Anda di halaman 1dari 15

TUGAS DISKUSI 6

ADMINISTRASI PERPAJAKAN

Jelaskanlah perbedaan yang mendasar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan Pajak
Penjualan Barang Mewah (PPnBM), Bea Materai serta Kepabeanan dan Cukai !

Jawab :

 Pajak pertambahan nilai (PPN) adalah salah satu jenis pajak yang menjadi pengganti dari
pajak penjualan (PPn) tahun 1951. Berdasarkkan UU no. 8 tahun 1983 tentang pajak
pertambhan nilai atas barang dan jasa dan pajak penjualan aras barang mewah (selanjtnya
disebut UU PPN dan PPnbm), merupakan p[engganti dari UU no. 35 tahun 1953 tentang
penetapan UU darurat no 19 Tahun 1951 tentang pemungutan pajak penjualan sebagai
UU, sebagaimana berapa kali diubah dan di tambah terakhir dengan UU no 2 tahun 1968
tentang perubahan dan tambahan UU pajak penjualan tahun 1951. Semula UU ini akan
diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984 namun dengan pertimbangan-pertimbangan
tertentu di keluarkan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang no 1 ahun 1984
sehingga pelaksanaan pajak pertambahan nilai di tunda selambat-lambatnya pada 1
januari 1986.
 Bea Matrai adalah pajak yang dikenakan terhadap dokumen yang menurut Bea matrai
menjadi objek bea matrai. Atas setiap dokumen yang menjadi objek bea matrai harus
sudah di bubuhi materai dan pelunasan bea matrai dengan menggunakan cara lain dan
sebelum dokumen tersebut digunakan.
 Kepabenan dan cukai adalah salah satu pajak tidak langsung yang dikelola oleh
Direktorat jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Kepabenan dan cukai merupakan suatu
pengetahuan praktis yang penting untuk dipahami karena snagat menunjang
pembangunan nasional dibidang ekonomi.
SUMBER REFERENSI ADBI4330/ MODUL 7
Forum ini akan membahas Model Organisasi dan Manajemen Jepang.

Silakan Anda diskusikan sehingga terlihat perbedaannya organisasi dan manajemen Jepang,
Amerika Serikat, dan Teori Z!

Jawab :

 manajemen jepang berbeda dengan manajemen Amerika. Pada manajemn jepang terlihat
ciri-ciri sebagai berikut : System, kerja seumur hidup, system evaluasi dan dan promosi
lambat sehingga setiap manajer akan memahami betul segala seluk beluk perusahaannya
sebelum dipromosikan. Di samping system pemberian bonus bersifat fleksibel dalam arti
besar kalau perusahaan mendapat untuk besar dan dapat kecil kalau perusahaan sedang
krisis . karier meningkat bukan berdasarkan spesialisasi tetapi secara menyeluruh dalam
semua bidang. Yang menjadi motivasi kuat bagi seluruh karyawan dalam perusahaan
jepang adalah antara lain diikutsertakan dalam pengambilan keputusan itu. Dengan
demikian hal ini mempunyai dampak pula pada tanggung jawab masing-masing bahwa
masing-masing orang bertanggung jawab kepada dirinya sendiri dan dalam bertugas
mereka dapat mengawasi dirinya sendiri.

 Dalam manajemen Amerika berlaku system kerja jangka pendek. Akibatnya seseorang
berusaha untuk dipromosikan secara cepat kalau mereka tidak dipromosikandalam
beberapa tahun maka mereka pindah pekerjaan mencari keadaan yang lebih baik. System
bonus diberikan berdasarkan potongan-potongan dal hal ini membuat orang bekerja
sebagai robot berdasarkan spesialisasi. Orang-orang tidak akan mudah berpindah ke
bidang pekerjaan lain kalau tidak berdasarkan spesialisasinya.

