Anda di halaman 1dari 61

PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP FUNGSI KOGNITIF PASIEN

LANJUT USIA YANG BERKUNJUNG DI POLI LANSIA PUSKESMAS

LOMBAKASIH

Mini Project

Sebagai salah satu syarat menyelesaikan

Program Internship Dokter Indonesia

Disusun Oleh :

dr. Nur Rahma Musdalifa

Dokter Pembimbing :

dr. Anwar Satari

PUSKESMAS LOMBAKASIH KABUPATEN BOMBANA

PROVINSI SULAWESI TENGGARA

PERIODE

NOVEMBER 2020 – FEBRUARI 2021


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di seluruh dunia jumlah lanjut usia (lansia) diperkirakan mencapai angka

500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025

akan mencapai 1,2 milyar (Stanley,2007). Pertambahan jumlah lansia di

Indonesia dalam kurun waktu tahun 1990 sampai 2025, tergolong tercepat

didunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk

lansia pada tahun 2000 berjumlah 14,4 juta jiwa (7,18%). Pada tahun 2010

diperkirakan menjadi 23,9 juta jiwa (9,77%) dan pada tahun 2020 akan

berjumlah 28,8 juta jiwa (11,34%) (BPS, 2010).

Karakter pasien lansia adalah multipatologi, menurunnya daya cadangan

biologis, berubahnya gejala dan tanda dari penyakit klasik, terganggunya

status fungsional pasien lansia, dan sering terdapat gangguan nutrisi, gizi

kurang atau buruk (Soejono,2006). Salah satu bentuk terganggunya status

fungsional yang paling menonjol dari pasien pralansia dan lansia adalah

penurunan fungsi kognitif. Kognitif adalah suatu konsep yang komplek yang

melibatkan sekurang-kurangnya aspek memori, perhatian, fungsi eksekutif,

persepsi, bahasa, dan fungsi motorik (Nehlig, 2010). Penurunan fungsi

kognitif dapat meliputi berbagai aspek yaitu orientasi, registrasi, atensi dan

kalkulasi, memori, bahasa. Penurunan ini dapat mengakibatkan masalah

antara lain memori panjang dan informasi, dalam memori panjang mereka

1
akan kesulitan dalam mengungkapkan kembali cerita atau kejadian yang tidak

begitu menarik perhatiannya dan informasi baru atau informasi tentang orang.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat penurunan fungsi

kognitif lansia diperkirakan 121 juta manusia, dari jumlah itu 5,8 % laki-laki

dan 9,5 % perempuan (Djojosugito, 2002). Perhatian dan pengetahuan

masyarakat terhadap gangguan kognitif saat ini masih sangat kurang.

Masyarakat cenderung menganggap hal tersebut sebagai bagian dari proses

menua yang wajar. Pada umumnya masyarakat baru akan mencari

pengobatan setelah terjadi gangguan kognitif yang berat dan gangguan

perilaku atau demensia, sehingga penatalaksanaanya tidak akan memberikan

hasil yang memuaskan. Penatalaksanaan gangguan kognitif pada stadium dini

baik secara farmakologis maupun non farmakologis dapat menyembuhkan

atau memperlambat progresifitas penyakitnya, sehingga individu yang

bersangkutan tetap mempunyai kualitas hidup yang baik. Penilaian fungsi

kognitif dengan pemeriksaan neuropsikologi seperti Mini Mental State

Examination (MMSE) merupakan salah satu cara penapisan adanya gangguan

kognitif secara dini.

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mempengaruhi

penurunan fungsi kognitif pada lansia. Peningkatan tekanan darah kronis

dapat meningkatkan efek penuaan pada struktur otak, meliputi reduksi

substansia putih dan abu-abu di lobus prefrontal, penurunan hipokampus,

meningkatkan hiperintensitas substansia putih di lobus frontalis. Berdasarkan

data WHO, Indonesia merupakan negara yang prevalensi hipertensinya lebih

2
besar jika dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Bangladesh, Korea,

Nepal dan Thailand (WHO South East Asia Region,2011). Prevalensi

hipertensi pada pralansia dan lansia di Indonesia lebih besar dibandingkan

kelompok umur lain. Data Survey Kesehatan Rumah Tangga (2004),

prevalensi hipertensi pada kelompok umur 45-54 tahun 22,5% pada

kelompok umur 55- 64 tahun 27,9% dan pada kelompok umur 65 tahun

keatas ada 29,3% yang menderita hipertensi. Berdasarkan data Puskesmas

Lombakasih, tahun 2019 hipertensi merupakan urutan ke 1 dari 10 penyakit

terbanyak yang melakukan kunjungan ke poli lansia Puskesmas Lombakasih.

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh hipertensi

terhadap penurunan fungsi kognitif pada pasien lanjut usia yang berkunjung

ke poli lansia Puskesmas Lombakasih.

B. Rumusan Masalah

Adakah pengaruh hipertensi terhadap penurunan fungsi kognitif pada

pasien lanjut usia yang berkunjung ke poli lansia Puskesmas Lombakasih?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Membuktikan terdapat pengaruh hipertensi terhadap penurunan fungsi

kognitif pada pasien lanjut usia yang berkunjung ke poli lansia Puskesmas

Lombakasih.

3
2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis pengaruh hipertensi terhadap penurunan fungsi kognitif

pada pasien lanjut usia usia lebih dari atau sama dengan 60 tahun yang

berkunjung ke poli lansia Puskesmas Lombakasih.

D. Manfaat

1. Manfaat bagi Penulis

a. Berperan serta dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

pasien hipertensi

b. Mengetahui pengaruh hipertensi terhadap penurunan fungsi kognitif

pada pasien lanjut usia

c. Melaksanakan mini project dalam rangka Program Internsip Dokter

Indonesia

2. Manfaat bagi Puskesmas

Dapat memberikan masukan informasi untuk Puskesmas Lombakasih

dalam skrining dini penurunan fungsi kognitif pasien lanjut usia yang

menderita hipertensi sehingga bisa ditindak lanjuti.

3. Manfaat bagi Masyarakat

a. Masyarakat terfasilitasi dalam program deteksi dan intervensi dini

hipertensi dan penurunan fungsi kognitif.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi

1. Definisi

Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan

darah di dalam arteri. Istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh

nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah di

bedakan antara tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Hipertensi

dapat di definisikan sebagai tekanan darah persisten di mana tekanan

sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg, pada

populasi manula hipertensi di defenisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg

dan tekanan diastolik 90 mmHg.

Hipertensi menurut Manjoer dkk (2001) hipertensi adalah tekanan

sistolik ≤ 140 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 90 mmHg atau bila pasien

memakai obat anti hipertensi. Hipertensi (HTN) adalah peningkatan tekanan

darah arteial abnormal yang langsung terus-menerus (Aplikasi Klinis

Patofisiologi edisi 2:1). Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah pada

waktu jantung menguncup (sistole). Adapun tekanan darah diastolik adalah

tekanan darah pada saat jantung mengendor kembali (diastole). Dengan

demikian, jelaslah bahwa tekanan darah sistolik selalu lebih tinggi dari pada

tekanan darah diastolik. tekanan darah manusia selalu berayun-ayun antara

tinggi dan rendah sesuai dengan detak jantung.

5
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, di mana

tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya

resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan

kerusakan ginjal.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan di dapat dua angka. Angka yang

lebih tinggi di peroleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang

lebih rendah akan di peroleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).

Tekanan darah di tulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan

diastolik,misalnya 120/80 mmHg, di baca seratus dua puluh per delapan

puluh.

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg

atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan

diastolik dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada lansia.

Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami

kenaikan tekanan darah, tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80

tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun,

kemudian berkurang secara perlahan bahkan menurun drastis.

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak

diobati akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini

jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi. Tekanan darah

dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak

secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada orang

dewasa. Tekanan darah juga diperngaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan

6
lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika

beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di

waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.

2. Klasifikasi

Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee

on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood

Pressure (JNC7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi

menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2

seperti yang terlihat pada tabel 1 dibawah.

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan

Sistolik Darah
Normal < <
Prahipertensi 120- 80
12 8
Hipertensi derajat 1 140- 90
139 -
Hipertensi derajat 2 > >
159 -
16 10
The Joint National Community on Preventation, Detection

evaluation and treatment of High Blood Preassure dari Amerika Serikat

dan badan dunia WHO dengan International Society of Hipertention

membuat definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang

tekanan sistoliknya 140 mmHg atau lebih atau tekanan diastoliknya 90

mmHg atau lebih atau sedang memakai obat anti hipertensi. Pada

anak-anak, definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah lebih dari 95

persentil dilihat dari umur, jenis kelamin, dan tinggi badan yang diukur

7
sekurang-kurangnya tiga kali pada pengukuran yang terpisah.

