Anda di halaman 1dari 247

LAPORAN AKHIR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pemerintah Kota Tegal sedang berupaya mengembangkan olahraga baik
olahraga prestasi maupun rekreasi untuk menumbuhkembangkan budaya olahraga dan
meningkatkan prestasi demi kemajuan pembangunan olahraga di Kota Tegal. Untuk
mendukung pertumbuhan dan perkembangan olahraga di Kota Tegal diperlukan sebuah
fasilitas olahraga yang dapat menampung beberapa cabang olahraga sehingga
merupakan suatu wadah olahraga yang terpadu (sport center) sebagai trend one stop
sport yang dapat juga berperan sebagai magnet bagi daerah sekitar. Sport center
dibangun untuk mewadahi aktivitas olahraga dan diharapkan dapat menjadi magnet
dalam perkembangan kota.
Kegiatan Pemilihan Lokasi dan Studi Kelayakan Stadion Terpadu (Sport Center) Kota
Tegal telah dilakukan pada tahu 2014, dengan kesimpulan bahwa berdasarkan hasil
pembobotan dan penilaian yang telah dilakukan maka didapatkan lokasi sport center
Kota Tegal terpilih berada di Kelurahan Pesurungan Lor. Pemerintah Kota Tegal telah
menyiapkan lahan di Kelurahan Pesurungan Lor Kecamatan Margadana untuk
mewujudkan pembangunan sport center.
Sesuai Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah No 426/117, tanggal 10
Oktober 2014 Kota Tegal ditunjuk menjadi tuan rumah Pekan Olah Raga Provinsi
(Porprov) Jawa Tengah Tahun 2017. Porprov yang semula akan diselenggarakan tahun
2017 di Kota Tegal diundur tahun 2018 karena ada dua even besar pada tahun 2017 di
Jawa Tengah yaitu Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Pekan Olahraga
Nasional (PON) kedua Remaja Porprov Jawa Tengah. KONI Jawa Tengah pada tanggal
4 Februari 2017 mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan diputuskan bahwa
berdasarkan hasil verifikasi persyaratan kesiapan Kota Tegal sebagai tuan rumah
Porprov Tahun 2018 KONI Jawa Tengah menyatakan Kota Tegal belum siap dan Kota
Tegal tetap akan menjadi tuan rumah Porprov Tahun 2022.

1.2. Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah untuk mengkaji lokasi Sport Centre dari berbagai
perspektif (Tata Ruang, Lingkungan, Sosial, Ekonomi) yang berada di Kota Tegal agar
tercipta pembangunan yang seimbang dan berkelanjutan.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL I-1


LAPORAN AKHIR

1.3. Sasaran
Sasaran yang disusun berdasarkan tujuan di atas adalah sebagai berikut :
1. Melakukan identifikasi kondisi wilayah dan kawasan lokasi perencanaan
pembangunan sport center secara umum baik dari aspek sosial, ekonomi, tata
guna tanah, fasilitas dan lain-lain
2. Melkaukan analisis kembali kebutuhan sarana dan prasarana dalam
pengembangan stadion terpadu
3. Melakukan analisis terhadap kebijakan pengembangan wilayah dan tata ruang
Kota Tegal di lokasi perencanaan pembangunan sport center
4. Melakukan analisis kebijakan terhadap pembangunan sport center
5. Melakukan analisis struktur ruang Kota Tegal terhadap pembangunan sport
center
6. Melakukan identifikasi kebutuhan ruang untuk pembangunan sport center
7. Melakukan analisis lokasi pembangunan sport center
8. Melakukan analisis daya tampung dan daya dukung lingkungan
9. Melakukan analisis dampak lingkungan terhadap pembangunan sport center
10. Menyusun rekomendasi rumusan kebijakan terhadap lokasi pembangunan sport
center

1.4. Dasar Hukum


Adapun dasar hukum yang digunakan dalam mengkasi lokasi Sport Centre ini
adalah
sebagai berikut
1. Undang – Undang No 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 89,Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4535);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan & Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
5. Undang-Undang No 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan;
6. Undang-Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan
Keolahrgaan;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pekan
dan Kejuaraan Olahraga;

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL I-2


LAPORAN AKHIR

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan;
11. Peraturan Menteri Perhubungan No PM 75 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas.
12. Peraturan Daerah No.2 Tahun 2016

1.5. Ruang Lingkup


Ruang lingkup yang dipakai dalam kajian ini terbagi menjadi dua, yaitu ruang
lingkup wilayah dan substansi yaitu sebagai berikut :
1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah
Wilayah administrasi makro pada kajian ini adalah Kota Tegal, sedangkan ruang
lingkup wilayah secara mikro yang menjadi fokus kajian ini adlaah Kelurahan
Pesurungan Lor Kecamatan Margadana yang terlihat pada gambar berikut :

Sumber : RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 1.1 Peta Administrasi Kota Tegal
Kota Tegal merupakan salah satu kota yang berada di Jawa Tengah dengan
batas administrasi sebagai berikut :
- Utara : Laut Jawa
- Timur : Kabupaten Tegal
- Selatan : Kabupaten Tegal
- Barat : Kabupaten Brebes

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL I-3


LAPORAN AKHIR

Sementara fokus wilayah kajian ini adalah Kelurahan Pesurungan Lor yang
berada di Kecamatan Margadana. Adapun batas wilayah Kelurahan Pesurungan Lor
adalah sebagai berikut :

Sumber : RTRW Kota tegal, 2011-2031


Gambar 1.2 Peta Administrasi Kelurahan Pesurungan Lor

1.5.2. Ruang Lingkup Substansi


Ruang lingkup substansi pada kajian ini adalah menganalisis lokasi perencanaan
Sport Centre yang dilihat dari berbagai perspektif : tata ruang, ekonomi, sosial, budaya
dan lingkungan dengan batasan-batasan dari Kerangka Acuan Kerja yang tercantum
pada sasaran yang telah disampaikan di atas.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL I-4


LAPORAN AKHIR

1.6. Keluaran
Sehingga keluaran yang diharapkan dari kajian ini berdasarkan tujuan di atas
adalah sebagai berikut :
1. Keluaran yang dihasilkan pada pekerjaan adalah :
2. Analisis keadaaan dasar terhadap kondisi wilayah eksisting
3. Analisis sistem kebutuhan ruang yaitu menilai hubungan ketergantungan antara
sub sistem atau antar fungsi dan pengaruhnya
4. Analisis kemampuan pengelolaan, pengawasan dan personal baik pada saat
sekarang maupun di masa depan
5. Analisis daya dan dampak lingkungan pembangunan sport center dengan
daerah sekitar
6. Analisis dampak lalu lintas sport center dengan daerah sekitar
7. Analisis pengaruh pembangunan sport center terhadap pengembangan wilayah

1.7. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan guna mengurai pembahasan pada kajian kali ini adalah
sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab I berisi penjelasan mengenai latar belakang; tujuan dan sasaran; dasar
hukum, ruang lingkup wilayah dan substansi, keluaran, dan sistematika
penulisan.
BAB II KAJIAN LITERATUR DAN METODOLOGI
Pada bab ini, akan dibahas terkait 2 pokok bahasan yaitu teori dan metode
perencanaan yang dilakukan dalam kajian kali ini. Kajian literatur berisikan teori
dan referensi yang digunakan dalam penyusunan analisis nantinya sebagai basis
(pedoman) dasar. Sedangkan metode perencanaan berisiskan metode-metode
dalam proses kajian ini.
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH
Bab ini berisikan mengenai kondisi eksisting wilayah penelitian yang termuat
lokasi penelitian, keadaan geografis, kondisi demografi, infrasturkur penunjang
aktivitas, kondisi fisik wilayah serta aspek lain yang relevan dengan pengkajian
Sport Centre.
BAB IV ANALISIS
Bab analisis berisikan pembahasan proses analisa terkait penelitian yang
dilakukan sesuai metode-metode perencanaan yang disusun dan literatur-
literatur yang digunakan. Analisis-analisis yang diterapkan didasarkan pada
kerangka acuan kerja.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL I-5


LAPORAN AKHIR

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Bab terakhir dalam kajian ini berisikan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil
proses analisis sebelumnya.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL I-6


LAPORAN AKHIR

BAB II
KAJIAN LITERATUR DAN METODOLOGI

2.1. Pengertian Olahraga


Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1985), olahraga memiliki pengertian
sebagai berikut :
- Gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh.
- Permainan, hiburan, pertandingan yang memerlukan keterampilan fisik.
Olahraga juga merupakan suatu bentuk pendidikan dari perorangan dan
masyarakat yang mengutamakan gerakan jasmani yang dilakukan di dalam ruangan
(indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) secara sadar dan sistematis serta berlangsung
seumur hidup dan diarahkan dapat tercapainya suatu kualitas kehidupan yang lebih tinggi.
Olahraga juga berarti suatu kesibukan/kegiatan jasmani dan rohani yang
dilaksanakan secara teratur mengenai waktu, alat dan tempat, secara spontan dan
swadaya, serta mencakup segala kegiatan kehidupan manusia untuk memperkuat daya
tahan tubuh dan membentuk kepribadian.
Menurut UU Republik Indonesia No.3 Tahun 2005, terdapat pengertian-pengertian
dari hal-hal yang bersangkutan dengan olahraga, diantaranya adalah :
1. Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina,
serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.
2. Keolahragaan adalah segala aspek yang berkaitan dengan olahraga yang
memerlukan pengaturan, pendidikan, pelatihan, pembinaan, pengembangan, dan
pengawasan.
3. Keolahragaan Nasional adalah keolahragaan yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada
nilai-nilai kelolahragaan, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap
tuntutan perkembangan olahraga.
4. Sistem Keolahragaan Nasional adalah keseluruhan aspek keolahragaan yang
saling terkait secara terencana, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan sebagai satu
kesatuan yang meliputi pengaturan, pendidikan, pelatihan, pengelolaan,
pembinaan, pengembangan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan
keolahragaan nasional.
5. Pelaku olahraga adalah setiap orang dan/atau kelompok yang terlibat secara
langsung dalam kegiatan olahraga yang meliputi, pengolahraga, pembina olahraga,
dan tenaga keolahragaan.
6. Pengolahraga adalah orang yang berolahraga dalam usaha mengembangkan
potensi jasmani, rohani, dan sosial.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-1


LAPORAN AKHIR

7. Olahragawan adalah pengolahraga yang mengikuti pelatihan secara teratur dan


kejuaraan dengan penuh dedikasi untuk mencapai prestasi.
8. Pembina olahraga adalah orang yang memiliki minat dan pengetahuan,
kepemimpinan, kemampuan managerial, dan/atau pendanaan yang didedikasikan
untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan olahraga.
9. Tenaga keolahragaan adalah setiap orang yang memiliki kualifikasi dan sertifikat
kompetisi dalam bidang olahraga.
10. Organisasi olahraga adalah sekumpulan orang yang menjalin kerja sama dengan
membentuk organisasi untuk penyelenggaraan olahraga sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Dari uraian kutipan-kutipan diatas, inti dari pengertian olahraga adalah aktivitas
gerak manusia menurut teknik tertentu dalam kegiatan jasmani yang mengandung unsur
prestasi dan rekreasi yang bertujuan menyehatkan jasmani dan rohani dengan didasarkan
pada rasa sportifitas yang tinggi.

2.2. Jenis Olahraga


2.2.1. Berdasarkan Tujuan Olahraga
Olahraga secara spesifik memiliki karakteristik yang berbeda. Berdasarkan tujuan
olahraga, olahraga dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Olahraga Pendidikan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Sistem Keolahragaan Nasional, olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani
dan olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur
dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan,
kesehatan dan kebugaran jasmani. Olahraga pendidikan adalah olahraga yang
dikenalkan lewat dunia pendidikan. Widodo dan Eko (2009), menjelaskan bahwa
pendidikan olahraga harus lebih dioptimalkan, salah satu lewat mata pelajaran
pendidikan jasmani yang dapat mendidik dan mengembangkan bibit-bibit atlet baru.
- Olahraga Prestasi
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Sistem Keolahragaan Nasional, olahraga prestasi adalah olahraga yang membina
dan mengembangkan olahragawan secara terncana, berjenjang dan berkelanjutan
melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan
teknologi keolahragaan. Pembinaan prestasi olahraga melalui kegiatan di sekolah
dapat digunakan sebagai pembinaan olahraga prestasi. Tujuan dari pembinaan
olahraga prestasi ini yaitu untuk menjaring siswa-siswa yang kompeten sejak dini,
sehingga dapat dilakukan pembinaan lebih awal dan dapat dilakukan secara

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-2


LAPORAN AKHIR

berjenjang. Penjaringan siswa sebagai bibit-bibit ini akan lebih efektif dan efisien
karena dilakukan secara meluas dan merata pada setiap jenjang satuan pendidikan
dan pada semua wilayah di Indonesia. Penjaringan bibit-bibit yang dilakukan melalui
perlombaan secara nasional ini juga dapat menumbuhkan motivasi bagi siswa untuk
berprestasi, sehingga memudahkan dalam pembinaan pada tingkat lebih lanjut.
- Olahraga Rekreasi
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem
Keolahragaan Nasional, olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan
masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang
sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan,
kebugaran, dan kegembiraan.
- Olahraga Khusus
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Sistem Keolahragaan Nasional, olahraga penyandang cacat adalah olahraga
yang khusus dilakukan sesuai dengan kondisi kelainan fisik/mental seseorang.
Kegiatan olahraga khusus bagi penyandang cacat yang dibina oleh Badan
Pembina Olahraga Cacat (BPOC), telah berhasil meningkatkan sportivitas dan
solidaritas di kalangan penyandang cacat dan meningkatkan prestasi atlet
penyandang cacat sampai tingkat internasional.
Jenis olahraga khusus lain yang berkembang di masyarakat adalah terkait
dengan pemeliharaan atau pemulihan kesehatan seperti olahraga rehabilitasi
penyakit jantung, olahraga pernafasan bagi penderita asma dan olahraga
kelenturan bagi penderita rematik sendi.

2.2.2. Berdasarkan Kegiatan Fisik


Olahraga dibagi menjadi beberapa golongan dan jenis. Berdasarkan kegiatan fisik
yang dilakukan, olahraga dibagi menjadi beberapa golongan, antara lain:
a) Golongan I (olahraga murni), yaitu : Atletik, Senam, Sepak Bola, Dayung, Karate,
Hokey Bola, Voli, Tenis Lapangan, Taekwondo, Basket, Yudo, Tennis, Pencak Silat,
Balap Sepeda, Sepak Takraw, Renang, Gulat, Badminton, Kempo, Anggar dan Polo
Air.
b) Golongan II (olahraga kurang murni), yaitu : Golf, perahu Layar, Ski Air, Panahan
dan Loncat Indah
c) Golongan III (olahraga untuk kesenangan), yaitu : Catur, Biliar, Mountain Bridge,
Terbang Layang, dan Layang Gantung.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-3


LAPORAN AKHIR

2.2.3. Berdasarkan Pelaku Olahraga


Berdasarkan pelakunya olahraga digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Olahraga Perorangan
Olahraga yang dilakukan secara individu, yaitu satu lawan satu.
2. Olahraga Berhadapan Tunggal atau Ganda
Olahraga yang dilakukan secara berpasangan atau berdua.
3. Olahraga Majemuk atau Beregu
Olahraga yang dilakukan secara beregu.

2.2.4. Berdasarkan Ruang Aktivitas Olahraga


Berdasarkan ruang aktivitas, olahraga dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Olahraga Indoor (olahraga di dalam ruangan)
Olahraga yang fasilitas kegiatan olahraganya di dalam ruangan.
b. Olahraga Outdoor (olahraga di luar lapangan)
Olahraga yang fasilitas kegiatan olahraganya di luar ruangan.
Tabel II. 1
Macam-Macam Cabang Olahraga
NO CABANG NO CABANG NO CABANG NO CABANG
OLAHRAGA OLAHRAGA OLAHRAGA OLAHRAGA
1. Anggar 11. Bulutangkis 21. Catur 31. Tenis meja
2. Angat besi 12. Aeromodeling 22. Golf 32. Tinju
3. Atletik 13. Binaraga 23. Gulat 33. Senam
4. Balap motor 14. Angkat berat 24. Kriket 34. Sepak takraw
5. Balap mobil 15. Bola voli pasir 25. Polo air 35. Sepatu roda
6. Berkuda 16. Dayung 26. Pilates 36. Taekwondo
7. Bisbol 17. Hoki 27. Renang 37. Tarung derajat
8. Bola basket 18. Judo 28. Seni bela diri 38. Pencak silat
9. Bola voli 19. Karate 29. Sepak bola 39. Panahan
10. Bridge 20. Kempo 30. Tenis 40. menembak
Sumber : www.wikipedia,com
Tabel diatas adalah beberapa contoh jenis-jenis cabang olahraga yang
berlaku dan dikenal di Indonesia. Olahraga-olahraga tersebut merupakan olahraga
yang lebih bersifat prestatif karena aktivitasnya terprogram dengan intensitas tinggi
dan menuntut prestasi yang tinggi pula. Namun olahraga prestatif seperti ini secara
tidak khusus dapat pula difungsikan sebagai olahraga yang rekreatif jika dilakukan
dengan santai atau dilakukan sebagai hobi.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-4


LAPORAN AKHIR

2.3. Tinjauan Umum Bangunan Sport Center


2.3.1. Pengertian Sport Center
Dalam Bahasa Indonesia, Sport Center biasa disebut dengan Gelanggang
Olahraga. Gelanggang Olahraga berasal dari kata ‘gelanggang’ dan ‘olahraga’.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gelanggang memiliki pengertian
ruang atau lapangan tempat meyabung ayam, tinju, berpacu, berolahraga, dan sebagainya.
Sedangkan olahraga ialah gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Maka
dapat dikatakan pengertian dari Gelanggang Olahraga adalah ruang atau lapangan yang
digunakan sebagai tempat/media untuk menggerakkan badan dengan tujuan untuk
menguatkan dan menyehatkan tubuh.
Menurut buku Design for Sport (A. Perin Gerald, 1981), Sport Center adalah
sebuah perluasan dari skala tertentu yang dapat diasosiasikan dengan satu sport hall yang
menyediakan fasilitas lainnya yang berguna bagi masyarakat.
Sport Center dapat berupa gedung olahraga yang mewadahi kegiatan olahraga baik
kegiatan latihan, rekreasi, maupun kompetitif. Kegiatan olahraga terbagi menjadi 2 bagian,
yaitu latihan dan kompetisi. Dalam perancangan gedung yang berfungsi sebagai tempat
latihan, tidak terlalu membutuhkan area untuk penonton. Gedung yang lebih berfungsi
sebagai tempat pertandingan, membutuhkan area yang dapat mencakup kapasitas
penonton.

2.3.2. Klasifikasi Jenis Kegiatan pada Sport Center


Jenis kegiatan yang biasa dilakukan pada Sport Center, antara lain:
a. Kegiatan Olahraga : perlombaan atau pertandingan, pelatihan rutin, olahraga
rekreasi
b. Kegiatan Non-Olahraga : menonton pertandingan, makan atau minum, jual beli, dll.

2.3.3. Fasilitas Olahraga pada Sport Center


Jenis olahraga dibagi ke dalam 3 kelompok kegiatan9, yaitu:
a. Outdoor Activities, yaitu kegiatan keolahragaan yang dilakukan di area/udara
terbuka tanpa batas atau penutup ruang. Contoh keolahragaan yang menggunakan
outdoor yaitu polo, panahan, bersepeda, baseball, futsal, sepak bola, bola tangan,
hoki, basket, bola jaring, tarik tambang, bola voli, kati, kriket, bola jaring, mini hoki,
soft ball, tennis, dll.
b. Indoor Activities, yaitu kegiatan keolahragaan yang membutuhkan ruang yang
tertutup dengan penutup khusus. Contoh keolahragaan yang menggunakan
lapangan indoor yaitu buku tangkis, basket, sepak bola, futsal, hoki, senam aerobic,
bola voli, gulat, bola tangan, judo, bowling, tenis meja, anggar, tinju, karate, dll.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-5


LAPORAN AKHIR

c. Water-based Activities, yaitu kegiatan keolahragaan yang


membutuhkan/menggunakan air sebagai media utama. Contoh keolahragaan yang
membutuhkan media air yaitu senam air, renang, hoki air, lompat indah, dll

2.3.4. Fungsi Sport Center


Fungsi utama sport center adalah sebagai wadah dalam melakukan kegiatan yang
berhubungan dengan olahraga. Namun dikarenakan olahraga juga terdapat jenisnya, maka
fungsi sport center dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
a. Kompetisi
Sport center yang lebih bersifat kompetisi biasanya memiliki tribun untuk penonton
serta memakai standard ruang dan luasan yang sesuai dengan ketentuan dan
standard internasional.
b. Rekreasi
Sport center yang lebih bersifat rekreasi biasanya tidak terdapat tribun penonton.
Terdapat juga beberapa sport center yang menyediakan tribun, namun dengan
kapasitas yang seadanya saja. Fasilitas di dalam sport center ini juga lebih santai
dan tidak terlalu formal, bahkan terdapat beberapa sport center yang ruang dan
luasannya tidak sesuai dengan ketentuan yang ada.
Selain dari segi fasilitas yang tergolong santai, biasanya kategori sport center ini dilengkapi
dengan cafe atau restoran, tempat nonton bareng, dan lain-lain.

2.3.5. Klasifikasi Sport Center


Menurut buku Standar Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga
yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum, gelanggang olahraga dibagi menjadi
3 tipe, yaitu:
1) Gelanggang Olahraga Tipe A
Merupakan gelanggang olahraga yang dalam penggunaan melayani wilayah
Provinsi/Daerah Tingkat 1
2) Gelanggang Olahraga Tipe B
Merupakan gelanggang olahraga yang dalam penggunaan melayani wilayah
Kabupaten/Kotamadya
3) Gelanggang Olahraga Tipe C
Merupakan gelanggang olahraga yang dalam penggunaan hanya melayani wilayah
Kecamatan.
1) Jenis Cabang Olahraga dan jumlah untuk pertandingan serta latihan, seperti pada
tabel berikut ini :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-6


LAPORAN AKHIR

Tabel II. 2
Klasifikasi & Penggunaan Bangunan Gedung Olahraga
KLASIFIKASI PENGGUNAAN
GELANGGANG JUMLAH JUMLAH MINIMAL LAPANGAN KETERANGAN
OLAHRAGA MINIMAL PERTANDINGAN LATIHAN
CABANG NASIONAL/INTERNASIONAL
OLAHRAGA
TIPE A Bola Basket 1 buah 1 buah Untuk cabang
 Bola Voli 1 buah 3 buah olahraga lain
 Badminton 1 buah 4 buah masih
 Tennis 1 buah 6 -7 buah dimungkinkan
TIPE B  Bola 1 buah - penggunaannya
Basket sepanjang
 Bola Voli 1 buah 2 buah ketentuan
 Badminton - 3 buah ukuran
TIPE C  Bola voli - 1 buah minimalnya
 Badminton 1 buah - masih dapat
dipenuhi oleh
gelanggang
olahraga
Sumber : Standar Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga, 2012

2) Ukuran efektif matra ruang gedung olahraga harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut, seperti tabel ini :
Tabel II. 3
Ukuran Minimal Matra Ruang Gedung Olahraga
UKURAN MINIMUM (METER)
KLASIFIKASI PANJANG LEBAR TINGGI LANGIT TINGI LANGIT-
(TERMASUK (TERMASUK – LANGIT LANGIT
DAERAH DAERAH PERMAINAN DAERAH
BEBAS) BEBAS) BEBAS
TIPE A 50 30 12,5 5,5
TIPE B 32 22 12,5 5,5
TIPE C 24 16 9 5,5
Sumber : Standar Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga, 2012

3) Kapasitas penonton gedung olahraga harus memenuhi ketentuan seperti pada tabel
di bawah ini :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-7


LAPORAN AKHIR

Tabel II. 4
Kapasitas Penonton Gedung Olahraga
KLASIFIKASI GELANGGANG JUMLAH PENONTON (ORANG)
OLAHRAGA
TIPE A 3.000 – 5.000
TIPE B 1.000 – 3.000
TIPE C ≤ 1.000
Sumber : Standar Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga, 2012

2.3.6. Standar-Standar Ketentuan Sport Center


Persyaratan gedung olaharaga telah ditentukan oleh lembaga-lembaga, baik
nasional maupun internasional, yang berwenang mengurusi masalah olahraga.
Persyaratan standar gedung olahraga di Indonesia sudah dibakukan ke dalam
Standar Nasional Indonesia. Persyaratan-persyaratan tersebut antara lain:
1. Tata Cahaya
Tingkat penerangan, pencegahan silau, serta sumber cahaya lampu harus
memenuhi ketentuan berikut :
- Tingkat penerangan horizontal pada area 1 meter di atas permukaan lantai.
- Penerangan buatan dan/atau penerangan alami tidak boleh menimbulkan
penyilauan bagi para pemain.
- Pencegahan silau akibat matahari harus sesuai dengan SK SNI T-05-1999-
tentang Pencahayaan pada Bangunan.
- Sumber cahaya lampu atau bukaan harus diletakkan dalam satu area pada langit-
langit sedemikian rupa sehingga sudut yang terjadi antara garis yang dihubungkan
sumber cahaya tersebut dengan titik terjauh area setinggi 1,5 m garis.
- Apabila gedung olahraga digunakan untuk menyelenggarakan lebih dari satu
kegiatan cabang olahraga, maka untuk masing-masing kegiatan harus tersedia
tata lampu yang sesuai untuk kegiatan yang dimaksud.
- Masing-masing tata lampu harus merupakan instalasi satu dengan yang lainnya.
- Apabila menggunakan tata cahaya buatan, harus disediakan generator set yang
kapasitas daya minimum 60 % dari terpasang, generator set harus dapat bekerja
maksimum 10 detik pada saat aliran PLN padam.
2. Tata Warna
Koefisien refleksi dan tingkat warna langit-langit, dinding, dan lantai arena harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-8


LAPORAN AKHIR

Tabel II. 5
Koefisien Refleksi dan Tingkat Warna
NO KOMPONEN KOEFISIEN & REFLEKSI TINGKAT WARNA
1. Langit – langit 0,5 – 0,7 Cerah
2. Dinding dalam arena 0,4 – 0,6 Sedang
3. Lantai arena 0,1 – 0,4 Agak gelap
Sumber : Standar Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga, 2012 Tata Suara

Tingkat kebisingan lingkungan maksimal yang diizinkan adalah 25 dB.


3. Tata Udara
Tata udara dapat menggunakan ventilasi alami atau ventilasi mekanis, serta harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut :
 Apabila menggunakan ventilasi alami, maka harus memenuhi :
- Luas bukaan minimum adalah 6% dari luas lantai efektif.
- Peletakan ventilasi alami harus diatur mengikuti pergerakan udara silang.
 Apabila menggunakan ventilasi buatan, maka harus memenuhi :
- Volume pergantian udara minimum sebesar 10-15 m/jam/orang.
- Alat ventilasi buatan tidak menimbulkan kebisingan di dalam arena dan tempat
penonton.
4. Komponen Bangunan
- Tempat duduk
- Tangga
- Lantai
- Dinding Arena
- Pintu, Penerangan, dan Ventilasi

2.3.7. Persyaratan Umum Sport Center


Sebuah gedung olahraga indoor harus tersedia beberapa fasilitas, antara lain:
a. Area olahraga utama: terdiri dari lapangan olahraga, area penonton (tribun), area
official (wasit, hakim garis, pelatih, dan lainnya), ruang peralatan olahraga, ruang
teknik, ruang ganti, kamar mandi, toilet, janitor, dan sebagainya.
b. Area olahraga indoor: meliputi tempat latihan bulutangkis, bola voli, biliar, tempat
latihan kebugaran (fitness), kolam renang, dam sebagainya.
c. Area administrasi: meliputi ruang resepsionist, kantor pengelola, ruang rapat
pengelola, pantry, gudang, ruang arsip, dan sebagainya.
d. Area penerimaan tamu: meliputi front office, loket penjualan tiket, loket pendaftaran
keanggotaan dan penyewaan, entrance hall, lobby, toilet umum, dan sebagainya.
e. Area rekreasi: cafe, taman bermain, sport shop/retail, jogging track, dan
sebagainya.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-9


LAPORAN AKHIR

f. Area pendidikan: perpustakaan buku-buku dan majalah olahraga.


g. Keamanan: faktor keamanan dari api (fire hydrant, sprinkler, dan lain-lain), faktor
keamanan dari kecelakaan, keributan, dan sebagainya.
h. Area ibadah: musholla dan tempat wudhu.

2.3.8. Jenis Olahraga yang Diwadahi


Jenis olahraga yang akan diwadahi dalam bangunan Sport Center adalah jenis-jenis
olahraga yang memiliki peminat paling banyak, yaitu jenis olahraga yang banyak memiliki
jumlah ranting yang diwadahi badan olahraga nasional/KONI.
Kota Tegal memiliki kepengurusan KONI daerah yang mewadahi berbagai macam
bidang olahraga antara lain :
Tabel II. 6
Cabang Olahraga yang Diwadahi KONI Kota Tegal
NO CABANG OLAHRAGA
1. PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia)
2. ISSI (Ikatan Sport Sepeda Seluruh Indonesia)
3. PERBASI (Persatuan Basketball Seluruh Indonesia)
4. PBVSI (Persatuan Bola Volley Seluruh Indonesia)
5. POBSI (Persatuan Olahraga Bilyard Seluruh Indonesia)
6. PERCASI (Persatuan Catur Seluruh Indonesia)
7. PODSI (Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia)
8. FORKI (Federasi Olahraga Karate Do Indonesia
9. PERSANI (Persatuan Senam Seluruh Indonesia)
10. PHSI (Persatuan Hoki Seluruh Indonesia)
11. PERBASASI (Persatuan Baseball dan Softball Seluruh Indonesia)
12. ABTI (Asosiasi Bola Tangan Seluruh Indonesia
13. PERBAKIN (Persatuan Menembak Indonesia)
14. FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia)
15. PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia)
16. PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia)
17. PELTI (Persatuan Tennis Lapangan Seluruh Indonesia)
18. PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia)
19. PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia)
20. PERTINA (Persatuan Tinju Seluruh Indonesia)
21. PSTI (Persatuan Sepak Takraw Indonesia)
22. PORSERISI (Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia)
23. AFK (Asosiasi Futsal Kota)
24. WHUSU
25. FOBMI (Federasi Olahraga Balap Motor Indonesia)

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-10


LAPORAN AKHIR

NO CABANG OLAHRAGA
26. IPSI (Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia)
27. PABBSI (Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia
28. KODRAT (Kordinator Olahraga Tarung Drajat)
29. PGI (Persatuan Golf Indonesia)
30. PGSI (Persatuan Gulat Seluruh Indonesia)
31. PERKEMI (Persatuan Shorinji Kempo Indonesia)
32. TEKWONDO
33. IODI (Ikatan Olahraga Dansa Indonesia)
34. PDBI (Persatuan Drum Band Indonesia)
35. PORDIRGA (Persatuan Olahraga Dirgantara)
36. POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia)
Sumber : Koni Kota Tegal

2.4. Teori Lokasi


Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan
ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial,
serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam
usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006).
Teori lokasi adalah suatu penjelasan teoretis yang dikaitkan dengan tata ruang dari
kegiatan ekonomi. Hal ini selalu dikaitkan pula dengan alokasi geografis dari sumber daya
yang terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi
berbagai aktivitas baik ekonomi maupun sosial (Sirojuzilam, 2006: 22).
Thunen dalam Tarigan (2006) berpendapat tentang perbedaan lokasi dari berbagai
kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi). Menurut
Von Thunen tingkat sewa lahan paling mahal nilainya adalah di pusat pasar dan makin
rendah apabila makin jauh dari pasar. Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan
dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan
perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis
produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi
kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu
berlokasi dekat pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram
cincin. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota
dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.
Aksesibilitas adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi apakah suatu
lokasi menarik untuk dikunjungi atau tidak. Tingkat aksesibilitas merupakan tingkat
kemudahan di dalam mencapai dan menuju arah suatu lokasi ditinjau dari lokasi lain di
sekitarnya (Tarigan, 2006). Menurut Tarigan, tingkat aksesibilitas dipengaruhi oleh jarak,

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-11


LAPORAN AKHIR

kondisi prasarana perhubungan, ketersediaan berbagai sarana penghubung termasuk


frekuensinya dan tingkat keamanan serta kenyamanan untuk melalui jalur tersebut. Dalam
analisis kota yang telah ada atau rencana kota, dikenal standar lokasi (standard for location
requirement) atau standar jarak (Jayadinata, 1999: 160) seperti terlihat pada tabel berikut
ini.
Tabel II. 7
Standar Jarak Dalam Kota
NO PRASARANA JARAK DARI TEMPAT TINGGAL
(BERJALAN KAKI)
1. Pusat tempat kerja 20 menit – 30 menit
2. Pusat kota (pasar dan sebagainya) 30 menit – 45 menit
3. Pasar lokal ¾ km atau 10 menit
4. Sekolah Dasar (SD) ¾ km ataau 10 mneit
5. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 ½ km atau 20 menit
6. Sekolah Menengah Atas (SMA) 20 atau 30 menit
7. Tempat Bermain Anak atau Taman ¾ km atau 20 menit
8. Tempat Olahraga (Rekreasi) 1 1/1 km atau 20 menit
9. Taman Umum (Cagar, Kebun Binatang, 30 – 60 menit
dsb)
Sumber : Chapin dalam Jayadinata (1999)

2.5. Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin)


2.5.1. Pengertian Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin)
Dikun dan Arif (1993) mendefinisikan analisis dampak lalu-lintas sebagai suatu
studi khusus dari dibangunnya suatu fasilitas gedung dan penggunaan lahan lainnya
terhadap sistem transportasi kota, khususnya jaringan jalan di sekitar lokasi gedung.
Menurut Tamin (2000), analisis dampak lalu lintas pada dasarnya merupakan
analisis pengaruh pengembangan tata guna lahan terhadap sistem pergerakan arus lalu-
lintas disekitarnya yang diakibatkan oleh bangkitan lalu-lintas yang baru, lalulintas yang
beralih, dan oleh kendaraan keluar masuk dari / ke lahan tersebut.
Menurut Peraturan Menteri Perhubungan, Analisis Dampak Lalu Lintas adalah
serangkaian kegiatan kajian mengenai dampak lalu lintas dari pembangunan pusat
kegiatan, permukiman, dan infrastruktur yang hasilnya dituangkan dalam bentuk dokumen
hasil analisis dampak lalu lintas.
2.5.2. Fenomena Dampak Lalu Lintas
Menurut Murwono (2003), fenomena dampak lalu-lintas diakibatkan oleh adanya
pembangunan dan pengoperasian pusat kegiatan yang menimbulkan bangkitan lalu lintas
yang cukup besar, seperti pusat perkantoran pusat perbelanjaan, terminal, dan lain-lain.
Dampak lalu lintas terjadi pada 2 (dua) tahap, yaitu :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-12


LAPORAN AKHIR

a. Tahap konstruksi / pembangunan. Pada tahap ini akan terjadi bangkitan lalulintas
akibat angkutan material dan mobilisasi alat berat yang membebani ruas jalan
pada rute material;
b. Tahap pasca konstruksi / saat beroperasi. Pada tahap ini akan terjadi bangkitan
lalu-lintas dari pengunjung, pegawai dan penjual jasa transportasi yang akan
membebani ruas-ruas jalan tertentu, serta timbulnya bangkitan parkir kendaraan.
Tamin (2000) mengatakan bahwa setiap ruang kegiatan akan "membangkitkan"
pergerakan dan "menarik" pergerakan yang intensitasnya tergantung pada jenis tata guna
lahannya. Bila terdapat pembangunan dan pengembangan kawasan baru seperti pusat
perbelanjaan, superblok dan lain-lain tentu akan menimbulkan tambahan bangkitan dan
tarikan lalu lintas baru akibat kegiatan tambahan di dalam dan sekitar kawasan tersebut.
Karena itulah, pembangunan kawasan baru dan pengembangannya akan memberikan
pengaruh langsung terhadap sistem jaringan jalan di sekitarnya.
Dikun (1993) menyatakan bahwa analisis dampak lalu-lintas harus merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses perencanaan, evaluasi rancang
bangun dan pemberian ijin. Untuk itu diperlukan dasar peraturan formal yang mewajibkan
pemilik melakukan analisis dampak lalu lintas sebelum pembangunan dimulai. Didalam
analisis dampak lalu lintas, perkiraan banyaknya lalu-lintas yang dibangkitkan oleh fasilitas
tersebut merupakan hal yang mutlak penting untuk dilakukan. Termasuk dalam proses
analisis dampak lalu lintas adalah dilakukannya pendekatan manajemen lalu lintas yang
dirancang untuk menghadapi dampak dari perjalanan terbangkitkan terhadap jaringan jalan
yang ada.
Djamal (1993) mengemukakan 5 (lima) faktor / elemen penting yang akan
menimbulkan dampak apabila sistem guna lahan berinteraksi dengan lalu lintas.
Kelima elemen tersebut adalah :
1. Elemen Bangkitan / Tarikan Perjalanan, yang dipengaruhi oleh faktor tipe dan kelas
peruntukan, intensitas serta lokasi bangkitan.
2. Elemen Kinerja Jaringan Ruas Jalan, yang mencakup kinerja ruas jalan dan
persimpangan.
3. Elemen Akses, berkenaan dengan jumlah dan lokasi akses.
4. Elemen Ruang Parkir.
5. Elemen Lingkungan, khususnya berkenaan dengan dampak polusi dan kebisingan.
Lebih lanjut, The Institution of Highways and Transportation (1994) menyatakan
bahwa besar-kecilnya dampak kegiatan terhadap lalu lintas dipengaruhi oleh hal-hal
sebagai berikut:
1. Bangkitan / Tarikan perjalanan.
2. Menarik tidaknya suatu pusat kegiatan.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-13


LAPORAN AKHIR

3. Tingkat kelancaran lalu lintas pada jaringan jalan yang ada.


4. Prasarana jalan di sekitar pusat kegiatan.
5. Jenis tarikan perjalanan oleh pusat kegiatan.
6. Kompetisi beberapa pusat kegiatan yang berdekatan.

2.5.3. Sasaran Analisis Dampak Lalu Lintas


Arief (1993) menyatakan bahwa sasaran Andalalin ditekankan pada :
1. Penilaian dan formulasi dampak lalu-lintas yang ditimbulkan oleh daerah
pembangunan baru terhadap jaringan jalan disekitarnya (jaringan jalan eksternal),
khususnya ruas-ruas jalan yang membentuk sistem jaringan utama;
2. Upaya sinkronisasi terhadap kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan
penyediaan prasarana jalan, khususnya rencana peningkatan prasarana jalan dan
persimpangan di sekitar pembangunan utama yang diharapkan dapat mengurangi
konflik, kemacetan dan hambatan lalu-lintas;
3. Penyediaan solusi-solusi yang dapat meminimumkan kemacetan lalu lintas yang
disebabkan oleh dampak pembangunan baru, serta penyusunan usulan indikatif
terhadap fasilitas tambahan yang diperlukan guna mengurangi dampak yang
diakibatkan oleh lalu-lintas yang dibangkitkan oleh pembangunan baru tersebut,
termasuk di sini upaya untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana sistem
jaringan jalan yang telah ada;
4. Penyusunan rekomendasi pengaturan sistem jaringan jalan internal, titik-titik akses
ke dan dari lahan yang dibangun, kebutuhan fasilitas ruang parkir dan penyediaan
sebesar mungkin untuk kemudahan akses ke lahan yang akan dibangun.
The Institution of Highways and Transportation ( 1994) merekomendasikan
pendekatan teknis dalam melakukan analisis dampak lalu-lintas, sebagai berikut :
- Gambaran kondisi lalu lintas saat ini (eksisting).
- Gambaran Pembangunan yang akan dilakukan
- Estimasi pilihan moda dan tarikan perjalanan.
- Analisis Penyebaran Perjalanan.
- Identifikasi Rute Pembebanan Perjalanan.
- Identifikasi Tahun Pembebanan dan pertumbuhan lalu lintas.
- Analisis Dampak Lalu Lintas.
- Analisis Dampak Lingkungan.
- Pengaturan Tata Letak Internal.
- Pengaturan Parkir.
- Angkutan Umum.
- Pejalan kaki, pengendara sepeda dan penyandang cacat.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-14


LAPORAN AKHIR

2.5.4. Tinjauan Pelaksanaan Analisis Dampak Lalu Lintas


Setiap rencana pembangunan pusat kegiatan, permukiman, dan infrastruktur yang
akan menimbulkan gangguan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu
lintas dan angkutan jalan wajib dilakukan Analisis Dampak Lalu Lintas.
Pusat kegiatan berupa bangunan untuk :
- Kegiatan perdagangan
- Kegiatan perkantoran
- Kegiatan industri
- Fasilitas pendidikan : sekolah / universitas, lembaga kursus
- Fasilitas pelayanan umum : rumah sakit, klinik bersama, bank
- Stasiun pengisian bahan bakar umum
- Hotel
- Gedung pertemuan
- Restoran
- Fasilitas olahraga (indoor atau outdoor)
- Bengkel kendaraan bermotor
- Pencucian mobil
- Bangunan lainnya
Permukiman berupa :
- Perumahan dan permukiman
- Rumah susun dan apartemen
- Asrama
- Ruko
- Permukiman lainnya
Infrastruktur berupa :
- Akses ke dan dari jalan tol
- Pelabuhan
- Bandar udara
- Terminal
- Stasiun kereta api
- Pool kendaraan
- Fasilitas parkir untuk umum
- Jalan layang (flyover)
- Lintas bawah (under pass)
- Terowongan (tunnel)

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-15


LAPORAN AKHIR

- Infrastruktur lainnya
Kriteria rencana pembangunan fasilitas olahraga (indoor atau outdoor) yang wajib
dilakukan analisis dampak lalu lintas dihitung berdasarkan kapasitas penonton dan/atau
luas lahan.
Pelaksanaan analisis dampak lalu-lintas di beberapa negara bervariasi berdasarkan
kriteria / pendekatan tertentu. Secara nasional, sampai saat ini belum terdapat ketentuan
yang mengatur pelaksanaan analisis dampak lalu-lintas. Ketentuan mengenai lalu-lintas
jalan yang berlaku sekarang sebagaimana dalam Undang-Undang Lalu-Lintas Jalan Nomor
14 Tahun 1992 dan peraturan pelaksanaannya tidak mengatur tentang dampak lalu-lintas.
Berdasarkan pedoman teknis penyusunan analisis dampak lalu-lintas Departemen
Perhubungan, ukuran minimal peruntukan lahan yang wajib melakukan andalalin, dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel II. 8
Kriteria Ukuran Minimal Analisis Dampak Lalu Lintas
JENIS RENCANA PEMBANGUNAN UKURAN MINIMAL
Pusat Kegiatan
Kegiatan perdagangan
pusat perbelanjaan/retail 500 m2 luas lantai bangunan
Kegiatan perkantoran 1000 m2 luas lantai bangunan
Kegiatan industri & pergudangan 2500 m2 luas lantai bangunan
Fasilitas Pendidikan :
sekolah/universitas 500 siswa
lembaga kursus Bangunan dengan 50 siswa/waktu
Fasilitas Pelayanan Umum :
rumah sakit 50 tempat tidur
Klinik bersama 10 ruang praktek dokter
bank 500 m2 luas lantai bangunan
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum 1 dispenser
Hotel 50 kamar
Gedung Pertemuan 500 m2 luas lantai bangunan
Restauran 100 tempat duduk
Fasilitas Olahraga (indoor atau outdoor) Kapasitas penonton 100 orang dan / atau luas
10.000 m2
Bengkel kendaraan bermotor 2000 m2 luas lantai bangunan
Pencucian mobil 2000 m2 luas lantai bangunan
Permukiman
Perumahan & permukiman
Perumahan sederhana 150 unit
Perumahan menengah atas 50 unit

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-16


LAPORAN AKHIR

JENIS RENCANA PEMBANGUNAN UKURAN MINIMAL


Rumah susun & apartemen
Rumah susun sederhana 100 unit
Apartemen 50 unit
Asrama 50 kamar
Ruko Luas lantai keseluruhan 2000 m 2
Infrastruktur
Akses ke & dari jalan tol Wajib
Pelabuhan Wajib
Bandar udara Wajib
wajibTerminal Wajib
Stasiun kereta api Wajib
Pool kendaraan Wajib
Fasilitas parkir untuk umum Wajib
Jalan layang (flyover) Wajib
Lintas bawah (underpass) Wajib
Terowongan (tunnel) Wajib
Bangunan / permukiman / infrastruktur lainnya :
Wajib dilakukan studi analisis dampak lalu lintas apabila ternyata diperhitungkan telah menimbulkan
75 perjalanan (kendaraan) baru pada jam padat dan atau menimbulkan rata-rata 500 perjalanan
(kendaraan) baru setiap harinya pada jalan yang dipengaruhi oleh adanya bangunan atau
permukiman atau infrastruktur yang dibangun atau dikembangkan
Sumber : Permenhub RI No PM 75 Tahun 2015 tentag Penyelenggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas

2.5.6. Bangkitan Perjalanan / Pergerakan (Trip Generation)


Bangkitan / Tarikan perjalanan dapat diartikan sebagai banyaknya jumlah
perjalanan / pergerakan / lalu-lintas yang dibangkitkan oleh suatu zona (kawasan) per
satuan waktu (per detik, menit, jam, hari, minggu dan seterusnya). Dari pengertian tersebut,
maka bangkitan perjalanan merupakan tahapan pemodelan transportasi yang bertugas
untuk memperkirakan dan meramalkan jumlah (banyaknya) perjalanan yang berasal
(meninggalkan) dari suatu zona / kawasan / petak lahan (banyaknya) yang datang atau
tertarik (menuju) ke suatu zona / kawasan petak lahan pada masa yang akan datang (tahun
rencana) per satuan waktu.
Morlok menyebutkan bahwa banyaknya perjalanan pada tahun rencana nanti,
sangat ditentukan oleh karakteristik tata guna lahan / petak-petak lahan (kawasan) serta
karateristik sosioekonomi tiap-tiap kawasan tersebut yang terdapat dalam ruang lingkup
wilayah kajian tertentu, seperti area kota, regional / propinsi atau nasional.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-17


LAPORAN AKHIR

Secara sederhana dapat diartikan bahwa jumlah perjalanan adalah fungsi dari tata
guna lahan / kawasan / zona yang menghasilkan perjalanan tersebut dan dapat pula kita
bentuk model sederhananya seperti persamaan fungsional berikut:
Jumlah Trip (Qtrip) = f (TGL)
Dimana :
Qtrip = jumlah perjalanan yang timbul dari suatu tata guna lahan ( zona ) per
satuan waktu.
f = fungsi matematik.
TGL = karaterisrik-kareteristik dan sosioekonomi tata guna lahan (zona) dalam
lingkup wilayah kajian.
Bangkitan perjalanan ini dianalisis secara terpisah menjadi dua bagian yaitu :
1. Produksi perjalanan / Perjalanan yang dihasilkan (Trip Production)
Merupakan banyaknya (jumlah) perjalanan / pergerakan yang dihasilkan oleh zona
asal (perjalanan yang berasal), dengan lain pengertian merupakan perjalanan /
pergerakan/arus lalu-lintas yang meningkatkan suatu lokasi tata guna
lahan/zona/kawasan.
2. Penarik Perjalanan /perjalanan yang tertarik (Trip Attraction)
Merupakan banyaknya (jumlah) perjalanan / pergerakan yang tertarik ke zona
tujuan (perjalanan yang menuju), dengan lain pengertian merupakan perjalanan /
pergerakan / arus lalu lintas yang menuju atau datang ke suatu lokasi tata guna
lahan / zona / kawasan.
Bangkitan / Tarikan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan
jumlah pergerakan yang berasal dari satu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan
yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. Pergerakan lalu lintas merupakan
merupakan fungsi tata guna lahan yang yang menghasilkan pergerakan lalu-lintas.
Bangkitan ini mencangkup :
 Lalu-lintas yang meninggalkan lokasi.
 Lalu-lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-18


LAPORAN AKHIR

Sumber : Wells, 1975


Gambar 2. 1 Bangkitan & Tarikan Pergerakan

Hasil keluaran dari perhitungan bangkitan dan tarikan lalu lintas berupa jumlah
kendaraan, orang, atau angkutan barang per satuan waktu, misalnya kendaraaan/jam.
Kita dapat dengan mudah menghitung jumlah orang atau kendaraan yang masuk
atau keluar dari suatu luas tanah tertentu dalam satu hari (atau satu jam) untuk
mendapatkan tarikan dan bangkitan pergerakan. Bangkitan dan tarikan tersebut tergantung
pada dua aspek tata guna lahan:
a. Jenis tata guna lahan.
Jenis tata guna lahan yang berbeda (pemukiman, pendidikan dan komersial)
mempunyai ciri bangkitan lalu-lintas yang berbeda :
- Jumlah arus lalu-lintas;
- Jenis arus lalu-lintas;
- Lalu-lintas pada waktu tertentu (misalkan pertokoan akan menghasilkan arus lalu-
lintas sepanjang hari);
b. Jumlah aktivitas (dan intensitas) tata guna lahan.
Bangkitan / Tarikan pergerakan bukan saja beragam dalam jenis tata guna lahan
tetapi juga tingkatan aktivitasnya. Semakin tinggi tingkat penggunaan sebidang tanah,
semakin tinggi pergerakan arus lalu-lintas yang dihasilkannya.salah satu ukuran
intensitas aktifitas sebidang tanah adalah kepadatannya.
2.5.7. Kinerja Lalu Lintas
Menurut Salter (1989), hubungan antara lalu-lintas dengan tata guna lahan dapat
dikembangkan melalui suatu proses perencanaan transportasi yang saling terkait, terdiri
dari :
1. Bangkitan / Tarikan perjalanan, untuk menentukan hubungan antara pelaku
perjalanan dan faktor guna lahan yang dicatat dalam inventaris perencanaan.
2. Penyebaran perjalanan, yang menentukan pola perjalanan antar zona.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-19


LAPORAN AKHIR

3. Pembebanan lalu-lintas, yang menentukan jalur transportasi publik atau jaringan


jalan suatu perjalanan yang akan dibuat.
4. Pemilihan moda, suatu keputusan yang dibuat untuk memilih moda perjalanan yang
akan digunakan oleh pelaku perjalanan.
Berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, Direktorat
Jenderal Bina Marga Direktorat Bina Jalan Kota, Volume lalu-lintas ruas jalan adalah
jumlah atau banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik tertentu pada ruas jalan
dalam suatu satuan waktu tertentu. Volume lalu-lintas dua arah pada jam paling sibuk
dalam sehari dipakai sebagai dasar untuk analisa unjuk kerja ruas jalan dan
persimpangan yang ada. Untuk kepentingan analisis, kendaran yang disurvai
dikasifikasikan atas :
1. Kendaraan Ringan (Light Vehicle/LV) yang terdiri dari Jeep, Station Wagon, Colt,
Sedan, Bis mini, Combi, Pick Up, Dll;
2. Kendaraan berat (Heavy Vehicle/HV), terdiri dari Bus dan Truk;
3. Sepeda motor (Motorcycle/MC);
Data hasil survai per-jenis kendaraan tersebut selanjutnya dikonversikan dalam
Satuan Mobil Penumpang (SMP) guna menyamakan tingkat penggunaan ruang
keseluruhan jenis kendaraan. Untuk keperluan ini, MKJI (1997) telah merekomendasikan
nilai konversi untuk masing-masing klasifikasi kendaraan sebagaimana dapat dilihat pada
penjelasan di bawah ini.

