Anda di halaman 1dari 11

Resume Supply Chain Management

By Group 2
Yulida Anggia (1910526007)
Restu Venni Dezola(1910526016)
Huda Rahdima (1910526034
Aulia Refalina (1910526031)
Khairi Hayati Zulyeni (1910526015)
Satria (1910526014)

A.   Pengertian Supply Chain Manajement (SCM).


Supply chain adalah sebuah sistem yang melibatkan proses produksi,
pengiriman, penyimpanan, distribusi dan penjualan produk dalam rangka
memenuhi permintaan akan produk tersebut .
Supply  Chain Management  (SCM)  adalah  kegiatan  yang melibatkan 
koordinasi pengelolaan  bahan  baku/material,  informasi  bisnis  dan  arus 
keuangan  dalam  hubungan bisnis  antar  organisasi/perusahaan  yang 
berpartisipasi.  SCM  diartikan  juga  sebagai seluruh jenis kegiatan
pengolahan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir kepada
konsumen untuk kemudian dilakukan proses daur ulang bagi produk yang
sudah dipakai, sehingga SCM  disini  bersifat  siklus  yang  berjalan  terus-
menerus  seiring  dengan  proses bisnis suatu perusahaan.
Pengelolaan yang efektif atas integrasi antar pemain dalam rantai pasokan,
perencanaan dan pengendalian yang baik atas kegiatan pengadaan pasokan,
efisiensi aliran pasokan hingga sampai ke titik konsumsi akhir.
Atau dapat di sebut juga perancangan, desain, dan kontrol arus material
dan informasi sepanjang rantai pasokan dengan tujuan kepuasan konsumen
sekarang dan dimasa depan. Supply Chain adalah jaringan perusahaan-
perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan
menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.
Perusahaan-perusahaan tersebut termasuk supplier, pabrik, distributor,
toko atau ritel, sertu perusahaan pendukung seperti jasa logistik. Ada 3
macam hal yang harus dikelola dalam supply chain yaitu pertama, aliran
barang dari hulu ke hilir contohnya bahan baku yang dikirim dari supplier ke
pabrik, setelah produksi selesai dikirim ke distributor, pengecer, kemudian ke
pemakai akhir.

B.   Tujuan Supply Chain Management 


Tujuan  Supply  Chain  Management  adalah  untuk  memastikan  sebuah 
produk berada pada  tempat dan waktu yang  tepat untuk memenuhi
permintaan konsumen  tanpa menciptakan  stok  yang  berlebihan  atau 
kekurangan.  Sebuah  operasi  yang  effisien  dari supply  chain  tergantung 
pada  lengkap  dan  akuratnya  aliran  data  yang  berhubungan dengan
produk yang diminta dari retailer kepada buyer , sistem transportasi dan
kembali ke manufaktur. 
Dalam  rangka memenuhi  stok  barang  yang  tersedia  untuk  retailer  ,
manufaktur harus menentukan jumlah produk yang diproduksi pada waktu
tertentu. Dengan demikian berarti manufaktur harus meramalkan/ membuat
perkiraan  jumlah penjualan. Dalam hal ini yang terbaik dilakukan adalah
bersama-sama dengan retailer menggunakan suatu tolak  ukur  seperti
misalnya :
CPFR( Collaborative Planning  Forecasting  and Replenishment  ).
Ramalan ini digunakan untuk memperkirakan jumlah dan jenis bahan mentah
yang harus dibeli, pengapalan dan waktu pengiriman untuk bahan mentah 
tersebut dan waktu yang dibutuhkan  untuk  proses  di  manufaktur. 
Kemudian  barang  yang  sudah  jadi  disimpan didalam gudang sampai
diorder oleh distributor. Distributor  membeli  produk  dari  manufaktur  dalam 
jumlah  yang  besar  dan mungkin  barang  tersebut  dimuat  dalam  truck,
pallet  atau  kemasan  lain  dari  produk tersebut.  Pada  saat  distributor 
menerima  pengiriman, kemudian  dipecah  menjadi pengiriman yang lebih
kecil untuk dikirim ke retailer.
A.   Fungsi Supply Chain Manajement ( SCM ).
1.    SCM secara fisik mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan
menghantarkannya ke pemakai akhir.
2.    SCM sebagai mediasi pasar, yakni memastikan bahwa apa yang
disuplai oleh rantai supply mencerminkan aspirasi pelanggan atau
pemakai akhir tersebut.

