Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS INSTRUMENT

VALIDASI METODE PENENTUAN KADAR ASAM MEFENAMAT

Oleh :
Sherly Yunita 611810048

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MA CHUNG MALANG
2021
Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa terampil menyusun protokol validasi Metode analisis
2. Mahasiswa memahami konsep A1 1 dari suatu senyawa
3. Mahasiswa terampil melakukan penetapan kadar asam mefenamat secara
spektrofotometer UV VIS

Dasar Teori
Asam mefenamat adalah salah satu obat dari golongan AINS (Anti Inflamasi Non
Steroid) yang merupakan turunan dari asam N- phenylanthranilic. Asam mefenamat bekerja
dengan cara menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat
menjadi prostaglandin terganggu (Gilman, et al., 1996).
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik dan sebagai anti inflamasi, asam
mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin. Asam mefenamat terikat sangat kuat pada
protein plasma. Dengan demikian interaksi terhadap obat antikoagulan harus diperhatikan
(Wilmana dan Gan, 2007).
Kelarutan dari asam mefenamat yaitu larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar
larut dalam kloroform, sukar larut dalam etanol dan dalam metanol, praktis tidak larut dalam
air. Asam Mefenamat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0%,
C15H15NO2, dihitung terhadap zat kering. Pemeriannya yaitu serbuk hablur putih atau
hampir putih; melebur pada suhu lebih kurang 230 disertai peruraian.
Linieritas menunjukkan kemampuan suatu metode analisis untuk memperoleh hasil
pengujian yang sesuai dengan konsentrasi analit yang terdapat pada sampel pada kisaran
konsentrasi tertentu. Sedangkan rendang metode pernyataan batas terendah dan tertinggi
analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan dan
linieritas yang dapat diterima. Rentang dapat dilakukan dengan cara membuat kurva kalibrasi
dari beberapa set larutan standart yang telah diketahui konsentrasinya (Ermer dan Miller,
2005). Linieritas dapat diukur dengan melakukan pengukuran tunggal pada konsentrasi yang
berbeda – beda. Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat terkecil,
untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (slope), intercept, dan koefisien
korelasinya (Gandjar dan Rohman, 2014).

Linieritas dapat dilihat melalui kurva kalibrasi yang menunjukkan hubungan antara
respon dengan konsentrasi analit pada beberapa seri larutan baku. Dari kurva kalibrasi ini
kemudian akan ditemukan regresi linearnya yang berupa persamaan y=bx+a, dimana x adalah
konsentrasi, y adalah respon, a adalah intersep y yang sebenarnya dan b adalah slope yang
sebenarnya. Tujuan dari dibuatnya regresi ini adalah untuk menentukan estimasi terbaik
untuk slope dan intersep y sehingga akan mengurangi residual error, yaitu perbedaan nilai
hasil percobaan dengan nilai yang diprediksi melalui persamaan regresi linear (Harvey,
2000).

Sebagai parameter adanya hubungan linear digunakan koefisien korelasi r pada


analisis regresi linear. Hubungan linear yang ideal dicapai jika nilai b adalah 0 dan r adalah
+1 atau -1 terganting arah garis (Harmita, 2004).

Limit deteksi (LOD) merupakan parameter uji batas terkecil yang dimiliki oleh suatu
alat/instrument untuk mengukur sejumlah analit tertentu. Menurut Torowati & Galuh (2014),
limit deteksi adalah konsentrasi atau jumlah terkecil/terendah dari analit dalam sampel yang
masih menunjukkan nilai serapan atau absorbansi pada alat tanpa harus memenuhi kriteria
akurasi dan presisi. Batas deteksi (limit of detection, LOD) didefinisikan sebagai konsentrasi
analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi, meskipun tidak selalu dapat
dikuantifikasi. LOD merupakan batas uji yang secara spesifik menyatakan apakah analit di
atas atau di bawah nilai tertentu (Gandjar dan Rohman, 2007). Batas deteksi merupakan
parameter uji batas (Harmita, 2004). Definisi batas deteksi yang paling umum digunakan
dalam kimia analisis adalah bahwa batas deteksi merupakan kadar analit yang memberikan
respon blanko (Y) ditambah dengan 3 simpangan baku blanko (3S) (Gandjar dan Rohman,
2007).