Lebih dari 90% penderita hipertensi belum diketahui penyebabnya

dengan pasti, sehingga disebut sebagai hipertensi primer. Data-data

penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan

hipertensi. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor keturunan, ciri

perseorangan dan kebiasaan hidup.

a. Faktor Keturunan

Dari data statistik terbukti seseorang akan memiliki kemungkinan lebih

besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita

hipertensi.

b. Ciri Perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur

dan jenis kelamin. Umur yang bertambah akan menyebabkan terjadinya

kenaikan tekanan darah. Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi

dibandingkan wanita. Statistik di Amerika menunjukkan prevalensi

hipertensi pada orang kulit hitam hampir dua kali lebih banyak

dibandingkan dengan orang kulit putih.

c. Kebiasaan Hidup

Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah

konsumsi garam yang tinggi, kegemukan (makan berlebihan), stres dan

pengaruh lain.

1) Konsumsi garam yang tinggi

8
Dari data statistik ternyata dapat diketahui bahwa hipertensi jarang diderita

oleh suku bangsa atau penduduk dengan konsumsi garam yang rendah.

Dunia kedokteran juga telah membuktikan bahwa pembatasan konsumsi

garam dapat menurunkan tekanan darah dan pengeluaran garam (natrium)

oleh obat diuretik (pelancar kencing) akan menurunkan tekanan darah.

2) Kegemukan atau makan berlebihan

Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih

dari berat badan ideal, perhitungan IMT ≥ 27,0. Pada orang yang menderita

obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat sehinga

lebih cepat merasa gerah dan kelelahan. Akibat obesitas para penderita

cenderung menderita penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan diabetes

mellitus.

3) Stres atau ketegangan jiwa

Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktifitas

saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara

intermiten (tidak menentu) stress yang berkepanjangan dapat

mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi.

Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah,

dendam rasa takut) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan

hormone adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih

kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat, jika stress berlangsung cukup

lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul

9
kelainan organis atau perubahan patologis, gejala yang muncul dapat berupa

hipertensi atau penyakit maag. (Anjali, Arora, 2008).

4) Pengaruh lain

Pengaruh lain yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah

yaitu :

 Merokok

Nikotin penyebab ketagihan merokok akan merangsang jantung, saraf, otak

dan bagian tubuh lainnya bekerja tidak normal. Nikotin juga merangsang

pelepasan adrenalin sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut nadi dan

tekanan kontraksi otot jantung selain itu meningkatkan kebutuhan oksigen

jantung dan dapat menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia) serta

berbagai kerusakan lainnya.

 Minuman beralkohol

 Olahraga

Olahraga yang bersifat kompetensi dan meningkatkan kekuatan dapat

memacu emosi sehingga dapat mempercepat peningkatan tekanan darah

seperti tinju, panjat tebing dan angkat besi. (Kuswandi, 2004).

Bentuk latihan yang paling tepat untuk penderita hipertensi adalah jalan

kaki, bersepeda, senam, berenang dan aerobic, olahraga yang bersifat

kompetisi dan meningkatkan kekuatan tidak dibolehkan bagi penderita

hipertensi karena akan memacu emosi sehingga akan mempercepat

peningkatan tekanan darah.

 Minum obat-obatan, misal ephedrin, prednison, epinefrin.

10
3. Patofisiologi

ACE (Angiotensin Converting Enzyme), memegang peran fisiologi

penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen

yang diproduksi di hati selanjutnya oleh hormone, rennin akan diubah

menjadi angiotensin 1, oleh ACE yang terdapat di paru-paru angiotensin 1

diubah menjadi angiotensin II (peranan kunci dalam menaikkan tekanan

darah melalui dua aksi utama.

a. Meningkatkan sekresi hormone antidiuretik (ADH) dan rasa haus, ADH

diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitasi) dan bekerja pada ginjal

untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH

sangat sedikit urin yang dieksresikan keluar tubuh sehingga menjadi pekat

dan tinggi osmolalitasnya untuk mengencerkanya volume cairan

ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan di bagian intra

seluler akibatnya volume darah meningkat yang pada akhirnya akan

meningkatkan tekanan darah.

b. Menstimulasi sekrsi aldosteron dari korteks adrenal, aldosteron merupakan

hormone steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal untuk

mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi eksresi

NaCl dengan cara mengabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya

kosentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan

volume cairan ekstra seluler yang pada giliranya akan meningkatkan

volume dan tekanan darah.

11
4. Gejala Penyakit Hipertensi

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,

meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan

dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya

tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung,

pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada

penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang

normal.

Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang

lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sering kali hipertensi

disebut sebagai silent killer karena dua hal yaitu:

a. Hipertensi sulit disadari seseorang karena hipertensi tidak memiliki

gejala khusus, gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan dan sakit

kepala biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi,

hipertensi dapat diketahui dengan mengukur secara teratur.

b. Hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai risiko

besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke,

serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal.

Jika timbul hipertensinya berat atau menahun dan tidak terobati, bisa

timbul gejala berikut:

1. Sakit kepala

2. Kelelahan

3. Jantung berdebar-debar

12
4. Mual

5. Muntah

6. Sesak nafas

7. Gelisah

8. Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada

otak, mata, jantung dan ginjal.

9. Telinga berdenging

10. Sering buang air kecil terutama di malam hari.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan

bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut

ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. (Trisha

Macnair, 2007).

5. Diagnosis

Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakan dalam satu kali pengukuran

hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada

kunjungan yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejala-

gejala klinis pengukuran tekanan darah dilakukan dalam keadaan pasien

duduk bersandar setelah beristirahat selama 5 menit dengan ukurang

pengukuran lengan yang sesuai (menutupi 80% lengan) tensimeter dengan air

raksa masih tetap dianggap alat pengukuran yang terbaik.

Anamnesis dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya,

riwayat dan gejala penyakit, penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung

koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler. Apakah terdapat riwayat

13
penyakit dalam keluarga, gejala-gejala yang berkaitan dengan penyebab

hipertensi, perubahan aktifitas/kebiasaan (merokok), konsumsi makanan,

riwayat obat-obat bebas, hasil dan efek samping terapi antihipertensi

sebelumnya bila ada dan faktor psikososial lingkungan (keluarga, pekerjaan

dll).

Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali

atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan

kontralateral dikaji perbandingan berat badan dan tinggi pasien, kemudian

dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retio

hipertensif, pemeriksaan leher untuk mencari bising carotid, pembesaran

vena, atau kelenjar tiroid.

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai tropi

bertujuan menentukan adanya kerusakan jaringan dan faktor risiko lain atau

mencari penyebab hipertensi, biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer

lengkap, kimia darah, (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa,

kolesterol total, kolesterol HDL, dan EKG.

6. Penatalaksanaan

Bagi penderita tekanan darah tinggi penting mengenal hipertensi dengan

membuat gaya hidup positif. Jika anda baru saja menemukan tekanan darah

anda tinggi atau tidak normal, tidak perlu khawatir ada 7 langkah untuk

mengatasinya antara lain:

a. Mengatasi Risiko

14
Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan berikut: apakah anda memiliki

sejarah keluarga penderita hipertensi? Apakah anda memiliki berat badan

berlebihan? Apakah anda makan makanan berkadar garam tinggi? Apakah

anda cukup olahraga atau apakah anda merokok? Jika jawaban anda ya pada

salah satu pertanyaan diatas anda berisiko memiliki tekanan darah tinggi.

b. Mengontrol pola makan

Apabila anda ingin terhindar dari risiko hipertensi jauhi makanan

berlemak dan mengandung garam.

c. Tingkat konsumsi potassium (K) dan magnesium (mg)

Pola makan yang rendah potassium dan magnesium menjadi salah

satu faktor pemicu tekanan darah tinggi, buah-buahan dan sayur segar

adalah sumber terbaik bagi kedua nutrisi tersebut.

d. Makan makanan jenis padi-padian

Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam American Journal

Clinical Nutrition ditemukan pria yang makan sedikitnya satu porsi perhari

sereal dari jenis padi-padian kecil kemungkinan terkena penyakit hingga

20%.

e. Tingkat aktifitas

Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan lebih rentan terhadap

tekanan darah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya

menjaga bentuk tubuh dan berat badan, tetapi juga dapat menurunkan

tekanan darah. Jika anda menyandang tekanan darah tinggi, latihan aerobic

sedang selama 30 menit sehari selama beberapa hari setiap minggu dapat

15
menurunkan tekanan darah. Jenis latihan yang dapat mengontrol tekanan

darah adalah : berjalan kaki, bersepeda, berenang, aerobic. (Trisna Macnair,

2007).