B.   Tujuh prinsip dalam SCM


1.    Segmentasi pelanggan berdasarkan kebutuhannya.
2.    Sesuaikan jaringan logistik untuk melayani kebutuhan mpelanggan yang
berbeda.
3.    Dengarkan signal pasar .
4.    Deferensiasi produk pada titik yang lebih dekat dengan konsumen.
5.    Kelola sumber-sumber suplai secara strategis.
6.    Kembangkan strategi teknologi untuk keseluruhan rantai supply chain .
7.    Adopsi pengukuran kinerja untuk sebuah supply chain secara keseluruhan.

C.   Manfaat SCM


Secara umum penerapan konsep SCM dalam perusahaan akan
memberikan manfaat yaitu (Jebarus, 2001) kepuasan pelanggan,
meningkatkan pendapatan, menurunnya biaya, pemanfaatan asset yang
semakin tinggi, peningkatan laba, dan perusahaan semakin besar. Berikut ini
adalah penjelasannya :
1.    Kepuasan pelanggan. Konsumen atau pengguna produk merupakan
target utama dari aktivitas proses produksi setiap produk yang
dihasilkan perusahaan. Konsumen atau pengguna yang dimaksud
dalam konteks ini tentunya konsumen yang setia dalam jangka waktu
yang panjang. Untuk menjadikan konsumen setia, maka terlebih dahulu
konsumen harus puas dengan pelayanan yang disampaikan oleh
perusahaan.
2.    Meningkatkan pendapatan. Semakin banyak konsumen yang setia dan
menjadi mitra perusahaan berarti akan turut pula meningkatkan
pendapatan perusahaan, sehingga produk-produk yang dihasilkan
perusahaan tidak akan ‘terbuang’ percuma, karena diminati konsumen.
3.    Menurunnya biaya. Pengintegrasian aliran produk dari perusahan
kepada konsumen akhir berarti pula mengurangi biaya-biaya pada jalur
distribusi.
4.    Pemanfaatan asset semakin tinggi. Aset terutama faktor manusia akan
semakin terlatih dan terampil baik dari segi pengetahuan maupun
keterampilan. Tenaga manusia akan mampu memberdayakan
penggunaan teknologi tinggi sebagaimana yang dituntut dalam
pelaksanaan SCM.
5.    Peningkatan laba. Dengan semakin meningkatnya jumlah konsumen
yang setia dan menjadi pengguna produk, pada gilirannya akan
meningkatkan laba perusahaan.
6.    Perusahaan semakin besar. Perusahaan yang mendapat keuntungan
dari segi proses distribusi produknya lambat laun akan menjadi besar,
dan tumbuh lebih kuat.

Keenam manfaat yang sudah dijelaskan seperti tersebut di atas


merupakan manfaat tidak langsung. Secara umum, manfaat langsung dari
penerapan SCM bagi perusahaan adalah :
SCM secara fisik dapat mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan
mengantarkannya kepada konsumen akhir. Manfaat ini menekankan pada
fungsi produksi dan operasi dalam sebuah perusahaan. Dalam fungsi ini
dilakukan penggunaan dari seluruh sumber daya yang dimilki dalam sebuah
proses transformasi yang terkendali, untuk memberikan nilai pada produk
yang dihasilkan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan dan
mendistribusikannya kepada konsumen yang dibidik.
SCM berfungsi sebagai mediasipasar, yaitu memastikan apa yang dipasok
oleh rantai suplai mencerminkan aspirasi pelanggan atau konsumen akhir
tersebut. Dalam hal ini fungsi pemasaran yang akan berperan. Melalui
pelaksanaan SCM, pemasaran dapat mengidentifikasi produk dengan
karakteristik yang diminati konsumen. Selanjutnya fungsi ini harus mampu
mengidentifikasi seluruh atribut produk yang diharapkan konsumen tersebut
dan mengkomunikasikan kepada perancang produk. Apabila seleksi
rancangan produk sudah dilakukan dan dilakukan pengujian maka produk
dapat diproduksi. Sehingga SCM akan berperan dalam memberikan manfaat
seperti point 1 tersebut.

