Anda di halaman 1dari 10

Bab 7

JIWA DAN TUBUH

7.1. Tubuh
7.1.1. Arti Tubuh
7.1.2. Karakter Spesifik Tubuh
7.2. Jiwa
7.2.1. Jiwa, Tubuh, Roh
7.2.2. Sifat-sifat Jiwa
7.2.3. Arti Jiwa
7.2.4. Munculnya Jiwa
7.2.4.1. Tradusianisme
7.2.4.2. Kreasionisme
7.2.4.3. Kreasionisme Lanjutan
7.2.5. Hominisasi
7.2.6. Kekekalan Jiwa
7.2.6.1. Teori Kesepakatan Umum
7.2.6.2. Argumen dari Etika
7.2.6.3. Teilhard de Chardin
7.2.6.4. Argumen Teknis
7.2.6.5. Hasrat akan Hidup dan Kebahagiaan
7.2.7. Jiwa Sesudah Kematian

Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Jiwa dan tubuh merupakan topik sangat penting
dalam filsafat manusia. Konsep rational animal dan religious animal ingin melihat manusia dari
struktur metafisik dan fisik. Manusia dilihat sebagai makluk yang terdiri dari materi dan forma,
atau tubuh dan jiwa. Konsep-konsep itu melihat jiwa dan tubuh saling mempengaruhi. Berikut
dibahas secara singkat tentang jiwa dan tubuh.

7.1. Tubuh
Manusia menyadari diri sebagai AKU. AKU bukan badan, bukan jiwa, tapi keutuhan
diriku, keutuhan jiwa dan tubuh. Menurut N. Driyarkara, tubuh adalah unsur diriku. Ia bukan
seperti sepatu di kaki, atau topi di kepala. Tubuh itu AKU sejauh AKU adalah makluk jasmani.
Tubuh adalah cara penampakanku.

7.1.1. Arti tubuh


Kita memiliki tubuh. Tapi pernahkah Anda mencoba merenungkan dan bertanya apa
artinya tubuh? Menurut Prof. Dr. N. Driyarkara, ada dua arti dari tubuh, yakni (1) aspek jasmani
manusia, (2) jasmani yang dirohanikan.
Tubuh adalah aspek jasmani manusia: Tubuh dapat dipandang. Tubuh punya struktur
biologis yang terdiri dari banyak sel. Aspek jasmani itu penuh dengan aspek rohani. Keduanya
tidak berdampingan, tapi menyatu. Tak ada lokasi tertentu jiwa dalam tubuh. Jiwa tidak hanya
ada di jantung, otak, paru-paru, tangan. Jiwa ada di seluruh tubuh.
Ada ketegangan antara jiwa dan tubuh. Tubuh otonom, hidup menurut hukumnya. Ia
materi dan sebab itu tunduk pada hukum yang berlaku bagi barang materi. Misalnya, agar supaya
tetap hidup, kita harus makan. Ini hukum. Orang bisa saja memperbanyak makan, bisa
mengurangi makan, tapi tak dapat bebas makan.

1
Tubuh adalah jasmani yg dirohanikan/rohani yang menjasmani:tubuh adalah jasmani
yang dirohanikan atau rohani yang menjasmani. Artinya, tubuh itu luhur dan mulia. Tubuh baru
betul-betul luhur kalau ia mengabdi roh. Tubuh adalah pancaran atau cerminan jiwa. Tepatlah
ungkapan bahasa Latin yang sering kita dengar: Mens san in corpore sano (jiwa yang sehat ada
dalam tubuh yang sehat).

7.1.2. Karakter Spesifik Tubuh


Sebagai makluk hidup tubuh manusia sama dgn tubuh hewan dan tumbuhan. Sama-sama
benda hidup dan organis. Di dalamnya ada aktivitas tertentu seperti perubahan sel-sel, zat kimia,
atau cairan yang harus terus terjadi agar organisme itu berfungsi dan dipertahankan. Jika
aktivitas berhenti, organisme mati. Ada beberapa karakter spesifik tubuh manusia, yakni posisi
tegak, serta sistem syaraf dan otak lebih kompleks.
Posisi tubuh tegak: posisi tegak merupakan posisi yang lebih unggul dibanding posisi
hewan umumnya. Dengan posisi tegak manusia mampu melihat benda-benda dari atas dan
memudahkan peningkatan aktivitas rohani. Posisi tegak ini membuat gerakan-gerakan manusia
lebih fleksibel (khususnya tangan dan lengan).
Sistem syaraf dan otak yang lebih kompleks: manusia memiliki sistem syaraf dan otak
yang lebih kompleks dibanding yang terdapat pada hewan. Hal ini memungkinkan manusia
mengenal dan menentukan jumlah korelasi yang tak terbatas. Prof. Eschbach mengatakan
keunggulan manusia terletak pada perkembangan otak. Bukan dalam hal bobot otak (karena
ternyata otak mastodon lebih berat), bukan juga dalam luas materi otak (karena ternyata otak
lumba-lumba lebih luas), tapi sifat otak yang asimetris sehingga otak manusia bersifat dialektis.

