Anda di halaman 1dari 6

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Alginat
Alginat merupakan suatu polisakarida hasil ekstraksi alga coklat seperti Sargassum sp. dan
Turbinaria sp. yang banyak ditemukan di perairan Indonesia (Basmal dkk., 2002). Selain itu
potensi rumput laut ini untuk di budidayakan juga cukup tinggi, mengingat pertumbuhannya
yang cepat dan kemampuannya yang tinggi dalam menyesuaikan terhadap perubahan musim.
Sargassum polycystum yang dicoba dibudidayakan menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,34
cm/minggu (Kalangi, 2001).
Di alam, ketersediaan rumput laut penghasil alginat selalu ada sepanjang tahun, baik
pada musim kemarau maupun musim hujan. Oleh karena itu potensi pemanfaatan rumput laut
tersebut untuk menghasilkan alginat dan produk turunannya masih terbuka luas. Rumput laut
penghasil alginat (alginofit) yang paling banyak penyebarannya di perairan Indonesia adalah
spesies dari marga Sargassum dan disusul dari marga Turbinaria (Yunizal, 2004). Meskipun
potensi produksi rumput laut ini cukup melimpah, sampai saat ini pemanfaatannya masih
sangat kurang, bahkan di beberapa daerah tidak dimanfaatkan sama sekali. Tingginya potensi
rumput laut penghasil alginat belum dimanfaatkan secara optimal mengingat pengembangan
meto de ekstraksi alginat di dalam negeri yang masih belum berjalan dengan baik. Bahkan
sebagai salah satu negara penghasil produk tekstil terbesar di dunia, selama ini Indonesia
masih menggantungkan kebutuhan alginatnya dari impor.

2.2. Komposisi Kimia Alga Coklat


Rumput laut merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil yang terdiri dari satu
atau banyak sel dan berbentuk koloni apabila ditinjau secara biologi. Rumput laut
mengandung bahan-bahan organik seperti polisakarida, hormon, vitamin, mineral, dan juga
senyawa bioaktif (Putra, 2006). Rumput laut juga mengandung berbagai vitamin dalam
konsentrasi tinggi seperti vitamin D, K, Karotenoid (prekursor vitamin A), vitamin B
kompleks, dan tokoferol. Kandungan polisakarida yang tinggi sebanding dengan glukan
(polimer glukosa) dan polisakarida tersulfatisasi (Soraya, 2005).
Sargassum sp. sangat melimpah serta tersebar luas di perairan Indonesia. Menurut
Kadi (2005), Sargassum sp. mengandung bahan alginat dan iodin yang digunakan pada
industri makanan, farmasi, kosmetik dan tekstil. Selain itu juga,Sargassum sp. mengandung
senyawa-senyawa aktif steroida, alkaloida, fenol, dan triterpenoidberfungsi sebagai
antibakteri, antivirus, dan anti jamur (Kusumaningrum et al. 2007).
Pengembangan teknologi aplikasi alga cokelat Sargassum sp. tidak hanya pada bidang
pangan seperti alginat, makanan ternak serta pupuk, akan tetapi antioksidan yang terdapat
pada alga cokelat Sargassum sp. juga mampu menghambat kerusakan yang ditimbulkan oleh
radikal bebas pada produk seperti minyak ikan (Patra, 2008; Winberget al.,2009). Penelitian
Koivikko (2008) menyebutkan bahwa pada alga cokelat Sargassum sp. ditemukan florotanin
yaitu senyawa fenolik yang berperan sebagai sumber antioksidan.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat mengurangi dampak terjadinya oksidasi.
Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan
organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu
sama yang lainnya. Fungsi metabolit sekunderadalah untuk mempertahankan diri dari kondisi
lingkungan yang kurang menguntungkan (Khotimah et al.,2013). Berdasarkan hal tersebut
maka dilakukan penulisan karya tulis ilmiah ini yang bertujuan untuk mengkaji potensi dan
pemanfaatan senyawa aktif yang terkandungalam alga coklat Sargassumsp dan aplikasinya
pada bidang perikanan.
Alga Sargassum sp. atau alga cokelat merupakan salah satu genus Sargassum yang
termasuk dalam kelas Phaeophyceae.Sargassumsp. mengandung bahan alginat dan iodin yang
bermanfaat bagi industri makanan, farmasi, kosmetik dan tekstil (Kadi,2008).Sargassumsp.
memiliki kandungan Mg, Na, Fe, tanin, iodin dan fenol yang berpotensi sebagai bahan
antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri patogen yang dapat menyebabkan diare. Diare
adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami buang air besaryang sering dan masih
memiliki kandungan air berlebihan (Sastry dan Rao, 1994).
Alga cokelat memiliki kandungan karbohidrat, protein, abu, air, vitamin dan mineral
dalam bentuk makro dan mikro elemen yaitu kalium (K), natrium (Na), magnesium (Mg),
fosfat (P), iodin (I) dan besi (Fe) (Syad et al. 2013; Cardoso et al. 2015). Alga cokelat
mengandung metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan antara lain senyawa
alkaloid, glikosida, tanin dan steroid yang banyak digunakan dalam pengobatan dan industri
farmasi (Jeeva et al. 2012) serta senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas
penghambatan oksidasi LDL, Angiotensin Coverting Enzyme (ACE), α-amilase, α-
glukosidase (Nagappan et al. 2017) dan berpotensi memberikan efek terapeutik serta
perlindungan terhadap beberapa penyakit degeneratif terutama kanker (Padua et al. 2015)