D.   Persyaratan Penerapan SCM


Sebagai suatu konsep yang melibatkan banyak pihak sebagai mata rantai,
SCM menuntut beberapa persyaratan yang tidak hanya terkait dengan
material, tetapi juga informasi. Syarat utama dari penerapan SCM tentunya
dukungan manajemen. Manajemen semua level dari strategis sampai
operasional harus memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan,
pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, sampai pengendalian. Selain
dukungan manajemen, syarat lain merupakan syarat yang melibatkan faktor
eksternal yaitu pemasok dan distributor. 
Sebelum membangun komitmen dan melaksanakan ‘kontrak kerja’ dengan
para pemasok, maka perusahaan terlebih dahulu harus melaksanakan
evaluasi pemasok. Sebagi catatan, melaksanakan evaluasi pemasok untuk
pemasok yang ‘bermain’ dalam pasar yang monopoli tentunya sulit dan tidak
bias dilaksanakan, sehingga yang perlu dilakukan untuk kondisi ini adalah
membangun kemitraan dalam suatu kesepakatan.
Evaluasi pemasok dilakukan apabila untuk material yang sama dapat
diperoleh lebih dari satu alternatif pemasok. Setidaknya ada tiga kriteria
dalam melakukan evaluasi pemasok, yaitu : keadaan umum pemasok,
keadaan pelayanan, dan keadaan material. Beberapa contoh indikator dari
setiap kriteria evaluasi pemasok adalah sebagai berikut (Gaspersz, 2002) :
1.    Keadaan umum pemasok
a)    Ukuran atau kapasitas produksi
b)    Kondisi financial
c)    Kondisi operasional
d)    Fasilitas riset dan desain
e)    Lokasi geografis
f)     Hubungan dagang antar industri
2.    Keadaan pelayanan
a)    Waktu penyerahan material
b)    Kondisi kedatangan material
c)    Kuantitas pemesanan yang ditolak
d)    Penanganan keluhan dari pembeli
e)    Bantuan teknik yang diberikan
f)     Informasi harga yang diberikan
3.    Keadaan material
a)    Kualitas material
b)    Keseragaman material
c)    Jaminan dari pemasok
d)    Keadaan pengepakan (pembungkusan)

Dari ketiga kriteria tersebut, bobot (berdasarkan tingkat kepentingan)


yang terbesar diberikan pada kriteria keadaan material, karena keadaan
material akan mempengaruhi kinerja fungsi produksi dan operasi khususnya
kualitas produk. Selanjutnya dilakukan penilaian untuk setiap indikator dan
dihitung total skor-nya. 
Syarat berikutnya adalah pemilihan distributor sebagai perantara
produk perusahaan sampai ke tangan konsumen akhir. Intensitas saluran
distribusi yang ideal bagi suatu perusahaan adalah bagaimana menyajikan
jenis produk secara luas dalam pemuasan kebutuhan konsumen
(Sitaniapessy, 2001). Penggunaan distributor yang terlalu sedkit dapat
membatasi penyebaran jenis produk dalam aktivitas pemasaran. Sebaliknya,
penggunaan distributor yang terlalu banyak dapat mengganggu brand image
dalam posisinya berkompetisi. Satu kunci yang penting dalam mengelola
saluran distribusi adalah menentukan berapa banyak saluran distribusi yang
dikembangkan serta membentuk suatu pola kemitraan yang menunjang
pemasaran suatu produk dalam area pemasaran tertentu.