7.2. Jiwa
Hakikat setiap makluk hidup adalah kesatuan jiwa dan tubuh. Tumbuhan, hewan, dan
manusia dinamakan makluk hidup karena mereka terdiri dari jiwa dan tubuh. Hanya saja, jiwa
pada tumbuhan, hewan, dan manusia berbeda menurut tingkatan-tingkatannya. Jiwa pada
manusia merupakan bentuk tertinggi dari jiwa makluk hidup, berkat intelektualitasnya.
Pendapat ini umum diterima oleh para filsuf. Tetapi ada filsuf yang kemudian
mengajukan pertanyaan lebih lanjut. misalnya, kalau tumbuhan, hewan dan manusia sama-sama
memiliki jiwa, maka mereka itu sebetulnya sama saja. Lalu apakah beda antara tumbuhan dan
hewan, atau hewan dan manusia?

7.2.1. Jiwa, Tubuh, Roh


Aristoteles, dalam upayanya untuk menunjukkan keunggulan manusia atas makluk hidup
jenis lain, memunculkan unsur baru yang disebutnya roh. Dengan demikian pada manusia ada
unsur jiwa, tubuh dan roh. Menurut Aristoteles, manusia jauh mengungguli makluk-makluk
hidup lain karena unsur roh tersebut.
Penjelasan Aristoteles tentang hakikat serta aktivitas roh dalam hubungan dengan jiwa
dan tubuh adalah sebagai berikut: roh adalah kemampuan reflektif manusia yang tidak dimiliki
makluk hidup lain. Roh berbeda dengan jiwa. Allah juga memiliki kemampuan reflektif seperti
itu, tentu saja pada taraf lebih tinggi.
Aktivitas roh berkaitan dengan kehidupan jiwa, walaupun roh itu tidak merupakan
semacam jiwa. Jadi, ada kontras dengan fungsi-fungsi jiwa lain yang secara langsung berkaitan
dengan tubuh. Roh memiliki sifat sangat halus, sebaliknya jiwa sangat konkret.

2
Bagaimana roh beraktivitas? Aristoteles menjelaskan sbb: seperti indera, roh juga
menerima kesan-kesan. Kesan-kesan itu bukan berupa suara atau warna seperti pada indera,
tetapi pengertian-pengertian. Dalam hal ini roh memang melebihi indera sebab indera berkaitan
dengan kesan-kesan tertentu saja (warna bagi mata, suara bagi telinga), sedangkan roh meliputi
segala sesuatu. Indra juga berkemampuan terbatas, sebaliknya kemampuan roh tidak terbatas.
Indra memang sangat bergantung pada tubuh dan terikat pada organ-organ tertentu. Jadi, roh
jauh lebih otonom terhadap tubuh dan tidak terikat dengan organ-organ tertentu. Dengan kata
lain, roh itu bukannya merupakan sesuatu melainkan kemungkinan (potensi). Roh tidak
mempunyai hakikat, bahkan hampir mendekati ketiadaan. Oleh sebab itu roh tak dapat
dilokalisir.
Hubungan jiwa dan tubuh lebih konkrit. Roh seakan-akan memperlihatkan sifat dari
dunia lain. Roh memanifestasikan diri lewat jiwa. Roh adalah prinsip aktif. Dalam kehidupan
empiris, misalnya, warna tidak mungkin bisa dilihat kalau tidak ada cahaya. Nah, cahaya
merupakan prinsip aktif. Dalam jiwa terdapat roh yang bisa menerima segala sesuatu, dan roh
yang berfungsi aktif seperti cahaya. Roh aktif adalah pemikiran yang tak kunjung berhenti. Ia
bersifat terpisah dan mandiri dari jiwa. Ia juga baka dan abadi.
Menurut Aristoteles, jiwa dan roh juga berbeda menurut asal usulnya. Jiwa timbul dari
sel telur, bukan dari luar. Mengapa? Karena jiwa tidak mungkin ada tanpa tubuh, seperti halnya
berjalan tidak mungkin terlaksana tanpa kaki. Sebaliknya roh berasal dari luar (thyrathen) dan
bersifat ilahi. Dalam melakukan aktivitasnya roh tidak berhubungan dengan tubuh. Hubungan
roh dan jiwa lebih dekat dibanding hubungannya dengan tubuh. Roh terlepas dari tubuh, dan
beraktivitas di luar tubuh.
Aristoteles sebetulnya ingin menekankan kesatuan jiwa-tubuh pada manusia. Menurut
dia, manusia melebihi makluk-makluk hidup lain dan berdiri di luar rentetan itu berkat refleksi
rasionalnya. Aktivitas roh di satu pihak termasuk kehidupan jiwa, tetapi di lain pihak
memperlihatkan daya ilahi yang lebih tinggi. Roh adalah daya rohani yang melebihi pribadi
manusia.
Pandangan Aristoteles punya titik lemah, karena menciptakan dualisme baru (suatu yang
memang disangkalnya) antara jiwa-tubuh di satu pihak, dan roh-jiwa di pihak lain. Itulah
sebabnya, Thomas Aquinas menolak pandangan Aristoteles bahwa roh melampaui pribadi
manusia. Bagi Thomas, roh adalah bentuk jiwa tertinggi yang memberikan substansialitas
kepada pribadi manusia dan hidup terus sesudah kematian (bagi Aristoteles, jiwa pribadi yang
hidup terus sesudah kematian tak dapat dibayangkan, sebab jiwa justru menjadi jiwa konkrit
berkat tubuh. Dalam perkaitan dengan tubuh itu roh sendiri bersifat potensialitas dan tak dapat
ditentukan lebih konkrit, sebab untuk itu orang harus bertumpuh pada tubuh).