 Sebagai ciri dari manajemen barat antara lain memandang sifat rasional lebih baik
daripada non rasional, objektif lebih baik daripada subjektif, kuantitaif lebih baik lagi
daripada kualitatif, sehingga analisis kauntitatif lebih disukai daripada penilaian yang
berdasrakan kebijaksanaan pengalaman dan kehalusan. Dalam perusahaan tipe Z adalah
hal-hal yang bersifat explisit dan implisit tampak dalam keadaan yang seimbang.
Keputusan yang dipertimbangkan melalui analisis fakta secara lengkap dilakukan,
sementara itu perhatian yang serius juga ditujukan kepada pertimbangan apakah
keputusan tersebut sesuai dnegan perusahaan.

SUMBER REFERENSI ADPU4217/ MODUL 6


Sistem hukum diindonesia

Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Indonesia dicantumkan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP,
namun berdasarkan fakta empiris bahwa hukum pidana Indonesia tidak menganut asas legalitas
mutlak.

Buktikan 3 fakta bahwa secara empiris hukum pidana Indonesia tidak menganut asas legalitas
mutlak !

Jawab : Asas Legalitas Pasal 1 ayat (1) KUHP yang dimaksud dengan asas ini adalah
suatu peristiwa hukum pidana atau perbuatan pidana tidak dapat dikenai hukuman, selain
atas kekuatan peraturan undang-undang pidana yang telah ada sebelum tindakan pidana
atau perbuatan pidana tersebut.

Realita di Indonesia asas legalitas tidak dianut secara mutlak dengan melihat fakta-fakta berikut
ini :

(1). Perundang-undangan pidana harus dirumuskan secara tertulis Faktanya di Indonesia hukum
yang berlaku (hukum positif) meliputi hukum yang dibuat oleh penguasa, hukum adat dan
hukum Islam (terutama dalam hukum perdata). Dalam lapangan hukum pidana selain atas dasar
KUHP dan Kitab Undang-Undang di Luar KUHP sebagai dasar legalitas perbuatan yang dapat
dihukum, dalam masyarakat adat juga diakui keberlakuan hukum adat pidana yang pada
umumnya tidak tertulis tapi merupakan kaidah-kaidah yang tetap hidup, tumbuh dan
dipertahankan oleh masyarakat adat sebagai hukum yang hidup. Dan sebagai peletak dasar
pengecualian berlakuanya hukum yang tidak tertulis melalui hukum pidana adat maka
ditetapkanlah Undang-Undang Darurat No.1 Tahun 1951 Tentang Tindakan-Tindakan
Sementara Untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan Kekuasaan Dan Acara Pengadilan-
Pengadilan Sipil, Pasal 5 ayat (3) sub b Jo Undang-Undang No. 1 Tahun 1961 Tentang
Penetapan Semua Undang-Undang Darurat Dan Semua Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Yang Sudah Ada Sebelum Tanggal 1 Janusri 1961 Menjadi Undang-Undang.
(2). Peraturan Hukum Pidana tidak boleh berlaku surut Untuk menjamin kepastian hukum harus
ditetapkan terlebih dahulu ketentuan pidana tentang suatu perbuatan tindak pidana baru
kemudian pelanggaran terhadap ketentuan itu dapat dikenakan sanksi pidana sebagai
konsekuensi logis pilihan bebas subyek hukum untuk berbuat suatu perbatan yang dilarang. Hal
ini sejalan pula dengan prinsip umum bahwa setiap orang terikat pada suatu undang-undang
sejak undang-undang tersebut dinyatakan berlaku dan telah diundangkan dalam Lembaran
Negara. Pada kenyataannya hukum pidana tidak menganut prinsip asas tidak berlaku surut secara
mutlak, hal ini tertuang dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP yang menyatakan bahwa Jikalau undang-
undang diubah setelah perbuatan itu dilakukan maka kepada tersangka dikenakan ketentuan yang
menguntungkan baginya. Ini membuktikan bahwa undang-undang dapat diberlakukan surut
selama ketentuan undang-undang yang lama atau terdahulu lebih menguntungkan terdakwa,
Menurut R Soesilo bahwa lebih menguntungkan meliputi ringannya hukuman, tentang anasir
peristiwa pidananya, tentang delik aduan atau tidak, mengenai persoalan salah tidaknya terdakwa
dan sebagainya. Demikian pula dalam praktek penegakan hukum kasus pelanggaran Hak Asasi
Manusia Timor-Timur dan kasus Tanjung Priok, asas legalitas disimpangi dengan
memberlakukan asas retroaktif. Pasal 43 ayat (1) UU No 26 tahun 2000 menyatakan bahwa
pelanggaran HAM Berat yang terjadi sebelum diundangkannya undang-undang ini, diperiksa dan
diputus oleh pengadilan Ham ad hoc. Ini berarti undang-undang pengadilan HAM berlaku juga
bagi pelanggaran HAM Berat yang terjadi sebelum diundangkannya undang-undang tersebut.

