Anda di halaman 1dari 18

MATERI KE-2

FUNGSI, RAGAM, DAN LARAS BAHASA INDONESIA

Setelah memahami sejarah bahasa Indonesia sekaligus kaitannya dengan bahasa


persatuan dan bahasa negara pada pertemuan pertama, sekarang kita akan mempelajari fungsi,
ragam dan laras bahasa Indonesia. Silakan Anda pelajari materi berikut ini.

A. Fungsi Bahasa Indonesia

Secara umum bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi antarsesama. Namun, bahasa,
dalam hal ini bahasa Indonesia, juga mempunyai fungsi khusus. Pada bagian ini kita akan
membahas fungsi umum bahasa dan fungsi khusus bahasa Indonesia.
1. Fungsi Bahasa secara Umum

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga berfungsi menyampaikan berbagai macam
ide, gagasan, dan perasaan manusia. Secara lebih rinci Jakobson (melalui Chaer dan
Leonie Agustina, 1995: 19—22) menjelaskan bahwa bahasa memiliki fungsi a) emotif, b)
konatif, c) referensial, d) puitik, e) fatik, f) metalingual.

a) Fungsi Emotif
Fungsi emotif berkaitan dengan ekspresi diri/personal. Melalui media bahasa, fungsi ini
kita gunakan untuk mengungkapkan berbagai macam perasaan, seperti senang, sedih,
marah, dan yang lainnya. Oleh karena fungsi ini berkaitan dengan ekspresi diri, melalui
fungsi ini penutur dapat memperlihatkan sikapnya. Unsur pribadi penutur akan terlihat
ketika sedang berkomunikasi sehingga kita/mitra tutur dapat mengetahui bahwa penutur
dalam keadaan senang, sedih, atau marah.

b) Fungsi Konatif
Bahasa pada fungsi ini digunakan untuk mengatur tingkah laku mitra tutur. Melalui
bahasa, penutur menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya.
Kalimat perintah, larangan, permohonan, dan imbauan digunakan pada fungsi ini.

c) Fungsi Referensial
Ada topik-topik tertentu yang kita bahas ketika sedang berbahasa. Berbagai macam
aktivitas manusia diekspresikan melalui bahasa melalui topik-topik tertentu. Fungsi
referensial berkaitan dengan hal yang dibicarakan. Ketika berkomunikasi, kita bisa saja
membicarakan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bahasa, sastra dan sebagainya. Dengan
demikian, fungsi referensial digunakan untuk membicarakan segala macam topik yang
berkaitan dengan aktivitas manusia sebagai penutur bahasa.

d) Fungsi Puitik
Fungsi puitik menekankan pada amanat dalam sebuah tuturan. Bahasa digunakan untuk
menyampaikan pesan-pesan tertentu. Pesan itu dapat berupa nasihat penutur kepada mitra
tutur yang diungkapkan langsung dan tidak langsung. Amanat yang diungkapkan secara
langsung, misalnya “Kamu harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri”, “Kamu harus
disiplin”, sedangkan amanat yang diungkapakan secara tidak langsung, seperti “Besar
pasak daripada tiang”, “Air beriak tanda tak dalam”, dan sebagainya.

e) Fungsi Fatik
Salah satu tujuan manusia berkomunikasi adalah untuk bersosialisasi dengan sesama.
Bahasa digunakan untuk menjalin hubungan baik antara penutur dan mitra tutur dalam
masyarakat. Bahasa pada fungsi ini digunakan untuk melakukan kontak dengan mitra
tutur, misalnya memberikan salam, menyapa, menanyakan keaadaan, dan lainnya. Untuk
menjalin kontak sosial, penutur menggunakan sapaan seperti ”Selamat pagi”, “Apa
kabar?”, “Bagaimana keadaanmu?”

f) Fungsi Metalingual
Bahasa digunakan untuk membicarakan topik-topik tertentu. Jika bahasa
digunakan untuk membicarakan topik bahasa itu sendiri, maka bahasa itu berfungsi
metalingual. Fungsi metalingual digunakan untuk membicarakan dan menjelaskan
tentang bahasa itu sendiri, misalnya pembahasan tentang fonem, morfem, kata, kalimat,
dan segala hal yang terkait dengan bidang bahasa.

Tentunya masih banyak fungsi bahasa yang lain yang dikemukakan oleh para ahli.
Fungsi yang dikemukan oleh para ahli bahasa pada umumnya membahas fungsi umum
bahasa dengan menggunakan sudut pandang yang beraneka macam. Fungsi-fungsi bahasa
yang telah dijelaskan di atas dapat kita manfaatkan untuk berbagai macam tujuan, salah
satunya untuk menulis karya ilmiah.

