Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP

F.1 Upaya Pengobatan Dasar

Disusun oleh :
dr. Muhammad Al Gifari

Pendamping :
dr. Yuiko Satya Pavetta

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PERIODE AGUSTUS 2020 – NOVEMBER 2020

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BOMBANA

KABUPATEN BOMBANA

SULAWESI TENGGARA

2020
LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP

F1. Upaya Pengobatan Dasar

“Pendekatan Klinis Kasus Tension Type Headache (TTH) pada


Ny.M di Wilayah Kerja Rumah Sakit Umum Daerah Bombana”

Disusun oleh :
dr. Muhammad Al Gifari

Pendamping :
dr. Yuiko Satya Pavetta

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PERIODE AGUSTUS 2020 – NOVEMBER 2020

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BOMBANA

KABUPATEN BOMBANA

SULAWESI TENGGARA

2020
HALAMAN PENGESAHAN

F.1 Tension Type Headache (TTH)

“Pendekatan Klinis Kasus Tension Type Headache (TTH) pada Ny.M di


Wilayah Kerja Rumah Sakit Umum Daerah Bombana”

Kecamatan Rumbia Tengah Kabupaten Bombana


Sulawesi Tenggara

Bombana, 2020

Pembimbing Dokter Internsip

dr. Yuiko Satya Pavetta dr. Muhammad Al Gifari

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN..................................................................................................iii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2. Tujuan.........................................................................................................................2
1.3. Manfaat.......................................................................................................................2
BAB II PERMASALAHAN & KASUS.......................................................................................4
2.1. Identitas Pasien...........................................................................................................4
2.2. Anamnesis...................................................................................................................4
2.3. Pemeriksaan Fisik........................................................................................................5
2.4. Pemeriksaan Penunjang..............................................................................................7
2.5. Resume.......................................................................................................................7
2.6. Diagnosis.....................................................................................................................7
2.7. Penatalaksanaan.........................................................................................................7
2.8. Prognosis.....................................................................................................................8
BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN.......................................................................................9
3.1. Tension Type Headache (TTH).....................................................................................9
3.2.Pencegahan Tension Type Headache (TTH)................................................................14
BAB IV PENUTUP..............................................................................................................15
4.1. KESIMPULAN.............................................................................................................15
4.2. SARAN.......................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................16
LAMPIRAN........................................................................................................................18
FORM BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO.............................................................19

iv
BAB I
PERMASALAHAN DAN KASUS

1.1. IDENTITAS
Nama : Ny. Y
Umur : 58 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Gabus
Tanggal Pemeriksaan : 14 Mei 2020
No. CM : 12.11640
1.2. ANAMNESIS
Anamnesis diperoleh melalui anamnesis pada pasien secara langsung.
1.2.1. Keluhan Utama
Sesak nafas terutama malam hari
1.2.2. Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. Y datang ke Puskesmas Gabus I, pada tanggal 14 Mei 2020 pukul
09.00 WIB dengan keluhan sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu.
Awalnya, sesak nafas dirasa semakin berat sehingga dibawa ke rumah
sakit namun saat ini sesak sudah mulai berkurang dan harus selalu rutin
kontrol dan konsumsi obat jantung. Sesak nafas dirasakan terus
menerus dan saat tidur terlentang. Sesak nafas semakin memburuk saat
pasien aktivitas maupun istirahat. Sesak akan membaik jika bangun atau
setengah duduk dengan diganjal 2 bantal. Pasien juga sering sesak nafas
pada malam hari sehingga sering terbangun saat tidur. Selain sesak
nafas, pasien juga mengeluh kedua kakinya terlihat bengkak namun
pasien tidak terlalu memperhatikan. Namun, saat pemeriksaan saat ini
kedua kaki pasien tidak terlihat bengkak. Pasien sudah berobat ke
tenaga kesehatan di desanya dan rajin mengkonsumsi obat yang
diberikan namun keluhan tidak berkurang, akhirnya pasien pergi ke
RSUD Kayen untuk berobat dan keluhan mulai berkurang hingga saat
ini.
1.2.3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi.

