Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

MODUL DASAR BIOMEDIK DAN HEMOPOETIK-LIMFORETIKULER

Disusun Oleh :

Kelompok 6
Narasumber : Abi Bakring Balyas, S.Pd., M.Kes
Fasilitator : dr. Ni Nyoman Sri Yuliani, Sp.GK
Nama Anggota :
1. Alifia Banjarani 8. Karel Imanuel Fernando Jocom
2. Amelia Octyaratno 9. Megawati Sitohang
3. Christian Marvin Imannuel Sitanggang 10. Netanya Gloria
4. Christy Aggalia 11. Odhelia Gusni Bonnie Ardyon
5. Derby Callista Pidjath 12. Rendy Febry Nughroho
6. Deswita Wulandari 13. Viorel Aqshal Athala S
7. Gabriel Shie Motik Nainggolan 14. Zahra Sabira

PROGAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karunia-Nya, laporan
praktikum fisiologi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Fisiologi adalah cabang
biologi yang berhubungan dengan fungsi organisme hidup dan bagian
pembuatannya. Disiplin ilmiah ini mencakup berbagai macam fungsi, mulai dari seluler dan
di bawahnya hingga interaksi sistem organ yang menjaga agar mesin biologis paling
kompleks tetap berjalan.
“Saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, saya lakukan saya mengerti”,
pepatah Yunani ini mengingatkan kepada kita betapa pentingnya praktikum atau “melakukan
sesuatu” secara langsung untuk dapat memahami dengan baik suatu konsep atau teori-teori
yang telah dibaca.
Laporan praktikum ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
departemen fisiologi, serta sebagai tolak ukur bagaimana mahasiswa dapat memahami materi
dengan baik setelah dilakukannya praktikum.

Penyusun menyadari bahwa laporan praktikum ini jauh dari kata sempurna. Untuk
itu, penyusun sangat menghargai apabila ada pihak yang berkenan memberikan saran
konstruktif untuk penyempurnaan laporan pratikum ini.

Palangka Raya, Oktober 2020

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada tahun 1900, seorang dokter kelahiran Wina (Austria) bernama Karl Landsteiner
membedakan darah manusia menjadi 4 golongan, yaitu golongan darah A, golongan darah B,
golongan darah AB dan golongan darah O. Penggolongan darah ini dikenal dengan sistem
penggolongan darah ABO, pembagian golongan darah ini berdasarkan perbedaan aglutinogen
(antigen) dan aglutinin (antibodi) pada membran permukaan sel darah merah (Syamsuri, 2007).
Menurut Guyton (2006), pada penggolongan darah ini ada 2 zat yang berperan penting
dalam menentukan golongan darah yaitu aglutiogen dan aglutinin. Aglutinogen atau antigen ini
merupakan polisakarida yang tidak hanya terdapat pada sel darah merah tetapi juga terdapat
pada kelenjar ludah, hati, ginjal, paruparu, testis dan semen. Sel darah merah memiliki salah satu
dari antigen A, B , AB atau tidak sama sekali pada permukaan sel tersebut. Golongan A
memiliki antigen A, golongan B memiliki antigen B, golongan AB memiliki antigen A dan B,
sementara golongan O tidak mengandung antigen. Antigen tersebut mampu memproduksi
antibodi. Individu yang memiliki golongan darah AB merupakan resipien universal (dapat
menerima semua jenis darah) karena tidak memiliki antibodi, seseorang yang bergolongan darah
O merupakan donor universal (dapat menerima semua jenis darah) (Kee, 2002).
Selain itu juga dikenal adanya sistem rhesus, yang pertama kali ditemukan pada jenis
kera Macaca rhesus pada tahun 1940 oleh K. Landsteiner dan Weiner. Pada jenis ini ditemukan
antigen rhesus pada eritrositnya. Sistem rhesus juga berlaku pada manusia karena antigen rhesus
juga dimiliki oleh manusia. Orang yang memiliki antigen rhesus dinamakan rhesus positif (Rh +),
sedangkan yang tidak memilikinya disebut rhesus negatif (Rh-). Sistem ini dikendalikan oleh
gen dengan alel Rh dan rh. Alel Rh bersifat dominan terhadap alel rh.
Golongan darah penting untuk diketahui dalam hal kepentingan transfusi, donor yang
tepat serta identifikasi pada kasus kedokteran forensik seperti identifikasi pada beberapa kasus
kriminal (Azmielvita, 2009). Keberhasilan tindakan medis terutama transfusi, transplantasi organ
dan kehamilan sangat di tentukan oleh kompatibilitas golongan darah, dimana apabila terjadi
inkompatibilitas dapat menyebabkan berbagai komplikasi dalam tubuh.
Melihat dari berbagai kepentingan dan manfaat diketahuinya golongan darah seseorang,
maka perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah. Penentuan golongan darah ABO pada
umumnya dengan menggunakan metode Slide. Metode ini didasarkan pada prinsip reaksi antara
aglutinogen (antigen) pada permukaan eritrosit dengan aglutinin yang terdapat dalam
serum/plasma yang membentuk aglutinasi atau gumpalan. Metode slide merupakan salah satu
metode yang sederhana, cepat dan mudah untuk pemeriksaan golongan darah (Oktari, 2016).
Berdasarkan hal diatas, maka dilakukan praktikum ini untuk mengetahui golongan darah
sistem ABO dan Rhesus serta membuat mahasiswa memahami bagaimana menginterpretasikan
hasil pemeriksaan.