Tidak diragukan meningkatkan aktifitas dapat menurunkan risiko

tekanan darah tinggi, anda tidak perlu berolahraga seperti seorang atlet

hanya 30 menit sampai 45 menit 5 hari dalam seminggu cukup untuk

menurunkan hipertensi.

f. Sertakan bantuan dari kelompok pendukung

Sertakan keluarga dari teman menjadi kelompok pendukungn pada

pola hidup sehat dukungan dan partisipasi orang lain membuatnya lebih

mudah dan lebih asyik dalam menjalankan dietnya. Bagi setiap orang

dukungan keluarga berhasil dalam membuat perubahan gaya hidup untuk

mencegah tekanan darah tinggi.

g. Berhenti merokok

Jika anda tidak merokok itu baik bagi anda, jika anda merokok

berhenti sekarang juga. Walaupun merokok tidak ada kaitanya dengan

timbulnya hipertensi. Merokok dapat menimbulkan risiko komplikasi

lainnya seperti penyakit jantung dan stroke.

h. Latihan relaksasi atau meditasi

Relaksasi berguna untuk mengurangi stress atau ketegangan jiwa,

relaksasi dilaksanakan dengan mengencangkan dan mengendorkan otot

tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai, indah dan menyenangkan

dilakukan dengan mendengarkan musik atau bernyanyi.

16
Pengobatan pada penyakit tekanan darah tinggi harus memperhatikan

terlebih dahulu faktor penyebabnya oleh karena itu dianjurkan untuk

memeriksakan kesehatanya kepada dokter yang sama agar dokter dapat

mengikuti riwayat penyakit pasien dengan demikian dokter akan memiliki

obat yang tepat.

a. Pengobatan pada golongan khusus

1) Hipertensi pada golongan khusus

Obat anti hipertensi diberikan pada ibu hamil bila tekanan diastolenya ≥ 90

mmHg pada trimester pertama dan ≥ 100 mmHg para trimester ketiga.

2) Hipertensi pada dislipidemia

Obat yang biasa digunakan untuk mengatasi keadaan tersebut adalah

gemfibrozil ini dapat menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL

trigliserida dan meningkatkan kadar kolesterol HDL secara nyata.

3) Hipertensi pada pembuluh darah otak

Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh

darah, apabila yang pecah adalah pembuluh darah otak keadaan ini dikenal

dengan stroke.

4) Hipertensi pada penyakit jantung

Pemberian obat pada hipertensi dengan kelalian jantung harus disesuaikan

dengan jenis gangguan pada jantung dan derajat hipertensinya.

Pemeriksaan fungsi jantung perlu dilakukan untuk menentukan

pengobatanya.

17
5) Hipertensi pada gagal ginjal

Pengobatan pada gagal ginjal dibedakan menjadi dua bagian besar yakni

pengobatan pada refrosklerosis benigna dan nefrosklerosis maligna,

pengobatan pada nefrosisklerosis benigna dilakukan secepatnya hingga

mendekati normal penurunan tekanan darah yang cepat akan mengurangi

kerusakan akibat nekrosis arteroti sehingga dalam jangka panjang

diharapkan terjadi perbaikan fungsi ginjal.

Perubahan gaya hidup

Gaya hidup yang baik untuk menghindari terjangkitnya penyakit

hipertensi dan berbagai penyakit degeneratif lainnya adalah:

1) Mengurangi konsumsi garam dan lemak jenuh

2) Melakukan olahraga secara teratur dan dinamik (tidak mengeluarkan

tenaga terlalu banyak seperti berenang, jogging (jalan kaki cepat), naik

sepeda)

3) Meningkatkan porsi buah-buahan dan sayuran segar dalam pola makan

4) Mengkonsumsi kalium dalam jumlah tinggi seperti semangka, avokad,

kismis, pisang, tomat, kentang dan biji bunga matahari dapat membantu

menjaga tekanan darah agar tetap normal.

5) Menjauhkan dan menghindarkan stress dengan pendalaman agama sebagai

salah satu upayanya.

Pengaturan Makanan

Upaya penanggulangan hipertensi melalui pengaturan makanan pada

dasarnya dnegan mengurangi konsumsi lemak dan diet rendah garam dan

18
diet rendah kalori. Jumlah kalori yang diberikan pada diet rendah kalori

disesuaikan dengan berat badan.

Pilihan obat dalam mengatasi hipertensi diantaranya:

1) Hipertensi tanpa komplikasi diuretic, beta bloken

2) Indikasi tertentu enhibitor ACE, penghmabat reseptor angiotensin II, Alfa

bloker, alfa-beta bloker, antagonisca, diuretic.

3) Indikasi yang disesuaikan: diabetes mellitus tipe I dengan protein nuria

inhibitor ACE, gagal jantung ibhibitor ACE diuretic, hipertensi sistolik

terisolasi, infark miokard beta bloker (non ISA) inihibitor ACE (dengan

disfungsi sistolik).

Bila tekanan darah tidak dapat diturunkan dalam satu bulan, dosis obat

dapat disesuaikan sampai dosis maksimal atau menambahkan obat golongan

lain atau mengganti obat pertama dengan obat golongan lain. Sasaran

penurunan tekanan darah adalah kurang dari 140/90 dengan efek samping

minimal penurunan dosis obat dapat dilakukan pada golongan hipertensi

ringan yang sudah terkontrol dengan baik selama satu tahun.

1. Diuretik

Diuretic adalah obat yang memperbanyak kencing, mempertinggi

pengeluaran garam (NaCl) dengan turunya kadar Na+ makan tekanan darah

akan turun dan efek hipotensifnya kurang kuat. Obat yang sering digunakan

adalah obat yang daya kerjanya panjang sehingga dapat digunakan dosis

tunggal, diutamakan diuretic yang hemat kalium seperti spironolacton,

HCT, Furosemide.

19
2. Alfa-Bloker

Alfa blocker adalah obat yang dapat memblokir reseptor alfa dan

menyebabkan vasodilatasi perifer serta turunya tekanan darah karena efek

hipotensinya ringan sedangkan efek sampingnya agak kuat misalnya

hipotensi ostotatik dan tachikardia maka jarang digunakan. Seperti

prognosin dan terazosin.

3. Beta-Blocker

Mekanisme kerja obat beta-blocker belum diketahui dengan pasti

diduga kerjanya berdasarkan beta blocker pada jantung sehingga

mengurangi daya dan frekuensi kontrasi jantung. Dengan demikian tekanan

darah akan menurun dan daya hipotensinya baik. Seperti : propanolol,

bisoprolol, dan antenolol.

4. Obat yang bekerja sentral

Obat yang bekerja sentral dapat mengurangi pelepasan non adrenalin

sehingga menurunkan aktifitas saraf adrenergik perifer dan turunya tekanan

darah, penggunaan obat ini perlu memperhatikan efek hipotensi ostatik

seperti reserpine, clonidine dan metildopa

5. Vasodilator

Obat vasodilator dapat langsung mengembangkan dinding arteriola

sehingga daya tahan pembuluh perifer berkurang dan tekanan darah

menurun seperti hidralazine dan tecrazine.

6. Antagonis Kalsium

20
Mekanisme obat antagonis kalisum adalah menghambat pemasukan

ion kalsium ke dalam sel otot polos pembuluh dengan efek vasidilatasi dari

turunya tekanan darah seperti : nipedipin,amlodipine, dan verapamil.

7. Penghambat ACE

Obat penghambat ACE ini menurunkan tekanan darah dengan cara

menghambat angiotensin converting enzyme yang berdaya vasodilatori kuat

seperti captopril, lisinopril.

