Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK

JURNAL READING ANAK

KELOMPOK 9:

Dewi Handayani

Dewi Kurniawati

Dimas Alfan

Dimas Bima

Donny Ramadan

Dwi Agung

Dwi Agustina
BAB 1

RINGKASAN JURNAL

A. Identitas Jurnal
Jurnal tentang penangan anak autisme yang berasal dari 10 jurnal yang kami kumpulkan,
9 dari beberapa pnelitian di berbagai daerah di Indonesia dan 1 jurnal dari Luar Negeri
(USA). Berikut beberapa jurnal yang kami rangkum.

Nama Penulis Judul Jurnal


Asrizal Penanganan Anak Autis dalam Interaksi
Sosial Autism Children Handling on Social
Interaction
Suteja, Jaja Bentuk dan Metode Terapi Terhadap Anak
Autisme Akibat Bentukan Perilaku Sosial

Nuraini Kurdi, F. Strategi Dan Teknik Pembelajaran Pada


Anak Dengan Autisme
Yulia Artanti, P. Studi Deskriptif Terapi Terhadap Penderita
Autisme Pada Anak Usia Dini Di Mutia
Center Kecamatan Bojong Kabupaten
Purbalingga
Aydillah, D., dkk Metode Glenn Doman Meningkatkan
Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autis
Siyoto, S. Visual Schedule Terhadap Penurunan
Behavior Problem Saat Aktivitas Makan
Dan Buang Air Pada Anak Autis
Affandi, dkk. Faktor-Faktor Penyebab terjadinya
Autisme pada Anak Di Kota Cirebon
Mahdalena, R., dkk Melatih Motorik Halus Anak Autis
Melalui Terapi Okupasi
Marienzi, R. Meningkatkan Kemampuan Mengenal
Konsep Angka Melalui Metode
Multisensori Bagi Anak Autis
Hossein, A, etc. Children with Autism Spectrum Disorder
and Patterns of Participation in Daily
Physical and Play Activities