E.   Tantangan Penerapan SCM


Meskipun SCM memiliki banyak manfaat dalam menjalankan sistem
produksi dan operasi di perusahaan, tetapi ada beberapa tantangan yang
harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan menerapkannya.
Tantangan yang pertama berasal dari lingkungan makro dan juga lingkungan
eksternal. Misalnya saja trend perekonomian global yang menunjukkan
adanya kecenderungan inflasi, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan
karena persaingan di tingkat global memang sangat meningkat. Selain itu
juga kecenderungan konsumen perilaku konsumen yang menunjukkan sikap
terlalu rumit dan banyak menuntut. Faktor eksternal lain adalah
perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang terkait dengan
teknologi informasi sedapat mungkin diadaptasi oleh perusahaan-perusahaan
yang menerapkan SCM sehingga dapat mengelola informasi yang bergerak
sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk. Sehingga sangat perlu
bagi perusahaan yang menerapkan SCM untuk memiliki peralatan fungsional
seperti (Watanabe, 2001) :

1.    Demand management / forecasting


2.    Advanced planning and scheduling
3.    Transportation management
4.    Distribution and deployment
5.    Production planning
6.    Available to promise
7.    Supply Chain Modeler
8.    Optimizer (Linier programming, non linier programming, heuristic,
dan genetic algorithm)
Selain tantangan-tantangan tersebut, tantangan yang juga sering
dihadapi khususnya negara berkembang adalah masalah infrastruktur
termasuk birokrasi yang rumit. Masalah ini akan memberikan dampak yang
signifikan terhadap tantangan SCM yang lain, yaitu teknologi informasi.
Di sisi lain, ada juga tantangan yang dapat digolongkan dalam
lingkungan mikro atau di lingkungan perusahaan itu termasuk stakeholdernya.
Misalnya saja pengukuran kinerja tidak didefinisikan dengan baik. Setiap
channel menggunakan ukuran sendirisendiri, dan tidak ada perhatian untuk
membuat keterkaitan dalam model matriks yang mengukur kinerja rantai
secara keseluruhan.
Terkait dengan manajemen persediaan, kadang-kadang kebijakan
persediaan terlalu sederhana, faktor-faktor ketidakpastian diperhitungkan
dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut, kadang-kadang terlalu statis.
Selain itu terkadang pemahaman terhadap konsep SCM tidak lengkap,
fokusnya sering berorientasi pada operasi internal saja, tidak dapat
membedakan antara pelayanan terhadap intermediate consumers dengan
end consumers. Untuk mengatasi tantangan tersebut, terlebih dahulu
perusahaan harus melakukan perbaikan dan membangun komitmen di
lingkungan internal perusahaan tersebut, baru kemudian membangun
kemitraan dan komitmen dengan mata rantai lain di lingkungan eksternal.
Satu hal yang juga penting dalam mengatasi tantangan untuk penerapan
SCM adalah mengelola informasi dalam sebuah sistem yang harus
mendukung proses pengambilan keputusan di wilayah penerapan SCM.

F.    Skema hubungan Supply Chain dan SCM


Skema hubungan yang bisa dibentuk adalah sebagai berikut :

G.   SCM dan Pengembangan IT


Dalam mendisain bagaimana mengatur aliran barang dalam supply
chain DHL selalu mempertimbangkan persoalan bagaiana memproses
informasi. Proses informasi adala salah satu fungsi utama pada SCM
perkembangan terakhir dan inovasi dalam IT telah memberian kesempatan
untuk menaikan kapabilitas proses informasi. Oleh karena itu untuk
meningkatkan performa SCM.
IT dapat memberikan dua kontribusi dalam SCM :

Perbaikan dan berbagai infomasi diantara perusahaan.


