Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS IGD

PLASENTA PREVIA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Internsip dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam
Menempuh Program Internsip Dokter
Di Rumah Sakit Umum Daerah Kayen Pati

Disusun oleh:
dr. Maya Shabrina

Pembimbing:
dr. Herry Kristianto
dr. Nur Kartikasari

PROGRAM DOKTER INTERNSIP ANGKATAN IV


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYEN
KABUPATEN PATI
TAHUN 2019/2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

PLASENTA PREVIA

Diajukan sebagai syarat untuk memenuhi tugas dokter internship

Periode November - Maret 2020

Penyusun :

dr. Maya Shabrina

Hari/Tanggal : Kamis, 23 Januari 2020

Tempat : RSUD Kayen, Pati

Telah Disetujui Oleh :

Pembimbing

dr. Herry Kristianto


Portofolio Kasus
No. ID dan Nama Peserta : dr. Maya Shabrina
No. ID dan Nama Wahana : RSUD Kayen, Kabupaten Pati
Topik : Plasenta Previa
Tanggal (kasus) : 3 Desember 2019
Nama pasien : Ny. M No. RM : 044824
Tanggal presentasi : 23 Januari 2020 Nama Pendamping : dr. Herry Kristianto
Tempat presentasi : RSUD Kayen, Kabupaten Pati
Objektif presentasi :
√ Keilmuan    □ Keterampilan □ Penyegara □ Tinjauan  Pustaka 
√ Diagnostik        □ Manajemen  □ Masalah  □ Istimewa 
□ Neonatus □ Bayi  □ Anak   □ Remaja  √ Dewasa  □ Lansia    √ Bumil 
□ Deskripsi :  
Pasien perempuan usia 42 th datang dengan keluhan keluar bercak darah dari jalan lahir
sejak 1 hari SMRS
□ Tujuan:   
 Menganalisis etiologi timbulnya manifestasi keluhan penderita.
 Menentukan diagnosis yang tepat sehingga mendapatkan penanganan yang tepat pula.
Bahan bahasan :  □ Tinjauan Pustaka  □ Riset  √ Kasus  □ Audit 
Cara membahas : □ Diskusi  √ Presentasi dan diskusi   □ E‐mail  □ Pos 
Data pasien :  Nama : Ny. M Nomor Registrasi : 044824
Nama klinik Telp : - Terdaftar sejak :  3 Desember 2019
:  
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / gambaran klinis :
Pasien G2P1A0 usia 41 tahun, hamil 37 minggu 1 hari, datang dengan keluhan
keluar darah dari jalan lahir, sedikit-sedikit, tidak ada lendir, sejak hari 1 hari yang lalu.
Darah yang keluar darah segar sedikit-sedikit dan tidak terasa nyeri. Pasien mengaku
tidak mengalami trauma fisik baik itu jatuh ataupun kecelakaan. Keluhan tidak disertai
disertai kenceng-kenceng. Pasien tadi padi sudah periksa ke poli kandungan di RSUD
Kayen Pati disuruh rawat inap tetapi tidak mau. Akhirnya dengan banyak pertimbangan
keluarga sore dibawa ke IGD RSUD Kayen untuk dirawat inap.
2. Riwayat pengobatan :
Pasien sudah periksa di poli kandungan rsud kayen dengan keluhan serupa
3. Riwayat penyakit dahulu :
- Riwayat keluhan diakui
- Riwayat rawat inap disangkal
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat alergi disangkal
- Riwayat DM disangkal
- Riwayat abortus disangkal
4. Riwayat Keluarga :
1. Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan serupa
2. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit kronis
5. Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien tinggal dengan suami dan putranya. Pasien berprofesi sebagai ibu rumah
tangga. Biaya pengobatan ditanggung BPJS PBI.
Kesan : sosial ekonomi kebawah
6. Riwayat Obstetri
HPHT : 18 Maret 2019
HPL : 25 Desember 2019
UK : 37 minggu 1 hari
Riwayat perkawinan : pasien menikah satu kali dan sudah berlangsung selama 16 tahun.

Riwayat ANC
Pemeriksaan kehamilan dilakukan di bidan Puskesmas. Pemeriksaan kehamilan dilakukan
1 bulan sekali, terakhir dilakukan ANC pada 29 November 2019, diberikan vitamin dan
suplemen besi. Tidak ada pesan khusus dari bidan mengenai keadaan kehamilannya.

