupa, Khong Khong Jie menjadi tidak senang,
ia menjadi gusar.
"Orang tua she Kie, apakah kau hendak memeriksa aku?" ia
menegur. "Inilah urusanku, tak usah kau campur tahu!"
Kie Tie menggelogoki araknya, ia berkata dingin, "Aku
bukannya hendak memeriksa kau! Laginya aku si pengemis tua,
seumurku belum pernah aku usilan mencampuri urusan lain
orang! Tapi sekarang aku datang kemari karena aku diminta
tolong oleh Lo-cianpwe Han Tam. Han Lo-cianpwe menyuruh
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

aku tanya kau, benarkah kau menjadi kemaruk harta atau


pangkat, maka kau jadi bekerja sama dengan Ceng Ceng Jie,
adik seperguruanmu itu?"
Sebetulnya Han Tam menghendaki Kie Tie memberitahukan
saja kepada Khong Khong Jie perihal sekongkolan dari Ong Pek
Thong dengan Ceng Ceng Jie yang mau bekerja sama dengan
An Lok San, dan untuk menanya Khong Khong Jie tahu atau
tidak urusan dua orang itu, tetapi guna mengesankan hal, ia
bicara dengan sikap menegur itu.
Khong Khong Jie sangat menyayangi adik seperguruannya,
dari itu ia menjadi gusar.
"Pengemis tua, kenapa kau ngaco belo?" tegurnya pula.
"Apakah yang tak benar dari adik seperguruanku itu? Kenapa
kau bersikap begini rupa?"
Kie Tie tertawa dingin ketika ia memberikan jawabannya,
"Adik seperguruanmu itu sudah tak segan membantu harimau
mengganas! Mustahilkah kau belum ketahui sepak terjang adik
seperguruanmu itu!"
"Apa kau bilang?" Khong Khong Jie bentak.
"An Lok San lagi mementang pengaruhnya, tidaklah heran
dia dapat membeli Ong Pek Thong!" jawab si pengemis
pengarakan. "Yang tidak disangka-sangka ialah adik
seperguruanmu itu! Dia juga rela menjadi gundal! Sekarang ini
Ong Pek Thong dan An Lok San telah bekerja sama, mereka
berkongkol, kelakuan mereka itu sudah diketahui oleh orang-
orang gagah di kolong langit ini! Mengenai adik seperguruanmu
itu, apakah masih hendak kau menyangkal?"
Khong Khong Jie tercengang. Tapi cuma sejenak, dia lantas
membentak, "Angin busuk! Kau memfitnah orang!"
Kie Tie gusar, ia terus mengubarnya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Khong Khong Jie!" ia kata nyaring. "Kau muncul dalam


dunia Kang Ouw belum lama, kenapa kau jadi begini jumawa?
Cara bagaimana kau berani mencaci aku si pengemis tua?"
Khong Khong Jie mengerti disini mesti terselip sesuatu, akan
tetapi dia muda dan keras tabiatnya, dia menjadi tak sudi
menggubris si pengemis.
Maka dia tertawa nyaring dan kata, "Bagus, ya! Kau pandang
aku Khong Khong Jie bukan sebagai manusia! Kalau begitu,
buat apa kau bicara secara sahabat denganku? Pengemis tua,
kau majulah!"
Selama itu, Khong Khong Jie melayani Kie Tie berbicara
dengan dia masih terus menempur Toan Kui Ciang dan Hee
Leng Song, mereka kedua pihak sama unggul, tetapi karena
perhatiannya sangat terpengaruhkan, dan dia pun mendongkol,
pemusatannya menjadi terganggu.
Begitulah ketika Toan Kui Ciang menikam secara liehay,
pundaknya kena tertowel hingga terluka dan mengucurkan
darah! Kejadian ini membikin dia menjadi panas hati, dengan
hebat dia maju, guna merangsak orang she Toan itu, ketika
pisau belatinya meluncur, dia mengarah ulu hatinya lawan.
Justeru itu Kie Tie berlompat maju. Pengemis ini tak suka
mengadu mulut, terlebih jauh. Ia menangkis senjata si jago
muda.
Buli-buli dan pisau belati bentrok satu dengan lain. Buli-buli,
yang dipandang sebagai mustika itu, kalah kuat, ujung pedang
menumblas bolong, maka seketika juga isinya - arak yang
harum - molos keluar dan berhamburan di tanah!
Touw Sian Nio terkejut, dia berseru.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu terdengar juga siulannya Khong Khong Jie, yang


tubuhnya mencelat tinggi, untuk mengangkat kaki, sampai
peluru si nyonya tak dapat menyusulnya.
Dari kejauhan cuma terdengar suaranya ini, "Toan Kui Ciang,
jikalau kau hendak membenci aku, terserah kepada kau!
Tentang anakmu, dibelakang hari pasti aku akan bayar pulang
kepada kamu! Dan kau, pengemis tua, denganmu biarlah dilain
kali kita bertemu pula! Sekarang aku hendak melakukan
penyelidikan, sesudah itu, nanti aku cari kau untuk
membereskan perhitungan kita ini!"
Ketika suara itu berhenti, tubuh Khong Khong Jie pun turut
lenyap.
Touw Sian Nio lantas menghampirkan suaminya. Ia terkejut
melihat muka suami itu penuh darah.
"Apakah kau terluka?" dia tanya. "Di mana lukanya?"
"Tidak apa-apa," sahut Kui Ciang, yang tertawa getir. "Pisau
belati Khong Khong Jie dapat menikam aku!"
Tapi Kui Ciang benar terluka dan lukanya sama dengan
lukanya Khong Khong Jie. Tadinya pelurunya sang isteri nyasar
ke dahinya.
Setelah melihat luka suaminya itu, Sian Nio mengerti
kekeliruannya. Ia menjadi menyesal, malu dan berduka. Tapi ia
pun mendongkol. Maka ia kata sengit, "Oh, itu bangsat jahat!
Sayang tadi peluruku tidak menghajar picak matanya!"
Kui Ciang sebaliknya kata di dalam hatinya, "Kalau tadi
Khong Khong Jie mengulangi serangannya, kalau tidak
terbinasakan, aku mestinya terluka parah. Syukur Kie Lo-
cianpwe telah menalangi aku, hingga dia rusak buli-bulinya.
Sebenarnya, asal ia mau, Khong Khong Jie dapat menyerang
terus, kenapa ia tak berbuat demikian? Bukankah
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

