Anda di halaman 1dari 4

Aturan Jual Beli

Jual beli adalah menukar sesuatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang
tertentu (akad).

”Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)
“janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”. (An-
Nisa: 29).
Rukun Jual Beli
1. Penjual dan pembeli
Syaratnya adalah :
a. Berakal, agar dia tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya.
b. Dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa). Keterangannya yaitu ayat di atas (suka
sama suka).
c. Tidak mubadzir (pemboros), sebab harta orang yang mubazir itu di tangan walinya.
Firman Allah Swt :

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna


akalnya. Harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupanmu, berilah mereka belanja.” (An-Nisa: 5)

d. Baligh (berumur 15 tahun keatas/dewasa). Anak kecil tidak sah jaul belinya.
Adapun anak-anak yang sudah mengerti tetapi belum sampai umur dewasa,
menurut pendapat sebagian ulama, mereka diperbolehkan berjual beli barang yang
kecil-kecil, karena kalau diperbolehkan sudah tentu menjadi kesullitan dan
kesukaran, sedangkan agama islam sekali-tidak akan menetapkan peraturan yang
mendatangkan kesulitan kepada pemeluknya.

2. Uang dan benda yang dibeli


Syaratnya adalah :
a. Suci
Barang bernajis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan,
seperti kulit binatang atau bangkai yang belum dimasak.
Sabda Rasululah Saw:
Dari Jabir bin Abdullah. Rasulullah Saw, berkata, “Sesungguhnya Allah dan
Rasul-Nya telah mengharamkan menjual arak dan bangkai, begitu juga babi dan
berhala”. Pendengar bertanya, “Bagaimana dengan lemak bangkai, ya
Rasulullah? Karena lemak itu berguna buat cat perahu, buat minyak kulit, dan
minyak lampu.” Tidak boleh, semua itu haram, selakalah orang Yahudi tatkala
Allah mengharamkan lemak bangkai kaki, mereka hancurkan lemak itu sampai
menjadi minyak, kemudian mereka jual minyaknya, lalu mereka makan uangnya”

b. Ada manfaatnya
Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dilarang pula mengambil
tukarannya karena hal itu termasuk dalam arti menyia-nyiakan (memboroskan)
harta yang terlarang dalam kitab suci.
Firman Allah Swt:

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudara-saudara setan”. (Al-Isra: 27).

c. Barang itu dapat diserahkan. Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat
diserahkan kepada yang membeli, misalnya ikan dalam laut, barang rampasan yang
masih berada di tangan yang merampasnya, barang yang dijaminkan, sebab semua
itu mengandung tipu daya.

Dari Abu Hurairah. Ia berkata, “Nabi Saw. Telah melarang memperjualbelikan


barang yang mengandung tipu daya”. (Riwayat Muslim dan Lain-lainnya).

d. Barang tersebut merupakan kepunyaan si penjual, kepunyan yang diwakilinya, atau


yang mengusahakan.
Sabda Rasulullah SAW:

“Tidak sah jual beli selain mengenai barang yang dimiliki”. (Riwayat Abu dawud
dan Tirmizi).

e. Barang tersebut diketauhi oleh si penjual dan sipembeli; zat, bentuk, kadar (ukuran),
dan sifat-sifatnya jelas.

3. Lafaz Ijab dan Kabul


Ijab adalah perkataan penjual, umpamanya, “saya jual barang ini sekian”.
Kabul adalah ucapan si pembeli, “saya terima (saya beli) dengan harga sekian.”
Keterangannya yautu ayat yang mengatakan bahwa jual beli itu suka sama suka, dan juga
sabda Rasulullah Saw. Di bawah ini:

“Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka sama suka”. (Riwayat Ibnu Hibban).
Sedangkan suka sama suka itu tidak dapat diketahui dengan jelas kecuali dengan
perkataan, karena perasaan suka itu bergantung pada hati masing-masing. Ini pendapat
kebanyakan ulama. Tetapi Nawawi, Mutawali, Bagawi, dan beberapa ulama yang lain
berpendapat bahwa lafaz itu tidak menjadi rukun, hanya menurut adat kebiasaan saja.
Apabila menurut adat telah berlaku bahwa hal yang seperti itu sudah dipandang sebagai
jual beli, itu saja sudah cukup karena tidak ada suatu dalil yang jelas untuk mewajibkan
lafaz.
Menurut ulama yang mewajibkan lafaz, lafaz itu diwajibkan memenuhi beberapa
syarat:
a. Keadaan Ijab dan Kabul berhubungan. Artinya, salah satu dari keduanya pantas menjadi
jawaban dari yang lain dan belum berselang lama.
b. Makna keduanya hendaklah mufakat (sama) walaupun lafaz keduanya berlainan.
c. Keduanya tidak disangkutan dengan urusan yang lain, seperti katanya,” kalau saya jadi
pergi, saya jual barang ini sekian”.
d. Tidak berwaktu, sebab jual beli berwaktu. Seperti sebulan ataupun setahun itu tidak sah.