BAB 2
PENDAHULUAN
Autisme adalah salah satu dari lima tipe gangguan perkembangan pervasif (pervasive
developmental disorders, PDD). Cakupan dari kelima tipe PDD tersebut adalah autisme,
sindrom Asperger, gangguan disintegrasi masa kanak-kanak, sidrom Rett, dan Pervasive
Developmental Disorder-not Otherwise Specified (PDD-NOS). Autisme mengacu pada
abnormalitas dalam interaksi sosial, komunikasi, dan bermain imajinatif yang mulai muncul
sejak anak berusia di bawah 3 tahun (Affandi, 2011).
Autisme berbeda derajat keparahannya pada setiap individu dan dapat berkisar dari
ringan sampai berat. Individu dengan gangguan autisme dapat menunjukkan gejala yang
berbeda misalnya hanya terdapat gangguan dalam interaksi sosial. Individu dengan gejala
autisme masing-masing dapat menunjukkan perkembangan klinis yang berbeda seperti pada
onset gejala, seberapa parah gangguan yang muncul, gejala yang timbul, dan apakah terdapat
masalah-masalah kesehatan lainnya (NIDCD, 2012).
Prevalensi autis pada anak berkisar 2–5 penderita dari anak 10.000 anak-anak di bawah
12 tahun. Apabila retardasi (keterbelakangan mental) berat dengan beberapa gambaran autisme
dimasukkan, maka angkanya meningkat menjadi 20 penderita dari 10.000 anak. Rasio
perbandingan 3:1 untuk anak lakilaki dan perempuan. Dengan kata lain, anak laki-laki lebih
rentan menyandang sindrom autisme dibanding anak perempuan. Bahkan diprediksikan oleh
para ahli bahwa kuantitas autisme pada tahun 2015 akan mencapai 60% dari keseluruhan
populasi anak di seluruh dunia. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan perkembangan
anak autis semakin bertambah dari tahun ke tahun. Prevalensi autis berkisar 1–2 per 1000
penduduk dengan distribusi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita (4:1). Hal ini menjadi
bukti bahwa kebutuhan akan layanan anak autis semakin meningkat bersamaan dengan jumlah
anak autis (Siyoto, S., 2014).
Jumlah kasus autisme mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.
Menurut penelitian selama 50 tahun terakhir tercatat prevalensi autis mengalami peningkatan di
seluruh dunia. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan menyatakan bila
diasumsikan dengan prevalensi autisme 1,68 per 1.000 untuk anak di bawah 15 tahun dimana
jumlah anak usia 5-19 tahun di Indonesia mencapai 66.000.805 jiwa (Aydillah, D., 2018).
Gejala autisme biasanya terjadi pada usia di bawah 3 tahun di mana anak laki terkena
empat kali lebih banyak dari anak perempuan (Taylor, 2006). Anak dengan autisme berbeda
dibanding dengan anak yang berkelainan lainnyasehingga perlu didekati dengan pendekatan
humanistik yang memandang mereka sebagai individu yang utuh dan unik (Nuraini, K.,2009).
Sejatinya penanganan anak autis harus dilakukan dengan melibatkan ahli dari berbagai
multidisiplin, salah satunya adalah pekerja sosial. Profesi yang memberi pertolongan pelayanan
sosial kepada individu, kelompok dan masyarakat dalam peningkatan keberfungsian sosial dan
membantu memecahkan masalah sosial disebut dengan pekerjaan sosial. Pekerja sosial adalah
seorang yang memiliki profesi dalam membantu memecahkan masalah dan mengoptimalkan
keberfungsian sosial individu, kelompok dan masyarakat serta mendekatkan mereka dengan
sistem sumber ( Asrizal, 2016).
Pekerja sosial dalam menjalankan tugas berada dalam naungan badan-badan sosial yang
bergerak dalam pelayanan sosial, dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi dalam
memberikan layanan sosial. Pekerja sosial dituntut dapat mengenal kecenderungan-
kecendrungan negatif yang terjadi pada anak. Pekerja sosial juga harus memiliki basic skill
dalam berkomunikasi, pengetahuan serta sikap yang baik dalam membina dan memberi
perhatian dan kasih sayang kepada anak. Pekerja sosial membutuhkan peran orang-orang yang
dekat dengan anak, seperti peran orang tua, teman dan lingkungan yang dijadikan sebagai faktor
pembentuk dan penentu kematangan sosial anak. Suatu kerjasama dapat diwujudkan apabila
pekerja sosial dengan pelaku interaksi saling berhubungan dan melakukan interaksi sosial,
sehingga dibutuhkan adanya seorang pekerja sosial dalam memberikan pelayanan sosial pada
anak (Asrizal, 2016).
Seringkali orang tua tidak menyadari bahwa ia memiliki anak autis, orang tua baru
menyadari ketika melihat anaknya memiliki perbedaan dengan anak-anak yang lainnya. Orang
tua harus bisa menyadari kenyataan bahwa anak mereka memiliki gejala autis atau
keterbelakangan mental sehingga disana akan tumbuh rasa kasih sayang yang teramat sangat,
perhatian yang lebih mendalam antara orang tua kepada anaknya. Persoalan yang memiliki anak
yang tidak sempurna, apapun jenisnya dan kapanpun ia diketahui, reaksi yang timbul umumnya
serupa, karena tidak adaorang tua yang siap menerima kenyataan bahwa buah hatinya terlahir
tidak sempurna. Begitu mengetahui bahwa anaknya lahir dalam keadaan tidak sempurna, orang
tua akan merasakan duka mendalam (Suteja, J, 2014).
Dari beberapa hambatan perkembangan anak autis yaitu hambatan emosional dan
interaksi sosial, penulis hanya berfokus pada interaksi sosial pada anak autis, karena seperti
yang telah diterangkan sebelumnya, anak autis memiliki hambatan komunikasi sosial, sehingga
penelitian yang mengkaitkan anak autis dengan interaksi sosial menjadi sangat penting (Asrizal,
2016).
Sebagai perawat, pertolongan kesehatan yang dapat diberikan adalah memberikan asuhan
keperawatan kepada klien dengan memberikan beberapa alternatif terapi untuk anak autis yaitu
mencakup dua hal, yaitu penanganan dini dan penanganan terpadu. Untuk penanganan dini,
terdiri dari beberapa cara, seperti intervensi dini, dibantu terapi di rumah, dan masuk kelompok
khusus. Adapun penanganan terpadu bagi anak autis menjadi sebuah keharusan apabila
penanganan dini tidak berhasil secara objektif. Apalagi orang tua menginginkan anaknya dapat
sembuh dari gangguan autis. Berdasarkan penelitian, penanganan terpadu bagi anak autis dapat
dilakukan dengan cara memakai produk-produk herbal yang mengandung buah noni. Buah noni
terbukti efektif dapat menyembuhkan autis pada anak (Asrizal, 2016).