(3). Dalam penerapan hukum pidana tidak boleh menggunakan analogi Kadangkala dalam
penerapan hukum pidana terhadap kasus konkrit hakim harus melakukan penemuan hukum
melalui sumber hukum dengan menggunakan metode penafsiran dalam hukum pidana.
Penafsiran dibutuhkan dalam hukum pidana untuk mencari makna yang terkandung di dalam
suatu istilah atau cakupan suatu tindak pidana. Asas legalitas membatasi secara rinci dan cermat
perbuatan apa saja yang dapat dipidana. Asas legalitas melandasi pembatasan makna tindak
pidana dalam rumusannya yang meliputi subyek atau pelaku tindak pidana, perbuatan atau
akibat, objek atau korban tindak pidana dan unsur tambahan lainnya yang menjadi sifat tindak
pidananya (di muka umum misalnya Pasal 170 KUHP dan Pasal 281 KUHP, motif melakukan
kejahatan pembunuhan anak karena takut ketahuan akan melahirkan anak misalnya Pasal 341
KUHP dan sebagainya). Semuanya harus ditafsirkan makna dan ruang lingkup cakupannya
untuk memberikan kepastian hukum tentang suatu tindak pidana.

SUMBER REFERENSI BUKU AJAR HUKUM PIDANA

ISIP4131/ MODUL 6

Pengantar sosiologi

Diskusikan topik berikut

Bacalah artikel berikut. Kemukakan pendapat Anda penyebab  konflik di Maluku


berdasarkan dimensi hubungan antar kelompok

KONFLIK MALUKU

5 Juni 2015  

BERESOLUSI KONFLIK MALUKU

Pemahaman pertama yang harus dipahami dalam menganalisis penyelesaian konflik dan
anarkisme agama adalah agama tidaklah mengajarkan kekerasan kepada umatnya. Agama justru
mengabarkan adanya perdamaian dan cinta kasih baik kepada sesama umat maupun umat lain
yang mempunyai keyakinan berbeda. Adanya konflik berbau anarkisme agama sendiri justru
dipertanyakan agama karena telah menjadi kesalahan dalam ajaran agama tersebut. Agama hanya
menjadi identitas dalam suatu konflik untuk memberikan legitimasi moral untuk berbuat
kekerasan terhadap pihak lainnya. Selain itu, menyulutnya kekerasan atas nama agama juga
disebabkan oleh kesalahan dalam penafsiran ajaran agama sehingga menimbulkan pemahaman
sempit dan sikap chauvinistik. Maka dalam konteks ini, konflik anarkisme agama sejatinya tidak
ada. Yang ada justru konflik berupa rivalitas sumber ekonomi dan politik maupun persaingan
memperebutkan jabatan publik dalam pemerintahan.

Agama bukanlah menjadi faktor utama dalam konflik anarkisme, namun hanya menjadi faktor
pendukung. Dalam berbagai kasus konflik mengatasnamakan agama seperti konflik Islam-
Kristen di Poso maupun Maluku, agama justru terpolitisasi menjadi identitas konflik yang
sebenarnya hanya menjadi topeng atas rivalitas perebutan sumber ekonomi, politik maupun
birokrasi antar masyarakat.