7.2.2. Sifat-sifat Jiwa


Ada dua pandangan bertolak belakang tentang sifat jiwa. Pandangan pertama
dikemukakan oleh kaum empiris yang mengatakan bahwa jiwa bersifat pasif. Pandangan kedua
dikemukakan Descartes dan Husserl yang melihat jiwa sebagai suatu yang aktif dan intensional.
Berikut diuraikan secara singkat kedua pandangan ini.
Jiwa bersifat pasif: jiwa adalah penerima impresi-impresi pancaindra dari stimuli luar.
Impresi-impresi itu disimpan dalam bagian ingatan jiwa dan digunakan kemudian jika
dibutuhkan. Ini diajarkan John Locke, David Hume, B.F. Skinner.
Menurut John Locke manusia dilahirkan dengan jiwa yang merupakan tabula rasa
(kertas kosong). Baru ada catatan bila kita mengalami sesuatu. Kita punya ide tentang bunga atau

3
gunung hanya setelah kita melihat bunga dan gunung. Kita tahu warna merah, biru, ungu karena
sudah pernah melihat warna-warna itu.
David Hume mengatakan jiwa adalah teater dimana dan melalui mana datang banyak
persepsi dan panggung dimana para pemain datang dan pergi. Jiwa adalah kontainer atau gedung
besar di mana datang dan pergi bermacam persepsi, ide, pikiran dll.
Sedangkan Skinner tak mengakui adanya kejadian-kejadian mental (dia seorang
materialis). Dia melihat jiwa sebagai komputer yang kalau diprogram dan diberi informasi yang
tepat, akan menghasilkan output yang sepadan. Jiwa dan diri adalah satuan respons terhadap
stimuli. Dengan kata lain, otak menerima stimuli dari luar lalu menanggapinya sebagai komputer
atau mesin.
Jiwa bersifat aktif dan intensional: Rene Descartes mengatakan: ketika dia merasa
sangsi, ada kebenaran yang tak dapat disangsikan yaitu bahwa dia sangsi. Manusia adalah
makluk sadar yang berpikir. Dia tak mungkin sangsi jika dia tidak sadar dan tak berpikir. Cogito
ergo sum, saya berpikir maka saya ada. Bagi Descartes kesadaran adalah fakta dasar dan primer
atau kebenaran dari eksistensi manusia. Kesadaran sulit didefinisikan. Tapi kesadaran pasti
menyangkut hal-hal seperti berpikir, imaginasi, heran, spekulasi, analisis. Kesadaran bahkan
harus ada lebih dulu dari semua itu.
Edmund Husserl setuju dengan Descartes tapi mengatakan Descartes belum memberikan
keterangan tentang hakikat kesadaran (apa itu kesadaran) padahal itu sangat penting untuk
memahami jiwa manusia. Dia mengemukakan konsep intensionalitas. Kodrat kesadaran atau
jiwa adalah bahwa ia bersifat intensional: aktif, mengarah ke suatu hal atau obyek (fisik atau
mental). Kesadaran tidak pernah tanpa isi, tapi selalu punya obyek. Ia bukan saja penerima
stimuli dari luar, tapi secara aktif mencari obyek-obyek internal (pikiran, imaginasi, perasaan)
dan obyek luar (pohon dll). Ia terima stimuli dari dalam dan luar diri, tapi menerima dengan
aktif, selalu menghubung-hubungkan, dan “menenun” semuanya menjadi suatu pandangan atas
realitas yang adalah milikku.