Identifikasi permasalahan yang tepat dan optimasi.
Pertama, telah dibicarakan elektronik data adalah suatu cara yang efektif
untuk mempromosikan pembagian informasi dengan tepat diantara
perusahaan sehingga bertepatan dengan tujuan SCM. Elektronik data
interchange didefinisikan sebagai suatu hubungan online komputer dan
pertukaran informasi pada transaksi diantara perusahaan. Bagaimanapun
juga, diperlukan elektronik data interchange diperlukan elektronik interchange
khusus untuk dimasukan kedalam suatu value added network atau saluran
yang dibuka dengan tujuan untuk membagi suatu jaringan. Jumlah model
yang sangat besar untuk berinvestasi dalam suatu value added network atau
saluran yang dibuka telah menjadi alasan utama mengapa
manajemen elektronic data interchange, elektronic data interchange
logistic khusus telah menjadi sangat lambat.
Bagaimanapun juga suatu permasalahan invesment kemungkinan besar
juga dpat dislesaikan dengan menyebarkan teknlogi internet. Pembagian
informasi diantara perusahaan dapat diandalkan dengan web elektronik data
interchange. Daripada membuka saluran elektronik data interchange.
Meskipun kenyataannya internet menimbulakan beberapa masalah pada
keamanan dan standarisasi, web elektronik data interchange sangat berguna
dikarenakan memiliki biaya yang rendah pada invesment dibandingkan
dengan membangun jaringan terbuka. Dari manfaat ini web elektronik data
interchange telah memerikan kemungkinan dalam mempromosikan
pembagian informasi diantara perusahaan lebih jauh lagi, emggunaan internet
dikombinasikan dengan ITS menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki
sistem logistik kota.
Pembagian informasi tidak hanya diperkenalkan oleh perusahaan swasta
tetapi oleh pemerintah juga sebagai contoh dalam logistik internasional, sejak
wewenang pemerintah tidak terhubung secara efisien dengan yang lainnya
atau dengan perusahaan swasta ketika melakukan prosedur bea cukai, ini
menjadi sumber hambatan dalam logistik.
Disamping kemudahan penggunaan dari EDI atau Web-EDI, ERP juga
telah mendapatkan perhatian yang luas. ERP adalah suatu metode ngatur
informasi dengan tujuan berbagi informasi perusahaan pada saat ini
pengenalan ERP dalam setiap perusahaan adalah komplementasi satu sama
lainnya oleh EDI agar berbagai informasi diantara perusahaan dalam SCM.
Kedua, karena berbagai informasi memberikan banyak data yang
tersedia, kita harus merumuskan masalah berdasarkan data, dan
menemukan cara untuk menyelesaikannya. Perkembangan aplikasi software
sebenarnya untuk menyelesaikan berbagai masalah telah mendapatkan
keuntungan lebih besar dengan perkembangan IT saat ini. Software untuk
merealisasikan SCM secara bersamaan disebut Supply Chain Planning
Software (SCPS). SCPS terdiri dari beberapa software pada manufacturing
planning, demand forecasting, transportation planning, inventory management
schecduling, dan lain-lain. Pada umumnya, kemajuan IT telah
mengembangkan secara cepat pembagian atau berbagai informasi diantara
perusahaan yang diperlukan untuk SCM, dan telah menyebabkan perbaikan
dalam kualitas dari aplikasi software untuk memproses informasi
atau software supply chain planning.

Kesimpulan
1.    Dengan adanya konsep Supply Chain Manajement ( SCM ).Para pelaku-
pelaku bisnis lebih mudah untuk menciptakan produk-produk handal,
berkualitas dan cepat. 
2.    Proses Pengolahan produk dari awal perencanaan, pemrodukan sampai
pendstribusian menjadi semakin terstruktur dan terkoordinir dengan baik. 
3.    Lebih efisien dan efektif dalam mengelola produk di sebuah instansi
perusahaan.
4.    Penerapan konsep SCM dalam perusahaan akan memberikan manfaat
yaitu (Jebarus, 2001) kepuasan pelanggan, meningkatkan pendapatan,
menurunnya biaya, pemanfaatan asset yang semakin tinggi, peningkatan
laba, dan perusahaan semakin besar.
5.    Syarat utama dari penerapan SCM tentunya memberikan dukungan mulai
dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan,
sampai pengendalian.
6.    Tantangan yang harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan
menerapkannya SCM yang pertama berasal dari lingkungan makro dan
juga lingkungan eksternal.