1.2.4. Riwayat Penyakit Keluarga

1
Riwayat keluhan serupa : Disangkal
Riwayat alergi : Disangkal
Riwayat diabetes mellitus : Disangkal

1.2.5. Riwayat Ekonomi


Pasien tinggal dengan suami, kedua anaknya serta 4 cucunya. Pasien
berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pasien mengatakan sudah tidak
bekerja dan biaya pengobatan ditanggung BPJS.
Kesan : sosial ekonomi menengah.
1.3. PEMERIKSAAN FISIK
1.3.1. Keadaan Umum : Baik, Rawat diri cukup
1.3.2. Kesadaran : Compos Mentis
1.3.3. Tanda-tanda Vital :
Tekanan Darah : 150/90mmHg
Nadi : 118x/menit
Respirasi : 24x/m
Suhu : 37,5oC
1.3.4. Antropometri
Berat Badan : 53 Kg
Tinggi Badan : 150 cm
Status Gizi : Normoweight
1.3.5. Status Generalis
 Kepala: Normocephal, pertumbuhan rambut baik teratur, tidak
mudah dicabut
 Mata : CA (-/-), SI (-/-), edema palpebra (-/-), reflek
cahaya (+/+), isokor (+/+), mata cowong (-/-)
 Hidung : Sekret (-), epitaksis (-), nafas cuping hidung (-)
 Telinga : Nyeri tekan tragus (-), nyeri tarik auricula (-),
nyeri ketok mastoid (-), Hiperemis (-), Sekret (-).
 Mulut : Sianosis (-), perdarahan gusi (-), faring hiperemis
(tidak dilakukan), Tonsil (tidak dilakukan), hiperemis(tidak
dilakukan), kripta melebar(tidak dilakukan).
 Leher : JVP R+4 cm, trakea di tengah, simetris, pembesaran
kelenjar tiroid (-), pembesaran limfonodi servikal (-),

2
 Thoraks : Simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-), massa (-),
Sonor semua lapang thoraks
o Pulmo : SDV (+, semua lapang paru), Ronkhi basah halus (+),
Wheezing (-)
o Cor : S1 S2 Tunggal reguler, murmur (-), suara tambahan(-)
 Abdomen : Datar, Bising usus (+) dalam batas normal (12x/menit),
Timpani (+) seluruh lapang abdomen, Nyeri tekan (-), Hepar tidak teraba,
pembesaran hepar (-)
 Ekstremitas :
o Ekstremitas atas
 Kanan : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
 Kiri : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
o Ekstremitas bawah
 Kanan : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
 Kiri : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
F-FOTO THORAKS
Trakea : tidak deviasi
Cor: apeks bergeser ke latero caudal
Pulmo: corakan bronkovasculer kasar
Tampak bercak
Diafragma dan sinus kostofrenikus kanan kiri kabur
Tulang: tak tampak lesi litik dan sklerotik

Kesan:
Cor: cardiomegali
Elongasio aorta
Pulmo: Gambaran bronkitis disertai bronkopneumonia
Curiga efusi pleura duplex (minimal)
Tulang: tak tampak kelainan.
1.5. RESUME
Ny. Y datang ke Puskesmas Gabus I dengan keluhan sesak nafas sejak 1
bulan yang lalu. Awalnya, sesak nafas dirasa semakin berat sehingga dibawa
ke rumah sakit namun saat ini sesak sudah mulai berkurang dan harus selalu
rutin kontrol dan konsumsi obat jantung. Sesak nafas dirasakan terus menerus
dan saat tidur terlentang. Sesak nafas semakin memburuk saat pasien aktivitas
maupun istirahat. Sesak akan membaik jika bangun atau setengah duduk

3
dengan diganjal 2 bantal. Pasien juga sering sesak nafas pada malam hari
sehingga sering terbangun saat tidur. Selain sesak nafas, pasien juga
mengeluh kedua kakinya terlihat bengkak namun pasien tidak terlalu
memperhatikan. Namun, saat pemeriksaan saat ini kedua kaki pasien tidak
terlihat bengkak. Pasien sudah berobat ke tenaga kesehatan di desanya dan
rajin mengkonsumsi obat yang diberikan namun keluhan tidak berkurang,
akhirnya pasien pergi ke RSUD Kayen untuk berobat dan keluhan mulai
berkurang hingga saat ini. Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi.
1.6. DIAGNOSIS
Congestive Hearth Failure
1.7. TATALAKSANA
1.7.1. Non-Medika Mentosa
o Bed rest/tidur dengan posisi semi flowler (1/2 duduk)
1.7.2. Medika Mentosa
- Furosemide 40mg/24jam (po)
- Candesartan 8mg/24jam (po)
- Bisoprolol 2,5mg/24jam (po)
- Spironolacton 25mg/24jam (po)
- Digoksin 0,25mg/24jam (po)

1.7.3. Planning Edukasi


- Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien.
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga supaya pasien diposiscikan ½
duduk.
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa pasien tidak boleh
terlalu lelah dan aktivitas yang berat.
1.8. Prognosis
o Ad Vitam : dubia ad bonam
o Ad Sanam : dubia ad bonam
o Ad Fungsionam : dubia ad bonam

4
BAB II
PERMASALAHAN & KASUS

2.1. Identitas Pasien


Nama : Nn. DA
Usia : 28 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Gabus 1/5
Tanggal Periksa : 29 Mei 2020

2.2. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 29 Mei 2020 pukul
09.00 WIB di Puskesmas Gabus 1.

1. Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri seluruh kepala.
2. Keluhan Tambahan
Pegel-pegel disekitar leher dan bahu, mual.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Nn. DA datang ke Puskesmas Gabus I, pada tanggal 29 Mei 2020 pukul 09.00
dengan keluhan nyeri kepala sejak lebih dari 2 minggu yang lalu. Nyeri
kepala dirasa semakin berat sehingga dibawa ke puskesmas. Nyeri kepala
dirasakan diseluruh kepala seperti terikat atau tertindih benda yang berat
sehingga tengkuk dan bahu terasa kemeng. Nyeri kepala semakin
memburuk saat bangun tidur, melihat cahaya, dan nyeri terasa tidak
berdenyut. Nyeri kepala akan membaik jika minum obat warung tapi akan
timbul lagi. Pasien juga mengeluh beberapa kali mual namun tidak muntah
dan sulit tidur. Pasien merupakan seorang karyawan yang selalu bekerja
dibalik layar komputer setiap hari dan beberapa minggu ini pasien selalu
lembur. Pasien belum berobat ke tenaga kesehatan di desanya namun
sudah mengkonsumsi obat warung seperti panadol dan berkurang sebentar
lalu keluhan timbul lagi.

5
4. Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat penyakit serupa : disangkal
- Riwayat gastritis : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal
5. Riwayat penyakit keluarga
- Riwayat penyakit serupa : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan seorang karyawan. Biaya pengobatan ditanggung oleh
Pribadi. Kesan ekonomi cukup.
2.3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan konseling dan edukasi pada
pasien pelayanan poli umum, Nn. DA, usia 28 Tahun, dengan diagnosis
Tension Type Headache (TTH). Pasien mengeluhkan nyeri kepala pada
seluruh kepala, tengkuk hingga bahu. Akhir-akhir ini pasien sulit tertidur di
malam hari dikarenakan aktivitas beliau yang harus lembur menyelesaikan
pekerjaannya.

a. Keadaan Umum : Baik, Rawat diri cukup


b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Tanda-tanda Vital :
i. Tekanan Darah : 110/80
ii. Nadi : 88x/menit
iii. Respirasi : 18x/m
iv. Suhu : 36,6oC
d. Antropometri
i. Berat Badan : 63 Kg
ii. Tinggi Badan : 160 cm
iii. Status Gizi : Normoweight

6
e. Status Generalis
 Kepala : Normocephal, pertumbuhan rambut baik teratur, tidak
mudah dicabut.
 Mata : CA (-/-), SI (-/-), edema palpebra (-/-), reflek cahaya
(+/+), isokor (+/+), mata cowong (-/-)
 Hidung : Sekret (-), epitaksis (-), nafas cuping hidung (-)
 Telinga : Hiperemis (-), Sekret (-)
 Mulut : Mukosa mulut dan bibir basah (+), sianosis (-), perdarahan
gusi (-), faring hiperemis (-), Tonsil (T1/T1) hiperemis(-),kripta
melebar(-)
 Leher : Pembesaran kel. getah bening (-), massa abnormal (-),
peningkatan JVP (-)
 Thoraks : Simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-), massa (-),
Pekak (+) semua lapang thoraks, pembesaran jantung (-).
o Pulmo : SDV (+, semua lapang paru), Ronkhi (-),
Wheezing (-)
o Cor : S1 S2 Tunggal reguler, murmur (-), suara
tambahan(-)
 Abdomen : Flat, Bising usus (+) dalam batas normal
(12x/menit), Timpani (+) seluruh lapang abdomen, Nyeri tekan (-),
Hepar tidak teraba, pembesaran hepar (-)
 Ekstremitas :
o Ekstremitas atas
 Kanan : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
 Kiri : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
o Ekstremitas bawah
 Kanan : Hiperemis (+), sianosis (-), akral hangat (+)
 Kiri : Hiperemis (-), sianosis (-), akral hangat (+)
f. Status Lokalis

