Anda di halaman 1dari 14

KEWARGANEGARAN DALAM HUKUM ORANG

Dosen :

Djaja Sembiring Meliala, S.H., M.H.

Kelas : A

Disusun oleh :

Trisha Putri Gunadi / 6051901054

     

FAKULTAS ILM HUKUM


UNVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
BANDUNG 2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kata perdata berasal dari kata Pradoto (bahasa jawa kuno) yan berarti bertengkar
atau berselisih, kebanyakan definisi hukum perdata yang ditulis adalah hukum yang
mengatur hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain. Menurut Sri Soedewi
Masjchoen Sofwan hukum perdata ialah hukum yang mengatur kepentingan antara
warga negara yang satu dengan warga negara yang lain. 1 Dapat dilihat bahwa hukum
perdata diberi arti mengatur hubungan antarorang, namun dalam bidang ilmu hukum,
subjek hukum bukan hanya orang (manusia) terdapat juga badan hukum. Oleh karena itu,
dapat dikatakan bahwa definisi hukum perdata adalah hukum yang mengatur subjek
hukum yang satu dengan subjek hukum yang lain. Hukum orang merupakan salah satu
materi yang dipelajari dalam bidang hukum perdata, hukum orang memuat peraturan-
peraturan tentang manusia sebagai subjek hukum, peraturan tentang kecakapan berhak
dan kecakapan bertindak untuk melaksanakan hak-hak itu.2 Dalam Hukum Orang memuat
peraturan-peraturan tentang diri manusia sebagai subjek hukum, kecakapan hukum, dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya salah satunya kewarganegaraan orang tersebut.

Warga negara secara sendiri-sendiri merupakan subjek-subjek hukum yang


menyandang hak-hak dan sekaligus kewajiban-kewajiban dari dan terhadap negara.
Keberadaan warga negara merupakan salah satu unsur hakiki dan unsur pokok suatu
negara. Pentingnya status kewarganegaraan karena kewarganegaraan adalah bukti formal
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang mengikat individu tersebut dengan
suatu wilayah yang berkekuasaan (negara) dan setiap warga negara berhak memperoleh
perlindungan, kehidupan dan peradilan yang mutlak. Pasal 28D ayat (4) Undang-Undang
Dasar 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas status kewarganegaraan. Status
hukum kewarganegaraan menunjukan pada hubungan hukum antara individu dengan
negara disamping menunjuk pada ada tidaknya pengakuan dan perlindungan secara
yuridis hak hak dan kewajiban yang melekat, baik pada individu maupun kepada warga
yang bersangkutan. Melalui Paper ini saya akan membahas dan memaparkan lebih lanjut
mengenai Kewarganegaraan dalam Hukum Orang.
1
Djaja S.Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Orang dan Hukum Keluarga,Ed. 6, (Bandung :
Nuansa Aulia 2019), hlm 1.
2
Ibid, hlm. 18
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara memperoleh kewarganegaraan?
2. Bagaimanakah Prinsip kewarganegaran ganda terhadap anak dalam menentukan
kewarganegaraannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia ?

1.3. Tujuan
Tujuan dari pembahasan dan peninjauan mengenai kewaganegaraan ini adalah
sebagai pemahaman lebih lanjut mengenai kewaganegaraan dan masalah-masalah
yang terdapat dalam kewarganegaraan.

1.4. Manfaat

Manfaat dari pembahasan dan peninjauan mengenai kewarganegaraan ini


adalah agar saya, dan mahasiswa hukumdapat memahami lebih lanjut mengenai
kewarganegaraan serta penyelesaian masalah-masalah dari kewarganegaraan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Warga Negara dan Kewarganegaraan
Warga negara secara sendiri-sendiri merupakan subjek-subjek hukum yang
menyandang hak-hak dan sekaligus kewajiban-kewajiban dari terhadap negara.  Warga
negara adalah penduduk sebuah negara atau bangsa yang berdasarkan keturunan, tempat
kelahiran, dan sebagainya mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai seorang warga
dari negara itu. Warga negara Indonesia adalah orang yang diakui oleh undang-undang
(UU) sebagai warga negara Republik Indonesia. Kepada orang ini akan diberikan Kartu
Tanda Penduduk, nomor identitas yang unik (Nomor Induk Kependudukan) apabila ia
telah berusia 17 tahun dan mencatatkan diri di kantor pemerintahan.Keberadaan warga
negara merupakan salah satu unsur hakiki dan unsur pokok suatu negara. Yang
merupakan Warga Negara Indonesia adalah:

1. setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau


berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain
sebelum Undang-undang no. 12 tahun 2006 berlaku, telah menjadi Warga Negara
Indonesia;
2. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah dan ibu WNI;
3. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu Warga
Negara Asing ( selanjutnya disingkat WNA )
4. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNA dan ibu WNI;
5. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang seorang ibu WNI, tetapi
ayahnya tidak memiliki kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya tidak
memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut;
6. anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia
dari perkawinan yang sah dan ayahnya itu seorang WNI;
7. anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari ibu WNI;
8. anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari ibu WNA yang diakui oleh
seorang ayah WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak
tersebut berusia 18 tahun atau belum kawin;
9. anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak
jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya;
10. anak yang baru lahir yang ditemukan diwilayah negara Republik Indonesia selama
ayah dan ibunya tidak diketahui;
11. anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya
tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya;
12. anak yang dilahirkan di luar wilayah negara Republik Indonesia dari ayah dan ibu
WNI yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan
memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan;
13. anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

Selain itu, tetap diakui pula sebagai Warga Negara Indonesia bagi:

1. anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 tahun dan
belum kawin, diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing;
2. anak WNI yang belum berusia 5 tahun diangkat secara sah sebagai anak oleh
warga negara asing berdasarkan penetapan pengadilan.3

Definisi Kewarganegaraan diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006


yang pasal 1 ayat 2 nya berisi :

Kewarganegaraan adalah segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara.

Menurut Soemantri, kewarganegaraan ialah sesuatu yang memiliki keterkaitan


atau hubungan antara manusia sebagai individu didalam suatu perkumpulan yang tertata
dan terorganisir dalam hubungannya dengan negara. Kewarganegaraan dalam arti
yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara orang-orang tersebut dengan negara.
Adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu, yaitu orang
tersebut berada di bawah kekuasaan negara yang bersangkutan. Tanda dari adanya ikatan
hukum tersebut antara lain akta kelahiran, surat pernyataan, dan bukti kewarganegaraan.
Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan ikatan hukum. Akan tetapi
ditandai dengan ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib,
ikatan sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain, ikatan ini lahir dari penghayatan
warga negara yang bersangkutan. Maka dari itu kewarganegaraan adalah keanggotaan
suatu bangsa tertentu yakni sejumlah manusia yang terikat dengan yang lainnya karena
kesatuan bahasan dan budaya serta kesadaran nasionalnya.

3
 Undang-undang no. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, diundangkan tanggal 1
Agustus 2006 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 63.
Kewarganegaraan Indonesia diatur Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946 tentang Warga Negara dan Penduduk
Negara. Undang-Undang tersebut kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1947 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946 dan diubah lagi
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1947 tentang Memperpanjang Waktu untuk
Mengajukan Pernyataan Berhubung dengan Kewargaan Negara Indonesia dan Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 1948 tentang Memperpanjang Waktu Lagi untuk Mengajukan
Pernyataan Berhubung dengan Kewargaan Negara Indonesia.4 Selanjutnya,
kewarganegaraan terakhir diatur dengan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia. Namun, Undang-Undang tersebut sekarang telah
dicabut dan digantikan oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006.

2.2. Asas-Asas dan Masalah Kewarganegaraan


Dalam kewarganegaraan terdapat Asas-Asas yang dipakai guna menentukan
berdasarkan apa status kewarganegaraan didapatkan, ada 2 asas yaitu :
1. Ius soli adalah kewarganegaraan yang dilihat berdasarkan tempat dimana
seseorang dilahirkan. tidak semua negara menerapkan prinsip ius soli . negara
negara yang menerapkan prinsip primer (ius soli) ini adalah Amerika,
Bangladesh, Brazil, Inggris. Status kewarganegaraan mereka tidak dilihat dari
apa dan bagaimana etnis, ras dan agama seseorang. semuanya dinilai sama
saja karena memiliki hak yang sama untuk bisa mengubah sebuah negara
menjadi kuat . Hal ini diberlakukan berdasarkan atas peraturan undang undang
kewarganegaraan yang bersifat multikultural (terbuka).
2. Ius sanguinis adalah kewargaanegaraan yang dilihat berdasarkan keturunan
atau etnis seseorang yaitu  menetapkan status kewarganegaraan seseorang
dilihat berdasarkan status kewarganegaraan orangtuanya, tanpa peduli
seseorang tersebut lahir dinegara mana. Tidak semua negara menerapkan
prinsip ius sanguinis, kecuali Brunei darussalam, Jordania, Malaysia atau
Belanda. Penerapan peraturan ini dinilai kurang pantas bagi banyak orang
mengingat kewarganegaraan harus ditentukan dengan peraturan yang bersifat
membatasi diri seseorang, hanya karena garis keturunan dari orangtuanya.5

