Anda di halaman 1dari 5

Laboratorium Jurusan Pendidikan

Teknik Sipil dan Perencanaan

PENGUJIAN PENETRASI ASPAL

1. Tujuan Percobaan

Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :

 Mengerti Prosedur pengujian secara esensial

 Mampu mengukur atau menentukan nilai penetrasi bahan bitumen


secara mandiri atau kelompok

2. Teori Ringkas

PEN : Singkatan dari nilai penetrasi, yang didefenisikan sebagai


kedalaman tembus (dalam 0,1 mm) jarum standar dengan
berat standar, pada material bahan bitumen, pada rentang
waktu standar dalam suhu standar.

Duplo : Adalah istilah yang menyatakan bahwa sampel yang diuji


adalah dua (ganda) dan dipersiapkan, dibuat, dan dijaga pada
kondisi yang sama.

Suhu ruang : Temperatur ruangan rata-rata, 25 oC

Waterbath : Bak air atau bejana yang memiliki perangkat pengatur


suhuyang dapat mempertahankan suhu, dipergunakan untuk
menyimpan sampel yang akan diuji

Rumus perhitungan :

N  N r   N 2  N r 
2 2
1
Sx  ........................................... III . 1
N  1

AS-01 : Penetrasi Aspal Halaman 1 dari 5 Halaman


Laboratorium Jurusan Pendidikan
Teknik Sipil dan Perencanaan

3. Prosedur Praktikum

3.1 Perlatan yang akan digunakan


 Alat Penetrasi yang dapat menggerakkan pemegang jarum naik turun tanpa
gesekan dan dapat mengukur presentasi sampai 0,1 mm.
 Pemegang jarum seberat (47,5  0,05)gr yang dapat dilepas dengan mudah
dari alat penetrasi untuk penerangan.
 Pemberat dari (50  0,05)gr dan (100  0,05)gr masing-masing
dipergunakan untuk pengukuran penetrasi dengan beban 100 gr dan 200 gr.
 Jarum penetrasi dibuat dari stainlees steel mutu 440C,atau HRC 54 sampai
60. Ujung jarum harus berbentuk kerucut terpancung dengan berat jarum 2,5
± 0,05 gram.
 Cawan contoh terbuat dari logam atau gelas berbentuk silinder dengan dasar
yang rata-rata berukuran sebagai berikut:
Penetrasi Diameter Dalam
Dibawah 200 55 mm 35 mm
200 sampai 300 70 mm 45 mm

 Bak pendam (Waterbath), Terdiri dari bejana dengan isi tidak kurang dari
10 liter dan dapat menahan suhu tertentu dengan ketelitian lebih kurang
0,1C.Bejana dilengkapi dengan pelat dasar berlubang-lubang,terletak 50
mm diatas dasar bejana dan tidak kurang dari 100 mm dibawah permukaan.
 Tempat air untuk benda uji ditempatkan dibawah alat penetrasi.Tempat
tersebut mempunyai isi tidak kurang dari 350 ml,dan tinggi yang cukup
untuk merendam benda uji tanpa bergerak.
 Pengukur waktu untuk pengukuran penetrasi dengan alat otomatis,
kesalahan alat tersebut tidak boleh melebihi 0,1 detik.
 Termometer.
 Tin box.
 Oven

AS-01 : Penetrasi Aspal Halaman 2 dari 5 Halaman


Laboratorium Jurusan Pendidikan
Teknik Sipil dan Perencanaan

Gambar 3-1 :Alat Penetrometer

3.2. Penyiapan Sampel


 Aspal dipanaskan perlahan-lahan serta diaduk hingga cukup cair untuk
dapat dituangkan. Pemanasan contoh untuk ter tidak lebih dari 60C diatas
titik lembek dan untuk bitumen tidak lebih dari 90C diatas titik lembek.
Waktu pemanasan tidak boleh lebih dari 30 menit. Contoh diaduk perlahan-
lahan agar udara tidak masuk kedalam contoh.Setelah contoh cair merata
segera dituangkan kedalam tempat contoh dan didiamkan hingga
dingin.Tinggi contoh dalam tempat tersebut tidak kurang dari angka
penetrasi ditambah 10 mm. di buat 2 benda uji ( duplo ).

