Anda di halaman 1dari 2

Diskusi.

Rina adalah seorang yang memiliki latar belakang sebagai jurnalis. Ia melamar
disebuah perusahaan, tetapi rina ditempat pada posisi yang tidak sesuai
dengan latar belakangnya. Kondisi ini membuat rina mengalami stress
terhadap pekerjaannya. Rina sangat tidak menyukai pekerjaan barunya, ia
merasa muak dan bosan, belum lagi beban pekerjaan barunya sangatlah
banyak, ditambah adanya tekanan-tekanan pada pekerjaannya yang sering kali
membuat ia menangis. Akhirnya situasi tersebut berefek pada kesehatannya.

Kadang, Jika Rina mengeluh, tidak selamanya kolega atau atasan memahami
kondisinya. Ada yang justru berpendapat, “Ah, masa baru segini saja kamu
sudah keletihan? Nanti masih lebih banyak tanggung jawab yang harus
diselesaikan, lho,” atau “Kalau kamu menyerah sekarang, bisa-bisa kamu kena
damprat atau malah gagal dapat promosi kenaikan jabatan”.

Masalah mental sering kali dilimpahkan kepada individu saja untuk


diselesaikan. Ada perusahaan-perusahaan yang lepas tangan dan tidak ingin
mengevaluasi budaya kerja di kantor setelah terdapat karyawan yang
dilaporkan stres sehingga ia tidak lagi produktif sebagaimana mulanya.
Pengabaian pihak kantor terhadap kondisi mental karyawan juga bisa
mendatangkan ketidakadilan baginya.

Menurut Saudara, Strategi seperti apa yang sebaiknya dilakukan perusahaan


untuk mengatasi situasi tersebut? Jelaskan!

** Sertakan sumber referensinya

Jawab :

Menurut saya strategi yang dilakukan perusahaan untuk mengatasi situasi tersebut adalah dengan
melalui pendekatan organisasi. Upaya untuk mengurangi stress di tempat kerja dilakukan oleh pihak
manajemen melalui program-program yang sengaja didesain untuk mengurangi stress. Karena pihak
manajemen juga bertanggung jawab untuk menata organisasi agar tingkat stress karyawan bisa
berkurang sampai pada titik terendah. Upaya yang dilakukan seperti :

1. Membangun budaya dan iklim kerja yang kondusif.


Penciptaan budaya dan iklim kerja bisa dilakukan dengan mengubah struktur dan proses
organisasi yang memungkinkan karyawan memiliki keleluasaan dalam bekerja.
2. Membangun quality of work life (QWL) atau kualitas kehidupan kerja.
Manajemen dapat memperkaya pekerjaan yang komponenya terdiri dari job contents
(seperti tanggung jawab karyawan, pengakuan terhadap karyawan, dan kesempatan
karyawan untuk mencapai hasil, tumbuh, dan berkembang) dan job characteristics (seperti
keragaman skill, identitas tugas, arti penting tugas, otonomi dan umpan balk). Dengan
memperkaya pekerjaan seperti tersebut karyawan akan merasa bahwa dirinya bermakna
dan diharapkan pula motivasi kerjannya meningkat.
3. Mengurangi konflik dan memperjelas peran karyawan dalam organisasi.
Manajemen harus membuat daftar tugas yang seharusnya dijalankan seorang karyawan dan
daftar tugas tersebut diperbandingkan dengan harapan karyawan berkaitan dengan tugas
yang akan dijalankannya. Jika ada perbedaan yang signifikan maka perbedaan tersebut bisa
di diskusikan bersama untuk menghindari kemungkinan timbulnya konflik di belakang hari.
4. Membuat perencanaan karir dan memberi konseling.
Manajemen seharusnya terlibat dalam menyelesaikan persoalan karir dengan memberikan
bimbingan dan konseling dan memberi arahan bagaimana seseorang karyawan menentukan
masa depannya.

Walapun dalam perusahaan sudah memberi upaya pada karyawan untuk mengurangi
tingkat stress, seorang karyawan pun dapat mengelola stress panjang yang tidak
terhindarkan dengan manajemen waktu dan melakukan rileksasi serta olahraga.

Sumber : EKMA4158 Perilaku Organisasi Edisi 2