Anda di halaman 1dari 14

Bab 8

MIND-BODY PROBLEM (MATERI PERTEMUAN KE 11)

9.1. Inti Mind-Body Problem

9.2. Warisan Rene Descartes

9.3. Beberapa Pandangan

       9.3.1. Materialisme vs Idealisme

       9.3.2. Harmoni Purba

       9.3.3. Okasionalisme

       9.3.4. Epiphenomenalisme

       9.3.5. Idealisme Parsial

       9.3.6. Double-Aspect Theory

       9.3.7. Interaksionisme

9.4. Tanggapan

       9.4.1. Terhadap Epiphenomenalisme

       9.4.2. Terhadap Idealisme Parsial

       9.4.3. Terhadap Double-Aspect Theory

       9.4.4. Terhadap Interaksionisme

9.5. Data Empiris Baru

9.6. Kesimpulan

 
Hubungan antara Jiwa dan Tubuh (Mind-Body Problem) merupakan masalah klasik
yang hingga hari ini masih terus diperdebatkan. Bab ini akan memberikan gambaran singkat
tentang garis besar perkembangan masalah ini.

9.1. Inti Mind-Body Problem

Sejak zaman klasik Yunani orang berpandangan bahwa jiwa dan tubuh merupakan
suatu kesatuan. Keduanya saling mempengaruhi. Di Yunani kuno kesatuan jiwa dan tubuh
digambarkan dengan berbagai cara, misalnya sebagai jurumudi dan kapal, tempayan dan
anggur, kepandaian mengemudi dan kemudi, kerbau dan kuk, penunggang kuda dan kuda
(Agustinus). Juga tergambar dalam ungkapan seperti jiwa meresapi tubuh (Plotinus), dan
tubuh adalah penjara jiwa (Plato).

Dalam kenyataan kita mengalami saling pengaruh antara jiwa dan tubuh. Misalnya,
persepsi, pikiran, intensi, kehendak, dan kecemasan mempengaruhi tubuh dan tindakan.
Sebaliknya keadaan otak dan sistem syaraf memengaruhi keadaan jiwa. Tapi ini suatu
kontradiksi. Mengapa? Karena otak dan sistem syaraf adalah bagian dari dunia fisik yang
bersifat tangibel, visibel, publik, meruang (berekstensi). Sedangkan pikiran, perasaan,
kesadaran dan keadaan jiwa lain bersifat mental yang bersifat intangibel, invisibel, privat, tak
meruang.

Jadi, dari kodratnya, jiwa dan tubuh secara fundamental berbeda. Hukum kausalitas
menuntut bahwa sebab dan akibat harus sama jenisnya: yang material hanya menyebabkan
suatu yang juga material; yang nonmaterial hanya bisa mempengaruhi suatu yang
nonmaterial. Oleh sebab itu tidak mungkin otak mempengaruhi jiwa atau jiwa mempengaruhi
otak. Jadi MBP disebabkan oleh perbedaan hakikat jiwa dan tubuh di satu pihak dan
pengalaman empiris tentang saling pengaruh jiwa dan tubuh di pihak lain. Hingga sekarang
belum ada jawaban yang memuaskan bagi hubungan jiwa dan tubuh MBP.   

9.2. Warisan Rene Descartes

MBP merupakan warisan Rene Descartes. Menurut Descartes hakikat jiwa dan tubuh
samasekali berbeda, bahkan bertolak belakang. Jiwa seluruhnya immaterial tanpa ekstensi
(keluasan), sedangkan tubuh seluruhnya materi tanpa kemampuan berpikir. Jadi masing-
masingnya punya jenis modus tersendiri: jiwa  punya modus pengertian, kehendak, dan
(dalam arti tertentu) sensasi, sedangkan tubuh punya modus ukuran, bentuk, gerak, dan
kuantitas. Tubuh tak bisa punya modus pengertian atau kehendak, karena pengertian dan
kehendak hanya terdapat pada substansi yang tidak mempunyai keluasan. Jiwa tak bisa punya
modus bentuk atau gerak, karena bentuk dan gerak bukanlah bentuk berpikir.
Tetapi muncul kesulitan ketika kita berhadapan dengan kenyataan. Kita mengalami
bahwa kehendak menggerakkan tubuh. Misalnya, keinginan untuk bertanya menyebabkan
murid mengangkat tangan. Juga, gerak-gerak tertentu pada tubuh menyebabkan jiwa
mengalami sensasi. Tapi bagaimana mungkin dua substansi yang hakikatnya samasekali
berbeda dapat berinteraksi secara kausal? Pierre Gassendi (dalam The Fifth Objections) dan
Ratu Elizabeth dalam suratnya kepada Descartes mengemukakan persoalan ini, dan terjadilah
diskusi di antara mereka.
Kita kutip diskusi antara Ratu Elizabeth dari Swedia dengan Descartes. Di awal
diskusi, Elizabeth berkata kepada Descartes:

“Saya menulis kepada Anda, anda tentu ingat, tentang hakikat jiwa. Saya
bertanya kepadamu bagaimana jiwa, jika ia suatu benda immaterial, dapat
menggerakkan tubuh. Tentulah, jika suatu obyek menggerakkan obyek lain,
maka benda pertama harus berkontak secara fisik dengan yang kedua. Saya
tak dapat memainkan alat music harpsichord tanpa menyentuh tuts-tutsnya
dengan jari. Bagaimana jiwa, jika ia benar-benar spiritual murni, menyentuh
tubuh dan mengakibatkan perubahan padanya?”

Mendengar ini Descartes menjawab bahwa dia sudah memberikan jawaban kepada
sang Ratu melalui suratnya. Ratu menjawab bahwa Descartes memang membalas suratnya,
tapi belum menjawab pertanyaan itu. Dalam surat itu Descartes menjawab bahwa berat dapat
menggerakkan benda-benda tanpa sentuhan. Misalnya, gaya berat menyebabkan daun-daun
jatuh ke tanah. Tapi, kata Elizabeth, contoh di atas berbeda dengan misalnya bola yang hanya
bisa bergerak/berpindah kalau disentuh/ditabrak bola lain. Elizabeth mengingatkan Descartes
bahwa, ada pemahaman (termasuk yang dianut oleh Descartes sendiri) bahwa memang ada
benda menggerakkan benda lain tanpa kontak. Mendengar ini, Descartes menyatakan setuju.
Elizabeth melanjutkan: tapi caranya gaya berat menggerakkan dedaunan sangat
berbeda dengan caranya jiwa menggerakkan tubuh. Berat bersifat immaterial, sama dengan
jiwa yang juga immaterial. Tapi gaya berat bukanlah suatu kekuatan mental. Yang tak dapat
saya pahami, lanjut Elizabeth, adalah bagaimana pikiran dapat menyebabkan gerakan tubuh.
Itu tidak mungkin dilakukan oleh gaya berat. “Saya betul-betul tidak mengerti”, kata
Elizabeth. Descartes menjawab:

“Yang saya katakan adalah bahwa kita memiliki pemahaman tentang benda-
benda yang digerakkan oleh benda lain tanpa melalui kontak fisik.
Kenyataannya, pengertian ini disalahterapkan kalau kita menggunakannya
untuk memahami mengapa benda-benda jatuh ke tanah. Dalam buku Physics
saya memperlihatkan bahwa berat suatu benda pada kenyataannya tidak
berbeda dari benda itu sendiri. Tapi kita punya pemahaman dan saya yakin
kita memilikinya supaya dapat memahami bagaimana jiwa menggerakkan
tubuh. Jika, dengan arti ini, kita dapat memahami bagaimana jiwa
menggerakkan tubuh, kita juga dapat memahami bagaimana kesatuan antara
jiwa dan tubuh”.
 
