Anda di halaman 1dari 5

Faktor risiko terjadinya rekurensi stroke pada pasien stroke dan pasien TiA di Indonesia

Latar Belakang : stroke dideskripsikan sebagai gangguan yanh terjadi padi aliran darah otak yang
dapat menyebabkan malfungsi otak, gangguan neurologis, atau bahkan kematian. Walaupun dengan
manajemen yang baik pada masa akut, insidensi rekurensi strok tetap meningkat setiap tahunnya

Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor risiki dominan dari rekurensi strok

Pendahuluan

Stroke didefinisikan sebagai sindroma klinis yany di sebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak
secara tiba2 yang dapat terjadi pada pasien rentang usia 45-80 tahun. Stroke juga dideskripsikan
sebagai perubahan neurologis yang di sebabkan oleh terganggunya suplai darah ke bagian otak.
Stroke dibagi atas 2 tipe yaitu stroke iskemik (non hemoragik) dan stroke hemoragik. Stroke iskemik
terjadi karena adanya ateriosklerotik atau sumbatan darah di pembuluh darah menyebabkan
penurunan aliran darah. Sementara stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah dan
menyebabkan terganggunya aliran pembuluh darah di otak dan menyebabkan kerusakan. Dapat
disimpulkan bahwa stroke adalah gangguan pada aliran pembuluh darah ke otak yang dapat
menyebabkan malfungsi otak

Metode

penelitian ini adalah penelitian deskriptif cross sectional dengan 274 pasien strok sebagai sampel.
Sampel diambil dari salah satu rumah sakit umum yang terspesialisasi dalam gangguan neurologis di
jakarta, indonesia

Hasil

hasil menunjukkan ada korelasi signifikan antara penyakit kardiovaskular,kolesterol, dan aktivitas
dengan insidensi rekurensi strok (p<0.05). Faktor risiko dominan dalam penelitian ini adalah obesitas
(OR = 0.616)

Kesimpulan

Selain dari faktor risiko dominan, terdapat 3 faktor lainnya yang mempengaruhi rekurensi strok
secara signifikan yaitu : penyakit kardiovaskular, hiperkolestrolemia, dan aktivitas fisik. Perawat
harus lebih sadar bahwa beberapa pasien mungkin masih memiliki beberapa faktor risiko untuk
terjadinya rekurensi stroke walaupun mereka sudah krluar dari rumahsakit. Dengan beberapa upaya
seperti edukasi kesehatan, dan mengontrol faktor risiko tersebut dapat menurunkan risiko
terjadinya rekurensi

Berdasarkan (3), stroke merupakan penyebab kematian utama didunia, dimana pada negara seperti
as, stroke menjadi penyebab kematian tertinggi setelah penyakit kardiovaskular dan kanker. Sekitar
795.000 pasien setiap tahunnya mengalami stroke dan 185.000 diantaranya adalah rekurensi stroke.
Sementara di indonsia terdapat 500.000 orang mengalami stroke setiap tahunnya dan 2.5%
diantaranya mengalami disabilitas ringan dan moderate atau bahkan kematian. Menurut penelitian
kesehatan indonesia tahun 2018 prevalensi stroke nasional telah mengalami peningkatan
dibandingkan pada tahun 2013 (7.0%). Hal ini sesuai dengan prevalensi stroke di Jakarta pada tahun
2018 yang juga menunjukkan peningkatan(9.7%)

Data menunjukkan peningkatan insidensi stroke meningkat tiap tahunnya terutama pada negara
berkembang seperti indonesia. Stoke dapat menyebabkan beberapa gejala dan efek sperti
kelumpuhan wajah dan anggota gerak, bicara tidak jelas, penurunan kesadaran, kerusakan pada
penglihatan, dan gejala gejala gangguan neurologis lainnya. Pada kasus yang parah, stroke dapat
menyebabkan kematian atau dalam kondisi yang lebih baik sebagai akibat dari stroke yang parah
dapat berakhir dengan demensia, depresi, atau bahkan rekurensi stroke dapat terjadi

Metode

2.1 desai penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif cross sectional dengan 274 pasien stroke di rumah sakit
brain hospital nasional sebgai responden