7.2.3. Arti Jiwa


Apa itu jiwa? Inilah pertanyaan tentang hakikat jiwa. Ada beberapa pendapat tentang arti
jiwa. Jiwa dilihat sebagai substansi, kemampuan, proses, dan tingkah laku. Berikut penjelasan
singkat.

7.2.3.1. Jiwa sebagai substansi


Menurut Freud manusia terdiri dari unsur2 irrasional (bawah-sadar). Proses-proses
konatif dan kognitif juga terjadi di bawah-sadar. Jiwa terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Id
(lapisan paling bawah) adalah tempat nafsu2, terpenting di antaranya adalah libido (nafsu
seksual) dan agresi. Ego adalah perantara atau sensor antara nafsu2 dalam id dan dunia luar yang
terdiri dari kenyataan material dan kemasyarakatan. Ego merepresi nafsu2 ke alam bawah sadar
dan mensublimasi nafsu2. Seorang yang ingin menjadi ayah, tapi tidak berhasil, dapat
melakukan sublimasi nafsu dengan menjadi seorang guru. (Kattshof, 308-309). Sedangkan
Superego adalah suara hati yang menampung nilai2, cita2, dan larangan2 yang merupakan
penuntun bagi Ego.
Di antara ketiga lapisan tersebut terdapat batas yang tegas. Hal ini menyebabkan ego
aman dari gangguan2 keinginan dalam id, sehingga tingkah laku sosialnya dapat diterima
masyarakat. Waktu tidur, batas itu menjadi lemah. Saat itulah keinginan2 dari id menyelinap
masuk ego, dan superego juga bisa memberikan peringatan. Hasilnya adalah konflik intrapsikis,

4
yang sering termanifestasi dalam mimpi, bahkan mimpi mengerikan atau nightmare.
(Encyclopedia of Knowledge, 264).

7. 2.3.2. Jiwa sebagai Kemampuan


Dalam buku Man and the Cosmos (1922) Leighton mengatakan jiwa manusia tidak sama
dengan tubuh. Jiwa bersifat trans-spasial. Artinya, mengatasi segenap ruang. Jiwa mengembang
dan merembesi bagian tubuh lainnya. Rasa sakit pada bagian tertentu sebetulnya tidak hanya di
tempat yang terasa sakit. Rasa sakit terdapat disitu karena jiwa memang ada disitu.
Jiwa juga merupakan pemersatu yang sadar serta pusat ketegangan pengalaman ragawi.
Dalam arti ini, jiwa merupakan suatu kemampuan. Dalam mempersatukan pengalaman-
pengalaman ragawi, jiwa bertindak melalui ruang, sekaligus menembus ruang. (Kattshof, 312)
Jadi, jiwa merupakan pusat hubungan dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan,
merembesi, mempersatukan dan mengarahkan kembali ketegangan-ketegangan spasial di
lingkungan fisiknya. Kemampuan itu terletak dalam kehendak untuk menentukan pilihan.
Dengan menentukan pilihan manusia membebaskan diri dari determinisme jasmani. Itulah fungsi
tertinggi yang dimiliki jiwa.
Jiwa juga merupakan kemampuan untuk mengingat kembali. Dengan demikian orang
dapat mengendalikan masa depan dengan memanfaatkan masa lampau. Tapi itu juga dalam
rangka menganalisa, membanding-bandingkan, lalu menentukan pilihan. (Kattshof, 313-314)

7.2.3.3. Jiwa sebagai proses


Dalam buku Matter and Spirit (1922) Pratt menyebut jiwa sebagai aku. Jiwa adalah suatu
yang mempunyai cita2 dan tujuan, memiliki kehendak, yang menderita, yang berusaha, yang
mengetahui. Jadi, jiwa sebagai proses dan kemampuan. Dalam arti proses, jiwa adalah apa yang
dikerjakannya. Dalam arti kemampuan, jiwa menggunakan tubuh sebagai instrumen. Pandangan
ini bersifat dualistis. Ada proses kejiwaan, ada pula proses ketubuhan. Proses2 kejiwaan
menggunakan proses2 ketubuhan sebagai instrumennya. Tetapi jiwa sebagai proses tidak sama
dengan raga sebagai proses. Proses2 kejiwaan adalah proses2 konatif dan kognitif, sedangkan
proses ketubuhan adalah seperti kecepatan, gaya berat dan sebagainya. (Kattshoff, 314-318).