Limit kuantitasi (LOQ) merupakan jumlah analit terkecil dalam sampel yang masih
dapat diukur dengan akurat dan presisi oleh alat/instrument. Penentuan limit deteksi dan limit
kuantitasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu: signal to noise, penentuan blanko dan kurva
kalibrasi (Riyanto, 2002). Cara penentuan limit deteksi dan limit kuantitasi pada alat
spektrofotometer serapan atom yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan blanko.
Prinsip penentuan LOD dan LOQ dengan menggunakan blanko adalah larutan/pelarut yang
digunakan untuk analisis diukur nilai absorbansinya dengan menggunakan alat/instrument.
Batas Kuantitasi (LoQ) merupakan konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat
diukur secara kuantitatif dengan akurasi dan presisi yang dapat diterima. Batas kuantitasi
dilakukan minimal 5 replikasi. Kriteria penerimaan presisi dan akurasi untuk batas kuantitasi
adalah koefisien variasi (CV) < 20% dan bias < ±20% (FDA, 2001).
Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis
itu menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen
batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran
bertingkat. Pada analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon
blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko dan formula di bawah
ini dapat digunakan untuk perhitungan (Harmita, 2004).

Presisi adalah ukuran kedekatan hasil analisis diperoleh dari serangkaian pengukuran
ulangan dari ukuran yang sama. Hal ini mencerminkan keselahan acak yang terjadi dalam
sebuah metode. Dua set diterima secara umum kondisi di mana presisi diukur adalah kondisi
berulang dan reproduksi. Presisi biasanya diukur sebagai koefisien variasi atau deviasi
standar relative dari hasil analisis yang diperoleh dari independen disiapkan standar control
kualitas (Riyanto, 2014).

Penentuan presisi dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu keterulangan


(repeatability), presisi antara (intermediate precision), dan ketertiruan (reproducibility).
Keterulangan merupakan ketepatan yang ditentukan pada laboratorium yang sama oleh satu
analis serta menggunakan peralatan dan dilakukan pada hari yang sama. Presisi antara
merupakan ketepatan pada kondisi percobaan pada laboratorium yang sama oleh analis,
peralatan, reagen, dan kolom yang berbeda. Ketertiruan mempresentasikan presisi hasil yang
dapat dilakukan pada tempat percobaan yang lain dengan tujuan untuk memverifikasi bahwa
metode akan menghasilkan hasil yang sama pada fasilitas tempat yang berbeda (Yuwono dan
Indrayanto, 2005).

Akurasi adalah ukuran yang menujukan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar
analit yang sebenarnya. Akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery)
analit yang ditambahkan. Kecermatan hasil analis sangat tergantung dengan sebaran galat
sistematik didalam keseluruhan tahapan analisis (Gandjar, 2007).

Akurasi merupakan ketepatan metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur
dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnaya, atau nilai rujukan. Akurasi
diukur sebagai banyaknya analit yang diperoleh kembali pada suatu pengukuran dengan
melakukan spiking pada suatu sampel. Untuk pengujian senyawa obat, akurasi diperbolehkan
dengan membandingkan hasil pengukuran dengan bahan rujukan standar (Gandjar dan
Rohman, 2014). Terdapat tiga cara yang dapat digunakan untuk menentukan akurasi suatu
metode analisis yaitu:
1. Membandingkan hasil analisis denga CRM (certified refrence material) dari
organisasi internasional.

2. Uji perolehan kembali atau perolehan kembali dengan memasukkan analit ke dalam
matriks blanko (spoked placebo).

3. Penambahan baku pada matriks sampel yang mengandung analit (standard addition
method)

Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang hanya


mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang
mungkin ada dalam matriks sampel. Atau sering juga diartikan spesifisitas adalah
kemampuan untuk mengukur yang dituju secara tepat dan spesifik dengan adaya komponen-
komponen lain dengan matriks sampel seperti ketidak murnian produk degradasi dan
kompoen matriks. Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan
(degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang
ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan
dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang
ditambahkan.

