Anda di halaman 1dari 10

1.

Sosialisasi PHBS Rumah Tangga di Posyandu Ukaea


Peserta : Seluruh kader posyandu
Waktu : 22 Januari 2021
Latar belakang :
Perilaku adalah suatu tindakan atau perbuatan yang bisa kita amati bahkan dapat dipelajari.
Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang terhadap rangsangan terhadap suatu
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Mubarak, 2007). Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulanperilaku yang dilakukan atas kesadaran
seseorang sehingga anggota keluarga atau keluarga tersebut dapat menolong dirinya sendiri
dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
Program-program yang terdapat dalam program PHBS tidak membuat perbedaan indikator
penilaian untuk wilayah atau kawasan tertentu, seperti wilayah pantai, wilayah desa atau
wilayah kota. Oleh sebab itu,dalam pelaksanaan program PHBS di seluruh kawasan
Indonesia juga menggunakan 10 indikator PHBS yang harus dipraktikkan dirumah tangga
karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan keseluruhan perilaku hidup bersih dan
sehat. Indikator PHBS tersebut terdiri dari pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,bayi
diberi ASI ekslusif,menimbang balita setiap bulan, ketersediaan air bersih, ketersediaan
jamban sehat, memberantas jentik nyamuk,mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, tidak
merokok dalam rumah, melakukan aktifitas fisik setiap hari serta makan buah dan sayur.

Permasalahan :
Cakupan indikator PHBS di Indonesia bervariasi setiap indikatornya. Hasil Survey Kesehatan
Nasional (2004), pencapaian rumah tangga sehat berkisar 24,38%, masih jauh dari target
minimal yaitu 65% pada tahun 2010. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan masih
sebesar 64% sedangkan target nasional adalah 90%. Jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat (JPKM) sangat rendah yaitu sebesar 19%, sedangkan target nasional sebesar
80%. Jenis sumber air sehat yang paling banyak digunakan adalah air sumur terlindung
(35%), rumah tangga yang menggunakan dan memiliki jamban hanya sebesar 27%
sedangkan target yang harus dicapai tahun 2010 adalah 85%. ASI eksklusif yang dikenal
dengan inisiasi Menyusui Dini (IMD) baru mencapai 30%. Ditinjau dari gaya hidup sehat di
masyarakat, perokok usia belia 5-9 tahun meningkat secara signifikan dari 0.4% tahun 2001
menjadi 1,8% pada tahun 2004.

Perencanaan dan Intervensi :


Direncanakan untuk dilakukannya sosialisasi PHBS rumah tangga di Posyandu Ukaea desa
Watu-watu pada 22 Januari 2021 pukul 08.30 WITA - selesai. Pesertanya adalah kader-kader
posyandu dan masyarakat sekitar.

Pelaksanaan :
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi PHBS Rumah Tangga dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Jumat, 22 Januari 2021
Tempat : Posyandu Ukaea desa Watu-watu
Pemateri : dr. Nur Rahma Musdalifa
Waktu : 08.30 WITA – selesai
Sasaran : Kader posyandu dan masyarakat yang hadir

Monitoring dan Evaluasi


Peserta yang hadir kurang lebih 18 orang dari warga Desa Watu-watu. Penyuluhan berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Namun tingkat pengetahuan peserta masih kurang mengenai
materi penyuluhan sebelum diadakannya penyuluhan. Hampir sebagian besar warga yang
hadir kurang mengetahui materi penyuluhan yang akan disampaikan. Namun setelah
penyuluhan, warga cukup antusias untuk berdiskusi terkait materi penyuluhan.
2. Sosialisasi PHBS Rumah Tangga di Desa Watu-watu
Peserta : Masyarakat desa Watu-watu
Waktu : 06 Januari 2021
Latar belakang :
Perilaku adalah suatu tindakan atau perbuatan yang bisa kita amati bahkan dapat dipelajari.
Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang terhadap rangsangan terhadap suatu
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Mubarak, 2007). Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulanperilaku yang dilakukan atas kesadaran
seseorang sehingga anggota keluarga atau keluarga tersebut dapat menolong dirinya sendiri
dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
Program-program yang terdapat dalam program PHBS tidak membuat perbedaan indikator
penilaian untuk wilayah atau kawasan tertentu, seperti wilayah pantai, wilayah desa atau
wilayah kota. Oleh sebab itu,dalam pelaksanaan program PHBS di seluruh kawasan
Indonesia juga menggunakan 10 indikator PHBS yang harus dipraktikkan dirumah tangga
karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan keseluruhan perilaku hidup bersih dan
sehat. Indikator PHBS tersebut terdiri dari pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,bayi
diberi ASI ekslusif,menimbang balita setiap bulan, ketersediaan air bersih, ketersediaan
jamban sehat, memberantas jentik nyamuk,mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, tidak
merokok dalam rumah, melakukan aktifitas fisik setiap hari serta makan buah dan sayur.