2.3. Karakteristik Dan Klasisifikasi Ilmiah Alga Coklat


Rumput laut banyak tumbuh di daerah pasang surut yang perairannya jernihdan
menempati substrat tertentu yang sesuai dengan kehidupannya (Kadi, 2006).
Klasifikasi alga coklat

Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Dictyotales Fucales
Famili : Dictyotaceae Sargassaceae
Genus : Padina Sargassum
Hormophysa Turbinaria
Spesies : Australis
crassifolium
cinereum
vulgare
cuneiformis
ornata

Widiyastuti (2009), alga coklat memiliki thallus berwarna coklat yang bervariasi dari
coklat tua sampai coklat muda. Bentuk thallus alga coklat beranekaragam, ada yang silindris,
gepeng dan banyak juga yang berbentuk lembaran. Berdasarkan bentuk thallusnya, alga
coklat merupakan kelas Thallophytayang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi, karena organ
thallusnya menyerupai akar, batang dan daun. Genus Sargassum hidup pada bongkahan batu
karang, warnanya bermacam-macam dari coklat muda sampai coklat tua. Alat pelekatnya
terdiri dari cakram pipih, dari cakram ini muncul tangkai yang pendek silindrik yang tegak.
Dari tangkai yang pendek ini muncul poros-poros silindrik panjang. Masing-masing poros ini
dapat mencapai 1 meter panjangnya di mintakat bawah litoral dimana Sargassum hidup. Pada
poros yang silindrik dengan diameter 3 mm terdapat bentuk-bentuk seperti daun, kantung
udara dan cabang-cabang perkembangbiakan (Romimohrarto dan Juwana, 2007).
Terdapat 3 jenis yakni Sargassum crassifolium, Sargassum cinereum, dan Sargassum
vulgare Hormophysa cuneiformis, Ciri-ciri umum thallus tegak, rimbun, alat pelekat seperti
cakram dan rhizoid pendek, bagian pangkal thalli menyerupai tangkai, warna coklat tua.
Sepanjang sumbu tegak dan cabang-cabanya, pada kedua sisinya terdapat semacam 'sayap'
yang bentuknya tidak teratur, hidup menempel pada batu dengan alat pelekatnya berbentuk
cakram kecil. Alga ini hidup bercampur dengan Sargassum dan Turbinaria (Bhavanath et al.
2009).Turbinaria, memiliki thallus foloid yang bentuknya menyerupai turbin, memiliki gerigi
pada pinggirannya yang bervariasi tergantung spesiesnya (Widiyastuti, 2009). Turbinaria
mempunyai cabang-cabang silindrik dengan diameter 2-3 mm, dan mempunyai cabang lateral
pendek dari 1-1,5 cm panjangnya. Ini berakhir pada sebuah reseptakel dengan pinggiran
bergerigi dan garis tengahnya kira-kira 1 cm (Magruder, 1979) Codero (1980),
Padina australis menunjukkan ciri utama yaitu thalli berukuran besar (sekitar 15 cm),
membentuk kipas dengan lebar 2 –8 cm, dan terdapat segmen-segmen lembaran tipis (lobus)
dengan garis-garis berambut radial. Thalus Padina australis tersusun dari epidermis dan sel
parenkim. Ukuran lembaran thalus yaitu 5 –10 cm dan bersifat mudah robek. Warna utama
adalah coklat muda kekuning-kuningan, tetapi terkadang warnanya memutih karena adanya
perkapuran di permukaan daun. Bagian atas lobus agak melebar dengan pinggiran rata dan
holdfast berbentuk cakram kecil berserabut Chapman and Chapman, 1980). Padina memiliki
thallus berbentuk lembaran yang menyerupai kipas. (Romimohtarto dan Juwana, 2007)
Padina tumbuh menempel di batu pada daerah rataan terumbu, alat pelekatnya terdiri dari
cakram pipih, biasanya terbagi menjadi cuping-cuping pipih.