2. Fungsi Bahasa secara Khusus


Pada pertemuan pertama kita sudah membahas bahasa Indonesia sebagai bahasa
negara yang merupakan fungsi khusus bahasa Indonesia. Selain sebagai bahasa negara,
bahasa Indonesia juga memiliki fungsi khusus sebagai bahasa nasional. Berikut ini
penjelasan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

1) Lambang Kebanggaan Kebangsaan


Bahasa Indonesia dapat dijadikan lambang kebanggan bangsa karena bahasa Indonesia
mengandung nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia yang luhur. Sudah seharusnya
kita sebagai pemilik bahasa Indonesia bangga memiliki bahasa Indonesia. Rasa bangga
terhadap bahasa Indonesia dapat kita wujudkan dengan menggunakan bahasa Indonesia
pada setiap kesempatan tanpa malu atau rendah diri. Selain digunakan, kita harus
menjaga dan memelihara bahasa Indonesia.

2) Lambang Identitas Nasional


Identitas berkaitan dengan jati diri atau ciri-ciri yang dimiliki dalam bahasa Indonesia. Di
dalam ciri tersebut tercermin watak dan tingkah laku pemilik bahasa Indonesia. Oleh
karena itu, bahasa Indonesia dapat dijadikan lambang identitas nasional.

3) Alat Penghubung Antarwarga, Antardaerah, dan Antarbudaya


Wilayah Indonesia sangat luas dengan warga masyarakatnya yang menyebar di barbagai
daerah. Selain memiliki wilayah dan warga yang cukup banyak, Indonesia juga memiliki
keragaman budaya. Tidak mudah untuk melakukan komunikasi dengan berbagai macam
warga masyarakat yang juga begitu beragam wilayahnya. Namun, kita mempunyai alat
yang dapat digunakan untuk mengubungkan antarwarga, antardaerah dan antarbudaya,
yaitu bahasa Indonesia.

4) Alat Pemersatu
Peristiwa yang sangat penting dalam sejarah bahasa Indonesia adalah peristiwa Sumpah
Pemuda. Para pemuda pada waktu itu bertekad untuk menyatukan bangsa Indonesia.
Salah satu media yang digunakan untuk menyatukan bangsa Indonesia adalah bahasa,
yaitu bahasa Indonesia. Pada saat ini pun di tengah arus globalisasi yang begitu pesat
bahasa Indonesia masih sangat relevan sebagai alat pemersatu.

B. Ragam dan Laras Bahasa

Bahasa sebagai alat komunikasi sosial dapat digunakan untuk berbagai macam
keperluan. Seorang mahasiswa kadangkala menggunakan ragam bahasa yang berbeda
dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Kadang ia menggunakan ragam tulis ketika
menulis makalah dan menggunakan ragam bahasa lisan ketika presentasi. Ragam bahasa
berhubungan dengan pemakaiannya di masyarakat. Penggunaan bahasa disesuaikan
dengan topik-topik tertentu yang sedang dibicarakan, hubungan antara penutur dan mitra
tutur, dan media yang digunakan ketika berkomunikasi. Dengan demikian, ragam bahasa
dapat berupa ragam bahasa lisan dan tulis. Sementara itu, laras bahasa berhubungan
dengan kesesuaian antara bahasa dengan pemakainya. Dalam hal ini, seseorang dapat
menggunakan bahasa sesuai dengan keperluannya. Misalnya, seorang peneliti akan
menggunakan laras yang berbeda dengan seorang wartawan. Macam-macam laras bahasa
antara lain laras ilmiah, sastra, jurnalistik, dan iklan.

1. Ragam Bahasa
Penutur bahasa Indonesia sangat luas cakupannya, mulai dari Sabang hingga
Merauke. Berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh penutur bahasa Indonesia juga
sangat beragam sehingga setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat menyebabkan
tejadinya keragaman bahasa. Pada dasarnya keberagaman bahasa dapat diklasifikasikan
karena adanya keberagaman sosial dan fungsi bahasa di dalam sebuah masyarakat.

