Anda di halaman 1dari 3

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS

Angkatan : L (50)

Mata Pelatihan/Agenda : Nilai-nilai Dasar PNS

Nama Peserta : Nuke Yuniar Anugrah

Widyaiswara : Heru Utami, S.Pd., M.M.

Lembaga Penyelenggara : Pusdiklat SDM Ketenagakerjaan

Topik
Penggusuran Lahan Tanah UII Depok

Sumber
 Berita:
1. https://megapolitan.kompas.com/read/2019/11/11/09414611/protes-
penggusuran-lahan-untuk-uiii-warga-merasa-tak-pernah-diajak
2. https://megapolitan.kompas.com/read/2019/11/13/10170881/rumah-
aparat-lolos-penertiban-lahan-untuk-uiii-warga-minta-
keadilan?_ga=2.91394906.111724538.1619062552-
1168518559.1611110040
3. https://megapolitan.kompas.com/read/2019/11/13/17131131/warga-
kampung-bulak-satpol-pp-tidak-manusiawi
 Video:
1. https://www.youtube.com/watch?v=OX2TmhUd3BM - Eksekusi Penertiban
Lahan Kampus UIII
2. https://www.youtube.com/watch?v=1C0n4VHe07w - Bersitegang Warga
Dengan Petugas Dalam Penertiban Lahan RRI

Deskripsi Kasus
Pembangunan UIII sebagai calon kampus masa depan masuk di dalam Proyek
Strategis Nasional (PSN) sesuai Perpres No. 57 Tahun 2016, yang dimana peletakan
batu pertamanya telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Juni 2018
lalu. Kampus yang akan berlokasi di Kompleks RRI Cimanggis, Depok, Jawa Barat,
menggunakan 20-30% dari lahan yang tersedia untuk bangunan gedung, untuk
sisanya, akan digunakan sebagai lahan hijau, oleh karena itu untuk dapat melakukan
pembangunan kampus tersebut perlu adanya pembebasan lahan.
Akan tetapi, pembebasan lahan untuk pembangunan Universitas Islam Internasional
Indonesia (UII) masih mengalami kendala, salah satunya yaitu penolakan oleh warga
yang berdomisili di area pembebasan lahan tersebut. Warga setempat menuntut satu
hal pada pemerintah, yaitu berupa terbukanya ruang dialog atau musyawarah mufakat
untuk mengambil jalan tengah dalam sengketa penggusuran lahan tersebut sehingga
dapat menghasilkan win-win solution bagi kedua pihak.

Nilai-nilai ANEKA

Akuntabilitas:
1. Transparan: belum ada sosialisasi sebelum penggusuran.
2. Kejelasan: tidak ada kejelasan mengenai pendekatan yang dilakukan kepada
warga.
3. Keadilan: tidak adanya keadilan terhadap masyarakat yang menjadi korban
penggusuran.
4. Integritas: sebelum menggusur sebaiknya lebih memperhatikan warga terkait
kejelasan hidup warga kedepannya setelah terjadi penggusuran.

Nasionalisme:
1. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan: musyawarah
belum terjadi, belum terbukanya ruang dialog antara warga dan pemerintah,
tidak sesuai dengan Pancasila sila ke-4.
2. Saling menghormati: tidak adanya sikap menghormati dari pihak penggusur
kepada warga setempat yang dibuktikan dengan tidak adanya upaya untuk
melakukan musyawarah kepada warga untuk mencari jalan tengah.
3. Tenggang rasa: belum tercerminnya sikap tenggang rasa dari pihak penggusur
dalam melakukan penggusuran, karena penggusuran dilakukan dengan
sepihak tanpa mempedulikan perasaan warga sekitar.
4. Gotong royong: para warga setempat bersatu untuk memperjuangkan hak
mereka serta mendapatkan hasil musyawarah mufakat dari pemerintah untuk
mendapatkan win-win solution.
Etika Publik:
1. Sopan Santun: dalam kasus ini Satpol PP selaku aparat penegak hukum
kurang sopan dalam melakukan penggusuran dibuktikan dengan kesaksian
para warga bahwa Satpol PP melakukan penggusuran dengan semena-mena.
2. Sabar: tidak sabarnya pihak penggusur dalam mengeksekusi lahan sehingga
memperlakukan warga sekitar dengan tidak semena-mena.
3. Tertib: Tidak tertibnya Satpol PP sehingga memicu kericuhan.
4. Ramah: kurang ramahnya pihak penggusur dan Satpol PP dalam
mengeksekusi lahan.

Komitmen Mutu:
1. Penyalahgunaan wewenang: Satpol PP dalam melakukan penggusuran tidak
sesuai standar.
2. Efisien: Tidak efisiennya cara penggusuran yang dilakukan sepihak dan
menimbulkan banyaknya penolakan yang berakibat tehambatnya proses
eksekusi.
3. Profesional: Tidak profesionalnya pihak penggusur ketika melakukan eksekusi
dimana banyak diambilnya keputusan sepihak.

Anti Korupsi:
1. Jujur: Bersikap jujur terkait legalitas kepemilikan tanah.

Makna Pembelajaran
Dalam kasus ini, pemerintah sebelum melakukan penggusuran lahan, sebaiknya
melakukan musyawarah mufakat dengan cara membuka ruang dialog dengan warga
sehingga dapat terjadi kesepakatan dan menghasilkan win-win solution antara warga
dan pemerintah. Dengan begini tidak ada pihak yang akan merasa dirugikan.

Anda mungkin juga menyukai