Nilai Ekivalen Mobil Penumpang (EMP)


Tot Arus Faktor EMP
Tipe Jalan Lebar Jalur (m)
(Km/Jam) HV MC
4/2 UD > 3.700 1,3 0,40
4/2 UD ≥ 3.700 1,2 0,25
> 1.800 1,3 0,40
2/2 UD >6
≥ 1.800 1,2 0,25
> 1.800 1,3 0,5
2/2 UD ≤6
≥ 1.800 1,2 0,35

Faktor EMP Untuk Tipe Pendekat


Jenis Kendaraan
Terlindung Terlawan
Kendaraan Ringan (LV) 1,0 1,0
Kendaraan Berat (HV) 1,3 1,3
Sepeda Motor (MC) 0,2 0,4

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-20


LAPORAN AKHIR

Menurut MKJI (1997), kinerja ruas jalan dapat diukur berdasarkan beberapa parameter,
diantaranya :
1. Derajad Kejenuhan (DS), yakni rasio arus lalu-lintas (smp/jam) terhadap kapasitas
(smp/jam) pada bagian jalan tertentu.
2. Kecepatan tempuh (V), yakni kecepatan rata-rata (km/jam) arus lalu-lintas
dihitung dari panjang jalan dibagi waktu tempuh rata-rata yang melalui segmen.

Kinerja Lalu Lintas di Ruas Jalan


Berdasarkan hal tersebut maka karakteristik lalu-lintas dapat dihitung dengan pendekatan
sebagai berikut :
A. Kecepatan Arus Bebas
Dalam MKJI (1997) kecepatan arus bebas kendaraan ringan (FV) dinyatakan dengan
persamaan :
FV = (FVo+ FVw) X FFVST X FFVcs
Dimana : FVo = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (km/jam)
FVW = Penyesuaian lebar jalur lalu-lintas efektif (km/jam)
FFVST = Faktor penyesuaian kondisi hambatan samping
FFVCS = Faktor penyesuaian ukuran kota
B. Kapasitas jalan perkotaan
Kapasitas jalan perkotaan dihitung dari kapasitas dasar. Kapasitas dasar adalah
jumlah kendaraan maksimum yang dapat melintasi suatu penampang pada suatu jalur atau
jalan selama 1 (satu) jam, Dalam keadaan jalan dan lalu-lintas yang mendekati ideal dapat
dicapai. Besarnya kapasitas jalan dapat dijabarkan sebagai berikut :
C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs
dimana : C = kapasitas ruas jalan (SMP/Jam)
Co = kapasitas dasar
FCw = faktor penyesuaian kapasitas untuk lebar jalur lalu-lintas
FCsp = faktor penyesuaian kapasitas untuk pemisahan arah
FCsf = faktor penyesuaian kapasitas untuk hambatan samping
FCcs = faktor penyesuaian kapasitas untuk ukuran kota.

1) Kapasitas Dasar
Besarnya kapasitas dasar jalan kota yang dijadikan acuan adalah sebagai Berikut :
Tipe Jalan Kapasitas Dasar (SMP/Jam) Keterangan
4 Jalur dipisah atau jalan satu arah 1.650 Tiap Lajur
4 Lajur tidak dipisah 1.500 Tiap Lajur
2 lajur tidak dipisah 2.900 Kedua Lajur

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-21


LAPORAN AKHIR

2) Faktor penyesuaian lebar jalur (FCw)


Faktor penyesuaian lebar jalan seperti ditunjukkan pada tabel berikut:
Tipe Jalan Lebar Jalan Efektif Cw Keterangan
3,00 0,92
3,25 0,96
4 Jalur dipisah atau jalan satu
3,50 1,00 Tiap Lajur
arah
3,75 1,04
4,00 1,08
3,00 0,91
3,25 0,95
4 Lajur tidak dipisah 3,50 1,00 Tiap Lajur
3,75 1,05
4,00 1,09
5,00 0,56
6,00 0,87
7,00 1,00
2 lajur tidak dipisah 8,00 1,14 Kedua Arah
9,00 1,25
10,00 1,29
11,00 1,34

3) Faktor penyesuaian arah lalu-lintas ( FCsp )


Besarnya faktor penyesuaian pada jalan tanpa menggunakan pemisah tergantung
kepada besarnya split kedua arah seperti tabel berikut :
Split Arah % - % 50 - 50 55 - 45 60 - 40 65 - 35 70 - 30
2/2 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88
Fsp
4/2 Tidak Dipisah 1,00 0,985 0,97 0,955 0,94

4) Faktor penyesuaian kerb dan bahu jalan ( FCsf )


Faktor penyesuaian kapasitas jalan antar kota terhadap lebar jalan dihitung dengan
menggunakan tabel berikut :
Faktor Penyesuaian Untuk Hambatan Samping
Kelas Hambatan dan Lebar Bahu
Tipe Jalan
Samping Lebar Bahu Efektif (Ws)
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0
VL 0,96 0,98 1,01 1,03
L 0,94 0,97 1,00 1,02
4/2 D
M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,88 0,92 0,95 0,98

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-22


LAPORAN AKHIR

Faktor Penyesuaian Untuk Hambatan Samping


Kelas Hambatan dan Lebar Bahu
Tipe Jalan
Samping Lebar Bahu Efektif (Ws)
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0
VH 0,84 0,88 0,92 0,96
VL 0,96 0,99 1,01 1,03
L 0,94 0,97 1,00 1,02
4/2 UD M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,87 0,91 0,94 0,98
VH 0,80 0,86 0,90 0,96
VL 0,94 0,96 0,99 1,01
2/2 UD atau L 0,92 0,94 0,97 1,00
Jalan Satu M 0,89 0,92 0,95 0,98
Arah H 0,82 0,86 0,90 0,95
VH 0,73 0,79 0,85 0,91

Catatan :
 Tabel tersebut di atas menganggap bahwa lebar bahu di kiri dan kanan jalan
sama, bila lebar bahu kiri dan kanan berbeda maka digunakan nilai rata-ratanya.
 Lebar efektif bahu adalah lebar yang bebas dari segala rintangan, bila di tengah
terdapat pohon, maka lebar efektifnya adalah setengahnya.

5) Faktor Ukuran Kota ( Fcs )


Berdasarkan hasil penelitian ternyata ukuran kota mempengaruhi kapasitas seperti
ditunjukkan dalam tabel berikut :
Ukuran Kota (Juta Orang) Factor Ukuran Kota (Fcs)
< 0,1 0,86
0,1 – 0,5 0,90
0,5 – 1,0 0,94
1,0 – 3,0 1,00
≤ 3,0 1,01

6) Ekivalen mobil Penumpang


emp
Arus lalu lintas
Tipe Jalan : MC
Total dua Arah
Jalan Tak Terbagi HV Lebar Jalur Lalu Lintas
(Kend/ jam)
<6 >6
Dua Lajur tak terbagi (2/2 0 1,3 0,5 0,4
UD) > 1.800 1,2 0,35 0,25

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-23


LAPORAN AKHIR

emp
Arus lalu lintas
Tipe Jalan : MC
Total dua Arah
Jalan Tak Terbagi HV Lebar Jalur Lalu Lintas
(Kend/ jam)
<6 >6
Empat lajur tak terbagi 0 1,3 0,4
(4/2 UD) > 3.700 1,2 0,25
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997

C. Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan didefinisikan sebagai rasio arus lalu lintas Q (smp/jam) terhadap
kapasitas C (smp/jam) digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja
segmen jalan. Nilai DS menunjukan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah
kapasitas atau tidak. Derajat kejenuhan dirumuskan sebagai berikut ;
DS = Q/C
dibawah ini menunjukkan beberapa batas lingkup V/C Ratio untuk masing-masing tingkat
pelayanan beserta karakteristik-karakteristiknya.

Tingkat Batas
Factor Ukuran Kota (Fcs)
Pelayanan Lingkup V/C
Kondisi arus lalu lintas bebas dengan kecepatan tinggi dan
A 0,00 – 0,20
volume lalu lintas rendah
Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh
B 0,20 – 0,44
kondisi lalu lintas
Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan
C 0,45 – 0,74
dikendalikan
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat
D 0,75 – 0,84
dikendalikan. V/C masih dapat ditolerir
Arus tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan
E 0,85 – 1,00
sudah mendekati kapasitas
Arus dipaksakan, kecepatan rendah, volume diatas
F ≥ 1,00
kapasitas, antrian panjang (macet)
Sumber : Traffic Planning and Engineering and Edition Pergamon Press Oxword, 1979

Kinerja lalu lintas di persimpangan


Kinerja suatu persimpangan dapat dilihat dari tundaan dan kapasitas persimpangan
tersebut yang antara lain dijabarkan sebagai berikut.
1) Tundaan
Tundaan dipersimpangan adalah total waktu hambatan rata-rata yang dialami oleh
kendaraan sewaktu melewati persimpangan. Hambatan tersebut adalah jika ada

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-24


LAPORAN AKHIR

kendaraan berhenti karena terjadi antrian di persimpangan sampai kendaraan tersebut


keluar dari persimpangan tersebut karena adanya pengaruh kapasitas persimpangan yang
sudah tidak memadai. Nilai tundaan mempengaruhi nilai waktu tempuh kendaraan.
Tundaan diberikan antara lain pada Tabel sebagai berikut.
Tabel II.9
Tingkat pelayanan akibat tundaan
Tingkat pelayanan Tundaan per kend. (detik)
A ≤ 5,0
B 5,1 – 15,0
C 15,1 – 25
D 25,1 – 40
E 40,1 – 60
F > 60
Sumber: Tamin (1998)

Kapasitas sisa persimpangan


Untuk penanganan persimpangan, kinerja lalu lintas dievaluasi dengan
menggunakan kriteria dasar yang tersedia dealam menentukan jenis penanganan
persimpangan yang diperlukan. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi
kinerja persimpangan yang diberikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel II.10
.Tingkat Pelayanan Pada Persimpangan Tanapa Lalu Lintas
Kapasitas sisa Tingkat layanan Tindaan untuk lalulintas jalan minor
(kend/jam)
> 400 A Sedikit atau tidak ada tundaan
300 – 399 B Tundaan lalaulintas singkat
200 - 299 C Tundaan lalu lintas rata-rata
100 – 199 D Tundaan lalu lntas lama
0 - 99 E Tundaan lalu lintas sangat lama
* F Tundaan yang parah
Sumber: Tamin (1998)

2.6. Pendekatan & Metodologi


2.6.1. Pendekatan
Pekerjaan ini merupakan Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal dengan tujuan
sebagai dasar untuk melakukan studi lokasi Sport Center terhadap fungsi kawasan lainnya
di sekitar lokasi sport center.
Kajian tersebut meliputi kajian tata ruang atas keberadaan/lokasi Sport Center, daya
tampung, sistem transportasi yang mendukung lalu lintas wilayah serta prospek
kemampuan lingkungan terhadap lokasi Sport Center.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-25


LAPORAN AKHIR

Pendekatan yang dipakai dalam studi ini adalah sebagai berikut:


2.6.1.1 Pendekatan Komprehensif
Kota tentunya memiliki tingkat kekompleksitasan yang tinggi (compact). Jika setiap
unsur kota ditinjau satu persatu secara terpisah, maka kota nampak tidak rumit. Namun,
pada kenyataannya kota memiliki berbagai komponen dan unsur, mulai dari komponen
yang terlihat nyata secara fisik seperti perumahan dan prasarana umum, hingga komponen
yang secara fisik tidak dapat terlihat yaitu berupa kekuatan politik dan hukum yang
mengarahkan kegiatan kota1. Di samping itu berbagai interaksi antar unsur yang
bermacam-macam memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan unsur itu sendiri.
Perencanaan kota secara komprehensif diupayakan untuk memahami kerumitan tersebut,
sehingga memungkinkan bagi para pelaku perencanaan memberikan rekomendasi yang
bersifat membangun melalui berbagai kewenangan yang mengarahkan pembangunan
kota, serta memungkinkan para pejabat yang berwenang untuk mengambil berbagai
tindakan sesuai dengan inisiatifnya.
Salah satu cara untuk memahami kompleksitas suatu kota adalah dengan cara
meninjau secara sepintas melalui pandangan orang-orang dari bidang-bidang yang
berlainan, maupun yang memiliki pengaruh tidak langsung pada kegiatan perkotaan.
Berbagai bidang yang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang kota disajikan
secara acak, tanpa urutan tertentu. Bidang yang merupakan sesuatu yang terpenting akan
berbeda antara suatu tempat dengan tempat yang lain, demikian pula antar berbagai kurun
waktu yang berbeda.
Para pakar geografi menitikberatkan unsur-unsur fisik kota dan lingkungan
sekitarnya, antara lain: “situasi” (gambaran tentang letak, keterkaitan dengan sekitarnya,
serta suasana suatu tempat), tapak (site), kemiringan tanah, iklim, vegetasi, dan jalan.
Pakar geologi mengamati muka tanah dan lapisan-lapisan di bawahnya yaitu lapisan-
lapisan tanah teratas pada permukaan bumi yang mempengaruhi drainase dan
pembuangan limbah, kemantapan permukaan tanah dan penggunaan tanah. Fungsi-fungsi
produktif suatu kota merupakan pokok perhatian para pakar ekonomi, yaitu pembuatan
barang-barang yang menghasilkan keuntungan dan penyediaan berbagai pelayanan,
penanaman modal, perpajakan, keseimbangan antara ekspor dan impor pada
perdagangan kota, atau ketergantungan suatu kota dari bantuan pemerintah pada tingkat
di atasnya. Penggolongan penduduk perkotaan merupakan perhatian utama para pakar
sosiologi, yaitu atas dasar umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, latar
belakang kesukuan, kategorisasi-kategorisasi lain yang disusun berdasar berbagai sensus

1
Hendropanoto Suselo, “Tata Ruang sebagai Ilmu Interdisiplin: Implikasi dan Perkembangannya,”
http://penataanruang.pu.go.id/taru/sejarah/BAB%2010.1%20footer.pdf, diakses tanggal 24 Juli 2015.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-26


LAPORAN AKHIR

dan survei. Pada saat karakteristik penduduk dikaitkan dengan area tertentu pada suatu
kota, organisasi, atau perilaku seperti halnya yang dinyatakan dengan angka kriminalitas
atau angka kenakalan, maka korelasi secara statistik dikembangkan untuk
mengkonfirmasikan kebijakan dan program pembangunan kota yang disusun.
Tidak ada keraguan bahwa perencanaan tata ruang telah berkembang dari
perencanaan kota, namun karena kompleksitas masalah dalam ruang, peran antardisiplin
sangat penting (MarinovicUzelac, 2001). Antardisiplin dalam kasus perencanaan tata ruang
dapat dianggap sebagai kerjasama fungsional antara berbagai bidang dan ilmu, yang
terlibat dalam tugas yang unik. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa pendekatan
interdisipliner tidak dapat diidentifikasi dengan pendekatan multidisiplin, karena secara
signifikan membedakan kepentingan di bidang-bidang tertentu, yang tidak sesuai dengan
pencapaian tujuan bersama di wilayah perencanaan, Sebagaimana gambar di bawah ini1:

Sumber : Marinovic-Uzelac (2001)


Gambar 2.2 Formasi dan Organisasi Perencanaan Ruang Tim Ahli
Lokasi Sport Center sebagai salah satu peningkatan sarana dan prasarana
olahraga di Kota Tegal sehingga memerlukan strategi pelaksanaan pekerjaannya harus
bersifat komprehensif. Hal lain yang mendasari adalah kompleksitasnya permasalahan
perencanaan suatu daerah. Secara umum strategi pelaksanaan pekerjaan adalah dengan
mempertimbangkan sebanyak mungkin komponen-komponen yang harus dipertimbangkan
sebagai materi didalam pedoman pelaksanaan, tetapi juga harus tetap mempertimbangkan
sifat teknis, praktis, ekonomis dan kontekstual terhadap wilayah studi.

1
Izidora Marković, “Importance of Interdisciplinary Spatial Planning of National Parks: Case Study of
Croatia,” Journal of US-China Public Administration, March 2014, Vol. 11, No. 3, 221-231, Institute for
Tourism, Zagreb, Croatia, Iva Babić OŠ Jelkovec, Zagreb, Croatia.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-27


LAPORAN AKHIR

2.6.1.2 Pendekatan Literatur


Pendekatan masalah yang akan digunakan dalam kajian ini adalah Pendekatan
literatur yuridis normatif dan yuridis empiris. Untuk itu diperlukan penelitian yang merupakan
suatu rencana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Menurut Soerjono
Soekanto pendekatan yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara
meneliti bahan pustaka atau data sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara
mengadakan penelusuran terhadap peraturan-peraturan dan literatur-literatur yang
berkaitan dengan permasalahan yang diteliti1.
Menurut Ronny Hanitijo Soemitro pendekatan literaur secara yuridis empiris adalah
pendekatan kepustakaan yang berpedoman pada peraturan-peraturan, buku-buku atau
literatur-literatur hukum serta bahan-bahan yang mempunyai hubungan permasalahan dan
pembahasan dalam penulisan skripsi ini dan pengambilan data langsung pada objek
penelitian yang berkaitan dengan peranan Intelkam Polri dalam mengantisipasi konflik
sosial2.
Pendekatan melalui sumber-sumber dari referensi/literatur dimaksudkan untuk
mendapatkan data yang berupa arahan kebijaksanaan, pedoman pelaksanaan, informasi
yuridis dan lain-lain yang bersifat mendukung terhadap pengamatan di lapangan.
Pendekatan referensi tersebut dapat juga digunakan untuk mendapatkan acuan teori-teori
ilmiah yang berdasarkan pemikiran para ahli.

2.6.1.3 Pendekatan Partisipatif


Pendekatan partisipatif dalam hal kajian lokasi Sport Center sangat diperlukan
terutama kaitannya dengan pelibatan tim teknis dalam membantu dengan cara diskusi
dalam pemberian informasi tentang potensi dan masalah di wilayah perencanaan, mewakili
aspirasi masyarakat dan memberi masukan untuk skenario arah perencanaan. Dengan
pendekatan semacam ini diharapkan akan dapat menghimpun sumberdaya,
merencanakan serta melaksanakan kegiatan dan proyek dalam upaya mengidentifikasi
keadaan sosial, ekonomi dan lingkungan serta permasalahannya.
Analisis partisipatif merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui dan
mengidentifikasi pelaku-pelaku yang berbeda beserta kepentingan terhadap suatu program
atau proyek.

1
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Rajawali
Pers, Jakarta, 2001, hlm. 13-14.
2
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta,
2001, hlm 10.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-28


LAPORAN AKHIR

Dalam analisis ini diharapkan dapat memperoleh gambaran mengenai suatu


lembaga dan kelompok masyarakat yang berperan di daerah wilayah studi, dapat
menyelidiki prioritas pihak tertentu, meneliti kekhawatiran dan konflik antar kelompok yang
berbeda, serta menelaah kensekuensi yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan.
Dalam studio perencanaan desa ini, menggunakan metode partisipatif masyarakat yakni
metode PRA (Participatory Rural Appraisal )
Pengertian Participatory Rural Appraisal (PRA) secara harfiah adalah penilaian atau
penelitian keadaan desa secara deskriptif.PRA mengandung aspek :appraisal” yang berarti
penelitian. Metode PRA bukanlah metode penelitianyag menekankan pada penggunaan
teknik PRA untuk mengumpulkan data.Karena tujuan praktis kegiatan pengkajian
menggunakan PRA adalah untuk pengembangan program. Adapun prinsip-prinsip PRA
adalah sebagai berikut:
a. Prinsip mengutamakan yang terabaikan, artinya lebih mengutamakan pada suatu
kasus yang belum terpikirkan oleh masyarakat.
b. Prinsip pemberdayaan masyarakat, artinya lebih ditujukan kepada adanya
kontribusi masyarakat secara menyeluruh.
c. Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasiliator
d. Prinsip saling belajar menghargai perbedaan, artinya sikap saling pengertian
terhadap pendapat dan pola piker orang atau pihak lain dan objektif dalam
mengemukakan pendapat.
e. Prinsip santai dan informal, prinsip ini dimaksudkan agar tercipta suasana yang
tidak menekan dan membatasi pemikiran sehingga seluruh pemikiran dan ide yang
dimiliki masyarakat bias diaspirasikan.
f. Prinsip triangulasi atau keragaman, keragaman tersebut meliputi keragaman teknik
PRA yang dilakukan, karagaman karakter, dan latar belakang tim fasilitator dalam
metode PRA
g. Prinsip mengoptimalkan hasil, tujuan yang akan dicapai pada prinsip ini adalah hasil
yang optimal
h. Prinsip orientasi praktis,hasil PRA yang telah dilakukan diharapkan mampu
diterapkan secara efektif dan efisien
i. Prinsip belajar dari kesalahan, melulaui prinsip ini diharapkan masyarakat mampu
belajar dari kesalahan dan beberapa hambatan yang dilakukan sehingga tidak
mengulang kesalahan yang sama.
j. Prinsip keberlanjutan dan selang waktu, prinsip ini menekankan pada sustainable
development sehingga pembangunan tiap selang waktu selalu berkaitan
k. Prinsip terbuka, diharapkan agar masyarakat dapat bersifat terbuka untuk
memberikan kritik yang bersifat membangun satu sama lain

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-29


LAPORAN AKHIR

Metode PRA memiliki tujuan praktis (jangka pendek) dan tujuan strategis (jangka
panjang). Tujuan praktis yaitu menyelenggarakan kegiatan bersama masyarakat untuk
mengupayakan pemenuhan kebutuhan praktis dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat, sekaligus sebagai sarana proses belajar tersebut. Sedangkan tujuan strategis
yaitu membawa visi untuk mencapai pemberdayaan masyarakat dan perubahan social
melalui pengembangan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran. Segala
informasi yang didapat dengan menggunakan metode PRA belum bias dipercaya
ketepatannya, untuk itu dilakukan prinsip triangulasi untuk melakukan pemeriksaan ulang.
Berikut merupakan bagan triangulasi dalam PRA:

Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017

Gambar 2.3 Teknik PRA

2.6.1.4 Pendekatan GIS (Geographic Information System)


Perencana memerlukan solusi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara
juga mengembangkan kemampuan untuk secara efektif memprediksi dan
menanggapi masalah perkotaan yang kronis dan fluktuatif di masa depan. Sebagian besar
keberhasilan perencana dalam memerangi masalah perkotaan yang kronis ditentukan oleh
kemampuan mereka untuk memanfaatkan alat yang efektif dan perencanaan sistem
dukungan yang memungkinkan mereka untuk membuat keputusan berdasarkan informasi
. Hari ini, perencana memanfaatkan GIS di seluruh dunia dalam berbagai aplikasi.
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sebuah sistem komputer yang memiliki
kemampuan untuk menangkap, mengumpulkan, menyimpan, mengambil, mengubah,

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-30


LAPORAN AKHIR

menganalisis, dan menampilkan data geospasial dari dunia nyata untuk tujuan tertentu
(Chang, 2008; Burrough et.al, 1998)Beberapa software SIG yang tersedia di pasar yaitu
ArcGIS, GeoMedia, MapInfo, ERDAS, IDRISI dan Autocad Map. Dari sekian banyak
software, ArcGIS dari Enviromental Systems Research Institute (ESRI) adalah yang paling
populer (Dong, 2008).
GIS merupakan suatu sistem terorganisir meliputi hardware, software, data
geografis, dan personil yang ditujukan untuk pengumpulan, penyimpanan, pemutakhiran,
manipulasi, analisa, dan display dari berbagai bentuk informasi berbasis geografis.
Penggunaan GIS memudahkan dalam pengolahan data spasial wilayah perencanaan
dengan suatu referensi geografis tertentu sehingga dapat memberikan gambaran yang
lebih jelas tentang kondisi suatu wilayah. Lebih lanjut aplikasi GIS ini akan memudahkan
dalam proses inputing, storing, retrieving, exchanging dan updating (pemasukan,
penyimpanan, pengambilan kembali, pertukaran dan pemutakhiran) data.
Dengan menggunakan GIS maka akan dimungkinkan beberapa keuntungan
diantaranya:
a. Lebih banyak informasi tersedia.
b. Informasi yang akurat dan terpercaya.
c. Penghematan, untuk jangka panjang (efisiensi).
d. Sistem pendukung dalam pengambilan keputusan.
e. Analisa kuantitatif untuk prediksi dimungkinkan.
f. Tersedia Peta Digital yang mudah diupdate.
Kegiatan Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal akan membangun suatu sistem
yang integral dan dapat diakses dengan mudah, yang berisi data spasial wilayah
perencanaan. Software pendukung yang dipakai dalam penyusunan sistem ini adalah
ArcGIS. Analisis pendekatan GIS ini digunakan untuk memetakan lokasi kajian kedalam
bentuk peta tematik sesuai dengan kondisi eksisting dan hasil analisis.
2.6.1.5 Pendekatan Lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan salah satu aspek penting yang dilakukan dalam
kajian ini. Karena konsep perencanaan wilayah bermaksud untuk melakukan perubahan
menuju arah perkembangan yang lebih baik dari sisi komunitas, masyarakat, pemerintah
dan lingkungan. Dimana lingkungan menjadi satu kesatuan di dalamnya (Riyadi dan
Bratakususmah, 2003). Djayadiningrat (2001) mengungkapkan bahwa pada abad kedua
puluh satu keseimbangan lingkungan hidup buatan mengalami gangguan. Inilah yang
dianggap sebagai awal krisis lingkungan akibat manusia sebagai pelaku sekaligus menjadi
korbannya. Berbagai fenomena terjadi akibat kesalahan yang dilakukan para pengelola
kota dalam penataan ruangnya, yang dapat dilihat mulai dari aras (level). Hal tersebut
dikarenakan pembangunan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-31


LAPORAN AKHIR

Menciptakan lingkungan perkotaan berkelanjutan sangat krusial karena aktivitas


perkotaan berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan dan memegang peranan
penting dalam perbaikan kesejahteraan manusia dengan memfasilitasi pembangunan
sosial, kultural dan ekonomi (Urban and RegionalDevelopment Institute, URDI, 2002).
Sehingga pendekatan menjadi penting guna mengurangi dampak degradasi lingkungan
yang terjadi dan/atau sebagai pedoman guna penciptaan pembangunan yang
berkelanjutan. Karakteristik kota berkelanjutan adalah (i) tata guna lahan terintegrasi
dengan rencana transportasi, (ii) ) pola tata guna lahan membantu melindung sumberdaya
air, (iii) kontrol penggunaan lahan untuk setiap orang, (iv) ) kota yang manusiawi, ruang
hijau, pasar petani, dan daerah pedestrian, (v) mendukung kota lebih kompak.
Pembangunan berkelanjutan akan mendominasi penggunaan lahan dan
pemanfaatan ruang. Untuk itu, perlu dipertimbangkan empat hal utama, yaitu (i)
pembangunan yang secara sosial dan kultural bisa diterima dan dipertanggung–jawabkan
(socially and culturally suitable and accountable), (ii) pembangunan yang secara politis
dapat diterima (politically acceptable), (iii) pembangunan yang layak secara ekonomis
(economically feasible), dan (iv) pembangunan yang bisa dipertanggung jawabkan dari segi
lingkungan (environmentally sound and sustainable). Hanya dengan jalan
mengintegrasikan keempat hal tersebut secara konsisten dan konsekuen, pembangunan
perumahan dan permukiman bisa berjalan secara berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan (Soenarno, 2004). Adapun kedudukan lingkungan dalam suatu kota dan
perwujudan kota berkelanjutan dapat dilihat pada gambar berikut :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-32


LAPORAN AKHIR

Sumber : Nazaruddin (2014)


Gambar 2.4 Model Pendekatan Lingkungan

2.7. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN


Metodologi dalam penyusunan Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal meliputi
metode perolehan/pengumpulan data, metode analisis dan metode perumusan rencana.
2.7.1. Metode Pengumpulan Data
Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih
memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara,
huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan
sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
a. Sumber Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.
1. Survei Data Sekunder
Data-data sekunder yang akan dikumpulkan untuk kebutuhan atau menunjang
studi tersebut di atas, bukan hanya berupa data-data statistik yang bersumber dari
Badan Pusat Statistik (BPS), tetapi juga akan mengumpulkan langsung dari
instansi teknis dimana data tersebut berada.
Data-data sekunder yang akan dikumpulkan adalah dalam bentuk :
- Data-data statistik, baik yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS),
maupun dari instansi teknis terkait,
- Literatur yang berkaitan dengan studi, baik yang dilakukan oleh perguruan
tinggi maupun oleh instansi pemerintah dan swasta,
- Peta-peta jaringan prasarana yang menyangkut lokasi sebagai panduan untuk
pengecekan langsung ke lapangan.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-33


LAPORAN AKHIR

2. Survei Data Primer


Dalam pelaksanaannya nanti, survei data primer yang akan dilakukan observasi
ke lokasi perencanaan.
b. Kebutuhan Data
Setelah diperoleh data maka selanjutnya adalah mengidentifikasi, memilah dan
mengelompokan data-data yang diperlukan sesuai dengan analisis yang akan
dilakukan. Kebutuhan data-data tersebut meliputi :
Tabel II.11
Tabel Kebutuhan Data
Delineasi Wilayah Perencanaan
1  Batas geografis
 Batas administratif
Karakteristik Budaya Masyarakat
2  Kondisi sosial budaya masyarakat
 Tingkat partisipasi masyarakat terhadap lingkungan dan pembangunan
Karakteristik Fisik Dasar
 Topografi dan Kelerengan
 Sumber daya air
3
 Geologi lingkungan
 Klimatologi
 Sumber Daya Tanah
Karakteristik Perekonomian
 Potensi ekonomi lokal
4
 Nilai lahan
 Potensi penerimaan daerah
Karakteristik Sosial Masyarakat
 Jumlah dan Perkembangan Penduduk
5
 Kepadatan Penduduk
 Komposisi Penduduk
Penggunaan Lahan dan Status Lahan
6  Penggunaan lahan
 Status lahan
Jaringan Pergerakan
 Jaringan Jalan (berdasarkan fungsi jalan)
7  Angkutan umum
 Sistem pergerakan (rute angkutan umum, rute pelayaran,jalur KA, jalur pejalan
kaki)
Sistem Jaringan Prasarana
 Jaringan listrik
 Jaringan Telekomunikasi
8  Jaringan Air Minum
 Jaringan Drainase
 Air Limbah
 Jaringan prasarana lainnya (evakuasi bencana,persampahan, dll)
Kondisi Fasilitas
 Fasilitas Pendidikan
 Fasilitas Peribadatan
 Fasilitas Ruang Terbuka Hijau
9  Fasilitas Kesehatan
 Fasilitas Olahraga
 Fasilitas Sosial dan Budaya
 Fasilitas lainnya (halte, terminal, bandara, stasiun, pelabuhan, parkir,
penyeberangan, wisata)

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-34


LAPORAN AKHIR

Peruntukkan Ruang
a). Struktur Peruntukan Zona
 Zona Olah Raga Tertutup
 Zona Olah Raga Terbuka
 Zona Administrasi
 Zona Kegiatan Umum Masayarakat (Rekreasi, seni dan kegiatan sosial)
 Zona komersial
b). Intensitas Pemanfaatan Lahan
 Sempadan Bangunan
 Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
 Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
 Koefisien Daerah Hijau (KDH)
c). c. Tata Bangunan
 Pengaturan blok lingkungan
 Pengaturan kavling/petak lahan
10  Pengaturan bangunan
 Pengaturan ketinggian dan elevasi lantai bangunan
d). d. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
 Sistem jaringan jalan dan pergerakan
 Sistem sirkulasi kendaraan umum
 Sistem sirkulasi kendaraan pribadi
 Sistem parkir
 Sistem perencanaan jalur servis/pelayanan lingkungan
 Sistem sirkulasi pejalan kaki dan sepeda
 Sistem jaringan jalur penghubung terpadu (pedestrian linkage)
e). e. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau
 Sistem ruang terbuka umum
 Sistem ruang terbuka civitas Keolahragaan
 Sistem ruang terbuka privat yang dapat diakses oleh umum
 Sistem pepohonan dan tata hijau
 Area jalur hijau
Persyaratan Teknis Lainnya
a). Persyaratan Sarana Jalan Masuk dan Keluar :
 Menjamin terwujudnya kawasan Sport Centre yang mempunyai akses yang
layak, aman dan nyaman ke setiap zona yang ada.
 Menjamin terwujudnya upaya evakuasi pada keadaan darurat
 Menjamin tersedianya aksessibilitas bagi penyandang cacat
b). Persyaratan Sistem Peringatan Bahaya :
 Menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam kawasan
Sport Centre apabila terjadi keadaan darurat.
 b. Menjamin civitas Keolahragaan melakukan evakuasi secara mudah dan
aman, apabila terjadi keadaan darurat.
c). Persyaratan Instalasi Listrik dan Komunikasi
 Menjamin daya, instalasi listrik dan jaringan komunikasi yang akan
11 terpasang cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di
dalam kawasan Sport Centre baik siang hari maupun malam hari.
d). Persyaratan Sanitasi Sport Centre :
 Menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang
terselenggaranya kegiatan di dalam Sport Centre.
 Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan
kenyamanan bagi civitas Keolahragaan.
 Menjamin tidak ada genangan air di kawasan pada saat musim hujan.
 Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara
baik.
e). Persyaratan Pencahayaan :
 Menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan buatan yang cukup baik
pada malam hari dalam kawasan Sport Centre.
f). Persyaratan Kenyamanan :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-35


LAPORAN AKHIR

 Menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan yang tidak


diinginkan.
 Menjamin adanya kepastian upaya pengendalian pencemaran dan atau
mencegah perusakan lingkungan.
g). Disamping hal-hal tersebut di atas, didalam melaksanakan Perencanaan
hendaknya memperhatikan azas-azas bangunan sebagai berikut :
 Bangunan hendaknya fungsional, efisien, menarik tetapi tidak berlebihan
dengan tema arsitektur modern;
 Kreatifitas desain hendaknya tidak ditekankan pada kelatahan gaya dan
 kemewahan material, tetapi pada kemampuan hubungan antara fungsi
teknik dan fungsi sosial bangunan;
 Dengan batasan tidak mengganggu produktifitas kerja, baik invenstasi dan
pemeliharaan bangunan sepanjang umurnya, hendaknya diusahakan
serendah mungkin;.
 Desain bangunan hendaknya dibuat sedemikian rupa, sehingga bangunan
dapat dilaksanakan dalam waktu yang pendek dan dapat dimanfaatkan
secepatnya.
 Bangunan gedung hendaknya dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan
menjadi acuan tata bangunan dan lingkungan sekitarnya
Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017

2.7.2. Metode Analisis


Metode analisis adalah analisis-analisis yang akan digunakan dalam penyusunan
Kajian Lokasi Sport Center, termasuk didalamnya alat analisisnya.
2.7.2.1 Identifikasi Kondisi Wilayah & Kawasan Lokasi Perencanaan
Identifikasi kondisi wilayah dan kawasan lokasi perencanaan dilakukan untuk
mengetahui karaktersitik yang ada pada wilayah perencanaan kajian lokasi Sport Center.
Identifikasi kondisi wilayah dan kawasan lokasi perencanaan meliputi : kondisi geografis,
kondisi iklim, kondisi curah hujan, kondisi penduduk, kondisi sosial budaya, yang berada di
sekitar wilayah perencanaan.
2.7.2.2 Analisis Kebijakan terhadap Pembangunan Sport Center
Disiplin ilmu terapan yang menggunakan berbagai metoda (multiple methods)
pengkajian dan argumentasi untuk menghasilkan dan mentransformasikan informasi-
informasi kebijakan agar dapat digunakan secara politis untuk menyelesaikan masalah
kebijakan.
Analisis kebijakan (policy analysis) dapat dibedakan dengan pembuatan atau
pengembangan kebijakan (policy development). Analisis kebijakan tidak mencakup
pembuatan proposal perumusan kebijakan yang akan datang. Analisis kebijakan lebih
menekankan pada penelaahan kebijakn yang sudah ada. Sementara itu, pengembangan
kebijakan lebih difokuskan pada proses pembuatan proposal perumusan kebijakan yang
baru.
Namun demikian, baik analisis kebijakan maupun pengembangan kebijakan
keduanya memfokuskan pada konsekuensi-konsekuensi kebijakan. Analisis kebijakan
mengkaji kebijakan yang telah berjalan, sedangkan pengembangan kebijakan memberikan
petunjuk bagi pembuatan atau perumusan kebijakan yang baru.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-36


LAPORAN AKHIR

Tujuan analisis kebijakan adalah untuk menyediakan informasi yang dapat


digunakan oleh pembuat kebijakan untuk memberikan penilaian yang beralasan dalam
merumuskan solusi terhadap masalah-masalah yang praktikal. Tiga Pendekatan dalam
Analisis Kebijakan:
- Pendekatan Empirik/Analitik
Menjelaskan hubungan sebab akibat dari suatu kebijakan.
- Pendekatan Evaluatif
Menilai manfaat (value) dari suatu kebijakan.
- Pendekatan Normatif
Memberikan rekomendasi untuk perumusan kebijakan mendatang.
- Analisis akar masalah
Analisis masalah disebut juga analisis akar/pohon merupakan analisis yang
digunakan dalam menetukan akar masalah di wilayah studi.Analisis masalah ini
sering dipakai dengan melibatkan masyarakat karena analisis ini sangat visual dan
dapat melibatkan banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Berikut adalah
tahapan-tahapan dalam penyusunan analisis akar masalah:
1. Mengidentifikasi masalah utama
2. Mengidentifikasi penyebab masalah
3. Mengelompokkan faktor penyebab
4. Mengidentifikasi tingkatan penyebab
5. Menentukan tujuan dan harapan
6. Memprioritaskan penyebab yang mendesak
7. Memprioritaskan harapan yang efektif
8. Menyusun rencana kegiatan
Analisis kebijakan dibedakan menjadi pembuatan atau pengembangan kebijakan.
Analisis kebijakan lebih menekankan pada penelaahan kebijakan yang sudah ada.
Sementara itu pengembangan kebijakan lebih difokuskan pada proses pembuatan
proposal perumusan kebijakan yang baru. Analisis kebijakan dan pengembangan kebijakan
memfokuskan pada konsekuensi kebijakan.Analisis kebijakan mengkaji kebijakan yang
telah berjalan, sedangkan pengembangan kebijakan memberikan petunjuk bagi perumusan
atau pembuatan kebijakan baru.
Analisis kebijakan ini meliputi analisis mengenai kebijakan terhadap Pembangunan
Sport Center, metode analisis yang digunakan deskriptif kualitatif. Kebijakan berkaitan
dengan fungsi dan peran pada lokasi perencanaan yaitu dari RTRW Kota Tegal dan RDTR
Kecamatan Margadana.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-37


LAPORAN AKHIR

2.7.2.3 Analisis Kebutuhan Sarana & Prasarana


Analisis kebutuhan sarana dan prasarana merupakan pengembangan sistem
jaringan prasarana yang ditetapkan berdasarkan pembangunan lokasi sport center. Dalam
pembangunan sport center maka sarana dan prasarana pendukung juga harus memadai
sebagi penunjang aktivitas di lokasi sport center tersebut. Analisis kebutuhan sarana dan
prasarana pada kajian ini didasarkan pada skala pelayanan Sport Centre ini sendiri yang
terdiri dari berapa kapasitas penonton dan pada level apakah pelayanannya (kota, provinsi,
nasional).
1. Rencana pengembangan jaringan prasarana di lokasi sport center antara lain :
2. Rencana pengembangan jaringan jalan
3. Rencana pengembangan jaringan energi kelistrikan
4. Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi
5. Rencana pengembangan jaringan Drainase
6. Rencana pengembangan jaringan Lainnya
Sedangkan berikut fasilitas (sarana dan prasaranan) dalam kategorisasi Sport Centre :
Tabel II.12
kategorisasi Sport Centre
Kriteria Tipe A Tipe B Tipe C
Provinsi/Daerah Tingkat 1
Skala Pelayanan (Dan Nasional tetapi perlu Kabupaten/Kota Kecamatan
persetujuan)
Tenis Lapangan, Bola
Jumlah Minimal Bola Basket, Bola Bola Voli, Bulu
Basket, Bola Voli,
Cabang Olahraga Voli, Bulitangkis Tangkis
Bulutangkis
Jumlah Penonton 3000-5000 1000-3000 1000
Fasilitas Penunjang
Ruang Ganti Atlit 2 2 1
Ruang Ganti Wasit 1 1 0
Ruang Ganti Pelatih 2 2 0
Ruang Pijat Ada Ada Tidak Ada
P3k 1 1 1
Ruang Pemanasan Ada Ada Ada
Ruang latihan Beban Ada Ada Tidak Ada
Kantor Pengelolaan Ada Ada Ada
Gudang Ada Ada Ada
Ruang Panel Ada Ada Ada
Ruang Mesin Ada Ada Ada

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-38


LAPORAN AKHIR

Kriteria Tipe A Tipe B Tipe C


Ruang Kantin Ada Ada Tidak Ada
Ruang Pos Keamanan Ada Ada Tidak Ada
Ticket Box Ada Ada Tidak Ada
Ruang Pers Ada Ada Ada
Ruang VIP Ada Ada Tidak Ada
Parkir Ada, Khusus Ada, Khusus Ada, Tidak Khusus
Toilet Khusus
Ada Ada Ada
Disabilitas
Jalur Sirkulasi Ada, Khusus Ada, Khusus Ada, Tidak Khusus
Sumber : Dari berbagai sumber, 2017

2.7.2.4 Analisis Kebutuhan Ruang


Analisis kebutuhan ruang merupakan rencana distribusi sub zona peruntukan
pembangunan lokasi sport center ke dalam blok-blok kawasan. Analisis ini berguna untuk
mengatur distribusi dan ukuran lokasi pembangunan Sport Center. Rencana kebutuhan
ruang ini dimuat ke dalam peta zonasi pembangunan lokasi Sport Center.
Analisis kebutuhan ruang disusun berdasarkan hasil kebutuhan sarana dan
prasarana serta aktivitas ruang yang ada di dalamnya. Adapun penentuan luas ruang
minimal dalam penyediaan kebutuhan tersebut didasarkan pada standar pelayanan
minimal ataupun SNI dan literatur yang berlaku.

2.7.2.5 Analisis Lokasi Pembangunan Sport Center


Analisis lokasi pembangunan Sport Center mengggunakan metode analisis SWOT
dan skoring untuk melihat dan melakukan pembobotan secara kualitatif dari berbagai
potensi dan masalah baik secara internal maupun eksternal.
Menurut Sawyer (2013: 9), dalam perencanaan perlu mempertimbangkan berbagai
potongan informasi sebelum memilih lokasi pembangunan. Adapun pertimbangan untuk
pemilihan lokasi meliputi :
1. Akses ke tapak (jalur masuk dan keluar sekitar tapak lancar dan tidak dilalui
langsung oleh kendaraan umum).
2. Kondisi jalan yang sudah memadai meliputi jalan beraspal, akses pejalan kaki, dan
parkir.
3. Tersedia jaringan utilitas meliputi air, layanan listrik, pembuangan limbah, layanan
telekomunikasi dan jaringan utilitas lainnya.
4. Sesuai dengan persyaratan zonasi kota.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-39


LAPORAN AKHIR

5. Mendukung atau sesuai dengan demografi penduduk sekitar seperti usia, jenis
kelamin, pendidikan, pendapatan, latar belakang etnis dan psikografis seperti gaya
hidup atau lifestyle marketing.
6. Masalah keamanan, seperti dekat dengan kantor polisi, tenaga medis darurat, dan
rumah sakit.
Lebih rinci lagi, dalam pemilihan lokasi Sport Centre ini nantinya akan didukung
dengan data-data spasial dan berdasarkan regulasi terkait dnegan melihat multi aspek
(ekonomi, sosial, budaya) dengan bantuan GIS.

2.7.2.6 Analisis Daya Tampung & Daya Dukung Lingkungan & Dampak Lingkungan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2012
mengenai izin lingkungan dinyatakan bahwa dampak penting adalah perubahan lingkungan
hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu Usaha dan/atau Kegiatan.
Dampak penting yang diperkirakan akan timbul setelah pelaksanaan proyek sport center
dapat terjadi pada berbagai komponen lingkungan yang meliputi komponen fisika-kimia,
biologi serta sosial ekonomi, sosial budaya dan kesejahteraan masyarakat, yang berupa
dampak baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dalam skala ruang dan waktu yang
berbeda sesuai dengan tahapan pelaksanaan proyek.
Dampak negatif yang diperkirakan akan terjadi dapat diminimalkan atau diperkecil
melalui pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang berupa tindakan atau upaya-
upaya mencegah, mengendalikan dan menanggulangi dampak penting yang bersifat
negatif dan pelaksanaan pemantauan lingkungan hidup yang berupa tindakan pemantauan
terhadap perubahan komponen atau parameter lingkungan hidup sebagai dampak penting
yang akan timbul sebagai akibat pelaksanaan proyek.
Salah satu kegiatan yang memerlukan kajian dan izin lingkungan adalah Sport
Center. Sport Center adalah bangunan yang mewadahi berbagai olahraga didalam ruangan
tertutup maupun terbuka. Pada negara-negara maju sarana dan prasarana yang dimiliki
oleh mereka juga memasukkan unsur-unsur pendukung seperti sarana rekreasi, sarana
perdagangan (retail), dan restoran. Jadi secara umum Sport Center adalah suatu tempat
yang menjadi pusat kegiatan olahraga yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang.
Sport Center yang berlokasi di lapangan Kelurahan Pesurungan Lor, Kecamatan
Margadana, Kota Tegal, seluas 12 hektar, memerlukan kajian dampak lingkungan yang
dituangkan dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2012
mengenai Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut Amdal adalah kajian
mengenai dampak penting suatu Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan pada

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-40


LAPORAN AKHIR

lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang


penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup RI Nomor 5 tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, dimana
pembangunan bangunan gedung dengan luas lahan ≥ 5 ha dan bangunan ≥ 1 ha, maka
wajib melengkapi dengan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
(AMDAL).
Besaran pembangunan gedung diperhitungkan berdasarkan:
1. Pembebasan lahan.
2. Daya dukung lahan.
3. Tingkat kebutuhan air sehari-hari.
4. Limbah yang dihasilkan.
5. Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran, kebisingan, polusi udara,
dan lain-lain).
6. KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan)
7. Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang.
8. Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang
memiliki kepadatan tinggi).
9. Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah
dewatering dan gangguan tiang-tiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar.
10. Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang
besar.
11. Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung.
12. Produksi sampah, limbah domestik
13. Genangan/banjir lokal.
Dampak-dampak yang diperkirakan akibat pembangunan bangunan gedung
dikategorisasi menjadi dampak berdasarkan aspek fisik-kimia, biologi, sosial-ekonomi dan
kesehatan masyarakat.
Dokumen Amdal sesuai Pasal 4, PermenLH No. 16 tahun 2012, terdiri dari
Kerangka Acuan; Andal; dan RKL-RPL. Kerangka Acuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 huruf a memuat:
a. pendahuluan;
b. pelingkupan;
c. metode studi;
d. daftar pustaka; dan
e. lampiran.
Amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b memuat:

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-41


LAPORAN AKHIR

a. pendahuluan;
b. deskripsi rinci rona lingkungan hidup awal;
c. prakiraan dampak penting;
d. evaluasi secara holistik terhadap dampak lingkungan;
e. daftar pustaka;dan
f. lampiran.
RKL-RPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c memuat:
a. pendahuluan;
b. rencana pengelolaan lingkungan hidup;
c. rencana pemantauan lingkungan hidup;
d. jumlah dan jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
dibutuhkan;
e. pernyataan komitmen pemrakarsa untuk melaksanakan ketentuan yang tercantum
dalam RKL-RPL;
f. daftar pustaka; dan
g. lampiran.
Dalam kajian penentuan lokasi Sport Center ini, analisis dampak terbatas pada identifikasi
dampak potensial dan deskripsi rinci rona lingkungan hidup awal berdasarkan besaran
pembangunan gedung, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca-
konstruksi/operasi.
Analisis Daya Tampung dan Dukung Lingkungan Hidup
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 52 tahun
2016 tentang Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Pengendalian Pembangunan
Ekoregion pada Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion dinyatakan bahwa daya
tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat,
energi dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan
daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
perikehidupan manusia, makhluk hidup lain dan keseimbangan antar keduanya.

2.7.2.7 Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup


Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 tahun 2009
mengenai Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang
Wilayah bahwa penentuan daya dukung lingkungan hidup dilakukan dengan cara
mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan
manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya
kapasitas tersebut di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-42


LAPORAN AKHIR

yang ada di hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan sumber
daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan pemanfaatan ruang yang sesuai.
Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas
penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity),
sebagaimana Gambar berikut ini.