Hartman dan Strok (melalui Chaer & Leonie Agustina, 1995: 81)
mengklasifikasikan ragam bahasa berdasarkan: 1) latar belakang geografi dan sosial
penutur, 2) media yang digunakan, dan 3) pokok pembicaraan. Jika kita kaitkan dengan
karya tulis ilmiah, salah satu klasifikasi yang digunakan adalah ragam bahasa
berdasarkan media yang digunakan, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Ragam lisan
berkaitan dengan tuturan yang diucapkan melalui alat wicara, sedangkan ragam tulis
berkaitan dengan bahasa yang ditulis. Mari kita perhatikan ciri ragam lisan dan tulis
berikut ini.

a. Ragam Lisan
Ragam ini terwujud melalui tuturan yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Ketika
menggunakan ragam lisan, kita dibantu oleh unsur-unsur paralinguistik, seperti titinada,
tempo, tekanan, kontur, gerak tangan, anggukan kepala, ekspresi mata, dan ekspresi fisik
yang lainnya. Dalam pemakaiannya, ragam bahasa lisan diklasifikasikan ragam bahasa
lisan formal dan nonformal.

Ragam lisan formal dapat kita gunakan untuk kegiatan ilmiah, seperti seminar,
seminar proposal atau hasil penelitian. Selain itu, ragam lisan formal juga digunakan
untuk pidato, pengantar dalam dunia pendidikan, khotbah, rapat resmi, dan kegiatan
formal lainnya. Sementara itu, ragam bahasa lisan nonformal digunakan untuk
percakapan sehari-hari antarteman, di warung kopi, angkringan, pasar, dan kegiatan
nonformal lainnya. Ciri ragam lisan nonformal yaitu banyak menggunakan bentuk ujaran
yang dipendekan. Pilhan kata, struktur morfologi, dan sintaksis pada ragam lisan
nonformal terkadang disisipkan unsur-unsur bahasa daerah.

Berikut ini beberapa ciri yang membedakan antara bahasa lisan formal dan
nonformal. Perbedaan itu dapat kita lihat berdasarkan hal-hal berikut ini.

1) Pelafalan

Pelafalan berkaitan dengan pengucapan kata yang dilakukan oleh penutur. Fonem
dalam bahasa Indonesia keberadaanya sudah sangat jelas. Lafal bahasa Indonesia yang
baik adalah lafal yang tidak lagi menampakkan unsur kedaerahan (Chaer & Leonie
Agustina, 1995: 262).

Contoh:

tulisan lafal baku lafal tidak baku

dapat [dapat] [dapət]


enam [enam] [ənəm]

kalau [kalaw] [kalo]

2) Penggunaan Kata Sapaan dan Kata Ganti

Penggunaan sapaan dan kata ganti dalam ragam lisan formal dan nonformal
merupakan ciri yang paling terlihat pemakaiannya. Dalam ragam bahasa lisan formal,
kita biasa menggunakan bentuk-bentuk sapaan seperti, Ibu, Bapak, Saudara, Anda, saya,
kamu, sedangkan dalam ragam bahasa lisan nonformal sapaan yang kita gunakan, seperti
lu, ente, gue, ane, dan lainnya.

Contoh:

“Anda harus membaca buku ini!” (lisan formal).

“Elu harus baca buku ini!” (lisan nonformal).

“Silakan Saudara membuat kelompok!” (lisan formal).

“Elu dan temen-temen buat kelompok!” (lisan nonformal).

3) Penggunaan Afiksasi

Penggunaan afiksasi pada bahasa lisan formal, seperti prefiks (awalan), sufiks
(akhiran), dan simulfiks (gabungan awalan dan akhiran) cenderung lengkap, sedangkan
pada bahasa lisan nonformal sebaliknya.

Contoh:
“Adik bermain sepak bola” (lisan formal).
“Adik main sepak bola” (lisan nonformal).
“Tolong bukakan pintu itu!” (lisan formal).
“Tolong bukain pintu itu!” (lisan nonformal).
“Kamu harus segera menyelesaikan tugas ini!” (lisan formal)
“Kamu selesein tugas ini!” (lisan nonformal)
4) Penggunaan Unsur Fatik
Unsur fatik (persuasi) sering muncul pada ragam lisan nonformal, misalnya sih,
deh, ops, kok, gitu, yoi, ye, aw dan lainnya, sedangkan dalam ragam lisan formal hal
semacam itu tidak digunakan.
Contoh:
“Kok gitu, ya?” (lisan nonformal).
“Yoi dong” (lisan nonformal).
“Saya sih nggak setuju” (lisan nonformal).

5) Fungtor Kalimat Tidak Lengkap


Salah satu ciri bahasa lisan adalah ketidaklengkapan fungtor-fungtor kalimat,
misalnya tidak munculnya subjek (S) atau predikat (P). Hal ini terjadi karena bahasa lisan
cenderung singkat, cepat, dan ketika terjadi kesalahan dapat langsung diperbaiki. Berikut
ini contoh kalimat tidak lengkap ragam lisan.