4
Djaja S.Meliala, op.cit, hlm 38-39.
5
Hukum Online, diakses dari https://www.hukumonline.com/
Pada prinsipnya, Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 62 Tahun 1958 ini
mengatur tentang memperoleh kewarganegaraan dan kehilangan kewarganegaraan.
Namun, Undang-Undang tersebut sekarang telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku
oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 dimana undang-undang ini menganut asas
ius sanguinis (berdasarkan keturunan) dan asas ius soli (tempat kelahiran). Perubahan
mendasar yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 antara lain adalah
bahwa undang-undang ini menganut asas kewarganegaraan unggal dan kewarganegaran
ganda terbatas. Selain itu, undang-undang ini mnganut asas persamaan serta asas
nondiskriinatif yang berhubungan degan suku, ras, agama, golongan, jenis kelamin, dan
gender. Hal ini tercermin dari penjelasan pasal 2 yang berbunyi sebagai berikut : yang
dimaksud dengan “bangsa Indonesia asli” adalah orang Indonesia yang menjadi warga
negara Indonesia sejak dilahirkan dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas
kehendak sendiri. Demikian pula terhadap anak hasil perkawinan campuran, baik yang
lahir dari perkawinan yang sah maupun anak yang lahir diluar perkawinan yang sah
adalah warga negara Indonesia (Pasal 4).6

Selain asas kewarganegaraan Terdapat 3 istilah dalam kewarganegaraan yaitu


apatride, bipatride dan multipatride :

1. Apatride yaitu sebutan bagi orang yang tidak memiliki status


kewarganegaraan.  Hal ini bisa terjadi kepada orang tersebut yang lahir di
negara yang memiliki asas berbeda. Anak yang lahir di negara B dengan
menganut asas ius sanguinis (berdasarkan keturunan biologis) namun
kedua orangtuanya bukan warga negara B maka negara B tidak dapat
memberikan kewarganegaraan. Meskipun orang tua anak berasal dari
negara A yang menganut asas ius soli (berdasarkan tempat
kelahiran), karena tidak lahir di negara A, maka negara A juga tidak akan
memberikan kewargnegaraan. Oleh karena kedua negara tidak mengakui
kewarganegaraan anak tersebut maka Anak pun menjadi apatride.
2. Bipatride yaitu sebutan bagi seseorang yang memiliki  status
kewarganegaraan rangkap atau ganda. Dua kewarganegaraan tersebut bisa
terjadi karena anak lahir di negara A yang menganut asas ius

6
Djaja S.Meliala, Op.cit, hlm 38-39.
soli (berdasarkan tempat kelahiran) namun orang tua anak tersebut
merupakan warga negara B yang menganut asas ius
sanguinis (berdasarkan keturunan biologis) Dengan demikian si anak akan
mendapat kewarganegaraan dari negara A karena lahir di negara A dan
juga mendapat kewarganegaraan dari negara B karena faktor keturunan
dari orang tua yang merupakan warga negara B.
3. Multipatride yaitu sebutan bagi seseorang yang memiliki
kewarganegaraan lebih dari 2 negara.  Hal ini bisa terjadi jika seseorang
yang telah memiliki kewarganegaraan ganda, saat dewasa menerima atau
meminta status kewarganegaraan dari negara lain dengan tidak melepas
status kewarganegaraan yang lama. Namun, sedikit negara yang
memberikan status banyak kewarganegaraan (multipatride) untuk
warganya.7

Asas Ius Soli dipakai oleh Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 sebagai
pengecualian (untuk mencegah keadaan Apatride), yaitu khusus untuk :
a. Mereka (anak-anak) yang lahir di wilayah Indonesia,
b. Mereka (anak-anak) yang kedua orang tuanya tidak diketahui, atau
c. Orang tuanya tidak memiliki atau mungkin belum mendapat
kewarganegaraan dari negara orang tuanya. ( Pasal 1 huruf f,g,h)

Keadaan Apatride (tanpa kewarganegaraan) dapat dicegah karena Undang-


undang nomor 62 tahun 1958 menentukan :
1. Seorang anak mengikuti kewarganegaraan ayahnya.
2. Dalam hal ayahnya tidak diketahui maka anak tersebut mengikuti
kewarganegaraan ibunya.
3. Demikinan pula untuk wanita (perempuan) Indonesia yang kawin dengan
laki-laki WNA, baru dapat menanggalkan kewarganegaraan Indonesia,
apabila jelas bahwa negara asal suaminya memungkinkan bagi dia untuk
mendapatkan kewarganegaraan.

