Anda di halaman 1dari 4

1.

Tujuan Maintenance
Untuk mengoptimalisasi effisiensi mesin berdasarkan perencanaan maintenance
yang baik dan penanganan kerusakan mesin secara singkat dan memastikan
bahwa alat ukur yang digunakan memiliki keakurasian yang mampu telusur
hingga ke standar nasional dan internasional

2. Ruang Lingkup
Perencanaan schedule maintenance rutin, bulanan dan semester sesuai dengan
manual mesin terkait, pelaksanaan dan pembuatan laporan aktivitas maintenance,
perbaikan kerusakan serta instrumen alat ukur yang mempunyai efek yang kritis
terhadap produk hasil proses

3. Prosedur Kerja Maintenance


a. Preventive Maintenance

Pembuatan Schedule
 Master schedule maintenance dibuat oleh Manager/Koordinator
Maintenance/Produksi berdasarkan manual mesin yang terkait, catatan
kerusakan mesin di dalam Kartu Service mesin, schedule maintenance
tahun lalu dan jumlah staff maintenance yang ada
 Pembuatan dan pelaksanaan Schedule Maintenance listrik dan mekanik
semua Departemen Produksi menjadi tanggungjawab Dept. Maintenance
( kecuali maintenance mekanik pada bagian tenun dan rajut yang menjadi
tanggungjawab Dept. Tenun dan Rajut )
 Master schedule maintenance direview dan diatur sesuai dengan aktivitas
pelaksanaan dan ditandatangani oleh Manager/Koordinator
Maintenance/Produksi dan Plant Manager
 Master Schedule Maintenance diinformasikan pada PPIC dan Manager
Produksi
 Master schedule maintenance disimpan di Maintenance office/sub dept
produksi, dimana setiap aktivitas didalam schedule akan diberikan paraf /
initial sebagai tanda bahwa rencana tersebut sudah dilaksanakan.

Pelaksanaan Maintenance
 Staff / teknisi yang bersangkutan dengan schedulenya melakukan tugas
maintenance sesuai dengan schedule yang ada.
 Aktivitas yang dilakukan, dapat dilihat pada SOP dan checklist service
mesin yang bersangkutan
 Untuk penggantian komponen, teknisi akan mengisi form Bon Permintaan
Spare Part melalui IFS ditujukan ke Gudang Sparepart yang disetujui oleh
Manager dan Koordinator Maintenance. Apabila komponen tersebut
bukan merupakan stock spare par, maka pengadaannya dilakukan dengan
membuat Puchase Request di computer kepada Dept. Pembelian dengan
terlebih dulu disetujui oleh Manager/ Koordinator Maintenance / Produksi
dan Plant Manager
 Setiap aktivitas yang dilakukan dicatat pada kartu service mesin yang
bersangkutan
 Setelah itu teknisi yang bersangkutan akan meng-update master schedule
maintenance yang bersangkutan dengan memberi paraf
 Pada akhir minggu Manager/ Koordinator/Kabag Maintenance/Produksi
akan memeriksa aktivitas mingguan dari master schedule
 Untuk aktivitas yang belum dilaksanakan, Manager Maintenance/Produksi
akan mengkoordinasikan re-schedule dan jika perlu dikoordinasikan
dengan bagian Produksi

Break Down
 Jika terjadi break down / kerusakan yang menyebabkan produksi
dihentikan dan memerlukan bantuan Dept. Maintenance maka Staff
Produksi akan mengisi Bon Permintaan Perbaikan / BPP via workflow dan
diteruskan pada Dept. Maintenance untuk pelaksanaan perbaikan. Setiap
aktivitas perbaikan atau pergantian sparepart, maka akan dicatat pada
kartu service mesin yang bersangkutan.
 Jika perbaikan telah dilaksanakan, maka Dept. Produksi yang meminta
perbaikan akan melakukan konfirmasi penyelesaian perbaikan melalui
workflow.

Pembuatan fabrikasi alat Bantu / Modifikasi


 Untuk keperluan pembuatan fabrikasi alat Bantu, Staff Produksi /
Maintenance akan mengajukan usul yang disetujui oleh Manager Produksi
dan bila perlu disetujui oleh Plant Manager dengan menggunakan form
Komunikasi
 Apabila pembuatan fabrikasi alat Bantu tersebut sudah selesai, maka form
komunikasinya akan diberi tanda ‘selesai’ oleh Manager / Koordinator
Maintenance

Maintenance Performance
 Dept. Maintenance ( mengkoordinasikan dengan sub dept produksi
lainnya ) akan membuat laporan Maintenance Performance yang terdiri
dari jumlah kerusakan dan persentase down time berdasarkan data-data
perbaikan yang dilakukan selama 1 bulan dan dilaporkan pada Plant
manager.
 Berdasarkan maintenance performance tersebut, bagian Maintenance
menganalisa masalah dominant penyebab kerusakan tersebut dan mencari
pencapaian performance selama periode 6 bulan sebelumnya

b. Kalibrasi Peralatan Ukur


Pembuatan Schedule Kalibrasi
 Jadwal Kalibrasi Peralatan Ukur dibuat oleh Maintenance berdasarkan
referensi dari manual instrument, referensi sertifikat kalibrasi dari badan
kalibrasi, atau dari performance hasil kalibrasi alat tersebut setelah
beberapa kali dilakukan kalibrasi. Kalibrasi juga dilakukan untuk
peralatan kerja yang digunakan dalam pengukuran lingkungan
 Copy jadwal tersebut diberikan kepada pemakai alat tersebut