Kualitas Hidup

Hasil

Kegiatan
Pembangunan
Sport Center

Masukan Limbah/Residu

Sumber Daya
Lingkungan
Alam

Kapasitas
Penyediaan Kapasitas
Sumber Daya Tampung limbah
Alam

Daya Dukung (Carrying Capacity)

Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017


Gambar 2.5 Daya Dukung Lingkungan Sebagai Dasar Pembangunan Berkelanjutan

2.7.2.8 Kemampuan Lahan untuk Alokasi Pemanfaatan Ruang


A. Penentuan Kemampuan Lahan
Penentuan kemampuan lahan terutama dilakukan untuk perencanaan ruang atau
alokasi pemanfaatan ruang. Di bawah ini diberikan langkah penentuan kemampuan
lahan:
a. Siapkan peta sebagai berikut:
 Peta lereng
 Peta tanah
 Peta erosi
 Peta drainase/genangan
b. Siapkan peta dengan skala yang sama. Peta yang digunakan dapat berskala
1:250.000, 1:100.000, atau 1:50.000. Untuk keperluan analisis dan uji silang dari

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-43


LAPORAN AKHIR

data kelas dan subkelas, diperlukan juga data/laporan yang memuat sifat-sifat
biofisik wilayah, antara lain: tanah, topografi, iklim, hujan, dan genangan/drainase.
c. Lakukan tumpang tindih (overlay) peta lereng, peta tanah, peta erosi dan peta
drainase/genangan untuk mendapatkan peta kemampuan lahan. Tumpang tindih
dapat dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) maupun
secara manual.
d. Dari overlay peta, didapat kombinasi keempat parameter di atas, sehingga dapat
dilakukan identifikasi kelas lahan. Besarnya hambatan yang ada untuk masing-
masing parameter menentukan masuk ke dalam kelas dan subkelas mana lahan
tersebut. Dari hasil identifikasi, dapat dideliniasi kelas dan subkelas kemampuan
lahan. Sebagai contoh, lahan yang memiliki lereng datar dan tidak mempunyai
hambatan dari paramater lainnya masuk ke dalam kelas I. Contoh yang lebih rinci
untuk mengidentifikasi kelas dan subkelas lahan sebagaimana dijabarkan pada
Tabel berikut ini :
Tabel II.13
. Contoh Identifikasi Kelas dan Subkelas Lahan
No Sampel I Kemampuan
No. Kode
Faktor Pembatas Data Lahan
1 Kemiringan Lereng (l) 0 – 2% lo I
2 Kepekaan Erosi (KE) 0,49 KE5 III
3 Tingkat Erosi (e) SR eo I
4 Kedalaman Tanah (k) >90 cm ko I
5 Tekstur Tanah Atas (t) Geluh t2 I
Berlempung
6 Tekstur Tanah BAwah (t) Lempung t1 I
7 Permeabilitas Tanah (P) Agak lambat P2 I
8 Drainase (d) Agak jelek d3 III
9 Kerikil/Batu (b) Tanpa bo I
10 Ancaman Banjir (o) Kadang-kadang o II
11 Salinitas (g) Bebas go I
Kelas III
Subkelas III; ke; d
Potensi kemampuan lahan Tinggi
Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009

Dari contoh tabel di atas dapat disimpulkan, kelas kemampuan lahan masuk dalam
kategori Kelas III dengan faktor penghambat kepekaan erosi (ke) dan drainase (d).
e. Apabila peta kemampuan lahan atau peta kemampuan tanah sudah ada, akan
dapat memudahkan penentuan kelas lahan, karena sudah tidak perlu lagi dilakukan

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-44


LAPORAN AKHIR

langkah tumpang tindih (overlay) peta. Namun demikian identifikasi dan delineasi
kelas lahan tetap harus dilakukan.
B. Evaluasi Kesesuaian Penggunaan Lahan
Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan dilakukan untuk revisi alokasi pemanfaatan
ruang saat ini. Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan dilakukan dengan
membandingkan penggunaan lahan yang ada dengan hasil analisis kemampuan lahan
yang didapat pada huruf D.
Cara melakukan evaluasi kesesuaian penggunaan lahan:
a. Siapkan peta kemampuan lahan seperti pada huruf D.
b. Siapkan peta penggunaan lahan yang berskala sama dengan peta kemampuan
lahan pada angka 1.
c. Lakukan tumpang tindih (overlay) peta kemampuan lahan dengan peta
penggunaan lahan untuk mendapatkan satuan lahan (unit lahan) seperti
diilustrasikan pada
d. Setiap satuan lahan dapat dideskripsikan sifatnya yang berkaitan dengan faktor
penghambat maupun potensinya untuk dikembangkan pemanfaatan ruangnya
dan ditentukan kesesuaian penggunaannya

Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017


Gambar 2.6 Ilustrasi Peta Kemampuan dan Penggunaan Lahan
Kondisi I: Seandainya kelas kemampuan dan penggunaan lahan sebagai berikut:

Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017


Gambar 2.7 Ilustrasi Tumpang Tindih Peta Kemampuan Lahan dan Penggunaan Lahan
untuk Menghasilkan Satuan Lahan Contoh Kondisi I

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-45


LAPORAN AKHIR

Tabel II.14
Uraian Hasil Evaluasi Lahan untuk Contoh Kondisi I
Kelas
Satuan Penggunaan Faktor Evaluasi
Kemampuan Luas (ha)
Lahan Lahan Penghambat Kesesuaian
Lahan
1 I Permukiman - 25 Cocok
2 I Pertanian sawah - 75 Cocok
3 II, I1 Pertanian tegalan Kemiringan 180 Cocok
jagung/padi lereng; landai
4 III, I2, k1 Permukiman Kemiringan 20 Cocok
lereng; agak
miring
5 III, I2, k1 Pertanian tegalan Kemiringan 180 Cocok
jagung/padi lereng; agak
miring
6 IV; I3; k2 Pertanian sayuran Kemiringan 110 Cocok
lereng; agak
miring
7 II, I1 Hutan Kemiringan 20 Cocok
lereng; agak
miring
8 IV; I3, k2 Hutan Kemiringan 180 Cocok
lereng; agak
miring
Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009

e. Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian, penggunaan lahan yang tidak cocok


dengan kemampuannya perlu direkomendasikan perubahan penggunaannya,
atau diterapkan teknologi sesuai dengan syarat yang diperlukan oleh lahan
tersebut, sehingga lahan tidak rusak dan dapat digunakan secara lestari. Lahan
yang penggunaannya cocok dengan kemampuannya tidak perlu diubah
penggunaannya.
f. Penggunaan lahan hutan yang kelas kemampuannya cocok untuk pertanian
dapat diubah menjadi lahan pertanian tetapi perubahannya harus sesuai dengan
ketentuan dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Namun, apabila luas kawasan hutan di daerah tersebut tidak mencapai 30%,
penggunaan lahan hutan harus dipertahankan.
C. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penentuan kemampuan lahan dan evaluasi
kesesuaian lahan bisa didapat dari beberapa sumber sebagai berikut:

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-46


LAPORAN AKHIR

Tabel II.15
Jenis dan Sumber Data
Sumber Data
Jenis Data
Pusat Provinsi Kabupaten/Kota
Peta lereng, peta Bakosurtanal atau Puslit Tanah Departemen Pertanian
tanah, peta erosi dan
peta drainase
Peta kemampuan Bakosurtanal atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Puslit Tanah
lahan Departemen Pertanian
Peta penggunaan LAPAN, Bappeda Provinsi dan Kabupaten/Kota, Bakosurtanal
lahan
Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009

D. Perbandingan antara Ketersediaan dan Kebutuhan Lahan


Daya dukung lahan didasarkan pada perbandingan antara ketersediaan dan
kebutuhan lahan bagi penduduk yang hidup di suatu wilayah. Dengan metode ini dapat
diketahui gambaran umum apakah daya dukung lahan suatu wilayah dalam keadaan
surplus atau defisit. Keadaan surplus menunjukkan bahwa ketersediaan lahan
setempat di suatu wilayah masih dapat mencukupi kebutuhan akan produksi hayati di
wilayah tersebut, sedangkan keadaan defisit menunjukkan bahwa ketersediaan lahan
setempat sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan akan produksi hayati di wilayah
tersebut.
(1) Pendekatan Penghitungan
Penentuan daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan ketersediaan
dan kebutuhan lahan seperti digambarkan dalam diagram di bawah ini.

Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017


Gambar 2.8 Diagram Penentuan Daya Dukung Lahan
Ketersediaan lahan ditentukan berdasarkan data total produksi aktual setempat dari
setiap komoditas di suatu wilayah, dengan menjumlahkan produk dari semua komoditas
yang ada di wilayah tersebut. Untuk penjumlahan ini digunakan harga sebagai faktor

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-47


LAPORAN AKHIR

konversi karena setiap komoditas memiliki satuan yang beragam. Sementara itu,
kebutuhan lahan dihitung berdasarkan kebutuhan hidup layak.
(2) Cara Penghitungan
a). Penghitungan Ketersediaan (Supply) Lahan
∑(𝑃𝑖 𝑥 𝐻𝑖) 1
𝑆𝐿 = 𝑥
𝐻𝑏 𝑃𝑡𝑣𝑏
dimana:
SL : Ketersediaan lahan (Ha)
Pi : Produksi aktual tiap jenis komoditi (satuan tergantung kepada jenis
komoditas)
: Komoditas yang diperhitungan meliputi pertanian, perkebunan, kehutanan,
peternakan dan perikanan.
Hi : Harga satuan tiap jenis komoditas (Rp/satuan) di tingkat produsen
Hb : Harga satuan beras (Rp/kg) di tingkat produsen
Ptvb : Produktivitas beras (kg/ha)
Dalam penghitungan ini, faktor konversi yang digunakan untuk menyetarakan
produk non beras dengan beras adalah harga.
b). Penghitungan Kebutuhan (Demand) Lahan
DL = N x KHLL
dimana:
DL : Total kebutuhan lahan setara beras (ha)
N : Jumlah penduduk (orang)
KHLL : Luas lahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup layak per penduduk:
 Luas lahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup layak per penduduk
merupakan kebutuhan hidup layak per penduduk dibagi produktifitas beras lokal.
 Kebutuhan hidup layak per penduduk diasumsikan sebesar 1 ton setara
beras/kapita/tahun.
 Daerah yang tidak memiliki data produktivitas beras lokal, dapat menggunaan
data rata-rata produktivitas beras nasional sebesar 2.400 kg/ha/tahun.
(3) Penentuan Status Daya Dukung Lahan
Status daya dukung lahan diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan lahan
( SL ) dan kebutuhan lahan (DL) .
Bila SL > DL , daya dukung lahan dinyatakan surplus.
Bila SL < DL, daya dukung lahan dinyatakan defisit atau terlampaui.
(4) Sumber Data
Data yang digunakan dalam penghitungan perbandingan kebutuhan dan
ketersediaan lahan berasal dari beberapa sumber data.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-48


LAPORAN AKHIR

Tabel II.16
Jenis dan Sumber Data
Sumber Data
Jenis Data
Pusat Provinsi Kabupaten/Kota
Jumlah penduduk (N) Data hasil susenas atau sensus penduduk BPS dalam Buku Daerah
Dalam Angka
Produksi padi/beras BPS Pusat Daerah dalam Angka Untuk kabupaten: DDA
(padi/beras) Subdit Statistik (DDA) Untuk kota: Dinas
Tanaman terkait
Direktorat Statistik
Pertanian
Produksi non-padi Statistik sektoral:  Data hortikultura di dinas pertanian setempat
(non-padi)  Daerah dalam  Data perkebunan di dinas terkait setempat
angka
 Statistik pertanian
 Statistik
perkebunan
 Statistik perikanan
 Statistik peternakan
 Statistik kehutanan
Harga beras (Hb) Statistik harga Statistik harga produsen (harga di tingkat petani
produsen atau di lokasi sumber komoditas)
Harga (Hi) Statistik harga Statistik harga Di kabupaten:
produsen (secara produsen Statistik Harga
prinsip menggunakan Produsen di BPS
data harga produsen, setempat
tergantung pada jenis Di kota:
komoditi lokal) Statistik dinas terkait
lokal jika tidak ada
data harga produsen
wilayah tersebut, bisa
digunakan harga
produsen wilayah di
dekatnya atau bisa
didekati dengan harga
pedagang besar

Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-49


LAPORAN AKHIR

E. Perbandingan antara Ketersediaan dan Kebutuhan Air


Cara penghitungan daya dukung air di suatu wilayah, dengan mempertimbangkan
ketersediaan dan kebutuhan akan sumber daya air bagi penduduk yang hidup di wilayah
itu. Dengan metode ini, dapat diketahui secara umum apakah sumber daya air di suatu
wilayah dalam keadaan surplus atau defisit. Keadaan surplus menunjukkan bahwa
ketersediaan air di suatu wilayah tercukupi, sedangkan keadaan defisit menunjukkan
bahwa wilayah tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan akan air. Guna memenuhi
kebutuhan air, fungsi lingkungan yang terkait dengan sistem tata air harus dilestarikan.
(1) Pendekatan Penghitungan
Penentuan daya dukung air dilakukan dengan membandingkan ketersediaan dan
kebutuhan air seperti pada gambar di bawah ini.

Sumber : Dari Berbagai Sumber, 2017


Gambar 2.9 Diagram Penentuan Daya Dukung Air
Ketersediaan air ditentukan dengan menggunakan metode koefisien limpasan
berdasarkan informasi penggunaan lahan serta data curah hujan tahunan. Sementara
itu, kebutuhan air dihitung dari hasil konversi terhadap kebutuhan hidup layak.
(2) Cara Penghitungan
Penghitungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a). Penghitungan Ketersediaan (Supply) Air
Perhitungan dengan menggunakan Metode Koefisien Limpasan yang
dimodifikasi dari metode rasional.
Rumus:
C = ∑ (ci x Ai) / ∑Ai
R = ∑ Ri / m
SA= 10 x C x R x A
dimana:
SA : Ketersediaan air (m3/tahun)
C : Koefisien limpasan tertimbang
Ci : Koefisien limpasan penggunaan lahan i (lihat Tabel 9)
Ai : Luas penggunaan lahan i (ha) dari data BPS atau Daerah Dalam
Angka, atau dari data Badan Pertanahan Nasional (BPN)

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-50


LAPORAN AKHIR

R : Rata-rata aljabar curah hujan tahunan wilayah (mm/tahunan) dari


data BPS atau BMG atau dinas terkait setempat.
Ri : Curah hujan tahunan pada stasiun i
m : Jumlah stasiun pengamatan curah hujan
A : Luas wilayah (ha)
10 : Faktor konversi dari mm.ha menjadi m3
Tabel II.17
Koefisien Limpasan
No. Deskripsi Permukaan Ci
1 Kota, jalan aspal, atap genteng 0,7 – 0,9
2 Kawasan industri 0,5 – 0,9
3 Permukaan multi unit, pertokoan 0,6 – 0,7
4 Kompleks perumahan 0,4 – 0,6
5 Villa 0,3 – 0,5
6 Taman, pemakaman 0,1 – 0,3
7 Pekarangan tanah berat:
a. > 7% 0,25 – 0,35
b. 2 – 7% 0,18 – 0,22
c. <2% 0,13 – 0,17
8 Pekarangan tanah ringan:
a. > 7% 0,15 – 0,2
b. 2 – 7% 0,10 – 0,15
c. <2% 0,05 – 0,10
9 Lahan berat 0,40
10 Padang rumput 0,35
11 Lahan budidaya pertanian 0,30
12 Hutan produksi 0,18
Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009
Tabel II.18
Contoh Penghitungan Koefisien Limpasan Tertimbang
Koefisien Luas Lahan
No. Deskripsi Permukaan (Ci XAi)
Limpasan (Ci) (Ai)
1 Kota, jalan aspal, atap genteng 0,7 – 0,9
2 Kawasan industri 0,5 – 0,9
3 Permukaan multi unit, pertokoan 0,6 – 0,7
4 Kompleks perumahan 0,4 – 0,6
5 Villa 0,3 – 0,5
6 Taman, pemakaman 0,1 – 0,3
7 Pekarangan tanah berat:
d. > 7% 0,25 – 0,35

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-51


LAPORAN AKHIR

Koefisien Luas Lahan


No. Deskripsi Permukaan (Ci XAi)
Limpasan (Ci) (Ai)
e. 2 – 7% 0,18 – 0,22
f. <2% 0,13 – 0,17
8 Pekarangan tanah ringan:
d. > 7% 0,15 – 0,2
e. 2 – 7% 0,10 – 0,15
f. <2% 0,05 – 0,10
9 Lahan berat 0,40
10 Padang rumput 0,35
11 Lahan budidaya pertanian 0,30
12 Hutan produksi 0,18
Σ(Ai) Σ(Ci XAi)
C (koefisien limpasan Σ(Ci XAi) /
tertimbang) Σ(Ai)
Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009

b). Penghitungan Kebutuhan (Demand) Air


Rumus: DA = N x KHLA
dimana:
DA : Total kebutuhan air (m3/tahun)
N : Jumlah penduduk (orang)
KHLA : Kebutuhan air untuk hidup layak = 1600 m3 air/kapita/tahun = 2 x
800 m3 air/kapita/tahun, dimana: 800 m3 air/kapita/tahun merupakan
kebutuhan air untuk keperluan domestik dan untuk menghasilkan pangan.
2.0 merupakan faktor koreksi untuk memperhitungkan kebutuhan hidup
layak yang mencakup kebutuhan pangan, domestik dan lainnya.
Catatan: Kriteria WHO untuk kebutuhan air total sebesar 1.000–2.000
m3/orang/tahun
(3) Penentuan Status Daya Dukung Air
Status daya dukung air diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan air (SA)
dan kebutuhan air (DA).
Bila SA > DA , daya dukung air dinyatakan surplus.
Bila SA < DA , daya dukung air dinyatakan defisit atau terlampaui.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-52


LAPORAN AKHIR

(4) Sumber Data


Tabel II.19
Jenis dan Sumber Data
Sumber Data
Jenis Data
Pusat Provinsi Kabupaten/Kota
Jumlah Penduduk Data Hasil Susenas atau Sensus Penduduk BPS dalam Buku Daerah
(N) dalam Angka
Curah Hujan (R) Statistik Indonesia DDA DDA atau Dinas
BMKG setempat, bila
tidak ada data BMKG,
data dapat diperoleh
dari dinas terkait lokal
seperti Dinas
Pertanian atau dinas
lainnya
Luas Wilayah (A) BPS
Luas Guna Lahan  DDA
(Ai)  Buku Statistik Luas Guna Lahan
 Data BPN
 Data RTRW Bappeda Provinsi/Kabupaten/Kota
Sumber: PermenLH No.17 tahun 2009

F. Penentuan Daya Tampung Lingkungan Hidup


Menurut Brontowiyono (2016) dalam buku KLHS untuk RTRW dengan Pendekatan
Daya Dukung Lingkungan dinyatakan bahwa daya tampung lingkungan mencakup
analisis komponen sumber daya alam seperti kualitas air permukaan, kualitas
udara, kemampuan tanah dan sebagainya yang berpotensi mengalami perubahan
kualitas akibat aktivitas manusia.
G. Kualitas Air Permukaan
Analisis kualitas menggunakan metode STORET atau NSF-IKA. Metode yang
umum digunakan adalah metode STORET yang secara prinsip membandingkan
antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan
peruntukkannya guna menentukan status mutu air. Cara untuk menentukan status
mutu air menggunakan sistem nilai dari US-EPA.
Tabel II.20
Dasar Sistem Nilai Status Mutu Air
Jumlah Parameter
Nilai
Contoh/Parameter Fisika Kimia Biologi
Maksimum -1 -2 -3
<10
Minimum -1 -2 -3

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-53


LAPORAN AKHIR

Rata-rata -3 -6 -9
Maksimum -2 -4 -6
≥10 Minimum -2 -4 -6
Rata-rata -6 -12 -18
Sumber: Canter, 1977

Hasil penentuan dilakukan analisis GIS untuk memetakan status mutu air. Output
analisis dibagi ke dalam kategori sebagai berikut:
Skor 0 s/d -10 : Baik
Skor -11 s/d -30 : Sedang
Skor ≥ -31 : Buruk
H. Kualitas Udara
Analisis kualitas udara menggunakan metode ISPU (Indeks Standar Pencemaran
Udara). Parameter kualitas udara antara lain PM10, NO2, SO2, O3, dan CO. Sebagai
contoh, parameter dominan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah
karbonmonoksida (CO), karena merupakan faktor dominan dalam ISPU dan
kompleksitas pengaruhnya antara lain terhadap ruang terbuka hijau (RTH), panas
kota, kenyamanan dan lainnya. Berikut formula analisis ISPU:
𝐼𝑎−𝐼𝑏
𝐼 = 𝑋𝑎−𝑋𝑏 (𝑋𝑥 − 𝑋𝑏) + 𝐼𝑏

Keterangan:
I : ISPU terhitung
Ia : ISPU batas atas
Ib : ISPU batas bawah
Xa : Ambien batas atas
Xb : Ambein batas bawah
Xx : Kadar ambient nyata hasil pengukuran
Analisis dilanjutkan dengan GIS dari hasil analisis kualitas udara untuk memetakan
isokonstrasi parameter kualitas udara. Kategori output adalah:
Skor 10 : Baik
Skor 50 : Sedang
Skor 100 : Buruk
I. Kemampuan Tanah
Analisis diawali dengan identifikasi karakteristik tanah. Data dasar analisis
karakteristik dapat diperoleh melalui laporan instansi dan hasil penelitian
sebelumnya. Analisis lain menggunakan GIS dari berbagai peta, seperti peta
RBI/topografi, peta tanah dan lainnya. Analisis karakteristik terdiri dari:

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-54


LAPORAN AKHIR

J. Kemiringan Lereng
Formulasi perhitungan keimiringan lereng dari peta topografi adalah:
((𝑛 − 1). 𝐶𝑖)
𝑆(%) =
(𝐷 𝑥 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑏𝑢𝑡 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎)
Keterangan:
S : Kemiringan lereng (%)
n : Jumlah kontur terpotong
Ci : Interval kontur
D : Panjang diagonal
Tabel II.21
Tingkat Kemiringan Lereng
Kelas Kemiringan (%) Keterangan Harkat
I 0-3 Datar 7
II 3-8 Landai/berombak 6
III 8 - 15 Agak miring/bergelombang 5
IV 15 - 30 Miring/berbukit 4
V 30 - 45 Agak curam 3
VI 45 – 65 Curam 2
VII >65 Sangat curam 1
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

K. Kedalaman Efektif Tanah


Kedalaman efektif tanah meliputi horizon A dan horizon B. Kedalaman efektif tanah
dapat dilihat secara langsung di lapangan melalui penglihatan terhadap profil tanah.
Tabel II.22
Klasifikasi Kedalaman Efektif Tanah
Kelas Kedalaman (cm) Harkat
Dalam >90 4
Sedang 90 – 50 3
Dangkal 50 – 25 2
Sangat Dangkat < 25 1
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

L. Tekstur Tanah
Tekstur tanah merupakan ukuran butir tanah yang menyatakan kasar-halusnya butir
atau zarah tanah. Adapun klasifikasi tekstur tanah yang digunakan seperti pada
ketentuan USDA (United States Department of Agriculture) atau Departemen
Pertanian Amerika Serikat dengan klasifikasi sebagai berikut:

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-55


LAPORAN AKHIR

Tabel II.23
Klasifikasi Tekstur Tanah
Keterangan Harkat
Tanah bertekstur halus, meliputi tekstur lempung berpasir, geluh berlempung, 1
lempung berdebu dan lempung
Tanah bertekstur sedang, meliputi geluh, geluh berdebu dan debu 3
Tanah bertekstur agak kasar, meliputi tekstur geluh berpasir, geluh berpasir halus 1
dan geluh berpasir sangat halus
Tanah bertekstur kasar, meliputi tekstur pasir bergeluh dan pasir 1
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

M. Drainase Tanah
Klasifikasi kondisi drainase didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. Kondisi
drainase jelek, misalnya, dicirikan oleh adanya bercak-bercak (motling) di profil
tanah. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan, maka
kondisi drainasenya makin buruk.
Tabel II.24
Harkat Kondisi Drainase Tanah
Keterangan Harkat
Berlebihan (exessivity drained), air segera keluar dari tanah dan sangat sedikit 0
air yang ditahan oleh tanah sehingga tanah akan segera mengalami kekeringan
air
Baik, tanah memiliki peredaran udara yang baik. Seluruh profil tanah dari atas 3
sampai bawah (150 cm) berwarna terang yang seragam dan tidak terdapat
bercak-bercak kuning, coklat kelabu
Sedang, tanah mempunyai peredaran yang baik di daerah perakaran. Tidak 2
terdapat bercak-bercak kuning coklat atau kelabu pada lapisan atas dan lapisan
bawah (sampai 60 cm) dari permukaan tanah
Buruk, seluruh lapisan sampai permukaan tanah berwarna kelabu atau terdapat 1
bercak-bercak berwarna kelabu dan lapisan bawah berwarna kelabu dan terdapat
bercak kebiruan, atau terdapat air yang menggenang di permukaan tanah dalam
waktu yang lama sehingga menghambat pertumbuhan tanaman
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

N. Proses Erosional
Penentuan kondisi erosi di lapangan dapat terlihat secara langsung dengan melihat
jenis erosi yang terjadi, berupa erosi percik, lembar ataupun erosi parit.
Tabel II.25
Harkat Proses Erosi
Proses Erosi Harkat
Percik (splash) -1
Lembar (sheet) -2

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-56


LAPORAN AKHIR

Proses Erosi Harkat


Alur (riil) -3
Lembah (gully) -4
Jurang (ravine) -5
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

O. Tingkat Erosi
Setelah terjadi proses erosi, akan diketahui tingkat erosi dengan intensitas dan
harkat sebagai berikut:
Tabel II.26
Tingkat Erosi
Intensitas Lapisan Tanah yang Hilang (%) Harkat
Tidak ada erosi Tidak ada lapisan tanah yang hilang 0
Ringan Jika < 25% dari lapisan tanah atas hilang, terbentuk alur -1
Sedang Jika 25% - 75% dan lapisan tanah atas hilang -2
Agak Berat Jika >75% dari lapisan tanah atas hilang dan >25% lapisan -3
tanah bawah juga hilang, terjadi alur dan mulai terjadi parit
Berat Jika >25% dari lapisan tanah bawah hiking, terjadi alur dan -4
parit
Sangat Berat Erosi parit yang dalam -5
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

P. Daerah Tererosi
Daerah tererosi bersama dengan tingkat erosi akan menentukan skala prioritas
tindakan konservasi yang harus dilakukan.
Tabel II.27
Harkat Luasan Daerah Tererosi
Luas Daerah Tererosi (m) Harkat
<100 -1
100 – 200 -2
200 – 500 -3
500 – 1.000 -4
>1.000 -5
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

Q. Material Batuan
Batuan lepas menggambarkan kondisi permukaan lahan. Penyebaran batuan lepas
di permukaan tanah dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel II.28
Sebaran Batuan Lepas di Permukaan Tanah
Keterangan Harkat
Tidak ada kurang dari 0,01% luas awal 0

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-57


LAPORAN AKHIR

Keterangan Harkat
Sedikit, 0,01 – 3% permukaan tanah tertutup, pengolahan dengan mesin agak -1
terganggu dan tidak mengganggu pertumbuhan tanaman
Sedang, 3-15% permukaan tanah tertutup pengolahan tanah mulai agak sulit -2
Banyak, 15-20% permukaan tanah tertutup, pengolahan, dan penanaman menjadi -3
sangat sulit
Sangat banyak, lebih dari 90% permukaan tanah tertutup, sama sekali tidak dapat -4
digunakan untuk produksi pertanian
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

R. Ancaman Banjir
Kemampuan tanah dalam menopang, menampung dan menyangga segala material
yang berada di dalam dan di atasnya berpotensi mendapat ancaman banjir dengan
kelas dan kriteria sebagai berikut:
Tabel II.29
Kelas dan Kriteria Banjir
Kelas Kriteria dan Kisaran Harkat
Tidak pernah Selama setahun tidak pernah terjadi banjir untuk waktu >24 0
jam
Kadang-kadang Banjir >24 jam terjadi tidak teratur dalam waktu kurang dari -1
satu tahun
Agak sering Selama waktu satu bulan dalam setahun secara teratur -2
terjadi banjir untuk jangka waktu >24 jam
Sering Selama 2 – 5 bulan dalam setahun secara teratur terjadi -3
banjir selama >24 jam
Selalu Selama 6 bulan atau lebih selalu dilanda banjir secara -4
teratur selama >24 jam
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

S. Ancaman Longsor
Kondisi lahan yang mempunyai kemiringan > 30% beresiko mengalami longsor
dengan kriteria dan luasan longsor sebagai berikut:
Tabel II.30
Kriteria dan Luasan Longsor
Kriteria dan Kisaran Luasan Longsor Harkat
Tidak ada 0% 0
Ringan 5% - 15% -1
Sedang 15% - 30% -2
Berat 30% - 45% -3
Sangat Berat >45% -4
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983)

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-58


LAPORAN AKHIR

T. Penilaian Kemampuan Tanah


Penilaian kemampuan tanah selanjutnya dilakukan dengan cara memberi harkat
pada masing-masing parameter karakteristik lahan. Metode pengharkatan dengan
teknik penambahan dan menggunakan formula:
Faktor Menguntungkan – Faktor Merugikan = Faktor Menguntungkan – Faktor
(Penghambat + Bahaya) = (L + Kt + T + Dr) – (Pe + Te + De + Bt + B + L)
dimana:
L : Kemiringan lereng
K : Kedalaman tanah
T : Tekstur tanah
Dr : Drainase tanah
Pe : Proses erosional
De : Luas Daerah Tererosi
Bt : Persebaran Batuan
B : Banjir
L : Longsor
Berdasarkan hasil pengharkatan untuk karakteristik lahan L, K, T, Dr, Pe, Te, De,
Bt, B dan L, pembagian klasifikasi kemampuan lahan dapat ditentukan sebagai
berikut:
Tabel II.31
Karakteristik dan Kemampuan Lahan
Karakteristik Lahan Nilai Minimum Nilai Maksimum
Kemiringan Lereng (L) 1 7
Kedalaman Tanah (K) 1 4
Tekstur Tanah (T) 1 3
Drainase Tanah (Dr) 0 3
Proses Erosional (Pe) -5 -1
Tingkat Erosi (Te) -5 -1
Luas Daerah Tererosi (De) -5 -1
Persebaran Batuan (Bt) -4 0
Banjir (B) -4 0
Longsor (L) -4 0
Jumlah -24 14
Perhitungan: interval kelas (14 – (-24))/8 = 38/8 = 4,75
Sumber: Brontowiryono (2016)

Hasil analisis kemampuan tanah diklasifikasikan ke dalam kriteria berikut:

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-59


LAPORAN AKHIR

Tabel II.32
Nilai dan Kriteria Kemampuan Tanah
Nilai Kriteria Kemampuan Tanah
-4,9 s/d 14 Baik untuk kegiatan budidaya
-9,76 s/d -5 Sedang untuk kegiatan budidaya
-24 s/d -9,75 Buruk untuk kegiatan budidaya
Sumber: CSR/FAO and Staff (1983), dengan modifikasi

Status daya tampung lingkungan (DTL) dengan metode pembobotan pencemaran air
permukaan 30%, pencemaran udara ambient 10% dan kemampuan tanah 60%.
Perhitungan DTL sebagai berikut:
𝐷𝑇𝐿 = (30% 𝑥 𝑃𝐴) + (10% 𝑥 𝑃𝑈) + (60% 𝑥 𝐾𝑇)
Skor 12 – 18: Daya Tampung Lingkungan Amana tau Baik
Skor 19 – 25: Daya Tampung LIngkungan Aman Bersyarat atau Sedang
Skor 26 – 30: Daya Tampung LIngkungan Terlampaui atau Buruk

2.7.2.9 Analisis Dampak Lalu Lintas


Analisis dampak lalu lintas dilakukan untuk mengetahui dampak pengembangan
lokasi sport center terhadap pergerakan lalu lintas di sekitar lokasi tersebut. Maka dengan
adanya lokasi sport center akan memerlukan pengembangan lalu-lintas yang memadai
untuk mengakses lokasi sport center tersebut.
Analisis yang dapat dilakukan yaitu :

- Jalan masuk dan keluar lokasi sport center sesuai ketentuan yang berlaku;
- Jaringan jalan moda transportasi umum (jalan masuk dan keluarnya lokasi sport
center hingga pangkalan angkutan umum dan halte);
- Jalan masuk dan keluar parkir.

2.7.2.10 Analisis Kemampuan Pengelolaan, Pengawasan dan Personal


Analisis kemampuan pengelolaan, pengawasan dan personal merupakan
pengelolaan aset dan bangunan oleh Pemerintah Kota Tegal mengacu pada kepentingan
kesejahteraan masyarakat tidak sebagai kepentingan komersial, sehingga hasil yang
didapat tidak secara materiil saja tetapi sebagai peningkatan kesejahteraan masyarakat.

2.7.2.11 Analisis Pengaruh Pembangunan Sport Center terhadap Pengembangan


Wilayah
Analisis pengaruh Pembangunan Sport Center terhadap pengembangan wilayah
dilakukan untuk mengetahui pengaruh lokasi Sport Center tersebut terhadap
pengembangan wilayah disekitar lokasi Sport Center terebut. Dengan adanya lokasi Sport

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-60


LAPORAN AKHIR

Center di Kota Tegal dapat menjadi magnet untuk timbulnya fungsi-fungsi kawaan baru
seperti timbulnya pusat perdagangan dan jasa, ataupun pusat bisnis baru disekitar lokasi
Sport Center tersebut.

Sumber : 100RC & Sport and Recreation Earthquake Leadership Group


Gambar 2.10 Grow the Capacity of Society and Stakeholder to get Urban Opportunity in
Projection

Bahwa secara teori berdasarkan 100RC dan Sport and Recreation Earthquake
Leadership Group, keberadaan Sport Centre akan mempengaruhi seluruh elemen kota
dengan tingkat pengaruh yang berbeda-beda dan beberapa diantaranya perlu untuk
dikembangkan seperti yang terlihat pada gambar di atas.
2.7.2.12 Rekomendasi Rumusan Kebijakan
Rekomendasi berisikan masukan kebijakan dari kajian lokasi sport center.
Rekomendasi dihasilkan dari proses analisis yang telah dilakukan sebelumnya dengan
proses mentabulasi dan mengkorelasikan antar analisis.

2.7.3. Kerangka Pikir


Secara keseluruhan metodologi pelaksanaan Kajian Lokasi Sport Center Kota
Tegal dapat dilihat pada gambar berikut :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-61


LAPORAN AKHIR

DISKUSI DRAFT DISKUSI DRAFT DISKUSI DRAFT


PENDAHULUAN ANTARA AKHIR

Kajian Literatur Analisis

 Pemahaman tentang 1. Analisis Kebijakan


Studi Kelayakan 2.Identifikasi Kondisi
(Feasibility Study) Wilayah & Kawasan
 Pemahan kondisi Perencanaan
Eksisting Kota Tegal 3.Analisis Kebutuhan
 Pemahaman tentang Penutup
Sarana & Prasarana
METODOLOGI & Struktur Ruang Kota 4.Analisis Kebutuhan
KAK Tegal Ruang Rekomendasi LAPORAN
RENCANA  Pemahaman tentang KAJIAN LOKASI
5.Analisis Lokasi
lingkungan Kota Rumusan Kebijakan SPORT CENTER
KERJA 6. Analisis Daya
Tegal. Tampung, Daya
Dukung & Dampak
Lingkungan
7.Analisis Dampak Lalu
Lintas
8. Analisis Kemampuan
Pengelolaan,
Pengawasan &
Perlunya Penyusunan Kajian Personal
9. Analisis Pengaruh
Lokasi Sport Center Kota Tegal Pembangunan Sport
Tahun 2017 Center terhadap
Pengembangan

LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN ANTARA LAPORAN AKHIR


Sumber : HasIl Analis

Gambar 2.11 Kerangka Pikir Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL II-62


LAPORAN AKHIR

BAB III
GAMBARAN UMUM
3.1. Gambaran Umum Kota Tegal
3.1.1. Administrasi dan Geografis
Kota Tegal merupakan salah satu daerah otonom yang berada di Propinsi Jawa
Tengah. Kota Tegal terletak pada 109o08' - 109o10' garis Bujur Timur dan 6o50' - 6o53' garis
Lintang Selatan. Letak geografis Kota Tegal sangat strategis karena berada di pertigaan jalur
kota besar Semarang - Tegal - Cirebon serta Semarang - Tegal - Purwokerto dan Cilacap.
Batas-batas Kota Tegal secara geografis sebagai berikut:
- Utara : Laut Jawa
- Timur : Kabupaten Tegal
- Barat : Kabupaten Brebes
- Selatan : Kabupaten Tegal
Kota Tegal merupakan hasil pemekaran dari wilayah Kabupaten Tegal pada tahun 1987
ditambah tukar guling dengan wilayah Kabupaten Brebes yang dikenal dengan sebutan
Bokong Semar. Berdasarkan laporan tahunan hasil survey pertanian (SP-VA) yang dilakukan
oleh BPS, luas wilayah Kota Tegal adalah 39,68 km2. Luas tersebut sekitar 0,11 % dari luas
Propinsi Jawa Tengah.
Secara adminstratif Kota Tegal terbagi ke dalam 4 kecamatan dengan 27 Kelurahan.
Kecamatan Tegal Barat memiliki wliayah paling luas sekitar 15,13 km² disusul kecamatan
Margadana seluas 11,76 km², kecamatan Tegal Selatan seluas 6,43 km² dan kecamatan
Tegal Timur seluas 6,36 km².
Tabel III. 1
Luas Wilayah Kota Tegal Tahun 2015
No Kecamatan Luas (Km2)
1 Tegal Selatan 6,43
2 Tegal Timur 6,36
3 Tegal Barat 15,13
4 Margadana 11,76
Jumlah 39,68
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-1


LAPORAN AKHIR

Sumber : BAPPEDA Kota Tegal III-2


KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
Gambar 3.1 Peta Administrasi Kota Tegal
LAPORAN AKHIR

3.1.2. Fisik Alam


3.1.2.1 Topografi
Relief daerah Kota Tegal berada pada ketinggian antara 0 - 7 meter dari permukaan
air laut. Empat kelurahan berada bertopografi daerah pesisir, yaitu Kelurahan Panggung,
Kelurahan Mintaragen, Kelurahan Tegalsari dan Kelurahan Muarareja. Sedangkan 23
kelurahan lainnya tidak berada di daerah pesisir.

3.1.2.2 Iklim
Iklim di Kota Tegal adalah tropis dan bersuhu udara relatif panas. Di tahun 2015
temperatur udara rata-rata per bulan mencapai 27,8oC dengan suhu minimum tercatat 24,7oC
dan suhu maksimum mencapai 31,5oC. Curah hujan yang terjadi di Kota Tegal adalah sebesar
1.449 mm atau rata-rata sebesar 145 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada Februari sebesar
385 mm. Hari hujan selama tahun 2015 sebesar 102 hari (rata-rata tiap bulan sebesar 8 hari).
Hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari yaitu sebanyak 21 hari.
Tabel III. 2
Banyaknya Hari Hujan dan Curah Hujan di Kota Tegal Tahun 2015
No Bulan Hari Hujan Curah Hujan
1 Januari 21 344,6
2 Februari 17 384,7
3 Maret 15 232,0
4 April 15 114,1
5 Mei 8 72,5
6 Juni 0 -
7 Juli 4 10,1
8 Agustus 3 47,5
9 September 0 -
10 Oktober 1 1,5
11 November 1 14,2
12 Desember 17 227,6
Rata-Rata 102 1448,8
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

Dari tabel diatas dapat dilihat jika curah hujan yang paling tinggi di tahun 2015 berada
pada bulan Februari yaitu 384,7 mm sedangkan curah hujan yang paling rendah berada pada
bulan Juni dan September yaitu 0,0 atau tidak ada hujan pada bulan Juni dan September
tahun 2015 di Kota Tegal.
Tabel III. 3
Suhu Udara di Kota Tegal Tahun 2015 (oC)
Suhu Udara
No Bulan
Rata-Rata Maksimum Minimum
1 Januari 27,1 30,7 24,6
2 Februari 26,9 30,2 24,3
3 Maret 27,7 31,0 25,1
4 April 27,8 31,6 25,2
5 Mei 28,3 31,9 24,9
6 Juni 27,8 32,0 24,1
7 Juli 27,4 31,0 23,8

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-3


LAPORAN AKHIR

Suhu Udara
No Bulan
Rata-Rata Maksimum Minimum
8 Agustus 27,0 30,9 23,3
9 September 27,2 31,8 24,2
10 Oktober 28,6 32,3 25,2
11 November 29,0 32,7 26,0
12 Desember 28,3 31,8 25,6
Rata-Rata 27,8 31,5 24,7
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

Dari tabel diatas dapat dilihat jika suhu udara rata-rata terpanas di Kota Tegal pada
tahun 2015 berada pada bulan November yaitu 29,0oC, sedangkan udara rata-rata terendah
berada pada bulan Februari yaitu 26,9oC.

3.1.3. Penggunaan Lahan


Peruntukan tanah di Kota Tegal secara umum didominasi lahan sawah dan lahan non
sawah (kering). Berdasarkan data BPS tahun 2015, luas sawah di Kawasan Kota Tegal adalah
733,30 ha dan seluruh persawahan di Kota Tegal merupakan sawah dengan irigasi teknis.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel III. 4
Luas Penggunaan Lahan Sawah Menurut Kecamatan/Kelurahan di Kota
Tegal Tahun 2015 (ha)
No. Kecamatan/Kelurahan Teknis No. Kecamatan/Kelurahan Teknis
A Tegal Selatan 134,30 C Tegal Barat 49,00
1 Kalinyamat Wetan 27,00 1 Pesurungan Kidul 25,00
2 Bandung 11,80 2 Debong Lor 14,00
3 Debong Kidul 0,00 3 Kemandungan 5,00
4 Tunon 0,00 4 Pekauman 0,00
5 Keturen 33,00 5 Kraton 5,00
6 Debong Kulon 51,50 6 Tegalsari 0,00
7 Debong Tengah 8,00 7 Muarareja 0,00
8 Randugunting 3,00 D Margadana 531,00
B Tegal Timur 19,00 1 Kaligangsa 163,00
1 Kejambon 2,00 2 Krandon 73,00
2 Slerok 15,00 3 Cabawan 70,00
3 Panggung 2,00 4 Margadana 99,00
4 Mangkukusuman 0,00 5 Kalinyamat Kulon 92,00
5 Mintaragen 0,00 6 Sumurpanggang 15,00
7 Pesurungan Lor 19,00
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

Luas penggunaan lahan bukan sawah di Kota Tegal berjumlah 3.108,35 ha meliputi :
- Bangunan/Pekarangan : 1.833,60 ha
- Tegal/Kebun : 42,57 ha
- Tambak : 488,61 ha
- Lain-Lain : 869,92 ha

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-4


LAPORAN AKHIR

Tabel III. 5
Luas Penggunaan Lahan Bukan Sawah menurut Kecamatan/Kelurahan di Kota
Tegal Tahun 2015 (Ha)
Tegalan/
No. Kecamatan/Kelurahan Pekarangan/ Bangunan Tambak Lainnya Jumlah
Kebun
A Tegal Selatan 453,17 0,50 0 55,03 508,70
1 Kalinyamat Wetan 56,17 0,00 0,00 5,83 62,00
2 Bandung 43,05 0,00 0,00 4,15 47,20
3 Debong Kidul 34,12 0,00 0,00 0,88 35,00
4 Tunon 73,00 0,00 0,00 2,00 75,00
5 Keturen 16,87 0,00 0,00 2,13 19,00
6 Debong Kulon 26,48 0,50 0,00 5,52 32,50
7 Debong Tengah 97,71 0,00 0,00 5,29 103,00
8 Randugunting 105,77 0,00 0,00 29,23 135,00
B Tegal Timur 414,20 29,20 42,34 131,26 617,00
1 Kejambon 70,99 0,00 0,00 15,01 86,00
2 Slerok 105,58 0,00 0,00 17,42 123,00
3 Panggung 90,12 20,42 38,34 70,12 219,00
4 Mangkukusuman 43,30 0,00 0,00 3,70 47,00
5 Mintaragen 104,21 8,78 4,00 25,01 142,00
C Tegal Barat 504,19 7,42 417,40 534,99 1.464,00
1 Pesurungan Kidul 16,65 0,00 0,00 27,35 44,00
2 Debong Lor 34,49 1,51 0,00 6,05 42,05
3 Kemandungan 24,88 3,60 0,00 22,52 51,00
4 Pekauman 77,89 0,00 0,00 18,11 96,00
5 Kraton 91,55 0,42 0,00 26,03 118,00
6 Tegalsari 169,32 1,89 29,65 18,13 218,99
7 Muarareja 89,41 0,00 387,75 416,80 893,96
D Margadana 462,04 5,45 28,87 148,64 645,00
1 Kaligangsa 76,72 4,14 0,00 9,14 90,00
2 Krandon 36,49 0,00 0,00 10,51 47,00
3 Cabawan 47,71 0,00 0,00 10,29 58,00
4 Margadana 88,05 0,00 15,45 37,50 141,00
5 Kalinyamat Kulon 48,60 0,00 0,00 12,40 61,00
6 Sumurpanggang 78,59 1,31 0,00 5,10 85,00
7 Pesurungan Lor 85,88 0,00 13,42 63,70 163,00
Jumlah 1.833,60 42,57 488,61 869,92 3.234,70
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-5


LAPORAN AKHIR

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-6


Sumber : BAPPEDA Kota Tegal
Gambar 3.2 Peta Tata Guna Lahan Kota Tegal
LAPORAN AKHIR

3.1.4. Kependudukan
Perkiraan jumlah penduduk Kota Tegal Tahun 2015 yang digunakan sebagai dasar
untuk penyusunan tabulasi hasil proyeksi Sensus Penduduk Tahun 2010 adalah sebesar
276.734 jiwa.
Berdasarkan tabel II.6, persentase penduduk perempuan sedikit lebih banyak
dibanding persentase penduduk laki-laki. Pola periode tahun 2013 dan tahun 2015
menunjukkan kecenderungan yang sama.
Tabel III. 6
Persentase Penduduk menurut Jenis Kelamin Kota Tegal Tahun 2013-2015
Jenis Kelamin 2013 2014 2015
Laki-Laki 49.60 49.52 49.52
Perempuan 50.40 50.48 50.48
Jumlah 100.00 100.00 100.00
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat Kecamatan Tegal Timur merupakan daerah
dengan jumlah penduduk terbanyak di antara 3 kecamatan lainnya di Kota tegal, yakni 77.456
jiwa atau 31,47 persen dari total penduduk Kota tegal. Kecamatan Margadana merupakan
daerah dengan jumlah penduduk paling sedikit sebanyak 45.914 jiwa.
Sejalan dengan semakin bertambahnya penduduk Kota tegal, kepadatan penduduk juga
semakin tinggi. Kepadatan penduduk merupakan indikator untuk melihat keseimbangan
persebaran penduduk dengan luas wilayah.
Wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi umumnya dihadapkan pada
berbagai masalah lingkungan, perumahan, kesehatan, dan masalah sosial lainnya. Pada
tahun 2015 kepadatan penduduk di Kota Tegal tercatat sebesar 6.203 jiwa setiap kilometer
persegi. Kecamatan Tegal Timur merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk
tertinggi di Kota Tegal. Kecamatan Tegal Timur memiliki kepadatan 12.179 jiwa setiap
kilometernya, sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Margadana dengan tingkat
kepadatan 3.904 jiwa setiap kilometernya.
Tabel III. 7
Penduduk, Luas Wilayah dan Kepdatan Penduduk menurut Jenis Kelamin
Kota Tegal Tahun 2015
Kecamatan Luas Jumlah Penduduk Kepadatan
Wilayah Laki-Laki Perempuan Jumlah Penduduk
(Km2)
Tegal Selatan 6,43 29.601 29.514 59.115 9,194
Tegal Timur 6,36 38.069 39.387 77.456 12,179
Tegal Barat 15,13 31.150 32.484 63.634 4,206
Margadana 11,76 23.064 22.850 45.914 3,904
Jumlah 39,68 121.884 124.235 246.119 6,203
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-7


LAPORAN AKHIR

3.1.5. Penduduk Menurut Mata Pencaharian


Berdasarkan jenis mata pencaharian jumlah penduduk di Kota Tegal tahun 2015
diketahui tertinggi bermata pencaharian sebagai pedagang yaitu sebanyak 20.926 jiwa
atau sebesar 17.20% dari seluruh penduduk yang berumur diatas 10 tahun.
Selain sebagai pedagang, penduduk Kota Tegal juga banyak bekerja sebagai buruh
industri yaitu sebanyak 16.694 jiwa atau sekitar 13.72%. Jenis pekerjaan yang paling
sedikit yang dijadikan sebagai mata pencaharian adalah sebagai pengusaha yaitu hanya
2.468 jiwa atau 2.03% dan petani yang hanya berjumlah 2.591 atau 2.13% saja. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel II.4 dibawah ini.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-8


LAPORAN AKHIR

Tabel III. 8
Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Kecamatan/Kelurahan dan Lapangan Pekerjaan Utama di Kota
Tegal Tahun 2014 (%)

TUKANG
KECAMATAN/ PETANI BURUH NELA- PENGU- DOSEN/ PEDA- ANGKU- PNS/ PEN LAIN JUM
NO BATU
KELURAHAN SENDIRI TANI YAN SAHA GURU GANG TAN ABRI SIUN NYA LAH
/KAYU
I TEGAL SELATAN 0.86 0.27 0.59 18.51 2.02 0.67 16.97 0.02 5.06 1.72 53.30 100.00
1 Kalinyamat Wetan 2.77 0.59 0.26 18.50 1.11 0.26 37.78 0.00 2.33 0.33 36.08 100.00
2 Bandung 0.77 0.56 0.42 19.17 1.91 0.66 23.28 0.00 2.75 0.80 49.69 100.00
3 Debong Kidul 0.00 0.07 0.55 38.25 1.42 0.69 21.24 0.00 2.36 0.73 34.69 100.00
4 Tunon 2,74 0.59 0.53 8.42 1.49 1.32 22.57 0.10 2.67 0.33 59.24 100.00
5 Keturen 2,08 0.84 1.06 15.05 1.46 0.62 20.50 0.00 1.99 0.54 55.87 100.00
6 Debong Kulon 0,54 0.23 1.31 16.04 1.85 0.59 17.67 0.09 4.16 0.81 56.71 100.00
7 Debong Tengah 0.26 0.07 0.51 19.38 2.11 0.98 15.10 0.02 5.44 0.68 55.46 100.00
8 Randugunting 0.04 0.01 0.52 16.42 2.91 0.39 4.66 0.00 9.35 4.65 61.06 100.00
II TEGAL TIMUR 0.15 0.04 4.66 17.80 2.23 0.36 7.21 0.02 8.61 3.07 55.86 100.00
1 Kejambon 0.07 0.06 0.69 13.51 2.71 0.37 6.91 0.02 8.54 3.16 63.95 100.00
2 Slerok 0.27 0.09 1.65 17.71 2.18 1.11 6.54 0.01 7.43 2.83 60.18 100.00
3 Panggung 0.21 0.01 5.62 16.90 2.38 0.14 6.57 0.01 10.30 3.66 54.20 100.00
4 Mangkukusuman 0.00 0.00 0.30 27.74 2.33 0.04 10.98 0.00 9.46 3.60 45.55 100.00
5 Mintaragen 0.04 0.04 10.10 19.44 1.61 0.12 8.00 0.04 6.42 2.02 52.16 100.00
III TEGAL BARAT 0.66 0.06 17.49 16.52 1.70 0.15 8.37 0.04 4.84 2.51 47.67 100.00
1 Pesurungan Kidul 0.80 0.25 1.90 20.79 1.90 0.89 9.78 0.08 1.73 0.55 61.32 100.00
2 Debong Lor 0.77 0.06 2.60 12.43 1.93 0.06 7.73 0.06 7.13 3.04 64.20 100.00
3 Kemandungan 0.12 0.00 2.34 18.03 2.22 0.18 7.88 0.00 10.34 2.46 56.43 100.00

III-9
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

TUKANG
KECAMATAN/ PETANI BURUH NELA- PENGU- DOSEN/ PEDA- ANGKU- PNS/ PEN LAIN JUM
NO BATU
KELURAHAN SENDIRI TANI YAN SAHA GURU GANG TAN ABRI SIUN NYA LAH
/KAYU
4 Pekauman 0.00 0.06 1.10 24.96 2.29 0.06 7.01 0.09 6.12 4.07 54.25 100.00
5 Kraton 0.13 0.03 5.62 15.54 2.27 0.13 7.12 0.01 5.69 3.77 59.68 100.00
6 Tegalsari 0.15 0.01 28.01 16.42 1.37 0.07 8.50 0.03 4.31 2.19 38.94 100.00
7 Muarareja 4.36 0.22 52.74 8.31 0.38 0.03 11.69 0.03 1.59 0.38 20.25 100.00
IV MARGADANA 4.61 0.89 0.53 42.24 0.95 0.14 24.43 0.02 2.16 0.43 23.59 100.00
1 Kaligangsa 10.11 1.05 0.33 48.40 0.97 0.03 23.98 0.00 1.43 0.24 13.45 100.00
2 Krandon 4.72 1.49 0.12 35.31 0.51 0.00 40.47 0.00 0.73 0.07 16.58 100.00
3 Cabawan 4.77 1.45 0.26 48.54 0.33 0.03 30.96 0.03 0.89 0.23 12.50 100.00
4 Margadana 4.37 0.51 0.43 20.30 0.77 0.27 47.72 0.00 2.00 0.36 23.27 100.00
5 Kalinyamat Kulon 1.38 0.79 0.24 49.73 1.09 0.22 13.18 0.00 2.66 0.81 29.90 100.00
6 Sumurpanggang 1.97 0.30 0.57 42.89 2.51 0.23 9.94 0.00 4.48 0.60 36.50 100.00
7 Pesurungan Lor 4.36 0.48 3.12 46.15 0.35 0.22 0.00 0.26 4.00 0.53 40.52 100.00
JUMLAH 1.50 0.30 5.79 23.46 1.75 0.33 13.92 0.02 5.32 1.99 45.03 100.00
2014 2.36 4.25 11.25 2.28 13.84 11.89 21.82 4.68 5.76 4.55 17.33 100.00
2013 2.13 3.89 11.04 2.03 13.72 12.10 22.31 4.76 5.94 4.89 17.20 100.00
2012 2.11 3.79 10.69 2.00 13.33 11.82 23.50 4.46 5.89 4.67 17.73 100.00
2011 2.22 4.66 9.40 1.83 17.25 16.58 18.88 4.96 6.58 4.32 13.33 100.00
Sumber: Kota Tegal Dalam Angka Tahun 2015