7.2.3.4. Jiwa sebagai Tingkah Laku


Y.H. Krikorian mengemukakan pandangan ini dalam A Naturalistic View of Mind yang
dimuat dalam buku Naturalism and The Human Spirit (1944). Pandangan ini dianut
behaviorisme dan naturalisme. Jiwa adalah respons, tapi tiap respons bukan otomatis bersifat
kejiwaan. Oksidasi, yang terjadi karena orang bernafas, misalnya. bukan proses kejiwaan,
meskipun pernafasan itu terjadi di bawah kendali pusat2 otak manusia. Gerak refleks bukan
proses kejiwaan, tapi respons mekanistis kimiawi. Kapan suatu respons bersifat kejiwaan?
Menurut Krikorian, kalau reaksi itu bukan hanya ditujukan terhadap rangsangan sebagai
obyeknya, melainkan terhadap makna rangsangan tersebut. Dengan kata lain, jiwa adalah
respons yang telah diramalkan sebelumnya.
Krikorian menyebutkan tiga matra (fungsi/corak kegiatan) respons yang telah diramalkan
se-belumnya, yakni: (a) Daya pemahaman atau kemampuan memperoleh pengetahuan. Ini adalah
kemampuan menggunakan sarana dalam mencapai tujuan, mis. mengingat-ingat, mencerap,
berpikir, (b) Kemampuan berkehendak atau menaruh perhatian. Ini adalah kemampuan mengejar
tujuan sebagai tujuan yang telah dibayangkan, (c) Kesadaran, yakni kemampuan memperoleh
pengetahuan tentang jiwa. Kesadaran selalu berarti sadar akan sesuatu. Mengalami suatu warna

5
putih, misalnya, berbeda dengan menyadari/mengalami adanya pengalaman warna putih tersebut.
Sadar diri berarti mengetahui adanya pengalaman. Kesadaran keluar adalah suatu keharusan
sebab sadar selalu berarti sadar akan sesuatu. (Kattshoff, 318-332).

7.2.4.Munculnya Jiwa
Ada beberapa teori tentang bagaimana jiwa muncul. Aliran tradusianisme, kreasionisme,
dan kresionisme lanjutan menjawab pertanyaan tersebut. Berikut uraian singkat tentang aliran-
aliran tersebut.

7.2.4.1. Tradusianisme
Pandangan ini mengatakan jiwa berasal dari orangtua. Ada dua macam tradusianisme,
yakni tradusianisme spiritual dan tradusianisme material. Menurut tradusianisme spiritual, jiwa
secara langsung berasal dari jiwa orangtuanya. Tradusianisme material mengajarkan bahwa
orang tua menghasilkan badan, lalu badan mengembangkan sebuah jiwa manusia.

7.2.4.2. Kreasionisme
Pandangan ini mengatakan bahwa jiwa anak langsung berasal dari Tuhan, dan bukan
berasal dari tubuh orangtua. Jiwa anak juga tak dapat berasal dari jiwa orang tua. Jiwa anak
langsung dicpitakan oleh Tuhan..

7.2.4.3. Kreasionisme Lanjutan


Menurut pandangan ini jiwa anak diciptakan oleh Tuhan, tapi dalam arti Tuhan membuat
orang tua itu mampu mengatasi kekuatan mereka sendiri, dengan demikian menghasilkan jiwa
anak. Orangtua menghasilkan jiwa anak tapi tetap dengan daya kreatif Tuhan. Para penganut
paham ini antara lain Karl Rahner, P. Schoonenberg, dan J. Donceel. Jadi, kreasionisme lanjutan
berpendapat bahwa jiwa manusia (anak) diciptakan dalam arti sebagaimana setiap realitas baru di
dunia ini tercipta.

7.2.5. Hominisasi
Kapan jiwa manusiawi mulai bereksistensi? Dengan kata lain, kapan saat terjadinya
manusia (hominisasi)? Kapan embrio bisa dianggap sebagai pribadi manusia? Teori immediate
dan mediate animation menjawab pertanyaan tersebut.
Immediate animation: teori Penjiwaan Segera (immediate animation) mengajarkan bahwa
jiwa muncul sejak terjadi pertemuan sel-sel reproduktif. Ada pendapat yang menolak teori ini
karena di sini jiwa dianggap sebagai causa efficiens yang membina pertumbuhan, dengan
berpedoman pada kode genetis dalam gen-gen. Padahal jiwa bersifat causa formalis yang hanya
dapat bereksistensi dalam kesatuan dengan kausa material yang secukupnya. Pada pertemuan sel-
sel reproduktif (pada saat pembuahan) kausa materialnya belum mencukupi. Jiwa pada tahap itu
baru pada tingkat vegetatif dan animal, belum merupakan jiwa pribadi manusia.
Mediate animation: teori Penjiwaan Tidak Segera (mediate animation) mengatakan
bahwa ada jiwa bila terdapat tingkat 'sentrokompleksitas' tertentu (de Chardin)

