Anda di halaman 1dari 10

BAB VI

ANGGARAN BAHAN LANGSUNG


A. Pengertian Anggaran Bahan Langsung
Pengertian bahan yang digunakan dalam proses produksi di kelompokan menjadi
bahan baku langsung (Direct Material) dan bahan baku tak langsung (Indirect material).
Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang merupakan bagian barang jadi yang
dihasilkan.Sedangkan bahan baku tak langung adalah bahan baku yang ikut berperan dalam
proses produksi, tetapi tidak secara langsung tampak pada barang jadi yang dihasilkan.
Anggaran bahan baku hanya merencanakan kebutuhan dan penggunaan bahan baku
langsung. Bahan baku tak langsung akan direncanakan dalam anggaran biaya overhead
pabrik.
Tujuan penyusunan bahan baku langsung adalah:
1. Memperkirakan jumlah bahan baku langsung
2. Memperkirakan jumlah pembelian bahan baku langsung yang diperlukan
3. Sebagai dasar memperkirakan kebutuhan dana yang diperlu untuk melaksanakan
pembelian bahan baku langsung
4. Sebagai dasar penentuan harga pokok produksi yakni memperkirakan komponen
harga pokok pabrik karena penggunaan bahan baku langsung dalam proses produksi
1
5. Sebagai dasar melaksanakan fungsi pengendalian bahan baku langsung
B. Penyusunan Anggaran Bahan Baku Langsung
Dalam menyusun anggaran bahan baku yang akan dibeli diperlukan kerjasama
yang erat antara bagian produksi yang akan memakai bahan, bagian pembelian yang akan
melaksanakan pembelian bahan dan mengetahui harga bahan, bagian penerima dan gudang
bahan yang akan mengelola bahan yang dibeli sampai dengan dipakai, bagian keuangan
yang mengatur dana untuk pembelian bahan, serta bagian akuntansi biaya (Supriyono,
2010:27). Dasar penyusunan anggaran bahan baku bersumber dari anggaran produk,
sediaan bahan baku, dan harga standar bahan baku. Rumus yang dapat digunakan untuk
menyusun anggaran bahan baku sebagai berikut.

1
Tendi Haruman Dan Sri Rahayu, 2008 ,Penyusunan Anggaran Perusahaan,( Yogyakarta : Graha Ilmu
Edisi Kedua Cetakan Pertama, hak 45

1|Citra Mulya Sari


Belian bahan baku xx unit @ Rp xx = Rp xxx
Sedian bahan baku awal xx unit @ Rp xx = Rp xxx +
Bahan baku tersedia xx unit @ Rp xx = Rp xxx
Sediaan bahan baku akhir xx unit @ Rp xx = Rp xxx -
Bahan baku dipakai (BBB) xx unit @ Rp xx = Rp xxx
Dalam penyusunan anggaran bahan baku tidak diperlukan metode penilaian
sediaan seperti metode FIFO atau MPKP, metode rata-rata, dan metode LIFO atau MTKP.
Hal ini karena metode penilaian sediaan berkaitan dengan penentuan harga pokok bahan
baku per unit, sedangkan penyusunan anggaran sudah ditentukan harga pokok standar
bahan baku per unit. Umumnya harga pokok bahan baku per unit yang dibeli pada
kenyataannya berbeda pada saat beli yang satu dengan saat beli yang lain, sehingga dalam
pencatatan perlu menentukan harga bahan baku per unit. Pada penyusunan anggaran, harga
bahan baku per unit dianggap tidak berubah pada periode anggaran yaitu sesuai dengan
harga standar bahan baku per unit (HSt).
Anggaran bahan baku terdiri dari anggaran kebutuhan bahan baku, anggaran bahan
baku dipakai, anggaran sediaan bahan baku, dan anggaran belian bahan baku. Anggaran
belian bahan baku disusun untuk keperlian penyusunan anggaran yaitu untuk menentukan
anggaran kas keluar untuk beli bahan baku dan untuk menentukan anggaran utang.
Anggaran belian bahan baku disusun berdasarkan anggaran sediaan bahan baku dan
anggaran bahan baku dipakai. Anggaran bahan dipakai disusun berdasarkan anggaran
produk, dan biaya bahan baku standar per unit produk.2
Anggaran-anggaran yang berhubungan dengan anggaran bahan baku antara lain:
1. Anggaran kebutuhan bahan baku
Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah bahan baku dibutuhkan untuk
keperluan produksi pada periode mendatang. Anggaran kebutuhan bahan baku disusun
untuk merencanakan jumlah fisik bahan baku yang diperlukan, bukan nilainya dalam
rupiah.
Secara terperinci pada anggaran ini harus dicantumkan sebagai berikut:

2
http://dahtaoe.blogspot.com/2016/10/anggaran-bahan-baku.html diakses pada tanggal 28
Maret 2020, pada pukul 19:05 WIB.

2|Citra Mulya Sari


a. Jenis barang jadi yang akan dihasilkan
b. Jenis bahan baku yang digunakan
c. Bagian-bagian yang dilalui dalam produksi
d. Standar penggunaan bahan baku (Standard usage rate/ SUR), SUR adalah
bilangan yang mnunjukan berapa satuan bahan baku yang diperlukan untuk
menghasilkan satu satuan produksi jadi.
e. Waktu penggunaan bahan baku

2. Anggaran pembelian bahan baku


Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah bahan baku yang harus dibeli
pada periode mendatang.Ini harus dilakukan bahan secara hati-hati terutama dalam hal
jumlah dan waktu pembelian. Bahan baku yang harus dibeli diperhitungkan dalam hal
jumlah dan waktu pembelian. Bahan baku yang harus dibeli diperhitungkan dengan
mempertimbangkan factor-faktor persediaan dan kebutuhan bahan baku. Jumlah
Pembelian yang Paling Ekonomis (Economical Order Quanlitiy/ EOQ) EOQ
merupakan jumlah barang bahan langsung yang harus dibeli setiap kali dilakuakan
pembelian sehingga akan menimbulkan biaya yang paling rendah akan tetapi tidak akan
mengakibatkan kekurangan bahan baku langsung.
P = Biaya pemesanaan
R= Kebutuhan bahan baku langsung selama satu periode waktu tertentu
K= Biaya penyimpanana yang dinyatakan dalam prosentase dari persediaan rata-
rata (dinyatakan dengan biaya penyimpanan per satuan bahan baku langsung)
U = Harga beli per satuan bahan baku langsung
Jumlah pembeliaan yang paling ekonomis ini disebut sebagai EOQ.
Dalam menghitung EOQ diperhitungkan 2 jenis biaya yang bersifat variable yaitu:
a. Biaya Pemesanan
Biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan
semakin tinggi frekuensi semakin tinggi pula biaya pesanan. Sebaliknya biaya
berbanding terbalik dengan jumlah bahan baku setip kali pemesanan misalnya:
• Biaya persiapan pemesanaan
• Biaya adminitrasi

3|Citra Mulya Sari


• Biaya pengiriman pemesanan
• Biaya mencocokan pesanan yang masuk
b. Biaya penyimpanan
Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan penyimpanan bahan baku
yang telah dibeli. Biaya ini berubah-ubah semakin besar jumlah bahan baku
setiap kali pemesanan maka biaya penyimpanan akan semakin besar pula
misalnya:
• Biaya pemeliharaan
• Biaya asuransi
• Biaya perbaikan kerusakan
Untuk merencanakaan saat pemesanaan bahan baku pada periode mendatang, perlu
diperhatikan faktor-faktor:
a. Lend time yang terjadi pada pemesanan-pemesanan sebelumnya. Lend
time adalah jangka waktu sejak dilakukanya pemesanaan sampai saat
datangnya bahan baku yang dipesan dan siap untuk digunakan dalam
proses produksi.
b. Reorder point adalah Saat harus melakukan pemesanaan kembali bahan
baku langsung yang diperlukan.
c. Extra carrying cost Biaya terpaksa harus dikeluarkan akibat bahan baku
langsung datang dari awal.
d. Stock out cost Terpaksa harus dikeluarkan akibat keterlambatan
datangnya bahan baku langsung. 3
3. Anggaran persediaan bahan baku
Anggaran ini merupakan suatu perencanaan terperinci atas kuantitas bahan baku
yang disimpan sebagai persediaan.Setiap perusahaan dapat mempunyai kebijakan
dalam menilai persedian yang berbeda. Tetapi dapat dasarnya kebijaksanaan tentang
penilaian persediaan dapat dikelompokan menjadi:
a. Kebijaksanaan FIFO (first in first out)
b. Kebijakan LIFO (last in first out)