Tabel 2. Beberapa obat antihipertensi yang sering dipakai

Dosis sehari (mg) Frekuensi

No Jenis obat pemakaian


Min Maks
sehari
1 Diuretik

HCT 12,5-25 50 1x

Chlorbalidone 12,5-25 50 1x

Indopamide 2,5 5 1x

Spironolactone 2,5 10 1x
2 Bekerja netral

Clonidene 0,1 1,2 2x

Gufacine 1 3 1x

Methidopa 250 2000 2x


3 Penyekat alfa-1

Prozoin 1-2 20 2x

Doxazosin 1-2 15 1x

Terazosin 1-2 20 1x
4 Penyekat beta

21
Metoprolol 50 200 1x

Atenolol 25 150 1x

Propanolol 40 320 1x

Acebutolol 200 1200 1x


5 Vasodilator

Hydralazine 50 300 2x

Ecarazine HCL 30 120 2x


6 Penghambat ACE

Captopril 25-50 300 1-3x

Lisinopril 5 40 1x

Enalapril 2,5-5 40 1-2x

Tabel 3. Efek Samping obat anti hipertensi

Golongan obat Efek samping


Thiazide/diuretic menyerupai - Kadar kalium dalam darah rendah

thiaziae misalnya aprinox (dideteksi dengan pemeriksaan

darah)

- Toleransi glukosa terganggu (kadar

glukosa darah diatas normal)

terutama jika dikombinasi dengan

beta blocker (dideteksi pemeriksaan

darah)

- Peningkatan kadar kolesterol LDL,

trigliserida dan asam urat (cek darah

dan urine).

22
- Disfungsi ereksi (impotensi pada

pria)

- Gout (radang pada persendian akibat

peningkatan kadar gula)


Alfa blocker - Inkontinensia

(misalnya cardura) - Rasa melayang pada saat berdiri


Beta-blocker - Kadar glukosa tidak terkontrol

(misalnya cardicor) - Latargi (lesu)

- Gangguan memori dan kosentrasi

- Gejala penyakit arteri perifer

memburuk, sirkulasi yang buruk

pada tungkai.
Inhibitor ACE - Batuk

(misalnya capoten) - Fungsi ginjal memburuk

- Hipotensi (akut, penurunan tekanan

darah tiba-tiba)

- Ruam
Blocker kenal kalsium golongan - Edema perifer (akumulasi cairan dan

non-dihydropyridine misalnya pembengkakan di mata kaki)

ticdiem - Pembesaran gusi dan konstipasi

7. Komplikasi

Pemakaian obat dalam jangka panjang bisa menyebabkan berbagai

komplikasi seperti terganggunya fungsi atau terjadi kerusakan organ otak,

ginjal, jantung dan mata. Kerusakan pada otak terjadi pembesaran otot

jantung bagian kiri yang berakhir pada kegagalan jantung. Kejadian ini

23
biasanya ditandai dengan bengkak pada kaki, kelopak mata, kelelahan dan

sesak nafas.

Kerusakan pada ginjal akibat hipertensi bisa menurunkan ginjal sebagai

penyaring racun dalam tubuh sekaligus sebagai produsen hormone yang

dibutuhkan tubuh, penderita yang mengalami komplikasi ginjal harus cuci

darah setiap minggu dengan biaya yang mahal sementara itu gangguan pada

mata sering tidak disadari sebagai akibat tekanan darah tinggi, kerusakan

pada mata buta menyebabkan kebutaan atau gangguan penglihatan.

Kerusakan pada otak ditandai dengan nyeri kepala hebat, berubahnya

kesadaran kejang dengan deficit neurology fokal ozotermia, mual dan

muntah. Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna, tekanan

yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan

mendorong cairan kedalam ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat.

B. Lansia dan Fungsi Kognitif pada Lansia

1. Definisi lansia

Definisi lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang

untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.

Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup

serta peningkatkan kepekaan secara individual.

24
Lansia adalah individu yang berusia di atas 60 tahun. Pada umumnya

memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi biologis, psikologis,

sosial dan ekonomi. PBB menyetujui bahwa usia 60 merupakan batasan

untuk populasi tua (WHO, 2013). Menurut Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang

dimaksud dengan usila adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun

ke atas (Kemenkes RI, 2014).

2. Konsep Menua

Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi

normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki

kerusakan yang diderita. Seiring dengan proses tersebut tubuh mengalami

masalah kesehatan yang biasa disebut penyakit degeneratif. (Maryam, 2008)

Terdapat dua jenis penuaan antara lain, penuaan primer, merupakan

proses kemunduran tubuh gradual tak terhindarkan yang dimulai pada masa

awal kehidupan dan terus berlangsung selama bertahun-tahun, terlepas dari

apa yang orang-orang lakukan untuk menundanya. Sedangkan penuaan

sekunder merupakan hasil penyakit, kesalahan dan penyalahgunaan faktor-

faktor yang sebenarnya dapat dihindari dan berada dalam kontrol seseorang.

(Papalia, 2008)

Banyak perubahan yang dikaitkan dengan proses menua merupakan

akibat dari kehilangan yang secara bertahap. Lansia mengalami perubahan-

perubahan fisik diantaranya perubahan sel, sistem persarafan, sistem

25
pendengaran, sistem penglihatan, sistem kardiovaskuler, sistem pengaturan

suhu tubuh, sistem respirasi, sistem gastrointestinal, sistem genitourinari,

sistem endokrin, sistem muskuloskeletal, disertai juga dengan perubahan-

perubahan mental menyangkut perubahan ingatan (memori). (Watson,2003)

3. Kognitif Pada Lansia

Kognitif merupakan suatu proses pikir yang membuat seseorang menjadi

waspada terhadap objek pikiran atau persepsi, mencakup semua aspek

pengamatan, pemikiran dan ingatan (Dorland, 2002). Kognitif adalah suatu

konsep yang kompleks yang melibatkan sekurang-kurangnya aspek memori,

perhatian, fungsi eksekutif, persepsi, bahasa, dan fungsi psikomotor (Nehlig,

2010).

Perubahan kognitif yang terjadi pada lansia, meliputi berkurangnya

kemampuan meningkatkan fungsi intelektual, berkurangnya efisiensi

transmisi saraf di otak (menyebabkan proses informasi melambat dan banyak

informasi hilang selama transmisi), berkurangnya kemampuan

mengakumulasi informasi baru dan mengambil informasi dari memori, serta

kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan

kemampuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

Fungsi kognitif seseorang meliputi berbagai fungsi berikut, antara lain:

a. Orientasi

Orientasi dinilai dengan pengacuan terhadap personal, tempat dan

waktu. Orientasi terhadap personal (Kemampuan menyebutkan namanya

sendiri ketika ditanya) menunjukkan informasi yang “overlearned”

26
Kegagalan dalam menyebutkan namanya sendiri sering mereflesikan

negatifism, distraksi, gangguan pendengaran atau penerimaan bahasa.

Orientasi tempat dinilai dengan menanyakan negara, provinsi, kota,

gedung, dan lokasi dalam gedung. Sedangkan orientasi waktu dinilai

dengan menanyakan tahun, musim, bulan, hari dan tanggal. Karena

perubahan waktu lebih sering daripada tempat, maka waktu dijadikan indeks

yang paling sensitif untuk disorientasi.

b. Bahasa

Fungsi bahasa merupakan kemampuan yang meliputi 4 parameter,

yaitu kelancaran, pemahaman, pengulangan dan penamaan.

1) Kelancaran

Kelancaran merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan kalimat

dengan panjang, ritme dan melodi yang normal. Suatu metode yang dapat

membantu menilai kelancaran pasien adalah dengan meminta pasien

menulis atau membaca spontan.

2) Pemahaman

Pemahaman merujuk pada kemampuan memahami sesuatu perkataan

atau perintah, dibuktikan dengan mampunya seseorang melakukan perintah

tersebut.

3) Pengulangan

Kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu pernyataan atau

kalimat yang diucapkan seseorang.

4) Penamaan

27
Penamaan merujuk pada kemampuan seseorang untuk menamai suatu

objek beserta bagian-bagiannya.

c. Atensi

Atensi merujuk pada kemampuan seseorang untuk merespon stimulus

spesifik dengan mengabaikan stimulus yang lain di luar lingkungannya.

1) Mengingat segera

Aspek ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengingat

sejumlah kecil informasi selama <30 detik dan mampu untuk

mengeluarkanya kembali.