penyerangannya itu cuma siasat untuk dia dapat berlompat


mundur, guna mengangkat kaki, jadi bukan untuk mencelakai
aku?"
"Sudah, adik Sian," kata ia, mendengar suara isterinya itu.
"Dia sudah kabur, dan lukaku pun ringan, tak usah kau mencaci
dia. Tak usah kau bersusah hati..."
Kie Tie tidak dapat memikir Khong Khong Jie berlaku murah
hati terhadapnya, dia tertawa lebar.
Kata dia, "Toan Tayhiap, benar-benar kau berhati mulia, tak
sembarang orang dapat menyamai kau!"
Kembali dia tertawa, lantas dia menambahkan pada Sian Nio,
"Toan Toaso, sekarang kau toh tak dapat mencaci pula aku si
pengemis tua, bukan?"
"Oh, maaf lo-cianpwe!" kata Sian Nio lekas, sambil memberi
hormat.
"Sayang buli-buliku ini!" kata pula Kie Tie tertawa. "Ha, ha,
ha! Inilah upahnya aku suka usilan terhadap urusan orang
lain!"
Kui Ciang pun menghaturkan maaf kepada pengemis jago
itu.
Selama itu, Hee Leng Song berdiri diam di pinggiran, ia
tertawa dingin, ia tidak menghiraukan mereka itu.
Kie Tie pun seperti tak menghiraukan segala apa, dia masih
tertawa dan kata, "Hari ini aku mendapat dua rupa pengajaran!
Benar-benar, gemar mencampuri urusan luar berarti membakar
diri sendiri! Bukan saja Khong Khong Jie membenci aku, bahkan
Nona Hee turut mendongkol terhadapku!"
Kui Ciang heran. Ia tak mengerti sikapnya Leng Song itu.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Keponakanku," ia berkata kepada nona itu, "Lo-cianpwe ini


bukan lain orang, hanya dialah yang dunia Kang Ouw
memanggilnya Ciu-kay Kie Tie! Marilah kau pun menghunjuk
hormatmu kepadanya!"
"Kita berdua sudah bertemu terlebih dahulu daripada ini,"
berkata Nona Hee tawar. "Hm! Meski dia bukannya konco dari
Khong Khong Jie, dia toh konconya Hong-hu Siong! Tidak dapat
aku memandang sebagai lo-cianpwe!"
Paras Kui Ciang berubah, ia menjadi jengah sekali.
"Keponakanku, harap kau bicara tak melupai adat
kehormatan," kata ia, masgul. "Kau baru muncul di dalam dunia
Kang Ouw, mungkin ada yang kau belum ketahui jelas. Kie Lo-
cianpwe ini bersama Hong-hu Siong serta seorang pengemis
lain, yaitu Hong-kay We Wat, adalah yang dijulukkan Kang Ouw
Ie-kay. Apa yang beda ialah sepak terjang Hong-hu Siong tak
sama dengan sepak terjang mereka berdua. Hong-hu Siong itu
manusia aneh, dia sesat, dia suka berbuat jahat dan keliru.
Tidak demikian dengan We dan Kie Lo-cianpwe ini, mereka
bahkan tersohor sekali sikapnya membenci kejahatan seperti
musuh! Mana dapat Hong-hu Siong disamakan dengan mereka
itu berdua? Maka itu aku percaya kau mestinya telah
memperoleh pendengaran yang keliru. Keponakanku, mari kau
memberi hormat pada Kie Lo-cianpwe!"
Leng Song berdiri tetap dan tegak, sepasang alisnya bangun
berdiri. Kelihatannya ia hendak bicara tetapi rupanya malang
terhadap Tan Kui Ciang.
Toan Tayhiap menjadi heran sekali, hingga ia ingin bicara
lebih jauh atau Kie Tie, yang tertawa lebar, mendahului ia.
"Toan Tayhiap, kata si pengemis, "Kaulah seorang yang aku
hormati, hanya kata-katamu kali ini tidak tepat!" "Kenapa tak
tepat?" ia tanya.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku si pengemis tua, tak sanggup aku bicara sempurna


seperti kau," kata Kie Tie perlahan dan sabat. "Di mataku, aku
si pengemis tak demikian baik seperti katamu barusan, sedang
Hong-hu Siong tidak demikian busuk seperti uraianmu ini!"
"Nah, bagaimana?" kata Leng Song menyelak, tawar. "Kau
masih membilangnya dia bukan konconya Hong-hu Siong! Di
dalam segala bidang, dia membelai orang she Hong-hu itu! Dia
membeli Hong-hu Siong, kenapa aku dicegah untuk menuntut
balas?"
Kui Ciang mengerutkan alisnya.
"Bagaimana ini?" ia tanya Leng Song.
Ia bingung sekali.
"Di antara kau dan Kie Lo-cianpwe ada selisih paham apa,
keponakanku?"
Nona Hee habis sabarnya.
"Bukan melainkan selisih paham!" sahut Leng Song sengit.
"Toan Peehu, jikalau aku tidak memandang kau, pasti sekarang
aku sudah melakukan pembalasan sakit hatinya ibuku!"
Mau atau tidak, Kui Ciang terkejut.
"Apa kau bilang?" ia tanya. "Kie Lo-cianpwe menjadi sahabat
karib dari almarhum ayahmu, cara bagaimana dia dapat
menjadi musuh ibumu?"
Mukanya Nona Hee menjadi merah. Ia jengah.
"Dia... dia omong tidak keruan terhadap aku!" teriaknya.
"Dia menghina ayah dan ibuku...!"
Mata Kui Ciang dipentang lebar dipakai mengawasi CIu Kay,
si pengemis jago arak.
Kie Tie tidak menjadi gusar, sebaliknya dia bersenyum.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Nona Hee," katanya, sabar, "Coba kau ulangi apa kata-