Rekurensi stroke adalah salah satu komplikadi yang paling sering terjadi setelah pasien keluar dari
rumah sakit. Menurut (7) 25% dari pasien stroke setidaknya pernah satu kali mengalami rekurensi
stroke dimana 2-22%nya terjadi dalam tahun pertama dan 10-53% pada 5 tahun pertama setelah
stroke primer. Pasien stroke dengan faktor risiko dapat mengalami periode rekurensi stroke pada
bagian otak yanh sama ataupun berbeda. Seteleha stroke primer rekurensi stroke dapat terjadi
dengan efek yang lebih mematikan daripada stroke primer dengan kerusakan otak yang luas. Hal ini
juga terjaid pada pasien dengan kontrol diri yang lemah sehingga dapat memicu periode rekurensi
stroke perdarahan atau masalah yanh lebih luas daripada serangan primer. Masalah2 yang terjadi
karena stroke dapat menyebabkan gangguan kondisi fisik seperti disabilitas atau gangguan psikologi
pada usia produktif atau pada usia lebih tua dapat menyebabkan pada masalah sosial ekonomi

2.2 sampel

Penelitian ini dilakukan di rumahsakit l brain center nasional dengan 274 pasien stroke sebagai
sampel penelitian. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah 1.pasien stroke 2. Tidak memiliki
gangguan kognitif. Variable independen meliputi usia, jenis kelamin, kontrasepsi, diagnosis,
hipertensi, penyakit kardiovaskular, aritmia, hiperkolestrolemia, obesitas, merokok, penggunaan
alkohol, dm, aktivitas fisik, efekasi diri, nihss, dan stroke rekuren sebagai variable dependen

2.3 alat

Penelitian ini menggunakan kuesioner dan form ceklist untuk mendeskripsi tiap variable.
Kuesionernya adalah indeks barthel, lembar skor nihss, skala efikasi diri stroke, dan form lainnya
untuk mendeskripsikan karakteristik responden. Penelitian ini dimulai dengan membuat paperwork
untuk ijin dan bebas etik dari stikep ppni jabar dan national brain hospital. Semua variable dianalisa
secara independen/terpisah. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan chi square dan analisis
multifaktorial menggunakan tes regresi

2.4 prosedur pengumpulan data

Penelitian ini dilakukan pada bulan mei-juni 2019 di rumah sakit brain center nasional di jakarta
indonesia

2.5 analisis data

Data pada penelitian ini dianalisa secara univariat, bivariat, dan multivariat. Faktor risiko dominan
pada penelitian ini didapatkan melalui analisa multivariat dnegan menggunakan regresi binomial

3. Hasil

Tabel 1 menunjukkan hasil analisa univariat pada semua variable dalam oenelitian ini. Hasil dari
analisis univariat menunjukkan insidensi stroke rekuren adalah 109 (39.8%), 227 (82.8.%) adalh
pasien berusia diataas 45 tahun, 223 (...%) responded tidak menerima edukasi yang cukup, 123()
masih bekerja secara independen seperti bekerja pada perusahaan privat atau bussinesman.

Sekitar 56.9% responden berjenis kelamin laki-laki dan lebih dari setengahnya berasal dari suku
jawa. Lebih dari setengah responden didiagnosa dengan stroke iskemik

table 2 menunjukkan hasil dari analisa bivariat. Hasil mengindikasikan bahwa tidak ada korelasi
signifikan antara usia jenis kelamin, kontrasepsi,riwayat keluarga, htn, penggunaan alkohol, aktivitas
fisik, efikasi diri, skor nihss dan level pendidikan dengan rekurensi stroke (pvalue...). Sementara itu,
terdapat korelasi signifikan antara penyakit kv, aritmia, riwayat merokok, dm, dan
hiperkolestrolemia dengan rekurensi stroke

Analisa multifaktorial dilakukan untuk menentukan faktor risiko independen yg dominan. Hasil
menunjukkan bahwa faktor risiko dominan dari rekurensi stroke adalah obesitas (p...)

Diskusi

Prevalensi stroke di indonesia masih meningkat setiap tahunnya dan berhubungan dengan
peningkatan faktor risiko rekurensi stroke

Stroke rekuren dapat terjadi jika faktor risiko yanh ada tidak terkontrol baik di bagian otak yg sama
maupun di bagian yang berbeda. Terkadang, pasien dengan stroke rekuren dapat mengalami
kejadian yang lebih parah dibandingkan dengan serangan stroke awal. Hal ini dikarenakan kerusakan
otak yang luas terjadi sebagai akibat dari stroke sebelumnya ditambahkan dengan kerusakan saat ini.
Usia merupakan salah satu faktor risiko stroke yang tidak dapat dirubah, ketika seseorang
bertambah tua risio terjadinya stroke rekuren makin meningkat. Berdasarkan.. (gada d blg ni) usia
adalah slaah satu faktor risiko stroke yang tidak dapat dihindari dikarenakan elastisitas pembuluh
darah yang buruk pada pasien yang lebih tua. 3 juga menyebutkan bahwa faktor risiko stroke
menjadi 2x lipat setiap pertambahan usia satu dekade setelah usia 55 tahun. Prevalensi stroke di
indonesia paling tinggi terjadi pada usia 75 tahun