1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang masalah, maka tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui cara pemeriksaan golongan darah dan bagaimana menginterpretasi hasil
pemeriksaan.

1.3 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas, maka manfaat praktikum ini adalah untuk meningkatkan
pengetahuan serta pemahaman mahasiswa mengenai pemeriksaan golongan darah serta
bagaimana menginterpretasi hasil pemeriksaan tersebut.
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Darah
2.1.1 Pengertian Darah
Darah adalah unit fungsional seluler pada manusia yang berperan untuk
membantu proses fisiologi. Darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma darah dan sel-
sel darah. Plasma darah yang ada pada darah sekitar 55% dari jumlah darah dalam tubuh
manusia, sedangkan sel-sel darah ada pada darah sekitar 45%. Sel-sel darah
dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit yang
berperan dalam pembekuan darah.

2.1.2 Struktur dan Komposisi Darah


1. Plasma Darah
Plasma darah adalah cairan darah yang berwarna kekuningan. Lebih kurang dari
92% dari plasma adalah air, sehingga sisanya berupa garam dan molekul organik. Bahan
terlarut yang ada dalam plasma darah adalah protein plasma, garam-garam dalam, SO -24,
gas-gas, bahan makanan, garam mineral, produk limbah, bahan pengatur. Bagian plasma
darah yang berperan dalam pertahanan tubuh adalah serum. Serum mengandung beragam
antibodi untuk melawan antigen. Misalnya, aglutinin untuk menggumpalkan antigen
presipitin yang dapat mengendapkan antigen.

2. Sel Darah Merah


Sel darah merah (eritrosit) adalah bagian utama dari sel-sel darah. Ciri-ciri dari sel
darah merah, anatar lain bentuknya melingkar, pipih, dan cakram bikonkaf; sel yang
telah matang tidak mempunyai nukleus; berdiameter kurang dari 0,01 mm; dan
elastis.hemoglobin adalah suatu protein yang mengandung senyawa besi hemin.
Hemoglobin mempunyai daya ikat terhadap oksigen dan karbon dioksida dan berwarna
merah. Sel-sel darah merah berasal dari sel darah induk dan diproduksi didalam sumsum
tulang merah. Sel darah merah yang matang akan kehilangan nukleus dan memperoleh
molekul Hb. Umur sel darah merah lebih kurang 120 hari. Setelah sel-sel tersebut usang
atau mati, kemudian dihancurkan didalam organ hati/limpa dan ditelan oleh makrofag.