III-10
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

3.1.6 Perekonomian
5.1.6.1 Pendapatan Daerah
Secara umum, pendapatan Kota Tegal terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Tahun 2015 realisasi APBD Kota Tegal sebesar 723,97 milyar rupiah, mengalami kenaikan
sebesar 11,24 % dibandingkan tahun 2014. Dari total realisasi APBD, DAU menyumbang
sekitar 370,64 milyar atau sekitar 51,19 %. PAD menyumbang sebesar 176,38 milyar atau
sekitar 24,36 %. Kenaikan persentase kontribusi PAD terhadap APBD dibandingkan tahun
sebelumnya (24,07 %) menunjukan semakin membaiknya kemampuan keuangan Kota Tegal.
Tabel III. 9
APBD Kota Tegal Tahun 2015 (Milyar)
No Anggaran 2013 2014 2015
1 Pagu DIPA 535,94 630,26 701,44
2 Realisasi 547,72 650,81 723,97
3 % Realisasi 102,2 103,26 103,21
4 DAU (milyar) 265,48 334,82 370,64
5 % thd APBD 48,47 51,45 51,19
6 PAD (milyar) 117,24 156,66 176,38
7 % thd APBD 21,4 24,07 24,36
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

5.1.6.2 Pertumbuhan Ekonomi Sektoral


Pertumbuhan ekonomi Kota Tegal dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Tahun
2015, Kota Tegal mencatat angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,43% lebih rendah dari
pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 5,03%. Demikian juga pertumbuhan ekonomi
Jawa Tengah, meskipun selama Tahun 2015 pertumbuhan yang terjadi tidak sebesar tahun
sebelumnya yaitu 5,71%, sedangkan tahun 2014 sebesar 6,34%. Pertumbuhan ekonomi
nasional juga mengalami hal yang sama selama tahun 2015 yaitu pertumbuhan tidak sebesar
tahun sebelumnya yaitu 6,23% menjadi 5,78%.
Jika dilihat secara sektoral, pada Tahun 2015, sektor dengan pertumbuhan ekonomi
tertinggi untuk Jawa Tengah adalah sektor Keuangan sedangkan di Kota Tegal adalah sektor
Angkutan sebesar 7,17%.
Tabel III. 10
Pertumbuhan Ekonomi Kota Tegal
No Sektor 2013 2014 2015
1 Pertanian -2,27 -2,15 -1,27
2 Pertambangan & Penggalian - - -
3 Industri Pengolahan 3,97 3,42 3,56
4 Listrik, Gas, & Air Minum 6,81 6,99 7,81
5 Bangunan 6,62 6,83 7,62
Perdagangan, Hotel dan
6 6,96 7,51 7,96
Restoran
7 Angkutan dan Komunikasi 7,17 7,42 7,77
8 Keuangan 5,76 6,73 6,76
9 Jasa 1,54 2,13 2,54
Jumlah 4,58 5,03 5,43
Sumber : PDRB Kota Tegal 2016

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-11


LAPORAN AKHIR

5.1.6.3 Pendapatan Per Kapita dan Inflasi


PDRB Kota Tegal menggambarkan kemampuan Kota Tegal dalam mengelola sumber
daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Kota Tegal sebagai salah satu kota di
Provinsi Jawa Tengah, ikut menyumbang dalam pembentukan PDRB Jawa Tengah meskipun
hanya dibawah 1 persen.
Pendapatan per kapita yang mencerminkan tingkat produktivitas tiap penduduk
menunjukkan bahwa Kota Tegal mempunyai tingkat produktivitas yang semakin meningkat
dari tahun ke tahun. Pendapatan per kapita Kota Tegal Tahun 2015 telah mencapai Rp
11.826.268,72 bila dibandingkan dengan Tahun 2012 sebesar Rp 10.775.930,35. PDRB per
kapita merupakan gambaran nilai tambah yang bisa diciptakan oleh masing-masing penduduk,
sebagai akibat dari adanya aktifitas produksi. PDRB per kapita di Kota Tegal selama empat
belas tahun terakhir (Tahun 2000 = Rp 3.188.419,82), telah mengalami kenaikan sebesar 4,37
kali lipat atau sebesar Rp 13.937.394,42.
Sektor yang mendukung pembentukan PDRB Kota Tegal adalah sektor perdagangan.
Sektor ini memberikan peranan 24,08% terhadap pembentukan PDRB Kota Tegal sehingga
dapat dikatakan bahwa Kota Tegal sangat strategis untuk dilakukannya berbagai kegiatan
yang tercakup dalam sektor-sektor yang memiliki potensi besar seperti sektor industri,
perdagangan, dan pertanian serta perikanan.
Tabel III. 11
PDRB Kota Tegal Tahun 2015
No Uraian 2013 2014 2015
1 PDRB ADHB (triliun Rp) 9,14 10,06 10,98
2 PDRB ADHK (triliun Rp) 8,08 8,49 8,95
3 PDRB/Kapita ADHB (juta Rp) 37,46 41,07 44,63
4 PDRB/Kapita ADHK (juta Rp) 33,15 34,66 36,37
5 Pertumbuhan ekonomi (persen) 5,67 5,03 5,43
Sumber : PDRB Kota Tegal 2015

Salah satu indikator kenaikan harga di suatu wilayah adalah Indeks Harga Konsumen
(IHK). Kota Tegal merupakan salah satu dari 4 kota di Jawa Tengah atau 66 kota di Indonesia
yang dijadikan acuan dalam penghitungan inflasi secara nasional. Harga konsumen
merupakan harga barang/jasa konsumsi kebutuhan rumahtangga yang didasarkan pada
Survey Biaya Hidup (SBH).
Tahun 2015 kelompok komoditi dengan IHK tertinggi bila dilihat dari tahun dasar
(Tahun 2007) adalah kelompok Bahan Makanan, dengan Indeks Harga Konsumen mencapai
168,53. Hal ini diikuti juga dengan besarnya inflasi yang terjadi pada kelompok tersebut di
Tahun 2015 yang mencapai 10,45 persen, meskipun kelompok Bahan Makanan bukan
merupakan kelompok dengan inflasi tertinggi di tahun ini. Kondisi ini mengindikasikan bahwa
kenaikan harga yang terjadi di Kelompok Bahan Makanan menempati peringkat pertama dari
tujuh kelompok pembentuk inflasi.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-12


LAPORAN AKHIR

Dibandingkan dengan empat kota di Jawa Tengah yang dihitung tingkat inflasinya
secara nasional, Kota Tegal mengalami inflasi terendah. Inflasi tertinggi berturut-turut adalah
kota Purwokerto sebesar 8,50 persen, kemudian Kota Surakarta sebesar 8,32 persen.
Tabel III. 12
Inflasi menurut Pengeluaran Kota Tegal (%)
No Kelompok 2013 2014 2015
1 UMUM 5,80 7,40 3,95
2 Bahan Makanan 10,45 9,66 4,37
3 Makanan Jadi, Minuman dan Tembakau 5,22 5,74 8,72
4 Perumahan 4,15 6,70 2,50
5 Sandang -5,08 1,61 3,16
6 Kesehatan 3,10 7,44 3,75
7 Pendidikan, Rekreasi & OR 1,16 4,20 3,42
8 Transport dan Komunikasi 12,99 13,20 -1,22
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

5.1.6.4 Investasi
Pada Tahun 2015 di Kota Tegal terdapat 27 Perbankan dengan rincian 4 bank milik
pemerintah, 21 bank merupakan bank swasta nasional dan 2 bank adalah bank milik
pemerintah daerah. Simpanan masyarakat di berbagai bank yaitu berupa giro, simpanan
berjangka dan tabungan. Tabungan menyumbang jumlah tertinggi dari total dana masyarakat
yang tersimpan di bank.
Dana yang dikumpulkan dari masyarakat dalam bentuk Simpanan, Giro, maupun
Tabungan secara total mengalami kenaikan dari Tahun 2012 sebesar 10,49%. Tabungan
sebagai penyumbang terbesar (59,73% dari total simpanan masyarakat) mengalami kenaikan
yang signifikan (14,61%) selama Tahun 2013.
Pinjaman yang diberikan kepada masyarakat selama Tahun 2015 terbanyak
digunakan untuk konsumsi (44,90%) kemudian untuk modal kerja (43,50%) dan sisanya untuk
investasi (11,61%). Demikian j uga selama Tahun 2014 penggunaan pinjaman yang diberikan
kepada masyarakat terbanyak adalah untuk konsumsi (46,29%).
Tabel III. 13
Perbankan Kota Tegal Tahun 2015 (Juta Rp)
No Uraian 2013 2014 2015
1 Pinjaman 3.348.611 3.241.207 3.091494
2 Modal Kerja 1.456.567 1.380.443 1.263.998
3 Investasi 388.674 391.233 385.704
4 Konsumsi 1.503.370 1.469.531 1.416.919
5 Simpanan 3.296.790 3.688.561 4.061.576
6 Giro 291.822 341.597 424.704
7 Simpanan Berjangka 1.035.883 1.261.938 1.314.799
8 Tabungan 1.969.085 2.085.026 2.322.073
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

Koperasi merupakan sokoguru perekonomian Indonesia. Perkembangan koperasi di


Kota Tegal sejak tiga tahun terakhir terlihat semakin pesat dan membaik. Hal ini ditunjukkan
oleh peningkatan jumlah koperasi serta aktifitasnya.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-13


LAPORAN AKHIR

Dari 194 koperasi yang ada di Kota Tegal, ada sebanyak 55 koperasi yang sudah tidak
aktif sedangkan 139 lainnya masih aktif. Pada Tahun 2015, volume usaha koperasi mencapai
sebesar Rp. 273.096 juta. Perkembangan volume usaha koperasi meningkat, yaitu sebesar
1,72 persen dari Tahun 2014 yang mencapai Rp 268,480 juta, Sisa hasil Usaha dari kegiatan
perkoperasian di Kota Tegal selama Tahun 2013 juga mengalami kenaikan cukup signifikan
yaitu sebesar 24,16 persen yaitu dari Rp 23.357.640.000,00 pada Tahun 2014 menjadi Rp
4.168.930.000,00 pada Tahun 2015.
Tabel III. 14
Koperasi Kota Tegal
No Uraian Satuan 2013 2014 2015
1 Koperasi Unit 194 194 197
2 Anggota Orang 41.171 41.171 40.695
3 Tenaga Kerja Orang 606 606 588
4 Asset Rp. Juta 200.150 206.648 187.000
5 Volume Usaha Rp. Juta 273.096 402.973 421.993
6 SHU Rp. Juta 4.168,93 4.375,51 3.916,80
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

3.1.6. Pendidikan
Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan adalah tersedianya cukup sumber
daya manusia (SDM) yang berkualitas yang diperoleh antara lain melalui jalur pendidikan.
Peningkatan SDM sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian ksempatan seluas-luasnya
kepada penduduk untuk mengecap pendidikan, terutama penduduk kelompok usia sekolah.
Sarana pendidikan di Kota Tegal pada tahun 2015 relatif memadai dilihat dari
jumlahnya, yaitu untuk pendidikan pra sekolah (TK) sebanyak 79 sekolah, pendidikan dasar
baik negeri maupun swasta (SD Negeri, Swasta, MI) sebanyak 154 sekolah, pendidikan
menengah pertama baik negeri atau swasta (SMP Negeri dan Swasta, MTs Negeri dan
Swasta) berjumlah 35 sekolah, pendidikan menengah atas baik negeri ataupun swasta (SMA
Negeri dan Swasta, SMK Negeri dan Swasta, Madrasah Aliyah) sebanyak 32 sekolah. Untuk
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di Kota Tegal terdapat Universitas Pancasakti (UPS) dan
beberapa akademi yang telah terakreditasi.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel jumlah dan sebaran Sekolah menengah
di Kota Tegal berikut ini.
Tabel III. 15
Banyaknya SMA & SMK Tahun Pelajaran 2013/2014
No. Kecamatan SMA Negeri SMA Swasta SMK Negeri SMK Swasta
1 Tegal Selatan - - - 4
2 Tegal Timur 3 2 1 7
3 Tegal Barat 1 4 2 3
4 Margadana 1 - - 3
Jumlah 2013/2014 5 6 3 17
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-14


LAPORAN AKHIR

Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah sekolah SMA Negeri di Kota Tegal yaitu 5 sekolah
yang terbagi dalam 3 di Kecamatan Tegal Timur, 1 di Kecamatan Tegal Barat, dan 1 di
Kecamatan Margadana. Sedangkan di Kecamatan Tegal Selatan belum ada sekolah SMA
Negeri.
Jumlah sekolah SMA Swasta di Kota Tegal yaitu 6 sekolah yang terbagi dalam 2 di
Kecamatan Tegal Timur, dan 4 di Kecamatan Tegal Barat. Sedangkan di Kecamatan Tegal
Selatan dan Kecamatan Margadana belum ada sekolah SMA Swasta.
Jumlah sekolah SMK Negeri di Kota Tegal yaitu 3 sekolah yang terbagi dalam 1 di
Kecamatan Tegal Timur, dan 2 di Kecamatan Tegal Barat. Sedangkan di Kecamatan Tegal
Selatan dan Kecamatan Margadana belum ada sekolah SMK Negeri.
Jumlah sekolah SMK Swasta di Kota Tegal yang paling banyak yaitu 17 sekolah yang
terbagi dalam 4 di Kecamatan Tegal Selatan, dan 7 di Kecamatan Tegal Timur, 3 di
Kecamatan Tegal Barat dan 3 di Kecamatan Margadana.

3.1.7. Industri
Kegiatan industri menurut Badan Pusat Statistik dibedakan menjadi 4 (empat)
kelompok berdasarkan pada jumlah tenaga kerja, yaitu industri rumah tangga (home industry)
dengan tenaga kerja 1-4 orang, industri kecil dengan tenaga kerja 5-19 orang, industri sedang
dengan tenaga kerja 20-99 orang dan industri besar dengan tenaga kerja 100 orang atau lebih.
Berdasarkan survei industri besar sedang yang dilakukan BPS, tercatat ada 97
perusahaan industri sedang yang masih aktif, menurun dari kondisi tahun 2012 sebanyak 104
perusahaan dengan klasifikasi sebagai berikut :
1. Industri makanan, minuman dan tembakau sebanyak 58 perusahaan;
2. Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit sebanyak 5 perusahaan;
3. Industri kayu dan barang-barang dari kayu termasuk alat rumah tangga sebanyak 1
perusahaan;
4. Industri kertas dan barang-barang dari kertas, percetakan sebanyak 5 perusahaan;
5. Industri kimia, minyak bumi, batu bara dan karet/plastic sebanyak 5 perusahaan;
6. Industri barang-barang galian bukan logam kecuali minyak dan batu bara sebanyak 2
perusahaan;
7. Industri barang-barang dari logam, mesin dan perlengkapan sebanyak 4 perusahaan;
dan
8. Industri pengolahan lainnya sebanyak 17 perusahaan.
Tahun 2015 ini dari keseluruhan perusahaan industri besar/sedang di Kota Tegal
menyerap tenaga kerja sebanyak 6.480 orang. Menurun dari tahun 2012 dengan jumlah
penyerapan tenaga kerja sebanyak 7.035 orang. Jumlah tenaga kerja yang paling banyak
adalah bekerja di industri makanan, minuman dan tembakau sebanyak 2.779 orang dan

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-15


LAPORAN AKHIR

industri tekstil/pakaian jadi menyerap sebanyak 829 orang. Berikut ini tabel industri besar dan
sedang, dan tenaga kerja menurut Kecamatan di Kota Tegal.
Tabel III. 16
Banyaknya Perusahaan Industri Besar dan Sedang, dan Tenaga Kerja menurut Kecamatan
di Kota Tegal Tahun 2015
No Kecamatan Banyaknya Perusahaan Tenaga Kerja
1 Tegal Selatan 2 71
2 Tegal Timur 35 3.192
3 Tegal Barat 58 3.143
4 Margadana 2 74
Jumlah 97 6.480
Sumber : Kota Tegal Dalam Angka, Tahun 2016

Dari tabel diatas dapat dilihat jika Kecamatan Tegal Barat terdapat perusahaan yang
paling banyak yaitu 58 perusahaan dan Kecamatan Tegal Selatan dan Kecamatan Margadana
hanya terdapat 2 perusahaan. Jumlah tenaga kerja terbanyak berada di Kecamatan Tegal
Timur sebanyak 3.192 orang dan tenaga kerja terkecil berada di Kecamatan Tegal Selatan
sebanyak 71 orang.
Jumlah tenaga kerja yang berada di Kota Tegal pada industri sedang dan besar yaitu
sebanyak 6.480 orang. Jumlah tersebut tersebar kedalam 4 kecamatan di Kota Tegal yaitu
Kecamatan Tegal Selatan jumlah tenaga kerja 71 orang, Kecamatan Tegal Timur jumlah
tenaga kerja 3.192 orang, Kecamatan Tegal Barat dengan jumlah tenaga kerja 3.143 orang
dan di Kecamatan Margadana dengan jumlah tenaga kerja 74 orang.
Jika dilihat dari persebaran jumlah tenaga kerja di tiap kecamatan di Kota Tegal tersebut,
masih menunjukkan persebaran jumlah tenaga kerja yang kurang merata. Hal ini dikarenakan
jumlah tenaga kerja sebagian besar berada di Kecamatan Tegal Timur dan Kecamatan Tegal
Barat. Sedangkan di Kecamatan Tegal Selatan dan Kecamtan Margadana hanya sedikit
persebaran tenaga kerjanya. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan dalam persebaran
tenaga kerja di Kota Tegal.

3.2. Gambaran Umum Kecamatan Margadana


3.2.1. Administrasi dan Topografi
Kecamatan Margadana merupakan salah satu dari 4 kecamatan yang ada diwilayah
Kota Tegal. Letak Kecamatan Margadana berada di posisi yang sangat strategis yang
merupakan jalur penghubung perekonomian lintas nasional dan regional di wilayah pantura.
Letak astronomisnya berada antara 109o08’ – 109o10’ bujur timur dan 6o50’ – 6o53’ lintang
selatan.
Secara topografi Kecamatan Margadana terletak di dataran rendah dengan rata-rata
ketinggian 0,5-5 meter dari permukaan laut, ketinggian permukaan ini semakin menurun dalam
10 tahun terakhir seiring dengan aniknya permukaan air laut. Iklim Kecamatan Margadana
relatif sama dengan temperatur rata-rata 27,8oc, dengan curah hujan 102 mm pertahunnya.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-16


LAPORAN AKHIR

Luas wilayah Kecamatan Margadana adalah 11,76 km2, merupakan 0,30% dari luas
Kota Tegal. Secara admnistrasi Kecamatan Margadana terdiri dari 7 kelurahan yang terdiri
dari :
Tabel III. 17
Luas Wilayah Kecamatan Margadana Tahun 2015
No Kelurahan Luas (Km2)
1 Kaligangsa 2,53
2 Krandon 1,20
3 Cabawan 1,28
4 Margadana 2,41
5 Kalinyamat Kulon 1,52
6 Sumurpanggang 1,00
7 Pesurungan Lor 1,82
Jumlah 11,76
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

3.2.2. Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan di Kecamatan Margadana yaitu lahan sawah 531 Ha dan bukan
lahan sawah 645 Ha.
Tabel III.18
Luas Penggunaan Lahan Sawah menurut Kelurahan di Kecamatan Margadana Tahun 2015
Pengairan
No Kelurahan
Teknis
1 Kaligangsa 163
2 Krandon 73
3 Cabawan 70
4 Margadana 99
5 Kalinyamat Kulon 92
6 Sumurpanggang 15
7 Pesurungan Lor 19
Jumlah 531
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

Tabel III. 19
Luas Penggunaan Lahan Bukan Sawah menurut Kelurahan di Kecamatan Margadana
Tahun 2015
Bangunan/ Tegalan/ Tambak Lain- Jumlah
Kelurahan
No Pekarangan Kebun Lain
1 Kaligangsa 76,72 4,14 0,00 9,14 90,00
2 Krandon 36,49 0,00 0,00 10,51 47,00
3 Cabawan 47,71 0,00 0,00 10,29 58,00
4 Margadana 88,05 0,00 15,45 37,50 141,00
5 Kalinyamat Kulon 48,60 0,00 0,00 12,40 61,00
6 Sumurpanggang 78,59 1,31 0,00 5,10 85,00
7 Pesurungan Lor 85,88 0,00 13,42 63,70 163,00
Jumlah 462,04 5,45 28,87 148,64 645,00
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

3.2.3. Kependudukan
Menurut hasil perhitungan proyeksi jumlah penduduk Kecamatan Margadana pada
tahun 2015 sebesar 45.914 jiwa yang terdiri dari 23.054 jiwa penduduk laki-laki dan 22.850
jiwa penduduk perempuan. Dari komposisi tersebut dapat diperoleh perbandingan antara laki-

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-17


LAPORAN AKHIR

laki dengan perempuan atau sex ratio sebesar 100,94 yang artinya bahwa setiap 100
penduduk perempuan berbanding dengan 100,94 penduduk laki-laki, hal ini menunjukkan
jumlah laki-laki masih lebih banyak daripada jumlah perempuan di Kecamatan Margadana.
Tabel III. 20
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Margadana Tahun 2015
No Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Kaligangsa 4.659 4.455 9.114
2 Krandon 2.157 2.245 4.402
3 Cabawan 2.159 2.184 4.343
4 Margadana 5.980 5.848 11.828
5 Kalinyamat Kulon 2.214 2.231 4.445
6 Sumurpanggang 3.314 3.359 6.673
7 Pesurungan Lor 2.581 2.528 5.109
Jumlah 23.064 22.850 45.914
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

3.2.4. Pendidikan
Jumlah Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Margadana tahun 2015 ada 25 sekolah,
jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) ada 6 sekolah.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Margadana SMP Negeri 2 dan SMP Swasta
3 , Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 dan MTs Swasta 1.
Tabel III. 21
Jumlah SD/MI di Kecamatan Margadana Tahun 2015
Jumlah
No Kelurahan Sekolah
SD MI
1 Kaligangsa 3 2
2 Krandon 4 1
3 Cabawan 2 0
4 Margadana 8 1
Kalinyamat
5 3 0
Kulon
6 Sumurpanggang 3 1
7 Pesurungan Lor 2 1
Jumlah 25 6
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

Sumber : Survei Lapangan, 2017


Gambar 3.3 Fasilitas Sekolah di Kecamatan Margadana

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-18


LAPORAN AKHIR

3.2.5. Kesehatan
Salah satu tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan status gizi
masyarakat. Jika dilihat tabel presentasi status gizi balita dari tahun 2013 sampai 2015 di
Kecamatan Margadana, status gizi buruk tahun 2013 ada 2,07 persen, tahun 2014 ada 1,93
persen dan tahun 2015 ada 1,47 persen. Balita dengan status gizi kurang tahun 2013 ada 8,32
persen, tahun 2014 ada 6,83 persen, dan tahun 2015 ada 10,78 persen. Sedangkan balita
dengan gizi baik tahun 2013 ada 89,03 persen, tahun 2014 ada 90,69 persen, dan tahun 2015
ada 86,22 persen. Balita dengan status gizi lebih tahun 2013 ada 0,59 persen, tahun 2014 ada
0,55 persen dan tahun 2015 ada 1,45 persen.
Tabel III. 22
Banyaknya Puskesmas di Kecamatan Margadana Tahun 2015
Puskesmas Puskesmas
No Kelurahan Puskesmas
Rawat Inap Pembantu
1 Kaligangsa 1 0 0
2 Krandon 0 0 1
3 Cabawan 0 0 1
4 Margadana 0 0 1
5 Kalinyamat Kulon 0 0 1
6 Sumurpanggang 0 1 0
7 Pesurungan Lor 0 0 1
Jumlah 1 1 5
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

Sumber : Survei Lapangan, 2017


Gambar 3.4 Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Margadana

3.2.6. Prasarana Air Bersih, Limbah & Sampah


Prasarana penunjang kelestarian lingkungan hidup di Kecamatan Margadana yaitu
rumah yang memiliki jamban terbanyak terdapat di Kelurahan Kaligangsa 1.889, Spal 1.889,
sedangkan KK yang menggunakan Air PDAM terbanyak terdapat di Kelurahan Kaligangsa
1.889, Sumur di Kelurahan Kalinyamat Kulon 2.518, Lain-Lain di Kelurahan Kaligangsa 143.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-19


LAPORAN AKHIR

Tabel III. 23
Jumlah Prasarana Penunjang Kelestarian Lingkungan di Kecamatan Margadana Tahun 2015
Jumlah KK yang Menggunakan
Jumlah Rumah yang Memiliki
No Kelurahan Air
Jamban Spal TPS PDAM Sumur Dll

1 Kaligangsa 1.889 1.889 1.694 1.889 1.846 143


2 Krandon 1.530 760 6 1.200 1.692 0
3 Cabawan 1.400 605 690 1.356 1.660 0
4 Margadana 1.853 1.835 2.930 1.495 1.970 0
Kalinyamat 456 2.518 0
5 961 832 3
Kulon
6 Sumurpanggang 1.064 1.120 897 1.705 1.229 0
7 Pesurungan Lor 775 783 994 44 878 0
Jumlah 9.472 7.824 7.214 8.145 11.793 143
Sumber : Kecamatan Margadana Dalam Angka, 2016

3.2.7. Pertanian dan Peternakan


Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan di Kecamatan Margadana
dengan produk unggulannya adalah padi dan bawang merah. Pada tahun 2015 luas tanam
dan produksi padi dan bawang merah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Luas
tanam padi sawah pada tahun 2014 tercatat 528 Ha turun menjadi 416 Ha di ta- hun 2015
ini, sedangkan luas tanam bawang merah sudah dua tahun ini mengalami penurunan dari
171 ha di tahun 2013 turun menjadi 169 ha di tahun 2014, dan turun lagi menjadi 135 Ha di
tahun 2015.
Dengan berkurangnya luas tanam ini tentu saja sangat mempengaruhi produksinya,
produksi padi sawah pada 2014 tercatat sebesar 3.585,8 ton turun menjadi 2.884,21 ton di
tahun 2015 ini, sedangkan produksi bawang merah turun dari 1.859 ton pada tahun 2013
menjadi 1.572,4 ton pada tahun 2014 dan turun lagi menjadi 1.416,42 ton di tahun 2015 ini.
Tabel III. 24
Luas Panen (Ha) dan Produksi (ton) Padi dan Bawang Merah di Kecamatan
Margadana Tahun 2013-2015
No Tahun Luas Panen (ha) Produksi (ton)
Padi Bawang Merah Padi Bawang Merah
1 2013 443 171 2.942 1.859
2 2014 528 169 3.585,8 1.572,4
3 2015 416 135 2.884,21 1.416,42
Sumber : Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal

Sektor peternakan di Kecamatan Margadana tahun 2015 untuk populasi ternak besar
mengalami peningkatan dari tahun 2014 setelah sebelumnya mengalami penurunan di tahun
2014, sedangkan untuk populasi ternak kecil cenderung mengalami penurunan dari tahun
sebelumnya. Populasi ternak unggas untuk jenis unggas ayam buras dan itik terus mengalami
penurunan dari tahun 2013 yang tentunya juga berpengaruh pada produksi telurnya, tahun
2013 produksi telur ayam buras sebanyak 12.446 butir pada tahun 2014 mengalami
peningkatan produksi menjadi 14.964 butir dan di tahun 2015 ini mengalami penurunan
produksi telur menjadi 12.906 butir, sedangkan produksi telur itik walaupun populasinya

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-20


LAPORAN AKHIR

mengalami penurunan di tahun 2015 tetapi untuk produksi telur itik menalami peningkatan dari
produksi telur sebanyak 1.645.924 butir pada tahun 2014 menjadi 2.069.638 butir pada tahun
2015.
Tabel III. 25 Luas
Populasi Ternak Besar di Kecamatan Margadana Tahun 2013-2015
No Jenis Ternak 2013 2014 2015
1 Sapi 4 2 6
2 Kerbau 20 17 24
3 Kambing 576 616 595
4 Domba 638 628 635
Sumber : Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal

Tabel III. 26
Luas Populasi Ternak Unggas di Kecamatan Margadana Tahun 2013-2015
No Jenis Ternak 2013 2014 2015
1 Ayam Ras 17.500 0 10.000
2 Ayam Buras 14.615 14.534 12.535
3 Itik 265.382 263.510 263.042
Sumber : Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal

Tabel III. 27
Produksi Telur Unggas di Kecamatan Margadana Tahun 2013-2015
No Telur 2013 2014 2015
1 Ayam Buras 12.446 14.964 12.906
2 Itik 1.670.498 1.645.924 2.069.638
Sumber : Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal

Sumber : Survei Lapangan, 2017


Gambar 3.5 Peternakan Unggas di Kecamatan Margadana

3.3. Lokasi Perencanaan Sport Center


Site Lokasi Sport Center Kota Tegal berada di Jalan Kapten Samadikun Kelurahan
Pesurungan Lor, Kecamatan Margadana Kota Tegal. Lokasi ini dulunya merupakan kawasan
tambak ikan di Kecamatan Margadana.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-21


LAPORAN AKHIR

Sumber : Survei Lapangan, 2017


Gambar 3.6 Lokasi Pembangunan Sport Center di Kecamatan Margadana

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-22


LAPORAN AKHIR

Jalan Kapten Samadikin, Keluruhan Pesurungan Lor,


Kecamatan Margadana

Lokasi Sport Center Kota


Tegal

Gambar 2. 1 Denah Lokasi Pembangunan Sport Center di Kecamatan Margadana


Sumber : Survei Lapangan, 2017

Jalan Arteri Primer (Jalan


Nasional) :
Jl.Kolonel Sugiono

Sumber : Survei Lapangan, 2017


Gambar 3.7 Denah Lokasi Pembangunan Sport Center di Kecamatan Margadana

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-23


LAPORAN AKHIR

Pelabuhan Tegal
Jln. Sipelem

Jln. Kolonel Sugiono


Jln. Kapten Piere Tendean

Jln. Yos Sudarso Jln. Martoyolo

Jln. Dr Cipto Mangunkusumo

Ke Arah

Ke Arah Brebes

Terminal Tipe A Kota Alun – Alun Kota Tegal GOR Yos Sudarso Kota Stasiun Besar Tegal
Tegal Tegal

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-24


LAPORAN AKHIR

Lokasi Pembangunan Sport Center


Jalan Kapten Samadikin, Keluruhan
Pesurungan Lor, Kecamatan

Jln. Dr Cipto Jln Mataram Jln Kapten Samadikin


Mangunkusumo

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL III-25


LAPORAN AKHIR

6m

0,75 m 0,75 m

Sumber: Tim Penyusun, 2017


Gambar 3.8 Penampang Geometri Jalan Kapten Samadikun

4m
0,75 m 0,75 m
Sumber: Tim Penyusun, 2017
Gambar 3.9 Penampang Geometri Jalan Mataram

8m 8m

0,75 m 0,75 m

Sumber: Tim Penyusun, 2017


Gambar 3.10 Penampang Geometri Jalingkut

III-26
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Identifikasi Kebijakan Perencanaan dan Pengembangan Kota Tegal

Pembangunan Sport Centre di Kota Tegal tentunya harus melihat berbagai


perspektif kebijakan dan tidak hanya berpacu pada rencana tata ruang wilayah. RPJP
Provinsi yang diturunkan menjadi RPJP Kota/Kabupaten dan dirinci menjadi RPJMD
haruslah selaras dengan RTRW dan RDTR yang berorientasi pengaturan kebijakan
dalam sisi penataan ruang (spasial). Akan tetapi hal tersebut masih bersifat umum.
Sehingga dari penyelarasan antara RTRW dengan RPJP dan RPJMD haruslah
ditranslasikan menjadi Renstra (Rencana Strategis) dan Renja (Rencana Kerja) OPD.

Sumber : Pranata Perencanaan Indonesia, 2016.


Gambar 4.1 Skema Perencanaan dan Pembangunan Indonesia

Seperti yang terlihat pada skema di atas, bahwa dari RTRW dan RPJPD dan
RPJMD harus memiliki keselarasan di dalamnya yang dimana nantinya akan dituangkan
atau dijabarkan dalam Renstra OPD. Dari Renstra OPD tersebut nantinya akan dilakukan
penjabaran dan penganggaran dalam RKPD (Rencana Kerja Perangkat Daerah).
Sehingga proses top-down di atas haruslah selaras antar pembuat kebijakan dimana
RTRW dan RPJMD tetap menjadi haluan utama dalam proses perencanaanya. Berikut
adalah penjelasan terkait keselarasan dalam perencanaan dan pembangunan wilayah
dalam sisi kebijakan yang berlaku di Indonesia :

IV-1
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : Pranata Penyelenggaraan Penataan Ruang, 2016


Gambar 4.2 Alur Keselarasan Kebijakan Penataan Ruang dan Pembangunan Wilayah

Sedangkan Kota Tegal sebagai wilayah kajian ini memiliki keterhubungan antara
RPJM, RTRW dan nantinya akan dijabarkan dalam Renstra OPD seperti Gambar 4.2 di
atas yaitu sebagai berikut :

Sumber : RTRW Kota Tegal, 2011-2031


Gambar 4.3 Skema Perencanaan dan Alur Kebijakan Penataan Ruang dan
Pembangunan Kota Tegal

IV-2
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.2. Analisis Kebijakan Pendukung Pembangunan Sport Centre


Di dalam perencanaan dan pembangunan Sport Centre tentunya diperlukan kebijakan-
kebijakan yang mendukung didalamnya. Kebijakan yang digunakan dalam kajian ini adlaah
RPJMD dan Renstra OPD. RTRW digunakan pada proses analisis secara keruangan sehingga
terpisah dari analisis kebijakan pada pembahasan sub bab kali ini. Rentra OPD yang digunakan
terkait perencanaan dan pembangunan Sport Centre kali ini adalah Dinas Pemuda Olahraga
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tegal sedangkan RPJMD yang digunakan adalah Peraturan
Daerah Kota Tegal Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Tegal Tahun 2014-2019.

4.2.1. Analisis Kebijakan RPJMD terkait Sport Centre


Kota Tegal sebagai salah satu wilayah perkotaan yang sedang berkembang
tentunya memiliki peluang dan tantangan didalamnya. Salah satunya adalah terkait
keberadaan pemuda dalam kontribusi kota. Kota Tegal merupakan kota dengan
dinamika penduduk dimana jumlah usia produktif yang cukup mendominasi. Hal tersebut
merupakan peluang bagi Kota Tegal dalam perencanaan dan pengembangan ke
depannya. Hal tersebut pada hakikatnya telah menjadi salah satu fokus Pemerintah
Kota Tegal yang tercermin dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Tegal). Dimana dalam RPJMD Kota Tegal disebutkan dalam bidang
kepemudaan dan olahraga yaitu Pemerintah Kota Tegal melakukan fasilitasi
pelaksanaan kegiatan olahraga dalam rangka menjaring SDM keolahragaan yang baik
dan berprestasi. Sebanyak 3 cabang olahraga unggulan yang menjadi andalan Kota
Tegal adalah Pencak Silat, Renang, dan Tenis Lapangan. Prestasi keolahragaan di Kota
Tegal sudah cukup bagus di wilayah Jawa Tengah. Oleh karena itu upaya pembinaan
terhadap berbagai cabang olahraga perlu ditingkatkan. Pembinaan tersebut bisa
dilakukan melalui cabang-cabang olahraga yang ada. Sampai tahun 2013 cabang
olahraga yang ada di Kota Tegal meningkat dari 24 menjadi 26. Sehingga perlu
pengembangan ke depannya agar prestasi olahraga tersebut terus meningkat yang
diseimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.

IV-3
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV.1
Tabel Capaian Kinerja OPD Bidang Pemuda dan Olahraga
Capaian
No Indikator
2009 2010 2011 2012 2013
1. Jumlah kegiatan kepemudaan 3 7 13 6 3

2. Jumlah organisasi pemuda NA NA 20 20 20

3. Jumlah organisasi olahraga NA NA 24 26 26

4. Jumlah kegiatan olahraga 5 4 4 4 5

5. Jumlah Cabang Olahraga 3 3 3 3 3


Berprestasi

6. Gelanggang /Balai Remaja 4 5 6 6 6


(selain milik swasta)

7. Jumlah gedung olahraga 2 2 2 2 2

8. Lapangan olahraga NA NA NA 132 132


Sumber : RPJMD Kota Tegal, Tahun 2014-2019

Terlihat pada tabel di atas bahwa jumlah cabang cabang olahraga yang berprestasi dari tahun
ke tahun mengalami kestabilan dan hal tersebut juga selaras dengan tidak adanya peningkatan
penyediaan sarana dan prasarana di dalamnya. Sehingga hal tersebut kemudian menjadi isu
strategis dalam penyusunan RPJMD Kota Tegal bidang kepemudaan dan olahraga yaitu :
1. Masih rendahnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana kegiatan kepemudaan dan
olahraga. Kondisi ini terlihat dari jumlah sarana dan prasarana kepemudaan baru ada 6 unit,
sedangkan untuk sarana prasarana olah raga dari sisi kuantitas dan kualitas masih kurang
memadai, yaitu baru ada 132 lapangan olahraga dan 2 unit gedung olahraga;
2. Masih minimnya prestasi pemuda di tingkat regional dan nasional. Hal ini disebabkan belum
optimalnya fasilitasi pemerintah terhadap kegiatan kepemudaan dan olahraga. Kondisi ini
tercermin dari pelaksanaan kegiatan kepemudaan dan olahraga yang masih kurang, yaitu
sebanyak 3 kegiatan kepemudaan;
3. Masih minimnya cabang olahraga yang mempunyai prestasi di event tingkat regional maupun
nasional. Kondisi ini terlihat dari masih minimnya jumlah cabang olahraga berprestasi di Kota
Tegal yaitu sebanyak 3 cabang olahraga.
Isu strategis tersebut kemudian dijadikan tujuan dan sasaran serta arahan rekomendasi
RPJMD yang kemudian dijadikan indikasi rencana program prioritas RPJMD dalam misi
Mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas, berbudi pekerti luhur dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan dan sasaran serta arahan kebijakan yang inline
yaitu :

IV-4
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV. 2
Keselarasan RPJMD terhadap Pembangunan Sport Centre

Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


g. Meningkatkan a. Meningkatnya a. Meningkatkan keberdayaan a. Peningkatan peran serta
keberdayaan keberdayaan organisasi pemuda melalui kepemudaan dalam
organisasi organisasi pembinaan pembangunan
pemuda dan pemuda terhadap diprioritaskan pada
prestasi olah organisasi kepemudaan, peningkatan kualitas
raga dan pelatihan wirausaha organisasi kepemudaan
bagi pemuda. dan penumbuhan
kewirausahaan serta
kecakapan hidup
pemuda.

b. Meningkatnya b. Meningkatnya sarana b. Peningkatan sarana


sarana dan
dan dan prasarana
prasarana olahraga
prasarana olahraga olahraga untuk
melalui mendukung
pembangunan penyelenggaraan
gedung olahraga kompetisi olahraga

c. Meningkatnya c. Meningkatnya prestasi olah c. Peningkatan pembinaan


prestasi olah raga Kota Tegal melalui atlet dan
raga Kota Tegal pembinaan atlet, penyelenggraan
peningkatan kompetisi olah raga
penyelenggaraan kompetisi terutama pada kategori
olahraga. olah raga prestasi.

Sumber : RPJMD Kota Tegal, Tahun 2014-2019

IV-5
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.2.2. Analisis Kebijakan Renstra OPD terkait Sport Centre


Pemerintah Kota Tegal telah ditetapkan sebagai tuan rumah pelaksanaan Pekan
Olahraga Provinsi (PORPROV) tahun 2017. Hal ini berdasarkan Keputusan Gubernur
Jawa Tengah Nomor 426/117 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekan Olahraga
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 di Kota Tegal. Berkaitan dengan hal tersebut maka
dibutuhkan kerjasama terpadu dari seluruh elemen masyarakat agar kepercayaan yang
telah diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat kita laksanakan. Persiapan
sarana dan prasarana yang representative untuk kegiatan Pekan Olahraga Provinsi
(PORPROV) Tahun 2017 haruslah direncanakan dengan baik dan matang, dan salah
satu rencana Pemerintah Kota Tegal dalam rangka menyukseskan kegiatan Pekan
Olahraga Provinsi (PORPROV) tersebut adalah akan dibangunnya sebuah kawasan
olahraga (SPORT CENTRE) di Kel. Pesurungan Lor, Kec. Margadana. Namun
berdasarkan Perda Kota Tegal No. 4 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) area yang direncanakan untuk kawasan olahraga (SPORT CENTRE) di Kel.
Pesurungan Lor, Kec. Margadana tersebut adalah kawasan peternakan.
Koordinasi dan kajian yang telah dilaksanakan sejauh ini menyatakan bahwa
diperlukan dokumen Amdal dan Perda tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang
mengatur pembangunan kawasan olahraga (SPORT CENTRE) di lokasi tersebut agar
pembangunannya tidak menyalahi Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
yang sudah ada. Dibutuhkan koordinasi dan kerjasama yang lebih intensive lagi baik
antar OPD, antara eksekutif legistaltif, dan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
agar dokumen Amdal dan Perda tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang
dibutuhkan sebagai dasar hukum pembangunan kawasan olahraga (SPORT CENTRE) di
Kel. Pesurungan Lor, Kec. Margadana dapat terealisir. Secara umum telaahan terhadap
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
tertuang dalam tabel berikut ini :

IV-6
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV. 3
Keselarasan Pembangunan Sport Centre dalam Renstra OPD Dinpora
Faktor
No Rencana Permasalahan
Penghambat Pendorong
1 Pembangunan Berdasarkan Belum adanya Komitmen
Kawasan Perda Kota dokumen Amdal eksekutif dan
Olahraga Tegal No. 4 dan Perda legistlatif untuk
(SPORT Tahun 2012 tentang menyukseskan
CENTRE) untuk tentang Rencana Detail PORPROV
PORPROV Tahun Rencana Tata Tata Ruang Tahun 2017 di
2017di Kel. Ruang (RDTR) yang Kota Tegal serta
Pesurungan Lor, Wilayah dibutuhkan adanya dukungan
Kec. Margadana (RTRW) sebagai dasar dari Pemerintah
kawasan hukum Provinsi Jawa
tersebut pembangunan Tengah
adalah kawasan
kawasan olahraga
peternakan (SPORT
CENTRE) di
lokasi tersebut
Sumber : Rencana Strategis Dinpora, Tahun 2014-2019

4.3. Analisis Pengembangan Wilayah Perencanaan Terhadap Sport Centre


Analisis pengembangan wilayah didasarkan pada struktur ruang kota dan pola
ruang kota yang dimana di dalamnya terdapat aspek-aspek dalam proses pengembangan
Kota Tegal ke depannya seperti Isu Strategis dalam perencanaan Kota Tegal. Dalam
analisis ini akan dikaji dalam lingkup wilayah secara makro dan mikro.
4.3.1 Analisis Struktur Ruang Perkotaan
4.3.1.1 Struktur Ruang Kota Tegal
Program pembangunan sistem prasarana umumnya dibeberapa daerah
menyimpulkan bahwa pada program jangka menengah dengan fokus pada peningkatan
kebutuhan dasar dan konektivitas manusia, mulai dari air, listrik, energi, hingga
transportasi (jalan raya, kereta api, pelabuhan, dan bandara). Pengembangan sistem
prasarana perkotaan diwujudkan sesuai dengan fungsi pelayanan kegiatan kota pada
masing-masing kawasan. Fungsi-fungsi pelayanan tersebut terwujud dalam intensitas
aktivitas pada struktur dan pola ruang kota. Pengembangan sistem prasarana kota, yang
meliputi jalan, air bersih, drainase, energi dan telekomunikasi serta sampah dan sanitasi,
bertujuan untuk mendukung pengembangan aktivitas sesuai dengan hierarki pelayanan

IV-7
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

yang telah ditentukan. Rencana sistem prasarana perkotaan Kota Tegal dapat dijabarkan
dalam tabel berikut ini:
Tabel IV.4
Kebijakan Pengembangan Perwujudan Struktur Ruang Kota Tegal Menurut
RTRW Kota Tegal Tahun 2011-2031
No. Struktur Ruang Rencana/ Kebijakan Pengembangan
Rencana penetapan pusat pelayanan
PPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a berada di
Kecamatan Tegal Timur dengan fungsi utama meliputi
Pusat Pelayanan Kota pemukiman, pusat pemasaran dan perdagangan, pusat
(PPK) perhubungan dan telekomunikasi, pusat kegiatan usaha jasa
dan produksi, serta pusat pelayanan sosial (pendidikan,
kesehatan, peribadatan)
SPPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b meliputi:
a. SPPK Bandung memiliki fungsi untuk pelayanan
permukiman yang meliputi wilayah kecamatan Tegal
Selatan;
b. SPPK Kraton memiliki fungsi untuk pelayanan perdagangan
Sub Pusat Pelayanan dan jasa yang meliputi wilayah kecamatan Tegal Barat;
Kota (SPPK) c. SPPK Kejambon memiliki fungsi untuk pelayanan
permukiman, pendidikan, perdagangan dan jasa yang
meliputi wilayah Kecamatan Tegal Timur; dan
1. d. SPPK Sumurpanggang memiliki fungsi untuk pelayanan
permukiman dan pendidikan meliputi wilayah Kecamatan
Margadana.
Rencana PL sebagaimana dimaksud terdapat di masing–
masing SPPK, meliputi :
a. PL di SPPK Bandung terbagi atas PL Kalinyamat Wetan, PL
Bandung, PL Debong Kidul, I4 di Kelurahan PL Tunon, PL
Keturen, PL Debong Kulon, PL Debong Tengah, PL
Randugunting;
b. PL di SPPK Kraton terbagi atas PL Pesurungan Kidul PL
Pusat Lingkungan (PL)
Kelurahan Debong Lor, PL Kemandungan PL Pekauman,
PL Kraton, PL Tegalsari, PL Muarareja ;
c. PL di SPPK Kejambon terbagi atas PL Kejambon, PL
Slerok, PL Panggung, PL Mangkukusuman, PL Mintaragen;
d. PL di SPPK Sumurpanggang terbagi atas PL Kaligangsa,
PL Krandon, IV3 PL Cabawan, PL Margadana, PL
Kalinyamat Kulon, PL Sumurpanggang, PL Pesurungan Lor.
2. Sistem Jaringan Transportasi
Rencana Jaringan Jalan :
1) Jaringan jalan arteri primer status jalan nasional, meliputi :
 Jalan Mertoloyo – Jalan Yos Sudarso;
 Jalan MT Haryono – Jalan Gajah Mada;
 Jalan Mayjen Sutoyo – Jalan Kolonel Sugiono; dan
 Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo – Jalan Dr. Cipto
Mangunkusumo.
2) Jaringan jalan kolektor primer status jalan nasional, meliputi
Sistem Jaringan
:
Transportasi Darat
 Jalan Jend. Sudirman;
 Jalan AR. Hakim – Jalan Sultan Agung; dan
 Jalan K.S. Tubun.
3) Jaringan jalan kolektor sekunder dengan status jalan kota,
yakni Jalan Kapten Sudibyo
4) Jaringan jalan lokal sekunder status jalan kota, meliputi:
 Jalan Perintis Kemerdekaan;
 Jalan Blanak – Jalan Brawijaya;
 Jalan RA Kartini – Jalan Menteri Supeno;

IV-8
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Struktur Ruang Rencana/ Kebijakan Pengembangan


 Jalan HOS Cokroaminoto;
 Jalan Pancasila – Jalan KH. Mansyur – Jalan KH. Wahid
Hasyim;
 Jalan Brig. Jend Katamso - Jalan Kapten Ismail – Jalan
Dr Sutomo;
 Jalan Hangtuah – Jalan Letjen Suprapto – Jalan DI.
Panjaitan – Jalan Setia Budi – Jalan Serayu;
 Jalan Slamet Riyadi – Jalan Proklamasi – Jalan S.
Parman;
 Jalan Sultan Hasanudin – Jalan Teuku Cik Ditiro;
 Jalan Ki Hajar Dewantoro;
 Jalan Semeru – Jalan Kolonel Sudiarto;
 Jalan Hanoman;
 Jalan Pemuda – Jalan Veteran – Jalan A. Yani – Jalan P.
Diponegoro;
 Jalan Yos. Sudarso – Jalan Kapt. Piere Tendean;
 Jalan Mataram;
 Jalan Sumbodro – Jalan Arjuna;
 Jalan Werkudoro;
 Jalan Teuku Umar; dan
 Jalan Kompol Suprapto.
5) Peningkatan jaringan jalan lingkungan;
6) Rencana Pembangunan Jalan Baru meliputi :
 Jalan By Pass Tegal – Brebes;
 Jalan lingkungan di kawasan pengembangan
permukiman; dan
 Jalan lingkungan di kawasan peruntukan industri.
7) Pengembangan simpang susun dengan rel kereta api di
Kecamatan Tegal Selatan dan Kecamatan Tegal Timur.
Rencana sistem prasarana lalu lintas:
1) Penataan Terminal Kota Tegal Tipe A Berada di Kelurahan
Sumurpanggang Kecamatan Margadana.
2) Peningkatan Keselamatan Jalan di Ruas–Ruas Jalan Arteri,
Jalan Kolektor dan Jalan Lokal dengan Perlengkapan Jalan.
3) Penyediaan Sarana dan Prasarana Angkutan Massal.
4) Penataan Halte Angkutan Kota Berada disetiap Bangkitan
dan Tarikan Lalu Lintas yang Menggunakan Angkutan
Umum.
Rencana sistem angkutan jalan :
1) Angkutan Antarkota Antar Propinsi meliputi angkutan umum
yang menghubungkan Semarang–Tegal–Cirebon, Tegal–
Jakarta, Purwokerto–Tegal–Bandung.
2) Rencana angkutan umum antar kota dalam propinsi antara
lain angkutan umum yang menghubungkan Tegal – Slawi,
Tegal – Pekalongan, Tegal – Purwokerto, Tegal –
Pemalang, Tegal–Randudongkal, Tegal–Bumijawa dan
Tegal–Brebes–Losari.
3) Rencana angkutan perkotaan meliputi angkutan umum
yang melayani kawasan permukiman dan
fasilitas pelayanan perkotaan.
Rencana Sistem Jaringan Kereta Api meliputi :
a. Peningkatan jalur kereta api yang menghubungkan Kota
Tegal dengan Kota Purwokerto melalui jalur selatan serta
Rencana Sistem ke Kota Semarang dan Jakarta melalui jalur utara;
Jaringan Kereta Api b. Pengembangan jalur kereta api yang menghubungkan
Semarang – Tegal – Slawi/ Brebes;
c. Peningkatan stasiun kereta api Kota Tegal; dan
d. Peningkatan dan penanganan perlintasan sebidang dengan

IV-9
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Struktur Ruang Rencana/ Kebijakan Pengembangan


jalan raya.
Sistem Jaringan Transportasi Laut meliputi :
Sistem Jaringan a. Alur pelayaran antar pulau;
Transportasi Laut b. Pelabuhan Tegal sebagai pelabuhan pengumpul dengan
lokasi di Kelurahan Tegalsari Kecamatan Tegal Barat.
Saluran Udara Tegangan Tinggi;
Rencana Saluran Udara Tegangan Tinggi meliputi :
a. Daerah prioritas I pengembangan pelayanan listrik sebagian
Kecamatan Tegal Barat yaitu sebagian Kelurahan
Muarareja dan Kecamatan Margadana yaitu Kelurahan
Pesurungan Lor;
b. Daerah prioritas II pengembangan pelayanan listrik
sebagian wilayah di Kecamatan Margadana.
Bangunan Pengelolaan Jaringan Listrik;
a. Rencana peningkatan gardu listrik di pusat pelayanan kota
Rencana Sistem
3. dan seluruh sub pusat pelayanan kota.
Jaringan Energi
b. Rencana penyediaan listrik di Kota Tegal pada tahun 2030
sebesar kurang lebih 150.000 (seratus lima puluh ribu) kilo
Volt Ampere.
Jaringan minyak dan gas :
Rencana jaringan minyak dan gas meliputi :
a. Jaringan pipa transmisi dari Semarang dan Cilacap yang
melayani depo minyak di Kelurahan Slerok;
b. Pelayanan energi gas minyak cair melalui Stasiun Pompa
Bahan BakarElpiji; dan
c. Pembangunan pipa gas Cirebon – Tegal – Semarang.
Rencana prasarana sistem jaringan telekomunikasi meliputi
:
a. Pengembangan prasarana telekomunikasi sistem kabel dan
sistem seluler;
b. Pembangunan dan peningkatan jaringan primer
telekomunikasi dengan mengikuti pola jaringan jalan arteri,
Rencana Sistem
kolektor dan lokal;
4. Jaringan
c. Pembangunan menara telekomunikasi berupa
Telekomunikasi
pembangunan menara telekomunikasi bersama di setiap
SPPK;
d. Penataan dan pengaturan lokasi menara telekomunikasi
bersama diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota; dan
e. Penyediaan sistem hot spot atau sejenisnya di setiap
SPPK.
Jaringan Irigasi;
a. Penanganan terhadap Daerah Aliran Sungai meliputi :
 Daerah aliran sungai Gung;
 Daerah aliran sungai Wadas; dan
Rencana Sistem
5.  Daerah aliran sungai Gangsa.
Sumber Daya Air
b. Penanganan terhadap Daerah Irigasi meliputi :
 Daerah irigasi Pesayangan ;
 Daerah irigasi Gangsa Lumingser; dan
 Daerah irigasi Sidapurna.
Rencana sistem air minum kota;
Rencana sistem air minum meliputi :
a. Peningkatan air minum yang bersumber dari bumijawa dan
Kali Giri Kabupaten Brebes sebesar kurang lebih 190
Rencana Sistem (seratus sembilan puluh) liter/detik meliputi :
6.
Infrastruktur Perkotaan  Rencana peningkatan sistem jaringan primer yang
melalui jalan Sultan Agung – jalan Pancasila;
 Rencana peningkatan sistem jaringan sekunder yang
melalui jalan a.yani – jalan Gadjahmada – jalan Veteran
– jalan Sudirman – jalan Kapt. Sudibyo – jalan Kapt.