3
Rudianto, penganggaran,( Jakarta:penerbit erlangga), 2009, hal 10

4|Citra Mulya Sari


Dalam kebijaksanaan FIFO, bahan mentah yang lebih dahulu digunakan untuk
produksi adalah bahan mentah yang lebih dahulu masuk di gudang, sehingga sering
diterjemahkan Masuk Pertama Keluar Pertama. Dengan kata lain, penilaian
bahan baku di gudang nilainya diurutkan menurut urutan waktu pembeliannya.
Perlu diperhatikan dahulu oleh perusahaan, kebijaksanaan mana yang akan
dipilih. Hal penting dalam rangka penyusunan Anggaran Persediaan Bahan Baku
dan Anggaran Biaya Bahan Baku yang habis digunakan, karena adanya
perbedaan factor perbedaan harga dari waktu ke waktu. Harga bahan baku
mungkin berbeda dari waktu ke waktu, dan ini perlu diperhatikan karena nilai
bahan baku yang ada di dalam gudang dan dipakai untuk produksi juga berbeda
dari waktu ke waktu. Karena itu harus diperhitungkan, apakah bahan mentah digunakan
secara LIFO atau FIFO.
Besarnya bahan baku yang harus tersedia untuk kelancaran proses produksi tergantung
pada beberapa faktor seperi ini:
a. Volume produksi selama periode waktu tertentu (dapat dilihat pada anggaran
produksi)
b. Volume bahan baku minimal, yang disebut safety stock (persediaan besi)
c. Besarnya pembelian yang ekonomis
d. Etimasi tentang naik turunya harga bahan baku pada waktu-waktu mendatang
e. Biaya-biaya penyimpanaan dan pemeliharaan bahan baku
f. Tingkat kecepatan bahan baku menjadi rusak
Persediaan Besi Persediaan besi adalah persediaan minimal bahan baku yang harus
dipertahankan untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Besarnya persediaan
besi ditentukan oleh berbagai faktor yaitu:
a. Kebisaan leveransi menyerahkan bahan baku yang dipesan.
b. Jumlah bahan baku yang dibeli setiap kali pemesanan,
c. Dapat diperkirakan atau tindaknya kebutuhan bahan baku secara cepat,
d. Perbandingan antara biaya penyimpanaan bahan baku dan biaya eksternal karena
kebiasaan bahan baku.
Bentuk Dasar Anggaran Persediaan Bahan Baku Dalam Anggaran persediaan bahan
baku perlu diperinci hal sebagai berikut:

5|Citra Mulya Sari


a. Jenis bahan baku yang digunakan,
b. Jumlah masing-masing jenis bahan baku yang tersisi sebagai persediaan,
c. Harga per unit masing-masing jenis bahan baku,
d. Nilai bahan baku yang disimpan sebagai persediaan.
4. Anggaran biaya bahan baku habis digunakan dalam produksi (pemakaian bahan baku)
Sebagai bahan baku disimpan sebagai persediaan, dan sebagian dipergunakan
dalam proses produksi, anggaran ini merencanakan nilai bahan baku yang digunakan
dalam satuan uang. Tentu tidak semua bahan baku tersedia akan habis digunakan
produksi. Hal ini disebabkan karena 2 hal yaitu:
a. Perlu adanya persediaan akhir, yang akan menjadi persediaan awal periode
berikutnya.
b. Perlu adanya persedinan besi agar kelangsungan produksi tidak terganggu
akibat kehabisan bahan bahan baku.
Manfaat disusunya anggaran biaya bahan baku yang habis digunakan antara lain:
a. Untuk keperluan product costing, yakni perhitungan harga pokok barang yang
dihasilakan perusahaan
b. Untuk keperluan pengawasan bahan baku
Anggaran biaya bahan baku yang habis digunakan perlu memperinci hal-hal sebagai
berikut:
a. Jenis bahan baku yang digunakan
b. Jumlah masing-masing jenis bahan baku yang habis digunakan
c. Nilai masing-masing bahan baku yang habis digunakan untuk, produksi
d. Jenis barang yang dihasilkan dan yang menggunkan bahan baku,
e. Waktu penggunaan bahan baku.4

C. Manfaat Anggaran Kebutuhan Bahan Baku


Manfaat dari anggaran bahan baku langsung berguna sebagai dasar untuk
penyusunan Anggaran Bahan Baku dan Anggaran Biaya Bahan Baku. Adapun faktor-
faktor yang mempengaruhi penyusunan kebutuhan anggaran bahan baku langsung, yaitu :

4
M. Nafarin, , Penganggaran Perusahaan,( Jakarta :Penerbit Salemba Empat Edisi Ketiga), 2007., hal 118.

6|Citra Mulya Sari


1. Anggaran unit yang akan di produksi, khusus nya rencana jenis (kualitas)
dan jumlah (kuantitas) barang yang akan diproduksi dan waktu ke waktu
selama priode yang akan datang. Semakin besar jumlah unit yang akan di
produksi, akan semakin besar pula jumlah unit bahan bakunya, semakin
kecil jumlah unit yang akan di produksi, akan semakin kecil juga jumlah
unit bahan baku yang dibutuhkan untuk proses produksi.
2. Berbagai standar pemakaian bahan ( standard usage rate) di masing-masing
jenis bahan baku untuk proses produksi yang telah ditetapkan perusahaan.
Dalam rangka mengetahui jumlah unit bahan baku yang di butuhkan untuk
proses produksi, pada umumnya perusahaan telah menetapkan standar-
standar pemakaian tiap-tiap jenis bahan baku untuk menetapkan angka-
angka standard ini dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu :
a. Dengan cara mendasarkan diri pada data historis atau pengalaman dari
priode waktu yang lalu. Dengan membandingkan antara jumlah
produksi yang dihasilan suatu priode dengan jumlah bahan baku yang
digunakan untuk perproduksi pada priode yang sama.
b. Dengan cara yang mendasarkan diri pada penelitian-penelitian khusus
di dalam pabrik atau dengan melihat angka penggunaan rata-rata yang
ditentukan secara statistic.5
D. Perhitungan Bahan Baku
Dalam memperoleh bahan baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya
sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biaya- biaya lain yang
diperhitungkan sebagai harga pokok bahan baku yang dibeli. Dalam sistem pembelian
bahan baku terdapat dokumen sumber dan dokumen pendukung yang menunjang
pencatatan bahan baku.
1. Sistem Pembelian Bahan Baku
a. Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku

5
https://makalah-xyz.blogspot.com/2018/03/budgetingpenganggaran-bahan-baku.html?m=1 di akses
pada hari rabu, 25 Maret 2020, pada pukul 17:17 WIB.