Rara : “Kamu sedang menulis apa?”


Aim : “Menulis surat.” (terjadi penghilangan subjek saya)
Naya : “Ibu sedang memasak apa?”
Luna : “Nasi goreng.” (terjadi penghilangan subjek ibu dan predikat sedang memasak)

b. Ragam Tulis

Pada paparan di awal sudah dijelaskan mengenai ragam lisan dengan segala
macam cirinya. Berdasarkan ciri tersebut, dapat dibedakan antara ragam lisan dan ragam
tulis. Perbedan yang paling menonjol adalah pada media yang digunakan. Bahasa pada
ragam lisan terealisasi melalui alat wicara si penutur, sedangkan bahasa pada ragam tulis
terealisasi melalui sebuah tulisan. Dalam ragam lisan, kesalahan berbahasa dapat segera
direvisi, sedangkan dalam ragam tulis (jika tulisan sudah dipublikasikan), diperlukan
waktu yang relatif lebih lama untuk memperbaikinya. Hal lain yang sangat menonjol
dalam ragam tulis adalah keterbacaan. Oleh karena itu, di dalam ragam tulis persoalan
pilihan kata (diksi), susunan kalimat, ejaan, dan tanda sangatlah penting.
Penglasifikasian ragam tulis berdasarkan pemakaiannya pada dasarnya sama
seperti ragam lisan. Ragam tulis diklasifikasikan menjadi ragam tulis formal dan ragam
tulis nonformal. Ragam tulis formal digunakan untuk menulis skripsi, tesis, disertasi,
makalah, surat resmi, artikel ilmiah, dan tulisan-tulisan formal lainnya. Sementara itu,
ragam tulis nonformal digunakan untuk menulis sms, status di facebook atau twitter, surat
pribadi, catatan harian, karya sastra, dan sebagainya.
Ciri ragam tulis formal dan nonformal juga hampir sama dengan ciri ragam lisan
formal dan nonformal. Dalam ragam tulis, terutama ragam tulis formal, kita harus tepat
menggunakan bentuk sapaan, afiksasi, dan struktur kalimat. Perbaikan dalam ragam lisan
dengan ragam tulis juga berbeda. Jika terjadi kesalahan pada ragam lisan, kita seketika
bisa memperbaikinya.
Kesalahan dalam ragam tulis nonformal agak sedikit longgar jika dibandingkan
dengan ragam tulis formal. Kesalahan penulisan pada ragam tulis nonformal memang
biasa terjadi karena digunakan pada situasi informal. Tulisan untuk situasi informal
cenderung singkat, tidak lengkap, banyak terjadi singkatan, penyisipan unsur-unsur
kedaerahan, dan sebagainya. Hal itu akan sangat berbeda dengan ragam tulis formal.
Ketepatan menggunakan diksi, ejaan dan tanda baca, struktur kalimat, dan kohesi dan
koherensi harus benar-benar diperhatikan. Mari kita perhatikan pengunaan diksi, ejaan
dan tanda baca, fungtor kalimat, dan kohesi dan koherensi pada ragam tulis formal.
1) Diksi
Diksi berkaitan dengan pilihan kata. Dalam ragam tulis formal, kosakata yang kita
gunakan adalah kosakata baku. Kesalahan penulisan kosakata kadang dipengaruhi oleh
ragam lisan. Karena hampir setiap hari kita menggunakan ragam lisan, peggunaan ragam
ini kadangkala membawa dampak terhadap pilihan kata dalam ragam tulis. Misalnya,
kata antri (lisan-ragam tulis tidak baku) seharusnya ditulis menjadi antre (tulis baku),
apotik (lisan- ragam tulis tidak baku) seharusanya ditulis menjadi apotek (tulis baku),
sholat (lisan-ragam tulis tidak baku) seharusnya ditulis menjadi salat (tulis baku), sate
(tulis tidak baku) seharusnya ditulis satai (tulis baku), dan masih banyak yang lainnya.

Kosakata bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia juga menjadi
penyebab kesalahan penulisan kosakata. Dalam karya tulis ilmiah yang berbahasa
Indonesia, penulis terkadang menulis kosakata asing sesuai dengan aslinya. Padahal,
kosakata asing tersebut sebenarnya sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia baku,
misalnya, photocopy seharusnya ditulis fotokopi (baku), reality seharusnya ditulis realitas
(baku), extreme seharusnya ditulis ekstrem (baku), mall (tulis tidak baku) seharusnya
ditulis mal (tulis baku).