IV-10
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Struktur Ruang Rencana/ Kebijakan Pengembangan


Ismail.
b. Pengembangan air minum bersumber dari Suniarsih,
Banyumudal Kabupaten Tegal dan Tuk Suci Kabupaten
Brebes sebesar kurang lebih 200 (dua ratus) liter/detik
meliputi:
 Rencana peningkatan sistem jaringan primer yang
melalui tepi sungai kemiri – jalan dr. Cipto
Mangunkusumo;
 Rencana peningkatan sistem jaringan sekunder yang
melalui jalan Ki Hajar Dewantoro – jalan Teuku Cik Di
Tiro – jalan Teuku Umar.
c. Peningkatan kualitas air bersih menjadi air minum di
kawasan fasilitas pelayanan umum.
d. Pengembangan sumber daya air yang lain sesuai dengan
daya dukung lingkungan.
Rencana sistem air limbah kota;
a. Pengolahan limbah dilayani dengan instalasi pengolah
lumpur tinja dan instalasi pengolah air limbah skala kota di
daerah Kelurahan Muarareja Kecamatan Tegal Barat;
b. Pengambilan limbah dilakukan pengangkutan
menggunakan kendaraan/truk penyedot limbah dari
tempat bermukim;
c. Penambahan sarana pengangkutan dalam pengelolaan
limbah agar tidak terjadi penumpukan pada setiap
kecamatan atau SPPK; dan
d. Pengembangan sistem pengolahan limbah bahan
berbahaya dan beracun dengan memperhatikan prinsip
kelestarian lingkungan.
Rencana sistem drainase kota;
a. Peningkatan polder kaligangsa berfungsi untuk
penanggulangan genangan banjir serta sistem irigasi;
b. Peningkatan saluran pembuangan permukiman,
bangunan–bangunan umum lainnya meliputi :
1.Saluran pembuangan siwatu;
2. Saluran pembuangan singkil;
3. Saluran pembuangan siwareng;
4. Saluran pembuangan demak;
5. Saluran pembuangan werak;
6. Saluran pembuangan pakang;
7. Saluran pembuangan tuntang;
8. Saluran pembuangan gempol;
9. Saluran pembuangan sibelis;
10. Saluran pembuangan abdul sukur;
11. Saluran pembuangan pesurungan;
12. Saluran pembuangan muarareja;
13. Saluran pembuangan pesing;
14. Saluran pembuangan brawijaya;
15. Saluran pembuangan sadikun;
16. Saluran pembuangan margadana;
17. Saluran pembuangan mataram;
18. Saluran pembuangan blabat;
19. Saluran pembuangan lemah duwur;
20. Saluran pembuangan cabawan;
21. Saluran pembuangan jaya kanan;
22. Saluran pembuangan gangsa lama;dan
23. Saluran pembuangan jaya kiri.
c. Peningkatan jaringan irigasi untuk pengairan sawah
sebagai berikut;
1. Saluran sekunder sidapurna;

IV-11
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Struktur Ruang Rencana/ Kebijakan Pengembangan


2. Saluran sekunder margadana;
3. Saluran sekunder Tegalwangi;dan
4. Saluran sekunder lemah duwur.
d. Pengembangan jaringan drainase sekunder sepanjang
jalan dr. Cipto, jalan mataram, jalan kapten tendean, jalan
yos sudarso, dan jalan by pass Tegal – brebes.
Pembangunan prasarana persampahan
a. TPS
 Kelurahan Kraton
 Kelurahan Kalinyamat Wetan
 Kelurahan Mintaragen
 Kelurahan Slerok
 Kelurahan Cabawan.
b. Tempat pengolahan sampah
 Kelurahan Muarareja
Sumber : RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031

IV-12
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sistem Jaringan Energi :


- Rencana penyediaan listrik di Kota
Tegal pada tahun 2030 sebesar kurang
lebih 150.000 (seratus lima puluh ribu)
kilo Volt Ampere.
- Pembangunan pipa gas Cirebon – Tegal
– Semarang.

Rencana Pembangunan Jalan Baru:


- Jalan By Pass Tegal – Brebes;
- Jalan lingkungan di kawasan
pengembangan permukiman; dan
- Jalan lingkungan di kawasan
peruntukan industri.

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.4 Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Kota Tegal Tahun 2011-2031

IV-13
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.3.1.2 Struktur Ruang Wilayah Perencanaan


Struktur ruang adalah susunan pusat–pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Rencana struktur ruang
Kota Tegal meliputi :
 Rencana Sistem Pusat Pelayanan;
 Rencana Sistem Jaringan Transportasi;
 Rencana Sistem Jaringan Energi Listrik;
 Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi;
 Rencana Sistem Infrastuktur Perkotaan, Meliputi :
a) Rencana sistem air minum
b) Rencana sistem drainase
c) Rencana prasarana persampahan
d) Rencana prasarana pengelolaan Limbah
(1) Rencana Sistem Pusat Pelayanan
Lokasi Perencanaan Sport Center di Kelurahan Pesurungan Lor merupakan bagian dari
Sub Pusat Pelayanan Kota (SPPK Sumurpanggang) dengan fungsi utama untuk pelayanan
permukiman dan pendidikan. Sub Pusat Pelayanan Kota (SPPK Sumurpanggang) sendiri
meliputi wilayah Kecamatan Margadana. adapun Pusat Lingkungan (PL) yang berada di
SPPK Sumurpanggang terbagi atas :
 PL Kaligangsa,
 PL Krandon,
 PL Cabawan,
 PL Margadana,
 PL Kalinyamat Kulon,
 PL Sumurpanggang,
 PL Pesurungan Lor.
Pusat Lingkungan yang selanjutnya disingkat dengan PL adalah pusat pelayanan
ekonomi, sosial dan/atau administrasi lingkungan.

IV-14
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Lokasi Perencanaan Sport Center di


Kelurahan Pesurungan Lor merupakan
bagian dari Sub Pusat Pelayanan Kota
(SPPK Sumurpanggang) dengan fungsi
utama untuk pelayanan permukiman
dan pendidikan.

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.5. Peta Sistem Pusat Pelayanan Kota
Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-15
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

(2) Rencana Sistem Jaringan Transportasi;


Rencana Sistem jaringan transportasi pada lokasi perencanaan sebagaimana tertuang
dalam Peraturan Daerah Kota Tegal Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Tegal Tahun 2011– 2031 terdiri dari perencanaan sistem jaringan
transportasi sebagai berikut :
1) Peningkatan jaringan jalan lokal sekunder → Jalan Mataram
Jalan Mataram merupakan Akses masuk kedalam Sport Centre melalui samping terminal
Kota Tegal. Jalannya cukup lebar kira-kira 5 m dengan perkerasan Aspal. Jalan ini dilalui
moda transportasi umum berupa angkot. Kelurahan Pesurungan Lor sendiri masuk dalam
administrasi Kecamatan Margadana.
2) Rencana Pembangunan Jalan Baru Jalan By Pass Tegal – Brebes;
Jaringan jalan baru ini lebih dikenal sebagai jalan lingkar utara Tegal, Jalan ini akan tembus
sampai ke Kabupaten Brebes.
3) Peningkatan jaringan jalan lingkungan → Jalan Kapten Samadikun
Jl. Kapt. Samadikun merupakan akses dari jalur utama pantura melewati permukiman untuk
menuju lokasi sport Center
4) Rencana penataan terminal Kota Tegal tipe A berada di Kelurahan Sumurpanggang
Kecamatan Margadana.
Terminal ini nantinya berfungsi Sebagai titik konsentrasi penumpang (traffic consentration)
dari segala arah yang menuju perjalanan ke kawasan sport Center.

a b

c
Sumber :Observasi Lapang
Gambar 4.6. Gambar a) Jalan Mataram b) Jalan Lingkut Tegal c) Jalan Kapten Samadikun

IV-16
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Jaringan jalan baru ini lebih dikenal


sebagai jalan lingkar utara Tegal,
Jalan ini akan tembus sampai ke
Kabupaten Brebes

Peningkatan jaringan jalan lokal


sekunder → Jalan Mataram.
Jalan Mataram merupakan Akses
masuk kedalam Sport Centre
melalui samping terminal Kota
Jl. Kapt. Samadikun merupakan akses
Tegal.
dari jalur utama pantura melewati
permukiman untuk menuju lokasi sport
Center

Rencana penataan terminal Kota Tegal


tipe A berfungsi Sebagai titik konsentrasi
penumpang (traffic consentration) dari
segala arah yang menuju perjalanan ke
kawasan Sport Center

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.7 Peta Rencana Sistem Jaringan Transportasi Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-17
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

(3) Rencana Sistem Jaringan Energi Listrik


Rencana Sistem jaringan Energi pada lokasi perencanaan sebagaimana tertuang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tegal Tahun 2011– 2031 terdiri dari perencanaan
sistem jaringan energi sebagai berikut :
1) Rencana Saluran Udara Tegangan Tinggi daerah prioritas I pengembangan pelayanan listrik
sebagian Kecamatan Tegal Barat yaitu sebagian Kelurahan Muarareja dan Kecamatan
Margadana yaitu Kelurahan Pesurungan Lor.
2) Rencana pengembangan Saluran listrik Primer yang melintasi jalan arteri Jl. Dr Wahidin
3) Rencana Pengembangan Saluran Listrik sekunder (pipa 100) yang melintasi jalan mataram
menuju lokasi Sport Centre Kota Tegal

(4) Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi


Rencana prasarana sistem jaringan telekomunikasi pada lokasi perencanaan
sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Tegal Nomor 4 Tahun 2012 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tegal Tahun 2011– 2031 terdiri dari perencanaan
sistem jaringan telekomunikasi sebagai berikut :
a. pengembangan prasarana telekomunikasi sistem kabel dan sistem seluler;
b. pembangunan dan peningkatan jaringan primer telekomunikasi dengan mengikuti pola
jaringan jalan arteri, kolektor dan lokal;
c. pembangunan menara telekomunikasi berupa pembangunan menara telekomunikasi
bersama di setiap SPPK;
d. penataan dan pengaturan lokasi menara telekomunikasi bersama diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Walikota; dan
e. penyediaan sistem hot spot atau sejenisnya di setiap SPPK.

IV-18
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rencana Sistem Jaringan Listrik


Sekunder yang mengaliri permukiman
warga melewati spanjang Koridor Jalan
Kapten Samadikun

Rencana Sistem Jaringan Listrik


Primer melewati sepanjang Koridor
Jalan Kolonel Sugiono

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.8. Peta Sistem Jaringan Energi Listrik Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-19
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi


Sambungan Kabel Sekunder yang mengaliri
permukiman warga melewati spanjang Koridor
Jalan Kapten Samadikun

Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi


Sambungan Kabel Primer yang mengaliri
permukiman warga melewati spanjang Koridor
Jalan Kolonel Sugiono

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.9 Peta Sistem Jaringan Telekomunikasi Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-20
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

(5) Rencana Sistem Infrastuktur Perkotaan


Rencana prasarana Sistem Infrastuktur Perkotaan pada lokasi perencanaan
sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Tegal Nomor 4 Tahun 2012 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tegal Tahun 2011– 2031 terdiri dari perencanaan
sistem jaringan sebagai berikut :

a) Rencana Sistem Jaringan Air Minum ;


Menurut dokumen RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 rencana pengembangan air
minum di lokasi perencanaan Sport Center adalah pengembangan air minum bersumber
dari Suniarsih, Banyumudal Kabupaten Tegal dan Tuk Suci Kabupaten Brebes sebesar
kurang lebih 200 (dua ratus) liter/detik meliputi :
- rencana peningkatan sistem jaringan primer yang melalui tepi Sungai Kemiri – Jalan Dr.
Cipto Mangunkusumo;
- rencana peningkatan sistem jaringan sekunder yang melalui Jalan Ki Hajar Dewantoro –
Jalan Teuku Cik Di Tiro – Jalan Teuku Umar.
Sedangkan jaringan air minum yang sudah tersambung pada lokasi perencanaan
terdiri dari sambungan pipa primer dan sekunder yang bersumber dari PDAM Kota Tegal
dengan sambungan jaringan sebagai berikut :
a. Jaringan Jaringan Primer yang melintasi jalan arteri Jl. Dr Wahidin dengan pemasangan
Pipa 150 liter/detik
b. Saluran Jaringan sekunder (pipa 100 liter/detik) yang melintasi jalan Kapten samadikun
menuju lokasi Sport Centre Kota Tegal

b) Rencana Sistem Drainase


Rencana sistem drainase pada lokasi perencanaan sebagaimana dimaksud dalam
RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 meliputi ;
a. Peningkatan Polder Kaligangsa berfungsi untuk penanggulangan genangan banjir
serta sistem drainase
b. Peningkatan saluran pembuangan permukiman, bangunan–bangunan umum lainnya
meliputi : Saluran Pembuangan Sibelis dan Saluran Pembuangan Kaligangsa.
c. peningkatan jaringan irigasi untuk pengairan sawah :
Perencanaan sistem jaringan drainase pada lokasi perencanaanaan dimulai dari
pembangunan hulu berupa polder kaligangsa sehingga nantinya aliran air akan
mengikuti saluran Kaligangsa dan bermuara ke sungai sebilis sebagai hilirnya.

c) Rencana Sistem Pengelolaan Persampahan


Rencana sistem Jaringan Persampahan Pada Lokasi Perencanaan sebagaimana
dimaksud dalam RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 meliputi ;

IV-21
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

a. pengembangan Tempat Pemerosesan Akhir sampah di Kelurahan Kaligangsa


Kecamatan Margadana;
b. Pembangunan Tempat Penampungan Sementara dan Tempat Pengolahan Sampah
Terpadu di setiap Kelurahan.

d) Rencana Sistem Pengelolaan Air Limbah


a. Pengolahan limbah dilayani dengan Instalasi Pengolah Lumpur Tinja dan Instalasi
Pengolah Air Limbah skala kota di Kelurahan Muarareja Kecamatan Tegal Barat;
b. Pengambilan limbah dilakukan pengangkutan menggunakan kendaraan/truk
penyedot limbah dari tempat bermukim;
c. Penambahan sarana pengangkutan dalam pengelolaan limbah agar tidak terjadi
penumpukan pada setiap kecamatan atau SPPK ; dan
d. Pengembangan sistem pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun dengan
memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan.

IV-22
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Saluran Jaringan sekunder (pipa 100


liter/detik) yang melintasi jalan Kapten
samadikun menuju lokasi Sport Centre
Kota Tegal (Sumber : PDAM)

Jaringan Jaringan Primer yang melintasi


jalan arteri Jl. Dr Wahidin dengan
pemasangan Pipa 150 liter/detik
(Sumber : PDAM)

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031

Gambar 4.10 Peta Sistem Jaringan Air Minum Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-23
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Peningkatan Polder Kaligangsa berfungsi


untuk penanggulangan genangan banjir
serta sistem irigasi

Peningkatan saluran pembuangan


permukiman, bangunan–bangunan umum
lainnya meliputi : Saluran Pembuangan
Sibelis

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.11 Peta Sistem Jaringan Drainase Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-24
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

TPS smentara yang berada kelurahan


Rencana pengembangan Tempat Muarareaja dekat dengan Lokasi
Pemerosesan Akhir sampah di Perencanaan Sport Centre
Kelurahan Kaligangsa Kecamatan
Margadana.

TPST KSM Kminclong yang berada di


Lokasi Perencanaan Sport Center

Sumber :Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4. 12 Peta Sistem Jaringan Persampahan Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-25
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Pengolahan limbah dilayani dengan


Instalasi Pengolah Lumpur Tinja dan
Instalasi Pengolah Air Limbah skala
kota di daerah Kelurahan Muarareja
Kecamatan Tegal Barat;

Sumber :Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.13 Sistem Jaringan Pengelolaan Air Limbah Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-26
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.3.2. Analisis Pola Ruang Perkotaan


4.3.2.1. Pola Ruang Kota Tegal
Kebijakan pengembangan Tata ruang Kota Tegal dilakukan melalui pengembangan
kawasan budidaya yang terdiri dari kawasan peruntukkan permukiman, perdagangan dan
jasa dan industri dan kawasan pariwisata. Rencana Pengembangan keruangan wilayah
Kota Tegal dapat dijabarkan dalam tabel berikut:
Tabel IV. 5
Kebijakan Pengembangan Keruangan Kota Tegal
No. Rencana Pola Ruang Rencana/Kebijakan Pengembangan
Rencana lokasi pengelompokan perumahan sesuai dengan
kepadatan perumahan meliputi :
a. kepadatan tinggi: Kelurahan Kraton, Kelurahan Pekauman,
Kelurahan Mangkukusuman, Kelurahan Randugunting,
Kelurahan Kejambon, Kelurahan Tegalsari;
b. kepadatan sedang: Kelurahan Slerok, Kelurahan Mintaragen,
Kelurahan Pesurungan Kidul, Kelurahan Kemandungan,
Kelurahan Kaligangsa, Kelurahan Cabawan, Kelurahan
Debong Kidul, Kelurahan Debong Tengah, Kelurahan
Kawasan Perumahan
1.
dan Permukiman Sumurpanggang, Kelurahan Debong Lor, Kelurahan Debong
Kulon, Kelurahan Bandung, Kelurahan Tunon, Kelurahan
Kalinyamat Wetan, Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kelurahan
Keturen, Kelurahan Panggung; dan
c. kepadatan rendah: Kelurahan Pesurungan Lor, Kelurahan
Muarareja, Kelurahan Margadana, Kelurahan Krandon,
Kelurahan Cabawan, Kelurahan Kaligangsa.
d. Rencana penggunaan lahan untuk kawasan perumahan seluas
sekitar 1.800 (seribu delapan ratus) hektar.
Rencana pasar tradisional;
a. Peningkatan kualitas pasar skala pelayanan regional dan/atau
kota meliputi :
 Pasar Pagi di Kelurahan Mangkukusuman;
 Pasar Malam Kelurahan Panggung; dan
 Pasar Beras di Kelurahan Mintaragen.
Kawasan Perdagangan b. peningkatan dan pengembangan pasar skala pelayanan
2.
dan Jasa
kecamatan dan/atau kelurahan meliputi :
 Pasar Langon di Kelurahan Slerok;
 Pasar Kejambon di Kelurahan Kejambon;
 Pasar Randugunting di Kelurahan Randugunting;
 Pasar Martoloyo di Kelurahan Panggung;
 Pasar Bandung di Kelurahan Bandung;

IV-27
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Rencana Pola Ruang Rencana/Kebijakan Pengembangan


 Pasar Sumurpanggang di Kelurahan Sumurpanggang; dan
 Pasar Krandon di Kelurahan Krandon;
c. peningkatan dan pengembangan pasar skala pelayanan
lingkungan meliputi:
 Pasar Karangdawa di Kelurahan Mangkukusuman;
 Pasar Cinde di Kelurahan Kraton;
 Pasar Muaraanyar di Kelurahan Muarareja; dan
 Pasar Debong Kimpling di Kelurahan Bandung.
Rencana pengembangan pusat perbelanjaan dan toko modern
meliputi :
 Pengembangan pusat perbelanjaan dan toko modern ada di
pusat SPPK;
 Pengembangan toko modern di kawasan pusat pelayanan
lingkungan harus memperhatikan kondisi perekonomian
setempat;
 Pengembangan pusat perbelanjaan dan toko modern
direncanakan secara terpadu dengan kawasan sekitarnya
dan wajib memperhatikan kepentingan semua pelaku sektor
perdagangan dan jasa;
 Pengembangan kawasan pertokoan dengan dukungan
akses sekurang–kurangnya jalan lokal sekunder dan sesuai
dengan rencana pola ruang; dan
 Pengaturan pengembangan pusat perbelanjaan dan toko
modern diatur lebih lanjut dalam Peraturan Daerah tentang
Rencana Detail Tata Ruang Kota.
Rencana penggunaan lahan untuk kawasan perdagangan dan jasa
adalah 415 (empat ratus lima belas) hektar atau sekitar 10,5%
(sepuluh koma lima persen) dari luas wilayah kota.
Pengembangan kawasan peruntukan industri meliputi industri besar,
menengah, kecil dan mikro :
 Industri besar dan industri menengah berada di Kawasan
Industri Terpadu di Kecamatan Margadana dan Kecamatan
Tegal Barat;
Kawasan Peruntukan
3.
Industri  Industri kecil dan mikro di Kelurahan Kejambon Kecamatan
Tegal Timur dan Kelurahan Kalinyamat Wetan Kecamatan
Tegal Selatan diarahkan dengan pola kelompok; dan
 Klasifikasi industri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

IV-28
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Rencana Pola Ruang Rencana/Kebijakan Pengembangan


a. Wisata alam pantai meliputi:
 Wisata Pantai Alam Indah; dan
 Kawasan wisata terbuka sebagai kawasan sabuk hijau dan
4. Kawasan Pariwisata
kawasan lindung yang berada di Kelurahan Muarareja.
b. Kawasan pariwisata lain yang berpotensi sebagai kawasan
pariwisata.
Sumber : RTRW Kota Tegal Tahun 2011-2031

IV-29
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

- Rencana Pengembangan Kawasan


perdagangan dan jasa:
- Rencana penggunaan lahan untuk
kawasan perdagangan dan jasa baru 415
(empat ratus lima belas) hektar atau sekitar
10,5% (sepuluh koma lima persen) dari
luas wilayah kota.

Rencana Pembangunan Kawasan


Perumahan dan Permukiman :
- Rencana penggunaan lahan untuk
kawasan perumahan dengan luas
sekitar 1.800 (seribu delapan ratus)
hektar.

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal Tahun 2011-2031


Gambar 4. 14 Peta Kebijakan Pembangunan Keruangan Kota Tegal

IV-30
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.3.2.2. Pola Ruang Wilayah Perencanaan


Kebijakan pengembangan Arahan Tata ruang dilokasi perencanaan dilakukan
melalui pengembangan kawasan lindung dan budidaya. Kawasan Budidaya yang terdiri dari
kawasan peruntukkan permukiman, perdagangan dan jasa dan industri dan kawasan
pariwisata. Rencana Pengembangan keruangan Lokasi Perencanaan Sport Center dapat
dijabarkan dalam tabel berikut:
Tabel IV. 6
Rencana Pola Ruang dan Kebijakan Pengembangan

No. Rencana Pola Ruang Rencana/Kebijakan Pengembangan Di Lokasi Perencanaan

FUNGSI KAWASAN LINDUNG


1) Sempadan Sungai :
Sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam RTRW Kota
Tegal Tahun 2011– 2031 meliputi ;
Kawasan Perlindungan
1.
Setempat  Sungai Kali Gangsa,
 Sungai Kemiri, dan
 Sungai Sibelis.
1) Rencana RTH berupa hutan kota berada di Kelurahan Muarareja
Kecamatan Tegal Barat sebagai buffer di kawasan peruntukan
Kawasan RTH (Ruang industri sepanjang jalan By Pass Tegal – Brebes, Kelurahan
2.
Terbuka Hijau)
Panggung, Kelurahan Randugunting, Kelurahan Kejambon,
Kelurahan Kaligangsa dan Kelurahan Mintaragen.
1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam
RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 meliputi ;
kawasan rawan bencana banjir berada di Kecamatan Margadana,
2) Rencana peningkatan pengelolaan kawasan rawan bencana
alam dilakukan melalui :
 mengembangkan sistem drainase yang mampu mengalirkan
Kawasan Rawan Bencana
3.
Alam air genangan dengan cepat;
 rehabilitasi lahan kritis;
 normalisasi sungai dan saluran; dan
 sosialisasi Program Kali Bersih.

FUNGSI KAWASAN BUDIDAYA

1) Rencana lokasi pengelompokan perumahan sebagaimana

1. Kawasan Perumahan dimaksud dalam RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 meliputi ;
 kepadatan rendah: Kelurahan Pesurungan Lor, Kelurahan

IV-31
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Rencana Pola Ruang Rencana/Kebijakan Pengembangan Di Lokasi Perencanaan

FUNGSI KAWASAN LINDUNG


Muarareja, Kelurahan Margadana,
2) Rencana pengembangan kawasan perumahan kepadatan rendah
sebagaimana dimaksud dalam RTRW Kota Tegal Tahun 2011–
2031 Melalui :
 Peningkatan kualitas prasarana lingkungan perumahan dan
penyediaan ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau;
 Penyediaan prasarana dan sarana umum, meliputi sarana
jalan dan saluran.
3) Rencana penggunaan lahan untuk kawasan perumahan seluas
sekitar 1.800 (seribu delapan ratus) hektar di Seluruh Perkotaan
Tegal.
1) Rencana penggunaan lahan untuk kawasan perdagangan dan
Kawasan Perdagangan dan jasa adalah 415 (empat ratus lima belas) hektar atau sekitar
2.
Jasa
10,5% (sepuluh koma lima persen) dari luas wilayah kota.
Rencana kawasan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam
Rencana kawasan RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 Meliputi :
3.
perkantoran  Peningkatan kawasan perkantoran pemerintah skala
kelurahan dan kecamatan di setiap SPPK
1) Pengembangan kawasan peruntukan industri sebagaimana
dimaksud dalam RTRW Kota Tegal Tahun 2011– 2031 Meliputi :

4. Kawasan Peruntukan Industri industri besar, menengah, kecil dan mikro.


2) Industri besar dan industri menengah berada di Kawasan Industri
Terpadu di Kecamatan Margadana
A. kawasan peruntukan pertanian;
1) Peningkatan pertanian lahan pangan di Kecamatan
Margadana
2) Relokasi budidaya peternakan unggas di Kelurahan
Pesurungan Lor Kecamatan Margadana
B. kawasan peruntukan perikanan;

6. Kawasan Peruntukan lainnya Rencana kawasan meliputi :


 Kawasan Perikanan Budidaya;
 Kawasan Perikanan Tangkap; Dan
 Kawasan Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Perikanan.
C. kawasan peruntukan pelayanan umum;
1) Rencana kawasan peruntukan pelayanan umum meliputi:
a. kawasan pendidikan;

IV-32
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Rencana Pola Ruang Rencana/Kebijakan Pengembangan Di Lokasi Perencanaan

FUNGSI KAWASAN LINDUNG


b. kawasan kesehatan;
c. kawasan peribadatan;
d. kawasan olah raga; dan
e. kawasan seni dan budaya.
2) Pengembangan kawasan pendidikan sebagaimana dimaksud
berupa rencana pengembangan kawasan pendidikan tinggi
dan pendidikan unggulan di wilayah kota
Sumber : RTRW Kota Tegal Tahun 2011-2031

IV-33
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4. 15 Peta Pola Ruang Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-34
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.4. Analisis Dampak Lalu Lintas

Dalam mengevaluasi permasalahan lalu lintas perkotaan perlu ditinjau klasifikasi


fungsional dan sistem jaringan ruas dan persimpangan jalan yang ada. Klasifikasi
berdasarkan fungsi jaringan perkotaan dibedakan antara jalan arteri, kolektor, dan lokal,
sedangkan klasifikasi berdasrakan sistem jaringan terdiri dari jalan primer dan sekunder.
Pada umumnya, permasalahan lalu lintas perkotaan hanya terjadi pada jalan utama,
yang dalam klasifikasi jalan diatasnya termasuk jalan arteri dan kolektor. Pada jalan utama
ini, volume lalu lintas umumnya besar. Kinerja lalulintas perkotaan dapat dinilai dengan
menggunakan parameter lalulintas sebagai berikut.
1. Untuk ruas jalan dapat berupa VCR, kecepatan dan kepadatan lalu lintas
2. Untuk persimpangan, dapat berupa tundaan dan kapasitas sisa
3. Jika tersedia, maka data kecelakanan lalu lintas dapat juga dipertimbangkan dalam
mengevaluasi efektifitas sistem lalu lintas perkotaan.

4.4.1. Kinerja Lalu Lintas di Ruas Jalan


Perhitungan besarnya kapasitas suatu ruas jalan menggunakan rumus menurut
metoda Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997). Berikut ini kalkulasi kinerja lalu
lintas di ruas Jalan Lingkar Utara (JALINGKUT) atau Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo.
Tabel IV.7
Kalkulasi Kinerja Lalu Lintas Di Ruas Jalan Lingkar Utara (JALINGKUT)
Tahap Pra-konstruksi
C 2157 SMP/Jam
Co 2900 SMP/Jam
Fcw 0,87
Fsp 1
FCsf 0,95
FCcs 0,9
Waktu 8 Jam
C 17.257 SMP/hari
VCR 0,86 Arus tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan sudah
mendekati kapasitas (0,85 – 1,00)
Tahap Konstruksi
C 2157,165 SMP/Jam
Co 2900 SMP/Jam
Fcw 0,87
Fsp 1
FCsf 0,95
FCcs 0,9

IV-35
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Waktu 12 Jam
C 25.886 SMP/hari
VCR 0,86 Arus tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan sudah
mendekati kapasitas (0,85 – 1,00)
Tahap Operasi
C 2157,165 SMP/Jam
Co 2900 SMP/Jam
Fcw 0,87
Fsp 1
FCsf 0,95
FCcs 0,9
Waktu 18 Jam
C 38.829 SMP/hari
VCR 0,86 Arus tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan sudah
mendekati kapasitas (0,85 – 1,00)
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan kalkulasi kinerja lalu lintas di ruas jalan, didapatkan nilai VCR pada
tahap pra-konstruksi, konstruksi dan operasi sebesar 0,86, yang dapat didefinisikan arus
tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan sudah mendekati kapasitas (Traffic
Planning and Engineering and Edition Pergamon Press Oxword, 1979). Sedangkan menurut
Saxena (1989) dapat didefinisikan kecepatan rendah, volume mendekati atau sama dengan
kapasitas. Kecepatan operasi antara 50-65 km/jam. Menurut Tamin (1998), tingkat
pelayanan berdasarkan kecepatan perjalanan rata-rata, Jalingkut masuk pada pelayanan
jalan A kelas arteri 1 dengan kecepatan ≥ 56 km/jam. Menurut Tamin (1998), hubungan
pelayanan kecepatan bebas dan kejenuhan lalu lintas pada pelayanan jalan A kelas arteri 1,
yaitu ≥ 90% dari kecepatan bebas dan tingkat kejenuhan lalin ≤ 35%. Perbedaan pada tahap
pra-konstruksi, konstruksi dan operasi adalah besaran kapasitas jalan perkotaan dengan
waktu operasi jalan rata-rata, dimana pada tahap prakonstruksi nilai C sebesar 17.257
SMP/hari, tahap konstruksi nilai C sebesar 25.886 SMP/hari, sedangkan pada tahap operasi
nilai C sebesar 38.829 SMP/hari. Nilai C tahap operasi lebih besar dari tahap konstruksi,
dikarenakan penggunaan jalan dan bangkitan jalan yang meningkat pada saat tahap
operasi.
Berikut ini juga diketengahkan kalkulasi kinerja lalu lintas di ruas Jalan Kapt.
Samadikun.

IV-36
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV.8
Kalkulasi Kinerja Lalu Lintas Di Ruas Jalan Kapt. Samadikun.
Tahap Pra-konstruksi
C 1475 SMP/Jam
Co 1650 SMP/Jam
Fcw 1,08
Fsp 1
FCsf 0,92
FCcs 0,9
Waktu 8 Jam
C 11.804 SMP/hari
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih
VCR 0,83
dapat ditolerir (0,75 – 0,84)
Tahap Konstruksi
C 1475,496 SMP/Jam
Co 1650 SMP/Jam
Fcw 1,08
Fsp 1
FCsf 0,92
FCcs 0,9
Waktu 12 Jam
C 17.706 SMP/hari
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih
VCR 0,83
dapat ditolerir (0,75 – 0,84)
Tahap Operasi
C 1475,496 SMP/Jam
Co 1650 SMP/Jam
Fcw 1,08
Fsp 1
FCsf 0,92
FCcs 0,9
Waktu 18 Jam
C 26.559 SMP/hari
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih
VCR 0,83
dapat ditolerir (0,75 – 0,84)
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan kalkulasi kinerja lalu lintas di ruas jalan, didapatkan nilai VCR pada
tahap pra-konstruksi, konstruksi dan operasi sebesar 0,83, yang dapat didefinisikan arus
mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih dapat ditolerir (Traffic
Planning and Engineering and Edition Pergamon Press Oxword, 1979). Sedangkan menurut

IV-37
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Saxena (1989) dapat didefinisikan arus tidak stabil, kecepatan yang ditoleransi bisa
dipertahankan, hampir sangat dipengaruhi oleh perubahan pada kondisi lalu lintas.
Kecepatan operasi antara 65-80 km/jam. Menurut Tamin (1998), tingkat pelayanan
berdasarkan kecepatan perjalanan rata-rata, Jalingkut masuk pada pelayanan jalan A kelas
arteri 1 dengan kecepatan ≥ 56 km/jam. Menurut Tamin (1998), hubungan pelayanan
kecepatan bebas dan kejenuhan lalu lintas pada pelayanan jalan A kelas arteri 1, yaitu ≥
90% dari kecepatan bebas dan tingkat kejenuhan lalin ≤ 35%. Perbedaan pada tahap pra-
konstruksi, konstruksi dan operasi adalah besaran kapasitas jalan perkotaan dengan waktu
operasi jalan rata-rata, dimana pada tahap prakonstruksi nilai C sebesar 11.804 SMP/hari,
tahap konstruksi nilai C sebesar 17.706 SMP/hari, sedangkan pada tahap operasi nilai C
sebesar 26.559 SMP/hari. Nilai C tahap operasi lebih besar dari tahap konstruksi,
dikarenakan penggunaan jalan dan bangkitan jalan yang meningkat pada saat tahap
operasi.
Berikut ini juga diketengahkan kalkulasi kinerja lalu lintas di ruas Jalan Mataram.
Tabel IV.9
Kalkulasi Kinerja Lalu Lintas Di Ruas Jalan Mataram
Tahap Pra-konstruksi
C 1130 SMP/Jam
Co 1500 SMP/Jam
Fcw 0,91
Fsp 1
FCsf 0,92
FCcs 0,9
Waktu 8 Jam
C 9.042 SMP/hari
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih
VCR 0,83
dapat ditolerir (0,75 – 0,84)
Tahap Konstruksi
C 1130 SMP/Jam
Co 1500 SMP/Jam
Fcw 0,91
Fsp 1
FCsf 0,92
FCcs 0,9
Waktu 12 Jam
C 13.563 SMP/hari
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih
VCR 0,83
dapat ditolerir (0,75 – 0,84)

IV-38
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tahap Operasi
C 1130,22 SMP/Jam
Co 1500 SMP/Jam
Fcw 0,91
Fsp 1
FCsf 0,92
FCcs 0,9
Waktu 18 Jam
C 20.344 SMP/hari
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih
VCR 0,83
dapat ditolerir (0,75 – 0,84)
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan kalkulasi kinerja lalu lintas di ruas jalan, didapatkan nilai VCR pada
tahap pra-konstruksi, konstruksi dan operasi sebesar 0,83, yang dapat didefinisikan arus
mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih dapat ditolerir (Traffic
Planning and Engineering and Edition Pergamon Press Oxword, 1979). Sedangkan menurut
Saxena (1989) dapat didefinisikan arus tidak stabil, kecepatan yang ditoleransi bisa
dipertahankan, hampir sangat dipengaruhi oleh perubahan pada kondisi lalu lintas.
Kecepatan operasi antara 65-80 km/jam. Menurut Tamin (1998), tingkat pelayanan
berdasarkan kecepatan perjalanan rata-rata, Jalingkut masuk pada pelayanan jalan A kelas
arteri 1 dengan kecepatan ≥ 56 km/jam. Menurut Tamin (1998), hubungan pelayanan
kecepatan bebas dan kejenuhan lalu lintas pada pelayanan jalan A kelas arteri 1, yaitu ≥
90% dari kecepatan bebas dan tingkat kejenuhan lalin ≤ 35%. Perbedaan pada tahap pra-
konstruksi, konstruksi dan operasi adalah besaran kapasitas jalan perkotaan dengan waktu
operasi jalan rata-rata, dimana pada tahap prakonstruksi nilai C sebesar 9.042 SMP/hari,
tahap konstruksi nilai C sebesar 13.563 SMP/hari, sedangkan pada tahap operasi nilai C
sebesar 20.344 SMP/hari. Nilai C tahap operasi lebih besar dari tahap konstruksi,
dikarenakan penggunaan jalan dan bangkitan jalan yang meningkat pada saat tahap
operasi.
4.4.2. Kinerja Lalu Lintas di Persimpangan
Kinerja lalu lintas di persimpangan Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, Jalan Kapt.
Samadikun dan Jalan Mataram dapat diidentifikasi tingkat pelayanan akibat tundaan dan
tingkat pelayanan tanpa lalu lintas. Menurut Tamin (1998), tingkat pelayanan akibat
tundaan pada pelayanan jalan A kelas arteri 1, yaitu tundaan kendaraan ≤ 5,0 detik.
Sedangkan tingkat pelayanan pada persimpangan tanpa lalu lintas didapatkan kapasitas sisa
> 400 kendaraan/jam dan sedikit atau tidak ada tundaan.

IV-39
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Peningkatan dampak lalu lintas di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, Jalan Kapt.
Samadikun dan Jalan Mataram didapatkan sebesar 33% SMP/hari dari tahap pra-konstruksi
ke konstruksi dan tahap konstruksi ke operasi. Nilai VCR Jalan Lingkar Utara (Jalingkut)
atau Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo sebesar 0,86, lebih besar dari nilai VCR Jalan Kapt.
Samadikun dan Mataram sebesar 0,83. Pengaruhnya adalah kestabilan arus dan kecepatan
lalu lintas. Sedangkan tundaan kendaraan teridentifikasi ≤ 5,0 detik dan kapasitas sisa > 400
kendaraan/jam dan sedikit atau tidak ada tundaan.
Pemecahan dampak lalu lintas di Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) atau Jalan Dr. Cipto
Mangunkusumo, Jalan Kapt. Samadikun dan Jalan Mataram baik pada tahap konstruksi
maupun operasi adalah:
a. Ada petugas pengatur lalu lintas saat pekerjaan konstruksi dan operasi.
b. Pengadaan material diupayakan pada malam hari dan/atau tidak pada jam-jam
sibuk.
c. Waktu pekerjaan direkomendasikan jam 09.00-11.00 WIB dan 13.00-15.00 WIB
untuk jam kerja pekerja.
d. Pemasangan rambu-rambu di area masuk dan keluar lokasi proyek.
e. Memperlancar sistem pergerakan melalui penerapan kebijaksanaan rekayasa dan
manajemen lalulintas.
f. Koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk pemasangan rambu-rambu
operasional jalan
g. Penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan kegiatan informal lainnya pada lokasi
RUMIJA yang mengganggu/mengurangi kapasitas jalan (side friction)
h. Tata cara parkir membentuk sudut minimal 0o (paralel) atau maksimal 30o
i. Pengaturan waktu pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jalan yang tepat
j. Menugaskan petugas pengatur lalu lintas selama pekerjaan pemeliharaan jalan
k. Melakukan pemeliharaan rutin, berkala dan rehabilitasi jalan sesuai program yang
telah direncanakan

4.5. Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana Dan Kebutuhan Ruang


Analisis kebutuhan sarana dan prasana dalam kawasan Sport Centre tentunya
merupakan hal yang cukup penting. Hal tersebut terkait dengan skala pelayanan dan
manfaat yang diharapkan yang akan bergantung dari bagaimana keberadaan sarana dan
prasarana tersebut dilihat dari sisi kuantitatif maupun kualitatif. Sarana dan prasarana
penunjang ini terbagi menjadi dua, yaitu bangunan fasilitas olahraga itu sendiri serta
bangunan penunjuang lainnya. Berikut penjelasan dari kebutuhan sarana dan prasarana
Sport Centre tersebut :

IV-40
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.5.1. Bangunan Fasilitas Olah raga


Fasilitas bangunan-bangunan untuk mewadahi aktivitas olah raga baik yang bersifat
indoor maupun out door adalah sebagai berikut:
1. Stadion Sepak bola dan atletik.

Stadion Utama (Stadion sepak bola dan Atletik) diletaka pada bagian tengah tapak,
direncanakan memiliki kapasitas 25.000 penonton yang dibagi dalam du type tribun
yaitu tribun class dan tribun non class dengan aktivitas olah raga yang diwadahi adalah
sepaka bola dan atletik.
- Stadion Sepak bola
Lapangan sepak bola memiliki ukuran panjang lapangan 105 m dan lebar 70 m. dengan
rumput lapangan menggunakan rumput sintetis.
- Stadion Atletik
Stadion Atletik berupa lintasan lari 400m dengan 8 lintasan danLintasan lari 100 m , untuk
cabang olah raga atletik lainnya bersifat mix use dengan lapangan sepak bola dengan
batasan tertentu.
2. Stadion Aquatik dan Loncat Indah

Stadion Aquatik direncanakan sebagai stadion untuk tingkat nasional yang diletakan
pada bagian selatan satdion utama dan memiliki akses masuk yang terpisah dengan
stadion utama. Stadion aquatik direncanakan memiliki kapasitas 1000 penonton dan
terbagi dalam beberapa type yang di sesuaikan dengan ukuran dan fungsi masing-
masing kolam dengan klasifikasi tertentu.
- Kolam A merupakan Kolam utama sebagai kolam pacu tingkat nasional dengan ukuran
25x50m
- Kolam B merupakan kolam untuk cabang loncat indah dengan ukuran 10x10m
- Kolam C merupakan kolam untuk anak-anak dengan ukuran 20x10m
- Kolam D merupakan kolam renang pemula dengan ukuran 15x10m
3. Gedung Olah Raga Indoor

Gedung Olah raga indoor direncakan untuk mewadahi kegiatan cabang olah raga,
basket, voli indoor, futsal, bulu tangkis. Gedung ini diletakan pada bagian tumur stadion
utama. Gedung olah raga indoor direncanakan memiliki kapasitas 3000 penonton.
4. Arena Olah raga Out Dorr

Arena olah raga out door merupakan fasilitas untuk latihan yang terdiri dari:
- 1 lapangan basket
- 1 lapangan voli
- 1 lapangan voli pantai
5. Arena Olah raga extrem

Arena olah raga extrem merupakan fasilitas untuk mewadahi aktivitas olah raga
extrem yang memiliki typologi khusus aktivitas yang diwadahi antara lain:

IV-41
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

- Arena Skateboard, dan sepeda free style


- Arena Panjat tebing
6. Pendopo Beladiri

Pendopo Beladiri merupak fasilitas untuk latihan beladir yang direncanakn dengan
bangunan semi terbuka yang diletakn pada bagian timur stadion utama, dengan ukuran
bangunan 10x10m
7. Arena Sepatu Roda

Untuk sepatu roda tidak direncanakan memiliki arena khusus namun menggunakan
jalan pada bagian timur stadion utama sebagai area untuk latihan sepatu roda.

4.5.2. Bangunan Panunjang


1. Wisma Atlet putra dan putri

Wisma atlet merupakan bangunan 2 lantai sebagai tempat tinggal bagi atlet –atlet
daerah yang terdiri dari wisma atlet putra dan putri dengan kapasitas masing masing 32
unit kamar dan dilengkapi dengan raung bersama dan cafetaria
2. Cafetaria / Food court

Fasilitas cafetaria direncanakan dengan konsep food court yang terdiri dari 10 unit
dengan ruang makan bersama yang dapat menampung 100 pengunjung
3. Mushola

Bangunan mushola diletakan pada bagian selatan stadion utama serta dekat dengan
wisma atlet dan permukiman. Sehingga Mushola diharapkan dapat dimanfaatkan warga
sekitar untuk beribadah.

4.5.3. Infrastruktur kawasan


- Rencana Infrastruktur kawasan meliputi, Rencana jalan dan area parkir, rencana Utilitas
kawasan yaitu jaringan listrik dan penerangan serta jaringan air bersih
- Rencana Drainase kawasan meliputi saluran drainase kawasan dan kolam retensi
- Rencana Tata Hijau Kawasan meliputi rencana vegetasi dan penataan taman kawasan
Perancangan Tapak dan Lansekap Kawasan Sport Center diwujudkan dalam siteplan
yang telah mempertimbangkan dan memperhatikan pembagian Zoning, Orientasi dan Tata
letak bangunan serta sirkulasi pada tapak sehingga terwujud tatanan tapak dan lansekap
yang mampu mendukung fungsi kawasan serta nyaman
1. Area Parkir.

Area Parkir direncanakan secara komunal yang terbagi dalam 2 zona yaitu area parkir
pada zona utara dan zona selatan kapasitas parkir zona utara. Penempatan area parkir
diharapkan memberi keleluasaan pada pejalan kaki pada zona olah raga yang tidak
ternganggu dengan adanya sirkulasi kendaraan

IV-42
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Kapasitas parkir zona utara adalah:


- Parkir Mobil :1000 unit
- Parkir Roda 2 : 2000 unit
- Parkir Bus : 30 unit
Kapasitas parkir zona selatan adalah:
- Parkir Mobil : 200 unit
- Parkir Roda 2 : 400 unit
- Parkir Bus : 5 unit
2. Pedestrian dan jalur sirkulasi

Sirkulasi Pengunjung difasilitasi dengan pedestrian di sepanjang koridor jalan. Selain


jalur sirkulasi horisontal direncanakan pula jalur pedestrian denganbentuk melayang
(sky walk) diatas area parkir yang mampu menghubungkan bagian utara tapak ke
zona olah raga, pedstrian ini juga dapat dimanfaatkan sebagi fasilitas untuk
bersepada.
3. Drainase kawasan

Drainase kawasan direncanakan mampu untuk melayani diri sendiri, untuk itu
direncanakan adanya embung / kolam retensi untuk menampung buangan air hujan
pada tapk sehingga dapat mengurangi beban drainase kota.
Analisis kebutuhan sarana dan prasaran ini didasarkan pada perencanaan Master
Plan dan untuk kebutuhan ruang sendiri tidak disebutkan dalam perencanaan Master Plan
tersebut. Sehingga kebutuhan ruang pada kajian ini hanya sebatas perencanaan
perencanaan sarana dan prasana dan hubungannya dengan ruang lainnya. Yaitu dengan
keberadaan Perternakan Itik dan TPA sementara yang tentunya menganggu aktivitas ruang
Sport Centre nantinya jika tidak dilakukan perencanaan lebih lanjut guna relokasi atau
usaha-usaha lain didalamnya yang telah dijelaskan pada rencana pengembangan wilayah
pada bagian struktur dan pola ruang wilayah perencanaan.

