Anda di halaman 1dari 13

MENGENAL MAHKAMAH PIDANA INTERNASIONAL

(ICC/International Criminal Court)

Apakah Mahkamah Pidana Internasional itu ?


ICC adalah pengadilan tetap dan independen pertama yang
mampu melakukan penyelidikan dan mengadili setiap orang
yang melakukan pelanggaran terberat terhadap hukum
Kemanusiaan Internasional, pembunuhan dan tindakan
Agresi.
Apa Dasar Mahkamah Pidana Internasional dan Bagaimana
Sejarahnya?
ICC dibentuk berdasarkan Statuta Roma-perjanjian dasar ICC-
pada tanggal 1 Juli 2002. Hingga saat ini Perjanjian
Mahkamah Pidana Internasional telah diratifikasi oleh 108
negara perwakilan di seluruh dunia. Kerangka kerja
Mahkamah Pidana Internasional ini ditetapkan oleh PBB.
Tercatat dalam kurun waktu 4 tahun sejak penandatanganan
pertama tanggal 17 Juli 1998 hingga 11 April 2002, Perjanjian
Mahkamah Pidana Internasional telah diratifikasi banyak
negara dan dijadikan Hukum Internasional pada tanggal 1 Juli
2002.
Mengapa Dibutuhkan ICC ?
Berangkat dari pengalaman sejarah hidup umat manusia
selama berabad-abad yang penuh dengan tindak kekerasan
terburuk, dimana lebih dari 86 juta warga sipil tewas,
sebagian besar perempuan dan anak-anak dan lebih dari 170

1
juta orang dirampas hak-haknya harta benda dan harga
dirinya tanpa adanya pemberian keadilan yang memadai,
maka Majelis Umum PBB pada Tahun 1948 mengakui perlu
adanya mekanisme tetap untuk mengadili pembunuhan
massal dan Kejahatan Perang (War crimes). Sejak itu banyak
UU, Perjanjian, Konvensi membatasi dan melarang segala hal
menyangkut kejahatan perang hingga gas beracun dan
senjata kimia, namun belum ada pengajuan sistem peradilan
yang mampu menahan setiap individu yang bertanggung
jawab atas tindak kejahatan hukum internasional hingga
Tahun 1998 saat Statuta Roma diadopsi. Selain untuk
mewujudkan keadilan bagi para korban kejahatan, ICC
diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pelaku dan
mengakhiri budaya pemberian ampunan (impunitas) kepada
para penjahat internasional.
Apa Pencapaian ICC hingga saat ini ?
Sejak pengadilan dibentuk bulan Juli 2002, ICC telah
mendirikan kantor di Den Haag dengan 3 organisasi utama
pengadilan: Kantor Jaksa Penuntut, kepresidenan/hakim dan
Pejabat Catatan Sipil. Sejak Desember 2005, Kantor jaksa
Penuntut diketuai oleh Jaksa Louis Moreno. Kantor Jaksa
Penuntut baru baru ini sedang meneliti 8 situasi di empat
benua, termasuk Afrika Tengah dan Pantai Gading.

2
Apa Beda Antara ICC (Mahkamah Pidana Internasional)
dengan Pengadilan Tinggi Internasional dan Pengadilan Ad-
Hoc Bekas Yugoslavia dan Rwanda ?
Pengadilan Tinngi Internasional, Badan Pengambil Keputusan
Utama PBB khusus dirancang untuk menyelesaikan pertikaian
antar negara. Pengadilan Tinggi Internasional ini tidak
memiliki yurisdiksi bagi permasalahan yang melibatkan
tanggung jawab bagi kejahatan setiap orang. Sedang
Pengadilan Ad-Hoc bekas Yugoslavia dan Rwanda berbeda
dengan Mahkamah Pidana Internasional dalam yurisdiksi
geografis dan wilayah temporal. Karena dibuat oleh dewan
Keamanan PBB, Pengadilan ad-Hoc hanya diberikan mandat
untuk menangani kejahatan di wilayah-wilayah tersebut
dalam kurun waktu tertentu. Sebaliknya Pengadilan
kejahatan Internasional adalah sebuah lembaga yang
permanen dan independen yang mampu mengadili kejahatan
yang teridentifikasi oleh Statuta Roma dan telah dilakukan
setiap individu sejak 1 Juli 2002.
Mengapa masih Dibutuhkan Mahkamah Pidana
Internasional bila Sudah Ada Pengadilan tinggi Internasional
dan pengadilan Ad-Hoc Bekas Yugoslavia dan Rwanda ?
Telah digelarnya peradilan terhadap para penjahat dalam
Perang Dunia II tidak membuat pemikiran untuk membuat
sebuah institusi peradilan permanen memudar untuk
mengadili para pelaku kejahatan internasional. Hal ini
disebabkan karena mekanisme pengadilan internasional yang