Permasalahan :
Cakupan indikator PHBS di Indonesia bervariasi setiap indikatornya. Hasil Survey Kesehatan
Nasional (2004), pencapaian rumah tangga sehat berkisar 24,38%, masih jauh dari target
minimal yaitu 65% pada tahun 2010. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan masih
sebesar 64% sedangkan target nasional adalah 90%. Jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat (JPKM) sangat rendah yaitu sebesar 19%, sedangkan target nasional sebesar
80%. Jenis sumber air sehat yang paling banyak digunakan adalah air sumur terlindung
(35%), rumah tangga yang menggunakan dan memiliki jamban hanya sebesar 27%
sedangkan target yang harus dicapai tahun 2010 adalah 85%. ASI eksklusif yang dikenal
dengan inisiasi Menyusui Dini (IMD) baru mencapai 30%. Ditinjau dari gaya hidup sehat di
masyarakat, perokok usia belia 5-9 tahun meningkat secara signifikan dari 0.4% tahun 2001
menjadi 1,8% pada tahun 2004.

Perencanaan dan Intervensi :


Direncanakan untuk dilakukannya sosialisasi PHBS rumah tangga di masyarakat Desa Watu-
watu pada 06 Januari 2021 pukul 08.30 WITA – selesai, dirangkaikan dengan kegiatan BIAS.
Pesertanya adalah masyarakat di wilayah desa Watu-watu.

Pelaksanaan :
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi PHBS Rumah Tangga dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Rabu, 06 Januari 2021
Pemateri : dr. Nur Rahma Musdalifa
Waktu : 08.30 WITA – selesai
Sasaran : Masyarakat di desa Watu-watu yang mengikuti hadir kegiatan BIAS
Monitoring dan Evaluasi
Peserta yang hadir kurang lebih 22 orang dari warga desa Watu-watu. Penyuluhan berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Namun tingkat pengetahuan peserta masih kurang mengenai
materi penyuluhan sebelum diadakannya penyuluhan. Hampir sebagian besar warga yang
hadir kurang mengetahui materi penyuluhan yang akan disampaikan. Namun setelah
penyuluhan, warga cukup antusias untuk berdiskusi terkait materi penyuluhan.
3. Sosialisasi PHBS Rumah Tangga di Posyandu Melati
Peserta : Seluruh kader posyandu/masyarakat
Waktu : 30 November 2020
Latar belakang :
Perilaku adalah suatu tindakan atau perbuatan yang bisa kita amati bahkan dapat dipelajari.
Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang terhadap rangsangan terhadap suatu
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Mubarak, 2007). Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulanperilaku yang dilakukan atas kesadaran
seseorang sehingga anggota keluarga atau keluarga tersebut dapat menolong dirinya sendiri
dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
Program-program yang terdapat dalam program PHBS tidak membuat perbedaan indikator
penilaian untuk wilayah atau kawasan tertentu, seperti wilayah pantai, wilayah desa atau
wilayah kota. Oleh sebab itu,dalam pelaksanaan program PHBS di seluruh kawasan
Indonesia juga menggunakan 10 indikator PHBS yang harus dipraktikkan dirumah tangga
karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan keseluruhan perilaku hidup bersih dan
sehat. Indikator PHBS tersebut terdiri dari pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,bayi
diberi ASI ekslusif,menimbang balita setiap bulan, ketersediaan air bersih, ketersediaan
jamban sehat, memberantas jentik nyamuk,mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, tidak
merokok dalam rumah, melakukan aktifitas fisik setiap hari serta makan buah dan sayur.

Permasalahan :
Cakupan indikator PHBS di Indonesia bervariasi setiap indikatornya. Hasil Survey Kesehatan
Nasional (2004), pencapaian rumah tangga sehat berkisar 24,38%, masih jauh dari target
minimal yaitu 65% pada tahun 2010. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan masih
sebesar 64% sedangkan target nasional adalah 90%. Jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat (JPKM) sangat rendah yaitu sebesar 19%, sedangkan target nasional sebesar
80%. Jenis sumber air sehat yang paling banyak digunakan adalah air sumur terlindung
(35%), rumah tangga yang menggunakan dan memiliki jamban hanya sebesar 27%
sedangkan target yang harus dicapai tahun 2010 adalah 85%. ASI eksklusif yang dikenal
dengan inisiasi Menyusui Dini (IMD) baru mencapai 30%. Ditinjau dari gaya hidup sehat di
masyarakat, perokok usia belia 5-9 tahun meningkat secara signifikan dari 0.4% tahun 2001
menjadi 1,8% pada tahun 2004.