2) Konsentrasi

Aspek ini merujuk pada sejauh mana kemampuan seseorang untuk

memusatkan perhatiannya pada satu hal. Fungsi ini dapat dinilai dengan

meminta seseorang tersebut untuk mengurangkan 7 secara berturut-turut

dimulai dari angka 100 atau dengan memintanya mengeja kata secara

terbalik.

d. Memori

Memori verbal yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali

informasi yang diperolehnya.

1) Memori baru

Kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi yang

diperolehnya pada beberapa menit atau hari yang lalu.

2) Memori lama

28
Kemampuan untk mengingat informasi yang diperolehnya pada

beberapa minggu atau bertahun-tahun yang lalu.

3) Memori visual

Kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi berupa

gambar.

e. Fungsi konstruksi, mengacu pada kemampuan seseorang untuk

membangun dengan sempurna. Fungsi ini dapat dinilai dengan

meminta orang tersebut untuk menyalin gambar, memanipulasi balok

atau membangun kembali suatu bangunan balok yang telah dirusak

sebelumnya.

f. Kalkulasi, yaitu kemampuan seseorang untuk menghitung angka.

g. Penalaran, yaitu kemampuan seseorang untuk membedakan baik

buruknya suatu hal, serta berpikir abstrak

4. Teori Mempertahankan Fungsi Kognitif

Peningkatan jumlah lansia harus diimbangi dengan kesiapan keluarga

dan tenaga kesehatan dalam memandirikan dan meminimalisir bantuan ADL

(Activity Daily Living) makan, minum, mandi, berpakaian dan menaruh

barang pada lansia, karena pada lansia terjadi penurunan atau perubahan

antara lain perubahan fisiologis yang menyangkut masalah sistem

muskuloskeletal, saraf, kardiovaskuler, respirasi, indra, dan integumen, hal ini

yang menghambat keaktifan dan keefektifan lansia dalam pemenuhan

kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Sebenarnya tidak ada batas yang tegas,

pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang,

29
fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda-beda baik dalam hal

pencapaian puncak maupun penurunannya. (Departemen Kesehatan Republik

Indonesia, 2008)

Perawat atau keluarga sangat berperan penting dalam membantu lansia

yang mengalami penurunan pada aspek kognitif, yaitu dengan menumbuhkan

dan membina hubungan saling percaya, saling besosialisasi, dan selalu

mengadakan kegiatan yang bersifat kelompok, selain itu mempertahankan

fungsi kognitif lansia upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara

menggunakan otak secara terus menerus dan diistirahatkan dengan

tidur,kegiatan seperti membaca, mendengarkan berita dan cerita melalui

media sebaiknya dijadikan sebuah kebiasaan hal ini bertujuan agar otak tidak

beristirahat secara terus menerus (Departemen Kesehatan Republik

Indonesia,2008).

5. MMSE (Mini Mental State Examination)

MMSE awalnya dirancang sebagai media pemeriksaan status mental

singkat serta terstandarisasi yang memungkinkan untuk membedakan antara

gangguan organik dan fungsional pada pasien psikiatri. Sejalan dengan

banyaknya pengguna tes ini selama bertahun-tahun, kegunaaan MMSE

berubah menjadi suatu media untuk mendeteksi dan mengikuti perkembangan

gangguan kognitif yang berkaitan dengan kelainan neurodegeneratif,

misalnya penyakit Alzheimer.

MMSE merupakan suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 paoin

dikelompokkan menjadi tujuh kategori: orientasi terhadap tempat(negara,

30
provinsi, kota, gedung, dan lantai), orientasi terhadap waktu (tahun, musim,

bulan, hari, dan tanggal), registrasi (mengulang dengan cepat 3 kata), atensi

dan konsentrasi (secara berurutan mengurangi 7, dimulai dari angka 100,atau

mengeja kata WAHYU secara terbalik), mengingat kembali (mengingat

kembali 3 kata yang telah diulang sebelumnya), bahasa (memberi nama 2

benda, mengulang kalimat, membaca dengan keras dan memahami suatu

kalimat, menulis kalimat, dan mengikuti perintah 3 langkah), dan konstruksi

visual (menyalin gambar)

Skor MMSE diberikan berdasarkan jumlah item yang benar, skor yang

makin rendah mengindikasikan perfomance yang buruk dan gangguan

kognitif yang makin parah. Skor total berkisar antara 0-30 (performance

sempurna). Skor ambang MMSE yang pertama kali direkomendasikan adalah

24 atau 25, memiliki sensivitas dan spesifitas yang baik untuk mendeteksi

demensia, bagaimanapun, beberapa studi sekarang ini menyatakan bahwa

skor ini terlalu rendah. Studi-studi ini menunjukkan bahwa demensia dapat

didiagnosis dengan keakuratan baik pada beberapa orang dengan skor MMSE

antara 24-27.

Pelaksanaan

MMSE dapat dilaksanakan selama kurang lebih 5-10 menit. Tes ini

dirancang agar dapat dilaksanakan dengan mudah oleh semua profesi

kesehatan atau tenaga terlatih manapun yang telah menerima instruksi untuk

penggunaannya.

Validitas

31
Performance pada MMSE menunjukkan kesesuaian dengan berbagai tes

lain yang menilai kecerdasan, memori dan aspek-aspek lain fungsi kognitif

pada berbagai populasi. Skor MMSE memiliki kesesuaian dengan skor pada

tes Clock Drawing pada pasien lansia dan pasien dengan penyakit Alzheimer,

dan juga pada tes seperti Information Memory Concentration (IMC), tes

Composite neuropsycological and Brief Cognitive Rating Scale (BCRS).

Skor pada MMSE pertama kali diajukan sebagai ambang skor yang

mengindikasikan disfungsi kognitif. Dalam 13 studi berurutan yang menilai

keefektifan ambang skor MMSE <23 untuk mendeteksi demensia, sensivitas

berkisar antara 63%-100% dan spesifitas berkisar antara 52%-99%.

Penggunaan klinis

MMSE merupakan pemeriksaan status mental singkat dan mudah

diaplikasikan yang telah dibuktikan sebagai instrumen yang dapat dipercaya

serta valid untuk mendeteksi dan mengikuti perkembangan gangguan kognitif

yang berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif. Hasilnya,MMSE menjadi

suatu metode pemeriksaan status mental yang digunakan paling banyak

didunia. Tes ini digunakan secara luas pada praktik klinis dan

kecemerlangannya sebagai instrumen skrining kognitif telah dibuktikan

dengan pencantuman bersama dengan Diagnosis Interview Schedule dalam

studi National Institute of Mental Health ECA dan oleh daftarnya yang

menyebutkan MMSE sebagai penilai fungsi kognitif yang direkomendasikan

untuk kriteria diagnosis penyakit Alzheimer yang dikembangkan oleh

konsorsium National Institute of Neurological and Communication Disorders

32
and Stroke and the Alzheimer Disease and Related Disorders

Association(McKhann,1984)

Data psikometri luas MMSE menunjukkan bahwa tes ini memiliki tes

retest dan reliabilitas serta validitas sangat baik berdasarkan diagnosis klinik

independen demensia dan penyakit Alzheimer. Karena performance pada

MMSE dapat dibiaskan oleh pengaruh status pendidikan rendah pada pasien

yang sehat, beberapa pemeriksa merekomendasikan untuk menggunakan

ambang skor berdasarkan umur dan status pendidikan untuk mendeteksi

demensia.

Kelemahan terbesar MMSE yang banyak disebutkan ialah batasannya

atau ketidakmampuannya untuk menilai kemampuan kognitif yang terganggu

di awal penyakit Alzheimer atau gangguan demensia lain (misalnya terbatas

item verbal dan memori dan tidak adanya penyelesaian masalah atau

judgment), MMSE juga relatif tak sensitif terhadap penurunan kognitif yang

sangat ringan (terutama pada individual dengan status pendidikan tinggi).

Walaupun batasan-batasan ini mengurangi manfaat MMSE, tes ini tetap

menjadi instrumen yang sangat berharga untuk penilaian fungsi kognitif.

Intepretasi MMSE

Intepretasi MMSE didasarkan pada skor yang diperoleh pada saat

pemeriksaan:

Skor 24-30 diintepretasikan sebagai fungsi kognitif normal.

Skor<24 berarti definite gangguan kognitif

33
34
BAB III

METODE PENGUMPULAN DATA, PERENCANAAN DAN PEMILIHAN

INTERVENSI

A. Metode dan Rancangan Pengumpulan Data

Penelitan ini merupakan penelitian deskriptif analitik. Deskriptif adalah

suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran

atau deskripsi suatu keadaan secara objektif. Metode ini di gunakan untuk

memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada

situasi sekarang.