3
bersifat ad-hoc mempunyai kelemahan-kelemahan yang
mendasar yaitu :
(1) Victor’s Justice:
Dari ke empat pengadilan internasional yang telah
diselenggarakan, semuanya mempunyai kesamaan,
yaitu yang dianggap bertanggung jawab atas kejahatan
yang terjadi adalah individu-individu dari negara yang
kalah perang, sementara bagi negara-negara pemenang
perang akan terbebas dari tanggung jawab, meskipun
mereka juga melakukan kejahatan-kejahatan serupa.
Inilah mengapa keadilan yang dicapai melalui ke empat
proses pengadilan tersebut dianggap sebagai Victor’s
Justice (Keadilan bagi pemenang Perang);
(2) Selective Justice:
Kelemahan lain dari mekanisme Pengadilan
Internasional Ad-Hoc adalah terjadinya keadilan Tebang-
Pilih (Selective Justice), maksudnya adalah tidak semua
kasus kejahatan internasional paling serius mempunyai
kesempatan yang sama untuk dibentuk pengadilan
internasional, hanya kasus-kasus tertentu yang dianggap
mempengaruhi stabilitas dan keamanan internasional
saja yang akan diadili, dan hanya kasus-kasus yang
melibatkan negara-negara penting yang mempunyai
kesempatan untuk diselesaikan. Artinya akan ada pelaku
yang tidak ditindak dan akan ada korban yang tidak
akan mendapatkan hak-haknya atas keadilan dan
kompensasi. Lebih jauh kondisi seperti ini tidak banyak
4
memberikan sumbangan untuk menghentikan praktek-
praktek impuntas di berbagai penjuru dunia.

(3) Tidak adanya efek jera dan pencegahan di masa


mendatang;
Meskipun mendapat kemajuan yang pesat dari ke dua
Mahkamah Pidana Internasional pasca Perang Dunia ke
2, ke dua pengadilan berikutnya masih memiliki
keterbatasan yang sama. Diantaranya tidak adanya kerja
sama dengan negara di mana kejahatan internasional
yang serius terjadi; tidak bisa menghentikan konflik yang
sedang berlangsung dan tidak bisa mencegah
berulangnya konflik, serta jangkauan dari penuntutan
terbatas pada kategori konflik yaitu Konflik Internal atau
Internasional.
(4) Muatan Politis;
Lebih dari setengah abad sejak Peradilan nuruenberg
dan Tokyo, banyak negara gagal membawa mereka yang
bertanggung-jawab atas genosida, kejahatan
kemanusiaan dan kejahatan perang ke pengadilan. Ini
disebabkan karena mekanisme pembentukan
pengadilan internasional ad-Hoc hanya bisa dilakukan
melalui Dewan Keamanan PBB, artinya “nasib” keadilan
sangat tergantung pada komposisi anggota dewan
Keamanan PBB dan penggunaan hak veto oleh anggota
tetap Dewan Keamanan PBB. Dalam konteks ini tentu

5
saja kepentingan politik akan lebih banyak berperan
ketimbang pertimbangan hukum dan keadilan.
Berangkat dari alsan-alasan di atas, maka diperlukan
sebuah mekanisme pengadilan internasional yang relatif
bebas dari intervensi politik internasional, menjunjung
tinggi kedaulatan negara dan bersifat independen dan
berlaku lebih fair, bahkan kepada pelaku.
Bentuk Kejahatan Apa Saja yang Ditangani oleh ICC ?
Mahkamah ini memiliki yurisdiksi untuk mengadili bagi setiap
pelaku tindak kejahatan terberat, kejahatan perang dan
agresi, kejahatan kemanusiaan dan kejahatan genosida.
Apakah Genosida itu ?
Genosida mencakup aksi-aksi terlarang yang didaftar secara
rinci misalnya : pembunuhan, kejahatan serius dan bertujuan
untuk menghancurkan seluruh atau sebagian bangsa, suku
bangsa, ras atau kelompok agama.
Apa Kejahatan kemanusiaan itu ?
Kejahatan kemanusiaan mencakup aksi-aksi terlarang yang
didaftar secara rinci, dilakukan sebagai bagian dari agresi
menyeluruh atau sistematis terhadap setiap warga sipil. Aksi-
aksi termasuk pembunuhan, pengusiran, pemerkosaan,
perbudakan seksual, penghilangan paksa, dan kejahatan
apartheid.
Apa Kejahatan perang itu ?