Pelaksanaan Kalibrasi Internal


 Sesuai tanggal jatuh tempo kalibrasi pada jadwal kalibrasi peralatan ukur,
bagian kalibrasi maintenance akan melakukan kalibrasi sesuai dengan
Standar Operasi Proses kalibrasi alat tersebut. Departemen pemakai alat
juga ikut memantau tanggal kalibrasi peralatan yang dimiliki dan
menginformasikanke Dept. maintenance jika jadwal kalibrasi jatuh tempo.
 Pada saat kalibrasi, umumnya data yang diambil 2 kali dan jika
memungkinkan dengan menggunakan minimal 3 parameter yang berbeda
dan dicatat pada form atatan Aktivitas Kalibrasi
 Untuk kalibrator / master kalibrasi hanya dipergunakan untuk aktiitas
kalibrasi dan tidak diperbolehkan untuk aktivitas alat ukur sehari-hari
 Setelah selesai kalibrasi, untuk alat yang dapat dipakai diberi label status
kalibrasi yaitu: tanggal dialkukan kalibrasi, tanggal kalibrasi berikutnya,
dan diparaf
 Dept Maintenance membuat table koreksi berdasarkan data dari hasil
kalibrasi Internal dengan menggunakan perhitungan regresi linier dan
selanjutnya diberikan kepada epartemen pemilik dan ditempelkan di mesin
atau ditempat yang mudah dilihat oleh operator supaya pengukuran yang
dilakukan lebih akurat
 Dept. Maintenance melakukan serah terima alat ukur tersebut kepada
pemakai dengan menggunakan Buku Serah Terima Alat Ukur. Pemakai
wajib memastikan bahwa alat tersebut telah dikalibrasi dengan benar dan
telah dicantumkan label status kalibrasi sebelum menandatangani Buku
erah Terima Alat Ukur tersebut.
 Jika alat tersebut tidak layak dipakai, maka alat tersebut akan diperbaiki
atau diganti
 Data kalibrasi disimpan sebagai arsip sampai dengan kalibrasi berikutnya
 Jika instrument yang ditemukan tidak akurat dan status kalibrasi masih
berlaku, maka peralatan tersebut harus dikalibrasi ulang

Pelaksanaan Kalibrasi Eksternal


 Untuk alat yang dikalibrasi eksternal, Departemen Maintenance akan
mengajukan permintaan kalibrasi keluar dengan memakai Purchase
Request pada program IFS ke Departemen Pembelian beserta alatnya
dengan terlebih dulu disetujui oleh Manager/Koordinator Maintenane dan
Plant Manager
 Jika telah selesai dikalibrasi, alat dan sertifikat kalibrasi tersebut
dikembalikan ke Departemen Mintenance
 Dept Maintenance membuat table koreksi berdasarkan data dari sertifikat
kalibrasi eternal dengan menggunakan perhitungan regresi linier dan
selanjutnya diberikan kepada departemen pemilik alat supaya pengukuran
yang dilakukan lebih akurat
 Untuk alat yang dikalibrasi eksternal yang tidak diantumkan label oleh
pihak eksternal maka oleh Dept. Maintenance berdasarkan sertifikat
kalibrasi akan diantumkan label intern.

Tindaklanjut hasil Kalibrasi


 Jika dari hasil kalibrasi, instrument dinyatakan tidak layak pakai, Dept.
Maintenance harus menginformasikannya pada bagian terkait yang
mealkukan pengetesan tersebut. Selanjutnya bagian tersebut harus
menginformasikan material atau produk yang telah diperiksa dengan
instrument yang tidak layak pakai tersebut pada Dept. Prod. Development
menggunakan form Communication. Material atau produk yang dicurigai
tersebut harus diperiksa ulang selama masih ada di lingkungan ATEJA,
dan dilakukan tindakan perbaikan jika hasil pemeriksaan tidak
sesuai.Selanjutnya Dept. Prod. Development harus menginformasikan
pada Dept. S&M beserta hasil pengetesan yang baru. Jika produk yang
dicurigai tersebut sudah terkirim ke customer, Dept. S&M harus
menginformasikannya pada customer.

Kalibrasi Alat Baru


 Peralatan ukur baru wajib dikonfirmasikan oleh pemakai alat ke Dept.
Maintenance dengan menggunakan Communication atau e-mail, untuk
dicantumkan dalam Jadwal Kalibrasi Peralatan Ukur
 Jika alat yang baru tesebut belum dikalibrasi, maka alat tersebut harus
dikalibrasi terlebih dahulu.

4. Target-Target Maintenance