Elizabeth rupanya sudah membaca buku Meditations dari Descartes, dan mengetahui
bahwa dalam buku itu Descartes mengatakan jiwa dan tubuh itu berbeda satu sama lain.
Sebab itu setelah mendengar jawaban Descartes tadi, Elizabeth mengingatkan Descartes
bahwa justru dalam buku itu Descartes mengatakan bahwa jiwa dan tubuh berbeda satu sama
lain.
Descartes menjawab bahwa memang betul itu dikatakannya dalam buku Meditations.
Tapi, lanjutnya, tentang jiwa harus diingat dua hal, yakni pertama, jiwa adalah suatu yang
berpikir, dan kedua, jiwa disatukan dengan tubuh, dan sebab itu dapat bertindak dan
menderita bersama tubuh. Descartes mengakui bahwa tentang hal kedua tadi, dia tidak
mengatakan apa-apa dalam buku Meditations. Itu dilakukannya dengan sengaja, yaitu untuk
menunjukkan bahwa jiwa berbeda (distinct) dari tubuh, dan hanya akan membingungkan
kalau sekaligus mengatakan bahwa keduanya bersatu.
Elizabeth menginterupsi dan meminta Descartes menjelaskan hal itu. “Anda berkata
bahwa jiwa dan tubuh bersatu. Hanya itu. Saya sendiri masih tidak mengerti. Bagaimana
suatu yang spiritual dapat disatukan dengan suatu yang corporeal, fisik, material,
berekstensi?”. Elizabeth melanjutkan: “Master, saya terima bahwa jiwa dan tubuh itu satu,
tapi kalau saya akan memahami bagaimana jiwa dapat mempengaruhi tubuh, saya harus
memahami prinsip persatuan itu. Bagaimana jiwa dan tubuh, dua substansi yang berbeda,
dapat jadi satu?”
Diskusi mereka makin seru. Descartes terlihat merenung, lalu berkata bahwa kita
mengerti jiwa melalui intelek, tapi kesatuan jiwa dan tubuh tak dapat dipahami melalui
intelek. Intelek bersama imajinasi pun tak dapat memahami kesatuan jiwa dan tubuh. Melalui
indralah kita dapat mengerti kesatuan antara jiwa dan tubuh. Jika kita merenung secara
filosofis maka kita menyadari bahwa jiwa dan tubuh itu berbeda. Tapi pengalaman
menunjukkan bahwa keduanya itu satu. Jika saya mengangkat tangan, atau merasa sakit di
punggung, saya tidak merasa diriku terpisah dari tangan atau punggungku. Tapi saya tahu
bahwa jiwaku berbeda dari tubuhku.
Elizabeth lalu mempersoalkan kata “merasa”. Dia bertanya: jadi anda maksudkan
bahwa “rasanya” jiwa dan tubuh itu seolah-olah satu? Descartes membenarkan hal itu. Tapi
Elizabeth belum puas, dan berkata:
 
“Tapi itu tidak menjelaskan bagaimana mereka bersatu, bukan? Anda
katakan kita mengerti kesatuan jiwa dan tubuh melalui pengalaman. Tapi
tahu bahwa jiwa mempengaruhi tubuh tidak sama dengan tahu bagaimana.
Lihat, bagi saya jika jiwa dan tubuh saling mempengaruhi, maka kita pasti
dapat mengerti bagaimana hal itu terjadi. Indra nampaknya tidak
memberikan pengetahuan seperti itu. Karena saya tidak melihat mengerti
bagaimana jiwa yang immaterial dapat mempengaruhi tubuh yang fisik maka
saya katakan bahwa jiwa, karena substansinya berbeda dari aktivitasnya,
haruslah suatu yang bersifat material. Jika berpikir, berkehendak, dan
sebagainya adalah benda seperti tubuh, dan bukannya merupakan benda
spiritual yang berbeda dari tubuh, maka persoalan saya tidak akan muncul”
 