kataku untuk didengar oleh Toan Peehu kau ini, agar dia
menimbangnya benar atau tidak aku berlaku tak pantas
terhadapmu?"
Kui Ciang memandang si nona.
"Keponakanku," kata ia, sabar, "Aku dan ayahmu menjadi
sahabat kekal, terhadapku kau boleh menyebutkan segala apa,
tidak ada halangannya."
Leng Song mendongkol sekali.
"Dia... dia membilangi aku bahwa aku bukannya orang she
Hee!" kata dia keras. "Dia juga kata ayahku bukannya Hee
Seng To! Itu... itu... bukankah suatu penghinaan untuk ayah
dan ibuku?"
Saking gusar, nona ini hendak menghunus pedangnya.
Kecurigaan, atau kesangsian Toan Kui Ciang, timbul secara
tiba-tiba. Ia lantas ingat peristiwa di malaman pernikahan di
antara Leng Soat Bwe dan Hee Seng To itu.
Hee Seng To terbinasakan dimalaman itu. Maka itu, dari
mana datangnya anak bernama Leng Song ini? Dulu hari pun ia
sudah pusing memikirkannya, siapa tahu sekarang Kie Tie
menimbulkannya.
"Sabar," ia kata kepada nona itu. Ia terus menoleh kepada
Kie Tie untuk segera menanya, "Kie Lo-cianpwe, itulah
peristiwa yang selama dua puluh tahun telah menjadi perkara
yang tergantung saja. Mestinya lo-cianpwe ketahui itu..."
Kie Tie mengulapkan tangannya.
"Itulah urusan yang tak leluasa untuk dibicarakan di sini!"
katanya.
Kui Ciang dapat dikasih mengerti, ia berpengalaman luas.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau begitu, mari kita pergi bicara di sana," katanya hening


sejenak. "Keponakanku, kau sabar dulu. Urusan ini sangat
penting, mesti aku dapat membikinnya menjadi terang! Kau toh
percaya aku, bukan?"
Leng Song berdiam, ia mengangguk.
Kie Tie sudah lantas berjalan, maka Kui Ciang menyusulnya.
Mereka berjalan sampai kira setengah lie dimana mereka
mencari tempat yang sepi.
"Ketika peristiwa menyedihkan itu terjadi, aku tidak di
tempat kejadian," Kie Tie memberikan keterangannya. "Tapi
aku tahu, kau sendiri justeru berada di sana. Katanya
pembunuhan terjadi sehabisnya orang bersenda gurau
menggodai sepasang mempelai."
"Tidak salah," Kui Ciang membenarkan. "Terjadinya itu tak
sampai setengah bakaran sebatang hio habis orang bersenda
gurau itu. Mempelai laki-laki telah terbunuh dan mempelai
perempuan terculik."
"Kalau begitu, kau percaya perkataanku, bukan?" tanya Kie
Tie. "Pasti sekali Hee Seng To tak dapat mempunyai Nona Hee
itu sebagai puterinya yang tulen?"
"Hal itu... aku mau percaya," kata Kui Ciang, meskipun ia
ragu-ragu. "Habis, siapakah orang yang menjadi ayah yang
sejati itu?"
Kie Tie tidak lantas menjawab, sebaliknya dia menanya dulu,
"Apakah kau pernah bertemu muka dengan pembunuh itu?"
"Malam itu rembulan guram dan bintang-bintang jarang, aku
cuma mendapat lihat punggungnya," Kui Ciang jawab.
"Barangkali yang lain-lainnya?"

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Pasti sekali lain-lain orang juga tak ada yang melihat


mukanya pembunuh itu!" sahut Kui Ciang pula. "Kalau tidak,
tidak nanti perkara itu menjadi perkara gantung sampai
sekarang ini..."
"Tepat!" kata si pengemis. "Semua kamu tidak melihat
pembunuh itu, tetapi kenapa kamu menerka Hong-hu Siong,
bahkan menerka secara pasti sekali?"
"Mengenai itu ada sebabnya," Kui Ciang memberi
keterangan. "Sebelumnya dia menghembuskan napasnya yang
terakhir, mempelai laki-laki itu meninggalkan tulisan yang
belum lengkap. Ialah dia menulis hanya sebuah huruf 'Hong'.
Itu yang pertama. Yang kedua, punggungnya pembunuh itu
terlihat sama dengan punggungnya Hong-hu Siong. Dan yang
ketiga, jikalau dia bukannya Hong-hu Siong, kenapa Leng Bwe
menghendaki puterinya itu membinasakan dia?"
Untuk menjelaskan, Kui Ciang menuturkan peristiwa sedih
malam itu sebagaimana yang ia saksikan sendiri.
Kie Tie menghela napas.
"Pantaslah Hong-hu Siong yang dicurigai," katanya, masgul.
"Mempelai laki-laki mati kecewa dan mempelai perempuan
malang nasibnya, karena sampai sekarang ini duduknya
kejadian tetap masih belum jelas..."
"Sebenarnya bagaimana duduknya hal itu?" tanya Toan Kui
Cian, yang bemapsu memperoleh perjelasan. "Siapa pembunuh
yang sebenarnya itu?"
"Pembunuh itu bukannya Hong-hu Siong," menyahut Kie Tie,
"Cuma dengan Hong-hu Siong, dia ada sangkut pautnya.
Pembunuh itu, dia... dia..."
Kui Ciang menjadi sangat tidak sabaran, begitu juga isterinya
dan Leng Song. Itulah perkara gantung yang sudah berjalan
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dua puluh tahun. Ia menjadi tidak sabaran karena Kie Tie main
ayal-ayalan. .
"Dia... dia siapakah?" ia tanya mendesak. "Dia..."
Mendadak terasa sampokan angin dari belakang.
"Ada orang!" teriak Kui Ciang terkejut.
"Kau!" Kie Tie berseru seraya dia mementang kedua
tangannya, untuk melindungi Kui Ciang, akan tetapi belum
berhenti suaranya itu atau rubuhnya sudah roboh terbanting!
Kui Ciang kaget bukan kepalang. Tapi ialah seorang jago,
dapat ia menguasai dirinya. Ia tahu itulah hasil perbuatan
serangan gelap dengan senjata rahasia. Tanpa menanti sampai
ia menoleh lagi, untuk melihat siapa tukang bokong itu,
tubuhnya sudah mencelat berputar, untuk lompat
menghampirkan penyerang itu, sedang pedangnya telah
dihunus dan dipakai melindungi dirinya. Ia menjaga diri kalau-
kalau serangan gelap itu diulangi.
Berbareng dengan itu terdengar dampratan Leng Song, yang
juga sudah lantas mengejar.
Penyerang itu berlompat lari sambil membalik kepalanya,
terdengar suaranya yang aneh. Suara itu tertawa bukan,
menangis bukan. Toh nadanya sedih. Ia mengasih dengar
suara itu sambil mengawasi Nona Hee.
Toan Kui Ciang sudah lantas mengenali orang itu. Dia bukan
lain daripada Hong-hu Siong. Ia menjadi mendongkol dan gusar
sekali. Tengah orang berdiam mengawasi Leng Song, ia lompat
menerjang dengan satu tikaman hebat.
Hong-hu Siong masih sempat menangkis dengan
tongkatnya, tetapi terdengarnya satu suara nyaring, ujung
tongkat itu kena terhajar hingga "terluka".