4.6. Analisis Daya Dukung Dan Daya Tampung Lahan

4.6.1. Analisis Daya Dukung Lahan


Guna melihat kesesuaian dari lahan yang terdapat di Kawasan Kelurahan
Pesurungan Lor dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 41
/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya. Berikut merupakan
penjabaran kesesuaian lahan di Kelurahan Pesurungan Lor.
Tabel IV. 10
Kriteria Intensitas Hujan
Intensitas Hujan
Kelas Keterangan Skor
(Mm/Hari Hujan)
1 0-13.5 Sangat rendah 10
2 13.6-20.7 Rendah 20
3 20.7-27.7 Sedang 30

IV-43
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Intensitas Hujan
Kelas Keterangan Skor
(Mm/Hari Hujan)
4 27.7-34.8 Tinggi 40
5 >34.8 Sangat tinggi 50
Sumber: SK. Mentan No. 837/KPTS/II/UM/8/1981

Tabel IV. 11
Kriteria Kelerengan
Kelas Sudut Lereng (%) Keterangan Skor
1 0-8 Datar 20
2 8-15 Landai 40
3 15-25 Agak curam 60
4 25-40 Curam 80
5 >40 Sangat curam 100
Sumber: SK. Mentan No. 837/KPTS/II/UM/8/1981

Tabel IV. 12
Kriteria Jenis Tanah
Kelas Jenis Tanah Keterangan Skor
1 Alluvial, tanah lempung, planosol, Tidak peka 15
hidromorf kelabu, lateris air tanah
2 Latosol Kurang peka 30
3 Brown forest soil, non calcic, brown Agak peka 45
mediteranian
4 Andosol, laterit, grumosol, podsol, podsolik Peka 60
5 Regosol, litosol, organosol, rensina Sangat peka 75
Sumber: SK. Mentan No. 837/KPTS/II/UM/8/1981

IV-44
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.16 Peta Curah Hujan Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-45
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : RTRW Kota Semarang, Tahun 2011-2031

Gambar 4.17 Peta Jenis Tanah Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-46
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Berikut adalah tabel hasil penilaian daya dukung lahan Kelurahan Pesurungan Lor,
dan secara detail keruangan dapat dilihat pada peta
Tabel IV. 13
Evaluasi Hasil Skoring Kesesuaian Lahan
Curah
Kelerengan Jenis
No Skor Skor Hujan Skor Total Keterangan
(%) Tanah
(mm/hh)
1482-1750
Aluvial
1 0-2% 20 15 30 55 Budidaya
Hidromorf mm/Tahun
Sumber: SK. Mentan No. 837/KPTS/II/UM/8/1981

Berdasarkan hasil skoring, maka hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan


Kelurahan Pesurungan Lor masuk dalam dua katergori kesesuain lahan yakni budidaya dan
penyangga. Hal ini dikarenakan seluruh Kelurahan Pesurungan Lor mempunyai kelerengan
yang datar. Dengan kelerengan dan curah hujan tersebut, kawasan ini masih masuk
kedalam kategori cukup baik untuk dikembangkan sebagai kegiatan-kegiatan budidaya
bangunan untuk kebutuhan masyarakat maupun kegiatan budidaya yang mendukung
ekonomi akan tetapi terbatas.
Sementara kawasan budi daya sendiri adalah adalah wilayah yang ditetapkan
dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya
alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Fungsi Peruntukkan kawasan
Budidaya terdiri dari :
 Kawasan peruntukan hutan produksi
 Kawasan peruntukan pertanian
 Kawasan peruntukan permukiman
 Kawasan peruntukan industri
 Kawasan peruntukan pariwisata
 Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa

IV-47
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031

Gambar 4.18 Peta Kesesuaian Lahan Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-48
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.6.2. Kemampuan Lahan


Analisis SDA, fisik, dan lingkungan ini dilakukan untuk memberikan gambaran
kerangka fisik pengembangan wilayah serta batasan dan potensi alam di Kawasan
Perkotaan dengan mengenali karakteristik sumber daya alam, menelaah kemampuan dan
kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dalam pengembangan wilayah dapat dilakukan
secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem dan meminimalkan
kerugian akibat bencana dan kerusakan lingkungan.
Penentuan kemampuan dan kesesuaian lahan di Kawasan Kawasan Perkotaan
mengacu pada Permen No. 20/PRT/M/2007 tentang Teknik Analisis Aspek Fisik &
Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang.
Berikut adalah hasil dari kriteria skoring kemampuan lahan di Kawasan Kawasan Perkotaan
menurut standarisasi Permen No. 20/PRT/M/2007 :
Tabel IV.14
Satuan Kemampuan Lahan menurut standarisasi Permen No. 20/PRT/M/2007
No. Satuan Kemampuan lahan (SKL) Kriteria Klasifikasi Skor Bobot
1 SKL Morfologi
Tingkatan kemampuan lahan morfologi 0–7% rendah 1 5
berdasarkan peta topografi 7 – 15 % sedang 2 5
2 SKL Kemudahan Dikerjakan
Tingkat kekerasan batuan berdasarkan peta Batuan Leusit sedang 2 1
topografi atau peta geologi Alluvium rendah 1 1
Kemudahan pencapaian berdasarkan peta 0–7% rendah 1 1
morfologi dan peta kemiringan lereng 7 – 15 % sedang 2 1
3 SKL Kestabilan Lereng
Daerah yang diperkirakan mempunyai lereng 0–7% tinggi 1 5
tidak stabil dari peta topografi, morfologi, dan
7 – 15 % sedang 2 5
kemiringan lereng
Kondisi geologi Batuan Leusit sedang 2 5
Alluvium tinggi 3 5
4 SKL Kestabilan Pondasi
Daerah-daerah yang berlereng tidak stabil 0–7% tinggi 1 3
7 – 15 % sedang 2 3
Kondisi geologi yang akan memperlemah daya Formasi Tapak rendah 1 3
dukung tanah Batuan Leusit sedang 2 3
Alluvium tinggi 3 3
5 SKL Ketersediaan Air
Tingkatan kemampuan ketersediaan air Akuifer
Produktif rendah 1 5
Dengan Penye

IV-49
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Satuan Kemampuan lahan (SKL) Kriteria Klasifikasi Skor Bobot


Akuifer
berproduksi sedang 2 5
sedang
6 SKL untuk Drainase
Tingkat kemudahan pematusan berdasarkan 0–7% rendah 1 5
peta morfologi, kemiringan lereng, dan
7 – 15 % sedang 2 5
topografi
Kemampuan batuan/ tanah dalam menyerap Aluvial Kelabu tinggi 1 5
air guna mempercepat proses pematusan Asosiasi
sedang 2 5
berdasarkan kondisi geologi dan geologi Mediteran
permukaan Litosol Merah rendah 3 5
7 SKL terhadap Erosi
tingkat keterkikisan berdasarkan peta geologi 0–7% rendah 1 3
permukaan, peta geologi, peta morfologi, dan
7 – 15 % sedang 2 3
peta kemiringan lereng
Kemampuan batuan/ tanah berdasarkan Aluvial Kelabu tinggi 3 3
kepekaannya terhadap erosi Asosiasi
sedang 2 3
Mediteran
Litosol Merah rendah 1 3
8 SKL Pembuangan Limbah
Penentuan daerah yang mampu sebagai 0–7% tinggi 3 1
tempat pembuangan akhir sampah
berdasarkan morfologi, kemiringan lereng, dan 7 – 15 % sedang 2 1
topografinya.
Penentuan daerah yang relatif kedap air Aluvial Kelabu tinggi 1 1
berdasarkan kondisi geologi dan geologi Asosiasi
sedang 2 1
permukaan Mediteran
Litosol Merah rendah 3 1
9 SKL terhadap Bencana Alam
Penentuan batasan pengembangan pada Kaw. Rawan
tinggi 3 5
masing-masing tingkat kemampuan lahan Bencana
terhadap bencana alam tersebut, yang Kaw.
sedang 2 5
merupakan deskripsi lengkap setiap tingkatan. Penyangga
Kaw. Bebas
rendah 1 5
Bencana
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

IV-50
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Setelah melewati analisis kemampuan lahan yang mengacu pada Permen No.
20/PRT/M/2007 tentang Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial
Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang. Berikut adalah hasil dari kriteria skoring
kemampuan lahan di Kelurahan Pesurungan Lor :
A. SKL Morfologi Kelurahan Pesurungan Lor
Morfologi berarti bentang alam. Kemampuan lahan dari morfologi tinggi berarti kondisi
morfologis suatu kawasan kompleks. Morfologi kompleks berarti bentang alamnya berupa
gunung, pegunungan, dan bergelombang. Akibatnya, kemampuan pengembangannnya
sangat rendah sehingga sulit dikembangkan dan atau tidak layak dikembangkan. Lahan
seperti ini sebaiknya direkomendasikan sebagai wilayah lindung atau budi daya yang tak
berkaitan dengan manusia, contohnya untuk wisata alam. Morfologi tinggi tidak bisa
digunakan untuk peruntukan ladang dan sawah. Sedangkan kemampuan lahan dari
morfologi rendah berarti kondisi morfologis tidak kompleks. Ini berarti tanahnya datar dan
mudah dikembangkan sebagai tempat permukiman dan budi daya. Dan berikut tabulasi
hasil skoring skoring SKL Morfologi Kelurahan Pesurungan Lor :
Tabel IV.15
Tabulasi Hasil Skoring Skoring SKL Morfologi
Nilai
Morfologi Lereng Hasil Pengamatan SKL Morpologi
(Skoring)
Kemampuan
(Groundcheck / lahan dari
Datar 0–2% 25
Survei Lapangan) morfologi
rendah
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

B. SKL Kestabilan Lereng Kelurahan Pesurungan Lor


Kestabilan lereng artinya wilayah tersebut dapat dikatakan stabil atau tidak kondisi
lahannya dengan melihat kemiringan lereng di lahan tersebut. Bila suatu kawasan disebut
kestabilan lerengnya rendah, maka kondisi wilayahnya tidak stabil. Tidak stabil artinya
mudah longsor, mudah bergerak yang artinya tidak aman dikembangkan untuk bangunan
atau permukiman dan budi daya. Kawasan ini bisa digunakan untuk hutan, perkebunan
dan resapan air. Sebenarnya, satu SKL saja tidak bisa menentukan peruntukan lahan
apakah itu untuk pertanian, permukiman, dll. Peruntukan lahan didapatkan setelah semua
SKL ditampalkan (overlay) lagi. Dan berikut tabulasi hasil skoring Kestabilan Lereng
Kelurahan Pesurungan Lor :

IV-51
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV.16
Tabulasi Hasil Skoring Kestabilan Lereng
Curah Skl
Penggunaan Nilai
Morfologi Lereng Ketinggian Hujan Kestabilan
Lahan (Skoring)
Lereng
Sangat Semua jenis Rendah Kestabilan
Datar 0–2% Rendah lahan Lereng 25
Perkotaan Tinggi
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

C. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Pondasi


Kestabilan pondasi artinya kondisi lahan/wilayah yang mendukung stabil atau tidaknya
suatu bangunan atau kawasan terbangun. SKL ini diperlukan untuk memperkirakan jenis
pondasi wilayah terbangun. Kestabilan pondasi tinggi artinya wilayah tersebut akan stabil
untuk pondasi bangunan apa saja atau untuk segala jenis pondasi. Kestabilan pondasi
rendah berarti wilayah tersebut kurang stabil untuk berbagai bangunan. Kestabilan pondasi
kurang berarti wilayah tersebut kurang stabil, namun mungkin untuk jenis pondasi tertentu,
bisa lebih stabil, misalnya pondasi cakar ayam. Dan berikut tabulasi hasil skoring
Kestabilan Pondasi Kelurahan Pesurungan Lor :
Tabel IV.17
Tabulasi Hasil Skoring Kestabilan Pondasi
SKL Kestabilan SKL Kestabilan Pondasi Nilai
Penggunaan Lahan
Lereng (Skoring)
Semua jenis lahan Daya Dukung dan Kestabilan
Datar 15
Perkotaan pondasi tinggi
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

D. SKL Ketersediaan Air Kelurahan Pesurungan Lor


Geohidrologi sudah memperlihatkan ketersediaan air. Geohidrologi sudah ada
kelasnya yaitu tinggi, sedang, hingga rendah. Untuk melihat ketersediaan air seharusnya
menggunakan data primer, tetapi karena keterbatasan waktu dan dana biasanya
pengambilan data primer tidak dapat dilakukan. Ketersediaan air sangat tinggi artinya
ketersediaan air tanah dalam dan dangkal cukup banyak. Sementara ketersediaan air
sedang artinya air tanah dangkal tak cukup banyak, tapi air tanah dalamnya banyak. Dan
berikut tabulasi hasil skoring Ketersediaan air Kelurahan Pesurungan Lor :

IV-52
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV.18
Tabulasi Hasil Skoring Ketersediaan Air
SKL Ketersediaan Air Nilai
Morfologi Lereng Penggunaan Lahan
(Skoring)
Semua jenis lahan ketersediaan air
Datar 0–2% 25
Perkotaan tinggi
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

E. SKL Ketersediaan Air di Kelurahan Pesurungan Lor


Drainase berkaitan dengan aliran air, serta mudah tidaknya air mengalir. Drainase
tinggi artinya aliran air mudah mengalir atau mengalir lancar. Drainase rendah berarti aliran
air sulit dan mudah tergenang. Dan berikut tabulasi hasil skoring SKL drainase Kelurahan
Pesurungan Lor :
Tabel IV.19
Tabulasi Hasil Skoring SKL Drainase
Nilai
Morfologi Lereng Penggunaan Lahan SKL Drainase
(Skoring)
Semua jenis lahan Drainase
Datar 0–2% 15
Perkotaan Kurang
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

F. SKL Erosi Kelurahan Pesurungan Lor


Erosi berarti mudah atau tidaknya lapisan tanah terbawa air atau angin. Erosi tinggi
berarti lapisan tanah mudah terkelupas dan terbawa oleh angin dan air. Erosi rendah
berarti lapisan tanah sedikit terbawa oleh angin dan air. Tidak ada erosi berarti tidak ada
pengelupasan lapisan tanah. Dan berikut tabulasi hasil skoring SKL Erosi Kelurahan
Pesurungan Lor :
Tabel IV.20
Tabulasi Hasil Skoring SKL Erosi
Nilai
Morfologi Lereng Penggunaan Lahan
SKL Erosi (Skoring)
Semua jenis lahan Tidak ada Erosi
Datar 0–2% 6
Perkotaan
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

G. SKL Erosi Pembuangan Limbah Kelurahan Pesurungan Lor


SKL pembuangan limbah adalah tingkatan untuk memperlihatkan wilayah tersebut
cocok atau tidak sebagai lokasi pembuangan. Analisa ini menggunakan peta hidrologi dan
klimatologi. Kedua peta ini penting, tetapi biasanya tidak ada data rinci yanng tersedia.

IV-53
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

SKL pembuangan limbah kurang berarti wilayah tersebut kurang/tidak mendukung sebagai
tempat pembuangan limbah. Berikut tabulasi hasil skoring SKL Pembuangan limbah :
Tabel IV.21
Tabulasi Hasil Skoring SKL Pembuangan Limbah
Penggunaan SKL Pembuangan Nilai
Morfologi Lereng Topografi
Lahan Limbah (Skoring)
Kemampuan lahan
Sangat Semua jenis
Datar 0–2% untuk pembuangan 0
Rendah lahan Perkotaan
limbah cukup
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

H. SKL Terhadap Bencana Alam


SKL bencana alam merupakan pertampalan (overlay) dari lima peta bencana alam,
yaitu: Rawan gunung berapi dan aliran lava Kawasan rawan gempa bumi dan kawasan
zona patahan/sesar Kawasan rawan longsor dan gerakan tanah Kawasan rawan
gelombang pasang dan abrasi pantai Kawasan rawan banjir. Jadi, morfologi gunung dan
perbukitan dinilai tinggi pada peta rawan bencana gunung api. Sedangkan lereng datar
yang dialiri sungai dinilai tinggi pada rawan bencana banjir. Penentuan kelas pada rawan
bencana ini ada lima. Kelas 1 artinya rawan bencana alam dan kelas 5 artinya tidak rawan
bencana alam. Dan berikut tabulasi hasil skoring SKL Terhadap Bencana Alam Kelurahan
Pesurungan Lor :
Tabel IV.22
Hasil Skoring SKL Terhadap Bencana Alam
Penggunaan SKL Terhadap Nilai
Morfologi Lereng Topografi
Lahan Bencana Alam (Skoring)
Potensi
Sangat Semua jenis
Datar 0–2% Bencana Alam 20
Rendah lahan Perkotaan
Kurang
Sumber : Hasil Analisis Penyusun 2017

Meskipun pada analisis SKL terhadap Bencana Alam kelurahan Pesurungan Lor
masuk dalam potensi bencana alam kurang pada kenyataannya di kelurahan tersebut
terdapat kawasan yang rawan terhadap bencana yakni rawan bencana banjir rob dan
genangan. Kawasan rawan Banjir Rob yang ada di Kelurahan Pesurungan Lor hanya
terdapat pada bagian barat kelurahan yang berbatasan dengan Kelurahan Muarareja dan
berada pada kawasan dengan peruntukkan lahan tambak seluas 2,52 Ha sedangkan
Kawasan rawan genangan yang ada di Kelurahan Pesurungan Lor hanya terdapat pada
sebgian kawasan padat permukiman yang berada pada koridor jalan Kapten Samadikun
dengan luas 8,23 Ha.

IV-54
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Berdasarkan super impose sembilan (9) peta satuan kemampuan lahan (SKL) di atas diperoleh lokasi zona pengembangan sebagai
berikut:
Tabel IV.23
Satuan Kemampuan Lahan Kelurahan Pesurungan Lor
Jml_ Luasan
No Bobot_1 Bobot_2 Bobot_3 Bobot_4 Bobot_5 Bobot_6 Bobot_7 Bobot_8 Bobot_9 Lokasi SKL
bobot (Km2)
Kemampuan
Kelurahan
1. 25 5 25 15 25 15 6 0 20 136 1,82 Km2 pengembangan
Pesurungan Lor
Sangat Tinggi
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Ket :
Bobot 1 : SKL Morfologi Bobot 6 : SKL Drainase
Bobot 2 : SKL Kemudahan Bobot 7 : SKL Erosi
Bobot 3 : SKL Kestabilan Lereng Bobot 8 : SKL Pembuangan limbah
Bobot 4 : SKL Pondasi Bobot 9 : SKL Rawan Bencana
Bobot 5 : SKL Ketersedian Air

IV-55
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, 2017


Gambar 4.19 Peta Kemampuan Lahan Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-56
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.6.3 Kemampuan Pengembangan Lahan


Tabel IV.24
Kriteria Kemampuan Lahan
KELAS KEMAMPUAN
Total NILAI KLASIFIKASI PENGEMBANGAN
LAHAN
32-58 Kelas a Kemampuan Pengembangan Sangat Rendah
59-83 Kelas b Kemampuan Pengembangan Rendah
84-109 Kelas c Kemampuan Pengembangan Sedang
110-134 Kelas d Kemampuan Pengembangan Agak Tinggi
135-160 Kelas e Kemampuan Pengembangan Sangat Tinggi
Sumber: Permen PU No 20/PRT/M/2007

Tabel IV.25
Hasil Analisis Geospasial Kemampuan Lahan Kelurahan Pesurungan Lor
KELAS
TOTAL KEMAMPUAN PENGEMBANGAN
KEMAMPUAN LUAS (Km2) Lokasi
NILAI PERKOTAAN
LAHAN
Kemampuan Pengembangan Agak
Kelas e Kelurahan
135-160 1,82
Tinggi Pesurungan Lor

Total 1,82 Km2


Sumber: Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan tabel diatas klasifikasi kemampuan pengembangan kawasan di


Kelurahan Pesurungan Lor terdiri Kemampuan Pengembangan sangat Tinggi dengan total
kawasan pengembangan 1,82 Km2.

4.6.4 Analisis Peruntukan Lahan


4.6.4.1. Daya Dukung Lahan
Analisis ketersediaan lahan pengembangan merupakan lahan yang tersedia pada
kawasan perencanaan untuk dapat menampung kegiatan perkotaan dimasa mendatang.
Daya dukung lahan atau ketersediaan lahan Kelurahan Pesurungan Lor sebagai berikut
 Lahan Terbangun,
Yaitu, Lahan di Kelurahan Pesurungan Lor yang sudah termanfaatkan.
 Lahan Tidak Layak Dikembangkan
Yaitu, Lahan di Kelurahan Pesurungan Lor yang ditetapan sebagai:
 Zona sempadan sungai
 Zona jalur hijau saluran listrik tegangan tinggi
 Lahan Layak Dikembangkan
Yaitu, Lahan di Kelurahan Pesurungan Lor belum terbangun yang layak
dikembangkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan ruang di masa mendatang.

IV-57
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV.26
Daya Dukung Lahan
Daya Dukung Lahan Luas Km2)

Lahan Terbangun 0,57,

Layak dikembangkan (Non sawah) 1,35.

Total 1,82 Km2


Sumber : Analisis Penyusun, 2017

4.5.5 Arahan Rasio Tutupan Lahan


Analisis Rasio tutupan lahan dapat menggambarkan perbandingan daerah yang
bisa tertutup oleh bangunan bersifat kedap air dengan luas lahan keseluruhan beserta
kendala fisik pada tiap tingkatan. pada Permen No. 20/PRT/M/2007 tentang Teknik
Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan
Rencana Tata Ruang standar teknis rasio tutupan lahan sebagai berikut :
Tabel IV. 27
Arahan Rasio Tutupan Lahan
Arahan Rasio Tutupan Lahan
Kelas Kemampuan Lahan Klasifikasi Nilai
Kelas a Non Bangunan 1
Kelas b Rasio Tutupan Lahan maks 10 % 2
Kelas c Rasio Tutupan Lahan maks 20 %
3
Kelas d Rasio Tutupan Lahan maks 30 %

Kelas e Rasio Tutupan Lahan maks 50 % 4


Sumber: SK. Mentan No. 837/KPTS/II/UM/8/1981

Pada terapannya di Kelurahan Pesurungan Lor zona arahan pengembangan Rasio


Tutupan Lahan Kelurahan Pesurungan Lor adalah sebagai berikut :
Tabel IV.28
Arahan Rasio Tutupan Lahan Kelurahan Pesurungan Lor
Arahan Rasio Tutupan Lahan
Klasifikasi Tutupan Ketinggian
Kelas Nilai Lokasi Luas (Km2)
Lahan Bangunan
Rasio Tutupan Bangunan < 4
Kelas e Kelurahan
Lantai 1,82
Lahan maks 50 % 4 Pesurungan Lor

Total 1,82 Km2


Sumber : Interpretasi Peta dan Hasil Analisis Tahun 2016

IV-58
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Berdasarkan tabel diatas rata-rata rasio tutupan lahan yang layak diterapkan pada
Kelurahan Pesurungan Lor ialah Rasio Tutupan Lahan maksimal 50% yakni seluas 174 Ha
atau sekitar 100% dari seluruh luasan Wilayah Perencanaan.

4.6.5. Kawasan Rawan Bencana Alam


Kawasan Rawan Bencana Alam, didefinisikan sebagai pelindungan kawasan dengan
tujuan untuk melindungi manusia dan aktivitas kegiatannya dari bencana yang disebabkan
oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia. Kriteria kawasan rawan
bencana alam adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami
bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tanah longsor.
a. Kawasan Rawan Banjir Rob
Kawasan rawan Banjir Rob yang ada di Kelurahan Pesurungan Lor hanya terdapat
pada bagian barat kelurahan yang berbatasan dengan Kelurahan Muarareja dan berada
pada kawasan dengan peruntukkan lahan tambak seluas 2,52 Ha
b. Kawasan Rawan Genangan
Kawasan rawan genangan yang ada di Kelurahan Pesurungan Lor hanya terdapat
pada sebgian kawasan padat permukiman yang berada pada koridor jalan kapten
samadikun dengan luas 8,23 Ha

IV-59
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : Hasil Olahan RTRW Kota Tegal, Tahun 2011-2031


Gambar 4.20 Peta Rawan Bencana Lokasi Perencanaan Sport Centre

IV-60
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.6.6. Analisis Daya Tampung Penduduk


Analisis daya tampung penduduk digunakan untuk mengetahui perkiraan jumlah penduduk yang bisa ditampung hingga akhir tahun
perencanaan. Analisis daya tampung mengarah pada rasio tutupan lahan, yang berupa bangunan dan berkaitan dengan area terbangun.
Arahan rasio tutupan lahan yang digunakan adalah 50% untuk permukiman, 30% untuk ruang terbuka, 20% untuk fasilitas. Asumsi yang
digunakan adalah 1 KK terdiri dari 4 anggota keluarga dan memerlukan lahan seluas 100 m2.
Adapun standar ideal menurut pedoman penetapan batas wilayah perkotaan kecil adalah adalah 80 jiwa/ Ha. Atas dasar tersebut,
maka daya tampung penduduk Kelurahan Pesurungan Lor ditetapkan daya tampung penduduk sebesar 40-60 jiwa/ Ha yang disesuaikan
dengan karakteristik kepadatan eksisting masing- masing kelurahan.
Tabel IV.29
Daya Tampung Penduduk
Jumlah
Kepadatan Kepadatan ideal Daya Tampung
Jumlah Penduduk yang
No Desa/Kelurahan Luas (Km2) Eksisting Klasifikasi maksimal Penduduk
Penduduk Masih Bisa di
(jiwa/Ha) (jiwa/Ha) (Jiwa)
Tampung

1 Pesurungan Lor 5.109 1,82 Km2 29,36 Rendah 60 20.340 Jiwa 15.231 Jiwa

IV-61
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.7. Analisis Daya Dukung dan Tampung Lingkungan


4.7.1. Analisis Daya Dukung Lingkungan
Penentuan daya dukung lingkungan hidup dilakukan dengan cara mengetahui
kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan
manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Analisis daya
dukung lingkungan terdiri dari:
a. Daya dukung lahan permukiman (bangunan), yang memiliki proporsi 30% dari nilai
DDL.
b. Daya dukung lahan pertanian, peternakan, perkebunan, dan lain-lain, yang memiliki
proporsi 40% dari nilai DDL.
c. Daya dukung air, yang memiliki proporsi 30% dari nilai DDL.
Penentuan daya dukung lingkungan diketengahkan sebagai berikut:
a. Daya dukung lahan permukiman (bangunan)
Daya dukung lahan permukiman (bangunan) dapat didekati dengan batasan 1
Kelurahan Pesurungan Lor ditambah dengan luas lahan Sport Centre yang
direncanakan untuk dibangun.
 α = 70% (koefisien luas lahan terbangun maksimal)
 Lw = 182 Ha (luas Kelurahan Pesurungan Lor)
 % Lahan bangunan = 39,29% (BPS Kota Tegal “Kecamatan Margadana dalam
Angka tahun 2016”, 2016)
 LB Sport Centre = 21,57 Ha
 LB = [(39,29/100) x 182 Ha] + 21,57 Ha = 93,08 Ha
 LTp = 20% x 93,08 Ha = 18,62 Ha (infrastruktur)
 LTb = 93,08 Ha + 18,62 Ha = 111,70 Ha (lahan terbangun)
 DDLb = (70% x 182 Ha) : 111,70 Ha = 1,14 (DDLb 1 – 3: Daya dukung lahan
permukiman bersyarat atau sedang)
b. Daya dukung lahan pertanian, peternakan, perkebunan, dan lain-lain
Daya dukung lahan pertanian menjadi batasan maksimum dikarenakan
ketidaktersediaan data luas lahan peternakan dan perkebunan.
 Ketersediaan lahan:
i. Pipertanian = 6.903,60 kg/Ha/tahun (produksi padi)
ii. Hipertanian = Rp 2.600,00/kg (harga padi)
iii. Pi x Hi = Rp 17.949.360,00/tahun
iv. Hbpertanian = Rp 2.600,00/kg (harga padi)
v. Ptvb = 6.933,197 kg/Ha/tahun
vi. SI = Rp 17.949.360,00/tahun : (Rp 2.600,00/kg x 6.933,197 kg/Ha/tahun) =
1 Ha
 Kebutuhan lahan
i. N = 5.109 jiwa (jumlah penduduk Kelurahan Pesurungan Lor)

IV-62
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

ii. KHLI = 1.000 kg/tahun : 6.933,197 kg/Ha/tahun = 0,14 (luas lahan yang
dibutuhkan untuk kehidupan per penduduk)
iii. DI = 5.109 jiwa x 0,14 = 737 Ha (total kebutuhan lahan setara beras)
 DDLp = SI : DI = 1 Ha : 737 Ha = 0,0014 < 1 (DDLb < 1: Daya dukung lahan
permukiman terlampaui atau buruk)
c. Daya dukung air
Daya dukung air dihitung berdasarkan ketersediaan air dan kebutuhan air.
 Ketersediaan air:
i. Ci sebelum = 0,3 (lahan budidaya, taman)
ii. Ci setelah = 0,3 (taman); 0,7 (bangunan)
iii. Ai sebelum = 21,57 Ha
iv. Ai setelah = 6,42 Ha (taman);15,08 Ha (bangunan)
v. C sebelum = (0,3 x 21,57) : 21,57 = 0,3
vi. C setelah = (0,3 x 6,42) + (0,7 x 15,08) : (6,42 + 15,08) = 0,6
vii. R = 0,86 mm/jam = 7.533,6 mm/tahun
viii. SA sebelum = 10 x 0,3 x 7.533,6 mm/tahun x 21,57 Ha = 487.499
m3/tahun
ix. SA setelah = 10 x 0,6 x 7.533,6 mm/tahun x 21,57 Ha = 943.406 m3/tahun
 Kebutuhan air
i. DA sebelum = 0,6 L/ekor/hari x 156.000 ekor = 93.600 L/hari = 34.164
m3/tahun (asumsi ternak itik)
ii. DA setelah = (2.500 + 14) orang x 500 L/orang.hari = 1.257.050 L/hari =
458.823,25 m3/tahun (asumsi OM Sport Centre)
 DDA
i. DDA sebelum = 487.499 m3/tahun : 34.164 m3/tahun = 14 (asumsi ternak
itik) (DDA >3: Daya dukung air aman atau baik)
ii. DDA setelah = 943.406 m3/tahun : 458.823,25 m3/tahun = 2 (asumsi OM
Sport Centre) (DDA 1 – 3: Daya dukung air bersyarat atau sedang)
Berdasarkan perhitungan daya dukung lahan permukiman, lahan pertanian dan lain-lain,
serta daya dukung air, maka daya dukung lingkungan dapat dihitung dengan 2 opsi
kegiatan sebagai berikut:
a. DDL = (30% x 1,14) + (40% x 0,0014) + (30% x 2) = 0,96 < 1 (Daya dukung lingkungan
terlampaui atau buruk), dengan asumsi terjadinya pembangunan Sport Centre.
b. DDL = (30% x 1,48) + (40% x 0,0014) + (30% x 14) = 4,73 > 3 (Daya dukung
lingkungan aman atau baik), dengan asumsi tanpa terjadinya pembangunan Sport
Centre.
4.7.2. Analisis Daya Tampung Lingkungan
Daya tampung lingkungan mencakup analisis komponen sumber daya alam
seperti kualitas air permukaan, kualitas udara, dan kemampuan tanah. Penentuan daya
tampung lingkungan diketengahkan sebagai berikut:

IV-63
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.7.2.1 Kualitas air permukaan


Air permukaan yang akan terkena dampak adalah Sungai Sibelis atau Gung Baru.
Sungai Sibelis dikategorikan sebagai saluran sekunder dan menerima limpasan air dari
saluran sekunder lainnya, seperti Sungai Kaligangsa, yang juga merupakan saluran
sekunder. Sungai Kaligangsa diprediksikan menerima beban langsung dari konstruksi dan
operasional Sport Centre. Perhitungan status mutu air pada Sungai Sibelis dilakukan
berdasarkan acuan Sungai Sibelis 1 dan 5. Sungai Sibelis 1 sebagai hulu sungai dan
Sungai Sibelis 5 sebagai hilir sungai. Sungai Sibelis 1 berada pada Jembatan Jl. Gatot
Subroto, Kel. Keturen, Kec. Tegal Selatan, Tegal (06o 50.766' LS; 109o 06.380' BT),
sedangkan Sungai Sibelis 5 berada pada Jembatan Jalan Layang, Kel. Tegalsari, Kec.
Tegal Barat, Tegal (06o 51.105' LS; 109o 07.197' BT).
Tabel IV.30
Penentuan Status Mutu Air
Hasil
Skor
Pengukuran
No. Parameter Satuan
Kelas Kelas Kelas Kelas
Rata-rata
I II III IV
FISIKA
1 Temperatur oC 33,1 0 0 0 0
2 Residu Terlarut mg/L 1144 0 0 0 0
3 Residu Tersuspensi mg/L 29 0 0 0 0

KIMIA ORGANIK
4 pH 7,9 0 0 0 0
5 DO mg/L - 0 0 0 0
6 BOD mg/L 7,4 -6 -6 -6 0
7 COD mg/L 71,6 -6 -6 -6 0
8 Khrom VI mg/L 8,456 -6 -6 -6 -6
9 Minyak Lemak mg/L 4,6 0 0 0 0
10 Kadmium mg/L 0,059 -6 -6 -6 -6
11 Timbal mg/L < 0,03 0 0 0 0
12 Tembaga mg/L < 0,02 0 0 0 0
13 Seng mg/L < 0,05 0 0 0 0
14 Nitrat mg/L <1 0 0 0 0
15 Nitrit mg/L 0,115 -6 -6 -6 -6
16 Phosphat mg/L - 0 0 0 0
17 Fluorida mg/L - 0 0 0 0
18 Phenol mg/L < 0,10 0 0 0 0

MIKROBIOLOGI
Jml/100
19 Fecal Coliform 6.000 -9 -9 -9 -9
mL
20 Total Coliform Jml/100 700 0 0 0 0

IV-64
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Hasil
Skor
Pengukuran
No. Parameter Satuan
Kelas Kelas Kelas Kelas
Rata-rata
I II III IV
mL
Jumlah -39 -39 -39 -27

Cemar berat berat berat sedang


Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan table di atas mengenai penentuan status mutu air dengan metode
STORET, didapatkan bahwa status mutu air Sungai Sibelis 1 yang menerima
limpasan dari Sungai Kaligangsa memiliki status cemar berat pada kelas II,
dimana menurut Peraturan Gubernur Jateng No. 2 Tahun 2012 tentang
Peruntukan Air dan Pengelolaan Kualitas Air Sungai di Prov. Jateng berlaku
kriteria mutu air untuk kelas II.
4.7.2.2. Kualitas udara
Berdasarkan data sekunder dari dokumen Draft RKL dan RPL Pembangunan
Sport Center tahun 2016, didapatkan data kualitas udara di tengah lokasi Sport Centre
dan jalan dan pemukiman sekitarnya. Analisis kualitas udara menggunakan metode ISPU
(Indeks Standar Pencemaran Udara). Parameter tersedia yang terukur meliputi:
 Sulfur dioksida (SO2)
 Karbonmonoksida (CO)
 Nitrogen dioksida (NO2)
 Oksidan (O3)
Tabel IV.31
Analisis Kualitas Udara
ISPU ISPU
Baku
No. Parameter Satuan Tengah Jalan &
Mutu Baku Mutu
Lokasi Pemukiman
Sulfur Dioksida
1. μg/Nm3 900 220 3 3
(SO2)
Karbonmonoksida
2. μg/Nm3 30000 260 10 10
(CO)
Nitrogen Dioksida
3. μg/Nm3 400 70 2 2
(NO2)
4. Oksidan (O3) μg/Nm3 235 105 7 7
Jumlah 22 23
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan tabel di atas mengenai analisis kualitas udara dengan metode ISPU,
didapatkan bahwa kualitas udara baik di tengah lokasi Sport Centre maupun jalan dan
pemukiman disekitarnya adalah baik (ISPU < 50).

IV-65
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.7.2.3. Kemampuan tanah


Analisis kemampuan tanah dilakukan menggunakan analisis peta kemampuan
tanah yang diterbitkan oleh BPN/ATR Kota Tegal. Hasil yang didapatkan beradasarkan
pertimbangan teknis tersebut diketengahkan sebagai berikut:
 Penggunaan tanah: perikanan
 Penguasaan tanah: hak pakai
 Ketersediaan tanah: tersedia
 Kesesuaian tanah: sesuai
 Pertimbangan teknis: disetujui BPN
 Lereng: 0 – 2 mdpl
 Kedalaman efektif: > 90 cm
 Tekstur tanah: sedang
 Drainase tanah: sedang pernah tergenang
 Erosi tanah: tidak ada erosi
 Faktor pembatas: berbatu
Berdasarkan informasi tersebut diatas, maka dianalisis dengan pemberian harkat
yang disepakati menurut referensi CSR/FAO dan Staff, 1983. Berikut nilai harkat
kemampuan tanah:
Tabel IV.32
Analisis Harkat Kemampuan Tanah
No. Komponen Harkat
1 Lereng: 0 – 2 mdpl 7
2 Kedalaman efektif: > 90 cm 4
3 Tekstur tanah: sedang 3
4 Drainase tanah: sedang pernah tergenang 2
5 Erosi tanah: tidak ada erosi 0
6 Faktor pembatas: berbatu -3
Jumlah Harkat 13
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan tabel di atas mengenai analisis harkat kemampuan tanah, didapatkan


bahwa kemampuan tanah adalah baik untuk kegiatan budidaya.
Berdasarkan perhitungan daya tampung kualitas air permukaan, kualitas udara dan
kemampuan tanah, maka daya tampung lingkungan dapat dihitung sebagai berikut:
 DTL = (30% x [-39]) + (10% x 22) + (60% x 13) = 21,7 < 1 (Daya tampung
lingkungan aman bersyarat atau sedang), dengan asumsi terjadinya
pembangunan Sport Centre.
Pengertiannya bahwa ada atau tidaknya pembangunan Sport Centre, maka daya
tampung lingkungan aman bersyarat atau sedang. Sedangkan daya dukung lingkungan

IV-66
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

terlampaui atau buruk dengan adanya pembangunan Sport Centre, namun daya dukung
lingkungan akan baik, apabila tidak adanya kegiatan pembangunan Sport Centre.
Untuk mengatasi daya tampung lingkungan aman bersyarat atau sedang dan daya
dukung lingkungan yang buruk dikarenakan pembangunan Sport Centre, maka diperlukan
pemecahan masalah berupa:
a. Pemulihan kualitas sungai di hulu Sungai Sibelis dan Kaligangsa, dengan cara
mengatur pembuangan limbah domestik dan non-domestik secara langsung ke
sungai. Direkomendasikan melengkapi IPAL komunal domestik dan IPAL
setempat non-domestik.
b. Alih fungsi lahan peternakan/pertanian/perkebunan menjadi lahan permukiman
atau kawasan Sport Centre/bangunan, dengan cara revisi RTRW Kota Tegal
tahun 2011-2031. Alih fungsi lahan peternakan/pertanian/perkebunan
didasarkan pada besaran ketersediaan lahan yang lebih kecil daripada
kebutuhan lahannya. Pengertiannya adalah ketersediaan lahan < kebutuhan
lahan.

4.7.3. Rekapitulasi Daya Dukung dan Tampung Lingkungan


Rekapitulasi daya tampung dan dukung lingkungan dimaksudkan untuk
memberikan kemudahan gambaran status lingkungan. Berikut ini diketengahkan
rekapitulasi status daya dukung dan tampung lingkungan.
Tabel IV.33
Rekapitulasi Daya Dukung dan Tampung Lingkungan
Komponen Status Warna Keterangan
Buruk Merah
Daya Dukung Lahan Permukiman Sedang Kuning >1-3
Baik Hijau
Buruk Merah <1
Daya Dukung Lahan Pertanian Sedang Kuning
Baik Hijau
Buruk Merah
Daya Dukung Air Sedang Kuning >1-3
Baik Hijau
Buruk Merah <1
DDL Sedang Kuning
Baik Hijau
Berat Merah ≥31
Kualitas Air Permukaan Sedang Kuning
Ringan Hijau
Buruk Merah
Kualitas Udara Sedang Kuning
Baik Hijau <50

IV-67
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Komponen Status Warna Keterangan


Buruk Merah
Kemampuan Lahan Sedang Kuning
Baik Hijau >-4,9 s.d 14
Buruk Merah
DTL Sedang Kuning 19 s.d 25
Baik Hijau
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

Berdasarkan table di atas mengenai rekapitulasi daya dukung dan tampung


lingkungan, maka selanjutnya divisualisasikan dalam bentuk peta status lingkungan
sesuai dengan status dan warna. Berikut ini diketengahkan peta GIS daya dukung dan
tampung lingkungan.

IV-68
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : Analisis Penyusun, 2017


Gambar 4.21 Peta Daya Dukung Lingkungan

IV-69
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Sumber : Analisis Penyusun, 2017


Gambar 4.22 Peta Daya Tampung Lingkungan

IV-70
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

4.7.4 Analisis Dampak Lingkungan


Analisis dampak lingkungan pembangunan Sport Centre mengacu pada draft RKL
dan RPL Pembangunan Sport Center tahun 2016, dengan tujuan sinkronisasi hasil dan
melengkapi, serta memperkuat penentuan dampak lingkungan hipotetik yang dikelola dan
dipantau selama masa prakonstruksi, konstruksi dan operasi. Langkah selanjutnya adalah
menggabungkan analisis daya dukung dan tampung lingkungan dengan dampak
lingkungan yang sesuai dengan aspek kajian. Berikut ini dampak lingkungan hipotetik
diketengahkan.
4.7.4.1. Tahap Prakonstruksi
Dampak pada tahap prakonstruksi, yaitu: keresahan masyarakat, pada kegiatan
studi, perijinan dan perencanaan (aspek sosek).
4.7.4.2. Tahap Konstruksi
Dampak pada tahap konstruksi, yaitu:
a. Kesempatan kerja dan berusaha serta pendapatan masyarakat, pada
kegiatan penerimaan tenaga kerja (aspek sosek).
b. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan mobilisasi alat dan material
(aspek fisika-kimia).
c. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan mobilisasi alat dan material (aspek
fisika-kimia).
d. Gangguan lalu lintas dan kerusakan jalan, pada kegiatan mobilisasi alat
dan material (aspek fisika-kimia).
e. Keresahan masyarakat, pada kegiatan mobilisasi alat dan material (aspek
sosek).
f. Terganggunya kesehatan masyarakat, pada kegiatan mobilisasi alat dan
material (aspek kesmas).
g. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan pematangan lahan (aspek fisika-
kimia).
h. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan pematangan lahan (aspek fisika-
kimia).
i. Penurunan kualitas air permukaan dan terganggunya biota air, serta
peningkatan air larian (run off), pada kegiatan pematangan lahan (aspek
fisika-kimia).
j. Penurunan estetika lingkungan, pada kegiatan pematangan lahan (aspek
fisika-kimia).
k. Terganggunya kesehatan masyarakat, pada kegiatan pematangan lahan
(aspek kesmas).
l. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-kimia).

IV-71
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

m. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-kimia).


n. Penurunan kuantitas air tanah, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-
kimia).
o. Penurunan kualitas air permukaan dan terganggunya biota air, serta
peningkatan air larian (run off), pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-
kimia).
p. Penurunan estetika lingkungan, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-
kimia).
q. Terganggunya kesehatan masyarakat, pada konstruksi (aspek kesmas).
4.7.4.3. Tahap Operasi
Dampak pada tahap operasi, yaitu:
a. Kesempatan kerja dan berusaha serta pendapatan masyarakat, pada
kegiatan penerimaan tenaga kerja (aspek sosek).
b. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan operasional dan pemeliharaan
(aspek fisika-kimia).
c. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan operasional dan pemeliharaan
(aspek fisika-kimia).
d. Penurunan kuantitas air tanah, pada kegiatan operasional dan
pemeliharaan (aspek fisika-kimia).
e. Penurunan kualitas air permukaan dan terganggunya biota air, serta
peningkatan air larian (run off), pada kegiatan operasional dan
pemeliharaan (aspek fisika-kimia).
f. Gangguan lalu lintas, pada kegiatan operasional dan pemeliharaan (aspek
fisika-kimia).
g. Penurunan estetika lingkungan, pada kegiatan operasional dan
pemeliharaan (aspek fisika-kimia).
h. Terganggunya kesehatan masyarakat, pada operasional dan pemeliharaan
(aspek kesmas).
Berdasarkan daftar dampak-dampak lingkungan pada tahap prakonstruksi,
konstruksi dan operasi, maka sinkronisasi daya dukung dan tampung lingkungan
dengan dampak lingkungan dilakukan untuk mendapatkan rekomendasi
pengelolaan dan pemantauan lingkungan, terkait ijin lingkungan, RTRW dan
dokumen lainnya yang terkait.
Berikut ini diketengahkan rekapitulasi dampak lingkungan sesuai draft RKL
dan RPL Pembangunan Sport Center tahun 2016.

IV-72
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tabel IV.34
Rekapitulasi Dampak Lingkungan
Rona Lingkungan Hidup Prakiraan
Tahap Aspek Kegiatan Dampak Besaran Dampak
Awal Dampak
Studi, perijinan Setuju = 86,7%; Tidak setuju Keresahan Dampak
Prakonstruksi Sosek Setuju, khawatir = 86,7%
dan perencanaan = 0%; Abstain = 13,3% masyarakat Penting (-)

Kesempatan
Jumlah penduduk angkatan kerja dan Jumlah tenaga kerja = 282 orang, dengan
Penerimaan Dampak
Konstruksi Sosek kerja di Kel. Pesurungan Lor = berusaha serta perputaran uang sebesar Rp
tenaga kerja Penting (+)
2.542 orang pendapatan 3.087.900.000,00/tahun
masyarakat
Hasil analisis kualitas udara
dibawah baku mutu PP no.41 Partikulat = 1,93.10-5 μg/m3; SO2 = 3,85.10-5 μg/m3;
Fisik- Mobilisasi alat dan Penurunan Dampak
tahun 1999 tentang NO2 = 8,21.10-3 μg/m3 (meningkat namun masih
kimia material kualitas udara Penting (-)
pengendalian pencemaran dibawah baku mutu)
udara
Hasil analisis kebisingan
dibawah baku mutu Kep.Men.
no.48/MENLH/11/1996 Peningkatan Kebisingan = 60 dBA, pada jarak 10 m dari Dampak
tentang baku tingkat kebisingan permukiman penduduk Penting (-)
kebisingan untuk kawasan
fasilitas umum
Tingkat pelayanan jalan di
Jalan Kapt. Samadikun dan
Jalan Mataram adalah B,
artinya: arus stabil dengan
volume lalu lintas sedang dan
Dampak tergolong besar yang berlangsung selama
kecepatan sekurang-
kegiatan mobilisasi alat dan material; luas wilayah
kurangnya 70 km/jam; Gangguan lalu
penyebaran dampak sampai dengan batas ekologis Dampak
kepadatan lalu lintas sangat lintas dan
dan yang terkena dampak meliputi komponen Penting (-)
rendah dengan hambatan kerusakan jalan
sosial, ekonomi danm budaya berupa keresahan
internal lalu lintas belum
mastarakat
mempengaruhi kecepatan;
pengemudi masih punya
cukup kebebasan untuk
memilih kecepatannya dan
lajur jalan yang digunakan

IV-73
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rona Lingkungan Hidup Prakiraan


Tahap Aspek Kegiatan Dampak Besaran Dampak
Awal Dampak
Dampak tergolong kecil yang berlangsung selama
Setuju = 86,7%; Tidak setuju Keresahan kegiatan mobilisasi alat dan material; luas wilayah Dampak
Sosek
= 0%; Abstain = 13,3% masyarakat penyebaran dampak sampai dengan batas sosial Penting (-)
dan administrasi
Data dari Puskesmas
Pembantu Pesurungan Lor
tahun 2016, jenis penyakit
yang pernah dialami Terganggunya
Dampak tergolong kecil yang disebabkan karena Dampak
Kesmas penduduk diantaranya kesehatan
penurunan kualitas udara Penting (-)
penyakit Nasopharingitis akut masyarakat
sebanyak 81 kasus, Myalgia
sebanyak 28 kasus dan
Chepalgia sebanyak 27 kasus
Hasil analisis kualitas udara
Penurunan Jumlah debu akibat pematangan lahan sebesar 0,21 Dampak
Pematangan lahan debu di lokasi kegiatan
kualitas udara μg/m3 Penting (-)
sebesar 130,80 μg/m3
Hasil analisis kebisingan
dibawah baku mutu sebesar
38,23 dBA berdasarkan
Kep.Men. Peningkatan Kebisingan = 66,11 dBA, pada jarak 5 m dari Dampak
no.48/MENLH/11/1996 kebisingan permukiman penduduk Penting (-)
tentang baku tingkat
kebisingan untuk kawasan
fasilitas umum
Hasil analisis laboratorium
Penurunan
terdapat beberapa parameter
kualitas air
yang melebihi baku mutu
permukaan dan Sebelum ada kegiatan: jumlah air larian (run off) =
diantaranya pH dan BOD5 Dampak
terganggunya 0,015 m3/detik; Setelah ada kegiatan: jumlah air
berdasarkan PP No.82 tahun Penting (-)
biota air, serta larian (run off) = 0,040 m3/detik
2001 tentang pengelolaan
peningkatan air
kualitas air dan pengendalian
larian (run off)
pencemaran air
Sampah di sekitar lokasi
Penurunan Dampak tergolong kecil yang berlangsung selama
kegiatan diangkut petugas Dampak
estetika pematangan lahan dengan kegiatan leboh dari satu
kebersihan yang dikelola oleh Penting (-)
lingkungan jenis
RT/RW setempat. Responden

IV-74
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rona Lingkungan Hidup Prakiraan


Tahap Aspek Kegiatan Dampak Besaran Dampak
Awal Dampak
menyatakan 93,3% sampah
diangkut petugas kebersihan.

