Anda di halaman 1dari 11

Artikel Bimbingan dan Konseling

Oleh :

NAMA : Uci Rahmadani


NIM : 19033066
PRODI : PENDIDIKAN FISIKA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2021
Model Pelayanan Bimbingan Konseling Komrehensif

Oleh : Uci Rahmadani

Abstrak :

Bimbingan dan konseling merupakan ilmu terapan yang selalu berkembang dan megikuti
perubahan kondisi social, ekonomi, budaya, dan politik. Pada saat ini bimbingan dan konseling
di Indonesia secara dinamis mengikuti berbagai perubahan kondisi di atas. Salah satu dinamika
perkembangannya adalah dengan mengadaptasi model bimbingan konseling komprehensif
sebagai respon terhadap tuntutan perubahan kondisi masyarakat.
Bimbingan dan konseling komprehensif di sekolah merupakan upaya untuk memberikan
bantuan secara utuh yang melibatkan konselor, pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, staf
administrasi, orang tua dan masyarakat. Melalui bombingan dan konseling komprehensif peserta
didik diharapkan dapat memahami dan dapat mengetahui kehidupan yang mencakup kehidupan
akademik, karir dan pribadi sosial.

Pendahuluan :

Bimbingan dan koseling atau “guidance and counseling” merupakan salah satu program
pendidikan yang diarahkan kepada usaha pembaruan pendidikan nasional. Jika dilihat dari arti
dan tujuan bimbingan dan konseling secara mendalam, maka jelas urgensi bimbingan dan
konseling sangat besar bagi usaha pemantapan arah hidup generasi muda dalam berbagai bidang
yang menyangkut bidang pribadi, bidang sosial, bidang belajar, dan bidang karier.
Melalui program bimbingan dan konseling berarti pula perkembangan jiwa anak bimbing
harus diarahkan kepada kemampuan mentak spiritual yang lebih tinggi, dan lebih baik.
Kemampuan mental spiritual anak bimbing khususnya para generasi muda harus mendapatkan
perhatian istimewa dalam bimbingan dan konseling, baik segi-segi umum maupun agama untuk
dibina dan dikembangkan agar mereka menjadi generasi mendatang yang kuat dan tangguh, baik
fisik, mental, maupun spiritual.
Kemampuan mental spiritual dimaksud tidak hanya meliputi kecerdasan dan ilmu
pengetahuan, daya cipta, dan keterampilan bekerja, malinkan juga menyangkut kemampuan
untuk bersikap demokrasi, mencintai bangsa dan sesama, bersikap tangguh dalam bercita-cita
yang sehat, kemampuan berakhlak mulia, berdedikasi tinggi dalam hidup sosial dan dalam
menjalin hubungannya dengan Yang Maha Kuasa. Kemampuan-kemampuan tersebut dibimbing
supaya dapat berkembang dalam kehidupan yang utuh dan bulat. Keseimbangan hidup pribadi
demikian merupakan ciri khas dari bangsa yang mengedepankan nilai-nilai moralitas.
Di Indonesia, sekolah-sekolah menerapkan BK Pola 17 dan BK Komprehensif untuk
mengembangkan potensi diri siswa dalam segala bidang. Berdasarkan uraian latar belakang di
atas, penulis menganggap pentingnya membahs tentang Bimbingan Konseling Komprehensif di
sekolah dan setrategi penerapannya.
Tinjauan Pustaka :