2) Ejaan dan Tanda Baca

Ketepatan menggunakan ejaan dan tanda baca sangat penting ketika kita menulis
karya ilmiah. Ejaan berkaitan dengan pelambangan bunyi bahasa dalam bentuk tulisan,
seperti penggunaan huruf vokal dan konsonan, penggunaan huruf kapital, penulisan
kosakata, penulisan istilah asing dan unsur serapan, dan penggunaan tanda baca.

3) Penggunaan Fungtor Kalimat

Fungtor kalimat berkaitan dengan fungsi kalimat, seperti subjek (S), predikat (P),
objek (O), keterangan (Ket), dan pelengkap (Pel). Dalam kalimat sederhana (ragam tulis
formal), fungsi subjek (S) dan predikat (P) harus muncul. Hal tersebut sangat berbeda
dalam ragam tulis informal karena ada beberapa fungsi yang biasanya dihilangkan.

Contoh:
Tolong kamu hapus tulisan itu! (tulis formal)
Hapus tulisan itu! (tulis nonformal, terjadi penghilangan subjek kamu).
Saya memesan segelas es teh. (tulis formal)
Saya es teh. (tulis nonformal, terjadi penghilangan predikat memesan).
Adik sedang membaca buku di kamar. (tulis formal)
Adik membaca di kamar. (tulis nonformal, terjadi penghilangan objek buku).
Dosen itu sedang mengajar ilmu bahasa. (tulis formal)
Dosen itu sedang mengajar. (terjadi penghilangan pelengkap ilmu bahasa)

4) Kohesi dan Koherensi


Sebuah kalimat memerlukan unsur-unsur pembentuk teks yang berupa alat kohesi.
Alat ini merupakan aspek formal bahasa dan menjadi pemarkah hubungan antarkalimat
dalam wacana yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan kalimat, paragraf,
dan wacana yang baik. Alwi, dkk., (2014: 427) menyatakan bahwa kohesi merupakan
hubungan antarproposisi yang ditulis secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan
semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana. Dari pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa kohesi adalah hubungan antarkalimat dalam wacana baik dalam
strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu. Sementara itu, Halliday & Hasan
(1976: 4) mengatakan “The concept of cohesion as a semantic one, it refers to relations
of meaning that exist within the text, and that define it is a text.” Konsep kohesi
merupakan konsep semantik yang mengacu pada relasi makna yang ada dalam teks dan
memberi definisi pada sebuah teks.

Sebagai salah satu unsur pembentuk teks, kohesi dapat berupa penggunaan unsur
bahasa sebagai pemarkah hubungan antarbagian dalam teks. Penggunaan pemarkah
dalam ragam tulis haruslah tepat. Pemarkah hubungan itu antara lain seperti berikut ini.

a) Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan


sebelumnya, misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu,
seperti halnya, juga, lagi pula, berikutnya, kedua, ketiga, akhirnya, tambahan pula,
demikian juga.

b) Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, dalam hal
yang sama, dalam hal yang demikian, sebaliknya, sama sekali tidak, biarpun,
meskipun.

c) Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan


sebelumnya; misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian,
sebaliknya, sama sekali tidak, biarpun, meskipun.

d) Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu,
jadi, maka, akibatnya.

e) Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, beberapa saat
kemudian, sesudah itu, kemudian.
f) Hubungan yang menyatakan singkatan, misal: pendeknya, ringkasnya, secara singkat,
pada umumnya, seperti sudah dikatakan, dengan kata lain, misalnya, yakni,
sesungguhnya.

g) Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sini, di sana, dekat, di seberang,


berdekatan, berdampingan dengan.

Koherensi merupakan pertalian antarkata atau kalimat dalam teks. Beberapa


kalimat yang memiliki informasi berbeda dapat dihubungkan sehingga menjadi kalimat
yang padu. Sebagai bagian dari sebuah teks, koherensi berfungsi untuk melihat
bagaimana seorang penulis dapat menjelaskan sebuah fakta atau peristiwa melalui
tulisan. Kita dapat memanfaatkan piranti kohesi untuk mewujudkan sebuah tulisan yang
koheren. Proposisi “Sikap kritis mahasiswa Indonesia” dan “Kehidupan politik di Timur
Tengah” merupakan dua hal yang berbeda. Dua hal yang berbeda tersebut dapat
dihubungkan dalam satu pernyataan yang berupa sebab-akibat sehingga kalimatnya
menjadi “Sikap kritis mahasiswa Indonesia tidak memengaruhi kehidupan politik di
Timur Tengah”. Dengan demikian, makna kalimat dapat dipahami melalui proposisi-
proposisi yang dibangun secara utuh dan padu. Keutuhan dan kepaduan ini oleh
penulis/pembicara dimanfaatkan untuk memudahkan penafsiran informasi bagi pembaca.