3. Sel Darah Putih


Sel darah putih (leukosit) tidak berwarna, mempunyai nukleus, kehilangan Hb,
bentuknya tidak beraturan, dapat bergerak, dan dapat merubah bentuk.perbandingan
jumlah sel darah putih dengan sel darah merah adalah 1:700. Fungsi utama leukosit
adalah memakan kuman penyakit atau benda asing lain yang masuk kedalam tubuh.
Selain itu juga sebagai pengangkut zat lemak. Sel darah putih dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu granulosit yang mempunyai nukleus yang banyak dan bersifat fagosit.
Dan agranulosit yang hanya mempunyai satu nukleus dan tidak seluruhnya bersifat
fagosit.

4. Keping Darah
Keping darah (trombosit) berbentuk tidak beraturan, berukuran kecil, tidak
berwarna dan tidak berinti. Trombosit berfungsi untuk pembekuan darah. Keping darah
berasal dari hasil fragmentasi sel megakariosit di sumsum tulang merah.  Setiap hari
tubuh manusia memproduksi rata-rata 200 miliar keping darah. Dalam darah terkandung
150-300 ribu per mm3.

2.1.2 Sirkulasi Darah


Darah dipompa pada tekanan tinggi dari jantung dalam arteri. Perjalanan melalui
jaringan tipis kapiler, di mana ia dapat bertukar bahan dengan jaringan. Ini kemudian
dikumpulkan dan kembali ke jantung pada tekanan rendah dalam urat.
(Authory,2013.http://www.bbc.co.uk/sch
ools/gcsebitesize/science/add_ocr_gatewa
y/living_growing/circulatoryrev2.shtml)

2.1.3 Fungsi Darah


Fungsi darah antara lain adalah sebagai berikut.
 Sebagai alat transportasi yaitu pembawa zat-zat makanan dari sistem pencernaan
keseluruh sel tubuh;
 Mengangkut oksigen dari sistem pernapasan, yaitu paru-paru keseluruh tubuh;
 Mengangkut sisa-sisa metabolisme, misalnya karbondioksida, dari seluruh sel tubuh
ke organ ekskresi, misalnya paru-paru;
 Mengangkut hormon dari kelenjar hormon ke organ sasaran;
 Memelihara keseimbangan cairan tubuh;
 Mempertahankan tubuh terhadap penyakit menular dan infeksi kuman-kuman atau
antibody (oleh sel-sel darah putih); serta
 Mengatur keseimbangan asam dan basa, untuk menghindari kerusakan-kerusakan
jaringan.

2.1.4 Penggolongan Darah


Penggolongan Darah pada manusia dibagi menjadi beberapa sistem, antara lain

A. ABO

Dasar penggolongan darah adalah adanya aglutinogen (antigen) di dalam sel


darah merah dan aglutinin (antibodi) di dalam plasma (serum). Aglutinogen adalah zat
yang digumpalkan, sedangkan aglutinin adalah zat yang menggumpalkan.

Dalam sistem ABO, ada tidaknya antigen tipe A dan B di dalam sel darah merah
menentukan golongan darah seseorang. Sistem tersebut mengelompokkan darah manusia
menjadi empat golongan yaitu A, B, AB, dan O (Priadi, 2009).

Ahli imunologi (ilmu kekebalan tubuh) kebangsaan Austria bernama Karl


Landsteiner (1868-1943) mengelompokan golongan darah manusia. Penemuan Karl
Landsteiner diawali dari penelitiannya, yaitu ketika eritrosit seseorang dicampur dengan
serum darah orang lain, maka terjadi penggumpalan(aglutinasi). Tetapi pada orang lain,
campuran itu tidak menyebabkan penggumpalan darah. Aglutinogen (aglutinin) yang
terdapat pada eritrosit orang tertentu dapat bereaksi dengan zat aglutinin (antibodi) yang
terdapat pada serum darah.

Aglutinogen dibedakan menjadi dua yaitu:

Aglutinogen A : Memiliki enzim glikosil transferase yang mengandung glutiasetil


glukosamin pada rangka glikoproteinnya.
Aglutinogen B : Memiliki enzim galaktose pada rangka glikoproteinnya. Aglutinin
dibedakan menjadi aglutinin α dan β .
Darah seseorang memungkinkan dapat mengandung aglutinogen A saja atau
aglutinogen B saja. Tetapi kemungkinan juga dapat mengandung aglutinogen A dan B.
Ada juga yang tidak mengandung aglutinogen sama sekali. Adanya aglutinogen dan
aglutinin inilah yang menjadi dasar penggolongan darah manusia berdasarkan sistem
ABO.