Alat :

1. Mikropipet

2. Labu takar 10 ml, 100 ml

3. Spektrofotometer UV-Vis

4. Beker gelas 1000 ml

Bahan :

1. Asam mefenamat p.a.

2. Tablet asam mefenamat

3. NaOH

4. Aquadest
A 11 dari asam mefenamat adalah 420a

Rentang linieritas untuk asam mefenamat adalah 5 – 19 ppm

Perhitungan A 11

0,2
x 10.000 ppm=4,762 ppm
420

0,8
x 10.000 ppm=19,048 ppm
420

Uji Linieritas

Pembuatan Baku Induk

Ditimbang 50mg Asam Mefenamat

Dilarutkan dalam 100 ml pelarut

50 mg
=500 ppm
100 ml

Pembuatan Baku kerja

No Kadar (ppm) Dipipet ml Volume akhir (ml)


1. 5 0,1 10
2. 6,5 0,13 10
3. 8 0,16 10
4. 9,5 0,19 10
5. 11 0,22 10
6. 12,5 0,25 10
7. 14 0,28 10
8. 15,5 0,31 10
9. 17 0,34 10
10. 19 0,38 10

Perhitungan Baku Kerja


1. x ml/10ml . 500 ppm = 5 ppm
x = 0,1 ml = 100 μL
2. x ml/10ml . 500 ppm = 6,5 ppm
x = 0,13 ml = 130 μL
3. x ml/10ml . 500 ppm = 8 ppm
x = 0,16 ml = 160 μL
4. x ml/10ml . 500 ppm = 9,5 ppm
x = 0,19 ml = 190 μL
5. x ml/10ml . 500 ppm = 11 ppm
x = 0,22 ml = 220 μL
6. x ml/10ml . 500 ppm = 12,5 ppm
x = 0,25 ml = 250 μL
7. x ml/10ml . 500 ppm = 14 ppm
x = 0,28 ml = 280 μL
8. x ml/10ml . 500 ppm = 15,5 ppm
x = 0,31 ml = 310 μL
9. x ml/10ml . 500 ppm = 17 ppm
x = 0,34 ml = 340 μL
10. x ml/10ml . 500 ppm = 19 ppm
x = 0,38 ml = 380 μL

Perhitungan pembuatan pelarut NaOH 0,1 M


mol
M=
Volume
mol
0,1 M =
1 Liter
mol = 0,1 mol
massa = mol x Mr
massa = 0,1 mol x 40
massa = 4 gram

Metodologi
Pembuatan pelarut NaOH 0,1 M
Ditimbang NaOH sebanyak 4 gram
Dilarutkan dengan menggunakan aquadest sampai dengan 1 liter
Pembuatan larutan baku induk 500 ppm
Ditimbang 50 mg asam mefenamat p.a. di dalam labu takar 100 ml

Dilarutkan dengan menggunakan pelarut NaOH 0,1 M sampai tanda batas


Pembuatan larutan baku kerja
Dipipet masing-masing 100 μL, 130 μL, 160μL, 190 μL, 220 μL, 250 μL, 280 μL,
310 μL, 340 μL, 380 μL ke dalam labu takar 10 ml

Dilarutkan dengan menggunakan pelarut NaOH 0,1 M sampai tanda batas

Hasil Spektofotometer Uv-Vis


Penentuan Panjang Gelombang Maksimal dari Asam Mefenamat
Gambar spektrogram pada panjang gelombang

Dari gambar tersebut diperoleh panjang gelombang pengukuran…………………nm

Hasil Kurva Kalibrasi

No Absorbansi Kadar (ppm)


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
a=
b=
r=
Persamaan y =
Gambar kurva rentang linieritas

Kesimpulan Linieritas
Pada validasi metode analisis asam mefenamat memberikan hasil linier pada
rentang ...............-.............., dengan r = ………...