Yang paling sulit mereka pahami ialah bahwa jiwa harus berkontak dengan tubuh
sehingga menyebabkan tubuh bergerak, padahal kontak hanya bisa terjadi antara dua atau
lebih permukaan (surface). Karena memiliki permukaan adalah modus ekstensi, maka jiwa
tak dapat punya permukaan. Oleh sebab itu jiwa tak dapat berkontak dengan tubuh sehingga
menyebabkan anggota tubuh bergerak.
Ketika Gassendi dan Elizabeth mempersoalkan tentang bagaimana substansi mental
dapat menyebabkan gerakan pada substansi tubuh, muncul pertanyaan lain: bagaimana gerak
partikel-partikel di mata, misalnya, yang melewati syaraf optik ke otak menyebabkan sensasi
visual pada jiwa jika tak ada kontak antara keduanya?
Descartes menganggap persoalan ini sangat serius karena adanya sensasi dan gerakan
tubuh menunjukkan bahwa jiwa dan tubuh berinteraksi secara kausal. Tapi di pihak lain
interaksi seperti itu pada prinsipnya tidak mungkin terjadi karena adanya perbedaan hakikat
jiwa dan tubuh.
Lalu bagaimana? Jika persoalan ini tidak dijawab maka itu berarti jiwa dan tubuh
samasekali tidak berbeda, tapi mempunyai kesamaan-kesamaan sehingga dapat terjadi
interaksi di antara keduanya. Berdasarkan persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh
Gassendi dan Elizabeth, dapat disimpulkan bahwa jiwa adalah suatu yang mempunyai
keluasan yang mampu memiliki permukaan dan gerak. Jadi Descartes tak dapat sampai pada
pemahaman yang terang dan jelas tentang jiwa dan tubuh yang terpisah satu dari yang lain
karena hakikat jiwa harus mencakup keluasan atau tubuh di dalamnya.
Descartes nampaknya tidak terlalu cemas dengan masalah ini. KepadaGassendi dan
Elizabeth dia mengatakan bahwa permasalahan itu muncul karena salah pengertian tentang
kesatuan antara jiwa dan tubuh. Dalam suratnya kepada Elizabeth tanggal 21 Mei 1643
Descartes membedakan beberapa pengertian lama. Misalnya, tubuh mencakup bentuk dan
gerak. Jiwa (mind, soul) mencakup persepsi intelek dan kehendak. Kesatuan (union) jiwa dan
tubuh, yang berarti daya jiwa untuk menggerakkan tubuh dan daya tubuh untuk menyebabkan
sensasi dan passion dalam jiwa. Berarti, manusia merupakan satu substansi, bukan dua, yang
saling berinteraksi melalui kontak dan gerakan seperti dikatakan Gassendi dan Elizabeth.
Menurut Descartes, manusia, yang adalah kesatuan jiwa dan tubuh adalah
keseluruhannya yang lebih dari sekedar jumlah bagian-bagiannya. Jiwa adalah bagian dengan
kemampuannya bagi modus intelek dan kehendak, sedangkan tubuh adalah bagian dengan
kemampuannya untuk modus ukuran, bentuk, gerak dan kuantitas. Tetapi kesatuan jiwa dan
tubuh (manusia) mempunyai kemampuan untuk modus-modusnya melampaui kemampuan
yang dimiliki oleh bagian-bagian. Maka modus gerakan tubuh volunter bukan modus tubuh
saja yang berasal dari interaksi kausal mekanistik dengan substansi mental, tapi modus
seluruh manusia.
Meskipun demikian para filsuf dan ilmuwan umumnya masih beranggapan bahwa
pandangan Descartes terhadap jiwa dan tubuh bersifat dualistik, yakni bahwa jiwa dan tubuh
adalah dua substansi berbeda.

 
9.3. Beberapa Pandangan

Ada beberapa pandangan tentang bagaimana persisnya hubungan antara jiwa dan
tubuh, antara lain materialism vs idealisme, harmoni purba, okasionalisme,
epiphenomenalisme, idealism parsial, double-aspect theory, dan interaksionisme.

9.3.1. Materialisme vs Idealisme

Pandangan materialisme mengatakan bahwa manusia hanyalah otak dan tubuh.


Manusia identik dengan tubuh dan otak. Hanya ada Aku dan tubuhku. Sebaliknya Idealisme
mengatakan bahwa yang riil hanyalah jiwa dan pengalaman-pengalamannya. Tidak ada dunia
fisik, tubuh fisik, atau materi yang ada terpisah dari manusia yang mengalaminya.

Kekeliruan kedua pandangan ini terletak pada reduksionisme. Baik materialism


maupun idealisme mereduksi kenyataan hanya kepada satu hal: materialism mereduksi
kenyataan kepada materi, sedangkan idealism mereduksi kenyataan kepada ide (= jiwa). 

9.3.2. Harmoni Purba

Paham harmoni purba mengatakan, ketika Tuhan menciptakan manusia, jiwa dan otak
berada dalam harmoni sempurna. Bila terjadi suatu peristiwa pada jiwa, peristiwa serupa juga
terjadi pada tubuh, demikian pula sebaliknya. Contoh, kalau A memotong jarinya, maka saraf
dirangsang sehingga mengaktifkan pusat rasa sakit di otak. Pada waktu bersamaan A juga
merasakan pengalaman sakit di jiwa. 

9.3.3. Okasionalisme

Okasionalisme memberikan peran kepada Tuhan untuk mengkoordinasikan jiwa dan


tubuh. Pandangan ini mengatakan bahwa bila terjadi suatu peristiwa pada tubuh, maka akibat
yang dirasakan pada jiwa sebetulnya dimungkinkan oleh campur tangan Tuhan. Misalnya,
pada saat jari A terpotong, Tuhan menyebabkan rasa sakit itu di jiwa. Pandangan ini
berasumsi bahwa sepanjang waktu, tak henti-hentinya Tuhan mengkoordinasikan jiwa dan
tubuh. Harmoni Purba dan Okasionalisme sering dinamakan paralelisme atau dualisme
radikal.