Perencanaan dan Intervensi :


Direncanakan untuk dilakukannya sosialisasi PHBS rumah tangga di Posyandu Melati desa
Rarongkeu pada 30 November 2020 pukul 08.30 WITA - selesai. Pesertanya adalah kader-
kader posyandu dan masyarakat sekitar.

Pelaksanaan :
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi PHBS Rumah Tangga dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Senin, 30 November 2020
Tempat : Posyandu Melati desa Rarongkeu
Pemateri : dr. Nur Rahma Musdalifa
Waktu : 08.30 WITA – selesai
Sasaran : Kader posyandu dan masyarakat yang hadir

Monitoring dan Evaluasi


Peserta yang hadir kurang lebih 15 orang dari warga yang hadir posyandu Melati desa
Rarongkeu. Penyuluhan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun tingkat pengetahuan
peserta masih kurang mengenai materi penyuluhan sebelum diadakannya penyuluhan.
Hampir sebagian besar warga yang hadir kurang mengetahui materi penyuluhan yang akan
disampaikan. Namun setelah penyuluhan, warga cukup antusias untuk berdiskusi terkait
materi penyuluhan.
4. Sosialisasi PHBS Rumah Tangga di Posyandu Lansia Asoka
Peserta : Seluruh kader posyandu/masyarakat
Waktu : 2 Desember 2020
Latar belakang :
Perilaku adalah suatu tindakan atau perbuatan yang bisa kita amati bahkan dapat dipelajari.
Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang terhadap rangsangan terhadap suatu
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Mubarak, 2007). Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulanperilaku yang dilakukan atas kesadaran
seseorang sehingga anggota keluarga atau keluarga tersebut dapat menolong dirinya sendiri
dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
Program-program yang terdapat dalam program PHBS tidak membuat perbedaan indikator
penilaian untuk wilayah atau kawasan tertentu, seperti wilayah pantai, wilayah desa atau
wilayah kota. Oleh sebab itu,dalam pelaksanaan program PHBS di seluruh kawasan
Indonesia juga menggunakan 10 indikator PHBS yang harus dipraktikkan dirumah tangga
karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan keseluruhan perilaku hidup bersih dan
sehat. Indikator PHBS tersebut terdiri dari pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,bayi
diberi ASI ekslusif,menimbang balita setiap bulan, ketersediaan air bersih, ketersediaan
jamban sehat, memberantas jentik nyamuk,mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, tidak
merokok dalam rumah, melakukan aktifitas fisik setiap hari serta makan buah dan sayur.

Permasalahan :
Cakupan indikator PHBS di Indonesia bervariasi setiap indikatornya. Hasil Survey Kesehatan
Nasional (2004), pencapaian rumah tangga sehat berkisar 24,38%, masih jauh dari target
minimal yaitu 65% pada tahun 2010. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan masih
sebesar 64% sedangkan target nasional adalah 90%. Jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat (JPKM) sangat rendah yaitu sebesar 19%, sedangkan target nasional sebesar
80%. Jenis sumber air sehat yang paling banyak digunakan adalah air sumur terlindung
(35%), rumah tangga yang menggunakan dan memiliki jamban hanya sebesar 27%
sedangkan target yang harus dicapai tahun 2010 adalah 85%. ASI eksklusif yang dikenal
dengan inisiasi Menyusui Dini (IMD) baru mencapai 30%. Ditinjau dari gaya hidup sehat di
masyarakat, perokok usia belia 5-9 tahun meningkat secara signifikan dari 0.4% tahun 2001
menjadi 1,8% pada tahun 2004.

Perencanaan dan Intervensi :


Direncanakan untuk dilakukannya sosialisasi PHBS rumah tangga di Posyandu Lansia Asoka
pada 2 Desember 2020 pukul 08.30 WITA - selesai. Pesertanya adalah kader-kader posyandu
dan masyarakat sekitar.