BAB 3
PEMBAHASAN

Pengertian anak autis memiliki banyak makna (multi tafsir), tergantung dari sudut
mana pengertian tersebut diambil. Anak autis sering juga disebut dengan Autisme atau
golongan autis. Secara terminologi, autisme dapat diartikan sebagai, (1) gejala
menyendiri atau menutup diri secara total dari dunia riil dan tidak mau berkomunikasi
lagi dengan dunia luar, (2) ialah cara berfikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal
atau diri sendiri, (3) menanggapi dunia berdasarkan penglihatan, harapan sendiri dan
menolak realitas, dan (4) keasyikan ekstrim dengan fikiran dan fantasi sendiri
Ditinjau dari segi perilaku, anak-anak penderita autis cenderung untuk melukai
dirinya sendiri, tidak percaya diri, bersikap agresif, menanggapi secara kurang atau
berlebihan terhadap stimulasi eksternal, dan menggerak-gerakkan anggota tubuhnya
secara tidak wajar. Autisme memiliki gejala-gejala utama yang menonjol pada diri anak
autis, sehingga bagi orang lain dapat mengenali bahwa anak tersebut adalah anak autis
atau autisme. Gejala-gejala tersebut meliputi gangguan atau keanehan dalam berinteraksi
dengan lingkungan. Autisme juga memiliki gangguan dalam kemampuan berkomunikasi
baik verbal maupun anverbal. Selain itu juga autisme memiliki gangguan keanehan dalam
berperilaku.
Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli dan dokter di dunia
masih memperdebatkannya. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan
biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan jiwa. Ahli
lainnya lagi berpendapat karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang
terkontaminasi zat-zat beracun sehingga mengakibatkan kerusakan pada usus besar,
kemudian mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik, termasuk autis.
Widyawati mengemukakan bahwa ada berbagai macam teori tentang penyebab autis,
yaitu teori psikososial, teori biologis dan teori imunologi. Gangguan autisme
menyebabkan anak-anak penyandang autis semakin jauh tertinggal apabila dibandingkan
dengan anak-anak non-autis yang sebaya ketika usia mereka semakin bertambah. Apabila
dibandingkan dengan anak normal, anak-anak autis jauh lebih sedikit belajar dari
lingkungannya. Anak-anak autis tidak belajar dengan cara yang sama seperti anak yang
lain seusianya. Anak autis menunjukkan kegagalan membina hubungan interpersonal
yang ditandai dengan kurangnya respons terhadap lingkungan atau kurangnya minat
kepada orang atau anak di sekitarnya. Kekhususan pada anak autis adalah sulitnya
berkonsentrasi, memiliki dunia sendiri, sehingga anak auis sulit berinteraksi dengan
lingkungan. Anak autis memiliki cara berfikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal
atau diri sendiri, menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri,
menolak realitas dan memiliki keasyikan yang ekstrim dengan pikiran dan fantasinya
sendiri.
Faktor penyebab Autisme
1. Infeksi TORCH dinyatakan berhubungan dengan kejadian autisme (p=0,023).
Diketahui bahwa infeksi TORCH pada masa kehamilan dapat menyebabkan abortus
atau gangguan neural. Gangguan neural yang disebabkan infeksi TORCH ini yang
dinilai berhubungan dengan kejadian autisme.
2. Perdarahan maternal tidak berhubungan dengan kejadian autisme (p=0,640), namun
lebih berhubungan terhadap kejadian persalinan preterm dan BBLR yang kemudian
dapat berhubungan dengan kejadian autisme (Hassan dkk, 2007). Asfiksia
neonatorum menurut hasil analisis memiliki nilai yang signifikan terhadap kejadian
autisme (0,005). Asfiksia neonatorum dapat disebabkan karena hipoksia ibu akibat
anestesi dalam (misal dalam prosedur sectio caesaria), gangguan aliran darah uterus
misal pada gangguan kontraksi uterus, hipotensi, anemia, hipertensi gravidarum atau
preeklampsia-eklampsia, gangguan plasenta, kompresi umbilikus fetus, gangguan
kongenital atau ketidakmatangan paru pada bayi kurang bulan. Asfiksia neonatorum
dapat berakibat terhadap fetal distress yang berpengaruh terhadap perkembangan
pertumbuhan janin (Hassan dkk, 2007 dan Kaplan dkk, 2010).
3. Aspirasi mekonium tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian
autisme (p=0,134). Aspirasi mekonium dinilai berhubungan terhadap gangguan
perkembangan dan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi pada janin, namun tidak
secara langsung mempengaruhi kejadian autisme (Hassan dkk, 2007).
4. BBLR menurut hasil analisis berhubungan dengan kejadian autisme (p=0,014).
BBLR dapat disebabkan oleh toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, infeksi
pada saat kehamilan, anemia, usia ibu saat hamil dibawah 20 tahun, hidramnion, dan
kehamilan ganda. Bayi dengan berat yang rendah saat persalinan umumnya dapat
terjadi komplikasi-komplikasi pada bayi dengan berat lahir rendah paska persalinan
seperti sindrom gangguan pernafasan idiopatik, pneumonia aspirasi,