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dilain pihak, tangan Kui Ciang tergempur hingga


telapakannya terasa nyeri dan kesemutan, hingga ia mesti
mundur guna mempertahankan kuda-kudanya.
Menggunai ketikanya yang baik itu, Hong-hu Siong lompat
nyamping, untuk menyingkir ke dalam rimba.
Sementara itu Kie Tie, setelah robohnya, cuma mengasih
dengar suara menyayatkan satu kali, terus tidak terdengar apa-
apa lagi, karena mana Kui Ciang lari balik untuk menolongi.
Hee Leng Song sebaliknya, dia mengejar terus. Dia sampai
tidak menghiraukan teriakan Kui Ciang, yang memanggil dia
kembali.
Touw Sian Nio kuatir nona itu mendapat celaka, sebaliknya
daripada suaminya, dengan membawa panahnya, ia lari
menyusul, guna memberikan bantuannya kalau itu dibutuhkan.
Kui Ciang membiarkan isterinya pergi. Meski ia tahu Hong-hu
Siong liehay, sebagaimana bentrokan barusan telah memberi
bukti kepadanya, akan tetapi ia percaya Leng Song dibantu
isterinya itu tak nanti terkalahkan orang she Hong-hu itu. Ia
hanya memerlukan memeriksa Kie Tie.
Mukanya pengemis itu lantas saja menjadi bersemu hitam
dan dari ujung mulutnya mengalir darah, yang mendatangkan
bau bacin yang keras.
Menampak demikian, orang she Toan ini menjadi kaget
sekali. Itulah tanda dari bencana besar. Tatkala ia mengulur
tangannya meraba tubuh orang, nyata napas Kie Tie telah
lantas berhenti jalan. Ia menjadi mendongkol dan berduka
sekali. Ia melongo sekian lama, akhirnya - tanpa merasa lagi -
ia menangis.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kie Lo-cianpwe," katanya, sangat menyesal, "Kau masih


mengatakan bukannya Hong-hu Siong. Sekarang jiwamu
diantar pergi oleh tangannya..."
Terang sudah duduknya kejadian. Hong-hu Siong berada di
dekat-dekat situ, ia bersembunyi untuk memasang mata dan
telinga. Ia takut Kie Tie nanti membuka rahasia, maka ia
menurunkan tangan dengan membokong dengan senjata
rahasianya yang berbisa itu.
Terang ia hendak membinasakan Kie Tie dan Kui Ciang
berdua tetapi Kie Tie melindungi si orang she Toan, yang
menjadi tertolong terhindar dari bahaya maut, hanya dia sendiri
yang menjadi korban.
Coba Kie Tie bukan si jago tua, tidak nanti Hong-hde Siong
menurunkan tangan jahat itu. Hanya, apa yang aneh, Kie Tie
membilang Hong-hu Siong bukan pembunuhnya ayah Nona
Hee. Pula aneh, Kie Tie dapat mati lantas sedang dia tangguh.
Kenapa dia tidak mau segera menyebutkan nama si
pembunuh? Kalau si pembunuh benar Hong-hu Siong, apa
mungkin dia mau melindungi orang she Hong-hu itu dengan
memegang rahasia namanya, hingga dia sudi mengorbankan
jiwanya?
Sambil menenangkan diri, Toan Kui Ciang membuang tempo
untuk membikin lenyap rasa nyeri di tangannya. Ia ingat
senjatanya Honghu Siong, lantas ia mencari kayu atau ujung
tongkatnya Hong-hu Siong yang kena terbabat pedangnya tadi.
Ia berhasil mendapatkan. Ujung tongkat itu memberi harum
kayu cendana asal Lam Hay, Laut Selatan.
"Hong-hu Siong mempunyai tongkat kayu asal Lam Hay," ia
berpikir, "Tongkat itu hendak aku jadikan bukti. Semua jago
Rimba Persilatan yang tua-tua mesti mengenalnya. Ujung
tongkat ini mesti aku jadikan bukti dari perbuatannya yang