2.4. Ciri-Ciri Kualitas Alginat


A.Sifat Fisika Dan Kimia Alginat
Kadar air suatu produk sangat penting karena terkait dengan daya simpan produk dan
kualitasnya. Kadar air hidrokoloid rata-rata diinginkan di bawah 20% untuk standar pasar
internasional. Sama halnya dengan kadar air, kadar abu juga penting diketahui karena
menentukan tingkat kemurnian produk dari komponen yang tidak dikehendaki.
Perbedaan nilai viskositas yang dihasilkan dari alginat percobaan dengan viskositas
alginat komersial dapat disebabkan oleh perbedaan jenis rumput laut yang diekstrak, dimana
bila sebagian besar alginat yang terekstrak berbobot molekul tinggi (berantai panjang) maka
natrium alginat yang dihasilkan akan mempunyai viskositas yang lebih tinggi, dan sebaliknya
(Karsini,1993). Viskositas alginat percobaan yang cenderung rendah dibandingkan dengan
alginat komersial juga diduga dipengaruhi oleh nilai pH. hubungan pH terhadap viskositas
alginat. Alginat viskositasnya meningkat pada pH < 6 dan tidak stabil pada pH sekitar 10.
Viskositas merupakan salah satu sifat yang sangat penting dari alginat. Sifat ini pula
yang sering dijadikan sebagai ukuran kualitas alginat yang ditawarkan dalam dunia
perdagangan, karena pada umumnya alginat digunakan sebagai bahan pengental dan
penstabil. Standar viskositas alginat menurut Winarno (1996) adalah 10-5000 cPs (dalam 1%
larutan alginat, 250C), sehingga alginat hasil percobaan maupun alginat komersial memenuhi
standar perdagangan yang dapat diperjual belikan. Serat pangan termasuk dalam golongan
karbohidrat yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, pektin dan gum.
Analisa kandungan serat yang dilakukan pada alginat percobaan menunjukkan kadar
serat pangan yang larut adalah sebesar 9,38% dan serat pangan yang tidak larut sebesar
59,20%. Menurut Arief (2008) serat pangan yang tidak dapat larut (IDF) merupakan
komponen terbesar (sekitar 70%) penyusun serat pangan total (Total Dietary Fiber, TDF) dan
sisanya (sekitar 30%) adalah komponen yang serat pangan yang dapat larut (SDF). Serat larut
air yang terdapat dalam alginat dapat berupa pektin yang merupakan turunan dari gula yang
biasa terdapat pada tanaman, namun jumlahnya kecil dibandingkan dengan karbohidrat lain.
Pektin dibentuk oleh satuan-satuan gula dan asam galakturonat yang lebih banyak dari
pada gula sederhana, larut dalam air terutama air panas, sedangkan dalam bentuk larutan
koloid akan berbentuk pasta. Sedangkan serat yang tidak larut dimungkinkan berupa selulosa,
hemiselulosa dan lignin. Serat alginat ketika larut dalam air membentuk kisi-kisi seperti jala
yang mampu mengikat banyak molekul air.
Hal ini menyebabkan larutan alginat sangat baik digunakan untuk minuman
kesehatan, diantaranya dapat membantu mencegah sembelit, kanker, sakit pada usus besar,
menurunkan kadar kolesterol secara efektif, mengontrol kadar gula dalam darah, mencegah
wasir, membantu menurunkan berat badan dan lain-lain (Yunizal, 2004)