6
Kejahatan Perang mencakup pelanggaran berat atas
Konvensi Jenewa 1949 (Geneva Convention-1949) dan
pelanggaran serius lain terhadap undang-undang perang,
dilakukan baik dalam skala besar internasional maupun
konflik bersenjata internal. Adanya konflik internal sesuai
dengan Hukum adat internasional dan mencerminkan
realitas bahwa dalam 50 tahun terakhir pelanggaran paling
serius terhadap hak asasi manusia tidak terjadi dalam konflik
internasional tetapi dalam konflik bersenjata internal.
Definisi kejahatan dalam Statuta adalah hasil kerja keras
bertahun-tahun yang melibatkan banyak delegasi dan pakar.
Para hakim Mahkamah Pidana Internasional diharuskan
bersikap tegas dalam menjelaskan definisi tersebut dan tidak
boleh memperluas dengan analogi. Tujuannya adalah untuk
menetapkan standard obyektif internasional tanpa memberi
ruang bagi putusan arbiter, jika terdapat ambiguitas definisi
tersebut akan diterjemahkan untuk membantu tersangka
atau tertuduh.
Kapan Mahkamah Pidana Internasional menetapkan
yurisdiksi Kejahatan ?
Sejak awal diberlakukan Statuta Roma pada tanggal 1 Juli
2002, ICC menetapkan yurisdiksi atas kejahatan yang
dilakukan oleh bangsa-bangsa yang telah meratifikasi Statuta
ICC, serta atas kejahatan yang dilakukan di wilayah negara-
negara yang telah meratifikasi perjanjian tersebut. ICC
dirancang untuk melengkapi sistem keadilan nasional yang

7
ada, namun ICC dapat menerapkan yurisdiksinya jika
pengadilan nasional tidak mau atau tidak mampu menyelidiki
atau menghukum kejahatan-kejahatan tersebut. Oleh karena
itu ICC juga berperan sebagai katalis dalam proses investigasi
dan pemberian hukuman kejahatn negara-negara yang
dilakukan baik dalam wilayah atau oleh bangsa mereka.
Kasus dapat diajukan ke ICC oleh negara anggota Statuta
Roma, jaksa Penuntut dan dewan Keamanan PBB. Dengan
demikian pengadilan dapat melaksanakan yurisdiksinya atas
atas masalah tersebut jika baik negara tempat kejahatan
dilakukan atau negara kebangsaan tertuduh merupakan
peserta statuta. Negara-negara bukan peserta dapat
menerima yurisdiksi di tingkat ad hoc, atau ketika suatu
masalah diajukan dewan Keamanan, ICC akan membuat
yurisdiksi tanpa memandang apakah negara tersebut peserta
perjanjian Statuta atau bukan.
Dapatkah seorang warga dari negara bukan penanda tangan
Statuta Roma dijatuhi Hukuman ?
Dapat, semua warga negara manapun berada di bawah
yurisdiksi ICC dalam salah satu kondisi berikut: i. Negara di
mana kejahatan terjadi adalah negara yang telah meratifikasi
Perjanjian Statuta ICC, 2. Negara tersebut telah mengakui
yurisdiksi ICC pada basis ad-hoc atau 3.DewaN keamanan
PBB menyampaikannya ke ICC. Nsmunmenurut prinsip saling
melengkapi ICC akan bertindak hanya jika pengadilan

8
nasional atas tertuduh tidak memulai penyelidikan dan
hukuman.
Dapatkah Pejabat tingkat Tinggi atau petinggi Militer
dijatuhi hukuman oleh ICC ?
Dapat, tanggung jawab kejahatan akan diberlakukan sama
kepada semua orang tanpa pengecualian, termasuk Kepala
Negara atau pemerintah, anggota pemerintahan atau
parlemen, wakil terpilih atau pejabat pemerintah. Kenyataan
bahwa kejahatan telah dilakukan oleh seseorang atas
perintah penguasa biasanya tidak akan dapat membebaskan
orang tersebut dari pertanggungjawaban kejahatan.
Komandan militer bertanggung jawab atas kejahatan yang
dilakukan oleh pasukan di bawah perintah dan
pengawasannya. Tanggung jawab atas kejahatan ini juga
meliputi ketika seorang komandan militer mengetahui atau
seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang
atau akan melakukan kejahatan namun gagal untuk
mencegah atau menekan tindakan mereka. Selain itu warga
sipil yang bertindak sebagai komandan militer dianggap
bertangggung jawab atas kejahatan ketika mereka
mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yang
jelas-jelas menunjukkan bahwa kejahatan sedang atau akan
dilakukan.
Apakah ICC Melanggar hukum Internasional jika
Menetapkan Yurisdiksi atas Anggota Pasukan Nasional atau
Pasukan Penjaga Perdamaian ?