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

jahat. Aku pun mesti minta bantuannya beberapa orang tertua


untuk mereka itu mencari balas buat Kie Lo-cianpwe...!"
Tak lama maka terlihat Leng Song dan Sian Nio kembali
dengan tangan kosong.
"Rimba sangat lebat, penjahat itu dapat lolos," kata sang
isteri. "Bagaimana dengan Kie Lo-cianpwe?"
"Tak beruntung untuknya, ia sudah menutup mata karena
lukanya," sahut Kui Ciang, masgul. "Mari bantu aku, supaya kita
dapat menguburnya di sini..."
Sian Nio heran.
"Kenapa dia mati demikian lekas?" katanya, yang segera
menghampirkan. Ialah ahli senjata rahasia.
Lantas ia berseru tertahan, "Inilah akibatnya jarum beracun
yang begitu mengenai lantas menutup kerongkongan! Kenapa
Hong-hu Siong dapat menggunai senjata rahasia yang begini
jahat?"
Di jaman itu banyak jago Rimba Persilatan menghargai
martabat sendiri. Di antara golongan kelas satu, sangat sedikit
orang yang menggunai senjata itu. Sekarang Hong-hu Siong
menggunai jarum jahat, tidak heran Sian Nio menjadi
tercengang.
"Benar!" kata Kui Ciang. "Tadi aku ingat sampai kesitu, adik
Sian. Menurut apa yang aku tahu, Hong-hu Siong belum pernah
menggunakan senjata rahasia, apapula senjata rahasia yang
dipakaikan racun. Mustahilkah... mustahilkah...?"
Sian Nio dapat membade hati suaminya. Ia menggeleng
kepala.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tak mungkin!" katanya. "Tak mungkin Hong-hu Siong itu


Hong-hu Siong palsu! Bukankah kita bertiga melihatnya tegas
sekali?"
"Ibuku membilangi aku Hong-hu Siong licik dan jahat tak
lawannya!" kata Leng Song. "Maka itu aku mau percaya, dia
biasa tak menggunai senjata rahasia melulu siasatnya untuk
membikin martabatnya naik tinggi, tetapi sekarang ini, di saat
begini mendesak, dia tidak dapat memilih jalan lain, maka juga
senjata yang paling jahat dan berbisa pun dia gunai!"
Kui Ciang merasa si nona bicara terpengaruhkan rasa
bencinya, akan tetapi ia telah melihat sendiri kepada Hong-hu
Siong, maka itu, bersangsi atau tidak, ia mau menerima baik
pikiran nona itu.
"Hiantit-lie," kata ia, kemudian, "Hendak aku menanya kau
satu urusan. Aku dengar halnya kau baru ini di gunung Lee
San, di dalam kuil Thouw Tee Bio, telah bertemu dengan Hong-
hu Siong. Kau katanya hendak membunuh dia, tetapi dia duduk
tak bergeming di lantai, dia menyerah untuk dibunuh. Benarkah
itu?"
"Tidak salah, itulah benar," sahut si nona. "Karena itu juga,
ketika itu Lam Tayhiap kena diabui dia, Lam Tayhiap
menganggap dialah seorang baik hingga aku dicegah
membunuhnya. Menurut anggapanku, perbuatan dia itu waktu
mestinya perbuatan sandiwara saja, itu menandakan
kelicikannya. Dia rupanya percaya betul bahwa Lam Tayhiap
bakal menghalang-halangi aku!"
Mendengar demikian, Kui Ciang heran.
"Ketika itu aku tak sadarkan diri," katanya. "Ketika itu Hong-
hu Siong yang telah menolongi aku dengan memukul mundur
musuh, kemudian dia menolongi jiwaku hingga aku mendusin
dan selamat. Itulah kenyataan. Tapi sekarang terjadi peristiwa
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ini. Kenapa dulu dia berbuat sangat baik padaku, dia telah
menolong aku dua kali? Kenapa sekarang dia justeru hendak
membinasakan aku? Kenapa?"
"Engko, kau selalu mengambil pandangan dari sudut yang
menyenangkan," kata Sian Nio. "Apakah yang aneh disini?
Bukankah kau pernah membilangi bahwa ketika dia semula
menolongi kau, dia mengharap supaya kau nanti membalas
budi kepadanya, supaya kau dari imusuh memandangnya
sebagai sahabat? Sekarang dia ketahui permusuhan tak dapat
didamaikan pula, dia pula takut Kie Tie nanti membeber hal
yang sebenarnya hingga kau ketahui duduknya perkara, maka
itu dia pasti ingin menurunkan tangan jahat atas dirimu!"
Leng Song telah menjadi tidak sabaran. Begitu mendengar
perkataannya Sian nio, dia lantas menanyai Kui Ciang,
"Sebetulnya, apakah yang si pengemis tua bilang padamu?"
Kui Ciang ayal-ayalan ketika ia menjawab, "Dia... dia
membilang bahwa Hong-hu Siong bukanlah musuh kamu, akan
tetapi di saat yang paling penting, yaitu ketika dia hendak
menyebutkan- she dan namanya musuhmu itu, dia telah lantas
dibinasakan Hong-hu Siong..."
"Baik, biarkanlah urusan ini!" kata Nona Hee kemudian.
"Ibuku juga bermaksud untuk hanya menyingkirkan bahaya
bagi orang banyak, bukan buat permusuhan yang tak dapat tak
dibereskan di antara Hong-hu Siong dengan kami. Yang aku
hendak tanyakan ialah, apakah pengemis tua itu ada
menyebutkan sesuatu yang mengenai riwayat diriku?"
"Dia belum sampai menyebutkan," sahut Kui Ciang, yang
kembali ragu-ragu, nampaknya dia jengah. "Hanya... hanya aku
mau percaya bahwa apa yang dia telah bilangi kau kiranya
bukan hal ngaco belo saja.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Parasnya Leng Song menjadi pucat, alisnya rapat satu