Kasus konflik Islam dan Kristen di Ambon sebenarnya tidak lepas dari rivalitas dalam perebutan
jabatan publik kemudian menjadi konflik agama. Puncak konflik Maluku sendiri terjadi dalam
kurun waktu 1999-2002 yang dimulai dari peristiwa Maluku Berdarah pada 19 Januari 1999
yang memakan banyak korban. Konflik sendiri sudah diselesaikan melalui Perjanjian Malino I
dan II pada 2002-2003 yang diwakili tokoh-tokoh masyarakat baik Islam maupun Kristen. Yang
menghasilkan representasi atau revitalisasi kearifan lokal berupa pela gandong antar negeri
(kampung) di Maluku untuk saling mengangkat saudara menjadi hubungan kakak-adik.

Hilangnya kearifan lokal membuat potensi konflik anarkisme agama semakin membesar karena
masyarakat tidak memiliki filter kultural dalam menjaga marwah ikatan sosial mereka. Seperti
hilangnya rasa saling percaya (trust) diantara sesama anggota masyarakat, rusaknya jaringan
(networking), serta tegerusnya rasa patuh terhadap tata aturan norma dan tatanan sosial yang
selama ini disepakati bersama.

Peran vital kearifan lokal sebagai media resolusi konflik keagamaan. Yang pertama adalah
kearifan lokal sebagai penanda identitas sebuah komunitas. Identitas tersebut menunjukkan
bahwa komunitas tersebut memiliki budaya perdamaian yang berarti menunjukkan komunitas
tersebut merupakan komunitas yang beradab. Kedua, kearifan lokal sendiri menyediakan adanya
aspek kohesif berupa elemen perekat lintas agama, lintas warga, dan kepercayaan. Ketiga,
berbeda halnya dengan penerapan hukum positif sebagai media resolusi konflik yang selama ini
jamak dilakukan oleh para penegak hukum kita yang kesannya “memaksa”. Hal inilah yang
menjadikan reoslusi konflik dengan hukum positif sendiri justru sifatnya arti- fisal dan temporer
meskipun memiliki kekuatan hukum tetap. Keempat, kearifan lokal memberi warna kebersamaan
bagi sebuah komunitas dan dapat berfungsi mendorong terbangunnya kebersamaan, apresiasi,
sekaligus sebagai sebuah mekanisme bersama menepis berbagai kemungkinan yang dapat
meredusir, bahkan merusak solidaritas komunal, yang dipercaya berasal dan tumbuh di atas
kesadaran bersama, dari sebuah komunitas yang terintegrasi. Kelima, Kearifan lokal akan
mengubah pola pikir dan hubungan timbal balik individu dan kelompok, dengan meletakkan di
atas kebudayaan yang dimiliki.

Maka bisa dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan bentuk sintesa dari unsur sosio-kultural
dan sosio-keagamaan yang tujuannya adalah merekatakan kembali hubungan antar sesama
masyarakat yang tereduksi perebutan kepentingan politik maupun ekonomi. Semua faktor
tersebut kemudian menjadi causa prima konflik anarkisme agama Maluku yang sebenarnya dapat
disimplifikasikan menjadi dua hal yakni: (1) rivalitas elite dalam merebutkan pengelolaan
sumberdaya alam dan jabatan-jabatan birokrasi serta politik, (2) menguatnya etnosentrisme dan
religiosentrisme sebagai alat untuk merebutkan sumber-sumber ekonomi dan politik. Namun
disamping dua premis tersebut sebagai core conflict, tidak dipungkiri rivalitas agama Islam dan
Kristen juga menjadi supporting conflict (konflik pendukung). Bahkan bisa jadi, agama juga
berperan besar sebagai tungku api dalam penciptaan konflik yang sejatinya hanya rivalitas
ekonomi-politik belaka.

Konflik anarkisme keagamaan yang terjadi Maluku pada tahun 1999-2002 sendiri pada dasarnya
merupakan embrio dari ketidakadilan dan marjinalisasi suatu kelompok terentu selama bertahun-
tahun. Adapun agama yang selama ini disematkan dalam membaca dan menganalisa konflik
Maluku sebenarnya lebih tepatnya disebut faktor pendukung (supporting conflict) karena pada
dasarnya konflik lebih mengarah pada perebutan sumber daya politik, ekonomi, dan birokrasi.
Sejarah konflik Maluku memang diwarnai praktik-praktik dominasi maupun subordinasi
semenjak zaman kerajaan hingga masa republik yang berimplikasi pada semakin tumbuhnya
potensi konflik laten.