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Komprehensif


Secara etimologis kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata “Guidance” berasal dari
kata kerja “to guide” yang mempunyai arti “menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun
membantu.” Sesuai dengan istilahya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai
suatu bantuan atau tuntunan.
Sedangkan secara terminologi bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang terus
menerus dari seorang pembimbing yang telah dipersiapkan kepada individu yang
membutuhkannya dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara
optimal dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik bimbingan dalam suasana
asuhan yang normatif agar tercapai kemandirian sehingga individu dapat bermanfaat bagi dirnya
sendiri maupun bagi lingkungannya.
Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to
give advice”, atau memberi saran dan nasihat. Berdasarkan terminologi konseling merupakan
salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung
melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru
pembimbing/ konselor dengan klien; dengan tujuan agar klien itu mampu memecahkan masalah
yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang
dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi
dan kemanfaatan sosial.
Bimbingan komprehensif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik melalui layanan
dasar bimbingan, layanan responsive, layanan perencanaan individual dan dukungan sistem
sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
B. Landasan Bimbingan dan Konseling Komprehensif
1. Landasan Filosofis
Setiap aktivitas yang dilakukan harus mendasarkan diri pada pertimbangan-pertimbangan
berpikir atau secara filsafat, dalam posisi tersebut filsafat berfungsi sebagai validasi yaitu untuk
menguji koherensi antara visi, misi, dan tujuan, dalam kontek ini adalah bimbingan dan
konseling komprehensif. Landasan filosofis bimbingan dan konseling komprehensif merupakan
dasar pemikiran yang sangat penting untuk memberikan arah dan argumentasi pemikiran serta
alasan untuk dilaksanakan dan diimplementasikan dalam kehidupan khususnya di sekolah.
Filsafat adalah lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif),
sekalipun filsafat tidak bisa menjangkau semua persoalan dengan daya kemampuan pikir
manusia secara keseluruhan. Filsafat sifatnya hanya mencoba mengerti, menganalisis, menilai,
memvalidasi dan menyimpulkan persoalan-persoalan dalam jangkauan rasio manusia, secara
kritis, rasional, dan mendalam. Jika dikaitkan dengan permasalahan secara komprehensif hakikat
manusia pada dasarnya menyangkut empat dimensi yaitu dimensi keindividualan
(individualitas), kesosialan (sosialitas), kesusilaan (moralitas), dan keberagamaan (religiusitas).
Tinjauan tersebut akan memperlihatkan betapa manusia amat berpotensi untuk
memperkembangkan dirinya, untuk menguasai alam, dan untuk mengembangkan budaya
setinggi-tingginya demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Untuk menjamin supaya
bimbingan dan konseling komprehensif itu benar-benar efektif maka dibutuhkan landasan-
landasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai asas normative dan pedoman pelaksanaan
pembinaan. Sebab bimbingan dan konseling pada hakekatnya sebagai usaha untuk membantu
proses perkembangan memecahkan masalah agar individu dapat meyesuaikan dirinya dimana
mereka berada.
Pemikiran dan pemahaman secara filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan
bimbingan dan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya. Bagi konselor
bahwa pemahaman filosofis dan pemikiran yang mendalam dapat membantu konselor di dalam
memahami situasi konseling ketika membuat suatu keputusan yang tepat dan komprehensif
sesuai dengan aspek-aspek yang diperlukan dalam cakupan bimbingan dan konseling itu sendiri.
Di samping pemikiran dan pemahaman filosofis juga memungkinkan konselor menjadikan
dirinya semakin mantap, lebih luas pemikirannya, lebih efektif di dalam penerapan pemberian
bantuan serta lebih bijaksana dalam mengambil berbagai keputusan yang berkaitan dengan
pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif.
2. Landasan Psikologis
Landasan psikologi di dalam bimbingan dan konseling komprehensif berarti memberikan
landasan dan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran layanan yaitu
konseli. Landasan psikologi di dalam bimbingan dan konseling sangat penting karena bidang
garapannya adalah tingkah laku, permasalahan hidup manusia beserta aspek-aspek lainnya.
Aspek dan tingkah laku manusia beserta permasalahan yang menjadi sasaran untuk diubah dan
dikembangkan dalam kontek mereka mengatasi masalah-masalah yang dihadapi atau untuk
mencapai tujuan yang hendak dicapai pula. Tujuan bimbingan dan konseling yang hendak
dicapai adalah pemecahan masalah, efektivitas pribadi, pengubahan perilaku, dan membantu
dalam hal kesehatan mental.
3. Landasan Sosial Budaya
Fenomena dalam masyarakat modern ini semakin lama semakin pesat perkembangan dan
perubahannya. Perkembangan dan perubahan tersebut menyangkut beberapa aspek kehidupan
manusia. Pengaruh atau dampak perkembangan dan perubahan tersebut dapat berdampak positif
dan negative bagi kehidupan manusia. Dampak positif berbagai aspek kehidupan manusia yang
pada akhirnya semakin dapat menikmati indahnya kehidupan, menikmati kehidupan dengan
sarana teknologi yang efisien dan efektif. Kehidupan ini rasanya serba bebas dan semua
kepentingan hidup dengan mudah diakses melalui sarana teknologi yang serba canggih. Dari sisi
negative bagi mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri akan merasa dibebani oleh pemikiran-
pemikiran dan kebutuhan hidup yang sangat berat akhirnya akan menambah ketegangan