Berdasarkan ada atau tidaknya aglutinogen, golongan darah dikelompokan


menjadi :
1. Golongan darah A, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-A dan aglutinin-b
dalam plasma darah.
2. Golongan darah B, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-B dan aglutinin-a
dalam plasma darah.
3. Golongan darah AB, yaitu jika eritrosit mengandung glutinogen-A dan B, dan plasma
darah tidak memiliki aglutinin.
4. Golongan darah O, yaitu jika eritrosit tidak memiliki aglutinogen-A dan B, dan
plasma darah memiliki aglutinin-a dan b.
Frekuensi populasi dari keempat golongan ini menunjukkan bahwa mereka
diwariskan, dan menuntun ke hipotesis bahwa mereka menetukan oleh tiga gena alelik,
alel A yang menentukan kekhususan A, alel B yang menentukan kekhususan B, dan alel
O yang tak aktif,Sesuai dengan pengertian ini, maka individu golongan O semuanya
homozigot OO dan individu golongan AB semuanya heterozigot AB.Tetapi individu
golongan A mungkin homozigot AA maupun heterozigot AO, dan individu golongan B
mungkin homozigot BB maupun heterozigot BO (Harris,1994)

Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia,
meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih
dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah
AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang
paling jarang dijumpai di dunia (Sudjadi, 2007)

B. Sistem MN
Pada tahun 1972, K. Landsteiner dan p. Levine telah menemukan golongan darah
sistem MN, akibat ditemukannya antigen M dan antigen N pada sel darah merah
manusia. Sistem ini digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Golongan M, mengandung antigen M


2. Golongan N, mengandung antigen N
3. Golongan MN mengandung antigen M dan antigen N

C. Sistem Rh
Seperti juga golongan darah berdasarkan sistem ABO, golongan darah Rhesus
juga didasarkan pada jenis aglutinogen pada eritrosit dan aglutinin pada plasma darah.
Golongan darah Rhesus ini juga ditemukan oleh Landsteiner. Penamaan golongan
Rhesus ini diambil dari nama kera yang diteliti Landsteiner, namanya Macacus rhesus.
Pada kera ini didapati antigen dan antibodi yang sama dengan manusia.
Ada dua jenis golongan Rhesus, yaitu Rhesus (+) dan Rhesus (-). Orang
bergolongan Rhesus + memiliki antigen Rhesus (antigen Rh) pada eritrositnya dan tidak
memiliki antibodi. Golongan Rhesus – memiliki antibodi Rhesus (anti Rh) pada plasma
darahnya dan tidak memiliki antigen. Lihat tabel berikut:

Golongan Rhesus + Rhesus -


Antigen Antigen Rhesus -
Antibodi - anti Rhesus

Orang bergolongan Rhesus– bisa menjadi donor terhadap golongan Rhesus –

+
maupun Rhesus (dalam kondisi darurat). Tetapi orang Rhesus + hanya diperbolehkan
mendonorkan darahnya kepada Rhesus + saja, dan tidak boleh ke Rhesus – . Alasannya
sama seperti golongan darah ABO, yaitu karena Rhesus + sebagai donor memiliki antigen
(antigen Rhesus) dan Rhesus- sebagai resipien memiliki antibodi (anti Rhesus).
Inkompatibilitas ini akan menyebabkan penggumpalan (aglutinasi) antigen Rhesus oleh
anti Rhesus, dan bisa menyebabkan kematian sang resipien.
BAB III
PROSEDUR KEGIATAN

3.1 Alat dan Bahan


1) Blood Lancet
2) Kapas Alkohol
3) Serum Golongan Darah
4) Kaca Preparat
5) Tusuk Gigi

3.2 Langkah Kerja


1) Membasahi jari Probandus dengan Alkohol Pad.
2) Menusuk ujung jari dengan Probandus dengan menggunakan Blood Lancet.
3) Meneteskan darah pasien pada kaca preparat yang telah disediakan.
4) Meneteskan serum anti A, anti B, anti D pada darah yang telah diteteskan pada kaca
preparat.
5) Menghomogenkan kaca preparat dengan menggunakan tusuk gigi.
6) Mendiamkan beberapa saat.
7) Mengamati ada tidaknya gumpalan darah yang terbentuk.
8) Membandingkan semua darah yang diuji.
9) Membuat kesimpulan.

