Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

TEKNIK DASAR KOMUNIKASI INTERPRETATION DAN


CONFRONTATION

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah : Mikrokonseling

Dosen Pengampu : Rosalia Dwi Nawantara. M.Pd

Oleh :

Kelompok 4

1. Widya Ayu Safitri


NPM : 19.1.01.01.0014
2. M. Kholilulloh Rochman
NPM : 19.1.01.01.0034
3. Zein Kholishotul Maghfiroh
NPM : 19.1.01.01.0027

KELAS IIA

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI

2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat, taufiq dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Teknik dasar
komunikasi interpretation dan confrontation.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Ibu Rosalia
Dewi Nawantara, M.Pd. Pada mata kuliah Mikrokonseling . Selain itu, makalah ini bertujuan
untuk menambah wawasan bagi pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rosalia Dewi Nawantara , M.Pd. selaku
dosen pengampu mata kuliah Mikrokonseling yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai bidang studi yang kami tekuni. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Kediri.25 Maret 2021

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................................................1

KATA PENGANTAR ................................................................................................................2

DAFTAR ISI ...............................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang.............................................................................................................4
B. Rumusan masalah ......................................................................................................4
C. Tujuan ........................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN

A. maksud dari teknik interpretasi ..................................................................................6


B. tujuan dari teknik interpretasi .....................................................................................6
C. cara pengaplikasian teknik interpretasi ......................................................................7
D. jenis jenis teknik interpreatasi ....................................................................................7
E. modalita yang terdapat dalam teknik interpretasi ......................................................8
F. maksud teknik confrontation ......................................................................................8
G. tujuan teknik confrontation ........................................................................................9
H. jenis jenis dari teknik confrontation ...........................................................................10
I. cara pengaplikasian teknik confrontation ...................................................................10
J. contoh dari teknik confrontation ................................................................................11

BAB III PENUTUP

A. Simpulan ....................................................................................................................13
B. Saran ...........................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................14

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konseling merupakan suatu proses komunikasi antara konselor dengan konseli. Sebagai
suatu proses komunikasi, konseling melibatkan konselor dalam menangkap atau merespon
pernyataan konseli dan mengkomunikasikanya kembali kepada konseli tersebut. Agar proses
komunikasi tersebut efektif dan efisien, maka konselor hendaknya memiliki kemampuan dalam
memberikan bantuan terhadap konseli. Salah satu kemampuan tersebut adalah keterampilan
berkomunikasi dengan konseli.
Keterampilan ini dibutuhkan untuk membangun relasi dengan konseli, sehingga konseli
dapat terlibat dalam proses konseling. Keterampilan ini merupakan keterampilan dasar bagi
konselor karena relasi yang penuh kepercayaan antara konselor dan konseli untuk membentuk
penghargaan, keterbukaan, pemahaman, dan partisipasi klien dalam konseling.
Dalam berkomunikasi dengan konseli, konselor seharusnya menggunakan respon-respon
yang fasilitatif bagi pencapaian tujuan konseling. Salah satu respon dalam berkomunikasi dengan
konseli adalah keterampilan mengklarifikasi. Keterampilan ini digunakan konselor untuk
memperjelas apa yang telah dibicarakan konseli dengan mengambil inti yang penting, dengan
demikian konselor tidak salah persepsi atau salah tangkap terhadap apa yang telah dibicarakan
konseli.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan teknik interpretation?
2. bagaimana tujuan dari teknik interpretation?
3. Bagaimana cara pengaplikasian dari teknik interpretation?
4. Apa saja jenis jenis dari teknik interpretation?
5. Apa saja modalita yang ada dalam teknik interpretation?
6. Apa yang dimaksud dengan teknik confrontasi?
7. Bagaimana tujuan dari teknik confrontasi?
8. Apa saja jenis dari teknik confrontasi?

4
9. Bagaimana cara pengaplikasian teknik confrontation?
10. Bagaimana contoh teknik conforntasi ?

C. Tujuan
1. Unruk mengetahui maksud dari teknik interpretasi
2. Untuk mengetahui tujuan dari teknik interpretasi
3. Untuk mengetahui cara pengaplikasian teknik interpretasi
4. Untuk mengetahui jenis jenis teknik interpreatasi
5. Untuk mengetahui modalita yang terdapat dalam teknik interpretasi
6. Untuk mengetahui maksud teknik confrontation
7. Untuk mengetahui tujuan teknik confrontation
8. Untuk mengetahui jenis jenis dari teknik confrontation
9. Untuk mengetahui cara pengaplikasian teknik confrontation
10. Untuk mengetahui contoh dari teknik confrontation