dengan lain. Hatinya memang seperti terbenam dalam
kegelapan, maka sekarang, boleh ia tak percaya Kie Tie tetapi
ia harus percaya Kui Ciang.
Ia lantas tunduk dan mengeluarkan kata-kata yang tidak
tegas, "Mungkinkah ibu ada menyembunyikan apa-apa
kepadaku?" ia berpikir.
Ia berhenti sejenak, terus ia tanya pula Toan Tayhiap, "Toan
Peehu, kaulah sahabatnya ayahku, dapatkau kau memberikan
keterangan padaku?"
Kui Ciang bersangsi, sulit untuk ia berbicara. Maka ia mesti
berpikir keras.
"Semenjak ayahmu menikah, aku tak pernah melihat pula ia
serta ibumu," ia menjawab kemudian. "Hanya, menurut apa
yang aku duga, Hong-hu Siong itu mungkin benar musuh orang
tuamu, maka itu ibumu menghendaki kau membunuhnya bukan
cuma guna menyingkirkan bencana untuk umum tetapi sekalian
buat membalaskan sakit hatinya sendiri..."
Leng Song cerdas, maka ia lantas dapat merasa Kui Ciang
tidak bicara seluruhnya. Walaupun demikian, berdasarkan
keterangan Kui Ciang ini, ia mau menduga bahwa tentang asal
usulnya sendiri mestilah suatu soal yang ruwet. Maka ia
menggigit bibirnya.
"Baikah, peehu!" katanya. "Jikalau peehu tidak dapat
menjelaskan, baik nanti saja aku pulang untuk menanya
kepada ibuku sendiri..."
"Bukannya aku tidak mau bicara," kata Kui Ciang, sabar,
"Aku hanya tidak dapat bicara lantaran masih ada hal-hal yang
aku belum jelas.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Aku rasa kalau nanti kau sudah bertemu dengan ibumu baru
kau akan megerti duduknya hal yang benar."
"Aku belum pernah bertemu dengan ibumu," kata Sian Nio
pada si nona, "Akan tetapi sudah lama aku mendengar dan
mengagumi dia. Dapatkah aku pergi untuk menjenguk ibumu
itu?"
"Bibi suka mengunjungi kami, aku bersyukur bukan main,
pasti kami akan menyambut dengan girang sekali," menyahut
Leng Song, "Hanya di dalam hal ini, aku tak dapat mengambil
keputusan sendiri. Maka itu bagaimana kalau aku pulang dulu
untuk menanyakan ibu, habis mana baru aku memberi kabar
kepada bibi? Tabiat itu ada sedikit aneh, ia tak suka bertemu
dengan orang yang belum dikenal..."
Dengan perkataannya ini, masih ada sesuatu yang si nona
sembunyikan. Itulah pesan wanti-wanti dari ibunya supaya
alamatnya juga jangan diberitahukan kepada Toan Kui Ciang.
Sian Nio tidak dapat memaksa, sedang Kui Ciang berdiam
saja.
"Lam Tayhiap sudah pergi ke Hoay-yang," kata Leng Song
kemudian. "Turut apa yang aku tahu, dia hendak
menyampaikan kepada Thio Sunbu dan Kwe Cu Gie tentang
komplotan di antara Ong Pek Thong ayah dan anak dengan An
Lok San. Dari Hoay-yang, dia mau kembali ke Kiu-goan. Lam
Tayhiap minta aku menyampaikan dan menanya kau, peehu,
apakah kau suka pergi menemui dia di Kiu-goan atau tidak?"
Pertanyaan ini ada baiknya untuk Kui Ciang. Ada alasan
untuknya membuka mulut.
"Aku memang mau pergi ke Kiu-goan," sahurnya. "Kalau
nanti kau sudah bertemu dengan ibumu, andaikata ada sesuatu

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang diperlukan dari aku, kau boleh pergi ke Kiu-goan akan


mencari aku di sana."
Leng Song mengangguk.
Sampai disitu, bertiga mereka lantas bekerja, guna menggali
tanah, guna mengubur mayatnya Kie Tie.
Kui Ciang berduka bukan main menyaksikan kuburannya
pengemis jagoan itu, yang tak mestinya terkubur di tempat
belukar itu.
Selesai mengubur, ketiga orang ini bersama-sama turun
gunung. Selagi berjalan, semua berdiam. Mereka merasa hati
mereka masing-masing berat sekali.
Baru kemudian Touw Sian Nio menarik napas.
"Selama beberapa bulan ini," katanya masgul, "Pelbagai
urusan yang tak menyenangkan hati datang bersilih ganti, lalu
akhirnya kita menjadi rumah hilang dan orang menutup mata...
Semua itu mirip dengan impian buruk yang tak pernah tamat!"
Kui Ciang merasa sulit menghibur isterinya, tetapi ia paksa
tertawa dan kata, "Mungkin itu disebabkan kita sudah
merasakan hidup berbahagia sepuluh tahun lamanya, maka
Thie-kong sengaja membuat kita merasakan penderitaan..."
Leng Song tidak turut bicara. Ia hanya memanggil kuda
putihnya, yang terus muncul.
"Sampai kita bertemu pula!" katanya seraya lompat atas
kudanya, untuk terus kabur dengan menepas airmata...
Hari dan bulan berlalu dengan cepat, banyak yang telah
berganti rupa. Sejak Ong Pek Thong dan anak-anaknya
memukul hancur benteng Hui Houw San, tujuh tahun telah
berselang. Selama tujuh tahun ini, banyak perubahan dalam
dunia Sungai Telaga.
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan runtuhnya Keluarga Touw, Keluarga Ong telah