3.2 Pertanyaan
1. Interpretasikan hasil pemeriksaan golongan darah di bawah ini sebagai hasil praktikum!
a.

b.

c.

2. Hal-hal apa sajakah yang bisa menyebabkan terjadi kesalahan interpretasi hasil
pemeriksaan golongan darah ?
3. Selain serum anti-A, anti-B, dan anti-D terdapat pula serum anti-AB dan anti-O. Jelaskan
apa fungsi kedua serum tersebut dan mengapa serum tersebut tidak wajib digunakan untuk
uji golongan darah!
4. Jelaskan bagaimana produsen dapat membuat serum golongan darah ! Carilah dari
berbagai sumber ilmiah !
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Interpretasi hasil pemeriksaan golongan darah berikut:


Keterangan :
+ : Aglutinasi

Anti A Anti B Anti D Golongan Darah


- + + B+

Anti A Anti B Anti D Golongan Darah


- - - O-

Anti A Anti B Anti D Golongan Darah


+ - + A+

2. Hal-hal apa sajakah yang bisa menyebabkan terjadi kesalahan


interpretasi hasil pemeriksaan golongan darah ?
Salah satu permasalahan pada pemeriksaan golongan darah yang cukup sering dijumpai
adalah terjadinya discrepancy golongan darah. Discrepancy golongan darah adalah terjadinya
ketidaksesuaian atau ketidakcocokan hasil pada pemeriksaan cell grouping dengan serum
grouping. Dengan kata lain, cells grouping tidak setuju dengan serum grouping. Discrepancy
wajib dikenali dan diselesaikan sebelum pemeriksaan crossmatch dilakukan. Langkah pertama
yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah discrepancy adalah mengidentifikasisumber
discrepancy. Apakah bersumber dari kesalahan teknis atau discrepancy yang disebabkan oleh
sampel itu sendiri (Blaney and Howard, 2013).
Sebelum memastikan bahwa discrepancy ABO terjadi, beberapa informasi tentang pasien
harus ditelusuri, informasi tersebut antara lain:

1. Umur pasien,
2. diagnosis penyakit,
3. riwayat pemberian transfusi,
4. obat-obatan yang dikonsumsi pasien,
5. status imum pasien,
6. riwayat kehamilan (Mehdi, 2013).

Secara garis besar, penyebab discrepancy terbagi menjadi dua yaitu kesalahan teknis dan
permasalahan pada sampel baik sampel eritrosit maupun serum atau plasma. Sumber
discrepancy dari kesalahan teknis antara lain:
1. Kesalahan identifikasi dan dokumentasi, dapat berasal dari:
a. salah melabel sampel dan jenis tabung yang digunakan,
b. pencatatan yang salah,
c. interpretasi hasil yang tidak tepat.
2. Kesalahan pada reagen dan peralatan, seperti:
a. quality control reagen tidak dilakukan dengan baik,
b. reagen terkontaminasi dan hemolisis,
c. waktu sentrifugasi tidak tepat atau peralatan tidak dikalibrasi dengan teratur.
3. kesalahan pada Standard Operating Procedure (SOP), seperti:
a. prosedur tidak sesuai dengan instruksi dari pabrik reagen,
b. penambahan reagen atau sampel yang tidak tepat,
c. konsentrasi suspensi sel darah merah tidak tepat,
d. endapan sel pada bagian bawah tersuspensi secara komplit sebelum derajat aglutinasi
ditentukan (Blaney and Howard, 2013).