7|Citra Mulya Sari


Jika persediaan bahan baku yang ada di gudang sudah mencapai jumlah
tingkat minimum pemesanan kembali, bagian gudang kemudian membuat
surat permintaan pembelian untuk dikirimkan ke bagian pembelian.
b. Prosedur Order Pembelian
Bagian pembelian melaksanakan pembelian atas dasar surat permintaan
pembelian dari bagian gudang. Untuk pemilihan pemasok, bagian
pembelian mengirimkan surat permintaan penawaran harga kepada para
pemasok yang berisi permintaan informasi harga dan syarat – syarat
pembelian dari masing – masing pemasok tersebut. Setelah pemasok yang
dianggap baik dipilih, bagian pembelian kemudian membuat surat order
pembelian untuk dikirimkan kepada pemasok.
c. Prosedur Penerimaan Barang
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai dengan surat
order pembelian yang diterimanya. Bagian penerimaan yang bertugas
menerima barang mencocokkan kualitas, kuantitas, jenis serta spesifikasi
bahan baku yang diterima dari pemasok dengan tembusan surat order
pembelian. Apabila bahan baku yang diterima telah sesuai dengan order,
bagian pembelian membuat laporan penerimaan barang untuk dikirimkan
ke bagian akuntansi.
d. Prosedur Pencatatan Penerimaan Barang di Gudang
Bagian penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok
kepada bagian gudang. Bagian gudang menyimpan bahan baku tersebut dan
mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang pada kolom
“masuk”. Kartu gudang digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat
mutasi tiap- tiap jenis barang gudang yang berisi informasi kuantitas tiap-
tiap jenis barang yang disimpan di gudang dan tidak berisi informasi
mengenai harganya.
e. Prosedur Pencatatan Utang
Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian
pembelian memberikan tanda tangan di atas faktur pembelian sebagai tanda
persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memnuhi

8|Citra Mulya Sari


syarat- syarat pembelian yang ditentukan oleh perusahaan. Faktur
pembelian dilampiri dengan tembusan surat order pembelian dan laporan
penerimaan barang yang dicatat oleh bagian akuntansi.
2. Biaya yang Dihitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli
Harga pokok bahan baku tidak hanya berupa harga yang tercam dalam
faktur pembelian saja. Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli ditambah
dengan biaya- biaya pembelian dan biaya- biaya yang dikeluarkan untuk
menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah. Harga beli dan
biaya angkut merupakan unsure yang mudah diperhitungkan sebagai harga pokok
bahan baku, sedangkan biaya- biaya pesan, biaya penerimaan, pembongkaran,
pemeriksaan, asuransi, pergudangan, dan biaya akuntansi bahan baku merupakan
unsure – unsure biaya yang sulit diperhitungkan kepada harga pokok bahan baku
yang dibeli. Perlakuan terhadap biaya angkutan dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang
dibeli
Alokasi biaya angkutan kepada masinh- masing jenis bahan baku yang
dibeli dapat didasarkan pada perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku yang
dibeli, perbandingan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli, dan biaya
angkutan diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli
berdasarkan tariff yang ditentukan dimuka.
b. Biaya angkutan tidak diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku
yang dibeli, namun diperlakukan sebagai unsure- unsure biaya overhead pabrik.
3. Penentuan Harga Pokok Bahan Baku yang Dipakai dalam Produksi
Adapun beberapa metode penentuan pokok bahan baku dipakai dalam produksi yang
meliputi :
a. Metode identifikasi khusus
Setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada
harga pokok per satuan beberapa bahan baku tersebut dibeli. Kesulitan
dalam metode ini terletak pada penyimpanan bahan baku di gudang.
b. Metode masuk pertama keluar pertama

9|Citra Mulya Sari


Metode ini menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa
harga pokok per satuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang
yang digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali
dipakai.
c. Metode masuk terakhir keluar pertama
Metode ini menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai
dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan
baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang dipakai menentukan
harga pokok bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi
d. Metode rata- rata bergerak
Pada metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang
dihitung harga rata- ratanya dengan cara membagi total harga pokok dengan
jumlah satuannya
e. Metode biaya standar
Dalam metode biaya standar, bahan baku yang dibeli dicatat dalam
kartu persediaan sebesar harga standar yaitu harga taksiran yang
mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan
datang.
f. Metode rata- rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan
Dalam metode ini, tiap akhir bulan dilakukan penghitungan harga
pokok rata- rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di
gudang.6

6
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/anggaran-bahan-baku diakses pada
tanggal 28 Maret 2020, pada pukul 19:05 WIB.

10 | C i t r a M u l y a S a r i