Konflik anarkisme keagamaan di Maluku sendiri sebenarnya tidaklah tepat jika diselesaikan
melalui pendekatan hukum positif.  potensi dalam merajut kembali kohesivitas masyarakat dalam
proses rekonsialisasi. Selain itu pula, faktor perimbangan juga menjadi penting dibicarakan
mengingat perebutan jabatan birokrasi sendiri merupakan inti konflik (core conflict) di Maluku.
representasi yang seimbang dalam birokrasi merupakan cara rekonsiliasi di tataran elite dalam
menjaga perdamaian. Representasi juga dimaksudkan untuk mereduksi segala bentuk
religiosentrisme maupun etnosentrisme yang acap kali mewarnai dinamika konflik di Maluku.

https://www.kompasiana.com/elga.safitri/557197e48efdfd6339bb1c5f/konflik-maluku

pendapat saya mengenai konflik Maluku ini sebenarnya lebih tepatnya disebut faktor pendukung
(supporting conflict) karena pada dasarnya konflik lebih mengarah pada perebutan sumber daya
politik, ekonomi, dan birokrasi.. faktor perimbangan juga menjadi penting dibicarakan
mengingat perebutan jabatan birokrasi sendiri merupakan inti konflik (core conflict) di Maluku.
Pengantar ilmu hukum

a. Dalam hal apa dapat dilakukan penemuan hukum (dalam bentuk konstruksi hukum, dan
interpretasi atau penfasiran hukum)?

Jawab :

Penemuan hukum (Rechtsvinding) merupakan proses pembentukan hukum oleh subyek


atau pelaku penemuan hukum dalam upaya menerapkan peraturan hukum umum terhadap
peristiwanya berdasarkan kaidah-kaidah atau metode-metode tertentu yang dapat
dibenarkan dalam ilmu hukum.

dalam melakukan penemua hukum terdapat perbedaan pandangan tentang metode dan
caranya yaitu yang memisahkan dan tidak memisahkan secara tegas antara metode
interpretasi dan metode konstruksi.

Metode penemuan hukum itu sendiri bukan metode ilmu hukum maupun teori hukum
sebab metode penemuan hukum hanya dapat digunakan dalam praktek hukum terutama
oleh hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Oleh karena itu penemuan hukum
bersifat praktikal yaitu diarahkan pada suatu peristiwa yang bersifat khusus , konkrit dan
individual.

Penafsiran hukum adalah mencari dan menetapkan pengertian atas dalil-dalil yang
tercantum dalam UU sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuatnya.
Macam-macam Penafsiran Hukum

a. Gramatikal f. Ekstensif

b. Authentik g. Restriktif

c. Historis h. Komparatif

d. Sistematis i. Futuristik

e. Teleologis

Berikan contoh-contoh konstruksi hukum dan penafsiran hukum?

Jawab : Contoh dari konstruksi hukum

a. Analogi Hukum

Misal Istilah menjual dalam pasal 1576 KUHPer dianggap sama dengan
memberikan, mewariskan, dan mengalihkan hak pada orang lain.

b. Argumentum a Contrario

Penafsiran kebalikan dari suatu istilah. Contoh tidak dipidana tanpa kesalahan.

c. Penghalusan/penyempitan hukum (rechtvervijning)

Contoh : Konsep keluarga dipersempit pengertiannya menjadi Kepala Keluarga

Contoh penafsiran gramatikal :

Misal : “Pegawai Negeri menerima suap”, maka pelaku di sini adalah Pegawai Negeri,
bukan barang siapa atau nakhoda.

Contoh penafsiran historis :


Penafsiran berdasarkan Sejarah UU dengan menyelidiki maksud pembentuk undang-
undang, misalnya denda Rp. 250,- dapat ditafsirkan sesuai dengan nilai sekarang.