hiperbilirubinemia, perdarahan intraventrikuler, dan fibroplasia retrolental sehingga
dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan bayi baik semasa dalam kandungan dan
setelah persalinan (Hassan dkk, 2007).
5. Insidensi kejang demam pada bayi dinilai berhubungan dengan kejadian autisme
(p=0,019). Demam dengan kenaikan suhu 1°C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10- 15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. pada
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel
neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion
Natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.
Lepas muatan listrik tersebut dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel di
sebelahnya dengan bantuan neurotransmiter sehingga terjadi kejang. Faktor
terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga
meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan
kerusakan sel neuron otak (Hassan dkk, 2007).
6. Penggunaan vaksin tidak berhubungan dengan kejadian autisme (p=0,078).
Kecurigaan awal bahwa Thimerosal yang digunakan sebagai bahan antibakterial
dalam vaksin juga dicurigai dapat menyebabkan gangguan autisme tidak terbukti dari
beberapa penelitian terdahulu (Ratajczak, 2011)
Penelitian yang dilakukan oleh Kerti, dkk (2012) bahwa interaksi sosial anak autis
yang berjumlah 40 anak hasil nya adalah interaksi sosial anak autis yang kategorinya
kurang baik berjumlah 2 anak (5,0%), kategori sedang berjumlah 31 anak (77,5%), dan
kategori baik berjumlah 7 anak (17,5%). Dan penelitian yang dilakukan Rapmauly dan
Martulesssy (2015) tentang pengaruh terapi bermian flashcard untuk meningkatkan
interaksi sosial anak autis di Miracle Center Surabaya, hasil dari penelitian ini
menunjukan bahwa dimensi kepatuhan kontak mata saat sebelum diberikan terapi
flashcard memiliki rata-rata keseluruhan sebesar 0,333. Pada dimensi menirukan nilai
ratarata keseluruhan sebesar 0,315. Dimensi bahasa reseptif nilai rata-rata keseluruhan
sebesar 0,288. Dimensi bahasa ekpresif nilai rata-rata keseluruhan sebesar 0,250, dimana
rata-rata masih dalam skor minimum.
Menurut Maulana (2010) minimal ada 2 gejala yang timbul dari gejala-gejala
berikut pada anak yang mengalami gangguan interaksi sosial yaitu:
1. tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak mata sangat
kurang, ekspresi wajah yang kurang hidup, gerak-gerik yang kurang fokus.
2. tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
3. tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
4. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
Menurut Widodo dalam http://autisme.blogsome.com. Deteksi dini autisme dapat
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Deteksi dini sejak dalam kandungan
Deteksi dini sejak janin ada dalam kandungan dapat dilakukan dengan pemeirksaan
biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autis, namun pemeriksaan ini masih
dalam batas kebutuhan untuk penelitian.
2. Deteksi dini sejak lahir hingga usia 5 tahun
a. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak usia :
1) Usia 0-6 bulan
a) Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
b) Terlalu sensitif, cepat terganggu
c) Gerakan tangan berlebihan terutama ketika mandi
d) Tidak ditemukan senyum sosial di atas 10 minggu
e) Tidak ada kontak mata diatas 3 bulan
2) Usia 6-12 bulan
a) Sulit bila digendong
b) Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
c) Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
d) Tidak ada kontak mata
3) Usia 12 bulan–2 tahun
a) Kaku bila digendong
b) Tidak mau permainan sederhana (ciluk ba, da da)
c) Tidak mengeluarkan kata
d) Tidak tertarik pada boneka
e) Memperhatikan tangannya sendiri
f) Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/ halus
4) Usia 2-3 tahun
a) Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
b) Melihat orang sebagai “benda”
c) Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
d) Kotak mata terbatas
e) Tertarik pada benda tertentu
5) Usia 4-5 tahun
a) Sering didapatkan ekolalia (membeo)
b) Mengeluarkan suara yang aneh
c) Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
d) Tempereamen tentrum atau agresif
3. Deteksi autis dengan Skrenning
Alat deteksi anak autisme juga dapat menggunakan skernning, JK Buitelaar,
seorang profesor psikiatri anak dari Belanda bersama timnya tengah menyusun alat
untuk mendeteksi dini berbagai gejala utisme dalam sebuah proyek yang bernama
SOSO. Alat deteksi dini autisme yang baru ini ESAT (Early Screnning Autism
Traits) merupakan suatau model untuk memberikan intervensi dini sesuai dengan
keunikan yang disandang oleh setiap anak autisme.
4. Deteksi autis dengan CHAT
CHAT digunakan pada penderita autisme di atas 18 bulan. CHAT
dikembangkan di inggris dengan metode yang berisi beberapa daftar pertanyaan yang
meliputi aspek ; imition, perend play, dan joint attention.