Riwayat persalinan :
 P1 : Laki-laki, BBL 3000 gram, usia sekarang 14 tahun, kelahiran spontan di
bidan.
 G2 : Hamil ini

Riwayat kontrasepsi : pasien menggunakan kontrasepsi jenis suntik 3 bulan

Riwayat haid pasien : Menarche : 13 tahun


Haid teratur dengan siklus 28 hari selam 7 hari
7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum :
Composmentis, GCS E4V5M6 , tampak sakit ringan
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Frekuensi nadi : 84x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi nafas : 20x/menit, reguler
Suhu : 36,5°C per axilla
Tinggi Badan : 160 cm
Berat Badan : 79 kg (sebelum hamil 60kg)
VAS : 1-3
Rambut : warna hitam dan tidak mudah dicabut.
Mata : konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
diameter 2mm/2mm, reflek cahaya (+/+)
Telinga : sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan tragus (-)
Hidung : nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-)
Mulut : bibir sianosis (-), gusi berdarah (-), bibir kering (-), pucat (-)
Tenggorok : Tonsil : T1-1, hiperemis (-)
Leher : JVP R+2 cm, trakea di tengah, simetris, pembesaran kelenjar tiroid (-),
pembesaran limfonodi servikal (-),
Toraks : retraksi (-), venektasi (-)
Pulmo
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-).
Palpasi : fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi : sonor / sonor
Auskultasi : suara dasar : (vesikuler / vesikuler)
suara tambahan : wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba di 2cm lateral linea mideoclavicularis sinistra, kuat
angkat (-), thrill (-)
Perkusi : Batas jantung kanan atas : SIC II linea sternalis dextra
Batas jantung kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra
Batas jantung kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra
Batas jantung kiri bawah : SIC V 2 cm medial linea medioclavicularis
sinistra
→ konfigurasi jantung kesan normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-), gallop (-)

Abdomen :
Inspeksi : datar, warna sama dengan sekitar
Auskultasi : Peristaltik usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (-) , hepar dan lien tidak teraba
pembesaran, TFU tidak teraba
Ekstremitas : superior inferior
Oedem -/- +/+
Akral dingin -/- -/-
Tonus normotonus

Status Obstetri
Abdomen
Inspeksi : Perut besar cembung membujur, striae gravidarum (+), bekas operasi (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Auskultasi : Denyut jantung janin 136 regular dengan menggunakan fetal phone
TFU : 35 cm
TBJ : (TFU-12) x 155 = (35-12) x 155 = 3565 gram
Leopold I : TFU pertengahan processus xiphoideus dengan pusat, pada fundus teraba
massa bulat besar keras
Leopold II : teraba bagian memanjang di sebelah kiri, teraba bagian kecil-kecil di sebelah
kanan
Leopold III : teraba bagian bulat besar lunak
Leopold IV: konfigurasi kedua tangan konvergen. Kepala turun/ masuk PAP (-)
His :-

Status genitalis (pemeriksaan di IGD pada tanggal 3 Desember 2019)


Genitalia Eksterna
 Inspeksi : terdapat darah (-), massa (-), jaringan (-).
Genitalia Interna
 VT : VT tidak dilakukan
 Inspikulo : tidak dilakukan
 Pemeriksaan USG : kesan plasenta previa totalis dengan presentasi bokong
7. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Darah (3/12/19)
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
Hematologi rutin
Hemoglobin 13.2 g/dl 12.0 – 15.6
Hematokrit 41.5 % 33 – 45
Leukosit 12.3 ribu/µl 4.5 – 11.0
Trombosit 252 ribu/C 150 – 450
Gula Darah
Gula darah sewaktu 100 mg/dl 70-170
Gula darah puasa 101 mg/dl 70-110
Elektrolit
Kalium 3.47 mmol/l 3.5-5.0
Natrium 138.9 mmol/l 135.0-145.0
Chlorida 110.1 mmol/l 95.0-105.0
Hitung Jenis
Gol. Darah B Rh +
Waktu perdarahan 2’ menit 1-3
Waktu pembekuan 5’ menit 2-6
Urinologi
Protein Negatif Negatif
Serologi
HbsAg Non reactive Non reactive
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis wanita usia 41 tahun G2P1A0 hamil 37 minggu 1 hari, janin
tunggal, hidup intra uterin, presentasi bokong U dengan perdarahan antepartum e.c.
plasenta previa totalis.
Tatalaksana G2P1A0 hamil 37 minggu 1 hari dengan Plasenta Previa

SOAP
SUBJEKTIF : ± 1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan keluar
bercak darah berwarna kehitaman dari jalan lahir. Dirasakan tiba-tiba. Darah yang keluar
sedikit, hanya flek-flek merah segar. ± 10 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien
mengeluh darah masih keluar tidak disertai dengan nyeri perut. Pasien mengeluh lemas.
Sebelumnya pasien tidak mengalami trauma atau jatuh, tidak minum jamu, tidak dipijat
dan tidak melakukan hubungan suami istri selama kehamilan.
1. OBJEKTIF : hasil diagnosis pada kasus ini ditemukan berdasarkan :
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum penderita tampak lemas,
kesadaran composmentis. Pada pemeriksaan didapatkan darah yang keluar dari vagina
merah segar. Dari pemeriksaan USG didapatkan gambaran plasenta previa totalis.
Seluruh pemeriksaan tersebut mendukung diagnosis G2P1A0 hamil 37 minggu 1
hari dengan plasenta previa totalis.
2. “ Assesment’’ :
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah
rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai
dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri.