2.3. Cara Memperoleh Kewarganegaraan

7
Djaja S.Meliala, Op.cit, hlm 38-39.
Dalam penentuan kewarganegaraan seseorang ada beberapa cara yang dapat
dilakukan, yaitu :
1. Unsur darah keturunan (Ius Sanguinis)
Dalam unsur ini cara memperoleh suatu kewarganegaraan didasarkan pada
kewarganegaraan orang tuanya. Kewarganegaraan orang tua menentukan
kewarganegaraan anaknya. Prinsip ini merupakan prinsip asli yang telah berlaku
sejak dahulu, sekarang prinsip ini diterapkan pada beberapa negara yaitu negara
Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan juga Indonesia.
2. Unsur daerah tempat kelahiran (Ius Soli)
Pada unsur ini, kewarganeggaraan seseorang dapat ditentukan berdasarkan
daerah tempat ia dilahirkan. Misal ada seseorang dilahirkan di wilayah negara
Republik Indonesia, maka dengan sendirinya ia memiliki kewarganegaraan
Indonesia. Prinsip ini juga berlaku di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang,
dan juga Indonesia.
3. Unsur Pewarganegaraan (Naturalisasi)
Seseorang yang tidak memenuhi syarat kewarganegaraaan Ius Soli dan Ius
Sanguinis tetap bisa mendapatkan atau memperoleh kewarganegaraan, yaitu
dengan naturalisasi. proses naturalisasi itu, yang pertama adalah terlebih dahulu
Warga Negara Asing meminta permohonan untuk berpindah ke kewarganegaraan
Indonesia melalui HAM dan juga Menteri hukum melalui pengadilan negeri
setempat atau Kedubes RI. Setelah permohonan itu disetujui maka Warga Negara
Asing yang bersangkutan akan melengkapi berkas-berkas yang diminta dan
setelah itu baru setelah berkasnya lengkap dan disetujui, yang bersangkutan
tersebut mengucapkan janji setia di depan pengadilan negeri. Dengan beberapa
tahapan itu, maka yang bersangkutan sudah resmi dan sah menjadi Warga Negara
Indonesia. Naturalisasi ada 2 jenis yaitu naturalisasi biasa dan naturalisasi
istimewa. Naturalisasi biasa merupakan jenis naturalisasi yang dijalankan untuk
mendapatkan status kewarganegaraan untuk warga negara asing sebagaimana
pada umumnya. Sedangkan naturalisasi istimewa orang yang diberikan status
istimewa sebagai warga negara itu tidak harus mengajukan permohonan secara
khusus untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia (tidak harus melengkapi
banyak persyaratan seperti naturalisasi biasa).Naturalisasi istimewa biasa didapat
untuk warga negara asing yang sudah berjasa kepada Negara KEsatuan Republik
Indonesia (NKRI)

2.4. Anak

Anak Menurut Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999


tentang Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa Anak adalah setiap manusia yang
berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang
masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. 8 Kemudian
menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan
Atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menyatakan
bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk
anak yang masih dalam kandungan.

Asas Ius Soli dipakai oleh Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 sebagai
pengecualian (untuk mencegah keadaan Apatride), yaitu khusus untuk :
d. Mereka (anak-anak) yang lahir di wilayah Indonesia,
e. Mereka (anak-anak) yang kedua orang tuanya tidak diketahui, atau
f. Orang tuanya tidak memiliki atau mungkin belum mendapat kewarganegaraan
dari negara orang tuanya. ( Pasal 1 huruf f,g,h)
Keadaan Apatride (tanpa kewarganegaraan) dapat dicegah karena Undang-
undang nomor 62 tahun 1958 menentukan :
4. Seorang anak mengikuti kewarganegaraan ayahnya.
5. Dalam hal ayahnya tidak diketahui maka anak tersebut mengikuti
kewarganegaraan ibunya.
6. Demikinan pula untuk wanita (perempuan) Indonesia yang kawin dengan
laki-laki WNA, baru dapat menanggalkan kewarganegaraan Indonesia,
apabila jelas bahwa negara asal suaminya memungkinkan bagi dia untuk
mendapatkan kewarganegaraan.

