Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN LDL DIRECT DAN INDIRECT METODE SPEKTROFOTOMETRI

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah kimia klinik

Dosen pengampu : Devi Etivia Purlinda, SST., M.Si.

Disusun oleh

1. Shelomita Acintyanathi P1337434119060


2. Windi Wahyuni P1337434119061
3. Nila Rizani P1337434119070
4. Nurhaliza Suid P1337434119071
5. Raras Angger K. A.P. P1337434119080
6. Felina Dwi Pasari P1337434119081
7. Muhammad Nathiqul A. P1337434119091
8. Fiki Ulayatunnisa' P1337434119092
9. Hanif Shaifa Risma P1337434119101
10. Listya Paraya Mukti P1337434119102

PROGRAM STUDI DIII TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG


2021

A. Judul
Pemeriksaan LDL Direct dan Indirect metode spektrofotometri
B. Tujuan
1. LDL direct
Uji estimasi LDL, kolesterol dalam sampel serum atau plasma dengan
menggunakan metode Spektrofotometri.
2. LDL indirect
Menentukan kolesterol LDL secara in vitro metode CHOD-PAP dengan sistem
fotometri.
C. Prinsip
1. LDL direct
Ester kolesterol (bagian dari LDL) CEH kolesterol + asam lemak
Kolesterol + O2 (bagian dari LDL) CHOD H2O2 + Kolesterol
H2O2 + Kromogen POD Pewarna merah + H2O
2. LDL indirect
Low Density Lipoprotein (LDL) diendapkan dengan menambahkan heparin. High
Density Lipoprotein (HDL) dan Very Low Density Lipoprotein (VLDL) akan
tetap berada dalam supernatan setelah sentifugasi dan diukur secara enzimatis
dengan metode CHOD-PAP. Konsentrasi kolesterol LDL dihitung sebagai selisih
kolesterol total dan kolesterol dalam supernatan.
D. Dasar Teori
Profil lipid adalah unsur-unsur lemak dalam plasma yang terdiri dari kolestrol,
trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Tiga unsur pertama berkaitan dengan
protein tertentu (Apoprotein) membentuk lipoprotein yang terdiri dari kilomikron,
VLDL (Very low density lipoprotein), LDL (low density lipoprotein), dan HDL (high
density lipoprotein), masing-masing mempunyai unsur lemak dengan kandungan yang
berbeda. Ikatan ini memungkinkan asam lemak dapat larut dalam darah dan kemudian
dikirim keseluruh tubuh. (Kee JL, 2008)
Low density lipoprotein (LDL) merupakan lipoprotein yang mengangkut
kolestrol terbesar untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh dan pembuluh nadi.
LDL berukuran kecil sehingga mudah masuk ke pembuluh darah, terutama jika
dinding tersebut rusak karena beberapa faktor resiko, seperti usia, kebiasaan merokok,
hipertensi atau faktor keturunan. LDL disebut kolestrol jahat karena efeknya yang
mudah melekat pada dinding pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan
penumpukan dan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Hal ini dapat
meningkatkan resiko penyakit jantung. Kadar LDL di dalam darah sangat tergantung
dari lemak yang masuk. Semakin banyak lemak yang masuk semakin menumpuk
LDL. Hal ini disebabkan LDL merupakan lemak jenuh yang tidak mudah larut
(Wiryowidagdo, 2002).
LDL mempunyai densitas 1.019–1.063, diameter 9-15 nm dan mengandung
cholestryl esters, apo B-100. Fungsi LDL adalah untuk membawa trigliserida dan
endogen dari hati ke jaringan. LDL mengandung paling banyak kolestrol dari semua
lipoprotein, dan merupakan pengirim kolestrol utama dalam darah, sel hati
memproduksi kolestrol dalam tubuh, kemudian disebarkan oleh sistem tubuh LDL,
kolestrol dalam darah ke jaringan-jaringan tubuh (Soeharto, 2004).
Metode pemeriksaan LDL Kolestrol dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode direct
dan indirect, pemeriksaannya sebagai berikut :
1. Metode Direct (Secara Langsung)
 Metode Presipitasi
Metode presipitasi langsung dengan cara mempresipitasikan LDL-Kolestrol
dengan polyvinyl sulfat atau heparin pada PH rendah. Kadar LDL-Kolestrol
dihitung sebagai selisih dari total kolestrol dan kadar yang terdapat pada
supernatant. Prinsip metode ini adalah LDL diendapkan dan setelah
disentrifugasi HDL dan VLDL ada di supernatant. LDL dapat dihitung dari
perbedan kolestrol supernatant dan serum total. Metode presipitasi jauh lebih
tidak terpengaruh oleh peningkatan kadar trigliserida bila dibandingkan
dengan perhitungan fridewald. Metode presipitasi tetap dapat melakukan
pemeriksaan walaupun kadar trigliserida tinggi. Metode presipitasi juga dapat
langsung memeriksa kadar LDL Kolestrol tanpa memerlukan pemeriksaan
kolestrol, trigliserida, dan HDL kolestrol (Sun, dkk, 2005).
Salah satu kelebihan metode presipitasi dibandingkan perhitungan fridewald
adalah kemampuannya untuk memeriksa LDL kolestrol dalam spesimen non
puasa karena kilomikron dapat di eliminasi oleh reagen. Harus dicatat bahwa
semua perbandingan metode pemeriksaan LDL Kolestrol saat ini masih
menggunakan spesimen puasa (Putra, 2012).
2. Metode Indirect (Secara Tidak Langsung)
 Metode Formula Fridewald
LDL kolestrol = Kolestrol Total - Trigliserida - HDL

