Anda di halaman 1dari 17

BAB I

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. AHN
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/tanggal lahir : Sidoarjo, 2 November 1987
Usia : 32 tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Jl. H. Kosam No. 19, Meruya
No. RM :124385
Ruangan : IGD RSUD Kembangan
Tanggal masuk RS : 18 Oktober 2020
Tanggal dikasuskan : 18 Oktober 2020
DPJP : dr. Sendy, spB

II. PRIMARY SURVEY : Initial Assesment


Airway: Bebas
Breathing : Laju napas 23x/menit, normal, tidak terdapat retraksi interkostal, subkostal dan
epigastrium, tidak terdapat napas cuping hidung
Circulation :
Tekanan darah : 155/97 mmHg
Laju nadi : 90x/menit, reguler, adekuat
Akral hangat, capillary refill time <2 detik, saturasi oksigen: 97%

III. SECONDARY SURVEY : Anamnesis


Autoanamnesis dilakukan langsung kepada pasien pada Minggu, 18 Oktober 2020,
12.30 di IGD RSUD Kembangan
Keluhan Utama
Nyeri perut kanan bawah sejak kurang lebih 6 jam SMRS.
Keluhan Tambahan
Mual, muntah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Kembangan dengan keluhan nyeri perut kanan bawah
sejak kurang lebih 6 jam SMRS. Sejak awal nyeri hanya dirasa disekitar kanan bawah, tidak
ada menjalar. pasien merasa nyeri bertambah jika pasien bergerak. Pasien juga mengeluh
muntah 3 kali, isi makanan. Pasien juga merasakan mual dan nafsu makan menurun. Pasien
merasa nyeri berkurang jika cenderung berbaring karah sebelah kanan. Demam disangkal.
BAB (+) warna kuning kecoklatan, BAK (+) warna kuning terakhir 4 jam SMRS, lancar tidak
nyeri.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah merasakan keluhan yang sama sebelumnya.
Riwayat HT (-) DM (-) Jantung (-) Asma (-)
Riwayat Operasi (-)
Riwayat Pengobatan
Sebelumnya pasien sudah ke klinik dan disarankan ke RS untuk penganan lebih lanjut. Di
klinik belum di beri terapi.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada penyakit genetik atau keturunan di keluarga. Orang tua pasien memiliki riwatar
Hipertensi. Riwayat DM disangkal
Riwayat Pekerjaan
Paisen bekerja sebagai Karyawan di Perusahaan swasta di Jakarta.
Kondisi Ekonomi, Lingkungan Sosial dan Fisik
Pasien belum menikah, tinggal bersama orang tua dan kakak. Pasien tinggal di perumahan
komplek Meruya. Kesan Ekonomi berkecukupan.

IV. PEMERIKSAAN JASMANI


Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Status Gizi : Status gizi normal, BB 68 Kg, TB 168 cm
Tekanan darah : 155/97 mmHg
Nadi : 90 kali/menit
Suhu : 36,9°C
Pernapasan : 23 kali/menit
SpO2 : 97%
Kepala Normocephal
Mata Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, reflek
cahaya kanan- kiri postif langsung maupun tidak langsung. Mata
cekung (-) diplopia (-) oedem (-)

Telinga Normotia, tidak ada sekret, membran timpani kanan-kiri utuh seperti
mutiara, refleks cahaya kanan-kiri (+), tidak ada radang pada telinga,
nyeri tekan tragus tidak ada.
Hidung Tidak ada septum deviasi, tidak tampak sekret.

Tenggorokan Faring tidak hiperemis, tonsil kanan-kiri (T1-T1)


Leher Kelenjar getah bening dan tiroid tidak membesar
Gigi-Mulut Mukosa mulut tampak kering, tidak tampak caries dentis
Thorax
Paru-Paru :
Depan Belakang
Inspeksi Kiri Statis dan dinamis simetris, Statis dan dinamis simetris,
retraksi intercostals tidak ada retraksi intercostals tidak ada
Kanan Statis dan dinamis simetris, Statis dan dinamis simetris,
retraksi intercostals tidak ada retraksi intercostals tidak ada
Palpasi Kiri nyeri tekan tidak ada nyeri tekan tidak ada
Kanan nyeri tekan tidak ada nyeri tekan tidak ada
Perkusi Kiri Tidak dilakukan Tidak di lakukan
Kanan Tidak dilakukan Tidak di lakukan
Auskultasi Kiri Suara napas vesikuler Suara napas vesikuler
Wheezing tidak ada Wheezing tidak ada
Ronkhi tidak ada Ronkhi tidak ada
Kanan Suara napas vesikuler Suara napas vesikuler
Wheezing tidak ada Wheezing tidak ada
Ronkhi tidak ada Ronkhi tidak ada