Bentuk dan Metode Terapi Terhadap Anak-anak Autisme akibat dari Bentukkan
Perilaku Sosial Noviza (2004: 9) mengungkapkan bahwa metode yang dapat digunakan
terhadap penderita autisme akibat dari kesalahan bentukkan perilaku sosial dapat
dilakukan dengan metode terapi:
1. Metode Terapi Applied behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian dan
didesain khusus anak-anak penyandang autisme. Metode yang dipakai dalam terapi
ini adalah dengan memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive
reinforcement (hadiah/pujian).
2. Metode terapi TEACCH
TEACCH adalah Treatment and education of autistic and Related Communication
handicapped Children, yaitu suatu metode yang dilakukan untuk mendidik anak autis
dengan menggunakan kekuatan relatifnya pada hal terstruktur dan kesenangannya
pada ritinitas dan halhal yang dapat diperkirakan dan relatif mampu berhasil pada
lingkungan yang visual dibanding yang auditori. (Noviza, 2005: 42) Sedangkan
menurut Dr. Handojo (2004: 9) penanganan terpadu yang dilakukan pada penderita
autisme dapat dilakukan dengan menggunakan terapi:
1. Terapi perilaku
Terapi perilaku digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak lazim. Terapi
perilaku ini dapat dilakukan dengan cara terapi okuvasi, dan terapi wicara. Terapi
okuvasi dilakukan dalam upaya membantu menguatkan, memperbaiki dan
menibngkatkan keterampilan ototnya. Sedangkan terapi wicara dapat
menggunakan metode ABA (Applied Behaviour Analysis).
2. Terapi Biomedik
Terapi biomedik yaitu dengan cara mensuplay terhadap anak-anak autis dengan
pemberian obat dari dokter spesialis jiwa anak. Jenis obat, food suplement dan
vitamin yang sering dipakai saat in adalah risperidone, ritalin, haloperidol,
pyrodoksin, DMG, TMG, magnesium, Omega-3, dan Omega-6 dan sebagainya.
3. Terapi Fisik
Fisioterapi bagi anak-anak autis bertujuan untuk mengembangkan, memelihara,
dan mengembalikan kemampuan maksimal gerak dan fungsi anggota tubuh
sepoanjang kehidupannya. Dalam terapi ini, terapis harus mampu
mengembangkan seoptimal mungkin kemampuan gerak anak, misalnya gerakan
meneukuk kaki, menekuk tangan, membungkuk berdiri seimbang, berjalan hingga
berlari.
4. Terapi social
Dalam terapi sosial, seorang terapis harus membantu memberikan fasilitas pada
anak-anak autis utnuk bergaul dengan teman-teman sebayanya dan mengajari
cara-caranya secara langsung, karena biasanya anak-penyandang autis memiliki
kelemahan dalam bidang komunikasi dan interaksi.
5. Terapi bermain
Terapi betrmain bertujuan agar anak-anak autis selalu memiliki sikap yang riang
dan gembira terutama dalam kebersamannya dengan temanteman sebayanya. Hal
ini sangat berguna untuk membantu anak autisme dapat bersosialisasi dengan
anak-anak yang lainnya.
6. Terapi perkembangan
Dalam terapi perkembangan, anak akan dipelajari minatnya, kekuatannya dan
tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional
dan intelektualnya sampai benar-benar anak tersebut mengalami kemajuan sampai
dengan interaksi simboliknya.
7. Terapi visual
Terapi visual, bertujuan agar anak-anak autis dapat belajar dan berkomunikasi
dengan cara melihat (visual learner) gambar-gambar yang unik dan disenangi.
Misalnya dengan metode PECS (Picture Exchange Communication System).
8. Terapi musik
Terapi musik dapat juga dilakukan untuk membantu perkembangan anak. Musik
yang dipakai adalah musik yang lembut, dan dapat dengan mudah dipahami anak.
Tujuan dari terapi musik ini adalah agar anak dapat menanggap melalui
pendengarnnya, lalu diaktifkan di dalam otaknya, kemudian dihubungkan ke
pusat-pusat saraf yang berkaitan dengan emosi, imajinasi dan ketenangan.
9. Terapi obat
Dalam terapi obat, penderita autis dapat diberikan obat-obatan hanya pada
kondisi-kondisi tertentu saja,pemberiannya pun sangat terbatas karena terapi obat
tidak terlalu menentukan dalam penyembuhan anakanak autis.
10.Terapi Lumba-lumba
Terapi dengan menggunakan ikan lumba-lumba dapat dilakukan dalam durasi
sekitar 40 menit, dengan tujuan untuk menyeimbangkan hormon endoktrinnya dan
sensor yang dikeluarkan melalui suara lumba-lumba dapat bermanfaat untuk
memulihkan sensoris anak penyandang autis.
11.Sosialisasi ke sekolah
Reguler Anak autis yang telah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan
baik dapat dicoba untuk memasuki sekolah normal sesuai dengan umurnya, tetapi
terapi perilakunya jangan ditinggalkan.
12.Sekolah Pendidikan khusus
Salah satu bentuk terapi terhadap anak-autis juga adalah dengan memasukannya
di sekolah khusus anak-anak autis karena di dalam pendidikan khusus biasanya
telah mencakup terapi perilaku, terapi wicara, dan terapi okuvasi. Pada pendidikan
khusus biasanya seorang terapis hanya mampu menangani seorang anak pada saat
yang sama.
BAB 4
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penjelasan dari pembahasan di atas, dapat ditarik berbagai