C. Laras Bahasa

Pada bagian atas, kita sudah membahas ragam bahasa. Penentuan ragam bahasa
ini dapat dilakukan berdasarkan media yang digunakan (lisan dan tulis). Hal tersebut
berbeda dengan laras bahasa. Jika ragam bahasa ditentukan beradasarkan media yang
digunakan, penentuan laras bahasa dapat dilihat dari segi pemakainya. Dalam praktiknya,
seorang penutur/penulis selain dapat memilih media yang digunakan (ragam), ia juga
dapat menggunakan bahasa sesuai dengan keperluannya (laras). Seorang wartawan
dengan seorang peneliti akan menggunakan laras bahasa yang berbeda karena perbedaan
bidang mereka. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh penutur/penulis
harus disesuaikan dengan bidang-bidang tertentu yang menjadi pokok pembicaraan.
Kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya memunculkan berbagai macam laras
bahasa, seperti: 1) laras ilmiah, 2) sastra, 3) jurnalistik, dan4) iklan. Mari kita perhatikan
berbagai macam laras bahasa tersebut.

a. Laras Ilmiah
Karya ilmiah adalah sebuah karangan yang membahas permasalahan tertentu, atas
dasar konsepsi keilmuan tertentu, dan ditulis dengan menggunakan metode-metode
tertentu (Syamsudin, 1994). Karya ilmiah dapat berisi hasil pemikiran seorang penulis
atas sebuah permasalahan, peristiwa, gejala, dan bisa juga pendapat. Berdasarkan hasil
pemikirannya, penulis karya ilmiah menyusun berbagai informasi menjadi sebuah
karangan yang utuh. Penulis karya ilmiah disebut sebagai penulis bukan pengarang
(Soeseno,1993: 1). Karya ilmiah dapat berupa hasil penelitian, buku, modul, dan artikel
ilmiah. Agar isi karya ilmiah dapat dipahami oleh para pembacanya, maka aspek
kebahasaan dalam karya ilmiah harus diperhatikan. Oleh karena itu, karya ilmiah ditulis
dengan menggunakan laras ilmiah. Perhatikan ciri-ciri laras ilmiah berikut ini (Soeparno,
dkk., 2001: 11).

1) Menggunakan kalimat efektif


a) Bentuk gramatikal singkat, tetapi memuat pesan yang padat.
Contoh:
Kalimat tidak singkat: Kakak laki-laki ibu akan berangkat ke Singapura pada bulan
Desember yang akan datang.
Kalimat singkat: Paman akan berangkat ke Singapura bulan Desember.
b) Tidak menggunakan bentuk-bentuk yang berlebihan (redundan).
Contoh:
Kalimat berlebihan: Penelitian ini dilakukan agar supaya proses pembelajaran lebih
baik.
Kalimat tidak berlebihan: Penelitian ini dilakukan agar proses pembelajaran lebih
baik.
Kalimat berlebihan: Banyak para guru telah melaksanakan kurikulum 2013.
Kalimat tidak berlebihan: Para guru telah melaksanakan kurikulum 2013.
c) Memiliki kesepadanan struktur gramatik dan pola pikir.
Contoh:
Kalimat tidak sepadan:
Guru mengambil data di lapangan, kemudian dianalisis sesuai dengan metode yang
digunakan.
Kalimat sepadan:
Guru mengambil data di lapangan, kemudian menganalisis sesuai dengan metode
yang digunakan.
2) Tidak menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang ambigu (bermakna ganda).
Contoh:
Kalimat ambigu:
Mobil pegawai baru sedang diperbaiki (yang baru mobilnya atau pegawainya).
Kalimat tidak ambigu:
Mobil-pegawai yang baru itu itu sedang diperbaiki (mobilnya yang baru).
Mobil pegawai baru itu sedsang diperbaiki (pegawainya yang baru).
3) Tidak menggunakan bahasa figuratif.
Contoh:
Kalimat dengan bahasa figuratif:
Hasil penelitian ini bagaikan langit dengan bumi dengan penelitian yang terdahulu.
Kalimat tanpa bahasa figuratif:
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang terdahulu.
4) Tidak menggunakan bentuk-bentuk persona.
Contoh:
Kalimat bentuk persona:
Kita harus menjaga nilai-nilai budaya Jawa.
Kalimat tanpa bentuk persona:
Nilai-nilai budaya Jawa harus dijaga.
5) Memiliki keselarasan antarproposisi dan antarparagraf.
Contoh:
Kalimat yang tidak selaras:
Banyak permasalahan dalam proses pembelajaran. Guru dan penelitian tindakan kelas
(PTK).
Kalimat yang selaras:
Banyak permasalahan dalam proses pembelajaran. Para guru dianjurkan untuk
melakukan Penelitian tindakan kelas untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Selain menggunakan laras ilmiah, bahasa dalam karya tulis ilmiah juga menggunakan
bahasa Indonesia ragam baku. Berikut ini ciri-ciri bahasa Indonesia ragam baku.