5
Validasi suatu formula oleh fridewald telah menghasilkan penggunaan suatu
nilai LDL-Kolestrol yang telah dihitung. Prosedur ini konsentrasi total,
trigliserida, dan HDL-Kolestrol terlebih dahulu diukur dan kemudian
konsentrasi LDL-Kolestrol dihitung. Formula tersebut tergantung pada asumsi
bahwa VLDL-C terdapat dalam konsentrasi yang sama dengan seperlima
konsentrasi trigliserida. Kadar total kolestrol, HDL dan trigliserida dalam
darah dapat diketahui dengan tes laboratorium setelah pasien puasa sekurang-
kurangnya 10 jam dan sebaiknya 12 jam. Kadar total kolestrol, HDL dan
trigliserida umumnya diukur secara fotometri, sedangkan metode yang
digunakan untuk total kolestrol adalah CHOD-PAP, HDL menggunakan
metode presipitasi dan trigliserida metodenya GPO-PAP, adapun LDL
ditentukan secara tidak langsung yakni destinasi memakai rumus yang disusun
oleh Fridewald,Levy dan fredrickson (Soeharto, 2004).
Pemeriksaan LDL dengan berkembangnya waktu diperkenalkan suatu metode
baru dalam menentukan kadar LDL kolestrol yaitu metode direk (presipitasi),
yang dikembangkan dari pemeriksaan LDL indirek (fridewald). Kelamahan
cara indirek (fridewald) yaitu, bila kilomikron meninggi, kesalahan
menghitung menjadi besar. Pemeriksaan laboratorium rumus fridewald tidak
dapat digunakan bila kadar trigliserida >400 mg/dl. Metode formula fridewald
banyak digunakan, dimana kolestrol trigliserida dan HDL Kolestrol diukur,
kemudian LDL Kolestrol dihitung dengan menggunakan rumus fridewald
(Murat, dkk, 2008).
E. Prosedur
a. Metode Indirect
Pra Analitik :
 Prosedur Persiapan Pasien
1. Berikan arahan pada pasien untuk melakukan puasa 12 jam. Sebaiknya di
mulai dari jam 7 atau 8 malam. Selama puasa pasien diperbolehkan meminum
air putih dan tidak boleh melakukan aktivitas berat selama puasa.
 Prosedur Pengambilan Darah Vena
1. Pasang tourniquet kira-kira 10 cm di atas lipat siku, lakukan perabaan pada
area vena untuk memastikan posisi vena.
2. Didesinfeksi area yang akan di tusuk dengan menggunakan kapas alcohol 70%
dan biarkan kering dengan sendirinya. Bila sudah didesinfeksi jangan disentuh
area yang sudah dibersihkan.
3. Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas kurang
lebih 30˚.
4. Apabila darah sudah terlihat pada indicator, tarik tangkai spuit hingga darah
penuh masuk ke dalam spuit, buka pembendung kemudian tangan pasien di
beri plaster.
5. Darah yang didapat pada spuit di pindahkan ke dalam tabung vacutainer.