kesimpulan bahwa anak-anak penyandang autis masih dapat diobati dan mampu menjadi
anak yang normal seperi anak-anak yang lainnya. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian
dan bimbingan penuh dari orang tua untuk dapat membantu meningkatkan perkembangan
diri anak autisme. Karena anak autis yang disebabkan oleh faktor genetik akan lebih sulit
untuk dapat meningkatkan kualitas gangguan perkembangannya. Sedangkan anak-anak
autis yang disebabkan oleh bentukan sosial akan lebih mudah untuk diarahkan, dan orang
tua juga akan lebih mudah untuk dapat meningkatkan kualitas gangguan
perkembangannya.
Keberhasilan terapi bagi penyandang autisme dapat dilakukan dengan berbagai
metode dan terapi, antara lain dengan terapi perilaku, terapi wicara, terapi okuvasi, terapi
remediasi, terapi bermain, terapi musik, terapi visual, dan terapi kebersamaan. Selain
terapi tersebut, dapat juga dilakukan dengan cara memberikan perhatian, pelatihan dan
pendidikan secara khusus bagi penyandang anak autis. Sehingga anak autis tersebut
mampu mengembangkan dirinya dalam berkomunikasi maupun berinteraksi dengan
teman-teman sebayanya.
BAB 5
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, dkk. Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Autisme pada Anak Di Kota Cirebon. Fakultas
Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati.