B. Waktu dan Tempat Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan pada periode November – Desember 2020

di Puskesmas Lombakasih.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien lansia yang

berkunjung di poli lansia Puskesmas Lombakasih selama November –

Desember 2020.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini

menggunakan simple random sampling. Yaitu pengambilan sampel secara

acak. Total sampel dalam penelitian ini adalah 50 subjek.

3. Kriteria inklusi

35
a. Merupakan pasien usia lanjut yang berumur ≥60 tahun yang berkunjung

ke poli lansia Puskesmas Lombakasih.

b. Bersedia mengikuti penelitian/ mengisi quesioner

c. Pasien usia lanjut yang tidak mengalami kecacatan mental dan fisik.

d. Pasien usia lanjut yang memiliki pendidikan minimal SD/setara,

sehingga bisa baca, tulis dan menggambar.

e. Menderita penyakit hipertensi dan tidak menderita penyakit lain.

4. Kriteria eksklusi

a. Sampel yang tidak bersedia menjadi responden

D. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian berupa kuesioner data diri responden dan kuesioner

yang mengacu pada kuesioner MMSE. Instrumen ini tidak dilakukan uji

validitas dan reliabilitas karena telah banyak digunakan untuk meneliti

tentang fungsi kognitif lansia.

E. Manajemen Penelitian

1. Cara Pengumpulan Data

a. Data primer

Data primer merupakan data yang didapatkan secara langsung

dari subyek penelitan atau sampel, meliputi :

1) Data Identitas Responden

2) Data dari pengisian kuesioner yang telah disiapkan oleh peneliti

dengan menggunakan teknik wawancara.

36
Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner melalui

langkah-langkah sebagai berikut:

1) Pelaksana dalam hal ini dokter internship Puskesmas Lombakasih

meminta persetujuan responden untuk melakukan pengisian kuesioner.

2) Memberikan penjelasan tentang tujuan pengumpulan data dan sifat

keikutsertaan responden dalam hal ini.

3) Membagikan kuesioner kepada responden yaitu masyarakat yang

memenuhi kriteria inklusi

4) Memberikan penjelasan kepada responden pada masing-masing

pertanyaan yang belum jelas dan mendampingi selama pengisian

kuesioner.

5) Kuesioner yang telah diisi, dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya.

2. Teknik Pengolahan Data

Pada penelitian ini digunakan analisa univariat yaitu analisa yang

dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian dalam analisa ini

menghasilkan distribusi dan persentase dari variabel yang diteliti.

3. Penyajian Data

Data disajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan serta disusun dan

dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian.

F. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

a. Metode Intervensi

37
Metode intervensi yang digunakan dalam mini project ini adalah

penyuluhan group discussion dengan alat bantu kuesioner yang dibagikan

sebelumnya.

b. Petugas Penyuluhan

Petugas penyuluhan dari kegiatan mini project ini adalah :

1) Dokter Internship Puskesmas Lombakasih periode November 2020 -

Februari 2021

2) Kegiatan mini project ini bertempat di Puskesmas Lombakasih.

c. Sasaran Penyuluhan

Sasaran kegiatan mini project ini adalah seluruh masyarakat terutama

lansia yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Lombakasih.

G. Definisi Operasional

1. Hipertensi adalah tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.

2. Penurunan fungsi kognitif adalah penurunan kemampuan orientasi,

registrasi, atensi, dan kalkulasi serta bahasa dan pemahaman yang dinilai

dengan kuesioner MMSE.

3. Lansia adalah orang yang berusia lebih dari atau sama dengan 60 tahun.

38
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Keadaan Geografi

Luas Wilayah kerja UPTD Puskesmas Mekar adalah 2,83 km 2

dengan batas-batas adminsistrasi sebagai berikut :

Sebelah Utara : Berbatasan dengan wilayah Kelurahan Tobuha dan

Mandonga

Sebelah Timur : Berbatasan dengan wilayah Kelurahan Bende dan

Bonggoeya

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan wilayah Kelurahan Wua – Wua

Sebelah Barat : Berbatasan dengan wilayah Kelurahan Puuwatu

Gambar 1. Denah Wilayah UPTD Puskesmas Mekar

39
Wilayah kerja UPTD Puskesmas Mekar terdiri atas 2 kelurahan yaitu:

1) Kelurahan Kadia

2) Kelurahan Pondambea

2. Keadaan Demografi Kependudukan

Wilayah kerja UPTD Puskesmas Lombakasih berdasarkan data

Demografi adalah Total jumlah penduduk : 22.747 jiwa.

Tabel 4. Distribusi Penduduk UPTD Puskesmas Lombakasih Berdasarkan

Jenis Kelamin Tahun 2019

Sumber : Data Sekunder, UPTD Puskesmas Lombakasih, Tahun 2019

Tabel 5. Distribusi Sasaran Bayi, ANBAL, Dan Balita UPTD Puskesmas

Mekar Tahun 2019

Tabel 6. Distribusi Sasaran Ibu Hamil Dan Ibu Bersalin UPTD Puskesmas

Mekar Tahun 2019

40
Tabel 7. Distribusi Sasaran Anak Prasekolah Dan Usia 10-14 Tahun UPTD
Puskesmas Mekar Tahun 2019

Tabel 8. Distribusi Sasaran Usia Produktif UPTD Puskesmas Mekar Tahun

2019

3. Derajat Kesehatan

a. Mortalitas

Salah satu indikator penting untuk mengukut tingkat derajat kesehatan

masyarakat adalah angka kematian (mortalitas). Dimana indikator ini

menunjukkan tingkat kesehatan, mutu pelayanan kesehatan serta kondisi

sosial ekonomi masyarakat.

Jumlah kematian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Mekar tahun

2019, dilaporkan sebagai berikut :

41
Angka Kematian Neonatal

Berdasarkan data yang diperoleh dari UPTD Puskesmas Mekar tahun

2019menunjukkan terdapat jumlah kematian neonatal 1 orang berjenis

kelamin perempuan di kelurahan kadia. Adapun penyebab kematian

tersebut ialah kelainan kongenital atau cacat bawaan.

Angka Kematian Bayi

Berdasarkan data yang diperoleh dari UPTD Puskesmas Mekar tahun

2019 menunjukkan bahwa tidak terdapat kematian bayi, Jumlah Kelahiran

Hidup sepanjang tahun 2019 adalah 523 orang (Kel. Kadia 320 orang,

Pondambea 203 orang). Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat

AKB tetapi tidak mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan.

Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan

kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat

untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam

bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap

tingkat AKB. Tidak adanya AKB pada tahun 2019 ini memberi gambaran

adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan

masyarakat.

Jumlah Kematian Balita ( AKABA )

Jumlah Kematian Balita 0

Angka Kematian Maternal ( AKM )

Angka Kematian Ibu Maternal diperoleh berbagai survei yang

dilakukan secara khusus.Dengan dilaksanakannya Survei Kesehatan

42
Rumah Tangga (SKRT) dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

(SDKI), maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas

dibanding survei sebelumnya.

Berdasarkan data yang ada di UPTD Puskesmas Mekar selama tahun

2019 tidak terdapat kematian maternal.

b. Morbiditas

Angka kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari

masyarakat (community bases data) yang dapat diperoleh dengan melalui

studi morbiditas dan hasil pengumpulan data dari Sistem Pencatatan dan

Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).