Kondisi analisis
 Pelarut yang digunakan yaitu NaOH
 Panjang gelombang yang digunakan yaitu 322 nm

Metode LOD LOQ


Metode LOD dan LOQ yang digunakan yaitu metode standard error
Rumus LOD
( y− ŷ )2
 Sy/x =
√ n−2

Sy
3 +ǀ 2 aǀ
 Jika a (-) LOD = x
b

Sy
3
 Jika a (+) LOD = x
b

Rumus LOQ

( y− ŷ )2
 Sy/x =
√ n−2

Sy
10 +ǀ 2 aǀ
 Jika a (-) LOQ = x
b

Sy
10
 Jika a (+) LOQ = x
b

Hasil LOD dan LOQ dalam validasi metode Asam Mefenamat

No Kadar (ppm) Absorbansi (y) yi (y-yi)2


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Kesimpulan LOD dan LOQ

Pada validasi metode analisis rhodamine B memberikan hasil LOD sebesar ................ dan
LOQ sebesar .................

Uji Presisi dan Akurasi

Presisi Repeatability
Akurasi metode Adisi
Masing masing konsentrasi dibuat 6 kali replikasi
30% = 30/100 x 8 ppm = 2,4 ppm
45% = 45/100 x 8 ppm = 3,6 ppm
60% = 60/100 x 8 ppm = 4,8 ppm

Baku
0,48 ml
1. x 500 ppm = 24 ppm
10 ml
0,72 ml
2. x 500 ppm = 36 ppm
10 ml
0,96 ml
3. x 500 ppm = 48 ppm
10 ml

Sampel
50 mg
= 500 ppm
100 ml
0,16 ml
x 500 ppm = 8 ppm
10 ml

Baku + Sampel
2,4 ppm + 8 ppm = 10,4 ppm
3,6 ppm + 8 ppm = 11,6 ppm
4,8 ppm + 8 ppm = 12,8 ppm

Metodologi
Dibuat terlebih dahulu larutan 24 ppm, 36 ppm, dan 48 ppm dengan cara dipipet 480μl, 720
μl, dan 960 μl baku induk lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Setelah dibuat larutan dengan konsentrasi 24 ppm, 36 ppm, dan 48 ppm, kemudian dipipet
masing-masing 1000μl dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Kemudian dibuat larutan sampel 8 ppm dengan menimbang 50 mg sampel dalam labu ukur
100 ml dan dilarutkan dengan pelarut NaOH 0,1 M, kemudian diambil 160 μL lalu dicampur
dengan larutan baku yang telah disiapkan (2,4 ppm, 3,6 ppm, dan 4,8 ppm) dalam labu ukur
10 ml dan dilarutkan dengan pelarut

Hasil Uji Presisi dan Akurasi


Hasil Uji Presisi
Uji Presisi 30%

Absorbansi Kadar yang diperoleh Kadar teoritis % Kadar

SD =
RSD =

Uji Presisi 45%

Absorbansi Kadar yang diperoleh Kadar teoritis % Kadar


SD =
RSD =

Uji Presisi 60%

Absorbansi Kadar yang diperoleh Kadar teoritis % Kadar

SD =
RSD =

Kesimpulan Uji Presisi

Hasil Uji Akurasi


Uji Akurasi 30%

Absorbansi Kadar yang diperoleh Kadar teoritis % Kadar

SD =
RSD =
Uji Akurasi 45%

Absorbansi Kadar yang diperoleh Kadar teoritis % Kadar

SD =
RSD =

Uji Akurasi 60%

Absorbansi Kadar yang diperoleh Kadar teoritis % Kadar

SD =
RSD =

Kesimpulan uji Akurasi

Penetapan kadar secara triplo

Sampel 1 = …………….......

Sampel 2 = ………………...
Sampel 3 =…………………

Kesimpulan

Uji Selektivitas
Dimasukkan ke dalam vial 10 ml larutan blanko yaitu NaOH 0,1 M, larutan baku, dan larutan
sampel yang telah dibuat pada waktu preparasi dengan konsentrasi larutan baku 2,4 ppm, 3,6
ppm dan 4,8 ppm serta larutan sampel 8 ppm
Gambar spektrogram sampel, baku kerja, blanko

Kesimpulan Uji Selektivitas

Anda mungkin juga menyukai