Data dari Puskesmas


Pembantu Pesurungan Lor
tahun 2016, jenis penyakit
yang pernah dialami Terganggunya Dampak tergolong besar yang berlangsung selama
Dampak
Kesmas penduduk diantaranya kesehatan kegiatan pematangan lahan dan operasional base
Penting (-)
penyakit Nasopharingitis akut masyarakat camp
sebanyak 81 kasus, Myalgia
sebanyak 28 kasus dan
Chepalgia sebanyak 27 kasus
Hasil analisis kualitas udara
Penurunan Dampak tergolong kecil dengan peningkatan Dampak
Konstruksi debu di lokasi kegiatan
kualitas udara konsentrasi debu sebesar 0,21 μg/m3 Penting (-)
sebesar 130,80 μg/m3
Hasil analisis kebisingan
sebesar 60,84 dBA dibawah
baku mutu Kep.Men.
Peningkatan Dampak tergolong besar dengan peningkatan Dampak
no.48/MENLH/11/1996
kebisingan kebisingan menjadi sebesar 66,11 dBA Penting (-)
tentang baku tingkat
kebisingan untuk kawasan
fasilitas umum
Hasil wawancara dan
kuesioner, sumber air bersih
yang digunakan oleh Penurunan
Dampak tergolong kecil, pemakaian air bersih Dampak
penduduk sebagian besar kuantitas air
sebesar 30,60 m3/hari atau 0,35 L/detik Penting (-)
adalah air ledeng (53,3%), tanah
sumur gali (26,7%) dan sumur
bor (13,3%)
Beberapa parameter Penurunan
khususnya parameter pH kualitas air
tidak memenuhi standar baku permukaan dan
Dampak tergolong kecil, limbah cari dari pekerja Dampak
mutu stream standard PP terganggunya
diperkirakan sebesar 11,28 m3/hari Penting (-)
no.82 tahun 2001 tentang biota air, serta
pengelolaan dan peningkatan air
pengendalian pencemaran air larian (run off)

IV-75
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rona Lingkungan Hidup Prakiraan


Tahap Aspek Kegiatan Dampak Besaran Dampak
Awal Dampak
Sampah di sekitar lokasi
kegiatan diangkut petugas
Penurunan Dampak tergolong kecil sampai dengan batas
kebersihan yang dikelola oleh Dampak
estetika ekologis yang berlangsung selama pekerjaan
RT/RW setempat. Responden Penting (-)
lingkungan konstruksi
menyatakan 93,3% sampah
diangkut petugas kebersihan.
Data dari Puskesmas
Pembantu Pesurungan Lor
tahun 2016, jenis penyakit
yang pernah dialami Terganggunya Dampak tergolong besar yang berlangsung selama
Dampak
Kesmas penduduk diantaranya kesehatan kegiatan konstruksi dengan kegiatan lebih dari satu
Penting (-)
penyakit Nasopharingitis akut masyarakat jenis
sebanyak 81 kasus, Myalgia
sebanyak 28 kasus dan
Chepalgia sebanyak 27 kasus

Kesempatan
Jumlah penduduk angkatan kerja dan Jumlah tenaga kerja = 149 orang, dengan
Penerimaan Dampak
Operasi Sosek kerja di Kel. Pesurungan Lor = berusaha serta perputaran uang sebesar Rp
tenaga kerja Penting (+)
2.542 orang pendapatan 1.631.550.000,00/tahun
masyarakat
Hasil analisis kualitas udara Dampak tergolong kecil yang berlangsung selama
Fisika- Operasional dan Penurunan Dampak
debu di lokasi kegiatan tahap operasional dengan kegiatan lebih dari satu
kimia pemeliharaan kualitas udara Penting (-)
sebesar 130,80 μg/m3 jenis
Hasil analisis kebisingan
sebesar 60,80 dBA dibawah
baku mutu Kep.Men. Dampak tergolong kecil yang berlangsung selama
Peningkatan Dampak
no.48/MENLH/11/1996 tahap operasional lahan dengan kegiatan lebih dari
kebisingan Penting (-)
tentang baku tingkat satu jenis
kebisingan untuk kawasan
fasilitas umum
Hasil wawancara dan
kuesioner, sumber air bersih
Penurunan Dampak tergolong besar, pemakaian air tanah saat
yang digunakan oleh Dampak
kuantitas air operasional sebesar 1.470,45 m3/hari atau 17
penduduk sebagian besar Penting (-)
tanah L/detik
adalah air ledeng (53,3%),
sumur gali (26,7%) dan sumur

IV-76
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rona Lingkungan Hidup Prakiraan


Tahap Aspek Kegiatan Dampak Besaran Dampak
Awal Dampak
bor (13,3%)

Hasil analisis laboratorium


Penurunan
terdapat beberapa parameter
kualitas air
yang melebihi baku mutu
permukaan dan Sebelum ada kegiatan: jumlah air larian (run off) =
diantaranya pH dan BOD5 Dampak
terganggunya 0,015 m3/detik; Setelah ada kegiatan: jumlah air
berdasarkan PP No.82 tahun Penting (-)
biota air, serta larian (run off) = 0,040 m3/detik
2001 tentang pengelolaan
peningkatan air
kualitas air dan pengendalian
larian (run off)
pencemaran air
Sampah di sekitar lokasi
kegiatan diangkut petugas
Penurunan Dampak tergolong besar dengan timbulan sampah
kebersihan yang dikelola oleh Dampak
estetika sebesar 7,94 m3/hari, selama berlangsungnya
RT/RW setempat. Responden Penting (-)
lingkungan kegiatan operasional
menyatakan 93,3% sampah
diangkut petugas kebersihan.
Tingkat pelayanan jalan di
Jalan Kapt. Samadikun dan
Jalan Mataram adalah B,
artinya: arus stabil dengan
volume lalu lintas sedang dan
kecepatan sekurang-
Dampak tergolong besar yang berlangsung selama
kurangnya 70 km/jam;
Gangguan lalu kegiatan operasional dan yang terkena dampak Dampak
kepadatan lalu lintas sangat
lintas meliputi komponen sosial, ekonomi dan budaya Penting (-)
rendah dengan hambatan
berupa keresahan masyarakat
internal lalu lintas belum
mempengaruhi kecepatan;
pengemudi masih punya
cukup kebebasan untuk
memilih kecepatannya dan
lajur jalan yang digunakan
Responden menyatakan
Dampak tergolong kecil yang berlangsung selama
kemungkinan adanya Keresahan Dampak
Sosek kegiatan operasional dan berlangsung secara terus-
gangguan kemacetan lalu masyarakat Penting (-)
menerus
lintas (26,7%), pencemaran

IV-77
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Rona Lingkungan Hidup Prakiraan


Tahap Aspek Kegiatan Dampak Besaran Dampak
Awal Dampak
udara (26,7%), tidak adanya
lapangan pekerjaan (26,7%)
dan gangguan keamanan dan
kenyamanan (6,7%)
Data dari Puskesmas
Pembantu Pesurungan Lor
tahun 2016, jenis penyakit
yang pernah dialami Terganggunya
Dampak tergolong besar yang berlangsung selama Dampak
Kesmas penduduk diantaranya kesehatan
kegiatan operasional Penting (-)
penyakit Nasopharingitis akut masyarakat
sebanyak 81 kasus, Myalgia
sebanyak 28 kasus dan
Chepalgia sebanyak 27 kasus
Sumber: Draft RKL dan RPL Pembangunan Sport Center, 2016

IV-78
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Dampak-dampak lingkungan yang terkait dengan daya dukung dan


tampung lingkungan, meliputi:
a. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan mobilisasi alat dan material
(aspek fisika-kimia). Tahap konstruksi.
b. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan mobilisasi alat dan material (aspek
fisika-kimia). Tahap konstruksi.
c. Gangguan lalu lintas dan kerusakan jalan, pada kegiatan mobilisasi alat
dan material (aspek fisika-kimia). Tahap konstruksi.
d. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan pematangan lahan (aspek fisika-
kimia). Tahap konstruksi.
e. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan pematangan lahan (aspek fisika-
kimia). Tahap konstruksi.
f. Penurunan kualitas air permukaan dan terganggunya biota air, serta
peningkatan air larian (run off), pada kegiatan pematangan lahan (aspek
fisika-kimia). Tahap konstruksi.
g. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-kimia).
Tahap konstruksi.
h. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-kimia).
Tahap konstruksi.
i. Penurunan kuantitas air tanah, pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-
kimia). Tahap konstruksi.
j. Penurunan kualitas air permukaan dan terganggunya biota air, serta
peningkatan air larian (run off), pada kegiatan konstruksi (aspek fisika-
kimia). Tahap konstruksi.
i. Penurunan kualitas udara, pada kegiatan operasional dan pemeliharaan
(aspek fisika-kimia). Tahap operasi.
j. Peningkatan kebisingan, pada kegiatan operasional dan pemeliharaan
(aspek fisika-kimia). Tahap operasi.
k. Penurunan kuantitas air tanah, pada kegiatan operasional dan
pemeliharaan (aspek fisika-kimia). Tahap operasi.
l. Penurunan kualitas air permukaan dan terganggunya biota air, serta
peningkatan air larian (run off), pada kegiatan operasional dan
pemeliharaan (aspek fisika-kimia). Tahap operasi.
k. Gangguan lalu lintas, pada kegiatan operasional dan pemeliharaan (aspek
fisika-kimia). Tahap operasi.
Sedangkan dampak-dampak lainnya yang sebenarnya sangat berpengaruh
terhadap rencana pembangunan Sport Center Tegal adalah dampak aspek sosial

IV-79
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

ekonomi dan kesehatan masyarakat. Berikut ini diketengahkan perbandingan hasil


kuesioner Amdal tahun 2016 dengan kajian lokasi sport center sebagai berikut:
Tabel IV.35
Perbandingan Dampak Sosek dan Kesmas pada Dokumen Amdal dan Kajian Lokasi
Sport Center
Komponen Amdal Kajian Lokasi Sport Center
Jumlah Responden 15 10
Sasaran Responden Penduduk sekitar lokasi rencana Peternak Itik
pembangunan Sport Center Tegal
atau Rumah Tangga di Desa
Pesurungan Lor
Pendidikan Responden - 100% Tamat SLTA
Tanggapan Responden:
Mengetahui/tidak  100% Mengetahui  100% Mengetahui
mengetahui rencana  0% Tidak mengetahui  0% Tidak mengetahui
pembangunan Sport
Center
Minat/tidak minat  86,7% Minat  40% Minat
masyarakat terlibat dalam  13,3% Tidak minat  50% Tidak minat
rencana pembangunan  10% Tidak menjawab
Sport Center
Kekhawatiran:
 Gangguan kesehatan  0% Gangguan kesehatan  11% Gangguan kesehatan
 Pencemaran udara  26,7% Pencemaran udara  17% Pencemaran udara
 Pencemaran air  6,7% Pencemaran air  17% Pencemaran air
 Kemacetan lalu lintas  26,7% Kemacetan lalu lintas  11% Kemacetan lalu lintas
 Kecemburuan sosial  6,7% Kecemburuan sosial  9% Kecemburuan sosial
 Gangguan keamanan  6,7% Gangguan keamanan  14% Gangguan keamanan
dan kenyamanan dan kenyamanan dan kenyamanan
 Terbukanya lapangan  0% Terbukanya lapangan  9% Terbukanya lapangan
berusaha berusaha berusaha
 Terbukanya lapangan  26,7% Terbukanya lapangan  6% Terbukanya lapangan
pekerjaan pekerjaan pekerjaan
 Memperoleh fasilitas  0% Memperoleh fasilitas  6% Memperoleh fasilitas
sosial dan umum yang sosial dan umum yang lebih sosial dan umum yang lebih
lebih baik baik baik
Mendukung/tidak  86,7% Mendukung  50% Mendukung
mendukung dalam  0% Tidak mendukung  40% Tidak mendukung
rencana pembangunan  13,3% Tidak menjawab  10% Tidak menjawab
Sport Center

IV-80
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Komponen Amdal Kajian Lokasi Sport Center


Tanggapan dan masukan -  Perlu didiskusikan
(musyawarahkan) terlebih
dahulu yang meyangkut
pekerjaan orang banyak dan
perekonomian Kota Tegal.
 Pembangunan Sport Center
akan dapat mendatangkan
pendapatan untuk kota, itu
bisa saja selagi tidak
menganggu dan menurunkan
kami perternak dalam bidang
produktivitas.
 Proses pembangunan Sport
Centre jadi harus sebelumnya
bila Sport Center dibangun
peternak itik harus sudah
dibangunkan lokasi baru atau
direlokasi terlabih dahulu.
 Saya merasa keberatan
dengan adanya Sport Center
dikarenakan lingkungan
belum mendukung.
 Jangan merugikan para
peternak. Harus mendukung
dan memberi hal-hal yang
positif, para peternak minta
direlokasi.
 Saya senang terhadap
pembangunan Sport Center,
kalau boleh memberikan
masukan saya mau adanya
pekerjaan baru bagi para
peternak itik yang ada di
Jalan Kapten Samadikun
khususnya Kelompok
Gumbeng
dibenahi/direlokasikan
tempatnya biar nyaman.
 Sebelum kegiatan

IV-81
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Komponen Amdal Kajian Lokasi Sport Center


pembangunan Sport Centre,
kami para peternak memohon
dengan hormat kepada
pemerintah menyediakan
Relokasi Peternak Itik
mengingat usaha ternak itik
merupakan usaha pokok bagi
kami.
 Minta relokasi yang layak dan
sempurna.
 Pembangunan Sport Center
selama tidak akan
menganggu keberadaan
ternak itik tidak masalah, asal
tidak menggusur kandang
ternak itik sebagai sumber
mata pencahariaan warga
Pesurungan Lor.
 Sebelum proses
pembangunan Sport Center
dimulai seharusnya dilakukan
sosialisasi dulu kepada
peternak itik.
 Sebelum Sport Center mulai
dibangun, peternak itik yang
ada di sekitar lokasi
pembangunan, harus sudah
direlokasi ke tempat yang
aman terlebih dahulu.

Berdasarkan perbandingan hasil kuesioner kajian Amdal dan lokasi Sport Center
Tegal didapatkan penjelasan sebagai berikut:
1. Jumlah responden kajian Amdal sebanyak 15 KK atau penduduk di sekitar lokasi
Sport Center Tegal, sedangkan kajian lokasi Sport Center Tegal sebanyak 10
peternak itik. Dimungkinkan terdapat perbedaan persepsi antara penduduk yang
hidup dan tinggal di sekitar lokasi Sport Center Tegal dengan peternak itik.
Peternak itik adalah penduduk yang terkena dampak secara langsung
dibandingkan penduduk yang hidup dan tinggal di sekitar lokasi Sport Center

IV-82
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

Tegal. Dampak paling besar adalah produktivitas hasil peternakan itik yang
merupakan kontributor terbesar dan ciri khas dalam perekonomian penduduk.
2. Terdapat persamaan mengetahui rencana pembangunan Sport Center Tegal
sebesar 100% responden.
3. Terdapat perbedaan kepeminatan antara kajian Amdal dengan lokasi Sport Center
Tegal dimana hasil kuesioner kajian Amdal sebesar 86,7% berminat terlibat dalam
pembangunan Sport Center Tegal dan 13,3% tidak berminat, sedangkan hasil
kuesioner kajian lokasi Sport Center Tegal sebesar 40% berminat dan 50% tidak
berminat terlibat dalam pembangunan Sport Center Tegal, serta 10% tidak
menentukan jawabannya. Perbedaan persepsi disebabkan status responden
dimana responden peternak lebih besar menyatakan ketidakminatannya terlibat
dalam pembangunan Sport Center Tegal, sedangkan responden penduduk
menyatakan kepeminatannya terlibat dalam pembangunan Sport Center Tegal.
4. Hasil kuesioner kajian Amdal menunjukkan perbedaan signifikan dengan kajian
lokasi Sport Center Tegal kaitannya dengan kekhawatiran, khususnya komponen
gangguan kesehatan, pencemaran udara, pencemaran air, kemacetan lalu lintas,
kecemburuan sosial, gangguan keamanan dan kenyamanan, terbukanya
lapangan berusaha, terbukanya lapangan pekerjaan dan memperoleh fasilitas
sosial dan umum yang lebih baik, dimana kekhawatiran pada hasil kajian Amdal
didominasi oleh pencemaran udara, kemacetan lalu lintas dan terbukanya
lapangan pekerjaan, sedangkan kekhawatiran pada hasil kajian lokasi Sport
Center Tegal didominasi oleh pencemaran udara, pencemaran air dan gangguan
keamanan dan kenyamanan. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh pihak
pemrakarsa dalam memininalisir kekhawatiran adalah penanganan pencemaran
udara, kemacetan lalu lintas, terbukanya lapangan pekerjaan, pencemaran air dan
gangguan keamanan dan kenyamanan.
5. Sebesar 86,7% penduduk yang menjadi responden dalam kajian Amdal
menyatakan mendukung, namun hanya 50% peternak itik yang menjadi
responden dalam kajian lokasi Sport Center menyatakan mendukung. Sedangkan
sisanya menyatakan tidak mendukung rencana pembangunan Sport Center Tegal.
Permasalahan ini perlu didiskusikan kembali dengan komponen penduduk dan
peternak itik bersama-sama Pemerintah Daerah Kota Tegal untuk menyeleseikan
permasalahan sosial yang timbul akibat dampak pembangunan Sport Center
Tegal.
6. Tidak terdapatnya tanggapan dan masukan dari penduduk yang menjadi
responden pada hasil kajian Amdal, sedangkan pada hasil kajian lokasi Sport
Center terdapat beragam tanggapan dan masukan dari peternak itik yang pada

IV-83
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

intinya menyatakan bahwa pembangunan Sport Center Tegal dapat dilakukan


dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
7. Diskusi bersama antara komponen penduduk dan peternak itik dengan pihak
pemrakarsa atau dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kota Tegal.
8. Pembenahan awal perlu dilakukan oleh pemrakarsa dalam hal pemindahan dan
penyediaan tempat ternak itik yang lebih baik dan teroganisir lebih baik, mengingat
bahwa ternak itik di Kelurahan Pesurungan Lor merupakan plasma nutfah itik
nasional yang perlu dilestarikan, ciri khas Kota Tegal, pendukung perekonomian
kerakyatan di Kota Tegal, terdapat ±198 peternak itik aktif, terdapat ±600
pengusaha (pedagang pakan itik, pedagang, telur, penampung telur, penampung
bebek/itik, supplier, pedagang daging bebek/itik, dan lain-lain), dan merupakan
kebanggaan Kota Tegal dengan diraihnya 3 kali juara nasional ternak itik tahun
2005, 2006 dan 2016.
9. Lokasi pemindahan di Kelurahan Muarareja perlu dimatangkan dan
dikoordinasikan kembali dengan semua pihak, agar sebelum pembangunan Sport
Center Tegal dilaksanakan, maka pemindahan perlu dilakukan terlebih dahulu
mengingat biaya pemindahan dan penempatan yang sangat besar sebesar lebih
dari 38 Milyar rupiah.
10. Pembinaan lapangan pekerjaan baru bagi peternak itik yang terkena dampak
langsung dari kegiatan pembangunan Sport Center Tegal.

Tabel IV. 36
Perbandingan Sebelum dan Sesudah Proyek
No. Komponen Dampak Sebelum Sesudah
1 Kuantitas air/daya dukung Volume ketersediaan air = Volume sisa ketersediaan air
air (DDA) 943.406 m3/tahun. = 943.406 m 3/tahun - 536.696
m3/tahun = 406.710 m3/tahun.
2 Kualitas air/daya tampung Status mutu air Sungai Status mutu air Sungai
air Sibelis = -39 (cemar berat) Sibelis = -60 (cemar berat)
3 Kualitas udara/daya  ISPU di tengah lokasi =  ISPU di tengah lokasi =
tampung udara 22 (baik) 117 (buruk)
 ISPU di jalan dan  ISPU di jalan dan
permukiman = 23 (baik) permukiman = 117 (buruk)
4 Kebisingan  Tengah lokasi = 56,88  Tengah lokasi = 66,11
dBA dBA
 Jalan dan permukiman  Jalan dan permukiman =
= 60,84 dBA 70 dBA
5 Gangguan lalu lintas Tingkat pelayanan jalan di  Peningkatan 33%
Jalan Kapt. Samadikun dan

IV-84
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Komponen Dampak Sebelum Sesudah


Jalan Mataram adalah B, SMP/hari
artinya: arus stabil dengan  Kemacetan lalu lintas
volume lalu lintas sedang dengan kelas hambatan
dan kecepatan sekurang- samping tinggi,
kurangnya 70 km/jam; berdasarkan kondisi
kepadatan lalu lintas khusus: Daerah komersial
sangat rendah dengan dengan aktivitas sisi jalan
hambatan internal lalu tinggi. Jumlah bobot
lintas belum kejadian per 200 m per
mempengaruhi kecepatan; jam (dua sisi) antara 500-
pengemudi masih punya 899.
cukup kebebasan untuk
memilih kecepatannya dan
lajur jalan yang digunakan.
6 Sosial-Ekonomi dan  Jumlah penduduk  Peningkatan jumlah
Kesehatan Masyarakat angkatan kerja di Kel. tenaga kerja dari luar
Pesurungan Lor = 2.542 Kelurahan Pesurungan
orang. Lord dan beragamnya
 Responden penduduk jenis pekerjaan baru.
non-peternak itik  Perubahan persepsi saat
menyatakan pembangunan secara
kemungkinan adanya langsung maupun
gangguan kemacetan bertahap.
lalu lintas (26,7%),  Penurunan produktivitas
pencemaran udara ternak (telur, daging)
(26,7%), tidak adanya selama periode
lapangan pekerjaan pembangunan dan
(26,7%) dan gangguan pemindahan/relokasi.
keamanan dan  Peningkatan konflik sosial.
kenyamanan (6,7%).  Penurunan kesehatan
 Responden peternak itik penduduk dengan
menyatakan adanya meningkatnya beragam
gangguan kesehatan jenis penyakit yang
(11%), pencemaran khususnya disebabkan
udara (17%), oleh pencemaran udara
pencemaran air (17%), dan air.
kemacetan lalu lintas
(11%), kecemburuan
sosial (9%), gangguan

IV-85
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

No. Komponen Dampak Sebelum Sesudah


keamanan dan
kenyamanan (14%),
terbukanya lapangan
berusaha (9%),
terbukanya lapangan
pekerjaan (6%),
memperoleh fasilitas
sosial dan umum yang
lebih baik (6%).
 Berdasarkan responden
penduduk non-peternak
itik menyatakan setuju
mendukung = 86,7%;
tidak setuju mendukung
= 0%; Abstain = 13,3%.
 Berdasarkan responden
peternak itik
menyatakan setuju
mendukung = 50%;
tidak setuju mendukung
= 40%; Abstain = 10%.
 Data dari Puskesmas
Pembantu Pesurungan
Lor tahun 2016, jenis
penyakit yang pernah
dialami penduduk
diantaranya penyakit
Nasopharingitis akut
sebanyak 81 kasus,
Myalgia sebanyak 28
kasus dan Chepalgia
sebanyak 27 kasus.
Sumber : Analisis Penyusun, 2017

IV-86
KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL
LAPORAN AKHIR

BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya dan proses
identifikasi wilayah perencanaan dengan melihat berbagai aspek yang berada di
dalamnya. Maka terciptalah kesimpulan dan rekomendasi dari kajian ini. Kesimpulan
pada kajian ini dipisah menjadi 5 aspek dengan terdapat sub aspek yang berada
didalamnya. Adapun aspek-aspek tersebut didasari oleh keluaran berdasarkan KAK
antara lain:
1. Kondisi Eksisting Wilayah
2. Stakeholder & Personal Capacity
3. Dampak Lalu Lintas
4. Sistem Kebutuhan dan Pengaruh Fungsi Ruang
5. Pengaruh Sport Centre dalam Pembangunan Wilayah.
Sedangkan lingkungan masuk pada aspek Sistem Kebutuhan dan Pengaruh
Fungsi Ruang. Sementara itu dari hasil kesimpulan ini nantinya yang telah ditabulasi
akan disusun terkait rekomendasi-rekomendasi yang harus dilakukan guna
pembangunan Sport Centre yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Berikut adalah
kesimpulan dalam kajian sebagaimana tabel berikut :

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-1


LAPORAN AKHIR

Tabel V.1
Tabulasi Kesimpulan Hasil Kajian Sport Centre
No Aspek Keterangan
1 Kondisi Eksisting Wilayah
Geografis 1. Kondisi kota Tegal yang relatif datar dan Kota Tegal memiliki lokasi yang strategis, karena berada di jalur pantai
utara (pantura) Jawa Tengah, serta terdapat persimpangan jalur utama yang menghubungkan pantura dengan kota-
kota di bagian selatan Pulau Jawasangat mendukung aktivitas perekonomian penduduk terutama kegiatan di sekitar
kawasan pelabuhan dan sepanjang jalan nasional.
2. Kecamatan Margadana merupakan salah satu dari 4 kecamatan yang ada diwilayah Kota Tegal. Letak Kecamatan
Margadana berada di posisi yang sangat strategis yang merupakan jalur penghubung perekonomian lintas nasional
dan regional di wilayah pantura.

Ekonomi 1. Struktur lapangan usaha sebagian masyarakat Kota Tegal telah bergeser dari lapangan usaha Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan ke lapangan usaha ekonomi lainnya yang terlihat dari penurunan peranan setiap
tahunnya terhadap pembentukan PDRB Kota Tegal. Sumbangan terbesar pada tahun 2014 dihasilkan oleh lapangan
usaha Perdagangan Besar dan Eceran; reparasi mobil dan motor (28,99%), lapangan usaha konstruksi (16,77%),
lapangan usaha industri pengolahan (14,22%) dan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum
(5,59%).
2. Salah satu sarana transportasi yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat kec. Margadana adalah
adanya Terminal Angkutan Tipe A yang melayani trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam
Provinsi (AKDP) dan trayek angkutan kota. Adanya terminal memberi pengaruh terhadap peningkatan PDRB di
wilayah ini, sektor yang paling besar memberi kontribusi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sekitar
25% dari total PDRB Kec. Margadana.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-2


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
Sosial 1. Perkiraan jumlah penduduk Kota Tegal Tahun 2015 yang digunakan sebagai dasar untuk penyusunan tabulasi
hasil proyeksi Sensus Penduduk Tahun 2010 adalah sebesar 276.734 jiwa.
2. Kecamatan Tegal Timur merupakan daerah dengan jumlah penduduk terbanyak di antara 3 kecamatan lainnya di
Kota tegal, yakni 77.456 jiwa atau 31,47 persen dari total penduduk Kota tegal. Kecamatan Margadana merupakan
daerah dengan jumlah penduduk paling sedikit sebanyak 45.914 jiwa.
3. Kota Tegal tahun 2015 diketahui tertinggi bermatapencaharian sebagai pedagang yaitu sebanyak 20.926 jiwa atau
sebesar 17.20% dari seluruh penduduk yang berumur diatas 10 tahun.

Budaya Kultur budaya masyarakat agamis yang kental dengan jiwa kewirausahaan, kreatif dan inovatif, telah menyemarakan
Kota Tegal dengan berbagai macam jenis aktifitas usaha ekonomis produktif diberbagai sektor terutama di sektor
industri, perdagangan dan kelautan. Kota Tegal selain dikenal sebagai Kota Bahari dikenal pula sebagai Kota Idaman
(industri, perdagangan dan kemaritiman).
2 Stakeholder & Personal Capacity
Kebijakan Ketentuan terkait perencanaan dan pengawasan Sport Centre telah terangkum dalam RPJMD dan Renstra SKPD
Dinpora yang berlaku hingga tahun 2014-2019, perlu ada keserasian dan keberlanjutan dari RPJMD terkait
perencanaan dan pengelolaan Sport Centre dan harus tidak berbatas ruang lingkup politik (Pilkada) terkait masa
berlaku dari RPJMD tersebut yang nantinya akan didetilkan pada RTRW, RDTR dan Renstra SKPD. Dan status
Dinpora yang sudah berstatus dinas tentunya memiliki kapasitas yang lebih dalam mengatur terkait hal-hal
keolahragaan terutama sesuai dengan amanat RPJMD yaitu tidak hanya sebagai ajang rekreasi akan tetapi Sport
Centre diharapkan mampu meningkatkan prestasi olahraga yang ada di Kota Tegal. Sehingga yang diperlukan dari
monitoring tidak hanya secara kualitatif, akan tetapi kuantitatif terkait tujuan sebagai sarana prestasi.
3 Dampak Lalu Lintas

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-3


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
Pra Proyek Tingkat pelayanan jalan di Jalan Kapt. Samadikun dan Jalan Mataram adalah B, artinya: arus stabil dengan volume
lalu lintas sedang dan kecepatan sekurang-kurangnya 70 km/jam; kepadatan lalu lintas sangat rendah dengan
hambatan internal lalu lintas belum mempengaruhi kecepatan; pengemudi masih punya cukup kebebasan untuk
memilih kecepatannya dan lajur jalan yang digunakan.

Pasca Proyek Kemacetan lalu lintas dengan kelas hambatan samping tinggi, berdasarkan kondisi khusus: Daerah komersial dengan
aktivitas sisi jalan tinggi. Jumlah bobot kejadian per 200 m per jam (dua sisi) antara 500-899.

Sistem Kebutuhan dan Sport Centre Perternakan Itik TPA


5
Pengaruh Fungsi Ruang
Kebijakan 1. Kebijakan pemerintah Pusat yang 1. Berdasarkan RTRW, wilayah 1. Keberadaan TPA sementara
tercantum dalam Tata Ruang Nasional perencanaan Sport Centre yang saat ini ada merupakan
(UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan diperuntukkan untuk perternakan. salah satu tantangan yang cukup
Ruang Nasional) menetapkan Kota Tegal Hal tersebut merupakan salah satu berat dalam perencanaan Sport
sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) kebijakan yang mendukung Centre, pasalnya selain
telah memberikan pengaruh yang cukup sepenuhnya di dalam proses mengganggu aktivitas yang
besar terhadap kebijakan pemerintah pembangunan kawasan berada di daerah sekitar akan
Provinsi Jawa Tengah maupun kebijakan Perternakan Itik tetapi juga dapat mengakibatkan
Pemerintah 2. Akan tetapi dikarenakan telah degradasi lingkungan di wilayah
Daerah (Kota) Tegal. Sebagai pusat keluarnya Renstra SKPD Dinas sekitar.
kegiatan wilayah, kota tegal dituntut agar Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, 2. Dalam sisi kebijakan RTRW,
mampu berkembang lebih cepat dengan dan Pariwisata tahun 2014-2019 TPA sementara yang saat ini di
daerah lain disekitarnya. Untuk itu, terkait perencanaan Sport Centre berada di Kelurahan Muarareja
pemerintah Kota Tegal telah menyusun guna PORPROV dan juga telah yang berdekatan dengan Sport
peraturan daerah (Perda) dan Renstra beradanya posisi revisi RTRW per Centre yang tentunya
SKPD guna percepatan pembangunan 5 tahun maka akan disusun ulang melemahkan hubungan fungsi

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-4


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
yang berada di Kota Tegal terkait peruntukkan ruang tersebut ruang Sport Centre kedepannya
2. Sementara itu jika dilihat dari sisi agar tidak tercipta overlap telah direncanakan untuk
kebijakan RPJM dan kemudian di dikeduanya. Hal tersebut relevan direlokasi ke Kelurahan
detailkan menjadi Renstra SKPD terkait dengan pernyataan Dinas Kelautan Kaligangsa di Kecamatan
pembangunan Sport Centre, hal tersebut dan Pertanian Kota Tegal yang Margadana.
merupakan menjadi amanat yang menyebutkan bahwa lokasi
tercantum di dalam Tujuan, Sasaran dan Perternakan Itik yang saat ini
Rencana Strategis SKPD (Dinas Pemuda berada di lokasi perencanaan Sport
dan Olahraga Kota Tegal). Hal tersebut Centre sudah siap untuk dipindah
dikarenakan guna peningkatan prestasi karena dari Dinas Kelautan dan
olahraga Kota Tegal dan Pemerintah Kota Perikanan pun sudah memiliki
Tegal telah ditetapkan sebagai tuan rencana guna relokasi atau
rumah pelaksanaan Pekan Olahraga pemindahan itik tersebut.
Provinsi (PORPROV) sehingga
disusunlah perencanaan Sport Centre di
dalamnya serta sebagai amanat Nasional
yaitu PKW agar percepatan
pembangunan yang berada didalamnya.
3. Di dalam perencanaan pembangunan
Sport Centre terdapat ketentuan-
ketentuan terkait kebutuhan sarana dan
prasarana pendukung sebagaimana yang
tercantum pada analisis kebutuhan
sarana dan prasarana dan unsur
pendukung lainnya seperti estetika,

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-5


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
udara, dsb. Akan tetapi terdapat beberapa
kendala yang ditemui dalam perencanaan
Sport Centre yaitu keberadaan
perternakan itik dan juga TPA sementara
yang cukup mengganggu. Sehingga perlu
perencanaan terkait hal teknis dan non
teknis tersebut dari sisi kebijakan maupun
aspek lainnya.
Struktur Ruang Kota Di dalam struktur ruang kota, keberadaan Perternakan Itik secara eksisting TPA yang berada saat ini yang
Sport Centre tentunya memiliki peran yang memiliki peranan yang penting juga menjadi tantangan Kota Tegal
sangat penting dalam membentuk struktur dalam menyusun struktur ruang tentunya harus dihadapkan
(kerangka) sebuah kota. Dengan adanya kota. Dimana keberadaan berbagai kemungkinan, dimana
Sport Centre akan terbentuk simpul-simpul perternakan itik tersebut terkait salah satunya adalah jalur TPA
dan aktivitas baru sebagaimana yang sumber daya alam maupun sumber yang sudah terbentuk dan 'habit'
tercermin dalam Analisis Struktur Ruang daya manusia yang ada. Sehingga yang sudah berpola dalam
Kota. Dan tentunya hal tersebut sejalan tidak bisa dipisahkan dari struktur pembuangan sampah Kota Tegal.
dengan fungsi wilayah Kota Tegal sebagai ruang kota di Kota Tegal walaupun Walaupun sudah ada
wilayah perkotaan. pada hakikatnya tidak sejalan perencanaan pemindahan TPA,
dengan fungsi perkotaan. akan tetapi perlu ada perencanaan
non teknis lainnya guna merubahn
pola tersebut khususnya di
masyarakat. Karena jelas
keberadaan TPA sementara
tersebut telah menggangu
aktivitas yang ada di sekitar, tidak

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-6


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
hanya pada proses pembangunan
Sport Centre nanti.

Ekonomi Dilihat dari sudut pandang Ekonomi, Hal yang tidak boleh terlupakan Terkait keuntungan ekonomi,
tentunya Sport Centre memiliki proyeksi adalah terkait mata pencahariaan keberadaan TPA tidak memiliki
keuntungan yang lebih tinggi pada level masyarakat. Walaupun Sport korelasi yang cukup berarti.
kota. Tidak hanya pada pendapatan kota, Centre akan memberikan peluang Begitupun jika dilihat dari sisi
akan tetapi hal tersebut juga dapat pekerjaan baru, akan tetapi para operasional biaya, pemindahan
memberikan sebuah 'mark' baru pada Kota peternak itik tersebut telah memiliki tersebut tidak memiliki pengaruh
Tegal. 'habit' dan sumber daya pendukung yang cukup besar karena lokasi
usaha mereka. Sehingga yang berubah yang tidak begitu
keberadaan opsi relokasi jauh dan mengakibatkan dampak
merupakan salah satu alternatif dari sisi operasional yang cukup
yang cukup bagus. besar.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-7


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
Lingkungan 1. Daya Dukung Lingkungan Sedang Jika diperuntukkan untuk pertanian, Sangat buruk, karena dibiarkan
(Kuning) maka Daya Dukung Lahan Buruk. begitu saja. Hal tersebut akan
2. Daya Dukung Air Sedangkan saat ini untuk sarana melemahkan daya dukung
3. Daya Dukung Lahan Buruk dan prasarana penunjang lingkungan dan dapat merusak
4. Kualitas Air Buruk Perternakan Itik masih tidak ada unsur hara lainnya. Perlu
5. Kualitas Udara Baik (hanya dibiarkan saja). Sehingga pemindahan segera sehingga
6. Kemampuan Lahan Baik hal tersebut dapat berisiko pada menjadi TPA terpadu dan
7. DTL Sedang degradasi lingkungan. Sehingga hal terintegrasi
tersebut sudah saatnya direlokasi
guna tersedianya sarana dan
prasaran penunjang perternakan itik
dalam rangka mengurangi
degradasi lingkungan
6 Pengaruh Sport Centre dalam pembangunan wilayah
Seni dan Olahraga Sebanyak 3 cabang olahraga unggulan yang menjadi andalan Kota Tegal adalah Pencak Silat, Renang, dan Tenis
Lapangan. Prestasi keolahragaan di Kota Tegal sudah cukup bagus di wilayah Jawa Tengah. Oleh karena itu upaya
pembinaan terhadap berbagai cabang olahraga perlu ditingkatkan. Pembinaan tersebut bisa dilakukan melalui cabang-
cabang olahraga yang ada. Sampai tahun 2013 cabang olahraga yang ada di Kota Tegal meningkat dari 24 menjadi
26. Akan tetapi sarana dan prasaran pendukung tersebut tidak mengalami hal yang sama. Sehingga perlu
pengembangan ke depannya agar prestasi olahraga tersebut terus meningkat yang diseimbangi dengan penyediaan
sarana dan prasarana yang memadai. Keberadaan Sport Centre tentunya tidak hanya berperan dalam penciptaan
sarana rekreasi ataupun ruang terbuka yang baru bagi Kota Tegal. Melainkan juga sebagai fungsi peningkatan prestasi
olahraga yang ada di Kota Tegal

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-8


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
Ekonomi 1. Kota Tegal merupakan kawasan yang dilalui jalur perdagangan nasional (darat) yang cukup strategis, kota tegal
merupakan salah satu kota transit dari arah jakarta – semarang maupun arah sebaliknya, sehingga menyebabkan
sektor perdagangan, hotel & restoran berkembang cukup signifikan terlihat pada data PDRB
2. Keberadaan Jalan Arteri By Pass Tegal – Brebes, Jalan lokal Kapt. Samadikun dan Jalan Mataram telah
menghubungkan berbagai sarana dan akan membuat semakin banyaknya bangkitan perjalanan dari dan akan
menuju Sport Centre. Selain itu kedekatan dengan sarana transportasi seperti terminal dan stasiun telah memberikan
peluang bagi tumbuhnya perdagangan jasa baru di Kota Tegal di sekitar Sport Centre.
4. Sementara itu dampak ekstrim dari keberadaan Sport Centre dilihat dari sisi demografi, peluang ekonomi, spasial,
dan supporting system lainnya tentunya (Pada Bab Analisis) akan memberikan peluang bagi terbentuknya CBD baru
yang tentunya akan menambah pendapatan tidak hanya Kecamatan Margadana, akan tetapi juga pada skala Kota
Tegal.
5. Dengan adanya kesempatan-kesempatan baru terkait pertumbuhan perdagangan dan jasa dan CBD baru
tentunya akan membantu pengurangan angka pengangguran di Kota Tegal seiring banyaknya kesempatan kerja
yang ada.
Sosial 1. Kota Tegal memiliki struktur penduduk dengan mata pencahariaan pedagang sebagai mata pencahariaan utama
dan dilanjutkan dengan buruh industri serta pengusaha. Jika dilihat, struktur mata pencahariaan penduduk tersebut
mayoritas berada pada sektor sekunder jika dilihat pada skala kota. Sehingga hal tersebut memiliki korelasi jika
dikaitkan dengan analisis pengembangan wilayah Kota Tegal terhadap Sport Centre yang menyebutkan bahwa
terdapat peluang terbentuknya perdangan dan jasa dan CBD baru. Sehingga dampak tersebut sesuai dengan
karakteristik demografi kota tersebut.
2. Akan tetapi jika dilihat secara mikro di wilayah perencanaan, terdapat aktivitas warga sekitar yang masih bekerja
pada sektor primer (tambak, perternakan) walaupun hal tersebut pada hakikatnya tidak sesuai dengan karakteristik
jika dikaitkan dengan pembangunan Sport Centre. Walaupun pada akhirnya sektor perimer tersebut nantinya akan
direlokasi sesuai dengan analisis kebijakan sebelumnya.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-9


LAPORAN AKHIR

No Aspek Keterangan
Sistem Keruangan 1. Dalam aspek sistem keruangan, tentunya hal tersebut sesuai dengan karakteristik Kota Tegal sebagai wilayah
perkotaan. Dalam konteks wilayah perkotaan tentunya perlu ada pemisahan antar fungsi ruang dengan
kecenderungan fungsi primer dengan fungsi lainnya. hal tersebut bertujuan agar fungsi wilayah perkotaan sebagai
pusat pelayanan, perdagangan dan jasa dan fungsi perkotaan lainnya dapat tercapai agar tercipta keseimbangan
antar fungsi ruang dan Urban-Rural Linkage
2. Dalam pembangunan Sport Centre sesuai dengan analisis kebijakan sebelumnya perlu ada revisi ulang terkait
kebijakan dalam pengaturan sisitem keruangan (RTRW). Sehingga dapat terwujudnya tertib tata ruang dan tata
ruang yang menyejahterakan.
Sumber : Analisis Penyusun, 2017.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-10


LAPORAN AKHIR

Kemudian untuk melihat hasil analisis yang telah dilakukan, maka dilakukanlah
skoring berdasarkan Petunjuk Teknis Prasarana Olahraga Prestasi Sekretaris Pemuda dan
Olahraga Tahun 2016 dan Pedoman Skoring dan Kriteria Pembobotan berdasarkan
Malczewski (1991) sebagai berikut :
Tabel V.2
Tabel Ranking Kriteria
Total
No Kriteria A B D E F G H I J K Ranking
C Skoring
1 Kebijakan (A) 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 8 3
2 Kesesuaian dengan RTRW (B) 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 2
3 Struktur Ruang (C) 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 7 4
4 Hubungan Antar Ruang (D) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1
5 Kondisi Lingkungan (E) 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 6 5
6 Aksesibilitas Jalan (F) 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 5 6
7 Keberadaan Angkutan Umum (G) 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2 9
8 Fasilitas Olahraga (H) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11
9 Jaringan Air dan Listrik (I) 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3 8
Keberadaan Sarana dan Utilitas
10 Pendukung (J) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 10
11 Status Lahan (K) 0 0 0 0 0 1 1 1 1 4 7
Sumber : Analisis Penyususn dalam Zero One Analysis, 2017

*Keterangan :
0 = Kriteria yang kurang penting
1 = Kriteria yang lebih penting
Selanjutnya dilakukan pembobotan setiap kriteria menggunakan rumus sebagai
berikut:
Bobot = (N-t +1) /N
Dimana:
N = jumlah kriteria
t = urutan ranking
Hasil pembototan adalah sebagai berikut:
Tabel V.3
Tabel Pembobotan Kriteria
Total Nilai Total Nilai Max
Skor
Variabel Ranking Skor Bobot (Skor x (Skor Max x
Maksimal
Bobot) Bobot)
Hubungan Antar Ruang 1 2 3 1 2 3,0

Kesesuaian dengan RTRW 2 1 3 0,91 0,91 2,7

Kebijakan 3 3 3 0,82 2,45 2,5

4 3 3 0,73 2,18 2,2


Struktur Ruang
Kondisi Lingkungan (Daya 1,9
5 1 3 0,64 0,64
Dukung Lingkungan)
Kondisi Lingkungan (Daya 1,9
5 2 3 0,64 1,27
Tampung Lingkungan)
Aksesibilitas Jalan 6 3 3 0,55 1,64 1,7

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-11


LAPORAN AKHIR

Total Nilai Total Nilai Max


Skor
Variabel Ranking Skor Bobot (Skor x (Skor Max x
Maksimal
Bobot) Bobot)
Status Lahan 7 2 3 0,45 0,91 1,4

Jaringan Air dan Listrik 8 3 3 0,36 1,09 1,1

Keberadaan Angkutan Umum 9 3 3 0,27 0,82 0,8


Keberadaan Sarana dan Utilitas 0,5
10 3 3 0,18 0,55
Pendukung
Fasilitas Olahraga 11 2 3 0,09 0,18 0,3
Total 36 14,64 19,92
Sumber : Analisis Penyususn, 2017

Dari hasil skoring x pembobotan di atas kemudian dilakukan pembagian dalam 3


interval kelas berdasarkani Kaidah Sturgess. 3 kelas tersebut adalah Baik, Sedang dan
Buruk. Berikut adalah hasil tersebut :
Tabel V.4
Hasil Klasifikasi Skoring x Pembobotan
Baik 15 - 21
Sedang 8 – 14
Buruk 1–7
Sumber: Analisis Penyusun, 2017

Sehingga berdasarkan hasil klasifikasi di atas didapatlah kategori sedang yang didapat
Sport Centre Kota Tegal di Kelurahan Pesurungan Lor. Akan tetapi jika ingin melihat proses
perhitungan dan klasifikasi kriteria yang termasuk kategori baik, sedang dan buruk dapat
dilihat pada lampiran. Oleh karena itu berdasarkan kategori di atas, diperlukan perbaikan-
perbaikan guna memberikan solusi pada kelemahan tersebut (Yesiana, 2014). Adapun
rekomendasi yang diberikan adalah sebagi berikut :
5.2. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan di atas yang didapat dari bab analisis sebelumnya
dibuatlah rekomendasi dari pemilihan lokasi Sport Centre di Kelurahan Pesurungan Lor di
Kecamatan Margadana. Pada hakkatnya, pemilihan lokasi Sport Centre di lokasi tersebut
sudah cukup baik dilihat dari 4 perspektif utama, yaitu Kebijakan, RTRW (Pola Ruang dan
Struktur Ruang), Planologi, dan Lingkungan. Cukup baik disini memiliki arti bahwa dapat
dilakukan pembangunan Sport Centre dengan memperhatikan dan memberikan solusi
pada setiap kelemahan. Berikut adalah solusi dan arahan dari kelemahan-kelemahan
pembangunan Sport Centre di lokasi perencanaan tersebut dalam memperbaiki
kelemahan tersebut. Adapun 3 aspek yang digunakan dalam mengkategorikan kelemahan-
kelemahan guna solusi dan arahan ke depan yang tercipta yaitu Kebijakan, Planologi, dan
Lingkungan. Berikut penjelasannya :
1. Kebijakan
- Penyusunan Dokumen AMDAL

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-12


LAPORAN AKHIR

- Pengesahan Perda tentang Rencana Detail Tata Ruang sebagai pedoman rinci
dalam pembangunan Sport Centre terkait perizinan dan ketentuan pemanfaatan
ruang.
- Revisi RTRW bagian peruntukan pola ruang perternakan terkait pembangunan
Sport Centre di wilayah yang sama
- Perlu adanya kebijakan yang membahas ganti rugi atau hal lainnya terkait
kepemilikan lahan warga guna peruntukkan perternakan itik yang tidak hanya
berada pada lokasi perencanaan, tetapi juga warga yang berada di sekitar Sport
Centre karena lahan tersebut tentunya akan menjadi akses ke dalam Sport
Centre.
2. Planologi
a. Gangguan lalu lintas pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan
dengan cara:
- Ada petugas pengatur lalu lintas saat pekerjaan konstruksi dan operasi.
- Pengadaan material diupayakan pada malam hari dan/atau tidak pada jam-
jam sibuk.
- Waktu pekerjaan direkomendasikan jam 09.00-11.00 WIB dan 13.00-15.00
WIB untuk jam kerja pekerja.
- Pemasangan rambu-rambu di area masuk dan keluar lokasi proyek.
- Memperlancar sistem pergerakan melalui penerapan kebijaksanaan
rekayasa dan manajemen lalulintas.
- Koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk pemasangan rambu-rambu
operasional jalan
- Penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan kegiatan informal lainnya pada
lokasi RUMIJA yang mengganggu/mengurangi kapasitas jalan (side friction)
- Tata cara parkir membentuk sudut minimal 0o (paralel) atau maksimal 30o
- Pengaturan waktu pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jalan yang tepat
- Menugaskan petugas pengatur lalu lintas selama pekerjaan pemeliharaan
jalan
- Melakukan pemeliharaan rutin, berkala dan rehabilitasi jalan sesuai program
yang telah direncanakan
b. Prasarana umum pada tahap konstruksi dapat dipulihkan dengan cara:
- Sosialisasi kepada warga sekitar
- Perbaikan jalan/prasarana umum yang rusak
- Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar
- Berkoordinasi dengan pengelola utilitas sebelum pemindahan atau
perbaikan utilitas sesuai peraturan yang berlaku

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-13


LAPORAN AKHIR

- Koordinasi dengan PJR


- Koordinasi dengan dinas terkait
c. Pemidahan Fungsi Ruang
- Relokasi Perternakan Itik Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat
- Relokasi TPA ke Ke Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana
3. Lingkungan
a. Supply air bersih dari air ledeng atau PDAM sebesar (1,5 x 17 L/detik = 25,5
L/detik) sebagai prioritas sumber air bersih utama, yang dialokasikan pada
tahap operasi. Sedangkan supply air bersih dari air tanah hanya digunakan
pada tahap konstruksi sebesar 30,60 m3/hari atau 11.169 m3/tahun, sehingga
penggunaan air bersih dari air tanah dapat dikurangi sebesar 536.696
m3/tahun.
b. Kualitas air sungai dapat dipulihkan sebagaimana pemecahan masalah pada
sub bab daya dukung dan tampung lingkungan, dengan cara mengatur
pembuangan limbah domestik dan non-domestik secara langsung ke sungai,
menggunakan IPAL komunal domestik dan IPAL setempat non-domestik
dengan efisiensi proses > 95% untuk berbagai parameter terukur.
c. Kualitas udara pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan
cara:
- Aplikasi RTH 30% dari luas pengadaan lahan. Rasio 15:85, 15% tanaman
keras dan 85% tanaman perdu diantara tanaman keras. Jarak tanam
direkomendasikan 120 meter antar tanaman.
- Memelihara tanaman yang sudah ditanam pada kegiatan penghijauan dan
pertamanan.
- Menambah tanaman sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi.
- Penanaman kembali pohon yang ditebang setelah pelebaran jalan.
- Koordinasi dengan dinas terkait.
- Penerapan Pedoman Pemilihan Tanaman Untuk Mengurangi Polusi Udara
(NOx, CO, SO2) Nomor 011/T/BM/1999.
- Menerapkan Tata Cara Pemeliharaan Tanaman Lansekap Jalan Nomor
009/T/Bt/1995.
- Penyiraman area proyek dan jalan secara berkala dengan memperhatikan
ketersediaan volume air yang cukup dan periode waktunya diperhatikan.
- Penyediaan tenaga kebersihan.
- Pembersihan ceceran material di jalan.
- Membatasi kecepatan kendaraan proyek.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-14


LAPORAN AKHIR

- Penaatan jam kerja antara jam 07.00-17.00 WIB atau 8 jam kerja, kecuali
pengadaan material pada malam hari antara jam 19.00-21.00 WIB.
d. Kebisingan pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan cara:
- Aplikasi RTH 30% dari luas pengadaan lahan
- Pemasangan pagar pembatas/penghalang suara (noise barrier) dari bahan
yang sesuai pada lokasi yang berdekatan dengan fasilitas umum (sekolah,
rumah ibadah, rumah sakit, pasar, dan lain-lain).
- Penerapan Pedoman Mitigasi Dampak Kebisingan Akibat Lalu Lintas Nomor
Pd-T-16-2005B
- Pemberitahuan pada masyarakat sekitar.
- Perawatan mesin peralatan berat dan peralatan lain yang digunakan secara
teratur.
- Melakukan pekerjaan yang berpotensi bising di luar jam istirahat warga.
Waktu kerja antara pukul 07.00 – 17.00 WIB.
e. Sampah pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan cara:
- Melengkapi bak truk dengan penutup
- Pembersihan dan perbaikan jalan yang dilewati apabila terjadi kerusakan
akibat pengangkutan material
- Sisa material dan limbah padat B3 dikoordinasikan dengan pihak ke-3
- Penyediaan disposal area tampung sisa material
- Sampah domestik ditampung minimal 6 wadah @ 130 L dan dikoordinasikan
dengan kelurahan atau petugas kebersihan eksisting
- Koordinasi dengan dinas terkait
- Menyediakan petugas kebersihan untuk menjaga kebersihan lingkungan
dan pengangkutan sampah ke TPS terdekat
f. Banjir/genangan pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan
cara:
- Pembuatan peta alur drainase
- Pemeliharaan saluran drainase (saluran samping, tengah dan saluran
memotong jalan) secara rutin dan berkala serta rehabilitasi
- Memperhatikan pemanfaatan dan penggunaan bagian-bagian jalan
- Koordinasi dengan dinas PSDA untuk masalah saluran kriteria saluran yang
ada posisi di tengah jalan
g. Flora dan fauna pada tahap konstruksi dapat dipulihkan dengan cara:
- Membatasi luas pembersihan lahan sesuai desain
- Memasang patok dan larangan mengganggu vegetasi dan satwa liar
- Penanaman kembali pohon yang ditebang setelah pelebaran jalan.