Jantung :
Inspeksi : Pulsasi iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Teraba iktus cordis pada sela iga III linea midclavicula kiri
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : S1 dan S2 reguler murni, tidak ada gallop dan murmur
Abdomen :
Inspeksi : Tampak datar, retraksi epigastrium (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normoperistaltik

Perkusi : timpani, pekak sisi (+) N, CVA (-)


Palpasi :
Dinding Perut : Supel, nyeri tekan epigastrium
Turgor Kulit : Kembali cepat
Hati : Tidak teraba membesar
Limpa : Tidak teraba membesar

Ginjal : Tidak teraba


Perut kanan bawah : nyeri tekan (+) kanan bawah, defans muskular (-), rovsing sign (+),
mc burney sign (+), psoas sign (+), obturator sign (+)

Lain-lain : Undulasi (-), Ascites (-)


Perkusi : Timpani
Ekstremitas
Inspeksi : Deformitas (-), pembengkakan (-), sianosis (-),
Palpasi : Pitting oedem di kedua kaki (-), akral hangat, crt <2”
Movement : Pergerakan ke empat ekstremitas baik
Genital
Genital : Tidak dilakukan pemeriksaan

Anus : RT: Sphincter ani normal, mukosa rata, nyeri tekan di jam 4, sarung tangan lendir
darah (-), feses (-)

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi Lengkap
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hemoglobin 14,3 g/dl L: 13-17, P: 12-15
Hematokrit 41% 36-51
Leukosit 16.900 mm3 4.000-10.000
Trombosit 291.000 mm3 150.000-450.000
Eritrosit 4,1 jt/ul L: 4,5-5,5 , P: 3,8-4,8
LED 30 mm/jam L:0-10 , P 0-20
MCV 79 fl 80-95
MCH 28 pg 27-31
MCHC 35 g/l 32-39
RDW 13% 12-16
Hitung Jenis
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Basofil 0% 0-1
Eusinofil 0% 2-4
Netrofil 89% 50-70
Limfosit 7% 25-40
Monosit 5% 2-8
NLR 12,7
ALC 1.100 sel/ul

Kimia darah
Pemeriksaan Satuan Nilai rujukan
Waktu perdarahan 2 menit 2-5 menit
Masa pembekuan 13 menit 8-15 menit
HbsAg Non reaktif Non reaktif

Antibodi SARS-CoV 2 IgG IgM Rapid Test


Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
IgG Nonreaktif Nonreaktif
IgM Nonreaktif Nonreaktif

Rontgen Thorax
Fibroinfiltrat di kedua lapang paru
Kesan : Bronkitis

VI. DIAGNOSIS KERJA


Apendisitis Akut

VII. PENATALAKSANAAN
Pentalaksanaan yang diberikan di UGD
IVFD RL 20 tpm
Injeksi Ceftriaxon 1 x 2 gram
Injeksi Omeprazol 2 x 40 mg
Injeksi Ketorolac 2 x 1 amp
Konsul Sp.B
Pro appendictomi
Plan :
X-Foto BNO
Puasakan 6 jam sebelum operasi

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad Bonam
Ad Fungsional : dubia ad Bonam
Ad Sanationam : dubia ad Bonam