Pelaksanaan :
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi PHBS Rumah Tangga dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Rabu, 2 Desember 2020
Tempat : Posyandu Lansia Asoka
Pemateri : dr. Nur Rahma Musdalifa
Waktu : 08.30 WITA – selesai
Sasaran : Kader posyandu dan masyarakat yang hadir

Monitoring dan Evaluasi


Peserta yang hadir kurang lebih 14 orang dari masyarakat yang hadir di posyandu lansia.
Penyuluhan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun tingkat pengetahuan peserta
masih kurang mengenai materi penyuluhan sebelum diadakannya penyuluhan. Hampir
sebagian besar warga yang hadir kurang mengetahui materi penyuluhan yang akan
disampaikan. Namun setelah penyuluhan, warga cukup antusias untuk berdiskusi terkait
materi penyuluhan.
5. Edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Desa Rarongkeu
Peserta : Masyarakat di desa Rarongkeu
Waktu : 4 Februari 2021
Latar belakang :
Penyakit DBD saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di
Indonesia dikarenakan angka kejadiannya yang masih tinggi dan masih menimbulkan
kematian di beberapa wilayah. Pertama kali penyakit DBD ini masuk ke Indonesia pada
tahun 1968 di Surabaya, kini kasus DBD sudah menyebar luas hampir ke seluruh provinsi di
Indonesia. WHO menyatakan bahwa negara Indonesia merupakan negara yang memiliki
angka kejadian penyakit DBD tertinggi di Asia Tenggara.
Sampai saat ini vaksin untuk pencegahan maupun obat untuk penyembuhan masih dalam
tahap penelitian. Oleh karena itu cara yang dinilai paling efektif adalah melalui pengendalian
vektor yang menularkan penyakit DBD tersebut. Terdapat berbagai metode dalam
mengendalikan vektor nyamuk DBD. Salah satunya adalah dengan melakukan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan di rumah-rumah warga dan tempat
umum melalui gerakan 3M plus. PSN ini merupakan metode yang dinilai paling efektif dan
efisisien karena pada dasarnya metode ini berguna untuk memberantas jentik nyamuk dan
mencegah agar nyamuk tersebut berkembang biak, sehingga berpengaruh besar terhadap
penurunan populasi vektor yang akhirnya dapat menurunkan risiko penularan penyakit.
Pengetahuan merupakan aspek penting dalam membentuk partisipasi masyarakat melakukan
kegiatan PSN. Oleh karena itu, pemberian penyuluhan secara berkesinambungan dan
pemeriksaan jentik secara berkala dapat menjadi penggerak masyarakat agar aktif
melaksanakan kegiatan PSN, karena dengan kegiatan tersebut, diharapkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat dapat meningkat sehingga mau dan mampu melakukan kegiatan PSN
dengan benar.

Permasalahan :
Di awal tahun 2020 ini Penyakit DBD mengalami peningkatan yang signifikan di beberapa
wilayah di Bombana. Masih rendahnya upaya warga dalam melakukan pemberantasan
nyamuk (PSN) dengan 3M dan tingginya curah hujan sehingga menggenangi barang-barang
bekas di luar rumah warga menambah tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab
demam berdarah.

Perencanaan dan Intervensi :


Berdasarkan permasalahan tersebut langkah yang dilakukan adalah melakukan edukasi PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk). Edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
cara 3M Plus, yaitu :
1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat
penampungan air seperti: bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum,
penampung air lemari es dan lain-lain
2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air  seperti:
drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan
3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi
untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.  
Kemudian yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan lainnya
seperti:
 Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan,
misalnya water toren, gentong/tempayan penampung air hujan, dll.
 Menggunakan kelambu saat tidur,
 Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk
 Menanam tanaman pengusir nyamuk,
 Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi
tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain. 
 Menggunakan anti nyamuk semprot maupun oles bila diperlukan.

Pelaksaanaan :
Pelaksanaan kegiatan Edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk di Desa Rarongkeu
dilaksanakan pada :
Hari, Tanggal : Kamis, 4 Februari 2021
Waktu : Pukul 08.30 WITA - selesai
dokter : dr. Nur Rahma Musdalifa
Tempat : Desa Rarongkeu

Monitoring dan Evaluasi


PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) secara rutin yang dilakukan oleh masyarakat berupa
gerakan 3M Plus yaitu Menguras, Menutup, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang, dan
plusnya adalah pencegahan dari gigitan nyamuk. Pemberantasan Sarang Nyamuk secara rutin
diharapkan dapat mengurangi tempat – tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti
sehingga dapat mencegah terjadinya penularan kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas
Lombakasih.