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL V-15


LAPORAN AKHIR

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i

DAFTAR TABEL ........................................................................................................ vii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1-1

1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1-1

1.2. Tujuan ......................................................................................................... 1-1

1.3. Sasaran ....................................................................................................... 1-2

1.4. Dasar Hukum............................................................................................... 1-2

1.5. Ruang Lingkup ............................................................................................ 1-3

1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah ........................................................................ 1-3

1.5.2. Ruang Lingkup Substansi ..................................................................... 1-4

1.6. Keluaran ...................................................................................................... 1-5

1.7. Sistematika Penulisan ................................................................................. 1-5

BAB II KAJIAN LITERATUR DAN METODOLOGI ................................................... 2-1

2.1. Pengertian Olahraga.................................................................................... 2-1

2.2. Jenis Olahraga ............................................................................................ 2-2

2.2.1. Berdasarkan Tujuan Olahraga .............................................................. 2-2

2.2.2. Berdasarkan Kegiatan Fisik .................................................................. 2-3

2.2.3. Berdasarkan Pelaku Olahraga .............................................................. 2-4

2.2.4. Berdasarkan Ruang Aktivitas Olahraga ................................................ 2-4

2.3. Tinjauan Umum Bangunan Sport Center ..................................................... 2-5

2.3.1. Pengertian Sport Center ....................................................................... 2-5

2.3.2. Klasifikasi Jenis Kegiatan pada Sport Center........................................ 2-5

2.3.3. Fasilitas Olahraga pada Sport Center ................................................... 2-5

2.3.4. Fungsi Sport Center.............................................................................. 2-6

2.3.5. Klasifikasi Sport Center ........................................................................ 2-6

2.3.6. Standar-Standar Ketentuan Sport Center ............................................. 2-8

2.3.7. Persyaratan Umum Sport Center .......................................................... 2-9

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL ii


LAPORAN AKHIR

2.3.8. Jenis Olahraga yang Diwadahi ........................................................... 2-10

2.4. Teori Lokasi ............................................................................................... 2-11

2.5. Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) .................................................... 2-12

2.5.1. Pengertian Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) ........................... 2-12

2.5.2. Fenomena Dampak Lalu Lintas .......................................................... 2-13

2.5.3. Sasaran Analisis Dampak Lalu Lintas ................................................. 2-14

2.5.4. Tinjauan Pelaksanaan Analisis Dampak Lalu Lintas ........................... 2-15

2.5.6. Bangkitan Perjalanan / Pergerakan (Trip Generation)......................... 2-18

2.5.7. Kinerja Lalu Lintas .............................................................................. 2-20

2.6. Pendekatan & Metodologi .......................................................................... 2-26

2.6.1. Pendekatan ........................................................................................ 2-26

2.6.1.1 Pendekatan Komprehensif .......................................................... 2-26


2.6.1.2 Pendekatan Literatur ................................................................... 2-28
2.6.1.3 Pendekatan Partisipatif ................................................................ 2-29
2.6.1.4 Pendekatan GIS (Geographic Information System) ..................... 2-31
2.6.1.5 Pendekatan Lingkungan .............................................................. 2-32
2.7. Metode Pelaksanaan Pekerjaan ................................................................ 2-34

2.7.1. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 2-34

2.7.2. Metode Analisis .................................................................................. 2-37

2.7.2.1 Identifikasi Kondisi Wilayah & Kawasan Lokasi Perencanaan ..... 2-37
2.7.2.2 Analisis Kebijakan terhadap Pembangunan Sport Center ............ 2-37
2.7.2.3 Analisis Kebutuhan Sarana & Prasarana ..................................... 2-38
2.7.2.4 Analisis Kebutuhan Ruang .......................................................... 2-40
2.7.2.5 Analisis Lokasi Pembangunan Sport Center ................................ 2-40
2.7.2.6 Analisis Daya Tampung & Daya Dukung Lingkungan & Dampak
Lingkungan .................................................................................. 2-40
2.7.2.7 Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup ............................... 2-43
2.7.2.8 Kemampuan Lahan untuk Alokasi Pemanfaatan Ruang .............. 2-44
2.7.2.9 Analisis Dampak Lalu Lintas ........................................................ 2-61
2.7.2.10 Analisis Kemampuan Pengelolaan, Pengawasan dan Personal .. 2-61
2.7.2.11 Analisis Pengaruh Pembangunan Sport Center terhadap
Pengembangan Wilayah .............................................................. 2-61
2.7.2.12 Rekomendasi Rumusan Kebijakan .............................................. 2-62

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL iii


LAPORAN AKHIR

2.7.3. Kerangka Pikir .................................................................................... 2-63

BAB III GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 3-1

3.1. Gambaran Umum Kota Tegal ...................................................................... 3-1

3.1.1. Administrasi dan Geografis ................................................................... 3-1

3.1.2. Fisik Alam ............................................................................................. 3-3

3.1.2.1 Topografi ....................................................................................... 3-3


3.1.2.2 Iklim ............................................................................................... 3-3
3.1.3. Penggunaan Lahan .............................................................................. 3-4

3.1.4. Kependudukan ..................................................................................... 3-7

3.1.5. Penduduk Menurut Mata Pencaharian .................................................. 3-7

3.1.6 Perekonomian .................................................................................... 3-11

3.1.6.1 Pendapatan Daerah .................................................................... 3-11


3.1.6.2 Pertumbuhan Ekonomi Sektoral .................................................. 3-11
3.1.6.3 Pendapatan Per Kapita dan Inflasi............................................... 3-12
3.1.6.4 Investasi ...................................................................................... 3-13
3.1.6. Pendidikan .......................................................................................... 3-14

3.1.7. Industri................................................................................................ 3-15

3.2. Gambaran Umum Kecamatan Margadana ................................................ 3-16

3.2.1. Administrasi dan Topografi ................................................................. 3-16

3.2.2. Penggunaan Lahan ............................................................................ 3-17

3.2.3. Kependudukan ................................................................................... 3-17

3.2.4. Pendidikan .......................................................................................... 3-18

3.2.5. Kesehatan .......................................................................................... 3-18

3.2.6. Prasarana Air Bersih, Limbah & Sampah............................................ 3-19

3.2.7. Pertanian dan Peternakan .................................................................. 3-20

3.3. Lokasi Perencanaan Sport Center ............................................................. 3-21

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................................. 4-1

4.1. Identifikasi Kebijakan Perencanaan dan Pengembangan Kota Tegal .......... 4-1

4.2. Analisis Kebijakan Pendukung Pembangunan Sport Centre ........................ 4-3

4.2.1. Analisis Kebijakan RPJMD terkait Sport Centre .................................... 4-3

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL iv


LAPORAN AKHIR

4.3. Analisis Pengembangan Wilayah Perencanaan Terhadap Sport Centre...... 4-7

4.3.1 Analisis Struktur Ruang Perkotaan ....................................................... 4-7

4.3.1.1 Struktur Ruang Kota Tegal ............................................................ 4-7


4.3.1.2 Struktur Ruang Wilayah Perencanaan ......................................... 4-14
4.3.2. Analisis Pola Ruang Perkotaan .......................................................... 4-27

4.3.2.1. Pola Ruang Kota Tegal................................................................ 4-27


4.3.2.2. Pola Ruang Wilayah Perencanaan .............................................. 4-31
4.4. Analisis Dampak Lalu Lintas ...................................................................... 4-35

4.4.1. Kinerja Lalu Lintas di Ruas Jalan ........................................................ 4-35

4.4.2. Kinerja Lalu Lintas di Persimpangan ................................................... 4-39

4.5. Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana Dan Kebutuhan Ruang ........... 4-40

4.5.1. Bangunan Fasilitas Olah raga............................................................. 4-41

4.5.2. Bangunan Panunjang ......................................................................... 4-42

4.5.3. Infrastruktur kawasan ......................................................................... 4-42

4.6. Analisis Daya Dukung Dan Daya Tampung Lahan .................................... 4-43

4.6.1. Analisis Daya Dukung Lahan .............................................................. 4-43

4.6.2. Kemampuan Lahan ............................................................................ 4-49

4.6.3 Kemampuan Pengembangan Lahan ...................................................... 4-57

4.6.4 Analisis Peruntukan Lahan ................................................................. 4-57

4.6.4.1. Daya Dukung Lahan .................................................................... 4-57


4.6.5. Kawasan Rawan Bencana Alam ............................................................ 4-59

4.6.6. Analisis Daya Tampung Penduduk ..................................................... 4-61

4.7. Analisis Daya Dukung dan Tampung Lingkungan ...................................... 4-62

4.7.1. Analisis Daya Dukung Lingkungan ..................................................... 4-62

4.7.2. Analisis Daya Tampung Lingkungan................................................... 4-64

4.7.2.1 Kualitas air permukaan ................................................................ 4-64


4.7.2.2. Kualitas udara.............................................................................. 4-65
4.7.2.3. Kemampuan tanah ...................................................................... 4-66
4.7.3. Rekapitulasi Daya Dukung dan Tampung Lingkungan........................ 4-67

4.7.4 Analisis Dampak Lingkungan.............................................................. 4-71

4.7.4.1. Tahap Prakonstruksi .................................................................... 4-71

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL v


LAPORAN AKHIR

4.7.4.2. Tahap Konstruksi......................................................................... 4-71


4.7.4.3. Tahap Operasi ............................................................................. 4-72
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ........................................................... 4-1

5.1. Kesimpulan .............................................................................................. 4-1

5.2. Rekomendasi ......................................................................................... 4-12

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL vi


LAPORAN AKHIR

DAFTAR TABEL

Tabel II. 1 Macam-Macam Cabang Olahraga ............................................................ 2-4

Tabel II. 2 Klasifikasi & Penggunaan Bangunan Gedung Olahraga............................ 2-7

Tabel II. 3 Ukuran Minimal Matra Ruang Gedung Olahraga ....................................... 2-7

Tabel II. 4 Kapasitas Penonton Gedung Olahraga ..................................................... 2-8

Tabel II. 5 Koefisien Refleksi dan Tingkat Warna ....................................................... 2-9

Tabel II. 6 Cabang Olahraga yang Diwadahi KONI Kota Tegal ................................ 2-10

Tabel II. 7 Standar Jarak Dalam Kota ...................................................................... 2-12

Tabel II. 8 Kriteria Ukuran Minimal Analisis Dampak Lalu Lintas .............................. 2-16

Tabel II.9 Tingkat pelayanan akibat tundaan............................................................ 2-25

Tabel II.10 .Tingkat Pelayanan Pada Persimpangan Tanapa Lalu Lintas................. 2-26

Tabel II.11 Tabel Kebutuhan Data ........................................................................... 2-34

Tabel II.12 Kategorisasi Sport Centre ...................................................................... 2-39

Tabel II.13 . Contoh Identifikasi Kelas dan Subkelas Lahan ..................................... 2-45

Tabel II.14 Uraian Hasil Evaluasi Lahan untuk Contoh Kondisi I .............................. 2-46

Tabel II.15 Jenis dan Sumber Data .......................................................................... 2-47

Tabel II.16 Jenis dan Sumber Data .......................................................................... 2-50

Tabel II.17 Koefisien Limpasan ................................................................................ 2-52

Tabel II.18 Contoh Penghitungan Koefisien Limpasan Tertimbang .......................... 2-52

Tabel II.19 Jenis dan Sumber Data .......................................................................... 2-54

Tabel II.20 Dasar Sistem Nilai Status Mutu Air......................................................... 2-54

Tabel II.21 Tingkat Kemiringan Lereng .................................................................... 2-56

Tabel II.22 Klasifikasi Kedalaman Efektif Tanah ...................................................... 2-56

Tabel II.23 Klasifikasi Tekstur Tanah ....................................................................... 2-57

Tabel II.24 Harkat Kondisi Drainase Tanah.............................................................. 2-57

Tabel II.25 Harkat Proses Erosi ............................................................................... 2-57

Tabel II.26 Tingkat Erosi .......................................................................................... 2-58

Tabel II.27 Harkat Luasan Daerah Tererosi ............................................................. 2-58

Tabel II.28 Sebaran Batuan Lepas di Permukaan Tanah ......................................... 2-58

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL vii


LAPORAN AKHIR

Tabel II.29 Kelas dan Kriteria Banjir ......................................................................... 2-59

Tabel II.30 Kriteria dan Luasan Longsor .................................................................. 2-59

Tabel II.31 Karakteristik dan Kemampuan Lahan..................................................... 2-60

Tabel II.32 Nilai dan Kriteria Kemampuan Tanah ..................................................... 2-60

Tabel III. 1 Luas Wilayah Kota Tegal Tahun 2015...................................................... 3-1

Tabel III. 2 Banyaknya Hari Hujan dan Curah Hujan di Kota Tegal Tahun 2015 ........ 3-3

Tabel III. 3 Suhu Udara di Kota Tegal Tahun 2015 (oC) ............................................. 3-3

Tabel III. 4 Luas Penggunaan Lahan Sawah Menurut Kecamatan/Kelurahan di


Kota Tegal Tahun 2015 (ha) ................................................................... 3-4

Tabel III. 5 Luas Penggunaan Lahan Bukan Sawah menurut Kecamatan/Kelurahan


di Kota Tegal Tahun 2015 (Ha) ............................................................... 3-4

Tabel III. 6 Persentase Penduduk menurut Jenis Kelamin Kota Tegal Tahun
2013-2015 ............................................................................................... 3-7

Tabel III. 7 Penduduk, Luas Wilayah dan Kepdatan Penduduk menurut Jenis
Kelamin Kota Tegal Tahun 2015............................................................. 3-7

Tabel III. 8 Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Kecamatan/


Kelurahan & Lapangan Pekerjaan Utama di Kota Tegal Tahun 2014 (%) 3-9

Tabel III. 9 APBD Kota Tegal Tahun 2015 (Milyar) .................................................. 3-11

Tabel III. 10 Pertumbuhan Ekonomi Kota Tegal ....................................................... 3-11

Tabel III. 11 PDRB Kota Tegal Tahun 2015 ............................................................. 3-12

Tabel III. 12 Inflasi menurut Pengeluaran Kota Tegal (%) ........................................ 3-13

Tabel III. 13 Perbankan Kota Tegal Tahun 2015 (Juta Rp) ...................................... 3-13

Tabel III. 14 Koperasi Kota Tegal ............................................................................. 3-14

Tabel III. 15 Banyaknya SMA & SMK Tahun Pelajaran 2013/2014 .......................... 3-14

Tabel III. 16 Banyaknya Perusahaan Industri Besar dan Sedang, dan Tenaga
Kerja menurut Kecamatan di Kota Tegal Tahun 2015............................ 3-16

Tabel III. 17 Luas Wilayah Kecamatan Margadana Tahun 2015 .............................. 3-17

Tabel III.18 Luas Penggunaan Lahan Sawah menurut Kelurahan di Kecamatan


Margadana Tahun 2015 ........................................................................ 3-17

Tabel III. 19 Luas Penggunaan Lahan Bukan Sawah menurut Kelurahan di


Kecamatan Margadana Tahun 2015 ...................................................... 3-17

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL viii


LAPORAN AKHIR

Tabel III. 20 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Margadana


Tahun 2015 ........................................................................................... 3-18

Tabel III. 21 Jumlah SD/MI di Kecamatan Margadana Tahun 2015 ......................... 3-18

Tabel III. 22 Banyaknya Puskesmas di Kecamatan Margadana Tahun 2015 ........... 3-19

Tabel III. 23 Jumlah Prasarana Penunjang Kelestarian Lingkungan di Kecamatan


Margadana Tahun 2015 ........................................................................ 3-19

Tabel III. 24 Luas Panen (Ha) dan Produksi (ton) Padi dan Bawang Merah di
Kecamatan Margadana Tahun 2013-2015 ........................................... 3-20

Tabel III. 25 Luas Populasi Ternak Besar di Kecamatan Margadana Tahun


2013-2015 ............................................................................................. 3-21

Tabel III. 26 Luas Populasi Ternak Unggas di Kecamatan Margadana Tahun


2013-2015 ............................................................................................. 3-21

Tabel III. 27 Produksi Telur Unggas di Kecamatan Margadana Tahun 2013-2015.. 3-21

Tabel IV.1 Tabel Capaian Kinerja OPD Bidang Pemuda dan Olahraga ..................... 4-4

Tabel IV. 2 Keselarasan RPJMD terhadap Pembangunan Sport Centre .................... 4-5

Tabel IV. 3 Keselarasan Pembangunan Sport Centre dalam Renstra OPD Dinpora .. 4-7

Tabel IV.4 Kebijakan Pengembangan Perwujudan Struktur Ruang Kota Tegal


Menurut RTRW Kota Tegal 2011-2031 .................................................... 4-8

Tabel IV. 5 Kebijakan Pengembangan Keruangan Kota Tegal ................................. 4-27

Tabel IV. 6 Rencana Pola Ruang dan Kebijakan Pengembangan ........................... 4-31

Tabel IV.7 Kalkulasi Kinerja Lalu Lintas Di Ruas Jalan Lingkar Utara (JALINGKUT) 4-35

Tabel IV.8 Kalkulasi Kinerja Lalu Lintas Di Ruas Jalan Kapt. Samadikun. ............... 4-37

Tabel IV.9 Kalkulasi Kinerja Lalu Lintas Di Ruas Jalan Mataram ............................. 4-38

Tabel IV. 10 Kriteria Intensitas Hujan ....................................................................... 4-44

Tabel IV. 11 Kriteria Kelerengan .............................................................................. 4-44

Tabel IV. 12 Kriteria Jenis Tanah ............................................................................. 4-44

Tabel IV. 13 Evaluasi Hasil Skoring Kesesuaian Lahan ........................................... 4-47

Tabel IV.14 Satuan Kemampuan Lahan menurut standarisasi Permen No.


20/PRT/M/2007 ..................................................................................... 4-49

Tabel IV.15 Tabulasi Hasil Skoring Skoring SKL Morfologi ..................................... 4-51

Tabel IV.16 Tabulasi Hasil Skoring Kestabilan Lereng ............................................. 4-52

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL ix


LAPORAN AKHIR

Tabel IV.17 Tabulasi Hasil Skoring Kestabilan Pondasi ........................................... 4-52

Tabel IV.18 Tabulasi Hasil Skoring Ketersediaan Air ............................................... 4-53

Tabel IV.19 Tabulasi Hasil Skoring SKL Drainase ................................................... 4-53

Tabel IV.20 Tabulasi Hasil Skoring SKL Erosi.......................................................... 4-53

Tabel IV.21 Tabulasi Hasil Skoring SKL Pembuangan Limbah ................................ 4-54

Tabel IV.22 Hasil Skoring SKL Terhadap Bencana Alam ......................................... 4-54

Tabel IV.23 Satuan Kemampuan Lahan Kelurahan Pesurungan Lor ....................... 4-55

Tabel IV.24 Kriteria Kemampuan Lahan .................................................................. 4-57

Tabel IV.25 Hasil Analisis Geospasial Kemampuan Lahan Kelurahan Pesurungan


Lor ......................................................................................................... 4-57

Tabel IV.26 Daya Dukung Lahan ............................................................................. 4-58

Tabel IV. 27 Arahan Rasio Tutupan Lahan .............................................................. 4-58

Tabel IV.28 Arahan Rasio Tutupan Lahan Kelurahan Pesurungan Lor .................... 4-58

Tabel IV.29 Daya Tampung Penduduk .................................................................... 4-61

Tabel IV.30 Penentuan Status Mutu Air ................................................................... 4-64

Tabel IV.31 Analisis Kualitas Udara ......................................................................... 4-65

Tabel IV.32 Analisis Harkat Kemampuan Tanah ...................................................... 4-66

Tabel IV.33 Rekapitulasi Daya Dukung dan Tampung Lingkungan .......................... 4-67

Tabel IV.34 Rekapitulasi Dampak Lingkungan ......................................................... 4-73

Tabel IV.35 Perbandingan Dampak Sosek dan Kesmas pada Dokumen Amdal
dan Kajian Lokasi Sport Center ............................................................. 4-80

Tabel IV. 36 Perbandingan Sebelum dan Sesudah Proyek ...................................... 5-84

Tabel V.1 Tabulasi Kesimpulan Hasil Kajian Sport Centre ......................................... 5-2

Tabel V.2 Tabel Ranking Kriteria ............................................................................. 5-11

Tabel V.3 Tabel Pembobotan Kriteria ...................................................................... 5-11

Tabel V.4 Hasil Klasifikasi Skoring x Pembobotan ................................................... 5-12

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL x


LAPORAN AKHIR

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Administrasi Kota Tegal ................................................................. 1-3

Gambar 1.2 Peta Administrasi Kelurahan Pesurungan Lor ........................................ 1-4

Gambar 2.1 Bangkitan & Tarikan Pergerakan .......................................................... 2-19

Gambar 2.2 Formasi dan Organisasi Perencanaan Ruang Tim Ahli ........................ 2-28

Gambar 2.3 Teknik PRA .......................................................................................... 2-31

Gambar 2.4 Model Pendekatan Lingkungan ............................................................ 2-33

Gambar 2.5 Daya Dukung Lingkungan Sebagai Dasar Pembangunan


Berkelanjutan......................................................................................... 2-44

Gambar 2.6 Ilustrasi Peta Kemampuan dan Penggunaan Lahan ............................. 2-46

Gambar 2.7 Ilustrasi Tumpang Tindih Peta Kemampuan Lahan dan Penggunaan
Lahan untuk Menghasilkan Satuan Lahan Contoh Kondisi I ................ 2-46

Gambar 2.8 Diagram Penentuan Daya Dukung Lahan ............................................ 2-48

Gambar 2.9 Diagram Penentuan Daya Dukung Air .................................................. 2-51

Gambar 2.10 Grow the Capacity of Society and Stakeholder to get Urban Opportunity
in Projection ........................................................................................... 2-62

Gambar 2.11 Kerangka Pikir Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal ....................... 2-64

Gambar 3.1 Peta Administrasi Kota Tegal ................................................................. 3-2

Gambar 3.2 Peta Tata Guna Lahan Kota Tegal ......................................................... 3-6

Gambar 3.3 Fasilitas Sekolah di Kecamatan Margadana......................................... 3-18

Gambar 3.4 Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Margadana..................................... 3-19

Gambar 3.5 Peternakan Unggas di Kecamatan Margadana .................................... 3-21

Gambar 3.6 Lokasi Pembangunan Sport Center di Kecamatan Margadana ............ 3-22

Gambar 3.7 Denah Lokasi Pembangunan Sport Center di Kecamatan Margadana . 3-23

Gambar 3.8 Penampang Geometri Jalan Kapten Samadikun .................................. 3-26

Gambar 3.9 Penampang Geometri Jalan Mataram .................................................. 3-26

Gambar 3.10 Penampang Geometri Jalingkut ......................................................... 3-26

Gambar 4.1 Skema Perencanaan dan Pembangunan Indonesia ............................... 4-1

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL xi


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.2 Alur Keselarasan Kebijakan Penataan Ruang dan Pembangunan


Wilayah.................................................................................................... 4-2

Gambar 4.3 Skema Perencanaan dan Alur Kebijakan Penataan Ruang dan
Pembangunan Kota Tegal ....................................................................... 4-2

Gambar 4.4 Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Kota Tegal Tahun 2011-
2031 ...................................................................................................... 4-13

Gambar 4.5. Peta Sistem Pusat Pelayanan Kota Lokasi Perencanaan Sport
Centre.................................................................................................... 4-15

Gambar 4.6. Gambar a) Jalan Mataram b) Jalan Lingkut Tegal c) Jalan Kapten
Samadikun ............................................................................................ 4-16

Gambar 4.7 Peta Rencana Sistem Jaringan Transportasi Lokasi Perencanaan Sport
Centre.................................................................................................... 4-17

Gambar 4.8. Peta Sistem Jaringan Energi Listrik Lokasi Perencanaan Sport
Centre.................................................................................................... 4-19

Gambar 4.9 Peta Sistem Jaringan Telekomunikasi Lokasi Perencanaan Sport


Centre.................................................................................................... 4-20

Gambar 4.10 Peta Sistem Jaringan Air Minum Lokasi Perencanaan Sport Centre .. 4-23

Gambar 4.11 Peta Sistem Jaringan Drainase Lokasi Perencanaan Sport Centre .... 4-24

Gambar 4. 12 Peta Sistem Jaringan Persampahan Lokasi Perencanaan Sport


Centre.................................................................................................... 4-25

Gambar 4.13 Sistem Jaringan Pengelolaan Air Limbah Lokasi Perencanaan Sport
Centre.................................................................................................... 4-26

Gambar 4. 14 Peta Kebijakan Pembangunan Keruangan Kota Tegal ...................... 4-30

Gambar 4. 15 Peta Pola Ruang Lokasi Perencanaan Sport Centre ......................... 4-34

Gambar 4.16 Peta Curah Hujan Lokasi Perencanaan Sport Centre......................... 4-45

Gambar 4.17 Peta Jenis Tanah Lokasi Perencanaan Sport Centre ......................... 4-46

Gambar 4.18 Peta Kesesuaian Lahan Lokasi Perencanaan Sport Centre ............... 4-48

Gambar 4.19 Peta Kemampuan Lahan Lokasi Perencanaan Sport Centre.............. 4-56

Gambar 4.20 Peta Rawan Bencana Lokasi Perencanaan Sport Centre .................. 4-60

Gambar 4.21 Peta Daya Dukung Lingkungan .......................................................... 4-69

Gambar 4.22 Peta Daya Tampung Lingkungan ....................................................... 4-70

KAJIAN LOKASI SPORT CENTRE KOTA TEGAL xii


LAPORAN AKHIR

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME atas tersusunnya laporan Akhir dari
proses Penyusunan Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal Tahun 2017. Buku
laporan ini berisikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan penyusunan
laporan, metode pendekatan, tinjauan wilayah yang diidentifikasi hingga
menyajikan hasil analisis pembahasan serta kesimpulan rekomendasi yang
diproleh dari telaah dokumen dan survei lapang yang telah dilakukan dalam proses
perencanaan ini.
Dengan terselesaikannya buku laporan Akhir ini diharapkan dapat
memperlancar dan membantu proses penyusunan laporan - laporan selanjutnya.
Akhir kata, kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya laporan Akhir Penyusunan Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal
Tahun 2017, diucapkan terima kasih.

Semarang, Juni 2017

Penyusun

Kajian Lokasi Sport Centre Kota Tegal i


RINGKASAN EKSEKUTIF

Kota Tegal sebagai wilayah perkotaan di berbenah diri mulai dari penguatan komitmen
Provinsi Jawa Tengah dewasa ini terus para stakeholder yang terlibat, pemenuhan
mengalami perkembangan dan pertumbuhan dokumen-dokumen yang diperlukan hingga
wilayah yang terus bertransformasi. Salah satu perencanaan pembangunan Sport Centre tipe A.
faktor tersebut adalah letak Kota Tegal itu sendiri Akan tetapi karena beberapa faktor, Porprov
yang strategis dan berada di pertigaan jalur kota tersebut batal dilaksanakan di Kota Tegal dan
besar Semarang – Tegal – Cirebon dan Kota Tegal dapat menjadi tuan rumah kembali
Semarang – Tegal – Purwokerto dan Cilacap. pada kegiatan tersebut di tahun 2022. Sehingga
Kestrategisan wilayah tersebut juga memberikan pembangunan Sport Centre yang kini sedang
dampak positif pada pertumbuhan PDRB Kota berjalan akan berfokuskan pada peningkatan
Tegal yang terus meningkat, dimana perputaran prestasi keolahragaan Kota Tegal dan juga
uang tersebut didominasi pada sektor non primer sebagai Penyediaan Sarana Keolahragaan yang
yaitu Perdagangan, Hotel dan Restoran. Hal berskala Provinsi bagi masyarakat Kota Tegal
tersebut selaras dengan Demografi Kota Tegal dan juga Provinsi Jawa Tengah dengan harapan
yang juga berada pada mata pencahariaan non timbulnya Multiplier Effects bagi ekonomi, sosial,
primer guna mendukung aktivitas perkotaan yaitu demografi dan juga lingkungan kota ini.
Pengusaha dan Pedagang dengan didukung
Pembangunan Sport Centre yang
bonus demografi yang dialaminya yaitu jumlah
berlokasi di Kelurahan Pesurungan Lor jika dilihat
penduduk usia produktif Kota Tegal yang lebih
dari sisi letak kestrategisan lokasi, komposisi
banyak dibandingkan usia non produktif kota ini.
penduduk dan utilitas pendukung lainnya
Kondisi Kota Tegal yang memiliki memang telah mendukung. Akan tetapi perlu ada
Supporting system yang tinggi bagi aktivitas analisis yang lebih mendetil terkait lingkungan
perkotaan hal tersebut tidak sebanding dengan dan sosial masyarakat terkait keberadaan
prestasi Kota Tegal dalam bidang keolahragaan peternak itik yang merupakan mata pencahariaan
yang tidak menunjukkan angka peningkatan yang dan sumber kehidupan sebagian besar warga di
tinggi pula. Sehingga perlu penambahan dan Kelurahan Pesurungan Lor dan juga Peternakan
perbaikan baik secara fisik dari segi sarana dan Itik Kota Tegal yang telah menjadi Plasma Nutfah
prasarana pendukung maupun non fisik yaitu dari asli Indonesia.
sisi manajemen, pelatihan dan pengembangan
keolahragaan khususnya para atlet tersebut. Hal
tersebut juga selaras dengan terpilihnya Kota
Tegal pada tahun 2014 yang menjadi lokasi
perencanaan POR Provinsi Jawa Tengah yang
akan diselenggarakan pada tahun 2017 dan
kemudian mundur menjadi tahun 2018. Sehingga
dari kedua aspek tersebut, Kota Tegal terus
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

Deliniasi Wilayah Perkotaan

Kota Tegal jika dilihat secara makro tentu merupakan klasifikasi daerah perkotaan di
Indonesia, sedangkan Keluruhan Pesurungan Lor yang menjadi lokasi perencanaan dari
Sport Centre menurut Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010 tentang
klasifikasi perkotaan dan perdesaan di Indonesia disebutkan jika Kelurahan Pesurungan
merupakan deliniasi untuk wilayah perkotaan di Indonesia. Hal tersebut didasari beberapa
kriteria mulai dari skroing kepadatan penduduk, fasilitas perkotaan hingga persentase rumah
tangga pertanian. Artinya, sebagai wilayah perkotaan, Kelurahan Pesurungan Lor harus
memiliki dominansi aktivitas yang mengarah perkotaan yaitu bukan pada sektor primer seperti
pertanian, peternakan dan perkebunanyang dapat direpresentasikan dalam demografi
penduduk maupun PDRB. Hal tersebut agar tidak melemahkan aktivitas lainnya di wilayah
perkotaan tersebut juga untuk mempercepat transformasi wilayah tersebut menjadi lebih
optimal.

Kebijakan dan Komitmen Stakeholder

Jika diruntut dari mulai RPJMD – RTRW – Renstra OPD. Seluruh kebijakan tersebut
sudah secara eksplisit membahas dan merencanakan terkait pembangunan Sport Centre
kecuali pada RTRW. RTRW yang saat ini belum membahas terkait perencanaan Sport Centre
secara eksplisit. Hal tersebut kontras dengan aktivitas pembangunan Sport Centre yang
sudah berjalan pada proses pengurukkan hingga saat ini. Hal tersebut tidak relevan dimana
seharusnya segala aktivitas perencanaan dan pembangunan harus didasarkan pada RTRW
dan saling terintegrasi. Sehingga karena tidak adanya keintegrasian antar kebijakan tersebut
dengan proses perencanaan pembangunan yang terus berjalan membuat beberapa
permasalahan. Dimana salah satu hal yang cukup parah yaitu terkait terganggunya sosial
ekonomi masyarakat yaitu para peternak itik. Tidak adanya sosialisai dan pemaparan
sebelumnya membuat para peternak itik menjadi skeptis bahkan apatis dan terganggu
aktivitasnya secara finansial, psikologis dan juga sosial masyarakat. Bahkan lebih parah lagi,
proses pengurukkan yang sudah berjalan tersebut telah membuat jalan rusak dan tentunya
melemahkan aktivitas warga, bukan hanya peternak itik tetapi juga masyarakat lain untuk
beraktivitas. Sehingga diperlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan para pemangku
kepentingan lainnya dalam proses perencanaan Sport Centre yang saat ini sedang berjalan
dimulai dari kebijakan yang dapat diimplementasikan.
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

Struktur dan Pola Ruang

Dengan status Kota Tegal yang menjadi PKN dalam struktur ruang nasional, hal
tersebut sudah menjadi Centre Point dari terlaksananya program pembangunan Sport Centre.
Begitu juga pada lokasi mikro perencanaan yaitu Keluruhan Pesurungan Lor sebagai PKL.
Akan tetapi karena Multiplier Effects yang direncanakan pada skala Provinis, maka bukan lagi
membahas struktur ruang secara mikro. Lokasi mikro akan dibahas pada sistem yang
mendetail seperti lingkungan dan juga utilitas pendukung di lokasi tersebut. Sedangkan pada
pola ruang secara eksisting, lokasi perencanaan mikro yaitu Kelurahan Pesurungan Lor
memiliki pola ruang terbanyak untuk aktivitas tambak, peternakan itik dan campuran
permukiman. Terkesan jauh dari unsur deliniasi wilayah perkotaan, hal tersebut juga
berkenaan dengan Renana Pola Ruang dalam RTRW yang juga belum direncanakan untuk
Sport Centre. Sehingga diperlukan keintegrasian antar pemangku kepentingan dan aspek-
aspek yang perlu diperbaiki dalam pembangunan Sport Centre.

Utilitas Pendukung

Pembangunan sebuah sarana dan prasarana yang dapat berpotensi menjadi City
Branding seperti Sport Centre tentu dalam perencanaan dan pemilihan lokasinya harus dilihat
bagaimana utilitas di lokasi tersebut mendukung terhadap pembangunan tersebut. Dalam
perencanaan Sport Centre dibagi menjadi 2 utilitas pendukung. Yaitu secara internal dan
eksternal. Secara internal dalam perencanaannya, hampir dari seluruh kriteria yaitu 80% dari
Standar Nasional Indonesia terkait Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung
Olahraga sudah dimiliki pada Sport Centre Kota Tegal yang termuat dalam Master Plan.
Hanya beberapa sarana pendukung saja yang tidak terdapat di kawasan Sport Centre
nantinya seperti ruang ganti VIP dan Toilet khusus Atlet dan/ Pelatih. Sedangkan untuk
mengkaji lokasi perencanaan diperlukan utilitas eksternal, yaitu penyediaan transportasi
umum, sistem jaringan jalan, jaringan air bersih dan listrik, dan juga perencanaan
persampahan dan limbah. Penyediaan transportasi saat ini dari dan menuju lokasi
perencanaan sudah tersedia reguler, begitu juga sistem jaringan jalan penghubung dengan
aktivitas lain. Seperti keberadaan Jalingkut, Jalan Kapten Samadikun, dan Jalan Mataram.
Dimana jalan-jalan tersebut menghubungkan aktivitas lain seperti Stasiun Kota Tegal, Alun-
alun Kota Tegal dan menuju kabupaten lain (terkait skala Sport centre yaitu Provinsi) dengan
jarak yang tidak lebih dari 10 km. Jaringan air bersih dan listrik pun sudah tersedia dalam
perencanaan kawasannya. Kemudian untuk bidang persampahan dan limah memang pada
saat ini belum tertata dan terlihat sprawl pada lokasi perencanaan. Akan tetapi sudah ada
TPST di lokasi perencanaan yang dapat digunakan sebagai sarana persampahan dari Sport
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

Centre. Sedangkan untuk sampah yang saat ini tidak tertata memang sudah ada rencana
relokasi TPA ke Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana.

Lingkungan dan Kohesi Sosial Ekonomi Masyarakat

Dampak-dampak lainnya yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap rencana


pembangunan Sport Center Tegal adalah dampak aspek lingkungan, sosial ekonomi dan
kesehatan masyarakat. Berdasarkan perbandingan hasil kuesioner kajian Amdal dan lokasi
Sport Center Tegal didapatkan penjelasan sebagai berikut:
1. Jumlah responden kajian Amdal sebanyak 15 KK atau penduduk di sekitar lokasi Sport
Center Tegal, sedangkan kajian lokasi Sport Center Tegal sebanyak 10 peternak itik.
Dimungkinkan terdapat perbedaan persepsi antara penduduk yang hidup dan tinggal
di sekitar lokasi Sport Center Tegal dengan peternak itik.
2. Terdapat persamaan mengetahui rencana pembangunan Sport Center Tegal sebesar
100% responden.
3. Terdapat perbedaan kepeminatan antara kajian Amdal dengan lokasi Sport Center
Tegal dimana hasil kuesioner kajian Amdal sebesar 86,7% berminat terlibat dalam
pembangunan Sport Center Tegal dan 13,3% tidak berminat, sedangkan hasil
kuesioner kajian lokasi Sport Center Tegal sebesar 40% berminat dan 50% tidak
berminat terlibat dalam pembangunan Sport Center Tegal, serta 10% tidak
menentukan jawabannya.
4. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh pihak pemrakarsa dalam memininalisir
kekhawatiran adalah penanganan pencemaran udara, kemacetan lalu lintas,
terbukanya lapangan pekerjaan, pencemaran air dan gangguan keamanan dan
kenyamanan.
5. Sebesar 86,7% penduduk yang menjadi responden dalam kajian Amdal menyatakan
mendukung, namun hanya 50% peternak itik yang menjadi responden dalam kajian
lokasi Sport Center menyatakan mendukung. Sedangkan sisanya menyatakan tidak
mendukung rencana pembangunan Sport Center Tegal.
6. Tidak terdapatnya tanggapan dan masukan dari penduduk yang menjadi responden
pada hasil kajian Amdal, sedangkan pada hasil kajian lokasi Sport Center terdapat
beragam tanggapan dan masukan dari peternak itik yang pada intinya menyatakan
bahwa pembangunan Sport Center Tegal dapat dilakukan dengan memperhatikan
berbagai hal.
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

Berikut adalah tabel peningkatan ataupun penurunan terkait aspek lingkungan dan
sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat sebelum ataupun sesudah proyek berdasarkan
data dan hasil analisis :

Komponen
No. Sebelum Sesudah
Dampak
1 Kuantitas air/daya Volume ketersediaan air = 943.406 Volume sisa ketersediaan air =
dukung air (DDA) m3/tahun. 943.406 m3/tahun - 536.696
m3/tahun = 406.710 m3/tahun.
2 Kualitas air/daya Status mutu air Sungai Sibelis = -39 (cemar Status mutu air Sungai Sibelis = -
tampung air berat) 60 (cemar berat)
3 Kualitas udara/daya  ISPU di tengah lokasi = 22 (baik)  ISPU di tengah lokasi = 117
tampung udara  ISPU di jalan dan permukiman = 23 (buruk)
(baik)  ISPU di jalan dan
permukiman = 117 (buruk)
4 Kebisingan  Tengah lokasi = 56,88 dBA  Tengah lokasi = 66,11 dBA
 Jalan dan permukiman = 60,84 dBA  Jalan dan permukiman = 70
dBA
5 Gangguan lalu Tingkat pelayanan jalan di Jalan Kapt.  Peningkatan 33% SMP/hari
lintas Samadikun dan Jalan Mataram adalah B,  Kemacetan lalu lintas dengan
artinya: arus stabil dengan volume lalu kelas hambatan samping
lintas sedang dan kecepatan sekurang- tinggi, berdasarkan kondisi
kurangnya 70 km/jam; kepadatan lalu lintas khusus: Daerah komersial
sangat rendah dengan hambatan internal dengan aktivitas sisi jalan
lalu lintas belum mempengaruhi tinggi. Jumlah bobot kejadian
kecepatan; pengemudi masih punya cukup per 200 m per jam (dua sisi)
kebebasan untuk memilih kecepatannya antara 500-899.
dan lajur jalan yang digunakan.
6 Sosial-Ekonomi  Jumlah penduduk angkatan kerja di Kel.  Peningkatan jumlah tenaga
dan Kesehatan Pesurungan Lor = 2.542 orang. kerja dari luar Kelurahan
Masyarakat  Responden penduduk non-peternak itik Pesurungan Lord dan
menyatakan kemungkinan adanya beragamnya jenis pekerjaan
gangguan kemacetan lalu lintas baru.
(26,7%), pencemaran udara (26,7%),  Perubahan persepsi saat
tidak adanya lapangan pekerjaan pembangunan secara
(26,7%) dan gangguan keamanan dan langsung maupun bertahap.
kenyamanan (6,7%).  Penurunan produktivitas
 Responden peternak itik ternak (telur, daging) selama
menyatakan adanya gangguan periode pembangunan dan
kesehatan (11%), pencemaran pemindahan/relokasi.
udara (17%), pencemaran air  Peningkatan konflik sosial.
(17%), kemacetan lalu lintas
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

Komponen
No. Sebelum Sesudah
Dampak
(11%), kecemburuan sosial (9%),  Penurunan kesehatan
gangguan keamanan dan penduduk dengan
kenyamanan (14%), terbukanya meningkatnya beragam jenis
lapangan berusaha (9%), penyakit yang khususnya
terbukanya lapangan pekerjaan disebabkan oleh pencemaran
(6%), memperoleh fasilitas sosial udara dan air.
dan umum yang lebih baik (6%).
 Berdasarkan responden penduduk non-
peternak itik menyatakan setuju
mendukung = 86,7%; tidak setuju
mendukung = 0%; Abstain = 13,3%.
 Berdasarkan responden peternak itik
menyatakan setuju mendukung = 50%;
tidak setuju mendukung = 40%; Abstain
= 10%.
 Data dari Puskesmas Pembantu
Pesurungan Lor tahun 2016, jenis
penyakit yang pernah dialami penduduk
diantaranya penyakit Nasopharingitis
akut sebanyak 81 kasus, Myalgia
sebanyak 28 kasus dan Chepalgia
sebanyak 27 kasus.

Pembangunan Sport Centre dalam Berbagai Perspektif


Pembangunan Sport Centre Kota Tegal jika dilihat keseluruhan berdasarkan kriteria
di atas yang kemudian disusun detil dengan variabel Kebijakan, Kesesuaian dengan RTRW,
Struktur Ruang, Hubungan Antar Ruang, Kondisi Lingkungan, Aksesibilitas Jalan,
Keberadaan Angkutan Umum, Fasilitas Olahraga, Jaringan Air dan Listrik, Keberadaan
Sarana dan Utilitas Pendukung, dan Status Lahan didapatlah hasil skoring dengan kategori
sedang (Layak bersyarat). Skoring tersebut disusun berdasarkan Petunjuk Teknis
Prasarana Olahraga Prestasi Sekretaris Pemuda dan Olahraga Tahun 2016 dan Pedoman
Skoring dan Kriteria Pembobotan berdasarkan Malczewski (1991). Sehingga dengan kategori
sedang tersebut maka diperlukan perbaikan-perbaikan guna memberikan solusi pada
kelemahan (Yesiana, 2014). Terlebih terkait aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Dimana
aktivitas dan budaya masyarakat di Pesurungan Lor yang menjadikan pengusahaan itik
sebagai aktivitas utama mereka sehingga Pengusahaan Itik Tegal menjadi mata pencaharian
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

utama mereka. Tidak hanya itu, Peternakan Itik tersebut juga memiliki nilai prestasi di mata
Nasional dengan memenangkan Juara Nasional Ternak Itik tahun 2005, 2006 dan 2016.
Sehingga, walaupun secara acuan normatif disebutkan jika Kelurahan Pesurungan
merupakan wilayah perkotaan akan tetapi tetap perlu bagi pemerintah untuk melihat secara
eksisting budaya dan aktivitas di wilayah tersebut. Hal tersebut dikarenakan acuan normatif
tersebut disusun dengan tidak melihat kondisi budaya dan aktivitas wilayah di dalam
variabelnya. Hal teersebut penting guna terwujudnya pembangunan yang berkesinambungan
dan berkelanjutan.

Berikut adalah rekomendasi dan/ solusi-solusi pada setiap kelemahan tersebut :


1. Kebijakan
- Penyusunan Dokumen AMDAL
- Pengesahan Perda tentang Rencana Detail Tata Ruang sebagai pedoman rinci
dalam pembangunan Sport Centre terkait perizinan dan ketentuan pemanfaatan
ruang.
- Revisi RTRW bagian peruntukan pola ruang perternakan terkait pembangunan
Sport Centre di wilayah yang sama
- Perlu adanya kebijakan yang membahas ganti rugi atau hal lainnya terkait
kepemilikan lahan warga guna peruntukkan perternakan itik yang tidak hanya
berada pada lokasi perencanaan, tetapi juga warga yang berada di sekitar Sport
Centre karena lahan tersebut tentunya akan menjadi akses ke dalam Sport Centre.

2. Planologi
a. Gangguan lalu lintas pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan
cara:
- Ada petugas pengatur lalu lintas saat pekerjaan konstruksi dan operasi.
- Pengadaan material diupayakan pada malam hari dan/atau tidak pada jam-jam
sibuk.
- Waktu pekerjaan direkomendasikan jam 09.00-11.00 WIB dan 13.00-15.00
WIB untuk jam kerja pekerja.
- Pemasangan rambu-rambu di area masuk dan keluar lokasi proyek.
- Memperlancar sistem pergerakan melalui penerapan kebijaksanaan rekayasa
dan manajemen lalulintas.
- Koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk pemasangan rambu-rambu
operasional jalan
- Penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan kegiatan informal lainnya pada lokasi
RUMIJA yang mengganggu/mengurangi kapasitas jalan (side friction)
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

- Tata cara parkir membentuk sudut minimal 0o (paralel) atau maksimal 30o
- Pengaturan waktu pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jalan yang tepat
- Menugaskan petugas pengatur lalu lintas selama pekerjaan pemeliharaan jalan
- Melakukan pemeliharaan rutin, berkala dan rehabilitasi jalan sesuai program
yang telah direncanakan
b. Prasarana umum pada tahap konstruksi dapat dipulihkan dengan cara:
- Sosialisasi kepada warga sekitar
- Perbaikan jalan/prasarana umum yang rusak
- Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar
- Berkoordinasi dengan pengelola utilitas sebelum pemindahan atau perbaikan
utilitas sesuai peraturan yang berlaku
- Koordinasi dengan PJR
- Koordinasi dengan dinas terkait
c. Pemidahan Fungsi Ruang
- Relokasi Perternakan Itik Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat
- Relokasi TPA ke Ke Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana

3. Lingkungan
a. Supply air bersih dari air ledeng atau PDAM sebesar (1,5 x 17 L/detik = 25,5
L/detik) sebagai prioritas sumber air bersih utama, yang dialokasikan pada tahap
operasi. Sedangkan supply air bersih dari air tanah hanya digunakan pada tahap
konstruksi sebesar 30,60 m3/hari atau 11.169 m3/tahun, sehingga penggunaan air
bersih dari air tanah dapat dikurangi sebesar 536.696 m3/tahun.
b. Kualitas air sungai dapat dipulihkan sebagaimana pemecahan masalah pada sub
bab daya dukung dan tampung lingkungan, dengan cara mengatur pembuangan
limbah domestik dan non-domestik secara langsung ke sungai, menggunakan
IPAL komunal domestik dan IPAL setempat non-domestik dengan efisiensi proses
> 95% untuk berbagai parameter terukur.
c. Kualitas udara pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan cara:
- Aplikasi RTH 30% dari luas pengadaan lahan. Rasio 15:85, 15% tanaman
keras dan 85% tanaman perdu diantara tanaman keras. Jarak tanam
direkomendasikan 120 meter antar tanaman.
- Memelihara tanaman yang sudah ditanam pada kegiatan penghijauan dan
pertamanan.
- Menambah tanaman sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi.
- Penanaman kembali pohon yang ditebang setelah pelebaran jalan.
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

- Koordinasi dengan dinas terkait.


- Penerapan Pedoman Pemilihan Tanaman Untuk Mengurangi Polusi Udara
(NOx, CO, SO2) Nomor 011/T/BM/1999.
- Menerapkan Tata Cara Pemeliharaan Tanaman Lansekap Jalan Nomor
009/T/Bt/1995.
- Penyiraman area proyek dan jalan secara berkala dengan memperhatikan
ketersediaan volume air yang cukup dan periode waktunya diperhatikan.
- Penyediaan tenaga kebersihan.
- Pembersihan ceceran material di jalan.
- Membatasi kecepatan kendaraan proyek.
- Penaatan jam kerja antara jam 07.00-17.00 WIB atau 8 jam kerja, kecuali
pengadaan material pada malam hari antara jam 19.00-21.00 WIB.
d. Kebisingan pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan cara:
- Aplikasi RTH 30% dari luas pengadaan lahan
- Pemasangan pagar pembatas/penghalang suara (noise barrier) dari bahan
yang sesuai pada lokasi yang berdekatan dengan fasilitas umum (sekolah,
rumah ibadah, rumah sakit, pasar, dan lain-lain).
- Penerapan Pedoman Mitigasi Dampak Kebisingan Akibat Lalu Lintas Nomor
Pd-T-16-2005B
- Pemberitahuan pada masyarakat sekitar.
- Perawatan mesin peralatan berat dan peralatan lain yang digunakan secara
teratur.
- Melakukan pekerjaan yang berpotensi bising di luar jam istirahat warga. Waktu
kerja antara pukul 07.00 – 17.00 WIB.
e. Sampah pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan cara:
- Melengkapi bak truk dengan penutup
- Pembersihan dan perbaikan jalan yang dilewati apabila terjadi kerusakan
akibat pengangkutan material
- Sisa material dan limbah padat B3 dikoordinasikan dengan pihak ke-3
- Penyediaan disposal area tampung sisa material
- Sampah domestik ditampung minimal 6 wadah @ 130 L dan dikoordinasikan
dengan kelurahan atau petugas kebersihan eksisting
- Koordinasi dengan dinas terkait
- Menyediakan petugas kebersihan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan
pengangkutan sampah ke TPS terdekat
Ringkasan Eksekutif Kajian Lokasi Pembangunan Sport Centre

f. Banjir/genangan pada tahap konstruksi dan operasi dapat dipulihkan dengan


cara:
- Pembuatan peta alur drainase
- Pemeliharaan saluran drainase (saluran samping, tengah dan saluran
memotong jalan) secara rutin dan berkala serta rehabilitasi
- Memperhatikan pemanfaatan dan penggunaan bagian-bagian jalan
- Koordinasi dengan dinas PSDA untuk masalah saluran kriteria saluran yang
ada posisi di tengah jalan
g. Flora dan fauna pada tahap konstruksi dapat dipulihkan dengan cara:
- Membatasi luas pembersihan lahan sesuai desain
- Memasang patok dan larangan mengganggu vegetasi dan satwa liar
- Penanaman kembali pohon yang ditebang setelah pelebaran jalan

4. Sosial dan Ekonomi Masyarakat


Pada hakikatnya, para Peternak Itik tidak mempermasalahkan pembangunan
Sport Centre selama adanya beberapa hal yang memang harus diperhatikan. Adapun
hal tersebut sebagai berikut :
a. Diskusi bersama antara komponen penduduk dan peternak itik dengan pihak
pemrakarsa atau dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kota Tegal.
b. Pembenahan awal perlu dilakukan oleh pemrakarsa dalam hal pemindahan dan
penyediaan tempat ternak itik yang lebih baik dan teroganisir lebih baik.
c. Lokasi pemindahan di Kelurahan Muarareja perlu dimatangkan dan
dikoordinasikan kembali dengan semua pihak, agar sebelum pembangunan Sport
Center Tegal dilaksanakan.
d. Pembinaan lapangan pekerjaan baru bagi peternak itik yang terkena dampak
langsung dari kegiatan pembangunan Sport Center Tegal.
PEMERINTAH KOTA TEGAL
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH
. Jl. Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal Telp : 0283 355137, 0283 355138 Fax : 0283 353673

ALBUM GAMBAR

Penyusunan Kajian Lokasi Sport Center Kota Tegal


KOTA TEGAL
1. Peta Administrasi Kota Tegal 16. Peta Daya Dukung Lingkungan
2. Peta Kelerengan Kota Tegal 17. Peta Daya Tampung Lingkungan
3. Peta Jenis Tanah Kota Tegal 18. Peta Sistem Jaringan Transportasi
4. Peta Curah Hujan Kota Tegal 19. Peta Sistem Jaringan Drainase
5. Peta Penggunaan Lahan Kota Tegal 20. Peta Sistem Jaringan Energi Listrik
LOKASI PRENCANAAN 21. Peta Sistem Jaringan Air Minum
22. Peta Sistem Jaringan Limbah
6. Peta Administrasi
23. Peta Sistem Jaringan Persampahan
7. Peta Kelerengan
24. Peta Sistem Pusat Kegiatan
8. Peta Curah Hujan
25. Peta Sistem Jaringan Telekomunikasi
9. Peta Geologi
10. Peta Jenis Tanah
11. Peta Penggunaan Lahan
12. Peta Kesessuaian Lahan Lokasi Prencanaan
13. Peta Kemampuan Pengembangan Lahan
14. Peta Rawan Bencana
15. Peta Pola Ruang
6
7
8
9
10
11
12
13
14
PEMERINTAH KOTA TEGAL
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN DAERAH
Jalan Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telpon (0283) 355137, 355138, Fax (028) 353673

21
PEMERINTAH KOTA TEGAL
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN DAERAH
Jalan Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telpon (0283) 355137, 355138, Fax (028) 353673

22
PEMERINTAH KOTA TEGAL
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN DAERAH
Jalan Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telpon (0283) 355137, 355138, Fax (028) 353673

23
PEMERINTAH KOTA TEGAL
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN DAERAH
Jalan Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telpon (0283) 355137, 355138, Fax (028) 353673

24
PEMERINTAH KOTA TEGAL
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN DAERAH
Jalan Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telpon (0283) 355137, 355138, Fax (028) 353673

25
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5