emosional dan konflik batin yang serius sehingga banyak menimbulkan penyakit mental.
Gambaran realita yang sungguh terjadi di era kebudayaan modern seperti sekarang banyak
dicirikan dengan kebudayaan materiil, kebahagiaan hidup diukur dengan suksesnya seseorang,
aspirasi dan perujuangan mendapatkan materi. Kenyataan perubahan prinsip hidup seperti ini
perlu diberikan bentuk bantuan layanan bimbingan dan konseling komprehensif dalam setting
kehidupan. Landasan social budaya bimbingan dan konseling komprehensif merupakan acuan
dasar sehingga sekalipun perkembangan teknologi semakin maju dan pesat eksistensi social
budaya suatu bangsa tetap berdiri tegak, tidak terombang-ambing oleh perubahan tersebut.
Landasan social budaya merupakan acuan nilai yang menjadi pertimbangan dasar di dalam
membantu memecahkan masalah problema-problema kehidupan bangsa.
4. Landasan Religius
Landasan religious layanan bimbingan dan konseling komprehensif sangat penting terkait
dengan keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Tuhan. Sikap yang
mendorong perkembangan manusia berjalan menuju kehidupan akan berjalan kearah yang sesuai
dengan kaidah-kaidah agama. Di samping itu upaya untuk memungkinkan berkembang dan
dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang
sesuai dalam rangka meneguhkan kehidupan beragama untuk selanjutnya membantu
perkembangan dan pemecahan masalah individu di dalam kehidupannya. Keyakinan manusia
adalah makhluk Tuhan menekankan ketinggian derajat dan keindahan makhluk manusia serta
peranannya sebagai khalifah di muka bumi.
C. Model Bimbingan dan Konseling Komprehensif
Model bimbingan dan konseling komprehensif merupakan model mutakhir yang
dikembangkan oleh American School Counselor Association (ASCA). Model ini mulai
dikembangkan pada tahun 1997. Model ini merupakan gerakan reformasi pendidikan yang
mencakup undang-undang tentang pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat, serta
undang-undang “no children left behind”.
Bimbingan dan konseling komprehensif dirancang untuk merespon berbagai persoalan
yang dihadapi oleh konselor di sekolah. Berdasarkan laporan ASCA dan beberapa penelitian,
DeVoss mengatakan bahwa konselor di sekolah mengalami berbagai masalah antara lain sepeti
kurangnya dukungan administrasi BK, tidak memiliki arah yang jelas pada ekspektasi dan tujuan
program, tidak mendapatkan pengakuan dan penghargaan, kurang ada control dalam pelaksanaan
program harian, serta banyak mengerjakan tugas-tugas non-profesional. Selanjutnya Hart dan
Jacobi mengidentifikasi enam masalah yang dihadapi bimbingan dan konseling di sekolah yaitu:
(1) kurangnya filosofi berpikir dari program BK; (2) program BK tidak terintegrasi dengan
program sekolah yang lain; (3) tidak cukup akses untuk siswa; (4) layanan yang tidak memadai;
(5) kurangnya akuntabilitas konselor; dan (6) gagal untuk menggunakan berbagai sumber yang
ada. Untuk itulah model bimbingan komprehensif dikembangkan sebagai setrategi untuk
mengatasi berbagai permasalahan di atas.
Selain itu, model bimbingan komprehensif ini dikembangkan berdasarkan berbagai hasil
kajian teori, dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh ASCA tentang program bimbingan
dan konseling dan profesi konselor sekolah. Penelitian tersebut menjaring data mulai dari
konselor di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan
Perguruan Tinggi, serta supervisor dan pendidik konselor. Penelitian-penelitian tersebut
dilakukan di lebih dari 35 negara bagian di Amerika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
model bimbingan dan konseling komprehensif yang ditawarkan oleh ASCA merupakan model
yang memiliki landasan teoritik dan praktik yang dapat diandalkan.
Model bimbingan dan konseling komprehensif merupakan respons terhadap berbagai
penelitian yang telah dilakukan oleh American School Counseling Ascociation. Model ini
merupakan upaya perbaikan dan pengembangan dari model bimbingan dan konseling yang telah
dikembangkan sebelumnya. Model bimbingan dan konseling komprehensif menuntut perubahan
paradigma berpikir konselor, baik posisi maupun kinerja kerja konselor. Hal ini disebabkan
karena model ini merupakan gebrakan baru bagi layanan bimbingan dan koseling, sehingga
perubahan pertama untuk dapat mengimplementasikan model ini adalah konselor, yang
merupakan kunci pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Tuntutan bagi konselor
adalah mengubah paradigm berpikir lama menuju paradigm yang komprehensif. Paradigma lama
antara lain: kegiatan bimbingan dan konseling memfokuskan pada jumlah aktivitas, evaluasi
program berdasarkan banyaknya kegiatan yang dilakukan, dan bekerja untuk mempertahankan
system yang ada kea rah visi yang baru. Adapun visi baru model ini adalah: kegiatan layanan
bimbingan dan konseling berfokus pada keluaran dan meningkatkan hasil, mengukur hasil
keberhasilan layanan berdasarkan tujuan yang telah dirancang, mengubah dan mengadaptasi
system menjadi lebih responsive terhadap perubahan system.
Selanjutnya, model ini dikembangkan untuk memperlihatkan pendekatan yang
komprehensif pada latar belakang berpikir, system layanan, manajemen dan akuntabilitas. Model
ini memberikan mekanisme bagi konselor sekolah untuk mendesain, mengkoordinasi,
mengimplementasi, mengelola dan mengevaluasi program BK yang didasari oleh keberhasilan
siswa.
Program BK komprehensif adalah usaha kolaboratif yang bermanfaat bagi siswa, orang
tua, guru, staf administrasi, dan seluruh anggota masyarakat (ASCA). Model BK komprehensif
memiliki karakteristik sebagai berikut:
 Memiliki cakupan layanan yang komprehensif
 Memiliki desain yang berlandaskan pada nilai-nilai preventif
 Memiliki bentuk yang bersifat perkembangan
 Berpusat pada siswa
 Dilaksanakan secara kolaboratif
 Didukung oleh data
 Terintegrasi pada keseluruhan program sekolah (Bower & Hatch, 2012)