B.Kemurnian Alginat
Tingkat kemurnian alginat percobaan dan alginat komersial didapat dari perbandingan
nilai derajat deasetilasi alginat sampel dengan nilai derajat deasetilasi alginat standar
(Bastaman,1989). Nilai derajat deasetilasi ditentukan berdasarkan perbandingan nilai
absorban pada 1655 cm-1 dengan nilai absorban pada 3450 cm-1. Berdasarkan hasil analisis
FTIR untuk sampel alginat percobaan menunjukkan adanya gugus fungsi OH (H-bonded)
pada bilangan gelombang 3433.34 cm-1, CH alifatik pada 2926.31 cm-1, C=O karboksilik
pada bilangan gelombang 1614 cm-1, CH pada 1417.08 cm-1, CH pada 1317.85 cm-1 dan
pada bilangan gelombang dari 650 – 1200 cm-1 terdapat alifatik siklik C-C, C-O, C-O-C
seperti (CH3) pada metil pada 947.51 cm-1 dan (CH3) pada etil pada bilangan gelombang
903.54 cm-1.
Pada alginat komersial, gugus fungsi yang ditemukan tidak selengkap alginat
percobaan dimana gugus fungsi yang terdapat hanya OH pada bilangan gelombang 3455.87
cm-1, C=O karboksilik pada 1637.18 cm-1, CH pada 1384.65 cm-1 dan C-O pada 1111.20
cm-1. Kadar kemurnian dihitung berdasarkan perbandingan nilai derajat deasetilasi natrium
alginat yang dihasilkan dengan derajat deasetilasi natrium alginat standar (Bastaman,1989).
Kadar kemurnian sampel alginat yang dihasilkan dengan menggunakan standar Cina
yaitu sebesar 73.38 % untuk alginat percobaan sedangkan untuk alginat komersial sebesar
50.23%. Perbedaan kadar kemurnian alginat percobaan dengan alginat komersial disebabkan
oleh pemucatan pigmen-pigmen yang teroksidasi dan terdegradasi sehingga produk yang
dihasilkan semakin murni maka kadar alginat akan semakin tinggi (Yunizal, 2004). Namun
demikian, baik alginat percobaan maupun alginat komersial tidak memenuhi standar
kemurnian FCC yaitu sebesar 90.8 – 106%.
Industri alginat (peluang dan potensinya). php?pil=10&jd=industri-alginat-(peluang-dan-
Potensinya)&dn= [13 April 2010]. Basmal, J., Wikanta, T. dan Tazwir (2002).

Penelitian penanganan rumput laut coklat (Sargassum fi lipendula) setelah dipanen


menggunakan larutan kalium hidroksida. Octopus 4: Yunizal (2004).

Kadi, A. 2005. Beberapa Catatan Kehadiran Marga Sargassum di Perairan Indonesia.Oseana,


30 (4) : 19-29.

Kusumaningrum I., B.H. Rini, H. Sri. 2007. Pengaruh PerasanSargassum crassifolium dengan
Konsentrasi yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max(L)
Merill)15(2).

Koivikko, R. 2008. Brown Algal Phlorotannins Improving and Applying Chemical Methods.
Departement of Chemistry, University of Turku, Finlandia

Khotimah,K., Darius dan B.B. Sasmito. 2013. Uji Aktivitas Senyawa Aktif Alga Coklat
(Sargassum fillipendulla) Sebagai Antioksidan Pada Minyak Ikan Lemuru (Sardinella
longiceps). THPI Student Journal Universitas Brawijaya, Malang , Volume. I No. 1 pp 10-20.

Patra, J. K., Rath, S. K., and Jena, K. 2008. Evaluation of Antioxidant and Antimicrobial
Activity of Seaweed (Sargassum sp.) Extract: A Study on Inhibition of Glutathione-S-
Transferase Activity. Turkish Journal of Biology. 32: 119-125

Padua D, Rocha E, Gargiulo D, RamosAA. 2105. Bioactive compounds frombrown


seaweeds: phloroglucinol,fucoxanthin and fucoidan as promisingtherapeutic agents against
breast cancer.Phytochemistry Letters. 14: 91-98.

Nagappan H, Pee PP, Kee SHY, Ow JT, Yan SW, Chew LY, Kong KW. 2017.
Malaysianbrown seaweeds Sargassum siliquosumand Sargassum polycystum: low
densitylipoprotein (LDL) oxidation, angiotensinconverting enzyme (ACE), α-amylase andα-
glucosidase inhibition activities. FoodResearch International. 1-9.antioxidant activity. Journal
Science Technology. 26(2): 211-219.

Sastry and Rao. 1994. Antibacterial Substance From Marine Algae. Successive Extraction
Using Benzene, Chloroform and Methanol. Department of Biochemistry, Institute of Medical
Science, Banaras Hindu University. India.

Yunizal. 1998. Prosedur Analisa Kimiawi Ikan dan Produk Olahan Hasil-hasil Perikanan.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta

Bastaman. S. 1989. Studies on Degradation and Extraction of Chittin and Chitosan from
Prawn Shells. Thesis. The Departemen of Mechanical Manufacturing. Aeronautiocal and
Chemical Engineering. Belfast : The Queen’s university.

Winarno, F.G. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Pustaka sinar harapan.
Arief, I. 2008. Arti Penting Serat Makanan Bagi Tubuh Manusia. Artikel Nation
Cardiovaskular center Harapan Kita.