 
9.3.4. Epiphenomenalisme

Epiphenomenalisme disebut juga materialisme moderat. Menurut pandangan ini


otaklah yang secara sefihak menyebabkan jiwa dan kejadian-kejadian mental. Jiwa hanya
mungkin ada karena keadaan atau aktivitas otak. Sebaliknya jiwa tidak menyebabkan sesuatu
pada otak. Jadi pengaruh itu hanya satu arah, yakni dari otak ke jiwa. 

9.3.5. Idealisme Parsial

Idealisme parsial bertolak belakang dengan epiphenomenalisme. Menurut Idealisme


parsial, jiwalah yang secara satu arah mengontrol otak dan kejadian-kejadian fisik. Jadi, mind
over matter. Contoh, jika saya berpikir untuk menyeberang jalan, maka jiwa “mengatakan”
kepada otak dan tubuh untuk melakukan tindakan yang perlu. 

9.3.6. Double-aspect Theory

Menurut pandangan ini jiwa dan otak (mental dan fisik) berhubungan erat karena
keduanya merupakan bagian dari substansi dasar yang sama. Jiwa dan otak adalah bagaikan
dua cabang dari satu dahan yang sama atau dua anak dari orangtua yang sama. Tapi
pandangan ini memunculkan pertanyaan baru: apa yang dimaksud dengan substansi dasar
itu? Apa yang menjadi substansi dasar itu? 

9.3.7. Interaksionisme

Pandangan interaksionalisme mengatakan bahwa jiwa dan otak berhubungan sangat


erat dan saling mempengaruhi secara seimbang. Jika kepala A dipukul, dia pingsan (kejadian
fisik menyebabkan kejadian mental). Jika A merasa cemas, tangannya berkeringat (kejadian
mental menyebabkan kejadian fisik). Jadi, jiwa dan otak selalu beinteraksi, satu
menyebabkan atau mempengaruhi yang lain, dan sebaliknya. Epiphenomenalisme, Idealisme
parsial, double-aspect theory, dan interaksionisme disebut dualisme moderat/sintetik. 

9.4. Tanggapan

Di bawah ini tanggapan terhadap Epiphenomenalisme, idealisme parsial, double-


aspect theory, dan interaksionisme.

 
9.4.1. Terhadap Epiphenomenalisme

Argumen yang dikemukakan epiphenomenalisme ada benarnya karena kalau seorang


ditendang kuda, misalnya, muncul rasa sakit. Atau juga, kalau ada bagian otak rusak, tak ada
kejadian mental.

Tetapi kesulitan dengan penjelasan epiphenomenalisme ialah bahwa pada


kenyataannya jiwa juga memengaruhi tubuh dan otak. Misalnya, ada sakit mental yang tidak
disebabkan oleh kondisi tubuh, tapi tubuh dan otak pasien terpengaruh (psychomatic illness).
Pada hipnotisme dan meditasi yoga justru jiwa yang memengaruhi tubuh (mind over matter). 

9.4.2. Terhadap Idealisme Parsial

Ada kebenaran pada penjelasan idealisme parsial. Kenyataan menunjukkan bahwa


sering kejadian mental menyebabkan kejadian fisik/memengaruhi otak dan tubuh. Tetapi ada
permasalahan dan kesulitan yang muncul dari penjelasan ini, yakni bahwa banyak kali terjadi
bahwa peristiwa fisik atau otak menyebabkan kejadian mental/memengaruhi jiwa. 

9.4.3. Terhadap Double-aspect Theory

Kesulitan yang muncul dari penjelasan ini ialah bagaimana membuktikan adanya
“hal” ketiga yang masih misterius itu? Kalaupun ada, apa itu? Dari mana asalnya? Apakah
diri pribadi? Apakah tubuh? Teori ini menimbulkan sangat banyak kesulitan karena ada
banyak hal yang tak terjawab.