Keadaan Morbiditas di wilayah kerja UPTD Puskesmas Mekar dapat

diketahui dengan mencermati 20 besar Penyakit selama tahun 2019

sebagai berikut:

Tabel 9. Distribusi 20 Besar Penyakit Di Poli Umum UPTD Puskesmas


Mekar Tahun 2019
NO PENYAKIT JUMLAH
1 ISPA 1888
2 PENYAKIT & KELAINAN SUSUNAN SYARAF 694
LAIN
3 PENYAKIT PADA SISTEM OTOT & TULANG & 660
REMATIK
4 GASTRITIS 566
5 DM 630
6 PENYAKIT KULIT ALERGI 599
7 HT 585
8 PSPA 397
9 PENYAKIT MATA LAIN 378
10 TB PARU 321
11 INFEKSI PENYAKIT USUS 298
12 INFEKSI TELINGA TENGAH 177
13 INFEKSI PADA SALURAN KENCING 159
14 TONSILITIS 156

43
15 PENYAKIT JIWA LAIN 117
16 PSPB 129
17 PENYAKIT KULIT INFEKSI 90
18 BRONKITIS 80
19 KATARAK 81
20 DIARE 52
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

Tabel 10. Distribusi 20 Besar Penyakit Di Poli MTBS UPTD Puskesmas


Mekar Tahun 2019
NO PENYAKIT JUMLAH
1 ISPA 2.355
2 PENYAKIT KULIT ALERGI 411
3 PSPA 370
4 TONSILITIS 299
5 INFEKSI PENYAKIT USUS LAIN 209
6 PENYAKIT MATA LAIN 125
7 GASTRITIS 83
8 INFEKSI TELINGA TENGAH 81
9 DIARE 75
10 PSPB 66
11 PENYAKIT KULIT INFEKSI 57
12 PNEUMONIA 30
13 PENYAKIT PADA SALURAN KENCING 20
14 EPILEPSI 20
15 BRONKITIS 19
16 PENYAKIT DAN KELAINAN SUSUNAN 19
SARAF LAIN
17 CACAR AIR 18
18 TB PARU 8
19 GLAUKOMA 3
20 KATARAK 1
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

44
Tabel 11. Distribusi Pelayanan Tindakan Di Poli Gigi UPTD Puskesmas

Mekar Tahun 2019

c. Lansia

Tabel 12. Distribusi Kunjungan Baru Lansia UPTD Puskesmas Mekar


Tahun 2019
NO BULAN JUMLAH PASIEN
BARU
1 JANUARI 105
2 FEBRUARI 89
3 MARET 239
4 APRIL 182
5 MEI 77
6 JUNI 136
7 JULI 113
8 AGUSTUS 160
9 SEPTEMBER 121
10 OKTOBER 33
11 NOVEMBER 13
12 DESEMBER 14
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

45
TabeL 13. Distribusi 10 Besar Penyakit Poli Lansia UPTD Puskesmas Mekar
2019
NO PENYAKIT JUMLAH
1 HIPERTENSI 939
2 ARTRITIS REMATOID 669
3 ASMA BRONCHIAL 461
4 ISPA 202
5 DIABETES MELLITUS 177
6 MYALGIA 90
7 GASTRITIS 78
8 BRONCHITIS 67
9 DERMATITIS 50
10 PENYAKIT LAIN 32
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

4. Sarana Kesehatan

1. Puskesmas dan Jaringannya

UPTD Puskesmas Mekar adalah Puskesmas pembantu Perumnas yang

telah ditetapkan dan dipisahkan sebagai UPTD Puskesmas Mekar pada

tanggal 6 Juni 2005, terletak di Jl. Laremba Kelurahan Kadia Kecamatan

Kadia Kota kendari.

Pada tahun 2018 UPTD Puskesmas Mekar mendapatkan fasilitas

bangunan baru 2 lantai.

UPTD Puskesmas Mekar terdiri dari beberapa ruangan diantaranya:

1) Ruangan Kepala Puskesmas

2) Ruang Tata Usaha

3) Ruang Data

4) Ruang Rapat

5) Ruang Keuangan

6) Loket Pendaftaran

46
7) Poli KIA

8) Ruang Bermain Anak

9) Ruang Konseling kesehatan remaja

10) Poli Umum

11) Poli Lansia

12) Poli MTBS

13) Ruang Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja

14) Poli Gigi

15) Ruangan Apotik

16) Gudang Obat

17) Unit Gawat Darurat

18) Ruangan gizi

19) Ruang Pojok ASI

20) Ruangan Laboratorium

21) Ruangan Imunisasi

22) Ruangan BPJS

23) Ruangan Kesling/Promkes/Surveilans

24) Ruangan P2M

Secara umum ketersediaanruangan mendukung dalam rangka

pemberian pelayanan kesehatan paripurna kepada masyarakat di UPTD

Puskesmas Mekar telah sesuai dengan Permenkes No. 75 Tahun 2014

tentang puskesmas.

47
2. Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan UPTD Puskesmas Mekar berasal dari beberapa

sumber yakni :

a) Dana Operasional UPTD Puskesmas Mekar dari APBD tahun 2019.

b) Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN ) tahun 2019.

c) Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia tahun 2019.

d) Dana Retribusi Jasa Umum pelayanan kesehatan di puskesmas, yang

tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Kendari No. 6 Tahun

2018.

3. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat

a. Posyandu

Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas Mekar berjumlah 17

terdiri dari Posyandu Balita, Posyandu Remaja dan Posyandu Lansia.

Pelayanan yang diberikan menggunakan sistem 5 meja yaitu:

1) Pendaftaran

2) Penimbangan/Pengukuran

3) Pencatatan/Pengisian KMS

4) Penyuluhan

5) Pelayanan Kesehatan

48
Tabel 14. Distribusi Posyandu UPTD Puskesmas Mekar Berdasarkan
Kelurahan Tahun 2019
NO POSYANDU TANGGAL JUMLAH ALAMAT SRATA/KET
POSYANDU KADER
Kelurahan Kadia
1 Garuda 7 5 Jl. Mekar Purnama/Posy.
Balita
2 Melati 9 5 Jl. Purnama/Posy.
Laremba Balita
3 Mekar Sari 13 5 Jl. Mandiri/Posy.
Pertanian Balita
4 Teporombu 15 5 Jl. Mekar Purnama/Posy.
Baru Balita
5 Mekar Jaya 16 5 Jl. Mekar Purnama/Posy.
Balita
6 Kemuning 20 5 Jl. Purnama/Posy.
Ambodale Balita
7 Meohai 22 5 Jl. Mekar Purnama/Posy.
Jaya 1 Balita
8 Morini Ana 11 5 Jl. Mekar Purnama/Posy.
Mutuo Lansia
9 SMPN 17 Sesuaikan 5 Jl. Mekar Purnama/Posy.
Kendari Jaya 1 Remaja
10 SMKN 3 Sesuaikan 5 Jl. Budi Purnama/Posy.
Kendari Utomo Remaja
TOTAL JUMLAH KADER 50
NO POSYAND TANGGAL JUMLAH ALAMAT SRATA/KET
U POSYANDU KADER
Kelurahan Pondambea
1 Pengayoman 10 5 Jl. Balai Purnama/Posy.
Kota III Balita
2 Segar Sehat 11 5 Jl. Balai Mandiri/Posy.
Kota III Balita
3 Orchid 12 5 Jl. Balai Purnama/Posy.
Kota II Balita
4 Rindang 17 5 Jl. Balai Purnama/Posy.
Kota IV Balita
5 Kencana 18 5 Jl. Balai Purnama/Posy.
Kota I Balita
6 Mepokoaso 16 5 Jl. Balai Purnama/Posy.
Kota III Balita
7 Mahanaim 5 Jl. Balai Mandiri/Posy.
Kota II Balita
TOTAL JUMLAH KADER 35
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

49
b. Polindes dan Poskesdes

Polindes dan Poskesdes tidak terdapat di wilayah di wilayah UPTD

Puskesmas Mekar.

c. Desa Siaga

Tabel 15. Distribusi Desa Siaga Aktif UPTD Puskesmas Mekar Tahun 2019
NO KELURAHAN TERBENTUK AKTIF TIDAK
AKTIF
1 KADIA OK AKTIF
2 PONDAMBEA OK AKTIF
JUMLAH 2 2
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

d. Sarana Pendidikan dan Sosial

Jumlah sarana pendidikan dan sosial di Wilayah Kerja UPTD

Puskesmas Mekar terdiri atas :

a. Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah (3 buah)