5
BAB II

PEMBAHASAN
TEKNIK INTERPRETASI

A. Pengertian teknik interpretasi

  Digunakan oleh  konselor yang ingin “membawa” atau ‘ menyampaikan” ide kepada


kelompok. Mungkin sekali interpretasi itu tidak tepat, namun dapat diarahkan untuk
menstimulasi diskusi lebih lanjut dan mendorong/menguatkan kemampuan individual untuk
boleh tidak sepakat dengan konselor. Interpretasi merupakan suatu teknik menyampaikan arti
dari pesan yang disampaikan oleh konseli. Dalam membuat interpretasi, konselor akan membuka
suatu pandangan baru atau penjelasan mengenai sikap dan tingkah laku interpretasi seperti
mengajukan pertanyaan mengenai hipotesa mengenai hubungan atau mengenai arti suatu tingkah
laku yang harus dipikirkan oleh konseli.

          Interpretasi adalah keterampilan/teknik yang digunakan oleh konselor dimana berarti atau
karena tingkah laku klien ditafsirkan/diduga dan dimengerti dengan dikomunikasikan pada klien.
Selain itu dalam interpretasi konselor menggali arti dan makna yang terdapat dibelakang kata-
kata klien atau dibelakang perbuatan/tindakan yang telah diceritakannya.

B. Tujuan teknik interpretasi

1. Membantu konseli memeriksa kembali tingkah laku mereka.


2.  Membantu klien lebih memahami diri sendiri bilamana kien bersedia
mempertimbangkannya dengan pikiran terbuka.

6
3. Mengembangkan hubungan yang baik melalui pengkomunikasian yang baik dan
menyenangkan konseli.
4.  Mengenali hubungan sebab akibat antara pernyataan dan perilaku eksplisit dan
implicit
5. Membantu konseli mengkaji tingkah laku dari sudut konselor.         
6. Memotivasi agar konseli mengubah pikiran atau perilaku yang tidak efektif

C. Cara pengaplikasian dan contoh

1. Pengecekan informasi
     Konseli  :” Bapak, saya bingung, dengan keadaan saya, saya berusaha  
                         menghemat keuangan, tapi setiap saya melihat ini…itu…saya jadi  
                         ingin memilikinya, ya jadinya saya  membellinya…jadinya saya
                       itu hampir setiap bulan kehabisan uang…”
      Konselor :“Dari keterangan barusan, apakah anda bermaksud Mengatakan  
                        kalau anda itu tidak bisa mengatur keuangan anda sendiri”.
2.  Interpetasi tunggal
    Konseli  : “Bapak, saya bingung, setiap saya berusaha menghemat keuangan,  
                       tapi tidak tahu  uang saya selalu habis, dan saya tidak tahu uangnya  
                     saya gunakan untuk apa…jadinya saya itu hampir setiap bulan  
                     kehabisan uang…”
   Konselor : “ Dari uaraian barusan,anda bermaksud mengatakan, kalau anda itu
                      bermasalah dengan manajemen keuangan”.
3. Intrepetasi ganda
    Konseli :” Bapak, saya bingung, setiap saya berusaha menghemat keuangan,  
                       tapi tidak tahu  uang saya selalu habis, dan saya tidak tahu uangnya  
                       saya gunakan untuk apa… tapi yang saya ingat teman-teman yang
                        membuat saya menjadi seperti ini…. jadinya saya itu hampir setiap bulan kehabisan uang…”
   Konselor :”Dari keterangan saudara, anda mengatakan pengeluaran boros itu  
                      selain karena anda itu tidak bias memanajemen kuangan juga karena  
                     teman-teman anda”.

7
D. Jenis jenis teknik interpretasi

1) Pengecekan Informasi
      Teknik yang dipakai jika terjadi kegagalan dalam menangkap pesan eksplisit  
     arti konseli.
2)  Interpetasi Tunggal
    Teknik untuk mengklarifikasi makna tunggal terhadap satu pesan atau
    ungkapan konseli.
3) Intrepetasi ganda
    Teknik untuk mengklarifikasi makna ganda terhadap pesan atau ungkapan
    konseli.

E. Modalita teknik interpretation

 Anda mengatakan tadi bahwa…


 Dari keterangan saudara
 Dari uraian barusan...
 Sepertinya anda...
  Mencakup semua...
 Dilihat dari prilaku dan perkataan anda, sepertinya...

TEKNIK CONFRONTATION
A. Pengertian
Konfrontasi adalah keterampilan atau teknik yang digunakan oleh konselor yang
menantang konseli karena adanya ketidaksesuaian yang terlihat dalam pernyataan dan
tingkah laku konseli, terjadi inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan, ide awal
dengan ide berikutnya. Konfrontasi ini sifatnya membantu klien, bukan dimaksudkan
untuk menyerang klien tetapi hanya dibatasi pada komentar-komentar khusus terhadap
perilaku klien yang tidak konsisten. Faktor penting dalam konfrontasi adalah ketepatan

8
waktu penyampaian dan sifatnya yang non-judgemental, sehingga klien mampu
menginterpretasikan komentar yang disampaikan itu untuk “melihat kembali dirinya”.