Penelitian ini menunjukkan bahwa responden paling banyak berusia lebih dari 45 tahun yaitu sekitar
227 (...%) orang. Berdasarkan penelitian 7 yang melibatkan 140 pasien stroke di thailand didapatkan
usia rata rata pasien strok adalah 65.5 tahun. Penelitian oleh 12 di panti wilasa citarum, semarang
menemukan bahwa kebanyakan responden berasal dari rentan usia >45 tahun. Penelitian 13
menunjukkan bahwa distribusi frekuensi usia tertinggi dari responden 46-50 tahun (....%). Sementara
pada penelitian ini, dijumpai bahwa tidak ada korelasi signifikan antara usia dan risiko terjadinya
stroke rekuren. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh wahyu dan saefuloh yang
menyatakan bahwa usia tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stroke rekuren

Pada tabel 1 didapatkan lebih dari setengah responden berjenis kelamin laki2 yaitu berjumlah 156
org(....%). Menurut chih, ying, dan wu pada maret 2007-agustus 2008 di taiwan dijumpai insidens
dari stroke pada laki2 lebih sering tjd dibandingkan wanita dengan persentase masing masing 63.4
dan 36.6. Penelitian 13 menunjukkan bahwa distribusi responden didominasi oleh laki2. Pasien
berjenis kelamin laki2 cenderung lebih banyak dikarenakan aktivitas merokok lebih banyak dilakukan
oleh laki2 dibandingkan perempuan. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah
dan menyebabkan stroke. Wanita memiliki estrogen sebagai hormon yang dapat meningkatkan
kadar hdl didalam darah sehingga dapat mencegah terjadinya aterosklerosis. Walaupun demikian,
ketika produksi estrogen menurun atau belum terjadi, risiko stroke pada wanita lebih tinggi daripada
laki2. Pola dari serangan ini berhubungan dengan perlindungan dari hormon seks perempuan
sehingga pola trsbt dapat berubah ketika pasien wanita memasuki periode menopause.
Prevalensi stroke yang tggi terjadi pada komunitas dengan tingkat pendidikan yang rendah, namun
tidak dijumpai korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan risko stroke rekuren. Htn
adalah salah satu faktor yang biasanya tidak terkontrol dan dapat berkontribusi pada kejadian strok
rekuren. Makin tinggi tekanan darah maka risiko terjadinya stroke rekuren jga semakin meningkat.
14 menyatakan bahwa berdasarkan analisa data yang menggunakan tss chi square ditemukan p
value sebesar <0.05 yang berarti tidak ada korelasi sognifikan antara htn dengan strok rekuren.
Mengontrol tekanan darah pada pasien strok dapat mengurangi risiko terjadinya stroke rekuren

Hiperkolestrolemia memiliki hubungan yang erat dengan stroke rekuren, hal ini didukung oleh teori
yang menunjukkan bahwa hiperkolestrolemia dapat menyebabkan terjadinyan aterosklerosis pada
pembuluh darah di otak dan pembentukan sumbatan lemak sehingga aliran darah tidak lancar.
Selain daripada itu, hiperkolestrolemia jg dpaat menyebabkan penyakit jantung koroner. Pada
penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara hiperkolestrolemia dengan insidensi stroke
rekuren dengan p value 0.000. Penelitian di china yang di lakukan oleh 15 menunjukkan p value
<0.05 berarti dijumpai korelasi signifikan anatara dislipidemi dengan insidensi stroke rekuren