7
2.4. Pemeriksaan Penunjang
-

2.5. Resume
Nn. DA datang dengan keluhan nyeri kepala sejak lebih dari 2 minggu yang lalu.
Nyeri kepala dirasa semakin berat sehingga dibawa ke puskesmas. Nyeri
kepala dirasakan diseluruh kepala seperti terikat atau tertindih benda yang
berat sehingga tengkuk dan bahu terasa kemeng. Nyeri kepala semakin
memburuk saat bangun tidur, melihat cahaya, dan nyeri terasa tidak
berdenyut. Nyeri kepala akan membaik jika minum obat warung tapi akan
timbul lagi. Pasien juga mengeluh beberapa kali mual namun tidak muntah
dan sulit tidur. Pasien merupakan seorang karyawan yang selalu bekerja
dibalik layar komputer setiap hari dan beberapa minggu ini pasien selalu
lembur. Pasien belum berobat ke tenaga kesehatan di desanya namun sudah
mengkonsumsi obat warung seperti panadol dan berkurang sebentar lalu
keluhan timbul lagi.

2.6. Diagnosis
Tension Type Headache (TTH)

2.7. Penatalaksanaan
2.7.1. Non-Medika Mentosa

- Konseling psikologis
- Refreshing (istirahat, liburan)

2.7.2. Medika Mentosa

- Paracetamol 500mg/8jam
- Antasida 3x1
- CTM 4mg/8jam
- Vitamin B komplek 1x1

8
2.7.3. Planning Edukasi

- Waktu tidur yang cukup


- Lakukan refreshing pada diri sendiri ditengah rutinitas yang padat
- Jaga pola makan
- Posisi tidur harus nyaman
- Kendalikan emosi
- Konseling psikologis

2.8. Prognosis
o Ad Vitam : dubia ad bonam
o Ad Sanam : dubia ad malam
o Ad Fungsionam : dubia ad malam

9
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1. Tension Type Headache (TTH)


3.1.1. Pengertian

Tension-type Headache (TTH) adalah nyeri kepala bilateral yang


menekan (pressing/squeezing), mengikat, tidak berdenyut, tidak dipengaruhi
dan tidak diperburuk olehaktivitas fisik, bersifat ringan hingga sedang,tidak
disertai (atau minimal) mual dan/ atau muntah, serta disertai fotofobia atau
fonofobia. Di dalam literatur kedokteran, tension-type headache (TTH)
memiliki multisinonimi, seperti: tension headaches, muscle contraction
headache, sakit kepala tegang otot, nyeri kepala tegang otot. Dahulu, TTH
pernah dinamai stress headache.

TTH dibedakan menjadi tiga subklasifikasi:

- TTH episodik yang jarang (infrequent episodic): 1 serangan per bulan


atau kurang dari 12 sakit kepala per tahun.
- TTH episodik yang sering (frequent episodic): 1-14 serangan per bulan
atau antara 12 dan 180 hari per tahun.
- TTH menahun (chronic): lebih dari 15 serangan atau sekurangnya 180
hari per tahun.

3.1.2. Epidemiologi

Sekitar 93% laki-laki dan 99% perempuan pernah mengalami nyeri


kepala. TTH dannyeri kepala servikogenik adalah dua tipe nyeri kepala
yang paling sering dijumpai. TTH adalah bentuk paling umum nyeri kepala
primer yang mempengaruhi hingga dua pertiga populasi. Sekitar 78% orang
dewasa pernah mengalami TTH setidaknya sekali dalam hidupnya.2 TTH
episodik adalah nyeri kepala primer yang paling umum terjadi, dengan
prevalensi 1-tahun sekitar 38–74%.Rata-rata prevalensi TTH 11-93%.3 Satu
studi menyebutkan prevalensi TTH sebesar 87%. Prevalensi TTH di Korea
sebesar 16,2% sampai 30,8%,4 di Kanada sekitar 36%, di Jerman sebanyak

10
38,3%, di Brazil hanya 13%.5 Insiden di Denmark sebesar 14,2 per 1000
orang per tahun. Suatu survei populasi di USA menemukan prevalensi
tahunan TTH episodik sebesar 38,3% dan TTH kronis sebesar 2,2%. TTH
dapat menyerang segala usia. Usia terbanyak adalah 25-30 tahun, namun
puncak prevalensi meningkat di usia 30-39 tahun. Sekitar 40% penderita
TTH memiliki riwayat keluarga dengan TTH, 25% penderita TTH juga
menderita migren. Prevalensi seumur hidup pada perempuan mencapai 88%,
sedangkan pada laki-laki hanya 69%.3 Rasio perempuan:laki-laki adalah 5:4
Onset usia penderita TTH adalah dekade ke dua atau ke tiga kehidupan,
antara 25 hingga 30 tahun. Meskipun jarang, TTH dapat dialami setelah
berusia 50-65 tahun.