Sumber discrepancy dari permasalahan pada sampel antara lain:


1. permasalahan pada sampel eritrosit
a. Ada antigen ekstra (extra antigens), dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
grup A dengan antigen B dapatan, B(A) phenotype, polyagglutination,rouleaux,
hematopoetic progenitor cell.
b. Antigen lemah atau hilang (missing or weak antigens), bisa disebabkan oleh ABO
subgroup, penyebab patologis, dan kasus-kasus transplantasi.
2. permasalahan pada sampel serum atau plasma
a. Ada antibodi ekstra (extra antibodies), misalnya pada kasus A subgroups dengan anti-
A1, cold alloantibodies, cold autoantibodies, intravenous immunoglobulin.
b. Antibodi lemah atau hilang (missing or weak antibodies), dijumpai pada newborn, usia
tua (eldery), kondisi patologis, terapi immunosupresif untuk transplatasi
3. mixed-field reaction, dapat disebabkan oleh kondisi berikut:
a. transfusi golongan darah O pada pasien dengan golongan darah A, B, AB b.
hematopoetic progenitor stem cell transplants c. A3 phenotype (Blaney and Howard, 2013).
3. Selain serum anti-A, anti-B, dan anti-D terdapat pula serum anti-AB dan anti-O.
Jelaskan apa fungsi kedua serum tersebut dan mengapa serum tersebut tidak
wajib digunakan untuk uji golongan darah!
Setetes serum yang mengandung aglutinin anti A (dari darah golongan B) diteteskan
pada salah satu tetes darah sedangkan tetes serum yang mengandung aglutinin anti B (dari
darah golongan A) diteteskan pada tetes darah lainnya. Apabila serum anti A menyebabkan
aglutinasi pada tetes darah, maka individu tersebut memiliki aglutinogen tipe A (golongan
darah A), sedangkan jika serum anti B menyebabkan aglutinasi, maka individu tersebut
memiliki aglutinogen tipe B (golongan darah B). Misalnya kedua serum anti A dan anti B
menyebabkan agutinasi, maka individu tersebut memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B
(golongan darah AB), namun apabila kedua serum anti A dan anti B tidak mengakibatkan
aglutinasi, maka individu tersebut tidak memiliki aglutinogen (golongan darah O) (Sudjaji,
2005).
Serum anti-AB dan anti-O tidak wajib digunakan karena Golongan darah AB memiliki
dua macam antigen permukaan yang merupakan kombinasi dari antigen A dan antigen B.
Golongan darah O semula dianggap tidak memiliki antigen permukaan, namun terbukti bahwa
golongan darah O masih memiliki ikatan karbohidrat pada permukaan eritrositnya yang terdiri
atas 1 molekul fukosa, 1 molekul N-asetil glukosamin dan 2 molekul galaktosa. Gugus ini tidak
bersifat imunogenik, sehingga anggapan golongan darah O tidak memiliki antigen permukaan
masih bisa diterima.
4. Jelaskan bagaimana produsen dapat membuat serum golongan darah !
Carilah dari berbagai sumber ilmiah !
Serum merupakan cairan darah yang berwarna kuning. Didalam serum terdapat dua
protein yaitu albumin dan globullin. Antibodi berada di dalam serum dikarenakan Antibodi
golongan darah merupakan protein globulin, yang bertanggung jawab sebagai kekebalan tubuh
alamiah untuk melawan antigen asing.
Komposisi serum sama dengan plasma yaitu 91% air, 8% protein, dan 0,9% mineral.
Akan tetapi didalam serum tidak ada faktor pembekuan (fibrinogen). Dikarenakan serum tidak
diberi anti koagulan, fibrinogen dapat diubah menjadi benang – benang fibrin sehingga terjadi
pembekuan darah. Dimana antikoagulan ini mengikat kalsium sebagai faktor pembekuan
sehingga fibrinogen tidak di ubah menjadi benang – benang fibrin.
 Pembuatan Serum
1. Darah yang sudah di bekukan kemudian di masukan kedalam sentrifugasi.
2. Kemudian disentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
3. Serum di pisahkan dari sel – sel darah ketabung yang terpisah.
Ketika sampel golongan darah A ditambahkan serum golongan darah B dan O diperoleh
hasil aglutinasi, sedangkan ketika di tambahkan serum golongan darah A tidak terjadi aglutinasi.
Aglutinasi yang terjadi disebabkan karena adanya reaksi antigen antibodi yang sama karena di