menggantikannya. Benar telah terjadi itu kekacauan di lembah
Liong Bin Kok dimana rahasianya Keluarga Ong terbuka, hingga
kaum Rimba Hijau menjadi terpecah, Ong Pek Thong tetap
tercapai cita-citanya menjadi Lok-lim Beng-cu, ketua kaum
Rimba Hijau, dan orang Rimba Hijau yang menghamba
kepadanya juga berjumlah besar. Maka dalam kalangan Rimba
Hijau itu, pengaruhnya menjadi besar sekali, bahkan paling
besar.
Dengan begitu juga, maka orang telah mulai melupakan
kemashuran Touw-kee Ngo-houw, Lima Harimau Keluarga
Touw dari gunung Hui Houw San itu.
Di kalangan pemerintahan, sebaliknya, Pemerintah Agung
nampak makin lemah, sedang pengaruhnya An Lok San
bertambah besar, dengan kedudukannya sebagai pembesar
dari tiga kota Hoan-yang, Peng-pou dan Hoo-tong, dia seperti
sebuah negara yang merdeka sendiri di bagian utara itu. Dia
mempunyai tentara dan rangsum yang jumlahnya melebihkan
rangsum dan tentara pemerintah.
Pada suatu hari di dalam bulan sembilan dari tahun Thian Po
ke empat belas dari Kerajaan Tong, di tanah datar di dalam
wilayah kota Peng-yang, ada seorang penunggang kuda yang
lagi mengaburkan kudanya. Dialah seorang perwira dengan
potongan yang disebut "berpinggang beruang dan
berpunggung harimau".
Inilah tidak heran, sebab dialah Cin Siang, turunan dari
Jenderal Cin Siok Poo, salah satu panglima perang yang turut
membangun Kerajaan
Tong, dan sekarang dialah satu di antara Toa-kho-ciu, orang
tergagah, di dalam istana kaisar.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cin Siang sedang bertugas, dia diperintah mengikut Tiong-su


Phang Sin Wie yang diutus Pemerintah Agung untuk menemui
An Lok San, guna "menghibur" itu Ciat-touw-su yang sangat
besar pengaruhnya, guna membikin hati tenteram.
Dia mengaburkan kudanya sebab dia berlalu secara diam-
diam dari kota Hoan-yang yang menjadi tempat kedudukannya
An Lok San. Dia mau pulang ke kota raja guna menyampaikan
laporan kepada pemerintah tentang cita-cita atau aksinya An
Lok San untuk menerbitkan huru-hara, buat berontak terhadap
Pemerintah Agung.
Pada tujuh tahun yang sudah berlalu, Kwe Cu Gie sudah
mengajukan laporan rahasia kepada Raja Hian Cong halnya An
Lok San lagi bekerja keras "membeli" orang-orang Rimba Hijau
serta mengumpulkan kuda dan tentara, untuk persediaannya
berontak merobohkan pemerintah, tetapi laporan itu tidak
dihiraukan.
Raja sedang sangat percaya pada Ciat-touw-su itu yang
disayanginya, sedang Yo Kui-hui telah bicara baik perihal
panglima di perbatasan itu. Didiamkannya laporan rahasia itu
membuatnya An Lok San merdeka dengan persiapannya itu.
An Lok San cerdik. Tahun dulu itu dia tidak segera
mengangkat senjata disebabkan tiga soal. Pertama-tama
persiapannya belum matang. Kedua lantaran siasatnya
menggunai tenaga Ong Pek Thong menghadapi rintangan. Dan
ketiga, dia telah mendengar selentingan perihal laporan rahasia
dari Kwe Cu Gie itu. Maka terpaksa dia terus beraksi bersetia
kepada Kaisar Hian Cong, yang diabuinya.
Dengan demikian juga, tahun ketemu tahun,
pemberontakannya belum dapat diletupkan. Barulah tahun ini
dia merasa waktunya sudah tiba buat turun tangan karena
tentaranya sudah berjumlah besar dan kepala perangnya

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

banyak. Dia percaya bahwa dialah yang bakal merebut


kemenangan.
Demikian dengan alasan "mempersembahkan kuda" dia telah
menghaturkan suratnya. Dia kata daerah perbatasan tempat
bertugasnya itu menjadi tempat yang mengeluarkan kuda
pilihan, maka ia sudah memilih tiga ribu ekor lebih dan
mempersembahkannya kepada junjungannya yang maha
agung.
Dia menjelaskan kudanya itu dapat dipakai andaikata Raja
mau menyerang ke timur atau menerjang ke barat, sebab
setiap, kuda telah diperlengkapi pelana yang dapat memuat
dua orang serdadu. Dia kata dia mengutus dua puluh empat
Hoan-ciang, perwira suku perbatasan, guna mengantari semua
kuda itu, sedang hari keberangkatannya bakal dipilih dan
ditetapkan. Karena itu dia minta Raja memerintahkan semua
pembesar, yang daerahnya bakal dilalui rombongan kuda itu,
bersiap sedia menyambut dan mengatur rumput makanan
kuda.
Kapan Kaisar Hian Cong menerima surat itu, mau atau tidak,
timbul juga kecurigaannya, tak perduli ia sangat percaya
panglimanya itu. Ia pikir, kalau seekor kuda dapat membawa
dua serdadu, tiga ribu ekor berarti enam ribu serdadu, dan
rombongan itu diantar juga dua puluh empat Hoan-ciang,
sedang setiap Hoan-ciang mesti ada pengikutnya lagi.
Tidakkah jumlahnya semua akan ada kira sepuluh ribu jiwa?
Kalau mereka itu dibiarkan memasuki kota Tiang-an, tidakkah
mereka membahayakan?
Lantas Raja mengadakan sidang. Para menteri menganggap
An Lok San harus dicurigai dan tak dapat dipercaya. Mereka
kata berbahaya kalau "kudanya" An Lok San itu dibiarkan

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memasuki kota raja. Maka mereka mengusulkan supaya An Lok