SUMBER REFERENSI ISIP4130/ MODUL 9

MATERI PENEMUAN HUKUM


LOGIKA

Pada diskusi keenam ini, silahkan Anda simak terlebih dahulu materi inisiasi 6 Silogisme
Kategoris. Selanjutnya Anda jawab dan diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip penyimpulan sebagai hukum dasar penyimpulan?

Jawab : Prinsip-prinsip penyimpulan merupakan hukum dasar penyimpulan, yang terbagi 2


macam, yang memiliki 7 hukum dasar penyimpulan, yaitu:

1. Prinsip konotasi term dalam silogisme. Atas dasar prinsip konotasi term atau prinsip
persamaan dan prinsip perbedaan, ada 3 hukum dasar penyimpulan:

a) Dua hal yang sama, jika yang satu diketahui sama dengan hal ketiga, maka yang lain pun pasti
sama.

b) Dua hal yang sama, jika sebagian yang satu termasuk dalam hal ketiga, maka sebagian yang
lain pun termasuk di dalamnya.

c) Antara dua hal, jika yang satu sama dan yang lain berbeda dengan hal ketiga, maka dua hal itu
berbeda.

2. Prinsip denotasi term dalam silogisme. Atas dasar prinsip denotasi term atau prinsip distribusi
dan prinsip distribusi negatif, ada 4 hukum dasar penyimpulan:

a)   Jika sesuatu hal diakui sebagai sifat yang sama dengan keseluruhan, maka diakui pula
sebagai sifat oleh bagian-bagian dalam keseluruhan.

b)   Jika sesuatu hal diakui sebagai sifat yang sama dengan bagian dari suatu keseluruhan, maka
diakui pula sebagi bagian dari keseluruhannya itu.

c)   Jika sesuatu hal diakui sebagai sifat yang meliputi keseluruhan, maka meliputi pula bagian-
bagian dalam keseluruhan itu.

d)  Jika sesuatu hal tidak diakui oleh keseluruhan, maka tidak diakui pula oleh bagian-bagian
dalam keseluruhan itu.
2. Jelaskan perbedaan silogisme beraturan dan silogisme tidak beraturan dengan disertai
contoh?

Jawab :

Silogisme beraturan adalah bentuk penyimpulan yang terdiri dari tiga proposisi: proposisi
kesimpulan, proposisi premis mayor, dan proposisi premis minor, (serta term

Silogisme tidak beraturan adalah bentuk penyimpulan, dengan empat macam:

1. Entimema, yaitu: Bentuk silogisme, di mana satu proposisi dihilangkan, karena dianggap
sudah diketahui. Ada 4 macam bentuk kemungkinan:

a. Entimema dari silogisme, di mana premis mayor dihilangkan.

b. Entimema dari silogisme, di mana premis minor dihilangkan.

c. Entimema dari silogisme, di mana kesimpulan dihilangkan, karena langsung sudah diketahui.

d. Entimema dari silogisme, di mana premis mayor dan minor dihilangkan, karena dianggap
sudah diketahui.

SUMBER REFERENSI Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. V.
Jakarta: Universitas Terbuka, 2012, hal. 6.1-6.56
antropologi

Di minggu keenam ini, silahkan teman-teman jelaskan apa saja perubahan kebudayaan yang
terjadi di masyarakat teman-teman masing-masing.

Jawab :
menggunakan uang kertas sebagai alat pertukaran dan jual beli. Sekarang bahkan kita kadang
tidak perlu menggunakan uang kertas, bisa dengan transfer melalui internet banking atau ATM.
Bentuk transansi finansial mengalami evolusi, dari barter, kuang kertas, sampai uang digital.
Menggunakan aplikasi untuk berbelanja , sekarang juga kita tidak perlu berangkat ke luar pulau
atau daerah untuk membeli sesuatu yang kita inginkan cukup dengan menggunakan aplikasi kita
sudah bisa mendapatkan barang yang kita inginkan dengan system pembayaran dirumah.

Anda mungkin juga menyukai