dalam antibodi terdapat paratop yaitu bagian dari antibodi yang dapat bereaksi dengan antigen
sedangkan di dalam antigen terdapat epitop yang merupakan bagian dari antibodi yang dapat
bereaksi dengan antibody.
Golongan darah merupakan ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya
perbedaan jenis karbohidrat serta protein pada permukaan membran sel darah merah (Oktavia,
Murpi dan Indra, 2011).
Pada prinsipnya, pemeriksaan golongan darah yaitu antigen yang direaksikan dengan
antibodi yang sama maka akan terbentuk aglutinasi. Di dalam serum terdapat antibodi karena
antibodi golongan darah merupakan protein globulin yang bertanggung jawab sebagai komponen
kekebalan tubuh alamiah (Subrata, 2004). Golongan darah ABO pada manusia ditentukan
berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, yaitu golongan darah A
memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi
terhadap antigen B dalam serum darahnya, golongan darah B memiliki antigen B di permukaan
eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya, golongan
darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B di permukaan eritrositnya serta
tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A dan antigen B di serum darahnya, sedangkan
golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen
A dan B dalam serum darahnya. (Nadia et al, 2010).
Serum adalah darah tanpa antikoagulan yang tertampung di tabung atau
wadah jika dibiarkan selama 15 menit akan mengalami proses pembekuan akibat terperasnya
cairan dalam bekuan, kemudian disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10-15 menit
sehingga akan terbentuk tiga bagian yaitu serum, buffycoat dan eritrosit (Widman, 2000). Dalam
serum terdapat antibodi untuk menghancurkan protein asing (antigen, artinya zat yang
merangsang pembentukan zat antibodi) yang masuk dalam tubuh (Pearce, 2008).
Golongan darah dibedakan atas jenis aglutinogen di dalam eritrosit, serta
glutenin di dalam plasma darah. Hal ini dikarenakan, apabila glutinogen bertemu dengan
glutenin tertentu, dapat mengakibatkan aglutinasi yang berakibat kematian. Sehingga perlu
dilakukan praktikum pengujian darah. Selain itu, pembelajaran Biologi mengenai sistem
peredaran darah manusia akan lebih mudah dikuasai.
Berdasarkan latar belakang di atas, dilakukan penelitian
tentang Pemeriksaan Golongan Darah ABO Dengan Reagen Serum Golongan Darah A, B, O.
Darah selalu dihubungkan dengan kehidupan, baik berdasarkan kepercayaan saja maupun
secara langsung kedalam pembuluh darah juga sudah lama pula dilakukan, paling tidak sejak
abad pertengahan. Pada mulanuya, pemberian darah seperti ini dan yang kini dikenal sebagai
transfuse tidak dilakukan dengan landasan ilmiah, tidak mempunyai indikasi yang jelas dan
dilakukan secara sembarang saja. Tindakan ini lebih banyak dilakukan atas dasar yang lebih
bersifat kepercayaan, misalnya darah sebagai lambang kehidupan. Indikasi juga tidak jelas,
Pelaksanaan juga tidak didasarkan atas pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu tidak heran bila
pada masa itu banyak korban karena tindakan yang dilakukan secara sembarang ini, baik pada
donor maupun pada penerima darah. Bahkan pernah ada suatu masa, tepatnya abad ke-17 dan
18, transfuse dilarang dilakukan di Eropa.
Akan tetapi Dr.Karl Landsteiner dalam tahun 1901 yang bekerja di laboratorium di Wina
menemukan bahwa sel-sel darah merah (eritrosit) dari beberapa individu akan menggumpal
(beraglutinasi) dalam kelompok-kelompok yang dapat dilihat dengan mata telanjang, apabila
dicampur dengan serum dari beberapa orang, tetapi tidak dengan semua orang.Kemudian
diketahui bahwa dasar dari menggumpalnya eritrosit tadi ialah adanya reaksi antigen-antibodi.
Apabila suatu substansi asing (disebut antigen) disuntikkan ke dalam aliran darah dari seekor
hewan akan mengakibatkan terbentuknya antibodi tertentu yang akan bereaksi dengan antigen

(Suryo,1997:345)

Anda mungkin juga menyukai