3.3. Pengujian penetrasi


3.3.1. Pengujian Penetrasi Sebelum Kehilangan Berat
 Benda uji didiamkan pada suhu ruang 25C. Benda uji didiamkan selama 1
jam.

AS-01 : Penetrasi Aspal Halaman 3 dari 5 Halaman


Laboratorium Jurusan Pendidikan
Teknik Sipil dan Perencanaan

 Benda uji diletakkan dalam tempat air yang lalu masukkan tempat air
tersebut dalam bak perendam yang telah berada pada suhu yang telah
ditentukan.Benda uji didiamkan dalam bak tersebut selama 1,5 jam.
 Pemegang jarum diperiksa agar jarum dapat dipasang dengan baik dan
jarum penetrasi dibersihkan dengan toluena atau pelarut lain kemudian
jarum tersebut dikeringkan dengan lap bersih, kemudian jarum dipasang
pada pemegang jarum.
 Pemberat 50 gram diletakkan di atas jarum untuk memperoleh beban
sebesar (100  0,1)gr.
 Tempat air dipindahkan dari bak perendam kebawah alat penetrasi.
 Jarum diturunkan perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh
permukaan benda uji. Kemudian angka 0 diatur pada arloji penetrometer,
sehingga jarum penunjuk berimpit dengannya.
 Pemegang jarum dilepaskan dan serentak stopwach dijalankan selama
jangka waktu (5  0,1) detik.
 Arloji penetrometer diputar dan kita baca angka penetrasi yang berimpit
dengan jarum penunjuk. Kemudian dibulatkan hingga angka 0,1 mm
terdekat.
 Jarum dilepaskan dari pemegang jarum dan kita siapkan untuk pekerjaan
berikutnya.
 Pekerjaan diatas dilakukan tidak kurang dari 3 kali untuk benda uji yang
sama dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan berjarak satu sama lain dan
dari tepi dinding lebih dari 1 cm.
3.3.2. Pengujian Penetrasi Setelah Kehilangan Berat
 Benda uji didiamkan pada suhu ruang 25C. Benda uji didiamkan selama 1
jam.
 Benda uji dimasukkan kedalam oven, selama 2 jam.
 Benda uji diletakkan dalam tempat air yang kecil dan kita masukkan tempat
air tersebut dalam bak perendam yang telah berada pada suhu yang telah
ditentukan.Benda uji didiamkan dalam bak tersebut selama 1,5 jam.
 Pemegang jarum diperiksa agar jarum dapat dipasang dengan baik dan
jarum penetrasi dibersihkan dengan toluena atau pelarut lain kemudian

AS-01 : Penetrasi Aspal Halaman 4 dari 5 Halaman


Laboratorium Jurusan Pendidikan
Teknik Sipil dan Perencanaan

jarum tersebut dikeringkan dengan lap bersih,kemudian jarum dipasang


pada pemegang jarum.
 Pemberat 50 gram diletakkan diatas jarum untuk memperoleh beban sebesar
(100  0,1)gr.
 Tempat air dipindahkan dari bak perendam kebawah alat penetrasi.
 Jarum diturunkan perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh
permukaan benda uji.Kemudian angka 0 diatur pada arloji
penetrometer,sehingga jarum penunjuk berimpit dengannya.
 Pemegang jarum dilepaskan dan serentak stopwach dijalankan selama
jangka waktu (5  0,1) detik.
 Arloji penetrometer diputar dan kita baca angka penetrasi yang berimpit
dengan jarum penunjuk.Kemudian dibulatkan hingga angka 0,1 mm
terdekat.
 Jarum dilepaskan dari pemegang jarum dan kita siapkan untuk pekerjaan
berikutnya.
 Pekerjaan diatas dilakukan tidak kurang dari 3 kali untuk benda uji yang
sama dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan berjarak satu sama lain dan
dari tepi dinding lebih dari 1 cm.

4. Daftar Pustaka
 American Association Of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO)
 American Society For Testing Materials (ASTM)
 Atkins, H.N. (1983). Highway Materials, Soils and Concretes. Reston
Publisihing

AS-01 : Penetrasi Aspal Halaman 5 dari 5 Halaman

Anda mungkin juga menyukai