3. “ Plan” :
Assessment : G2P1A0 hamil 37 minggu 1 hari dengan Plasenta Previa
IP Dx : S:-
O:-
IP Tx : - O2 nasal kanul 3lpm
- IVFD RL 20 TPM
- Inj Ceftriaxon 1x2gram
- Pro SC
IP Mx : Evaluasi keadaan umum, tanda vital dan pantau tanda persalinan.
IP Ex : Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien
FOLLOW UP
Tanggal Monitoring Keterangan
3/12/2019 S : keluar darah dari jalan lahir + - 02 NK 3LPM
18.00 O : KU baik, CM - IVFD RL 20 TPM
IGD TD : 110/80 mmHg - Inj. Ceftriaxone 1x2 gram
HR : 85x/menit Konsul dokter Sp.OG  besok
RR : 20x/menit program SC + MOW.
T : 36,7°C (axiller) - EKG
DJJ : 136x/m - Konsul dokter Sp.An
TFU : 35 cm - Puasa 6 jam sebelum SC

A : G2P1A0 hamil 37 minggu 1 hari


dengan Plasenta Previa totalis +
Presentasi Bokong
4/12/2019 S : Pro SC pukul 10.30 WIB - 02 NK 3LPM
08.00 O : KU Baik, CM - IVFD RL 20 TPM
Ponek TD : 110/70 mmHg - Inj. Ceftriaxone 1x2 gram
HR : 80x/menit
RR : 20x/menit
T : 37,0°C (axiller)
DJJ : 146x/m
TFU : 35 cm

A : G2P1A0 hamil 37 minggu 2 hari


dengan Plasenta Previa totalis +
Presentasi Bokong
4/12/2019 S : Post Op SC+MOW, - 02 NK 3LPM
14.00 O : KU Baik, CM IVFD RL + 20 IU oksitosin 20
Ponek TD : 110/70 mmHg tpm
HR : 80x/menit - Inj. Kalnex 3x500mg
RR : 20x/menit - Inj. Ketorolac 3x30mg
T : 37,0°C (axiller) - Profenit supp/12jam
- Vit. B comp/C/SF 2x1
A : P2A0 post SC dengan Plasenta Previa - Vit A 200.000 IU/24jam
totalis + Presentasi Bokong
5/12/2019 S : Post Op SC+MOW, nyeri pada bekas - IVFD RL + 20 IU oksitosin 20
08.00 operasi tpm
Ponek O : KU Baik, CM - Inj. Kalnex 3x500mg
TD : 120/70 mmHg - Inj. Ketorolac 3x30mg
HR : 83x/menit - Profenit supp/12jam
RR : 20x/menit - Vit. B comp/C/SF 2x1
T : 37,0°C (axiller) - Vit A 200.000 IU/24jam
- Bila besok KU baik BLPL
A : P2A0 post SC H1 dengan Plasenta
Previa totalis + Presentasi Bokong
PROGNOSIS
 Ad vitam : dubia
 Ad sanationam : dubia
 Ad fungsionam : dubia ad bonam

EDUKASI
1. Memberitahu kondisi pasien kepada keluaga.
2. Memberitahu tujuan terapi yang diberikan.
3. Memberitahu untuk kontrol setelah keluar dari rumah sakit
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI PLASENTA PREVIA


Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen
bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang
ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya
rasa nyeri.
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di segmen bawah
rahim yang dapat memberikan dampak yang sangat merugikan ibu maupun janin
berupa perdarahan, prematuritas, dan peningkatan angka kesakitan dan kematian
perinatal.

B. ETIOLOGI
Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belum
diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa
desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin.
Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah :
 Vaskularisasi desidua yang tidak memadai mungkin sebagai akibat proses
radang atau atrofi.
 Usia lebih dari 35 tahun.
 Multiparitas.
 Riwayat operasi / pembedahan uterus sebelumnya misalnya bekas bedah sesar,
kuretase, miomektomi.
 Jarak antar kehamilan yang pendek.
 Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dapat menyebabkan
plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh OUI.
 Perempuan perokok.
Hipoksemia akibat karbonmonoksida hasil pembakaran rokok menyebabkan
plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi.