B. Tujuan teknik confrontation

Teknik konfrontasi mempunyai beberapa tujuan antara lain:


1. Tujuannya Confronting adalah untuk membantu proses perkembangan konseli yang
sementara ini nampak terganggu oleh adanya kesenjangan tersebut. Kesenjangan itu
terjadi:
- Ketidak sesuaian antara ekspresi konseli tentang siapa dia dan apa yang diinginkannya.
(real self atau self concept versus ideal self).
- Ketidak sesuaian antara verbal konseli tentang dirinya (awareness atau ansight) dengan
perilakunya. (Klien mengatakan satu pihak dia sangat memperhatikan pacarnya, tapi
dalam pernyataan lain dia malas menghubungi)
- Antara Dua Tingkahlaku Non Verbal (Kaki gemetar, sedangkan bibir tersenyum)
- Antara dua orang atau lebih (Dia berkata begini, dan Anda mengatakan begitu..”)
- Antara Pernyataan dan Tingkahlaku Non-Verbal (Konseli menyatakan bahwa dia
sangat senang di runag konseling, tetapi wajahnya menunjukkan ketegangan dan
gemetar)
2. Menurut Hariastuti dan Darminto, (2007:54) tujuan konfrontasi adalah untuk
mengenali pesan-pesan klien yang bercampur aduk atau tidak konsisten, serta bertujuan
pula untuk mengeksplorasi cara-cara lain dalam upaya memahami situasi atau diri klien.
3. Dalam Willis, Sofyan tujuan konfrontasi ada dua, yaitu :
a. Agar calon konselor mempunyai daya kritis terhadap factor diskrepansi atau
inkonsistensi dari diri klien.
b. Agar calon konselor mampu membuat kalimat-kalimat konfrontasi yang baik dan

9
dengan sikap attending.
4. Menurut Hatauruk dan Pribadi, (1984: 27) Tujuan konfrontasi adalah untuk membuat
orang agar mengubah pertahanan yang telah dibangun guna menghindari pertimbangan
bidang tertentu dan untuk meningkatkan komunikasi terus terang. Pertahanan-pertahanan
psikologis ini biasanya merupakan bidang yang penting didekati, tetapi sangat sensitive
sehingga sangat takut mengurusinya.

C. Jenis jenis teknik confrontation

 Konfrontasi verbal dan tingkah laku non verbal


 Konfrontasi pesan-pesan verbal dengan tahap-tahap atau langkah-langkah tindakan.
 Konfrontasi diantara dua pesan verbal (dinyatakannya secara tidak konsisten).
 Konfrontasi dua pesan non verbal (ditampakannya tingkah laku tidak konsisten).
 Konfrontasi dua pribadi atau orang (konselor-konseli, konseli-orang tuanya, konseli
saudaranya, dan sebagainya).
 Konfrontasi pesan verbal dan konteks atau situasi.

D. Cara pengaplikasian
 Konfrontasi dapat dilakukan apabila hubungan klien dan konselor sudah mencapai
kepercayaan, tapi jika tidak justru akan terjadi resistensi pada diri klien.
 Konselor harus cukup yakin tentang apa yang ditunjukkan sebagai pertentangan, dan
tidak boleh bicara dengan nada mengadili, menuduh ataupun memamerkan ketajaman
pengamatannya.
 Kesiapan penerima. Ditandai dengan klien siap mendengarkan sesuatu yang akan
disamapaikan konselor. Jika klien tidak siap, dia tidak akan mungkin mendengarkannya.
 Konfrontasi bersifat deskriptif bukan interpretative. Deskriptif yaitu mendeskripsikan
sesuatu yang sudah ada.
 Hal-hal yang dikonfrontasi bersifat baru. Jika peristiwanya lama mungkin saja klien akan
berbohong kepada konselor. Makin dekat pemakaian keterampilan konfrontasi dengan
waktu berlangsungnya, makin lebih baik.