3.1.3. Etiopatofisiologi
Secara umum diklasifikasikan sebagai berikut:
- organik, seperti: tumor serebral, meningitis, hidrosefalus, dan sifi lis
- gangguan fungsional, misalnya: lelah, bekerja tak kenal waktu, anemia,
gout, ketidaknormalan endokrin, obesitas, intoksikasi, dan nyeri yang
direfl eksikan.
Buruknya upaya kesehatan diri sendiri (poor self-related health), tidak
mampu relaks setelah bekerja, gangguan tidur, tidur beberapa jam setiap
malam, dan usia muda adalah faktor risiko TTH. Pencetus TTH antara lain:
kelaparan, dehidrasi, pekerjaan/beban yang terlalu berat (overexertion),
perubahan pola tidur, caff eine withdrawal, dan fl uktuasi hormonal wanita.
Stres dan konfl ik emosional adalah pemicu tersering TTH. Gangguan
emosional berimplikasi sebagai faktor risiko TTH, sedangkan ketegangan
mental dan stres adalah faktorfaktor tersering penyebab TTH. Asosiasi
positif antara nyeri kepala dan stres terbukti nyata pada penderita TTH.
Iskemi dan meningkatnya kontraksi otot-otot di kepala dan leher diduga
penyebab TTH, tetapi kadar laktat otot penderita TTH kronis normal selama
berolahraga (static muscle exercise). Aktivitas EMG (electromyography)
menunjukkan peningkatan titik-titik pemicu di otot wajah (myofascial
trigger points). Riset terbaru membuktikan peningkatan substansi endogen
di otot trapezius penderita tipe frequent episodic TTH. Juga ditemukan

11
nitric oxide sebagai perantara (local mediator) TTH. Menghambat produksi
nitric oxide dengan agen investigatif (L-NMMA) mengurangi ketegangan
otot dan nyeri yang berkaitan dengan TTH.
Mekanisme myofascial perifer berperan penting pada TTH episodik,
sedangkan pada TTH kronis terjadi sensitisasi central nociceptive pathways
dan inadequate endogenous antinociceptive circuitry. Jadi mekanisme
sentral berperan utama pada TTH kronis. Sensitisasi jalur nyeri (pain
pathways) di sistem saraf pusat karena perpanjangan rangsang nosiseptif
(prolonged nociceptive stimuli) dari jaringan-jaringan miofasial perikranial
tampaknya bertanggung-jawab untuk konversi TTH episodik menjadi TTH
kronis.
TTH episodik dapat berevolusi menjadi TTH kronis:
A. Pada individu yang rentan secara genetis, stres kronis menyebabkan
elevasi glutamat yang persisten. Stimulasi reseptor NMDA
mengaktivasi NFκB, yang memicu transkripsi iNOS dan COX-2, di
antara enzim-enzim lainnya. Tingginya kadar nitric oxide menyebabkan
vasodilatasi struktur intrakranial, seperti sinus sagitalis superior, dan
kerusakan nitrosative memicu terjadinya nyeri dari beragam struktur
lainnya seperti dura.
B. Nyeri kemudian ditransmisikan melalui serabut-serabut C dan neuron-
neuron nociceptive Aδ menuju dorsal horn dan nukleus trigeminal di
TCC (trigeminocervical complex.), tempat mereka bersinap dengan
second-order neurons.
C. Pada beragam sinap ini, terjadi konvergensi nosiseptif primer dan
neuron-neuron mekanoreseptor yang dapat direkrut melalui fasilitasi
homosinaptik dan heterosinaptik sebagai bagian dari plastisitas sinaptik
yang memicu terjadinya sensitisasi sentral.
D. 1. Pada tingkat molekuler, sinyal nyeri dari perifer menyebabkan
pelepasan beragam neuropeptida dan neurotransmiter (misalnya:
substansi P dan glutamat) yang mengaktivasi reseptor-reseptor di
membran postsynaptic, membangkitkan potensial-potensial aksi dan
berkulminasi pada plastisitas sinaptik serta menurunkan ambang nyeri