Responden yang memiliki penyakit KV pada penelitian ini berjumlah 39 org atau 14.2%. Hasil dari
analisis bivariat menggunakan chi square mengindikasikan bahwa adanya korelasi signifikan antara
riwayat penyakit KV dengan insidensi stroke rekuren (p=...). Penyakit jantung adlaah faktor paling
kuat yang dapat menyebabkan strok iskemik. Menurut 12, merokok adalah faktor risiko dari
penyakit KV dan stroke. National stroke association menyatakan bahwa kandungan rokok seperti CO
dapat menyebabkan ikatan hb dengan o2 berkurang dalam darah. Hal ini membuat jantung akan
bekerja lebih keras untuk memenuhi CO yang dibutuhkan untuk seluruh bagian tubuh. Sebagai
tambahan, kandungan rokok dapat mempermudah pembentukan sumbatan pada pembuluh darah
atau trombus dan dapat menyumbat aliran darah. Gangguan pada aliran darah ke bagian otak dpt
menyebabkan stroke. Bagaimanapun, risiko terjadinya stroke dapat diturunkan dengan cara
berhenti merokok. Berdarkan 16 rokok mengandung 4000 bahan kimia berbeda yang dapat diserap
kedalam aliran darah dan dihantarkan keseluruh tubuh melalui sistem vaskular. Banyak dari bahan
kimia tersebut bekerja sebagai radikal bebas yang dapat menginisiasi reaksi kimia yang tidak
diinginkan, beberapa bahan kimia tersebut diketahui bersifat racun secara lgsg terhadap endotelium
pembuluh darah. Merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke hingga 50% dan juga
perdarah subarachnoid hingga 100%

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidka ada hubungan signifikan antara riwayat merokok daj stroke
rekuren dengan p value 0.356. 14 menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara merokok
dengan insidensi stroke rekuren dengan p value 1.000. Hal ini sama dengan hasil yang di dapatkan
dalam penelitian (far ini bangai,penelitian apa ga dibuat) didapatkan tidak adanya korelasi signifikan
antara merokok dengan insidensi stroke dengan p value 0 527. Pada penelitian ini merokok tidak
mempengaruhi kemunhkinan terjadinya stroke rekuren sebagai mana hal tersebuy berdarkan
dengan jumlah rokok yanh dikonsumsi setiap harinya dan juga berhubungan dengan berapa lama
responden tersebut mengonsumsi rokok

Selain merokok, alkohol juga salah satu faktor yang dpaat berkontribusi dalam terjadinya stroke
rekuren. Penggunaan alkohol sebanyak total 80 cc atau 560 cc per hari akan mempengaruhi insidensi
stroke rekuren. Secara teoritis alkohol apat menginduksi peningkatan tekanan darah yang merupaka
salah satu faktor risiko stroke tetapi jumlah alkohol yang dikonsumsi jg dpt mempengaruhi insidensi
stroke rekuren. Dalam penelitian ini proporsi responden dengab riwayat mengonsumsi alkohol lebih
sedikit di bandingkan yang tidak memiliki riwayat konsumsi allkohol. Penelitian yg d lakukan omori
(2015) di jepang, ditemukan bahwa 40% responden yanh mengalami stroke rekuren memiliki
kebiasana mengonsumsi alkohol. Menurut penelitian 18 tentang karakteristik dan risiko stroke
rekuren di china didapatkan bahwa alkohol adalah faktor risiko stroke di bagian barat tetapi pada
populasi di indonesia belum terbukti demikian dikarenakan kebudayaan yanh berbeda. Dilaporkan
secara spesifik bahwa mengonsumsi alkohol lebih dari 60 gr per hari meningkatkan risiko stroke 1.69
kali dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi alkohol

Responden dengan riwayat dm pada penelitian ini berjmlah 126 responden (46.0%) dan tidak
terdapat hubunhan signifikan antara dm dengan insidensi trjdinya strok rekuren (pvalue : 0.089).
Penelitian oleh karuniawati menyatakan tidak adanya hubungan sigmifikan anatra kejadian dm dgn
stroke rekuren, hasil test statistik menggunakan chi square menunjukkan p value sebesar 0.409.
Bagaimanapun hal ini tidak sejalan dengan penelitian 19 tentang diabetes sebagai faktor independen
pada strok rekuren, nila OR yng d dptkn pada penelitian ini adalah 1.45 (pvalue <0.005) yang berarti
risiko terjadinya stroke rekuren meningkat 1.45 kali pada pasien dengan diabetes. Lambert
menyebutkan bahwa walaupun diabetes adalah faktor risiko untik terjadi nya strokr pertama kalinya,
tidak terdapat bnyk data yang menunjukkan bhwa diabetes memiliki efek yg signifikan pada insidensi
strok rekuren. Diabetes diperkirakan hanya mempengaruhi sekitar 9% pada terjadinya strok rekuren