C. KLASIFIKASI PLASENTA PREVIA


Klasifikasi pasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui
pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu.
1. Plasenta previa totalis :
apabila seluruh ostium uteri internum tertutup oleh jaringan plasenta.
2. Plasenta previa parsialis :
apabila sebagian ostium uteri internum tertutup oleh jaringan plasenta.
3. Plasenta previa marginalis :
apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir ostium uteri internum.
4. Plasenta letak rendah :
plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga
tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum.
Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak normal.
D. PATOFISIOLOGI
Pada usia kehamilan lanjut yang pada umumnya pada trimester ketiga telah
mulai terbentuk segmen bawah rahim. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi
segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi di daerah tersebut akan
mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua. Pada tempat laserasi tersebut akan
terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal, yaitu ruang intervillus
plasenta. Elemen otot pada segmen bawah rahim dan servik sangat minimal sehingga
perdarahan akan lebih mudah terjadi dan sulit berhenti. Darah yang keluar berwarna
merah segar tanpa rasa nyeri. Pada plasenta yang menutupi OUI, perdarahan terjadi
lebih awal dalam kehamilan karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada
bagian terbawah yaitu OUI. Sebaliknya pada plasenta parsialis atau letak rendah,
perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan. Oleh karena
tempat perdarahan dekat dengan OUI, maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar
rahim dan tidak membentuk hematom retroplasenta yang mampu merusak jaringan
lebih luas.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang
tipis mudah diinvasi oleh pertumbuhan villi dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat
lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta, bahkan
plasenta perkreta yang pertumbuhan villinya sampai menembus buli-buli dan ke
rektum bersama plasenta previa.

E. MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS PLASENTA PREVIA


 Gejala klinis
1. Gejala utama plasenta previa adalah pendarahan tanpa sebab, tanpa rasa nyeri dan
biasanya berulang. Darah biasanya berwarna merah segar.
2. Bagian terdepan janin tinggi (floating). Sering dijumpai kelainan letak janin.
3. Pendarahan pertama biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila tidak
dilakukan pemeriksaan dalam sebelumnya, sehingga pasien sempat dikirim ke
rumah sakit. Tetapi perdarahan berikutnya biasanya lebih banyak.
4. Janin biasanya masih baik.

 Diagnosis
1. Anamnesis: perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 28 minggu
berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multi gravida. Banyaknya
perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pemeriksaan
hematokrit.
2. Pemeriksaan luar: bagian bawah janin biasanya belum masuk pintu atas
panggul.
3. Pemeriksaan inspekulo: Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah
perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan cervix dan
vagina. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta
harus dicurigai.
4. Penentuan letak plasenta tidak langsung: Dapat dilakukan dengan radiografi,
radioisotop dan ultrasonografi. Akan tetapi pada pemeriksaan radiografi dan
radioisotop, ibu dan janin dihadapkan pada bahaya radiasi sehingga cara ini
ditinggalkan. Sedangkan USG tidak menimbulkan bahaya radiasi dan rasa nyeri
sehingga cara ini dianggap sangat tepat untuk menentukan letak plasenta.
5. Penentuan letak plasenta secara langsung: untuk menegakkan diagnosis yang
tepat tentang adanya dan jenis plasenta previa adalah secara langsung meraba
plasenta melalui kanalis cervicalis. Akan tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya
karena dapat menimbulkan perdarahan banyak. Oleh karena itu pemeriksaan
melalui kanalis servikalis hanya dilakukan apabila penanganan pasif ditinggalkan,
dan ditempuh penanganan aktif. Pemeriksaannya harus dilakukan dalam keadaan
siap operasi.

F. DIAGNOSIS BANDING
a. Placenta previa
b. Solusio placenta
c. Ruptura uteri.

No. Klinis Plasenta Previa Solusio Placenta Ruptura Uteri


1 Terjadinya Sewaktu hamil Sewaktu hamil & In partu
inpartu
2 Cara Mulainya Perlahan-lahan Tiba-tiba Dimulai RUI
3 Perdarahan Recurrent Non-recurrent Bergantung pada
pembuluh darah
yang pecah
4 Warna Darah Darah baru Darah tua + darah Darah baru
beku
5 Anemia Sesuai dengan Tak sebanding Perdarahan keluar
darah yang keluar dengan darah dan di dalam
yang keluar
6 Toksemia - Bisa ada -
Gravidarum
7 Nyeri Perut Tidak ada Ada + di SBR
8 Palpasi Biasa dan floating Uteri in bois Defans muskuler,
bagian-bagian meteorismus
anak sulit diraba
9 His Biasa Kuat Hilang
10 DJJ (+) (-) (-)
11 Periksa Dalam Jaringan plasenta Ketuban tegang, Robekan
menonjol

G. KOMPLIKASI
 Karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka pelepasan
plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang dan semakin banyak,
dan perdarahan yang terjadi tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi
anemia bahkan syok.

 Karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat segmen
ini yang tipis, maka jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya menerobos
ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari
kejadian plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta.

 Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat
potensial untuk robek disertai perdarahan yang banyak. Oleh karena itu, harus
sangat berhati-hatipada semua tindakan manual di tempat ini misalnya pada waktu
mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun waktu
mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta.

 Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini memaksa
lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya.

 Kelahiran premature dan gawat janin serings tidak terhindarkan sebagian oleh
karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan
belum aterm.

 Berisiko tinggi untuk solusio plasenta (risiko  relative 13,8), seksio sesarea (risiko
relative 1,7), kematian maternal akibat perdarahan (50 %), dan disseminated
intravascular coagulation (DIC) 15,9 %.

H. PROGNOSIS
a. Lima puluh persen wanita dengan plasenta previa memiliki kehamilan
preterm.
b. Kasus-kasus tersebut dipersulit dengan perdarahan vagina dan extreme
prematurity yang dapat meningkatkan risiko kematian  perinatal.
c. Insiden malformasi janin (fetal malformation) yang lebih besar dan
hambatan pertumbuhan (growth restriction) haruslah diwaspadai pada
kasus plasenta previa.

I. PENANGANAN
Semua pasien dengan perdarahan per vagina pada kehamilan trimester ketiga,
dirawat di rumah sakit tanpa periksa dalam. Bila pasien dalam keadaan syok karena
pendarahan yang banyak, harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan
pemberian infus atau tranfusi darah.
Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung kepada :
• Keadaan umum pasien, kadar hb.
• Jumlah perdarahan yang terjadi.
• Umur kehamilan/taksiran BB janin.
• Jenis plasenta previa.
• Paritas dan kemajuan persalinan.

 Penanganan Ekspektif
Kriteria:
 Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
 Perdarahan sedikit
 Belum ada tanda-tanda persalinan
 Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih
Rencana penanganan:
 Istirahat baring mutlak
 Infuse D 5% dan elektrolit
 Periksa Hb, Ht, golongan darah
Pemeriksaan USG
 Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung
janin
 Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien, ditunggu
sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif

 Penanganan aktif
Kriteria
 Umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram.
 Perdarahan banyak 500 cc atau lebih.
 Ada tanda-tanda persalinan.
 Keadaan umum pasien tidak baik, ibu anemis Hb < 8 gr%.
Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginam,
dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infus transfusi darah terpasang.

 Indikasi Sectio Caesarea :


1. Plasenta previa totalis.
2. Plasenta previa pada primigravida.
3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang.
4. Anak berharga dan fetal distres .
5. Plasenta previa lateralis jika :
• Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.
• Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.
• Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

6. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.


 Partus pervaginam :
Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara dan anak
sudah meninggal atau prematur.
1. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm), ketuban dipecah
(amniotomi). Jika his lemah, diberikan oksitosin drips.
2. Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sastrawinata S. Ilmu kesehatan reproduksi obstetri patologi. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;
2004.h.1-9.
2. Hadijanto B. Dalam ilmu kebidanan Sarwono Prawirohardjo: Pendarahan pada
kehamilan muda. Edisi ke-4. Cetakan ke-4. Jakarta: Bina pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2014.h.461-74.
3. Manuaba IBG. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : EGC; 2007.h. 396-400.
4. Chalik TMA. Plasenta Previa. Dalam: Hemoragi Utama Obtetri dan Ginekologi. Ed. 1.
Jakarta: Widya Medika, 1997. Hal 129-143
5. Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF. Antepartum Bleeding. Williams
Obstetrics. 20th ed. Norwalk: Appleton & Lange. 1997.pp. 755-760.
6. PB. POGI, Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. Bagian 1, Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 1991; 9-13.
7. Mochtar R. Sinopsis Obstetri 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1990; 296-
322.
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 23 Januari 2020 telah dipresentasikan oleh :


Nama Peserta : Maya Shabrina
Dengan Judul/Topik : Plasenta Previa
Nama Pendamping : dr. Herry Kristianto
Dr. Nur Kartikasari
Nama Wahana : RSUD Kayen Pati

NO. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Pendamping,

dr. Herry Kristianto