Prosedur Analitik :

1. Mengumpulkan 3 sampai 5 mL sampel darah vena dalam tabung specimen


darah.
2. Kemudian, lakukan sentrifuge pada sampel untuk mendapatkan serum atau
plasma
3. Diamkan reagen dan specimen pada suhu kamar
4. Lalu, melakukan prosedur pemeriksaan kolesterol total, trigliserida dan
kolesterol – HDL, hasil pemeriksaan kolesterol total, trigliserida dan
kolesterol HDL digunakan untuk menetapkan kolesterol LDL

Pasca Analitik :
1. Lakukan perhitungan dengan rumus :
Trigliserida
Kolesterol LDL = (kolesterol total) – (kolesterol HDL) – ( )
5
b. Metode Direct
1. Pra Analitik
a) Persiapan Pasien
Untuk pemeriksaan kolesterol LDL, pasien disarankan berpuasa terlebih
dahulu selama 12 jam.
b) Persiapan sampel
Sampel yang digunakan adalah sampel darah vena.
1) Memasang tourniquet tiga jari di atas lipat siku, melakukan
palpasi untuk memastikan posisi vena.
2) Melakukan desinfeksi area yang akan di tusuk dengan kapas
alcohol 70% dan biarkan kering dengan sendirinya. Bila sudah
didesinfeksi jangan disentuh area yang sudah dibersihkan.
3) Menusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke
atas dan sudut kemiringan kurang lebih 30˚.
4) Apabila darah sudah terlihat pada indicator, menarik tangkai spuit
hingga darah penuh masuk ke dalam spuit, buka pembendung
kemudian tangan pasien di beri plaster. Membendung vena tidak
boleh lebih dari satu menit.
5) Darah yang didapat pada spuit di pindahkan ke dalam tabung
vacutainer.
2. Analitik
a) Mengumpulkan 3 sampai 5 mL sampel darah vena dalam tabung
centrifuge.
b) Kemudian, melakukan sentrifuge pada sampel untuk mendapatkan serum
atau plasma.
c) Selanjutnya, membuat larutan sebaai berikut :

Kalibrator Test
Reagen 1 600 µl 600 µl
Kalibrator 5 µl -
Sampel - 5 µl
d) Inkubasi petama, yaitu membuat reagen dan sampel/kalibrator sesuai
dengan tabel di atas, kemudian inkubasi selama 5 menit pada suhu 37 °C.
e) Selanjutnya membuat larutan sebagai berikut :

Reagen 2 200 µl 200 µl

F. Hasil
 Perhitungan LDL Precipitant (Indirect)
0,219
cholesterol ∈supernatant = × 200 mg/dL
0,697
= 62,840 mg/dL

LDL Cholesterol = 200 – 62,840


= 137,159 mg/dL

 Perhitungan LDL Direct


Abs standar = 0,121 nm
Factor = 1009,1
Abs sampel = 0,093 nm
Conc. on Vial label 122,4 mg/dL