10
 Waktu yang tepat. Konfrontasi harus digunakan bila terdapat kesempatan yang baik yang
tepat digunakan untuk membantu.
 Pemberian yang membantu. Kita harus mempertimbangkan alas an kita untuk
memberikan reaksi. Apakah kita berusaha membantu atau justru kita melimpahkan
perasaan kita sendiri kepada klien.
 Nyatakan sespesifik mungkin.Sedapat mungkin kita mengemukakan contoh-contoh yang
kita tujukan (umpamanya, kata-kata actual dari klien)

E. Contoh Penerapan
Teknik konfrontasi dapat dilakukan oleh konselor apabila klien tersebut menyampaikan
atau menunjukkan adanya suatu kesenjangan yang ada pada dirinya. Konfrontasi ini
dilakukan apabila si klien sudah merasa siap untuk dikonfrontasi, dengan tanda bahwa
klien itu memberikan respon yang baik terhadap konselor.
Kesenjangan yang terjadi dalam konfrontasi
1. Kesenjangan antara dua pernyataan
Klien : “Saya benci sekali pada dia Bu”. Selama ini saya sudah terlalu berharap
banyak dari dia, tapi apa yang saya dapat??? Dia itu memang orang yang
menyebalkan…….!!!! Ingin rasanya saya marah pada dia. … (Sambil diam sejenak).
Saya tidak mau kehilangan dia Bu…!!!”
(Kesenjangan antara dua pernyataan)
Konselor : “Awalnya Anda berkata bahwa Anda benci dengan orang itu, terakhir saya
mendengar kalau Anda tidak mau kehilangan orang itu. Apakah disini tidak terdapat
sesuatu yang ganjil??”
2. Kesenjangan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan
Klien : “ Bu, saya akhir-akhir ini sedang dekat dengan seseorang. Dia itu sudah lama
saya kenal. Hubungan kami mungkin bisa dibilang lebih dari teman Bu. Dan beberapa
saat terakhir ini dia seperti hilang begitu saja tidak pernah terdengar kabarnya,
menghubungi saya pun sama sekali tidak pernah. Terakhir yang saya dengar dari
temannya, dia sekarang sedang dekat dengan orang lain Bu. Saya benci sekali sama dia.
Saya berusaha mencari tahu tentang keadaan dia pada teman-temannya, tapi mereka
seakan-akan tidak mau memberi tahunya.”

11
(Kesenjangan antara pernyataan dengan tingkah laku)
Konselor : “ Semula Anda mengatakan bahwa Anda benci dengan orang tersebut,
belakangan Anda tetap berusaha mencari tahu tentang keadaannya? Bagaimana kiranya??
3. Kesenjangan antara pernyataan dan tingkah laku non verbal
Konselor : “Iya silakan…. Bagaiman keadaan Anda saat ini??”
Klien : “Baik Bu….”
(Berbicara dengan keadaan tidakl bersemangat dan dengan nada lesu)
Konselor : “Anda mengatakan kondisi Anda baik-baik saja, sementara itu saya melihat
Anda kurang bersemangat. Apakah Anda yakin dengan keadaan Anda?”
4. Kesenjangan antara dua tingkah laku non verbal
Klien : “ Saya memang benci pada orang itu Bu….
(Tidak nampak wajah benci, tetapi bicara sambil tersenyum)
(Kesenjangan antara dua tingkah laku non verbal)

12
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Interpretation adalah keterampilan/teknik yang digunakan oleh konselor dimana
berarti atau karena tingkah laku klien ditafsirkan/diduga dan dimengerti dengan
dikomunikasikan pada konseli. Sedangkan konfrontasi adalah teknik yang digunakan
oleh konselor dalam menantang konseli karena adanya ketidaksesuaian yang terlihat
dalam pernyataan dan tingkah laku konseli, terjadi inkonsistensi antara perkataan dan
perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya. Teknik confrontation sangat baik di lakukan
konselor kepada konseli guna menyadarkan konseli dari pertentangan antara perkataan
verbal dan sikap non verbalnya ketika konseli mengutarakan perasaannya dengan tetap
memperhatikan hal-hal yang menjadi etika dalam teknik confrontation.

B. Saran
Demikian makalah yang penulis buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis sangat
mengharapkan saran yang berisi kritik maupun sanggahan serta tambahan terhadap
makalah ini agar menjadi lebih baik.
Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat memaafkan dan memakluminya, karena
penulis adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, alfa dan lupa.

13
DAFTAR PUSATA

Supriyono dan Mulawarman. 2006. Ketrampilan Dasar Konseling. Unnes: FIP


Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Individual. Bandung: Alfabeta
http://bk112104.blogspot.com/2014/01/teknik-konfrontasi.html?
m=1#:~:text=Konfrontasi%20adalah%20keterampilan%20atau%20teknik,ide%20awal
%20dengan%20ide%20berikutnya
Sugiharto, DYP & Mulawarman.2007.Buku Ajar Psikologi Konseling.Semarang : Jurusan
bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Supriyo dan Mulawarman. 2006. Keterampilan Dasar Konseling. Semarang : UNNES
PRESS

14