IX. FOLLOW UP

Tanggal 19 Oktober 2020, 17.00 20 Oktober 2020


Subjektif POST OP 8.00. Nyeri pada luka OP
Nyeri pada luka OP, flatus (+)
Objektif KU : TSS KU : TSS
Kesadaran : CM Kesadaran : CM
TD : 110/80 mmHg TD : 110/70 mmHg
HR : 74 x/menit HR : 74 x/menit
RR 20 x/menit RR 20 x/menit
Suhu : 36°C Suhu : 36°C
SpO2 : 100% SpO2 : 100%
-Mata: CA (-/-) -Mata: CA (-/-)
-Leher: KGB tidak membesar. – -Leher: KGB tidak membesar. –
-Cor: BJ I-II murni, intensitas normal, -Cor: BJ I-II murni, intensitas normal,
reguler, bising (-) reguler, bising (-)
-Pulmo: VES (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-) -Pulmo: VES (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)
-Abdomen: Luka OP (+), bising usus (+), -Abdomen: : Luka OP (+), bising usus (+),
tympani, supel, nyeri tekan (+) kanan tympani, supel, nyeri tekan (+) kanan
bawah, hepar lien tidak teraba, area bawah, hepar lien tidak teraba, area
Troube timpani Troube timpani
-Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik -Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik
Pemeriksaa - -
n penunjang
Assesment Post Appendiktomi ec Apendisitis Akut Post Appendiktomi ec Apendisitis Akut
Terapi IVFD Futrolit 20 tpm IVFD Futrolit 20 tpm
Methilprednison 2 x 125 mg Methilprednison 2 x 125 mg
Ceftriaxone IV 1 x 2 gr Ceftriaxone IV 1 x 2 gr
Omeprazol IV 2 x 40 mg Omeprazol IV 2 x 40 mg
Ketorolac IV 2 x 1 Ketorolac IV 2 x 1
Paracetamol IV 1 gr (prn) Paracetamol IV 1 gr (prn)
Metronidazole 3 x 500 mg Metronidazole 3 x 500 mg
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Apendiks yang juga disebut sebagai umbai cacing, istilah usus buntu yang
dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah
sekum dan bukan apendiks. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering
menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan
bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Apendisitis dapat
ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan.
Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada
laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens
pada lelaki lebih tinggi.1

B. Anatomi
Apendiks merupakan suatu organ yang berbentuk tabung dan panjangnya kira-
kira 10 cm( kisaran 3-15 cm), dan berpangkal di seku. Lumennya nsempit di bagian
proximal dan melebar di bagian distal. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar
pada pangkalnya dan menyempit dihujungnya. Pangkalnya terletak pada posteromedial
caecum. Apendiks terletak dikuadran kanan bawah abdomen. Tepatnya di ileosecum
dan merupakan pertemuanketiga taenia coli (taenia libera, taenia colica, dan taenia
omentum). Dari topografianatomi, letak pangkal appendiks berada pada titik Mc
Burney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari
SIAS kanan.
Apendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang
bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale. Mesenteriolum
berisi a. Apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya terletak 2,5cm dari katup
ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh
appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil. Pada 65 % kasus, apendiks
terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang
geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya.
1. 12 o clock: Retrocolic or retrocecal (dibelakang cecum atau colon)
2. 2 o clock: Splenic (ke atas kiri – Preileal and Postileal)
3. 3 o clock: Promonteric (secara horizontal menuju ke kiri ke arah sacral promontory)
4. 4 o clock: Pelvic (turun ke dalam pelvis)
5. 6 o clock: Subcecal (di bawah caecum dan menuju ke inguinal canal)
6. 11 o clcok: Paracolic (menuju keatas kanan) 1,2,4

Appendiks dipersarafi oleh parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis


berasaldari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan
arteriappendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus thorakalis X.
Olehkarena itu, nyeri viseral pada appendisitis bermula di sekitar umbilikus.
Pendarahan appendiks berasal dari arteri Appendikularis , cabang dari
a.Ileocecalis,cabang dari a. Mesenterica superior. A. Appendikularis merupakan arteri
tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi,
appendiksakan mengalami gangren.Secara histologis, appendiks Pendarahan appendiks
berasal dari arteri Appendikularis , cabang dari a.Ileocecalis,cabang dari a. Mesenterica
superior. A. Appendikularis merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat,
misalnya karena trombosis pada infeksi, appendiksakan mengalami gangren.Secara
histologis, appendiks 11 mempunyai basis stuktur yang sama seperti usus besar.Glandula
mukosanya terpisahkan dari vascular submucosa oleh mucosa maskularis.Bagian luar
dari submukosa adalah dinding otot yang utama. Appendiks terbungkus oleh tunika
serosa yang terdiri atas vaskularisasi pembuluh darah besar dan bergabungmenjadi satu di
mesoappendiks. Jika apendik terletak retroperitoneal, maka appendik tidak terbungkus
oleh tunika serosa.1,2,4
Histologis:
Tunika mucosa : memiliki kriptus tapi tidak memiliki villus.
Tunika submucosa : banyak folikel lymphoid.
Tunika muscularis : stratum sirculare sebelah dalam dan stratum longitudinale (gabungan
tiga tinea coli) sebelah luar.
Tunika serosa : bila letaknya intraperitoneal asalnya dari peritoneumviscerale.4

C. Definisi
Apendisitis merupakan peradangan pada appendix vermiformis. Peradangan akut
apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya
berbahaya.

D. Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan
mencetuskanterjadi nya apendisitis akut. Antaranya adalah sumbatan lumen apendiks
yang diajukan sebagai pencetus. Di samping hyperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor
apendiksdan cacing askariasis dapat menyebabkan sumbatan. Penyebab lain diduga dapat
menimbul appendicitis akut adalah erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti
E.histolitica.
Pada penelitian apidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan
menaikan tekanan intrasekal yang mengakibatkan sumbatan fungsional apendiks dan
meningkatkan pertumbuhan kuman flora normalkolon biasa, keadaan ini
mempermudahkan timbulnya apendisitis akut.1

E. Patofisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir itu normalnya dicurahkan
kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara
apendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis.
Apendisitis akut terjadi karena berlaku obstruksi atau sumbatan lumen apendiks
oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi lumen yang tertutup disebab kan oleh
hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari
mukosa apendiks yang dapat menyebabkan terjadinya distensi pada kantung apendiks
.Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.
Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen.Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar
0,5 dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20.
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami
hipoksia dan menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi
menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena
terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Kemudian terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus
berlanjut, tekanan akan terus meningkat akan menyebabkan obstruksi vena, edema
bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut Bila kemudian arteri terganggu
akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut
dengan apendisitis gangrenosa. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36
jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak
faktor Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi Bila
semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak
kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis.
Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.1-3
Infiltrat apendikular
seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha
pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum,
usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massaperiapendikular. Didalamnya dapat terjadi
nekrosis jaringan berupa abses yang dapatmengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses,
apendisitis akan sembuh dan massaperiapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan
mengurai diri secaralambat.Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih
panjang, dindingapendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang
masihkurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi
mudahterjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.Kecepatan rentetan peristiwa tersebut
tergantung pada virulensi mikroorganisme, dayatahan tubuh, fibrosis pada dinding apendiks,
omentum, usus yang lain, peritoneumparietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria, uterus
tuba, mencoba membatasidan melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisir ini
belum selesai dansudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses
melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan
dalamcavum abdominalis, oleh karena itu pendeita harus benar-benar istirahat
(bedrest).Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringansekitarnya. Perlengketan ini
dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kananbawah. Pada suatu ketika organ ini dapat
meradang akut lagi dan dinyatakanmengalami eksaserbasi akut. 1-3

F. Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain

1. Nyeri abdominal Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis. Mula-mula nyeri
dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium
atau sekitar umbilikus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen
kanan bawah (titik Mc Burney).Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga berupanyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya
penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk.
2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.
3. Nafsu makan menurun
4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.
5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh
belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,5º-38,5º C. Gejala appendisitis akut pada anak-
anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak
sering tidak bisa menunjukkan rasa nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering
diagnosis apendisitis diketahui setelah terjadi perforasi. Pada orang berusia lanjut
gejalanya juga sering samar-samar saja, tidak jarangterlambat diagnosis. Akibatnya lebih
dari separuh penderita baru dapat didiagnosissetelah perforasi.
6. Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, danmuntah. Yang
perlu diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering jugaterjadi mual dan
muntah. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong kekraniolateral
sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih keregio lumbal
kanan.2,3

Gejala klinis berdasarkan letak anatomis apendiks Timbulnya gejala ini bergantung pada
letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut:

1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung


oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada
saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan.
Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
 Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul
gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat,
pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).
 Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.. 2,3

G. Pemeriksaan Fisik

1. Demam ringan :37,5 – 38 oC, bila berlaku perforasi akan menjadi demam lebih tinggi
2. Pada inspeksi perut tidak ada gambaran spesifik, kembung selalu terliat pada perforasi
apendisitis, penonjolan perut kanan bawah bias dilihat pada massa atau abses
periapendikular
3. Palpasi dan tanda – tanda appendicitis yang dapat dilakukan adalah :
 Nyeri tekan Mc Burney - nyeri tekan di titik Mc Burney.
 Rovsing sign - nyeri tekan pada kiri perut bawah
 Blumberg sign - nyeri tekan lepas
 Psoas sign - nyeri pada saat paha pasien diekstensikan
 Obturator sign - . Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha pasien
difleksikan 16
4. Pada auskultasi sering normal peristaltiknya kecuali sudah berlaku perforasi dan berlaku
peritonitis dan menyebabkan berlakunya ileus paralitik.2,3

H. Pemeriksaan Penunjang

1. Hitung darah lengkap (complete bloodcount,CBC)–leukositosis, neutrofilia, tanpa


eosinophil
2. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan
ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada
apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CTscan ditemukan bagian yang menyilang
dengan apendiks al serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya
pelebaran sekum.
3. Urinalisis—untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih dan di saluran kemih,ginjal dan
ureter.2,3