9
Di bawah hukum Internasional yang berlaku saat ini negara di
mana genosida, kejahatan kemanusiaan atau kejahatan
perang ternyata telah dilakukan atau di mana bangsa-
bangsanya merupakan korban kejahatan tersebut berhak
untuk dan seringkali secara hukum wajib melakukan
penyelidikan dan menjatuhkan hukuman atas para tertuduh
pelaku kejahatan tersebut. Statuta ICC tidak melanggar
prinsip Hukum Perjanjian Internasional manapun dan belum
menetapkan hak-hak atau kewajiban hukum apapun yang
tidak ada menurut hukum Internasional. Kerjasama negara
bukan peserta sesungguhnya bersifat sukarela dan tidak ada
pemaksaan. Statuta ICC memberikan perlindungan khusus
dari penjaga perdamaian dengan memasukkan serangan
sengaja terhadap personil, instalasi, unit materi atau
kendaraan untuk kemanusiaan atau misis perdamaian
sebagai kejahatan yang dapat dihukum. Pelanggaran-
pelanggaran tersebut termasuk kejahatan perang atau
kejahatan kemanusiaan dalam situasi tertentu.
Apakah ICC Membatasi Yurisdiksi Pengadilan Nasional ?
Tidak. ICC akan melengkapi (Complementary) bukan
mengambil-alih yurisdiksi pengadilan nasional. Pengadilan-
pengadilan nasional terutama akan menyelidiki dan
menjatuhkan hukuman atas kejahatan dalam yurisdiksi
mereka. Atas dasr saling melengkapi ICC akan bertindak
hanya jika pengadilan nasional tidak mau (unwilling) dan
tidak mampu (unable) menerapkan yurisdiksi. Jika

10
penghadilan nasional mau dan mampu menerapkan
yurisdiksinya, maka ICC tidak dapat mencampuri. Alasan-
alasan untuk membawa sebuah kasus ke hadapan ICC
dijelaskan dalam Statuta. Berbagai keadaan penyebab
ketidakmampuan dan ketidakinginan dijelaskan dengan hati-
hati untuk menghindari keputusan arbiter. Selain itu negara-
negara tertuduh dan yang berminat, baik peserta statuta
atau hukan dapat menantang yurisdiksi pengadilan atas
diterimanya kasus tersebut. Mereka juga berhak untuk
mengajukan naik banding untuk keputusan terkait apapun.
Apa Peranan Dewan Keamanan PBB Dalam Kerja ICC ?
Kerja Dewan Keamanan PBB dan ICC saling melengkapi.
Statuta Roma mengakui peran Dewan keamanan dalam
memeliharan perdamaian dan keamanan internasional. Lebih
jelasnya menurut Bab VII Piagam PBB DK PBB dapat merujuk
suatu situasi ke ICC ketika satu atau lebih kejahatan yang
dibahas statuta telah dilakukan. Hal tersebut akan menjadi
dasar bagi jaksa penuntut untuk memulai sebuah
penyelidikan. Karena situasi yang dirujuk Dewan Keamanan
PBB didasarkan pada kemampuannya yang bersifat mengikat
dan secara hukum dapat ditegakkan di semua negara,
pelaksanaan yurisdiksi ICC menjadi bagian alat penegak
Dewan. Yurisdiksi tersebut menjadi mengikat meskipun
negara tempat terhadi kejahatan tidak mengakui atau negara
kebangsaan tertuduh bukan anggota statuta. Dalam contoh
di atas ICC lewat penyelidikan dan pengadilan membantu DK

11
PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan
internasional. Yurisdiksi hasil dari rujukan DK PBB ini
memperkuat peran ICC dalam menegakkan hukum atas
kejahatan internasional. Pada saat yang sama, yurisdiksi
pengadilan diperluas hingga mencakup negara-negara bukan
peserta. Tambahan lagi, DK PBB dengan mengambil resolusi
dapat meminta ICC menunda penyelidikan atau pengadilan.
Untuk memperjelas independensi pengadilan, rujukan DK
PBB hanya merupakan satu dari 3 cara ICC menjalankan
yurisdiksinya.
Apakah ICC Dapat dipercaya dan Memiliki Independensi ?
Majelis Negara Anggota (The Assembly of States Party) terdiri
dari semua negara yang telah mensahkan perjanjian sebagai
peserta penuh dan negara-negara penandatangan perjanjian
sebagai pengamat, mengawasi kerja ICC mempersiapkan
manajemen menyeluruh sehubungan dengan administrasi
ICC untuk Presiden, Jaksa Penuntut dan Petugas Catatan Sipil,
menetapkan anggaran, menetapkan jumlah para hakim dan
mempertimbangkan segala pertanyaan berkaitan dengan
non-kerja sama negara-negara dengan ICC. Majelis negara
anggota tidak dapat mencampuri fungsi-fungsi hukum ICC.
Segala pertikaian yang berhubungan dengan fungsi fungsi
hukum ICC akan diselesaikan oleh ICC itu sendiri. Hingga saat
ini terdapat 94 negara anggota Majelis Negara-Negara
Anggota, mewakili banyak demokrasi dan seluruh wilayah di
dunia.

12
13

Anda mungkin juga menyukai