Asrizal. 2016. Penanganan Anak Autis dalam Interaksi Sosial Autism Children Handling on
Social Interaction. Jurnal PKS Vol 15 No 1 Maret 2016; 1 – 8

Aydillah, D., dkk. 2018. Metode Glenn Doman Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial
Anak Autis. Jurnal Care Vol .6, No.1,Tahun 2018

Hossein Memar, A. 2015. Children with Autism Spectrum Disorder and Patterns of Participation
in Daily Physical and Play Activities. Neurology Research International Volume 2015,
Article ID 531906, 7 pages

Mahdalena, R. 2020. Melatih Motorik Halus Anak Autis Melalui Terapi Okupasi. Jurnal
Ortopedagogia, Volume 6 Nomor 1 Juli 2020: 1- 6

Marienzi, R. 2012. Meningkatkan kemampuan mengenal konsep angka melalui metode


multisensori bagi anak autis. Jurnal ilmiah pendidikan khusus. Volume 1 Nomor 3
September 2012

Nuraini Kurdi, F. 2009. Strategi Dan Teknik Pembelajaran Pada Anak Dengan Autisme. Forum
Kependidikan, Volume 29, Nomor 1, September 2009

Siyoto, S. 2015. Visual Schedule Terhadap Penurunan Behavior Problem Saat Aktivitas Makan
Dan Buang Air Pada Anak Autis (Visual Schedule towards the Decline of Behavioral
Problems in Feeding Activities and Defecation in Children with Autism). Jurnal Ners Vol.
10 No. 2 Oktober 2015: 250–255

Suteja, Jaja. 2014. Bentuk Dan Metode Terapi Terhadap Anak Autisme Akibat Bentukan
Perilaku Sosial. Jurnal Edueksos Vol III No 1, Januari-Juni 2014

Yulia ArtantI, P. 2012. Studi Deskriptif Terapi Terhadap Penderita Autisme Pada Anak Usia
Dini Di Mutia Center Kecamatan Bojong Kabupaten Purbalingga. Indonesian Journal of
Early Childhood Education Studies IJECES 1 (1) (2012)