a) Menggunakan awalan me- dan ber-secara eksplisit.


Contoh:
Awalan -me dan ber- tidak eksplisit:
Mahasiswa baca buku referensi dan kemudian diskusi dengan teman-temannya.
Awalan -me dan ber- tidak eksplisit:
Mahasiswa membaca buku referensi dan kemudian berdiskusi dengan teman-
temannya.
b) Menggunakan kata tugas secara eksplisit.
Contoh:
Kata tugas tidak eksplisit:
Data dianalisis sesuai metode yang digunakan.
Kata tugas eksplisit:
Data dianalisis sesuai dengan metode yang digunakan.
c) Menggunakan kata tugas secara tepat.
Contoh:
Kata tugas tidak tepat:
Pada instrumen penelitian ini adalah human instrument. (seharusnya tidak
menggunakan kata pada)
Kata tugas tepat:
Instrumen penelitian ini adalah human instrument.
Kami berdiskusi tentang sastra Indonesia.
Kami mendiskusikan sastra Indonesia.
d) Tidak menggunakan struktur logika yang rancu.
Contoh:
Struktur logika rancu:
Kami tidak berkomunikasi dalam perjalanan antara Jakarta menuju Bali.
Struktur logika tidak rancu:
Kami tidak berkomunikasi dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bali.
Kami tidak berkomunikasi dalam perjalanan antara Jakarta dan Bali.
e) Menggunakan fungsi kalimat (subjek dan predikat) secara eksplisit.
Contoh:
Kalimat tanpa subjek:
Mempunyai beberapa tujuan.
Kalimat tersebut seharusnya menjadi:
Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan.
Kalimat tanpa predikat:
Kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua wali.
Kalimat tersebut seharusnya menjadi:
Kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua wali akan bertemu siang ini.
f) Menggunakan bentuk-bentuk gramatikal yang tidak berlebihan.
Contoh:
Bentuk gramatikal berlebihan:
Kepada para segenap tamu undangan dimohon berdiri.
Bentuk gramatikal tidak berlebihan:
Segenap tamu undangan dimohon berdiri.
g) Menghindari bentuk-bentuk singkatan.
Contoh:
Bentuk singkatan:
Gimana cara menggunakan kartu permainan ini?
Tidak disingkat:
Bagiamana cara menggunakan kartu permainan ini? (baku)
h) Menghindari bentuk-bentuk kosakata daerah.
Contoh:
Kalimat dengan kosakata daerah:
Berape jumlah mahasiswe yang dijadikan sampel?
Kalimat tanpa kosakata daerah:
Berapa jumlah mahasiswa yang dijadikan sampel?
i) Menggunakan bentuk terpadu (sintetik).
Contoh:
Bentuk tidak sintetik:
Kejadian itu membuat tentram penduduk kampung.
Bentuk sintetik:
Kejadian itu menentramkan penduduk kampung.

b. Laras Sastra

Setiap kegiatan yang diekspresikan melalui bahasa mempunyai ciri bahasa yang
khusus atau berbeda. Hal ini dapat dilihat dari pilihan kata (diksi), morfologi, dan
sintaksis yang digunakan. Penggunaan bahasa pada laras sastra salah satunya untuk
mencapai nilai estetis. Untuk mendapatkan keindahan kata atau bunyi, kaidah formal
bahasa kadang dikesampingkan. Jika bahasa pada umumnya bermakna lugas, bahasa
pada laras sastra tidak demikian, misalnya, pernyataan “kesedihan seseorang saat orang
yang dicintainya meninggal”, jika diungkapkan dengan laras sastra menjadi seperti
berikut ini.