9.4.4. Terhadap Interaksionisme

Pandangan ini lebih mudah diterima dibanding yang lain-lain di atas karena mengakui
hubungan dua arah. Epiphenomenalisme dan idealisme parsial hanya mengemukakan
hubungan satu arah/sefihak. Interaksionisme masih lebih baik dibanding double-aspect
theory yang memasukkan unsur ketiga yang sulit dijelaskan/dibuktikan.

Tapi kesulitan teori Interaksionisme ialah tidak dijelaskan bagaimana interaksi ini
terjadi. Bagaimana dua hal yang secara fundamental berbeda saling mempengaruhi? Yang
satu nonmaterial/spiritual/mental, yang lain material/fisik. Jadi, walaupun teori
interaksionisme lebih baik dibanding yang lain-lain, tapi teori ini tetap tak mampu
memberikan penjelasan tentang bagaimana interaksi antara jiwa dan tubuh itu terjadi.

9.5. Data Empiris Baru

Fakta baru yang memberikan pemahaman lebih dalam tentang MBP diberikan oleh
Dr. Penfield dalam bukunya The Mystery of the Mind (1975), seperti dipaparkan oleh Louis
Leahy dalam buku Esai Filsafat Untuk Masa Kini (1991:36-51) Penfield yang adalah seorang
ahli neurologi dan bedah otak melakukan penelitian sejak tahun 1930. Apa yang
dikemukakan Penfield itu sering disebut sebagai the new story of science. Ada tanda-tanda
bahwa banyak ilmuwan semakin menolak reduksionisme seperti yang dilakukan oleh
materialisme.

Data empiris terbaru yang dihimpunnya lewat percobaan-percobaan menunjukkan


aspek-aspek dari dimensi nonmaterial manusia. Konklusinya itu dibenarkan oleh J.Cl Eccles,
peraih Nobel Kedokteran tahun 1963, serta ahli neurologi lain, R.W. Sperry. Temuannya
dapat menjelaskan dengan cara baru hubungan antara otak dan pikiran. Penfield mengaku
bahwa sejak semula dia melakukan percobaan untuk membuktikan bahwa otaklah yang
mengontrol pikiran. Jadi, dia juga masuk kelompok materialis ilmiah. Tapi temuan-
temuannya yang mencengangkan itu kemudian membuat dia berbalik dan mengakui bahwa
pikiran dan kehendak manusia tidak bersifat material.

Penfield biasa melakukan operasi-operasi otak untuk menyembuhkan penyakit seperti


epilepsi. Dia telah melakukan operasi terhadap seribu pasiennya tanpa bius. Epilepsi baru
bisa disembuhkan dengan bedah saraf. Praktik yang berlaku sebelumnya adalah bedah
dengan bius total. Tapi Penfield mempraktikkan bedah tanpa bius. Dengan menggunakan
elektroda, sang dokter merangsang bagian-bagian otak dan sel-sel  sampai menemukan sel-sel
penyebab epilepsi. Setelah diidentifikasi, barulah sel-sel itu diangkat dan dibuang.

Dalam sebuah operasi tahun 1933, tanpa sengaja, ketika sedang merangsang bagian
otak pasiennya dengan elektroda, dia menemukan bahwa pasien tersebut mengalami
flashback (mengingat apa yang terjadi di masa lampau) di luar kemauan pasien itu sendiri.
Karena terjadi berulang-ulang, dia berpikir bahwa itu bukan kebetulan. Suatu kali, ketika
melakukan hal seperti itu kepada seorang pasien laki-laki muda yang menjalani bedah syaraf,
laki-laki itu mengingat bahwa dia dulu ikut main baseball di desanya. Pada pasien lainnya,
Penfield melakukan hal serupa, dan orang itu mendengarkan kembali lagu instrumental.

Para pasien itu sendiri tercengang dengan kemampuan mereka untuk ingat suatu
pengalaman yang sudah berlangsung sangat lama. Mereka ingat bahwa itu memang
pengalaman yang benar-benar dialami. Dalam tanya-jawab dengan Penfield, mereka bicara
apa adanya, kata Penfield.

Penfield menceritakan percobaan lain yang dilakukannya bersama rekannya. Dalam


operasi itu dia merangsang bagian otak yang mengontrol kemampuan bicara. Ini membuat
pasien tidak dapat bicara untuk sejenak, tapi pasien sendiri tidak menyadari hal ini, sampai
saat dimana dia baru bisa bicara atau mendengarkan orang lain. Pasien mengaku dia tahu dan
kenal obyek yang diperlihatkan, tapi tidak bisa berkata-kata.

