Anda di halaman 1dari 4

MATERI KE-4

EJAAN DAN TANDA BACA

1. Ejaan dalam Karya Ilmiah

Bahasa sebagai sistem tanda terdiri atas signifie yang berupa konsep-konsep tertentu
dalam pikiran manusia dan signifiant berupa realisasi konsep-konsep tertentu yang
diwujudkan dalam bentuk ujaran. Konsep-konsep yang diujarkan itu bersifat arbitrer
(semaunya) dan kearbitreran itu sudah disepakati oleh sekelompok penutur bahasa tertentu
(konvensional). Hal inilah yang menyebabkan lahirnya berbagai macam ragam bahasa dengan
segala macam aturannya.
Dalam setiap bahasa ragam tulis, setiap bahasa memiliki aturan ejaan. Aturan dalam
ejaan terkait dengan kaidah cara menggambarkan bunyi, seperti kata, kalimat, frasa, dan
sebagainya dalam bentuk tulisan serta penggunaan tanda baca. Di Indonesia, ejaan yang
pernah berlaku adalah 1) Ejaan van Opuijsen (1901), 2) Ejaan Soewandi (1947), dan 3) Ejaan
Yang Disempurnakan (1972). Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) digunakan sampai saat ini.
Berikut ini pemaparan sekilas mengenai ejaan van Ophuijsen dan Soewandi. Ejaan Yang
Disempurnakan akan dipaparkan lebih mendalam karena ejaan inilah yang menjadi pedoman
untuk menulis karya ilmiah pada saat ini.

1.1. Ejaan van Opuhijsen

Ejaan ini mulai berlaku pada tahun 1901. Seorang berkebangsaan Belanda, van
Ophuijsen, membuat ejaan tersebut dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan
Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ciri-ciri dari ejaan van Ophuijsen antara lain sebagai
berikut.
a. Terdapat huruf oe yang digunakan untuk menulis kata-kata Soekarno, boekoe,
ramboet, dan yang lainnya.
b. Huruf j pada saat itu digunakan untuk menulis kata-kata sajang, sajap, sajoer, dan
yang lainnya.
c. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema digunakan untuk menulis kata pa’,
ta’, ma’, dan yang lainnya.
d. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan sebagai diftong seperti
mulaï dengan ramai. Huruf ini juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam
Soerabaïa.

Materi Perkuliahan Bahasa Indonesia | 1


1.2. Ejaan Soewandi

Ejaan ini mulai digunakan pada tanggal 19 Maret 1947. Ejaan Soewandi digunakan untuk
menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan ini dikenal dengan nama Ejaan Republik. Ciri ejaan
ini antara lain sebagai berikut.
a. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata buku, rambut, saku, dan sebagainya.
b. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema tidak lag digunakan misalnya kata
pa’ menjadi pak, ta’ menjadi tak, ma’ menjadi mak, dan yang lainnya.
c. Kata ulang ditulis dengan angka 2 seperti pada rumah2, ibu2, bapak2ber-jalan2, ke-
barat2-an, dan yang lainnya
d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang
mendampinginya, misalnya kata diDjakarta, diBali, ditulis, dirangkai, dan yang
lainnya.

1.3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia
berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Ejaan ini mengubah ejaan yang
sebelumnya. Perubahan itu antara lain sebagai berikut:
a. huruf tj menjadi j
b. huruf dj menjadi j,
c. huruf ch menjadi kh,
d. huruf nj menjadi ny,
e. huruf sj menjadi sy,
f. huruf j menjadi y, dan
g. penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan dibedakan.
Hingga saat ini EYD masih digunakan untuk kegiatan tulis-menulis. Peraturan terbaru
mengenai EYD tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50
Tahun 2015. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan, dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan
masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam karya tulis ilmiah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait EYD,
misalnya penggunaan ejaan dan tanda baca. Berikut ini penggunaan ejaan dan tanda baca
yang harus diperhatikan ketika menulis karya ilmiah.

Materi Perkuliahan Bahasa Indonesia | 2


2. Penggunaan Ejaan dalam Karya Ilmiah

Penggunaan ejaan yang harus kita perhatikan ketika menulis karya antara lain mengenai
pemakaian huruf, seperti: huruf kapital, huruf miring, huruf cetak tebal. Penggunaan ejaan
yang juga harus diperhatikan terkait penulisan gabungan kata, partikel, singkatan, akronim,
dan penulisan istilah. Berikut ini kaidah penggunaan ejaan dalam karya ilmiah yang
didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015.
(Buka tautan berikut terakait dengan peraturan Ejaan Bahasa Indonesia
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf)

3. Rangkuman

Di Indonesia, ejaan yang pernah berlaku adalah 1) Ejaan van Opuijsen (1901), 2) Ejaan
Soewandi (1947), dan 3) Ejaan Yang Disempurnakan (1972). Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD) atau Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) digunakan sampai saat ini. Ciri-ciri dari ejaan van
Ophuijsen antara lain sebagai berikut.
a. Terdapat huruf oe yang digunakan untuk menulis kata-kata Soekarno, boekoe,
ramboet, dan yang lainnya.
b. Huruf j pada saat itu digunakan untuk menulis kata-kata sajang, sajap, sajoer, dan
yang lainnya.
c. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema digunakan untuk menulis kata pa’,
ta’, ma’, dan yang lainnya.
d. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan sebagai diftong seperti
mulaï dengan ramai. Huruf ini juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam
Soerabaïa.
Sementara itu, ejaan Soewandi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata buku, rambut, saku, dan sebagainya.
b. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema tidak lag digunakan misalnya kata
pa’ menjadi pak, ta’ menjadi tak, ma’ menjadi mak, dan yang lainnya.
c. Kata ulang ditulis dengan angka 2 seperti pada rumah2, ibu2, bapak2ber-jalan2, ke-
barat2-an, dan yang lainnya
d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang
mendampinginya, misalnya kata diDjakarta, diBali, ditulis, dirangkai, dan yang
lainnya.

Materi Perkuliahan Bahasa Indonesia | 3


Ejaan ini diresmikan pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia
berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Ejaan ini mengubah ejaan yang
sebelumnya. Perubahan itu antara lain sebagai berikut:
a. huruf tj menjadi j
b. huruf dj menjadi j,
c. huruf ch menjadi kh,
d. huruf nj menjadi ny,
e. huruf sj menjadi sy,
f. huruf j menjadi y, dan
g. penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan dibedakan.
Hingga saat ini EYD masih digunakan untuk kegiatan tulis-menulis. Peraturan terbaru
mengenai EYD tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50
Tahun 2015. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan, dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan
masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Penggunaan ejaan yang harus diperhatikan ketika menulis karya ilmiah adalah pemakaian
huruf, seperti: huruf kapital, huruf miring, huruf cetak tebal. Penggunaan ejaan yang
berhubungan dengan penulisan gabungan kata, partikel, singkatan, akronim, dan penulisan
istilah. Berikut ini kaidah penggunaan ejaan dalam karya ilmiah yang didasarkan pada
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015.

4. Daftar Pustaka

Badan Bahasa. 2015. “Sekilas tentang Sejarah Bahasa Indonesia.” Diunduh pada tanggal 10
Agustus 2015 dari www.badanbahasa.kemdikbud. go.id

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Yang Disempurnakan.

Materi Perkuliahan Bahasa Indonesia | 4

Anda mungkin juga menyukai