Sebaliknya untuk mencegah keadaan Bipatride (kewarganegaraan ganda)


Undang-Undang ini menentukan :

8
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
1. Bagi orang asing yang ingin menjadi WNI dengan jalan naturalisasi
(proses perubahan status dari penduduk asing menjadi warga negara suatu
negara) disyaratkan bahwa dengan memperoleh kewarganegaraan
Indonesia, orang tersebut tidak akan menjadi Bipatride, artinya dia benar-
benar harus melepaskan kewarganegaraannya.
2. Bagi seorang anak yang lahir dari perkawinan seorang ibu yang
berkewarganegaraan Indonesia dengan orang asing, yang kemudian
bercerai, atau dilahirkan di luar perkawinan di mana ibunya warga negara
Indonesia, ia mengikuti kewarganegaraan ayahnya, dan setelah berusia 18
tahun dapat mengajukan permohonan, untuk menjadi warga negara
Indonesia, dengan syarat bahwa setelah menjadi warga negara Indonesia
yang bersangkutan tidak mempunyai kewarganegaraan lain.

Kewarganegaraan ganda (Bipatride) hanya berlaku bagi anak-anak, disebutkan


pada pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 bahwa “Dalam hal
status kewarganegaraan Republik Indoneisa terhadap anak sebagaimana dimaksud
dalam pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, da huruf l, dan pasal 5 berakibat anak
berkewarganegaraan ganda, setelah berusia 18 tahun atau sudah kawin anak tersebut
harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraannya. Dari pasal 6 ayat (1) ini
dapat diketahui bahwa kewarganegaran ganda terbatas diberika kepada :
1. Anak dari perkawinan campuran.
2. Anak luar kawin yang diakui.
3. Anak luar kawin yang belum diakui.
4. Anak adopsi.
5. Anak yang dlahirkan di luar wilayah Negara Republik Indonesia dari
seorang ayah dan ibu warga negara Indonesia yang karena ketentuan dari
negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan
kepada anak yang bersangkutan.9

BAB III
PENUTUP

9
Djaja S.Meliala, Op.cit, hlm 38-39.
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pengertian dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
Warga negara adalah penduduk sebuah negara atau bangsa yang berdasarkan
keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya mempunyai kewajiban dan hak
penuh sebagai seorang warga dari negara itu. kewarganegaraan ialah keanggotaan
suatu bangsa tertentu yakni sejumlah manusia yang terikat dengan yang lainnya
karena kesatuan bahasan dan budaya serta kesadaran nasionalnya.
Kewargarganegaraan memiliki asas-asas dimana asas-asas tersebut digunakan
sebagai prinsip dalam suatu negara bagaimana cara seseorang memperoleh status
kewarganegaraannya. Asas yang pertama ialah asas ius soli (tempat kelahiran)
yaitu kewarganegaraan yang dilihat berdasarkan tempat dimana seseorang
dilahirkan. Dan yang kedua adalah asas ius sanguinis (darah keturunan) yaitu
kewargaanegaraan yang dilihat berdasarkan keturunan atau etnis seseorang yaitu 
menetapkan status kewarganegaraan seseorang dilihat berdasarkan status
kewarganegaraan orangtuanya, tanpa peduli seseorang tersebut lahir dinegara
mana. Selain itu terdapat istilah-istilah dalam kewarganegaraan yaitu Apatride
dimana seseorang tanpa kewarganegaraan, lalu Bipatride yaitu kewarganegaraan
ganda, dan Multipatride yang merupakan sebutan bagi seseorang yang memiliki
kewarganegaraan lebih dari 2 negara.
Cara memperoleh kewarganegaraan terdapat macam-macam cara, bisa
melalui keturunannya, kelahiran, bahkan naturalisasi dimana seseorang bisa
mengubah kewarganegaraannya secara prosedural. Anak Menurut Pasal 1 ayat (5)
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan
bahwa Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas)
tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila
hal tersebut adalah demi kepentingannya. Terkadang tanpa kita sadari seorang
anak bisa memiliki masalah-masalah dalam kewarganegaraan contohnya seperti
anak yang lahir dari perkawinan campuran maka penyelesainnya yaitu anak
tersebut akan memiliki kewarganegaraan ganda hingga usianya menginjak 18
tahun, baru ia dapat memilih salah satu dari 2 kewarganegaraan yang anak
tersebut miliki. Dengan adanya penyelesaian dari masalah-masalah dari
kewarganegaraan diharpkan makalah ini dapat memberi pemahaman lebih
mengenai kewarganegaraan. Pengaruh Undang-Undang Kewarganegaraan
memiliki pengaruh terhadap Hukum Perdata, dimana kewarganegaraan dapat
membatasi kecakapan berhak seseorang, juga berkaitan dengan hukum keluarga
dalam hal pengangkatan anak dan anak luar kawin.

Daftar Pustaka :
1. Undang-undang no. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia
2. Djaja S.Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Orang dan Hukum
Keluarga,Ed. 6, (Bandung : Nuansa Aulia 2019)
3. HukumOnline.com
4. Jurnal Online

Anda mungkin juga menyukai