Bukan kematian benar menusuk kalbu


Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

(Chairil Anwar)
Aturan-aturan kebahasaan pada laras sastra cenderung longgar. Kaidah
kebahasaan formal kadang tidak digunakan. Hal ini dilakukan untuk mencapai nilai
estetis karya sastra.

c. Laras Jurnalistik

Laras jurnalistik digunakan oleh para wartawan ketika menulis berita di media
cetak, seperti koran, majalah, dan tabloid. Sebagai salah satu ragam bahasa, laras
jurnalistik patuh kepada kaidah dan etika bahasa baku (Sumadiria, 2006: 53). Ciri utama
bahasa jurnalistik adalah sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, dan menghindari
kata-kata teknis. Laras jurnalistik memiliki ciri yang khas yang disebut sebagai gaya
selingkung. Namun, dengan adanya gaya selingkung tersebut bukan berarti ragam bahasa
jurnalistik tidak tunduk pada kaidah dan etika bahasa baku. Salah satu pedoman
pemakaian bahasa pers yang diterbitkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
berbunyi: ”Wartawan hendaknya selalu ingat bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa
yang komunikatif dan bersifat spesifik. Tulisan yang baik dinilai dari tiga aspek, yaitu:
isi, bahasa, dan teknik persembahan (Sumadiria, 2006).

Berdasarkan pedoman di atas, ragam bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam
bahasa yang bersifat kreatif yang patuh pada kaidah bahasa baku. Salah satu hal yang
harus mendapatkan perhatian bahwa bahasa yang digunakan dapat menentukan baik dan
tidaknya sebuah tulisan. Ini berarti bahwa ragam bahasa jurnalistik harus memperhatikan
kaidah yang ada dalam EYD dan juga harus santun.

d. Laras Iklan

Iklan merupakan alat untuk mempromosikan suatu produk. Iklan mempunyai


tujuan agar konsumen membeli produk yang ditawarkan. Salah satu unsur yang harus
diperhatikan dalam iklan adalah penggunan bahasa yang tepat. Bahasa iklan merupakan
bentuk komunikasi satu arah. Hal ini juga dijelaskan oleh Lewis (melalui Ihza, 2013: 70),
ia memperkenalkan konsep AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). Melalui bahasa,
konsep ini bertujuan membangkitkan perhatian, daya tarik, minat atau hasrat, dan
tindakan. Konsep AIDA jika ditinjau dari perspektif komunikasi cenderung satu arah
(linear) karena produsen atau pengiklan memiliki peran sebagai komunikator.
Laras iklan merupakan salah satu wujud ragam bahasa jurnalistik yang digunakan
oleh insan pers yang kreatif. Iklan harus memiliki daya informatif persuasif yang kuat.
Oleh karena itu, pembuat iklan harus memilih kata-kata yang menarik untuk para
konsumen.
Dibandingkan dengan ragam bahasa yang lain, bahasa iklan merupakan bahasa
yang khas dan unik. Iklan bertugas meyakinkan orang, menciptakan keinginan, dan
akhirnya memotivasi orang untuk bertindak (Bovee, 19: 301). Hal ini terealisasi dalam
penggunaan bahasa iklan yang tendensius, menawan, ramah, dikemas secara sederhana
dan semenarik mungkin sehingga konsumen akan menjatuhkan pilihan pada produk
yang ditawarkan. Bahkan, ada orang membeli barang bukan karena benar-benar
membutuhkan, melainkan karena terpengaruh sebuah iklan yang dilihatnya.

Referensi
Berikut adalah referensi yang dapat Anda gunakan sebagai bahan pengayaan.
a. Alwi, Hasan dkk. 2014. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
b. Bovee, Arens. 1996. Contemporary Advertising. USA: Richard D. Irivin. Inc.
c. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
d. Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1976. Bahasa, Konteks, dan Teks (terjemahan
Asruddin Barori Tou). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
e. Ihza, Yustiman. 2013. Bujuk Rayu Konsumerisme. Depok: Linea Pustaka.
f. Soeparno, dkk. 2001. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta: Ekonosia, UII
Yogyakarta.
g. Soeseno, Slamet. 1993. Teknik Penulisan Ilmiah-Populer: Kiat Menulis Nonfiksi untuk
Majalah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
h. Sumadiria, A.S. Haris. 2006. Jurnalistik Indonesia. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
i. Syamsudin, Munawar. 1994. Dasar-Dasar dan Metode Penulisan Ilmiah. Surakarta: Sebelas
Maret Press.

Anda mungkin juga menyukai