Bagaimana menjelaskan hal ini? Menurut Penfield, dalam pikirannya (mind) orang itu
kenal obyek itu (yakni kupu-kupu). Pikirannya berusaha untuk menemukan kata yang sesuai
dengan benda itu (kupu-kupu). Jadi, jelas bahwa mekanisme kemampuan berbicara tidak
identik dengan pikiran walaupun kemampuan bicara memang di bawah bimbingan pikiran.
Kata-kata adalah ekspresi pikiran, bukan pikiran itu sendiri. Ketika tidak mampu berbicara
itulah dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja operasi. Baru ketika pusat kemampuan
bicaranya dibuka kembali oleh Penfield, orang itu bisa menjelaskan pengalamannya itu.
Maka Penfield menyimpulkan bahwa tindakan mencari kata untuk mengungkapkan konsep
dalam pikiran tidak bersifat otomatis.

Penfield juga melakukan percobaan terhadap bagian otak yang mengendalikan


gerakan-gerakan tubuh, seperti kepala, mata, atau anggota tubuh lain di luar kehendak
paseien sendiri. Setelah melakukan percobaan terhadap ratusan pasien, Penfield
menyimpulkan bahwa pikiran pasien merupakan suatu yang samasekali berbeda dengan aksi
refleks syaraf. Meskipun isi kesadaran sebagian besar bergantung pada kegiatan syaraf, tapi
kesadaran (awareness) itu suatu yang samasekali lain. (Leahy, 43).

Penfield menyimpulkan bahwa intelijensi dan kehendak tidak dapat dilokalisasikan


pada suatu bagian otak tertentu. Otak memang merupakan pusat segala ingatan, indera,
perasaan dan daya bergerak, kata Penfield, tapi otak bukan merupakan organ dari intelijensi
dan kehendak. Kegiatan yang terkait dengan pikiran (mind) tak dapat distimulasi dengan
elektroda. Tidak ada bagian otak yang bila distimulasi akan menyebabkan pasien percaya (to
believe) atau mengambil keputusan (to decide). Rangsangan elektroda dapat menimbulkan
berbagai kenangan dan perasaan, tapi tak dapat membuat pasien melakukan kegiatan berfikir
seperti ketika mengerjakan soal aljabar misalnya. Elektroda juga tak dapat membuat pasien
untuk menghendaki untuk melakukan sesuatu. Intelijensi dan kehendak manusia tidak
memiliki organ samasekali, kata Penfield. Itulah sebabnya ilmu kontemporer (the new
science) mulai mengakui kemungkinan pengaruh kehendak atas materi. Hal serupa dikatakan
oleh J.C. Eccles. (Leahy, 44).

Karena kehendak bukan suatu yang material maka kegiatan kehendak pun lain dari
kegiatan khas materi, kata Eccles. Artinya, kehendak bisa membuat pilihan bebas. Dengan
kata lain, kehendak bersifat otonom.

Jadi memang ada kemungkinan bahwa pikiran mengendalikan aktivitas otak. Ahli
syaraf lainnya, Roger Sperry, misalnya menolak pandangan bahwa pengalaman mental
manusia adalah fenomena sampingan dari fisiologi otak. Menurut dia kejadian-kejadian
mental adalah riil dan menjadi penyebab nyata.  (Leahy, 46-47).

Penfield menulis: “Pikiranlah (the mind) dan bukan otak yang sekaligus mengawasi
dan mengatur. Pikiran bertanggungjawab atas persatuan yang kita alami dalam semua
kegiatan, pikiran, perasaan, dan emosi kita. Persatuan dari pengalaman kita yang bersifat
sadar dimungkinkan oleh adanya pikiran yang sadar, dan bukannya oleh mekanisme syaraf”.
Kalau otak dianggap sebagai komputer super canggih, maka komputer itu hanya bisa
dijalankan oleh suatu pikiran. Komputer, begitu juga otak, harus diprogram dan dioperasikan
oleh seseorang yang mampu untuk berfikir secara independen. Pikiran itulah yang
memungkinkan kita bisa memfokuskan perhatian terhadap sesuatu. Pikiran selalu sadar akan
semua yang terjadi. Dengan pikiran kita bisa berargumentasi, berfikir, dan mengambil
keputusan. Pikiran itu mengerti. Dia bekerja secara otonom, memiliki energinya sendiri.
Pikiran memungkinkan kita mengambil keputusan dan mewujudkan keputusan itu dengan
menggunakan berbagi mekanisme otak. Adalah sia-sia untuk mencari pikiran dalam otak,
sesia-sia mencari sang programer dalam perangkat komputer, kata Penfield. Menurut Penfield
tidak mungkin menjelaskan pikiran manusia (mind) berdasarkan kegiatan syaraf otak karena
pikiran memiliki esensi yang berbeda dari tubuh. (Leahy, 48).
Implikasi dari temuan Penfield ini, seperti diakuinya sendiri, ialah bahwa intelijensi
dan pikiran manusia tak dapat dimusnahkan oleh kematian sebagaimana halnya tubuh dan
otak. Jadi, temuan Penfield memberikan indikasi ke arah adanya kekekalan jiwa.