San ditegur.
Walaupun para menteri bersikap demikian rupa, Kaisar Hian
Cong bersangsi. Ia masih tak percaya An Lok San benar berniat
berontak. Karenanya ia kuaur, kalau An Lok San ditegur, dia
jadi tak senang hati dan benar-benar berontak.
Kesangsian Raja menyebabkan seorang menteri tua
mengusulkan untuk dengan lunak mencegah An Lok San
mengirimkan hadiah kudanya itu. Usul itu diterima baik. Maka
itu Tiong-su Phang Sin Wie lantas diutus ke Hoan-yang.
Dalam firman kepada An Lok San, Raja puji kesetiaan
panglirna itu, bahwa ia merasa senang, kemudian dengan
manis hadiah ditampik, yaitu katanya kuda itu tak usah dikirim
ke kota raja. Sebagai alasan dikemukakan kuda mesti berjalan
untuk banyak hari sedang itu waktu permulaan musim rontok,
musim panen. Dikatakan baiklah pengiriman ditunda saja
sampai lain musim.
Phang Sin Wie bersama Cin Siang telah tiba di Hoan-yang.
An Lok San gusar sekali. Dari kota raja ia sudah menerima
warta rahasia dan mengetahui duduknya hal. Ia tidak mau
keluar menyambut utusan kaisar, dan ketika Phang Sin Wie
membacakan firman, ia juga tidak mau menjalankan
kehormatan dengan bertekuk lutut, bahkan dia duduk agung-
agungan di atas pembaringannya, sebuah pembaringan model
pembaringan orang Ouw (Tartar).
Setelah firman dibacakan, berulang kali dia tertawa dingin,
dengan roman murka dia kata, "Aku dengar kabar Yo Kui-hui di
dalam keraton belajar menunggang kuda, aku pikir Raja
menggemari kuda, aku di sini mempunyai banyak kuda pilihan,
maka mau aku mempersembahkannya. Kalau begini bunyi
firman, baiklah, tak apa aku tidak mempersembahkan!"
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Phang Sin Wie melihat pasukan pengiringnya An Lok San


teratur rapi, tak mau ia membantah.
An Lok San memberi tempat beristirahat pada utusan itu,
tapi ia memperlakukannya tawar sekali.
Lewat beberapa hari, Phang Sin Wie mau pulang ke kota
raja, ia mohon menghadap An Lok San, ia menanya ada surat
balasan atau tidak.
Atas itu An Lok San kata, "Firman menyebut lain musim, itu
artinya sampai bulan sepuluh, sekalipun aku tidak
mempersembahkan kuda, aku sendiri bakal datang ke kota raja
untuk melihat pemerintahan, dari itu, buat apa aku memberi
balasan? Bahkan kau sendiri, tak usah kau kesusu pulang, kau
tunggu saja sampai bulan sepuluh, nanti kita berangkat
bersama-sama!"
Phang Sin Wie tidak berani banyak omong. Ia tahu pasti An
Lok San benar mau berontak. Sekembalinya ke gedung
penginapannya, ia lantas berdamai dengan Cin Siang. Ia minta
Cin Siang lekas pulang guna memberi kisikan pada raja, supaya
raja siap sedia.
Cin Siang gagah, dia dirintangi oleh orang-orangnya An Lok
San tetapi dia lolos. Demikian dia kabur dari kota Hoan-yang,
siang dan malam, dan besokannya tengah hari, dia sudah
meninggalkan kota seratus lie lebih. Karena itu, meski kudanya
jempol, kuda itu toh sangat letih dan mulurnya berbusa.
Terpaksa dia mau singgah, supaya kudanya bisa mengaso,
makan rumput dan minum.
Itu waktu Cin Siang berada di kaki gunung. Tiba-tiba dia
dipegat serombongan pasukan berkuda, yang muncul dari
tikungan gunung. Mereka itu memegat sambil meminta uang
cukai jalan.

http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jalan gunung ini kami yang buka! Pohon-pohon di sini kami


yang tanam! Siapa mau lewat di sini, dia mesti membayar sewa
jalan!" demikian katanya.
Cin Siang gusar hingga dia berseru, "Bapak kamu she Cin ini
justeru kakek moyang berandal! Kamu kawanan kurcaci tak
tahu nol putul, kamu berani memegat kau?"
Terus dia gunakan sepasang ruyung kim-cong-gan menyerbu
kawanan pemegat itu.
Sepasang senjata itu ada senjata turunan, beratnya enam
puluh empat kati. Dulu hari Cin Siong alias Siok Po, leluhurnya
telah menggunakan senjata itu membantu Lie Sie Bin
membasmi delapan belas raja-raja muda hingga akhirnya
bangunkan Kerajaan Tong. Sekarang Cin Siang menggunainya
melabrak hebat pada kawanan perintangnya ini!
Dari dalam pasukan berandal dengan mendadak muncul dua
orang penunggang kuda yang bersamaan romannya, yang
usianya masing-masing usia pertengahan. Mereka itu mencekal
golok masing-masing di tangan kiri dan tangan kanan.
Dengan lantas mereka mengepung kepada Cin Siang dan
serangannya hebat sekali, sebab dua batang golok mereka
merupakan sebagai segelempang bianglala!
Cin Siang terperanjat. Ia lantas merasa bahwa ia lagi
berhadapan bukan dengan sembarang penjahat. Tapi ia tidak
takut, bahkan ia menyambut mereka dengan seruannya,
"Bagus!"
Sepasang ruyung sudah lantas bekerja menangkis serangan
dahsyat itu.
Dua tenaga baru itu ialah dua saudara she Cio yang terjuluk
Im-yang-to atau golok "Im Yang". Keduanya menjadi
sebawahan yang diandalkan Ong Pek Thong karena ilmu golok
http://ebook-dewikz.com/
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka yang luar^ biasa. Mereka selalu berkelahi berdua,


disebabkan senjata mereka yang dicekal dengan tangan kiri
dan kanan masing-masing.
Cin Siang tidak mau mengasih hati walaupun orang liehay. Ia
ingin lekas-lekas mengundurkan musuh. Baru beberapa jurus,
mendadak ia menangkis hebat dengan sepasang ruyungnya.
Dua kali beruntun terdengar bentrokan keras, lalu goloknya Cio
It Liong kena dibikin terbang, disusul dengan mentalnya golok
Cio It Houw!
Justeru itu ada terdengar suara panah nyaring. Untuk kaum
Rimba Hijau, itulah isyarat untuk menghentikan p