7.2.6. Kekekalan Jiwa


Apakah jiwa tak dapat mati? Dengan kata lain, apakah jiwa kekal? Sebelum menjawab
pertanyaan ini, perlu dijelaskan tentang sifat jiwa. Jiwa bersifat spiritual dan sederhana
(simplex). Spiritual sebab berdasarkan hakikat intrinsiknya, jiwa bebas dari materi. Ia tidak

6
terikat pada materi. Meskipun demikian jiwa bukan roh semata-mata. Secara ekstrinsik ia tetap
bergantung pada materi. Itu suatu kenyataan. Materi jasmani merupakan syarat bagi aktivitas
jiwa.
Jiwa bersifat sederhana (simplex) berarti bahwa jiwa tidak mempunyai bagian-bagian
yang sungguh berbeda. Jiwa mempunyai bagian-bagian yang esensial atau integral. Jiwa bersifat
esensial karena ia merupakan bentuk substansial manusia. Ia bersifat integral sebab ia bukan
kuantitas yang memiliki keluasan.
Kematian adalah saat terputusnya hubungan antara jiwa dan tubuh. Apakah jiwa juga
hancur? Plato, misalnya, mengatakan jiwa ada sebelum bersatu dengan tubuh. Jiwa akan tetap
hidup setelah kematian tubuh. Aristoteles sebaliknya berpendapat bahwa jiwa akan habis pada
saat kematian, sebab jiwa itu hanya bisa hidup dalam persatuan dengan tubuh, yang adalah
materi.
Jadi, ada dua pendapat yang coba menjelaskan pertanyaan tentang kekekalan jiwa. Yang
satu menerima kekekalan jiwa, yang satunya menolak kekekalan jiwa. Untuk kepentingan
praktis, kita akan membahas beberapa teori yang menerima kekekalan jiwa. Teori-teori itu
adalah teori kesepakatan umum, teori yang berasal dari etika, Theilhard de Cardin, argumen
teknis, serta hasrat kepada hidup dan kebahagiaan.

7.2.6.1. Teori Kesepakatan Umum


Kekekalan itu ada karena kepercayaan terhadap kekekalan merupakan kepercayaan
umum bangsa manusia. Berbagai kepercayaan spontan mengakui adanya hidup sesudah
kematian. Ini terdapat pada semua bangsa, pada semua zaman, pada semua tingkat peradaban.
Data-data etnologi menunjukkan bahwa hanya manusia yang mengadakan persembahan kepada
orang mati dan mengenal upacara pemakaman orang mati karena percaya bahwa orang mati itu
dapat menggunakan persembahan mereka. Karena hal itu dihayati dan dipraktekkan oleh seluruh
bangsa manusia, maka adalah sangat sulit menganggap bahwa seluruh bangsa manusia keliru.
Jadi, kepercayaan akan kekekalan oleh seluruh bangsa manusia itu sendiri merupakan bukti kuat
akan adanya kekekalan jiwa.

7.2.6.2. Argumen dari Etika


Dalam kehidupan di dunia, sering kita temukan realitas yang saling bertolak belakang.
Kita mengalami bahwa orang-orang jujur dan baik sering mengalami kemalangan, sebaliknya
orang-orang jahat mendapat keuntungan dalam hidup ini. Di hati kecilnya manusia merasa
bahwa pasti ada sanksi moral kepada orang-orang jahat itu. Sanksi moral itu tidak mungkin
terlaksana seandainya tidak ada kehidupan sesudah kematian. Oleh sebab itu, disimpulkan bahwa
ada kehidupan sesudah kematian di dunia.

7.2.6.3. Teilhard de Chardin


Menurut de Chardin, evolusi telah berlangsung jutaan tahun. Evolusi itu mencapai
puncaknya dalam diri manusia. Manusia adalah makota evolusi, karena dialah makluk yang
sadar diri. Evolusi belum selesai, dan evolusi tetap berlangsung hanya dalam dan melalui
aktivitas bebas manusia. Tugas ini sangat berat, karena manusia menemui banyak hambatan.
Dalam diri manusia ada motivasi kuat sekali untuk tugas berat ini. Tapi motivasi itu akan hilang
manakala semuanya akan berakhir dengan kematian. Maka manusia yakin ada suatu yang harus
hidup terus. Sesuatu itu merupakan makota dari evolusi, suatu yang paling berharga, yakni
pribadi manusia, keakuan, jiwa. Maka evolusi memang menuntut kekekalan jiwa manusia.