9.6. Kesimpulan

Hingga dewasa ini para pemikir dan ilmuwan mengakui bahwa MBP belum dapat
dipecahkan. Itulah sebabnya Jacques P. Thiroux (1985) mengatakan bahwa hakikat manusia,
khususnya jiwa manusia dan kesadaran sangat kompleks, bahkan misterius. Tapi
diingatkannya pandangan mana yang benar adalah yang paling sesuai dengan pengalaman
dan penalaran.

Tapi data empiris baru yang disajikan dalam the new science menunjukkan bahwa
kemungkinan pengaruh dan kontrol mind terhadap tubuh itu bisa terjadi seperti yang
diperlihatkan serangkain hasil percobaan Penfield dan kawan-kawan. Misteri hubungan
antara jiwa dan tubuh dapat dikatakan merupakan bagian dari misteri manusia. Dan misteri
manusia merupakan bagian dari misteri kehidupan.

 
KEPUSTAKAAN

1. Brenner, William H. (1989). Elements of Modern Philosophy. New Jersey: Prentice-Hall International,
Inc.
2. Carrel, Alexis. (1987), Misteri Manusia, Jakarta: Remaja Karya.
3. Cassirer, Ernst. (1990), Manusia dan Kebudayaan, Sebuah Esei tentang Manusia,

Jakarta: Gramedia.

4. Drijarkara, N. (1969), Filsafat Manusia, Yogyakarta: Kanisius.


5. Leahy, Louis. (1991), Esai Filsafat Untuk Masa Kini, Jakarta: Grafiti.
6. Thiroux, Jacques, P. (1985), Philosophy, Theory  and Practice, New York: MacMillan Publishing.

SDR2 MAHASISWA PSIKOLOGI UG, SEBAGAI TUGAS TERPROGRAM, MATERI DISKUSI


PERTEMUAN KE 11 INI ADALAH MATERI MINGGU LALU YAITU “JIWA DAN TUBUH”.

KEPADA TIM DISKUSI TERPROGRAM PERMINGGU YG KELIRU BELUM


MENDISKUSIKAN MATERI “MANUSIA SEBAGAI SYMBOLIC ANIMAL”, PRESENTASIKAN INI
DAN  DISKUSIKAN PADA HARI SELASA 12 MEI 2020 (KARENA ADA TIM DISKUSI YANG KELIRU
DAN BURU2 MENDISKUSIKAN MATERI “JIWA DAN TUBUH” PADA HARI SELASA 5 MEI 2020).

DAN KALAU ADA TIM KLPK LAIN KLS HARI SABTU YG BELUM PRESENTASI DAN
DISKUSIKAN MATERI “MANUSIA SEBAGAI SYMBOLIC ANIMAL”, DIPERSILAHKAN
MENDISKUSIKANNYA PADA SABTU 16 MEI 2020

SILAHKAN TIM DISKUSI MEMPRESENTASI LANGSUNG SAAT JAM KULIAH TERJADUAL


SELAMA 100 MENIT DGN MEMPRESENTASI DAN BERDISKUSI MENJAWAB PERTANYAAN
TEMAN2 DIMASUKKAN DI RUANG FORUM VCLASS.

SEBAGAI CADANGAN PRESENTASI/HASIL DISKUSI TANYA JAWAB DILAPORKAN JUGA


KE ID EMAIL SAYA YA.

JANGAN LUPA DAFTAR KEHADIRAN MAHASISWA DIKIRIMKAN KE EMAIL SAYA YA.


SELAMAT BEKERJA DI RUMAH.