1. SDN 88 Kendari

2. SDN 86 Kendari

3. MI Darul Muchlisin

b. SMP 3 Buah

1. SMPN 17 Kendari

2. SMPS Nusantara

3. MTS Darul Muchlisin

c. SMA / SMK / MA 4 Buah

1. SMAS Nusantara

2. SMKN 3 Kendari

3. MA Darul Muchlisin

50
4. SMK Daarul Muchlisin

d. Panti asuhan 4 Buah

1. Panti Asuhan Darul Muchlisin

2. Panti asuhan An Nur

3. Panti Asuhan Nurul Istiqamah

4. Panti Asuhan Rumah Kita

5. Sumber Daya Manusia Kesehatan

Tabel 16. Distribusi Ketenagaan UPTD Puskesmas Mekar Tahun 2019


N Jenis Tenaga Status Ketenagaan JML
O PNS PTT Honorer Sukarela
1 Dokter Umum 1 - 2 - 3
2 Dokter Gigi 1 - - - 1
3 Apoteker 1 - - - 1
4 Sarjana Farmasi 1 - 1 2
5 Ners 3 - - 5 8
6 Sarjana 2 - - 2
Keperawatan
7 Sarjana Gizi 1 - 1 - 2
8 Sarjana Kesmas 5 - 2 7 14
9 S2 Kesmas Keling 1 - - - 1
10 S2 Kespro 1 - - - 1
11 D IV Kebidanan 7 - 1 8
12 D IV Keperawatan 2 - - 6 8
13 D III Kebidanan 3 - 2 8 13
14 D III Gizi 3 - - 1 4
15 D IV Kesehatan 2 - - - 2
Gigi
16 D III Kesehatan - - 1 2 3
Gigi
17 D III Analis 1 - 1 - 2
18 D III Farmasi 2 - - 1 3
19 SPK 1 - - - 1
20 D I Bidan - - - - -
21 SPPM - - - - -
22 Pekarya - - - - -

51
23 SPAG - - - - -
24 SPPH - - - - -
25 SMF 1 - - - 1
26 SPRG - - - - -
27 SMA - - - - -
28 SMP - - - 1 1
JUMLAH 39 - 10 32 81
Sumber : Data Primer, UPTD Puskesmas Mekar Kota Kendari, Tahun 2019

Analisis : Jumlah Ketenagaan di UPTD Puskesmas Mekar sudah

memenuhi standar Permenkes No. 43 Tahun 2019 (hal 127) yang

dipersyaratkan yaitu 23 orang.

B. Hasil dan Pembahasan Penelitian

Jumlah pasien usia lanjut yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di

Puskesmas Mekar yang berjumlah 50 orang. Penelitian ini dilakukan dengan

wawancara menggunakan MMSE kepada responden. Hasil penelitian dari

pengumpulan data disajikan dalam bentuk tabel yang dilakukan untuk

mendiskripsikan variabel dengan menggunakan distribusi frekuensi dengan

ukuran presentase.

1. Distribusi Sampel Penelitian

Tabel 17. Karakteristik Reponden penelitian secara umum

Variabel Jumlah (n) Persentase (%)


Jenis Kelamin
Laki-laki 20 40
Perempuan 30 60
Usia
60 – 75 tahun 35 70
76 – 90 tahun 15 30
Tingkat Pendidikan

52
Tamat SD 15 30
Tamat SMP 10 20
Tamat SMA 15 30
Tamat PT 10 20
Sumber : Data Primer, September – Oktober 2019

Berdasarkan Tabel 17, dapat di kemukakan bahwa, dari 50 sampel tediri

dari jenis kelamin laki-laki 20 responden (40%), dan perempuan sebanyak 30

responden (60%). Usia 60-75 tahun sebanyak 35 (70%), 76-90 tahun

sebanyak 15 (30%). Tingkat pendidikan adalah yang tamat SD sebanyak 15

(30%), yang tamat SMP 10 (20%), yang tamat SMA sebanyak 15 (30%) dan

yang tamat perguruan tinggi sebanyak 10 (20%).

53
2. Karakteristik Distribusi Hipertensi dengan Fungsi Kognitif pada

Pasien Lansia di Puskesmas Mekar

Tabel 18. Karakteristik Distribusi Hipertensi dengan Fungsi Kognitif


pada Pasien Lansia di Puskesmas Mekar
Fungsi Kognitif Normal Fungsi Kognitif Terganggu
Hipertensi
Frekuensi % Frekuensi %
Ya 21 42 29 58
Sumber : Data Primer, September – Oktober 2019

Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa dari 50 sampel pasien lansia yang

menderita hipertensi, pasien dengan fungsi kognitif terganggu sebanyak 29

(58%) lebih banyak dibandingkan yang memiliki fungsi kognitif normal yaitu

21 pasien (42%).

Dari tabel karakteristik distribusi hipertensi dengan fungsi kognitif pada

pasien lansia di Puskesmas Mekar, tergambarkan adanya pengaruh hipertensi

terhadap fungsi kognitif yakni mengarah ke fungsi kognitif terganggu.

Terdapat hubungan antara penyakit hipertensi dengan penurunan fungsi

kognitif pasien usia lanjut sesuai dengan penelitian yang membandingkan

penderita lanjut usia yang dikelompokkan berdasarkan usia dan adanya

hipertensi maupun tidak ada hipertensi/normotensi. Hasilnya menunjukkan

bahwa fungsi kognitif penderita hipertensi lebih terganggu (Kuusisto,1993).

54
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 50 sampel tentang

pengaruh hipertensi terhadap fungsi kognitif pada lansia Puskesmas Mekar

Kota Kendari, didapatkan dari 50 pasien hipertensi pasien dengan fungsi

kognitif terganggu sebanyak 29 (58%) lebih banyak dibandingkan yang

memiliki fungsi kognitif normal yaitu 21 pasien (42%).

Sehingga disimpulkan bahwa terdapat pengaruh hipertensi terhadap

penurunan fungsi kognitif pada pasien yang berkunjung di Poli Lansia

Puskesmas Mekar.

B. Saran

1. Bagi Peneliti

Peneilitian ini diharapkan dapat menjadi awal untuk kemudian

melakukan kegiatan penelitian lainnya mengenai hipertensi, agar menjadi

salah satu tolak ukur pencegahan hipertensi pada masyarakat.

2. Bagi Peneliti lain dan Praktisi Kesehatan

Bagi penelitian selanjutnya, penelitian dapat dilakukan dengan

jumlah sampel yang lebih besar dan mencari faktor-faktor lain yang turut

berpengaruh terhadap fungsi kognitif pada lansia.

Bagi praktisi kesehatan dapat lebih baik lagi dalam menangani dan

mendeteksi secara dini pasien usia lanjut yang mengalami penurunan

fungsi kognitif, sehingga penurunan fungsi kognitif dapat diperlambat.

55
3. Bagi Keluarga Koresponden

Bagi keluarga koresponden dapat memberikan dukungan emosional

dan perhatian khusus bagi pasien usia lanjut yang mengalami penurunan

fungsi kognitif, karena keluarga memiliki peranan penting dalam

mempertahankan fungsi kognitif pasien. Keluarga harus lebih aktif lagi

dalam berinteraksi terhadap pasien, misalnya dengan mengajak pasien

untuk mengisi TTS (Teka-teki Silang).

56
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Pusat Statistik. Data Statistik Indonesia:Jumlah Penduduk menurut

Kelompok Umur, Jenis Kelamin,Provinsi, dan Kabupaten/kota.2010

2. Dayamaes,R.Gambaran fungsi Kognitif Klien Usia Lanjut di Posbindu

Rosela Legoso Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur Tangerang

Selatan(Karya Tulis Ilmiah) Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah.Jakarta:2013.

3. Dikot Y & Ong.PA. Diagnosa Dini dan Penatalaksanaan Demensia di

Pelayanan Medis Primer.Asosiasi Alzheimer Indonesia.Cab.Jawa Barat dan

Asna Dementia Standing Comitte.2007

4. Folstein,M.”Mini Mental State” a Practical Method for Grading the

Cognitive State of Patients for the Clinician, Journal of Psychiatric

Research.1975

5. Gunawan,Lany.Epidemiologi Penyakit Tidak

Menular.Yogyakarta:Kanisius.2000

6. Kuusisto J. Essential Hypertension and Cognitive Function. The Role of

Hyperinsulinemia.Hypertension.1993

7. Macnair,Trisha.2001.Tekanan Darah Tinggi.Jakarta:Erlangga

8. Nehlig, A. Is Caffeine a Cognitive Enhancer?.Journal of Alzheimer Disease

20:S85-S94.2010

9. Notoatmodjo,Soekidjo.2002.Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:Rineka

Cipta

57
10. Sarwono Warpadzi, Soeparman, dkk.2006.Ilmu Penyakit Dalam jilid

VI.Jakarta:Balai Penerbitan FKUI

11. Profil Puskesmas Mekar 2019

58
LAMPIRAN

59
Intepretasi Hasil:

Skor 24-30 : Fungsi Kognitif Normal

Skor <24 : Probable dan Definite Gangguan Fungsi Kognitif

Nama Pasien :

Jenis Kelamin :

Usia :

Tingkat pendidikan :

Riwayat Penyakit :

60