0,093 ×122,4
LDL Cholesterol= [mg/dL]
0,121
= 94,076 mg/dL
G. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil pemeriksaan LDL-
Kolesterol secara indirect menunjukan angka 137,159 mg/dL, sedangkan hasil
pemeriksaan LDL-Kolesterol secara direct menunjukan angka 94,076 mg/dL. Nilai
normal LDL Kolesterol :< 100 mg/dl. Metode pemeriksaan LDL-Kolesterol sendiri
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu secara indirect dan direct. Pengukuran kadar
LDL-Kolesterol secara indirect, konsentrasi total, trigliserida dan HDL-Kolestrol
terlebih dahulu diukur dan kemudian konsentrasi LDL-Kolestrol dihitung. Rumus
Friedewald adalah suatu perhitungan yang memerlukan parameter kolesterol total,
trigliserida dan kolesterol HDL (pasien puasa sekurang-kurangnya 10 - 12 jam
sebelum pemeriksaan). Rumus Friedewald merupakan metode yang paling sering
digunakan dalam mengukur kolesterol LDL karena sederhana dan harganya yang
lebih murah daripada metode direk, hanya saja pada rumus Friedewald memiliki
keterbatasan dalam kondisi tertentu, yaitu perhitungannya sangat dipengaruhi oleh
kadar trigliserida, dan tidak dapat dilakukan pada kadar plasma trigliserida >400
mg/dL. Sedangkan pengukuran kadar LDL-Kolesterol secara direk sering juga
digunakan karena merupakan metode yang akurat, dapat langsung dilakukan, tanpa
memeriksa kolestrol total, trigliserida dan kolesterol HDL Hanya saja kelemahan di
metode ini yaitu reagen yang digunakan cukup mahal dan waktu yang dibutuhkan
lebih lama, sekitar 10 – 30 menit, bila dibandingkan dengan rumus Friedewald.
Pengukuran kadar kolesterol LDL dengan rumus Friedewald memerlukan tiga
parameter yaitu kolesterol HDL, kolesterol total dan trigliserida. Kesalahan pada
setiap pengukuran ketiga lipoprotein tersebut dapat menyebabkan kesalahan estimasi
dan perbedaan hasil dengan metode direk.
H. Kesimpulan
Low density lipoprotein (LDL) merupakan lipoprotein yang mengangkut kolestrol
terbesar untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh dan pembuluh nadi.Pada
pemerikaan ini LDL ini terdapat dua cara yaitu direct dan indirect dengan
menggunakan metode spektrofotometri.Dari pemeriksaan ini didapatkan hasil LDL-
Kolesterol secara indirect menunjukan angka 137,159 mg/dL, sedangkan hasil
pemeriksaan LDL-Kolesterol secara direct menunjukan angka 94,076 mg/dL.Kadar
kolestrol dari pemeriksaan LDL indirect termasuk resiko tinggi batas atas, sedangakn
untuk LDL secara direct termasuk normal karena kadar LDL kolestrol normal adalah
<100 mg/dL.
I. Daftar Pustaka
Rosmala. dkk. 2018 . Perbedaan Hasil Pengukuran Kadar Kolesterol LDL antara
Metode Direk dan Indirek dengan Menggunakan Rumus Friedewald pada
Tikus Putih (Rattus norvegicus).
http://jku.unram.ac.id/article/download/178/125 (diakses tanggal 27 Februari
2021).

Sinaga, Hartati Rika. 2018. Karya Tulis Ilmiah Analisa Kadar LDL (Low Density
Lipoprotein) Pada Mahasiswa/i yang Obesitas di Jurusan Analis Kesehatan
Poltekkes Medan. Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Medan. Diakses dari
http://repo.poltekkes-medan.ac.id/jspui/bitstream/123456789/1609/1/Rika
%20Sinaga.pdf pada tanggal 26 Februari 2021.
Djasang, Syahida. 2017. ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN KADAR LOW-
DENSITY LIPOPROTEIN (LDL-CHOL) METODE DIREK DAN INDIREK.
Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Makassar. Diakses dari
http://journal.poltekkes-
mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis/article/download/846/521 pada tanggal 26
Februari 2021.

Anda mungkin juga menyukai