12
(pain thresholds). 2. Sirkuit spinobulbospinal muncul dari RVM
(rostroventral medulla) secara normal melalui sinyal-sinyal fi ne-tunes
pain yang bermula dari perifer, namun pada individu yang rentan,
disfungsi dapat memfasilitasi sinyal-sinyal nyeri, serta membiarkan
terjadinya sensitisasi sentral.
E. Pericranial tenderness berkembang seiring waktu oleh recruitment
serabut-serabut C dan mekanoreseptor Aβ di sinap-sinap TCC,
membiarkan perkembangan allodynia dan hiperalgesia.
F. Intensitas, frekuensi, dan pericranial tenderness berkembang seiring
waktu, berbagai perubahan molekuler di pusatpusat lebih tinggi seperti
thalamus memicu terjadinya sensitisasi sentral dari neuronneuron
tersier dan perubahan-perubahan selanjutnya pada persepsi nyeri.
Konsentrasi platelet factor 4, betathromboglobulin, thromboxane B2,
dan 11- dehydrothromboxane B2 plasma meningkat signifi kan di kelompok
TTH episodik dibandingkan dengan di kelompok TTH kronis dan kelompok
kontrol (sehat). Pada penderita TTH episodik, peningkatan konsentrasi
substansi P jelas terlihat di platelet dan penurunan konsentrasi beta-
endorphin dijumpai di selsel mononuklear darah perifer. Peningkatan
konsentrasi metenkephalin dijumpai pada CSF (cairan serebrospinal)
penderita TTH kronis, hal ini mendukung hipotesis ketidakseimbangan
mekanisme pronociceptive dan antinociceptive pada TTH.

3.1.4. Manifestasi Klinik

TTH dirasakan di kedua sisi kepala sebagai nyeri tumpul yang menetap
atau konstan, dengan intensitas bervariasi, juga melibatkan nyerileher. Nyeri
kepala ini terkadang dideskripsikan sebagai ikatan kuat di sekitar kepala.
Nyeri kepala dengan intensitas ringan–sedang (nonprohibitive) dan kepala
terasa kencang. Kualitas nyerinya khas, yaitu: menekan (pressing),
mengikat (tightening), tidak berdenyut (nonpulsating). Rasa menekan, tidak
enak, atau berat dirasakan di kedua sisi kepala (bilateral), juga di leher,
pelipis, dahi. Leher dapat terasa kaku. TTH tidak dipengaruhi aktivitas fisik
rutin. Dapat disertai anorexia, tanpa mual dan muntah. Dapat disertai
photophobia (sensasi nyeri/tidak nyaman di mata saat terpapar cahaya) atau

13
phonophobia (sensasi tak nyaman karena rangsang suara). TTH terjadi
dalam waktu relatif singkat, dengan durasi berubahubah (TTH episodik)
atau terus-menerus (TTH kronis). Disebut TTH episodik bila nyeri kepala
berlangsung selama 30 menit hingga 7 hari, minimal 10 kali, dan kurang
dari 180 kali dalam setahun. Disebut TTH kronis bila nyeri kepala 15 hari
dalam sebulan (atau 180 hari dalam satu tahun), selama 6 bulan. Penderita
TTH kronis sangat sensitif terhadap rangsang. Berdasarkan analisis
multivariat karakteristik klinis, kriteria diagnostik TTH yang memiliki nilai
sensitivitas tinggi adalah tidak disertai muntah (99%), tidak disertai mual
(96%), lokasi bilateral (95%), tidak disertai fotofobia (94%). Sedangkan
yang memiliki nilai spesifi sitas tinggi adalah intensitas ringan (93%),
kualitas menekan atau mengikat (86%), tidak disertai fonofobia (63%),
kualitas tidak berdenyut (57%). Pengaruh nyeri kepala pada kehidupan
penderita dapat diketahui dengan kuesioner Headache Impact Test-6 (HIT-
6). Pada individu dan masyarakat, TTH berdampak pada penurunan
produktivitas, ketidakhadiran dari sekolah dan pekerjaan, dan penggunaan
jasa medis (konsultasi/berobat ke dokter).

3.1.5. Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan adalah reduksi frekuensi dan intensitas nyeri


kepala (terutama TTH) dan menyempurnakan respon terhadap terapi
abortive. Terapi dapat dimulai lagi bila nyeri kepala berulang. Masyarakat
sering mengobati sendiri TTH dengan obat analgesik yang dijual bebas,
produk berkafein, pijat, atau terapi chiropractic.