Di samping itu, model ini memberikan kerangka kerja bagi komponen-komponen program,
peran konselor sekolah dalam implementasi dan filosofi yang melandasi kepemimpinan,
advokasi, dan perubahan yang sistemik. Konselor sekolah berubah dari service-centered bagi
sebagian siswa, menjadi program-centered bagi seluruh siswa. Dengan demikian, konselor
dituntut untuk dapat merancang program yang dapat mengakomodasi seluruh kepentingan siswa.
Tuntutan tersebut terefleksi dari perubahan pertanyaan kepada konselor sekolah. Pada model
konseling yang lama, konselor dituntut untuk mengerjakan pekerjaan dalam merespon
pertanyaan: Apa yang dilakukan oleh konselor sekolah? Pada model BK komprehensif, konselor
dituntut untuk merespon pertanyaan: Bagaimana siswa berubah sebagai hasil dari apa yang
dilakukan oleh konselor?
Walaupun model ini diadopsi dari model ASCA yang dikembangkan untuk mengatasi
masalah yang dialami oleh bimbingan dan konseling di Amerika Serikat, namun model ini dapat
diadaptasi di Indonesia. Kemungkinan adaptasi model ASCA di Indonesia sangat terbuka, karena
model ini memberikan kerangka berpikir dan kerangka kerja yang fleksibel, seperti yang
dikemukakan oleh Bower dan Hatch. Mereka mengatakan bahwa model ASCA yang member
peluang kepada masing-masing negara bagian untuk menetapkan standar masing-masing dan
mempertimbangkan dengan kebutuhan dan kondisi politik local. Dengan fleksibilitas tersebut,
model ini dapat diadaptasi untuk pengembangan bimbingan dan konseling di Indonesia.
Model bimbingan dan konseling komprehensif memberikan kesempatan bagi ilmu
Bimbingan dan Konseling di Indonesia untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih baik.
Masalah-masalah yang dialami oleh bimbingan dan konseling di Amerika juga dialami oleh
bimbingan dan konseling di Indonesia. Dengan demikian, adaptasi model bimbingan
komprehensif member peluang kepada konselor untuk menunjukkan kinerjanya, sehingga profesi
bmbingan dan konseling mendapatkan pengakuan di masyarakat. Selain itu, model ini juga
mendukung reformasi pendidikan yang menekankan pada pentingnya standarisasi dan
akuntabilitas layanan pendidikan.
Berdasarkan rambu-rambu penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah
yang dikeluarkan oleh Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) yang diterbitkan
tahun 2008, layanan bimbingan dan konseling sudah mengadopsi model bimbingan dan
konseling komprehensif yang dikembangkan ASCA, namun pengadopsian model tersebut hanya
pada satu komponen dari empat komponen model yang ditawarkan ASCA. Dalam model
bimbingan dan konseling komprehensif terdapat empat komponen yang saling berkaitan, yaitu
landasan berpikir (foundation),system layanan (delivery system), system manajemen
(management system), dan akuntabilitas (accountability). Sedangkan pada bimbingan
komprehensif yang dikeluarkan ABKIN hanya mengemukakan system palayanan saja.
1. Landasan berpikir
Landasan berpikir adalah kumpulan dari prinsip-prinsip yang mengarahkan pengembangan,
pelaksanaan, dan evaluasi program. Informasi yang dikumpulkan dan dievaluasi dalam
komponen akuntabilitas harus sejalan dengan foundation yang terdiri dari:
a. Keyakinan-keyakinan dan filososfi sekolah, program BK komprehensif dan konselor
yang menjadi landasan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
keseluruhan program BK komprehensif. Keyakinan ini terlihat dari consensus seluruh
personel yang terlibat dalam program BK komprehensif. Hal ii dapat direfleksikan
dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti:
Apa yang kita yakini tentang siswa-siswa kita?
Apa yang harus diketahui dan dimiliki oleh siswa?
Bagaimana guru memandang siswa?
Dalam program BK komprehnesif, pernyataan tentang keyakina-keyakinan dan filososfi
sekolah dituliskan pada bagian pertama program. Biasanya statemen ini tercakup dalam
visi dan misi sekolah.
b. Visi dan misi program
Terdiri dari deskripsi tentang tujuan program yang sejalan dengan visi misi sekolah.
c. Tuntutan standar bagi siswa secara akademik, karir, pribadi dan social
Standar ini terdiri dari pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang harus dicapai siswa
pada jenjang akademik tertentu. Tuntutan standar bagi siswa dapat dilihat pada standar
nasional siswa pada setiap jenjang pendidikan.
2. System layanan
a. Layanan dasar
b. Layanan perencanaan individual
c. Layanan responsive
d. Dukungan system