7
7.2.6.4. Argumen teknis
Argumen ini mengatakan bahwa jiwa manusia tidak dapat berhenti hidup sebab suatu
makluk berhenti hidup karena dua alasan, yakni alasan intrinsik (berhubungan dengan esensi)
dan alas an ekstrinsik (berhubungan dengan eksistensi). Esensi makluk hidup adalah musnah
karena pembusukan (langsung) atau kehilangan sandaran pokok (tak langsung). Eksistensi
makluk hidup hilang karena peniadaan. Menurut para penganut argumen ini, jiwa tidak
mengalami kedua jenis pemusnahan ini.
Jiwa tak dapat musnah karena pembusukan berarti kehancuran unsur-unsur konstitutif
suatu makluk. Meja, misalnya, hancur kalau dimakan api. Air hancur kalau diredusir kepada
oksigen dan hidrogen. Hanya benda tersusun atau material mengalami pembusukan. Jiwa, karena
bersifat spiritual, tidak mengalami pembusukan.
Jiwa juga tak musnah karena kehilangan sandaran esensialnya. Kehilangan sandaran
esensial berarti kehilangan sandaran material. Jiwa manusia bersifat spiritual, berarti tak
bergantung pada materi. Oleh sebab itu jiwa tak dapat hancur pada saat kehancuran tubuh.
Jiwa tak dapat musnah karena tindakan peniadaan. Peniadaan berarti berhentinya
kegiatan kreatif dari Tuhan yang merupakan sumber segala eksistensi. Tuhan tidak mungkin
akan menghentikan eksistensi hidup dari jiwa. Mengapa? Karena dua alasan. Pertama, Tuhan
mengatur segalanya menurut kodrat benda-benda itu. Kodrat jiwa adalah bahwa ia tak dapat mati
sebab bersifat spiritual dan sederhana. Jika Tuhan menghendaki jiwa mati, berarti dia tidak
konsekuen. Karena kodrat jiwa adalah spiritual, maka jiwa tidak akan mati.
Kedua, Tuhan dapat mengintervensi langsung dan mengubah alam, melalui mujizat. Tapi
itu dilakukan untuk mewujudkan rahmatNya. Hilangnya suatu hal yang dari kodratnya bersifat
kekal, tak akan mewujudkan rahmat Tuhan itu. Sebab itu adalah kebijaksanaan Tuhan untuk
mempertahankan segala sesuatu menurut kodratnya.

7.2.6.5. Hasrat Akan Hidup dan Kebahagiaan


Semua manusia mempunyai hasrat akan hidup dan memperoleh kebahagiaan. Fakta ini
memperlihatkan bahwa jiwa itu bersifat kekal. Kerinduan kodrati itu harus dipuaskan. Tanpa
kekekalan pribadi, hasrat kepada hidup kehilangan arti. Ini juga berarti bahwa dalam penciptaan
ada kekeliruan radikal yang harus dipertanggungjawabkan Tuhan. Tapi itu tidak mungkin.
Hasrat kepada kebahagiaan pun tidak akan berarti seandainya kehidupan itu berakhir
dengan kematian. Jadi, kerinduan akan kehidupan dan kebahagiaan merupakan petunjuk bahwa
ada kekekalan. Jika tidak, kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Pencipta dipersalahkan.

7.2.7. Jiwa sesudah Kematian


Bagaimana nasib jiwa setelah hubungannya dengan tubuh terputus? Sebab, walaupun
bersifat spiritual, jiwa tak dapat berbuat apa-apa tanpa persatuan dengan tubuh. Tak ada jawaban
yang sangat memuaskan tentang hal ini. Tapi di bawah ini dikemukakan dua kelompok jawaban
yang mencoba menyelesaikan permasalahan ini.
Pertama, sesudah berpisah dari tubuh, jiwa masih beraktivitas sendiri. Walaupun ide,
keputusan, dan kehendak membutuhkan kerja sama dengan pancaindera, tapi jiwa juga memiliki
kemampuan mengenal diri sendiri tanpa unsur-unsur material tubuh. Ini merupakan pengenalan
intuitif, di mana yang mengenal sama dengan yang dikenal. Pengenalan akan diri dan hakikat diri
ini memungkinkan jiwa beraktivitas nyata dengan pengenalan dan kehendak. Ini
memungkinkannya lebih mengenal Tuhan dan roh-roh lain. Kelemahan jawaban ini:

8
spiritualisme. Jadi, segala aspek esensial manusia seakan-akan dikembalikan seluruhnya kepada
jiwa. Jadi, manusia sama dengan roh murni, dan ini sangat Platonistis.
Kedua, sesudah kematian jiwa (keakuan) berhubungan secara langsung dengan seluruh
kosmos. Maka jiwa akan menjadi pan-kosmis. Pendapat ini dikemukakan oleh Karl Rahner.
Menurut Rahner, ketika masih hidup (kesatuan jiwa dan tubuh) keakuan itu dimasukkan ke
dalam kosmos material karena perkembangan tubuhnya. Tubuh menghubungkan kita secara
langsung dengan obyek-obyek kosmos tertentu. Tapi kerugiannya, membatasi hubungan
langsung kita pada obyek-obyek tertentu. Padahal, melalui keterbukaan pengetahuannya,
keakuan itu berhubungan dengan seluruh alam semesta material.
Pandangan Rahner berbeda dengan neo-Platonisme. Pada neo-Platonisme kematian
berarti terputusnya keakuan secara total dengan materi. Pada Rahner, pada saat kematian jiwa
justru mampu berhubungan langsung dengan keseluruhan materi.

Sumber
1. Ernst Cassirer. (1989), Manusia dan Kebudayaan, Sebuah Esei tentang Manusia,
Jakarta: Gramedia.
2. Louis Leahy, (1985), Manusia Sebuah Misteri, Jakarta: Gramedia.
3. ---------------, (1991), Esai Filsafat Untuk Masa Kini, Jakarta: Grafiti.
4. Alexis Carrel, (1987), Misteri Manusia (terjemahan), Jakarta: Remaja Karya.
5. Van Peursen dkk, (1986), Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Tiara Wacana.
6. N. Drijarkara, (1969), Filsafat Manusia, Yogyakarta: Kanisius.
7. Wikipedia

9
KUIS (UJIAN ESSAY) SEBAGAI UJIAN “SELA” /ANTARA JELANG UTS.
JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN DI BAWAH INI,

1.JELASKAN SECARA LUAS APA KEMAMPUAN YANG SAUDARA MILIKI


SESUAI TIU FILSAFAT MANUSIA, SETELAH SAUDARA BELAJAR MANUSIA
SEBAGAI RELIGIOS ANIMAL.
2. JELASKAN SECARA LUAS APA KEMAMPUAN YANG SAUDARA MILIKI
SESUAI TIU FILSAFAT MANUSIA, SETELAH SAUDARA BELAJAR MANUSIA
SEBAGAI SYMBOLIC ANIMAL
3. SEBAGAI WARGA INDONESIA DENGAN ADANYA PANCA SILA DAN AGAMA
YANG SAUDARA ANUT, APA KOMENTAR SAUDARA TENTANG POTENSI
PANDANGAN-PANDANGAN IBN RUSYD SEBAGAI SEORANG FILSUF ISLAM?
JELASKAN SECARA MELUAS
4. TENTANG JIWA SESUDAH KEMATIAN, JELASKAN SECARA MELUAS YANG
MANA YANG SAUDARA SETUJU, JIWA MATI SESUDAH TUBUH HANCUR
KETIKA MANUSIA MENINGGAL (PANDANGAN ARISTOTELES), DAN JIWA
MASIH HIDUP SETELAH ORANG MENINGGAL (PANDANGAN AQUINAS
DIPENGARUHI PLATO)
5. JELASKAN SECARA LUAS APA KONSEP YANG SAUDARA BISA JELASKAN
TENTANG BEDA DALAM KONTEKS SYMBOLIC ANIMAL ANTARA MANUSIA
DENGAN HEWAN BINATANG

CATATAN: TUGAS TERPROGRAM DISKUSI (MATERI MINGGU SEBELUMNYA)


KELOMPOK YANG PRESENTASI, AGAR DILAKSANAKAN (PRESENTASI DAN
TANYA JAWABNYA) SESUDAH MENJAWAB KUIS
MENGENAI KUIS SEPERTI BIASA DIJAWAB LANGSUNG MEMANFAATKAN 100
MENIT (DUA SKS) DIKERJAKAN LANGSUNG DI RUANG (SAAT/WAKTU
JADUAL) VCLASS YANG TERSEDIA PADA SELASA 5 MEI 2020 (TERMASUK
KELAS HARI SABTU MENGERJAKANNYA DI HARI SELASA YBS SESUAI
PERSETUJUAN) JAM KULIAH 4 DAN 5; DAN SESUAI KOMUNIKASI DENGAN
KETUA KELAS TUGAS DISKUSI TERPROGRAM PRESENTASI DAN TANYA
JAWAB DILAKUKAN SESUDAH MENJAWAB KUIS, DENGAN
MEMANFAATKAN FORUM PADA VCLASS

SEBAGAI CADANGAN, JAWABAN KUIS DAN MATERI PRESENTASI DAN TANYA


JAWABNYA, SERTA DAFTAR HADIR, DIKIRIMKAN KE ID EMAIL SAYA.

SELAMAT BEKERJA,

BFM

10