Terapi TTH episodik pada anak: parasetamol, aspirin, dan kombinasi


analgesik. Parasetamol aman untuk anak. Asam asetilsalisilat tidak
direkomendasikan pada anak berusia kurang dari 15 tahun, karena
kewaspadaan terhadap sindrom Reye. Pada dewasa, obat golongan anti-infl
amasi non steroid efektif untuk terapi TTH episodik. Hindari obat analgesik
golongan opiat (misal: butorphanol). Pemakaian analgesik berulang tanpa
pengawasan dokter, terutama yang mengandung kafein atau butalbital, dapat
memicu rebound headaches.

14
Beberapa obat yang terbukti efektif: ibuprofen (400 mg),
parasetamol (1000 mg), ketoprofen (25 mg). Ibuprofen lebih efektif
daripada parasetamol. Kafein dapat meningkatkan efek analgesik. Analgesik
sederhana, nonsteroidal anti-infl ammatory drugs (NSAIDs), dan agen
kombinasi adalah yang paling umum direkomendasikan.

Intervensi nonfarmakologis misalnya: latihan relaksasi, relaksasi


progresif, terapi kognitif, biofeedback training, cognitive-behavioural
therapy, atau kombinasinya. Solusi lain adalah modifi kasi perilaku dan
gaya hidup. Misalnya: istirahat di tempat tenang atau ruangan gelap.
Peregangan leher dan otot bahu 20-30 menit, idealnya setiap pagi hari,
selama minimal seminggu. Hindari terlalu lama bekerja di depan komputer,
beristirahat 15 menit setiap 1 jam bekerja, berselang-seling, iringi dengan
instrumen musik alam/klasik. Saat tidur, upayakan dengan posisi benar,
hindari suhu dingin. Bekerja, membaca, menonton TV dengan pencahayaan
yang tepat. Menuliskan pengalaman bahagia. Terapi tawa. Salat berdoa.
3.2. Pencegahan Tension Type Headache (TTH)
Untuk profilaksis TTH kronis, dapat diberikan golongan
antidepresan, misalnya: amitriptyline (10-75 mg, 1-2 jam sebelum tidur
untuk meminimalkan pening saat terbangun). Efek samping
amitriptyline adalah: mulut kering dan penglihatan kabur. Bila belum
efektif, diberikan mirtazepine.
Tabel 2.1. Terapi Preventif

Penderita TTH kronis dianjurkan membatasi konsumsi analgesik bebas (tanpa


resep dokter) hingga 2 kali seminggu untuk mencegah berkembangnya sakit
kepala harian kronis (chronic daily headache). Penderita TTH kronis dianjurkan
berhenti merokok. Buku harian nyeri kepala (headache diary) sangat membantu
dokter menilai frekuensi dan mencegah TTH bertambah parah. Berpola hidup
sehat, bekerja, berolahraga, dan beristirahat secara seimbang.

15
BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Tension-type Headache (TTH) adalah nyeri kepala bilateral yang menekan
(pressing/squeezing), mengikat, tidak berdenyut, tidak dipengaruhi dan tidak
diperburuk olehaktivitas fisik, bersifat ringan hingga sedang,tidak disertai (atau
minimal) mual dan/ atau muntah, serta disertai fotofobia atau fonofobia.

Konseling psikologis dan pengetahuan terkait Tension Type Headache


(TTH) kepada pasien dengan diagnosis Tension Type Headache (TTH) perlu
dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi
dari penyakit secara lebih dini. Konseling dan edukasi terhadap pasien Nn. DA
usia 28 tahun dengan Tension Type Headache (TTH) berjalan cukup baik dan
pasien cukup mengerti tentang keadaan dirinya dan bersedia untuk melakukan
saran dari dokter untuk mencegah kekambuhan penyakitnya.