3. System manajemen
System manajemen adalah system yang mendukung perencanan, pelaksanaan, dan evaluasi
program BK komprehensif. System manajemen terdiri dari kesepakatan manajemen, dewan
penasihat, penggunaan data, pembuatan action plans, dan kalender kegiatan. Kesepakatan
manajemen adalah pernyataan tentang tugas dan tanggung jawab personel BK, pihak yang
berhak meminta akuntabilitas program, pembagian tanggung jawab kerja, dan negosiasi tersebut
disetujui oleh manajemen sekolah. Dewan penasehat adalah pihak-pihak yang ditunjuk untuk
mereview hasil program dan membuat rekomendasi. Dewan ini terdiri dari representasi seluruh
kelompok stakeholder pendidikan, yaitu siswa, orang tua, staf sekolah, dan anggota masyarakat.
Penggunaan data maksudnya adalah bahwa program BK dilandasi oleh data. Data tersebut
digunakan untuk melihat dan membuat perubahan, memastikan bahwa seluruh siswa mendapat
manfaat dari program, dan monitoring siswa. Action plus terdiri dari domain, standard dan
kompetensi, deskripsi kegiatan, kurikulum dan bahan-bahan yang akan digunakan, alokasi
waktu, penanggung jawab kegiatan, evaluasi, dan perkiraan hasil. Kalender terdiri dari kalender
akademik, kalender program tahunan dan mingguan.
4. Akuntabilitas
Akuntabilitas merupakan harapan yang dituntut dari konselor sekolah, yaitu “bagaimana siswa
berubah sebagai hasil dari program”. Akuntabilitas terdiri dari laporan hasil seluruh kegiatan,
evaluasi performance konselor, dan audit program. Laporan hasil kegiatan bertujuan memastikan
bahwa program telah diimplementasikan, dianalisa efektifitasnya, dan ditingkatkan sesuai
dengan kebutuhan. Evaluasi performance konselor dapat dilakukan dengan standar praktek
dasar, evaluasi administrator, dan evaluasi diri.

D. Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif


Muro dan Kottman (1995) mengemukakan bahwa struktur program bimbingan dan
konseling komprehensif diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu: (1) layanan dasar
bimbingan; (2) layanan responsive; (3) layanan perencanaan individual; dan (4) dukungan
sistem.
1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi siswa melalui kegiatan-
kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa
mengembangkan potensinya secara optimal.
Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang
normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh ketrampilan dasar hidupnya.
2. Layanan Responsif
Layanan responsif merupakan “layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebutuhan
atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera.”
Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan yang dirasakan pada
saat ini, atau para siswa yang dipandang mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas
perkembangannya. Indikator dari kegagalan itu berupa ketidak mampuan untuk menyesuaiakan
diri atau perilaku bermasalah.
3. Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu
individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan sosial
pribadinya. Membantu individu memantau dan memahami pertumbuhan dan perkembangannya
sendiri, kemudian merencanakan dan mengimplementasikan rencana-rencananya itu sesuai
dengan pemantauan dan pemahamannya itu.
Dapat juga dikemukakan bahwa layanan ini bertujuan untuk membimbing seluruh siswa
agar (a) memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan, perencanaan atau pengelolaan terhadap
pengembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial belajar maupun karir; (b) dapat
belajar memantau dan memahami perkembangan dirinya, dan (c) dapat mel;akukan kegiatan atau
tindakan berdasarkan ppemahamannya atau tujuan yang telah dirumuskan secara produktif.
Teknik bimbingannya adalah konsultasi dan konseling. Isi layanan perencanaan individual
adalah: (1) bidang pendidikan dengan topik-topik belajar yang efektif, bel;ajar memantapkan
program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat, dan karakteristik kepribadian lainnya; (2)
bidang karir dengan topik-topik mengidentifikasi kesempatan karir yang ada dilingkungan
masyarakat, mengembangkan sikap yang positif terhadap dunia kerja, dan merencanakan
kehidupan karirnya; (3) bidang sosial-pribadi dengan topik-topik mengembangkan konsep diri
yang positif, mengembangkan ketrampilan-ketrampilan sosial yang tepat, be;ajar menghindari
konflik dengan teman, dan belajar memahami perasaan orang lain.
4. Dukungan Sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantabkan,
memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan
professional; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/ penasehat,
masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis,
1990).
Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam rangka memperlancar
penyelenggaraan ketiga program layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidikan lainnya
adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem
ini meliputi dua aspek yaitu: (1) pemberian layanan; dan (2) kegiatan manajemen.
a. Pemberian Layanan , menyangkut kegiatan guru pembimbing yang meliputi:
 konsultasi dengan guru-guru.
 menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua/ masyarakat.
 berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah.
 bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan
sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa.
 melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan
dan konseling.
b. Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen ini merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara dan
meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan pengembangn
program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya, dan pengembangan penataan

Kesimpulan:
Bimbingan dan konseling komprehensif merupakan alternative model bimbingan dan
konseling yang memberikan kesempatan bagi akademisi dan praktisi konseling untuk
meningkatkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Model ini memberikan model yang
komprehensif dalam layanan bimbingan dan konseling yang mengakomodir seluruh stakeholder
bimbingan dan konseling di sekolah, mulai dari siswa, guru pembimbing, kepala sekolah, staf
sekolah, guru mata pelajaran, orang tua dan masyarakat.
Adaptasi model bimbingan dan konseling komprehensif di Indonesia sangat
memungkinkan untuk dilakukan, karena model ini sangat fleksibel dan adaptable. Model ini
dikembangkan untuk mengakomodir perbedaan-perbedaan dan keunikan negara bagian, daerah,
dan sekolah. Dengan demikian, model ini juga dapat diadaptasi di Indonesia yang memiliki
perbedaab dan keunikan yang bervariasi.

Daftar Pustaka :

Asrowi. 2015. Menuju Pemahaman Bimbingan & Konseling Komprehensif. Surakarta: UNS
Press.
A, Hallen. 2005. Bimbingan & Konseling. Ciputat: PT Ciputat Press.
Hidayat, Dede Rahmat dan Herdi. 2014. Bimbingan Konseling Kesehatan Mental di Sekolah.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurihsan. 2012. Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

Anda mungkin juga menyukai