I. Skor Alvrado
Skor Alvarado adalah suatu sistem pen-skor-an yang digunakan untuk
menetapkan ada atau tidaknya diagnosis appendisitis akut (penyakit usus buntu). Skor
Alvarado merupakan delapan komponen skor yang terdiri dari enam komponen klinik
dan dua komponen laboratorium dengan total skor maksimal 10. Dibawah adalah tabel
skor Alvarado:
Tabel 1. Skor Alvrado
Tabel Skor Alvrado Skor
Gejala Klinis
Nyeri abdominal pindah ke fossa iliaka kanan 1
Nafsu makan menurun 1
Mual dan atau muntah 1
Tanda Klinis
Nyeri lepas 1
Nyeri tekan fossa iliaka kanan 2
Demam (suhu > 37,2⁰ C) 1
Pemeriksaan Laboratorium
Leukositosis (leukosit > 10.000/ml) 2
Shift to the left (neutrofil > 75% 1
TOTAL 10

Interpretasi:
Skor 7-10 = Apendisitis akut
Skor 5-6 = Curiga apendisitis akut
Skor 1-4 = Bukan apendisitis akut 5
J. Diagnosis Banding
1. Kehamilan ektopik terganggu - Gejala klinis mirip dengan apendisitis akut. Hamper
selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhanyang tidak menentu. Jika ada ruptur
tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan pendarahan, akan timbul nyeri yang
mendadak dius di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada
pemeriksaan vagina, di dapatkan neri penonjolan dan penonjolan rongga Douglas dan
pada kuldosentesis di dapatkan darah
2. Gastroenteritis - Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahalui rasa nyeri.
Nyeri perut bersifat lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai adanya
hiperperistalsis. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis
akut
3. Infeksi panggul - Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan apendisitis akut. Suhu
biasanya lebih tinggi dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul pada
wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul 18
nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur
jika perlu untuk diagnose banding.
4. Ureterolithiasis kanan - Ada riwayat kolik dari pinggang kanan ke perut yang menjalar
dari inguinal kanan merupakan gambaran khas. Eritrosituria sering ditemukan. Foto polos
perut atau BNO IVPdapat memastikan penyakit ini.2

K. Penatalaksanaan
Bila sudah terdiagnosis dengan tepat, tindakan paling tepat adalah apendektomi.
Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak diperlukan antibiotik kecuali pada
apendisitis gangrenosa dan perforate.penundaan tindakan bedah sambil memberikan
antibiotic dapat mengakibatkan abses atau perforasi. 2,3,4

I. Tindakan Operasi
Apendiktomi, merupakan tindakan pemotongan apendiks. Dapat dilakukan secara
terbuka atau laparoskopi. Pada apendektomi terbuka, insisi McBurney paling banyak
dipilih . operasi ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Jika apendiks
mengalami perforasi maka abses disedot dan diguyur dengan NaCl dan disedot hingga
bersih. Laparoskopi merupakan tindakan mengguankan kamera fiberoptik yang
dimasukkan kedalam abdomen, apendiks dapat divisualisasi secara langsung. Teknik ini
dilakukan dibawah pengaruh anestesi umum. Bila saat melakukan tindakan ini di
dapatkan peradangan pada apendiks maka dapat langsung dilakukan pengangkatan
apendiks.2,3,4

M. Prognosis
Baik, jika diagnosis yang akurat dan awal serta pembedahan akan menurunkan
tingkat mortalitas dan morbiditas.3

DAFTAR PUSTAKA
1. Riwanto. Apendiks. Dalam : De Jong W., Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi
3, di terbitkan EGC, Jakarta, 2007 ; hal 755-62
2. Townsend C M, Beauchamp R D,Evers B M, Mattox K L. Sabiston Textbook Of
Surgery, 18th Edition, Elsevier, India, 2008; pg 1333-47
3. Anand N, Kent T S, First Aid For the Surgery. McGraw-Hill, 2003; pg 251- 57
4. Medchrome : Medical And Health Articles, Anatomy Of Appendix And Appendicitis,
December 9, 2015: http://medchrome.com/basicscience/anatomy/anatomy-appendix-
appendicitis/
5. Emergency Diagnostic Radiology, Alvarado Score for Acute Appendicitis, 2009 :
http://emergencyradiology.wordpress.com/2009/02/05/alvarado-scorefor-acute-
appendicitis/