4.2. SARAN
1. Bagi dokter sebaiknya memahami konsep tentang penyakit Tension Type
Headache (TTH) agar dapat memberikan penyuluhan dan edukasi yang
sejelas-jelasnya kepada masyarakat dan pasien Tension Type Headache
(TTH) untuk pencegahan dini.
2. Bagi institusi puskesmas, hendaknya lebih sering memberikan promosi
kesehatan mengenai penyakit Tension Type Headache (TTH) kepada
masyarakat.
3. Bagi masyarakat hendaknya menjalankan pola hidup sehat untuk
mencegah kemungkinan terkena penyakit Tension Type Headache (TTH).
4. Bagi pasien, hendaknya menerapkan saran dan edukasi yang telah
diberikan dokter agar meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan risiko
komplikasinya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arruda MA, Guidetti V, Galli F, Albuquerque RC, Bigal ME. Primary headaches
in childhood: A population-based study. Cephalalgia 2010; 30:1056-
64.
Bendtsen L, Bigal ME, Cerbo R, Diener HC, Holroyd K, Lampl C, Mitsikostas
DD, Steiner TJ, Tfelt-Hansen P. Guidelines for controlled trials of
drugs in tension-type headache:Second edition. Cephalalgia
2009;30(1):1–16.
Bendtsen L, Evers S, Linde M, et al. EFNS (European Federation of Neurological
Societies) guideline on the treatment of tension-type headache: report
of an EFNS task force. Eur J Neurol 2010;17(11):1318-25.
Bendtsen L, Fernandez-de-la-Penas C. The role of muscles in tension-type
headache. Curr Pain Headache Rep Dec 2011;15(6):451-8.
Bendtsen L, Jensen R. Tension-Type Headache. Neurol Clin 2009;27:525–35.
Binder MD, Hirokawa N, Windhorst U (Eds.). Encyclopedia of Neuroscience.
Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 2009:4052.
Chen Y. Advances in the Pathophysiology of Tension-type Headache: From
Stress to Central Sensitization. Current Pain & Headache Reports
2009;13:484–94.
Chu MK, Im HJ, Ju YS, Yu KH, Ma HI, Kim YJ, et al. Validity and reliability
assessment of Korean Headache Impact Test-6 (HIT-6). J Korean
Neurol Assoc 2009;27:1-6.
Crystal SC, Grosberg BM. Tension-type headache in the elderly.Curr Pain
Headache Rep Dec 2009;13(6):474-8.
Crystal SC, Robbins MS. Epidemiology of tension-type headache. Curr Pain
Headache Rep. 2010;14:449–54.
da Silva Jr A, Costa EC, Gomes JB, et al. Chronic headache and comorbibities: a
two-phase, population-based, cross-sectional study. Headache.
2010;50:1306–12.
Fernandez-de-las-Penas C, Lars Arendt-Nielsen L, Robert D. Gerwin RD (Eds).
Tension-Type and Cervicogenic Headache: Pathophysiology,

17
Diagnosis, and Management. Jones and Bartlell Publishers. USA.
2010.
Kaniecki RG. Tension-Type Headache. Continuum Lifelong Learning Neurol
2012;18(4):823–34.
Kim BK, Chu MK, Lee TG, Kim JM, Chung CS, Lee KS. Prevalence and Impact
of Migraine and Tension-Type Headache in Korea. J Clin Neurol
2012;8:204-11.
Lyngberg A, Rasmussen B, Jorgensen T, Jensen R. Prognosis of migraine and
tension-type headache: a population-based follow-up study.
Neurology 2005;65(4):580-5.
Pacheva I, Milanov I, Ivanov I, Stefanov R. Evaluation of diagnostic and
prognostic value of clinical characteristics of Migraine and Tension
type headache included in the diagnostic criteria for children and
adolescents in International Classifi cation of Headache Disorders–
second edition. Int J Clin Pract Dec 2012;66(12):1168–77.
Ravishankar K, Chakravarty A, Chowdhury D, Shukla R, Singh S. Guidelines on
the diagnosis and the current management of headache and related
disorders. Ann Indian Acad Neurol. 2011 July;14(Suppl1):S40–S59.
Sacco S, Ricci S, Carolei A. Tension-type Headache and Systemic Medical
Disorders. Curr Pain Headache Rep 2011;15:438–43.
Schoenen J. Tension-type Headache. In: MacMahon S, Koltzenburg M, eds. Wall
& Melzack’s Textbook of Pain. 5th edn. Elsevier:Amsterdam.
Termine C, Ozge A, Antonaci F, Natriashvili S, Guidetti V, Wober-Bingol C.
Overview of diagnosis and management of paediatric headache. Part
II: therapeutic management. J Headache Pain 2011;12:25–34.

18
LAMPIRAN

19
FORM BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Hari, Tanggal : Rabu, 03 Juni 2020


Pukul : 12.30 WIB – selesai
Tempat : Puskesmas Gabus I
Presentan : Dr. Niken Tri Utami
Judul : F.5 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak
Menular
“Konseling dan Edukasi pada Pasien Tension Type Headache (TTH),
Nn. DA (28 Tahun) di Wilayah Kerja Puskesmas Gabus I Pati”

No Nama Peserta Tanda Tangan


1 Dr. Alnia Rindang K
2 Dr. Farah Fauziah
3 Dr. Fieka Amalia
4 Dr. Intan Rachmawati
5 Dr. Susanti Nuraini
6 Dr. M Wahib Hasyim

Mengetahui
Pembimbing

Dr. M Wahib Hasyim

20